Anda di halaman 1dari 6

ANALISIS SINTESA

PEMASANGAN KATETER PADA PASIEN HERNIA DENGAN


OPERASI HERNIORAPHY DI RUANG IBS RSUD KRATON
PEKALONGAN

OLEH :

RIFYAL LAMANI
G3A018023

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2019
LAPORAN ANALISIS SINTESA

Nama Mahasiswa : Rifyal Lamani


NIM : G3A018023
Tanggal : 10 Juli 2019
Ruang : IBS RSUD DR H Soewondo Kendal

1. Identitas Klien
Nama : Tn. S
Umur : 53 tahun
RM : 582xxx

2. Diagnosa Medis : Hernia dengan Hernioraphy

3. Dasar Pemikiran
Hernia adalah protusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek
atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan. Hernia inguinalis
lateralis adalah hernia yang melalui anulus inguinalis internus atau lateralis
menyelusuri kanalis inguinalis dan keluar rongga perut melalui anulus
inguinalis externa atau medialisis. Hernia inguinalis lateralis biasanya
dilakukan tindakan bedah elektif, karena ditakutkan terjadi komplikasi.
Tindaan bedah pada hernia ini disebut herniotomi (memotong hernia) dan
hernior (menjahit kantong hernia).
Tindakan pembedahan biasanya dilakukan dengan cara memotong atau
memutus sebuah jaringan lunak. Dampaknya akan dirasakan sampai ke
pergerakan seseorang. Sehingga orang tersebut akan mengalami keterbatasan
gerak yang membatasinya dalam melakukan perawatan diri seperti toileting.
Sehingga perlu dilakukan pemasangan kateter agar mempermudah klien
dalam proses penyembuhan setelah operasi.
4. Analisa Sintesa
Hernia inguinalis

Proses pembedahan (hernioraphy)

terputusnya kontinuitas jaringan lunak

keterbatasan gerak

defisit perawatan diri (toileting)

Dilakukan pemasangan kateter urine

5. Tindakan dan Rasional


Tindakan : pemasangan Kateter Urin
Rasional : Membantu untuk pengeluaran urine

6. Diagnosa Keperawatan
Defisit perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan gerak dalam
pemenuhan kebutuhan toileting post operasi

7. Data Fokus
Tn. S, 53 tahun dilakukan operasi hernioraphi, klien sadar (GCS : 15),
ekstramitas bawah tidak bisa digerakkan (pengaruh anastesi), TD : 145/96
mmHg, N : 94 x/m, S : 36,0 oC, RR : 22 x/m, SpO2 : 99 %,

8. Prinsip-Prinsip Tindakan Keperawatan


a. Proteksi diri dengan masker dan handscoon steril
Rasional : meminimalkan resiko kontaminasi dan cega masuknya kuman
ke tubuh pasien.
b. Tangan kiri memegang penis lalu repusium ditarik sedikit kepangkalnya
dan bersihkan dengan kapas sublimat
Rasional :
c. Kateter diberi minyak pelumas atau jelli pada ujungnya ±12,5-17,5 cm,
lalau masukan perlahan-lahan ±17,5-20 cm dan sambil memberi ntruksi
pasien untuk mengambil nafas dalam untuk mengurangi rasa nyeri.
Rasional : memudahkan dalam memasukkan selang dan agar selang
kateter tidak tersangkut.
d. Jika tertahan jangan dipaksakan
Rasional : memasukkan dengan paksa akan memungkinkan terjadinya
lecet pada uretra
e. Setelah kateter masuk, isi balon dengan cairan aquads atau sejenisnya
untuk mengunci kateter supaya menetap dan tidak lepas dan bila
intermiten tarik kembali sambil intruksikan pasien untuk menarik nafas
dalam untuk mengurangi rasa nyeri.
Rasional : mengunci kateter dengan memasukkan cairan agar tidak mudah
lepas
f. Sambungkan kateter dengan kantung penampung dan fiksasi kearah atas
paha atau abdomen.
Rasional : menyambungkan kateter dengan kantung agar urin tertampung
dalam satu wadah dan tidak merembes.
g. Pelester kateter diatas pubis atau paha supaya tidak tertarik
Rasional : agar kateter tidak mudah lepas atau tertarik
h. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan
Rasional : agar terhindar dari kuman dan bakteri.

9. Tujuan Tindakan
a. Menghilangkan ketidak nyamanan karena distraksi kandung kemih
b. Mendapat urine steril untuk spesement
c. Mengkaji residu urine
d. Penatalaksanaan pasien yang dirawat karena trauma medula spinalis,
gangguan neuromuskuler atau inkompeten kemih, serta paskah operasi
besar
e. Mengatasi obstrukasi aliran urine
f. Mengatasi retensi perkemihan

10. Bahaya yang Mungkin Terjadi dan Pencegahannya


a. Infeksi Saluran Kemih
Antisipasi : Untuk mencegah infeksi pada pasien yang memerlukan
pemasangan kateter dalam jangka waktu lama, maka perlu dilakukan
penggantian kateter secara berkala. Interval pergantiannya tergantung
jenis kateter yang digunakan, jika kateter karet / lateks biasa sebaiknya
diganti sedikitnya seminggu sekali, tetapi jika kateter yang dari
silikon/telfon umumnya diganti kira-kira 2-3 minggu sekali.
b. Parafimosis, yang disebabkan oleh kegagalan kulit preputium untuk
kembali ke posisi awal setelah dilakukan pemasangan kateter
c. Alergi pada pasien yang senstif dengan bahan dasar kateter
d. Terjadinya pembentukan saluran baru
e. Striktur uretra
Antisipasi : (1) sistem kateter hasus tetap tertutup, (2) durasi pemasangan
kateter haruslah seminimal mungkin, (3) antiseptik atau antibiotik topical
pada kateter, uretra, atau meatus tidak direkomendasikan, (4) walaupun
keuntungan profilaksis antibiotik dan antiseptik telah terbukti, tidak
direkomendasikan, (5) pelepasan kateter sebelum tengah malam setelah
prosedur operasi non-urologi mungkin bermakna, (6) pada pemasangan
jangka panjang sebaiknya kateter diganti secara teratur, walaupun belum
ada bukti ilmiah interval penggantian kateter, dan (7) terapi antibiotik
kronik tidak disarankan.
f. Perforasi uretra
g. Perdarahan
h. Batu saluran kemih
i. Kerusakan ginjal (biasanya terjadi pada pasien yang menggunakan
kateter dalam jangka waktu yang lama

11. Evaluasi
S: -
O : Terpasang infus, kateter urin dan bed site monitor.
GCS : 15
TD : 134/96 mmHg
N : 89 x/m,
S : 36,0 oC,
RR : 22 x/m,
SpO2 : 99 %
A : Masalah eliminasi klien teratasi sebagian dengan dilakukannya
pemasangan kateter urin.
P : Pantau kateter urin secara berkala serta catat pemasukan cairan
melalui infus dan pengeluaran cairan melalui kateter urin. Jaga
agar klien tidak mencabut selang kateter urin klien.