Anda di halaman 1dari 8

Penyakit Jantung Koroner

Oleh:
Eurika
Zebadia

101711233055

S1 Gizi
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Airlangga
Surabaya
2018
Kata Pengantar
BAB I
Pendahuluan

1. Latar Belakang

Menurut Hoarton dan Hunt, lembaga sosial merupakan sebuah sistem norma untuk
mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang oleh masyakrakat dipandang penting. Pada
definis ini, Hoarton dan Hunt menekankan bahwa lembaga sosial bukanlah sebuah
bangunan, sekelompok orang, dan bukanlah organisasi namun merupakan sebuah sistem
norma. Jadi, peran lembaga sosial merupakan cakupan dari pola tingkah laku yang harus
dilakukan oleh seseorang atau masyarakat dalam usaha pemenugan kebutuhan manusia.
Terdapat beberapa macam lembaga sosial antara lain lembaga edukasi atau pendidikan, ,
hukum, pemerintah, ekonomi, keagamaan, politik, dan kesehatan.

2. Tujuan
2.1 Mengetahui keterkaitan antara penyakit jantung koroner dengan institusi atau
lembaga sosial
2.2

3. Rumusan Masalah
3.1 Bagaimana keterkaitan antara penyakit jantung koroner dengan lembaga sosial
seperti lembaga edukasi, hukum, pemerintah, ekonomi, keagamaan, politik, dan
kesehatan?
BAB II
Analisa dan Pembahasan

1. Penyakit Jantung Koroner pada Remaja

Penyakit Jantung Koroner merupakan salah satu penyakit yang dikategorikan ke dalam
penyakit NR-NCD (Nutrition Related Non Communicable Disease) artinya, penyakit ini
tidak ditularkan melalui perantara virus, bakteri, maupun perantara lainnya namun
berhubungan erat dengan gizi. Menurut WHO, penyakit yang masuk ke dalam kategori
ini adalah penyebab dari 70% kematian yang ada di dunia. Selain penyakit jantung
koroner, penyakit lain yang termasuk dalam kategori ini antara lain stroke, kanker,
diabetes, dan penyakit paru-paru kronis. Penyakit-penyakit ini disebabkan oleh gaya
hidup, diet yang tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik.

Dilihat dari etiologinya, sel endotelial dari pembuluh darah akan mengalami inflamasi
yang merupakan akibat dari berbagai faktor seperti hipertensi, zat vasokonstriksi, asap
rokok, diet aterogenic, dan lain-lain (Majid, 2008). Inflamasi akan mengerahkan sistem
imun tubuh yaitu fagosit dan monosit. Selanjutnya, monsit akan berubah menjadi
makrofag. Makrofag akan memakan kolesterol teroksidasi yang ada di pembuluh darah.
Apabila makrofag sudah terlalu banyak memakan kolesterol, makrofag akan membentuk
sel busa. Selanjutnya, sel busa akan membentuk lapisan lemak di pembuluh darah.
Apabila lapisan lemak ini semakin lama semakin menebal atau biasa disebut dengan
atherosklerosis, aliran darah akan terhambat dan terjadi penurunan aliran darah. Apabila
aliran pembuluh arteri koroner mengalami hambatan, maka arteri koroner gagal
menyalurkan oksigen yang dapat menyebabkan angina (sakit di daerah dada) hingga
kematian. Kematian dapat disebabkan karena otot jantung tidak memperoleh asupan
oksigen yang cukup sehingga ia tidak dapat berkontraksi untuk memompa darah.

Menurut hasil Riskesdas 2013, prevalensi remaja umur [cari!] yang terkena penyakit
jantung adalah sebesar [cari!]. Walaupun prevalensinya tidak sebesar prevalensi penyakit
jantung koroner pada usia lanjut, masalah ini tidak bisa kita abaikan begitu saja. Menurut
Mexitalia M, dkk (2009), penebalan lemak berbanding lurus dengan kadar kolesterol dan
LDL dalam tubuh dan berbanding terbalik dengan kadar HDL dalam tubuh sehingga
tahapan awal pada atherosklerosis bergantung dengan kadar kolesterol seperti HDL,
LDL, dan VLDL pada masa muda. Salah satu faktor yang mempengaruhi kadar kolesterol
adalah jumlah asupan makanan berlemak. - kenapa bisa terjadi?--> cari jurnal

2. Analisa PJK dengan Institusi Sosial


2.1 Pendidikan
2.2 Hukum

2.3 Ekonomi
--> APBD
2.4 Pemerintah
--> ada ngak kebijakan meningkatkan harga untuk makanan-makanan yang
tinggi lemak?
--> ada nggak usaha pemerintah untuk menurunkan resiko?
2.5 Kesehatan
WHO atau Wold Health Organization menargetkan penurunan 25% seluruh
kasus mortalitas yang salah satunya adalah penyakit jantung. Cara untuk menurunkan
yang ditawarkan WHO adalah dengan membentuk kebijakan untuk mengurangi
garam, mengganti lemak trans dengan lemak tak jenuh, dan meningkatkan kesadaran
publik mengenai program diet dan aktivitas fisik. Merespons hal tersebut,
Kementrian Kesehatan Indonesia mengeluarkan peraturan [cari]. Selain itu,
Kementrian Kesehatan juga mengeluarkan Tumpeng Gizi Seimbang yang merupakan
salah satu petunjuk mengenai porsi makan bagi orang Indonesia. Terdapat beberapa
pesan gizi seimbang yang juga mendukung program WHO yaitu membatasi gula dan
garam serta melakukan aktivitas fisik.

2.6 Keluarga
Masa remaja merupakan sebuah masa di mana seseorang mencari jati diri. Selain
itu, pada masa remaja, anak akan cenderung lebih sering diluar dan berinteraksi
dengan teman sebayanya dibanding dengan keluarganya. Pola makan pada remaja
bersifat fluktuatif dan mengikuti perkembangan psikososial dan kognitif. Apabila
teman-temannya membeli makanan cepat saji, mereka akan mengikutinya agar
mereka merasa diterima oleh teman-temannya. Oleh karena itu, menurut Brown, et al
(2011), dalam keluarga, tanggung jawab orangtua terletak pada lingkungan makanan
(food environment) dan ketersediaan sayur dan buah di rumah. Lingkungan makanan
yang sehat akan membentuk kebiasaan makan yang akan terbawa sampai ia remaja
bahkan dewasa. Sehingga, apabila sejak kecil sudah dibiasakan untuk mengonsumsi
makanan yang sehat, ia akan memiliki standar sendiri dalam pemilihan makanan.
Selain itu, keluarga juga berperan dalam pemberian uang saku bagi remaja. Menurut
Imtihani T.R dan Noer E.R.(2013), semakin tinggi uang saku seorang remaja,
semakin tinggi frekuensi ia mengkonsumsi makanan cepat saji. Hal ini patut
disayangkan karena menurut Brown, et al (2011), makanan cepat saji atau biasa
disebut dengan fastfood merupakan makanan yang tinggi lemak jenuh, dan rendah
serat,vitamin, dan mineral. Selain itu, mengkonsumsi makanan cepat saji dapat
meningkatkan kolesterol yang dapat menyebabkan hiperlipidemia. Intervensi dini
bagi remaja yang mengalami hiperlipidemia dapat mengurangi resiko mereka untuk
terkena penyakit jantung koroner (Brown, et. al., 2011). Menurut American Heart
Association dalam Brown, et al (2011), ahli gizi dapat menyarankan kepada remaja
untuk membatasi makanan dengan lemak tinggi dan mengkonsumsi buah, sayur, dan
serat yang cukup. Dalam penyediaannya, tentu keluarga terutama orangtua berperan
besar atas ketersediaan buah, sayur, dan serat di keluarga tersebut.
2.7 Agama
BAB III
Kesimpulan
http://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/noncommunicable-diseases
http://idr.uin-antasari.ac.id/5871/5/BAB%20II.pdf
http://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cardiovascular-diseases-(cvds)
Majid, A., 2008. Penyakit jantung Koroner: Patofisiologi, pencegahan dan pengobatan
terkini. Penyakit jantung Koroner: Patofisiologi, Pencegahan Dan Pengobatan Terkini.
http://fmipa.umri.ac.id/wp-content/uploads/2016/09/Rahmat-Studi-literatur-ttg-PJK.pdf

Lembaga sosial
1. Kesehatan--> WHO--> Hal 37 global action plan
--> Menkes-->