Anda di halaman 1dari 11

TEKS KOMPETENSI MEMBACA

Disusun oleh:

KELOMPOK 7

1. Ahmad Wijayanto (14201241036)


2. Nurfathi Robi (16201241035)
3. M. Aburizal Rifqi (16201244021)
4. Faisal Indra Prakosa (16201244024)

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2018
BAB I

PENDAHULUAN
BAB II

TES KOMPETENSI MEMBACA

Pada hakikatnya huruf dan atau tulisan hanyalah lambang bunyi bahasa tertentu. Kegiatan
membaca merupakan aktivitas mental memahami apa yang dituturkan pihak lain melalui sarana tulisan.
Oleh karena itu, dalam kegiatan membaca kita harus mengenali bahwa lambang tulis tertentu itu
mewakili (melambangkan, menyarankan) bunyi tertentu yang mengandung makna yang tertentu pula.

Kegiatan membaca merupakan aktivitas berbahasa yang bersifat reseptif, kedua setelah
menyimak. Hubungan antar penutur (penulis) dan penerima (pembaca) bersifat tidak langsung, yaitu
melalui lambang tulisan. Penyampaian informasi melalui sarana tulis untuk berbagai keperluan dalam
abada modern ini merupakan suatu hal yang tidak dapat ditinggalkan. Bebagai informasi seperti berita,
cerita, ataupun ilmu pengetahuan, dan lain-lain, sangat efektif diumumkan melalui sarana tulisan baik
dalam bentuk surat kabar, majalah, surat, selebaran, buku-buku cerita, buku pelajaran, literatur,
maupun yang lain. Dengan demikian aktivitas membaca tentang berbagai sumber informasi tersebut
akan membuka dan memperluas dunia dan horison seseorang.

Dalam dunia pendidikan aktivitas dan tugas membaca merupakan suatu hal yang tidak dapat
ditawar-tawar. Sebagian besar pemerolehan ilmu dilakukan peserta didik dan terlebih lagi mahasiswa
didik melalui aktivitas membaca. Keberhasian studi seseorang akan sangat ditentukan oleh kemampuan
dan kemauan membacanya.

A. Penekanan Tes Kompetensi Membaca

Pada kenyataannya ada banyak tujuan orang membaca, misalnya karena ingin memperoleh dan
menanggapi informasi, memperluas pengetahuan, memperoleh hiburan, dan menyenangkan hati,
dan lain-lain. Demikian juga ada sekian macam ragam bacaan yang bisa dibaca orang seperti:
membaca koran dan majalah, buku liiteratur, tabel, iklan, sastra (fiksi, puisi, drama), dan lain-lain.
Selain itu, ada juga bermacam jenis membaca, seperti: membaca pemahaman, membaca nyaring,
membaca indah, dan lain-lain yang kesemuanya mesti dibelajarkan di sekolah. Pemilihan ragam
bacaan lazimnya terkait dengan tujuan membaca dan secara tidak langsung melibatkan jenis
membaca.

Tujuan pembelajaran membaca di sekolah juga bermacam-macam yang secara ringkas dapat
dikatakan sejalan dengan jenis membaca yang dibelajarkan. Kompetensi pemahaman terhadap
berbagai ragam teks yang dibaca tidak akan diperoleh secara cuma-cuma tanpa ada usaha untuk
meraihnya. Kompetensi pemahaman wacana ini pula yang mendapat penekanan dalam pembuatan
soal ujian yang dibicarakan. Kompetensi membaca yang baik diperlukan dan menjadi prasyarat
untuk dapat membaca dan memahami berbagai literatur mata pelajaran yang lain. Untuk meraih
kompetensi membaca yang baik, kemampuan dan kemauan membaca mesti baik pula. Maka, selain
guuru membelajarkan kemudian mengukur kompetensi membaca perserta didik, aspek sikap
haruslah pula tidak dilupakan. Intinya kita perlu mengetahui seberapa tinggi sikap, kemauan
membaca peserta didik.
B. Bahan Tes Kompetensi Membaca

Kemampuan membaca di sini diartikan sebagai kemampuan untuk memahami informasi yang
disampaikan pihak lain melalui sarana tulisan. Tes kemampuan membaca dimaksudkan untuk mengukur
kompetensi peserta didik memahami isi informasi yang terdapat dalam bacaan Pemilihan wacana
hendaknya dipertimbangkan dari segi tingkat kesulitan, panjang pendek, isi dan jenis, atau bentuk
wacana.

1. Tingkat kesulitan wacana


Tingkat kesulitan wacana terutama ditentukan oleh kekompleksan kosakata dan struktur serta
kadar keabstrakan informasi yang dikandung. Semakin sulit dan kompleks kedua aspek tersebut
akan semakin sulit pemahaman wacana yang bersangkutan demikian pula yang terkait dengan
isi wacana jika isi wacana itu bersifat umum, konkret, dalam jangkauan pengalaman peserta
didik, atau dalam bidang keilmuan yang sama, wacana itu relatif tidak sulit bagi mereka. Secara
umum, orang mengatakan bahwa wacana yang baik untuk bahan teks kompetensi membaca
adalah wacana yang tingkat kesulitannya sedang, atau yang sesuai dengan tingkat kemampuan
peserta didik.Prosedur memperkirakan tingkat kesulitan wacana yang lain yang dapat dilakukan
guru sendiri adalah dengan teknik cloze.
2. Isi Wacana
Secara pedagogis, orang mengatakan bahwa bacaan yang baik adalah bacaan yang sesuai
dengan tingkat perkembangan jiwa, minat, kebutuhan, atau menarik pehatian peserta didik.
Tujuan kegiatan membaca itu sendiri, khususnya yang bekaitan dengan pemahaman bacaan
adalah untuk memperluas dunia dan horison perserta didik, memperkenalkan teknologi,
berbagai hal dan budaya dari berbagai pelosok daerah dan negara lain. Pemberian bahan yang
demikian tentu saja harus mempertimbangkan tingkat kematangan peserta didik.
3. Panjang Pendek Wacana
Wacana yang diteskan untuk membaca pemahaman sebaiknya tidak terlalu panjang. Beberapa
wacana yang pendek lebih baik daripada sebuah wacana yang panjang, sepuluh butir tes dari
tiga atau empat wacana lebih baik daripada hanya dari sebuah wacana panjang. Secara
psikologis, peserta didikpun lebih senang pada wacana yang pendek, karena tidak
membutuhkan waktu banyak untuk membacanya dan wacana pendek terlihat lebih mudah.
4. Jenis Wacana
Wacana yang dipergunakan sebagai bahan untuk tes kompetensi membaca dapat wacan yang
berjenis prosa nonfiki, berita, tajuk, laporan, dialog, teks kesastraan, surat, tabel diagram,
gambar grafik, iklan, brosur, selebaran, dan lain-lain yang secara nyata dapat ditemukan di
masyarakat. Pada umumnya wacana yang berbentuk prosa yang banyak dipergunakan orang,
tetapi jika dimanfaatkan secara tepat, berbagai jenis wacana tersebut dapat sama-sama efektif.

C. Pembuatan Tes Kompetensi Membaca

Persoalan yang muncul dalam tes kompetensi membaca adalah bagaimana mengukur kemampuan
pemahaman isi pesan tersebut, yaitu apakah sekedar menuntut peserta didik memilih jawaban yang
telah disediakan atau menanggapi dengan bahasa sendiri. Jika sebuah tes sekadar menuntut peserta
didik mengidentifikasi, memi;lih, atau merespon jawaban yang telah disediakan, misalnya bentuk soal
objektif seperti pilihan ganda, tes itu merupakan tes tradisional. Sebaliknya, jika tes pemahaman pesan
tertulis itu sekaligus menuntut siswa untuk mengonstruksi jawaban sendiri, baik secara lisan, tertulis,
maupun keduanya, tes itu menjadi tes otentik.

Kedua macam tes tersebut sama-sama diperlukan untuk mengukur hasil pebelajjaran peserta
didik. Tugas-tugas asesmen otentik yang menuntut kinerja berbahasa peserta didik secara kongkrit dan
bermakna, lebih mencerminkan penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari untuk berbagai
keperluan. Maka, tes otentik sebenarnya lebih mencerminkan kompetensi peserta didik

1. Tes Kompetensi Membaca dengan Merespon Jawaban


Tes kompetensi membaca dengan cara ini mengukur kemampuan membaca peserta didik
dengan cara memilih jawaban yang telah disediakan oleh pembuat soal. Untuk membuat soal
ujian, setelah melewati penentuan kopetensi dasar dan indikator serta melihat kisi-kisi, kita
haruslah memilih wacana tertulis yang tepat yang berasal dari berbagai sumber.
a. Tes Pemahaman Wacana Prosa
Bahan ujian membaca pemaahaman adalah wacana yang berbentuk prosa, non fiksi atau
fiksi, singkat atau agak panjang, dengan isi tentang berbagai hal menarik. Wacana bentuk
inilah yang paling banyak dijadikan bahan tes kompetansi membaca. Soal yang umum
ditannyakan dalam tes adalah tema, gagasan pokok, gagasan penjelas, makna tersurat dn
tersirat, bahkan juga makna istilah dan ungkapan.
Berikut ini adalah contoh soal untuk tes pemahaman wacana. Soal kompetensi membaca
dapat hanya mengambil wacana singkat.
Soal:
Kita tidak usah khawatir bahwa kebudayaan asing yang sering menjanjikan kesenangan,
tetapi bertentangan dengan adat ketimuran akan merusak kehidupan para pemuda jika
mereka telah memiliki benteng mental dan kepribadian yang tangguh.
Pertanyaan berikut yang sesuai dengan wacana di atas adalah ...
A. Kebudayaan asing yang menjanjikan kesenangan akan begitu saja merusak mental dan
kepribadian pemuda.
B. Pemuda yang bermental dan berkepribadian tangguh akan dapat merusak kebudayaan
asing yang tidak sesuai dengan dadat ketimuran.
C. Pemuda yang bermental dan berkepribadian tangguh tidak akan begitu saja
terpengaruh kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan adat ketimuran.*
D. Kebudayaan asing yang menjanjikan kesenangan yang tidak sesuai dengan adat
ketimuran itu tidak dapat sama sekali memengaruhi pemuda yang bermental dan
berkepribadian tangguh.
b. Tes Pemahaman Wacana Dialog
Teks bentuk dialog sebaiknya juga diambil menjadi salah satu bahaan tes kompetensi membaca.
Pengambilan wacaana untuk baahaan tes kemampuan membacaa juga aakaan menjadikan tes
menjadi bervariasi. Tes membacaa dalam wacanaa bentuk dialog juga laazimnya dimaksutkan
untuk mengukur kemampuan pemahaaman isi wacan

c. Tes Pemahaman Wacana Kesastraan


Berbagaai teks genre sastra jugaa lazim diambil sebagai bahan pembuatan tes kompetensi
membaca, baik berupaa gennre fiksi, puisi,.maupun teks drama. Kecuali puisi, pengambilan
baahan biasanya dengan mengutip sebagiian teks yang secara singkat telaah mengandung unsur
tertentu yang layak untuk diteskan. Baik wacanaa kesastraaan maaupun wacana yang bukaan
kesastraaan samaa-sama terkait dengan pemahaman pesan, makna tersurat dan tersirat, makna
ungkapan, daan lain-lain. Hanya saja pada tes kesastraan serin dikaitkaan dengan unsur unsur
intrinsik pembangun teks
d. Tes Pemshaman Wacana lain: Surat, Tabel, Diagram, Grafik, dan Iklan.
Berbagai jenis wacana tersebut, khususnya surat, tabel, diagram, grafik, dan iklan eraat terkait
dengan kebutuhan hidup, maka hal-hal tersebut menjadi penting. Artinya, mereka perlu
dibelajarkan kaarena kompetensi itu tidak datang begitu saja, dan sebagai konsekuensinya
haruslah diujikan untuk menngetahui capaian kompetensi peserta didik.

2. Tes Kompetensi Membaca dengan Mengonstruksi Jawaban


Dalam tes kompetensi membaca jenis yang kedua tidak sekadar meminta peserta memilih
jawaban benar dari sejumlah jawaban yang disediakan, melainkan harus mengemukakan jawban
sendiri berdasarkan informasi yang diperoleh dari wacanaa yang diteskan. Pemahaman
terhadap isi pesan wacana adalah prasyarat adalaah mengonstruksi jawabaan tugas. Tugas
dalam bentuk ini merupakan tugas otentik.

Tugas otentik menuntut peserta didik untuk berunjuk kerja secara aktif produktif, maka tes
kompetensi membaca yang bersifaat reseptif diubah menjadi tugas reseptif dan produktif
sekaligus. Biasanya untuk kerja berbahasa menanggapi dan mengonstruksi jawaban dilakukan
secara lisan ataupun tertulis. Bagi guru, pemberian tes otentik ini lebih mudah dilakukan karena
ia tidak perlu membuat sekian jumlah soaal sebagai baahan tes pilihan ganda. Guru cukup
menyiapkan beberapa wacana yang diujikan dan kemudiaan memberi perintah kepada peserta
didik apa yang harus dilakukan
a. Pertanyaan Terbuka
Salaah satu pertanyaan yang berkadar otentik dalam tes kompetensi membacaa adaalah
pertnyaan terbuka. Pertanyaaan tidak sekadar mengingat atau menyebutkan fakta yang ada
di dalam teks, melainkan yang harus memaksa mereka berpikir tingkat tinggi, berpikir
analitis, sintesis, dan evaluatif.
b. Menceritakan Kembali
Berdasarkan pemahaman wacana yang diteskan peserta didik kemudian tampil untuk
menceritakan kembali isi wacana dengan mengreasi dan mengontruksikan bahasa sendiri.
Jadi, pada intinya peserta didik bebas memilih baahasa, namun gagasan yang dikemukakan
harus sesuai dengan isi pesan wacana tersebut.
Untuk keperluan penyekoran, guru hharus menyiapan rubrik. Aspek yang di skor haruslah
terdiri dari dua komponen, yaitu ketepatan pesan dan bahasa, dan keduanya dapat dirinci
menjadi beberapa sub komponen. Untuk pembelajar tingkat awal skor mestinya lebih besar
untuk komponen ketepetan baahasa, sedang untuk pembelajar tingkat lanjut lebih tinggi
untuk komponen ketepatan isi pesan. Namun, kalau kita ingin aman sebaiknya
menggunakaan kedua komponen tersebut.
Contoh Tabel Penilaian

TABEL 10.3

PENILAIAN KINERJA PEMAHAMAN MEMBACA SECARA LISAN

NO Aspek yang Dinilai TINGKAT KEFASIHAN


1 2 3 4 5
1 Pemahaman isi teks
2 Pemahaman detil isi teks
3 Keruntutan pengucapan
4 Kelancaran pengungkapan
5 Ketepatan diksi
6 Ketepatan struktur kalimat

TABEL 10.3

PENILAIAN KINERJA PEMAHAMAN MEMBACA SECARA TERTULIS

NO Aspek yang Dinilai TINGKAT KEFASIHAN


1 2 3 4 5
1 Pemahaman isi teks
2 Pemahaman detil isi teks
3 Ketepatan organisasi isi teks
4 Ketepatan diksi
5 Ketepatan struktur kalimat
6 Ejaan dan tata tulis

c. Membuat Ringkasan, Sinopsis, Rangkuman, saduran


Selain diprasyarati oleh kemampuan membaca yaang baik, untuk membuat ringkasan,
sinopsis, rangkuman, atau saduran, peserta didik juga harus mampu mengidentifikasi,
memilih, dan menentukan hahl-hal penting dan kemudian mengungkapkan kembali secara
lisa atau tertulis dengan bahasa sendiri. Tugas-tugas ini merupakan tugas yang memiliki nilai
otentik tinggi. Samaa haalnya dengan tugas tugas otentik yang lain, untuk keperluan
penyekoran sebaiknya digunakan rubrik penilaian. Komponen yang harus ada dalam rubrik
juga sama, yaitu isi dan bahaasa dan keduanya dapaat dirinci ke dalam komponen penting.

3.Tes Membaca PISA dan PIRLS


Pembicaraan tentang tes kompetensi membaca kini tampaknya tidak dapat mengabaikan model
penilaian membaca yang dikenal dengan PISA dan PIRLS. Kedua jenis pengukuran prestasi hasil belajar
tersebit berskala internasional. Ujian PISA melibatkan tiga macam kompetensi literasi, yaitu membaca,
matematika, dan sain. Dari semua kompetensi berbahasa, hanya kompetensi membaca yang dipilih
untuk diujikan. Hal itu menunjukkan betapa pentingnya kompetensi itu untuk keberhasilan pendidikan
dan hidup menghadapi tantangan dalam kehidupan nyata kelak di kemudian hari. Di pihak lain, PIRLS
bahkan secara khusus dimaksudkan untuk mengukur kompetensi literasi membaca anak-anak.

Ujian PISA merupakan program pengukuran kompetensi literasi anak-anak yang diselenggarakan
setiap tiga tahun sekali dan mulai dilaksanakan sejak tahun 2000. Setiap negara yang mengikuti program
ini harus mengikuti prosedur operasi standar yang telah ditetapkan, yaitu dalam hal penentuan populasi
dan sampel, pelaksanaan uji coba dan survei, penggunaan tes dan angket, pengelolaan dan analisis data,
serta pengendalian mutu. Selain tes, pemberian angket sengaja dilakukan untuk melengkapi informasi
tentang latar belakang sosial siswa, pengalaman sekolah dan belajar, serta sistem dan lingkungan
pendidikan.

Dasar utama penyelenggaraan PISA adalah bahwa hasil dasri sistem pendidikan yang dilakukan
oleh tiap negara peserta harus diukur dengan kompetensi yang dimiliki oleh siswa. Kompetensi yang
dinilai paling esensial adalah kompetensi literasi, dan sejak tahun 2012, juga melibatkan kreativitas
pemecahan masalah dan literasi finansial. Ujian PISA secara tidak langsung terkait dengan kurikulum
sekolah. Ujian sengaja dirancang untuk mengukut kompetensi siswa dalam rangka berpartisipasi dalam
kehidupan masyarakat secara nyata dan mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh dalam konteks
yang belum dikenalnya baik di sekolah maupun di masyarakat modern.

Soal-soal ujian sengaja dirancang relevan dengan kehidupan sesungguhnya yang secara nyata
diperlukan untuk menghadapi tantangan kehidupan. PISA merupakan metode penilaian yang diakui
tinggi derajat kesahihannya dan benar-benar mengukur kompetensi dan keterampilan yang rrelevan
dengan konteks kehidupan yang sesungguhnya. Pengukuran melibatkan kompetensi dan keterampilan
siswa, berbagai aspek hasil pendidikan, serta sikap dan kompetensi yang lebih luas. Pengukuran juga
mempunyai tujuan untuk mengetahui kemampuan partisipatif siswa di masyarakat, kehidupan ekonomi,
dan untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Dengan demikian, hasil ujian itu memiliki daya prediksi
yang kuat sehingga dapat dijakdikan tolok ukur untuk memprediksi kompetensi siswa dalam menjadali
dan berperan serta dalam kehidupan bermasyarakat.

Penulaian literasi membaca dikembangkan berdasarkan tiga hal pokok, yaitu situasi, teks, dan
aspek. Situasi digunakan untuk menentukan teks dan tugas-tugas yang terkait dyang mengacu pada
konteks dan penggunaannya yang dibangun oleh penulis teks. Situasi atau konteks merujuk pada
berbagai variabel, yaitu konteks pribadi, masyarakat, pendidikan, dan pekerjaan. Keempat kategori
konteks ini bersifat tumpang tindih karena tujuan pneggunaannya adalah untuk memaksimalkan
keragaman teks yang diujikan.

Hal kedua adalah teks (konten), yaitu berbagai materi bacaan yang diujikan, baik teks cetakan
maupun teks digital. Format teks adalah teks berkelanjutan dan tidak berkelanjutan yang sama-sama
dapat muncul pada media cetak dan media digital. Teks berkelanjutan dibentuk oleh kalimat yang
dikembangkan dalam paragraf yang masuk dalam struktur atau dapat menghasilkan struktur yang lebih
besar misalnya bab-bab dalam buku, fiksi, laporan, berita, dan lain-lain.
Hal ketiga menyangkut aspek (proses) yang menunjuk pada strategi kognitif yang menentukan
bagaimana pembaca terlibat atau “menangani” teks. Secara garis besar dapat ditunjukkan lima proses
untuk tugas penilaian membaca, yaitu mengambil informasi, membentuk pemahaman yang luas,
mengembangkan interpretasi, merefleksikan dan mengevaluasi isi teks, serta merefleksikan dan
mengevaluasi bentuk teks. Jadi, pengukuran kompetensi literasi membaca meliputi kompetensi
mengambil dan memahami informasi, mengidentifikasi dan menggunakan, merefleksi dan mengevaluasi
teks-teks yang diujikan, serta menghubungkannya dengan pengalaman sendiri. Kesemuanya itu
membutuhkan kompetensi berpikir tingkat tinggi.

Sementara itu, literasi membaca PIRLS diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan
menggunakan berbagai bentuk teks bahasa tertulis yang dibutuhkan oleh masyarakat dan atau
bermanfaat bagi individu. Hal itu mengandung harapan bahwa pembaca anak-anak akan dapat
mengkonstruksi makna dari berbagai jenis teks. Mereka membaca untuk belajar dan untuk dapat
berpartisipasi dalam masyarakat pembaca di sekolah dan dalam kehidupan sehari-hjari serta untuk
dapat menikmatinya (Kennedy & Sainsbury, 2007).

Penilaian literasi membaca dalam PIRLS berkaitan dengan kemampuan literasi membaca
pemahaman. Kerangka soal PIRLS dikelompokkan ke dalam tujuan membaca dan proses pemahaman.
Literasi membaca untuk memperoleh pengalaman yang dimaksud dikelompokkan ke dalam dua baigan
yang smaa besarnya (masing-masing sebesar 50%), yaitu memperoleh pengalaman bersarta serta
memperoleh dan menggunakan informasi. Kedua bagian tersebut sengaja dibuat sama proporsinya
karena dipandang sama pentingnya untuk anak usia ini dan, walau berbeda cara mengevaluasinya,
proses dan strategi membaca untuk keduanya diperkirakan tidak berbeda (Mullis dkk., 2006:17)
a. Contoh Soal PISA

ANAK LAKI-LAKI DAN LUKISAN SINGA

Cerita karya Aesop

Pada suatu masa hiduplak seorang tua pendiam dan agak penakut yang sangat khawatir akan hasrat
berburu anak laki-lakinya, karena anaknya sangat pemberani. Dalam sebuah mimpi orang tua itu
melihat anaknya dibunuh oleh seekor singa. Takut mimpinya akan menjadi kenyataan, dia membangun
sebuah rumah yang megah untuk anaknya, di tempat yang tinggi sehingga dia dapat mengawasi
anaknya. Untuk mengalihkan perhatian dan menyenangkan anaknya, dia memesan lukisan setiap jenis
binatang untuk dipasang di kamarnya, di antaranya lukisan singa. Namun, hal ini tidak dapat
mengalihkan perhatian anaknya dari kebosanan.

Suatu hari anak itu mendekati lukisan singa itu dan mengutuknya, “Sialan kamu, karena kamulah dan
mimpi bohong ayahku aku terkurung di penjara ini. Mau aku apakan kamu?”

Dan, setelah mengatakan hal itu, dia memukulkan kepalan tangannya ke dinding untuk membutakan
singa itu. Namun ada serpihan yang menusuk bagian mawah kuku jari tanggannya dan tidak dapat
dikeluarkan. Serpihan ini menimbulkan radang dan menyebabkan anak laki-laki itu sakit parah
kemudian meninggal.

Singa itu meskipun hanya lukisan benar-benar telah membunuh annak muda tersebut, seperti yang
diramalkan ayahnya.

Pertanyaan 10: AESOP

Cerita ini bercerita tentang bagaimana:

A. Seroang anak laki-laki dihargai ayahnya.


B. Seorang ayah galgal mendapatkan cinta kasih anak laki-lakinya
C. Seorang ayah berusaha untuk melindungi anak laki-lakinya
D. Seorang anak laki-laki belajar mematuhi ayahnya.

b. Contoh Soal PIRLS

BUNGA DI ATAS ATAP

(Catatan: teks terdiri atas empat halaman dan tiap halaman ada gambar-gambar yang menyertai untuk
memberikan gambaran dan imajinasi lebih konkret kepada siswa)
Pertanyaan

1. Siapakan yang bercerita pada bacaan di atas?


A. Seorang nenek
B. Seorang anak
C. Seorang dokter
D. Seorang petani