Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS KASUS PELANGGARAN ETIKA BISNIS

“PERUSAHAAN PT. ALPEN FOOD INDUSTRY”

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Etika Bisnis yang diampu oleh dosen
Vina Dartina, S.Ikom., M.Pd., M.Ikom.

Disusun oleh:

1. Citra Pamela Elsya (1502164335)


2. Dewi Amara K. (1502164228)
3. Ervina Dianawati (1502164273)
4. Hazrina Syahirah P. (1502164189)
5. Maharani Putri (1502160233)
6. Zenitha Diena (1502164146)

ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS KOMUNIKASI DAN BISNIS
TELKOM UNIVERSITY
2019
BAB 1
PROFIL PERUSAHAAN

PT Alpen Food Industry adalah sebuah perusahaan penyedia makanan dan minuman
yang terbuat dari susu. Produk yang terkenal dari PT alpen Food Industry ini adalah AICE
yang dikenal karena harga es krimnya yang lebih terjangkau daripada es krim lain yang
beredar di Indonesia. Perusahaan ini telah berdiri sejak tahun 2013 dengan produksi es krim
merek Baronet yang kemudian berganti nama menjadi es krim AICE pada tahun 2015.

Pada tahun 2017, PT Alpen Food Industry telah berkembang menjadi perusahaan
dengan kapasitas produksi rata-rata 50 ribu box (setiap bos terdiri dari 30-50 unit es krim) per
hari. AICE juga mendominasi pasar es krim dengan menyabet juara pertama versi Excellent
Brand Award (EBA) 2017 dengan preferensi dari konsumen mencapai 76,14% jauh
mengalahkan merek es krim lainnya, seperti Walls yang hanya memperoleh preferensi
konsumsi sebesar 20,26% dan Campina yang hanya 1,91%. AICE juga telah berhasil
mendirikan pabrik baru ke Surabaya.

Tagline yang dimiliki oleh AICE adalah “Have An AICE Day”. Jumlah produk yang
dimiliki AICE hingga saat ini sebanyak 23 produk es krim. Produk-produk tersebut
diantaranya adalah Obor Vanila, Mochi Chocolate, Chocolate Sundae, Fruit Twister, Choco
Cookies, Mochi Durian, Pure Durian, AICE Obor, Mango Slush, Mango Slush Low Fat Less
Sugar, Chocolate Crispy, Semangka, Strawberry Crispy, Nanas, Sweet Corn, Milk Melon,
Chocolate Cup, Strawberry Cup, Durian Cup, Mochi, Milk, Taro, dan Coffee Crispy.

Gambar 1. Perusahaan PT Alpen


Food Industry.

Gambar 2. Produk AICE oleh PT


Alpen Food Industry.
BAB 2
PEMBAHASAN

1. Kasus
Keberhasilan AICE dalam melakukan ekspansi pasar berbanding terbalik dengan
nasib pekerja atau buruhnya. Pada November 2017, buruh atau karyawan PT Alpen
Food Industry melakukan mogok kerja. Aksi mogok kerja dilakukan oleh 644 buruh
dalam waktu 15 hari. Adapun fakta-faktanya adalah sebagai berikut:
 Seluruh buruh AICE adalah buruh kontrak yang diupah menurut kehadiran (buruh
harian). Upah pokok buruh sebesar 3,5 juta per bulan, yang dipotong dengan
perhitungan upah pokok dibagi dengan jumlah hari kerja pada bulan tersebut.
Pemotongan ini tetap berlaku jika buruh tidak hadir dengan alasan apapun,
termasuk alasan sakit.
Peraturan atau Undang-Undang yang dilanggar:
 Pasal 59 Undang-Undang No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan
(selanjutnya disebut UU Ketenagakerjaan). Inti pasal 59 UU No. 13 Tahun
2003 ini adalah
 Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No:
Kep.100/MEN/VI/2004 tentang ketentuan pelaksanaan perjanjian kerja
waktu tertentu (Kepmen 100/2004).
 Serta dengan pasal 10 Kepmen 100/2004, buruh seharusnya diangkat
menjadi karyawan tetap sebagai konsekuensi mempekerjakan buruh harian
selama 21 hari atau lebih dalam tiga bulan berturut-turut. Selama ini,
buruh dikontrak selama enam bulan sampai satu tahun.
 Tidak adanya cuti bagi buruh perempuan yang haid.
Peraturan atau Undang-Undang yang dilanggar:
 Pasal 81 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 pasal ayat 1 dan 2. Isi dari
ayat 1 adalah “Pekerja/buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan
sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada
hari pertama dan kedua pada waktu haid”. Serta isi dari ayat 2 yaitu
“Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur
dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja
bersama”.
 PT Alpen Food Industry tidak memberikan cuti hamil, bahkan meminta buruh
untuk mengundurkan diri.
Peraturan atau Undang-Undang yang dilanggar:
 Pasal 82 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 pasal ayat 1 dan 2. Isi dari
ayat 1 yaitu “Pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat
selama 1,5 (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5
(satu setengah) bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter
kandungan atau bidan”. Serta isi ayat 2 yaitu “Pekerja/buruh perempuan
yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1,5
(satu setengah) bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter
kandungan atau bidan”.
 Tidak menajmin hak perlindungan kerja buruh dengan tidak bertanggung jawab
terhadap kecelakaan kerja.
Peraturan atau Undang-Undang yang dilanggar:
 Pasal 86 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 pasal ayat 1, 2 dan 3 tentang
kesehatan dan keselamatan kerja dimana perusahaan harus menjamin hak
perlindungan pekerja, kesehatan, keselamatan, moral, & kesusilaan.
 Sebanyak 50% buruh tidak diikutsertakan dalam BPJS kesehatan.
Peraturan atau Undang-Undang yang dilanggar:
 Pasal 99 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 pasal ayat 1 dan 2. Isi dari
ayat 1 yaitu “Setiap pekerja/buruh dan keluarganya berhak untuk
memperoleh jaminan sosial tenaga kerja”. Serta isi ayat 2 yaitu “Jaminan
sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dilaksanakan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.

Gambar 3. Aksi mogok


kerja oleh karyawan di
depan perusahaan PT Alpen
Food Industry
2. Teori
 Etika Bisnis
Etika berasal dari dari kata Yunani ‘Ethos’ (jamak – ta etha), berarti adat
istiadat. Etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri
seseorang maupun pada suatu masyarakat. Etika berkaitan dengan nilai-nilai, tata
cara hidup yg baik, aturan hidup yg baik dan segala kebiasaan yg dianut dan
di"ariskan dari satu orang ke orang yang lain atau dari satu generasi ke generasi
yg lain.
Etika sama dengan moralitas. Moralitas berasal dari kata latin Mos (jamak –
Mores) berarti adat istiadat atau kebiasaan. Pengertian harfiah dari etika dan
moralitas, sama-sama berarti sistem nilai tentang bagaimana manusia harus hidup
baik sebagai manusia yang telah diinstitusionalisasikan dalam sebuah adat
kebiasaan yang kemudian terwujud dalam pola perilaku yang ajek dan terulang
dalam kurun "aktu yang lama sebagaimana laiknya sebuah kebiasaan. Etika
sebagai filsafat moral. Etika sebagai filsafat moral tidak langsung memberi
perintah konkret sebagai pegangan siap pakai.
 Tiga Norma Umum
Norma memberi pedoman tentang bagaimana kita harus hidup dan bertindak
secara baik dan tepat, sekaligus menjadi dasar bagi penilaian mengenai baik
buruknya perilaku dan tindakan kita.
Macam-macam norma:
 Norma Umum (sopan santun, hokum, moral)
 Norma Khusus

Norma khusus adalah aturan yang berlaku dalam bidang kegiatan atau
kehidupan khusus, misalnya aturan olah raga, aturan pendidikan dan lain-lain.
Norma Umum sebaliknya lebih bersifat umum dan sampai pada tingkat tertentu
boleh dikatakan bersifat universal. Norma sopan santun / norma Etiket adalah
norma yang mengatur pola perilaku dan sikap lahiriah dalam pergaulan sehari-
hari.

Etika tidak sama dengan Etiket. Etiket hanya menyangkut perilaku lahiriah
yang menyangkut sopan santun atau tata karma. Norma hukum adalah norma
yang dituntut keberlakuannya se!ara tegas oleh masyarakat karena dianggap perlu
dan niscaya demi keselamatan dan kesejahteraan manusia dalam kehidupan
bermasyarakat. Norma hukum ini mencerminkan harapan, keinginan dan
keyakinan seluruh anggota masyarakat tersebut tentang bagaimana hidup
bermasyarakat yang baik dan bagaimana masyarakat tersebut harus diatur secara
baik.

Norma moral, yaitu aturan mengenai sikap dan perilaku manusia sebagai
manusia. Norma moral ini menyangkut aturan tentang baik buruknya, adil
tidaknya tindakan dan perilaku manusia sejauh ia dilihat sebagai manusia.

 Teori Etika
 Teori Teleologi
Mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang ingin
dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan
oleh tindakan itu. Ada 2 aliran teori teleology yaitu egoisme etis dan
utilitarianisme.
Inti pandangan egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada
dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri.
Satu-satunya tujuan tindakan moral setiap orang adalah mengejar
kepentingan pribadi dan memajukan dirinya. Egoisme ini baru menjadi
persoalan serius ketika ia cenderung menjadi hedonistis, yaitu ketika
kebahagiaan dan kepentingan pribadi diterjemahkan semata-mata sebagai
kenikmatan fisik yg bersifat vulgar.
Menurut teori utilitarianisme yaitu suatu perbuatan adalah baik jika
membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua
orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Pada teori ini, terdapat
2 macam yaitu utilitarianisme perbuatan (memberikan manfaat bagi
banyak orang) dan utilitarianisme aturan (membatasi diri pada justifikasi
aturan moral).
 Teori Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata Yunani ‘deon’ yang berarti
kewajiban. ‘Mengapa perbuatan ini baik dan perbuatan itu harus ditolak
sebagai buruk’, deontologi menjawab: ‘karena perbuatan pertama menjadi
kewajiban kita dan karena perbuatan kedua dilarang’. Yang menjadi dasar
baik buruknya perbuatan adalah kewajiban. Pendekatan deontologi sudah
diterima dalam konteks agama, sekarang merupakan juga salah satu teori
etika yang terpenting.
 Teori Hak
Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini adalah
pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya
suatu perbuatan atau perilaku. Teori hak merupakan suatu aspek dari teori
deontologi, karena berkaitan dengan kewajiban. Hak dan kewajiban
bagaikan dua sisi uang logam yang sama. Hak didasarkan atas martabat
manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena itu hak sangat
sesuai dengan suasana pemikiran demokratis.
 Teori Keutamaan
Disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan dia
untuk bertingkah laku baik secara moral.
3. Keterkaitan Kasus dengan Teori
Kasus ini berkaitan dengan teori teleology bagian egoism etis. Teori egoism
etis bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi
dan memajukan dirinya sendiri. Diri sendiri disini bisa dimaksudkan adalah
kepentingan perusahaan. Perusahaan ingin memproduksi barang sebanyak-banyaknya
agar memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya. Hal inilah yang bisa saja menjadi
penyebab adanya kasus mogok kerja karyawan. Karyawan merasa kurang dihargai
atas kinerja yang telah dilakukannya karena pihak perusahaan hanya mementingkan
keuntungan perusahaan saja tanpa memikirkan karyawan yang bekerja untuk
menghasilkan keuntungan tersebut.
Kasus ini tidak memenuhi kriteria yang ada pada teori teleology bagian
utilitarianisme, karena beberapa hal sebagai berikut:
1. Pada teori utilitarianisme dijelaskan bahwa perbuatan baik haruslah
memiliki manfaat. Berbagai hal yang dilakukan PT Alpen Food Industry
(tidak adanya cuti haid dan hamil, tunjangan kesehatan, dll) ini tidak akan
dapat memberikan manfaat, baik kepada pegawai maupun kepada
perusahaan. Justru hal ini akan memperburuk citra perusahaan dikarenakan
jika masalah ini terkuak ke media maka kepercayaan dari masyarakat juga
akan hilang.
2. Pada teori utilitarianisme dijelaskan bahwa perbuatan baik tersebut harus
memiliki manfaat bukan hanya kepada satu atau dua orang saja melainkan
memberikan manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan (manfaat secara
besar dan menyeluruh). Dengan perlakuan dari pihak PT Alpen Food
Industry ini kepada pegawai yang semena-mena ini dapat menimbulkan
kerugian secara menyeluruh atau kerugian besar baik kepada perusahaan
maupun kepada karyawan. Misalnya citra perusahaan akan semakin buruk,
yang berakibat pada kepercayaan masyarakat terhadap produk dan lain
sebagainya. Selain itu karyawan secara menyeluruh juga akan dirugikan,
misalnya jika sewaktu-waktu terjadi kecelakaan kerja maka tidak ada yang
menjamin keselamatan mereka.

Selain itu, kasus ini juga melanggar teori hak, yang mana pada teori hak
semua orang dianggap memiliki martabat yang sama. Pada kasus ini pekerja seolah
tidak diberikan haknya sebagai seorang pekerja yang selayaknya. Padahal aturan atas
hak-hak karyawan tersebut sudah diatur pada Undang-Undang yang telah ditetapkan
pemerintah. Karyawan di PT Alpen Food Industry ini hanya menuntut keadilan dan
kesejahteraan sebagai layaknya karyawan.
BAB 3
PENUTUP

1. Kesimpulan
Berdasarkan kasus yang terjadi, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
a) Masih banyak pelanggaran etika bisnis yang terjadi pada perusahaan yang ada di
Indonesia.
b) Pemerintah telah membuat peraturan atau regulasi bagi pebisnis yang akan
mendirikan sebuah usaha. Regulasi tersebut tidak hanya membela satu pihak saja,
namun berada pada pihak tengah sebagai penyeimbang antara pebisnis dan juga
karyawan.
c) Sebenarnya saat seseorang mendirikan sebuah bisnis, semua kegiatan yang akan
dilakukan perusahaan sudah diatur dalam regulasi atau peraturan yang telah dibuat
pemerintah.
2. Saran
Berdasarkan kasus yang terjadi, seharusnya PT Alpen Food Industry
melakukan hal-hal berikut ini:
a) Bersikap adil terhadap karyawan dan harus memperlakukan karyawan sesuai
dengan UU yang berlaku.
b) Mempertimbangankan masa cuti wanita yang sedang datang bulan atau Haid.
c) Untuk karyawan yang melahirkan, seharusnya adanya jatah cuti yang diberikan
sesuai dengan UU yang berlaku. Bukan malah menyuruh karyawan tersebut
mengundurkan diri.
d) Harus adanya jaminan kesehatan untuk karyawan yang berkerja, karena
kecelakaan di tempat kerja mungkn saja terjadi kapanpun.
e) Untuk BPJS kesehatan seharsnya PT. Alpen Food Industry mengikutsertakan
semua karyawan.
f) Lebih perhatian lagi terhadap keselamatan dan kesehatan para pekerja/ karyawan.
DAFTAR PUSTAKA

Aice. Tersedia: http://www.aice.co.id/. Diakses pada 20 Februari 2019.

Husna, Salma. 2017. Kasus Pelanggaran Etika Ketenagakerjaan Oleh PT Alpen Food
Industry. Tersedia: https://prezi.com/mcd-xo6zdcjw/kasus-pelanggaran-etika-
ketenagakerjaan-oleh-pt-alpen-food-i/. Diakses pada 20 Februari 2019.

Muhammad, Arif. Teori-Teori Etika Bisnis. Tersedia:


https://www.academia.edu/8390883/TEORI-TEORI_ETIKA_BISNIS. Diakses pada 20
Februari 2019.

Republik Indonesia. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003


Tentang Ketenagakerjaan. Tersedia:
file:///E:/KULIAH/F.%20Semester%206/Etika%20Bisnis/UU_%20tentang%20ketenaga
kerjaan%20no%2013%20th%202003.pdf. Diakses pada 20 Februari 2019.

Tribun News. 2017. Es Krim AICE Memang Terkenal Murah dan Enak, tapi Ternyata Ada
Kisah Menyedihkan di Baliknya. Tersedia:
http://www.tribunnews.com/nasional/2017/11/06/es-krim-aice-memang-terkenal-murah-
dan-enak-tapi-ternyata-ada-kisah-menyedihkan-di-baliknya. Diakses pada 20 Februari
2019.

Anda mungkin juga menyukai