Anda di halaman 1dari 9

Gambaran Strategi Koping Keluarga dalam Merawat

Anggota Keluarga yang Menderita Gangguan Jiwa Berat

Yelsi Wanti, Efri Widianti, Nita Fitria


Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran
Email: e_free358@yahoo.com

Abstrak

Keluarga yang merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa sering mengalami stres karena perilaku anggota
keluarga yang mengalami gangguan jiwa dan stigma yang melekat pada keluarga. Keluarga akan melakukan
strategi koping untuk mengatasi stres yang dialami. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi
strategi koping keluarga dalam merawat anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa berat di rumah
di Desa Sukamaju dan Desa Kersamanah Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut. Jenis penelitian ini
adalah deskriptif kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 43 orang anggota keluarga yang merawat
pasien gangguan jiwa berat, diambil dengan total sampling. Data penelitian diambil menggunakan kuesioner
dari instrumen baku Ways Of Coping (WOC) dan analisis data yang digunakan dalam bentuk persentase.
Hasil penelitian menunjukkan sebagian dari responden yaitu 20 orang (47%) lebih cenderung menggunakan
emotional focused coping, sebagian kecil responden yaitu 13 orang (30%) cenderung menggunakan problem
focused coping dan sebagian kecil responden lainnya yaitu 10 orang (23%) dominan menggunakan problem
focused coping dan emotional focused coping secara bersamaan. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan
bahwa keluarga dalam merawat pasien gangguan jiwa berat di rumah melakukan usaha untuk menghadapi
stres dengan cara mengatur respon emosionalnya untuk menyesuaikan diri dari dampak yang ditimbulkan oleh
pasien. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi perawat di puskesmas setempat untuk
memberikan konsultasi dan konseling bagi keluarga dalam merawat pasien gangguan jiwa berat di rumah.

Kata kunci: Gangguan jiwa berat, keluarga, strategi koping.

Describe Of Family Coping Strategies In Caring


Family Members Suffering From Severe Mental Disorders

Abstract
Families who care for family members with mental illness often stresor due to the behavior of family members with
mental illness and the stigma attached to the family. The family will do the coping strategies to overcome the stres
experienced. The study purpose is to identify family coping strategies in caring for family members who suffer from
severe mental disorders at home in Sukamaju and Kersamanah Villages in District of Garut. This design of study
is quantitative descriptive with the number of respondents about 43 family members who care for patients with
severe mental disorders, using total sampling. The data were taken using a questionnaire of raw instrument Ways
Of Coping (WOC) and data analysis used form of a percentage. The results showed the majority of respondents, 20
people (47%) were more likely to use emotional focused coping, a small portion 13 respondents (30%) tend to use
problem focused coping and a small portion 10 respondents (23%) predominantly use problem focused coping and
emotional focused coping simultaneously. The conclusions of this study indicate that the family in caring for patients
with severe mental disorders at home to make efforts to deal with stres by regulating the emotional response to adjust
from the impact caused by the patient. The results of this study are expected to provide input for a nurse at a Health
care to provide consultation and counseling for families in caring for patients with disorders severe mental at home.

Keywords: Coping strategies, family, severe mental disorders.

Volume 4 Nomor 1 April 2016 89


Yelsi Wanti: Gambaran Strategi Koping Keluarga dalam Merawat Anggota Keluarga

Pendahuluan perawatan kesehatan. Ada 5 tugas yang


berlaku dalam fungsi perawatan kesehatan
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar yaitu: mengenal masalah kesehatan,
tahun 2013, di Jawa Barat prevalensi membuat keputusan tindakan kesehatan
gangguan jiwa berat sebesar 1,6 permil atau yang tepat, memberi perawatan pada anggota
dapat diartikan 1-2 orang dari 1.000 warga keluarga yang sakit, mempertahankan atau
Jawa Barat mengalami gangguan jiwa berat. menciptakan suasana rumah tangga yang
Selain itu, prevalensi gangguan jiwa berat sehat, dan menggunakan fasilitas kesehatan
di daerah pedesaan ternyata lebih tinggi masyarakat.
dibanding daerah perkotaan. American Merawat anggota keluarga yang
Psychiatric Association dalam Videbeck mengalami gangguan jiwa berat merupakan
(2008) mendefinisikan gangguan jiwa stresor bagi keluarga. Stres dan beban yang
sebagai suatu sindrom atau pola psikologis dialami oleh keluarga sebagai primary
atau perilaku yang terjadi pada seseorang caregiver dapat berupa beban fisik dan mental
dan dikaitkan dengan adanya distres (Fausiah, 2005 dalam Nainggolan & Hidajat,
(gejala yang menyakitkan) atau disabilitas 2013). Stres yang dialami oleh keluarga
(kerusakan pada satu atau lebih area yang yang merawat kerabat dengan gangguan
penting) yang dapat meningkatkan risiko jiwa dipengaruhi oleh stigma dan beban
terhadap kematian, nyeri, ketidakmampuan yang dialami seperti biaya pengobatan, biaya
atau kehilangan. transportasi dan tergangguanya pola tidur
Pada dasarnya gangguan jiwa dibagi mereka (Magana et al., 2007). Stres adalah
menjadi 2 yaitu: Gangguan jiwa berat/ keadaan yang menekan dan membahayakan
psikosa dan gangguan jiwa ringan/neurosa. individu serta telah melampaui sumber
Gangguan jiwa berat ditandai dengan 2 daya yang dimiliki. Dalam merawat pasien
gejala utama yaitu kurangnya pemahaman dengan gangguan jiwa, keluarga akan
diri (insight) dan ketidakmampuan menilai melakukan strategi koping untuk mengatasi
realitas (Reality Testing Ability/ RTA) stres. Koping merupakan upaya kognitif dan
(Mohr, 2006). Videbeck (2008) menyatakan perilaku untuk mengelola tuntutan eksternal/
bahwa psikotik adalah suatu gangguan jiwa internal tertentu yang dinilai membebani
dengan kehilangan rasa kenyataan (sense of atau melewati batas sumber daya yang ada
reality). Kelainan seperti ini dapat diketahui dalam diri seorang individu. Strategi koping
berdasarkan gangguan-gangguan pada merupakan perubahan dari suatu kondisi
perasaan, pikiran, kemauan, motorik, dan ke lainnya sebagai cara untuk menghadapi
lainnya, sedemikian berat sehingga perilaku situasi tak terduga (Lazarus & Folkman,
penderita tidak sesuai lagi dengan kenyataan. 1984). Friedman (2010) menyatakan bahwa
Adanya anggota keluarga yang mengalami strategi koping merupakan perilaku atau
gangguan jiwa berat menjadi beban bagi proses untuk adaptasi dalam menghadapi
keluarga. Beban tersebut sering kali terjadi tekanan atau ancaman.
karena keluarga tidak memiliki pemahaman Lazarus dan Folkman, (1984 dalam
akan kebutuhan pasien, dan tingkah laku Nasir dan Muhith, 2011) secara umum
pasien sulit dimengerti sehingga mempersulit membedakan koping dalam 2 klasifikasi
terjalinnya hubungan antara keluarga dan yaitu: Problem Focused Coping (PFC)
pasien. Keluarga sulit membina dialog atau koping yang berfokus pada masalah
dengan pasien sehingga menimbulkaan stres dan Emotional Focused Coping (EFC) atau
dalam keluarga (Setiadi, 2006). koping yang berfokus pada emosi. PFC dibagi
Keluarga merupakan unit yang paling dalam beberapa klasifikasi yaitu: confrontive
dekat dengan pasien dan merupakan perawat coping, planful problem solving, dan seeking
utama bagi pasien. Keluarga berperan dalam social support. Adapun pengelompokan
menentukan cara atau asuhan yang diperlukan dari EFC ini yaitu: distancing, self control,
di rumah. Friedman (2010) menjelaskan accepting responsibility, positive reappraisal,
bahwa keluarga dalam memenuhi kebutuhan dan escape/avoidance.
kehidupannya memiliki fungsi-fungsi Hasil dari studi pendahuluan di Kecamatan
dasar keluarga salah satunya adalah fungsi Kersamanah Kabupaten Garut, dilihat dari

90 Volume 4 Nomor 1 April 2016


Yelsi Wanti: Gambaran Strategi Koping Keluarga dalam Merawat Anggota Keluarga

data Puskesmas Sukamerang. Total keluarga Dalam penelitian ini pengambilan sampel
yang merawat anggota keluarganya yang dilakukan dengan cara total sampling
ganguan jiwa berat di Desa Sukamaju yaitu sebanyak 43 orang anggota keluarga.
dan Desa Kersamanah kabupaten garut Anggota keluarga yang dimaksud pada
sebanyak 43 keluarga. Dalam merawat, penelitian ini adalah anggota keluarga
masih ada anggota keluarga yang kurang yang merupakan caregiver pasien dan
peduli akan masalah kesehatan jiwa anggota bertanggung jawab merawat anggota
keluarganya walaupun mereka mengetahui keluarganya yang mengalami gangguan jiwa
pasien mengalami gangguan jiwa. Beberapa berat di rumah. Instrumen pada penelitian
keluarga tidak peduli akan aktivitas yang ini adalah kuesioner. Kuesioner terdiri dari
dilakukan pasien, jarang menegur pasien 66 pertanyaan tentang strategi koping yang
dan hanya terkadang mengingatkan pada diambil dari instrumen baku Ways Of Coping
kebersihan diri dan minum obat. (WOC) berdasarkan teori yang digunakan
Strategi koping yang dilakukan cukup oleh Lazarus dan Folkman (1988). Skoring
bervariasi ada diantara anggota keluarga dilakukan dengan cara meranking jawaban
yang mencoba berpikir bahwa memang responden dalam bentuk skala likert, dimana
sudah menjadi tugas mereka untuk merawat jawaban diberi skor 3 = sangat sering, 2 =
pasien karena mereka adalah orang terdekat sering, 1 = jarang, 0 = tidak pernah, sehingga
pasien dan yang paling merasakan dampak diperoleh data dengan skala pengukuran
dari gangguan jiwa yang diderita pasien. nominal.
Ada yang memilih melakukan pekerjaan Teknik pengumpulan data dengan
lain jika telah lelah merawat dan untuk menggunakan kuesioner tertutup. Peneliti
sementara waktu mengabaikan pasien. mengunjungi rumah-rumah responden,
Kemudian, ada yang meminta bantuan dan kemudian meminta kesediaan responden
saran pada tetangga, kerabat dan petugas untuk mengisi kuesioner, setelah dilakukan
puskesmas untuk mencari solusi penanganan penjelasan tujuan penelitian. Responden
pasien. Tidak lupa mereka selalu berdoa menjawab lembar isian kuesioner dengan
untuk kesembuhan keluarganya. Masih ada memilih jawaban sesuai dengan perasaan saat
keluarga yang menjadi marah pada pasien ini, dari salah satu jawaban dengan memberi
gangguan jiwa jika mengalami kekambuhan tanda checklist (√).
ataupun saat pasien menolak minum obat. Analisa data yang digunakan dalam
Berdasarkan fenomena tersebut peneliti penelitian ini adalah statistik deskriptif dalam
tertarik untuk mengetahui gambaran strategi bentuk analisis persentase (%) berdasarkan
koping keluarga dalam merawat anggota hasil kuesioner. Analisis deskriptif/ analisis
keluarga yang menderita gangguan jiwa univariate digunakan untuk menjelaskan atau
berat di rumah Desa Sukamaju dan Desa mendeskripsikan karakteristik setiap variabel
Kersamanah Kecamatan Kersamanah yang ada, pada penelitian ini yaitu strategi
Kabupaten Garut. koping.

Metode Penelitian Hasil Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah Hasil penelitian mengenai gambaran strategi
penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian koping keluarga dalam merawat anggota
deskriptif adalah metode penelitian yang keluarganya yang menderita gangguan jiwa
dilakukan dengan tujuan utama membuat berat di Desa Sukamaju dan Kersamanah
gambaran tentang sesuatu keadaan objektif. Kabupaten Garut.
Penelitian ini untuk mengetahui gambaran Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui
strategi koping keluarga dalam merawat bahwa sebagian dari responden yaitu 20
anggota keluarga yang menderita gangguan orang (47%) lebih cenderung menggunakan
jiwa berat di rumah di Desa Sukamaju dan emotional focused coping dalam menghadapi
Desa Kersamanah Kecamatan Kersamanah beban merawat anggota keluarga yang
Kabupaten Garut. mengalami gangguan jiwa berat, sedangkan

Volume 4 Nomor 1 April 2016 91


Yelsi Wanti: Gambaran Strategi Koping Keluarga dalam Merawat Anggota Keluarga

Tabel 1 Distribusi Frekuensi Strategi Koping Keluarga dalam Merawat Anggota Keluarga yang
Mengalami Gangguan Jiwa Berat di Rumah (n = 43)
Strategi Koping f %
Problem Focused Coping 13 30
Emotional Focused Coping 20 47
Keduanya (PFCdan EFC) 10 23

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Strategi Koping Berdasarkan Subvariabel Problem Focused


Coping yang Dilakukan Keluarga dalam Merawat Anggota Keluarga yang Gangguan
Jiwa Berat di Rumah ( n=13)
Problem Focused Coping (PFC) f %
Confrontive Coping 1 8
Planful Problem Solving 7 54
Seeking Social Support 4 30
Confrontive dan Planful Problem 1 8
Solving

Tabel 3 Distribusi Frekuensi Strategi Koping Berdasarkan Subvariabel Emotional Focused


Coping yang Dilakukan Keluarga dalam Merawat Anggota Keluarga yang Menderita
Gangguan Jiwa Berat di Rumah ( n=20)
Emotional Focused Coping (EFC) f %
Distancing 3 15
Accepting Responsibility 2 10
Self Control 1 5
Positive reappraisal 11 55
Excape/ avoidance 1 5
Self Control & Positive reappraisal 1 5
Accepting Responsibility & Positive reappraisal 1 5

Tabel 4 Distribusi Frekuensi Strategi Koping PFC dan EFC yang Dilakukan Keluarga dalam
Merawat Anggota Keluarga yang Menderita Gangguan Jiwa Berat (n=10)
PFC dan EFC f %
Seeking Social Support & Accepting Responsibility 3 30
Seeking Social Support & Positive reappraisal 3 30
Planful Problem Solving & Distancing 1 10
Planful Problem Solving, Accepting Responsibility & Positive 1 10
reappraisal
Planful Problem Solving, Seeking Social Support & Positive 1 10
reappraisal
Planful Problem Solving, Seeking Social Support, Accepting 1 10
Responsibility & Self Control

sebagian kecil responden yaitu 13 orang problem focused coping dan emotional
(30%) menggunakan problem focused coping focused coping secara bersamaan. Data yang
dan sebagian kecil responden lainnya yaitu didapat dari 13 responden yang cenderung
10 orang (23%) yang dominan menggunakan menggunakan problem focused coping,

92 Volume 4 Nomor 1 April 2016


Yelsi Wanti: Gambaran Strategi Koping Keluarga dalam Merawat Anggota Keluarga

menunjukkan bahwa setengah dari responden gangguan jiwa berat, akan mengakibatkan
yaitu 7 orang (54%) lebih cenderung beban bagi keluarga. Beban tersebut sering
menggunakan planful problem solving dalam kali terjadi karena keluarga tidak memiliki
menghadapi beban selama merawat anggota pemahaman akan kebutuhan pasien, dan
keluarga yang gangguan jiwa dan sebagian tingkah laku pasien sulit untuk dimengerti.
kecil responden yaitu 4 orang (30%) lebih Keluarga sulit membina dialog dengan
cenderung menggunakan seeking social pasien sehingga menimbulkaan stres dalam
support (Tabel 2). keluarga. Sehingga keluarga merasa kelelahan
Berdasarkan tabel 3, dari 20 responden dengan tanggung jawab dalam merawat klien
yang cenderung menggunakan emotion gangguan jiwa berat (Setiadi, 2006).
focused coping, menunjukkan bahwa Menurut Lazarus dan Folkman (1984)
setengah dari responden yaitu 11 orang (55%) individu cenderung menggunakan emotional
lebih cenderung menggunakan positive focused coping dalam menghadapi masalah-
reappraisal dalam menghadapi beban selama masalah yang menurut mereka sulit untuk
merawat anggota keluarga yang menderita dikontrol. Stres yang ditimbulkan oleh pasien
gangguan jiwa berat. sangat sedikit responden gangguan jiwa berat ini akan sulit untuk
yaitu 3 orang (15%) yang lebih cenderung dikontrol oleh keluarga, sehingga anggota
menggunakan distancing dan 2 orang (10%) keluarga akan lebih cenderung menggunakan
lebih cenderung menggunakan accepting emotional focused coping untuk mengatur
responsibility. Berdasarkan tabel 4, dari 10 respon emosionalnya dan menyesuaikan
responden yang dominan menggunakan diri dari dampak yang ditimbulkan pasien.
strategi koping keduanya yaitu PFC dan EFC, Penggunaan emotional focused coping dalam
menunjukkan bahwa 3 orang responden merawat pasien gangguan jiwa berat lebih
(30%) lebih cenderung menggunakan seeking tinggi daripada problem focused coping sesuai
social support dan accepting responsibility dengan hasil penelitian Rammohan, Rao,
secara bersamaan dan 3 orang lainnya (30%) dan Subbakrishna (2002) yang menyatakan
lebih cenderung menggunakan seeking social beban yang dirasakan paling tinggi dalam
support dan positive reappraisal secara merawat pasien dengan gangguan jiwa berat
bersamaan dalam menghadapi beban selama adalah beban emosional dan untuk mengatasi
merawat anggota keluarga yang menderita beban tersebut keluarga cenderung melakukan
gangguan jiwa berat. emotional focused coping. Kemudian hasil
penelitian yang dilakukan Retnowati (2012)
yang menyatakan bahwa strategi koping yang
Pembahasan banyak digunakan yang berhubungan dengan
keluarga dalam merawat pasien skizofrenia
Berdasarkan pada tabel 1 menunjukkan adalah emotional focused coping. Emotional
bahwa dari 43 responden menunjukkan focused coping memungkinkan seseorang
bahwa sebagian dari responden yaitu 20 untuk mengidentifikasi permasalahan yang
orang (47%) lebih cenderung menggunakan dihadapi, mengolah permasalahan, dan
emotional focused coping. Ini menandakan mengekspresikannya dalam bentuk emosi
keluarga dalam merawat klien gangguan sehingga emotional focused coping merupakan
jiwa berat di rumah melakukan usaha untuk strategi koping aktif yang dilakukan oleh
menghadapi stres dengan cara mengatur seorang dan mengandung tujuan tertentu
respon emosionalnya untuk menyesuaikan (Baker & Berenbaum, 2008). Dalam
diri dari dampak yang ditimbulkan oleh menghadapi keluarga yang menggunakan
klien. Sebagian kecil responden yaitu 13 emotional focused coping maka pendekatan
orang (30%) lebih cenderung menggunakan konseling keperawatan dan psikoterapi yang
problem focused coping dan sebagian kecil terkait dengan penyelesaian masalah emosi
lainnya yaitu 10 orang (23%) lebih dominan seperti Rational Emotive Behavoiur Therapy
menggunakan strategi koping problem tepat digunakan (McMahon, 1998 & Sacks,
focused coping dan emotional focused coping 2004).
secara bersamaan. Keluarga yang cenderung menggunakan
Adanya anggota keluarga yang mengalami problem focused coping merupakan keluarga

Volume 4 Nomor 1 April 2016 93


Yelsi Wanti: Gambaran Strategi Koping Keluarga dalam Merawat Anggota Keluarga

yang menganggap masalah dapat dikontrol dan Ganguly (2007) menyatakan bahwa
sehingga untuk mengatasi stres, mereka planful problem solving dan seeking social
berusaha untuk mengubah masalah yang support merupakan strategi koping yang
dihadapi (Lazarus & Folkman, 1984). Dalam paling sering dilakukan oleh caregiver pasien
hal ini keluarga akan lebih melaksanakan skizofrenia.
fungsi keperawatan keluarga yaitu mengenal Selain planful problem solving dan
masalah kesehatan, membuat keputusan seeking social support, dari data pada
tindakan kesehatan yang tepat, memberi tabel 2 menunjukkan bahwa sangat sedikit
perawatan pada anggota keluarga yang sakit, responden yaitu 1 orang (8%) yang cenderung
mempertahankan atau menciptakan suasana melakukan confrontive coping dalam
rumah tangga yang sehat, mempertahankan mengatasi masalahnya. Keluarga melakukan
hubungan dengan (menggunakan) fasilitas confrontive coping untuk mengubah keadaan
kesehatan masyarakat (Friedman, 2010). dengan cara mengekspresikan reaksi agresif,
Tabel 2 menunjukkan bahwa dari 13 tingkat kemarahan yang cukup tinggi dan
responden yang menggunakan problem pengambilan risiko. Kelelahan yang timbul
focused coping menunjukkan bahwa setengah karena tanggung jawab dalam merawat
dari responden yaitu 7 orang (54%) lebih pasien gangguan jiwa, perilaku pasien yang
cenderung menggunakan planful problem tidak dimengerti dan tidak dapat diatur akan
solving dalam menghadapi masalah. Ini menimbukan perasaan marah pada anggota
menandakan bahwa keluarga dalam merawat keluarga (Sherman, 2008).
anggota keluarganya yang mengalami Keluarga yang cenderung menggunakan
gangguan jiwa berat lebih berusaha untuk emotional focused coping merupakan
mengubah keadaan dengan cara hati-hati, keluarga yang menganggap masalah sulit
bertahap dan direncanakan. Keluarga yang untuk dikontrol, sehingga dalam mengatasi
menggunakan strategi koping planful problem stres, mereka mengatur respon emosional
solving dalam merawat pasien gangguan untuk menyesuaikan diri pada situasi yang
jiwa berat, mereka menyusun rencana apa penuh dengan tekanan (Lazarus & Folkman,
saja yang harus dikerjakan dalam merawat, 1984).
menyediakan keperluan pasien serta Berdasarkan pada tabel 3 dari 20 responden
membantu dan mengawasi pasien minum yang lebih cenderung menggunakan emotional
obat secara teratur. Dalam hal ini keluarga focused coping menunjukkan bahwa setengah
akan berusaha untuk dapat mengenal masalah responden yaitu 11 orang (55%) lebih
kesehatan, mengambil keputusan tindakan menggunakan positive reappraisal dalam
kesehatan yang tepat, memberi perawatan menghadapi masalah. Hasil penelitian ini
kepada pasien dan memodifikasi lingkungan menandakan keluarga lebih mencari makna
yang baik untuk pasien (Friedman, 2010) positif atau berpikir positif dari permasalahan
Selain itu, sebagian kecil responden yang berfokus pada pengembangan diri dan
yaitu 4 orang (30%) lebih cenderung biasanya melibatkan hal-hal yang bersifat
menggunakan seeking social support dalam religius. Keluarga lebih berusaha menerima
mengatasi masalah. Ini menandakan keluarga dengan ikhlas masalah yang muncul.
dalam merawat anggota keluarganya yang Penelitian ini sejalan dengan penelitian
mengalami gangguan jiwa berat lebih Hassan et al. (2011) menyatakan bahwa
berusaha untuk mencari dukungan sosial, positive reappraisal merupakan salah satu
meminta informasi dari orang lain seperti strategi koping yang paling sering dilakukan
kerabat ataupun orang yang lebih profesional. oleh keluarga dalam merawat penderita
Keluarga yang menggunakan seeking social gangguan jiwa berat (skizofrenia). Terlihat
support dalam merawat pasien, sering pula, sangat sedikit responden yaitu 3 orang
meminta bantuan pada pelayanan kesehatan. (15%) yang menggunakan strategi koping
Ini sesuai dengan fungsi keperawatan distancing dalam menghadapi permasalahan.
keluarga menurut Friedman (2010) yaitu Ini menandakan keluarga terkadang berusaha
keluarga mampu mempertahankan hubungan untuk tidak terlibat dalam merawat anggota
dengan menggunakan fasilitas kesehatan keluarga yang mengalami gangguan jiwa
masyarakat. Hasil penelitian Chadda, Singh, berat. Menurut penelitian Hassan et al. (2011)

94 Volume 4 Nomor 1 April 2016


Yelsi Wanti: Gambaran Strategi Koping Keluarga dalam Merawat Anggota Keluarga

distancing dapat menurunkan stres bagi bahwa 3 orang responden (30%) lebih
keluarga. Ini terjadi karena untuk sementara cenderung menggunakan seeking social
waktu, keluarga tidak disibukkan dengan support dan positive reappraisal secara
hal-hal yang berkaitan dengan penderita bersamaan. Hal ini dapat diartikan bahwa
gangguan jiwa berat (skizofrenia). Namun, keluarga dalam menghadapi masalah mencari
apabila penghindaran terus dilakukan, maka bantuan dari kerabat, tetangga ataupun
masalah yang ada tidak akan pernah hilang orang yang lebih profesional, keluarga akan
atau terselesaikan. lebih banyak mendapat informasi untuk
Sangat sedikit responden yaitu 2 orang menyelesaikan masalah yang ada (seeking
(10%) yang menggunakan strategi koping social support) sekaligus keluarga mencoba
accepting responsibility. Ini menandakan berpikir positif mengenai keadaannya akan
keluarga dalam merawat pasien gangguan jiwa memudahkan keluarga untuk berpikir secara
berat berusaha untuk menyadari tanggung matang dan tenang dalam memahami masalah
jawab diri sendiri dalam permasalahan yang (positive reappraisal). Responden lainnya
dihadapi dan mencoba menerimanya sambil yaitu 3 orang (30%) menggunakan seeking
berusaha untuk memperbaikinya. Keluarga social support dan accepting responsibility
yang menggunakan strategi koping accepting secara bersamaan dalam mengatasi tekanan
responsibility menyadari bahwa sebagai akibat merawat penderita gangguan jiwa
keluarga, mereka adalah orang terdekat berat. Hal ini dapat diartikan bahwa keluarga
pasien dan yang paling merasakan dampak dalam menghadapi masalah mencari bantuan
dari penyakit pasien sehingga peran keluarga atau informasi dari kerabat, tetangga atau
menjadi caregiver sangatlah penting. orang yang lebih profesional (seeking social
Selain itu, sangat sedikit responden yaitu support) sekaligus keluarga menyadari
1 orang (5%) yang cenderung melakukan tanggung jawabnya dalam permasalahan
self control. Self control dilakukan keluarga yang dihadapinya dan mencoba menerimanya
untuk mengatur perasaan maupun tindakan untuk membuat semua lebih baik (accepting
dalam menghadapi masalah. Anggota responsibility).
keluarga menggunaan self control pada Berdasarkan hal tersebut, keluarga yang
masalah-masalah yang akan menyebabkan cenderung menggunakan kedua strategi
pertengkaran antara keluarga dengan pasien koping yaitu problem focused coping dan
(Novita, 2010).Terlihat pula sangat sedikit emosional focused coping secara bersamaan,
keluarga yaitu 1 orang (5%) cenderung dapat dikatakan telah memiliki kemampuan
melakukan escape/ avoidance. Strategi untuk memecahkan masalah yang didampingi
ini dilakukan keluarga untuk menghindar dengan pengontrolan emosi sehingga tingkat
atau melarikan diri dari permasalahan yang stres yang ada akan mulai berkurang. Hal ini
sedang dihadapi. Keluarga lebih memilih sesuai dengan teori Lazarus dan Folkman
untuk melakukan kegiatan lain yang dianggap (1984) yang mengemukakan bahwa untuk
lebih menyenangkan. Hal ini dilakukan mencapai strategi koping yang efektif
keluarga demi menenangkan emosinya diperlukan penggunaan kedua strategi
daripada harus memikirkan masalah yang koping.
diakibatkan oleh penderita gaangguan jiwa
berat di rumah. Escape/avoidance dalam
merawat pasien gangguan jiwa berat tidak Simpulan
akan menyelesaikan masalah.
Keluarga yang cenderung menggunakan Dari seluruh responden/ anggota keluarga
problem focused coping dan emotional yang merawat pasien gangguan jiwa berat,
focused coping secara bersamaan merupakan sebagian dari responden lebih cenderung
keluarga yang mampu menyelesaikan/ menggunakan emotional focused coping.
mengubah masalah didampingi oleh Ini menandakan keluarga dalam merawat
pengontrolan emosi. Berdasarkan tabel 4 dari pasien gangguan jiwa berat di rumah
10 responden yang cenderung menggunakan melakukan usaha untuk menghadapi stres
problem focused coping dan emotional dengan cara mengatur respon emosionalnya
focused coping secara bersamaan diketahui untuk menyesuaikan diri dari dampak yang

Volume 4 Nomor 1 April 2016 95


Yelsi Wanti: Gambaran Strategi Koping Keluarga dalam Merawat Anggota Keluarga

ditimbulkan oleh pasien. Sebagian kecil with schizophrenia and bipolar affective
responden cenderung menggunakan problem disorder. Social Psychiatry and Psychiatric
focused coping dan sebagian kecil responden Epidemiology 42: 923–930.
lainnya dominan menggunakan problem
focused coping dan emotional focused coping Friedman, M. (2010). Buku ajar keperawatan
secara bersamaan. keluarga : Riset, Teori dan. Praktek. Jakarta
Jumlah responden yang cenderung : EGC.
menggunakan emosional focused coping,
setengah dari responden menggunakan Hassan, W.A.N., Mohamed, I.I., Elnaser,
Possitive Reappraisal dalam menghadapi A.E.A., Sayed, N.E. (2011). Burden
beban merawat anggota keluarga yang and coping strategies in caregivers of
gangguan jiwa. Kemudian dari responden schizophrenic patients. Journal of American
yang cenderung menggunakan problem Science 7(5): 802–811.
focused coping, setengah dari responden
menggunakan planful problem solving untuk Kementerian Kesehatan RI. (2013). Riset
menghadapi beban merawat. Dari responden kesehatan dasar. Jakarta: Badan Penelitian
yang dominan menggunakan strategi koping dan Pengembangan Kesehatan Kementerian
keduanya yaitu PFC dan EFC lebih cenderung Kesehatan RI.
menggunakan seeking social support-positive
reappraisal dan seeking social support- Lazarus, R. S., Folkman. (1984). Stres
accepting responsibility secara bersamaan Appraisal and Coping. Springer New York :
dalam menghadapi beban merawat pasien Publishing Company
gangguan jiwa berat.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat Magaña, S.,M., Ramírez García, J.,I.,
memberikan masukan bagi perawat Hernández, M.,G., & Cortez, R. (2007).
di Puskesmas setempat untuk lebih Psychological distres among latino family
meningkatkan pelayanan kesehatan terutama caregivers of adults with schizophrenia:
pemberian konsultasi dan konseling tentang The roles of burden and stigma. Psychiatric
psikoedukator bagi keluarga yang merawat Services, 58(3), 378-84. Retrieved from
anggota keluarga yang mengalami gangguan http://search.proquest.com/docview/213125
jiwa berat. Pemberian konseling pada keluarga 332?accountid=48290
dapat meningkatkan keterampilan untuk
dapat memahami koping akibat gangguan McMahon, G. (1998). Stres counselling:
jiwa yang mengakibatkan masalah pada Rational emotive behaviour approach. British
hubungan keluarga. Adanya Nursing Center Journal of Guidance & Counselling, 26(1),
yang lebih berfokus pada perawatan pasien 131. Retrieved from http://search.proquest.
gangguan jiwa berat juga sangat diharapkan com/docview/205073364?accountid=48290
karena banyaknya jumlah gangguan jiwa
yang ada di kecamatan kersamanah tersebut. Mohr, W.K. (2006). Psychiatric Mental
Health Nursing. (6th ed). Philedelphia:
Lipincott Williams Wilkins.
Daftar Pustaka
Nainggolan, N. J. dan Lidia L. H. (2013).
Baker, J. P., & Berenbaum, H. (2008). The Profil Kepribadian dan Psychological Well-
efficacy of problemfocused coping and Being Caregiver Skizofrenia. ¬¬__________:
emotional approach coping varies as a Jurnal Soul 6(1).
function of emotional processing. Cognitive
Therapy and Research, 32, 66–82 Nasir, A., Muhith, A. (2011). Dasar-dasar
keperawatan jiwa. Jakarta: salemba medika.
Chadda, R.K., Singh, T.B., Ganguly,
K.K.(2007). Caregiver burden and coping:
A prospective study of relationship between Novita, Y. (2010). Coping stres suami yang
burden and coping in caregivers of patients memiliki istri skizofrenia. http://repository.

96 Volume 4 Nomor 1 April 2016


Yelsi Wanti: Gambaran Strategi Koping Keluarga dalam Merawat Anggota Keluarga

usu.ac.id/bitstream/123456789/14542/1/1 (2004). Rational emotive behavior therapy.


0E00127.pdf (diakses tanggal 28 juni 2015). Journal of Psychosocial Nursing & Mental
Health Services, 42(5), 22–31. Retrieved
Rammohan, A., Rao, K., Subbakrishna, D.K. from http://search.proquest.com/docview/22
(2002). Burden and coping in caregivers of 5540774?accountid=48290
persons with schizophrenia. Indian Journal
of Psychiatry, 44(3):220–227. Setiadi, I. (2006). Skizofrenia: Memahami
Dinamika Keluarga Pasien. Bandung: Refika
Retnowati, R. (2012). Strategi koping Aditama.
keluarga dalam merawat anggota keluarga
penderita skizofrenia di Instalasi Rawat Sherman, M. D. (2008). Support and
Jalan Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa family education. Oklahoma City Veterans
Barat. http://jurnal.unpad.ac.id/ejournal/ Affairs Medical Center Affiliate Research
article/view/723 (diakses pada tanggal 10 Investigator, South Central MIRECC.
mei 2015).
Videbeck, S. L. (2008). Buku ajar
Sacks, Susan Bendersky, MSN,R.N., C.S. keperawatan jiwa. Jakarta: EGC.

Volume 4 Nomor 1 April 2016 97