Anda di halaman 1dari 12

IMPLEMENTASI KONSELING GIZI DAN ASUHAN MANDIRI

TERHADAP PERUBAHAN POLA ASUH IBU DAN POLA MAKAN


BALITA STUNTING DI PUSKESMAS KAMPUS PALEMBANG
PERIODE JULI 2019 - AGUSTUS 2019

Mini Project
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam program dokter internsip

Oleh:
dr. Kms. Virhan Dwi Firondy

Pembimbing:
dr. Yuliarni, M.Kes

PROGRAM DOKTER INTERNSIP INDONESIA


WAHANA PUSKESMAS KAMPUS KOTA PALEMBANG
PERIODE JUNI 2019 - OKTOBER 2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Program Indonesia Sehat merupakan program yang diselenggarakan oleh
Kementerian Kesehatan Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup
rakyat Indonesia. Program Indonesia Sehat menjadi program utama pembangunan
kesehatan yang rencana pencapaiannya dituangkan dalam Rencana Strategis
Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 dan ditetapkan melalui Keputusan Menteri
Kesehatan RI No. HK.02.02/Menkes/52/2015. Adapun sasaran utama dari program
ini adalah meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya
kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan perlindungan
finansial dan pemerataan pelayanan kesehatan.1
Upaya pencapaian pembangunan kesehatan dalam Program Indonesia Sehat
dilaksanakan dengan memanfaatkan segala potensi yang ada, baik dari pemerintah
pusat, pemerintah daerah, kabupaten/kota, masyarakat umum, hingga keluarga
sebagai unit terkecil dari masyarakat. Berdasarkan Undang-Undang No.52 tahun
2009 mengenai Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga serta
Undang-Undang No.23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, pembangunan
keluarga merupakan upaya mewujudkan terciptanya keluarga berkualitas yang hidup
dalam lingkungan sehat. Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga
merupakan salah satu upaya puskesmas untuk meningkatkan jangkauan sasaran dan
meningkatkan akses pelayanan kesehatan melalui integrasi upaya kesehatan
perorangan dan upaya kesehatan masyarakat secara berkesinambungan.1
Dalam upaya pelaksanaan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan
Keluarga, Puslitbang Kemenkes telah melakukan pengkajian sehingga disepakati 12
indikator utama untuk status kesehatan keluarga yang selanjutnya disebut sebagai
Indeks Keluarga Sehat. Adapun salah satu indikator Indeks Keluarga Sehat adalah
balita mendapatkan pemantauan pertumbuhan.1 Indikator ini sangat penting untuk
dilakukan mengingat permasalahan gizi masih menjadi isu nasional kesehatan
Indonesia, baik berupa stunting, wasting, ataupun overweight.2
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak yang terjadi akibat
kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Anak tergolong stunting apabila
panjang atau tinggi badan berada di bawah minus dua standar deviasi panjang pada
tinggi anak standar sesuai usia. Pada tahun 2017, sekitar 22,2% atau sekitar 150,8
juta balita di dunia mengalami stunting.3 Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018
menunjukkan telah adanya penurunan angka balita stunting di Indonesia dari 37,2%
pada tahun 2013 menjadi 30,8 pada tahun 2018. Namun, angka balita stunting masih
terbilang cukup tinggi mengingat rekomendasi WHO mengenai prevalensi stunting
harus kurang dari 20%. Di Sumatera Selatan, angka balita stunting pada tahun 2018
mencapai kisaran 30% dan angka baduta stunting mencapai kisaran 29%. Sementara
itu di kawasan Puskesmas Kampus, angka stunting kurang lebih mencapai 2,8 %.
Hal ini menandakan masih adanya balita yang mengalami permasalahan status gizi di
kawasan Puskesmas Kampus Palembang.
Ada banyak faktor yang berperan terhadap terjadinya stunting, mulai dari pola
asuh dan pola makan yang tidak baik, terbatasnya layanan kesehatan termasuk
pelayanan ibu hamil dan ibu melahirkan, kurangnya pembelajaran dini yang
berkualitas, kurangnya akses untuk pemenuhan kebutuhan gizi, hingga kurangnya
akses sanitasi keluarga.5 Stunting dan permasalahan gizi lainnya yang terjadi secara
kronis terutama pada 1000 hari pertama kehidupan beresiko menyebabkan
kerentanan anak terhadap penyakit dan hambatan pertumbuhan fisik serta kognitif
yang dapat berpengaruh pada tingkat kecerdasan dan produktivitas anak dimasa
depan. Stunting dan masalah gizi diperkirakan menurunkan produk domestik bruto
(PDB) sekitar 3% pertahunnya.4
Mengingat besarnya dampak yang ditimbulkan dari permasalahan stunting,
berbagai intervensi dan program perlu dilakukan. Pencegahan dan penatalaksanaan
stunting memerlukan intevensi yang terpadu, mecakup intervensi gizi spesifik dan
gizi sensitif. Pengalaman global menunjukkan penyelenggaraan intervensi yang
terpadu merupakan kunci utama dari keberhasilan perbaikan gizi, tumbuh kembang
anak, dan pencegahan stunting.4 Konseling gizi merupakan salah satu upaya utama
yang harus dilakukan mengingat tingginya peran pola asuh ibu dan pola makan balita
terhadap kejadian stunting. Selain konseling, upaya kesehatan tradisional juga dapat
diterapkan sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang No. 36 tahun 2009
bahwa kesehatan tradisional termasuk salah satu dari 17 upaya pelayanan kesehatan
komprehensif yang dapat dilakukan dalam mengatasi suatu permasalahan kesehatan.
Selain pemanfaatan obat-obat tradisional, terapi akupresur juga dapat menjadi pilihan
dalam upaya pelayanan kesehatan. Pemanfaatan obat tradisional dan akupresur dapat
diterapkan melalui asuhan mandiri sebagai upaya pemberdayaan masyarakat berbasis
kesehatan sehingga dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat dalam mengatasi
gangguan kesehatan.
Berdasarkan latar belakang itulah, penulis tertarik untuk meneliti
implementasi konseling gizi dan asuhan mandiri terhadap perubahan pola asuh ibu
dan pola makan balita dengan stunting. Diharapkan melalui penelitian ini, konseling
gizi dan asuhan mandiri melalui TOGA dan akupresur dapat disosialisasikan secara
intensif sehingga lebih dikenal oleh masyarakat umum.

1.2 Rumusan Masalah


Apakah konseling gizi dan asuhan mandiri memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap perubahan pola asuh ibu dan pola makan balita dengan stunting di
Puskesmas Kampus Palembang periode Juli-Agustus 2019?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari pelaksanaan mini project ini adalah untuk menganalisis
perubahan pola asuh ibu dan pola makan balita sebelum dan setelah dilakukan
konseling gizi dan asuhan mandiri di Puskesmas Kampus Palembang periode Juli-
Agustus 2019.

1.3.2 Tujuan Khusus


Tujuan khusus dari pelaksanaan mini project ini adalah
a. Mengedukasi dan memberdayakan ibu dengan balita stunting melalui kegiatan
posyandu yang bersinergi dengan kegiatan masyarakat.
b. Mengetahui pemanfaatan asuhan mandiri akupresur dan tanaman obat keluarga
(TOGA) dalam perbaikan pola makan balita.

1.4 Hipotesis
Hipotesis pada penelitian ini yaitu
Ho: Tidak ada perbedaan signifikan dari pola asuh ibu dan pola makan balita
sebelum dan sesudah dilakukan konseling gizi dan asuhan mandiri akupresur
dan tanaman obat keluarga (TOGA) di Puskesmas Kampus Palembang periode
Juli-Agustus 2019.
Ha: Ada perbedaan signifikan dari pola asuh ibu dan pola makan balita sebelum dan
sesudah dilakukan konseling gizi dan asuhan mandiri akupresur dan tanaman
obat keluarga (TOGA) di Puskesmas Kampus Palembang periode Juli-Agustus
2019.

1.5 Manfaat Penelitian


Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak sebagai
berikut.
1.5.1 Manfaat Ilmiah
Manfaat dapat diberikan kepada institusi meliputi sebagai berikut yang
a. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi bidang kedokteran.
b. Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan dan pembanding untuk
penelitian selanjutnya.

1.5.2 Manfaat bagi Masyarakat


a. Memberikan informasi tentang pentingnya konseling gizi dan asuhan mandiri
sebagai salah satu langkah upaya menurunkan angka balita stunting di Puskesmas
Kampus Palembang periode Juli-Agustus 2019.
b. Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai manfaat asuhan mandiri
akupresur dan tanaman obat keluarga (TOGA) terhadap pola makan balita dengan
stunting.

f
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan desain
rancangan one group pre-test and post-test design berdasarkan data primer
berupa gambaran pola asuh ibu dan pola makan balita sebelum dan sesudah
intervensi berupa konseling gizi dan asuhan mandiri di Puskesmas Kampus
Palembang.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian


3.2.1 Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan dari Juli 2019 hingga Agustus 2019.
3.2.2 Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di wilayah Puskesmas Kampus Palembang dan posyandu
terkait.

3.3 Populasi dan Sample


3.3.1 Populasi Penelitian
Populasi target penelitian adalah seluruh ibu balita stunting yang datang
berobat di Puskesmas Kampus Palembang dan posyandu terkait.
3.3.2 Sample Penelitian
Sampel penelitian yang diambil pada penelitian ini adalah ibu balita
stunting yang datang berobat di Puskesmas Kampus Palembang dan posyandu
terkait yang dipilih dengan menggunakan metode random sampling.
Adapun kriteria inklusi pada penelitian ini adalah
1. Ibu memiliki anak yang mengalami stunting.
2. Ibu bersedia menjadi responden dan mau menerapkan konseling serta asuhan
mandiri yang telah diberikan secara rutin.
3. Pasien yang mengisi informed consent.

6
Adapun kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah
1. Ibu balita stunting yang tidak kooperatif.
2. Balita menderita penyakit bawaan atau infeksi yang dapat mempengaruhi tumbuh
kembangnya sehingga dapat menjadi faktor perancu.

3.4 Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data adalah melalui pengumpulan data primer diperoleh
dari hasil pemeriksaan sebelum dan sesudah intervensi konseling gizi dan asuhan
mandiri di Puskesmas Kampus Palembang. Data primer yang dikumpulkan meliputi
usia, jenis kelamin, pola asuh ibu dan pola makan balita. Gambaran pola asuh ibu dan
pola makan balita dinilai dengan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah
intervensi dilakukan.

3.5 Metode Pengolahan dan Analisis Data


Data yang telah berhasil dikumpulkan kemudian diolah. Pengolahan data
dalam penelitian ini melalui beberapa tahap, yaitu
1. Pengolahan data berupa gambaran pola asuh ibu dan pola makan balita
sebelum dan sesudah intervensi konseling gizi dan asuhan mandiri di
Puskesmas Kampus Palembang.
2. Peneliti mengolah melakukan tabulasi data dimana data disajikan dalam
bentuk tabel.
3. Peneliti menganalisis data dengan menggunakan program Statistic Package
for the Social Sciences (SPSS) dengan melakukan pengkodean data (data
coding), penyuntingan data (data editing), pemasukkan data (data entry), dan
pembersihan data (data cleaning).
4. Peneliti menganalisis hasil penelitian dengan uji statistik paired t-test. Bila
tidak memenuhi syarat uji paired t-test, digunakan uji alternatif yaitu uji
Wilcoxon.

7
3.6 Kerangka Konsep

Input Data
Data yang dikumpulkan berupa gambaran pola asuh ibu dan pola makan balita stunting

Intervensi Lintas Program

Input Data
Penilaian ulang gambaran pola asuh ibu dan pola makan balita stunting setelah
intervensi

Tabulasi Data
Data yang dikumpulkan kemudian disajikan dalam bentuk tabel

Analisis Data
Data dianalisis dengan menggunakan program SPSS 21.0
Data diuji dengan uji statistic paired t-test. Apabila data terdistribusi tidak normal,
digunakan uji alternatif yaitu uji Wilcoxon

Interpretasi Hasil dan Pembuatan Kesimpulan dan Saran


Hasil uji data diinterpretasikan dan dianalisis, kemudian dibuat kesimpulan dan saran

3.7 Definisi Operasional


a. Stunting
Definisi: Kondisi pendek dimana panjang atau tinggi badan berada di bawah
minus dua standar deviasi panjang pada tinggi anak standar sesuai usia yang
ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor :
1995/MENKES/SK/XII/2010
b. Asuhan mandiri: Akupresur
Definisi: salah satu keterampilan dalam ilmu kesehatan tradisional dengan
menggunakan teknik penekanan tertentu jari tangan pada titik akupuntur tertentu
di seluruh permukaan tubuh dalam rangka usaha promotif dan preventif
kesehatan.
c. Asuhan mandiri: Tanaman Obat Keluarga (TOGA)

8
Definisi: tanaman budidaya rumahan yang dapat digunakan sebagai ramuan obat
tradisional sehingga memiliki manfaat bagi kesehatan.

9
3.8 Rencana Jadwal Kegiatan

No Uraian Jangka Waktu Pelaksanaan Penelitian


Juli Agustus September Oktober
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2
1-7 8-14 15-21 22-28 29-4 5-11 12-18 19-25 26-1 2-8 9-15 16-22 23-29 30-6
1 Koordinasi dengan
kepala puskesmas
2 Koordinasi lintas sektor
dan lintas program
3 Persiapan sarana
prasarana
4 Pemaparan proposal
penelitian
5 Pengumpulan subjek
penelitian
6 Pelaksanaan intervensi
pada subjek penelitian
7 Monitoring dan evaluasi

8 Pemaparan laporan
akhir

10
Lampiran 1. Alur Pelayanan Balita Stunting di Puskesmas Kampus

Pasien balita masuk poli anak

 Identifikasi penyebab:
pola asuh, pola makan,
Pengukuran Antropometri: TB faktor social ekonomi,
< -2 SD menurut acuan penyakit penyerta
Depkes RI  stunting  Pemeriksaan tanda gizi
buruk/tanda bahaya
lainnya
Konsul Poli Gizi

Poli Gizi
 Pencatatan data identitas
 Identifikasi penyebab: pola asuh, pola makan,
faktor social ekonomi, penyakit penyerta
 Pengisian kuesioner (pretest sebelum
intervensi konseling)
 Konseling gizi
 Pengisian kuesioner (post test setelah
intervensi)
 Pemberian PMT

Konsul Program Kestrad

Program Kestrad
 Pencatatan data identitas
 Konseling asuhan mandiri akupresur dan
TOGA

Edukasi kontrol ulang untuk


evaluasi

11
Lampiran 2. Standar Tinggi Badan/Panjang Badan menurut Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia nomor : 1995/MENKES/SK/XII/2010.

12