Anda di halaman 1dari 29

BAHAN BACAAN

A. PENGERTIAN K3

K3 (Keselamtan dan Kesehatan Kerja) saat ini menjadi sebuah hal yang cukup
familiar dalam dunia kerja. Namun belum semua orang mengetahui pengertian K3
sebenarnya. Berikut adalah beberapa pengertian K3 menurut ILO (International Labour
Organization) dan beberapa ahli :

1. ILO (International Labour Organization)

Suatu upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan derajat kesejahtaraan fisik,


mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jabatan, pencegahan
penyimpangan kesehatan diantara pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan,
perlindungan pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan,
penempatan dan pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang diadaptasikan
dengan kapabilitas fisiologi dan psikologi; dan diringkaskan sebagai adaptasi pekerjaan
kepada manusia dan setiap manusia kepada jabatannya.

2. Mangkunegara (2002)

Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin
keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya,
dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan
makmur.

3. Suma’mur (2001)

Keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha untuk menciptakan suasana kerja yang
aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan.

4. Simanjuntak (1994)

Keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan
kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin,
peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja.
5. Mathis dan Jackson (2002)

Keselamatan adalah merujuk pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik


seseorang terhadap cedera yang terkait dengan pekerjaan. Kesehatan adalah merujuk pada
kondisi umum fisik, mental dan stabilitas emosi secara umum.

6. Ridley, John (1983) yang dikutip oleh Boby Shiantosia (2000)

Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat
dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan
sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut.

7. Jackson (1999)

Kesehatan dan Keselamatan Kerja menunjukkan kepada kondisi-kondisi fisiologis-


fisikal dan psikologis tenaga kerja yang diakibatkan oleh lingkungan kerja yang disediakan
oleh perusahaan.

B. DASAR HUKUM K3 DI INDONESIA

Dasar hukum pelaksanaan K3 di Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Undang-undang No. 1 Tahun 1951 tentang Kerja


2. Undang-undang No. 2 Tahun 1952 tentang Kecelakaan Kerja
3. Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
4. Permenaker No. 4 Tahun 1995 Tentang Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan
Kerja
5. Instruksi Menaker RI No. 5 Tahun 1996 Tentang Pengawasan dan Pembinaan K3
pada Kegiatan Konstruksi Bangunan
6. Permenaker No. 5 Tahun 1996 tentang SMK3 (Sistem Manajemen K3)

C. PERALATAN DAN PERLENGKAPAN KESELAMATAN KERJA K3


Keselamatan dan kesehatan kerja yang biasa disingkat K3 adalah sebuah instrumen
yang memproteksi perusahaan pekerja, lingkungan hidup, serta masyarakat yang ada
disekitar area potensi bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan (proteksi) tersebut
merupakan hak asasi yang harus dipenuhi oleh perusahaan. Tujuan utama dari K3 adalah
mencegah, mengurangi, dan berusaha mengurangi risiko kecelakaan kerja (zero accident).
Pencarian lainnya berkaitan dengan artikel ini adalah peralatan keselamatan kerja,
perlengkapan keselamatan kerja. Alat safety, alat-alat keselamatan kerja beserta fungsinya,
alat pelindung diri (APD), alat k3, alat keselamatan kerja k3, peralatan safety k3, alat
perlindungan diri k3.

Gambar berbagai jenis peralatan keselamatan kerja.


Salah satu cara untuk mencapai tujuan K3 tersebut yaitu perusahaan harus
melengkapi pekerjanya dengan alat-alat keselamatan yang memadai. Alat keselamatan
kerja ini biasa disebut dengan istilah APD (Alat Pelindung Diri). APD harus dipakai sesuai
dengan tingkatan bahaya serta risiko dari pekerjaaan, untuk menjaga keselamatan pekerja
dan orang yang berada disekitarnya. Beberapa jenis peralatan dan perlengkapan
keselamatan kerja K3 yang sering dipakai di sebuah perusahaan adalah seperti dibawah
ini :

1. Rompi Reflektor (Safety Vest); rompi ini diengkapi oleh bahan yang dapat berpendar
bila tersorot cahaya. Pendaran ini akan membantu mengetahui posisi pekerja saat
berada ditempat yang gelap.

2. Helm Pengaman (Safety Helmet); helmet utamanya berfungsi untuk melindungi kepala
pekerja dari jatuhan ataupun benturan benda asing secara langsung.

D. JENIS-JENIS ALAT PELINDUNG DIRI BESERTA FUNGSINYA


Dunia proyek merupakan salah satu sektor lapangan kerja tertinggi yang sering terjadinya
kecelakan kerja. Oleh sebab itu, untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja di proyek
diperlukan beberapa Alat Pelindung Diri (APD) yang disediakan bagi tenaga kerja proyek
(Kuli Bangunan).
Alat Pelindung Diri (APD) adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk
melindungi seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi
bahaya di tempat kerja.

Berikut akan kami uraikan jenis-jenis Alat Pelindung Diri (APD) yang biasanya
digunakan di dunia proyek beserta fungsinya.

1. Safety Helmet

Safety helmet berfungsi sebagai pelindung kepala dari benda yang bisa mengenai kepala
secara langsung.

2. Safety Belt

Safety belt berfungsi sebagai pelindung diri ketika pekerja bekerja/berada di atas ketinggian.

3. Safety Shoes

Safety shoes berfungsi untuk mencegah kecelakaan fatal yang menimpa kaki karena benda
tajam atau berat, benda panas, cairan kimia dan sebagainya.
4. Sepatu Karet

Sepatu karet (sepatu boot) adalah sepatu yang didesain khusus untuk pekerja yang berada di
area basah (becek atau berlumpur). Kebanyakan sepatu karet di lapisi dengan metal untuk
melindungi kaki dari benda tajam atau berat, benda panas, cairan kimia, dsb.

5. Sarung Tangan

Berfungsi sebagai alat pelindung tangan pada saat bekerja di tempat atau situasi yang dapat
mengakibatkan cedera tangan. Bahan dan bentuk sarung tangan di sesuaikan dengan fungsi
masing-masing pekerjaan.
6. Masker (Respirator)

Berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di tempat dengan kualitas udara
buruk (misal berdebu, beracun, dsb).

7. Jas Hujan ( rain Coat)

Berfungsi melindungi dari percikan air saat bekerja ( misal bekerja pada waktu hujan atau
sedang mencuci alat)
8. Kaca Mata Pengaman (Safety Glasses)

Berfungsi sebagai pelindung mata ketika bekerja (misalnya mengelas).

9. Penutup Telinga (Ear Plug)

Berfungsi sebagai pelindung telinga pada saat bekerja di tempat yang bising.

10. Pelindung Wajah (Face Shield)

Berfungsi sebagai pelindung wajah dari percikan benda asing saat bekerja (misal pekerjaan
menggerinda).
11. Pelampung

Pelampung berfungsi melindungi pengguna yang bekerja di atas air atau dipermukaan air
agar terhindar dari bahaya tenggelam dan atau mengatur keterapungan (buoyancy) pengguna
agar dapat berada pada posisi tenggelam (negative buoyant) atau melayang (neutral buoyant)
di dalam air.

E. CONTOH PENERAPAN K3LH


Alat Pelindung Diri (APD) adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai
bahaya dan resiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di
sekelilingnya. Kewajiban itu sudah disepakati oleh pemerintah melalui Departement Tenaga
Kerja Republik Indonesia Ada beberapa peralatan yang digunakan untuk melindungi
seseorang dari kecelakaan ataupun bahaya yang kemungkinan bisa terjadi. Peralatan ini wajib
digunakan oleh seseorang yang bekerja, seperti:
1. Pakaian keja
Tujuan pemakaian kerja adalah melindungi badan manusia terhadap pengaruh yang
kurang sehat atau yang bisa melukai badan
2. Sepatu kerja
Sepatu kerja (safety shoes) merupakan perlindungan terhadap kaki. Setiap pekerja
perlumemakai sepatu dengan sol yang tebal supaya bisa bebas berjalan dimana-mana
tanpa terluka oleh benda-benda tajam atau kemasukan oleh kotoran dari bagian
bawah. Bagian muka sepatu harus cukup kerja supaya kaki tidak terluka kalau
tertimpa benda dari atas.
3. Sepatu kerja
Sepatu kerja (safety shoes) merupakan perlindungan terhadap kaki. Setiap pekerja
perlumemakai sepatu dengan sol yang tebal supaya bisa bebas berjalan dimana-mana
tanpa terluka oleh benda-benda tajam atau kemasukan oleh kotoran dari bagian
bawah. Bagian sepatu harus cukup kerja supaya kaki tidak terluka kalau tertimpa
benda-benda dari atas.
4. Kacamata kerja
Kacamata digunakan untuk melindungi mata dari debu atau serpihan besi yang
berterbangan di tiup angin. Oleh karenanya mata perlu diberikan perlindungan.
Biasanya pekerjaan yang membutuhkan kacamata adalah mengelas
5. Sarung Tangan
Sarung tangan sangat diperlukan untuk beberapa jenis pekerjaan. Tujuan utaman
penggunaan sarung tangan adalah melindungi tangan dari benda-benda keras dan
mengangkat barang berbahaya. Pekerjaan yang sifatnya berulang seperti mendorong
gerobak secara terus menerus dapat mengakibatkan lecet pada tangan yang
bersentuhan dengan besi pada gerobak.
6. Helm
Helm sangat penting digunakan sebagai pelindung kepala dan sudah merupakan
keharusan bagi setiap pekerja untuk menggunakannya dengan benar sesuai peraturan.
7. Tali Pengaman ( Safety Hames)
Berfungsi sebagai pengaman saat bekerja di ketinggian. Diwajibkan menggunakan
alat ini di ketinggian lebih dari 1,8 meter.
8. Penutup Telinga
9. Berfungsi sebagai pelindung telinga pada saat bekerja ditenpat yang bising.
10. Masker ( Respirator)
Berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di tempat dengan
kualitas udara buruk (misal berdebu, beracun, dsb).
11. Pelindung Wajah
Berfungsi sebagai pelindung wajah dari percikan benda asing saat bekerja (misal
pekerjaan menggerinda)
.
Pengalaman visual lebih tertanam dalam hati

Seringkali kita marah-marah pada seseorang hanya karena kata-kata kita tidak pernah
digubrisnya. Ternyata selama kita berkomunikasi semua kata-kata kita masuk telinga kiri dan
keluar lewat telinga kanan. Percuma saja mereka menganggap tidak ada arti semua kata kita.
Oleh karena itulah maka peringatan dalam bentuk visual sangat perlu kita lakukan. Sudah
saatnya kita tunjukkan kepada mereka apa yang terjadi jika mereka mengabaikan aspek
keselamatan kerja. Dan video keselamatan kerja merupakan aspek penting tersebut. Kita
putar berbagai kejadian yang merupakan akibat tidak menerapkan aspek keselamatan kerja.
Video keselamatan kerja merupakan visualisasi berbagai kondisi yang terjadi pada saat kita
bekerja. Dengan memutarkan video ini diharapkan mereka melihat betapa mengerikan setiap
kejadian dan dalam kondisi ini diharapkan muncul dan tumbuh kesadaran betapa mengerikan
akibat pengabaian keselamatan kerja.

Peringatan Harus Terus Diberikan


Berbagai upaya telah kita lakukan dilingkungan kerja untuk menciptakan gaya hidup
kerja sehat. Tetapi ternyata yang terjadi sangat berbeda dengan kenyataan yang kita hadapi.
Berbagai alaat dan simbol keselamatan kerja yang kita pasang yang kita pasang ternyata tidak
mampu menumbuhkan kesadaran atas keselamatan kerja.Itu kondisi yang selalu kita hadapi
dilingkungan kerja. Walaupun kita sudah sering mengatakan bahwa gaya hidup sehat, tetapi
mereka tetap seenaknya. Dalam hal ini termasuk di dalamya adalah penerapan aspek
keselamatan kerja pada saat melakukan sesuatu. Mereka seakan tidak peduli terhadap
keselamatan dirinya, bahkan ketika kita membicarakan mengenai keselamatan kerja. Mereka
memang mendengarkan semua yang kita katakan, tetapi ternyata masih banyak kecelakaan
pada saat bekerja. Masih banyak dari mereka yang tidak menerapkan aspek keselamatan kerja
pada saat melakukan aktivitas kerjanya. Oleh karena itulah, setiap saat kita harus selalu
memperingatkan mereka untuk aspek keselamatan kerja ini. Kita tidak boleh jemu-jemu
memperingatkan mereka atas aspek keselamatan kerja yang harus diterapkan pada saat
bekerja. Untuk menjadi lebih baik, kita tidak boleh enggan untuk secara terus menerus
melakukan peringatan.
Aspek yang Ada Dalam Video Keselamatan Kerja

Pada saat kita menyaksikan isi video keselamatan kerja maka pada saat itulah kita
melihat segala hal akibat pengabaian keselamatan kerja. Dan segala yang kita saksikan
merupakan gambaran negatif yang akan kita alami. Dengan melihat gambaranvisual tersebut
kita dapat menyimpulkan bahwa semua karena pengabaian atas aspek keselamatan kerja di
lingkungan kerja.

Efektivitas penggunaan video keselamatan kerja dalam proses penumbuhan kesadaran atas
pentingnya keselamatan kerja karena di daiamnya banyak contoh nyata. Contoh-contoh
tersebut adalah:

1. Kejadian mengerikan akibat pengabdian keselamatan kerja. Dengan menyaksikan


gambaran dalam video keselamatan ini maka kita dapat memperoleh informasi atau
contoh nyata segala hal yang terjadi. Bahkan untuk hal-hal sekecil apapun yang dapat
menyebabkan kecelakaan kerja. Dengan melihat secara langsung segala kejadian yang
dapat dialami jika tidak menerapkan keselamatan kerja, tentunya ada kekhawatiran
dalam hatu akan mengalami hal tersebut. Dan dengan demikian maka tumbuh
kesedaran untuk menerapkan aspek keselamatankerja secara benar dan baik.
2. Berbagai cara penerapan keselamatan kerja secara praktis. Selain gambaran visual
kejadian yang mengancam keselamatan kita dalam video keselamatan kerja kerja ini
pun kita dapat berbagai cara penerapan keselamatan kerja. Dengan demikian maka kita
dapat mengikuti segala petunjuk tersebut dalam kegiatan kerja kita.

Setidaknya dalam hal ini kita mendapatkan bimbingan langsung terkait dengan keselamatan
kerja. Dan hal tersebut akan tetap tertanam dalam ingatan kita sebab semua ini kita dapatkan
secara visual. Gambar itu jauh lebih mudah tertanam dalam pikiran kita dibandingkan hanya
kata-kata.

Keselamatan kerja memang sangat penting dalam menciptakan suasana kerja yang kondusif
dalam menerapkan gaya hidup sehat. Dengan menerapkan aspek keselamatan kerja maka
setidaknyakita dapat terhindar dari kecelakaan yang sangat merugikan kita. Dan contoh visual
merupakan gambaran yang paling tepat untuk membangkitkan kesadaran terhadap
keselamatan kerja.
1.

F. JENIS BAHAYA KONSTRUKSI

Jenis-jenis bahaya konstruksi adalah :

1. Physical Hazards
2. Chemical Hazards
3. Electrical Hazards
4. Mechanical Hazards
5. Physiological Hazards
6. Biological Hazards
7. Ergonomic
8. Unsur Terkait dalam Proyek Konstruksi

G. PELAKSANAAN PROSEDUR K3 PADA PEKERJAAN KONSTRUKSI


BANGUNAN

K3 dalam proyek konstruksi meliputi safety engineering > construction safety >
personl safety.

1. Penyebab dan pencegahan kecelakaan konstruksi :


2. Faktor manusia

Sangat dominan dilingkungan konstruksi.

Penyebab :

Pekerja Heterogen, Tingkat skill dan edukasi berbeda, Pengetahuan tentang


keselamatan rendah.

Pencegahan Faktor Manusia :

 Pemilihan Tenaga Kerja.


 Pelatihan sebelum mulai kerja.
 Pembinaan dan pengawasan selama kegiatan berlangsung.

1. Faktor Teknis

Berkaitan dengan kegiatan kerja Proyek seperti penggunaan peralatan dan alat berat,
penggalian, pembangunan, pengangkutan dsb. Disebabkan kondisi teknis dan metoda kerja
yang tidak memenuhi standar keselamatan (substandards condition).

Pencegahan Faktor Teknis :


 Perencanaan Kerja yang baik.
 Pemeliharaan dan perawatan peralatan.
 Pengawasan dan pengujian peralatan kerja.
 Penggunaan metoda dan teknik konstruksi yang aman.
 Penerapan Sistem Manajemen Mutu.

1. Materials

Material dalam kondisi tertentu bisa membahayakan pekerja. Untuk itu diperlukan
penanganan yang baik. Meliputi mobilisasi bahan dan cara penyimpanan material.

1. Peralatan kerja / Equipments

Penempatan peralatan kerja yang tidak diatur dengan baik bisa menimbulkan kecelakaan
kerja sehingga produktifitas kerja terganggu.

2. Strategi Penerapan K3 di Proyek Konstruksi


3. Identification

Mengidentifikasi permasalahan di lingkungan kerja secara dini.

2. Evaluasi

Tahapan CSMS (Contractor Safety Managemen System)

Risk Assessment.

Bertujuan untuk mengetahui tingkat resiko suatu pekerjaan yang akan diserahkan
kepada kontraktor. Untuk menyesuaikan potensi bahaya dengan kemampuan kontraktor
menjalankan pekerjaan dengan setiap proyek memiliki karakteristik berbeda, misalnya
proyek bangunan bertingkat, pembangunan bendungan, pabrik dsb. Lakukan identifikasi
potensi bahaya dalam kegiatan konstruksi yang akan dilaksanakan. Buat mapping potensi
bahaya menurut area atau bidang kegiatan masing-masing.

3. Develop the Plan


Adakan evaluasi tentang potensi bahaya untuk menentukan skala prioritas
berdasarkan Hazards Rating. Susun Risk Rating dari semua kegiatan konstruksi yang akan
dilakukan. Berdasarkan hasil Identifikasi dan Evaluasi susun rencana pengendalian dan
pencegahan kecelakaan. Terapkan konsep Manajemen Keselamatan Kerja yang baku.

4. Implementation

Susun Program Implementasi dan program-program K3 yang akan dilakukan (buat


dalam bentuk elemen kegiatan).

Implementasi K3 dalam Kegiatan Proyek

Dikembangkan dengan mempertimbangkan berbagai aspek antara lain :

 Skala Proyek
 Jumlah Tenaga Kerja
 Lokasi Kegiatan
 Potensi dan Resiko Bahaya
 Peraturan dan standar yang berlaku
 Teknologi proyek yang digunakan

Rencana kerja yang telah disusun implementasikan dengan baik. Sediakan


sumberdaya yang diperlukan untuk menjalankan program K3. Susun Kebijakan K3 terpadu.

5. Monitoring

Buat program untuk memonitor pelaksanaan K3 dalam perusahaan. Susun sistem


audit dan inspeksi yang baik sesuai dengan kondisi perusahaan.

3. Elemen Program K3 Proyek

 Kebijakan K3

Merupakan landasan keberhasilan K3 dalam proyek. Memuat komitmen dan


dukungan manajemen puncak terhadap pelaksanaan K3 dalam proyek. Harus disosialisasikan
kepada seluruh pekerja dan digunakan sebagai landasan kebijakan proyek lainnya.
 Administratif dan Prosedur

Menetapkan sistem organisasi pengelolaan K3 dalam proyek.

Menetapkan personal dan petugas yang menangani K3 dalam proyek.

Menetapkan prosedur dan sistem kerja K3 selama proyek berlangsung termasuk tugas dan
wewenang semua unsur terkait.

Organisasi dan SDM

Kontraktor harus memiliki organisasi yang menangani K3 yang besarnya sesuai


dengan kebutuhan dan lingkup kegiatan. Organisasi K3 harus memiliki akses kepada
penanggung jawab projek. Kontraktor harus memiliki personel yang cukup yang bertanggung
jawab mengelola kegiatan K3 dalam perusahaan yang jumlahnya disesuaikan dengan
kebutuhan.

Kontraktor harus memiliki personel atau pekerja yang cakap dan kompeten dalam
menangani setiap jenis pekerjaan serta mengetahui sistem cara kerja aman untuk masing-
masing kegiatan.

Administratif dan Prosedur

Kontraktor harus memiliki kelengkapan dokumen kerja dan perizinan yang berlaku.

Kontraktor harus memiliki Manual Keselamatan Kerja sebagai dasar kebijakan K3 dalam
perusahaan.

Kontraktor harus memiliki prosedur kerja aman sesuai dengan jenis pekerjaan dalam kontrak
yang akan dikerjakannya.

 Identifikasi bahaya

Sebelum memulai suatu pekerjaan,harus dilakukan identifikasi bahaya guna mengetahui


potensi bahaya dalam setiap pekerjaan. Identifikasi bahaya dilakukan bersama pengawas
pekerjaan dan Safety Departement. Identifikasi Bahaya menggunakan teknik yang sudah
baku seperti Check List, What If, Hazops, dsb. Semua hasil identifikasi Bahaya harus
didokumentasikan dengan baik dan dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan setiap
kegiatan.

Identifikasi Bahaya harus dilakukan pada setiap tahapan proyek yang meliputi :

Design Phase

Procurement

Konstruksi

Commisioning dan Start-up

Penyerahan kepada pemilik

 Project Safety Review

Sesuai perkembangan proyek dilakukan kajian K3 yang mencakup kehandalan K3 dalam


rancangan dan pelaksanaan pembangunannya. Kajian K3 dilaksanakan untuk meyakinkan
bahwa proyek dibangun dengan sstandar keselamatan yang baik sesuai dengan persyaratan

 Pembinaan dan Pelatihan

Pembinaan dan Pelatihan K3 untuk semua pekerja dari level terendah sampai level tertinggi.
Dilakukan pada saat proyek dimulai dan dilakukan secara berkala.

Pokok Pembinaan dan Latihan :

 Kebijakan K3 proyek
 Cara melakukan pekerjaan dengan aman
 Cara penyelamatan dan penanggulangan darurat
 Safety Committee (Panitia Pembina K3)

Panitia Pembina K3 merupakan salah satu penyangga keberhasilan K3 dalam perusahaan.


Panitia Pembina K3 merupakan saluran untuk membina keterlibatan dan kepedulian semua
unsur terhadap K3. Kontraktor harus membentuk Panitia Pembina K3 atau Komite K3
(Safety Committee). Komite K3 beranggotakan wakil dari masing-masing fungsi yang ada
dalam kegiatan kerja. Komite K3 membahas permasalahan K3 dalam perusahaan serta
memberikan masukan dan pertimbangan kepada manajemen untuk peningkatan K3 dalam
perusahaan.

 Promosi K3

Selama kegiatan proyek berlangsung diselenggarakan program-program Promosi K3.


Bertujuan untuk mengingatkan dan meningkatkan awareness para pekerja proyek. Kegiatan
Promosi berupa poster, spanduk, buletin, lomba K3 dsb .Sebanyak mungkin keterlibatan
pekerja.

 Safe Working Practices

Harus disusun pedoman keselamatan untuk setiap pekerjaan berbahaya dilingkungan proyek
misalnya :

Pekerjaan pengelasan, Scaffolding,bekerja diketinggian,penggunaan Bahan Kimia berbahaya,


bekerja diruangan tertutup, bekerja diperalatan mekanis dsb.

 Sistem Izin Kerja

Untuk mencegah kecelakaan dari berbagai kegiatan berbahaya, perlu dikembangkan sistem
izin kerja. Semua pekerjaan berbahaya hanya boleh dimulai jika telah memiliki izin kerja
yang dikeluarkan oleh fungsi berwenang (pengawas proyek atau K3). Izin Kerja memuat cara
melakukan pekerjaan, safety precaution dan peralatan keselamatan yang diperlukan

 Safety Inspection

Merupakan program penting dalam phase konstruksi untuk meyakinkan bahwa tidak ada
“unsafe act dan unsafe Condition” dilingkungan proyek. Inspeksi dilakukan secara berkala.
Dapat dilakukan oleh Petugas K3 atau dibentuk Joint Inspection semua unsur dan Sub
Kontraktor

 Equipment Inspection

Semua peralatan (mekanis,power tools,alat berat dsb) harus diperiksa oleh ahlinya sebelum
diizinkan digunakan dalam proyek.
Semua alat yang telah diperiksa harus diberi sertifikat penggunaan dilengkapi dengan label
khusus. Pemeriksaan dilakukan secara berkala.

 Keselamatan Kontraktor (Contractor Safety)

Harus disusun pedoman Keselamatan Kontraktor/Sub Kontraktor. Subkontrakktor harus


memenuhi standar keselamatan yang telah ditetapkan. Setiap sub kontraktor harus memiliki
petugas K3. Pekerja Subkontraktor harus dilatih mengenai K3 secara berkala.

 Contractor Safety

Latar Belakang : Kontraktor merupakan unsur penting dalam perusahaan sebagai mitra yang
membantu kegiatan operasi perusahaan

 Kontraktor Konstruksi

Latar Belakang :

 Kontraktor rawan terhadap kecelakaan dalam menjalankan kegiatannya.


 Tenaga Kontraktor bersifat sementara
 Pekerja kasar dan pendidikan lebih rendah
 Tingkat disiplin dalam bekerja kurang
 Pemahaman tentang peraturan K3 perusahaan rendah
 Terlibat langsung dalam pelaksanaan pekerjaan sehingga lebih banyak terpapar
bahaya.
 Latar Belakang
 Kecelakaan yang menimpa kontraktor tinggi.
 Kelalaian yang dilakukan kontraktor dapat menimbulkan bahaya bagi operasi
perusahaan dan berakibat kecelakaan perusahaan.
 Kecelakaan yang menimpa kontraktor juga berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.

 Standar PSM (Process Safety Management)

Kegiatan Kontraktor harus dikelola dengan baik untuk menjamin keselamatan dalam setiap
kegiatan kerja kontraktor yang dapat membahayakan operasi perusahaan. Perusahaan harus
menerapkan Contractor Safety Management System (CSMS).
 CSMS

CSMS adalah suatu sistem manajemen untuk mengelola kontraktor yang bekerja di
lingkungan perusahaan. CSMS merupakan sistem komprehensif dalam pengelolaan
kontraktor sejak tahap perencanaan sampai pelaksanaan pekerjaan. Tujuan CSMS :

 Untuk meyakinkan bahwa kontraktor yang bekerja dilingkungan perusahaan telah


memenuhi standar dan kriteria K3 yang ditetapkan perusahaan.
 Sebagai alat untuk menjaga dan meningkatkan kinerja Keselamatan di lingkungan
kontraktor
 Untuk mencegah dan menghindarkan kerugian yang timbul akibat aktivitas kerja
kontraktor


Dasar Penerapan CSMS :

 Undang-undang Keselamatan Kerja No 1 Tahun 1970

Perusahaan bertanggung jawab menjamin keselamatan setiap orang yang berada ditempat
kerjanya (termasuk kontraktor dan pihak lainnya yang berada di tempat kerja).

 Undang undang Perlindungan Konsumen

Perusahaan wajib melindungi keselamatan konsumen sebagai akibat kegiatan perusahaan.

 Keselamatan Transportasi

Kegiatan Proyek melibatkan aktivitas transportasi yang tinggi. Pembinaan dan Pengawasan
transportasi diluar dan didalam lokasi Proyek. Semua kendaraan angkutan Proyek harus
memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

 Pengelolaan Lingkungan

Selama proyek berlangsung harus dilakukan pengelolaan lingkungan dengan baik mengacu
dokumen Amdal/UKL dan UPL. Selama proyek berlangsung dampak negatif harus ditekan
seminimal mungkin untuk menghindarkan kerusakan terhadap lingkungan.
 Pengelolaan Limbah dan B3

Kegiatan proyek menimbulkan limbah dalam jumlah besar, dalam berbagai bentuk. Limbah
harus dikelola dengan baik sesuai dengan jenisnya. Limbah harus segera dikeluarkan dari
lokasi proyek.

 Keadaan Darurat

Perlu disusun Prosedur keadaan darurat sesuai dengan kondisi dan sifat bahaya proyek
misalnya bahaya kebakaran, kecelakaan, peledakan dsb. SOP Darurat harus disosialisasikan
dan dilatih kepada semua pekerja

 Accident Investigation and Reporting System

Semua kecelakaan dan kejadian selama proyek harus diselidiki oleh petugas yang terlatih
dengan tujuan untuk mencari penyebab utama agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Semua kecelakaan/kejadian harus dicatat dan dibuat analisa serta statistik kecelakaan
digunakan sebagai bahan dalam rapat komite K3 Proyek.

 Audit K3

Secara berkala dilakukan audit K3 sesuai dengan jangka waktu proyek. Audit K3 berfungsi
untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan pelaksanaan K3 dalam proyek sebagai masukan
pelaksanaan proyek berikutnya. Sebagai masukan dalam memberikan penghargaan K3.

4. Ketentuan administrasi K3
5. Kewajiban umum

Kewajiban umum di sini dimaksudkan kewajiban umum bagi perusahaan Penyedia Jasa
Konstruksi, yaitu :

 Kami berkewajiban untuk mengusahakan agar tempat kerja, peralatan, lingkungan


kerja dan tata cara kerja diatur sedemikian rupa sehingga tenaga kerja terlindungi dari
resiko kecelakaan.
 Kami menjamin bahwa mesin-mesin peralatan, kendaraan atau alat-alat lain yang
akan digunakan atau dibutuhkan sesuai dengan peraturan keselamatan kerja.
 Kami turut mengadakan pengawasan terhadap tenaga kerja, agar tenaga kerja tersebut
dapat melakukan pekerjaan dalam keadaan selamat dan sehat.
 Kami menunjuk petugas keselamatan kerja yang karena jabatannya di dalam
organisasi Penyedia Jasa, bertanggung jawab mengawasi koordinasi pekerjaan yang
dilakukan untuk menghindarkan resiko bahaya kecelakaan.
 Kami memberikan pekerjaan yang cocok untuk tenaga kerja sesuai dengan keahlian,
umur, jenis kelamin dan kondisi fisik/kesehatannya.
 Sebelum pekerjaan dimulai Kami menjamin bahwa semua tenaga kerja telah diberi
petunjuk terhadap bahaya dari pekerjaannya masing-masing dan usaha
pencegahannya, untuk itu Penyedia Jasa dapat memasang papan- papan pengumuman,
papan-papan peringatan serta sarana-sarana pencegahan kecelakaan yang dipandang
perlu.
 Orang tersebut bertanggung jawab pula atas pemeriksaan berkala terhadap semua
tempat kerja, peralatan, sarana-sarana pencegahan kecelakaan, lingkungan kerja dan
cara-cara pelaksanaan kerja yang aman.
 Hal-hal yang menyangkut biaya yang timbul dalam rangka penyelenggaraan
keselamatan dan kesehatan kerja menjadi tanggung jawab kami.

1. Organisasi keselamatan dan kesehatan kerja

Kami menugaskan secara khusus Ahli K3 dan tenaga K3 untuk setiap proyek yang
dilaksanakan. Tenaga K3 tersebut harus masuk dalam struktur organisasi pelaksanaan
konstruksi setiap proyek, dengan ketentuan sebagai berikut :

 Petugas keselamatan dan kesehatan kerja harus bekerja secara penuh (full- time)
untuk mengurus dan menyelenggarakan keselamatan dan kesehatan kerja.
 Pengurus dan Penyedia Jasa yang mengelola pekerjaan dengan mempekerjakan
pekerja dengan jumlah minimal 100 orang atau kondisi dari sifat proyek memang
memerlukan, diwajibkan membentuk unit pembina K3.
 Panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja tersebut ini merupakan unit
struktural dari organisasi penyedia jasa yang dikelola oleh pengurus atau penyedia
jasa.
 Petugas keselamatan dan kesehatan kerja tersebut bersama-sama dengan panitia
pembina keselamatan kerja ini bekerja sebaik-baiknya, dibawah koordinasi pengurus
atau Penyedia Jasa, serta bertanggung jawab kepada pemimpin proyek.
 Kami akan melakukan hal-hal sebagai berikut :

1. Memberikan panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja fasilitas- fasilitas


dalam melaksanakan tugas mereka.
2. Berkonsultasi dengan panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja dalam segala
hal yang berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan kerja dalam proyek.
3. Mengambil langkah-langkah praktis untuk memberi efek pada rekomendasi dari
panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja.

 Jika 2 (dua) atau lebih Kami bergabung dalam suatu proyek mereka harus bekerja
sama membentuk kegiatan kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja.

1. Laporan kecelakaan

Salah satu tugas pelaksana K3 adalah melakukan pencatatan atas kejadian yang terkait
dengan K3, dimana :

 Setiap kejadian kecelakaan kerja atau kejadian yang berbahaya harus dilaporkan
kepada Instansi yang terkait.
 Laporan tersebut harus meliputi statistik yang akan menunjukkan hal-hal sebagai
berikut :

1. Menunjukkan catatan kecelakaan dari setiap kegiatan kerja, pekerja masing- masing
dan
2. Menunjukkan gambaran kecelakaan-kecelakaan dan sebab-sebabnya.
3. Keselamatan kerja dan pertolongan pertama pada kecelakaan

Organisasi untuk keadaan darurat dan pertolongan pertama pada kecelakaan harus dibuat
sebelumnya untuk setiap proyek yang meliputi seluruh pegawai/petugas pertolongan pertama
pada kecelakaan dan peralatan, alat-alat komunikasi dan alat-alat lain serta jalur transportasi,
dimana :

 Tenaga kerja harus diperiksa kesehatannya :

1. Sebelum atau beberapa saat setelah memasuki masa kerja pertama kali.
2. Secara berkala, sesuai dengan risiko-risiko yang ada pada pekerjaan tersebut.
 Data yang diperoleh dari pemeriksaan kesehatan harus dicatat dan disimpan untuk
referensi.
 Pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan atau penyakit yang tiba-tiba, harus
dilakukan oleh Dokter, Juru Rawat atau seorang yang terdidik dalam pertolongan
pertama pada kecelakaan (PPPK).
 Alat-alat PPPK atau kotak obat-obatan yang memadai, harus disediakan di tempat
kerja dan dijaga agar tidak dikotori oleh debu, kelembaban udara dan lain-lain.
 Alat-alat PPPK atau kotak obat-obatan harus berisi paling sedikit dengan obat untuk
kompres, perban, antiseptik, plester, gunting dan perlengkapan gigitan ular.
 Alat-alat PPPK dan kotak obat-obatan harus tidak berisi benda-benda lain selain alat-
alat PPPK yang diperlukan dalam keadaan darurat.
 Alat-alat PPPK dan kotak obat-obatan harus berisi keterangan- keterangan/instruksi
yang mudah dan jelas sehingga mudah dimengerti.
 Isi dari kotak obat-obatan dan alat PPPK harus diperiksa secara teratur dan harus
dijaga supaya tetap berisi (tidak boleh kosong).
 Kereta untuk mengangkat orang sakit (tandu).
 Persiapan-persiapan harus dilakukan untuk memungkinkan mengangkut dengan cepat,
jika diperlukan untuk petugas yang sakit atau mengalami kecelakaan ke rumah sakit
atau tempat berobat lainnya.
 Petunjuk/informasi harus diumumkan/ditempel di tempat yang baik dan strategis yang
memberitahukan antara lain :

3. Tempat yang terdekat dengan kotak obat-obatan, alat-alat PPPK, ruang PPPK,
ambulans, tandu untuk orang sakit, dan tempat dimana dapat dicari petugas K3.
4. Tempat telepon terdekat untuk menelepon/memanggil ambulans, nomor telepon dan
nama orang yang bertugas dan lain-lain.
5. Nama, alamat, nomor telepon Dokter, rumah sakit dan tempat penolong yang dapat
segera dihubungi dalam keadaan darurat.
6. Pembiayaan keselamatan dan kesehatan kerja

Biaya operasional kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja harus sudah diantisipasi sejak
dini yaitu pada saat Pengguna Jasa mempersiapkan pembuatan desain dan perkiraan biaya
suatu pekerjaan konstruksi. Sehingga pada saat pelelangan menjadi salah satu item pekerjaan
yang perlu menjadi bagian evaluasi dalam penetapan pemenang lelang. Selanjutnya Kami
harus melaksanakan prinsip-prinsip kegiatan kesehatan dan keselamatan kerja termasuk
penyediaan prasarana, sumberdaya manusia dan pembiayaan untuk kegiatan tersebut dengan
biaya yang wajar, oleh karena itu baik Kamidan Pengguna Jasa perlu memahami prinsip-
prinsip keselamatan dan kesehatan kerja ini agar dapat melakukan langkah persiapan,
pelaksanaan dan pengawasannya.

5. Ketentuan Teknis manajemen K3


6. Aspek lingkungan

Dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan K3 terutama terkait dengan aspek lingkungan,
Kami berusaha mendapatkan persetujuan dari direksi pekerjaan.

1. Tempat kerja dan peralatan

Ketentuan teknis pada tempat kerja dan peralatan pada suatu proyek terkait dengan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah sebagai berikut :

 Pintu masuk dan keluar

1. Pintu masuk dan keluar darurat harus dibuat di tempat-tempat kerja.


2. Alat-alat/tempat-tempat tersebut harus diperlihara dengan baik.

 Lampu / penerangan

1. Jika penerangan alam tidak sesuai untuk mencegah bahaya, alat- alat penerangan
buatan yang cocok dan sesuai harus diadakan di seluruh tempat kerja, termasuk pada
gang-gang.
2. Lampu-lampu harus aman, dan terang.
3. Lampu-lampu harus dijaga oleh petugas-petugas bila perlu mencegah bahaya apabila
lampu mati/pecah.

 Ventilasi

1. Di tempat kerja yang tertutup, harus dibuat ventilasi yang sesuai untuk mendapat
udara segar.
2. Jika secara teknis tidak mungkin bisa menghilangkan debu, gas yang berbahaya,
tenaga kerja harus disediakan alat pelindung diri untuk mencegah bahaya-bahaya
tersebut di atas.

 Kebersihan

1. Bahan-bahan yang tidak terpakai dan tidak diperlukan lagi harus dipindahkan ke
tempat yang aman.
2. Semua paku yang menonjol harus disingkirkan atau dibengkokkan untuk mencegah
terjadinya kecelakaan.
3. Sisa-sisa barang alat-alat dan sampah tidak boleh dibiarkan bertumpuk di tempat
kerja.
4. Tempat-tempat kerja dan gang-gang yang licin karena oli atau sebab lain harus
dibersihkan atau disiram pasir, abu atau sejenisnya.
5. Alat-alat yang mudah dipindah-pindahkan setelah dipakai harus dikembalikan pada
tempat penyimpanan semula.

1. Pencegahan terhadap kebakaran dan alat pemadam kebakaran

Untuk dapat mencegah terjadinya kebakaran pada suatu tempat atau proyek dapat dilakukan
pencegahan sebagai berikut :

 Di tempat-tempat kerja dimana tenaga kerja dipekerjakan akan kami sediakan:

1. Alat-alat pemadam kebakaran.


2. Saluran air yang cukup dengan tekanan yang besar.

 Pengawas dan sejumlah/beberapa tenaga kerja telah dilatih untuk menggunakan alat
pemadam kebakaran.
 Alat pemadam kebakaran, telah diperiksa pada jangka waktu tertentu oleh orang yang
berwenang dan dipelihara sebagaimana mestinya.
 Alat pemadam kebakaran seperti pipa-pipa air, alat pemadam kebakaran yang dapat
dipindah-pindah (portable) dan jalan menuju ke tempat pemadam kebakaran harus
selalu dipelihara.
 Peralatan pemadam kebakaran harus diletakkan di tempat yang mudah dilihat dan
dicapai.
 Sekurang kurangnya sebuah alat pemadam kebakaran harus tersedia di tempat-tempat
sebagai berikut :
 di setiap gedung dimana barang-barang yang mudah terbakar disimpan. b) di tempat-
tempat yang terdapat alat-alat untuk mengelas.
 Beberapa alat pemadam kebakaran dari bahan kimia kering harus disediakan :

1. di tempat yang terdapat barang-barang/benda-benda cair yang mudah terbakar.


2. di tempat yang terdapat oli, bensin, gas dan alat-alat pemanas yang menggunakan api.
3. di tempat yang terdapat aspal dan ketel aspal.

 Alat pemadam kebakaran harus dijaga agar tidak terjadi kerusakan- kerusakan teknis.
 Jika pipa tempat penyimpanan air (reservoir, standpipe) dipasang di suatu gedung,
pipa tersebut harus :

1. dipasang di tempat yang strategis demi kelancaran pembuangan.


2. dibuatkan suatu katup pada setiap ujungnya.
3. mempunyai sambungan yang dapat digunakan Dinas Pemadam Kebakaran

1. Perlengkapan keselamatan kerja

Berbagai jenis perlengkapan kerja standar untuk melindungi pekerja dalam melaksanakan
tugasnya antara lain sebagai berikut :

 Safety hat, yang berguna untuk melindungi kepala dari benturan benda keras selama
mengoperasikan atau memelihara AMP.
 Safety shoes, yang akan berguna untuk menghindarkan terpeleset karena licin atau
melindungi kaki dari kejatuhan benda keras dan sebagainya.
 Kaca mata keselamatan, terutama dibutuhkan untuk melindungi mata pada lokasi
pekerjaan yang banyak serbuk metal atau serbuk material keras lainnya.
 Masker, diperlukan pada medan yang berdebu meskipun ruang operator telah tertutup
rapat, masker ini dianjurkan tetap dipakai.
 Sarung tangan, dibutuhkan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang berhubungan
dengan bahan yang keras, misalnya membuka atau mengencangkan baut dan
sebagainya.
 Penutup telinga, diperlukan pada waktu mengerjakan pekerjaanyang berhubungan
dengan alat yang mengeluarkan suara yang keras/bising, misalnya pemadatan tanah
dengan stamper dan sebagainya.

6. Pedoman untuk pelaku utama konstruksi


7. Pedoman untuk manajemen puncak

Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian manajemen puncak untuk mengurangi biaya
karena kecelakaan kerja, antara lain :

 Mengetahui catatan tentang keselamatan kerja dari semua manajer lapangan.

Informasi ini digunakan untuk mengadakan evaluasi terhadapprogram keselamatan kerja


yang telah diterapkan.

 Kunjungan lapangan untuk mengadakan komunikasi tentang keselamatan kerja


dengan cara yang sama sebagaimana dilakukan pelaksanaan monitoring dan
pengendalian mengenai biaya dan rencana penjadwalan pekerjaan.
 Mengalokasikan biaya keselamatan kerja pada anggaran perusahaan dan
mengalokasikan biaya kecelakaan kerja pada proyek yang dilaksanakan.
 Mempersyaratkan perencanaan kerja yang terperinci sehingga dapat memberikan
jaminan bahwa peralatan atau material yang digunakan untuk melaksanakan
pekerjaan dalam kondisi aman.
 Para pekerja yang baru dipekerjakan menjalani latihan tentang keselamatan kerja dan
memanfaatkan secara efektif keahlian yang ada pada masing masing divisi (bagian)
untuk program keselamatan kerja.

1. Pedoman untuk manajer dan pengawas

Untuk para manajer dan pengawas, hal-hal berikut ini dapat diterapkan untuk mengurangi
kecelakaan dan gangguan kesehatan dalam pelaksanan pekerjaan bidang konstruksi :

 Manajer berkewajiban untuk melindungi keselamatan dan kesehatan pekerja


konstruksi sehingga harus menerapkan berbagai aturan, standar untuk meningkatkan
K3, juga harus mendorong personil untuk memperbaiki sikap dan kesadaran terhadap
K3 melalui komunikasi yang baik, organisasi yang baik, persuasi dan pendidikan,
menghargai pekerja untuk tindakan-tindakan aman, serta menetapkan target yang
realistis untuk K3.
 Secara aktif mendukung kebijakan untuk keselamatan pada pekerjaan seperti dengan
memasukkan masalah keselamatan kerja sebagai bagian dari perencanaan pekerjaan
dan memberikan dukungan yang positif.
 Manajer perlu memberikan perhatian secara khusus dan mengadakan hubungan yang
erat dengan para mandor dan pekerja sebagai upaya untuk menghindari terjadi
kecelakaan dan permasalahan dalam proyek konstruksi. Manajer dapat melakukannya
dengan cara

1. Mengarahkan pekerja yang baru pada pekerjaannya dan mengusahakan agar mereka
berkenalan akrab dengan personil dari pekerjaan lainnya dan hendaknya memberikan
perhatian yang khusus terhadap pekerja yang baru, terutama pada hari-harinya yang
pertama.
2. Melibatkan diri dalam perselisihan antara pekerja dengan mandor, karena dengan
mengerjakan hal itu, kita akan dapat memahami mengenai titik sudut pandang pari
pekerja. Cara ini bukanlah mempunyai maksud untuk merusak (“merongrong”)
kewibawaan pihak mandor, tetapi lebih mengarah untuk memastikan bahwa pihak
pekerja itu telah diperlakukan secara adil (wajar).
3. Memperlihatkan sikap menghargai terhadap kemampuan para mandor tetapi juga
harus mengakui suatu fakta bahwa pihak mandor itu pun (sebagai manusia) dapat
membuat kesalahan. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara mengizinkan para
mandor untuk memilih para pekerjanya sendiri (tetapi tidak menyerahkan kekuasaan
yang tunggal untuk memberhentikan pekerja).

1. Pedoman untuk mandor

Mandor dapat mengurangi kecelakaan dan gangguan kesehatan dalam pelaksanaan pekerjaan
bidang konstruksi dengan :

 Memperlakukan pekerja yang baru dengan cara yang berbeda, misalnya dengan tidak
membiarkan pekerja yang baru itu bekerja sendiri secara langsung atau tidak
menempatkannya bersama-sama dengan pekerja yang lama dan kemudian
membiarkannya begitu saja.
 Mengurangi tekanan terhadap pekerjanya, misalnya dengan tidak memberikan target
produktivitas yang tinggi tanpa memperhatikan keselamatan dan kesehatan
pekerjanya.

Selanjutnya manajemen puncak dapat membantu para mandor untuk mengurangi kecelakaan
kerja dengan cara berikut ini :

1. Secara pribadi memberikan penekanan mengenai tingkat kepentingan dari


keselamatan kerja melalui hubungan mereka yang tidak formal maupun yang formal
dengan para mandor di lapangan.
2. Memberikan penekanan mengenai keselamatan kerja dalam rapat pada tataran
perusahaan.
3. Pedoman untuk pekerja

Pedoman yang dapat digunakan pekerja untuk mengurangi kecelakaan dan gangguan
kesehatan dalam pelaksanaan pekerjaan bidang konstruksi antara lain adalah :

 Permasalahan pribadi dihilangkan pada saat masuk lingkungan


 Tidak melakukan pekerjaan bila kondisi kesehatan kurang
 Taat pada aturan yang telah ditetapkan.
 Memahami program keselamatan dan kesehatan kerja.
 Memahami lingkup kerja yang diberikan