Anda di halaman 1dari 12

52

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian Siklus Pertama

1. Persiapan Pembelajaran

a. Menelaah kurikulum Akidah Akhlak tentang “Memahami Dasar

dan Tujuan Akidah Akhlak dengan Penerapan Belajar Tuntas (Mastery

Learning) yang akan dibahas.

b. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 1 dengan

penerapan Belajar Tuntas (Mastery Learning).

c. Menyiapkan materi yang akan dibahas.

d. Membuat instrumen yang akan digunakan dalam pembelajaran

(lembar observasi, panduan diskusi)

e. Membuat instrumen untuk evaluasi hasil belajar siswa.

2. Proses Pembelajaran dengan Menggunakan Mastery Learning

a. Kegiatan Awal

Guru dalam memulai kegiatan awalnya dengan melakukan apersepsi dan

pretest. Apersepsi sangat baik sekali untuk dilakukan oleh setiap guru dalam

kegiatan pembelajaran, khususnya dalam bidang Akidah Akhlak karena bahan ajar

Akidah Akhlak yang sudah dipelajari peserta didik akan ditemui pada bahan ajar

yang akan dipelajarinya. Menurut Djamarah (2002: 76) bahwa apersepsi bukan

hanya membantu anak didik untuk melakukan asosiasi, tetapi juga dapat

mengadakan reproduksi terhadap pengalaman belajar. Berdasarkan pendapat ini,


53

guru berusaha membantu peserta didik dengan cara menghubungkan pelajaran

yang sedang diberikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik

secara fisik maupun mental. Dengan demikian, proses pengolahan kesan lebih

mudah dan cepat serta pengertian yang didapatkan peserta didik pun tidak

terkotak-kotak, seolah-olah terpisah satu sama lain. Pada tahap ini dilakukan lima

menit pertama pembelajaran, guru mencoba untuk mengukur kesiapan peserta

didik dalam mempelajari bahan pembelajaran hari itu dengan pengalaman-

pengalaman sebelumnya yang sudah mereka miliki dan diperlukan sebagai

prerequisite untuk memahami bahan-bahan pada hari itu.

Adapun pretest, urgensi sekali untuk dilakukan guru untuk mengetahui

apakah peserta didik sudah ataukah belum memiliki jenis perilaku yang hendak

dikembangkan. Sangat mungkin kemampuan peserta didik jauh lebih besar

daripada dugaan guru. Kalau hal itu terjadi maka waktu berminggu-minggu akan

terbuang sia-sia karena peserta didik menerima bahan ajar yang sudah

diketahuinya. Demikian pula seringkali pengetahuan peserta didik jauh lebih

sedikit daripada yang diperkirakan.

Hal-hal tersebut sejalan dengan pendapat Muslich (2007: 60) bahwa

kegiatan awal biasanya diisi dengan mengemukakan hal-hal yang menarik minat

peserta didik untuk belajar, membahas ulang pengetahuan prasyarat, atau

menyampaikan informasi awal atau penjelasan tugas secara klasikal. Dengan

demikian pengetahuan prasyarat betul-betul dengan dengan konsep baru yang

dipelajari.
54

Selain dari itu, penilaian pendahuluan sangat berguna untuk memastikan

bahwa peserta didik belum memiliki perilaku yang dimaksudkan dalam tujuan

yang hendak dicapai melalui pembelajaran. Kemudian, jika sesudah pengajaran

diketahui bahwa peserta didik dapat berperilaku seperti yang telah ditentukan,

maka pembelajaran tersebut pantas untuk dihargai karena telah terjadi perubahan

pada perilaku peserta didik.

b. Kegiatan Pembelajaran

Sebenarnya dalam Bab II telah disebutkan bahwa yang membedakan

Mastery Learning dengan pembelajaran biasa adalah pelaksanaan tes secara

teratur untuk memperoleh balikan terhadap bahan pembelajaran yang diajarkan.

Peserta didik baru melangkah pada pelajaran berikutnya apabila benar-benar telah

menguasai pelajaran sebelumnya dan pelayanan bimbingan dan penyuluhan

terhadap anak didik yang gagal. Oleh karena itu pada prinsipnya strategi

pelaksanaannya menggunakan strategi pembelajaran konvensional. Maka dengan

demikian, pelaksanaan strategi Mastery Learning merupakan perpaduan dengan

pembelajaran konvensional. Sepanjang pengetahuan penulis, strategi Mastery

Learning telah diterapkan dalam Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, Kurikulum

Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Metode yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran pokok bahasan

adalah memahami dasar dan tujuan akidah Islam pada metode-metode yang

digunakan selama ini, padahal metode pembelajaran banyak sekali. Memang

dengan metode-metode pembelajaran yang disebutkan pada Bab III efektif untuk

pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah Al-Mardliyah Garut.


55

Menurut Dede Afif Mustafa dan Asep Saefullah Yasin, bahwa metode

yang lain akan dicoba digunakan pada tahun pembelajaran yang akan datang, baik

di kelas VII, VIII maupun kelas IX demi meningkatnya mutu pembelajaran

Akidah Akhlak pada khususnya dan umumnya di bidang yang lain. Selain dari itu,

bahwa rencana kegiatan pembelajaran pun harus dirubah sehingga memakan

waktu yang panjang. Walaupun demikian pemilihan metode pembelajaran Akidah

Akhlak sudah memperhatikan faktor-faktor yang diungkapkan oleh Usman yaitu

tujuan, kemampuan guru, peserta didik, situasi dan kondisi, fasilitas dan kebaikan

serta kekurangan metode pembelajaran.

Guru sebagai perancang pelaksanaan pembelajaran melaksanakan kegiatan

pembelajaran sesuai dengan apa yang telah direncanakan dalam RPP (Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran), baik dalam kegiatan pembelajaran mendengarkan,

berbicara, membaca maupun menulis. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan

dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan dalam waktu mencapak

SKBM atau kontrak kreja setiap guru bidang studi. Adapun SKBM setiap bidang

studi agama adalah sebagai berikut:

Tabel 1
SKBM/Kontrak Guru Setiap Bidang Studi

No Bidang Studi SKBM Keterangan


1. Quran Hadits 76 Semua SKBM ditentukan di awal tahun
pelajaran dengan setiap guru bidang studi
2. Akidah Akhlak 75
3. Fiqih 77
4. SKI 76
5. Bahasa Arab 76
56

Tabel di atas menunjukkan bahwa Standar Ketuntasan Belajar Mengajar

(SKBM) bidang Akidah Akhlak di bawah mata pelajaran Quran Hadits, Bahasa

Arab, Fiqih dan SKI. Berdasarkan wawancara dengan guru Akidah Akhlak,

SKBM tersebut peningkatan-peningkatan secara berkala setiap tahun pelajaran. H

al ini menunjukkan bahwa kemungkinan untuk tahun pelajaran yang akan datang

dalam bidang agama, khususnya Akidah Akhlak melebihi SKBM yang terdapat

dalam tabel tersebut.

c. Kegiatan evaluasi

Setelah diadakan penilaian/ evaluasi terhadap proses kegiatan

pembelajaran maka akan didapat seberapa jauh peserta didik dalam mencapai

tujuan dan bahan pembelajaran yang telah dikuasainya. Ketuntasan peserta didik

di Madrasah Tsanawiyah Al-Mardliyah untuk bidang Akidah Akhlak sebagaimana

dikemukakan pada bab sebelumnya adalah 75%. Berdasarkan wawancara dan

dibuktikan dengan nilai ketuntasan belajar peserta didik, bahwa ketuntasan

tersebut berubah-ubah sesuai dengan kontrak kerja setiap guru bidang studi.

Adapun kontrak kerja atau Standar Ketuntasan Belajar Mengajar (SKBM) Akidah

Akhlak di Madrasah Tsanawiyah Al-Mardliyah, sebagai berikut:

Tabel 2

Standar Ketuntasan Bidang Akidah Akhlak Kelas VII Mts. Al-Mardliyah

Garut

No Tahun Pelajaran SKBM Keterangan


1. 2004-2005 60
2. 2005-2006 65
3. 2006-2007 70
57

4. 2007-2008 75
Data diperoleh dari Dokumentasi Guru Akidah Akhlak

Memperhatikan data-data tersebut, ternyata guru dapat meningkatkan

penguasaan peserta didik dengan menggunakan strategi belajar tuntas (Mastery

Learning). Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya SKBM setiap tahun

pembelajaran untuk bidang Akidah Akhlak.

3. Penyerapan Peserta Didik dalam Kegiatan Pembelajaran Akidah

Akhlak dengan Strategi Mastery Learning

Setelah guru mengungkapkan tujuan pembelajaran yang harus dicapai

peserta didik dan target penguasaan pembelajaran Akidah Akhlak, maka peserta

didik siap untuk mengikuti pembelajaran. Hal ini dibuktikan dengan peserta didik

apabila memulai kegiatan pembelajaran mengucapkan basmalah dan berdoa,

mempersiapkan alat-alat belajar tanpa disuruh oleh guru, memberitahukan kepada

guru tentang Pekerjaan Rumah (PR) sudah dikerjakan, bahkan di antara peserta

didik sebagian besar sudah mengenal materi pembelajaran yang akan

dipelajarinya. Selain itu, peserta didik ketika ditanya kaitannya pembelajaran yang

telah lalu dengan yang akan dipelajari pada jam pelajaran tersebut, mereka

mencoba menjawabnya dengan antusias.

Peserta didik sebelum kegiatan pembelajaran Akidah Akhlak sudah

mempersiapkan diri. Bahan ajar Akidah Akhlak yang akan dipelajari, sudah

diinformasikan guru pada proses pembelajaran yang telah lalu ada dalam buku

catatan mereka. Ini menandakan bahwa semua peserta didik sudah siap untuk

mengikuti kegiatan pembelajaran. Menurut penuturan beberapa peserta didik


58

bahwa sebelum kegiatan pembelajaran, bahan ajar Akidah Akhlak sudah

ditulisnya dan dipelajarinya di rumah, karena mereka takut tidak mencapai target

belajar tuntas 75. Selain itu, karena peserta didik kelas VII MTs. Al-Mardliyah

berasal dari desa-desa terpencil sehingga menuju ke sekolah itu terkadang

memakan tenaga dan ongkos yang tidak sedikit, maka mereka lebih baik

mempelajari bahan ajar yang akan dipelajari di rumah dengan cara bertanya

kepada guru ngaji atau kakak kelas mereka.

Kesiapan peserta didik untuk mempelajari bahan ajar dibuktikan ketika

guru bertanya bahan ajar yang telah lalu sebagai apersepsi, semua peserta didik

dapat menjawabnya dengan baik dan mendengarkan hubungannya dengan bahan

ajar yang akan dipelajari.

Kegiatan selanjutnya peserta didik menjawab pertanyaan guru sebagai tes

awal atau pretest. Tidak semua bahan ajar yang akan dipelajari dapat dijawab

dengan benar, bahkan peserta didik tidak bisa menjawab sama sekali, maka

peserta didik siap bersama-sama guru untuk mempelajari bahan ajar Akidah

Akhlak sesuai dengan yang telah direncanakan guru.

Kesiapan peserta didik dalam pembelajaran dibuktikan dalam proses

pembelajaran. Peserta didik aktif dalam proses pembelajaran dengan

menggunakan Mastery Learning. Peserta didik berusaha mengikuti langkah-

langkah pembelajaran yang telah ditentukan guru.

Kegiatan evaluasi bagi peserta didik MTs. Al-Mardliyah merupakan hal

yang penting. Kegiatan ini akan menentukan waktu penguasaan (Mastery

Learning) terhadap bahan ajar dan tujuan yang telah dirumuskan oleh guru.
59

Dalam kegiatan evaluasi ini siswa dengan sungguh-sungguh mengikuti kegiatan

ini, agar mereka mencapai target ketuntasan yang telah ditentukan guru.

Kegiatan evaluasi ini sebagai penentu mana peserta didik yang perlu

mendapatkan pelayanan khusus, tugas tambahan, perlakuan tutor sebaya atau

pembelajaran kembali. Perlakuan tersebut yang jarang diperlakukan adalah

pembelajaran kembali. Hal ini disebabkan karena peserta didik setelah mengikuti

penilaian akhir lebih dari 80% yang mencapai nilai 75.

Berdasarkan wawancara dengan peserta didik yang nilainya belum

mencapai target 75, mereka merasa belum puas dengan nilai yang diraihnya. Oleh

karena itu mereka berupaya meningkatkan nilainya itu lebih dari 75 bahkan

mencapai target maksimal yaitu 100.

Bagi peserta didik yang sudah mencapai target minimal mendapatkan

program pengayaan agar mereka ketika mengikuti ulangan tengah semester atau

akhir semester nilainya tidak mendapat nilai batas minimal, tapi nilai maksimal.

Kegiatan peserta didik dengan menggunakan strategi Mastery Learning

yang ditopang oleh berbagai kegiatan peserta didik yang positif dalam proses

pembelajaran, maka penyerapan terhadap tujuan pembelajaran atau yang dikenal

dengan kompetensi dapat tercapai oleh peserta didik, sehingga mereka

bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran Akidah Akhlak.

B. Hasil Penelitian Siklus Kedua

1. Kegiatan Siklus II

Waktu Pelaksanaan :
60

Hari/Tanggal : 06 Agustus 2009

Kelas : VII/A

Standar Kompetensi : Memahami Dasar dan Tujuan Akidah Islam

Kompetensi Dasar : Menjelaskan Dasar dan Tujuan Akidah Islam

Perencanaan :

1) Menelaah kurikulum Akidah Akhlak tentang ”Memahami Dasar

dan Tujuan Akidah Islam” dengan penerapan Belajar Tuntas (Mastery

Learning) yang akan dibahas.

2) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 2 dengan

penerapan Belajar Tuntas (Mastery Learning).

3) Menyiapkan materi yang akan dibahas.

4) Membuat instrumen yang akan digunakan dalam pembelajaran.

5) Membuat instrumen untuk evaluasi hasil belajar siswa.

2. Proses Pembelajaran dengan Menggunakan Mastery Learning

a. Kegiatan Awal

1) Memberi salam dan memulai pembelajaran dengan membaca

basmalah dan berdo’a;

2) Mengecek kehadiran siswa;

3) Menjelaskan materi yang akan diajarkan dan kompetensi yang

akan dicapai;

4) Menjelaskan metode pembelajaran yang akan digunakan dan

teknik pelaksanaannya;
61

5) Siswa menyiapkan materi pembelajaran dari buku Akidah Akhlak

atau buku lain yang relevan.

b. Kegiatan Inti

1) Menanyakan kepada siswa tentang Iman, Islam dan Ihsan.

2) Diskusi kelompok tentang ayat-ayat dalam al-Quran yang

menjelaskan tentang Iman, Islam dan Ihsan (siswa dibagi 3

kelompok).

3) Meminta kepada kelompok untuk membaca hasil diskusi tentang

ayat-ayat al-Quran yang menjelaskan tentang Iman, Islam dan Ihsan.

4) Meminta siswa untuk menghafal ayat al-Quran yang menjelaskan

tentang Iman, Islam, dan Ihsan.

5) Meminta siswa mengidentifikasi nama-nama surat dalam al-Quran

yang menjelaskan tentang sifat-sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi

Allah Swt.

6) Memberikan penguatan tentang dalil Iman, Islam dan Ihsan.

7) Membaca dan menelaah berbagai literatur untuk dapat menunjukan

dalil yang berkaitan dengan Iman, Islam dan Ihsan.

c. Kegiatan Akhir

1) Guru menunjuk beberapa siswa untuk menyebutkan atau

menjelaskan hasil pembelajaran yang telah dilakukan.

2) Guru memberikan ulasan penjelasan dan menyimpulkan hasil

pembelajaran yang telah dilakukan.


62

3) Memberikan tes hasil belajar siswa pada akhir pelajaran siklus II

selama 10 menit.

4) Menutup pembelajaran dengan membaca hamdalah dan

mengucapkan salam.

3. Pengamatan Siklus Kedua

a. Pengamatan Nilai Siswa

Data penelitian di bawah ini dibuat berdasarkan hasil tes formatif yang

diberikan peneliti pada akhir pembelajaran pra-siklus, siklus pertama

dan siklus kedua.

Tabel 3
Data Nilai Hasil Tes Formatif
Pra-Siklus, Siklus Pertama dan Siklus Kedua

Perolehan Nilai Tes Formatif


No. Nama Siswa
Pra-Siklus Siklus ke-1 Siklus ke-2
1. Abdul Holik 60 70 75
2. Ade Teti 55 65 70
3. Ahmad Solehudin 70 75 80
4. Ai Lisda N. 70 80 90
5. Aji Abdul Fauzi 60 65 80
6. Anhar Fauzan 70 80 90
7. Nasoriah Azizah 55 65 75
8. Arsal Toharudin 60 70 80
9. Bahtiar 55 65 80
10. Dewi Ratnasari 65 70 80
11. Dodi Sofyan 60 70 80
63

12. Elsa Khairunisa 65 75 80


13. Emil Kamiludin 60 70 75
14. Eni Siti W. 60 75 85
15. Eva Oktaviani 70 75 85
16. Feni Nursa’bani 60 70 85
17. Ghina Agnia 60 70 85
18. Hanip Muslim 70 80 85
19. Heri Saepullah 70 80 90
20. Irmawati 70 80 90
21. Listi Nurdayanti 56 75 80
22. Maslipah 70 70 75
23. Miftah 60 70 80
24. Moh. Dicki Dzikrullah 65 75 80
25. Mugnisah 55 65 70
26. Nati Kurniati 70 80 85
27. Neneng Kamaliah 65 75 80
28. Ninis Purwati 65 75 80
29. Nurhalinah 65 70 80
30. Ratnasari 50 95 70
31. Siva Fauziah 50 70 70
32. Sudirman 50 65 65
33. Tika Heryani 60 75 75
34. Wahyu Solehudin 70 80 90
35. Wildan Nurjamil 70 80 80
Jumlah Nilai 2195 2540 2800
Nilai Rata-rata 62,71 75,57 80,00