Anda di halaman 1dari 6

Cakradonya Dent J 2017; 9(2):73-78

DAMPAK KARAKTERISTIK MALOKLUSI GIGI ANTERIOR


BERDASARKAN TINGKAT KEPARAHANNYA TERHADAP STATUS
PSIKOSOSIAL

CHARACTERISTIC MALOCCLUSSION IMPACT ANTERIOR TEETH


BASED ON SEVERITY TO PSYCHOSOCIAL

Rafinus Arifin, Sunnati, Armi Amanda Daulay

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala

Abstrak
Usia puncak pertumbuhan anak merupakan masa peralihan antara masa anak-anak hingga menuju
masa dewasa yang meliputi perubahan biologis, kognitif dan sosial emosional. Maloklusi adalah suatu
anomali yang menyebabkan gangguan fungsi oral dan estetika serta memerlukan perawatan jika sudah
mengganggu fisik dan emosional. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa remaja pada usia
puncak pertumbuhan yang mengalami maloklusi gigi anterior akan berdampak negatif terhadap status
psikososial remaja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dampak karakteristik maloklusi gigi
anterior terhadap status psikososial (studi kasus pada usia puncak pertumbuhan di Sekolah Menengah
Pertama (SMP) Negeri Banda Aceh dengan menggunakan indeks PIDAQ). Jenis penelitian ini adalah
observasional analitik dan penelitian ini dilakukan di SMP Negeri dengan total subjek 279 siswa.
Subjek diberikan kuisioner PIDAQ untuk mengetahui dampak karakteristik maloklusi gigi anterior
terhadap status psikososial. Hasil uji Wilks’ Lamda menunjukkan dampak signifikan karakteristik
maloklusi gigi anterior terhadap status psikososial pada usia puncak pertumbuhan, diperoleh nilai
p=0,003 (p<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan adanya dampak karakteristik
maloklusi gigi anterior berdasarkan tingkat keparahannya terhadap status psikososial pada usia puncak
pertumbuhan.
Kata kunci: maloklusi, protrusif, PIDAQ

Abstract
The growth spurt of children is transition period between the time of children to go to adulthood which
covers the biological changes, social and cognitive emotional. Malocclusion is an anomaly that cause
disorders of oral function and aesthetics and requires maintenance if it interferes physical and
emotional. Various researches have proved that teenagers on the growth spurt that experience anterior
teeth malocclusion will have a negative impact on the psychosocial status of teenagers. The purpose of
this research was to find out the influence of the characteristics of the anterior teeth malocclusion to
psychosocial status (case study on the age of growth spurt of the Junior High School by using the
PIDAQ index). Type of this research was observational analytic and this research was done in the
Junior High School in Banda Aceh with subject total was 279 students. The subject was given the
questioner PIDAQ to know the impact of characteristics of anterior teeth malocclusion to psychosocial
status. Wilks’ Lamda test results show the significant impact of malocclusion characteristics on
psychosocial status at the growth spurt, the value of p=0,003 (p< 0,03). Conclusions, the impact of
malocclusion characteristics based on the severity on psychosocial status at the growth spurt.
Keywords: Malocclusion, protrusif, PIDAQ

73
Cakradonya Dent J 2017; 9(2):73-78

PENDAHULUAN perkembangan kognitif yang berkaitan dengan


Maloklusi merupakan suatu kemampuan belajar serta kemampuan untuk
permasalahan penting yang sering terjadi di mengingat. Aspek sosial merupakan
dunia. Hal ini terlihat dari efek yang kemampuan yang dimiliki seseorang untuk
ditimbulkan dari maloklusi, yakni tidak hanya menjalin hubungan dengan orang lain.6 Pada
berdampak pada fungsi oral dan tampilan saat terjadinya interaksi sosial, salah satu
estetika wajah, tetapi juga berdampak pada faktor yang mempengaruhi keadaan
ekonomi, sosial, dan psikososial.1 Maloklusi psikososial seseorang adalah estetika gigi
dipengaruhi oleh ketidakseimbangan antara geligi.7 Pada saat melakukan interaksi social
ukuran gigi-geligi dan ukuran rahang atas dan pertama kali yang terlihat adalah tampilan
rahang bawah, kebiasaan buruk, herediter, wajah seseorang. Senada dengan penelitian
kerusakan perkembangan, malnutrisi, trauma, Delcides et al (2009) menyimpulkan bahwa
dan penyakit periodontal.2 Gangguan tersebut tingkat keparahan maloklusi yang semakin
terjadi saat proses perkembangan embrio, tinggi berdampak terhadap perkembangan
pertumbuhan skeletal, disfungsi otot dan status sosial anak remaja di Brazil.7
hipertropi mandibula.3 Berdasarkan penelitian Arsie (2012) yang
Maloklusi dan perubahan bentuk gigi dilakukan di Jakarta terhadap 173 subjek
akan mempengaruhi penampilan wajah secara penelitian menunjukkan bahwa adanya
umum sehingga pada saat melakukan interaksi hubungan antara maloklusi gigi anterior
sosial akan merasa kurang percaya diri dan dengan status psikososial anak remaja.8
berdampak pada kualitas hidupnya seseorang.4 Beberapa literatur menyatakan bahwa
Beberapa masalah maloklusi yang terjadi pada usia puncak pertumbuhan menurut Rakosi
banyak individu seperti gigi anterior protrusif, (1993) pada laki-laki terjadi di usia 12-14
diastema dan gigi crowding. Gigi yang tahun dan perempuan pada usia 10-12 tahun.1,2
protrusif dapat mempengaruhi kejelasan bicara Menurut Djahwat usia 12-14 tahun ini setara
seseorang, terutama pengucapan huruf seperti dengan usia siswa menengah pertama di
huruf p, b dan m, diastema dan crowding Indonesia.6 Oleh karena itu, penulis tertarik
dapat menurunkan estetika wajah seseorang ingin menggali lebih dalam mengenai
selain dapat mengganggu fungsi pengunyahan karakteristik maloklusi gigi anterior terhadap
dan fungsi bicara.1,2 Pada usia anak remaja status psikososial remaja SMP Negeri Banda
memiliki kecenderungan untuk lebih Aceh.
memperhatikan penampilan, terutama dari segi
penampilan wajah. Tampilan wajah ini dapat BAHAN DAN METODE
dipengaruhi oleh karakteristik maloklusi gigi Penelitian ini menggunakan metode
anterior yang menyebabkan rasa malu karena observasional analitik untuk mengkaji dampak
maloklusi dianggap suatu kecacatan fisik.5 karakteristik maloklusi gigi anterior
Masa remaja merupakan masa yang berdasarkan tingkat keparahannya terhadap
mengalami banyak perubahan, dimana remaja status psikososial (studi pada usia puncak
ingin lebih diperhatikan, baik dari segi pertumbuhan di SMP Negeri Banda Aceh
penampilan maupun aspek lainnya. Menurut menggunakan indeks Pidaq) dengan desain
Jhon (2003) masa remaja merupakan suatu penelitian cross-sectional.
masa transisi yang dialami oleh anak remaja Pengumpulan data kuisioner dengan
pada usia perkembangan antara masa anak- penilaian berdasarkan pertanyaan dari
anak dan masa dewasa yang meliputi kuisioner PIDAQ yang terdiri dari 23
perubahan kognitif, biologis dan perubahan pertanyaan. Setiap pertanyaan diisi
sosial emosional. Hal ini senada dengan menggunakan skala Likert, yaitu 0 untuk
pernyataan Sarlito (2001) bahwa usia anak jawaban tidak setuju, 1 untuk jawaban netral, 2
remaja merupakan masa peralihan antara masa untuk jawaban setuju. Setelah selesai pengisian
anak-anak hingga menuju masa dewasa yang seluruh pertanyaan dari kuisioner maka
meliputi perubahan biologis, kognitif, dan dijumlahkan total skor untuk pertanyaan dari
sosial emosional.6 masing-masing subjek (gigi protrusif) jika skor
Psikososial terdiri dari dua aspek yang 0-23 dikategorikan tidak berpengaruh, jika
merupakan aspek psikososial dan aspek sosial. skor 24-46 dikategorikan berpengaruh.
Aspek psikososial sangat berkaitan dengan Subjek yang telah terpilih kemudian
perkembangan emosi seseorang dengan dilakukan pengukuran overjet pada kasus

74
Cakradonya Dent J 2017; 9(2):73-78

protrusif dengan menggunakan probe pada saat Tabel 2. Kasus Maloklusi Gigi Anterior Remaja
oklusi sentrik. Kasus diastema dilakukan Maloklusi Jumlah Persentase
No
pengukuran antara jarak yang terdapat pada Anterior (N) (%)
gigi anterior dengan menggunakan probe, 1. Gigi 66 23,7%
kemudian dilakukan pencetakan rahang untuk 2. diastema 32 11,5%
menghitung derajat keparahan crowding 3. Gigi 181 64,9%
protrusif
anterior, setelah dilakukan pencetakan rahang
Gigi
maka hasil cetakan masing-masing gigi akan crowding
diukur dengan menggunakan jangka sorong.
Jumlah 279 100,0%
Setelah itu dilakukan pengelompokan Sumber : hasil olahan data primer, 2015
keparahan maloklusi pada tiap-tiap kasus.
Data yang telah diperoleh dari ketiga Pada Tabel 2. dari jumlah subjek SMP
kelompok dianalisis dengan menggunakan Negeri Kota Banda Aceh tahun 2015 sebanyak
SPSS dan dilakukan analisis Wilks’ Lamda 279 orang maka jumlah maloklusi yang paling
untuk menganalisis dampak dari ketiga banyak adalah crowding yakni sebanyak
variabel protrusif, diastema dan crowding 64,9%.
terhadap status psikososial. Pengambilan
keputusan ada tidaknya hubungan berdasarkan Tabel 3. Pengaruh Dampak Karakteristik Maloklusi
nilai probabilitas. Apabila nilai probabilitas Terhadap Status Psikososial.
(p<0,05). Jumlah Persentase
No Psikososial
(N) (%)
HASIL 1. Berpengaruh 258 92,5
Penelitian tentang dampak karakteristik 2. Tidak 21 7,5%
maloklusi gigi anterior berdasarkan tingkat Berpengaruh
keparahannya terhadap status psikososial ini Jumlah 279 100,0%
dilakukan pada bulan Oktober di lima belas Sumber : hasil olahan data primer, 2015
SMP Negeri Kota Banda Aceh. Siswa yang
dijadikan subjek penelitian adalah murid Tabel 4. Maloklusi Gigi Anterior Berdasarkan
kelas VII dari total subjek 279 siswa-siswi Tingkat Keparahannya
yang mengalami karakteristik maloklusi. Status Psikososial dengan Kasus
Berdasarkan hasil penelitian pada SMP Maloklusi Anterior
No. Kategori
Negeri di Kota Banda Aceh, diperoleh Diastema Protrusif Crowding Total (%)
gambaran mengenai karakteristik responden,
70
disajikan pada tabel berikut: 1 Ringan 17 (25,8%) 6 (18,8%) 47 (26,6%)
(25,1%)
Pada Tabel 1. dapat dilihat bahwa 124
2 Sedang 49 (74,2%) 25(78,1%) 50(27,6%)
jumlah siswa laki-laki yang mengalami (44,4%)
maloklusi lebih banyak dari pada perempuan, 85
3 Berat 0 (0%) 1(3,1%) 84(46,4%)
atau dengan perbandingan 54,1:45,9%. Jika (30,5%)
dilihat dari tingkat umur, maloklusi yang Jumlah 66 32 181 279
paling banyak terdapat pada usia 12 tahun (%) (100%) (100%) (100%) (100%)
sebanyak 69%.
Tabel 1. Karakteristik Responden. Tabel 5. Dampak Maloklusi Dengan Status
No Karakteristik
Jumlah Persentase Psikososial Pada Anak Usia Puncak Pertumbuhan
(N) (%) Psikososial
1 Jenis Kelamin Karakteri
s Tidak Total Nilai p
Perempuan 128 45,9% tik Berpengaruh Berpengaru
Laki-laki 151 54,1% Maloklusi h
Jumlah 279 100,0% Anterior F % F % F %
2 Umur
10 tahun 1 0,4% Gigi 95, 10
63 3 4,5 66
diastema 5 0
11 tahun 15 5,4%
Gigi 93, 10
12 tahun 194 69,5% protrusif
30
8
2 6,3 32
0
0,003
13 tahun 58 20,8% *
Gigi
14 tahun 11 3,9% 16 91, 18 10
crowdin 16 8,8
5 2 1 0
Jumlah 279 100,0% g
Sumber : hasil olahan data primer, 2015 Keterangan: *Uji Wilks’ Lamda; p<0,05

75
Cakradonya Dent J 2017; 9(2):73-78

Tabel 6. Dampak Maloklusi Gigi Anterior Dengan karakteristik maloklusi protrusif berdasarkan
Status Psikososial Pelajar tingkat keparahannya terhadap status
No Jenis Arah Nilai psikososial pada usia puncak pertumbuhan.
Spearman
Maloklusi Korelasi p
1 Diastema -0,088 - 0,428
Pada penelitian ini kasus protrusif berat
2 Protrusif 0,219 + 0,228 hanya 1 kasus (3,1%).
3 Crowding 0,546 + 0,000* Pada variabel crowding didapatkan
Keterangan: *signifikan (p<0,05) nilai korelasi Spearmen 0,546 dengan arah
korelasi positif. Arah korelasi positif berarti
Dari jumlah subjek SMP Negeri kota searah, semakin besar nilai suatu variabel,
Banda Aceh tahun 2015 sebanyak 279 orang semakin besar nilai variabel lainnya. Semakin
maka jumlah karakteristik maloklusi gigi besar skor dari kasus crowding maka dampak
anterior hampir semua berpengaruh terhadap psikososialnya semakin besar, yang
status psikososial pada usia puncak ditunjukkan juga dengan nilai
pertumbuhan yaitu 92,5%:7,5%(Tabel 3.) p=0,000(p<0,05) yang berarti terdapat
Pada kasus diastema, kategori dengan nilai dampak karakteristik maloklusi crowding
paling banyak terdapat pada kategori sedang berdasarkan tingkat keparahannya terhadap
yaitu 74,2%. Pada kasus protrusif, kategori status psikososial pada usia puncak
dengan nilai yang paling banyak terdapat pada pertumbuhan. Arah korelasi crowding adalah
kategori sedang yaitu 78,1%. Sedangkan pada 0,546 hal ini menunjukkan bahwa semakin
kasus crowding nilai yang paling banyak tinggi nilai skor kasus crowding maka
terdapat pada kategori berat yaitu 46,4%(Tabel semakin besar dampak terhadap status
4). Berdasarkan hasil uji Wilks’ Lamda pada psikososialnya dan kekuatan korelasi
tabel 5. menunjukkan dampak karakteristik spearmen dengan nilai p=0,000 yaitu sangat
maloklusi terhadap status psikososial pada usia lemah (0,00-0,199).
puncak pertumbuhan, diperoleh nilai p=0,003
(p<0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat PEMBAHASAN
perbedaan dampak karakteristik maloklusi gigi Penelitian ini dilakukan pada SMP
anterior berdasarkan tingkat keparahannya Negeri di kota Banda Aceh sebanyak 15
terhadap status psikososial pada usia puncak sekolah dengan rentang usia anak perempuan
pertumbuhan di SMP Negeri Banda Aceh. 10-12 tahun dan anak laki-laki pada usia 12-14
Berdasarkan tabel 6. untuk variabel tahun. Jumlah subjek dalam penelitian ini
diastema didapatkan nilai korelasi Spearman sebanyak 279 orang. Pada penelitian ini indeks
sebesar -0.088 dengan arah korelasi negatif. PIDAQ dapat digunakan sebagai alat untuk
Arah korelasi negatif berarti berlawanan arah mengukur dampak status psikososial anak usia
semakin besar nilai suatu variabel, semakin puncak pertumbuhan di SMP Negeri Banda
kecil nilai variabel lainnya. Semakin besar skor Aceh dari kualitas hidup dan estetika gigi yang
dari kasus diastema maka dampak terhadap berkaitan dengan kesehatan gigi dan mulut.
status psikososialnya juga semakin kecil, hal Kuisioner ini berisikan 23 butir pertanyaan
ini ditunjukkan dengan memperoleh nilai yang terdiri dari 6 butir pertanyaan mengenai
p=0,428 (p>0,05) yang berarti tidak terdapat dental self confident, 6 butir pertanyaan
dampak yang signifikan terhadap status mengenai dampak psikologis, 8 butir
psikososial pada usia puncak pertumbuhan. pertanyaan mengenai aspek sosial serta 3 butir
Pada penelitian ini dari jumlah subjek pertanyaan mengenai dampak estetika.
penelitian sebanyak 66 orang yang mengalami Pada Tabel 1. menunjukkan distribusi
kasus diastema tidak ditemukan diastema data primer mengenai jenis kelamin dan umur
berat. pada setiap subjek. Tabel tersebut
Untuk variabel protrusif didapatkan menunjukkan keadaan maloklusi pada laki-laki
nilai korelasi Spearman 0,219 dengan arah memiliki jumlah lebih banyak daripada jumlah
korelasi positif. Arah korelasi positif berarti perempuan (54,1%:45,9%). Hal ini sejalan
searah, semakin besar nilai suatu variabel, dengan penelitian Liling (2013) yang
semakin besar nilai variabel lainnya. Semakin mengatakan bahwa jumlah maloklusi laki-laki
besar skor dari kasus protrusif maka dampak lebih banyak dibandingkan perempuan.9
psikososialnya semakin besar. Hasil uji Pada karakteristik umur terlihat
korelasi Spearman didapat nilai p=0,228 frekuensi yang tertinggi adalah pada anak usia
(p>0,05) yang berarti tidak terdapat dampak 12 tahun yaitu sebanyak 69,5% dan sebaran

76
Cakradonya Dent J 2017; 9(2):73-78

umur tidak merata. Hal ini disebabkan pada Makassar.9 Pada penelitian ini ditemukan
saat melakukan penelitian, peneliti berfokus bahwa protrusif tidak memiliki dampak
pada pengambilan kriteria subjek berdasarkan terhadap status psikososial bisa disebabkan
maloklusi subjek dan kurang memperhatikan karena hanya 1 kasus protrusif berat yang
sebaran umur (tapi tetap sesuai kriteria ditemukan pada subjek penelitian (3,1%),
inklusi). sehingga pada saat dilakukan uji statistik
Pada Tabel 2. maloklusi gigi anterior ditemukan hasil yang tidak signifikan.
yang paling banyak adalah crowding sebanyak Crowding merupakan kasus maloklusi
64,9% diikuti oleh diastema dan protrusif. Hal gigi anterior yang paling berpengaruh terhadap
ini sejalan dengan hasil penelitian Natalia status psikososial anak usia puncak
(2008) yang menunjukkan bahwa jenis pertumbuhan di SMP Negeri Banda Aceh
maloklusi yang paling banyak dijumpai adalah dengan memiliki nilai korelasi positif.
crowding.10 Crowding merupakan salah satu kasus prioritas
Berdasarkan hasil uji Wilks’ Lamda untuk dilakukan perawatan orthodonti sebab
pada Tabel 4., menunjukkan adanya dampak crowding dapat menyebabkan penumpukan
signifikan (p<0,05) maloklusi gigi anterior plak lebih mudah dan sulit dibersihkan
terhadap status psikososial pada usia puncak sehingga dapat menyebabkan karies serta
pertumbuhan. Hal ini dapat disebabkan pada kerusakan tulang. Selain mempengaruhi dari
anak usia puncak pertumbuhan yang sistem stomatognati, crowding juga dapat
merupakan masa remaja banyak mengalami berpengaruh terhadap status psikososial anak
perubahan, dimana remaja ingin lebih usia remaja. Hal ini sejalan dengan penelitian
diperhatikan, baik dari segi penampilan Bernabe et al dengan kasus gigi anterior atas
maupun aspek lainnya. Menurut Jhon (2003) yang berjejal sering menimbulkan reaksi
masa remaja merupakan suatu masa transisi psikososial yang negatif terhadap kualitas
yang dialami oleh anak remaja pada usia hidup.12 Marques et al (2009) juga mengatakan
perkembangan antara masa anak-anak dan bahwa sebagian besar remaja usia 14-18 tahun
masa dewasa yang meliputi perubahan menganggap bahwa maloklusi mempengaruhi
kognitif, biologis dan perubahan sosial estetik gigi anterior.13
emosional.6 Hal ini sejalan dengan penelitian Penilaian tentang dampak karakteristik
Liling (2013) yang menemukan hubungan maloklusi gigi anterior dengan keterbatasan
antara kasus maloklusi gigi anterior dengan dari penelitian ini terdapat jumlah subjek yang
status psikososial pada pelajar SMP di tidak merata, sehingga tidak dapat secara
Makassar. Penelitian Liling dilakukan pada penuh mendukung penelitian ini dan alat ukur
anak remaja atau anak usia puncak dampak psikososial yaitu kuisioner PIDAQ
pertumbuhan berkisar 12-14 tahun.9 yang menggunakan skala Likert digunakan
Pada hasil penelitian ini ketika diuji untuk mengukur sikap, persepsi dan pendapat
satu-persatu antara maloklusi gigi anterior seorang mengenai suatu fenomena.
terhadap dampak psikososial ditemukan bahwa
diastema tidak memberikan dampak terhadap KESIMPULAN DAN SARAN
status psikososial, dengan arti bahwa diastema Berdasarkan penelitian ini dapat
tidak dianggap menganggu bagi anak usia disimpulkan bahwa karakteristik maloklusi
puncak pertumbuhan di lima belas SMP gigi anterior berdasarkan tingkat keparahannya
Negeri Kota Banda Aceh. Hal ini tidak sejalan memiliki dampak terhadap status psikososial
dengan penelitian Johal et al (2006) tentang pada usia puncak perumbuhan di SMP Negeri
pengaruh karakteristik gigi yang bercelah Banda Aceh menggunakan indeks PIDAQ.
terhadap kehidupan sehari-hari, dimana Penelitian lebih lanjut diperlukan
keadaan gigi bercelah (diastema) berdampak dengan melakukan penelitian tentang
negatif bagi remaja.11 hubungan kasus maloklusi gigi anterior dengan
Untuk variabel gigi anterior protrusif, status psikososial berdasarkan perbedaan
pada penelitian ini juga tidak ditemukan tingkat pendidikan di Kota Banda Aceh.
dampak terhadap psikososial. Hal ini berbeda
dengan hasil penelitian Liling (2013) yang DAFTAR PUSTAKA
menemukan bahwa maloklusi protrusif 1. Proffit, WR, Henry, WF, David MS.
merupakan kasus yang paling berpengaruh Contemporary Orthodontics. 4thed.
terhadap status psikososial usia anak remaja di Canada: Mosby inc. 2007. p. 16.

77
Cakradonya Dent J 2017; 9(2):73-78

2. Balajhi, SI. Orthondontics The Art and 9. Liling DT. Hubungan Kasus Maloklusi
Sience. 3rd ed. New Delhi: Arya (MEDI) Gigi Anterior dengan Status Psikososial
Publishing House. 2006: 70-7. pada Pelajar SMP di Jakarta Makassar.
3. Bishara SE. Text Book of Orthodontics Makassar; FKG UNHAS. 2013.Skripsi.
Philadelphia: WB; Sounders Company. 10. Natalia. Perbedaan Dampak Maloklusi
2000: 90-2. Anterior terhadap Status Psikososial
4. Cavalcanti AL, Santos JAD, Aguiar Menggunakan Indeks PIDAQ SMA
YPC, Xavier AFC, Moura C. Global Prima Nasional Plus dan
Prevalence and Severity of Malocclssion Pangeran Antasari; FKG USU. Skripsi
in Brazlian Adolescents Using the 11. Johal A, Cheung MY, Marcene W. The
Dental Aeshetic Index (DAI). Review Impact Of Two Different Malocclusion
Article Orth OA 2013; 33(3): 474-9. Traits On Quality of Life. British Dent
5. De Paula, Junior DF, Santos NC, Da 2007; 202:(2): 2-3
Silva ET, Nunes MF, Leles CR. 12. Bernabe E, Sheiham A, Oliveira CMD.
Psychosocial of Dental Esthetics on Condition Specific Impacts on Quality of
Quality of Life in Adolescent. J Ang life Attributed To Malocclussion by
Orthod 2009; 79(6): 1188-93. Adolescents with normal occlusion and
6. Suryani L, Syahnizar, Zikra. Class I, II, and III Maloclussion. Angle
Penyesuaian Diri pada Masa Pubertas. J Orthodontist 2008; 78(6): 977-982
Ilmiah Kons 2012; 1(2): 136-40. 13. Marques LS, Filogonia CA, Filogonia
7. Sharif Z, Roslan NM. Faktor- Faktor CB, Pereira LJ, Pordeus IA, Paiva SM,
yang Mempengaruhi Remaja Terlibat Jorge RML. Aesthetic Impact Of
dalam Masalah Sosial di Sekolah Tunas Malocclusion In The Daily Living Of
Bakti, Sungai Lereh, Melaka. J Edu Brazilian Adolescents. J of Orthod 2009;
Psych 2011; 1: 115-40. 36(3): 152-162.
8. Ninda PN, Margaretha R. Hubungan
Kekerasan Emosional pada Anak
terhadap Kecenderungan Kenakalan
Remaja. J Psikologi Klinis dan
Kesehatan Mental 2012; 1: 1-8.

78