Anda di halaman 1dari 3

Antara Harapan dan kenyataan

Kelompok 11 (Irma Citra Gayatri , Nita Sari Widiyanti , Shinta Dewi Afifah)

A. Pendidikan IPS

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah sebuah program pendidikan dan bukan sub-disiplin
ilmu tersendiri, sehingga tidak akan ditemukan baik dalam nomenklatur filsafat ilmu, disiplin
ilmu-ilmu sosial (social sciences), maupun ilmu pendidikan.

Tujuan IPS yang dikembangkan adalah membentuk siswa menjadi warga negara yang aktif,
walaupun kurikulumnya merupakan disiplin ilmu.

Pendidikan IPS menurut Somantri adalah sebagai berikut::

1. Adanya hubungan interdisipliner dan atau transdisipliner antara disiplin ilmu-ilmu pendidikan
dan ilmu-ilmu sosial dan humaniora, bahkan dengan ilmu, teknologi, seni, dan agama.
2. Hubungan antara disiplin itu disebabkan adanya kebutuhan dan kegunaan yaitu untuk
kepentingan pendidikan sebagai “advance knowledge”.
3. Proses pendekatan antardisipliner merupakan seleksi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan
humanioa untuk tujuan pendidikan.
4. Bahan pendidikan diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan
pendidikan.

B. Kenyataan Pendidikan IPS

Pendidikan IPS dianggap membingungkan karena yang dikaji oleh pendidikan IPS itu adalah
manusia serta berbagai masalah yang melingkupinya. Sebagaimana kita ketahui, bahwa manusia
itu memiliki karakteristik yang unik yang membedakan antara satu dengan yang lainnya juga
membedakan antara kelompok/komunitas manusia yang satu dengan yang lainnya. Jadi satu-
satunya kepastian dalam Pendidikan IPS ini adalah ketidakpastian. Hal ini menyebabkan
terjadinya perbedaan pandangan manusia dalam menyikapi berbagai masalah yang dihadapinya,
termasuk didalamnya para pengamat. Kondisi seperti ini menyebabkan Pendidikan IPS dianggap
membingungkan, apalagi bagi mereka yang kurang atau tidak memahami hakikat, tujuan, dan
jatidiri Pendidikan IPS.
Kebingungan tersebut bertambah dengan kondisi pembelajaran yang membosankan dan
tidak menarik. Hal ini sebagaimana ditemukakan oleh Fout et al (Skeel,1995, hal.67), bahwa
banyak penelitian yang dilakukan, menunjukkan bahwa nilai studi sosial siswa sangat rendah di
antara mata pelajaran lain, bahkan mereka cenderung merasa bosan terhadap pembelajaran studi
sosial dengan metode ceramah. Materi dalam pembelajaran IPS banyak yang tidak
menghubungkan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat, terlalu terpaku kepada pedoman atau
buku teks yang umumnya diseragamkan atau kurang mengakomodasi berbagai masalah yang
dihadapi oleh masyarakat atau daerah tertentu. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Wahab
(1998, hal, 9), bahwa: Hasil mempelajari IPS dewasa ini tidak lebih sekedar tau tentang diri,
lingkungan dan masyarakatnya, padahal yang diharapkan juga memiliki kepekaan sosial, mampu
berperan aktif dalam kehidupan masyarakat dilingkungannya menurut tingkat usia dan
keterampilan yang dimilikinya.

Gagasan-gagasan pembaharuan Pendidikan IPS yang telah dilakukan selama ini tidak juga
membangkitkan minat dan harapan siswa bahkan sejak masuknya Pendidikan IPS dalam
kurikulum sekolah masih ditemukan 10 mitos tentang Pendidikan IPS yaitu (1) masih berkutat
pada studi tentang nama, fakta, data mati dari berbagai kisah manusia dari setiap masyarakat, (2)
menjemukan, membosankan, (3) tidak praktis, (4) begitu sarat materi, (5) kurang menyentuh
realitas kehidupan masyarakat setempat, (6) sangat bersifat memorizing terhadap isi buku teks
belaka, (7) sangat teoritis tetapi tidak paham praktik, (8) hanya menyajikan berbagai informasi,
sementara siswa tidak satupun memahaminya, (9) kurang membelajarkan keterampilan berfikir,
(10) cenderung untuk mengindoktrinasi nilai-nilai dari guru sendiri daripada “hidden curriculum”
yang ada pada diri siswa yang sebenarnya juga sarat nilai.

C. Harapan dalam Pendidikan IPS

1. Belajar-mengajar aktif harus disertai dengan berfikir reflektif dan pengambilan keputusan
selama kegiatan berlangsung, karena proses pembelajaran berlangsung dengan cepat dan
peristiwa dapat berkembang tiba-tiba.
2. Melalui proses belajar aktif, siswa lebih mudah mengembangkan dan memahami
pengetahuan baru mereka.
3. Proses belajar aktif membangun kebermaknaan pembelajaran yang diperlukan agar
peserta didik dapat mengembangkan pemahaman sosialnya.
4. Peranan guru secara bertahap bergeser dari berbagai sumber pengetahuan atau model
kepada peranan yang tidak menonjol untuk mendorong siswa agar mandiri dan
berdisiplin.
5. Proses belajar mengajar ilmu-ilmu sosial yang tangguh menekankan proses pembelajaran
dengan kegiatan aktif dilapangan untuk mempelajari kehidupan nyata dengan
menggunakan bahan dan keterampilan yang ada di lapangan.