Anda di halaman 1dari 17

TELAAH KRITIS JURNAL

Nigel P Murray1,2, Eduardo Reyes3, Nelson Orellana4, Cynthia Fuentealba4, Omar Jacob4
1
Hematology Medicine 2Faculty of Medicine University Mayor 3Urology Service, Hospital
DIPRECA, Santiago Chile 4Urology Service, Hospital de Carabineros de Chile

Prostate Cancer Screening in the Fit Chilean Elderly: a Head


to Head Comparison of Total Serum PSA versus Age Adjusted
PSA versus Primary Circulating Prostate Cells to Detect
Prostate Cancer at Initial Biopsy

KELOMPOK 6

Pembimbing:
Prof. Dr. Joewono Soeroso, dr., M.Sc., Sp.PD-KR
Peserta Pendidikan Dokter Spesialis I
Eko Wicaksono Subagio / 021618016303/ Bedah Mulut
Ramadhan P.V.S. Wijaya / 021618016304/ Bedah Mulut
Aji Mustika Ningrum / 011728066305/ Anestesiologi dan Reanimasi
Agustinus K. Haryo Utomo / 011728066314/ Anestesiologi dan Reanimasi
Vivi Irma Pratiwi / 011728176301/ Radiologi
Arismawati / 011728176302/ Radiologi
Anandhika Dwijaya / 011728176303/ Radiologi
Devy Yuspita Rahma / 011728176304/ Radiologi

FAKULTAS KEDOKTERAN UNAIR


RSUD Dr. SOETOMO
2018
I. Pendahuluan
Kanker prostat merupakan suatu penyakit kanker yang menyerang kelenjar prostat
dengan sel-sel prostat, tumbuh secara abnormal dan tidak terkendali, sehingga mendesak
dan merusak jaringan sekitarnya yang merupakan keganasan terbanyak diantara sistem
urogenitalia pada pria. Munculnya kanker prostat secara laten pada usia tua banyak
terjadi. Sepuluh persen pria usia enam puluh tahun mempunyai kanker prostat’diam’dan
tidak bergejala. Persentasi ini bertambah usia.Sembilan puluh persen tumor tersebut
merupakan adenokarsinoma. Umumnya, penyakitnya multifocal keganasan sering terjadi
terletak di pinggir kelenjar. Prognosisnya langsung bergantung pada derajat keganasan
sel-sel dan kadar infiltrasi ke dalam pembuluh darah limfe dan pembuluh balik.
Kanker prostat adalah kanker yang paling sering terjadi pada laki-laki di Amerika
dan Eropa. Kanker prostat juga merupakan penyebab pertama kematian akibat kanker di
Amerika dan penyebab ketiga kematian akibat kanker di Eropa. Di Asia, insiden kanker
prostat rata-rata adalah 7,2 per 100.000 pria per-tahun. Di Indonesia, jumlah penderita
kanker prostat di tiga RS pusat pendidikan (Jakarta, Surabaya dan Bandung) selama 8
tahun terakhir adalah 1.102 pasien dengan rerata usia 67,18 tahun. Prevalensi kanker
prostat di Indonesia tahun 2013 adalah sebesar 0,2‰ atau diperkirakan sebanyak 25.012
penderita. Provinsi yang memiliki prevalensi kanker prostat tertinggi adalah D.I.
Yogyakarta, Bali, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan yaitu sebesar 0,5‰, sedangkan
berdasarkan estimasi jumlah penderita penyakit kanker prostat terbanyak berada pada
Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Jawa Tengah.
Salah satu metode penapisan kanker prostat adalah mengetahui kadar total serum
PSA. PSA adalah serum protease yang diproduksi dari sel epitel dari kelenjar prostat,
dibebaskan dari epitel prostat, dan beredar di darah. PSA dianggap sebagai tumor marker
untuk mendiagnosa dan penatalaksanaan pada kanker prostat. Namun, PSA tidak spesifik
terhadap kanker prostat. Karena peningkatan PSA juga terjadi pada keadaan seperti
prostatic intraepithelial neoplasia, acute prostatitis, prostatic ischemia, dan nodular
prostatic hyperplasia (NPH). Kadar total serum PSA adalah biomarker/tumor marker yang
dipakai secara luas sebagai penapisan kanker prostat. Pada usia lanjut usia spesifisitas
PSA menurun dikarenakan pembesaran jinak prostat (BPH) dan prostatitis dapat
mengompensasi kadar PSA menurut umur.
Deteksi malignant circulating prostate cell (mCPC) dapat menjadi salah satu
kandidat untuk deteksi dini kanker prostat. Pada pasien dengan kanker prostat, paling
tidak, ada satu subpopulasi sel kanker yang memasuki sirkulasi peredaran darah. Jumlah
sel ini sangat kecil walaupun begitu mCPC dapat dideteksi menggunakan imunositokimia
dengan kombinasi anti-P504S (methyl-acyl-CoA racemae) dan antibodi monoklonal Anti-
PSA.
Berdasarkan fakta tersebut, kami melakukan telaah kritis jurnal untuk mencari
bukti terbaik bahwa pemeriksaan mCPC memang benar bermakna secara klinis sehingga
diharapkan dapat diterapkan dalam pelayanan kesehatan sehari-hari.

II. Pertanyaan Klinis


Pada laki-laki lanjut usia, apakah pemeriksaan serum PSA dan/atau primary
circulating prostate cell cukup baik dibandingkan dengan pemeriksaan biopsi dalam
penapisan kanker prostat?
III. Formulasi PICO
Population Index Control Outcome
Pada laki-laki apakah dibandingkan Penapisan kanker
lanjut usia Pemeriksaan dengan pemeriksaan prostat
serum PSA biopsi
dan/atau
primary
circulating
prostate cell
cukup baik

IV. Penyusunan Struktur Umum PICO untuk Penelusuran


Elderly Men AND Serum PSA AND Primary Circulating Prostate Cells AND
Biopsy AND Screening Prostate Cancer

V. Bukti Jurnal Terbaik


Pencarian jurnal dilakukan dengan menggunakan situs Pubmed. Strategi
pencarian, hasil dan kriteria inklusi pada alur di bawah (Gambar 1). Dari 5 jurnal
terpilih, jurnal terbaik berikut dipilih karena merupakan sesuai dengan pertanyaan klinis
yang diajukan. (Gambar 2).
PUBMED
n=12

Screening title and abstract Inclusion criteria:


Diagnostic (Screening)

n=8

Full-text availability

n=5

Reading full-text

Gambar 1. Alur Strategi Pencarian


Useful article = 1
Gambar 2. Bukti Jurnal Terbaik

Judul:
Prostate cancer screening in fit Chilean elderly: a head to head comparison of total serum
PSA versus age adjusted PSA versus primary circulating prostate cells to detect prostate
cancer at initial biopsy
Penulis:
Nigel P Murray (Hematology Medicine, Faculty of Medicine University Mayor), Eduardo
Reyes (Urology Service, Hospital DIPRECA, Santiago Chile ), Nelson Orellana, Cynthia
Fuentealba, Omar Jacob (Urology Service, Hospital de Carabineros de Chile)
Nama dan Tahun Jurnal:
Asian Pacific Journal of Cancer Prevention Article 34, Volume 16, Issue 2, February
2015, Page 601-606. Asian Pac J Cancer Prev, 16 (2), 601-606
DOI:http://dx.doi.org/10.7314/APJCP.2015.16.2.601

VI. Relevansi PICO Pertanyaan Klinis dengan PICO Jurnal


PICO Pertanyaan Klinis Jurnal yang diperoleh
P Pada laki-laki lanjut usia Kriteria inklusi: semua lelaki yang
menjalani skrining kanker prostat di
Departemen Urologi Hospital de
Carabineros de Chile pada bulan Januari
2011 sampai September 2013 dengan
rata-rata usia 64,7±10,2 tahun
I apakah Pemeriksaan serum PSA Spesifisitas dan sensitivitas deteksi
dan/atau primary circulating primay circulating prostate cell pada
prostate cell cukup baik pasien dengan usia <70 tahun adalah
86% dan 88%. Pada pasien dengan usia
≥70 tahun, spesifisitas dan sensitivitas
deteksi primay circulating prostate cell
adalah 92% dan 87%. Sedangkan pada
pasien dengan kadar PSA >6,5 ng/ml
didapatkan hasil spesifisitas dan
sensitivitas adalah 61% dan 62%
C dibandingkan dengan Pemeriksaaan transrectal ultrsound
pemeriksaan biopsi guided (TRUS) dianggap sebagai standar
baku dalam penegakan diagnosis kanker
prostat
O Penapisan kanker prostat Kadar total serum PSA adalah biomarker
yang dipakai secara luas pada penapisan
kanker   prostat,   meskipun   peingkatan
kadar serum PSA ini tidak spesific pada
kanker   prostat   karena   dapat   meningkat
juga   pada   BPH.   Selain   itu   deteksi
malignant   primary   circulating   prostate
cell   (mCPC)  dapat   menjadi   salah   satu
kandidat   dalam   skrining   kanker   prostat
dikarenakan  pada pasien dengan kanker
prostat,   paling   sedikit,   terdapat   satu
subpopulasi   sel   kanker   yang   menyebar
dan masuk ke dalam sirkulasi peredaran
darah
VII. Desain Penelitian, Fokus dan Worksheet
Desain penelitian : Cross sectional
Fokus Jurnal : Screening
Worksheet yang digunakan : Diagnostik

VIII. Telaah Kritis


VALIDITY
Recruitment – apakah uji diagnostik dilakukan dengan mencakup semua spektrum
pasien (seperti akan digunakan dalam praktik?)
Apa yang terbaik? Di mana saya menemukan informasi tersebut?
o Ideal jika uji diagnostik o Ditemukan pada methods. Pada penelitian
diaplikasikan terhadap spektrum ini, subjek dengan kadar total serum PSA
pasien keseluruhan – dengan ≥4,0 ng/ml dan/atau hasil pemeriksaan DRE
gangguan ringan, parah, kasus abnormal atau curiga kanker (teraba nodul,
baru, dan lama. daerah dengan indurasi, dan pembesaran
asimetris lobus lateralis prostat) dirujuk utk
dilakukan biopsi prostat dengan metode
TRUS

o Sangat bagus jika pasien diseleksi


secara acak atau berurutan dari
admisi, sehingga bias seleksi o Ditemukan pada Methods dan Result.
dapat diminimalisasi. Penelitian ini mengunakan seluruh populasi
(semua laki-laki yang menjalani skrining
kanker prostat) dan kemudian dipilih utk
menjadi sampel penelitian bias seleksi dapat
diminimalisasi.

Makalah ini: Ya √ Komentar: cukup jelas


Allocation & Maintenance – Apakah tes akhir standar baku dikenakan untuk
semua subjek?
Apa yang terbaik? Di mana saya menemukan informasi tersebut?
Tes akhir standar baku (misalnya Ditemukan pada Methods dan Result.
apakah subjek memiliki penyakit atau Penelitian ini menggunakan pembanding yaitu
tidak) harus diukur untuk semua tes standar baku penegakan diagnosis kanker
subjek. Dalam kasus di mana prostat adalah biopsi prostat dengan metode
tergantung periode waktu tindak TRUS. Tes tersebut dilakukan pada seluruh
lanjut (lamanya tergantung pada subjek sampel penelitian
penyakit yang diteliti) untuk melihat
apakah subjek benar – benar tidak
mengalami penyakit, maka tindak
lanjut ini harus cukup lama untuk
memastikan hasilnya.

Makalah ini: Ya √ Komentar: cukup jelas


Measurement – apakah penilai disamarkan (Blinding) terhadap hasil tes dan/atau
apakah tes akhir standar baku bersifat Objektif?
Apa yang terbaik? Di mana saya menemukan informasi tersebut?
o Tes standar baku dan tes indeks o Ditemukan pada Methods. Tes standar baku
yang dinilai harus dikerjakan dan tes indeks yang dinilai pada penelitian
pada setiap pasien secara ini dianalisis secara independen oleh
independen dan disamarkan. beberapa evaluator yang disamarkan
Mereka yang menginterpretasi mengenai detail klinis pasien, hasil kadar
kan hasil tes harus tidak serum PSA, biopsi maupun CPC
mengetahui hasil tes lainnya.

o Akhirnya, makalah ini harus juga


menjelaskan tes indeks dengan o Tes indeks yang diuji pada penelitian ini
lengkap sehingga memungkinkan adalah malignant primary circulating 
replikasi dan interpretasi hasil. prostate cell (mCPC) dengan proses deteksi
dan pewarnaan imunositokimia tercantum 
dalam methods

Makalah ini: Ya √ Komentar: cukup jelas


Importancy
Jawaban
Telaah
sesuai Bukti
Importancy
Worksheet
Apakah Kemaknaan Statistik
kemaknaan Ya √
statistik &
kemaknaan
klinis dari
hasil Kemaknaan Klinis
penelitian
tergambar
dengan
baik?

mCPC pada pasien <70 tahun

mCPC pada pasien ≥70 tahun

Kadar PSA ≥6,5 ng/ml dan 4.0 – 6,5 ng/ml pada pasien
≥70 tahun
Apa makna Sensitivitas Pada results tercantum dalam tabel
dari hasil (Sn),
penelitian? Spesifisitas
(Sp),
Positive
Predict
Value
(PPV),
Negative
Predict Penghitungan menggunakan CAT-MAKER :
Value
(NPV)

Penghitungan Manual :
Post-test Probability = = 76,6%

Pre test odds = = 0,51

Post test odds = = 3,28


Penghitungan Manual :
Post-test Probability = = 88,6%

Pre test odds = = 0,74

Post test odds = = 7,8

Penghitungan Manual :
Post-test Probability = = 31,5%

Pre test odds = = 0,74

Post test odds = = 0,46


Dari data tersebut didapatkan hanya kesesuaian nilai mCPC
pada usia <70 tahun dan ≥70 tahun dengan hasil penelitian
yang tercantum dengan hasil penghitungan menggunakan
CAT-MAKER dan manual.
Kesimpulan hasil penelitian
o Nilai sensitivitas mCPC pada usia ≥70 tahun didapatkan
86,7% menunjukkan apabila tes mCPC yang dilakukan
pada pasien dengan Biopsi positif ditemukan negatif,
maka kemungkinan 86,7% pasien tersebut tidak
mengalami kanker prostat (SnOut). Sedangkan nilai
sensitivitas mCPC pada usia <70 tahun didapatkan 88,1%
menunjukkan apabila tes mCPC yang dilakukan pada
pasien dengan Biopsi positif ditemukan negatif, maka
kemungkinan 88,1% pasien tersebut tidak mengalami
kanker prostat (SnOut). Pada sensitivitas serum PSA di
pasien usia ≥70 tahun didapatkan 38% menunjukkan
apabila kadar serum PSA yang dilakukan pada pasien
dengan Biopsi positif ditemukan negatif, maka
kemungkinan 38% pasien tersebut tidak mengalami
kanker prostat (SnOut). Sehingga tes mCPC pada kedua
kelompok ini tes ini bermanfaat untuk skrining dan
mempunyai sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan
dengan kadar serum PSA.
o Nilai spesifisitas mCPC pada usia ≥70 tahun didapatkan
91,8% menunjukkan apabila tes mCPC yang dilakukan
pada pasien dengan biopsi negatif ditemukan positif,
maka kemungkinan 91,8% pasien tersebut menderita
kanker prostat. Sedangkan nilai spesifisitas mCPC pada
usia <70 tahun didapatkan 86,4% menunjukkan apabila
tes mCPC yang dilakukan pada pasien dengan biopsi
negatif ditemukan positif, maka kemungkinan 86,4%
pasien tersebut menderita kanker prostat. Sedangkan nilai
spesifisitas serum PSA di pasien usia ≥70 tahun
didapatkan 39% menunjukkan apabila kadar serum PSA
yang dilakukan pada pasien dengan biopsi negatif
ditemukan positif, maka kemungkinan 39% pasien
tersebut menderita kanker prostat.
o Positif predictive value mCPC pada usia ≥70 tahun
didapatkan 88,6% menunjukkan bila hasil tes mCPC
ditemukan positif, maka kemungkinan pasien tersebut
benar menderita kanker prostat adalah 88,6%. Sedangkan
Positif predictive value mCPC pada usia <70 tahun
didapatkan 76,6% menunjukkan bila hasil tes mCPC
ditemukan positif, maka kemungkinan pasien tersebut
benar menderita kanker prostat adalah 76,6%. Sedangkan
Positif predictive value serum PSA di pasien usia ≥70
tahun didapatkan 31% menunjukkan bila hasil kadar
serum PSA ditemukan positif, maka kemungkinan pasien
tersebut benar menderita kanker prostat adalah 31%
o Negative predictive value mCPC pada usia ≥70 tahun
didapatkan 90,3% menunjukkan apabila hasil tes mCPC
ditemukan negatif, maka kemungkinan pasien tersebut
tidak menderita kanker prostat adalah 90,3%. Sedangkan
Negative predictive value mCPC pada usia <70 tahun
didapatkan 93,4% menunjukkan apabila hasil tes mCPC
ditemukan negatif, maka kemungkinan pasien tersebut
tidak menderita kanker prostat adalah 93,4%. Sedangkan
Negative predictive value serum PSA di pasien usia ≥70
tahun didapatkan 46% menunjukkan apabila hasil kadar
serum PSA ditemukan negatif, maka kemungkinan
pasien tersebut tidak menderita kanker prostat adalah
46%. Sehingga pada kedua kelompok ini tes ini
bermanfaat untuk skrining dan memliki nilai lebih
baik dibandingkan kadar serum PSA.
o Likelihood Ratio Positive mCPC pada usia ≥70 tahun
didapatkan 10,57 menunjukkan tes mCPC memberikan
kenaikan bermakna terhadap kemungkinan menderita
kanker prostat bila hasil pemeriksaan positif. Sedangkan
Likelihood Ratio Positive mCPC pada usia <70 tahun
didapatkan 6,46 menunjukkan tes mCPC memberikan
kenaikan cukup bermakna terhadap kemungkinan
menderita kanker prostat bila hasil pemeriksaan positif.
Sedangkan Likelihood Ratio Positive value serum PSA di
pasien usia ≥70 tahun didapatkan 0,62 menunjukkan
kadar serum PSA memberikan kenaikan minimal
terhadap kemungkinan menderita kanker prostat bila
hasil pemeriksaan positif.
Likelihood Ratio Negative mCPC pada usia ≥70 tahun
didapatkan 0,15 menunjukkan tes mCPC memberikan
penurunan minimal terhadap kemungkinan menderita
kanker prostat bila hasil pemeriksaan negatif. Sedangkan
Likelihood Ratio Negative mCPC pada usia <70 tahun
didapatkan 0,14 menunjukkan tes mCPC memberikan
penurunan minimal terhadap kemungkinan menderita
kanker prostat bila hasil pemeriksaan negatif. Sedangkan
Likelihood Ratio Negative serum PSA di pasien usia ≥70
tahun didapatkan 1,58 menunjukkan tes kadar serum PSA
memberikan penurunan minimal terhadap kemungkinan
menderita kanker prostat bila hasil pemeriksaan negatif.
Dapat disimpulkan bahwa penelitian ini memiliki
LR+ bermakana dan LR- minimal menunjukkan
bahwa tes mCPC cukup bermakna/bermanfaat secara
klinis pada skrining dan tes mCPC lebih bermanfaat
dibandingkan dengan tes kadar serum PSA
o Pre-test Probability atau Prevalensi mCPC pada usia ≥70
tahun didapatkan 42% menunjukkan probabilitas pasien
menderita kanker prostat sebelum dilakukan uji.
Sedangkan Pre-test Probability atau Prevalensi mCPC
pada usia <70 tahun didapatkan 34% menunjukkan
probabilitas pasien menderita kanker prostat sebelum
dilakukan uji. Sedangkan Pre-test Probability atau
Prevalensi serum PSA di pasien usia ≥70 tahun
didapatkan 42% menunjukkan probabilitas pasien
menderita kanker prostat sebelum dilakukan uji.
Post-test Probability mCPC pada usia ≥70 tahun
didapatkan 88,6% menunjukkan probabilitas pasien
menderita kanker prostat setelah dilakukan uji.
Sedangkan Post-test Probability mCPC pada usia <70
tahun didapatkan 76,6% menunjukkan probabilitas
pasien menderita kanker prostat setelah dilakukan uji.
Sedangkan Post-test Probability serum PSA di pasien
usia ≥70 tahun didapatkan 31,5% menunjukkan
probabilitas pasien menderita kanker prostat setelah
dilakukan uji.
Dapat disimpulkan bahwa ada perubahan nilai yang
signifikan dari probabilitas pada pasien usia ≥70
tahun sebelum dilakukan uji dan sesudah (42%
menjadi 88,6%) serta probabilitas pada pasien usia
<70 tahun sebelum dilakukan uji dan sesudah (34%
menjadi 76,6%) sehingga menunjukkan bahwa tes
mCPC dapat digunakan sebagai metode skrining yang
baik dan tes mCPC lebih baik digunakan sebagai metode
skrining dibandingkan dengan tes kadar serum PSA
o Pre-test Odds mCPC pada usia ≥70 tahun didapatkan
sebesar 0,74 menunjukkan nilai perbandingan jumlah
pasien yang benar menderita kanker prostat (biopsi
positif) dengan pasien yang tidak menderita kanker
prostat (biopsi negatif) sebelum dilakukan uji. Sedangkan
Pre-test Odds mCPC pada usia <70 tahun didapatkan
sebesar 0,51 menunjukkan nilai perbandingan jumlah
pasien yang benar menderita kanker prostat (biopsi
positif) dengan pasien yang tidak menderita kanker
prostat (biopsi negatif) sebelum dilakukan uji. Pre-test
Odds serum PSA di pasien usia ≥70 tahun didapatkan
sebesar 0,74 menunjukkan nilai perbandingan jumlah
pasien yang benar menderita kanker prostat (biopsi
positif) dengan pasien yang tidak menderita kanker
prostat (biopsi negatif) sebelum dilakukan uji.
o Post-test Odds mCPC pada usia ≥70 tahun didapatkan
sebesar 7,8 menunjukkan nilai perbandingan jumlah
pasien menderita kanker prostat (biopsi positif) dengan
pasien yang tidak menderita kanker prostat (biopsi
negatif) setelah dilakukan uji dan memberikan hasil
positif. Sedangkan Post-test Odds mCPC pada usia <70
tahun didapatkan sebesar 3,28 menunjukkan nilai
perbandingan jumlah pasien menderita kanker prostat
(biopsi positif) dengan pasien yang tidak menderita
kanker prostat (biopsi negatif) setelah dilakukan uji dan
memberikan hasil positif. Sedangkan Post-test Odds
serum PSA di pasien usia ≥70 tahun didapatkan sebesar
0,46 menunjukkan nilai perbandingan jumlah pasien
menderita kanker prostat (biopsi positif) dengan pasien
yang tidak menderita kanker prostat (biopsi negatif)
setelah dilakukan uji dan memberikan hasil positif.
Mungkinkah Pada penelitian ini terdapat nilai p yang menunjukkan
hasil Tidak √ kemaknaan statistik pada studi seperti ditunjukkan
pemeriksaan dibawah ini
terjadi
karena
kebetulan?
P value?
Nilai p < 0,001 menunjukkan adanya hubungan yang
signifikan antara biopsi prostat (tes standar baku untuk
diagnosis kanker prostat mewakili ‘penyakit’) dan mCPC
sehingga hasil pemeriksaan dapat disimpulkan tidak terjadi
karena kebetulan.

applicability
No. Telaah Applicability Jawaban
1. Apakah alat skrining tersedia di setting Tidak√
klinis kita? Alat skrining yang digunakan
pada penelitian ini adalah
pemeriksaan malignant circulating
prostace cell (mCPC) yang
dideteksi menggunakan antibodi
monoclonal clone 28A4
(novocastro laboratory UK) dan
diidentifikasi menggunakan
alkaline phosphatase –anti
alkaline phosphatase system
(LSAB2, DAKO, USA)
Di Indonesia, pemeriksaan
skrining kanker prostat masih
mengandalkan kadar total serum
PSA.
2. Apakah penyakit yang diskrining ada Ya√
terapinya setelah terdeteksi? Terapi kanker prostat sesuai
guideline terbaru dilakukan
segera setelah pasien terdeteksi
kanker prostat
(Pedoman Nasional Pelayanan
Kedokteran Kanker Prostat 2017)
3. Apakah penyakit yang dideteksi sangat Ya √
penting dan besar bebannya untuk Kanker prostat merupakan kanker
dilakukan skrining? yang paling sering dijumpai pada
laki-laki dan urutan pertama
penyebab kematian akibat kanker
di eropa dan amerika. Di Asia,
insiden kanker prostat rata-rata
adalah 7,2 per 100.000 pria per-
tahun. Di Indonesia, jumlah
penderita kanker prostat di tiga
RS pusat pendidikan (Jakarta,
Surabaya dan Bandung) selama 8
tahun terakhir adalah 1.102 pasien
dengan rerata usia 67,18 tahun
4. Apakah outcomes penelitian ini penting Ya√
bagi pasien anda? Hasil dari penelitian ini
memberikan gambaran bahwa
pemeriksaan mCPC memiliki
tingkat sensitivitas yang tinggi
sehingga mungkin untuk dijadikan
bahan pertimbangan dalam
memilih metode skrining yang
sesuai dengan pasien
dibandingkan metode skrining
kanker prostat yang suda ada di
indoneia
5. Akankah potensi manfaat lebih besar Ya√
dibanding potensi merugikan bila indeks ini Pemeriksaan mCPC adalah
diaplikasikan pada pasien anda? pemeriksaan yang memberikan
prediksi kejadian kanker prostat
yang cukup bermakna sehingga
mempermudah pasien
mendapatkan terapi yang
diperlukan sedini mungkin apabila
hasil dinyatakan positif.
6. Apakah hasil penelitian ini dapat Ya√
diintegrasikan dengan nilai-nilai serta Penelitian ini memaparkan hasil
harapan pasien anda? perbandingan antara mCPC dan
kadar total serum PSA dengan
biopsi prostat dimana hasil dari
tes tersebut memberikan makna
klinis yang cukup
bermakna/bermanfaat dibanding
tes baku standar maupun tes
skrining lainnya.

X. Kesimpulan
1. Penelitian yang dilaporkan dalam jurnal tersebut VALID.
2. IMPORTANCY hasil penelitian yang dilaporkan dalam jurnal tersebut
tergambar, dan cukup bermakna
3. Hasil penelitian yang dilaporkan dalam jurnal tersebut bersifat
APPLICABLE untuk pasien namun belum dapat diterapkan di Indonesia
DAFTAR PUSTAKA

1. Jong win de dan Sjamsuhidajat R. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah,Edisi III. Jakarta:
EGC.
2. Sanjaya A. 2014. Hubungan Prostate Spesific Antigen dan Digital Rectal
Examination dengan keganasan prostat yang dilakukan dengan cara Transrectal
Biopsy di Poliklinik Urologi RSUP H.Adam Malik Medan.
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/61990
3. Komite Penanggulan Kanker Nasional. 2017. Panduan Nasional Pelayanan
Kedokteran. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
4. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2015. Infodatin: Situasi
Penyakit Kanker. Kementerian Kesehatan RI
5. Nigel P Murray, Eduardo Reyes, Nelson Orellana, Cynthia Fuentealba, Omar Jacob.
Prostate Cancer Screening in the Fit Chilean Elderly : A Head to Head Comparison of
Total Serum PSA versus Age Adjusted PSA versus Primary Circulating Prostate Cells
to Detect Prostate Cancer at Initial Biopsy. Asian Pacific Journal of Cancer
Prevention Article 34, Volume 16, Issue 2, February 2015, Page 601-606.