Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH TEORI KEPERAWATAN PATRICIA BENNER

Praktek Keperawatan Profesi


Masta Haro

Ralda Pelealu (1651031)

Fakultas Keperawatan
Universitas Advent Indonesia
Bandung
2019
Kata Pengantar
Puji syukur saya ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat serta hidayah kepada kita semua, sehingga berkat karunia-Nya saya dapat selesai
menyusun makalah ini.
Saya sebagai penyusun tidak lupa megucapkan banyak terimakasih kepada pihak yang
telah membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini sehingga penyusun dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini. Dalam penyusunan karya makalah ini penyusun
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun sendiri maupun kepada
pembaca umumnya. Apabila terdapat kekurangan dalam penyusunan makalah ini, saya
mohon maaf dan saya harapkan saran dan kritikan dari Anda untuk membangun kembali
karya ini menjadi sempurna.

Bandung, Juli 2019

Pemakalah
Daftar Isi

Halaman Judul (cover)………………………………………….………………i


Kata Pengantar………………………………………………....……………….ii
Daftar Isi……………………………………………………….……………….iii
BAB I
Pendahuluan…………………………………………………………………….1
1.1 Latar Belakang……….………………………………………………1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………1
1.3 Tujuan Penyusunan……………………….………………………….1
BAB II
Pembahasan…………………………………….………………………………2
2.1 Falsafah keperawatan menurut Patricia Benner…………………...2
2.2 Latar belakang teoritis dan definisi teori Patricia Benner…………2
2.3 Model dan konsep dan asumsi mayor teori Patricia Benner………5
2.4 Identifikasi penerimaan teori dan kelemahan teori………………..7
2.5 Pengaplikasian teori dan pembahasannya…………………………9

BAB III
Penutup………………………………………………………………….…….12
3.1 Kesimpulan………………………………………………………....12
Daftar Pustaka…………………………………………………………………13
BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Falsafah merupakan keyakinan dasar yang dipegang seseorang dan menjadi
dasar pemikiran untuk berbuat, mengambil keputusan, acuan dalam mencapai tujuan, dan
bahan rujukan dalam membuat pertimbangan jika terdapat masalah/ dilema. Dalam
konteks keperawatan, falsafah mejadi fondasi utama dalam memandang apa itu
keperawatan, dan bagaimana seharusnya perawat bertindak. Dengan pemahaman yang
baik tentang falsafah keperawatan, maka seorang perawat akan mampu menampilkan
sikap dan perilaku perawat yang profesional serta memberikan pelayanan yang prima
kepada klien.
Salah satu teori keperawatan yang termasuk dalam level falsafah/filosofi adalah
teori from novice to expert yang disusun oleh Patricia Benner. Yang menjadi core dari
teori ini adalah pentingnya pengembangan kompetensi dan pendidikan berkelanjutan bagi
seorang perawat. Benner membagi tingkat kompetensi perawat menjadi 5 tingkatan yaitu
beginner, advance beginner, competent, proficient, dan expert.
Teori keperawatan From Novice To Expert yang dapat digunakan oleh perawat
dalam melaksanakan praktek keperawatan. Teori ini dijelaskan oleh Patricia Benner
dengan mengadaptasi Model Dreyfus pada praktek klinik keperawatan (Tomey and
Alligood, 2006). Untuk lebih memahami teori tersebut, maka dibuatlah suatu skenario
keperawatan dengan menggunakan teori From Novice To Expert oleh Patricia Benner.
Mengingat pentingnya pemahaman akan falsafah keperawatan dan aplikasinya,
perlu dilakukan diskusi-diskusi, analisis, dan diseminasi ilmu terkini tentang falsafah
keperawatan kepada setiap sendi profesi sehingga profesionalisme keperawatan benar-
benar dapat terwujud.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa definisi teori from novice to expert Patricia Benner dan bagaimana menganalisis
penerapannya?
2. Apa falsafah keperawatan menurut Patricia Benner?
3. Bagaimana bentuk scenario Patricia Benner agar dapat mudah dimengerti
penerapannya?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan Umum
Menjelaskan teori from novice to expert Patricia Benner dan menganalisis
penerapannya.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Menjelaskan falsafah keperawatan menurut Patricia Benner.
2. Mengidentifikasi latar belakang dan definisi teori Benner
3. Mengidentifikasi model konsep dan asumsi mayor teori Benner
4. Mengidentifikasi Penerimaan teori dan kelenmahan teori
5. Aplikasi teori dan pembahasannya.
BAB II
Pembahasan
2.1 Latar Belakang Teoris (from novice to expert)
Patricia Benner adalah seorang perawat yang sangat berpengalaman di rumah sakit
dan pernah bekerja di berbagai macam setting tempat perawatan di rumah sakit. Di
samping itu Patricia Benner juga seorang peneliti yang aktif dan telah mempublikasikan
banyak sekali hasil penelitiannya. Oleh karena kinerjanya yang baik dan kontribusinya
yang signifikan terhadap pengembangan ilmu keperawatan, Patricia Benner dipercaya
sebagai koordinator evaluasi dan pengembangan kualitas asuhan keperawatan di wilayah
California. Atas prestasi dan kinerjanya, Patricia Benner mendapat penghargaan dari
National Council and State Boards of Nursing pada tahun 2009 atas hasil kerjanya yang
menghasilkan instrumen pengukuran terhadap berbagai penyimpangan dalam asuhan
keperawatan. Instrumen ini disebut Taxonomy of Error, Root Cause and Practice
(TERCAP) (Alligood, 2006).
Terkait paradigma dalam teorinya, pemikiran Patricia Benner sangat dipengaruhi
oleh salah satu teoris besar keperawatan, Virginia Henderson, dan dua orang professor di
University of California (UC), Hubert Dreyfus dan Stuart Dreyfus. Henderson pada 1989
bependapat bahwa teori Patricia Benner dapat memberikan perubahan yang signifikan
dalam pendidikan keperawatan serta mempersiapkan calon calon perawat yang
profesional, terutama dalam hal pendidikan di klinik dimana diperlukan integrasi antara
pengetahuan dan pengalaman pembimbing dan mahasiswa. Sementara itu Dreyfus
bersaudara memberikan dasar tentang proses pencapaian skill melalui pengalaman dan 5
tingkatan kompetensi dalam teori Patricia Benner (Sitzman, 2011).

2.2 Deskripsi Teori


2.2.1 Paradigma Dasar
Dalam menyusun teorinya, Patricia Benner terinisiasi oleh fenomena di
lapangan bahwa banyak sekali perawat senior dan berpengalaman di rumah sakit yang
memiliki pengalaman dan berwawasan luas akan berbagai kondisi klien dan berbagai
modalitas terapi (know what), akan tetapi kurang memiliki pengetahuan yang melatar
belakangi berbagai modalitas perawatan tersebut (know how). Demikian pula
sebaliknya, para preceptor (pembimbing klinik) mahasiswa yang berpraktik di rumah
sakit kurang dapat memberikan bimbingan yang optimall kepada mahasiswanya
karena lebih memahami pengetahuan teoritis (know how) tanpa dipadukan dengan
pengetahuan klinis yang cukup (know what).
Dari pengamatan terhadap dua fenomena ini, Patricia Benner mengambil sudut
pandang bahwasannya teori adalah diturunkan/ dikembangkan dari situasi klinis, dan
praktik keperawatan di klinik dilaksanakan berdasarkan teori dan dikembangkan pula
oleh teori teori tersebut. Maka pada intinya, sesungguhnya antara pengetahuan yang
bersifat teoritik dan pengalaman/ pengetahuan yang diperoleh saling menunjang dan
memperkuat satu sama lain. Inilah yang menjadi dasar pemikiran bagi Patricia Benner
dalam mengembangkan teorinya. Dan penekanan utama sebenarnya adalah pada
bagaimana mengembangkan pengalaman perawat di klinik dengan menjadikan
pengetahuan teoritis sebagai acuannya. Patricia Benner menjadikan pengalaman
klinik sebagai titik tolak karena memang selalu lebih bervariasi dan kompleks
dibandingkan apa yang dituliskan dalam teori, akan tetapi tetap sangat bergantung
pada teori itu sendiri.

2.2.2 Pengembangan Paradigma Menjadi Teori


Sebagaimana telah disebutkan di atas, titik tolak teori ini adalah
pengembangan keilmuan terhadap pengalaman klinik para perawat. Maka dari itu
Patricia Benner melakukan serangkaian pengamatan terkait integrasi antara
pengalaman dan pengetahuan. Hal ini dilakukan karena Patricia Benner berkeyakinan
bahwa pengembangan kompetensi yang berdasarkan pengalaman klinik yang
mengacu pada proses pendidikan akan memberikan hasil yang lebih cepat dan
berkualitas (Benner, 1984 dalam Alligood, 2006).
Salah satu penelitian yang esensial dalam teori Patricia Benner adalah yang
dilakukannya pada tahun 1978-1981. Pada penelitian ini Patricia Benner mengkaji
persepsi dan interpretasi suatu fenomena keperawatan yang sama oleh perawat
perawat yang memiliki perbedaan signifikan dalam hal pengalaman, mahasiswa yang
baru praktik, dan mahasiswa senior. Melalui penelitian ini Patricia Benner bermaksud
mengkaji bagaimana tingkat pengalaman dan pengetahuan dapat mempengaruhi
penilaian perawat terhadap fenomena keperawatan. Dari sini Patricia Benner berhasil
mengidentifikasi 31 kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang perawat ahli/ expert,
yang secara induktif kemudian dituangkan ke dalam 7 domain sebagai berikut:
(redaksional asli sengaja ditampilkan untuk menghindari salah interpretasi)
1. The helping role/ peran sebagai pemberi pertolongan
2. The teaching-coaching function/ fungsi pemberi edukasi dan pemberi
pelatihan
3. The diagnostic and patient monitoring function/ fungsi sebagai pembuat
diagnosa (keperawatan) dan monitoring pasien
4. Effective management of rapidly changing situation/ kemampuan mengatasi
situasi yang berubah secara cepat dan mendadak
5. Administering and monitoring therapeutic interventions and regiments/
memberikan intervensi dan monitoring respon pasien terhadap intervensi
tersebut
6. Monitoring and ensuring the quality of health care practices/ memonitor dan
memastikan kualitas pelayanan kesehatan
7. Organizational work role competencies/ kemampuan untuk bekerja dan
berperan dalam organisasi dan tim
Benner mengembangkan lagi ruang lingkup penelitiannya pada tahun 1984-1990, dan
kali ini lebih memfokuskan penelitiannya pada kompetensi perawat di critical care.
Tujuan dari penelitiannya kail ini adalah:
1. Mengidentifikasi seberapa besar pengaruh pemahaman teoritis terhadap
praktik
2. Mengidentifikasi faktor yang paling berpengaruh dalam pencapaian skill dan
kompetensi perawat
3. Mengidentifikasi faktor faktor penghambat yang bersifat institutional
terhadap pengembangan kompetensi perawat
4. Mengidentifikasi strategi strategi yang dapat dilakukan untuk
mengembangkan kompetensi perawat.
Dari penelitian ini Patricia Benner menyimpulkan bahwa pembelajaran yang
berkelanjutan dari pengalaman klinik merupakan faktor utama dari pengembangan
kemampuan perawat. Hal ini dicapai melalui keterlibatan perawat dalam setiap aspek
perawatan pasien, termasuk dalam pengambilan keputusan klinik maupun etik.
Penelitian ini kemudian dikembangkan lagi pada tahun 1996-1997 yang menghasilkan
9 domain yang harus dikuasai oleh seorang perawat critical care, dan 6 aspek penilaian
klinis (Clinical judgment) yang harus dimiliki oleh perawat.
Dari sekian banyak penelitian yang telah dilakukannya tersebut, Patricia
Benner mencoba mendefinisikan kembali ke lima level kompetensi perawat yang
disusun oleh Dreyfus besaudara sebagai berikut:
1. Novice/ pemula
Adalah perawat yang belum memiliki latar belakang pengalaman klinik.
Level ini paling cocok disematkan kepada mahasiswa keperawatan yang
akan memasuki dunia klinik, akan tetapi Patricia Benner menambahkan
perawat senior yang masuk ke lingkungan/ setting yang sama sekali baru juga
dapat dikategorikan ke dalam level ini. Perawat pada level pemula perlu
untuk selalu diarahkan dan diberi petunjuk yang jelas (tidak konteksual, akan
tetapi dapat langsung diinterpretasi secara tekstual).
2. Advanced Beginner/ pemula tingkat lanjut
Pada level ini perawat telah memiliki pengalaman klinik dan mampu
menangkap makna dari aspek aspek dalam suatu situasi keperawatan. Pada
tahap ini perawat masih memerlukan bimbingan dan arahan secara kontinyu
karena belum mampu memandang situasi secara luas dan holistik. Perawal
masih merasa bahwa situasi klinik dan berbagai kasus pasien adalah sebuah
tantangan yang harus dilalui, dan belum memandang dari sisi kebutuhan
pasien. Meskipun demikian mereka masih sangat membutuhkan bantuan dari
senior. Level ini paling sesuai untuk fresh graduate ners.
3. Competent/ kompeten/ mampu
Pada level ini perawat telah mampu memilah dan memilih aspek mana dari
suatu situasi keperawatan yang benar benar penting dan kurang perlu
dipertimbangkan lebih lanjut. Kriteria utama dari level ini adalah perawat
harus mampu membuat perencanaan dan memprediksikan hal hal apa yang
mungkin terjadi selanjutnya. Keterbatasan dari level ini adalah perawat
masih memandang suatu situasi pasien secara parsial sehingga tindakannya
pun kurang dapat menyentuh setiap dimensi pasien sebagai individu yang
holistik.
4. Proficient/ cakap/ terampil/ handal
Pada level ini perawat dapat memandang situasi secara holistik, tidak hanya
per aspek dari situasi tersebut. Perawat mampu bertindak bagi pasien tanpa
terlebih dahulu melalui tahapan tahapan penetapan tujuan dan penyusunan
rencana tindakan. Pada level ini juga perawat telah lebih banyak berinteraksi
dengna pasien dan keluarganya.
5. Expert/ ahli/ pakar
Pada level ini perawat telah dapat menentukan inti masalah yang dialami
oleh pasien dan segera mengetahu intervensi apa yang paling tepat diberikan
tanpa harus melalui serangkaian tahap berpikir analitis. Secara
intuitifperawat expert dapat menentukan masalah dan tindakan tanpa
dibingungkan dengan berbagai alternatif. Pengalaman dan pengetahuan yang
bersinergi dengan baik telah membentuk naluri dan intuisinya sehingga dapat
memandang pasien secara keseluruhan dalam waktu yang singkat.
Ke tujuh domain dan ke lima level kompetensi perawat inilah yang kamudian menjadi acuan
para praktisi keperawatan dalam menerapkan teori from novice to expert Patricia Benner.

3.1 Penjelasan Model konsep Patricia Benner

1. Novice
a. Seseorang tanpa latar belakang pengalaman pada situasinya.

b. Perintah yang jelas dan atribut yang obyektif harus diberikan untuk memandu
penampilannya.

c. Di sini sulit untuk melihat situasi yang relevan dan irrelevan.

d. Secara umum level ini diaplikasikan untuk mahasiswa keperawatan, tetapi Benner
bisa mengklasifikasikan perawat pada level yang lebih tinggi ke novice jika
ditempatkan pada area atau situasi yang tidak familiar dengannya.

2. Advance Beginner
a. Ketika seseorang menunjukkan penampilan mengatasi masalah yang dapat diterima
pada situasi nyata.

b. Advance beginner mempunyai pengalaman yang cukup untuk memegang suatu


situasi.

c. Kecuali atribut dan ciri-ciri, aspek tidak dapat dilihat secara lengkap karena
membutuhkan pengalaman yang didasarkan pada pengakuan dalam konteks situasi.

d. Fungsi perawat pada situasi ini dipandu dengan aturan dan orientasi pada
penyelesaian tugas. Mereka akan kesulitan memegang pasien tertentu pada situasi
yang memerlukan perspektif lebih luas.

e. Situasi klinis ditunjukkan oleh perawat pada level advance beginner sebagai ujian
terhadap kemampuannya dan permintaan terhadap situasi pada pasien yang
membutuhkan dan responnya.
f. Advance beginner mempunyai responsibilitas yang lebih besar untuk melakukan
manajemen asuhan pada pasien, sebelumnya mereka mempunyai lebih banyak
pengalaman. Benner menempatkan perawat yang baru lulus pada tahap ini.

3. Competent
a. Menyelesaikan pembelajaran dari situasi praktik aktual dengan mengikuti kegiatan
yang lain, advance beginner akan menjadi competent.

b. Tahap competent dari model Dreyfus ditandai dengan kemampuan


mempertimbangkan dan membuat perencanaan yang diperlkan untuk suatu situasi
dan sudah dapat dilepaskan.

c. Konsisten, kemampuan memprediksi, dan manajemen waktu adalah penampilan


pada tahap competent.

d. Perawat competent dapat menunjukkan reponsibilitas yang lebih pada respon


pasien, lebih realistik dan dapat menampilkan kemampuan kritis pada dirinya.

e. Tingkat competent adalah tingkatan yang penting dalam pembelajaran klinis,


karena pengajar harus mengembangkan pola terhadap elemen atau situasi yang
memerlukan perhatian yang dapat diabaikan.

4. Proficient
a. Perawat pada tahap ini menunjukkan kemampuan baru untuk melihat perubahan
yang relevan pada situasi, meliputi pengakuan dan mengimplementasikan respon
keterampilan dari situasi yang dikembangkan.

b. Mereka akan mendemonstrasikan peningkatan percaya diri pada pengetahuan dan


keterampilannya.

c. Pada tingkatan ini mereka banyak terlibat dengan keluarga dan pasien.

5. Expert
a. Pada tingkatan ini perawat expert mempunyai pegangan intuitiv dari situasi yang
terjadi sehingga mampu mengidentifikasi area dari masalah tanpa kehilangan
pertimbangan waktu untuk membuat diagnosa alternatif dan penyelesaian.

b. Perubahan kualitatif pada pada expert adalah “mengetahui pasien” yang berarti
mengetahui tipe pola respon dan mengetahui pasien sebagai manusia.

c. Aspek kunci pada perawat expert adalah:

1) Menunjukkan pegangan klinis dan sumber praktis


2) Mewujudkan proses know-how
3) Melihat gambaran yang luas
4) Melihat yang tidak diharapkan

3.2 Asumsi Mayor (terkait dengan paradigm keperawatan)


1. Tidak ada data yang dapat diinterpretasikan secara bebas.
2. Tidak ada data yang tidak dapar direaksikan
3. Masyarakat memiliki latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda yang dapat
dipahami dan diinterpretasikan
4. Manusia adalah makluk yang terintegrasi dan holistic. Pikiran dan tubuh merupakan
bagian yang tidak dapat dipisahkan.

4.1 Penerimaan oleh keperawatan (Praktik, pendidikan, penelitian)


1. Praktek keperawatan
Benner menggambarkan praktek klinik keperawatan menggunakan pendekatan
interpretasi fenomenologi. From Novice to Expert (1984) berisi beberapa contoh
aplikasi dalam penerapan metodenya di beberapa situasi praktek ( Dolan et all, 1984).
Awalnya, benner menggunakan pendekatan promosi, jenjang perawat klinik, program
untuk lulusan perawat yang baru dan seminar untuk mengembangkan pengetahuan
klinik. Simposium berfokus pada keunggulan pada praktek keperawatan yang
dilaksanakan untuk pengembangan staff, pengenalan, dan penghargaan sebagai salah
satu jalan untuk mendemonstrasikan perkembangan pengetahuan klinik dalam praktek
(Dolan, 1984).
Setelah itu metode benner banyak diadopsi oleh para praktisi keperawatan
misalnya Fenton (1984) menggunakan pendekatan Benner dalam sebuah studi
ethnography untuk penampilan perawat klinik spesialis. Penemuannya terdiri dari
identifikasi dan deskripsi kompetensi perawat untuk mempersiapkan perawat mahir.
Balasco dan Black (1988) and silver (1986) menggunakan metode Benner untuk
membuat pedoman pembedaan pengembangan klinik dan jenjang karir dalam
keperawatan. Farrell and Bramadat (1990) menggunakan paradigma analisa kasus
Benner dalam proyek kolaborasi antara universitas pendidikan keperawatan dan rumah
sakit pendidikan untuk mendalami perkembangan klinik yang sesuai dengan skill dalam
praktek yang nyata.
Benner mengembangkan banyak literature yang berfokus pada praktek
keperawatan dan melakukan publikasi karyanya tersebut (Benner, 1984, 1985, 1987,
benner et all, 1999). Benner mengedit The American Journal of Nursing sejak 1980.
Dan pada tahun 2001, dia mulai mengedit sebuah seri yang berjudul Current
Controversies in Critical Care pada The American Journal of Nursing.

2. Pendidikan
Dalam dunia pendidikan, model Benner banyak digunakan sebagai acuan oleh
para pendidik untuk mempelajari setiap level perawat dari novice sampai expert dan
mempelajari perbedaan masing masing level sehingga memberikan pengalaman
pembelajaran kepada mahasiswa keperawatan.
Benner (1982) mengkritisi tentang konsep competency-based testing yang
berlawanan dengan kompleksitas keahlian dan tingkat keahlian yang dijelaskan dalam
Model Dreyfus dan 31 kompetensi yang dijelaskan oleh AMICAE (Benner, 1984).
Dalam Expertise In Nursing Practice , Benner dan kolega (1996) menekankan
pentingnya pembelajaran skill dan perawatan melaui pengalaman praktis, penggunaan
ilmu pengetahuna dalam praktek, dan dengan pendidikan formal. Dalam Clinical
Wisdom in Critical Care, Benner dan kolega (1999) memberikan perhatian yang besar
pembelajaran berdasarkan pengalaman dan mempresentasikan bagaimana cara
mengajar. Mereka mendisain CD ROM interaktif untuk melengkapi buku.

3. Penelitian
Metode Benner banyak digunakan sebagai acuan penelitian dalam bidang keperawatan.
Sebagai contoh Fenton (1984, 1985) menggunakan model Benner dalam penelitian
pendidikan. Lock dan Gordon (1989) yang membantu proyek AMICAE, yang
mengembangkan pembelajaran inquiry dalam model formal yang digunakan dalam
praktek keperawatan dan medis. Mereka menyimpulkan bahwa model formal
memberikan petunjuk mengenai pelayanan langsung, pengetahuan dan hasil yang
diinginkan.

4.2 Kelemahan teori benner

1. Teori Patricia Benner diadaptasi dari “Model Dreyfus” yang dikemukakan oleh Hubert
Dreyfus dan Stuart Dreyfus. Teori From Novice to Expert menjelaskan 5 tingkat/tahap
akuisisi peran dan perkembangan profesi meliputi: Novice, Advance Beginner,
competent, proficient, dan expert. Model ini relative simple dengan hanya membagi
tingkat kemahiran perawat dalam 5 tahap dan hal itu memerlukan identifikasi tingkat
praktek keperawatan dari gambaran perawat secara individu dan dari observasi praktek
klinik yang sebenarnya .
2. Teori From Novice to Expert mempunyai karakteristik yang universal yang tidak
dibatasi oleh umur, penyakit, kesehatan atau lokasi praktek keperawatan. Untuk
interpretasi model ini dalam praktek keperawatan digunakan sebagai kerangka kerja
saja sedangkan penerapannya dibatasi oleh situasi praktek keperawatan, sehingga
diperlukan pemahaman yang kompetensi 5 level perawat tersebut dan kemampuan
mengidentifikasi karakteristik dan tujuan disetiap level.
3. Model Benner ini hanya dibuktikan dengan menggunakan metodologi kualitatif yang
terdiri dari 31 kompetensi, 7 domain praktek keperawatan dan 9 domain perawatan
kritis. Dengan pendekatan kualitatif, benner menganggap sebagai hipotesis generating
(penyebab) daripada hipotesis testing, maka dari itu perlu dibuktikan dengan
pendekatan alternative lain selain kualitatif.
4. Perspektif Benner adalah fenomenologi dan bukan kognitif. Model Benner didasarkan
pada data based research yang mendukung pengembangan praktek keperawatan

5.1 Pengaplikasian teori

Studi kasus yang dipilih untuk mengilustrasikan bagaimana aplikasi pendekatan

teori Patricia Benner untuk meningkatkan pengembangan praktik keperawatan di klinik adalah

sebuah kegiatan yang dilakukan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan praktik

keperawatan yang dilakukan oleh perawat ahli pada sebuah institusi rumah sakit. Pada awal

kegiatan, diberikan kuesioner yang berisi narasi kegiatan dan dilakukan observasi. Selanjutnya

data tersebut dianalisis dan diintepretasikan menggunakan teori Patricia Benner, dengan

berfokus pada domain dan kompetensi praktik keperawatan. Aspek kritis pada penggunaan

pendekatan teori Patricia Benner adalah mengidentifikasi domain dan kompetensi yang

digunakan dalam mengintepretasikan data berupa narasi dan observasi.

Perawat yang terlibat dalam kegiatan ini adalah perawat yang bekerja pada perawatan

kritis selama kurang lebih 8 tahun. Terdapat 3 perawat yang bertanggung jawab pada perawatan

Ny.A, 60 tahun, yang didiagnosa menderita Diabetes Melitus + terdapat luka gangrene pada

kaki kanan dengan GDA awal 350. Keadaan Ny.A kritis dan tidak stabil selama beberapa

minggu. Keluarga Ny.A merasa khawatir terhadap ketidakstabilan dan penurunan kondisi

Ny.A , keluarga Ny.A selalu mendampingi Ny.A selama 24 jam. Beberapa perawat yang

bertanggung jawab pada perawatan Ny A adalah mahasiswa perawat yang sedang berdinas di

Ruang tersebut, dimana mahasiswa dalam melakukan intervensi keperawatan harus didampingi
oleh perawat. Perawat magang, yaitu perawat yang baru saja lulus dan belum mempunyai

pengalaman yang cukup dalam merawat pasien dengan Diabetes Mellitus.Perawat associate,

dalam melakukan intervensi keperawatan sudah dapat dilepaskan secara mandiri tanpa perlu

pendampingan dan dapat menjelaskan alasan dari intervensi yang sudah dilakukan. Perawat

Primer, dapat melakukan perencanaan tindakan dan intervensi yang dilakukan disertai dengan

inovasi baru karena mempunyai peningkatan rasa percaya diri pada pengetahuan dan

ketrampilannya, intervensi yang dilakukan banyak melibatkan peran serta pasien dan keluarga

. Oleh karena terjadi ketidakstabilan dan penurunan kondisi dari Ny A Perawat Primer meminta

pendampingan Perawat Konsultan (Ners Spesialis) dimana perawat konsultan mempunyai

kemempuan mengidentifikasi masalah yang lebih cepat serta, demikian pula dalam

menyusundiagnosa alternative dan penyelesaiannya.

5.2 pembahasannya

Studi kasus tersebut memberikan gambaran kompetensi perawat ahli pada domain “The

Helping Role of the Nurse”, yaitu menciptakan lingkungan yang kondusif untuk penyembuhan

dan penyediaan dukungan social dan informasi pada keluarga pasien (Benner, 1984). Pelibatan

keluarga sebagai partisipan pada perawatan pasien kritis membutuhkan skill yang tinggi yang

tidak bisa dilakukan oleh perawat yang belum kompeten pada perawatan pasien kritis. Perawat

pada studi kasus tersebut yag dalam hal ini berada pada level Proficient memiliki pengalaman

pada unit perawatan kritis, dan berpendapat bahwa keluarga pasien merasa sangat penting

untuk memberikan perawatan kepada pasien, sehingga perawat tersebut mendobrak tradisi dan

mengajari keluarga untuk memberikan perawatan dasar kepada pasien. Kebanyakan perawat

pada unit perawatan kritis merasa sangat terganggu dengan melibatkan keluarga dalam

perawatan pasien kritis, hal tersebut didasarkan pada keefisienan perawatan dan keselamatan

pasien. Tapi hal tersebut dapat memutus keluarga terlibat dalam caring relationship . Hal yang

dilakukan perawat tersebut mendemonstrasikan dukungan moral, komitmen dalam pemberian

perawatan, dan advokasi melawan tradisi pada unit perawatan kritis yang tidak melibatkan
keluarga pada perawatan pasien kritis. Perlu digarisbawahi bahwa perawat tersebut mempunyai

rata-rata pengalaman kerja selama 8 tahun dan telah dikategorikan sebagai perawat ahli,

sehingga mempunyai kemampuan untuk mengubah tradisi dalam melibatkan keluarga pasien

dalam perawatan pasien kritis.

Penelitian yang dilakukan oleh Chesla pada tahun 1996 menyatakan bahwa terdapat

kesenjangan pada teori dan praktik pada pelibatan keluarga dalam perawatan pasien. Eckle

(1996) mempelajari tentang kehadiran keluarga pada anak dalam situasi emergensi dan

menyimpulkan bahwa pada saat terjadi krisis, kehadiran keluarga penting untuk memberikan

perawatan yang efektif dan penuh kasih. Kemampuan praktik untuk melibatkan keluarga dalam

perawatan terlihat pada studi kasus yang telah kita bahas sebelumnya. Hal tersebut

didefinisikan sebagai “The Helping Role of the Nurse”. Kompetensi pada domain ini

melibatkan pengkajian pada situasi yang terjadi, sehingga dapat memilih kebutuhan pasien

yang dapat melibatkan keluarga dan mendapatkan kepercayaan keluarga dalam perawatan

pasien. Studi kasus di atas juga memperlihatkan bahwa pendekatan teori Patricia Benner adalah

dinamis dan dapat dikembangkan secara spesifik. Pandangan untuk melibatkan keluarga dalam

perawatan adalah bagian dari aspek perawatan (Nuccio, 1996). Nuccio mengobservasi bahwa

perawat novice memulai proses tersebut dengan mengenali perasaan mereka yang berhubungan

family-centered care. Semetara itu, perawat ahli mengembangkan pendekatan kreatif untuk

melibatkan pasien dan keluarga pada perawatan. Proses pelibatan keluarga pada perawatan

kritis juga diteliti oleh Levy (2004) pada pasien anak-anak yang mendapatkan perawatan luka

bakar.
BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan
1. Dalam tatanan pelayanan teori ini memberikan pemahaman profesi tentang apa
artinya menjadi seorang ahli, teori Patricia Benner memperkenalkan sebuah konsep
bahwa perawat ahli mengembangkan keterampilan dan pemahaman tentang perawatan
pasien dari waktu ke waktu melalui pendidikan dasar serta banyaknya pengalaman

2. Seorang perawat diberi tanggung jawab dan wewenang sesuai dengan tingkatan
kompetensi yang dimilikinya (jenjang karir perawat)

3. Tatanan pelayanan pengembangan karir klinik bisa diterapkan sesuai dengan tahapan
jenjang karir PPNI

 PK1 = DIII, 2 tahun pengalaman dan Ners tanpa pengalaman dapat


dikategorikan dalam level Novice.
 PK2 = DIII, 5 tahun pengalaman dan Ners pengalaman 3 tahun, dalam
kategori Advance Beginer dimana pengalaman yang dimiliki belum cukup
untuk dapat dilepaskan secara mandiri dalam memberikan asuhan
keperawatan.
 PK3 = DIII, 9 tahun pengalaman dan Ners pengalaman 6 thn, Sp1, dalam
kategori Competent dimana perawat sudah mempunyai kemampuan
mempertimbangkan dan membuat perncanaan yang diperlukan, dan sudah
mandiri.
 PK4 = Ners, 9 thn Pengalaman, Sp1 Pengalaman 2 thn, Sp2. Provicient
mempunyai kemempuan melihat perubahan yang relevan serta melibatkan
keluarga dalam intervensi.
 PK5 = Sp1 pengalaman 4 thn, Sp2 pengalaman 1 thn . Expert mampu
mengidentifikasi area dari masalah tanpa kehilangan pertimbangan waktu untuk
membuat diagnose alternative dan penyelesaian.
Daftar Pustaka

https://www.academia.edu/18122775/Teori_patricia_benner

https://www.scribd.com/document/361713531/TEORI-KEPERAWATAN-MENURUT-PATRICIA-
BENNER

https://www.scribd.com/doc/178595593/PATRICIA-BENNER

Anda mungkin juga menyukai