Anda di halaman 1dari 35

BAGIAN PSIKIATRI REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN JULI 2019


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR

Oleh:
JUSNITA JAYUS
111 220 102

Pembimbing
dr. Andi Suheyra Syauki,M.Kes,Sp.KJ

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN PSIKIATRI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2019

1
LEMBAR PENGESAHAN

Dengan ini, saya yang bertandatangan di bawah ini menyatakanbahwa :


Nama : Jusnita Jayus
Stambuk : 111 220 102
Judul : Gangguan Afektif Bipolar

Telah menyelesaikan dan mempresentasikan tugas Referat dalam rangka tugas


kepaniteraan klinik pada Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran, Universitas
Muslim Indonesia.

Makassar, 18 juli 2019


Pembimbing,

(dr. Andi Suheyra Syauki,M.Kes,Sp.KJ )

2
BAB I

PENDAHULUAN

Gangguan suasana perasaan (gangguan afektif atau mood) merupakan


sekelompok gambaran klinis yang ditandai dengan berkurang atau hilangnya
control emosi dan pengendalian diri. Perubahan afek ini biasanya disertai dengan
suatu perubahan pada keseluruhan tingkat aktivitas kehidupan dan kebanyakan
gejala lainnya adalah sekunder terhadap perubahan itu, atau mudah dipahami
hubungannya dengan perubahan tersebut.1
Gangguan afektif dapat berupa depresi, manic atau campuran keduanya
(bipolar). Sebelumnya, gangguan bipolar disebut dengan manik-depresif,
gangguan afektif bipolar, atau gangguan spectrum bipolar. Gangguan bipolar
merupakan gangguan psikiatri yang paling sering mengalami misdiagnosis.2
Gangguan bipolar adalah gangguan yang lebih jarang dari pada gangguan
depresif berat, dengan prevalensi seumur hidup 2%, sama dengan angka untuk
skizofrenia. Gangguan bipolar lebih sering pada orang yang bercerai dan hidup
sendirian daripada orang yang menikah .3
Rasio jenis kelamin sama. Prevalensi titik gangguan bipolar di
negara-negara barat (terutama didasarkan pada studi di Amerika Serikat) adalah
antara 0,4 dan 1% pada populasi umum. Risiko seumur hidup pada populasi
umum di negara-negara barat adalah 0,6-1,1%. Usia awitanrerata adalah sekitar
pertengahan 20 tahunan. Namun, sebaiknya diingat bahwa gangguan ini dapat
mulai terjadi pertama kali pada usia tua. Bila terjadi pada masa remaja, gangguan
dapat dikira skizofrenia (meskipun penelitian terkini memperlihatkan bahwa
keakuratan diagnosis episode pertama pada masa remaja sebaik masa dewasa).
Gangguan bipolar diketahui lebih sering terjadi pada golongan sosialatas.4
Gangguan afektif bipolar merupakan peringkat kedua terbanyak sebagai
penyebab disabilitas. Sebanyak 4% dari populasi menderita gangguan bipolar.
Bahaya kematian bisa terjadi pada penderita bipolar. Salah satu penyebab
kematian pada penderita bipolar mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

3
Populasi diperkirakan antara 10-15 per 100000 di antara manusia. Prevalensi
serupa pada pria dan wanita pada semua kelompok budaya dan etnis. Gangguan
ini dimulai sejakawal masa dewasa, tetapi pada kasus gangguan bipolar lainnya
sudah terjadi pada masa remaja maupun pada masa kanak-kanak.5
Gangguan afektif pada anak-anak dan remaja telah dikenali dan
diperhatikan selama beberapa decade terakhir . Selama banyak generasi,
kesedihandan keputus-asaan telah diketahui terjadi pada anak-anak dan remaja,
tetapi konsep tentang gangguan afektif memerlukan waktu yang cukup lama untuk
diterima secara umum. Suatu criteria gangguan afektif pada masa anak-anak dan
remaja adalah suatu kekacauan mood, seperti depresi dan elasi. Disamping itu
iritabilitas dapat merupakan tanda suatu gangguan afektif pada anak-anak atau
remaja.6
Prevalensi selama hidup dari gangguan bipolar I sekitar 1%, dengan
lanjutan sebanyak 2% mengalami gangguan bipolar II dan 2% siklotimik selama
hidupnya. Perbandingan antara wanita dan priasekitar 1,5:1,0; lebih banyaknya
penderita wanita dibandingkan pria lebih jelas terlihat pada grup bipolar II. Usia
puncak dari onset adalah pada awal 20-an. Beberapa peenelitian telah
menunjukkan angka prevalensi yang lebih besar pada kelassosial yang lebih
tinggi, mungkin menggambarkan perbedaan akses terhadap diagnosis.4

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Gangguan bipolar merupakan gangguan yang terdiri dari afek yang
meningkat, dan juga aktivitas yang berlebih (mania atau hipomania), dan
dalam jangka waktu yang berbeda terjadi penurunan afek yang disertai
dengan penurunan aktivitas (depresi).5
Bipolar berasal dari dua kata, yaitu bi dan polar, bi berarti dua dan polar
berarti kutub, maka bipolar adalah gangguan perasaan dengan dua kutub yang
bertolakb elakang.Duakutub yang dimaksud adalah depresi dan manik.
Depresi didefinisikan sebagai kedaan emosional yang ditandai dengan
kesedihan yang amat sangat, perasaan tidak berarti dan rasa bersalah, menarik
diri dari orang lain, dan kehilangan minat dalam aktivitas yang biasanya
dilakukan. Manik didefinisikan sebagai keadaan emosional dengan
kegemberiaan yang berlebihan, mudah tersinggung, disertai hiperaktivitas,
berbicara lebih banyak dari biasanya, serta pikiran dan perhatian yang mudah
teralih. Orang dengan gangguan bipolar akan mengalami dua fase perasaan
tersebut dalam hidupnya.6
Perbedaan yang mendasar antara orang dengan gangguan bipolar dan yang
tidak menderita bipolar adalah terkadang orang dengan bipolar akan merasa
sedih atau gembira tanpa perlu suatu alasan yang jelas, pemicu kesedihan
yang terlihat sederhana bagi orang lain bisa menimbulkan depresi yang
berkepanjangan di mana penderita bipolar merasa sulit keluar dari
perasaantersebut6

2.2 Epidemiologi
Saat ini prevalensi gangguan bipolar dalam populasi cukup tinggi,
mencapai 1,3-3%. Bahkan prevalensi untuk seluruh spektrum bipolar
mencapai 2,6-6,5%. Tujuh dari sepuluh pasien pada awalnya misdiagnosis.
Prevalensi antara laki-laki dan perempuan sama besarnya terutama pada

5
gangguan bipolar I, sedangkan pada gangguan bipolar II, prevalensi pada
perempuan lebih besar. Depresi atau distimia yang terjadi pertama kali pada
prapubertas memiliki risikountuk menjadi gangguan bipolar. 7
Gangguan bipolar dapat mengenai semua ras, etnik, dan
klassosial. Prevalensi untuk masing-masing tipe bipolar adalah
berbeda. The World Mental Health Survey Initiative , melakukan
sebuah survai epidemiologi GB {selama kehidupan dan (12 bulan
terakhir)} yang melibatkan sebanyak 61392 subjek. Hasil survai itu
menunjukkan bahwa:

 Gangguan Bipolar-I adalah {0,6% (0,4%)}, pada populasi


dewasa. Prevalensi antara lelaki dengan perempuan adalah sama.
 Gangguan Bipolar-II adalah {0,4% (0,3%)}. Prevalensi pada
perempuan lebih tinggi daripada lelaki.
 Gangguan Bipolar Subambang adalah {1,4% (0,8%)}.

Spektrum Gangguan Bipolar.


Sebenarnya prevalensi gangguan bipolar lebih tinggi daripada
yang diperkirakan. Gangguan bipolar sering tidak terdiagnosis.
Misalnya, gangguan depresi bipolar sering terdiagnosis gangguan
depresi unipolar. Diagnosis gangguan bipolar saat ini sangat ketat.
Gangguan bipolar yang bentuknya lebih ringan sering tidak
terdiagnosis. Sebenarnya, ia mungkin tipe gangguan bipolar yang
tidak dapat diklasifikasikan. Gangguan bipolar yang tidak dapat
diklasifikasikan ini jumlahnya cukup banyak. Bila ia dimasukkan,
prevalensi GB menjadi sangat tinggi, misalnya 3%-8% pada orang
dewasa. 8
Berdasarkan data tahun 2007 di Indonesia, prevalensi penderita GB
jumlahnya bervariasi, antara satu hingga empat persen dari populasi.
Sementara, dari jenis GB, umumnya hanya satu persen.
Ada beberapa tipe GB, seperti GB I, GB II, GB Campuran, Gangguan
Siklotimik, GB akibat Kondisi Medik Umum, dan GB yang diinduksi zat. GB

6
I adalah jenis gangguan dimana penderita mengalami depresi dan mania, baik
dengan episode yang berbeda maupun bersamaan (campuran). Secara
prevalensi, baik pria maupun wanita di Indonesia memiliki perbandingan yang
sama, yaitu satu persen. Sementara itu, prevalensi GB II lebih tinggi 0,1
persen dari GB I yang berjumlah satu persen. Pada jenis ini, penderita hanya
mengalami fase depresi saat kambuh dan umumnya tak pernah mengalami
mania. Berbeda dengan GB I, prevalensi jumlah penderita pria dan wanita
adalah satu banding dua. 9

2.3 Etiologi
Meskipun gangguan bipolar sudah diperkenalkan oleh Kraepelin
sejak tahun 1898, ketika itu disebutnya dengan gangguan manik-depresif,
etiologinya sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Pada tahun 1970
diperkenalkan litium sebagai obat yang efektif untuk pengobatan gangguan
bipolar. Sejak itu, penelitian pada gangguan bipolar banyak dilakukan.
Sebagian besar penelitian lebih fokus pada neurobiologi dan transmisi
genetic bila dibandingkan dengan terhadap faktor lingkungan.3
Pada tahun 1970-an, 1980-an, dan pertengahan 1990-an, focus
penelitian adalah berbagai proses neurologi, misalnya neurotransmitter,
aktivitas sinaps, fungsi sel membran, dan sistem second-messenger.
Dibawah ini, ada beberapa teori yaitu:3
1. Dysregulation Theory: mood diatur oleh beberapa mekanisme
homeostasis. Kegagalan komponen homeostasis ini dapat
menyebabkan ekspresi mood tersebut melebihi batasnya yang di
identifikasi sebagai simtom mania dan depresi. Pendapat lain
menyatakan bahwa hiperaktivitas pada sirkit yang memediasi mania
atau depresi dapat memunculkan perilaku terkait dengan keadaan mood
tertentu.
2. Chaotic Attractor Theory. Perjalanan penyakit gangguan bipolar tidak
dapat diprediksi. Defek biokimia menyebabkan disregulasi sintesis
neurotransmitter. Bentuk disregulasinya konsisten tetapi menifestsi

7
simtom, baik mania atau pun depresi bergantung kondisi lingkungan
dan fisiologis saat itu.
3. Kindling Theory. Beberapa gangguan psikiatri disebabkan oleh
perubahan bioimia subklinis yang kumulatif di sistem limbik.
Progresivitas kumulatif ini menyebabkan neuron semakin mudah
terkeksitasi sehingga, akhirnya, simtom dapat di observasi secara klinis.
Model kindling ini menjelaskan perubahan dan progresifnya gangguan
bipolar sepanjang waktu. Akibatnya, peningkatan beratnya derajat dan
frekuensi bipolar dapat terjadi dengan semakin lanjutnya usia.
4. Catecholamine Theory. Abnormalitas noradrenergik yang menonjol dan
diukur dengan konsentrasi norepinefrin dan hasil metabolitnya yaitu
MPHG. Kadar MPHG dalam urin lebih rendah pada depresi bipolar bila
dibandingkan dengan pada depresi unipolar. Pada mania, konsentrasi
norepinefrin dan MPHG dalam cairan serebrospinal lebih tinggi. Tidak
ada bukti yang jelas mengenai peran katekolamin lainnya pada
gangguan bipolar. Kadar serotonin rendah dan terdapat gangguan
transporter serotonin. Konsentrasi HVA dalam cairan serebrospinal,
metabolit utama dopamin, juga rendah. Peran bipolar tidak begitu jelas,
tidak ada bukti yang kuat mengenai abnormalitas kolinergik.
5. The HPA Axis Theory. Terdapat hubungan yang kuat antara
hiperaktivitas aksis HPA dengan gangguan bipolar. Hubungan tersebut
terlihat pada episode campuran dan depresi bipolar tetapi kurangnya
ada bukti dalam klasik mania.
6. Protein Signaling Theory. Abnormalitas dalam sinyal kalsium berperan
dalam gangguan bipolar, jalur protein G, dan jalur protein kinase C
(PKC). Bukti yang mendukung peran G protein lebih banyak bila
dibandingkan dengan yang mendukung peran PKC. Sistem ini dikaitkan
dengan “celluar cogwheels”. Ia berfungsi mengintegrasikan input dan
output biokimia kompleks dan mengatur mekanisme umpan balik.
Sistem ini berperan mempertahankan plastisitas dan memoriseluler.

8
7. Calcium Signaling Theory. Abnormalitas pada sinyal kalsium berperan
pada gangguan bipolar. Pada gangguan bipolar terdapat peningkatan
kadar kalsium intraseluler. Obat yang menghambat saluran kalsium
berfungsi efektif dalam mengobati gangguan bipolar.
8. Neuroanatomical Theories: cellular resiliency. Terdapat penurunan
dalam volume SSP dan jumlah sel, neuron, dan atau glial akan
gangguan mood. Ditemukan adanya protein sitoprotektif di korteksi
frontal. Litum dan stabilisator mood lainnya meningkatkan kadar
protein ini. Compound axial tomography (CAT) dan magnetic
resonance imaging (MRI) menunjukkan adanya hiperintensitas
abnormal di region subkorteks, misalnya region periventrikular ganglia
basalis, dan talamus pada pasien depresi. Pada pasien dengan gangguan
bipolar I, usialanjut, juga terlihat adanya hiperintensitas. Hiperintensitas
inimenunjukkan terjadinya neuro degenerasi akibat berulangnya
episode mood. Pelebaran ventrikel matropi korteks dan
melebarnyasulkus juga dilaporkan pada pasien dengan gangguan
bipolar. Pada pasiendepresi juga terlihat pengurangan volume
hipokampus dan nukleuskaudatus. Atropi yang difusdikatkan dengan
beratnya penyakit, seringnya bipolartitas dan tingginya kadar kortisol.
Penelitian pada pasien dengan depresi yang menggunakan positron
emission tomography (PET) menunjukkan adanya penurunan
metabolism otak anterior terutama atau lebih menonjol di sisi kiri.
Depresi dikaitkan dengan peningkatan relative aktivitas hemisfernon
dominan.
9. Genetic and Familial Theories. Studi anak kembar, adopsi, dan
keluarga menunjukkan bahwa gangguan bipolar adalah diturunkan.
Konkordans untuk kembar monozigot adalah 70%-90% dan pada
kembar dizigot adalah 16%-35%. Faktor risiko pada saudara kandung
adalah empat-enam kali lebih tinggi bila dibandingkan populasi umum.
Telah diidentifikasi berbagai kromosom. Kromosom 18q dan 22q
merupakan duaregio yang terkait dengan gangguan bipolar. Bukti studi

9
linkage pada 18q berasal dari saudara kandung dengan gangguan
bipolar II dan dari keluarga yang mempunyai riwayat dengan gangguan
panik.10

Faktor-faktor predisposesi meliputi faktor-faktor genetika dan kepribadian.


Faktor-faktor presipitasi meliputi stress psiko sosial dan penyakit fisik.
Faktor penyebab berkelanjutan (perpetuasi) dan perantara meliputi:10
1. Faktor-faktor psiko sosial
2. Faktor-faktor sosial
3. Neurotransmitter
4. Faktor-faktor psiko neuro endokrinologis
5. Perubahan air dan elektrolit
6. Perubahan tidur
7. Perubahan fotik.

2.4 Gambaran Klinis


Bipolar "mood episode" termasuk perubahan mood yang tidak
biasa dengan kebiasaan tidur yang tidak biasa, tingkat aktivitas,
pikiran, atau perilaku. Orang mungkin memiliki manic episode,
episode depresi, atau "campuran" episode. Episode campuran yang
memiliki gejala-gejala manic dan depresi. Episode suasana ini
menyebabkan gejala yang berlangsung satu atau dua minggu atau
kadang-kadang lebih lama. Selama episode, gejala berlangsung
setiap hari untuk sebagian besar hari. Suasana episode intens.
Perasaan kuat dan terjadi seiring dengan ekstrim perubahan
perilaku dan tingkat energi.
Mungkin orang-orang yang memiliki episode manik: merasa
sangat "up" atau "tinggi" merasa "gelisah" atau "kabel" mengalami
kesulitan tidur menjadi lebih aktif dari pada biasa berbicara sangat
cepat tentang banyak hal yang berbeda menjadigelisah, iritasi, atau
"sensitif" merasa seperti pikiran mereka akan sangat cepat berpikir
mereka bisa melakukan banyak hal sekaligus melakukan hal-hal

10
yang berisiko, seperti menghabiskan banyak uang atau sembrono
seks .
Mungkin orang-orang yang memiliki episode depresi: merasa
sangat "turun" atau sedih tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit
merasa seperti mereka tidak bisa menikmati apa pun merasa
khawatir dan kosong, kesulitan berkonsentrasi lupa hal banyak .
Makan terlalu banyak atau terlalu sedikit merasa lelah atau
"memperlambat turun" mengalami kesulitan tidur berpikir tentang
kematian atau bunuh diri .

Gambaran klinis utama dari episode manic adalah perubahan mood,


yang biasanya meningkat dan meluap-meluap, tetapi dapat juga ditandai
dengan iritabilitas yang kuat. Gambaran klinis terkait termasuk peningkatan
aktivitas psikomotor (berpikir dan bicara yang cepat, mudah terganggu saat
melakukan sesuatu, penurunan kebutuhan tidur); optimisme yang
berlebihan, rasa percaya diri yang meningkat, dan penurunan hambatan
sosial, dengan tidak mempertimbangkan konsekuensi berbahaya yang
mungkin ditimbulkan (aktivitas seksual berlebih, berbelanja berlebihan, cara
mengemudi yang berbahaya dan atau inisiatif bisnis, agama, politik yang
tidak pantas).7
Gambaran psikotik yang serasi atau tidak serasi dengan mood,
termasuk gejala utama Schneiderian juga dapat ditemukan, dan, jika muncul
dengan kejelasan yang sama, dapat di diagnosis sebagai gangguan
skizoafektif. Peningkatan kesadaran sensorik sering ditemukan.
Abnormalitas bicara meliputi bicara yang tidak dapat disela (memaksa) dan
loncatan pikiran (flight of ideas) (berganti dari satu topic ketopik lainnya).
Tilikan seringkali tidak ada.7
Episode manik dan hipomanik dibedakan berdasarkan bahwa episode
manic lebih berat, dan menyebabkan gangguan yang nyata pada pekerjaan,
kehidupan pribadi atau sosial, mungkin terdapat gambaran psikotik sehingga

11
biasanya memerlukan rawat inap; episode hipomanik lebih ringan dan
ketidakteraturan dan gejala psikotik tidak ditemukan.7
Episode (fase) depresif dari gangguan bipolar I biasanya diasosiasikan
dengan retardasi psikomotor, sedangkan agitasi lebih sering ditemukan pada
depresi bipolar II. Pada 20% kasus (sebagian besar serasi dengan mood),
gejala psikotik juga muncul (misalnya halusinasi auditorik).6
Dua pola gejala dasar di dalam gangguan mood adalah gejala yang
terdapat pada depresi dan mania. Gejala gangguan bipolar bervariasi antara
satu orang dengan lainnya. Pada sebagian orang, masalah timbul ketika
dalam kondisi mania, pada orang lain masalah timbul pada kondisi depresi.
Kadang kadang gejala mania dan depresi muncul bersamaan (campuran).
Pada kondisi mania, beberapa gejala yang muncul antara lain:8
• Euphoria (gembira)
• Inflated self-esteem (percaya diri berlebihan)
•Poor judgment (kemampuan menilai menjadi jelek)
• Bicaracepat
• Racing thoughts (pikiran saling berkejar-kejaran)
• Aggressive behavior (perilaku agresif)
• Agitation or irritation (agitasi atau iritasi)
• Kegiatan fisik meningkat
• Risky behavior (perilaku yang berbahaya)
• Spending sprees or unwise financial choices (tidak mampu mengelola
uang, mengeluarkan uang tanpa perhitungan)
• Meningkatnya dorongan untuk berprestasi atau mencapai tujuan
• Meningkatnya dorongan seksual
• Berkurangnya dorongan untuk tidur, tidak merasa mengantuk.
• Gampang terganggu konsentrasi
• Berlebihan dalam mengkonsumsi alcohol atau obat-obatan
• Sering bolos sekolah atau kerja
• Mempunyai waham atau keluar dari realitas
• Prestasi kerja atau sekolah menurun

12
Pada kondisi depresi, gejala yang muncul antara lain:8
• Kesedihan
• Merasa tanpa harapan
• Keinginan atau tindakan bunuh diri
• Anxiety (kecemasan)
• Perasaan bersalah
• Gangguan tidur
• Nafsu makan menurun atau bahkan naik.
• Merasa lelah berlebihan
•Hilangnya minat pada kegiatan yang dulu dinilainya menarik/
menyenangkan
• Sulit berkonsentrasi
• Mudah tersinggung
• Rasa nyeri kronis tanpa alasan yang jelas
• Sering mangkir sekolah/kerja
• Prestasi rendah di sekolah atau tempat kerja

2.1. Klasifikasi
Pembagian menurut PPDGJ-III, gangguan afektif bipolar dibagi
menjadi:1
a. F31 GangguanAfek bipolar
 Gangguan initersifat oleh episode berulang (sekurang-kurangnya
dua episode) dimana afek pasien dan tingkat aktivitasnya jelas
terganggu, pada waktu tertentu terdiri dari peningkatan afek
disertai penambahan energi dan aktivitas (mania atau hipomania),
dan pada waktu lain berupa penurunan afek disertai pengurangan
energi dan aktivitas (depresi). Yang khas adalah bahwa biasanya
ada penyembuhan sempurna antar episode. Episode manic biasanya
mulai dengan tiba-tiba dan berlangsug antara 2 minggu sampai 4-5
bulan, episode depresi cenderung berlangsung lebih lama (rata-rata
sekitar 6 bulan) meskipun jarang melebihi 1 tahun kecuali pada

13
orang usia lanjut. Kedua macam episode itu seringkali terjadi
setelah peristiwa hidup yang penuh stress atau trauma mental
lainnya (adanya stress tidak esensial untuk penegakan diagnosis).
 Termasuk: gangguan atau psikosis manik-depresif
Tidak termasuk: Gangguan bipolar, episode manic tunggal (F30)
b. F31.0 Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik
 Episode yang sekarang harus memenuhi criteria untuk hipomania
(F30); dan
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain
(hipomanik, manik ,depresif, atau campuran) di masa lampau.
c. F31.1 Gangguan afektif bipolar, episode kini manic tanpa gejala
psikotik
 Episode yang sekarang harus memenuhi criteria untuk mania
tanpagejalapsikotik (F30.1); dan
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain
(hipomanik, manik, depresif, atau campuran) di masa lampau.

d. F31.2 Gangguan afektif bipolar, episode kini manic dengan gejala


psikotik
 Episode yang sekarang harus memenuhi criteria untuk mania
dengan gejala psikotik (F30.2); dan
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain
(hipomanik, manik, depresif atau campuran) di masa lampau
e. F31.3 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau
sedang
 Episode yang sekarang harus memenuhi criteria untuk episode
depresi ringan (F32.0) atau pun sedang (F32.1); dan
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik,
manik, atau campuran di masa lampau
f. F31.4 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala
psikotik

14
 Episode yang sekarang harus memenuhi criteria untuk episode
depresif berat tanpa gejala psikotik (F32.2); dan
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik,
manik, atau campuran di masa lampau
g. F31.5 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat dengan
gejala psikotik
 Episode yang sekarang harus memenuhi criteria untuk episode
depresif berat dengan gejala psikotik (F32.3); dan
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik,
manik, atau campuran dimasa lampau

h. F31.6 Gangguan afektif bipolar, episode kini campuran


 Episode yang sekarang menunjukkan gejala-gejala manik,
hipomanik, dan depresif yang tercampur atau bergantian dengan
cepat (gejala mania/hipomania dan depresif yang sama-sama
mencolok selama masa terbesar dari episode penyakit yang
sekarang, dan telah berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu);
dan
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik,
manik, atau campuran di masa lampau
i. F31.7 Gangguan afektif bipolar, kini dalam remisi
 Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama
beberapa bulan terakhir ini, tetapi pernah mengalami sekurang-
kurangnya satu episode afektif hipomanik, manic atau campuran di
masa lampau dan ditambah sekurang-kurangnya satu episode
afektif lain (hipomanik, manik, depresif atau campuran)
j. F31.8 Gangguan afektif bipolar lainnya
k. F31. 9 Gangguan afektif bipolar YTT

Pada DSM-IV-TR, pola kekambuhan dapat diklasifikasikan sebagai


gangguan bipolar I (dengan satu atau lebih episode manic atau campuran

15
dan biasanya terdapat satu atau lebih episode depresi berat); gangguan
bipolar II (episode depresi berat dan hipomanik berulang tetapi tanpa
episode manik); dan gangguan siklotimik, dengan fluktuasi mood
berkepanjangan selama setidaknya dua tahun, tidak berhubungan dengan
keadaan eksternal, termasuk episode tunggal dari depresi dan hipomanik
(tetapi tanpa manik) dengan tingkat keparahan yang tidak cukup untuk
memenuhi criteria diagnostik.6
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM) IV, gangguan
bipolar dibedakan menjadi dua bagian meliputi (1) gangguan bipolar I dan
(2) bipolar II. Gangguan bipolar I ditandai adanya dua episode yang berbeda
yaitu episode manik dan depresi, sedangkan gangguan bipolar II ditandai
dengan hipomanik dan depresi.5
Gangguan Bipolar I

Riwayat alami gangguan bipolar I sedemikian rupa sehingga sering


berguna untuk menggambarkan gangguan pasien dan membuatnya tetap up
to date seiring berkembangnya terapi. Walaupun gangguan siklotimik
kadang-kadang didiagnosis belakangan pada pasien dengan gangguan
bipolar I, tidak ada ciri kepribadian yang teridentifikasi yang dikaitkan
dengan gangguan bipolar I.9
Gangguan bipolar I sering dimulai dengan depresi (75% pada
perempuan, 67% pada laki-laki) dan merupakan gangguan berulang.
Sebagian besar pasien mengalami episode depresif dan manik. Episode
manik khususnya memiliki awitan cepat (jam atau hari) tetapi dapat
berkembang selama beberapi minggu. Episode manik yang tidak diobati
dapat bertahan sekitar selama 3 bulan; sehingga klinisi sebaiknya tidak
menghentikan obat sebelum waktu tersebut. Sembilan puluh persen orang
yang memiliki satu episode manik cenderung mengalaminya lagi. Ketika
gangguan berkembang, waktu antarepisode sering berkurang. Meskipun
demikian, setelah sekitar lima episode interval antarepisode sering menjadi
stabil antara 6 sampai 9 bulan. Lima hingga lima belas persen orang dengan

16
gangguan bipolar memiliki empat episode atau lebih tiap tahun dan dapat
diklasifikasikan sebagai siklus cepat.9
Episode Mania3
a. Pada periode tertentu, secara abnormal dan menetap, terdapat
moodelasi, ekspansif atau iritabel atau terdapat peningkatan aktivitas
yang bertujuan atau peningkatan energi, yang berlangsung paling
sedikit satu minggu, hamper sepanjang hari dan hamper setiap hari
(atau waktunya bisakurang dari satu minggu bila pasien masuk
perawatan).
b. Selama periode gangguan mood atau peningkatan energy atau aktivitas
tersebut, tiga (ataulebih) simtom di bawah ini (empat bila mood iritabel)
menetap dengan derajat yang signifikan dan menunjukkan perubahan
perilaku yang berbeda dari biasanya.
1. Grandiositas atau meningkatnya kepercayaan diri
2. Berkurangnya kebutuhan tidur (misalnya, merasa segar dengan
hanya tidur tiga jam)
3. Bicara lebih banyak dari biasanya atau adanya keterdesakan untuk
tetap berbicara
4. Loncatan gagasan atau pengalaman subjektif adanya pikiran yang
berlomba
5. Distraktibilitas (misalnya, perhatian mudah teralih kepada stimulus
eksternal yang tidak relevan atau penting), dilaporkan atau di
observasi
6. Meningkatnya aktivitas yang diarahkan ketujuan (baik secara
sosial, pekerjaan, sekolah atau seksual) atau agitasi psikomotor
(misalnya, aktivitas yang tidak bertujuan)
7. Keterlibatan yang berlebihan dalam aktivitas yang berpotensi tinggi
berdampak merugikan (misalnya, terlibat dalam berbelanja yang
tak terbatas, melakukan hubungan seksual yang sembrono atau
investasi bisnis yang kurang pertimbangan)

17
c. Gangguan mood sangat berat sehingga menyebabkan hendaya nyata
dalam fungsisosial dan pekerjaan atau memerlukan perawatan untuk
menghindari melukai diri sendiri atau orang lain, atau adanya gambaran
psikotik.
d. Episode yang terjadi tidak disebabkan oleh efek fisiologik suatu zat
(misalnya, zat yang disalahgunakan, obat, atau terapi lainnya) atau
kondisi medic lainnya.
Catatan: episode mania yang terjadi selama penggunaan anti depresan
(misalnya, obat, electroconvulsive therapy) yang menetap dan
memenuhi derajat sindrom lengkap serta melebihi efek fisiologik dari
obat tersebut dan memperlihatkan cukup bukti untuk suatu episode
mania, diagnosisnya adalah Gangguan Bipolar I.
Catatan: kriteria A-D merupakan episode mania. Paling
sedikitdibutuhkansatu episode mania untuk menegakkan diagnosis
Gangguan Bipolar I.

Episode Hipomania3

Dalam periode tertentu, secara abnormal dan menetap, terdapat mood yang elasi,
ekspansif atau iritabel serta terdapat peningkatan aktivitas dan energi yang
berlangsung paling sedikit empat hari berturut-turut, terdapat hamper sepanjang
hari dan hamper setiap hari.

a. Selama periode gangguan mood dan peningkatan energy serta aktivitas


tersebut, tiga (atau lebih) gejala berikut (empat bila mood hanya
iritabel) menetap, menunjukkan adanya perubahan perilaku dan
perilaku biasanya, dan terlihat dalam derajat yang bermakna:
1. Grandiositas atau meningkatnya kepercayaan diri
2. Berkurangnya kebutuhan tidur (merasa segar dengan hanya tidur
tiga jam)

18
3. Bicara lebih banyak dari biasanya atau adanya desakan untuk tetap
berbicara
4. Loncatan gagasan atau pengalaman subjektif adanya pikiran
berlomba
5. Distraktibilitas (misalnya, perhatian mudah teralhih kepada
stimulus eksternal yang tidak relevan atau penting), dilaporkan atau
diobservasi
6. Peningkatan dalam aktivitas yang diarahkan ketujuan (baiksosial,
pekerjaan, sekolah, atau seksual) atau agitasi psikomotor
7. Keterlibatan yang berlebihan dalam aktivitas yang berpotensi tinggi
menimbulkan kerugian (misalnya, terlibat dalam berbelanja yang
berlebihan, melakukan hubungan seksual yang sembrono, atau
melakukan investasi tanpa perhitungan)
b. Episode yang terjadi dikaitkan dengan perubahan dalam fungsi yang
tidak khas bagi orang tersebut ketika ia dalam keadaan tidak ada gejala.
c. Perubahan mood dan fungsi tersebut dapat terlihat oleh orang lain
d. Episode yang terjadi tidak cukup berat untuk menyebabkan hendaya
yang jelas dalam fungsi sosial atau pekerjaan, atau tidak memerlukan
perawatan. Bila ada gambaran psikotik, episode yang terjadi sesuai
definisi, adalah mania.
e. Episode yang terjadi tidak disebabkan oleh efek fisiologik suatu zat
(misalnya, zat yang disalah gunakan, obat, atau terapi lainnya).
Catatan: episode hipomania lengkap yang terjadi selama penggunaan
anti depresan (misalnya, obat, electroconvulsive therapy) dan yang
menetap pada derajat sindrom lengkap, melebihi durasi efek fisiologik
obat tersebut, dinyatakan cukup bukti untuk mendiagnosis episode
hipomania dan diatesis bipolar.
Catatan: kriteria A-F merupakan episode hipomania. Episode
hipomania biasa ditemukan pada gangguan bipolar I tetapi tidak
menjadi syarat untuk diagnosis gangguan bipolar I.

19
Episode Depresi Mayor3

a. Lima (atau lebih) gejala berikut terdapat, paling sedikit, dalam dua
minggu, dan memperlihatkan terjadinya perubahan dari fungsi
sebelumnya. Paling sedikit satu dari gejalaini harusa daya itu (1) mood
depresi atau (2) hilangnya minat atau rasa senang.
Catatan: tidak boleh memasukkan gejala yang jelas-jelas disebabkan
oleh kondisi medic lainnya.
1. Mood depresi terjadi hamper sepanjang hari, hamper setiap hari,
yang ditunjukkan baik oleh laporan subjektif (misalnya, merasa
sedih, hampa, atau tidak ada harapan), atau yang dapat diobservasi
oleh orang lain (misalnya, terlihat menangis). Catatan: pada anak-
anak atau remaja, mood bisa bersifat iritabel.c
2. Berkurangnya minat atau rasa senang yang sangat jelas pada
semua, atau hamper semua aktivitas sepanjang hari, hampir setiap
hari (yang di indikasikan oleh laporan subjektif atau di observasi
oleh orang lain)
3. Penurunan berat badan yang bermakna ketika tidak sedang diet
atau peningkatan berat badan (misalnya, perubahan berat badan
lebih dari 5% dalam satu bulan) atau penurunan atau peningkatan
selera makan hampir setiap hari (catatan: pada anak-anak
pertimbangan kegagalan untuk mencapai peningkatan berat badan
yang diharapkan)
4. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari
5. Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari (dapat
diobservasi oleh orang lain, tidak hanya perasaan subjektif adanya
kegelisahan atau perasaan menjadi lamban)
6. Letih atau tidak bertenaga hampir setiap hari
7. Rasa tidak berharga yang berlebihan atau rasa bersalah yang tidak
sesuai (mungkin bertaraf waham) hampir setiap hari (bukan hanya

20
menyalahkan diri sendiri atau rasa bersalah karena berada dalam
keadaan sakit)
8. Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau konsentrasi, ragu-
ragu, hampir setiap hari (baik dilaporkan secara subjektif atau dapat
diobservasi oleh orang lain)
9. Berulangnya pikiran tentang kematian (tidak hanya takut mati),
berulangnya ide bunuh diri tanpa rencana spesifik, atau tindakan
bunuh diri atau rencana spesifik untuk melakukan bunuh diri
b. Gejala-gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis
atau terjadinya hendaya sosial, pekerjaan, atau area penting lainnya
dalam fungsi.
c. Gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologik suatu zat atau kondisi
medic lainnya.
Catatan: kriteria A-C merupakan episode depresi mayor. Episode
depresi mayor biasa ditemukan pada gangguan bipolar I tetapi tidak
diperlukan untuk diagnosis gangguan bipolar I.

Gangguan Bipolar II
Episode Hipomania3
a. Dalam periode tertentu, secara abnormal dan menetap, terdapat mood
yang elasi, ekspansif atau iritabel serta terdapat peningkatan aktivitas
dan energi yang berlangsung paling sedikit empat hari berturut-turut,
terdapat hampir sepanjang hari dan hampir setiap hari.
b. Selama periode gangguan mood dan peningkatan energy serta aktivitas
tersebut, tiga (atau lebih) gejala berikut (empat bila mood hanya
iritabel) menetap, menunjukkan adanya perubahan perilaku dari
perilaku biasanya, dan terlihat dalam derajat yang bermakna:
1. Grandiositas atau meningkatnya kepercayaan diri
2. Berkurangnya kebutuhan tidur (merasa segar dengan hanya tidur
tiga jam)

21
3. Bicara lebih banyak dari biasanya atau adanya desakan untuk tetap
berbicara
4. Loncatan gagasan atau pengalaman subjektif adanya pikiran
berlomba
5. Distraktibilitas (misalnya, perhatian mudah teralhih kepada
stimulus eksternal yang tidak relevan atau penting), dilaporkan atau
di observasi
6. Peningkatan dalam aktivitas yang diarahkan ketujuan (baik sosial,
pekerjaan, sekolah, atau seksual) atau agitasi psikomotor
7. Keterlibatan yang berlebihan dalam aktivitas yang berpotensi tinggi
menimbulkan kerugian (misalnya, terlibat dalam berbelanja yang
berlebihan, melakukan hubungan seksual yang sembrono, atau
melakukan investasi tanpa perhitungan)
c. Episode yang terjadi dikaitkan dengan perubahan dalam fungsi yang
tidak khas bagi orang tersebut ketika ia dalam keadaan tidak ada gejala.
d. Perubahan mood dan fungsi tersebut dapat terlihat oleh orang lain.
e. Episode yang terjadi tidak cukup berat untuk menyebabkan hendaya
yang jelas dalam fungsi sosial atau pekerjaan, atau tidak memerlukan
perawatan. Bila ada gambaran psikotik, episode yang terjadi sesuai
definisi, adalah mania.
f. Episode yang terjadi tidak disebabkan oleh efek fisiologik suatu zat
(misalnya, zat yang disalah gunakan, obat, atau terapi lainnya).
Catatan: episode hipomania lengkap yang terjadi selama penggunaan
anti depresan (misalnya, obat, electroconvulsive therapy) dan menetap
dengan derajat sindrom lengkap serta melebihi durasi efek fisiologik
obat tersebut, dinyatakan cukup bukti untuk mendiagnosi ssuatu
episode hipomania. Bagaimanapun, harus berhati-hati karena satu atau
dua simtom (peningkatan iritabilitas, kegelisahan, atau agitasi setelah
penggunaan anti depresan) tidak cukup untuk mendiagnosis episode
hipomania dan dia tesis bipolar.

22
Episode Depresi Mayor3
a. Lima (atau lebih) gejala berikut terdapat, paling sedikit, dalam dua
minggu, dan memperlihatkan terjadinya perubahan dari fungsi
sebelumnya. Paling sedikit satu dari gejala ini harus ada yaitu (1) mood
depresi atau (2) hilangnya minat atau rasa senang.
Catatan: tidak boleh memasukkan gejala yang jelas-jelas disebabkan
oleh kondisi medic lainnya.
1. Mood depresi terjadi hampir sepanjang hari, hampir setiap hari,
yang ditunjukkanbaik oleh laporansubjektif (misalnya,
merasasedih, hampa, atautidakadaharapan), atau yang
dapatdiobservasi oleh orang lain (misalnya, terlihat menangis).
Catatan: pada anak-anak atau remaja, mood bisa bersifat iritabel.c
2. Berkurangnya minat atau rasa senang yang sangatjelas pada semua,
atau hampir semua aktivitas sepanjang hari, hampir setiap hari
(yang diindikasikan oleh laporan subjektif atau diobservasi oleh
orang lain)
3. Penurunan berat badan yang bermakna ketika tidak sedang diet
atau peningkatan berat badan (misalnya, perubahan berat badan
lebihdari 5% dalam satu bulan) atau penurunan atau peningkatan
selera makan hampir setiap hari (catatan: pada anak-anak
pertimbangan kegagalan untuk mencapai peningkatan berat badan
yang diharapkan)
4. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari
5. Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari (dapat
diobservasi oleh orang lain, tidak hanya perasaan subjektif adanya
kegelisahan atau perasaan menjadi lamban)
6. Letih atau tidak bertenaga hampir setiap hari
7. Rasa tidak berharga yang berlebihan atau rasa bersalah yang tidak
sesuai (mungkin bertaraf waham) hampir setiap hari (bukan hanya
menyalahkan diri sendiri atau rasa bersalah karena berada dalam
keadaan sakit)

23
8. Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau konsentrasi, ragu-
ragu, hampir setiap hari (baik dilaporkan secara subjektif atau dapat
di observasi oleh orang lain)
9. Berulangnya pikiran tentang kematian (tidak hanya takut mati),
berulangnya ide bunuh diri tanpa rencana spesifik, atau tindakan
bunuh diri atau rencana spesifik untuk melakukan bunuh diri
b. Gejala-gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis
atau terjadinya hendaya sosial, pekerjaan, atau area penting lainnya
dalam fungsi.
c. Gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologik suatu zat atau kondisi
medic lainnya.
Catatan: kriteria A-C merupakan episode depresi mayor.

2.2. Diagnosis
KriteriaDiagnostik
 Untuk diagnosis Gangguan Bipolar I, kriteria episode mania haru
sdipenuhi. Episode mania dapat didahului atau diikuti oleh episode
hipomaniaatau episode depresi mayor.3
 Diagnosis Gangguan Bipolar II, paling sedikit harus terpenuhi satu
episode hipomanik dan paling sedikit satu episode depresi mayor. Tidak
pernah mengalami episode manik.Keberadaan episode hipomanik dan
episode depresi mayor tidak dapat menjelaskan gangguan skizoafektif,
skizofrenia, gangguan skizofreniform, gangguan waham atau spectrum
skizofrenia tidak spesifik atau spesifik lainnya dan gangguan psikotik
lainnya. Gejala-gejala depresi atau yang tak dapat diprediksi yang
disebabkan oleh seringnya pergantian antara periode depresi dengan
hipomania menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
hendaya sosial, pekerjaan, atau fungsi area penting lainnya.3

24
2.3. Penatalaksanaan
Dalam mengobati pasien dengan gangguan bipolar, ada beberapahal
yang harus diperhatikan, misalnya, keamanan pasien. Selain itu, perlu
mengevaluasi diagnosis secara seksama. Tetapi tidak saja ditujukan untuk
mengatasi simtom akut tetapi pencapaian kebahagiaan jangka panjang sudah
harus dimulai sejak awal terapi.3
Terapi yang diberikan harus komprehensif yaitu meliputi
farmakoterapi, psikoedukasi, psikoterapi dan rehabilitasi. Peristiwa-
peristiwa kehidupan yang bersifat stressor harus pula diatasi karena stressor
dapat menjadi faktor pencetus terjadinya kekambuhan. Karena gangguan
bipolar merupakan penyakit kronik, mengedukasi pasien dan keluarganya
tentang pelaksanaan jangka panjang perlu dilakukan.3

Farmakoterapi
Tujuan terapi gangguan bipolar adalah tercapainya remisi sempurna
simtom mood bukan hanya pengurangan gejala. Pasien dengan simtom
residual lebih sering kambuh dan mengalami hendaya fungsi yang dapat
berlangsung secara terus-menerus.3
The Canadian Network for Mood and Anxiety Treatments (CANMAT)
mempublikasikan tuntutan untuk menatalaksanai gangguan bipolar.
International Society for Bipolar Disorders (ISBD)bekerjasama dengan
CANMAT dalam membuat tuntutan tersebut. Pada publikasiCANMAT
2013 rekomendasi untuk mania akut tidak banyak berubah. Litium, valproat
dan beberapa anti psikotika atipik tetap terletak di lini pertama untuk mania
akut. Asenapin monoterapi, palipari donextended release (ER) dan
divalproat ER sebagai terapi tambahan pada asenapin juga terletak di
linipertama.3
Meskipun beberapa obat dirujuk secara klinis sebagai stabilisator
mood, the US Food and Drug Administration (FDA)belum pernah
memberikan persetujuannya terhadap satu pun obat sebagai stabilisato
rmood. Istilah “stabilisator mood” berasal dari bidang klinik. Stabilisator

25
digambarkan sebagai obat yang mampu mengatasi gejala mood akut dan
beberapa diantaranya dapat menunda kekambuhan. Selain itu, klinik
mengharapkan stabilisator mood tidak memprovokasi episode mood.
Misalnya anti depresan tidak bisa dikatakan sebagai stabilisator mood
karena ia berpotensi menginduksi mania.3
Hampir semua pasien memerlukan stabilisator mood untuk mengatasi
episode mood yang terjadi dan sebagian besar memerlukan satu atau lebih
stabilisator mood. Saat ini, ada empat jenis obat yang dikategorikan sebagai
stabilisator moodyaitulitium, valproat, lamotrigin dan karbamazepin.3
Litium (tahun 1949) merupakan obat pertama yang dinyatakan efektif
untuk mengobati gangguan bipolar pada fase mania akut. Beberapa tahun
kemudian, hingga saat ini, litium digunakan juga untuk fase rumahan.
Litium efektif sebagai agen anti manic akut, walaupun litium kurang
potensial untuk mengontrol perilaku secara sangat cepat. Terapi
pemeliharaan dengan litium telah dibuktikan pada banyak uji coba klinis
untuk menurunkan frekuensi dan keparahan dari episode-episode
berikutnya. Terapi litium (yang juga dapat berguna untuk siklotimik)
memerlukan skrining awal yang menyeluruh sebelum memulai pengobatan
(termasuk perkiraan fungsi ginjal dan tiroid) dan pemantauan teratur untuk
memantau kisaran terapi yang sempit dan potensi jangka panjang untuk
menginduksi hipotiroidisme.3,6
Sejumlah obat anti konvulsan (karbamazepin, natrium valproat, dan
lamotrigin) tampak efektif dalam mencegah kekambuhan dari manic
ataupun depresi. Anti konvulsan juga dapat lebih dipilih dibandingkan
litium bila terdapat siklus yang cepat. Episode depresi pada gangguan
bipolar di terapi serupa dengan depresi unipolar, tetapi karena anti depresan
dapat mempercepat terjadinya manic atau siklus yang cepat, anti depresan
biasanya diberikan dalam kombinasi dengan stabilisasi mood. Kemudian,
anti konvulsan yaitu asam valproat dan karbamazepin juga disetujui oleh
FDA, USA, untuk mania akut. Lamotrigin juga suatu tikonvulsan yang
disetujui FDA untuk gangguan bipolar, episode depresi.3,6

26
Semenjak dua decade terakhir, perkembangan farmakologi untuk
pengobatan gangguan bipolar maju dengan pesat. Beberapa anti psikotika
pun dikategorikan sebagai stabilisator mood. Dibawah ini adalah tabelobat-
obat yang dapat digunakan untuk mengobati gangguan bipolar (terapi
berdasarkan CANMAT, 2013).3

Tabel 1. Rekomendasi Farmakologi Untuk Gangguan Bipolar I, Mania Akut


(CANMAT & ISBD 2013)
Pilihan JenisObat
Lini I Monoterapi: Litium, divalproat, divalproat ER,
olanzapin, risperidon, quetiapin XR, aripiprazol,
ziprasidon, asenapin, paliperidon ER.
Terapi tambahan dengan litium atau divalproat:
risperidon, quentiapin, olanzapin, aripiprazol,
asenapin.
Lini II Monoterapi: Karbamazepin, karbamazepin ER, ECT,
haloperidol.
Terapi kombinasi: litium + divalproat
Lini III Monoterapi: klorpromazin, klozapin, okskarbazepin,
tamoksifen, cariprazin.
Terapi kombinasi: litium atau divalproat +
haloperidol, litium + karbamazepin, tambahan
tamoksifen.
Tidak Monoterapi: gabapentin, topiramat, lamotrigin,
direkomendasikan verapamil, tiagabin.
Terapi kombinasi: risperidon + karbamazepin,
olanzapin + karbamazepin.

Tabel 2. Rekomendasi Farmakologi Untuk Gangguan Bipolar I, Depresi


Akut (CANMAT & ISBD 2013)

27
Pilihan JenisObat
Lini I Monoterapi: litium, lamotrigin, quetiapin, quetiapin
XR.
Terapi kombinasi: litium atau divalproat + SSRI,
olanzapin + SSRI, litium + divalproat, litium atau
divalproat + lurasidon.
Lini II Monoterapi: divalproat, lurasidon
Terapi kombinasi: quetiapin + SSRI, tambahkan
modafinil, litium atau divalproat + lamotrigin, litium
atau divalproat + lurasidon
Lini III Monoterapi: karbamazepin, olanzapin, ECT.
Terapi kombinasi: litium + karbamazepin, litium +
pramipeksol, litium atau divalproat + venafaksin, litium
MAOI, litium atau divalproat atau APG-II + TCA,
litium atau divalproat atau karbamazepin + SSRI +
lamotrigin, quetiapin + lamotrigin
Tidak Monoterapi: gaba penting atau aripiprazol atau
direkomenasikan ziprasidon.
Terapi kombinasi: tambahan ziprasion, tambahan
levetirasetam.

Tabel 3. Rekomendasi Farmakologi Untuk Gangguan Bipolar I, Rumatan


(CANMAT & ISBD 2013)
Pilihan JenisObat
Lini I Monoterapi: litium, lamotrigin (efikasinya terbatas
dalam mencegah mania), divalproat, olanzapin,
quetiapin, risperidon LAI, aripirazol.
Terapi tambahan dengan litium atau divalproat,
quetiapin, risperidon LAI, aripirazol, ziprasidon
Lini II Monoterapi: karbamazepin, paliperidon ER

28
Terapi kombinasi: litium + divalrpoat, litium +
karbamazepin, litium ataudivalproat + olanzapin, litium
+ risperidon, litium + lamotrigin, olanzapin + fluoksetin
Lini III Monoterapi: asenapin.
Terapi tambahan: fenitoin, klozapin, ECT, topiramat,
asam lemak omega-3, oksikarbazepin, gabapentin,
asenapin.
Tidak di Monoterapi: gabapentin, topiramat, atau anti depresan.
rekomendasikan Terapi tambahan: flupentiksol.

Tabel 4. Rekomendasi Farmakologi Untuk Gangguan Bipolar II, Depresi


Akut (CANMAT & ISBD 2013)
Pilihan Jenis Obat
Lini I Quetiapin, Quetiapin XR
Lini II Litium, lamotrigin, divalproat, litium atau divalproat +
AD, litium + divalproat, APG-II + AD
Lini III Monoterapi: AD (terutama untuk yang jarang
hipomania), ganti dengan AD lainnya, quetiapin +
lamotrigin, menambah ECT, menambah NAC +
menambah T3
Tidak di Lihatteks pada anti depresan mengenai rekomendasi anti
rekomendasikan depresan monoterapi

Tabel 5. Rekomendasi Farmakologi Untuk Gangguan Bipolar II, Rumatan


(CANMAT & ISBD 2013)
Pilihan JenisObat
Lini I Litium, lamotrigin, quetiapin
Lini II Divalproat, litium atau divalproat atau APG-II + AD,
penambahan quetiapin, penambahan lamotrigin,
kombinasi dua obat ini: litium, divalproat, atau APG-

29
II.
Lini III Karbamazepin, okskarbazepin, APG-II, ECT,
fluoksetin
Tidak Gapapentin
direkomendasikan

Intervensi Psikososial
Intervensi psikososial, misalnya psiko edukasi, cognitive behavior
therapy (CBT), dan interpersonal and social rhythm therapy (IPSRT)
menunjukkan manfaat yang signifikan baik pada episode depresi akut
maupun pada terapi rumahan jangka panjang, intervensi psiko sosial dapat
mengurangi angka kekambuhan, fluktuasi mood, kebutuhan medikasi dan
hospitalisasi. Oleh karena itu, pemberian terapi psikologi terutama psiko
edukasi singkat merupakan modalitas penting dalam penatalaksanaan
gangguan bipolar.3
Dukungan psikoterapi penting dalam membantu pasien untuk
menerima penyakit mereka dan kadang rasa malu atau penyesalan
sehubungan dengan perilaku manik yang lalu (misalnya kesembronoan atau
ketidakbijaksanaan).6
Pendekatan terapi yang berfokus kepada keluarga yang dibuat untuk
membantu pengasuh (caregiver) memperbaiki ketrampilannya dalam
merawat pasien dengan gangguan bipolar dan merawat diri mereka sendiri,
agar tidak terjadi kelelahan secara mental, memperlihatkan keefektifannya
dalam mengurangi simtom depresi pada pasien dengan gangguan bipolar.3

2.4. Prognosis
Banyak studi mengenai perjalanan gangguan dan prognosis gangguan
mood menyimpulkan secara umum bahwa gangguan mood cenderung
memiliki perjalanan gangguan yang lama dan juga pasien cenderung
kambuh.11

30
Kesimpulan lazim lain studi tersebut adalah bahwa stresor kehidupan
lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood daripada episode
selanjutnya. Temuan ini telah diartikan untuk menunjukkan bahwa stres
psikososial mungkin memainkan peranan di dalam penyebab awal gangguan
mood dan bahwa, walaupun episode awal dapat membaik, perubahan
biologik otak yang bertahan lama memberikan pasien risiko yang lebih
tinggi untuk mengalami episode berikutnya.11
Prognosis selama hidup setelah episode manic tunggal adalah buruk,
dengan 90% pasien mengalami episode ulang manic atau depresi (rata-rata 4
episode dalam 10 tahun). Pada gangguan bipolar I, baik frekuensi maupun
tingkat keparahan episode cenderung meningkat pada 4 atau 5 episode
pertama, lalu mendatar.6
Prognosis fungsional jangka panjang (pekerjaan, keluarga, dll) hampir
sama buruknya dengan skizofrenia. Beberapa pasien yang mengalami siklus
yang cepat dengan 4 ataul ebih episode dalam setahun, memiliki prognosis
yang buruk dan jarang memberikan respons terhadap litium. Terdapat
peningkatan menyeluruh dalam mortalitas prematur, yang hanya bisa
dijelaskan sebagian dengan rata-rata kejadian bunuh diri sebesar 10%.6
Faktor-faktor yang menunjukkan prognosis yang buruk termasuk yang
berikut:10
 Riwayat pekerjaan yang buruk
 Penyalahgunaan zat
 Fitur psikotik
 Fitur depresi antara periode mania dan depresi
 Bukti depresi
 Seks pria
 Pola depresi-mania-euthymia

Faktor-faktor yang menunjukkan prognosis yang lebih baik termasuk


yang berikut:10
 Panjang fase manik (durasi pendek)

31
 Usia akhir onset
 Sedikit pemikiran bunuh diri
 Sedikit gejala psikotik
 Sedikit masalah medis

32
BAB III

KESIMPULAN

Gangguan bipolar merupakan gangguan yang terdiri dari afek yang


meningkat, dan juga aktivitas yang berlebih (mania atau hipomania), dan dalam
jangka waktu yang berbeda terjadi penurunan afek yang disertai dengan
penurunan aktivitas (depresi).
Gangguan bipolar I ditandai adanya dua episode yang berbeda yaitu
episode manik dan depresi, sedangkan gangguan bipolar II ditandai dengan
hipomanik dan depresi.
Terapi yang diberikan harus komprehensif yaitu meliputi farmakoterapi,
psikoedukasi, psikoterapi dan rehabilitasi. Peristiwa-peristiwa kehidupan yang
bersifat stressor harus pula diatasi karena stressor dapat menjadi faktor pencetus
terjadinya kekambuhan. Karena gangguan bipolar merupakan penyakit kronik,
mengedukasi pasien dan keluarganya tentang pelaksanaan jangka panjang perlu
dilakukan.

33
DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman penggolongan dan


diagnosis gangguan jiwa di Indonesia III.1996.

2. Syafwan, AisyahFithri., Sedjahtera, Kurniawan. Gambaran Peningkatan


Angka Kejadian Gangguan Afektif dengan Gejala Psikotik pada Pasien
Rawat Inap di RSJ Prof. Dr. HB. Sa’anin Padang pada Tahun 2010 –
2011. Jurnal Kesehatan Andalas. 2014; 3 (2).

3. Elvira, Sylvia D dan Gitayani Hadisukanto. 2010. Buku Ajar Psikiatri.


Jakarta: Badan Penerbit FK UI.

4. Wiguna IM. Sinopsis psikiatri jilid 2. Tangerang: Bina rupa Aksara


Publisher; 2010.

5. Puri,BasantK.,Laking,PaulJ.,Treasaden,IanH. 2011. Buku Ajar Psikiatri


Edisi 2. Jakarta: EGC.

6. Hendrikus, Gede .Gangguan bipolar dengan psikotik: Fakultas kedokteran


universitas udayana . 2017

7. Rani,Yohanis. PengalamanTerdiagnosis bipolar :Sebuah Interpretative


Phenomenologrcal analysis . Fakultas Psikologi Universitas Dipenogoro
.Jurnalempati, Hal. 323-329, Agustus 2017

8. Izzatul, hendy .Gangguan Afektif bipolar episode manic dengan gejala


psikotik. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta. 31 Agustus
2015

34
9. Nurmiati. Gangguan Bipolar. Departemen kesehatan jiwa . RSUPN.
Ciptomangunkusumo. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta
: 31 Agustus 2015

https://www.otsuka.co.id/id/health-info/detail/7/gangguan

10. Sri, Yanti<Naibffolan. Prevalensi Penderita gangguan bipolar di Indonesia


. medcom.id : Jakarta 30 Maret 2017
https://www.medcom.id/rona/kesehatan/Dkqjoy6K-prevalensi-penderita-
gangguan-bipolar-di-indonesia

11. Kaplan dan Saddock. 2010. Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi 2. Jakarta:
EGC.

35