Anda di halaman 1dari 59

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR

AQIDAH AKHLAK MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN


MASTERY LEARNING ( BELAJAR TUNTAS )
( Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VII-A MTs Al Mardliyah )

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Akhir PPG

UIN Sunan Gunung Djati

Oleh:
NENI TRIANA
NIM: 208204407
Kelas : B

BANDUNG
2009

1
2

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK
KATA PENGANTAR....................................................................................... iii
DAFTAR ISI .................................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................... 1
B. Rumusan Masalah....................................................................... 10
C. Tujuan dan Manfaat ................................................................... 11
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teoritik............................................................................ 13
B. Hipotesis Tindakan...................................................................... 25
C. Analisis Penyebab....................................................................... 25
D. Kerangka Berfikir....................................................................... 26
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian....................................................................... 28
B. Prosedur Penelitian..................................................................... 29
C. Instrumen Penelitian................................................................... 38
D. Analisis Data............................................................................... 47
E. Subjek dan Waktu Penelitian...................................................... 48
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian Siklus Pertama..................................................
B. Hasil Penelitian Siklus Kedua.....................................................
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan.....................................................................................
B. Saran............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
3

KATA PENGANTAR

Segala puju bagi Allah Swt. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah bagi
Rasulullah SAW.
Atas karunia dan rahmat Allah Swt. Akhirnya penulis dapat menyelesaikan
Penelitian Tindakan Kelas ini yang berjudul “ Meningkatkan Aktivitas Prestasi
Belajar Aqidah Akhlak Melalui Penerapan Model Pembelajaran Mastery Learning
( Belajar Tuntas ) ( Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VII-A Mts Al
Mardliyah )”.
Penelitian ini dilakukan di Kelas VII-A MTs Al Mardliyah. Laporan Penelitian
Tindakan Kelas ini diupayakan seoptimal mungkin, meskipun tidak menutup
kemungkinan masih banyaknya kekurangan di dalamnya.

Dalam penyusunan laporan ini Penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak, maka penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Dosen Mata Kuliah PTK yang telah memberikan bimbingan dan
pengajaran
2. Bapak Dosen Pembimbing

3. Guru – guru di MTs Al Mardliyah Garut yang telah membantu

Akhirnya Penulis berharap semoga Laporan PTK ini dapat memberikan manfaat
dan kontribusi yang berharga bagi perkembangan Ilmu Pendidikan khususnya di
lingkungan MTs Al Mardliyah. Saran dan kritik membangun sangat penulis
harapkan.

Bandung, Oktober 2009

Penulis,

NENI TRIANA
4

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pembangunan nasional di bidang pendidikan merupakan bagian dari

upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia

Indonesia. Hal ini dalam rangka mewujudkan masyarakat yang damai,

demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera, yang didukung

oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman, bertaqwa, berakhlak

mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu

pengetahuan dan teknologi, serta memiliki etos kerja yang tinggi dan disiplin

dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Usaha menuju terwujudnya visi pendidikan nasional tersebut diperlukan

peningkatan dan penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan nasional, yang

sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat serta perkembangan

ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian. Dalam rangka ini pula

diberlakukan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional (Departemen Agama, 2005: 3).

Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, peran serta madrasah sangat

diperlukan, karena di samping mengajarkan sejumlah bidang ilmu

pengetahuan umum, juga sebagai ciri khasnya, diajarkan bidang agama Islam

yang mendalam untuk menggali ilmu pengetahuan agama.


5

Seperti dijelaskan oleh Ali (2004: 1), inti proses pendidikan secara

formal adalah mengajar, sedangkan inti proses pengajaran adalah peserta didik

belajar. Oleh karena itu mengajar tidak dapat dipisahkan dari belajar, sehingga

peristilahan kependidikan kita dikenal ungkapan Proses Belajar Mengajar

(PBM) atau proses pembelajaran.

Menurut Sudjana (2005: 1) ada tiga veriabel utama yang saling berkaitan

dengan strategi pembelajaran di sekolah. Ketiga variabel tersebut adalah

kurikulum, guru, dan pembelajaran atau proses belajar mengajar.

Proses pembelajaran dapat dirancang tidak hanya berinteraksi dengan

guru sebagai satu-satunya sumber belajar yang mungkin dapat dipakai untuk

mencapai hasil pembelajaran, melainkan mencakup interaksi dengan semua

sumber belajar yang mungkin dapat dipakai untuk mencapai hasil yang

bermakna.

Peserta didik dipandang dalam kegiatan pembelajaran sebagai individu

dan sosial. Setiap peserta didik memilki perbedaan minat (interest),

kemampuan (ability), kesenangan (preference), pengalaman (experience), dan

cara belajar (learning style). Peserta didik tertentu mungkin lebih mudah

belajar dengan cara mendengar dan membaca, sedangkan peserta didik lain

dengan cara melihat, dan peserta didik yang lainnya lagi belajar dengan cara

melakukan (learning by doing). Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran,

organisasi kelas, materi pelajaran, waktu belajar, alat belajar, dan cara

penilaian perlu disesuaikan dengan karakteristik peserta didik (Sutrisno, 2005:

63).
6

Muhammad (1981: 8) mengatakan bahwa setelah guru memikirkan

bahan pelajaran, hendaklah ia memikirkan cara menyampaikan bahan ke

dalam pikiran peserta didik, dengan memperhatikan tujuan pembelajaran, dan

keadaan peserta didik. Guru harus memikirkan metode yang paling baik

untuk menyusun materi pembelajaran, dan bahan pembelajaran sebagai mata

rantai yang sambung-menyambung.

Selain itu, dalam kegiatan pembelajaran guru sebaiknya memperhatikan

perbedaan individual peserta didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan

psikologis. Kerangka pemikiran demikian dimaksudkan agar guru mudah

dalam melakukan pendekatan kepada setiap peserta didik secara individual.

Peserta didik sebagai individu memliki perbedaan sebagaimana disebutkan di

atas. Pemahaman ketiga aspek tersebut akan merapatkan hubungan guru

dengan peserta didik, sehingga memudahkan melakukan pendekatan mengajar.

Penguasaan kemampuan pelajaran Aqidah Akhlak diperlukan strategi

yang tepat dan cocok. Salah satu strategi yang diterapkan di Madrasah

Tsanawaiyah Al Mardliyah khususnya dalam pelajaran Aqidah Akhlak adalah

mastery learning. Strategi ini meliputi dua kegiatan, yaitu program pengayaan

dan perbaikan (Arikunto, 1988: 31). Proses pembelajaran dengan

menggunakan prinsip Belajar tuntas (mastery learning) menguntungkan bagi

peserta didik, karena dengan kegiatan pembelajaran ini setiap siswa dapat

dikembangkan semaksimal mungkin. Pandangan yang menyatakan semua

peserta didik dapat belajar dengan hasil yang baik juga akan mempunyai

imbas pada pandangan bahwa guru dapat mengajar dengan baik.


7

Belajar tuntas pada dasarnya akan menjadikan peserta didik memiliki

kemampuan dan mengembangkan bakat yang dimilikinya, mengecilkan

perbedaan intelegensi tinggi dengan intelegensi normal. Belajar tuntas

(mastery learning) menjadikan peserta didik dapat mencapai tujuan

pembelajaran, sehingga di dalam kelas tidak terjadi intelegensi tinggi akan

mencapai semua tujuan pembelajaran sedang anak didik yang intelegensi

normal mencapai sebagain tujuan pembelajaran atau tidak mencapai sama

sekali tujuan pembelajaran (Yamin 2007: 121)

Belajar tuntas dilandasi oleh dua asumsi, pertama, mengatakan bahwa

adanya korelasi antara tingkat keberhasilan dengan kemampuan potensial

(bakat). Hal ini dilandasi teori tentang bakat yang dikemukakan oleh Carrol

(1953) yang menyatakan bahwa apabila peserta didik didistribusikan secara

normal dengan memperhatikan kemampuannya secara potensial untuk

beberapa bidang pengajaran, kemudian mereka diberi pengajaran yang sama

dan hasil belajarnya diukur, ternyata akan menunjukkan distribusi normal.

Hal ini berarti bahwa peserta didik yang berbakat cenderung untuk

memperoleh nilai tinggi. Kedua, apabila pelajaran dilaksanakan secara

sistematis, maka semua peserta didik akan mampu menguasai bahan yang

disajikan kepadanya, Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Bandung,

Remaja Rosdakarya, 2004, hal. 53-54.

Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan penulis di

lapangan, diperoleh gambaran bahwa penerapan strategi mastery learning

dalam pelaksanaan pembelajaran Aqidah Akhlak di MTs Al Mardliyah sudah


8

sejak lama dilakukan oleh guru-guru pengampu mata pelajaran Aqidah

Akhlak. Hal ini dapat dilihat bahwa di satu sisi latar belakang pendidikan

peserta didik beraneka ragam, sebagian ada yang berasal dari Sekolah Dasar

plus Madrasah Diniyah, serta sebagian lagi berasal dari Sekolah Dasar dan

Madrasah Ibtidaiyah, menyebabkan peserta didik Madrasah Tsanawaiyah Al

Mardliyah masih memiliki perbedaan-perbedaan indivi/dual dalam memahami

pembelajaran Aqidah Akhlak dengan menggunakan strategi mastery learning.

Sementara itu, guru yang mengampu bidang Aqidah Akhlak bukan jurusan

Aqidah Akhlak, tetapi didukung oleh faktor sarana dan prasarana yang

memadai, proses pembelajaran berlangsung secara continuitas dan sesuai

dengan perencanaan pembelajaran.

Sehubungan dengan latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian tentang “ Meningkatkan Aktivitas Prestasi Belajar
Aqidah Akhlak Melalui Penerapan Model Pembelajaran Mastery Learning
( Belajar Tuntas ) ( Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VII-A Mts Al
Mardliyah )”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang

menjadi pokok masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai

berikut:

1. Bagaimana strategi guru menggunakan mastery learning dalam

pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah?


9

2. Bagaimana prestasi peserta didik dalam pembelajaran Aqidah Akhlak

dengan mastery lerning di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah pada

semua siklus?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian


1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan :

1. Untuk mengetahui strategi guru menggunakan mastery learning dalam

pembeljaran Aqidah Akhlak di MTs Al Mardliyah

2. Untuk mengetahui daya serap peserta didik dalam pembelajaran Aqidah

Akhlak dengan mastery learning di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah

pada semua siklus

2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah :
1. Bagi Siswa
Melalui hasil penelitian ini diharapkan siswa akan lebih bersemangat dalam
mengikuti proses pembelajaran Aqidah Akhlak, disamping itu siswa akan
mendapatkan pembelajaran yang variatif serta berperan aktif, sehingga
dimungkinkan dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
2. Bagi Guru
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman langsung
bagi guru-guru yang terlibat untuk memperoleh pengalaman baru dalam
menerapkan metode pembelajaran yang menarik perhatian siswa, tidak monoton
dan inovatif. Sehingga pada perkembangan selanjutnya guru akan lebih kreatif
dan berusaha menghilangkan kejenuhan siswa melalui penerapan model
pembelajaran tersebut.
3. Bagi sekolah
10

Hasil penelitian ini dapat memberikan pengalaman pada guru-guru lain


sehingga memperoleh pengalaman baru untuk menerapkan pendekatan inovasi
dalam pembelajaran.
11

BAB II
KAJIAN TEORITIK

1. Pengertian Pembelajaran Aqidah Akhlak

Pembelajaran dalam pendidikan berasal dari kata instruction yang

berarti pengajaran (Echols, 1992 : 325). Gagne dan Briggs dalam Sudjana

(2000 : 13) memberi pengertian pembelajaran adalah insiruction is a set of

events which efflit kaerners in such a way that warning fasilitated.

Menurut Zayadi (2005 : 8) pembelajaran adalah sebagai kegiatan guru

secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat peserta didik

belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.

Selain itu menurut Mulyasa (2006 : 100) bahwa proses pembelajaran pada

hakekatnya merupakan interaksi para peserta didik dengan lingkungannya

sehingga terjadi perubahan perilaku yang baik. Interaksi tersebut banyak

diketahui oleh faktor internal yang dipengaruhi oleh diri sendiri maupun

faktor eksternal yang berasal dari lingkungan dalam pembelajaran, tugas

seorang guru yang utama dalam pembelajaran, tugas seorang guru yang

utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya

perubahan prilaku peserta didik.

Berdasarkan konsep pembelajaran tersebut, kegiatan pembelajaran

bermuara pada dua kegiatan pokok sebagai berikut :

a. Bagaimana orang melakukan tindakan perubahan tingkah laku melalui


12

kegiatan belajar.

b. Bagaimana orang melakukan tindakan penyampaian ilmu pengetahuan

melalui kegiatan pembelajaran.

Makna pembelajaran merupakan kondisi eksternal kegiatan belajar,

yang antara lain dilakukan oleh guru dalam mengondisikan seseorang

untuk belajar. Secara umum belajar merupakan kegiatan yang melibatkan

terjadinya perubahan tingkah laku, maka dari itu pengertian pembelajaran

adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan sedemikian rupa

sehingga tingkah laku peserta didik berubah kearah yang lebih baik

(Darsono, 2001 : 24).

Berdasarkan pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa

pembelajaran adalah proses interaksi. Interaksi tersebut yaitu antara

peserta didik dengan lingkungan belajar, yang diatur oleh guru untuk

mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, posisi

guru dalam

Menurut Djamarah (2002 : 38-35) bahwa aktivitas belajar

peserta didik adalah 1) mendengarkan; 2) memandang; 3) meraba,

membau dan mengecap; 4) menulis atau mencatat; 5) membaca; 6)

membuat ikhtisar atau ringkasan dan menggarisbawahi; 7) mengamati

tabel, diagram-diagram dan bagan-bagan; 8) menyusun paper atau

kertas kerja; 10) mengingat; 10) berpikir; 11) latihan atau praktek.

Kegiatan peserta didik yang dikemukakan oleh dua tokoh

tersebut dalam proses pembelajaran bahasa, pada intinya meliputi


13

kegiatan mendengarkan, membaca, menulis dan berbicara. Empat

kegiatan tersebut dalam pelaksanaannya berupa kegiatan yang

berhubungan dengan sikap, keterampilan, pemahaman dan

pengetahuan yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Apabila

dalam proses tersebut hanya mencakup satu atau dua aspek kegiatan,

maka pembelajaran bahasa dapat dikatakan kurang berhasil, sebaliknya

apabila empat aspek tersebut dikuasai, berarti peserta didik telah

berhasil dalam kegiatan belajarnya.

Proses pembelajaran akan berjalan lebih efektif ketika eserta

didik diberi kesempatan untuk mepraktekkan materi pembelajaran

yang telah diterima. Belajar melakukan lebih efektif daripada dengan

mendengar atau melihat. Guru hendaknya lebih memberikan

kesempatan kepada peserta didik untuk belajar dengan melakukan

(learning by doing).

Hal ini jika dibuat gradiasi efektivitas belajar, maka akan

terlihat sebagaimana bagan berikut :

Gb. 1
Kerucut Pengalaman Belajar

Kerucut Pengalaman Belajar


Modus
Yang Diingat
10 %
baca Verbal
20 % dengar

30 % lihat
Visual
50 % Lihat dan dengar
14

70 % katakan

berbuat
90 % Katakana dan lakukan

Departemen Agama (2003b : 9)

a. Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran merupakan sesuatu yang disajikan guru

untuk diolah dan kemudian dipaham, dalam rangka pencapaian tujuan-

tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan (Ibrahim, 2003 : 100).

Dalam pemilihan materi pembelajaran, ada beberapa kriteria yang

dikembangkan dalam sistem pembelajaran dan yang mendasari strategi

belajar mengajar, yaitu : 1) materi supaya sejalan dengan tujuan

pembelajaran yang telah dirumuskan, 2) materi pembelajaran supaya

terjabar, 3) relevan dengan kebutuhan peserta didik, 4) kesesuaian

dengan kondisi masyarakat, 5) materi pelajaran mengandung segi-segi

etik, 6) materi pembelajaran tersusun dalam ruang lingkup dan urutas

yang sistematis serta logis, 7) materi pembelajaran bersumber yang

baku, pribadi guru, dan masyarakat (Harjanto, 2006 : 222-224).

b. Metode

Metode berasal dari bahasa Greeka-Yunani, yaitu metha

(melalui atau melewati), dan hodods (jalan atau cara). Asal makna

tersebut dapat diambil pengertian secara sederhana adalah jalan yang

ditempuh oleh seorang guru dalam enyampaikan ilmu pengetahuan

pada anak didiknya sehingga dapat mencapai tujuan tertentu (Thoifuri,


15

2008 : 56). Metode dalam interaksi pembelajaran adalah cara yang

tepat dan cepat melaksanakan sesuatu. Cara cepat dan tepat inilah,

maka urutan kerja dalam suatu metode harus diperhitungkan benar-

benar secara ilmiah.

Dalam proses pembelajaran, Muhadjir (2000 : 140)

membedakan antara istilah pendekatan, metode dan teknik. Pendekatan

berarti cara menganalisis, memperlakukan, dan mengevaluasi sesuatu

oyek. Misalnya dalam pembelajaran, peserta didik dilihat dari sudut

interaksi sosialnya, maka ada pendekatan individual dan pendekatan

kelompok. Sedangkan istilah metode dan teknik dapat dianalogkan

dengan jalan dan kendaraan yang digunakan seseorang untuk mencapai

suatu tempat. Misalnya, seseorang akan pergi ke kota A, maka jalan

yang dipilih untuk dilewati dianalogkan dengan metode, sedangkan

kendaraan dianalogkan dengan teknik.

Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai, maka guru dalam

memilih metode perlu memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :

1) Tujuan yang hendak dicapai, 2) Kemapuan guru, 3) Peserta didik, 4)

Situasi dan kondisi pembelajaran di mana berlangsung, 5) Fasilitas, 6)

waktu yang tersedia, 7) kebaikan dan kekurangan meode (Utsman,

2002 : 33).

Menurut Mulyanto dalam Abdul Kholim (2005 : 37) metode-

metode pembelajaran bahasa arab adalah : 1) metode langsung (direct

method), 2) metode alamiah (natural method, 3) metode psikologie


16

(psichological method), 4) meode ponetik (phonetic), 5) metode

membaca (reading method), 6) metode gramatika (gramar method), 7)

metode terjemah (translation method), 8) Metode gramatika-terjemah

(gramar-translation method), 9) metode gabungan (eclectic method),

10) metode unit (unit method), 11) metode pembatasan bahasa

(language control method), 12) metode mim-mem (mimiery –

memorization method), 13) metode praktek-teori (practice-theory

method), 14) metode cognate (cognate method), 15) metode dwibahasa

(dual-language method.

Metode –metode tersebut berkumpul hanya pada dua kutub,

yaitu :

1) Metode-metode yang melekat pada unsur metode langsung (dirrect

method)

2) Metode-metode yang langkahnya berkisar pada prinsip metode

tidak langsung (indirect method) (Malibary, 1976 : 103

Kegiatan pembelajaran bahasa Arab hendaknya menggunkan

metode yang bervariasi dan tepat, karena pada dasarnya tidak ada

metode yang paling ideal dan tepat, masing-masing mempunyai

kelebihan dan kekurangan sendiri. Hal ini sangat bergantung pada

tujuan yang hnedak dicapai, guru, ketersediaan fasilitas, dan kondisi

peserta didik.

c. Penilaian Hasil Pembelajaran

1) Pengertian Penilaian dan Tujuan


17

Penyerapan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran

tergantung kepada perilaku peserta didik dalam pembelajaran dan

penilaian dalam proses pembelajaran.

Penilaian hasil belajar merupakan suatu cara menetapkan

kuantitas dan kualitas hasil belajar. Karena tujuan pengajaran

merupakan deskripsi tentang hasil belajar yang seharusnya dicapai

oleh peserta didik, maka penilaian hasil belajar merupakan suatu

cara untuk mengidentifikasi hasil belajar (Waridjan, 1991 : 1).

Sedangkan Wand dan Brown (dalam Nurkencana, 1986 : 1)

mengemukakan bahwa evaluasi suatu proses untuk menentukan

nilai dari sesuatu. Pengertian evaluasi dipertegas lagi, dengan

batasan sebagai proses memberikan atau menentukan nilai kepada

objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu (Nana Sudjana,

2006 : 3)

Berdasarkan pengertian penilian tersebut, dapat

disimpulkan bahwa penilaian sebagai proses sistematis yang

digunakan untuk menentukan nilai sesuatu, yaitu tujuan, kegiatan,

unjuk-kerja, proses, orang, dan objek yang didasarkan pada kriteria

tertentu.

Penilaian bidang Aqidah Akhlak Di Madrasah Tsanawiyah

(MTs) bertujuan untuk: (1) mengetahui kemajuan peserta didik,

baik sebagai individu maupun kelompok setelah mengikuti proses

pembelajaran, (2) mengetahui tingkat efektifitas dan efisiensi


18

komponen-komponen pembelajaran yang digunakan guru bahasa

Arab, (3) menentukan tindak lanjut dari kegiatan pembelajaran

bagi peserta didik (Departemen Agama, 2003d : 6). Tujuan

penilaian tersebut, nomor satu dan dua sebagai timbal balik bagi

guru untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Sedangkan tujuan

penilaian nomor tiga merupakan langkah yang menentukan bagi

peserta didik, apakah harus remidial, bantuan (tutor), pengayaan,

diakhir tahun apakah naik kelas atau tidak, dan akhir studi apakah

layak lulus atau tidak.

2) Prosedur Penilaian Hasil Belajar

Ditinjau dari sasaran penilaian pembelajaran dapat kiranya

kita bayangkan banyaknya pekerjaan guru dan pelaksanaan

penialaian. Oleh karena itu dapat diungkapkan bahwa guru sebagai

penilai dalam pembelajaran mempunyai peranan penting dalam

memberikan informasi mengenai keberhasilan pembelajaran

(Arikunto, 1988 : 7)

Menurut Rafi'i (1990 : 1) penilaian dalam proses

pembelajaran menyangkut masalah-masalah tujuan pembelajaran

dan pengembangan kurikulum, yaitu :

(a) Menilai kemajuan proses

pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.


19

(b) Menilai kembali kurikulum atau

batas-batas kegiatan kurikulum yang telah dicapai

(c) Menilai tepatguna dan dayaguna

metode mengajar.

(d) Menilai bentuk dan taraf test:

- Taraf dipercayanya item tes yang dibuat (reliability items)

- Validitas atau syahnya item (validity items)

- Daya pembeda item-item (discriminatyng power)

- Taraf kesukaran item yang dibuat (difficulty)

Penilaian dilaksanakan pembelajaran dilaksanakan sejak

sebelum, proses dan sesudah pembelajaran dan dilakukan secara

continuitas. Hasil penilaian tersebut juga dijadikan sebagai umpan

balik kepada guru, apakah metode pembelajaran sesuai dengan

situsi dan kondisi peserta didik, dan penilaian terhadap siswa

sesuai dengan prosedur penilaian, serta kurikulum yang dijadikan

pedoman dalam proses pembelajaran tepat mengenai sasaran.

Menurut Dimyati (2006 : 227) prosedur penilaian

pembelajaran terdiri dari lima tahapan, yakni penyusunan

rancangan, penyusunan instrumen, pengumpulan data, dan

penyusunan laporan evaluasi pembelajaran.

3) Penyerapan Peserta didik

Materi pembelajaran yang sudah dikuasai atau belum

dikuasai peserta didik, dapat diketahui dengan menentukan daya


20

serap peserta didik. Dalam ruang lingkup yang lebih besar dapat

diketahui keberhasilan belajar dalam berbagai bidang. Hal ini

sangat berguna sebagai feed back (umpan balik) untuk perbaikan

pembelajaran yang akan dilaksanakan kemudian.

Menurut Shaleh (2005 : 105) Pengertian daya serap itu

sendiri adalah sebagai prosentase penguasaan peserta tes terhadap

bahan pembelajaran yang telah dipelajarinya atau materi tes yang

disajikan. Daya dianalisis oleh guru bidang, setelah proses

pembelajaran sebagai bahan masukan bagi guru mengenai

kemajuan dan penguasaan peserta didik tentang materi

pembelajaran.

Ada beberapa daya serap , diantaranya daya serap

kompetensi dasar, daya serap bidang, dan daya serap umum.

1) Daya Serap kompetensi Dasar

Daya serap ini ditentukan dengan cara menghitung rata-rata

prosentase jawaban benar dari semua soal yang disajikan dalam

kompetensi yang dituntut.

2) Daya Serap Bidang

Daya serap mata pelajaran yaitu rerata prosentase jawaban

benar dari seluruh kompetensi dalam bidang tertentu.

3) Daya Serap Umum adalah rerata dari daya serap seluruh

bidang.
21

Daya serap dalam pembelajaran Bahasa Arab dihitung dan

dianalisis oleh guru bidang Bahasa Arab adalah daya serap

kompetensi dasar dan daya serap bidang studi atau mata pelajaran.

Sedangkan daya serap umum dihitung dan dikerjakan oleh wakil

kepala bidang kurikulum dan Tata Usaha.

B. Kajian Mastery Learning

1. Pengertian Mastery learning

Sesungguhnya pendidikan dalam arti luas adalah proses yang

berkaitan dengan upaya untuk mengembangkan potensi meliputi tiga

aspek kehidupan yaitu : pandangan hidup, sikap hidup, dan ketrampilan

hidup. Ketiga aspek tersebut sering disebut dengan istilah kognitif afektif

dan psikomotorik, ketiganya merupakan totalitas yang melekat pada diri

seseorang (Ma'sumah , 2001 : 214). Belajar yang merupakan bagian dari

proses pendidikan tidak lepas dari ketiga aspek tersebut, tidak dapat

dipisahkan satu sama lain. Peserta didik dikatakan telah berhasil dalam

belajar jika proses pembelajaran yang telah dilaluinya itu meliputi ketiga

ranah tersebut.

Sejauh pendidik masih didominasi oleh pandangan bahwa

pendidikan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal, kelas hanya

bersumber pada guru sebagai fokus utama pengetahuan, kemudian

ceramah masih sebagai pilihan utama dalam strategi pembelajaran.

Menurut Nurhadi ((2002 : 2) untuk hal tersebut diperlukan strategi yang

lebih memberdayakan peserta didik, sebuah strategi belajar yang tidak


22

mengharuskan peserta didik menghafal fakta-fakta, melainkan sebuah

strategi yang mendorong peserta didik mengkondisikan pengetahuan

dipundak mereka sendiri.

Kegiatan belajar mengajar atau pembelajaran tidak lain adalah

untuk menanamkan sejumlah norma ke dalam jiwa anak didik. Semua

norma yang diyakini mengndung kebaikan yang perlu ditanamkan

kedalam jiwa anak didik melalui peranan guru dalam pengajaran. Interaksi

antara guru dan anak didik terjadi karena saling membutuhkan (Sudarman,

2000 : 16)

Peserta didik dalam proses belajar tidak semata-mata menerima

pelajaran yang dihadirkan oleh guru. Pada waktu proses itu terjadi proses

transaksi antara anak-anak dan lingkungannya. Tergantung pada

bagaimana guru mengkondisikan lingkungan belajar yang baik. Guru yang

mengkondisikan sebagai satu-satunya sumber belajar berarti memberikan

lingkungan belajar yang kurang menantang, karena tidak akan mendorong

peserta didik belajar secara aktif. Hal itu sama dengan memisahkan anak

dengan lingkungannya, sebab materi pelajaran sudah tidak original (karena

sama saja telah ditafsirkan atau disesuaikan dengan bahasa guru) sehingga

anak didik hanya menerima apa saja yang disampaikan oleh guru

(Muchtar,2005 : 147-148). Guru dalam proses pembelajaran mengatur dan

mengarahkan agar peserta didik berinteraksi dengan baik dalam

lingkungan belajarnya, baik antara peserta didik yang satu dengan peserta

didik yang lainnya, maupun antara guru dengan peserta didik. Selain dari
23

itu guru hendaknya mengarahkan peserta didik agar belajar berdasarkan

berbagai sumber, baik insani maupun noninsani.

Sebagai seorang guru senantiasa dituntut untuk mampu

menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif serta dapat memotivasi

peserta didik dalam belajar mengajar yang akan berdampak positif dalam

pencapaian prestasi hasil belajar secara optimal. Guru dapat menggunakan

metode maupun strategi mengajar yang tepat, efektif dan efisien untuk

membantu meningkatkan kegiatan belajar serta memotivasi peserta didik

untuk belajar dengan baik (Slamet, 1995 : 65).

Suatu pernyataan bahwa didalam proses belajar mengajar selalu

ada peserta didik yang memerlukan bantuan baik dalam mencerna bahan

pelajaran maupun dalam mengatasi kesulitan-kesulitan belajar mereka.

Namun dengan adanya inovasi pendidikan yang mengarah kepada cara

belajar peserta didik aktif, yaitu memberikan peranan aktif pada peserta

didik. Peranan aktif peserta didik diharapkan penguasaan tuntas bagi setiap

peserta didik pada setiap bidang dapat lebih ditingkatkan, sehingga tujuan

pembelajaran dapat dicapai dengan baik.

Mastery learning (belajar tuntas) adalah suatu sistim belajar yang

mengharapkan peserta didik dapat menguasai tujuan pembelajaran umum

(basic learning objektivitas) dari satuan atau unit pelajaran secara tuntas

(Zuhairini, 1998 : 138)

Proses belajar peserta didik dengan mastery learning (belajar

tuntas) lebih diarahkan minat belajar peserta didik di tingkatkan, sikap


24

yang positif terhadap belajar dan bahan yang dipelajari lebih ditingkatkan

dan dikembangkan. Dengan demikian perubahan prilaku yang diharapkan

pada setiap peserta didik akan berhasil secara obtimal.

Usman dan Setyawati (, 1996 : 96) menjelaskan bahwa mastery

learning (belajar tuntas) adalah tarap penguasaan minimal yang ditetapkan

oleh setiap unit bahan pelajaran baik secara individual maupun kelompok,

dengan kata lain, apa yang dipelajari peserta didik dapat di kuasai

sepenuhnya.

Startegi belajar tuntas merupakan strategi pembelajaran yang dapat

dilaksanakan dalam kelas, dengan asumsi bahwa didalam kondisi yang

tepat semua peserta didik akan mampu belajar dengan baik dan

memperoleh hasil belajar secara maksimal terhadap seluruh bahan yang

dipelajari (E Mulyasa 2006 : 53). Teori mastery learning (belajar tuntas)

merupakan salah satu usaha dalam pembaharuan penduduk yang bertujuan

untuk meningkatkan motivasi serta usaha belajar peserta didik agar supaya

peserta didik, agar supaya peserta didik dapat mencapai tingkat ketuntasan

(mastery level) bagi semua peserta didik baik yang mempunyai IQ tinggi

ataupun sebaliknya.

Warji R (1983 : 12), menyatakan bahwa mastery learning (belajar

tuntas) adalah suatu sistem belajar yang mengharapkan agar supaya

peserta didik dapat menguasai tujuan pembelajaran umum/standar

kompetensi, yaitu satu unit atau satuan pelajaran secara tuntas. Tuntas

berarti mencapai suatu tingkat penguasaan tertentu mengenai tujuan-tujuan


25

instruksional satuan/unit pelajaran tertentu sesuai dengan standar norma

tertentu pula.

Standar tingkat penguasaan tertentu itu mengndung pengertian dan

berapa persen tujuan intruksional khusus (kompetensi dasar) yang

dijabarkan dari tujuan umum (standar kompetensi) suatu satuan pelajaran

yang dikuasai oleh peserta didik

Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar

tuntas (mastery learning) adalah sistem belajar yang menghendaki seluruh

peserta didik dapat menguasai bahan yang disampaikan secara tuntas.

Dengan demikian proses belajar mengajar ini lebih diarahkan pada

pencapaian taraf penguasaan penuh terhadap apa yang disampaikan oleh

para guru.

2. Prinsip-Prinsip Mastery learning

Menurut Yamin (2007 : 121) pada dasarnya belajar tuntas akan


menciptakan peserta didik memiliki kemampuan dan mengembangkan
potensi yang dilikinya, mengecilkan perbedaan antara anak cerdas dengan
anak yang tidak cerdas. Belajar tuntas menciptakan anak didik dapat
mencapai tujuan pembelajaran, sehingga di dalam kelas tidak terjadi anak
cerdas akan mencapai semua tujuan pembelajaran sedang anak didik yang
kurang cerdas mencapai sebagian tujuan pembelajaran atau tidak mencapai
sama sekali tujuan pembelajaran. Menurut Oemar Hamalik (1995 : 84 )
bahwa Sistem pembelajaran yang menggunakan prinsip belajar tuntas
(mastery learning) adalah tidak menerima perbedaan prestasi belajar
peserta didik sebagai konsekwensi perbedaan bakat. Carrol menyatakan
bahwa bakat merupakan ukuran mengenai waktu yang diperlukan untuk
mempelajari tugas pada jenjang tertentu dalam kondisi pengajaran yang
26

ideal. Berdasarkan kedua pendapat tersebut, semua peserta didik dapat


mengembangkan bakatnya dengan baik apabila peserta didik diberi
kesempatan belajar yang memadai sesuai dengan kemampuan yang
dimilikinya.

Hal ini dilandasi dengan teori bakatnya yang menyatakan bahwa

apabila para peserta didik didistribusikan secara normal dengan

memperhatikan kemampuannya secara potensial untuk beberapa bidang

pengajaran, kemudian mereka diberi pengajaran yang sama kemudian

hasilnya dapat diukur, ternyata akan menunjukkan distribusi Carrol juga

menganggap bahwa pada pasalnya bakat bukan merupakan indeks

kemampuan seseorang, melainkan sebagai ukuran kecepatan belajar.

Artinya seorang yang memiliki bakat tinggi memerlukan waktu yang lebih

sedikit untuk mencapai taraf penguasaan bahwa dibandingkan dengan

peserta didik yang memiliki bakat rendah. Peserta didik dapat mencapai

penguasaan penuh (mastery) terhadap bahan yang disajikan, bila kualitas

pembelajaran dan kesempatan waktu belajar dibuat tepat sesuai dengan

kebutuhan masing-masing peserta didik (Mulyasa, 2006 : 54).

Menurut Sukmadinata ( 2004 : 190-191) konsep belajar tuntas

mendasarkan pengembangan pengajarannya kepada prinsip-prinsip

sebagai berikut :

a) Sebagaian besar peserta didik dalam situasi dan kondisi belajar

yang normal dapat menguasai sebagian terbesar bahan yang diajarkan.

Penyebaran peserta didik dalam kelas tidak mengikuti distribusi

normal.
27

b) Guru menyusun strategi pembelajaran belajar tuntas (mastery

learning) mulai dengan merumuskan tujuan pembelajaran yang hendak

dikuasai peserta didik

c) Sejalan dengan tujuan pembelajaran guru merinci bahan ajar

(materi pembelajaran) menjadi satuan bahan ajar yang kecil yang

mendukung pencapaian sekelompok tujuan pembelajaran.

d) Penilaian hasil belajar tidak menggunakan acuan norma, tetapi

menggunakan acuan patokan.

e) Konsep belajar tuntas juga memperhatikan adanya perbedaan


individual. Prinsip ini direalisasikan dengan memberikan keleluasaan
waktu, yaitu peserta didik yang pandai atau cepat belajar bias maju
lebih dahulu kepada materi pembelajaran berikutnya, sedang peserta
didik yang lamban dapat menggunakan waktu lebih banyak sampai
menguasai secara tuntas bahan yang diberikan.

3. Strategi Mastery learning


Strategi belajar tuntas menurut Hamalik (2003 : 85) adalah suatu
strategi pembelajaran yang diindividualisaikan dengan menggunakan
pendekatan kelompok (gorup-based approach). Pendekatan ini
memungkinkan para peserta didik belajar bersama-sama berdasarkan
pembatasan bahan pelajaran yang harus dipelajari peserta didik, sampai
tingkat tertentu, penyediaan waktu belajar yang cukup, dan pemberian
bantuan kepada peserta didik yang mengelami kesul;itan belajar.
Menurut Mulyasa (2004 : 55) Strategi belajar tuntas dapat

dibedakan dari pengajaran non-belajar tuntas terutama dalam hal-hal

berikut :
28

a. Pelaksanaan tes secara teratur untuk memperoleh balikan terhadap

bahan yang diajarkan sebagai alat untuk mendiagnosa kemajuan

(diagnostic progress test).

b. Peserta didik baru dapat melangkah pada pelajaran berikutnya setelah

ia benar-benar menguasai bahan pelajaran sebelumnya sesuai dengan

patokan yang ditetapkan.

c. Pelayanan bimbingan dan penyuluhan terhadap peserta didik yang

gagal mencapai taraf penguasaan penuh, melalui pengajaran korektif

yang menurut Marrison merupakan pengajaran kembali, pengajaran

tutorial, restrukturasi kegiatan belajar dan pengajaran kembali

kebiasaan-kebiasan belajar peserta didik, sesuai dengan waktu yang

diperlukan masing-masing.

Strategi belajar tuntas yang dikembangkan Bloom (1968) meliputi

tiga bagian, yaitu mengidentifikasi prakondisi, mengembangkan

prosedur operasional dan hasil belajar. Selanjutnya diimplemtasikan

dalam pembelajaran klasikal dengan memberikan bumbu untuk

menysesuaikan dengan kemampuan individual, yang meliputi :

a. Corrective technique. Semacam pengajaran remidial yang

dilakukan dengan pemberian terhadap tujuan yang gagal dicapai

oleh peserta didik, dengan prosedur dan metode sebelumnya.

b. Memberikan tambahan waktu kepada peserta didik yang

membutuhkan atau belum menguasai bahan secara tuntas.

4. Pola dan Prosedur Mastery learning


29

Menciptakan suatu pembelajaran yang berhasil, Bloom mengembangkan

suatu pola dan prosedur pembelajaran yang dapat diterapkan dalam

memberikan pembelajaran kepada satuan kelas. Secara operasional Bloom

(dalam Winkel, 1996 : 413) menyiapkan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Menentukan tujuan pembelajaran yang harus dicapai peserta didik.

Menurut Sanjaya ( 2007 : 62) ada beberapa alasan tujuan pembelajaran

perlu dirumuskan dalam merancang suatu program pembelajaran.

Pertama, perumusan tujuan yang jelas dapat digunakan untuk

mengevaluasi efektivitas keberhasilan proses pembelajaran. Suatu

proses pembelajaran dikatakan berhasil makala peserta didik dapat

mencapai tujuan secara oftimal. Keberhasilan itu merupakan indikator

keberhasilan guru merancang dan melaksanakan proses pembelajaran.

Kedua, tujuan pembelajaran dapat digunakan sebagai pedoman dan

panduan kegiatan belajar peserta didik. Tujuan yang jelas dan tepat

dapat membimbing peserta didik dalam melaksanakan aktivitas belajar.

Berkaitan dengan itu guru juga dapat merencanakan dan

mempersiapkan tindakan apa saja yang harus dilakukan untuk

membantu peserta didik.

Ketiga tujuan pembelajaran dapat membantu dalam mendesain sistem

pembelajaran. Artinya, dengan tujuan yang jelas dan tepat dapat

membantu guru dalam menentukan materi pelajaran, metode atau

strategi pembelajaran, alat, media, dansumber belajar, serta dalam


30

menentukan dan merancang alat evaluasi untuk melihat keberhasilan

belajar peserta didik.

Keempat, tujuan pembelajaran dapat digunakan sebagai control dalam

menentukan batas-batas dan kualitas pembelajara. Artinya melalui

penetapan tujuan, guru dapat mengontrol seberapa jauh peserta didik

telah menguasai kemampuan-kemampuan sesuai dengan tujuan dan

tuntutan kurikulum yang berlaku. Lebih jauh dengan tujuan dapat

ditentukan daya serap peserta didik dan kualitas suatu sekolah /

madrasah.

b. Menjabarkan materi pembelajaran (bahan ajar) atas sejumlah unit

pembelajaran.

Materi pembelajaran dikembangkan sesuai dengan tujuan

pembelajaran, berdasarkan kurikulum yang sedang berlaku

(Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Agar rencana pembelajaran

membantu guru dalam pembelajaran, rincian pokok-pokok materi

hendaknya dicantumkan secara cermat dalam rencana pembelajaran.

Dalam mengorganisasikan materi, guru dapat menempuh berbagai

cara. Guru dapat menyususnnya dari yang mudah ke yang sukar, dari

yang sederhana ke yang kompleks, dari yang konkret ke yang abstrak,

atau yang ada di sekitar peserta didik ke yang jauh (Wardani, 2004 : 8)

Pemiliahn materi pembelajaran (bahan ajar) harus sejalan

dengan kriteri-kriteria yang digunakan untuk memilih isi kurikulum

bidang., yaitu : 1) Akurat dan up to date, sasarannya sesuai dengan


31

kemajuan ilmu pengetahuan dan penemuan baru dalam bidang

teknologi; 2) Kemudahan, sasarannya untuk memahami prinsip,

generalisasi, dan memperoleh data; 3) Kerasionalan, sasarannya

mengembangkan kemampuan berpikir rasional, bebas dan logis; 3)

Esensial, sasarannya untuk mengembangkan moralitas pengguanaan

pengetahuan; 4) Kemaknaan, sasarannya bermakna bagi peserta didik

dan perubahan social; 5) Keberhasilan, sasarannya keberhasilan untuk

mempengaruhi tingkah laku peserta didik; 5) Keseimbangan,

sasarannya mengembangkan pribadi peserta didik secara seimbang dan

menyeluruh; 6) Kepraktisan, sasarannya mengarahkan tindakan sehari-

hari dan untuk pelajaran berikutnya (Harjanto, 2006 : 223)

c. Memberikan pelajaran secara klasikal, sesuai dengan unit

pembelajaran yang sedang dipelajari. Proses pembelajaran menurut

Muslich ( 2007 : 60) biasanya dikelompokan ke dalam tiga kegiatan

besar, yaitu : 1) Kegiatan awal, biasanya diisi dengan mengemukakan

hal-hal yang menarik minat peserta didik untuk belajar, membahas

ulang pengetahuan prasyat, atau menyampaikan informasi awal atau

penjelasan tugas secara klasikal. Pengetahuan prasyarat yang dibahas

hendaknya betul-betul yang dekat dengan konsep baru yang dipelajari,

tidak terlalu jauh sehingga waktu yang digunakan menjadi singkat; 2)

Kegiatan inti, disediakan untuk peserta didik mengalami kegiatan

seperti melakukan percobaan, bermain peran, kegiatan pemecahan

masalah, atau simulasi, yang sebaiknya dilakukan secara berpasangan


32

atau berkelompok. Apabila kegiatan ini dilakukan peserta didik secara

perorangan maka harus diikuti dengan kegiatan yang melibatkan lebih

dari satu orang, misalnya saling menjelaskan proses dan hasil belajar

kepada temannya. Hal ini dimaksudkan agar tercipta interaksi diantara

mereka sehingga hasil belajar mereka menjadi mantap; 3) Kegiatan

penutup, biasanya diisi dengan rangkuman hasil belajar secara klasikal.

Alokasi waktu untuk kegiatan awal dan penutup masing-masing

sebaiknya tidakl lebih dari 10-15 menit sehingga sisanya untuk

kegiatan inti.

d. Memberikan tes kepada peserta didik pada akhir masing-masing unit

pembelajaran, untuk mengecek kemajuan masing-masing peserta didik

dalam mengolah materi pembelajaran. Te situ bersifat formatif, yaitu

bertujuan mengetahui sampai seberapa jauh peserta didik dalam

pengolahan materi pembelajaran (diagnostic proress test). Menurut

Yamin (2007 : 127) dalam test formatif ini, ditetapkan norma yang

tetap dan pasti, misalnya 80% dari jumlah pertanyaan dalam tes itu

harus dijawab betul, supaya peserta didik dinyatakan berhasil atau

telah menguasai tujuan pembelajaran.

e. Peserta didik yang belum mencapai tingkat penguasaan yang dituntut,

diberikan pertolongan khusus, misalnya bantuan dari seorang teman

yang bertindak sebagai tutor, mendapat pengajaran dalam kelompok

kecil, disuruh mempelajari buku bidang lain dan mengambil unit

pelajaran yang telah diprogramkan. Menurut Yamin (2007 : 127)


33

bentuk pertolongan atau bantuan khusus yang diberikan, dapat

bermacam-macam, asalakan sesuai dengan kebutuhan peserta didik

yang masih mengalami kesulitan. Setelah beberapa waktu, peserta

didik menempuh tes formatif alternative yang mengukur taraf

keberhasilan terhadap unit pelajaran yang sama.

f. Setelah semua peserta didik mencapai tingkat penguasaan pada unit

pembelajaran yang bersangkutan barulah guru mulai mengajarkan unit

berikutnya.

Menurut Shaleh ( 2005 : 79 ) peserta didik dalam strategi mastery

learning dinyatakan tuntas tuntas belajar / menguasai materi

pembelajaran jika mencapai skor minimal 75% dan kelas dinyataklan

tuntas belajar jika peserta didik yang tuntas belajar mencapai minimal

85%.

g. Unit pembelajaran yang menyusul itu juga diajarkan secara kelompok

dan diakhiri dengan memberikan tes formatif bagi unit pelajaran yang

bersangkutan. Peserta didik yang ternyata belum mencapai taraf

keberhasilan yang dituntut, kemudian diberi bantuan khusus (seperti

dalam e)

h. Setelah peserta didik paling sedikit kebanyakannya, mencapai tingkat

keberhasilan yang dituntut guru mulai mengajar unit pelajaran ketiga.

Jadi seluruh peserta didik dalam kelas selalu mulai mempelajari suatu

init pelajaran baru secara bersama-sama.


34

i. Prosedur yang sama diikuti pula dalam mengajarkan unit-unit

pelajaran lain, sampai seluruh rangkaian selesai.

j. Setelah seluruh rangkaian unit pelajaran selesai, peserta didik

mengerjakan tes yang mencakup seluruh rangkaian unit pembelajaran.

Test akhir ini bersifat sumatif, yaitu bertujuan mengevaluasi taraf

keberhasilan masing-masing peserta didik terhadap semua tujuan

pembelajaran.

Selain prosedur di atas, menurut S. Nasution (1982 : 53) guru dapat

melakukan belajar tuntas dan peserta didik memiliki menguasai penuh atau

tuntas, yaitu melalui prosedur tambahan. Dengan pengajaran biasa guru

tidak akan mencapai penguasaan tuntas oleh peserta didik. Usaha guru

harus dibantu dengan kegiatan tambahan yang terutama terdiri atas (1)

feedback atau umpan balik yang terperinci kepada guru maupun peserta

didik, (2) sumber dan metode pembelajaran tambahan tambahan di mana

saja diperlakukan. Usaha tambahan itu dimaksud untuk memperbaiki mutu

pembelajaran dan meningkatkan kemapuan peserta didik memahami apa

yang diajarkan dan dengan demikian mengurangi jumlah waktu untuk

menguasai bahan pembelajaran sepenuhnya

5. Faktor-Faktor Mastery learning

Menurut Nasution (2005: 38 -48) bahwa yang mempengaruhi

prestasi belajar sehingga tercapai penguasaan penuh adalah (1) Bakat

untuk mempelajari sesuatu, (2) Ketekunan, (3) kualitas pembelajaran, (4)

kesanggupan untuk menerima peajaran dan kesempatan untuk belajar.


35

a. Bakat sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang

masih perlu dikembangkan dan dilatih juga sangat berpengaruh bagi

tercapainya prestasi seseorang (Wahib,1998 : 108). Dapat pula

diartikan bahwa bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki

seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang

(Syah, 1999 : 135). Dengan demikian, setiap peserta didik pasti

memiliki bakat dlam arti berpotensi untuk mencapai prestasi ke tingkat

tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Jadi secara global

bakat itu serupa dengan intelegensi. Oleh karena itu peserta didik yang

memiliki intelegensi sangat cerdas disebut juga anak yang berbakat.

Ada korelasi antara bakat yang tinggi dengan prestasi belajar.

Korelasi antara bakat, misalnya untuk pelajaran bahasa Arab dan

prestasi untuk bidang itu setinggi 70. Hasil itu akan tampak bila

kepada peserta didik dalam satu kelas diberikan metode yang sama

dalam waktu yang sama. Namun menurut Carrol dalam Nasution

(2005 : 39) adanya perbedaan bakat dipandang sebagai perbedaan

waktu yang diperlukan untuk menguasai sesuatu. Jadi perbedaan bakat

tidak menentukan tingkat penguasaan atau jenis bahan yang dipelajari.

Jadi setiap orang dapat menguasai bidang studi apapun hingga

penguasaan yang tinggi asal diberi waktu yang cukup.

Bila memang benar bahwa setiap anak dapat mencapai

penguasaan penuh atas bahan tertentu, maka implikasi besar bagi dunia

pendidikan. Ada indikasi benar atas pendirian itu. Ulangan yang masih
36

sulit bagi kelas tertentu dianggap sudah mudah bila diberikan kepada

kelas yang lebih tinggi. Soal-soal yang hanya dapat diselesaikan oleh

anak-anak terpandai di kelas rendah, dapat dibuat dengan mudah oleh

murid-murid yang termasuk "bodoh" di kelas yang lebih tinggi. Ini

membuktikan bahwa itu dapat dikuasai sepenuhnya asal diberikan

waktu yang lebih banyak untuk mempelajarinya (Nasution, 2005 : 46)

Menurut Ahyadi (2001 : 93) berdasarkan fungsi atau aspek jiwa

yang terlibat dalam berbagai macam prestasi, bakat dibedakan menjadi

: 1) bakat yang lebih berdasarkan psikofisik, yaitu kemampuan yang

berakar pada jasmaniah sebagai dasar dan fondamen bakat, seperti

kemampuan penginderaan, ketangkasan atau ketajaman pancaindra,

kemampuan motorik, kekuatan badan, kelincahan jasmani,

keterampilan jari jemari, tangan dan anggota badan; 2) Bakat kejiwaan

yang bersifat majemuk yaitu kemampuan ingatan, daya hayal, atau

imaginasi; 3) Bakat kejiwaan yang bersifat khas dan majemuk. Bakat

yang khas adalah bakat yang dari semula sudah ada dan terarah pada

satu lapangan yang terbatas, sedangkan bakat majemuk berkembang

lambat laun dari bakat produktif kea rah yang sangat bergantung dari

keadaan di dalam dan di luar diri individu.

b. Ketekunan

Ketekunan itu nyata dari jumlah waktu yang diberikan oleh

peserta didik untuk belajar mempelajari sesuatu memerlukan jumlah

waktu tertentu carol dalam Uzer Usman (1996 : 98) mendefinisikan


37

ketekunan sebagai waktu yang di inginkan oleh peserta didik untuk

belajar, bila peserta didik membutuhkan sejumlah waktu untuk

mempelajari bahan pelajaran tetapi ia hanya mendapat waktu kurang

dari yang ia butuhkan. Jika anak diberikan waktu yang kurang

daripada yang ia butuhkan untuk mempelajari suatu bahan, maka ia

tidak akan menguasai bahan sepenuhnya. Dengan waktu belajar yang

dimaksudkan yaitu jumlah waktu yang digunakan untuk kegiatan

belajar yaitu mempelajari sesuatu secara aktif.

c. Kualitas Pembelajaran

Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

menuntut dukungan tenaga kependidikan yang terampil, berkualitas

agar dapat membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan

memberdayakan otoritas setempat, serta mengefisienkan sistem dan

mengendorkan birokrasi yang tumpang tindih. Dalam pada itu, dituntut

kemandirian dan kreativitas sekolah dalam mengembangkan

kurikulum dan pembelajaran beserta perangkat evaluasinya.

Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di

sekolah merupakan pengembangan kurikulum pada tingkat lembaga

(institusi) yang akan bermuara pada pengembangan kurikulum pada

tingkat bidang studi (penyusunan silabus) dan pelaksanaan proses

pembelajaran (LPM Edukasi, 2004 : 13)

Kegiatan pembelajaran di kelas dapat dilihat dari sisi guru yang

dapat dicermati dari dua sudut pandang. Pertama, menyatakan bahwa


38

mengajar adalah proses transfer ilmu pengetahuan dan keterampilan

pada peserta didik. Kedua menyatakan bahwa pembelajaran bukan

hanya mengendalikan kelas sehingga menghilangkan sebagian besar

peran serta yang seharusnya dilakukan peserta didik (Suyanto,2001 :

66)

Sebagai seorang pendidik, guru diharapkan bekerja secara

profesional, mengajar secara sistematis dan berdasarkan prinsip

didaktik metodik yang berdaya guna dan berhasil guna (efektif dan

efisien), artinya guru dapat merekayasa sistem pembelajaran secara

sistematis dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran aktif

(Mujiono, 2002: 117-118)

Jadi kualitas pengajaran ditentukan oleh kualitas pengujian,

penjelasan, dan pengaturan unsur-unsur belajar dengan memperhatikan

metode-metode mengajar yang sesuai dengan kebutuhan dan

karakteristik peserta didik secara individual. Karena pada dasarnya

setiap anak belajar tidak secara kelompok, akan tetapi secara

individual, menurut caranya masing-masing meskipun berada dalam

satu kelompok (kelas).

d. Kesanggupan untuk menerima pelajaran

Kesanggupan peserta didik untuk memahami pelajaran erat

kaitannya dengan apa yang dikatakan atau disampaikan oleh guru.

Kemampuan murid untuk menguasai bidang studi banyak bergantung

pada kemampuannya untuk memahami ucapan guru, sebaliknya guru


39

yang tidak sanggup menyatakan buah pikirannya secara jelas, tidak

akan bisa dipahami oleh peserta didik, sehingga penguasaan penuh

terhadap apa yang disampailan tidak akan tercapai dengan baik.

Agar bahan pembelajaran dapat dipahami, guru sendiri harus

fasih berbahasa dan mampu menyesuaikan bahasanya dengan

kemampuan peserta didik, dengan murit-murit dapat menguasai asal

memahami bahan yang di sampaikan. Memperluas komunikasi dapat

dijelaskan berbagai usaha antara lain, belajar kelompok, bantuan

tutorial, buku pelejaran, buku kerja dan alat audio visual (Nasution,

1982 : 42-45)

e. Kesempatan untuk belajar

Alokasi waktu tiap bidang bidang telah telah ditentukan dalam

kurikulum yang tentunya telah di sesuikan dengan kebutuhan waktu

belajar peserta didik dan perkembangan jiwanya, untuk itu para guru

pula mengantisipasi agar waktu belajar yang tersedia sesui dengan

kebutuhan sehingga waktu belajar untuk mempelajari materi pelajaran

tersebut benar-benar efektif. Menurut Usman (1996 : 99) peranan

metode yang di gunakan para guru sangat besar, dan peranan keahlian

guru dalam pemecahan masalah ini sangat menentukan


40

C. Hipotesis Tindakan
a. Hipotesis Tindakan
Untuk memecahkan permasalahan di atas, peneliti akan mengemukakan hipotesis
sebagai berikut:
1. Melalui penerapan model pembelajaran Mastery Learning aktivitas belajar al-
Aqidah Akhlak pada Mata pelajaran Aqidah Akhlak dapat meningkat.
2. Melalui penerapan pembelajaran model Mastery Learning prestasi belajar
Aqidah Akhlak pada kelas Siswa kelas VII-A MTs Al Mardliyah dapat
menigkat.
b. Analisis Penyebab
c. Kerangka Berfikir
Berpijak pada masalah yang ada, Proses pembelajaran dengan

menggunakan prinsip Belajar tuntas (mastery learning)1 menguntungkan bagi

peserta didik, karena dengan kegiatan pembelajaran ini setiap siswa dapat

dikembangkan semaksimal mungkin. Pandangan yang menyatakan semua

peserta didik dapat belajar dengan hasil yang baik juga akan mempunyai

imbas pada pandangan bahwa guru dapat mengajar dengan baik.

Belajar tuntas pada dasarnya akan menjadikan peserta didik memiliki

kemampuan dan mengembangkan bakat yang dimilikinya, mengecilkan

perbedaan intelegensi tinggi dengan intelegensi normal. Belajar tuntas

(mastery learning) menjadikan peserta didik dapat mencapai tujuan

pembelajaran, sehingga di dalam kelas tidak terjadi intelegensi tinggi akan

mencapai semua tujuan pembelajaran sedang anak didik yang intelegensi

normal mencapai sebagain tujuan pembelajaran atau tidak mencapai sama

sekali tujuan pembelajaran (Yamin 2007: 121)

1
41

Belajar tuntas dilandasi oleh dua asumsi, pertama, mengatakan bahwa

adanya korelasi antara tingkat keberhasilan dengan kemampuan potensial

(bakat). Hal ini dilandasi teori tentang bakat yang dikemukakan oleh Carrol

(1953) yang menyatakan bahwa apabila peserta didik didistribusikan secara

normal dengan memperhatikan kemampuannya secara potensial untuk

beberapa bidang pengajaran, kemudian mereka diberi pengajaran yang sama

dan hasil belajarnya diukur, ternyata akan menunjukkan distribusi normal.

Hal ini berarti bahwa peserta didik yang berbakat cenderung untuk

memperoleh nilai tinggi. Kedua, apabila pelajaran dilaksanakan secara

sistematis, maka semua peserta didik akan mampu menguasai bahan yang

disajikan kepadanya, Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Bandung,

Remaja Rosdakarya, 2004, hal. 53-54.

Karena materi Aqidah Akhlak di MTs. merupakan bagian integral dari


pelajaran agama Islam yang harus diampu dan dikuasai oleh siswa. Hal ini tentu
menghendaki adanya kemampuan yang sama di kalangan siswa atau dengan kata
lain semua siswa MTs. hendaknya memiliki tujuan umum pembelajaran (basic
skill) yang sama di dalam mata pelajaran Aqidah Akhlak. Setelah penerapan
model pembelajaran Mastery Learning keaktifan dan prestasi belajar siswa dapat
tercapai.
Secara singkat mengenai kerangka pemikiran dari penerapan dan
pemilihan model pembelajaran Mastery Learning dalam penelitian tindakan kelas
ini digambarkan dalam bagan 2.1 sebagai berikut:

Gambar 2.1.
Bagan / kerangka pemikiran penerapan model
Mastery Learnng
42

Data awal

Aktivitas belajar Prestasi belajar


siswa rendah siswa rendah

Alternatif
pemecahan
masalah

Penerapan Model
Mastery
Learning

Aktivitas belajar Prestasi belajar


siswa meningkat siswa meningkat
43

BAB III
METODOLOGI PENELITAIN
A. Metode Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

kualitatif, yaitu strategi dan teknik penelitian yang digunakan untuk

memahami masyarakat, masalah atau gejala dalam masyarakat dengan

mengumpulkan sebanyak mungkin fakta mendalam, data disajikan dalam

bentuk verbal, bukan dalam bentuk angka (Muhajir, 1996: 20). Adapu

Alasan menggunakan kualitatif adalah 1) Penelitian kualitatif dilakukan

untuk mengembangkan teori. Metode kualitatif paling cocok digunakan

untuk mengembangkan teori yang dibangun melalui data yang diperoleh

melalui lapangan, 2) bila masalah belum jelas, masing remang-remang,

atau mungkin masalah masih gelap, 3) untuk memahami makna di balik

data yang tampak, 3) untuk memahami interaksi social, 4) untuk

memahami perasaan orang, 5) untuk memastikan kebenaran data,6)

meneliti sejarah perkembangan (Sugiyono, 2006: 35-36). Pendekatan

kualitatif sebagai prosedur penelitian menghasilkan data deskriptif berupa

kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang, serta perilaku yang diamati

(Moeloeng, 200: 3).

3. Metode Pengumpulan Data

a. Metode Observasi
44

Menurut Riyanto (2001: 96) observasi merupakan metode

pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap obyek

penelitian. Observasi dilaksanakan secara langsung maupun tidak

langsung. Observasi langsung adalah peneliti mengadakan

pengamatan secara langsung di lapangan terhadap situasi dan gejala-

gejala subyek yang diselidiki, baik pengamatan itu dilakukan dalam

situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan yang secara

khusus telah dikondisikan. Sedangkan observasi tidak langsung adalah

mengadakan pengamatan terhadap gejala-gejala subyek yang

diselidiki. Menurut Koentjaraninggrat (1997 : 109) dengan metode

observasi akan diketahui kondisi yang sebenarnya di lapangan,

dengan menggunakan metode ini diharapkan mampu mengungkap

gejala terhadap fenomena sebanyak mungkin mengenai apa yang

diteliti.

Penulis dalam hal ini menggunakan teknik observasi langsung

(direct observation), yakni observasi yang dilakukan terhadap guru dan

peserta didik dalam kegiatan pembelajaran Aqidah Akhlak. Adapun

obyek penelitian adalah peserta didik, guru, dan proses pembelajaran

Aqidah Akhlak serta lingkungan Madrasah Tsanawaiyah Negeri

(MTsN) Cingambul.

Data-data yang diperoleh melalui observasi adalah proses

pembelajaran strategi mastery learning pada bidang Aqidah Akhlak

dan seberapa jauh evaluasi yang telah dilakukan.


45

b. Metode Wawancara

Metode ini digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila

peneliti ingin mengetahui lebih mendalam tentang obyek yang akan

diteliti. Susan Stainback dalam Sugiono (2006: 318) mengemukakan

bahwa dengan wawancara peneliti akan mengetahui hal-hal yang

lebih mendalam tentang partisipan dalam menginterpretasikan situasi

dan penomena yang terjadi, dimana hal ini tidak bisa ditemukan

melalui observasi. Metode ini dilakukan dengan tujuan untuk

mengetahui informasi secara detail dan mendalam dari informan

terhadap fokus masalah yang diteliti. Untuk membantu peneliti dalam

melakukan interview, agar dapat berlangsung secara sistematis dan

substanstif, maka akan dibuat pedoman interview atau wawancara

dalam bentuk semi structured ( Arikunto, 2006: 202). Tahap mula-

mula interview yaitu menanyakan serentetan pertanyaan yang sudah

terstruktur, kemudian satu per satu diperdalam dalam mengorek

keterangan lebih lanjut. Jawaban yang diperoleh biasanya meliputi

semua masalah penelitian dengan keterangan yang lengkap dan

mendalam.

Wawancara ini dilakukan kepada dua orang guru Aqidah Akhlak

untuk mengetahui komponen-komponen pembelajaran yang berkaitan

pembelajaran Aqidah Akhlak melalui strategi mastery learning, yaitu

silabus, program tahunan, program semester, rencana pembelajaran,

pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran dan perangkat-


46

perangkat lain yang berhubungan dengan pembelajaran Aqidah

Akhlak.

4. Sumber Data Penelitian

Data adalah sebagai fakta atau informasi yang diperoleh dari yang

didengar, diamati, dirasakan dan dipikirkan si peneliti dari aktivitas dan

tempat yang diteliti (Rasyid, 2000: 36). Data primer dalam penelitian ini

adalah guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran, sedangkan data

skunder meliputi dokumen-dokumen pembelajaran guru dan catatan

penilaian peserta didik mengenai proses pembelajaran guru Aqidah

Akhlak.

5. Teknik Analisis Data

Analisa data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat

pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data

dalam periode tertentu. Analisa data kualitatif menurut Bogdan dalam

Sugiyono (2005: 334) adalah proses mencari dan menyususn secara

sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan,

dan bahan-bahan lain, sehingga mudah dapat difahami, dan temuannya

dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisa data dilakukan dengan

mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan

sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting, dan yang
47

akan dipelajari, serta membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada

orang lain.

Menurut Miles dan Huberma dalam Sugiyono (2006 : 123) bahwa

aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan

berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah

jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data diplay, dan

conclusion drawing/verification. Adapun langkah-langkahnya sebagai

berikut:

a. Reduksi data (data Reduction)

Menurut Sugiyono (2006: 338) mereduksi data adalah

merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang

penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu.

Data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang jelas, dan

mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data

selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.

Data-data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data melalui

reduksi, yaitu data-data dari hasil observasi dan wawancara, baik

kepada guru bidang Aqidah Akhlak maupun peserta didik. Hasil

wawancara dan observasi berupa pesrsiapan guru, proses

pembelajaran , evalusasi, kesiapan peserta didik, ketertarikan peserta

didik dengan proses pembelajaran dan kendala-kendala yang dirasakan

peserta didik.

b. Penyajian data (Data Display)


48

Menurut Miles dan Huberman dalam Imam Suparyogo dan

Tabroni (2001 : 194) bahwa penyajian data adalah menyajikan

sekumpulan informasi yang tersusun yang memebrikan kemungkinan

adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian

data menurut Sugiyono (2006: 341) dapat dilakukan dengan bentuk

table, grafik, phie chard, pictogram dan sejenisnya. Melalui penyajian

data tersebut, maka data terorganisasikan, tersusun dalam pola

hubungan, sehingga akan mudah difahami.

Peneliti dalam penelitian ini melakukan penyajian data melalui

uraian singkat atau ringkasan-ringkasan yang penting dari data yang

telah direduksi untuk mendapatkan kesimpulan atau melakukan

tindakan lanjutan. Data yang peneliti sajikan adalah data yang

berhubungan dengan permasalahan yang diteliti, yaitu data yang

berhubungan dengan aplikasi mastery learning, baik menyangkut guru,

peserta didik, administrasi, dan sarana-prasarana.

c. Verifikasi data ( Conclusion Drawing) dan penarikan

kesimpulan

Miles dan Huberman dalam Rasyid (2000: 71) mengemukakan

bahwa verifikasi data dan penerikan kesimpulan adalah upaya untuk

mengartikan data yang ditampilkan dengan melibatkan pemahaman

peneliti. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat

sementara, dan tidak akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti


49

yang kuat yang mendukung pada ahap pengumpulan data berikutnya

(Sugiyono, 2005 : 99)

Data-data diperoleh dari hasil penelitian dengan observasi, wawancara,


dan dekumentasi, setelah dipilih dan disajikan maka ditarik suatu kesimpulan
akhir. Isi dari kesimpulan ini adalah temuan baru berupa gambaran tentang
pelaksanaan mastery learning dalam pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah
Tsanawaiyah Al Mardliyah Garut.

B. Rencana Penelitian

Prosedur yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah terdiri dari dua
siklus. Hal ini sesuai persyaratan dalam penelitian tindakan kelas, yaitu dalam
pene-litian tindakan kelas harus memenuhi sekurang-kurangnya terdiri dua siklus.
Setiap siklus terdiri dari tahapan perencanaan, persiapan tindakan, pengamatan
atau observasi, dan refleksi dalam kegiatan pembelajarannya. Sebelum pada
kegiatan pokok, peneliti melakukan perenungan sebagai refleksi awal untuk
penentuan masalah.
Pada tahap refleksi awal, peneliti dan guru sebagai mitra kolaborator
mengadakan observasi kelas untuk mengidentifikasi masalah, merumuskan
masalah, dan menentukan permasalahan yang akan dipecahkan dengan skenario
pembelajaran yang akan diterapkan di kelas. Kegiatan tersebut meliputi:
1. Guru dan peneliti berdiskusi untuk mengidentifikasi masalah kelas.
2. Menetapkan kelas yang memiliki permasalahan paling serius dan perlu pena-
nganan dengan tindakan sebagai alternatifnya.
3. Mencari dari mana permasalahan pembelajaran yang terjadi, apakah berasal
dari siswa, guru, atau metode yang diterapkan.
4. Merencanakan penanganan sebagai solusi awal terhadap permasalahan tersebut.
Berdasarkan hasil observasi awal tersebut, maka permasalahan yang telah
teridentifikasi perlu segera diatasi, perlu juga dilihat bagaimana visi mata
pelajaran Aqidah Akhlak yang menjadi fokus penelitian ini yang diemban guru
atau sekolah. Hal ini mengandung implikasi bagaimana kreativitas guru dalam
50

meran-cang pembelajarannya sehingga siswa dapat belajar dengan serius sesuai


kemampuan yang dimiliki yang pada akhirnya berpengaruh terhadap prestasi
belajarnya.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk setiap siklus pembelajaran dalam
prosedur penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Tahap Perencanaan
Pada tahapan ini dilakukan rencana kegiatan dengan menyesuaikan
model yang akan diterapkan sebagai berikut:
a. Menyusun rencana pembelajaran (RP) sebagai acuan pelaksanaan proses
pembelajaran dengan berdasar kurikulum yang berlaku saat ini.
Penyusunan RP ini juga disesuaikan dengan langkah-langkah pada model
pembelajaran yang diterapkan, dalam hal ini model Mastery Learning.
Penyusunan rencana pembelajaran ini dapat dilihat dalam lampiran 3.
b. Menyusun lembar kerja siswa (LKS), (lampiran 4).
c. Menyusun lembar observasi aktivitas siswa (lampiran 5)
d. Menyusun tes akhir setiap siklus (lampiran 6).

2. Tahap Tindakan
Pada tahapan ini pelaksanaannya didasarkan rencana pembelajaran
yang disusun sebelumnya dengan kegiatan sebagai berikut:
a. Melaksanakan pembelajaran di kelas VII sebagai kelas yang telah
ditetapkan sebelumnya dengan menggunakan model pembelajaran yang
diterapkan berdasar RP yang telah dibuat peneliti bersama kolaborator.
b. Peneliti dalam hal ini bekerjasama dengan mitra membagi tugas sesuai
skenario model Mastery L, yaitu pemandu dalam tiga kelompok yang telah
terbentuk (rendah, sedang dan tinggi).
c. Observer bertugas mengamati sambil mengerjakan lembar observasi yang
dibuat untuk merekam aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran.
d. Melaksanakan tes akhir pembelajaran tiap siklus.

3. Observasi
51

Dalam kegiatan ini observer melaksanakan pengamatan, pencatatan,


dan menginterpretasi terhadap berlangsungnya pembelajaran, terutama kepada
siswa dengan sambil mengerjakan lembar observasi yang telah disediakan.
Pada tahap ini pula ketelitian dan kecermatan dalam mencatat dan mengamati
sangat diperlukan, apalagi bila terjadi suatu perubahan mendadak dalam
pelaksanaan tindakan yang ditimbulkan akibat respon siswa yang dikenai
tindakan.
Pada tahap ini, selain pengerjaan lembar observasi untuk membuktikan
pengamatan yang dilaksanakan, perlu bukti dokumentasi berupa pengambilan
gambar jika diperlukan agar dalam penginterpretasian data dapat lebih jelas
dan cermat.

4. Refleksi
Pada tahap ini data-data yang diperoleh dari tiap siklus dikumpulkan
untuk dianalisis selanjutnya diadakan refleksi terhadap hasil analisis sehingga
dapat diketahui ada tidaknya peningkatan hasil belajar sebelum tindakan dan
sesudah tindakan. Hasil belajar inilah yang nantinya digunakan sebagai bahan
pertimbangan pelaksanaan siklus berikutnya.Secara umum implementasi
tindakan tiap siklus mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Siklus I
1) Perencanaan Tindakan
(a) Membuat skenario pembelajaran (rencana pembelajaran/RP) yang
berorientasi pada model ML.
(b) Menyiapkan fasilitas pembelajaran berupa media, alat dan fasilitas
yang lain
(c) Menyusun instrumen penelitian untuk melakukan monitoring pelak-
sanaan pembelajaran.
(d) Menentukan teknis pelaksanaan penelitian
(e) Menyiapkan kegiatan refleksi
(f) Pembelajaran diakhiri dengan pengambilan kesimpulan mengenai
topik pembelajaran, dilanjutkan kegitan evaluasi.
52

2) Pelaksanaan Tindakan
Dalam kegiatan ini guru menerapkan model pembelajaran ML kepada
siswa kelas VII yang ditunjuk mengacu pada rencana pembelajaran. Pelak-
sanaan kegiatan pada tahap ini adalah:
(a) Guru melakukan appersepsi terhadap pokok bahasan yang akan
diajarkan, yakni materi mengidentifikasi sifat-sifat wajib Allah yang
nafsiyah, salbiyah, ma’ani dan ma’nawiyah,
(b) Peneliti memberikan penjelasan singkat tentang model
pembelajaran ML yang akan diterapkan kepada siswa.
(c) Membagi siswa menjadi tiga kelompok dengan kriteria kelompok
rendah, sedang dan tinggi dilanjutkan pembagian pemandu dalam tiap
kelompok masing-masing. Pembagian tugas ini dapat dilakukan secara
bergantian kepada guru, peneliti maupun observer yang ditunjuk.
(d) Dalam skenario model ML, kelompok rendah diberikan pembelajaran
dengan cara re-teaching dan tutorial, kelompok sedang dengan konvensional,
sedangkan kelompok tinggi dilakukan dengan modul dan self-learning.
(e) Pada akhir pembelajaran, siswa diberikan postes untuk megetahui
hasil belajar.

3) Observasi
Kegiatan observasi dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai
aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan ban-
tuan guru mitra ataupun rekan peneliti lain yang bertindak sebagai observer.
Untuk menghindari unsur subjektivitas ada baiknya observer dilakukan secara
bergantian atau dilakukan oleh dua orang atau lebih.

4) Refleksi
Data yang siperoleh pada siklus I dikumpulkan untuk selanjutnya
dianalisis kemudian diadakan refleksi terhadap hasil analisis sehingga dapat
diketahui apakah permasalahan yang dihadapi sudah mampu terpecahkan,
53

yaitu terjadinya peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa setelah adanya
tindakan. Pada tahap ini pula perlu dilakukan perenungan terhadap pembuatan
perencanaan lanjutan pada tahap siklus selanjutnya.

b. Siklus II
1) Perencanaan Tindakan
Tahap perencanaan tindakan pada siklus II ini dilakukan berdasarkan
hasil refleksi tindakan siklus I. Perencanaan tindakan pada siklus II
merupakan hasil perbaikan dari pelaksanaan tindakan siklus I. Adapun
kegiatan peren-canaan tindakan yang dilakukan pada siklus II adalah sebagai
berikut:
(a) Membuat skenario pembelajaran dalam bentuk rencana pembelajaran (RP)
yang berorientasi pada model ML
(b) Menyiapkan fasilitas pembelajaran berupa media, alat dan fasilitas yang
lain.
(c) Menyusun instrumen penelitian untuk melakukan monitoring pelaksanaan
pembelajaran (lembar observasi) berupa lembar pengamatan aktivitas
belajar siswa.
(d) Menentukan teknis pelaksanaan penelitian
(e) Menyiapkan kegiatan refleksi
(f) Pembelajaran diakhiri dengan pengambilan kesimpulan mengenai topik
pembelajaran, dilanjutkan kegitan evaluasi.

2) Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan pada tahap ini langkah-langkahnya berpedoman pada rencana
pembelajaran (RPP) yang disetting penelitian tindakan kelas yang telah di-
buat beserta guru mitra kolaborasi.
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, guru dan mitra memfasili-
tatori dan melakukan observasi terhadap keaktifan siswa, melalui lembar pe-
ngamatan yang tersedia. Pada akhir siklus II dilakukan tes hasil belajar untuk
memperoleh data prestasi belajar siswa.
54

3) Observasi
Observer melakukan kegiatan yang sama pada tiap siklus, demikian
halnya pada siklus II ini, pelaksanaannya adalah melakukan pengamatan sam-
bil mengerjakan lembar observasi, mencatat kegiatan pembelajaran dan meng-
interpretasi data yang diperoleh, selanjutnya mengumpulkannya untuk
direfleksi pada tahap berikutnya.

4) Refleksi
Data yang diperoleh dalam tahap observasi siklus II dikumpulkan dan
dilakukan analisis serta pengambilan kesimpulan apakah masih ada permasa-
lahan atau tidak dalam siklus II atau telah terselesaikan, sehingga tidak perlu
diadakan rencana tindakan pada siklus berikutnya.

Insturmen Penelitian
Sebelum instrumen yang akan digunakan dalam penelitian tindakan ini

diberikan kepada responden atau siswa, terlebih dahulu dilakukan analisis

terhadap instrumen tersebut, hal ini diharapkan agar instrumen yang dipakai

memenuhi kriteria kelayakan untuk diberikan kepada siswa. Analisis terhadap

instrumen tersebut dilakukan terhadap dua buah instrumen yang digunakan dalam

penelitian ini, yaitu tes prestasi dan observasi aktivitas belajar siswa.

a. Instrumen Tes Prestasi Belajar

Sebuah tes dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memenuhi per-

syaratan tes, yaitu memiliki validitas, reliabilitas dan objektivitas. Validitas

dalam instrumen tes prestasi ini menggunakan validitas isi (content validity)

dan validitas konstruksi (construct validity) (Arikunto, 2002: 66).


55

Validitas isi dimaksudkan apabila instrumen yang digunakan telah

dapat mengukur dan mewakili setiap indikator pembelajaran yang disejajar-

kan dengan materi yang diberikan. Sedangkan validitas konstruksi dimaksud-

kan apabila instrumen tes yang disusun telah dapat mengukur setiap aspek

berpikir seperti yang disebutkan dalam kompetensi dasar.

Penyusunan instrumen tes yang telah memenuhi kedua validitas ter-

sebut kemudian dikonsultasikan dengan guru bidang studi Aqidah Akhlak

yang disertai kisi-kisi, daftar pertanyaan serta kunci jawaban. Apabila telah

disetujui oleh guru yang bersangkutan, maka instrumen tes prestasi tersebut

dapat digunakan sebagai alat evaluasi untuk mengukur prestasi belajar siswa

setiap akhir siklus yang dirancang dalam penelitian ini.

Instrumen tes akhir siklus baru dapat diberikan setelah diadakan uji
instrumen tes tersebut. Sebelum alat evaluasi prestasi belajar siswa dalam
penelitian ini digunakan, instrumen tersebut diuji coba terlebih dahulu. Uji
coba soal tes dilakukan di kelas VII A untuk tes siklus I dengan jumlah 40
siswa dan tes akhir siklus II diuji cobakan pada kelas VII A dengan jumlah 40
siswa. Hasil uji coba soal kemudian dianalisis untuk mengetahui validitas,
reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya beda soal
b. Instrumen Observasi Aktivitas Belajar

Penyusunan instrumen aktivitas belajar siswa dalam penelitian ini

dirancang oleh peneliti dan guru mitra kolaborasi. Instrumen yang disusun

harus memenuhi aspek-aspek aktivitas belajar siswa dalam Metode ML

sebagai model pembelajaran yang diterapkan. Aspek-aspek aktivitas dalam

penelitian ini adalah:

1) Menjawab/merespon pertanyaan guru


56

2) Mendengarkan uraian guru tentang tujuan pembelajaran

3) Memusatkan perhatian, pada kegiatan yang dilakukan guru

4) Mencatat pelajaran ke dalam buku catatan

5) Mendengar dan memperhatikan contoh-contoh yang disampaikan guru

6) Mengerjakan tugas, seperti LKS, mencari bahan pelajaran dll.

7) Memperhatikn petunjuk yang diberikan guru

8) Aktif berdiskusi dan membantu teman

9) Bertanya terhadap materi yang belum paham

10) Menyimpulkan materi bersama guru

B. Analisis Data

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan analisis statistik diskriptif,

yaitu statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara

menggambarkan atau mendeskripsikan data yang telah terkumpul sebagaimana

adanya. Data penelitian yang akan dianalisis meliputi:

a. Tes Akhir Siklus

Tes akhir siklus dianalisis dengan tujuan untuk mengetahui tingkat

ketuntasan belajar siswa pada tiap akhir siklus yang ditetapkan. Nilai yang

diperoleh siswa atau ketuntasan individual dihitung dengan rumus sebagai

berikut:

Jumlah skor
ketuntasan individual   100%
Jumlah skor maksimal

Ketuntasan belajar secara klasikal dihitung menggunakan rumus persentase:

Jumlah siswa yang tuntas belajar


Ketuntasan klasikal   100%
Jumlah seluruh siswa
57

Ketuntasan belajar seluruh siswa jika target nilai rata-rata mencapai

6,5 dengan jumlah siswa yang tuntas belajar 85 % atau lebih dari jumlah siswa

seluruh siswa di dalam kelas.

b. Analisis aktivitas siswa

Analisis data yang digunakan dalam mengukur aktivitas siswa adalah

persentase baik persentase minimal dari aktivitas siswa secara klasikal

maupun tingkat perkembangan aktivitas belajar siswa. Perhitungan tingkat

perkembangan aktivitas siswa tiap siklus digunakan rumus:

Jumlah skor yang diperoleh


% Aktivitas belajar   100%
Jumlah skor maksimal

Sedangkan persentase minimal aktivitas belajar siswa yang diharapkan sebesar

80 % dari keseluruhan jumlah siswa.

C. Subyek dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di MTs Al Mardliyah. Adapun madrasah yang

berstatus swasta ini memiliki letak yang strategis, yaitu berada di tengah-tengah

pemukiman penduduk, sehingga keberadaannya telah lama dan mendapat

perhatian dari penduduk yang berminat menyekolahkan putra-putri mereka di

madrasah tersebut. Hal ini terlihat dari jumlah siswa yang tidak pernah kurang

untuk menampung mereka dalam kelas yang tersedia, bahkan terlihat dari jumlah

yang ada setiap kelas kurang lebih 40 siswa merupakan kelas besar. Jumlah

rombel (rombongan belajar) terdiri dari dua kelas setiap tingkatan yang ada, yaitu

Enam kelas dengan kelas VII ada Dua kelas, kelas VIII terdiri Dua kelas serta

kelas IX juga Dua kelas.


58

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII A semester I ( Ganjil )

tahun pelajaran 2009/2010, jumlah siswa dalam kelas tersebut sebanyak 40 siswa,

yang terdiri dari 21 siswa putra dan 19 siswa putri.

Penelitian ini dilaksanakan menurut prosedur yang telah dirancang oleh

guru dan peneliti, yaitu penelitian bertahap dengan siklus sebagai akhir setiap

tahapnya, baik siklus pertama dan kedua. Siklus I dilaksanakan mulai tanggal 18

sampai dengan 25 Juli 2009, dan siklus II dilaksanakan tanggal 03 Agustus 2009

sampai dengan 10 Agustus 2009.

Sebelum pelaksanaan tiap siklus, dilakuakan observasi awal. Observasi

tahap awal dimulai sejak minggu pertama semester Ganjil tahun pelajaran

2009/2010, yaitu tanggal 6 Juli 2009. Jadwal pelaksanaan penelitian ini secara

ringkas dapat dilihat dalam lampiran 1.


59