Anda di halaman 1dari 22

Health Education

Kanker Serviks

Oleh:
Rony Hakim
120141061

Masa KKM 4 Maret 2019 – 12 Mei 2019

Supervisor Pembimbing:

Prof. Dr. dr. John Wantania, Sp OG (K)

Residen Pembimbing:
dr. Hellena

BAGIAN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2019
Lembar Pengesahan

Health Education

“Kanker Serviks”

Oleh :

Rony Hakim

12014101061

Masa KKM 04 Maret 2019 – 12 Mei 2019

Telah disetujui, dikoreksi dan dibacakan pada tanggal 29 Maret 2019

Untuk memenuhi syarat tugas Kepaniteraan Klinik Madya

Di Bagian Obstetri dan Ginekologi

FK UNSRAT Manado

Residen Pembimbing

dr. Hellena

Supervisor Pembimbing

Prof . Dr. dr. john wantania, Sp.OG-K

i
BAB I
PENDAHULUAN

Kanker serviks merupakan keganasan yang berasal dari serviks. Serviks


merupakan sepertiga bagian bawah uterus, berbentuk silindris, menonjol dan
berhubungan dengan vagina.1
World Health Organization (WHO) pada tahun 2012 menyatakan bahwa
kanker merupakan penyakit tidak menular yang mengakibatkan kematian
terbanyak di dunia. Dalam hal ini kanker menempati urutan nomor dua penyakit
mematikan setelah penyakit jantung dan pembuluh darah. Setiap tahunnya
terdapat 12 juta penderita kanker serviks dan 7,6 juta jiwa diantaranya meninggal
dunia.2
Berdasarkan GLOBOCAN 2012 kanker serviks menduduki urutan ke-7
secara global dalam segi angka kejadian (urutan ke-6 di negara kurang
berkembang) dan urutan ke-8 sebagai penyebab kematian 3,2% mortalitas. Kanker
serviks menduduki urutan tertinggi di negara berkembang, dan urutan ke 10 pada
negara maju atau urutan ke 5 secara global. Di Indonesia kanker serviks
menduduki urutan kedua dari 10 kanker terbanyak berdasar data dari Patologi
Anatomi tahun 2010 dengan insidens sebesar 12,7%.3
Di Manado, berdasarkan kasus yang dirawat di RSUP Prof. Dr. R. D.
Kandou Malalayang Manado pada beberapa tahun terakhir ini ditemukan kira-kira
70-80% sudah berada pada stadium lanjut. Berdasarkan penelitian diperoleh
angka kejadian kanker serviks stadium lanjut yaitu sebanyak 67 kasus. Didapatkan
kelompok umur 45-49 dan 50-54 tahun adalah yang terbanyak, yaitu masing-
masing 15 kasus (22,4%), atau 44,8% dari total kasus. Stadium klinik yang
terbanyak adalah IIB yaitu 38 kasus (56,7%). Wanita yang menikah pada
kelompok umur 15 – 19 tahun adalah yang terbanyak menderita kanker serviks
stadium lanjut, yaitu sebanyak 18 kasus (40,9%) dari 44 kasus yang terdata dan
wanita yang melakukan sanggama pertama kali pada umur.4
Salah satu penyebab kanker serviks adalah karena infeksi human
Papilloma Virus (HPV) yang merangsang perubahan perilaku sel epitel serviks.
Infeksi HPV merupakan penyakit menular seksual yang utama pada populasi, dan

1
estimasi terjangkit berkisar 14-20% pada negara-negara di Eropa sampai 70% di
Amerika Serikat, atau 95% populasi di Afrika. Infeksi hPV mempunyai prevalensi
yang tinggi pada kelompok usia muda, sementara kanker serviks baru timbul pada
usia tiga puluh tahun atau lebih.2
Selain disebabkan oleh infeksi virus HPV khususnya tipe 16, 18, 31 dan
45. Adapun faktor risiko terjadinya kanker serviks antara lain: aktivitas seksual
pada usia muda, berhubungan seksual dengan multipartner, merokok, mempunyai
anak banyak,sosial ekonomi rendah, penyakit menular seksual, dan gangguan
imunitas.1
Tanda-tanda dini kanker serviks mungkin tidak menimbulkan gejala.
Tanda-tanda dini yang tidak spesifik seperti sekret vagina yang agak berlebihan
dan kadang-kadang disertai dengan bercak perdarahan. Gejala umum yang sering
terjadi berupa perdarahan pervaginam (pasca senggama, perdarahan di luar haid)
dan keputihan. Pada penyakit lanjut keluhan berupa keluar cairan pervaginam
yang berbau busuk, nyeri panggul, nyeri pinggang dan pinggul, sering berkemih,
buang air kecil atau buang air besar yang sakit.3
Diagnosis kanker serviks ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan ginekologik, termasuk evaluasi kelenjar getah bening,
pemeriksaan panggul dan pemeriksaan rektal. Dengan berkembangnya kemajuan
teknologi dalam ilmu kedokteran saat ini dikenal ada beberapa cara yang dapat
digunakan untuk membantu mendiagnosis kanker serviks, diantaranya: Pap-smear
dan biopsy jaringan serviks.5
Prognosis kanker serviks sangat baik pada kanker tingkat awal di mana
angka kesembuhan hampir 100% pada stadium prainvasif. Faktor-faktor
menentukan antara lain yaitu umur, keadaan umum penderita, status
sosioekonomi, gambaran makroskopis kanker, tingkat keganasan klinik, ciri-ciri
histologi sel tumor, kemampuan tim yang menangani serta sarana pengobatan
yang ada.1

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Kanker serviks adalah tumor ganas primer yang berasal dari metaplasia
epitel di daerah skuamokolumner junction yaitu daerah peralihan mukosa
vagina dan mukosa kanalis servikalis. Kanker serviks merupakan
gangguan pertumuhan seluler dan merupakan kelompok penyakit yang
dimanifestasikan dengan gagalnya untuk mengontrol proliferasi dan
mutase sel pada jaringan serviks.1

B. Etiologi
Perjalanan penyakit kanker serviks merupakan salah satu model
karsinogenesis yang melalui tahapan atau multistep, di mulai dari tahap
karsinogenesis awal sampai terjadinya perubahan morfologi hingga
menjadi kanker invasive. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa 90%
kanker serviks dihubngkan dengan infeksi Humman Papiloma Virus
(HPV).
HPV merupakan inisiator kanker serviks. Oncoprotein E6 dan E7 yang
berasal dari HPV merupaka asal terjadinya degenerasi keganasan.
Onkoproteinn E6 akan mengikat p53 sehingga TSG (Tumor Supressor
Gene ) p53 akan kehilangan fungsinya. Sedangkan oncoprotein E7 akan
mengikat TSG Rb, ikatan ini akan menyebabkan terlepasnya E2F yang
merupakan factor transkripsi sehingga siklus sel berjalan tanpa control.3

C. Faktor resiko
a. Usia > 35 tahun
Semakin tua usia seseorang,maka semakin meningkat resiko terjadinya
kanker serviks. Hal ini berhubungan dengan meningkatnya
danbertambahnya waktu pemaparan terhadap karsinogen serta semakin
melemahnya system kekebalan tubuh.

3
b. Usia pertama kali menikah
Menikah pada usia kurang dari 20 tahun dianggap terlalu muda untuk
melakukan hubungan seksual dan beresiko terkena kanker serviks 10-
12 kali lebih besar dari pada yang menikah pada usia di atas 20 tahun.
Kematangan bergantung pada sel-sel mukosa yang terdapat pada
selaput kulit bagian dalam rongga tubuh. Umumnya sel-sel mukosa
baru matang setelah usia > 20 tahun.
c. Aktivitas seksual tinggi
Wanita dengan aktivitas seksual yang tinggi, dan sering dan berganti-
ganti pasangan akan memungkinkan tertularnya penyakit kelamin,
salah satunya HPV ( Humman Papiloma Virus)
d. Penggunaan antiseptic
Kebiasaan mencuci vagina dengan menggunakan obat-obatan
antiseptic maupun deodorant akan mengakibatkan iritasi di serviks
yang merangsang terjadinya kanker.
e. Merokok
Wanita perokok memiliki resiko 2 kali lebih besar terkena kanker
serviks dibandingkan wanita yang tidak merokok. Nikotin dan
kandungan zat lain dalam rokok akan menurunkan daya tahan serviks.
f. Paritas (jumlah kelahiran)
Dengan seringnya seorang wanita melahirkan, maka akan berdampak
semakin seringnya terjadi perlukaan di organ reproduksi dan akan
mempermudah terkena HPV sebagai penyebab terjadinya penyakit
kanker serviks.

D. Gejala Klinis Kanker Serviks


Gejala kanker serviks pada kondisi pra-kanker ditandai dengan
Fluor albus (keputihan) dari vagina yang makin lama akan berbau busuk
akibat infeksi dan nekrosi jaringan. Gejala lain yang timbu yaitu ketidak
teraturannya siklus haid, amenorrhea, hipermenorhea dan perdarahan
setelah koitus.

4
Tahap lanjut, gejala yang muncul bervariasi, secret dari vagina
berwarna kuning, berbau dan terjadinya iritasi vagina serta mukosa vulva.
Perdarahan pervaginam akan semakin sering terjadi dan nyeri semakin
progresif. Karakteristik darah yang keluar berwarna merah terang dapat
bervariasi dari yang cair sampai menggumpal.
Gejala yang lebih lanjut meliputi nyeri yang menjalar sampai kaki,
hematuria dan gagal ginjal dapat terjadi karena obstruksi ureter.
Perdarahan pada rectum dapat terjadi karena penyebaran sel kanker yang
juga merupakan gejala penyakit lanjut.6

E. Diagnosis Kanker Serviks


Pada tahap prakanker lesi sering tidak menimbulkan gejala. Bila
ada gejala biasanya berupa keputihan yang tidak khas, atau ada perdarahan
setitik yang bisa hilang sendiri. Pada tahap selanjutnya (kanker) dapat
timbul gejala berupa keputihan atau keluar cairan encer dari vagina yang
biasanya berbau, perdarahan diluar siklus haid, perdarahan sesudah
melakukan senggama, timbul kembali haid setelah mati haid 17
menopause) nyeri daerah panggul, gangguan buang air kecil. Perubahan
dini pada serviks, khususnya Carcinoma In-Situ (CIN), bisa dideteksi
sebelum berkembang menjadi kasus karsinoma invasif dengan cara
skrining dengan menggunakan Pap smear, tes HPV, dan skrining visual
dengan menggunakan asam asetat atau larutan Lugol iodin.7
Untuk mendapatkan diagnosis pasti keganasan dilakukan biopsi
serviks. Biopsi jaringan pada keganasan serviks dapat dipandu baik oleh
suatu lesi yang jelas terlihat atau dengan kolposkopi. Indikasi
dilakukannya kolposkopi adalah temuan HGSIL (High Grade Squamous
Intraepithelial Lesion) pada Pap smear, termasuk di dalamnya displasia
sedang, berat, dan karsinoma in situ. Indikasi lain untuk melakukan
kolposkopi adalah adanya LGSIL (Low Grade Squamous Intraepithelial
Lesion) yang persisten. Macam biopsi yang dapat dilakukan antara lain
punch biopsy, incisional biopsy, LEEP (Loop Electrosurgical Excision
Procedure), cold knife biopsy, dan laser cone biops. Konisasi dapat

5
digunakan juga untuk mengobati lesi pra-invasif serviks seperti displasia
berat (CIN 3), terutama jika fungsi reproduksi masih dibutuhkan .7

Pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA)


Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) adalah pemeriksaan
leher rahim secara visual menggunakan asam cuka dengan mata telanjang
untuk mendeteksi abnormalitas setelah pengolesan asam cuka 3-5%
(Depkes RI, 2009). Menurut Rasjidi, tujuan pemeriksaan IVA adalah
untuk melihat adanya sel yang mengalami displasia sebagai salah satu
metode skrining kanker mulut rahim. IVA tidak direkomendasikan pada
wanita pasca menopause, karena daerah zona transisional seringkali
terletak di kanalis servikalis dan tidak tampak dengan pemeriksaan
inspekulo.
Ada beberapa kategori yang dapat dipergunakan dalam melihat hasil
pemeriksaan, salah satu kategori yang dapat dipergunakan adalah:
a. IVA negatif adalah serviks normal.
b. IVA radang adalah serviks dengan radang atau servisitis, atau kelainan
jinak lainnya polip serviks.
c. IVA positif adalah ditemukan bercak putih. Kelompok ini yang
menjadi sasaran temuan skrining kanker serviks dengan metode IVA
karena temuan ini mengarah pada diagnosis serviks pra kanker atau
displasia ringan, sedang, berat atau kanker serviks in situ.
d. IVA kanker serviks invasif yaitu dengan gambaran serviks seperti
bunga kol.

6
V. Klasifikasi Stadium Kanker Serviks8
Tahapan stadium klinis yang dipakai sekarang yaitu pembagian yang di
tentukan oleh The International Federation of Gynecologi and Obstetric
(FIGO).

7
F. Penatalaksanaan 9,10
1. Operasi
Operasi bertujuan untuk mengambil atau merusak kanker.
Bisa menggunakan bedah mikrografik atau laser. Tujuan utamanya untuk
mengangkat keseluruhan tumor / kanker. Operasi sederhana dilakukan
pada tingkat stadium awal (prakanker) dari 0-1A. operasi tersebut disebut
konisasi: pembuatan sayatan berbentuk kerucut padaserviks dan kanal
serviks. Karena berada dalam stadium awal, kanker masih beradadi sel-sel
selaput lendir. Operasi juga dapat dilakukan jika pasien masih ingin hamil.
Bila pasien sudah tidak ingin hamil lagi, maka histerektomi
simple(pengangkatan rahim secara keseluruhan) akan dilakukan.
Tujuannya adalah agar kanker tidak tumbuh lagi.
2. Kemoterapi
Memberikan obat anti kanker untuk membunuh sel-sel
kanker. Bisa berupa obat yang diminum, dimasukkan bersama
cairan intravena, atau injeksi. Contoh obat yang diberikan dalam
kemoterapi, misalnya sitostatika. Kemoterapi adalah penatalaksanaan
kanker dengan pemberian obatmelalui infus, tablet, atau

8
intramuskuler. Obat kemoterapi digunakan utamanya untuk
membunuh sel kanker dan menghambat perkembangannya. Tujuan
pengobatan kemoterapi tegantung pada jenis kanker dan fasenya
saat di diagnosis. Beberapa kanker mempunyai penyembuhan yang
dapat diperkirakan atau dapat sembuh dengan pengobatan
kemoterapi. Dalam hal lain, pengobatan mungkin hanya diberikan
untuk mencegah kanker yang kambuh, ini disebut pengobatan
adjuvant. Dalam beberapa kasus, kemoterapi diberikan untuk
mengontrol penyakit dalam periode waktu yang lama walaupun
tidak mungkin sembuh. Jika kanker menyebar luas dan dalam
fase akhir, kemoterapi digunakan sebagai paliatif untuk
memberikan kualitas hidup yang lebih baik. Kemoterapi kombinasi
telah digunakan untuk penyakit metastase karena terapi dengan
agen-agen dosis tunggal belum memberikan keuntungan yang
memuaskan. Contoh obat yang digunakan pada kasus
kankerserviks antara lain ; CAP (Cyclophopamide Adremycin
Platamin), PVB(Platamin Veble Bleomycin) dan lain - lain (Prayetni,
1997).
Cara pemberian kemoterapi:
1. Ditelan
2. Disuntikkan
3. Diinfus
Obat kemoterapi yang paling sering digunakan sebagai terapi awal /
bersama terapiradiasi pada stage IIA, IIB, IIIA, IIIB, and IVA adalah
:Cisplatin., Fluorouracil (5-FU). Sedangkan Obat kemoterapi yang
paling sering digunakan untuk kanker serviksstage IVB / recurrent
adalah :Mitomycin. Paclitaxel, Ifosfamide. Topotecan telah disetujui untuk
digunakan bersama dengan cisplastin untuk kanker serviks stage lanjut,
dapat digunakan ketika operasi / radiasi tidak dapat dilakukanatau tidak
menampakkan hasil; kanker serviks yang timbul kembali / menyebar
keorgan lain.

9
Efek samping dari kemoterapi adalah :
 Lemas
Timbulnya mendadak atau perlahan dan tidak langsung
menghilang saat beristirahat, kadang berlangsung terus sampai akhir
pengobatan.
 Mual dan muntah
Mual dan muntah berlangsung singkat atau lama. Dapat diberikan obat
anti mual sebelum, selama, dan sesudah pengobatan.
 Gangguan pencernaan
Beberapa obat kemoterapi dapat menyebabkan diare, bahkan
ada yang diare sampai dehidrasi berat dan harus dirawat. Kadang
sampai terjadi sembelit. Bila terjadi diare : kurangi makan-
makanan yang mengandung serat, buah dan sayur. Harus minum
air yang hilang untuk mengatasi kehilangan cairan. Bila susah BAB :
makan-makanan yang berserat, dan jika memungkinkan olahraga.
 Rambut rontok
Kerontokan rambut bersifat sementara, biasanya terjadi dua
atau tiga minggu setelah kemoterapi dimulai. Dapat juga
menyebabkan rambut patah didekat kulit kepala. Dapat terjadi
seminggu setelah kemoterapi.
 Otot dan saraf
Beberapa obat kemoterapi menyebabkan kesemutan dan mati rasa pada
jari tangan dan kaki. Serta kelemahan pada otot kaki.

10
 Efek pada darah
Beberapa jenis obat kemoterapi ada yang berpengaruh pada kerja
sumsum tulang yang merupakan pabrik pembuat sel darah
merah, sehingga jumlah sel darah merah menurun. Yang paling
sering adalah penurunan sel darah putih (leukosit).Penurunan sel darah
terjadi setiap kemoterapi, dan test darah biasanya dilakukan sebelum
kemoterapi berikutnya untuk memastikan jumlah sel darah telah
kembali normal. Penurunan jumlah sel darah dapat menyebabkan :
Mudah terkena infeksi . Hal ini disebabkan oleh penurunan leukosit,
karena leukosit adalah sel darah yang memberikan perlindungan
infeksi. Ada juga beberapa obat kemoterapi yang menyebabkan
peningkatkan leukosit. Perdarahan Keping darah (trombosit)
berperan pada proses pembekuan darah, apabila jumlah trombosit
rendah dapat menyebabkan pendarahan, ruam, dan bercak merah pada
kulit.
 Anemia
Anemia adalah penurunan sel darah merah yang ditandai dengan
penurunan Hb(Hemoglobin). Karena Hb letaknya di dalam sel darah
merah. Penurunan sel darah merah dapat menyebabkan lemah, mudah
lelah, tampak pucat.

3. Elektrokoagulasi
Membakar sel-sel kanker dengan aliran listrik yang telah diatur voltasenya

4. Radiasi
Terapi ini menggunakan sinar ionisasi (sinar X) untuk merusak
sel-sel kanker.Terapi radiasi bertujuan untuk merusak sel tumor
pada serviks serta mematikan parametrial dan nodus limpa pada
pelvik. Kanker serviks stadium II B, III, IV diobati dengan
radiasi. Metoda radioterapi di sesuaikan dengan tujuannya yaitu
tujuan pengobatan kuratif atau paliatif. Pengobatan kuratif ialah
mematikan sel kanker serta sel yang telah menjalar ke
sekitarnya dan atau bermetastasis ke kelenjar getah bening
panggul, dengan tetap mempertahankan sebanyak mungkin
kebutuhan jaringan sehat di sekitar seperti rektum, vesika
urinaria, usus halus, ureter. Radioterapi dengan dosiskuratif hanya
akan diberikan pada stadium I sampai III B. Bila sel kanker
sudah keluar rongga panggul, maka radioterapi hanya bersifat
paliatif yang diberikan secara selektif pada stadium IV A. Selama
menjalani radioterap, penderita mudah mengalami kelelahan yang
luar biasa, terutama seminggu sesudahnya.Istirahat yang cukup

11
merupakan hal yang penting, tetapi dokter biasanya menganjurkan
agar penderita sebisa mungkin tetap aktif. Pada radiasi eksternal,sering
terjadi kerontokan rambut di daerah yang disinari dan kulit menjadi
merah,kering serta gatal-gatal. Mungkin kulit akan menjadi lebih
gelap. Daerah yang disinari sebaiknya mendapatkan udara yang cukup,
tetapi harus terlindung dari sinar matahari dan penderita sebaiknya
tidak menggunakan pakaian yang bias mengiritasi daerah yang
disinari. Biasanya, selama menjalani radioterapi penderita tidak boleh
melakukan hubungan seksual. Kadang setelah radiasi internal, vagina
menjadi lebh sempit dan kurang lentur, sehingga bisa menyebabkan
nyeri ketika melakukan hubungan seksual. Untuk mengatasi hal ini,
penderita diajari untuk menggunakan dilator dan pelumas dengan bahan
dasar air.

5. Manajemen Nyeri
Kanker Berdasarkan kekuatan obat anti nyeri kanker, dikenal 3 tingkatan
obat, yaitu :
1. Nyeri ringan (VAS 1-4) : obat yang dianjurkan antara lain
Asetaminofen, OAINS(Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid)
2. Nyeri sedang (VAS 5-6) : obat kelompok pertama ditambah kelompok
opioid ringanseperti kodein dan tramadol
3. Nyeri berat (VAS 7-10) : obat yang dianjurkan adalah kelompok opioid
kuat sepertimorfin dan fentanyl

12
 Tatalaksana Lesi Prakanker

Tatalaksana lesi pra kanker disesuaikan dengan fasilitas pelayanan


kesehatan, sesuai dengan kemampuan sumber daya manusia dan sarana
prasarana yang ada. Pada tingkat pelayanan primer dengan sarana dan
prasarana terbatas dapat dilakukan program skrining atau deteksi dini
dengan tes IVA. Skrining dengan tes IVA dapat dilakukan dengan cara
single visit approach atau see and treat program, yaitu bila didapatkan
temuan IVA positif maka selanjutnya dapat dilakukan pengobatan
sederhana dengan krioterapi oleh dokter umum atau bidan yang sudah
terlatih.
Pada skrining dengan tes Pap smear, temuan hasil abnormal
direkomendasikan untuk konfirmasi diagnostik dengan pemeriksaan
kolposkopi. Bila diperlukan maka dilanjutkan dengan tindakan Loop
Excision Electrocauter Procedure (LEEP) atau Large Loop Excision of the
Transformation Zone (LLETZ) untuk kepentingan diagnostik maupun
sekaligus terapeutik. Bila hasil elektrokauter tidak mencapai bebas batas
sayatan, maka bisa dilanjutkan dengan tindakan konisasi atau histerektomi
total.

- Temuan abnormal hasil setelah dilakukan kolposkopi :


 LSIL (low grade squamous intraepithelial lesion),dilakukan LEEP
dan observasi 1 tahun.
 HSIL(high grade squamous intraepithelial lesion), dilakukan
LEEP dan observasi 6 bulan

Berbagai metode terapi lesi prakanker serviks:

a. Terapi NIS dengan Destruksi Lokal


Beberapa metode terapi destruksi lokal antara lain: krioterapi dengan N2O
dan CO2, elektrokauter, elektrokoagulasi, dan laser. Metode tersebut
ditujukan untuk destruksi lokal lapisan epitel serviks dengan kelainan lesi
prakanker yang kemudian pada fase penyembuhan berikutnya akan
digantikan dengan epitel skuamosa yang baru.

b. Krioterapi
Krioterapi digunakan untuk destruksi lapisan epitel serviks dengan metode
pembekuan atau freezing hingga sekurang-kurangnya -20oC selama 6
menit (teknik Freeze-thaw-freeze) dengan menggunakan gas N2O atau
CO2.
Kerusakan bioselular akan terjadi dengan mekanisme:
 sel‐ sel mengalami dehidrasi dan mengkerut;

13
 konsentrasi elektrolit dalam sel terganggu;
 syok termal dan denaturasi kompleks lipid protein;
 status umum sistem mikrovaskular.

c. Elektrokauter
Metode ini menggunakan alat elektrokauter atau radiofrekuensi dengan
melakukan eksisi Loop diathermy terhadap jaringan lesi prakanker pada
zona transformasi. Jaringan spesimen akan dikirimkan ke laboratorium
patologi anatomi untuk konfirmasi diagnostik secara histopatologik untuk
menentukan tindakan cukup atau perlu terapi lanjutan.

d. Diatermi Elektrokoagulasi
Diatermi elektrokoagulasi dapat memusnahkan jaringan lebih luas dan
efektif jika dibandingkan dengan elektrokauter, tetapi harus dilakukan
dengan anestesi umum. Tindakan ini memungkinkan untuk memusnahkan
jaringan serviks sampai kedalaman 1 cm, tetapi fisiologi serviks dapat
dipengaruhi, terutama jika lesi tersebut sangat luas.

e. Laser
Sinar laser (light amplication by stimulation emission of radiation), suatu
muatan listrik dilepaskan dalam suatu tabung yang berisi campuran gas
helium, gas nitrogen, dan gas CO2 sehingga akan menimbulkan sinar laser
yang mempunyai panjang gelombang 10,6u. Perubahan patologis yang
terdapat pada serviks dapat dibedakan dalam dua bagian, yaitu penguapan
dan nekrosis. Lapisan paling luar dari mukosa serviks menguap karena
cairan intraselular mendidih, sedangkan jaringan yang mengalami nekrotik
terletak di bawahnya. Volume jaringan yang menguap atau sebanding
dengan kekuatan dan lama penyinaran.

 Tatalaksana Kanker Serviks Invasif

a) Stadium 0 / KIS (Karsinoma in situ)


Konisasi (Cold knife conization).
Bila margin bebas, konisasi sudah adekuat pada yang masih memerlukan
fertilitas.
Bila tidak tidak bebas, maka diperlukan re-konisasi.
Bila fertilitas tidak diperlukan histerektomi total
Bila hasil konisasi ternyata invasif, terapi sesuai tatalaksana kanker
invasif.
Stadium IA1 (LVSI negatif)
Konisasi (Cold Knife)

14
bila free margin (terapi adekuat) apabila fertilitas dipertahankan.(Tingkat
evidens B)
Bila tidak free margin dilakukan rekonisasi atau simple histerektomi.
Histerektomi Total apabila fertilitas tidak dipertahankan Stadium IA1
(LVSI positif). Operasi trakelektomi radikal dan limfadenektomi pelvik
apabila fertilitas dipertahankan.
Bila operasi tidak dapat dilakukan karena kontraindikasi medik dapat
dilakukan Brakhiterapi

b) Stadium IA2,IB1,IIA1
1. Operatif.
Histerektomi radikal dengan limfadenektomi pelvik. (Tingkat evidens 1
/ Rekomendasi A) Ajuvan Radioterapi (RT) atau Kemoradiasi bila
terdapat faktor risiko yaitu metastasis KGB, metastasis parametrium,
batas sayatan tidak bebas tumor, deep stromal invasion, LVSI dan
faktor risiko lainnya. Hanya ajuvan radiasi eksterna (EBRT) bila
metastasis KGB saja. Apabila tepi sayatan tidak bebas tumor / closed
margin, maka radiasi eksterna dilanjutkan dengan brakhiterapi.
2. Non operatif
Radiasi (EBRT dan brakiterapi)
Kemoradiasi (Radiasi : EBRT dengan kemoterapi konkuren dan
brakiterapi)

c) Stadium IB 2 dan IIA2 Pilihan :


1. Operatif (Rekomendasi A)
Histerektomi radikal dan pelvik limfadenektomi. Tata laksana
selanjutnya tergantung dari faktor risiko, dan hasil patologi anatomi
untuk dilakukan ajuvan radioterapi atau kemoterapi.
2. Neoajuvan kemoterapi (Rekomendasi C)
Tujuan dari Neoajuvan Kemoterapi adalah untuk mengecilkan massa
tumor primer dan mengurangi risiko komplikasi operasi. Tata laksana
selanjutnya tergantung dari faktor risiko, dan hasil patologi anatomi
untuk dilakukan ajuvan radioterapi atau kemoterapi.

d) Stadium IIB
1. Kemoradiasi (Rekomendasi A)
2. Radiasi (Rekomendasi B)
3. Neoajuvan kemoterapi (Rekomendasi C) Kemoterapi (tiga seri)
dilanjutkan radikal histerektomi dan pelvik limfadenektomi.
4. Histerektomi ultraradikal, laterally extended parametrectomy (dalam
penelitian)

15
e) Stadium III A-IIIB
1. Kemoradiasi (Rekomendasi A)
2. Radiasi (Rekomendasi B)

f) Stadium IIIB dengan CKD


1. Nefrostomi / hemodialisa bila diperlukan
2. Kemoradiasi dengan regimen non cisplatin atau
3. Radiasi

g) Stadium IV A tanpa CKD


1. Pada stadium IVA dengan fistula rekto-vaginal, direkomendasi terlebih
dahulu dilakukan kolostomi, dilanjutkan :
2. Kemoradiasi Paliatif, atau
3. Radiasi Paliatif

h) Stadium IV A dengan CKD, IVB


1. Paliatif
2. Bila tidak ada kontraindikasi, kemoterapi paliatif / radiasi paliatif dapat
dipertimbangkan.

G. Pencegahan
 Vaksin HPV
Vaksin HPV dapat berguna dan cost-effective untuk mengurangi
kejadian kanker serviks dan kondisi pra-kanker. Vaksin HPV yang
terdiri atas dua jenis dapat melindungi tubuh dalam melawam
kanker yag disebabkan oleh HPV (tipe 16 dan 18) .

 Penggunaan Kondom
Kondom mengurangi resiko terjadi penularan virus. Sebuah studi
yang dipublikasikan di New England Joirnal of Medicine
memperlihatkan bahwa wanita yang mengaku pasangannya
menggunakan kondom saat berhubungan seksual kemungkinan
70% lebih kecil untuk terkena infeksi Humman Papiloma Virus
(HPV) disbanding wanita dengan pasangan yang tidak
menggunakan kondom

16
H. Prognosis
Prognosis kanker serviks tergantung dari stadiumnya. Umumnya 5
survival rate untuk stadium I lebih dari 90%, untuk stadium II 60-80%,
stadium III kira-kira 50% dan staium IV kurang dari 30%.

17
Daftar Pustaka

1. Pedoman Pelayanan Medik Kanker Ginekologi, Kanker Serviks 2011;19-


28.
2. WHO. Latest world cancer statistics. 2013 [cited 2018 Jan 29]. Available
from: https://www.iarc.fr/en/media-centre/pr/2013/pdfs/pr223_E.pdf
3. Departemen Kesehatan Indonesia. Seminar sehari dalam rangka memperingati
hari kanker sedunia. 2013. [cited 2018 Jan 29]. Available from:
http://www.depkes.go.id/index.php?vw=2&id=2233.
4. Rarung R. Karakteristik Penderita Kanker Serviks Stadium Lanjut di BLU
RSUP Prof. R.D. Kandou Periode 1 Januari 2010-31 Desember 2013. Jurnal
e-Biomedik. 2013;[1]:566-570.
5. Rositch AF, Gatuguta A, Choi RY, Guthrie BL, Mackelprang RD. Knowledge
and acceptability of pap smears, self-sampling and HPV vaccination among
adult women in Kenya. 2012 [cited 2017 Sept 01]. Available from:
http://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0040766
6. Denny L, Quinn M. FIGO Cancer Report 2015. International Journal of
Gynecology & Obstetrics. 2015; 131 (suppl 2).
7. Berek JS, Hacker NF. Practical gynecology oncology third ed. Lippincott
Williams & Wilkins. 2011
8. Pecorelli S: Revised FIGO staging for carcinoma of the vulva, cervix, and
endometrium. Int J Gynaecol Obstet 105 (2): 103-4, 2009.
9. Saslow D,Solomon D. American Society for Colposcopy and Cervical
Pathology. Journal of Lower Genital Tract Disease, 2012. Volume 16.
10. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Panduan pelayanan kanker
serviks. 2017 (cited 2018 Jan 28). Available from
http://www.kanker.kemkes.go.id/guidelines/PPKServiks.pdf

18
19
20