Anda di halaman 1dari 5

PENDAHULUAN menyebutkan dari 30 pasien dengan

Penyakit jantung meliputi infark serangan pertama IMA yang dirawat


miokard akut (IMA) saat ini telah dirumah sakit mengalami ansietas
menjadi masalah utama kesehatan sedang (Mertha, 2010). Penelitian
dan terdaftar sebagai penyebab lain melaporkan prevalensi ansietas
utama kematian di Indonesia (World 93.3% pada pasien IMA yang
Health Organization [WHO], 2014). dirawat di rumah sakit dan 48.3%
IMA merupakan nekrosis ireversibel diantaranya mengalami ansietas
jaringan miokard sebagai dampak sedang serta 1.7% mengalami
dari berkurangnya aliran darah ke ansietas berat (Maendra, Munayang,
miokardium dalam masa waktu Dudun, & Ekawardani, 2014).
tertentu (Vincent, 1994). IMA
memiliki dampak negatif terhadap Ansietas yang berat dan tidak
kualitas hidup pasien terutama yang diintervensi dengan benar dapat
masih berusia muda (Reid, Ski, & meningkatkan risiko terjadinya
Thompson, 2013). Dampak tersebut infark berulang, memperpanjang
tidak hanya dipengaruhi oleh masa pemulihan, dan dua kali lebih
keparahan serangan IMA atupun besar berisiko terhadap kematian
faktor risiko dan komorbiditi dibandingkan dengan IMA yang
penyakit jantung tetapi juga respon tidak memiliki ansietas (Batty, et al.,
psikologi terhadap serangan IMA 2014; Khayyam-Nekouei, et al.,
seperti ansietas. 2013; Russ, et al., 2012). Selain itu,
pasien IMA yang selalu mengalami
Ansietas dapat didefinisikan sebagai ansietas juga dilaporkan memiliki
perasaan takut, tegang, panik respon fisiologi yang buruk seperti
ataupun sesuatu yang tidak peningkatan tekanan darah, denyut
menyenangkan akan terjadi dan jantung, dan penurunan suplai
biasanya diikuti oleh tanda dan oksigen ke otak (Chapa, et al., 2014).
gejala secara fisiologi (Medalie & Nakamura, et al. (2013) memaparkan
Goldbourt, 1976). Spielberger, pasien dengan IMA pada umumnya
Gorsuch, dan Lushene (1970) mengalami ansietas, namun proses
membedakan terdapat dua pengkajian dan intervensi ansietas
komponen ansietas yaitu ansietas lebih sering tidak dievaluasi.
situasi (state) dan orang (trait).
Kedua komponen ini dapat Berdasarkan pemaparan tersebut
memberikan pengaruh terhadap dampak yang ditimbukan oleh
aktivasi dari sistem saraf autonom ansietas pada IMA begitu besar,
sebagai respon cepat fisiologi tubuh penelitian ini bertujuan untuk
untuk mengkompensasi terjadinya mengetahui gambaran ansietas dan
serangan (McLean & Woody, 2001). respon fisiologis pada pasien dengan
serangan pertama IMA serta
Serangan pertama IMA dilaporkan mengetahui hubungan ansietas
sebagai salah satu faktor utama dengan respon fisiologis.
seseorang mengalami ansietas akibat
dari ketidakpastian masa depan dan METODE
ancaman kematian (Panthee & Penelitian ini merupakan penelitian
Kritpracha, 2011). Sebuah penelitian deskriptif dengan sampel 60 pasien
serangan pertama IMA yang dirawat Anxiety menunjukan 29 pasien
di ruang Intensif Cardiac care Unit mengalami ansietas sedang dan 21
(ICCU), Rumah Sakit Sanglah, Bali. pasien lainnya mengalami ansietas
Dengan kriteria inklusi: pasien sedang. Sementara, dari hasil
dengan hemodinamik yang stabil, pengukuran respon fisiologis TDs,
berusia > 18 tahun, dan tidak dalam TDd, HR, dan RR menunjukan
pengaruh obat-obatan anti ansietas. respon fisiologis yang normal.

Data ansietas diperoleh Tabel 1


menggunakan 6-item State and Trait Tingkat Ansietas dan Respon
Anxiety Inventory (Suhartini, 2010)). Fisiologis Subjek (N=60)
Respon fisiologis yang diukur dalam Variable n (%) M SD Tingkat
penelitian ini adalah tekanan darah Trait Anxiety 48.47 13.31 sedang
sistolik (TDs), Tekanan darah 20-39 (ringan) 13 (21.7)
diastolik (TDd), denyut jantung 40-59 (sedang) 32 (53.3)
(HR), dan frekuensi napas (RR). 60-80 (berat) 15 (25.0)
Semua data diambil pada hari ke-2
State Anxiety 15.60 4.01 sedang
pasien dirawat dirumah sakit. Dan 6-11 (ringan) 10 (16.7)
dianalisis menggunakan statistik 12-17 (sedang) 29 (48.3)
deskriptif dan Pearson Correlation 18-24 (berat) 21 (35.0)
test untuk menentukan hubungan
ansietas dengan respon fisiologis. TDs 116.50 15.05 Normal
TDd 76.83 12.68 Normal
HASIL PENELITIAN HR 76.83 10.03 Normal
Sejumlah 60 subjek dalam penelitian RR 17.58 3.06 Normal
ini berusia rata-rata 55.8 tahun (min-
max = 37-77 tahun) dengan jumlah Tabel 2
laki-laki sebanyak 48 pasien. Hubungan Antara Ansietas dan
Sebagian besar subyek telah menikah Respon Fisiologis (N=60)
(93,3%). Hanya dua dari subyek Variabel State anxiety
tidak memiliki pengalaman r p*
menempuh pendidikan dibangku TDs -.33 .01
sekolah. Lebih dari setengah dari TDd -.16 .22
subjek (51,7%) memiliki riwayat HR .49 .00
keluarga penyakit jantung. Selain itu, RR -.72 .00
sebagian besar subyek (93,3%) tidak * p <.05, Pearson Correlation test
memiliki pengalaman menerima
pendidikan kesehatan mengenai IMA Tabel 2 mempresentasikan hubungan
dan 38.3% subjek adalah perokok ansietas dan respon fisiologis
aktif. masing-masing variabel. Dalam
Tabel 1 menunjukkan tingkat penelitian ini skor State anxiety
kecemasan dan respon fisiologis terhadap skor respon fisiologis. Hasil
pada pasien dengan serangan analisis menggunakan Pearson
pertama IMA. Secara umum pasien Correlation test menunjukkan
mengalami tingkat ansietas sedang terdapat hubungan signifikan
dengan skor rata-rata Trait Anxiety ansietas dengan TDs, HR, dan RR (p
48.47 (SD = 13.31) dan State Anxiety < .05). Hanya HR yang secara
15.60 (SD = 4.01). Skor State signifikan memiliki hubungan
sedang dengan arah positif dengan beberapa faktor dominan yang
ansietas (r = .49, p <.05). Namun, menyebabkan pasien IMA
penelitian ini tidak menemukan mengalami ansietas diantaranya
hubungan yang signifikan antara personality pasien (Williams,
ansietas dan tekanan darah diastolik O'Connor, Grubb, & O'Carroll,
(r = -.16, p >.05). 2011), lingkungan yang belum
dikenal dan pemeriksaan diagnostik
PEMBAHASAN selama dirawat (Fors, Dudas, &
Penelitian ini memberikan gambaran Ekman, 2014), Nyeri dada yang
sebagian besar pasien dengan memberat (Sjöström-Strand &
serangan pertama IMA mengalami Fridlund, 2008), pengalaman
ansietas tingkat sedang, bahkan 35% pertama mendapat serangan IMA,
diantaranya mengalami tingkat dan menyadari IMA sebagai penyakit
ansietas berat (State Anxiety). yang mematikan (Panthee &
Sementara 53.3% pasien serangan Kritpracha, 2011). Dalam penelitian
pertama IMA dalam penelitian ini ini seluruh subjek penelitian
memiliki trait anxiety tingkat sedang. merupakan pasien dengan serangan
McLean dan Woody (2001) pertama IMA yang belum mengenal
mendeskripsikan state Anxiety lingkungan ICCU dan pemeriksaan
merupakan kondisi emosional yang diruang perawatan.
bersifat sementara atau sesaat pada
individu yang bersifat subjektif, Pasien dalam penelitian ini, 93.3%
karena adanya ketegangan dan tidak memiliki pengalaman
kekhawatiran. Dalam hal ini ansietas mendapat informasi ataupun
muncul ketika individu menerima pendidikan kesehatan mengenai
stimulus yang berpotensi mencederai IMA. Menurut Uzun, Vural, Uzun,
dirinya sedangkan trait Anxiety dan Yokusoglu (2008), pasien IMA
cenderung mengarah pada kestabilan yang tidak pernah ataupun memilki
perbedaan personality individu sedikit informasi dan pemahaman
dalam mengalami ansietas. Oleh mengenai IMA dilaporkan
karena itu, besarnya jumlah pasien merupakan faktor yang dapat
yang memiliki tingkat state anxiety meningkatkan terjadinya ansietas.
ansietas sedang dan berat dalam Selain itu, sebagian besar pasien
penelitian ini dapat disebabkan oleh dalam penelitian ini adalah laki-laki.
kebanyakan dari personality pasien Laki-laki memiliki tingkat prevalensi
yang memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami distres
mengalami cemas dalam situasi yang psikologi dan anxietas dibandingkan
tertekan. dengan perempuan (Hamer, Molloy,
Stamatakis, 2008; Rasul, et al.,
Hasil penelitian ini konsisten dengan 2007). Sebanyak 38.3% pasien
penelitian sebelumnya yang dalam penelitian ini merupakan
dilakukan oleh Mertha (2010) bahwa perokok aktif. Penelitian melaporkan
pasien dengan IMA sebagian besar seseorang yang memiliki kebiasaan
mengalami ansietas tingkat sedang merokok pada umumnya juga
dan 1.7% pasien IMA pada memiliki peningkatan depresi dan
penelitian tersebut mengalami ansietas (Rasul, et al., 2007), terlebih
ansietas berat. Berdasarkan beberapa kebiasaan merokok pada IMA dapat
penelitian sebelumnya, terdapat
meningkatkan risiko hostility dan umumnya mengalami ansietas.
kematian (Everson, et al., 1997). Penelitian ini menemukan terdapat
hubungan yang signifikan antara
Pada penelitian ini nilai respon ansietas dan respon fisiologi seperti
fisiologis yaitu tekanan darah tekanan darah sistolik, denyut
sistolik, tekanan darah diastolik, jantung dan frekuensi napas.
denyut jantung, frekuensi napas Meskipun hasil tersebut tidak
dalam batas normal. Berdasarkan konsisten dengan penelitian
persektif biologi, ansietas dapat sebelumnya, beberapa obat-obatan
mengganggu regulasi sistem saraf pada pasien diprediksi memiliki
autonomy dan regulasi saraf vagus keterkaitan dengan hasil penelitian
pada jantung, dimana akan ini.
berdampak negatif pada respon
fisiologis tubuh. Ansietas juga SARAN
berkontribusi menyebabkan infark Dengan banyaknya jumlah pasien
pada jantung dengan mengaktivasi yang mengalami tingkat ansietas
sistem simpatik secara berlebihan sedang dan berat maka penting bagi
(Krantz, et al, 1990). Normalnya petugas kesehatan untuk melakukan
respon fisiologis pada penelitian ini pengkajian dan menentukan
mungkin dipengaruhi oleh obat- intervensi yang tepat untuk
obatan yang digunakan dalam mengurangi dampak yang
mengontrol respon fisiologis untuk ditimbukan ansietas pada pasien
mencegah terjadinya komplikasi dan IMA.
infark berulang.
DAFTAR PUSTAKA
Penelitian ini menemukan terdapat 1. Batty, G. D., Russ, T. C., Stamatakis, E., &
Kivimäki, M. (2014). Psychological distress
hubungan yang signifikan yang and risk of peripheral vascular disease,
lemah negatif antara ansietas dengan abdominal aortic aneurysm, and heart
tekanan darah sistolik, namun tidak failure: Pooling of sixteen cohort studies.
Atherosclerosis, 236, 385-388.
pada tekanan darah diastolik. doi:10.1016/j.atherosclerosis.2014.06.025
Semakin tinggi ansietas berhubungan 2. Chapa, D.W., Akintade, B., Son, H., Woltz,
dengan semakin rendahnya tekanan P., Hunt, D. et al. (2014). Pathophysiological
relationships between heart failure,
darah sistolik pada pasien serangan depression, and anxiety. Critical Care Nurse,
pertama IMA. Walaupun hasil 34(2), 14-24. doi:10.4037/ccn2014938
tersebut sesuai dengan penelitian 3. De Jong, M. J., Moser, D. K., An, K., &
Chung, M. L. (2004). Anxiety is not
sebelumnya yang dilaporkan oleh De manifested by elevated heart rate and blood
Jong, Moser, An, dan Chung (2004), pressure in acutely ill cardiac patients.
namun perlu dilakukan penelitian European Journal of Cardiovascular
Nursing, 3, 247-253.
lebih lanjut mengenai hubungan doi:10.1016/j.ejcnurse.2004.06.006
ansietas dan respon fisiologis pada 4. Everson, S. A., Kauhanen, J., Kaplan, G. A.,
populasi IMA dengan Goldberg, D. E., Julkunen, J., Tuomilehto,
J., & Salonen, J. T. (1997). Hostility and
mempertimbangkan penggunaan increased risk of mortality and acute
obat-obatan pada pasien. myocardial infarction: The mediating role of
behavior risk factors. American Journal of
Epidemiology, 146(2), 142-152. Retrieved
KESIMPULAN from
Hasil penelitian ini memberikan http://aje.oxfordjournals.org/content/146/2/1
informasi bahwa pasien dengan 42.long
5. Fors, A., Dudas, K., & Ekman, I. (2014).
serangan pertama IMA pada Life is lived forwards and understood
backwards – Experiences of being affected Media Journal of Nursing, 1, 105 – 115.
by acute coronary syndrome: A narrative Retrieved from
analysis. International Journal of Nursing http://ejournal.undip.ac.id/index.php/median
Studies, 51, 430-437. ers/article/view/750
doi:10.1016/j.ijnurstu.2013.06.012. 15. Rasul, F., Stansfeld, S. A., Davey Smith, G.,
6. Hamer, M., Molloy, G. J., Stamatakis, E. Shlomo, Y. B., & Gallacher, J. (2007).
(2008). Psychological Distress as a Risk Psychological distress, physical illness and
Factor for Cardiovascular Events: risk of myocardial infarction in the
Pathophysiological and Behavioral Caerphilly study. Psychological Medicine,
Mechanisms. Journal of Am Collage 37(9), 1305-1313. doi:
Cardiology, 52(25), 2156-62 http://dx.doi.org/10.1017/S00332917070004
7. Khayyam-Nekouei, Z., Neshatdoost, H., 02
Yousefy, A., Sadeghi, M., & Manshaee, G. 16. Reid, J, Ski, C. F., Thompson, D. R. (2013).
(2013). Psychological factors and coronary Psychological Interventions for Patients with
heart disease. ARYA Atherosclerosis, 9(1), Coronary Heart Disease and Their Partners:
102-111. Retrieved from A Systematic Review. PLoS ONE, 8(9),
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/P e73459.
MC3653260/pdf/ARYA-09-102.pdf 17. Russ, T. C., Stamatakis, E., Hamer, M.,
8. Krantz, D. S., Helmers, K. F., Nrbel, K., Starr, J. M., Kivimäki, M., & Batty, G. D.
Gottdiener, J. S, & Rosanski, A. (1990). (2012). Association between psychological
Mental stress and myocardial ischemia in distress and mortality: Individual participant
patients with coronary disease: Current pooled analysis of 10 prospective cohort
status and future directions. In: A. P. studies. BMJ Clinical research, 345, 1-14.
Shapiro, & A. Baum (Eds.), Perspectives in doi:10.1136/bmj.e4933
Behavioral Medicine: Cardiovascular 18. Sjöström-Strand, A., & Fridlund, B. (2008).
disorder, pp.11-27, Hillsdale, NJ: Erlbaum, Women's descriptions of symptoms and
9. Maendra, K., Munayang, H., Dundu, A. E., delay reasons in seeking medical care at the
& Ekawardani, N. (2014). Prevalensi tingkat time of a first myocardial infarction: A
kecemasan pada pasien infarkmiokard lama qualitative study. International Journal of
di poliklinik jantung Rsup Prof. Dr. R.D. Nursing Studies, 45, 1003-1010.
Kandou. Jurnal e-Clinic, 2(3), 1-10. doi:10.1016/j.ijnurstu.2007.07.004
Retrieved from 19. Spielberger, C. D., Gorsuch, R.L., &
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/eclinic/ Lushene, R. E. (1970). STAI manual for the
article/view/6342/5860 Stait-Trait Anxiety Inventory (“Self-
10. McLean, P. D., & Woody, S. R. (2001). Evaluation Questionnaire”). Palo Alto, CA:
Anxiety disorders in adults: An evidence- Consulting Psychologists Press.
based approach to psychological treatment. 20. Suhartini. (2010). The Effects of Music on
Oxford: Oxford University Press. Anxiety Reduction in Patients with
11. Medalie, J.H, Goldbourt, U. (1976). Angina Ventilator Support (Unpublished master’s
pectoris among 10,000 men. II. Psychosocial thesis), Prince of Songkla University,
and other risk factors as evidenced by a Thailand.
multivariate analysis of a five year incidence 21. Uzun, S., Vural, H., Uzun, M., & Yokusoglu,
study. American Journal of Medicine, 60(6), M. (2008). State and trait anxiety levels
910-21. before coronary angiography. Journal of
12. Mertha, I. M. (2010). The effect of phase-1 Clinical Nursing, 17, 602–607.
heart rehabilitation activity exercise on self- doi:10.1111/j.1365-2702.2007.02018.x
efficacy and anxiety of heart coronary 22. Vincent, R. (1994). Pre-hospital
disease patients at Sanglah General Central management. In Julian, D. & Braunwald, E.
Hospital Denpasar (Master’s Thesis, Management of Acute Myocardial
Indonesia University, Indonesia). Retrieved Infarction. Saunders co., London, England
from http://lib.ui.ac.id/file? 23. Williams, L., O'Connor, R. C., Grubb, N. R.,
file=digital/137140-T%20I%20Made & O'Carroll, R. E. (2011). Type D
%20Mertha.pdf personality and illness perceptions in
13. Nakamura, S., Kato, K., Yoshida, A., myocardial infarction patients. Journal of
Fukuma, N., Okumura, Y., Ito, H., & Psychosomatic Research, 70, 141-144.
Mizuno, K. (2013). Prognostic value of doi:10.1016/j.jpsychores.2010.07.015.
depression, anxiety, and anger in 24. World Health Organization. (2014).
hospitalized cardiovascular disease patients Indonesia: Non-communicable Diseases
for predicting adverse cardiac outcomes. (NCD) Country Profile. Retrieved from
American Journal of Cardiology, 111, 1432- http://www.who.int/nmh/countries/idn_en.pd
1436. doi:10.1016/j.amjcard.2013.01.293 f
14. Panthee, B. & Kritpracha, C. (2011).
Review: Anxiety and quality of life in
patients with myocardial infarction. Nurse