Anda di halaman 1dari 17

Anatomi dan fisiologi glandula mamae

Payudara (buah dada) atau kelenjar mammae adalah salah satu organ reproduksi
pada wanita yang berfungsi mengeluarkan air susu. Payudara terdiri dari lobules-
lobulus yaitu kelenjar yang menghasilkan ASI, tubulus atau duktus yang
menghantarkan ASI dari kelenjar sampai pada puting susu (nipple). Kelenjar
mammae merupakan cirri pembeda pada semua mamalia. Payudara manusia
berbentuk kerucut tapi sering berukuran tidak sama.

Payudara terletak pada hermithoraks kanan dan kiri dengan batas-batas yang tampak dari sebagai
berikut:
-Batas Superior : iga II atau III
- Batas Inferior: iga VI atau VII
- Batas Medial: pinggir sternum
- Batas Lateral: garis aksillars anterior
Pada payudara terdapat tiga bagian utama, yaitu :

1. Korpus (badan), yaitu bagian yang membesar.


2. Areola, yaitu bagian yang kehitaman di tengah.
3. Papilla atau puting, yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara.
Anatomi payudara

Korpus

Alveolus, yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. Bagian dari alveolus adalah sel
Aciner, jaringan lemak, sel plasma, sel otot polos dan pembuluh darah.

Lobulus, yaitu kumpulan dari alveolus.

Lobus, yaitu beberapa lobulus yang berkumpul menjadi 15-20 lobus pada tiap
payudara.
ASI dsalurkan dari alveolus ke dalam saluran kecil (duktulus), kemudian beberapa
duktulus bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktus laktiferus).

Areola

Sinus laktiferus, yaitu saluran di bawah areola yang besar melebar, akhirnya
memusat ke dalam puting dan bermuara ke luar. Di dalam dinding alveolus maupun
saluran-saluran terdapat otot polos yang bila berkontraksi dapat memompa ASI
keluar.

Papilla

Bentuk puting ada empat, yaitu bentuk yang normal, pendek/ datar, panjang dan
terbenam (inverted).
Bentuk puting susu normal

Bentuk puting susu pendek

Bentuk puting susu panjang

Bentuk puting susu terbenam/ terbalik

Kulit puting susu banyak mengandung pigmen tetapi tidak berambut. Papilla dermis
banyak mengandung kelenjar sabasea. Sedangkan kulit pada areola juga banyak
mengandung pigmen, tetapi berbeda dengan kulit puting susu, ia kadang-kadang
mengandung folikel rambut. Kelenjar sebaseanya biasanya terlihat sebagai nodulus
kecil pada permukaan areola dan disebut kelenjar Montgomery.
Kelenjar payudara (mammae, susu) terletak di bawah kulit, di atas otot dada.
Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara, yang beratnya kurang lebih 200
gram, saat hamil 600 gram dan saat menyusui 800 gram.

Payudara dibagi menjadi empat kuadran. Dua garis khayalan ditarik melalui puting
susu, masing-masing saling tegak lurus. Jika payudara dibayangkan sebgai piringan
sebuah jam, satu garis menghubungkan “jam 12 dengan jam 6” dan garis lainnya
menghubungkan “ jam 3 dengan jam 9”. Empat kuadran yang dihasilkannya adalah
kuadran atas luar (supero lateral), kuadran atas dalam (supero medial), kuadran
bawah luar (infero lateral), dan kuadran bawah dalam (infro medial).

Ekor payudara merupakan perluasan kuadran atas luar (supero lateral). Ekor
payudara memanjang sampai ke aksilla dan cenderung lebih tebal ketimbang
payudara lainnya. Kuadran luar atas ini mengandung masa jaringan kelenjar
mammae yang lebih banyak atau langsung di belakang areola dan sering menjadi
tempat neoplasia.

Pada kuadran media atas dan lateral bawah, jaringan kelenjarnya lebih sedikit
jumlahnya, dan yang paling minimal adalah yang di kuadran medial bawah. Jaringan
kelenjar payudara tambahan dapat terjadi di sepanjang garis susu, yang
membentang dari lipatan garis aksillaris anterior, menurun hingga lipatan paha.

Payudara normal mengandung jaringan kelenjar, duktus, jaringan otot penyokong


lemak, pembuluh darah, saraf dan pembuluh limfe.

Jaringan Kelenjar, Duktus dan Jaringan Penyokong

Jaringan kelenjar terdiri dari 15-25 lobus yang tersebar radier mengelilingi puting.
Tiap-tiap segmen mempunyai satu aliran yang akan berdilatasi, sesampainya di
belakang areola. Pada retro areolar ini, duktus yang berdilatasi itu, menjadi lembut,
kecuali saat dan selama ibu menyusui, duktus ini akan mengalami distensi. Masing-
masiang duktus ini tak berisi, dan mempunyai satu bukaan ke arah puting (duktus
eksretorius).

Tiap lobus dibagi menjadi 50-57 lobulus, yang bermuara ke dalam suatu duktus
yang mengalirkan isinya ke dalam duktus askretorius lobulus itu. Setiap lobulus
terdiri atas sekelompok alveolus yang bermuara ke dalam laktiferus (saluran air
susu) yang bergabung dengan duktus-duktus lainnya, untuk membentuk saluran
yang lebih besar dan berakhir ke dalam saluran sekretorik. Ketika saluran-saluran ini
mendekati puting, saluran-saluran ini akan membesar, untuk menjadi tempat
penampungan air susu (yang disebut sinus laktiferus), kemudian saluran-saluran
tersebut menyempit lagi dan menembus puting dan bermuara di atas
permukaannya.

Di antara kelenjar susu dan fasia pektrolis, juga di antara kulit dan kelenjar tersebut
mungkin terdapat jaringan lemak. Di antara lobulus tersebut, ada jaringan ikat yang
disebut ligamentum cooper yang merupakan tonjolan jaringan payudara, yang
bersatu dengan lapisan luar fasia superfisialis yang berfungsi sebagai struktur
penyokong dan memberi rangka untuk payudara.
Vaskularisasi Payudara

Arteri

Payudara mendapat aliran darah dari:

1. Cabang-cabang perforantesa mammaria interna. Cabang-cabang I, II, III, IV,


V dari a. mammaria interna menembus di dinding dada dekat tepi sternum
pada interkostal yang sesuai, menembus m. pektoralis mayor dan memberi
aliran darah pada tepi medial glandulla mamma.
2. Rami pektoralis a. thorako-akromialis. Arteri ini berjalan turun di antara m.
pektoralis minor dan m. pektoralis mayor. Pembuluh ini merupakan pembuluh
utama m. pektoralis mayor, arteri ini akan memberikan aliran darah ke
glandula mamma bagian dalam (deep surface)
3. A. thorakalis lateralis (a. mammae eksternal). Pembuluh darah ini berjalan
turun menyusuri tepi lateral muskulus (otot = m) pektoralis mayor untuk
mendarahi bagian lateral payudara.
4. A. thorako-dorsalis. Pembuluh darah ini merupakan cabang dari a.
subskapularis. Arteri i memberikan aliran darah ke m. latissmus dorsi dan m.
serratus magnus. Walaupun arteri ini tidak memberikan pendarahan pada
glandula mamma, tetapi sangat penting artinya, karena pada tindakan radikal
mastektomi, pendarahan yang terjadi akibat putusnya arteri ini sulit dikontrol,
sehingga daerah ini dinamakan “ the bloody angel”.

Vena

Pada daerah payudara terdapat tiga grup vena:

a. Cabang-cabang perforantes v. mammaria interna

Vena ini merupakan vena yang tersebar pada jaringan payudara yang mengalirkan
darah dari payudara dan bermuara pada v. Mammaria interna yang kemudian
bermuara pada v. minominata.

b. Cabang-cabang v. aksillaris, yang terdiri dari v. thorako-akromialis. v. thoraklais


lateralis dan v. thorako-dorsalis.
c. Vena-vena kecil bermuara pada v. interkostalis

Vena interkostalis bermuara pada v. Vertebralis, kemudian bermuara pada. Azygos


(melalui vena-vena ini, keganasan pada payudara akan dapat bermetastase
langsung ke paru).
Sistem Limfatik Pada Payudara

a. Pembuluh Getah bening

- Pembuluh getah bening aksilla:


Pembuluh getah bening aksilla ini mengalirkan getah bening dari daerah-daerah sekitar areola
mamma, kuadaran lateral bawah dan kuadaran lateral atas payudara

- Pembuluh getah bening mammaria interna:


Saluran limfe ini mengalirkan getah bening dari bagian dalam dan medial payudara.
Pembuluh ini berjalan di atas fasia pektorlais lalu menembus fasia tersebut sistem pertorntes
menembus m. pektrolis mayor. Kemudian berjalan ke medial bersama-sama dengan sisitem
pertorntes menembus m. interkostalis dan bermuara ke dalam kelenjar getah bening mamaria
interna.

Dari kelenjar mammaria interna, getah bening menglilr melalui trunkus limfatikus mamaria
interna. Sebagian akan bermuara pada v. kava, sebagian akan bermuara ke duktus thorasikus
(untuk sisi kiri) dan duktus limfatikus deksrta(untuk sisi kanan)

Pembuluh getah bening di daerah tepi medial kuadran medial bawah payudara. Pembuluh ini
berjalan bersama-sama vasa epigastrika superior, menembus fasia rektus dan masuk ke dalam
kelenjar getah bening preperikadial anterior yang terletak di tepi atas diafragma, di atas
ligmentum falsiform. Kelenjar getah bening ini juga menampung getah bening dari
diafragma, ligamentum falsiforme dan bagian antero superior hepar. Dari kelenjar ini, limfe
mengalir melalui trunkus limfatikus mammaria interna.

b. Kelenjar-kelenjar Getah Bening

Kelenjar getah bening aksilla

Terdapat enam grup kelenjar getah bening aksilla:

 Kelenjar getah bening mammae eksterna. Untaian kelenjar ini terletak di


bawah tepi lateral m. pektoralis mayor, sepanjang tepi medial aksilla. Grup ini
dibagi dalam 2 kelompok:
- Kelompok superior, terletak setinggi ingerkostal II-III
- Kelompok inferior, terletak setinggi interkostal IV-V-VI
 Kelenjar getah bening scapula. Terletak sepajang v. subskapularis dan
thoralodoralis, mulai dari percabangan v. aksillaris mejadi v. subskapularis,
sampai ke tempat masuknya v. thorako-dorsalis ke dalam m. latissimus dorsi.
 Kelenjar getah bening sentral (central nodes). Terletak di dalam jaringan
lemak di pusat aksila. Kadang-kadang beberapa di antaranya terletak sangat
superficial, di bawah kulit dan fasia pada pusat aksila, kira-kira pada
pertengahan lipat aksila depan dan belakang. Kelenjar getah bening ini
adalah kelenjar getah bening yang paling mudah diraba dan merupakan
kelenjar aksilla yang terbesar dan terbanyak jumlahnya.
 Kelenjar getah bening interpektoral (rotters nodes). Terletak antara m.
pektoralis mayor dan minor, sepanjang rami pektoralis v. thorako-akromialis.
Jumlahnya satu sampai empat buah.
 Kelenjar getah v. aksillaris. Kelenjar-kelenjar ini terletak sepanjang v. aksillaris
bagian lateral, mulai dari white tendon m. laitssimus dorsi sampai ke sedikit
medial dari percabangan v. aksillaris-v.thorako akromialis.
 Kelenjar getah bening subklavikula. Terletak di sepanjang v.aksillaris, mulai
dari sedikit medial percabangan v.aksillaris-v.thorako-aktomialis sampai
dimana v. aksillaris menghilang di bawah tendo m.subklavius. kelenjar ini
merupakan kelenjar aksilla yang tertinggi dan termedial letakya. Semua getah
bening yang berasal dari kelenjar-kelenjar getah bening aksilla masuk ke
dalam kelenjar ini. Seluruh kelenjar getah bening aksilla ini terletak di bawah
fasia kostokorakoid.

 Kelenjar getah bening prepektoral, Kelenjar getah bening ini merupakan


kelenjar tunggal yang kadang-kadang terletak di bawah kulit atau di dalam
jaringan payudara kuadran lateral atas disebut prepektoral karena terletak di
atas fasia pektoralis.

 Kelenjar getah bening interna, Kelenjar-kelenjar ini terdapat di sepanjangt


trunkus limfatikus mammaria interna, kira-kira 3 cm dari tepi sternum, terletak
di dalam lemak di atas fasia endothoraiska. Pada sela tiga, diperkiran
jumlahnya sekitar 6-8 buah.

Susunan saraf

Susunan saraf payudara berasal dari cabang cutaneneous cervical dan saraf
thorako spinal. Cabang saraf ketiga dan keempat cutaneus dari plexus cervicalis,
melewati bagian anterior, berakhir di jajaran tulang tiga yang kedua. Cabang-cabang
ini menyuplai sensor ke bagian payudara atas, saraf thoracic spinal, T3, T6
membentuk saraf intercostals dan bercabang dari otot peectoralis major dekat
sternum untuk mensuplai sensor ke bagian lateral payudara. Percabangan T2
memasuki bagian atas tubuh saraf interkostobrachial dan mensuplai sensor ke
aksila. Susunan saraf areola dan puting susu disuplai oleh saraf parikang thoracic
yang bercabang-cabang dengan bentuk membulat.
Laktasi

Masing-masing payudara terdiri atas sekitar 20 percabangan duktus yang terbuka


melalui sinus ke atas permukaan putting susu. Terdapat benang-benang penyangga
dari jaringan fibrosa yang melekatkan ke dinding dada, dan terdapat banyak sel-sel
lemak di antara lobulus.

Sistem duktus telah terbentuk dengan baik setelah pubertas, karena keterlibatan
estrogen, tetapi sekretorius asini hanya berkembang pada kehamilan di bawah
pengaruh kadar progesterone yang tinggi. Prolaktin, suatu hormon dari kelenjar
hipofisis, meningkatkan aksi baik pada estrogen maupun progesterone.

Setelah kelahiran anak, penurunan kadar estrogen dan progesterone menyebabkan


peningkatan sekresi prolaktin dan hal ini merangsang sekresi air susu ibu oleh
kelenjar asini. Sekresi yang pertama dihasilkan adalah kolostrum cairan yang kaya
akan protein yang mengandung antibody. Setelah hari ketiga terbentuk laktasi
normal.

Penghisapan bayi pada payudara merangsang puting susu menyebabkan refleks


sekresi dari hormon oksitosin dari kelenjar hipofisis anterior. Oksitosin menyebabkan
kontraksi serat-serat otot polos di sekitar asini dan air susu dengan cepat diejeksikan
dari putting susu. Suatu refleks yang dikenal sebagai “letdown” terbentuk pada
beberapa hari pertama menyusui tetapi dengan jelas dipengaruhi oleh emosi.
Pelepasan oksitosin juga membantu uterus untuk berkontraksi sehingga uterus
kembali ke ukuran normalnya.

Prolaktin, suatu hormon yang disekresi oleh glandula pituitaria interior, penting untuk
produksi air susu ibu, tetapi walaupun kadar hormon ini di dalam sirkulasi maternal
meningkat selama kehamilan, bekerjanya hormon ini dihambat oleh hormon
plasenta. Dengan lepasnya / keluarnya plasenta pada akhir proses persalinan, maka
kadar estrogen dan progesteron berangsur-angsur turun sampai tinfkat dapat
dilepaskannya dan diaktifkannya prolaktin.

Terjadinya suatu kenaikan pemasokan darah beredar lewat payudara dan dapat
diekstaksi bahan penting untuk pembentukan air susu. Globulin, lemak dan molekul-
molekul protein dari darah sel-sel sekretoris akan membengkakkan acini dan
mendorongkannya menuju ke tubuli laktifer.

Kenaikan kadar prolaktin akan menghambat ovulasi dan dengan demikian juga
mempunyai fungsi kontrasepsi, tetapi ibu perlu memberikan air susu 2 sampai 3 kali
setiap jam agar pengaruhnya benar-benar efektif.

Dua faktor yang terlibat dalam mengalirkan air susu dari sel-sel sekretorik ke papilla
mamae: tekanan dari belakang dan efek neurohormonal.
Histologi glandula mamae

Struktur kelenjar ambing tersusun dari jaringan parenkim dan stroma (connective
tissue). Parenkim merupakan jaringan sekretori berbentuk kelenjar tubulo-alveolar yang
mensekresikan susu ke dalam lumen alveolus. Lumen alveolus dibatasi oleh selapis sel epitel
kuboid. Lapisan sel epitel ini dikelilingi oleh sel-sel myoepitel yang bersifat kontraktil
sebagai responnya terhadap hormon oxytocin dan selanjutnya dikelilingi oleh stroma berupa
jaringan ikat membrana basalis.

Pembuluh darah dan kapiler terdapat pada jaringan ikat di antara alveolus ini.
Beberapa alveolus bersatu membentuk suatu struktur lobulus dan beberapa lobulus bergabung
dalam suatu lobus yang lebih besar. Penyaluran susu dari alveolus sampai ke glandula
sisterna melalui suatu sistem duktus yang disebut ductus lactiferus (Hurley, 2000).

Sel yang melapisi alveolus bervariasi penampilannya, tergantung aktivitas


fungsionalnya. Pada keadaan kelenjar tidak laktasi, sel berbentuk kuboid. Bila aktif
menghasilkan sekret (susu), selnya berbentuk silindris. Jika susu dicurahkan ke dalam lumen,
meregang, sel-sel kembali berbentuk kuboid dengan ukuran yang jauh lebih besar dan sel-sel
penuh berisi sekret. Sel-sel sekretoris alveolus kaya akan ribosom, kompleks golgi dan
droplet lemak serta banyak memiliki vakuola sekretoris. Glandula Mammae merupakan
derivatif sel epitel.

Patofisiologi

Kelainan pada payudara secara umum dibedakan menjadi :


Perubahan Fibrokistik
Nama ini digunakan untuk berbagai perubahan di payudara perempuan yang berkisar dari
kelainan tidak berbahaya hingga pola yang berkaitan dengan peningkatan risiko karsinoma
payudara. Sebagian kelainan ini – fibrosis stroma dan mikro – atau makrokista –
menyebabkan benjolan yang dapat diraba. Ragam kelainan ini adalah akibat dari peningkatan
dan distorsi perubahan siklik payudara yang terjadi secara normal selama daur haid. Benjolan
yang ditimbulkan oleh berbagai perubahan fobrokistik harus dibedakan dengan kanker, dan
pembedaan antara lesi yan ringan dan lesi yang tidak terlalu ringasn dilakukan dengan
pemeriksaan bahan aspirasi jaru halus atau secara lebih pasti denagn biopsi dan evaluasi
histologik. Dengan cara yang sedikit banyak arbitrer, kelainan disini dibagi menjadi pola
nonproliferatif dan proliferatif.
A. Perubahan Nonproliferatif
1. Kista dan Fibrosis
Ditandai dengan peningkatan stroma fibrosa disertai oleh dilatasi duktus dan pembentukan
kista dengan berbagai ukuran. Secaramakroskopis, dapat terbentuk satu kista besar di satu
payudara, tetapi perubahan ini biasanya multifokal dan sering bilateral. Daerah yang terkena
memperlihatkan nodularitas diskret dan densitas yang batasnya kabur. Kista memiliki garis
tengah bervariasi mulai dari lebih kecil daripada 1 – 5 cm. Secara histologis, pada kista kecil,
epitel lebih kuboid hingga silindris dan kadang – kadang berlapis – lapis di beberapa tempat.
Pada kista yang lebih besar, epitel mungkin menggepeng dsn bshksn atropi total. Kadsng –
kadang proliferasi epitel ringan menyebabkan penumpukan massa atau tonjolan papilaris
kecil. Kista umumnya dilapisi oleh sel poligonal besar dengan sitoplasma eosinofilik granular
serta nukleus kecil, bulat, dan sangat kromatik ( disebut juga metastatik apokrin ), hal ini
hampir selalu jinak.
B. Perubahan Proliferatif
1. Hiperplasia epitel
Gambaran makroskopis hioerplasia epitel tidsk khas dan sering didominasi oleg perubahan
fobrosis atau kistik. Secara histologis, spektrum perubahan proliferatif hampir bersifat tak
terbatas. Kadang – kadang epitel yang berproliferasi menjorok ke dalam lumen duktus dalam
bentuk tonjolan – tonjolan papilaris kecil ( papilomatosis duktus ) . Pada beberapa kasus, sel
hiperplastik menjadi monomorfik dengan pola arsitektur kompleks. Secara singkat, sel ini
memperlihatkan perubahan yang mendekati gambaran karsinoma in situ. Hiperplasoa ini
disebut atipikal. Garis yang memisahkan hiperplasia epitel tanpa atipia dari hiperplasia
atipikal sulit ditentukan, sama sulitnya dnegan membedakan secara jelas ntara hiperplasia
atipikal dan karsinoma in situ. Hiperplasia lobulus atipikal adalah istilah yang digunakan
untuk menjelaskan hiperplasia yang secara sitologis menyerupai karsinoma lobular in situ,
tetapi selnya tidak mengisi atau meluas ke lebih dari 50% unit duktus terminalis. Hiperplasia
lobular atipikal berkaitan dengan peningatan risiko karsinoma invasif.

2. Adenosis sklerotikans
Secara makroskopis, lesi memiliki konsistensi keras seperti karet, seruoa dengan yang
ditemukan pada kanker payudara. Secara histologis, adenosis sklerotikans ditandai dengan
proliferasi lapisan sel epitel dan sel mioepitel di duktus kecil dan duktulus sehingga terbntuk
massa dengan pola kelenjar kecil di dalam stroma fibrosa. Kumpulan kelenjar dan duktulus
yang berproliferasi mungkin terletak berdampingan, dengan satu atau lebih lapisan sel
berkontak satu sama lain ( adenosis ). Adenosis selalu disertai oleh fibrosis stroma yang
mencolok, yng mungkin menekan dan medistorsi epitel yang sedang berproliferasi; kafrena
itu lesi ini diberi nama adenosis sklerotikans. Pertumbuhan berlebihan jaringan fibrodsa ini
mungkin menekan lum en asinus dan duktus sehingga keduanya tampak sebagai genjel –
genjel sel. Pola ini secara histologis mungkin sulit dibedakan dari karsinoma schirous invasif.
Adanay lapisan ganda epitel dan identifikasd elemen mioepitel mengisyaratkn bahwa
kelainan ini bersifat jinak.

PERADANGAN
Peradangan payudara jartang ditemukan dan selama stadium akut biasanya menimbulkan
nyeri spontan dan nyeri tekan di bagian yang terkena, beberapa bentuk mastitis dan nekrosis
lemak traumatik masuk dalam kategori ini; keduanya tudak menyebabkan peningkatan risiko
kanker. Gastitis akut terjaid jika bakteri memperoleh akses ke jaringan payudara melalui
duktus, jika terjadi perembesan sekresi, melalui fisura di puting, yang biasanya terjadi pada
minggu p minggu awal menyusui. Atau dari berbagai bentuk dermatitis yang mengenain
puting.
Infeksi stafilokokus menyebabkan abses tunggal atau multipel disertai oleh perubahan
melebar seperti tli yang mungkin mengeluarkan sekresi kental seperti keju. Secara histologis,
duktus terisi oleh debris granular, kadang – kadang mengandung lekosit, mskrofag
yangpenuh lemak. Epitel pembatas umumnya hnacur. Gambaran paling khas adalah
menonjolnya infiltrasi limfosit dan sel plasma dan kadang – kadang ditemukan granuloma di
stroma periduktus.
Tumor Payudara
 Fibroadenoma
Fibroadenoma sejauh ini adalah tumor jinak tersering pada payudara perempuan. Peningkstan
mutlak atau nisbi aktivitas estrogen diperkirakan berperan dalam pembentukannya, dan lesi
serupa mungkin muncul bersama dengan perubahan fibrokistik. Fibroadenoma biasanya
terjadi pada perempuan muda, insidensinpuncak adalah pada usia 30-an.
Fibroadenoma muncul sebagai nodus diskret, biasanya mudah digerakkan, dan bergaris
tengah 1 – 10 cm. Walaupun jarang, tumor mungkin multipel dan juhga sam ajarangnya,
tumor mungkin bergaris tengah lebih dari 10 cm ( fibroadenoma raksasa). Berapapun
ukurannya, tumor ini biasanya mudah dikupas. Secara makroskopis, semua tumor teraba
padat dengan warna seragam coklat – putih pada irisan, dengan bercak – bercak kuning
merah muda yang mencerminkan daerah kelenjatr. Secara histologis, tampak stroma
fibroblasti longgar ywng mengandung rongga mirip duktus berpalis epitel dengan ukuran dan
bentuk beragam. Rongga mirip duktus atau kelenjar ini dilapisi oleh satu atau lebih lapisan
sel yang reguler dengan dengan membran basal jelas dan utuh. Meskipun di sebagian lesi
rongga duktus terbuka, bundar sampai oval, dan cukup teratur ( fibroma perikanalikularis ),
sebagian lainnya tertekan oleh proliferasi ekstensif stroma sehingga pada potongan melintang
rongga tersebut tampak sebagai celah atau struktur ireguler mirip-bintang ( fibroma
intrakanalikuler ) . secara klinis, fibroadenoma biasanya bermanifestasi sebagai massa soliter,
diskret, dan mudah digerakkan. Lesi mungkin membesar pada akhir daur haid dan selama
hamil. Pascamenopause, lesi ini mungkin mengecil dan mengalami kalsifikasi. Pemeriksaan
sitogenetik memperlhatkan bahwa sel stroma bersifat monoklonal sehingga mencerminkan
elemen neoplastik dari tumor ini. Penyebab prolifrasi duktus tidak diketahui; mungkin sel
stroma neoplastik mengeluarkan faktor pertumbuhan yang mempengaruhi sel epitel.
Fibroadenoma hampir tidak pernah menjadi ganas.
 Tumor Filoides
Tumor ini jarang ditemukan. Tumor ini mungkinkecil, tetapi sebagian besar tumbuh hingga
berukuran bear, mungkin masif sehingga payudara membesar. Sebagian mengalami lobulasi
dan menjadi kistik, karena pada potongan memperlihatkan celah mirip daun, maka tumor ini
disebut tumor filoides. Sebagian besar tumor ini tetap lokalisata dan disembuhkan dengan
eksisi, lesi maligna mungkin kambuh, tetapi lesi ini juga cenderung terlokalisasikan. Hanya
yang paling gans, sekitar 15%kasus, menyebarke tempat jauh.
 Papiloma Intraduktus
Ini adalah pertumbuhan tumorneoplastik di dalam suatu duktus. Sebagian besar lesi bersifat
soliter, ditemukan di dalam sinus atau duktus laktiferosa utama. Lesi ini menunjukkan gejala
klinis berupa (1) keluarnya discharge serosa atau berdarah dari puting payudara, (2) adanya
tumor subareola kecil dengan garis tengah beberapa milimeter, (3) retraksi puting payudara.
Pada beberapa kasus, terbentuk banyak papiloma di beberapa duktus. Lesi kadang – kadang
menjadi ganas, sedangkan papiloma soliter hampir selalu jinak. Demikian juga, karsinoma
papilaris perlu disingkirkan, tumor ini tidak memiliki komponen mioepitel dan
memperlihatkan atipia sel yang parah dengan gambaran mitotik abnormal.
 Karsinoma
Kanker payudara sedikit lebih sering mengenai payudara kiri dsripada kanan.

Lokalisasi tumor pada payudara adalah sebagai berikut :


Kuadran luar atas 50%
Bagian sentral 20%
Kuadran luar bawah 10%
Kuadran dalam atas 10%
Kuadran dalam bawah 10%
Kanker payudara dibagi menjadi kankr yang belu m menembus membran basal (noninvasif)
dan kanker yang sudah invasif.
A. Noninvasive
1. Karsinoma duktus in situ ( DCIS; karsinoma intraduktus )
DCIS cenderung mengisis, mendistorsi, dan membuka lobulus yang terkena sehingga
tampaknya melibatkan rongga mirip duktus. DCIS memperlihatkan gambaran histologis
beragam, anatara lainn tipe solid, papilaris, clinging, dll. Di setiap tipe mungkin ditemukan
nekrosis. DCIS sering disertai kalsifikasi karena bahan sekretorik atau debris nekrotik yang
mengalami kalsifikasi. DCIS bermanifestasi sebagai massa yang bisa diraba atau terlihat
secara radiologis. Sel di tumor berdiferensiasi baik, prognosisnya baik dengan lebih dari 97%
pasien bertahan hidup.
Penyakit paget pada puting payudara disebabkan oleh perluasan DCIS ke duktus laktiferosa
dan ke dalam kulit puting sus di dekatnya. Sel ganas merusak sawar epidermis normal,
sehingga cairan ekstrasel dapat dikeluarkan ke permukaan. Gambaran klinis biasanya berupa
eksudat berkeropeng unilateral di atas putng dan kulit areola.
2. Karsinoma lobulus in situ ( LCIS )
LCIS biasanya meluas, tetapi tidak mengubah arsitektur dasar lobus. Keduanya dibatasi oleh
membran basal dan tidak menginvasi stroma atau aluran limfovaskular. LCIS
memperlihatkan gambran uniform. Sel bersifat monomorf dengan nukleus polos bundar dan
terdapat dalam kelompok kohesif di duktus dan lobulus. Vakuol musin intrasel sering
ditemukan. Tumor ii jarang membentuk metastasis, jarang mengalami kalsifikasi. LCIS
merupakan penanda peningktan risiko timbulmya kanker di kedua payudara dan prekursor
langsung bagi sejuml;ah kanker.
B. Invasive
1. Karsinoma duktus invasif
Karsinoma duktus invasid adlah istilah untuk semua tumor yang tidak dapat
disubklasifikasikan ke dalam salah satu tpe khusus yang dijelaskan dan tidak menunuukkan
bahwa tumor ini secara spesifik berasal dari duktus. Sebagian besar karsinoma duktus
menimbulkan respons desmoplastik, yang menggambarkan lemak payudara normal, dan
membentuk massa yang teraba keras. Gambaran mikroskopik cukup heterogen, berkisar dari
tumor dengan pembentukan tubulus yang sempurna srta nukleus derajat rendah hingga tumor
yang terdiri atas lembaran – lembaran sel anaplastik. Mungkin ditemukan invasi ke rongga
limfovaskuler atau di sepanjang saraf. Kanker tahap lanjut menyebabkan kulit cekung,
retraksi puting, atau fiksasi ke dinding dada.
2. Karsinoma lobulus invasif
Karsinoma lobulus invasif terdiri atas sel yang secara morfologis identik dengan LCIS. Sel –
sel secara sendiri – sendiri menginvasi stroma dan sering tersusun membentuk rangkaian.
Kadang – kadang sel tersebut mengelilingi asinus atau duktus yang tampak normal atau
karsinomatosa, menciptskasn apa yang disebut mata sapi ( bull’s eye ). Meskipun sebagian
besar tumor bermanifestasi sebagai massa yang dapat diraba atau densitas pada mamografi,
sebagian mungkin memiliki pola invasi difus tanpa rspons desmoplastik serta secara klinis
tersamar. Karsinoma lobulus lebih sering bermetastasis ke cairan serebrospinal, permukaan
serosa, ovarium, uterus, serta sumsum tulang belakang.

3. Karsinoma medularis
Kanker ini terdiri atas lembaran sel besar anaplastik dengan tepi berbatas tegas. Selalu
terdapat infiltrasi limfosit yang mencolok. Karsinoma ini menigkat insidensinya pada
perempuan dengan mutasi BRCA1 meskipun sebagian besar perempuan dengan karsinoma
meduler bukan pembawa sifat ini.
4. Karsinoma koloid
Karsinoma ini merupakan subtipe yang jarang. Sel tumor menghasilkan banyak musin
ekstrasel yang merembes ke dalam stroma di sekitarnya. Tumor ini sering bermanifestasi
sebagai massa sirkumskripta dan sering disangka fibroadenoma. Secara makroskopis,
biasanya lunak dan gelatinosa.
5. Karsinoma tubulus
Karsinoma tubulus jarang bermanifestasi sebagai massa yang dapat diraba. Tumor tampak
sebagai massa yang irreguler. Secara mikroskopis, karsinoma terdiri atas tubulus yang
berdiferensiasi baik dengan nukleus derajat rendah. Jarang terjadi metastasis ke kelenjar
getah bening, dan prognosis baik.
Gambaran umum bagi semua kanker invasif yaitu mempunyai kecenderungan untuk melekat
ke otot pektoralis sehingga terjadi fiksasi lesi, serta melekat ke kulit di atasnya, yang
menyebabkan retraksi puting payudara. Yang terakhir merupakan tanda penting, karena
mungkin merupakan indikasi awal adanya lesi, yang dilihat sndiri oleh pasien saat melakukan
pemeriksaan tubuh sendiri. Keterlibatan jalur limfatik dapat menyebabkan limfedema lokal.
Pada kasus ini, kulit mengalami penebalan di sekitar folikel rambut, suatu keadaan yang
dikenal sebagai peau d’orange.
Patomekanisme Translokasi

. Inisiasi Sel normal

.Promosi Mutasi gen Kehilangan, tambahan


Induksi
Transformasi cromosom atau inaktivasi gen
. Konversi karsinogen

. Progesi
bentuk, sifat, dan kinetiknya berubah, Amplifikasi gen
sehingga tumbuhnya menjadi autonom,
liar, tidak terkendali dan terlepas dari
koordinasi pertumbuhan normal

timbul tumor yang terpisah dari


jaringan tubuh normal

Sel tumor adalah sel normal dari tubuh kita sendiri yang mengalami perubahan
(transformasi) sehingga bentuk, sifat, dan kinetiknya berubah, sehingga tumbuhnya menjadi
autonom, liar, tidak terkendali dan terlepas dari koordinasi pertumbuhan normal. Akibatnya
timbul tumor yang terpisah dari jaringan tubuh normal.
Transformasi sel itu terjadi karena mutasi gen yang mengatur pertumbuhan dan
diferensiasi sel, yaitu proto-onkogen dan atau supressor gen (anti onkogen). Kemungkinan
terjadinya mutasi itu ditentukan oleh kesetiaan dan ketekunan gen itu mengadakan replikasi
dan reparasi. Aktivasi protoonkogen manjadi onkogen karena ada mutasi gen atau ada insersi
gen retrovirus. Inaktivasi gen supressor terjadi karena ada mutasi gen atau ada protein yang
dapat mengikat produksi gen supresor itu.
Pada umumnya transformasi itu terjadi karena ada mutasi gen atau chromosom. Mutasi
itu dapat dibedakan menjadi 3 kategori, yaitu:
a. Translokasi
Pada translokasi gen atau chromosom umumnya berupa translokasi resiprokal, yaitu
pertukaran timbale balik letak gen atau chromosom pada lengan chromosom satu dengan
lainnya, tanpa ada kehilangan gen. Sebagian dari lengan chromosom itu pindah letaknya ke
chromosom lain. Translokasi ini menimbulkan perubahan ekspresi gen.
b. Kehilangan, tambahan atau inaktivasi gen
Kehilangan (deletion), tambahan (addition) atau inaktivasi gen akan mengakibatkan
gangguan pertumbuhan sel yang tidak terkendali dan diferensiasi sel yang jelek.
c. Amplifikasi gen
Pada amplifikasi gen terdapat kenaikan jumlah DNA pada chromosom pada region
tertentu. Amplifikasi gen dapat ditunjukkan dengan adanya :
1) Pewarnaan regio yang homogen (HSR)
2) Band yang abnormal (ABR)
3) Pewarnaan ganda (DM)
Spektrum neoplasma sangat luas. Secara sederhana dikenal sel neoplasma jinak yang
kerusakan gennya ringan serta terbatas sehingga sel-sel neoplasma jinak masih mirip dengan
sel normal asalnya dan sel-sel neoplasma ganas atau kanker yang kerusakannya berat serta
luas sehingga sel-selnya menyimpang jauh dari sel normal asalnya (anaplastik).
Selain karena mutasi gen, transformasi sel normal dapat juga terjadi karena induksi
karsinogen. Fase induksi dibagi menjadi fase: inisiasi, promosi, konversi, progresi, sehingga
timbul sel kanker.