Anda di halaman 1dari 17

36

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

kualitatif, yaitu strategi dan teknik penelitian yang digunakan untuk memahami

masyarakat, masalah atau gejala dalam masyarakat dengan mengumpulkan

sebanyak mungkin fakta mendalam, data disajikan dalam bentuk verbal, bukan

dalam bentuk angka (Muhajir, 1996: 20). Adapun alasan menggunakan kualitatif

adalah 1) Penelitian kualitatif dilakukan untuk mengembangkan teori. Metode

kualitatif paling cocok digunakan untuk mengembangkan teori yang dibangun

melalui data yang diperoleh melalui lapangan, 2) Bila masalah belum jelas,

masing remang-remang, atau mungkin masalah masih gelap, 3) Untuk memahami

makna di balik data yang tampak, 3) Untuk memahami interaksi social, 4) Untuk

memahami perasaan orang, 5) Untuk memastikan kebenaran data, 6) Meneliti

sejarah perkembangan (Sugiyono, 2006: 35-36). Pendekatan kualitatif sebagai

prosedur penelitian menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau

lisan dari orang-orang, serta perilaku yang diamati (Moeloeng, 2000: 3).

1. Teknik Pengumpulan Data

a. Teknik Observasi

Menurut Riyanto (2001: 96) observasi merupakan metode pengumpulan

data yang menggunakan pengamatan terhadap obyek penelitian. Observasi

dilaksanakan secara langsung maupun tidak langsung. Observasi langsung adalah


37

peneliti mengadakan pengamatan secara langsung di lapangan terhadap situasi dan

gejala-gejala subjek yang diselidiki, baik pengamatan itu dilakukan dalam situasi

yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan yang secara khusus telah

dikondisikan. Sedangkan observasi tidak langsung adalah mengadakan pengamatan

terhadap gejala-gejala subyek yang diselidiki. Menurut Koentjaraninggrat (1997:

109) dengan metode observasi akan diketahui kondisi yang sebenarnya di lapangan,

dengan menggunakan metode ini diharapkan mampu mengungkap gejala terhadap

fenomena sebanyak mungkin mengenai apa yang diteliti.

Penulis dalam hal ini menggunakan teknik observasi langsung (direct

observation), yakni observasi yang dilakukan terhadap guru dan peserta didik

dalam kegiatan pembelajaran Akidah Akhlak. Adapun obyek penelitian adalah

peserta didik, guru, dan proses pembelajaran Akidah Akhlak serta lingkungan

Madrasah Tsanawaiyah Al-Mardliyah Garut.

Data-data yang diperoleh melalui observasi adalah proses pembelajaran

strategi Mastery Learning pada bidang Akidah Akhlak dan seberapa jauh evaluasi

yang telah dilakukan.

b. Teknik Wawancara

Metode ini digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti

ingin mengetahui lebih mendalam tentang obyek yang akan diteliti. Susan

Stainback dalam Sugiono (2006: 318) mengemukakan bahwa dengan wawancara

peneliti akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan dalam

menginterpretasikan situasi dan penomena yang terjadi, dimana hal ini tidak bisa

ditemukan melalui observasi. Metode ini dilakukan dengan tujuan untuk


38

mengetahui informasi secara detail dan mendalam dari informan terhadap fokus

masalah yang diteliti. Untuk membantu peneliti dalam melakukan interview, agar

dapat berlangsung secara sistematis dan substanstif, maka akan dibuat pedoman

interview atau wawancara dalam bentuk semi structured. (Arikunto, 2006: 202).

Tahap mula-mula interview yaitu menanyakan serentetan pertanyaan yang

sudah terstruktur, kemudian satu per satu diperdalam dalam mengorek keterangan

lebih lanjut. Jawaban yang diperoleh biasanya meliputi semua masalah penelitian

dengan keterangan yang lengkap dan mendalam.

Wawancara ini dilakukan kepada dua orang guru Akidah Akhlak untuk

mengetahui komponen-komponen pembelajaran yang berkaitan pembelajaran

Akidah Akhlak melalui strategi Mastery Learning, yaitu silabus, program tahunan,

program semester, rencana pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi

pembelajaran dan perangkat-perangkat lain yang berhubungan dengan pembelajaran

Akidah Akhlak.

2. Sumber Data Penelitian

Data adalah sebagai fakta atau informasi yang diperoleh dari yang

didengar, diamati, dirasakan dan dipikirkan si peneliti dari aktivitas dan tempat

yang diteliti (Rasyid, 2000: 36). Data primer dalam penelitian ini adalah guru dan

peserta didik dalam proses pembelajaran, sedangkan data skunder meliputi

dokumen-dokumen pembelajaran guru dan catatan penilaian peserta didik

mengenai proses pembelajaran guru Akidah Akhlak.


39

3. Teknik Analisis Data

Analisa data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan

data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu.

Analisa data kualitatif menurut Bogdan dalam Sugiyono (2005: 334) adalah proses

mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara,

catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga mudah dapat difahami, dan

temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisa data dilakukan dengan

mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa,

menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting, dan yang akan dipelajari,

serta membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Menurut Miles dan Huberma dalam Sugiyono (2006: 123) bahwa aktivitas

dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara

terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam

analisis data, yaitu data reduction, data diplay, dan conclusion drawing/

verification. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

a. Reduksi data (Data Reduction)

Menurut Sugiyono (2006: 338) mereduksi data adalah merangkum, memilih

hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan

polanya dan membuang yang tidak perlu. Data yang telah direduksi akan

memberikan gambaran yang jelas, dan mempermudah peneliti untuk

melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.

Data-data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data melalui reduksi, yaitu

data-data dari hasil observasi dan wawancara, baik kepada guru bidang Akidah
40

Akhlak maupun peserta didik. Hasil wawancara dan observasi berupa

pesrsiapan guru, proses pembelajaran, evalusasi, kesiapan peserta didik,

ketertarikan peserta didik dengan proses pembelajaran dan kendala-kendala

yang dirasakan peserta didik.

b. Penyajian data (Data Display)

Menurut Miles dan Huberman dalam Imam Suparyogo dan Tabroni (2001:

194) bahwa penyajian data adalah menyajikan sekumpulan informasi yang

tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan

pengambilan tindakan. Penyajian data menurut Sugiyono (2006: 341) dapat

dilakukan dengan bentuk table, grafik, pie chart, pictogram dan sejenisnya.

Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan, tersusun dalam

pola hubungan, sehingga akan mudah difahami.

Peneliti dalam penelitian ini melakukan penyajian data melalui uraian singkat

atau ringkasan-ringkasan yang penting dari data yang telah direduksi untuk

mendapatkan kesimpulan atau melakukan tindakan lanjutan. Data yang

peneliti sajikan adalah data yang berhubungan dengan permasalahan yang

diteliti, yaitu data yang berhubungan dengan aplikasi Mastery Learning, baik

menyangkut guru, peserta didik, administrasi, dan sarana-prasarana.

c. Verifikasi Data (Conclusion Drawing) dan Penarikan Kesimpulan

Miles dan Huberman dalam Rasyid (2000: 71) mengemukakan bahwa

verifikasi data dan penarikan kesimpulan adalah upaya untuk mengartikan

data yang ditampilkan dengan melibatkan pemahaman peneliti. Kesimpulan

awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan tidak akan berubah bila
41

tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap

pengumpulan data berikutnya (Sugiyono, 2005 : 99)

Data-data diperoleh dari hasil penelitian dengan observasi, wawancara,

dan dokumentasi, setelah dipilih dan disajikan maka ditarik suatu kesimpulan

akhir. Isi dari kesimpulan ini adalah temuan baru berupa gambaran tentang

pelaksanaan Mastery Learning dalam pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah

Tsanawiyah Mardliyah Garut.

B. Rencana Penelitian

Prosedur yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah terdiri dari dua

siklus. Hal ini sesuai persyaratan dalam penelitian tindakan kelas, yaitu dalam

pene-litian tindakan kelas harus memenuhi sekurang-kurangnya terdiri dua siklus.

Setiap siklus terdiri dari tahapan perencanaan, persiapan tindakan, pengamatan

atau observasi, dan refleksi dalam kegiatan pembelajarannya. Sebelum pada

kegiatan pokok, peneliti melakukan perenungan sebagai refleksi awal untuk

penentuan masalah.

Pada tahap refleksi awal, peneliti dan guru sebagai mitra kolaborator

mengadakan observasi kelas untuk mengidentifikasi masalah, merumuskan

masalah, dan menentukan permasalahan yang akan dipecahkan dengan skenario

pembelajaran yang akan diterapkan di kelas. Kegiatan tersebut meliputi:

1. Guru dan peneliti berdiskusi untuk mengidentifikasi masalah kelas.

2. Menetapkan kelas yang memiliki permasalahan paling serius dan perlu

penanganan dengan tindakan sebagai alternatifnya.


42

3. Mencari dari mana permasalahan pembelajaran yang terjadi, apakah berasal

dari siswa, guru, atau metode yang diterapkan.

4. Merencanakan penanganan sebagai solusi awal terhadap permasalahan tersebut.

Berdasarkan hasil observasi awal tersebut, maka permasalahan yang telah

teridentifikasi perlu segera diatasi, perlu juga dilihat bagaimana visi mata

pelajaran Akidah Akhlak yang menjadi fokus penelitian ini yang diemban guru

atau sekolah. Hal ini mengandung implikasi bagaimana kreativitas guru dalam

merancang pembelajarannya sehingga siswa dapat belajar dengan serius sesuai

kemampuan yang dimiliki yang pada akhirnya berpengaruh terhadap prestasi

belajarnya.

Langkah-langkah yang dilakukan untuk setiap siklus pembelajaran dalam

prosedur penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Tahap Perencanaan

Pada tahapan ini dilakukan rencana kegiatan dengan menyesuaikan model

yang akan diterapkan sebagai berikut:

a. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai acuan

pelaksanaan proses pembelajaran dengan berdasar kurikulum yang berlaku

saat ini. Penyusunan RPP ini juga disesuaikan dengan langkah-langkah pada

model pembelajaran yang diterapkan, dalam hal ini model Mastery Learning.

Penyusunan rencana pembelajaran ini dapat dilihat dalam lampiran 3.

b. Menyusun lembar kerja siswa (LKS). (lampiran 4).

c. Menyusun lembar observasi aktivitas siswa/ (lampiran 5)

d. Menyusun tes akhir setiap siklus. (lampiran 6).


43

2. Tahap Tindakan

Pada tahapan ini pelaksanaannya didasarkan rencana pembelajaran yang

disusun sebelumnya dengan kegiatan sebagai berikut:

a. Melaksanakan pembelajaran di kelas VII sebagai kelas yang telah ditetapkan

sebelumnya dengan menggunakan model pembelajaran yang diterapkan

berdasar RP yang telah dibuat peneliti bersama kolaborator.

b. Peneliti dalam hal ini bekerjasama dengan mitra membagi tugas sesuai

skenario model Mastery Learning, yaitu pemandu dalam tiga kelompok yang

telah terbentuk (rendah, sedang dan tinggi).

c. Observer bertugas mengamati sambil mengerjakan lembar observasi yang

dibuat untuk merekam aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran.

d. Melaksanakan tes akhir pembelajaran tiap siklus.

3. Observasi

Dalam kegiatan ini observer melaksanakan pengamatan, pencatatan, dan

menginterpretasi terhadap berlangsungnya pembelajaran, terutama kepada siswa

dengan sambil mengerjakan lembar observasi yang telah disediakan. Pada tahap

ini pula ketelitian dan kecermatan dalam mencatat dan mengamati sangat

diperlukan, apalagi bila terjadi suatu perubahan mendadak dalam pelaksanaan

tindakan yang ditimbulkan akibat respon siswa yang dikenai tindakan.

Pada tahap ini, selain pengerjaan lembar observasi untuk membuktikan

pengamatan yang dilaksanakan, perlu bukti dokumentasi berupa pengambilan

gambar jika diperlukan agar dalam penginterpretasian data dapat lebih jelas dan

cermat.
44

4. Refleksi

Pada tahap ini data-data yang diperoleh dari tiap siklus dikumpulkan untuk

dianalisis selanjutnya diadakan refleksi terhadap hasil analisis sehingga dapat

diketahui ada tidaknya peningkatan hasil belajar sebelum tindakan dan sesudah

tindakan. Hasil belajar inilah yang nantinya digunakan sebagai bahan

pertimbangan pelaksanaan siklus berikutnya.Secara umum implementasi tindakan

tiap siklus mencakup hal-hal sebagai berikut:

a. Siklus I

1) Perencanaan Tindakan

a) Membuat skenario

pembelajaran (Rencana Pembelajaran/RP) yang berorientasi pada

model Mastery Learning..

b) Menyiapkan fasilitas

pembelajaran berupa media, alat dan fasilitas yang lain

c) Menyusun instrumen

penelitian untuk melakukan monitoring pelaksanaan pembelajaran.

d) Menentukan teknis

pelaksanaan penelitian

e) Menyiapkan kegiatan refleksi

f) Pembelajaran diakhiri dengan

pengambilan kesimpulan mengenai topik pembelajaran, dilanjutkan

kegitan evaluasi.

2) Pelaksanaan Tindakan
45

Dalam kegiatan ini guru menerapkan model pembelajaran Mastery

Learning kepada siswa kelas VII yang ditunjuk mengacu pada rencana

pembelajaran. Pelaksanaan kegiatan pada tahap ini adalah:

a) Guru melakukan apersepsi

terhadap pokok bahasan yang akan diajarkan, yakni materi

mengidentifikasi sifat-sifat wajib Allah yang nafsiyah, salbiyah,

ma’ani dan ma’nawiyah.

b) Peneliti memberikan

penjelasan singkat tentang model pembelajaran Mastery Learning

yang akan diterapkan kepada siswa.

c) Membagi siswa menjadi tiga

kelompok dengan kriteria kelompok rendah, sedang dan tinggi

dilanjutkan pembagian pemandu dalam tiap kelompok masing-masing.

Pembagian tugas ini dapat dilakukan secara bergantian kepada guru,

peneliti maupun observer yang ditunjuk.

d) Dalam skenario model

Mastery Learning, kelompok rendah diberikan pembelajaran dengan

cara re-teaching dan tutorial, kelompok sedang dengan konvensional,

sedangkan kelompok tinggi dilakukan dengan modul dan self-learning.

e) Pada akhir pembelajaran,

siswa diberikan postes untuk megetahui hasil belajar.

3) Observasi

Kegiatan observasi dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai

aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan


46

ban-tuan guru mitra ataupun rekan peneliti lain yang bertindak sebagai

observer. Untuk menghindari unsur subjektivitas ada baiknya observer

dilakukan secara bergantian atau dilakukan oleh dua orang atau lebih.

4) Refleksi

Data yang siperoleh pada siklus I dikumpulkan untuk selanjutnya

dianalisis kemudian diadakan refleksi terhadap hasil analisis sehingga

dapat diketahui apakah permasalahan yang dihadapi sudah mampu

terpecahkan, yaitu terjadinya peningkatan aktivitas dan prestasi belajar

siswa setelah adanya tindakan. Pada tahap ini pula perlu dilakukan

perenungan terhadap pembuatan perencanaan lanjutan pada tahap siklus

selanjutnya.

b. Siklus II

1) Perencanaan Tindakan

Tahap perencanaan tindakan pada siklus II ini dilakukan berdasarkan hasil

refleksi tindakan siklus I. Perencanaan tindakan pada siklus II merupakan

hasil perbaikan dari pelaksanaan tindakan siklus I. Adapun kegiatan peren-

canaan tindakan yang dilakukan pada siklus II adalah sebagai berikut:

a) Membuat skenario

pembelajaran dalam bentuk Rencana Pembelajaran (RP) yang

berorientasi pada model Mastery Learning.

b) Menyiapkan fasilitas

pembelajaran berupa media, alat dan fasilitas yang lain.


47

c) Menyusun instrumen

penelitian untuk melakukan monitoring pelaksanaan pembelajaran

(lembar observasi) berupa lembar pengamatan aktivitas belajar siswa.

d) Menentukan teknis

pelaksanaan penelitian.

e) Menyiapkan kegiatan

refleksi.

f) Pembelajaran diakhiri dengan

pengambilan kesimpulan mengenai topik pembelajaran, dilanjutkan

kegitan evaluasi.

2) Pelaksanaan Tindakan

Kegiatan pada tahap ini langkah-langkahnya berpedoman pada Rencana

Pembelajaran (RPP) yang disetting penelitian tindakan kelas yang telah

di-buat beserta guru mitra kolaborasi.

Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, guru dan mitra memfasili-

tatori dan melakukan observasi terhadap keaktifan siswa, melalui lembar

pe-ngamatan yang tersedia. Pada akhir siklus II dilakukan tes hasil belajar

untuk memperoleh data prestasi belajar siswa.

3) Observasi

Observer melakukan kegiatan yang sama pada tiap siklus, demikian halnya

pada siklus II ini, pelaksanaannya adalah melakukan pengamatan sam-bil

mengerjakan lembar observasi, mencatat kegiatan pembelajaran dan meng-


48

interpretasi data yang diperoleh, selanjutnya mengumpulkannya untuk

direfleksi pada tahap berikutnya.

4) Refleksi

Data yang diperoleh dalam tahap observasi siklus II dikumpulkan dan

dilakukan analisis serta pengambilan kesimpulan apakah masih ada

permasa-lahan atau tidak dalam siklus II atau telah terselesaikan, sehingga

tidak perlu diadakan rencana tindakan pada siklus berikutnya.

C. Instrumen Penelitian

Sebelum instrumen yang akan digunakan dalam penelitian tindakan ini

diberikan kepada responden atau siswa, terlebih dahulu dilakukan analisis

terhadap instrumen tersebut. Hal ini diharapkan agar instrumen yang dipakai

memenuhi kriteria kelayakan untuk diberikan kepada siswa. Analisis terhadap

instrumen tersebut dilakukan terhadap dua buah instrumen yang digunakan dalam

penelitian ini, yaitu tes prestasi dan observasi aktivitas belajar siswa.

1. Instrumen Tes Prestasi Belajar

Sebuah tes dikatakan baik sebagai alat pengukur jika memenuhi

persyaratan tes, yaitu memiliki validitas, realibilitas dan objektivitas. Validitas

dalam instrumen tes prestasi ini menggunakan validitas isi (content validigy) dan

validitas konstruksi (construct validity). (Arikunto, 2002: 66)

Validitas ini dimaksudkan apabila instrumen yang digunakan telah dapat

mengukur dan mewakili setiap indikator pembelajaran yang disejajarkan dengan

materi yang diberikan. Sedangkan validitas konstruksi dimaksudkan apabila


49

instrumen tes yang disusun telah dapat mengukur setiap aspek berpikir seperti

yang disebutkan dalam kompetensi dasar.

Penyusunan instrumen tes yang telah memenuhi kedua validitas tersebut

kemudian dikonsultasikan dengan guru bidang studi Akidah Akhlak yang disertai

kisi-kisi, daftar pertanyaan serta kunci jawaban. Apabila telah disetujui oleh guru

yang bersangkutan, maka instrumen tes prestasi tersebut dapat digunakan sebagai

alat evaluasi untuk mengukur prestasi belajar siswa setiap akhir siklus yang

dirancang dalam penelitian ini.

Instrumen tes akhir siklus baru dapat diberikan setelah diadakan uji

instrumen tes tersebut. Sebelum alat evaluasi prestasi belajar siswa dalam

penelitian ini digunakan, instrumen tersebut diuji coba terlebih dahulu. Uji coba

soal tes dilakukan di kelas VII A untuk tes siklus I dengan jumlah 40 siswa dan tes

akhir siklus II diujicobakan pada kelas VII A dengan jumlah 40 siswa. Hasil uji

coba soal kemudian dianalisis untuk mengetahui validitas, realibilitas, tingkat

kesukaran, dan daya beda soal.

2. Instrumen Observasi Aktivitas Belajar

Penyusunan instrumen aktivitas belajar siswa dalam penelitian ini

dirancang oleh peneliti dan guru mitra kolaborasi. Instrumen yang disusun harus

memenuhi aspek-aspek aktivitas belajar siswa dalam metode Mastery Learning

sebagai model pembelajaran yang diterapkan. Aspek-aspek aktivitas dalam

penelitian ini adalah:

1) Menjawab/merespon pertanyaan guru.

2) Mendengarkan uraian guru tentang tujuan pembelajaran.


50

3) Memusatkan perhatian, pada kegiatan yang dilakukan guru.

4) Mencatat pelajaran ke dalam buku catatan.

5) Mendengar dan memperhatikan contoh-contoh yang disampaikan guru.

6) Mengerjakan tugas seperti LKS, mencari bahan pelajaran, dll.

7) Memperhatikan petunjuk yang diberikan guru.

8) Aktif berdiskusi dan membantu teman.

9) Bertanya tentang materi yang belum paham.

10) Menyimpulkan materi bersama guru.

D. Analisis Data

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan analisis kualitatif, yaitu

statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara menggambarkan

atau mendeskripsikan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya. Data

penelitian yang dianalisis meliputi:

1. Tes Akhir Siklus

Tes akhir siklus dianalisis dengan tujuan untuk mengetahui tingkat

ketuntasan belajar siswa pada setiap akhir siklus yang ditetapkan. Nilai yang

diperoleh siswa atau ketuntasan individual dihitung demham rumus sebagai

berikut:

Jumlah skor
Ketuntasan Individual   100%
Jumlah skor maksimal

Ketuntasan belajar secara klasikal dihitung menggunakan rumus persentase:

Jumlah siswa yang tuntas belajar


Ketuntasan Klasikal   100%
Jumlah seluruh siswa
51

Ketuntasan belajar seluruh siswa jika target nilai rata-rata mencapai 6,5

dengan jumlah siswa yang tuntas belajar 85% atau lebih dari jumlah seluruh siswa

di dalam kelas.

2. Analisis Aktivitas Siswa

Analisis data yang digunakan dalam mengukur aktivitas siswa adalah

persentase baik persentase minimal dari aktivitas siswa secara klasikal maupun

tingkat perkembangan aktivitas belajar siswa. Perhitungan tingkat perkembangan

aktivitas siswa setiap siklus digunakan rumus:

Jumlah skor yang diperoleh


Aktivitas Belajar   100%
Jumlah skor maksimal

Sedangkan persentase minimal aktivitas siswa yang diharapkan sebesar

80% dari keseluruhan jumlah siswa dalam kelas.

E. Subjek dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di MTs. Mardliyah. Adapun madrasah yang

berstatus swasta ini memiliki letak yang strategis, yaitu berada di tengah-tengah

pemukiman penduduk sehingga keberadaannya telah lama dan mendapat

perhatian dari penduduk yang berminat menyekolahkan putra-putri mereka di

madrasah tersebut. Hal ini terlihat dari jumlah siswa yang tidak pernah kurang

untuk menampung mereka dalam kelas yang tersedia, bahkan terlihat dari jumlah

yang ada setiap kelas kurang lebih 40 siswa merupakan kelas besar. Jumah rombel

(rombongan belajar) terdiri dari satu kelas setiap tingkatan yang ada, yaitu enam
52

kelas dengan kelas VII ada dua kelas, kelas VIII terdiri dua kelas dan kelas IX

juga dua kelas.

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII A semester I (ganjil)

tahun pelajaran 2009/2010, jumlah siswa dalam kelas tersebut sebanyak 40 siswa

yang terdiri dari 21 siswa putra dan 19 siswa putri.

Penelitian ini dilaksanakan menurut prosedur yang telah dirancang oleh

peneliti, yaitu penelitian bertahap dengan siklus sebagai akhir setiap tahapnya,

baik siklus pertama dan kedua. Siklus I dan II ini dimulai dari tanggal 03 Agustus

sampai 10 Agustus 2009.

Sebelum pelaksanaan tiap siklus, dilakukan observasi awal. Observasi

tahap awal dimulai sejak pertama semester ganjil tahun pelajaran2009/2010, yaitu

tanggal 6 Juli 2009. Jadwal pelaksanaan penelitian ini secara ringkas dapat dilihat

dalam lampiran 1.