Anda di halaman 1dari 5

NAMA : MUHAMMAD HADI WIJAYA

KELAS : IX G

TUGAS PKN

Perbedaan Visi Misi Jokowi dan Prabowo di Pilpres


2014 dan 2019
Analis politik Exposit Strategic Arif Susanto mencatat, terdapat pergeseran
prioritas dalam visi misi yang digagas kedua pasangan calon presiden dan calon
wakil presiden jika dibandingkan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Pada Pilpres
2019, dua capres yang bertarung, Joko Widodo dan Prabowo Subianto, juga
berkompetisi pada pilpres lima tahun lalu. Kala itu, Jokowi berpasangan dengan
Jusuf Kalla, Sementara Prabowo dengan Hatta Rajasa. Arif menilai, Jokowi-
Ma'ruf Amin terlihat semakin memprioritaskan pembangunan Sumber Daya
Manusia (SDM) dan persoalan ekonomi.

"Kalau dibandingkan dengan 2014, dapat dikatakan bahwa Jokowi memberi


perhatian yang semakin besar terhadap pembangunan kualitas manusia dan
struktur ekonomi," ujar Arif. Sementara, prioritas pada sektor keamanan serta
tata kelola pemerintahan yang bersih, bebas korupsi, dan demokratis, mendapat
urutan yang lebih buncit pada Pilpres 2019. Di sisi lain, pasangan calon nomor
urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, terlihat mengusung aspek politik,
hukum, pertahanan, dan keamanan. Menurut Arif, aspek tersebut tidak terlihat
saat Prabowo maju sebagai capres bersama Hatta Rajasa di Pilpres 2014. "Ini
sesuatu yang tidak didapati pada 2014. Jadi 2014 Prabowo-Hatta waktu itu
memberi (dedikasi) yang sangat kuat terhadap problem-problem ekonomi, tapi
tidak secara serius mengembangkan sebuah pandangan mengenai politik, hukum,
pertahanan, dan keamanan pada saat itu," kata Arif.
Catatan lainnya, menurut Arif, terkait pembangunan infrastruktur. Ia
menyoroti kritik keras dari pihak oposisi terhadap pembangunan infrastruktur di
era pemerintahan Jokowi-JK. Ia mengingatkan bahwa saat Pilpres 2014, kedua
paslon mengusung soal pembangunan infrastruktur. Namun, yang terjadi saat
ini, isu itu dijadikan amunisi untuk menyerang petahana. "Orang lupa bahwa
pada visi misi Prabowo-Hatta dulu ada poin penting mengenai percepatan
pembangunan infrastruktur. Ketika itu dilakukan oleh Jokowi, justru
mendapatkan kritik keras, dan itu menjadi senjata andalan untuk memukul kubu
Jokowi," ujar Arif. Akan tetapi, Arif menilai, kedua paslon memiliki kelemahan
yang sama dalam visi misi mereka. Hal itu adalah persoalan penegakan Hak Asasi
Manusia (HAM) yang belum terlihat dalam visi misi kedua paslon.

Pada Pemilihan Presiden (Pilpres) empat tahun lalu, Joko Widodo menyertakan
tujuh poin misi. Tetapi, untuk Pilpres 2019, Jokowi punya sembilan misi. Semua
misi 2014 diawali dengan kata "mewujudkan". Pada 2019, kata itu raib. Tiga misi
2014 yang menyinggung Indonesia sebagai negara maritim atau kepulauan pun
tidak muncul lagi di kampanye 2019.

Sementara itu, Prabowo Subianto punya lima misi untuk kampanye 2019,
sedangkan empat tahun sebelumnya misi Prabowo hanya empat. Satu misi yang
menekankan Indonesia percaya diri menghadapi globalisasi dan satu misi
mewujudkan Indonesia yang berperan aktif dalam perdamaian dunia masuk
dalam misi Prabowo di Pilpres 2014. Tapi, dua misi itu tidak ada muncul pada
2019.

Dua paragraf di atas ialah gambaran Jokowi dan Prabowo memilah kembali
misi yang pernah dicanangkan pada 2014 untuk kemudian tidak dicantumkan
pada 2019. Dengan kata lain, ada misi yang semula muncul lima tahun silam tapi
lenyap dari Pilpres 2019.

Tapi, ada pula misi yang tak hadir di kampanye 2014 namun muncul pada 2019.
Jokowi, misalnya, memasukkan "sistem hukum yang bebas korupsi" dan
"pemerintahan yang bersih", masing-masing, dalam dua misi 2019. Dia juga
menyertakan satu misi yang menyinggung lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Sedangkan misi Prabowo 2019 menyertakan satu poin tentang "keadilan


hukum yang tidak tebang pilih dan transparan". Dia juga memasukkan satu misi
yang menekankan masyarakat Indonesia yang terlindungi jaminan sosial
berkeadilan tanpa diskriminasi.

Selain itu, bagaimana keduanya memilah berbagai program? Terutama yang


menyangkut sumber daya alam (SDA), energi, lingkungan hidup, pangan, hingga
infrastruktur—topik yang akan diperbincangkan dalam debat kedua, Minggu
(17/2).

Hilangnya "Jalan" Prabowo


Dalam visi-misi Prabowo-Sandiaga, empat topik itu dapat ditemukan di bagian
"pilar kesejahteraan rakyat" dan "pilar budaya dan lingkungan hidup". Pilar itu
berisi sejumlah program aksi.

Sekurang-kurangnya ada tiga program aksi soal lingkungan hidup yang


dicanangkan Prabowo di 2019 tapi tidak muncul pada 2014. Di program aksi
"budaya dan lingkungan hidup" Prabowo 2019, ada program "Revitalisasi
bangunan-bangunan cagar budaya di seluruh Indonesia"; "Mendorong penggunaan
kantong plastik yang berbahan nabati dan ramah lingkungan"; dan "Memperbaiki
tata kelola

perdagangan satwa liar dengan mengedepankan pada perlindungan satwa


langka".Terkait pangan dan energi, dalam program aksi "kesejahteraan rakyat"
poin ke-24 tertera kalimat sebagai berikut.

"Menjadikan Indonesia negara adikuasa (super power) dalam bidang energi


berdasar bahan bakar nabati (energi terbarukan) dengan memberdayakan sebagian
besar dari pada 88 juta hektare hutan rusak menjadi lahan untuk aren, ubi kayu, ubi
jalar, sagu, sorgum, kelapa, dan bahan baku bioetanol lainnya dengan sistem
tumpang sari untuk mendukung kedaulatan energi nasional dan upaya menciptakan
lapangan kerja baru."
Kata "energi berdasar bahan bakar nabati (energi terbarukan)" sudah disinggung
Prabowo pada 2014. Pemanfaatan lahan untuk "aren, ubi kayu, ubi jalar, sagu,
sorgum, kelapa, kemiri dan bahan baku bioetanol" juga termaktub dalam program
Prabowo 2014. Bedanya ada di lahan yang akan dimanfaatkan. Pada 2014,
Prabowo berencana "mencetak 2 juta hektare lahan", tapi rencana Prabowo untuk
2019 adalah "memberdayakan sebagian besar daripada 88 juta hektare hutan
rusak".

Juga, pada Pilpres 2014, dua hal tersebut tidak ditulis dalam rangka
"menjadikan Indonesia negara adi kuasa". Kata "adi kuasa" tidak muncul selain di
poin ke-24 tersebut dan tidak ditemukan dalam dokumen visi-misi Prabowo 2014.

Soal infrastruktur, dalam visi-misi 2014, Prabowo menjadikannya satu bahasan


khusus di bab VI dengan tajuk "Mempercepat Pembangunan Infrastruktur". Di
poin (2) bab itu tertera, rencana Prabowo yang ingin "Membangun prasarana di
seluruh wilayah Indonesia: jalan dan jembatan termasuk 3.000 km jalan raya
nasional baru modern dan 4.000 km rel kereta api, pelabuhan laut (samudera dan
nusantara)".

Tapi, dalam dokumen visi-misi Prabowo 2019, tidak ditemukan kata "jalan"
dalam artian tempat untuk lalu lintas orang, jembatan, rel, kereta api, pun
pelabuhan.

Tidak Ada Lagi "Swasembada"

Program Jokowi pada Pilpres 2019 dapat dibandingkan dengan Nawacita,


sembilan agenda aksi yang bakal dijalankan Jokowi bila terpilih sebagai presiden
pada 2014. Dalam Pilpres 2019, tiga dari sembilan misi Jokowi mirip betul dengan
tiga poin dalam Nawacita.

Misalnya, misi poin pertama dan Nawacita poin kelima sama-sama


menyinggung soal peningkatan "kualitas hidup manusia Indonesia". Misi poin
keenam dan Nawacita poin keempat bicara penegakan atau sistem "hukum yang
bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya". Misi poin ketujuh bicara soal
"perlindungan segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga
negara" yang sama dengan Nawacita poin pertama. Sedangkan "pemerintahan yang
bersih, efektif, dan terpercaya" dicanangkan baik oleh misi poin kedelapan dan
Nawacita poin kedua.
Bila dipadupadankan antara Nawacita dengan misi sekaligus program aksi,
Nawacita poin ketiga terejawantahkan dalam misi poin ketiga dan kesembilan.
Poin itu menjelaskan rencana Jokowi soal pembangunan daerah dan sinergi
antara pemerintah daerah dan pusat. Sementara Nawacita poin keenam dan
ketujuh yang membahas ekonomi dan daya saing rakyat muncul dalam misi poin
kedua. Sedangkan Nawacita poin kedelapan dan kesembilan muncul dalam misi
poin kelima mengenai "kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian
bangsa".
Salah satu program prioritas dalam Nawacita ialah kedaulatan pangan. Saat
baru menjabat sebagai presiden, Jokowi menargetkan swasembada sejumlah
komoditas pangan strategis seperti padi, jagung, kedelai, dan gula bisa terlaksana
dalam tiga tahun. Target Jokowi adalah memenuhi kebutuhan pangan dari
produksi negeri sendiri. Dengan kata lain, tak ada impor beras, jagung, gula,
kedelai, atau bahkan daging.

Tapi, target itu gagal dicapai. Lantas, di program yang dia tawarkan di Pilpres
2019, Jokowi tidak menyinggung soal swasembada pangan. Ada bahasan pangan
yang termaktub dalam misi poin kedua. Keduanya terkait pengembangan industri
pangan dan revitalisasi industri pengolahan pascapanen sub-sektor pangan.

Sebagaimana dijelaskan di muka, "lingkungan hidup" ialah misi Jokowi di


Pilpres 2019 yang tidak muncul dalam misi 2014. "Lingkungan hidup" pun tidak
muncul dalam Nawacita 2014.

Selain itu, dalam dokumen visi-misi Jokowi di Pilpres 2019 bertebaran kata
"Revolusi 4.0". Kata ini tidak muncul dalam Nawacita atau penjabaran Nawacita
yang termaktub dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2015-
2019.