Anda di halaman 1dari 7

ANALISA SINTESA

TINDAKAN PENGHISAPAN LENDIR (SUCTION)

RUANG INTENSIVE CARE UNIT (ICU)

RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO

PURWOKERTO

Disusun Oleh

Anggita Ika Utami (I4B018041)

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

PROGRAM PROFESI NERS

PURWOKERTO

2019
A. Gambaran Kasus
Pasien Tn. W dirawat di ruang ICU RSMS sejak 7 Januari 2019. Pasien
post op craniotomy dekompresi dengan diagnosa intra cranial hemoragic
(ICH). Hasil pengkajian pasien terpasang ET dan OPA, terdapat akumulasi
secret di mulut dan selang ET pasien. Terdengar suara gurgling dari mulut
pasien. Hasil TTV RR 22x/menit, TD 160/105 mmHg, HR 109x/menit, T
36,2 C. Terdapat retraksi dinding dada dan suara ronkhi basah di paru
kanan. GCS Pasien EI VE M5. Kekuatan otot 1-5-1-5. Pasien terpasang
infuse RL 16 tpm di tanan kanan. Pasien mendapatkan terapi ceftriaxon 2 x
1gr, ranitidine 2 x 50mg, ketolorac 2 x 30mg, vit K 3 x 10mg, kalnek 3 x
500mg, dan antrain 3 x 1gr.

B. Masalah Keperawatan
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas

C. Tindakan yang Dilakukan


Lakukan suction sesuai indikasi
1. Pengertian
Suction yaitu membersihkan secret dari saluran ensotracheal. Selain
membersihkan secret, suction juga merangsang reflek batuk. Prosedur
suction memberikan patensi jalan nafas sehingga mengoptimalkan
kembali pertukaran oksigen dan karbondioksida dan juga mencegah
pneumonia karena penumpukan secret. Suction dilakukan berulang-
ulang sesuai dengan tanda-tanda penumpukan secret di jalan nafas
pasien. Prosedur suction menggunakan prinsip steril (Kozier et.al, 2012)

2. Tujuan
Tujuan dilakukan suction yaitu menghilangkan secret yang
menyumbat saluran nafas untuk mempertahankan patensi jalan
nafas,mengambil secret untuk pemeriksaan laboratorium serta untuk
mencegah infeksi dari akumulasi secret (Kozier, et. al., 2012). Brunner
dan Suddarth (2013) menyebutkan ada beberapa indikasi pengisapan
lendir yaitu
a. Menjaaga jalan nafas tetap bersih apabila pasien tidak mampu batuk
efektif dan diduga terjadi aspirasi
b. Membersihkan jalan nafas apabila ditemukan
1) Pada auskultasi terdengar suara nafas yang kasar atau duara
nafas tambahan
2) Diduga ada sekresi mucus pada saluran pernafasan
3) Apabila klinis memperlihatkan adanya peningkatan beban kerja
sistem pernafasan
c. Pengambilan specimen untuk pemeriksaan laboratorium
d. Sebelum dilakukan radiologis ulang untuk evaluasi
e. Untuk mengetahui kepatenan dari pipa endotrakeal

3. Prosedur Suction
Prosedur hisap lendir ini dalam pelaksanaannya diharapkan sesuai
dengan standar prosedur yang telah ditetapkan agar pasien terhindar dari
komplikasi dengan selalu menjaga kesterilan dan kebersihan. Prosedur
hisap lendir menurut Kozier, et. al. (2012) adalah:
a. Jelaskan kepada pasien apa yang akan dilakukan, mengapa perlu,
dan bagaimana pasien dapat menerima dan bekerjasama karena
biasanya tindakan ini menyebabkan batuk dan hal ini diperlukan
untuk membantu dalam mengeluarkan sekret.
b. Cuci tangan sebelum melakukan tindakan.
c. Menjaga privasi pasien.
d. Atur posisi pasien sesuai kebutuhan.
1) Jika tidak ada kontraindikasi posisikan pasien semiflower agar
pasien dapat bernapas dalam, paru dapat berkembang dengan
baik sehingga mencegah desaturasi dan dapat mengeluarkan
sekret saat batuk.
2) Jika perlu, berikan analgesia sebelum penghisapan, karena
penghisapan akan merangsang refleks batuk, hal ini dapat
menyebabkan rasa sakit terutama pada pasien yang telah
menjalani operasi toraks atau perut atau yang memiliki
pengalaman traumatis sehingga dapat meningkatkan
kenyamanan pasien selama prosedur penghisapan
e. Siapkan peralatan
1) Pasang alat resusitasi ke oksigen dengan aliran oksigen 100 %.
2) Catheter suction steril sesuai ukuran
3) Pasang pengalas bila perlu.
4) Atur tekanan sesuai penghisap dengan tekanan sekitar 100-120
mm hg untuk orang dewasa, dan 50-95 untuk bayi dan anak
5) Pakai alat pelindung diri, kaca mata, masker, dan gaun bila perlu
6) Memakai sarung tangan steril pada tangan dominan dan sarung
tangan tidak steril di tangan nondominan untuk melindungi
perawat
7) Pegang suction catether di tangan dominan, pasang catether ke
pipa penghisap
f. Suction catether tersebut diberi pelumas.
1) Menggunakan tangan dominan, basahi ujung catether dengan
larutan garam steril.
2) Menggunakan ibu jari dari tangan yang tidak dominan, tutup
suction catheter untuk menghisap sejumlah kecil larutan steril
melalui catether. Hal ini untuk mengecek bahwa peralatan hisap
bekerja dengan benar dan sekaligus melumasi lumen catether
untuk memudahkan penghisapan dan mengurangi trauma
jaringan selama penghisapan, selain itu juga membantu
mencegah sekret menempel ke bagian dalam suction catether
g. Jika klien memiliki sekret yang berlebihan, lakukan pemompaan
dengan ambubag sebelum penyedotan.
1) Panggil asisten untuk prosedur ini
2) Menggunakan tangan nondominan, nyalakan oksigen ke 12-15 l
/ min
3) Jika pasien terpasang trakeostomi atau ett, sambungkan
ambubag ke tracheascanul atau ett
4) Pompa dengan Ambubag 3 - 5 kali, sebagai inhalasi, hal ini
sebaiknya dilakukan oleh orang kedua yang bisa menggunakan
kedua tangan untuk memompa, dengan demikian volume udara
yang masuk lebih maksimal.
h. Amati respon pasien untuk mengetahui kecukupan ventilasi pasien.
i. Bereskan alat dan cuci tangan.

4. Hal yang Harus Diperhatikan


a. Oral suctioning
1) Posisikan klien dengan kepala lebih rendah
2) Setiap periode suctioning tidak boleh lebih dari 10 detik. Jeda
antara periode suctioning sekitar 1-3 menit.
b. Nasopharyngeal Suction
Panjang kateter suction yang akan kita masukkan yaitu ukur
panjang atau jarak antara hidung klien dan tragus telinga
c. Nasotracheal suction
1) Posisikan kepala klien agak ekstensi
2) Setiap periode suction tidak boleh lebih dari 5 detik dan jeda
waktu antarperiode 1-3 menit
d. Endotracheal atau tracheostomy tube suctioning
1) Lepaskan ventilator pada klien lalu beri oksigen melalui ambu
bag sebanyak 4-5 kali disesuaikan dengan volume tidal klien.
2) Lumasi ujung kateter dengan jelly dan masukan kateter suction
ke dalam jalan napas buatan tanpa melakukan pengisapan.
3) Batasi waktu suction 10-15 detik dan hentikan proses suction
apabila denyut jantung klien meningkat sampai 40 kali/menit
4) Ventilasikan klien dnegan ambu bag setelah suction tiap
periodenya.
5) Jika sekresi sangat pekat, maka dicairkan dengan memasukkan
NaCl steril 3-5 cc ke dalam jalan napas buatan.
6) Bilas kateter di antara setiap pelaksanaan suction (Kozier et.al.,
2012; Syafni, et. al., 2012).

5. Gambaran Pelaksanaan di Rumah Sakit


Pasien Tn. W mendapatkan tindakan suction untuk mengurangi
akumulasi secret di ETT dan rongga mulut. Pelaksanaan sudah
dilakukan sesuai prosedur yang berlaku. Suction juga rutin dilakukan
setiap terjadi penumpukan secret pada pasien. Mayoritas pasien di ruang
ICU RSMS merupakan pasien post operasi yang terpasang selang ETT.
Terdapat banyak kasus pasien dengan ketidakefektifan bersihan jalan
nafas dikarenakan akumulasi secret di jalan nafas. Pasien dengan kasus
tersebut rutin dilakukan suction sesuai dengan indikasi. Pada
pelaksanaan perawat sudah menggunakan sarung tangan dan
memposisikan pasien dengan baik untuk mencegah infeksi maupun
ketidaknyamanan pada pasien.
Daftar Pustaka

Brunner dan Suddarth, 2013, Keperawatan medikal bedah, Jakarta; EGC


Kozier, B., et. al., 2012 ,Buku ajar fundamental keperawatan: konsep,proses,
dan praktik, Jakarta: EGC
Syafni, S. R., et. al., 2012, Efektifitas penggunaan close suction system alam
mencegah infeksi nosokomial ventilator associated pneumonia pada pasien
dengan ventilation. Diakses pada tanggal 20 Januari 2019 dari
https://repository.unri.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/1916/JURN
AL.pdf?sequence=1&isAllowed=y