Anda di halaman 1dari 10

GAMBARAN PENGELOLAAN ASUHAN KEPERAWATAN

ADMISSION CARE - DISCHARGE DI RS dr. “S”


DI JAKARTA

Penulis
Natalia Ida Kartanti*, Petrus Kanisius Siga Tage*, Rina Fitriani*, Tri Widiyaningsih*, Hanny Handiyani**
Data penulis
*Rina Fitriani: Mahasiswa Peminatan Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia FIK UI, Jl. Prof. Dr. Bahder Djohan, Depok,
Jawa Barat – 16424, E-mail: rina.fitrianihs@gmail.com
**Hanny Handiyani: Staf Pengajar Kelompok Keilmuan Dasar Keperawatan dan Keperawatan Dasar
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia FIK UI, Jl. Prof. Dr. Bahder Djohan, Depok,
Jawa Barat – 16424

Abstrak
Asuhan keperawatan diberikan kepada pasien secara holistik, mulai pasien datang, selama perawatan dan menjelang
pulang. Tata cara dan pengaturan pasien rawat inap (admissions) di admission unit dan prosedur perencanaan pasien
pulang (discharge planning) sangat penting dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan pasien pada semua sektor
pelayanan di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengelolaan Admission Care dan
Discharge Planning di RS dr. “S”. Metode yang digunakan adalah survey feedback dan wawancara kepada petugas
terkait, serta telusur dokumen secara random sampling diharapkan dapat mewakili pelaksanaan Admission Care dan
Discharge Planning. Jenis penelitian adalah deskriptif dan dianalisis menggunakan analisa SWOT. Proses Admission
Care pada pasien baru di Rumah Sakit dr. “S” secara umum telah dilaksanakan tetapi belum optimal dan belum adanya
keseragaman pemberian Admission Care antar perawat sedangkan Discharge planning secara umum sudah
dilaksanakan tetapi belum optimal karena hanya dilakukan saat pasien akan pulang. Dua masalah pada admission care
maupun discharge planning memerlukan perbaikan yang harus diperhatikan oleh pihak pengelolah Rumah Sakit dr. “S”
untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

Kata Kunci : pelayanan keperawatan, penerimaan pasien, perencanaan pulang.

Abstract
Nursing care is given continuously and comprehensively, when the first time patient come to hospital, during treatment
and before going home. inpatients Procedures and arrangements (admissions) in the admission unit and discharge
planning procedures (discharge planning) is essential in order to improve the quality of care in the whole secto of
hospital services. This study aims to describe the management of Admission Care and Discharge Planning at RS dr.
“S”. The method used is survey and interview feedback to the relevant officers, also using search documents by random
sampling are expected to represent the implementation of Admission Care and Discharge Planning. This type of
research is descriptive and analyzed using SWOT analysis. Admission Care Process in new patients at the dr. “S”’s
hospital generally been implemented but not optimal and there is no uniformity among nurses when they’re gave
information in admission procedures. Discharge planning generally while been implemented but not optimal because it
is only done when the patient will go home. Two problems on admission care and discharge planning needs
improvements to be considered by the “S”’s management to improve the quality of health services.

Keywords: nursing care, patient admission, discharge planning.

Pendahuluan
Pelayanan kesehatan khususnya dalam bidang memberikan pelayanan keperawatan seorang
keperawatan merupakan hal yang kompleks, perawat memiliki peranan yang berbeda
dikatakan kompleks karena dalam dengan profesi lain. Perawat memiliki

1 Univesitas Indonesia
peranan penting karena perawat memiliki Potter dan Perry (2006 dalam Wahyuni,
waktu selama 24 jam untuk berinteraksi dan Nurrachmah, & Gayatri, 2012).
memberikan pelayanan keperawatan kepada
Penelitian yang dilakukan oleh Shepperd et al
pasien dan keluarga. Bentuk pelayanan
(2010) menunjukkan bahwa dengan adanya
keperawatan sendiri ada dalam berbagai
discharge planning terdapat penurunan angka
bentuk.
hospitalisasi ulang dan kematian yang terjadi
pada pasien. Penelitian yang dilakukan
Discharge planning dan Admission care
Hodkinson (2016) menemukan bahwa melalui
adalah contoh dari bentuk pelayanan
proses admission care dapat mengurangi
keperawatan. Admission care adalah proses
angka kematian dan kesakitan,
penilaian kebutuhan dan kondisi kesehatan
mengoptimalkan sumber daya perawatan,
pasien sejak pertama kali pasien masuk rumah
serta menunjukkan peningkatan kelangsungan
sakit (Macias, Zornoza, Rodriguez, Garcia,
dan kualitas pelayanan. Pernyataan tersebut
Fernandez, Luque, dan Collado, 2015)
hendak menjelaskan bahwa pentingnya
sedangkan discharge planning oleh Nordmar,
program Admission care dan discharge
Zingmark, dan Lindberg (2016) dijelaskan
planning
sebagai suatu proses yang kompleks yang
bertujuan untuk menyiapkan pasien dalam
masa transisi di rumah sakit sampai pasien Mengingat penerapan program admission
tersebut kembali ke rumahnya. Discharge care dan discharge planning merupakan hal
planning dan Admission care berkaitan erat yang penting untuk meningkatkan kualitas
dengan peran perawat sebagai kolaborator, pelayanan, keselamatan pasien serta dapat
pendidik, dan konselor mengurangi hospitalisasi berulang, maka
penulis ingin mencari tahu tentang
Proses Admission care di Rumah Sakit “Gambaran Pengelolaan Asuhan Keperawatan
menurut Standar Akreditasi RS Versi 2012 Admission Care - Discharge Planning di Rs
dimulai dari triase atau proses skrining pasien dr. “S” di Jakarta.
yang datang ke rumah sakit. Program
discharge planning yang diberikan sejak Metode
pasien masuk rumah sakit. Pemberian Metode yang digunakan metode deskriptif,
Admission care maupun discharge planning yaitu suatu metode yang meneliti mengenai
dapat meningkatkan perkembangan kondisi status dan obyek tertentu, kondisi tertentu,
kesehatan dan membantu pasien mencapai sistem pemikiran atau suatu kejadian tertentu
kualitas hidup optimal sebelum dipulangkan. pada saat sekarang yang bertujuan untuk
2 Univesitas Indonesia
membuat deskripsi atau gambaran secara kelemahan serta mengurangi skor peluang dan
sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta- tantangan untuk menentukan rencana strategi
fakta, sifat-sifat serta hubungan antara tindakan (Gretzky, 2010).
fenomena yang diteliti.
Hasil
Pengumpulan data dengan menggunakan Pada tahap pertama setelah dilakukan analisis
survey feedback yang berisi kuesioner kepada SWOT didapati bahwa skor Internal faktor
staf administrasi dan kepala urusan data admission care adalah -0,3 dan skor eksternal
dengan bentuk sampel voluntary sampling, faktor 1,5 sedangkan discharge planning
wawancara dan observasi proses admission memiliki skor internal faktor 0,15 dan skor
care dan discharge planning mulai dari IGD eksternal faktor 0,3. Pada tahap kedua dibuat
sampai ke ruang perawatan Kenanga. diagram layang seperti pada gambar berikut;
Penelusuran dokumen dengan bentuk sampel
random sampling dengan mengambil secara
acak dua status pasien baru pulang, dua status
akan pulang dan satu status pasien dalam
perawatan hari ke-2.

Data yang diperoleh dianalisis dengan


menggunakan SWOT analisis. Analisis ini Gambar Diagram Layang
dimulai dengan (1) membuat daftar internal
faktor yang mencakup kekuatan dan Proses manajemen keperawatan selalu
kelemahan, eksternal faktor yang mencakup berhubungan dengan proses perencanaan,
peluang dan tantangan, (2) menentukan bobot pengorganisasian, pengaturan staf,
dengan jumlah seluruh bobot harus sebesar pengarahan dan pengendalian dalam mengatur
1,0 dengan keterangan sebagai berikut: 0,05 aktivitas Departemen Keperawatan. Manajer
= kurang penting, 0,10 = cukup penting, 0,15 keperawatan hendaknya mampu
= penting, 0,20 = sangat penting. (3) melaksanakan fungsi manajemen untuk
menentukan rating antara 1 sampai 4, dengan memastikan kualitas pelayanan yang akan
keterangan sebagai berikut: 1 = kurang diterima pasien (Swansburg, 2000).
penting, 2 = cukup penting, 3 = penting , 4 = Berdasarkan hasil wawancara dan observasi
sangat penting, (4) mengkalikan bobot dengan didapatkan bahwa masih belum maksimalnya
nilai ratingnya untuk mendapatkan skor akhir pelaksanaan admission care maupun
(5) mengurangi skor antara kekuatan dan discharge planning di RS dr. “S” di Jakarta
3 Univesitas Indonesia
yang akan dipaparkan melalui lima fungsi Proses admission care pada pasien dilakukan
manajemen keperawatan. sejak pasien datang ke rumah sakit dan
memerlukan pelayanan kesehatan. Proses ini
Planning dimulai dari penentuan pasien yang akan
Perencanaan merupakan fungsi manajemen masuk dan mendapatkan perawatan di rumah
yang penting dan membantu mengurangi sakit menyesuaikan dengan standar dan
resiko pembuatan keputusan, pemecahan kesanggupan rumah sakit untuk merawat
masalah dan perubahan efektif yang pasien tersebut. Dilanjutkan dengan
direncanakan (Swansburg, 2000). pemberian informasi terkait biaya
pengobatan, fasilitas yang akan diterima
Admission care dan discharge planning pasien selama masa perawatan termasuk
merupakan dua hal yang saling berhubungan diantaranya peralatan yang akan digunakan
dimana keduanya memerlukan kebijakan atau pasien sampai dengan informasi tentang
panduan dan standar operasional prosedur petugas yang akan merawat pasien selama
(SPO). Berdasarkan hasil wawancara dengan dalam masa perawatan.
kepala ruangan dan staf departemen
keperawatan didapatkan bahwa telah Dari hasil wawancara dan observasi di IGD
tersedianya dokumen yang menjadi acuan dan ruang perawatan menunjukkan proses
dalam penerapan admission care dan admission care belum berjalan optimal
discharge planning yaitu panduan discharge dimana pasien hanya mendapatkan informasi
planning, panduan skrining pasien, SPO sesuai kebutuhannya sehingga masih ada
penerimaan pasien baru, SPO triase pasien, kesalahan persepsi pasien dan keluarga
SPO tentang transfer pasien baik internal tentang pelayanan yang diberikan pada
maupun eksternal, SPO pengisian discharge pasien. Di ruang perawatan proses admission
planning. care terlihat masih adanya perbedaan
informasi antar pasien tergantung dengan
Kelengkapan dokumen tersebut ada di tiap perawat yang memberikan pelayanan
ruangan akan tetapi proses sosialisasi belum keperawatan.
berjalan maksimal dimana informasi hanya
diberikan kepada kepala ruangan dan ketua Perencanaan pulang (discharge planning)
tim. Tingkat pengetahuan perawat tentang didokumentasikan dalam formulir discharge
dokumen yang sudah disosialisasikan belum planning segera saat pasien masuk ruang
dilakukan secara maksimal oleh kepala rawat inap sesuai dengan Standar Operasional
ruangan dan staf departemen keperawatan. Prosedur (SPO) yang berlaku harus diisi dan
4 Univesitas Indonesia
dilengkapi dalam 1x24 jam. Akan tetapi, keperawatan mulai dari kepala ruangan
pendokumentasi discharge planning di awal merangkap case manger, ketua tim dan
masuk hanya sebatas kelengkapan data diri anggota tim. Sedangkan dalam mengatur
dan informasi status pasien sedangkan aktivitas manajemen keperawatan sebagai
pengisian discharge planning dilengkapi saat struktur organisasi formal berjenjang mulai
pasien akan pulang berbarengan dengan dari kepala ruangan, kepala sub departemen
pengisian resume pulang keperawatan. rawat inap dan kepala departemen
keperawatan sebagai top manager.
Hal ini disebabkan karena belum adanya
keseragaman pemahaman pengetahuan Rentang kendali pelaksanaan admission care
perawat tentang discharge planning mulai dan discharge planning masih belum optimal
cara pengisian sampai dengan informasi karena belum adanya pembagian tanggung
tentang pentingnya discharge planning. Dari jawab dan wewenang yang berhak mengisi
hasil telusur dokumen didapatkan dari lima dan melengkapi admission care dan discharge
status pasien formulir discharge planning planning di rumah sakit ini. Peran case
lengkap hanya pada status yang akan pulang manager hanya sebatas melengkapi dokumen
dan pasien yang sudah pulang. yang dibutuhkan oleh pihak asuransi untuk
menghindari over limit pada pembiayaan
Pengorganisasian pasien tidak bertanggung jawab pada
Fungsi pengorganisasi mengidentifikasi penerapan admission care dan discharge
kebutuhan organisasi dari misi keperawatan planning yang baik.
yang akan dilakukan. Selama proses
pengorganisasian aktivitas-aktivitas yang Pengaturan staf
akan dilakukan, tanggung jawab dan Prinsip kepegawaian (staffing) dimana fungsi
wewenang juga ditentukan, hubungan kerja primer untuk mengatur staf atau
dibuat untuk memungkinkan kesadaran baik mengumpulkan dan menyiapkan staf tersebut
organisasi maupun staf untuk mencapai tujuan untuk melaksanakan tugasnya. Dalam
bersama (Swansburg, 2000). menjalankan tugasnya perawat memberikan
asuhan keperawatan dengan metode tim yang
Struktur organisasi menggambarkan dan dipimpin oleh ketua tim yang mengatur
berkaitan dengan kefektifan dalam seluruh kegiatan anggota tim dalam
komunikasi. Struktur organisasi di ruang memberikan asuhan keperawatan kepada
rawat ini terkait pelayanan pada pasien pasien kelolaannya.
mengacu pada sistem pemberian asuhan
5 Univesitas Indonesia
Metode penugasan tim belum optimal karena dan kemungkinan memerlukan perawatan
beban kerja yang dilakukan perawat lama sehingga beresiko over limit dalam
pelaksana yang masih tinggi yang harus pembiayaan. Sedangkan pada pasien lain
dilakukan dan lebih sering tidak mendukung dilakukan oleh ketua tim dan kepala ruangan.
intervensi yang telah direncanakan. Rasio
perbandingan pasien dan perawat (3-4 pasien : Pengendalian
1 perawat). Fungsi pengendalian merupakan proses yang
dilakukan untuk memastikan perencanaan
Pelaksanaan admission care dilakukan oleh yang telah direncanakan, diorganisasikan dan
perawat yang menerima pasien saat masuk telah diimplementasikan dapat dilakukan
perawatan sedangkan discharge planning sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
dilakukan oleh perawat yang merencanakan
kepulangan atau kepindahan pasien. Proses pengendalian dalam pelaksanaan
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi admission care dan discharge planning belum
tampak adanya ketidakseragaman informasi optimal karena masih adanya perbedaan
yang diberikan oleh pasien yang persepsi dalam menerapkan admission care
didokumentasikan dalam form pemberian pada pasien baru dan discharge planning pada
edukasi dan informasi pasien saat pasien pasien yang akan pulang. Evaluasi terkait
masuk dan di formulir discharge planning. mutu pelayanan keperawatan hanya sebatas
kepuasan pasien terhadap pelayanan perawat
Pengarahan selama masa perawatan sehingga tidak dapat
Pengarahan merupakan proses penerapan, dijadikan tolak ukur keberhasilan proses
rencana manajemen, proses dimana cara dan admission care dan discharge planning di
teknik dipilih dan digunakan untuk mencapai rumah sakit ini.
tujuan yang diharapkan. Menurut Swansburg
(2000) tiga elemen utama dalam pengarahan Pembahasan
adalah mewujudkan pengawasan dalam staf Admission Care memiliki lebih dari satu
terkait motivasi, kepemimpinan dan makna, di mana bukan saja dilakukan saat
menetapkan komunikasi. pasien masuk di fasilitas kesehatan untuk
mendapatkan perawatan kesehatan tetapi juga
Pengarahan terkait pelaksanaan admission terus berlanjut ketika pasien berada dalam
care dan discharge planning dilakukan secara periode perawatan pada insitusi pelayanan
rutin oleh case manager pada pasien yang kesehatan (HeBE, 2003). Secara umum di RS
sejak masuk memerlukan pengawasan khusus dr. “S” di Jakarta belum menunjukan bahwa
6 Univesitas Indonesia
proses admission care berjalan dengan baik di karena belum adanya aturan yang berisi
mana masih ada pada posisi kuadran tiga yang tentang keseragaman informasi dan pelayanan
menandakan bahwa masih ada kelemahan. yang harus diberikan kepada semua pasien
baru yang akan mendapatkan pelayanan
Berdasakan hasil wawancara dan observasi kesehatan di Rumah Sakit ini.
proses admission care belum berjalan efektif
baik di IGD yang hanya sebatas pada Discharge planning merupakan proses
penerimaan pasien maupun di ruang rawat perencanaan sistematis untuk menilai,
inap dimana sebagian besar pasien baru menyiapkan, dan melakukan koordinasi
masuk ruang rawat inap belum di orientasikan dengan fasilitas kesehatan yang ada atau yang
lingkungan maupun penjelasan tentang telah ditentukan serta bekerjasama dengan
peralatan khusus yang diperlukan pasien pelayanan sosial yang ada di komunitas.
dalam perawatan sehari-hari. Prosedur admisi Sebelum dan sesudah pasien pindah/pulang
yang efektif dan efisien dapat menunjukkan (Swansburg, 2000). Bentuk discharge
kepedulian yang tepat kepada pasien sehingga planning berupa edukasi pasien yang meliputi
meringankan kecemasan dan meningkatkan cara perawatan dan pencegahan yang harus
kerja sama dalam proses perawatan. Prosedur ditempuh untuk mengurangi resiko kambuh.
admission care yang efektif harus mencakup Pelaksanaan edukasi ini melibatkan keluarga
beberapa hal sebagai berikut: pemeriksaan sebagai support system terdekat dari pasien
identitas pasien dan menilai status klinisnya, sehingga diharapkan tahapan ini akan
membuat situasi pasien senyaman mungkin, membantu pasien dan keluarga dalam
memperkenalkan pasien dengan staf dan memutuskan kepindahan atau kepulangan
pasien sekamarnya bila ada, mengorientasikan pasien (Hariyati, 2014).
lingkungan, penyediaan perlengkapan dan
peralatan khusus yang diperlukan untuk Pelaksanaan discharge planning belum
perawatan sehari-hari (Abbas, 2014). optimal dikarenakan kurangnya pemahaman
perawat tentang proses discharge planning
Kendala dalam pelaksanaan admission care yang benar dan efektif bagi pasien, kebijakan
adalah rasio antara jumlah tenaga perawat dan dan aturan yang berlaku di rumah sakit ini
pasien yang ada belum seimbang sehingga tentang discharge planning belum
perawat hanya memberikan informasi tersosialisasi dengan baik sehingga belum
seperlunya dan sesuai kondisi pasien. Kendala adanya kesepakatan dan kesadaran dalam diri
lain yang ditemukan kurangnya kesadaran perawat tentang pentingnya discharge
perawat untuk melakukan admission care planning untuk mempertahankan kontinuitas
7 Univesitas Indonesia
perawatan dan persiapan pasien sebelum 2009 dalam Wahyuni, Nurrachmah, &
meninggalkan baik pindah maupun pulang Gayatri, 2012)
perawatan.
Hasil wawancara dan observasi menunjukkan
Peran perawat dalam discharge planning bahwa belum optimal proses discharge
sebagai berikut: menentukan rujukan pasien planning kepada pasien, di mana pasien hanya
dengan pelayanan kesehatan lainnya seperti mendapatkan discharge planning saat hendak
fisioterapi, unit perawatan primer, memulai pulang, karena perawat tidak memiliki cukup
prosedur perencanaan pulang, memulai waktu untuk melakukan discharge planning
rencana perawatan khusus dengan keluarga dan pemahaman perawat masih rendah
pasien, mengajarkan pasien dan keluarga tentang discharge planning serta belum
misalnya teknik perawatan dirumah dan adanya petugas perawat khusus yang
membantu kebutuhan lain dari perawatan memberikan program discharge planning
pasien. (Ward, 2012). Peran perawat dalam pada pasien sejak masuk, selama perawatan
pemberian discharge planning belum terlihat dan rencana pulang.
maksimal hal ini dikarenakan beban kerja
perawat yang tinggi di ruang rawat inap Kesimpulan
sehingga perawat tidak memiliki kesempatan Proses Admission Care pada pasien baru di
untuk melakukan proses discharge planning RS dr. “S” di Jakarta secara umum sudah
yang berkelanjutan di ruang perawatan. dilaksanakan tetapi belum optimal dan belum
adanya keseragaman pemberian Admission
Sebelum melakukan discharge planning Care antar perawat. Proses Discharge
perawat harus melaksanakan pengkajian planning di RS dr. “S” di Jakarta secara
pengetahuan pasien dan keluarga. umum sudah dilaksanakan tetapi belum
Pengetahuan yang digali terkait penyakit, optimal karena prosesnya hanya dilakukan
sumber penyakit, perawatan dan pencegahan saat pasien akan pulang. Dua masalah pada
kekambuhan (Hariyati, 2014). Perawat perlu admission care maupun discharge planning
memahamai bahwa discharge planning juga memerlukan perbaikan yang harus
merupakan salah satu bentuk dukungan diperhatikan oleh pihak pengelola RS dr. “S”
perawat kepada pasien. Dukungan yang diberi di Jakarta.
oleh perawat dapat berupa penghargaan,
instrumental, informasi, dan jaringan sosial Saran yang diberikan pada masalah admission
serta dukungan kerabat atau teman (Hasymi, care sebagai berikut: diperlukan penentuan
informasi apa saja yang diberikan pada pasien
8 Univesitas Indonesia
selama proses admission care mulai dari IGD pengembangan dan utilisasi tenaga
keperawatan. Jakarta: PT Raja Grafindo
sampai dengan rawat inap, membuat SPO
Persada.
proses admission care pada pasien baru
HeBE. (2003). Admissions and discharge
khususnya di ruangan rawat inap, menerapkan guidelines: health strategy
SPO dalam bentuk form ceklist penerimaan implementation project 2003 / The
Health Boards Executive. Retrieved
pasien baru sebagai acuan admission care November 14, 2016, from
mulai dari IGD hingga unit rawat inap, http://lenus.ie/hse/bitstream/10147/4355
4/1/3494.pdf
Kepala ruangan agar membuat daftar perawat
Hodkinson, P., Argent, A., Wallis, L., Reid,
admission care setiap harinya bersamaan
S., Perera, R., Harrison, S., ... & Ward,
dengan discharge planning. A. (2016). Pathways to care for
critically ill or injured children: a cohort
study from first presentation to
Saran yang diberikan pada masalah healthcare services through to
admission to intensive care or death.
discharge planning sebagai berikut:
PloS one, 11(1), e0145473.
dibutuhkan pembuatan jadwal kapan
Indartono, S. (2016). STRATEGIC
discharge planning harus diberikan (masuk THINKING CONCEPT AMONG
perawatan, selama perawatan, akan pulang MIDDLE MANAGERS. Jurnal
Universitas Paramadina, 10(2), 720-
perawatan), mensosialisasikan kembali 728.
tentang penggunaan discharge planning serta London, D. A., Vilensky, S., O'Rourke, C.,
tujuan dan manfaat discharge planning, Schill, M., Woicehovich, L., &
Froimson, M. I. (2016). Discharge
Kepala ruangan membuat daftar petugas Disposition After Joint Replacement
discharge planning setiap shift bersamaan and the Potential for Cost Savings:
Effect of Hospital Policies and
dengan admission care. Surgeons. The Journal of arthroplasty,
31(4), 743-748.
Daftar Pustaka Macías, M., Zornoza, C., Rodriguez, E.,
Abbas, A. D. (n.d.). Admission, discharge, García, J. A., Fernández, J. A., Luque,
transfer, and referrals. Retrieved R., & Collado, R. (2015). Impact of
November 14, 2016, from Hospital Admission Care At a Pediatric
http://www.conursing.uobaghdad.edu.iq Unit: A Qualitative Study. Pediatric
/uploads/others/d.ali d/Admission, nursing, 41(6), 285.
Discharge, Transfer and Referrals.pdf Nordmark, S., Zingmark, K., & Lindberg, I.
Gretzky, W. (2010). Strategic Planning And (2016). Process evaluation of discharge
SWOT Analysis. Retrived planning implementation in healthcare
https://www.ache.org/pdf/secure/gifts/H using normalization process theory.
arrison_Chapter5.pdf BMC medical informatics and decision
making, 16(1), 1.
Potter, P.A., & Perry, A.G. (2006). Buku ajar
Hariyati, R. T. S. (2014). perencanaan, fundamental keperawatan: Konsep,
9 Univesitas Indonesia
proses, dan praktik (Edisi 4, Vol 2). Undang-Undang tentang keperawatan No. 38.
(Yasmin, dkk., Alih Bahasa). Jakarta: (2014). Jakarta.
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Ward, J. (2012). Patient Care. Retrieved
KARS. (2012). Instrumen Akreditasi Rumah November 16, 2014, from
Sakit Standar Akreditasi Versi 2012 http://www.nursetogether.com/patient-
care-nurse-role-discharge-planning
Shepperd, S., McClaran, J., Phillips, C. O.,
Lannin, N. A., Clemson, L. M., Wahyuni, A., Nurrachmah, E., & Gayatri, D.
McCluskey, A., ... & Barras, S. L.
(2012). Kesiapan pulang Pasien Penyakit
(2010). Discharge planning from
hospital to home. Cochrane Database Jantung Koroner Melalui Penerapan
Syst Rev, 1.
Discharge Planning. Jurnal keperawatan
Swansburg, R. C. (2000). Pengantar indonesia, 15(3), 151-158.
kepemimpinan dan manajemen
keperawatan. Jakarta: EGC.

10
Univesitas Indonesia