Anda di halaman 1dari 1

5.

Upaya-Upaya yang dibuat untuk menyelesaikan masalah perbedaan kebudayaan :

 Berdoa pada Tuhan Yang Maha Kuasa


 Mengendalikan emosi
 Jangan memanggil orang lain dengan julukan berdasarkan SARA
 Jangan menghakimi dan berpikiran negatif tentang suku dan kebudayaan yang berbeda
 Jangan memaksakan kehendak pada orang lain
 Menghormati dan mengasihi orang lain
 Melakukan dan memikirkan hal-hal positif secara bersama-sama
Kita memang berbeda, namun bukan untuk dibeda-bedakan. Perbedaan/keragaman tersebut
merupakan anugerah yang patut kita hormati, akui, dan kita hargai sebagai sebuah realitas sosial
yang tidak bisa kita tolak. Secara ilmiah, alam dan manusialah yang membuat kita berbeda dari
Sabang sampai Marauke. Yang terpenting bagi kita semua adalah adanya kemauan untuk
memahami, menghargai, mengakui dan menerima keberagaman yang sudah menjadi realitas
sosial. Memahami kebudayaan lain bukan berarti lalu menerima dan mempraktekkannya dalam
diri kita. Sesungguhnya kita bangsa Indonesia sudah lama mengenal masyarakat Bhinneka
Tunggal Ika, kita tahu itu, kita menyadari bahwa kita memiliki keanekaragaman suku, budaya,
agama, bahasa, dan lain-lain. Namun ada satu hal yang masih dan sangat perlu dibentuk melalui
pendidikan multikultural dan pemahaman tentang relativitas budaya di atas adalah menumbuhkan
rasa dan kesadaran kita tentang pentingnya menghargai, mengakui, dan menerima keberagaman
yang sudah ada. Biarlah tiap-tiap suku bangsa (Etnik) mengembangkan masyarakat dan
kebudayaannya dan memupuk kebanggaan terhadap keungulan etniknya masing-masing, tetapi
dengan syarat tetap menjunjung tinggi identitas nasional(nasionalisme) sebagai bangsa Indonesia.
Kita pelihara kesatuan(berbagai identitas etnik) dan persatuan(bangsa Indonesia). Apabila kita
kurang bijak dan kurang terbuka menyikapi keberagaman yang semakin kompleks ini, maka
konflik sosial yang berakibat pada kehancuran umat manusia dan disebabkan oleh kebodohan umat
manusia, telah menunggu-ibarat mulut buaya yang sedang menganga menunggu mangsanya.
Maka tidak keliru, apabila Marthin Luther King, Jr mengingatkan kita semua dengan sebuah
kalimat: “Unless we learn how to live together as brothers and sisters, we shall die together as
fools.”