Anda di halaman 1dari 30

MENINGKATKAN AKTIVITAS PRESTASI BELAJAR

AQIDAH AKHLAK MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN


MASTERY LEARNING ( BELAJAR TUNTAS )
( Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VII-A MTs Al Mardliyah )

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Akhir PPG

Oleh:
NENI TRIANA
NIM: 208208407
Kelas : B

BANDUNG
2009

1
2
3

Halaman Judul

Halaman Pengesahan

Kata Pengantar

Daftar Isi

Daftar Lampiran

Abstrak

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan dan Manfaat

BAB II : KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teoritik

B. Hipotesis Tindakan

C. Analisis Penyebab

D. Kerangka Berfikir

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

1. Metode Penelitian
2. Prosedur Penelitian
4

3. Instrumen Penelitian

4. Analisis Data

5. Subjek dan Waktu Penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian Siklus Pertama


2. Hasil Penelitian Siklus Kedua

3. Hasil Penelitian Siklus Ketiga

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
5

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pembangunan nasional di bidang pendidikan merupakan bagian dari

upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia

Indonesia. Hal ini dalam rangka mewujudkan masyarakat yang damai,

demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera, yang didukung

oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman, bertaqwa, berakhlak

mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu

pengetahuan dan teknologi, serta memiliki etos kerja yang tinggi dan disiplin

dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Usaha menuju terwujudnya visi pendidikan nasional tersebut diperlukan

peningkatan dan penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan nasional, yang

sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat serta perkembangan

ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian. Dalam rangka ini pula

diberlakukan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional (Departemen Agama, 2005: 3).

Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, peran serta madrasah sangat

diperlukan, karena di samping mengajarkan sejumlah bidang ilmu


6

pengetahuan umum, juga sebagai ciri khasnya, diajarkan bidang agama Islam

yang mendalam untuk menggali ilmu pengetahuan agama.

Seperti dijelaskan oleh Ali (2004: 1), inti proses pendidikan secara

formal adalah mengajar, sedangkan inti proses pengajaran adalah peserta didik

belajar. Oleh karena itu mengajar tidak dapat dipisahkan dari belajar, sehingga

peristilahan kependidikan kita dikenal ungkapan Proses Belajar Mengajar

(PBM) atau proses pembelajaran.

Menurut Sudjana (2005: 1) ada tiga veriabel utama yang saling berkaitan

dengan strategi pembelajaran di sekolah. Ketiga variabel tersebut adalah

kurikulum, guru, dan pembelajaran atau proses belajar mengajar.

Proses pembelajaran dapat dirancang tidak hanya berinteraksi dengan

guru sebagai satu-satunya sumber belajar yang mungkin dapat dipakai untuk

mencapai hasil pembelajaran, melainkan mencakup interaksi dengan semua

sumber belajar yang mungkin dapat dipakai untuk mencapai hasil yang

bermakna.

Peserta didik dipandang dalam kegiatan pembelajaran sebagai individu

dan sosial. Setiap peserta didik memilki perbedaan minat (interest),

kemampuan (ability), kesenangan (preference), pengalaman (experience), dan

cara belajar (learning style). Peserta didik tertentu mungkin lebih mudah

belajar dengan cara mendengar dan membaca, sedangkan peserta didik lain

dengan cara melihat, dan peserta didik yang lainnya lagi belajar dengan cara

melakukan (learning by doing). Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran,

organisasi kelas, materi pelajaran, waktu belajar, alat belajar, dan cara
7

penilaian perlu disesuaikan dengan karakteristik peserta didik (Sutrisno, 2005:

63).

Muhammad (1981: 8) mengatakan bahwa setelah guru memikirkan

bahan pelajaran, hendaklah ia memikirkan cara menyampaikan bahan ke

dalam pikiran peserta didik, dengan memperhatikan tujuan pembelajaran, dan

keadaan peserta didik. Guru harus memikirkan metode yang paling baik

untuk menyusun materi pembelajaran, dan bahan pembelajaran sebagai mata

rantai yang sambung-menyambung.

Selain itu, dalam kegiatan pembelajaran guru sebaiknya memperhatikan

perbedaan individual peserta didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan

psikologis. Kerangka pemikiran demikian dimaksudkan agar guru mudah

dalam melakukan pendekatan kepada setiap peserta didik secara individual.

Peserta didik sebagai individu memliki perbedaan sebagaimana disebutkan di

atas. Pemahaman ketiga aspek tersebut akan merapatkan hubungan guru

dengan peserta didik, sehingga memudahkan melakukan pendekatan mengajar.

Penguasaan kemampuan pelajaran Aqidah Akhlak diperlukan strategi

yang tepat dan cocok. Salah satu strategi yang diterapkan di Madrasah

Tsanawaiyah Al Mardliyah khususnya dalam pelajaran Aqidah Akhlak adalah

mastery learning. Strategi ini meliputi dua kegiatan, yaitu program pengayaan

dan perbaikan (Arikunto, 1988: 31). Proses pembelajaran dengan

menggunakan prinsip Belajar tuntas (mastery learning)1 menguntungkan bagi

peserta didik, karena dengan kegiatan pembelajaran ini setiap siswa dapat

dikembangkan semaksimal mungkin. Pandangan yang menyatakan semua


1
8

peserta didik dapat belajar dengan hasil yang baik juga akan mempunyai

imbas pada pandangan bahwa guru dapat mengajar dengan baik.

Belajar tuntas pada dasarnya akan menjadikan peserta didik memiliki

kemampuan dan mengembangkan bakat yang dimilikinya, mengecilkan

perbedaan intelegensi tinggi dengan intelegensi normal. Belajar tuntas

(mastery learning) menjadikan peserta didik dapat mencapai tujuan

pembelajaran, sehingga di dalam kelas tidak terjadi intelegensi tinggi akan

mencapai semua tujuan pembelajaran sedang anak didik yang intelegensi

normal mencapai sebagain tujuan pembelajaran atau tidak mencapai sama

sekali tujuan pembelajaran (Yamin 2007: 121)

Belajar tuntas dilandasi oleh dua asumsi, pertama, mengatakan bahwa

adanya korelasi antara tingkat keberhasilan dengan kemampuan potensial

(bakat). Hal ini dilandasi teori tentang bakat yang dikemukakan oleh Carrol

(1953) yang menyatakan bahwa apabila peserta didik didistribusikan secara

normal dengan memperhatikan kemampuannya secara potensial untuk

beberapa bidang pengajaran, kemudian mereka diberi pengajaran yang sama

dan hasil belajarnya diukur, ternyata akan menunjukkan distribusi normal.

Hal ini berarti bahwa peserta didik yang berbakat cenderung untuk

memperoleh nilai tinggi. Kedua, apabila pelajaran dilaksanakan secara

sistematis, maka semua peserta didik akan mampu menguasai bahan yang

disajikan kepadanya, Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Bandung,

Remaja Rosdakarya, 2004, hal. 53-54.


9

Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan penulis di

lapangan, diperoleh gambaran bahwa penerapan strategi mastery learning

dalam pelaksanaan pembelajaran Aqidah Akhlak di MTs Al Mardliyah sudah

sejak lama dilakukan oleh guru-guru pengampu mata pelajaran Aqidah

Akhlak. Hal ini dapat dilihat bahwa di satu sisi latar belakang pendidikan

peserta didik beraneka ragam, sebagian ada yang berasal dari Sekolah Dasar

plus Madrasah Diniyah, serta sebagian lagi berasal dari Sekolah Dasar dan

Madrasah Ibtidaiyah, menyebabkan peserta didik Madrasah Tsanawaiyah Al

Mardliyah masih memiliki perbedaan-perbedaan individual dalam memahami

pembelajaran Aqidah Akhlak dengan menggunakan strategi mastery learning.

Sementara itu, guru yang mengampu bidang Aqidah Akhlak bukan jurusan

Aqidah Akhlak, tetapi didukung oleh faktor sarana dan prasarana yang

memadai, proses pembelajaran berlangsung secara continuitas dan sesuai

dengan perencanaan pembelajaran.

Sehubungan dengan latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik

untuk melakukan penelitian tentang “Aplikasi Mastery learning dalam

Pembelajaran Aqidah Akhlak Di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah

Garut”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang

menjadi pokok masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan

sebagaiberikut:
10

1. Bagaimana strategi guru menggunakan mastery learning dalam

pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah?

2. Bagaimana daya serap peserta didik dalam pembelajaran Aqidah

Akhlak dengan mastery lerning di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian


1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan :

1. Mendeskripsikan strategi guru dalam mastery learning di bidang

pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah.

2. Mendeskripsikan daya serap peserta didik dalam pembelajaran Aqidah

Akhlak dengan mastery learning di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah

2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah :
1. Bagi Siswa
Melalui hasil penelitian ini diharapkan siswa akan lebih bersemangat dalam
mengikuti proses pembelajaran Aqidah Akhlak, disamping itu siswa akan
mendapatkan pembelajaran yang variatif serta berperan aktif, sehingga
dimungkinkan dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
2. Bagi Guru
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman langsung
bagi guru-guru yang terlibat untuk memperoleh pengalaman baru dalam
menerapkan metode pembelajaran yang menarik perhatian siswa, tidak monoton
dan inovatif. Sehingga pada perkembangan selanjutnya guru akan lebih kreatif
dan berusaha menghilangkan kejenuhan siswa melalui penerapan model
pembelajaran tersebut.
3. Bagi sekolah
11

Hasil penelitian ini dapat memberikan pengalaman pada guru-guru lain


sehingga memperoleh pengalaman baru untuk menerapkan pendekatan inovasi
dalam pembelajaran.
12

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

B. Kajian Teoritik
C. Hipotesis Tindakan
Hipotesis Tindakan
Untuk memecahkan permasalahan di atas, peneliti akan mengemukakan hipotesis
sebagai berikut:
1. Melalui penerapan model pembelajaran Mastery Learning aktivitas belajar al-
Aqidah Akhlak pada Mata pelajaran Aqidah Akhlak dapat meningkat.
2. Melalui penerapan pembelajaran model Mastery Learning prestasi belajar
Aqidah Akhlak pada kelas Siswa kelas VII-A MTs Al Mardliyah dapat
menigkat.
b. Kerangka Penelitian
Berpijak pada masalah yang ada, Proses pembelajaran dengan

menggunakan prinsip Belajar tuntas (mastery learning)2 menguntungkan bagi

peserta didik, karena dengan kegiatan pembelajaran ini setiap siswa dapat

dikembangkan semaksimal mungkin. Pandangan yang menyatakan semua

peserta didik dapat belajar dengan hasil yang baik juga akan mempunyai

imbas pada pandangan bahwa guru dapat mengajar dengan baik.

Belajar tuntas pada dasarnya akan menjadikan peserta didik memiliki

kemampuan dan mengembangkan bakat yang dimilikinya, mengecilkan

perbedaan intelegensi tinggi dengan intelegensi normal. Belajar tuntas

(mastery learning) menjadikan peserta didik dapat mencapai tujuan

2
13

pembelajaran, sehingga di dalam kelas tidak terjadi intelegensi tinggi akan

mencapai semua tujuan pembelajaran sedang anak didik yang intelegensi

normal mencapai sebagain tujuan pembelajaran atau tidak mencapai sama

sekali tujuan pembelajaran (Yamin 2007: 121)

Belajar tuntas dilandasi oleh dua asumsi, pertama, mengatakan bahwa

adanya korelasi antara tingkat keberhasilan dengan kemampuan potensial

(bakat). Hal ini dilandasi teori tentang bakat yang dikemukakan oleh Carrol

(1953) yang menyatakan bahwa apabila peserta didik didistribusikan secara

normal dengan memperhatikan kemampuannya secara potensial untuk

beberapa bidang pengajaran, kemudian mereka diberi pengajaran yang sama

dan hasil belajarnya diukur, ternyata akan menunjukkan distribusi normal.

Hal ini berarti bahwa peserta didik yang berbakat cenderung untuk

memperoleh nilai tinggi. Kedua, apabila pelajaran dilaksanakan secara

sistematis, maka semua peserta didik akan mampu menguasai bahan yang

disajikan kepadanya, Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Bandung,

Remaja Rosdakarya, 2004, hal. 53-54.

Karena materi Aqidah Akhlak di MTs. merupakan bagian integral dari


pelajaran agama Islam yang harus diampu dan dikuasai oleh siswa. Hal ini tentu
menghendaki adanya kemampuan yang sama di kalangan siswa atau dengan kata
lain semua siswa MTs. hendaknya memiliki tujuan umum pembelajaran (basic
skill) yang sama di dalam mata pelajaran Aqidah Akhlak. Setelah penerapan
model pembelajaran Mastery Learning keaktifan dan prestasi belajar siswa dapat
tercapai.
Secara singkat mengenai kerangka pemikiran dari penerapan dan
pemilihan model pembelajaran Mastery Learning dalam penelitian tindakan kelas
ini digambarkan dalam bagan 2.1 sebagai berikut:
14

Gambar 2.1.
Bagan / kerangka pemikiran penerapan model
Mastery Learnng
Data awal

Aktivitas belajar Prestasi belajar


siswa rendah siswa rendah

Alternatif
pemecahan
masalah

Penerapan Model
Mastery
Learning

Aktivitas belajar Prestasi belajar


siswa meningkat siswa meningkat
15

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
B. Metode Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

kualitatif, yaitu strategi dan teknik penelitian yang digunakan untuk

memahami masyarakat, masalah atau gejala dalam masyarakat dengan

mengumpulkan sebanyak mungkin fakta mendalam, data disajikan dalam

bentuk verbal, bukan dalam bentuk angka (Muhajir, 1996: 20). Adapu

Alasan menggunakan kualitatif adalah 1) Penelitian kualitatif dilakukan

untuk mengembangkan teori. Metode kualitatif paling cocok digunakan

untuk mengembangkan teori yang dibangun melalui data yang diperoleh

melalui lapangan, 2) bila masalah belum jelas, masing remang-remang,

atau mungkin masalah masih gelap, 3) untuk memahami makna di balik

data yang tampak, 3) untuk memahami interaksi social, 4) untuk

memahami perasaan orang, 5) untuk memastikan kebenaran data,6)

meneliti sejarah perkembangan (Sugiyono, 2006: 35-36). Pendekatan

kualitatif sebagai prosedur penelitian menghasilkan data deskriptif berupa

kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang, serta perilaku yang diamati

(Moeloeng, 200: 3).

2. Metode Pengumpulan Data


16

a. Metode Observasi

Menurut Riyanto (2001: 96) observasi merupakan metode

pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap obyek

penelitian. Observasi dilaksanakan secara langsung maupun tidak

langsung. Observasi langsung adalah peneliti mengadakan

pengamatan secara langsung di lapangan terhadap situasi dan gejala-

gejala subyek yang diselidiki, baik pengamatan itu dilakukan dalam

situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan yang secara

khusus telah dikondisikan. Sedangkan observasi tidak langsung adalah

mengadakan pengamatan terhadap gejala-gejala subyek yang

diselidiki. Menurut Koentjaraninggrat (1997 : 109) dengan metode

observasi akan diketahui kondisi yang sebenarnya di lapangan,

dengan menggunakan metode ini diharapkan mampu mengungkap

gejala terhadap fenomena sebanyak mungkin mengenai apa yang

diteliti.

Penulis dalam hal ini menggunakan teknik observasi langsung

(direct observation), yakni observasi yang dilakukan terhadap guru dan

peserta didik dalam kegiatan pembelajaran Aqidah Akhlak. Adapun

obyek penelitian adalah peserta didik, guru, dan proses pembelajaran

Aqidah Akhlak serta lingkungan Madrasah Tsanawaiyah Negeri

(MTsN) Cingambul.
17

Data-data yang diperoleh melalui observasi adalah proses

pembelajaran strategi mastery learning pada bidang Aqidah Akhlak

dan seberapa jauh evaluasi yang telah dilakukan.

b. Metode Wawancara

Metode ini digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila

peneliti ingin mengetahui lebih mendalam tentang obyek yang akan

diteliti. Susan Stainback dalam Sugiono (2006: 318) mengemukakan

bahwa dengan wawancara peneliti akan mengetahui hal-hal yang

lebih mendalam tentang partisipan dalam menginterpretasikan situasi

dan penomena yang terjadi, dimana hal ini tidak bisa ditemukan

melalui observasi. Metode ini dilakukan dengan tujuan untuk

mengetahui informasi secara detail dan mendalam dari informan

terhadap fokus masalah yang diteliti. Untuk membantu peneliti dalam

melakukan interview, agar dapat berlangsung secara sistematis dan

substanstif, maka akan dibuat pedoman interview atau wawancara

dalam bentuk semi structured ( Arikunto, 2006: 202). Tahap mula-

mula interview yaitu menanyakan serentetan pertanyaan yang sudah

terstruktur, kemudian satu per satu diperdalam dalam mengorek

keterangan lebih lanjut. Jawaban yang diperoleh biasanya meliputi

semua masalah penelitian dengan keterangan yang lengkap dan

mendalam.

Wawancara ini dilakukan kepada dua orang guru Aqidah Akhlak

untuk mengetahui komponen-komponen pembelajaran yang berkaitan


18

pembelajaran Aqidah Akhlak melalui strategi mastery learning, yaitu

silabus, program tahunan, program semester, rencana pembelajaran,

pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran dan perangkat-

perangkat lain yang berhubungan dengan pembelajaran Aqidah

Akhlak.

3. Sumber Data Penelitian

Data adalah sebagai fakta atau informasi yang diperoleh dari yang

didengar, diamati, dirasakan dan dipikirkan si peneliti dari aktivitas dan

tempat yang diteliti (Rasyid, 2000: 36). Data primer dalam penelitian ini

adalah guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran, sedangkan data

skunder meliputi dokumen-dokumen pembelajaran guru dan catatan

penilaian peserta didik mengenai proses pembelajaran guru Aqidah

Akhlak.

4. Teknik Analisis Data

Analisa data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat

pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data

dalam periode tertentu. Analisa data kualitatif menurut Bogdan dalam

Sugiyono (2005: 334) adalah proses mencari dan menyususn secara

sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan,

dan bahan-bahan lain, sehingga mudah dapat difahami, dan temuannya

dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisa data dilakukan dengan


19

mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan

sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting, dan yang

akan dipelajari, serta membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada

orang lain.

Menurut Miles dan Huberma dalam Sugiyono (2006 : 123) bahwa

aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan

berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah

jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data diplay, dan

conclusion drawing/verification. Adapun langkah-langkahnya sebagai

berikut:

a. Reduksi data (data Reduction)

Menurut Sugiyono (2006: 338) mereduksi data adalah

merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang

penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu.

Data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang jelas, dan

mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data

selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.

Data-data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data melalui

reduksi, yaitu data-data dari hasil observasi dan wawancara, baik

kepada guru bidang Aqidah Akhlak maupun peserta didik. Hasil

wawancara dan observasi berupa pesrsiapan guru, proses

pembelajaran , evalusasi, kesiapan peserta didik, ketertarikan peserta


20

didik dengan proses pembelajaran dan kendala-kendala yang dirasakan

peserta didik.

b. Penyajian data (Data Display)

Menurut Miles dan Huberman dalam Imam Suparyogo dan

Tabroni (2001 : 194) bahwa penyajian data adalah menyajikan

sekumpulan informasi yang tersusun yang memebrikan kemungkinan

adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian

data menurut Sugiyono (2006: 341) dapat dilakukan dengan bentuk

table, grafik, phie chard, pictogram dan sejenisnya. Melalui penyajian

data tersebut, maka data terorganisasikan, tersusun dalam pola

hubungan, sehingga akan mudah difahami.

Peneliti dalam penelitian ini melakukan penyajian data melalui

uraian singkat atau ringkasan-ringkasan yang penting dari data yang

telah direduksi untuk mendapatkan kesimpulan atau melakukan

tindakan lanjutan. Data yang peneliti sajikan adalah data yang

berhubungan dengan permasalahan yang diteliti, yaitu data yang

berhubungan dengan aplikasi mastery learning, baik menyangkut guru,

peserta didik, administrasi, dan sarana-prasarana.

c. Verifikasi data ( Conclusion Drawing) dan penarikan

kesimpulan

Miles dan Huberman dalam Rasyid (2000: 71) mengemukakan

bahwa verifikasi data dan penerikan kesimpulan adalah upaya untuk

mengartikan data yang ditampilkan dengan melibatkan pemahaman


21

peneliti. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat

sementara, dan tidak akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti

yang kuat yang mendukung pada ahap pengumpulan data berikutnya

(Sugiyono, 2005 : 99)

Data-data diperoleh dari hasil penelitian dengan observasi, wawancara,


dan dekumentasi, setelah dipilih dan disajikan maka ditarik suatu kesimpulan
akhir. Isi dari kesimpulan ini adalah temuan baru berupa gambaran tentang
pelaksanaan mastery learning dalam pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah
Tsanawaiyah Negeri (MTsN) Cingambul Kabupaten.

D. Rencana Penelitian
Prosedur yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah terdiri dari dua
siklus. Hal ini sesuai persyaratan dalam penelitian tindakan kelas, yaitu dalam
pene-litian tindakan kelas harus memenuhi sekurang-kurangnya terdiri dua siklus.
Setiap siklus terdiri dari tahapan perencanaan, persiapan tindakan, pengamatan
atau observasi, dan refleksi dalam kegiatan pembelajarannya. Sebelum pada
kegiatan pokok, peneliti melakukan perenungan sebagai refleksi awal untuk
penentuan masalah.
Pada tahap refleksi awal, peneliti dan guru sebagai mitra kolaborator
mengadakan observasi kelas untuk mengidentifikasi masalah, merumuskan
masalah, dan menentukan permasalahan yang akan dipecahkan dengan skenario
pembelajaran yang akan diterapkan di kelas. Kegiatan tersebut meliputi:
1. Guru dan peneliti berdiskusi untuk mengidentifikasi masalah kelas.
2. Menetapkan kelas yang memiliki permasalahan paling serius dan perlu pena-
nganan dengan tindakan sebagai alternatifnya.
3. Mencari dari mana permasalahan pembelajaran yang terjadi, apakah berasal
dari siswa, guru, atau metode yang diterapkan.
4. Merencanakan penanganan sebagai solusi awal terhadap permasalahan tersebut.
Berdasarkan hasil observasi awal tersebut, maka permasalahan yang telah
teridentifikasi perlu segera diatasi, perlu juga dilihat bagaimana visi mata
22

pelajaran Aqidah Akhlak yang menjadi fokus penelitian ini yang diemban guru
atau sekolah. Hal ini mengandung implikasi bagaimana kreativitas guru dalam
meran-cang pembelajarannya sehingga siswa dapat belajar dengan serius sesuai
kemampuan yang dimiliki yang pada akhirnya berpengaruh terhadap prestasi
belajarnya.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk setiap siklus pembelajaran dalam
prosedur penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Tahap Perencanaan
Pada tahapan ini dilakukan rencana kegiatan dengan menyesuaikan
model yang akan diterapkan sebagai berikut:
a. Menyusun rencana pembelajaran (RP) sebagai acuan pelaksanaan proses
pembelajaran dengan berdasar kurikulum yang berlaku saat ini.
Penyusunan RP ini juga disesuaikan dengan langkah-langkah pada model
pembelajaran yang diterapkan, dalam hal ini model Mastery Learning.
Penyusunan rencana pembelajaran ini dapat dilihat dalam lampiran 3.
b. Menyusun lembar kerja siswa (LKS), (lampiran 4).
c. Menyusun lembar observasi aktivitas siswa (lampiran 5)
d. Menyusun tes akhir setiap siklus (lampiran 6).

2. Tahap Tindakan
Pada tahapan ini pelaksanaannya didasarkan rencana pembelajaran
yang disusun sebelumnya dengan kegiatan sebagai berikut:
a. Melaksanakan pembelajaran di kelas VII sebagai kelas yang telah
ditetapkan sebelumnya dengan menggunakan model pembelajaran yang
diterapkan berdasar RP yang telah dibuat peneliti bersama kolaborator.
b. Peneliti dalam hal ini bekerjasama dengan mitra membagi tugas sesuai
skenario model Mastery L, yaitu pemandu dalam tiga kelompok yang telah
terbentuk (rendah, sedang dan tinggi).
c. Observer bertugas mengamati sambil mengerjakan lembar observasi yang
dibuat untuk merekam aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran.
d. Melaksanakan tes akhir pembelajaran tiap siklus.
23

3. Observasi
Dalam kegiatan ini observer melaksanakan pengamatan, pencatatan,
dan menginterpretasi terhadap berlangsungnya pembelajaran, terutama kepada
siswa dengan sambil mengerjakan lembar observasi yang telah disediakan.
Pada tahap ini pula ketelitian dan kecermatan dalam mencatat dan mengamati
sangat diperlukan, apalagi bila terjadi suatu perubahan mendadak dalam
pelaksanaan tindakan yang ditimbulkan akibat respon siswa yang dikenai
tindakan.
Pada tahap ini, selain pengerjaan lembar observasi untuk membuktikan
pengamatan yang dilaksanakan, perlu bukti dokumentasi berupa pengambilan
gambar jika diperlukan agar dalam penginterpretasian data dapat lebih jelas
dan cermat.

4. Refleksi
Pada tahap ini data-data yang diperoleh dari tiap siklus dikumpulkan
untuk dianalisis selanjutnya diadakan refleksi terhadap hasil analisis sehingga
dapat diketahui ada tidaknya peningkatan hasil belajar sebelum tindakan dan
sesudah tindakan. Hasil belajar inilah yang nantinya digunakan sebagai bahan
pertimbangan pelaksanaan siklus berikutnya.Secara umum implementasi
tindakan tiap siklus mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Siklus I
1) Perencanaan Tindakan
(a) Membuat skenario pembelajaran (rencana pembelajaran/RP) yang
berorientasi pada model ML.
(b) Menyiapkan fasilitas pembelajaran berupa media, alat dan fasilitas
yang lain
(c) Menyusun instrumen penelitian untuk melakukan monitoring pelak-
sanaan pembelajaran.
(d) Menentukan teknis pelaksanaan penelitian
(e) Menyiapkan kegiatan refleksi
24

(f) Pembelajaran diakhiri dengan pengambilan kesimpulan mengenai


topik pembelajaran, dilanjutkan kegitan evaluasi.

2) Pelaksanaan Tindakan
Dalam kegiatan ini guru menerapkan model pembelajaran ML kepada
siswa kelas VII yang ditunjuk mengacu pada rencana pembelajaran. Pelak-
sanaan kegiatan pada tahap ini adalah:
(a) Guru melakukan appersepsi terhadap pokok bahasan yang akan
diajarkan, yakni materi mengidentifikasi sifat-sifat wajib Allah yang
nafsiyah, salbiyah, ma’ani dan ma’nawiyah,
(b) Peneliti memberikan penjelasan singkat tentang model
pembelajaran ML yang akan diterapkan kepada siswa.
(c) Membagi siswa menjadi tiga kelompok dengan kriteria kelompok
rendah, sedang dan tinggi dilanjutkan pembagian pemandu dalam tiap
kelompok masing-masing. Pembagian tugas ini dapat dilakukan secara
bergantian kepada guru, peneliti maupun observer yang ditunjuk.
(d) Dalam skenario model ML, kelompok rendah diberikan pembelajaran
dengan cara re-teaching dan tutorial, kelompok sedang dengan konvensional,
sedangkan kelompok tinggi dilakukan dengan modul dan self-learning.
(e) Pada akhir pembelajaran, siswa diberikan postes untuk megetahui
hasil belajar.

3) Observasi
Kegiatan observasi dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai
aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan ban-
tuan guru mitra ataupun rekan peneliti lain yang bertindak sebagai observer.
Untuk menghindari unsur subjektivitas ada baiknya observer dilakukan secara
bergantian atau dilakukan oleh dua orang atau lebih.

4) Refleksi
25

Data yang siperoleh pada siklus I dikumpulkan untuk selanjutnya


dianalisis kemudian diadakan refleksi terhadap hasil analisis sehingga dapat
diketahui apakah permasalahan yang dihadapi sudah mampu terpecahkan,
yaitu terjadinya peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa setelah adanya
tindakan. Pada tahap ini pula perlu dilakukan perenungan terhadap pembuatan
perencanaan lanjutan pada tahap siklus selanjutnya.

b. Siklus II
1) Perencanaan Tindakan
Tahap perencanaan tindakan pada siklus II ini dilakukan berdasarkan
hasil refleksi tindakan siklus I. Perencanaan tindakan pada siklus II
merupakan hasil perbaikan dari pelaksanaan tindakan siklus I. Adapun
kegiatan peren-canaan tindakan yang dilakukan pada siklus II adalah sebagai
berikut:
(a) Membuat skenario pembelajaran dalam bentuk rencana pembelajaran (RP)
yang berorientasi pada model ML
(b) Menyiapkan fasilitas pembelajaran berupa media, alat dan fasilitas yang
lain.
(c) Menyusun instrumen penelitian untuk melakukan monitoring pelaksanaan
pembelajaran (lembar observasi) berupa lembar pengamatan aktivitas
belajar siswa.
(d) Menentukan teknis pelaksanaan penelitian
(e) Menyiapkan kegiatan refleksi
(f) Pembelajaran diakhiri dengan pengambilan kesimpulan mengenai topik
pembelajaran, dilanjutkan kegitan evaluasi.

2) Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan pada tahap ini langkah-langkahnya berpedoman pada rencana
pembelajaran (RPP) yang disetting penelitian tindakan kelas yang telah di-
buat beserta guru mitra kolaborasi.
26

Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, guru dan mitra memfasili-


tatori dan melakukan observasi terhadap keaktifan siswa, melalui lembar pe-
ngamatan yang tersedia. Pada akhir siklus II dilakukan tes hasil belajar untuk
memperoleh data prestasi belajar siswa.

3) Observasi
Observer melakukan kegiatan yang sama pada tiap siklus, demikian
halnya pada siklus II ini, pelaksanaannya adalah melakukan pengamatan sam-
bil mengerjakan lembar observasi, mencatat kegiatan pembelajaran dan meng-
interpretasi data yang diperoleh, selanjutnya mengumpulkannya untuk
direfleksi pada tahap berikutnya.

4) Refleksi
Data yang diperoleh dalam tahap observasi siklus II dikumpulkan dan
dilakukan analisis serta pengambilan kesimpulan apakah masih ada permasa-
lahan atau tidak dalam siklus II atau telah terselesaikan, sehingga tidak perlu
diadakan rencana tindakan pada siklus berikutnya.

E. Jadual Penelitian
Agenda Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah :
Bulan/Minggu
No Rencana Kegiatan September Oktober November Desember
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
1 Persiapan
Menyusun Proposal Penelitian X
Menyepakati Jadual dan tugas X
Menyusun Instrumen penelitian X
Menerapkan Format Pengumpulan X
Data
menetapkan Teknik analisis Data X
2 Pelaksanaan Penelitian
Test diagnostik dan analisis hasilnya X
Implementasi Tindakan Siklus 1 X
Observasi dan tindakan perbaikan X
Pertemuan refleksi X
27

Implementasi Tindakan Siklus 2 X


3 Penyusunan Laporan hasil PTK
Menyusun Konsep Laporan X
Seminar hasil Penelitian X
Perbaikan Laporan X
Penggandaan dan pengiriman hasil X
28

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu & Supriyono, Widodo. 1991. Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka
Cipta.
Al-Ghazali, Imam, tt., Ihya al-‘Ulum al-Din, Beirut, Jilid I.
Al-Munjid fi al-lughah wa al-A’lam, 1986, Beirut: Dar al-masyriq.
Arikunto, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara.
-------------------------. 2003. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT. Bumi
Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi
VI, Yogyakarta: Rineka Cipta.
Beard, M & Hartly. J. 1984. Teaching and Learning in Higher Education,
London: Hrper & Row Publisher.
Bigot, Icy. 1990. Learbook der Psychologie, Bandung: Jenmars.
Borg, R. & Gall. 1979. Educational Research; An introduction, New: Long Man.
Cronbach, J. 1996. Essentials of Psychological Testing, New York: Harper & Row
Publisher.
Depag RI. 2002. Standar Kompetensi Madrasah Tsanawiyah, Jakarta:
Departeman Pendidikan Nasional.
Hidayah, 2007, Implementasi Model Pembelajaran Aptitudetreatment Interaction
(ATI) Dalam Meningkatkanhasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PAI di
SMAN I Menganti-Gresik” Skripsi Institut Agama Islam Negeri Sunan
Ampel Surabaya.
Madya, Suwarsih. 1994. Panduan Penelitian Tindakan, Yogyakarta: Lembaga
Penelitian IKIP Yogyakarta
Mahmud, 'Abdul Halim, t.t., Al-Tafkir Al-Falsafiy fi Al-Islam, , Beirut: Dar Al-
Kitab Al-Lubnaniy.
Mahmud, Mustafa, , 1981, Min Asrar Al-Qur'an, Mesir: Dar Al-Ma'arif.
Mulyasa, E. 2004. Implementasi Kurikulum 2004 (Panduan Pembelajaran KBK),
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
29

Nawawi H. dan M. Martin Hadari, 1995. Instrumen Penelitian Bidang Sosial,


Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Nurdin, Syafruddin, 2005. Model Pembelajaran Yang Memperhatikan
Keragaman Individu Siswa Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi,
Ciputat: PT. Ciputat Press
Poerwadarminta, WJS. 1988. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai
Pustaka.
Purwanto, Ngalim. 2001. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran,
Bandung: PT. Remaja Rosda Karya
Qaradlawi, Yusuf, 1986, Al-Sunnah: Mashdaran li al-ma’rifah wa al-Hadlarah,
Fiqih Peradaban; Sunnah Sebagai Paradigma Ilmu Pengetahuan, Alih
Bahasa: Faizah Firdaus, Surabaya: Dunia Ilmu.
Riyanto, Yatim. 2001. Metode Penelitian Pendidikan, Surabaya: SIC.
Sardiman A. M. 1988. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar Pedoman Bagi
Guru, Jakarta: Rajawali.
Shihab, Quraish, M., 1996, Membumikan al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu
dalam Kehidupan Masyarakat, Cetakan 13, Bandung: Mizan.
Soemanto, Wasty. 1997. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Bina Aksara
Sudjana, Nana. 2005. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar
Baru Algesindo.
Sugiyono, 2007. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R &D, cet ke-3,
Bandung: Alfabeta.
Supardi, dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara.
Suryabrata. 1997. Proses Pengajaran, Yogyakarta: Amarta.
Tim Penyusun KTSP. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Jakarta: PT.
Binatama Raya.
Usman, Basyiruddin dan Nurdin, S. 2002. Guru Profesional & Implementasi
Kurikulum, Jakarta: Ciputat Pers.
Winkel, W.S. 1991. Psikologi Pengajaran, Jakarta: Grasindo.
Yamin, Martinis. 2007. Profesionalisasi Guru Dan Implementasi KTSP, Jakarta:
Gaung Persada Press.
30