Anda di halaman 1dari 25

RESUME KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF PADA PASIEN KISTA


OVARIUM DENGAN TINDAKAN KISTEKTOMI DI INSTALASI BEDAH
SENTRAL RSUD DR H SOEWONDO KENDAL

Disusun Oleh :
RIFYAL LAMANI
NIM.G3A018023

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2019
LAPORAN PENDAHULUAN KISTA OVARIOUM
DENGAN KISTEKTOMI
A. PENGERTIAN KISTA OVARIUM
Kista adalah kantong berisi cairan, kista seperti balon berisi air, dapat
tumbuh di mana saja dan jenisnya bermacam-macam (Jacoeb, 2007 dalam
Manuaba 2010).
Kista adalah suatu bentukan yang kurang lebih bulat dengan dinding
tipis, berisi cairan atau bahan setengah cair (A.Price, Sylvia. 2006).
Kista ovarium merupakan suatu pengumpulan cairan yang terjadi pada
indung telur atau ovarium. Cairan yang terkumpul ini dibungkus oleh
semacam selaput yang terbentuk dari lapisan terluar dari ovarium (Agusfarly,
2008).
Kista ovarium adalah pertumbuhan sel yang berlebihan/abnormal pada
ovarium yang membentuk seperti kantong. Kista ovarium secara fungsional
adalah kista yang dapat bertahan dari pengaruh hormonal dengan siklus
mentsruasi. (Lowdermilk, dkk. 2005).
Kista ovarium terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu kista fungsional
dan kista patologis (Ita Susanti, 2017).
1. Kista fungsional
Kista fungsional muncul sebagai bagian dari siklus menstruasi.
Kista fungsional terbagi menjadi dua yaitu :
a. Korpus lateum yaitu sel yang memproduksi estrogen dan
progesteron setelah pelepasan sel telur. Ketika lubang keluarnya sel
telur pada korpus luteum tersumbat, penumpukan cairan ini pun
terjadi. Inilah yang menyebabkan korpus luteum berkembang
menjadi kista. Kista ini umumnya akan hilang dalam beberapa bulan,
tapi memiliki risiko untuk pecah, jika terjadi, kista ini dapat
menyebabkan perdarahan dan sakit yang datang secara tiba-tiba.
b. Kista folikel. Didalam ovarium, sel telur berkembang dalam struktur
yang dikenal sebagai folikel. Kista folikel terbentuk ketka folikel
mengalami gangguan sehingga tidak bisa melepaskan sel telur.
Folikel pun membengkak karena penuh cairan dan menjadi sebuah
kista. Kista folikel bisa hilang dengan sendirinya dalam beberapa
minggu.
2. Kista patologis
Kista patologis muncul akibat adanya pertumbuhan sel yang tidak
normal. Sebagian kecil kista ini bersifat kanker.
a. Kista dermoid, paling umum terjadi pada wanita berusia dibawah 40
tahun. Kista ini dapat berisi jaringan manusia seperti rambut, darah,
lemak, tulang, kulit serta gigi. Hal ini dapat terjadi karana kista ini
berasal dari sel yang belum berkembang menjadi sel telur. Sel ini
memiliki kemampuan untuk berubah menjadi sel jaringan tubuh
apapun. Kista ini tidak bersifat ganas tapi dapat membesar hingga
diameter 20 cm dan harus dilakukan tindakan operasi.
b. Kista adenoma, terbentuk dari sel jaringan luar dan paling umum
ditemukan pada wanita diatas 40 tahun. Dapat dibagi menjadi dua
kelompok yaitu kista adenoma serosa dan kista adenoma mukosa.
Kista adenoma serosa biasanya berukuran kecil tapi dapat
mengakibatkan gejala jika pecah. Kista adenoma mukosa
berkembang hingga berdiameter 35 cm. Kista ini jarang bersifat
ganas, tapi dapat mengakibatkan ovarium terpelintir sehingga aliran
darah ke ovarium tersumbat.
B. ETIOLOGI
Penyebab dari kista belum diketahui secara pasti tapi ada beberapa
factor pemicu yaitu :
 Gaya hidup tidak sehat.
 Diantaranya
 Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat
 Zat tambahan pada makanan
 Kurang olah raga
 Merokok dan konsumsi alkohol
 Terpapar dengan polusi dan agen infeksius
 Sering stress
 Zat polutan
 Faktor genetic
C. PATOFISIOLOGI
Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang
disebut Folikel de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan
diameter lebih dari 2.8 cm akan melepaskan oosit mature. Folikel yang
rupture akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang memiliki
struktur 1,5 – 2 cm dengan kista ditengah-tengah. Bila tidak terjadi fertilisasi
pada oosit, korpus luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan secara
progresif. Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan
membesar kemudian secara gradual akan mengecil selama kehamilan.
Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista
fungsional dan selalu jinak. Kista dapat berupa folikular dan luteal yang
kadang-kadang disebut kista theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi
oleh gonadotropin, termasuk FSH dan HCG. Kista fungsional multiple dapat
terbentuk karena stimulasi gonadotropin atau sensitivitas terhadap
gonadotropin yang berlebih. Pada neoplasia tropoblastik gestasional
(hydatidiform mole dan choriocarcinoma) dan kadang-kadang pada
kehamilan multiple dengan diabetes, HCg menyebabkan kondisi yang disebut
hiperreaktif lutein. Pasien dalam terapi infertilitas, induksi ovulasi dengan
menggunakan gonadotropin (FSH dan LH) atau terkadang clomiphene citrate,
dapat menyebabkan sindrom hiperstimulasi ovari, terutama bila disertai
dengan pemberian HCG.
Kista neoplasia dapat tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan
tidak terkontrol dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak.
Neoplasia yang ganas dapat berasal dari semua jenis sel dan jaringan
ovarium. Sejauh ini, keganasan paling sering berasal dari epitel permukaan
(mesotelium) dan sebagian besar lesi kistik parsial. Jenis kista jinak yang
serupa dengan keganasan ini adalah kistadenoma serosa dan mucinous.
Tumor ovari ganas yang lain dapat terdiri dari area kistik, termasuk jenis ini
adalah tumor sel granulosa dari sexcord sel dan germ cel tumor dari germ sel
primordial. Endometrioma adalah kista berisi darah dari endometrium
ektopik. Pada sindroma ovari pilokistik, ovarium biasanya terdiri folikel-
folikel dengan multipel kistik berdiameter 2-5 mm, seperti terlihat dalam
sonogram. Kista-kista itu sendiri bukan menjadi problem utama dan diskusi
tentang penyakit tersebut diluar cakupan artikel ini.
D. MANIFESTASI KLINIS
Sebagian besar tanda dan gejala adalah akibat dari :
1. Gejala akibat pertumbuhan
a. Menimbulkan rasa berat di abdomen bagian bawah
b. Mengganggu miksi atau defekasi
c. Tekanan tumor dapat menimbulkan konstipasi atau edema pada
tungkai bawah
2. Gejala akibat perubahan hormonal
Ovarium merupakan sumber hormon utama wanita, sehingga bila
berhubungan dengan tumor menimbulkan gangguan menstruasi, tumor sel
granulase
3. Gejala klinik akibat komplikasi yang terjadi pada tumor
a. Perdarahan ke dalam kista (intra tumor)
Bila terjadi perdarahan dalam jumlah yang banyak dapat
menimbulkan nyeri abdomen mendadak dan memerlukan tindakan
cepat.
b. Robek dinding kista
Pada torsi tangkai kista ada kemungkinan terjadi robekan
sehingga isi kista tumpah ke dalam ruang abdomen.
c. Degenerasi ganas kista ovarium
Keganasan kista ovarium sering dijumpai :
 Kista pada usia sebelum menarche
 Kista pada usia diatas 48 tahun
d. Sindrome Meigs
Sindrom yang ditemukan oleh meigs menyebutkan terdapat
fibroma ovari, acites dan hidrothorak dengan tindakan operasi fibroma
ovari maka sindroma akan menghilang dengan sendirinya.
Selain gejala-gejala diatas, berikut tanda dan gejala yang akan dirasakan
ketika mengidap kista ovarium :
 Perut terasa penuh, berat, kembung
 Tekanan pada dubur dan kandung kemih (sulit buang air kecil)
 Haid tidak teratur
 Nyeri panggul yang menetap atau kambuhan yang dapat menyebar ke
punggung bawah dan paha.
 Nyeri sanggama
 Mual, ingin muntah, atau pengerasan payudara mirip seperti pada saat
hamil.
E. PENATALAKSANAAN
1. Pengangkatan kista ovarium yang besar biasanya adalah melalui tindakan
bedah, misal laparatomi kistektomi atau laparatomi salpingooforektomi.
2. Kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan
menghilangkan kista.
3. Perawatan pasca operasi setelah pembedahan untuk mengangkat kista
ovarium adalah serupa dengan perawatan setelah pembedahan abdomen
dengan satu pengecualian penurunan tekanan intra abdomen yang
diakibatkan oleh pengangkatan kista yang besar biasanya mengarah pada
distensi abdomen yang berat. Hal ini dapat dicegah dengan memberikan
gurita abdomen sebagai penyangga.
4. Tindakan keperawatan berikut pada pendidikan kepada Pasien tentang
pilihan pengobatan dan manajemen nyeri dengan analgetik / tindakan
kenyamanan seperti kompres hangat pada abdomen atau teknik relaksasi
napas dalam, informasikan tentang perubahan yang akan terjadi seperti
tanda – tanda infeksi, perawatan insisi luka operasi. ( Lowdermilk.dkk.
2005).
F. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KISTA OVARIUM
1. Pengkajian
a. Identitas Pasien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan,
agama dan alamat, serta data penanggung jawab
b. Keluhan Pasien saat masuk rumah sakit
Biasanya Pasien merasa nyeri pada daerah perut dan terasa ada
massa di daerah abdomen, menstruasi yang tidak berhenti-henti.
c. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan yang dirasakan Pasien adalah nyeri pada daerah
abdomen bawah, ada pembengkakan pada daerah perut,
menstruasi yang tidak berhenti, rasa mual dan muntah.
2) Riwayat kesehatan dahulu
3) Riwayat kesehatan keluarga
Kista ovarium bukan penyakit menular/keturunan.
4) Riwayat perkawinan
Kawin/tidak kawin ini tidak memberi pengaruh terhadap
timbulnya kista ovarium.
d. Riwayat kehamilan dan persalinan
Dengan kehamilan dan persalinan/tidak, hal ini tidak mempengaruhi
untuk tumbuh/tidaknya suatu kista ovarium.
e. Riwayat menstruasi
Pasien dengan kista ovarium kadang-kadang terjadi digumenorhea dan
bahkan sampai amenorhea.
f. Pemeriksaan Fisik
Dilakukan mulai dari kepala sampai ekstremitas bawah secara
sistematis.
1) Kepala
a) Hygiene rambut
b) Keadaan rambut
2) Mata
a) Sklera : ikterik/tidak
b) Konjungtiva : anemis/tidak
c) Mata : simetris/tidak
3) Leher
a) pembengkakan kelenjer tyroid
b) Tekanan vena jugolaris.
4) Dada
Pernapasan
a) Jenis pernapasan
b) Bunyi napas
c) Penarikan sela iga
5) Abdomen
a) Nyeri tekan pada abdomen.
b) Teraba massa pada abdomen.
6) Ekstremitas
a) Nyeri panggul saat beraktivitas.
b) Tidak ada kelemahan.
7) Eliminasi, urinasi
a) Adanya konstipasi
b) Susah BAK

8) Data Sosial Ekonomi


Kista ovarium dapat terjadi pada semua golongan
masyarakat dan berbagai tingkat umur, baik sebelum masa
pubertas maupun sebelum menopause.
9) Data Spritual
Pasien menjalankan kegiatan keagamaannya sesuai dengan
kepercayaannya.
10) Data Psikologis
Ovarium merupakan bagian dari organ reproduksi wanita,
dimana ovarium sebagai penghasil ovum, mengingat fungsi dari
ovarium tersebut sementara pada Pasien dengan kista ovarium
yang ovariumnya diangkat maka hal ini akan mempengaruhi
mental Pasien yang ingin hamil/punya keturunan.
11) Pola kebiasaan Sehari-hari
Biasanya Pasien dengan kista ovarium mengalami
gangguan dalam aktivitas, dan tidur karena merasa nyeri
12) Pemeriksaan Penunjang
a) Data laboratorium : Pemeriksaan Hb
b) Ultrasonografi : Untuk mengetahui letak batas kista.
2. Pathways
3. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan rasa nyaman/nyeri berhubungan dengan agen cedera
biologis, insisi pada abdomen
b. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan ruptur ovarium
c. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi, rencana tindakan
pemberdahan
d. Defisit perawatan diri berhubungan dengan imobilisasi (nyeri pasca
pembedahan
e. Resiko konstipasi berhubungan dengan pembedahan abdominal
f. Resiko perdarahan berhubungan dengan terputusnya kontinuitas
jaringan dan pembuluh darah
g. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif dan pembedahan
h. Resiko aspirasi berhubungan dengan penurunan reflek menelan (efek
anastesi)
i. Resiko injuri berhubungan dengan gangguan keseimbangan tubuh
(efek anastesi)
4. Intervensi Keperawatan

N DIANGOSA
TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)
O KEP

1. Nyeri akut Setelah dilakukan asuhan Pain Management


b.d agen keperawatan selama  Lakukan pengkajian nyeri
injuri biologi 3x24 jam diharapkan secara komprehensif
nyeri pasien berkurang termasuk lokasi,
NOC : karakteristik, durasi,
 Pain Level, frekuensi, kualitas dan faktor
 Pain control, presipitasi
 Comfort level  Observasi reaksi nonverbal
Kriteria Hasil : dari ketidaknyamanan
 Mampu mengontrol  Gunakan teknik komunikasi
nyeri (tahu penyebab terapeutik untuk mengetahui
nyeri, mampu pengalaman nyeri pasien
menggunakan tehnik  Kaji kultur yang
nonfarmakologi untuk mempengaruhi respon nyeri
mengurangi nyeri, Evaluasi pengalaman nyeri
mencari bantuan) masa lampau
 Melaporkan bahwa  Evaluasi bersama pasien dan
nyeri berkurang tim kesehatan lain tentang
dengan menggunakan ketidakefektifan kontrol nyeri
manajemen nyeri masa lampau
 Mampu mengenali  Bantu pasien dan keluarga
nyeri (skala, untuk mencari dan
intensitas, frekuensi menemukan dukungan
dan tanda nyeri)  Kontrol lingkungan yang
 Menyatakan rasa dapat mempengaruhi nyeri
nyaman setelah nyeri seperti suhu ruangan,
berkurang pencahayaan dan kebisingan
 Tanda vital dalam  Kurangi faktor presipitasi
rentang normal nyeri
 Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan inter
personal)
 Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan intervensi
 Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
 Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
 Evaluasi keefektifan kontrol
nyeri
 Tingkatkan istirahat
 Kolaborasikan dengan dokter
jika ada keluhan dan tindakan
nyeri tidak berhasil
2. Kecemasan Setelah dilakukan asuhan NIC :
bd diagnosis keperawatan selama 3x Anxiety Reduction
dan 24 jam diharapakan (penurunan kecemasan)
pembedahan cemasi terkontrol  Gunakan pendekatan yang
NOC : menenangkan
 Anxiety control  Nyatakan dengan jelas
 Coping harapan terhadap pelaku
Kriteria Hasil : pasien
 Klien mampu  Jelaskan semua prosedur dan
mengidentifikasi dan apa yang dirasakan selama
mengungkapkan prosedur
gejala cemas  Temani pasien untuk
 Mengidentifikasi, memberikan keamanan dan
mengungkapkan dan mengurangi takut
menunjukkan tehnik  Berikan informasi faktual
untuk mengontol mengenai diagnosis, tindakan
cemas prognosis
 Vital sign dalam batas  Dorong keluarga untuk
normal menemani anak
 Postur tubuh, ekspresi  Lakukan back / neck rub
wajah, bahasa tubuh  Dengarkan dengan penuh
dan tingkat aktivitas perhatian
menunjukkan  Identifikasi tingkat
berkurangnya kecemasan
kecemasan  Bantu pasien mengenal
situasi yang menimbulkan
kecemasan
 Dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
 Instruksikan pasien
menggunakan teknik
relaksasi
 Barikan obat untuk
mengurangi kecemasan
3 Deficit Setelah dilakukan asuhan Personal hyegene managemen
personal keperawatan selama  Kaji keterbatasan pasien
hyegene b.d 3x24 jam diharapakan dalam perawatan diri
imobilitas pasien menunjukkan  Berikan kenyamanan pada
(nyeri kebersihan diri pasien dengan membersihkan
pembedahan) NOC : tubuh pasien
 Kowlwdge : disease (oral,tubuh,genital)
process  Ajarkan kepada pasien
 Kowledge : health pentingnya menjaga
Behavior kebersihan diri
Kriteria Hasil :  Ajarkan kepada keluarga
 Pasien bebas dari bau pasien dalam menjaga
 Pasien tampak kebersihan pasien
menunjukkan
kebersihan
 Pasien nyaman

Resiko Setelah dilakukan asuhan Infection Control (Kontrol


infeksi b.d keperawatan selama 3x infeksi)
penurunan 24 jam diharapakan  Bersihkan lingkungan setelah
pertahanan infeksi terkontrol dipakai pasien lain
primer NOC :  Pertahankan teknik isolasi
 Immune Status  Batasi pengunjung bila perlu
 Knowledge :  Instruksikan pada
Infection control pengunjung untuk mencuci
 Risk control tangan saat berkunjung dan
Kriteria Hasil : setelah berkunjung
 Klien bebas dari tanda meninggalkan pasien
dan gejala infeksi  Gunakan sabun antimikrobia
 Mendeskripsikan untuk cuci tangan
proses penularan  Cuci tangan setiap sebelum
penyakit, factor yang dan sesudah tindakan
mempengaruhi kperawtan
penularan serta  Gunakan baju, sarung tangan
penatalaksanaannya, sebagai alat pelindung
 Menunjukkan  Pertahankan lingkungan
kemampuan untuk aseptik selama pemasangan
mencegah timbulnya alat
infeksi  Ganti letak IV perifer dan
 Jumlah leukosit line central dan dressing
dalam batas normal sesuai dengan petunjuk
 Menunjukkan umum
perilaku hidup sehat  Gunakan kateter intermiten
untuk menurunkan infeksi
kandung kencing
 Tingktkan intake nutrisi
 Berikan terapi antibiotik bila
perlu

Infection Protection (proteksi


terhadap infeksi)
 Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal
 Monitor hitung granulosit,
WBC
 Monitor kerentanan terhadap
infeksi
 Batasi pengunjung
 Saring pengunjung terhadap
penyakit menular
 Partahankan teknik aspesis
pada pasien yang beresiko
 Pertahankan teknik isolasi
k/p
 Berikan perawatan kuliat
pada area epidema
 Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
 Ispeksi kondisi luka / insisi
bedah
 Dorong masukkan nutrisi
yang cukup
 Dorong masukan cairan
 Dorong istirahat
 Instruksikan pasien untuk
minum antibiotik sesuai
resep
 Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
 Ajarkan cara menghindari
infeksi
 Laporkan kecurigaan infeksi
 Laporkan kultur positif
4 Resiko Setelah dilakukan asuhan  Monitor peristaltik usus,
konstipasi keperawatan selama 3x karakteristik feses dan
berhubungan 24 jam diharapakan frekuensinya
dengan infeksi terkontrol  Dorong pemasukan cairan
pembedahan NOC : adekuat, termasuk sari buah
abdominal Tidak terjadi konstipasi bila pemasukan peroral
Kriteria hasil : dimulai.
Peristaltik usus normal  Bantu pasien untuk duduk
(5-35 kali per menit), pada tepi tempat tidur dan
pasien akan berjalan.
menunjukkan pola
climinasi biasanya.
KISTEKTOMI
1. Definisi
Kistektomi adalah pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat kista
(kantung berisi cairan) dapat tumbuh di bagian tubuh manapun.Kista
ovarium secara fungsional adalah kista yang dapat bertahan dari pengaruh
hormonal dengan siklus menstruasi. Sistektomi indung telur adalah prosedur
untuk mengangkat kista dari indung telur. Kista adalah kantong yang berisi
cairan, kista seperti balon berisi air. Cairan yang terkumpul ini dibungkus
oleh semacam selaput yang terbentuk dari lapisan terluar dari ovarium.

Kista ovarium merupakan suatu pengumpulan cairan yang terjadi pada


indung telur atau ovarium. Cairan yang terkumpul ini dibungkus oleh
semacam selaput yang terbentuk dari lapisan terluar dari ovarium.

Tumor dari ovarium yang bersifat neoplastik dan dalam pertumbuhannya


bersifat jinak (tidak mengadakan metastase baik lokal ataupun jauh)
tindakan operatif yang dilakukan untuk mengangkat rahim, baik sebagian
(subtotal) tanpa serviks uteri ataupun seluruhnya (total) berikut serviks uteri
(Prawirohardjo, 2001).

2. Tujuan
Kistektomi ovarium meliputi penanganan lembut jaringan untuk membatasi
pembentukan adhesi pascaoperasi dan rekonstruksi anatomi ovarium normal
untuk membantu transfer ovum ke tuba faloppi

3. Indikasi Dan Kontraindikasi


1. Indikasi
a. Massa ovarium > 6 cm
b. Massa adnexa > 10 cm
c. Semua massa yang muncul setelah menopause
d. Sulit mengetahui asal massa (mis. Leiomyoma) dengan radiologi atau
USG

2. Kontraindikasi
a. Kistektomi : bila masih ada jaringan ovarium yang sehat
b. Salpyngoovorectomi Unilateral / SOU
c. SOB : bila ditemukan pada kedua ovarium, pada usia muda uterus
dapat ditinggalkan dengan rencana substitusi hormonal.

4. Penatalaksanaan
1. Operasi
2. Wanita premenopause dengan ukuran tumor < 10 cm dan tidak ada
keluhan observasi, karena 70 % dapat hilang sendiri
3. Dapat dicoba diberikan kontrasepsi monofasik, supresi kista fungsional,
observasi 4-6 mgg, jika ukuran tetap, laparotomi

5. Pemeriksaan Penunjang
Begitu banyak teknik-teknik operasi pada tindakan kistektomi. Prosedur
operatif ideal pada wanita bergantung pada kondisi mereka masing-masing.
Namun jenis-jenis dari kistektomi ini dibicarakan pada setiap pertemuan
mengenai teknik apa yang dilakukan dengan pertimbangan situasi yang
bagaimana. Namun keputusan terakhir dilakukan dengan diskusi secara
individu antara pasien dengan dokter-dokter yang mengerti keadaan pasien
tersebut.

Keterlambatan mendiagnosis kanker ovarium sering terjadi karena letak


ovarium berada didalam rongga panggul sehingga tidak terlihat dari luar.
Biasanya kanker ovarium ini di deteksi lewat pemeriksaan dalam. Bila
kistanya sudah membesar maka akan terabab ada benjolan. Jika dokter
menemukan kista, maka selanjutanya akan dilakukan USG untuk
memastikan apakah ada tanda tanda kanker atau tidak. Kemudian
dibutuhkan pemeriksaan lanjutan dengan mengambil jaringan (biopsy)
untuk memastikan kista tersebut jinak atau ganas. Ini bisa dilakukan dengan
laparskopi, melalui lubang kecil di perut. Pemeriksaan lainnya dengan CT
Scan dan tumor marker dengan pemeriksaan darah.

6. Pathway
7. Gambar
8. Diagnosa Keperawatan, Intervensi Dan Rasional
1. Diagnosa Keperawatan
a. Pre Operasi
1) Cemas b.d prosedur operasi, perubahan konsep diri.
2) Nyeri b.d proses penyakit (penekanan/kompresi) jaringan pada
organ ruang abdomen
3) Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual,
muntah intake yang tidak adekuat.
4) Gangguan harga diri b.d masalah tentang ketidaknyamanan
mempunyai anak, perubahan feminimitas dan efek hubungan
seksual.
5) Disfungsi seksual, resiko tinggi terhadap kemungkinan pola respon
seksual
6) Eliminasi urinarius, perubahan / retensi b.d adanya edema pada
jaringan lokal
7) Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan
pengobatan b.d kurang terpajan / mengingat, salah interpretasi
informasi.

b. Post operasi
1) Nyeri b.d prosedur pembedahan, trauma jaringan
2) Risiko infeksi b.d invasi kuman sekunder terhadap pembedahan
3) Kerusakan integritas kulit b.d pengangakatan bedah kulit.( jaringan,
perubahan sirkulasi).
4) Kerusakan mobilitas fisik b.d gangguan neuromuskuler, nyeri /
ketidaknyamanan, pembentukan edema.
5) Resiko kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan berlebih.
6) Gangguan harga diri b.d biofisikal prosedur bedah yang mengubah
gambaran tubuh, psikososial, masalah tentang ketertarikan social.

2. Intervensi dan Rasional


a. Pre Operasi

Dx 1 : cemas b.d prosedur operasi perubahan konsep diri.

Intervensi;

1) Yakinkan informasi klien tenteng diagnosis, harapan, intervensi


pembedahan dan terapi yang akan datang.
2) Jelaskan tujuan dan persipan untuk tes diagnostic
3) Berikan lingkungan perhatian, kterbukaan dan penerimaan juga
privasi untuk pasien / orang terdekat.
4) Dorong pertanyaan dan berikan waktu untuk mengekspresikan
takut.
5) Kaji tersedianya dukungan pada pasien.
6) Diskusikan / jelaskan peran rehabilitasi setelah pembedahan.

Dx 2 : Nyeri berhubungan dengan prases penyakit


(penekanan/kompresi) jaringan pada organ ruang abdomen
Intervensi
1) Identifikasi karakteristik nyeri dan tindakan penghilang nyeri
2) Berikan tindakan kenyamanan dasar (reposisi, gosok punggung),
hiburan dan lingkungan.
3) Ajarkan teknik relaksasi
4) Kembangkan rencana manajemen nyeri antara pasien dan dokter
5) Berikan analgesic sesuai resep.

b. Post Operasi
Dx 1 : Nyeri b.d prosedur pembedahan, trauma jaringan
Intervensi:
1) Kaji keluhan nyeri, perhataikan lokasi, lama dan intensitas (skala 0-
10), perhatikan petunjuk verbal dan nonverbal
2) Bantu pasien menemukan posisi nyaman
3) Berikan tindakan kenyamanan dasar
4) Berikan obat nyeri yang tepat pada jadwal terakhir
5) Kolaborasi : berikan / analgetik sesuai indikasi

Dx 2 : Resiko infeksi b.d invasi kuman sekunder terhadap


pembedahan

Intervensi :
1) Kaji tanda-tanda infeksi dan monitor TTV
2) Gunakan tehnik antiseptik dalam merawat pasien
3) Isolasikan dan instruksikan individu dan keluarga untuk mencuci
tangan sebelum mendekati pasien
4) Tingkatkan asupan makanan yang bergizi
5) Berikan terapi antibiotik sesuai program dokter

Dx 3 : kerusakan integritas kulit b.d pengangkatan bedah kulit /


jaringan, perubahan sirkulasi.

Intervensi:

1) Kaji balutan / untuk karakteristik drainase, kemerahan dan nyeri


pada insisi dan lengan.
2) Tempatkan pada posisi semi fowler pada punggung / sisi yang tidak
sakit dengan lengan tinggi dan disokong dengan bantal.
3) Jangan melakukan pengukaran TD, menginjeksikan obat /
memasukan IV pada lengan yang sakit.
4) Inspeksi donor/ sisi donor ( bila dilakukan ) terhadap warna,
pembentukan lepuh perhatikan drinase dan sisi donor
5) Kosongkan drain luka, secara periodic( catat jumlah dan
karakeristik drainase)
6) Dorong klien untuk menggunakan pakaian yang tidak sempit /
ketat.
7) Kolaborasi: berikan antibiotic sesuai indikasi