Anda di halaman 1dari 5

Nama : Deka Feriana

NPM : 20177279019
Kelas : 3C

1. Mengapa Pendidikan di Indonesia belum meningkat secara signifikan, padahal sering


berganti kurikulum?
Jawaban:
Dalam dunia pendidikan, bangsa Indonesia sudah banyak mengalami perkembangan
sejak zaman kolonialisme hingga sekarang. Perkembangan dalam dunia pendidikan ini dirasa
sangat signifikan, mulai dari kurikulum, metode dan konsep pembelajaran, teknologi, mata
pelajaran, dan hal-hal lainnya. Kurikulum yang merupakan system rencana pembelajaran sudah
mengalami perubahan sebanyak Sembilan kali. Mulai dari tahun 1964, yang dikenal sebagai
Rentjana Pendidikan hingga tahun 2013 yang dikenal sebagai Kurikulum 2013. Perubahan-
perubahan ini dibuat agar system pendidikan Indonesia bisa mengikuti perkembangan zaman
serta memenuhi kebutuhan peserta didik.
Kurikulum pertama yang diterapkan di Indonesia adalah kurikulum tahun 1964 yang
dikenal sebagai Rentjana Pendidikan. Hamalik (2004) menyatakan bahwa pokok-pokok pikiran
kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat
pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang berikutnya. Kurikulum ini berfokus pada
program Pancawardhana (daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral).
Program Pancawardhana ini terdiri dari lima kelompok bidang studi, yaitu kelompok
pengembangan moral, kecerdasan, emosional, keterampilan, dan jasmaniah. Jenis kurikulum ini
adalah separated curriculum. Konsep pembelajaran yang diterapkan bersifat aktif, kreatif, dan
produktif sehingga mewajibkan sekolah untuk membimbing anak agar mampu memikirkan
sendiri pemecahan persoalan. Dalam Yufiarti (2009), pemecahan masalah merupakan salah satu
karakteristik pembelajaran pada teori kognitivisme. Konsep pembelajaran ini dapat dikatakan
cukup baik karena melatih daya pikir siswa. Hanya saja karena bersifat separated curriculum,
siswa dituntut untuk memahami berbagai jenis mata pelajaran yang diajarkan.
Yang kedua adalah kurikulum 1975. Kurikulum 1975 berorientasi pada tujuan dan
bersifat integratif. Karena bersifat integratif, kurikulum ini menekankan pada efisiensi dan
efektifitas daya dan waktu. Kurikulum ini juga dipengaruhi oleh psikologi tingkah laku dengan
menekankan pada stimulus-respons dan latihan. Hanya saja kekurangannya guru terlalu sibuk
menulis rincian yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran. Pengaruh psikologi tingkah
laku sangat jelas menunjukkan bahwa kurikulum ini menganut teori pembelajaran behaviorisme
karena menekankan pada stimulus-respons dan latihan.
Berikutnya ada kurikulum 1984. Kurikulum ini mengusung process skill approach yang
artinya mementingkan proses belajar serta keterampilan yang dimiliki. Dalam kurikulum ini,
siswa diposisikan sebagai subjek. Model pembelajaran yang digunakan adalah Cara Belajar
Siswa Aktif (CBSA). Melalui metode ini, siswa diajak untuk belajar mengamati,
mengelompokkan, berdiskusi, dan membuat laporan. Teori yang dipakai pada kurikulum ini
adalah teori belajar konstruktivisme.
Dalam teori konstruktivisme (Yufiarti, 2009), seorang siswa dapat membangun
pengetahuan dalam dirinya. Hal ini sesuai dengan metode pembelajarannya yaitu, siswa dituntut
untuk aktif dan membangun pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang dimiliki siswa berasal
dari pengalaman yang ia miliki sehingga peran guru disini hanya sebagai fasilitator dalam proses
pembelajaran. Secara teori, kurikulum ini cukup baik, hanya saja pelaksanaannya berbanding
terbalik.
Untuk sekolah-sekolah yang menjadi sampel uji coba, kurikulum ini berjalan sangat baik.
Namun setelah diluncurkan di sekolah-sekolah lain, kurikulum ini tidak berhasil dijalankan.
Guru tidak lagi mengajar dengan metode ceramah karena kurikulum ini mengharuskan siswa
untuk aktif. Siswa juga salah dalam mengartikan makna aktif di kelas sehingga membuat suasana
kelas gaduh dan tidak kondusif untuk belajar.
10 tahun kemudian, diluncurkanlah kembali kurikulum baru untuk menggantikan
kurikulum 1984, yaitu kurikulum 1994. Jika pada kurikulum 1984 lebih mementingkan proses
belajar, kurikulum 1994 justru lebih mementingkan isi atau bahan materi pelajaran itu sendiri.
Hal ini dikatakan cukup baik karena menambah pengetahuan siswa. Namun terjadi masalah baru,
yaitu terlalu banyaknya materi yang harus diajarkan pada siswa. Untuk mengatasi hal ini,
pemerintah mengubah system semester menjadi caturwulan. Harapannya, dengan system
caturwulan, siswa dapat menerima materi pelajaran yang cukup banyak itu.
Dari sini, kita bisa melihat bahwa kurikulum ini menganut teori behaviorisme. Hal ini
disebabkan karena banyaknya materi yang harus diajarkan dalam waktu yang cukup cepat.
Ibaratnya, guru harus melakukan system ‘kejar target’ agar setiap materi yang dibuat bisa
terselesaikan. Dalam Yufiarti (2009), hal ini masuk dalam metode pembelajaran tuntas (mastery
learning). Hanya saja kelemahannya, siswa jadi memiliki beban belajar yang sangat berat.
Memang pada akhirnya ada perubahan sedikit yang dinamakan Suplemen Kurikulum 1999, tapi
tidak memberikan dampak yang cukup besar.
Selanjutnya, pada tahun 2004, diluncurkanlah kurikulum baru yang diberi nama KBK
(Kurikulum Berbasis Kompetensi). KBK berorientasi bahwa siswa bukan hanya memahami
materi pelajaran untuk mengembangkan kemampuan intelektual, melainkan bagaimana
pengetahuan yang telah dipahami dapat mengembangkan perilaku yang ditampilkan dalam dunia
nyata (Gordon dalam Sa’ud, 2008: 91). Fokus KBK adalah kompetensi, sehingga cara menilai
siswa mengerti atau tidak dengan materi tersebut dengan diadakan berbagai ujian.
Pelaksanaannya tidak berjalan mulus karena kurikulum dan silabus sudah diatur oleh pemerintah
sehingga guru kesulitan untuk menyesuaikan kurikulum dan silabus yang dibuat ke dalam
lingkungan sekolah.
Untuk memperbaiki kekurangan KBK, pada tahun 2006 diluncurkanlah Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP memperbaiki apa yang salah dari KBK, salah satunya
adalah pembentukkan kurikulum dan silabus bebas dilakukan oleh pihak sekolah karena sekolah
yang lebih mengetahui kelebihan, kekurangan serta kebutuhan peserta didik.
Semua hal di atas adalah sebuah ironi. Pada jaman dahulu pendidikan di Indonesia adalah
acuan bagi negara tetangga. Namun sekarang, kita telah tertinggal jauh dari bekas “murid” kita.
Mengapa? Karena kurikulum kita yang seharusnya menjadi pangkal tombak pendidikan tidaklah
konsisten dalam pelaksanaannya. Dan bila kita tidak berubah sikap sekarang juga, Indonesia
takkan bisa maju. Semoga pemerintah segera menyadari hal ini dengan memperbaiki kesalahan-
kesalahan di kurikulum yang baru, menyempurnakannya dengan memperhitungkan kondisi di
lapangan, dan menerapkannya secara tahapan sistematis yang konsisten untuk jangka panjang.
Kurikulum sebagus apapun takkan bisa berjalan mulus jika tidak dijalankan secara konsisten dan
berkesinambungan. Kurikulum pendidikan di Indonesia membutuhkan penyempurnaan, bukan
pergantian konsep terus-menerus tanpa hasil yang berarti.
2. Bagaimana cara meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia?
Jawaban:
Di bawah ini akan diuraikan cara untuk meningkatkan mutu pendidikan, tersebut ada
beberapa hal yang bisa dilakuakn diantaranya:
1. Perubahan kurikulum belajar
Kurikulum merupakan dasar atau jadwal pendidikan yang akan diajarkan oleh guru
kepada peserta didiknya. Perubahan kulikulum ini bisa meningkatkan pendidikan namun dengan
perubahan kurikulum ini kadang menimbulkan kontroversi bagi semua orang. Perubahan
kurikulum ini harus dipertimbangkan dengan matang agar peserta didik dan pendidik bisa
melaksanakannya dengan baik.

2. Peningkatan mutu guru


Peningkatan mutu guru bisa dilakukan dengan penyeleksian guru pendidik sebelum
mereka mengajar pada suatu sekolah. Dengan adanya seleksi yang tepat ini diharapkan guru
benar-benar merupakan tenaga pilihan yang bisa membimbing muridnya dengan baik. Dan Insan
Pendidikan Patut Mendapatkan Penghargaan Karena itu Berikanlah Penghargaan, “Manajemen
Sumber Daya Manusia” mengatakan, penghargaan diberikan untuk menarik dan
mempertahankan SDM karena diperlukan untuk mencapai saran-saran organisasi. Staf (guru)
akan termotivasi jika diberikan penghargaan ekstrinsik (gaji, tunjangan, bonus dan komisi)
maupun penghargaan instrinsik (pujian, tantangan, pengakuan, tanggung jawab, kesempatan dan
pengembangan karir). Manusia mempunyai sejumlah kebutuhan yang memiliki lima tingkatan
(hierarchy of needs) yakni, mulai dari kebutuhan fisiologis (pangan, sandang dan papan),
kebutuhan rasa aman (terhindar dari rasa takut akan gangguan keamanan), kebutuhan sosial
(bermasyarakat), kebutuhan yang mencerminkan harga diri, dan kebutuhan mengaktualisasikan
diri di tengah masyarakat.
Pendidik dan pengajar sebagai manusia yang diharapkan sebagai ujung tombak
meningkatkan mutu berhasrat mengangkat harkat dan martabatnya. Jasanya yang besar dalam
dunia pendidikan pantas untuk mendapatkan penghargaan intrinsik dan ekstrinsik agar tidak
termarjinalkan dalam kehidupan masyarakat.
3. Bantuan Operasional Sekolah ( BOS )
Pada intinya bantuan ini dirancang pemerintah untuk membantu sekolah yang tidak
mampu agar bisa menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yng layak dan dibutuhkan siswa
didiknya. Namun kadang program ini disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab
sehingga penyampaiannya masih belum optimal.

4. Bantuan Khusus Murid (BKM)


Program pemerintah ini khusus untuk membantu biaya bagi murid yang tidak mampu
agar bisa mengenyam pendidikan sama seperti anak lainnya.

5. Sarana dan prasarana pendidikan yang maju dan layak


Bila mutu pendidikan di negara kita ingin maju maka sarana dan prasarana dari
pendidikan tersebut harus ditingkatkan lebih baik lagi. Bila sarana pendidikan bagus dan modern
maka siswa bisa melaksanakan pendidikan dengan nyaman. Kenyamanan mereka itulah yang
menjadi kunci kesuksesan dalam proses belajar. Dengan diberlakukannya kurikulum 2004
(KBK), kini guru lebih dituntut untuk mengkontekstualkan pembelajarannya dengan dunia nyata,
atau minimal siswa mendapat gambaran miniatur tentang dunia nyata. Harapan itu tidak
mungkin tercapai tanpa bantuan alat-alat pembelajaran (sarana dan prasarana pendidikan).

6. Pemerataan pendidikan
Pendidikan tidak hanya untuk mereka yang berada di kota namun didaerah terpencil juga
harus mendapatkan pendidikan yang layak. Inilah yang menjadi tugas pemerintah untuk
pemerataan pendidikan di semua wilayah.

7. Kurangi dan Berantas Korupsi


Korupsi dalam dunia pendidikan dilakukan secara bersama-sama (Amin Rais
menyebutnya korupsi berjamaah) dalam berbagai jenjang mulai tingkat sekolah, dinas, sampai
departemen. Pelakunya mulai dari guru, kepala sekolah, kepala dinas, dan seterusnya masuk
dalam jaringan korupsi. Sekolah yang diharapkan menjadi benteng pertahanan yang menjunjung
nilai-nilai kejujuran justru mempertotonkan praktik korupsi kepada peserta didik.