Anda di halaman 1dari 214

PENINGKATAN HASIL BELAJAR TEMA 4 SUBTEMA 1 DENGAN

MENGGUNAKAN STRATEGI PERMAINAN TRADISIONAL


PADA SISWA KELAS IV SD N DERESAN
SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah SatuSyarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh :

Rianti

NIM : 141134196

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
2018

i
ii
PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersempahkan kepada :

1. Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan kemudahan dalam segala hal

2. Orang tua terhebat saya, Bapak Sijan Mursidi dan Ibu Tusinem yang selalu

memberikan motivasi dan dukungan dalam setiap langkah kehidupan saya

3. Kakak terhebat saya, Mas Tusiman, Mas Tusir, Mba Atik, Mas Gery, dan

Mba Rohani yang telah memberikan semangat dan dukungan dalam setiap

langkah kehidupan saya

4. Sahabat-sahabat saya Raden Gregorius Agung, Geng Ember (Ari Mia Dwi

Anggraeni, Intan Wahyu, Ruswita Betti, Erna Kholifah, Beata Vita, Fransiska

Rina), Febrina Palupi, Avi Susanti, Gloria Aditya Mahardika, Thomas Wahyu

Aji P yang telah memberikan semangat dan keceriaan selama menempuh

pendidikan di PGSD

5. Teman-teman seperjuangan satu payung penelitian

6. Para guru dan Murid SD N Deresan yang telah membantu saya berproses dan

menyelesaikan skripsi

7. Almamaterku terkasih PGSD Universitas Sanata Dharma

iv
MOTTO

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah

kesulitan itu ada kemudahan” (QS Al Insyirah: 5-6)

“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya”

(QS Al Baqoroh: 286)

v
. PENINGKATAN HASIL BELAJAR TEMA 4 SUBTEMA 1 DENGAN
MENGGUNAKAN STRATEGI PERMAINAN TRADISIONAL PADA SISWA
KELAS IV SD N DERESAN
Rianti
Universitas Sanata Dharma
2018
Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar siswa khususnya
pada Tema 4 (Berbagai Pekerjaan) Subtema 1. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mendeskripsikan penerapan strategi permainan tradisional untuk dapat meningkatkan
hasil belajar siswa (Jenis-jenis Pekerjaan) pada siswa kelas IV SD N Deresan. Subjek
penelitian ini adalah siswa kelas IVB SD N Deresan. Penelitian ini merupakan
Penelitian Tindakan Kelas yang berlangsung selama dua siklus yang terdiri dari tahap
perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah Tes soal evaluasi siswa
yang terdiri dari 6 soal pilihan ganda dan 4 uraian untuk mengetahui hasil belajar
siswa serta didukung dengan wawancara dan observasi. Berdasarkan hasil penelitian
yang diperoleh dalam penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
Tema 4 (Berbagai Pekerjaan) Subtema 1 (Jenis-Jenis Pekerjaan) siswa kelas IVB SD
N Deresan dapat meningkat dengan menggunakan strategi permainan tradisional.
Peningkatan hasil belajar dapat dilihat dari kondisi awal nilai rata-rata sebesar 64,66
dengan presentase jumlah siswa yang tuntas 40%. Pada siklus I terjadi peningkatan
nilai rata-rata sebesar 76 dengan presentase jumlah siswa yang tuntas adalah 64%,
dengan target sebesar 75. Kemudian pada siklus kedua terjadi peningkatan nilai rata-
rata sebesar 88 dengan jumlah presentase siswa yang tuntas adalah 88%, dengan
target sebesar 80.
Kata kunci: Hasil Belajar, Strategi Permainan Tradisional, Pembelajaran Tematik

viii
ABSTRACT

The increase of student learning outcome theme 4 sub theme 1 using


traditional games strategy at 4th grade students of Deresan
Elementary School
Rianti
Universitas Sanata Dharma

2018
The background of this research is the low learning outcomes of student
especially in Theme 4 (various works) Sub theme 1. The objective of this research is
to describe an application of tradtional games method to improve students learning
outcomes (kind of works) of 4th grade students of Deresan Elementary School. The
subject of this research is 4th B grade students of Deresan Elementary School. This
research is a Classroom Action Research which lasts for two cycles and consists of
planning, action, observation and reflection.

Data collection technique of this research is a test of student evaluation which


consists of 6 multiple choice questions and 4 essays to determine students learning
outcome and be supported by interviews and observations. Based on the result of
this reseach, it can be concluded that learning outcome theme 4 (Various Works) Sub
theme 1 (Kinds of Work) of 4th B grade students of Deresan Elementary School can
be increased by using traditional games method. The increase of learning outcomes
can be seen by the initial condition of average value of 64,66 with the total
percentage of complete student is 40%. In the first cycle, there was an increase in the
average value of 76 with the presentage of total complete student is 64%, with the
target of 75. In the second cycle, there was an increase in the average value of 88
with the total presentage of complete student is 88% with the target of 80.
Keywords: Learning Outcome, Tematic Learning, Traditional Games Strategy.

ix
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah serta

karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Peningkatan Hasil belajar Tema 4 Subtema Dengan Menggunakan Permainan

Tradisional Pada Siswa Kelas IV SD N Deresan”. Skripsi ini disusun untuk

melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar,

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma. Pada

kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah

memberikan bimbingan dan dukungan dalam proses penyusunan skripsi ini. Penulis

mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si.., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

2. Christiyanti Aprinastuti S.Si., M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma.

3. Kintan Limiansih S.Pd., M.Pd., selaku Wakil Ketua Program Studi

Pendidikan Guru Sekolah Dasar

4. Elisabeth Desiana Mayasari S.Psi., M.A., Dosen Pembimbing I yang telah

menjadi motivator, berbagi pengalaman kehidupan sebagai berkat Tuhan yang

luar biasa dan fasilitator penulis dalam menyelesaikan skripsi.

x
5. Andreas Erwin Prasetya M.Pd., selaku Dosen Pembimbing II yang telah

memotivasi saya, memberi semangat dan penguatan untuk membimbing

penulis dalam menyelesaikan skripsi.

6. Indah Lestari S.Pd., selaku kepala SD N Deresan yang telah memberikan ijin

penelitian di kelas IVB SD N Deresan.

7. Yusrina Nahdiya S.Pd, selaku wali kelas IV SD N Deresan yang telah

berkenan untuk berkolaborasi dengan penulis, memberikan waktu, tenaga,

pikiran, semangat dan ijin penelitian di kelas IVB SD N Deresan.

8. Siswa kelas IVB SD N Deresan yang telah bersedia menjadi subjek

9. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu oleh penulis, yang telah

membantu, memberikan dukungan, semangat, doa, dan inspirasi hingga

terselesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh

karena itu penulis mengharapkan masukan, saran, dan kritik yang membangun

demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para

pembaca.

Yogyakarta, 6 Februari 2018

Penulis

Rianti

xi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................... i


HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN .................................................................................... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................................ iv
HALAMAN MOTTO ................................................................................................ iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................................................... vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ........................................................ vii
ABSTRAK ................................................................................................................ viii
ABSTRACT ................................................................................................................. ix
KATA PENGANTAR ................................................................................................. x
DAFTAR ISI .............................................................................................................. xii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. xv
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................ xvi
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 1
1.2 Identifikasi masalah .................................................................................................. 6
1.3 Batasan masalah ........................................................................................................ 6
1.4 Rumusan masalah ..................................................................................................... 6
1.5 Tujuan penelitian....................................................................................................... 7
1.6 Definisi operasional .................................................................................................. 8
BAB 2 LANDASAN TEORI .................................................................................... 11
2.1 Permainan Tradisional ............................................................................................ 11
2.1.1 Pengertian permainan tradisional .................................................................... 11
2.1.2 Kelebihan dan Kelemahan Strategi permainan tradisional ............................. 13
2.2 Permainan Gobag Sodor ......................................................................................... 15
2.3 Permainan Sonlah/ Sondah ..................................................................................... 17
2.4 Aspek Pengetahuan ................................................................................................. 20
2.5 Hasil Belajar............................................................................................................ 21
2.1.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar ............................................. 23
2.6 Pembelajaran Kooperatif......................................................................................... 24

xii
2.7 Metode Student Team Achievement Division (STAD) .......................................... 24
2.5 Kurikulum 2013 ...................................................................................................... 25
2.7 Pembelajaran Tematik ....................................................................................... 26
2.8 Pendekatan Saintifik .......................................................................................... 27
2.9 Hasil Penelitian Relevan ......................................................................................... 29
2.10 Kerangka Berpikir ................................................................................................... 31
2.9 Hipotesis Tindakan ................................................................................................. 33
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN .................................................................. 34
3.1 Jenis Penelitian........................................................................................................ 34
3.2 Setting Penelitian (Tempat, Subjek, dan Objek Penelitian) .................................... 38
3.4 Rencana Tindakan Setiap Siklus ............................................................................. 39
3.5 Indikator dan Pengukuran Keberhasilan ................................................................. 45
3.6 Teknik Pengumpulan Data ...................................................................................... 46
3.7 Instrumen Penelitian ............................................................................................... 50
3.8 Teknik Pengujian Instrumen ................................................................................... 53
3.8 Teknik Analisis Data ............................................................................................... 78
BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................................... 84
4.1 Hasil Penelitian ....................................................................................................... 84
1. Paparan kegiatan siklus 1 ........................................................................................ 84
2. Paparan kegiatan siklus II ....................................................................................... 93
4.2 Pembahasan........................................................................................................... 102
BAB 5 PENUTUP .................................................................................................... 114
5.1 Kesimpulan ........................................................................................................... 114
5.2 Keterbatasan Penelitian ......................................................................................... 114
5.3 Saran ..................................................................................................................... 115
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 116
LAMPIRAN ............................................................................................................. 119

xiii
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Indikator Keberhasilan ................................................................................ 46


Tabel 3.2 Kisi-kisi Soal Evaluasi Siklus I................................................................... 77
Tabel 3.3 Kisi-Kisi Soal Evaluasi Siklus 2 ................................................................. 77
Tabel 3.4 Kisi-kisi lembar observasi ........................................................................... 52
Tabel 3.5 Pedoman Wawancara .................................................................................. 53
Tabel 3.6 Konversi Nilai (Tampubolon, 2013) ........................................................... 56
Tabel 3.7 Hasil Validasi RPP Siklus I ........................................................................ 59
Tabel 3.8 Hasil Validasi RPPH Siklus II .................................................................... 60
Tabel 3.9 Hasil Validasi Soal Evaluasi Siklus I.......................................................... 62
Tabel 3.10 Hasil Validasi Soal Evaluasi Siklus II ...................................................... 63
Tabel 3.11 Hasil Validasi Tes Keterbacaan Siklus I dan Siklus II.............................. 64
Tabel 3.12 Perhitungan Validasi Soal Evaluasi Pilihan Ganda Siklus I ..................... 68
Tabel 3.13 Perhitungan Validasi Soal Evaluasi Essay Siklus 1 .................................. 69
Tabel 3.14 Perhitungan Validasi Soal Evaluasi Pilihan Ganda Siklus II .................... 70
Tabel 3.15 Perhitungan Validasi Soal Evaluasi Essay Siklus II ................................. 71
Tabel 3.16 Koefisien Korelasi Reliabilitas (Masidjo, 2010: 243)............................... 74
Tabel 4.1 RPP Siklus I ................................................................................................ 86
Tabel 4.2 Hasil Belajar Siswa Siklus 1 ....................................................................... 90
Tabel 4.3 RPP Siklus II ............................................................................................... 94
Tabel 4.4 Hasil Belajar Siklus 2 .................................................................................. 99
Tabel 4.5 Indikator Pencapaian ................................................................................. 102

xiv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Arena Permainan Gobag Sodor .............................................................. 16


Gambar 2. 2 Arena Permainan Sonlah/ Sondah .......................................................... 18
Gambar 2. 3 Literatur Map Penelitian ........................................................................ 30
Gambar 3. 1 Desain PTK (Arikunto, 2010: 137) ........................................................ 37

xv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Izin Penelitian............................................................................ 119


Lampiran 2 Surat Pernyataan Telah Melaksanakan Penelitian.............................. 121
Lampiran 3 Surat Izin Validasi Soal ...................................................................... 122
Lampiran 4 RPP Siklus I........................................................................................ 123
Lampiran 5 RPP Siklus II ...................................................................................... 140
Lampiran 6 Contoh Hasil Soal Evaluasi Siklus I................................................... 155
Lampiran 7 Contoh Hasil Evaluasi Siklus II ......................................................... 157
Lampiran 8 Hasil Penilaian RPP Siklus I .............................................................. 160
Lampiran 9 Hasil Penilaian RPP Siklus II ............................................................. 166
Lampiran 10 Hasil Penilaian Soal Evaluasi Siklus I.............................................. 172
Lampiran 11 Hasil Penilaian Soal Evaluasi Siklus II ............................................ 174
Lampiran 12 Soal Evaluasi Siklus I ....................................................................... 176
Lampiran 13 Soal Evaluasi Siklus II...................................................................... 178
Lampiran 14 Hasil Observasi................................................................................. 181
Lampiran 15 Hasil Wawancara .............................................................................. 182
Lampiran 16 Nilai Kondisi Awal ........................................................................... 184
Lampiran 17 Catatan Anekdot ............................................................................... 185
Lampiran 18 Foto-Foto Kegiatan.......................................................................... 187
Lampiran 19 Hasil Validasi Pilihan Ganda Siklus I .............................................. 186
Lampiran 20 Hasil Validasi Essay Siklus I............................................................ 188
Lampiran 21 Hasil Validasi PIlihan Ganda Siklus II............................................. 189
Lampiran 22 Hasil Validasi Essay Siklus II .......................................................... 191
Lampiran 23 Hasil Penilaian Keterbacaan Siklus I................................................ 192
Lampiran 24 Hasil Penilaian Keterbacaan Siklus II .............................................. 194

xvi
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan

potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,

kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, keterampilan yang diperlukan dirinya dan

masyarakat (Departemen Pendidikan dan perpusatakaan, 2003: 62). Sebagaimana

digariskan dalam Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun

2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU RI No. 20 tahun 2003 tentang

Sisdiknas) Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan

membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka

mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi

peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan

Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan

menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berkaitan dengan pendidikan, belajar adalah aktivitas mental/ psikis yang

berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan

perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap menurut

Winkel (dalam Purwanto, 2008: 13). Namun hal tersebut bertolak belakang

dengan kenyataan disekolah. Berdasarkan observasi peneliti dalam pembelajaran

1
yang sekarang ini dilakukan oleh guru kelas IV SD N Deresan menggunakan

metode ceramah dan strategi pembelajaran langsung. Menurut Sanjaya (2006:

147) metode ceramah dapat diartikan sebagai cara menyajikan pelajaran melalui

penuturan secara lisan atau penjelasan langsung kepada sekelompok siswa dan

Strategi pembelajaran langsung merupakan pembelajaran yang banyak diarahkan

oleh guru (Ngalimun, 2012: 10).

Menurut Direktorat PLP (dalam Amri, 2013:2) pembelajaran di tingkat

sekolah dasar text book oriented dan kurang terkait dengan kehidupan sehari-hari

siswa. Dengan menggunakan metode ceramah dan strategi pembelelajaran

langsung maka pembelajaran konsep yang diterima siswa cenderung abstrak,

sehingga konsep-konsep akademik kurang bisa atau sulit dipahami. Sementara itu

kebanyakan guru dalam mengajar masih kurang memperhatikan kemmapuan

berpikir siswa, atau dengan kata lain tidak melakukan pengajaran bermakna,

metode yang digunakan kurang bervariasi, dan sebagai akibat motivasi belajar

siswa menjadi sulit ditumbuhkan dan pola belajar cenderung menghafal dan

mekanistis. Hal tersebut mengakibatkan hasil belajar siswa rendah. Begitu juga

seperti data yang diperoleh peneliti pada materi Tema 4 (berbagai pekerjaan)

Subtema 1 (jenis-jenis pekerjaan) siswa kelas IV Tahun Ajaran 2016/2017 bahwa

terdapat 12 siswa yang sudah mencapai KKM dan terdapat 18 siswa yang belum

mencapai KKM. SD N Deresan memiliki KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal)

untuk semua mata pelajaran sebesar 75 dari skala 100. Hal ini berati bahwa masih

ada 60% siswa yang belum mencapai KKM pada Tema 4 (berbagai pekerjaan)

2
Subtema 1 (jenis-jenis pekerjaan). Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti

memilih materi Tema 4 Subtema 1 dalam penelitian.

Pembelajaran yang monoton cenderung membuat siswa cepat bosan dan tidak

konsentrasi dalam mengikuti pembelajaran, karena perkembangan pada anak usia

sekolah dasar menurut Piaget termasuk pada tahapan operasional konkret (Amri,

2013: 36). Usia anak kelas IV sekolah dasar termasuk dalam tahapan operasional

konkret yang berarti belajar akan lebih berhasil apabila peserta didik diberi

kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang

oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu pertanyaan tilikan dari guru

Piaget (dalam Amri, 2013: 44). Hal tersebut sejalan dengan pengamatan yang

dilakukan oleh peneliti di kelas IV B ketika guru hanya menjelaskan materi

pembelajaran dengan menyuruh siswa menyimak apa yang dijelaskan oleh guru,

siswa cenderung cepat bosan.

Dari pengamatan yang dilakukan oleh peneliti bahwa dari 25 siswa

diantaranya masih ada 12 siswa yang mengobrol dengan temannya ketika guru

menjelaskan materi pelajaran, 4 siswa mencorat-coret buku, 3 siswa mengantuk,

dan hanya 6 siswa yang fokus mendengarkan penjelasan dari guru. Alasan Bu

Rina menggunakan metode ceramah dan strategi pembelajaran langsung adalah

karena simpel dan ekonomis waktu dan biaya, selain itu juga jika menggunakan

metode ceramah maka materi pelajaran dapat diatur guru secara langsung, tidak

hanya itu menggunakan metode ceramah juga memudahkan guru untuk

3
mengontrol keadaan kelas. Namun hal itu menyebabkan siswa kurang

memperhatikan dan kurang antusias dalam pembelajaran. Sehingga menyebabkan

hasil belajar siswa menurun. Data tersebut peneliti peroleh pada wawancara yang

dilakukan terhadap Bu Rina yaitu guru kelas IV pada tanggal 18 Oktober 2017.

Berdasarkan hasil wawancara Bu Rina, beliau juga menjelaskan bahwa anak-

anak yang sekarang lebih banyak yang bermain game online atau komputer dan

cenderung mengabaikan permainan tradisional yang merupakan warisan nenek

moyang. Pada kenyataannya permainan tradisional dapat digunakan sebagai

sarana pendidikan anak karena dapat membantu perkembangan keterampilan

anak, baik keterampilan sosial maupun pengetahuan. Hal tersebut sepadan yang

disampaikan oleh Direktorat Nilai Budaya (dalam Kurniati, 2016: 3) mengatakan

bahwa setiap permainan rakyat tradisional sebenarnya mengandung nilai-nilai

yang dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan anak-anak. Permainan tradisional

yang sarat dengan nilai-nilai budaya mengandung unsur rasa senang, dan hal ini

akan membantu perkembangan anak ke arah lebih baik (Kurniati, 2016: 3).

Mencermati hal diatas perlu adanya perubahan dan pembaharuan inovasi

dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran

hendaknya lebih bervariasi dalam penggunaan metode maupun strateginya guna

mengoptimalkan potensi siswa (Amri, 2013: 2). Hal itu sejalan dengan yang

disampaikan oleh Winkel (dalam Purwanto 2008: 14) Belajar akan lebih

bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarainya dengan

4
mengaktifkan lebih banyak indera dari pada hanya mendengarkan orang/ guru

menjelaskan. Penggunaan strategi pembelajaran langsung dirasa kurang efektif

dalam kegiatan pembelajaran karena peran siswa disini hanya mengikuti instruksi

guru dan cenderung hanya mendengarkan penjelasan dari guru saja. Hal tersebut

juga sepadan dengan pendapat Vygotsky (dalam Kurniati, 2016: 7) memaparkan

bahwa kontribusi bermain terhadap perkembangan sejumlah fungsi mental yang

tinggi antara lain yaitu bermain membantu perkembangan kemampuan anak untuk

bernalar, suasana bermain dapat menghasilkan ingatan yang lebih baik lagi bagi

anak daripada sekadar dalam tugas menamai atau menyentuh objek, dan bermain

juga melibatkan interaksi dengan orang lain, hal tersebut sangatlah memfasilitasi

perkembangan bahasa anak. Selain itu Vygotsky (Kurniati, 2016: 23) berpendapat

bahwa permainan tradisional mampu merangsang berbagai aspek perkembangan

anak, baik perkembangan aspek keterampilan, sosial, dan afektif.

Berdasarkan uraian diatas mengenai hasil belajar pada materi Tema 4

Subtema 1 dan hasil wawancara kepada guru kelas terhadap pentingnya menjaga

kelestarian budaya bangsa dan perkembangan usia anak maka peneliti tergerak

menggunakan permainan tradisional sebagai strateginya guna meningkatkan hasil

belajar siswa. Sehingga penelitian ini berjudul “Peningkatan Hasil Belajar Tema 4

Subtema 1 dengan Menggunakan Strategi Permainan Tradisional Pada Siswa

Kelas IV SD N Deresan ”.

5
1.2 Identifikasi masalah

Peneliti menemukan adanya permasalahan dalam kegiatan

pembelajaran di kelas. identifikasi masalah dari uraian latar belakang diatas

yakni:

1.2.1 Strategi pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran pada

Tema 4 subtema 1 di SD N Deresan kurang bervariasi, cenderung

menggunakan metode ceramah

1.2.2 Guru mengalami kesulitan dalam memilih strategi yang cocok untuk

pembelajaran

1.2.3 Guru mengalami kesulitan dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada

Tema 4 subtema 1

1.3 Batasan masalah

Penelitian ini hanya terbatas meneliti tentang peningkatan hasil belajar

siswa menggunakan strategi permainan tradisional pada Tema 4 (Berbagai

Pekerjaan), Subtema 1 (Jenis-Jenis Pekerjaan). Hasil penelitian ini hanya

berlaku terbatas di SD N Deresan pada materi Berbagai Pekerjaan.

1.4 Rumusan masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

Bagaimana penerapan strategi permainan tradisional dalam rangka

meningkatkan hasil belajar Tema 4 Subtema 1 pada siswa kelas IV SD N

Deresan ?

6
1.5 Tujuan penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Manfaat penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi beberapa

pihak diantaranya adalah bagi peneliti, siswa, guru, sekolah, dan dunia

pengetahuan

1.5.1 Bagi siswa

Manfaat penelitian bagi siswa adalah a) pemahaman , penghayatan,

dan pelaksanaan sikap menghargai melalui pembelajaran di SD

meningkat, b) siswa mendapatkan pengalaman belajar yang

menyenangkan dengan metode yang digunakan

1.5.2 Bagi guru

Manfaat penelitian ini bagi guru adalah a) guru mendapat tambahan

wawasan tentang strategi yang cocok untuk pembelajaran bagi siswa

dengan pemahaman, penghayatan, dan pelaksanaan sikap menghargai

yang meningkat, b) guru mendapat inspirasi untuk membuat pembelajaran

dengan strategi lain agar pembelajaran dikelas semakin meningkat

1.5.3 Bagi sekolah

Manfaat penelitian ini bagi sekolah adalah sekolah bisa mendapatkan

sumbangan positif bagi kemajuan sekolah karena guru mendapat wawasan

yang lebih banyak tentang strategi pembelajaran yang dapat diterapkan

7
dikelas dan meningkatkan prestasi sekolah untuk meningkatkan

pemahaman, penghayatan, dan pelaksanaan dalam belajar.

1.5.4 Bagi peneliti

Manfaat penelitian ini bagi peneliti adalah a) peneliti dapat memiliki

pengalaman dalam melakukan penelitian sehingga dapat termotivasi

mengembangkan penelitian tindakan kelas yang lain, b) peneliti dapat

mengetahui cara meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan

pelaksanaan dalam pembelajaran, c) peneliti dapat menambah wawasan

tentang strategi yang digunakan untuk meningkatkan sikap menghargai

siswa

1.6 Definisi operasional

1.6.1 Permainan Tradisional

Permainan tradisional adalah permainan yang berkembang dan

dimainkan anak-anak dalam lingkungan masyarakat umum dengan

menyerap segala kekayaan dan kearifan lingkungannya.

1.6.2 Aspek Pengetahuan

Aspek Pengetahuan adalah pengalaman dan berbagai macam latihan

juga menunjang perkembangan pemikiran seorang anak. Interaksi sosial

juga mempunyai peran dalam perkembangan pengetahuan siswa

8
1.6.3 Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara

berkelompok. Siswa belajar bekerjasama dalam satu tim untuk mengatasi

suatu masalah, menyelesaikan tugas, atau mencapai satu tujuan bersama.

1.6.4 Student Team Achievement Division (STAD)

Student Team Achievement Division (STAD) adalah salah satu metode

dari model pembelajaran kooperatif

1.6.5 Hasil Belajar

Hasil belajar adalah terbentuknya konsep, yaitu kategori yang kita

berikan pada rangsangan yang ada di lingkungan, yang menyediakan

skema yang terorganisasi untuk mengasimilasi rangsangan-rangsangan

baru dan pengalaman baru yang kita peroleh.

1.6.6 Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 adalah sebuah kurikulum yang dikembangkan untuk

meningkatkan dan menyeimbangkan kemampuan soft skills dan hard

skills yang berupa sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

1.6.7 Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang diawali dengan

suatu tema tertentu yang mengaitkan dengan pokok bahasan lain,

konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain.

9
1.6.8 Pendekatan Saintifik

Pendekatan saintifik adalah pendekatan yang menggunakan indra

dan akal pikiran sendiri sehingga siswa mengalami secara langsung

dalam proses mendapatkan ilmu pengetahuan

10
BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1 Permainan Tradisional

2.1.1 Pengertian permainan tradisional

Permainan tradisional merupakan suatu aktivitas permainan yang

yang tumbuh dan berkembang di daerah tertentu, yang sarat dengan nilai-

nilai budaya dan tata nilai kehidupan masyarakat dan diajarkan secara

turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya (Kurniati, 2016:

2). Dari permainan ini anak-anak akan mampu mengembangkan potensi

yang dimilikinya, memperoleh pengalaman yang berguna dam bermakna,

mampu membina hubungan dengan sesama teman, meningkatkan

kekayaan kosakata, serta mampu menyalurkkan perasaan-perasaan yang

tertekan.

Mengingat betapa pentingnya pendidikan bagi anak serta

pentingnya rangsangan-rangsangan yang dibutuhkan anak untuk

mengembangkan potensi yang dimiliki, maka bermain menjadi kegiatan

yang sangat penting karena aktivitas bermain merupakan kebutuhan bagi

perkembangan anak. Menurut Masitoh (dalam Kurniati, 2016: 6) selain

fantasi dan imajinasinya, juga berbagai kualitas dan intensitas emosi

menyertai berlangsungnya permainan. Pada prinsipnya bermain

mengandung rasa senang dan lebih mementingkan proses dari pada hasil

11
akhir. Perkembangan bermain sebagai cara pembelajaran hendaknya

disesuaikan dengan perkembangan umur dan kemampuan anak didik,

yaitu berangsur-angsur dikembangkan dari bermain sambil belajar (unsur

bermain lebih besar) menjadi belajar sambil bermain (unsur belajar lebih

besar). Melalui bermain maka guru menyajikan permainan yang bertujuan

mengembangkan perilaku tertentu yang diharapkan dan telah ditetapkan

sebelumnya. Dalam kegiatan bermain, anak menggunakan seluruh alat

indranya mengeksplorasi lingkungannya, mencintai dan dapat memahami

lingkungannya.

Menurut Mulyadi (dalam Kurniati, 2016: 6) menyatakan bahwa

bermain adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan anak.

Bermain fantasi bagi anak berperan sebagai faktor yang mengarahkan

perkembangan anak dan berperan penting bagi perkembangan

pengetahuan anak yaitu sebagai cara mengasimilasikan informasi-

informasi baru dengan pengalaman-pengalaman masa lalu lewat

pengertian yang sifatnya simbolik (Kurniati, 2016: 26). Bermain

merupakan tahap awal dari proses panjang belajar pada anak-anak yang

dialami oleh semua manusia.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa permainan

tradisional dapat membantu perkembangan anak, baik perkembangan

aspek kognitif, aspek sosial, aspek psikomotor. Melalui bermain yang

12
menyenangkan anak menyelidiki dan memperoleh pengalaman yang kaya

baik dengan dirinya sendiri, lingkungan, maupun orang lain disekitarnya.

Dari sana anak akan dapat mengorganisasikan berbagai pengalaman dan

kemampuan pengetahuan nya untuk menyusun kembali ide-ide yang

mereka miliki. Selain itu, melalui bermain anak akan belajar berbagai hal

yang ada disekelilingnya. Berikut merupakan kelebihan dan kelemahan

strategi permainan tradisional yaitu:

2.1.2 Kelebihan dan Kelemahan Strategi permainan tradisional

Terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan yang bisa didapatkan

dari aktivitas permainan tradisional yang telah dilakukan oleh anak-anak

yang kerap melakukan permainan tradisional (Kurniati, 2016: 23). Antara

lain kelebihan dan kekurangan tersebut yaitu:

1. Kelebihan Strategi permainan tradisional

Terdapat beberapa kelebihan yang bisa didapatkan dari aktivitas

permainan tradisional yang telah dilakukan oleh anak-anak yang kerap

melakukan permainan tradisional. Kelebihan permainan tradisional antara

lain yaitu: Permainan tradisional mampu merangsang berbagai aspek

perkembangan anak antara lain yaitu permainan tradisional mampu

merangsang berbagai sikap sosial anak. (Helms & Turner, 2004)

mengatakan bahwa pola perilaku sosial anak meliputi bekerja sama

dengan teman, menghargai sesama teman (menghargai milik, pendapat

13
orang lain, hasil karya teman, atau kondisi-kondisi yang ada pada teman),

mampu membantu kepada orang lain, mampu berbagi kepada teman,

selain itu permainan tradisional sangat mendidik anak-anak untuk

menghadapi masa depan, dan yang terakhir adalah permainan tradisional

terbuat dari bahan-bahan yang mudah dan murah, bahkan umumnya jika

alat dan bahan yang diperlukan dalam melakukan suatu permainan maka

alat dan bahan tersebut adalh alat-alat bekas yang ada disekitar lingkungan

mereka.

2. Kelemahan strategi permainan tradisional


Adapun kekurangan dari permainan tradisional antara lain sebagai

berikut yaitu pada saat proses permainan berlangsung, munculnya

berbagai bahasa yang dikeluarkan oleh anak dan bahasa yang diucapkan

cenderung kasar, dan ketika permainan sambil menyanyikan lagu kadang-

kadang terdapat beberapa lagu atau kata yang digunakan dalam permainan

cenderung memiliki arti yang tidak cocok untuk anak kecil dan kurang

sesuai dengan perkembangan anak.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penggunaan

permainan tradisional sebagai sarana pendidikan mempunyai kelebihan

dan kelemahan yang perlu diperhatikan oleh guru. Kelebihan pada

permaianan tradisional antara lain berperan penting pada perkembangan

anak terutama pada perkembangan sosial. Pada kelemahan permainan

tradisional yaitu munculnya bahasa baru yang dimengerti oleh siswa yang

14
cenderung kasar dan juga biasanya lagu dalam sebuah permainan

tradisional memiliki arti yang kurang sesuai dengan perkembangan anak.

2.2 Permainan Gobag Sodor

2.2.1 Pengertian Permainan Gobag Sodor

Gobag sodor merupakan permainan tradisional yang bersifat

kelompok. Ada dua pendapat soal asal usuk permainan gobag sodor.

Pertama, mengatakan gobag sodor dari luar negeri yaitu berasal dari

bahasa asing go back to door, oleh karena lidah orang jawa sulit

mengucapkan, maka agar lebih mudah diingat dan diucapkan akhirnya

menjadi gobag sodor. Kedua bahwa permainan tersebut berasal dari

dalam negeri, yang terdiri dari dua kata yaitu gobag dan sodor. Gobag

berarti bergerak dengan bebas kemudian menjadi nggobag berarti

berjalan memutar, sedang sodor berarti watang yaitu semacam

tommbak yang memiliki mata tombak yang tajam. Namun dalam

permainan sodor adalah penjaga garis sumbu atau garis sodor yang

berada ditengah membelah arena permainan. Garis tersebut digunakan

lalulintas si odor untuk mempersempit ruang gerak lawan sehingga

mudah dimatikan (Sujarno, 2011:128).

2.2.2 Alat permainan

Permainan gobag sodor tidak memerlukan peralatan khusus.

Permainan tersebut hanya memerlukan arena atau halaman yang cukup

15
luas dan rata. Dihalaman tersebut kemudian dibentuk empat persegi

dengan menggunakan air atau benda lain misalnya serbuk gergaji,

kapur, atau lainnya yang tidak mengganggu jalannya permainan.

Berikut ini adalah gambar arena permainan tradisional gobag sodor.

Daerah Start dan Finish Permaian

Gambar 2. 1 Arena Permainan Gobag Sodor

2.2.3 Aturan Permainan

Setelah arena permainan selesai dibuat pembagian kelompok pun sudah

dilaksanakan, selanjutnya mengadakan kesepakatan aturan main. Aturan

dibutuhkan agar permainan dapat berjalan dengan lancer.adapun aturan tersebut

antara lain:

1) Penjaga boleh bergerak kesana kemari tetapi tidak boleh melewati garis

melintang/membujur yang dijaganya

2) Kaki si penjaga tidak boleh keluar garis

16
3) Penjaga hanya boleh menyentuh pemain lawan (mentas) dengan tangan dan

tidak boleh menyakiti

4) Pemain yang sudah masuk tidak boleh keluar lagi

5) Garis tengah arena (garis sodor) hanya dilewati oleh sodor

6) Pemain jika akan masuk harus melewati garis jaga, kalau dilanggar maka

dianggap mati dan terjadilah pergantian pemain

7) Pemain jika tersentuh penjaga dianggap mati

8) Jika ada pemain beralih kotak diperbolehkan, asal memberi tahu telebih

dahulu

9) Kalau pemain dapat melewati penjaga sampai garis belakang, harus kembali

ke depan arena melewati garis penjagaan

10) Jika ada pemain yang dapat berhasil kembali ketempat semua, kelompoknya

dianggap menang dan mendpat sawah satu

11) Apabila ada salah satu pemain yang melanggar aturan kelompoknya

dianggap mati dan berganti posisi menjadi penjaga

2.3 Permainan Sonlah/ Sondah

2.3.1 Pengertian Permainan Sonlah /Sondah

Permainan sonlah merupakan permainan yang menuntut

koordinasi motoric kasar bagi setiap pemainnya (Kurniati, 2016: 91).

Permainan ini memiliki beberapa bentuk dasar yaitu sonlah biasa,

sonlah jeruk dan sonlah eser. Hal ini sangat cocok digunakan dalam

upaya meningkatkan perkembangan kemampuan fisik/motorik anak

17
terutama keterampilan motorik kasar. Permainan ini biasanya

dimainkan di luar ruangan atau area terbuka yang cukup luas seperti

halaman atau lapangan. Jumlah pemain yang diperlukan 4 (empat)

orang atau lebih.

2.3.2 Alat Permainan

Alat yang digunakan untuk permainan sonlah/ sondah adalah

pecahan tembikar (biasanya pecahan genteng). Masyarakat biasa

menyebut alat tersebut sebagai gacu atau budug. Alat tersebut

biasanya menyerupai empat persegi dengan ukuran kurang lebih 3 x 4

cm. Selain gacu, dalam permainan ini juga dibutuhkan saran lain yaitu

lapangan permainan yang luas dan memliki permukaan yang rata.

Berikut ini gambar arena permainan tradisional sonlah/ sondah.

Gambar 2. 2 Arena Permainan Sonlah/ Sondah

18
2.5.3 Aturan Permainan Sonlah/ Sondah

1) Anak-anak menentukan pasangan masing-masing, biasanya dilakukan

dengan cara hompimpa. Anak-anak yang akan mengikuti permainan ini

membentuk formasi melingkar, kemudian dengan menggunakan tangan

kanan mereka, anak-anak tersebut menggerakkan tangannya untuk

memposisikan telapak tangannya secara telungkup ataupun terlentang, anak

yang posisi tangannya sama dengan jumlah yang dikehendaki, misalnya 2

(dua) orang maka dialah yang akan menjadi kelompok bermain anak

tersebut.

2) Pada saat kelompok telah diketahui, maka langkah selanjutnya

adalah suit untuk menentukan siapa yang akan bermain terlebih dahulu. Suit

dengan cara gunting, kertas dan batu. Kemudian permainan sonlah dimulai

dengan cara:

a) Genting dilempar, harus memasuki kotak yang telah disediakan.

b) Secara bergantian anak-anak memainkan dari satu kotak ke kotak

berikutnya. Demikianlah seterusnya sampai semua kotak terlalui dan

mereka yang selesai terlebih dahulu akan keluar sebagai pemenangnya

3) Untuk sonlah eser cara memindahkan genting tidak dilempar oleh tangan,

tetapi dilakukan dengan cara menggeser dari satu kotak ke kotak lainnya

dengan menggunakan kaki (Kurniati, 2010:111-112).

19
2.4 Aspek Pengetahuan

Dalam sebuah penilaian hasil belajar secara keseluruhan terdapat tiga

aspek yang dinilai yaitu aspek pengetahuan, aspek sosial, dan aspek

keterampilan. Piaget menjelaskan perkembangan pengetahuan anak yang pokok

dalam empat tahap: sensorimotor, praoperasi, operasi konkrit, dan operasi

formal (Suparno, 2001: 102). Menurut Piaget, pengetahuan dibentuk dalam

proses asimilasi dan akomodasi terhadap skema pengetahuan seseorang. Supaya

proses pembentukan pengetahuan itu berkembang, pengalaman sangat

menentukan. Semakin orang mempunyai banyak pengalaman mengenai

persoalan, lingkungan, atau objek yang dihadapi, ia akan semakin

mengembangkan pemikiran dan pengetahuannya.

Piaget menjelaskan bahwa ada berbagai macam hal yang

mempengaruhi perkembangan pengetahuan anak. Kematangan organis, sistem

saraf, dan fisik seseorang mempunyai pengaruh dalam perkembangan.

Pengalaman dan berbagai macam latihan juga menunjang perkembangan

pemikiran seorang anak. Interaksi sosial juga mempunyai peran dalam

perkembangan pengetahuan siswa. Namun, yang terpenting adalah bagaimana

seorang anak mengembangkan self-regulasi untuk mencapai suatu ekuilibrasi

dalam proses pemikirannya. Yang terakhir ini didapat melalui proses asimilasi

dan akomodasi yang terus-menerus terhadap lingkungan dan masalah yang

dihadapi seorang anak. Dalam proses yang terakhir itulah, anak senantiasa

20
ditantang untuk selalu mengembangkan pemikirannya, dan dengan demikian

juga mengembangkan pengetahuannya.

2.5 Hasil Belajar

Hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah

dalam sikap dan tingkah lakunya menurut Winkel (dalam Purwanto, 2010:

48). Sedangkan Menurut Dahar (dalam Purwanto, 2010: 43) hasil belajar

adalah terbentuknya konsep, yaitu kategori yang kita berikan pada stimulus

yang ada di lingkungan, yang menyediakan skema yang terorganisasi untuk

mengasimilasi stimulus-stimulus baru dan menentukan hubungan didalam dan

diantara kategori-kategori.

Hasil belajar adalah kompetensi atau kemampuan tertentu baik

pengetahuan , afektif, maupun psikomotorik yang dicapai atau dikuasai

peserta didik setelah mengikuti proses belajar mengajar (Kunandar, 2015: 62).

Penilaian hasil belajar secara esensial bertujuan untuk mengukur keberhasilan

pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan sekaligus mengkuru keberhasilan

peserta didik dalam penguasaan kompetensi yang telah ditentukan (Kunandar,

2015: 10). Dengan penilaina guru bisa melakukan refleksi dan evaluasi

terhadap kualitas pembelajaran yang telah dilakukan apakah metode, strategi,

media, model pembelajaran dan hal lain yang dilakukan dalam proses belajar

mengajar itu tepat dan efektif atau sebaliknya bisa dilihat dari hasil belajar

yang diperoleh peserta didik. Jika hasil belajar peserta didik dalam ulangan

21
harian masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), maka bisa

dikatakan proses pembelajaran yang dilakukan guru gagal. Dan jika hasil

belajar peserta didik diatas KKM, maka bisa dikatakan proses pembelajaran

yang dilakukan guru berhasil.

Hal tersebut sejalan dengan yang disampaikan oleh Arikunto (2007:

121) bahwa guru maupun pendidik lainnya perlu mengadakan penilaian

terhadap hasil belajar siswa karena dalam dunia pendidikan, khususnya dunia

persekolahan penilaian hasil belajar siswa mempunyai makna yang penting,

baik bagi siswa maupun guru. Hasil belajar seringkali digunakan sebagai

ukuran untuk mengetahui seberapa jauh seseorang menguasai bahan yang

sudah diajarkan. Untuk mengetahui atau mengaktualisasikan hasil belajar

tersebut diperlukan serangkaian pengukuran menggunakan alat evaluasi yang

baik dan memenuhi syarat. Pengukuran demikian dimungkinkan karena

pengukuran merupakan kegiatan ilmiah yang dapat diterapkan pada berbagai

bidang termasuk pendidikan. Dalam penelitian ini dilakukan pada kelas IV

SD Deresan dengan mengukur hasil belajar siswa melalui tes. Peneliti

memberikan tes tersebut pada setiap akhir pertemuan siklus 1 dan siklus 2.

Berdasarkan dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar

adalah hasil yang telah dicapai oleh individu atas kemampuannya dalam

bidang tertentu yang dinyatakan dengan nilai, kemampuannya tersebut

22
meliputi aspek pengetahuan , afektif, dan psikomotor. Dalam hal ini peneliti

hanya terfokus mengukur hasil belajar siswa pada aspek pengetahuan .

2.1.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar

Menurut Sudjana (2009: 13) hasil belajar dipengaruhi oleh dua faktor

yaitu faktor Instrinsik dan yang kedua adalah faktor Ekstrinsik. Pertama

adalah faktor Instrinsik merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa.

Faktor tersebut yang tidak dapat diperbaiki kecuali oleh siswa itu sendiri

meliputi motivasi, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar,

ketekunan, dan sosial ekonomi. Sedangkan yang kedua adalah faktor

Ekstrinsik yaitu faktor yang berasal dari luar siswa. Faktor tersebut termasuk

dalam faktor yang dapat diperbaiki dalam proses pembelajaran misalnya

metode yang diterapkan oleh guru saat mengajar, penggunaan media

pembelajaran, interaksi antar siswa, interaksi antara siswa dengan guru,

fasilitas pembelajaran, dan lain sebagainya.

23
2.6 Pembelajaran Kooperatif

Menurut Rogger (dalam Huda, 2012: 29) pembelajaran kooperatif

merupakan aktivitas pembelajaran kelompok yang diorganisir oleh satu

prinsip bahwa pembelajaran harus didasarka pada perubahan-perubahan

informasi secara sosial diantara kelompok-kelompok pembelajar yang

didalamnya stiap pembelajarannya sendiri dan didorong untuk meningkatkan

pembelajaran anggota-anggota yang lain. Sedangkn menurut Art dan Newman

(dalam Huda, 2012: 32) pembelajaran kooperatif merupakan siswa yng

bekerjasama dalam satu tim untuk mengatasi suatu masalah, menyelesaikan

tugas, atau mencapai satu tujuan bersama.

Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli trsebut dapat disimpulkan

bahwa pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang dilaksanakan

secara bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama

2.7 Metode Student Team Achievement Division (STAD)

Student Team Achievement Division (STAD) merupakan salah satu

metode dari model pembelajaran kooperatif. Menurut Suprijono (2009: 123)

Langkah-langkah Student Team Achievement Division (STAD) sebagai

berikut:

1. Membentuk kelompok yang anggotanya heterogen (campuran menurut

prestasi, jenis kelamin, suku, dan lain-lain)

2. Guru menyajikan materi pelajaran

24
3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota

kelompok.

4. Guru memberi tes indvidual, masing-masing mengerjakan tanpa boleh

saling membantu diantara anggota kelompok

5. Memberi evaluasi dan penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan

skor

6. Guru mengonfirmasi dan memberi kesimpulan

2.5 Kurikulum 2013

2.6.1 Pengertian Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 merupakan sebuah kurikulum yang dikembangkan untuk

meningkatkan dan menyeimbangkan kemampuan soft skills dan hard skills

yang berupa sikap, keterampilan, dan pengetahuan (Fadillah , 2014: 16). Pada

kurikulum 2013 lebih menekankan adanya peningkatan dan keseimbangan

soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan,

dan pengetahuan, selain itu pembelajaran bersifat tematik integrative dalam

semua mata pelajaran. Sedangkan menurut Majid, dkk (2014: 1) kurikulum

2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi dengan memperkuat proses

pembelajaran dan penilaian autentik untuk mencapai kompetensi sikap,

pengetahuan, dan keterampilan.

Berdasarkan uraian dari penjelasan para ahli dapat disimpulkan bahwa

kurikulum 2013 kurikulum yang dalam kegiatannya dilakukan dengan

menghubungkan antara pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lain yang

25
kemudian dijadikan satu tema atau topic. Karena Pada tahun 2013 terjadi

pembaharuan kurikulum, dan mulai Tahun ajaran 2014/2015 semua sekolah

diwajibkan menggunakan kurikulum yang terbaharukan ini yaitu kurikulum

2013, maka dalam implementasi pembelajaran peneliti menggunakan

kurikulum 2013 sebagai acuan dalam pelaksanaan pembelajaran guna

meningkatkan hasil belajar siswa.

2.7 Pembelajaran Tematik

Menurut Subroto (2000: 9) pembelajaran tematik adalah

pembelajaran yang diawali dengan suatu tema tertentu yang mengaitkan

dengan pokok bahasan lain, konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain

yang dilakukan secara spontan atau direncanakan baik dalam satu bidang

studi atau lebih dan dengan beragam pengalaman belajar sehingga

pembelajaran menjadi semakin bermakna. Pada dasarnya pembelajaran

tematik merupakan kegiatan pembelajaran dengan memadukan materi dari

beberapa mata pelajaran dalam suatu tema. Dengan demikian dalam

pembelajaran tematik dilakukan dengan mengajarkan beberapa materi

yang dipadukan atau saling berkesinambungan dalam setiap pertemuan.

Pembelajaran tematik dimaknai sebagai pembelajaran yang

dirancang berdasarkna tema-tema tertentu. Unit yang tematik adalah

epitome dari seluruh bahasa pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk

secara produktif menjawab pertanyaan yang dimunculkan sendiri dan

memuaskan rasa ingin tahu dengan penghayatan secara ilmiah tentang

26
dunia disekitar mereka. Istilah pembelajaran tematik pada dasarnya adalah

model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan

beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman

bermakna kepada siswa (Depdiknas, 2006: 5).

Berdasarkan berbagi definisi sebagaimana yang telah dikemukakan

tersebut, bahwa pembelajaran tematik adalah pendekatan pembelajaran

yang mempersiapkan siswa untuk menghadapi pembelajaran seumur

hidup. Dalam pernyataan tersebut jelas bahwa sebagai pemacu dalam

pelaksanaan pembelajaran tematik, siswa menjelajah atau mencari sendiri

pengetahuan mengenai tema yang sedang dibahas dengan rangsangan

pertanyaan yang diberikan oleh guru maupun dari pengamalan siswa.

Setelah itu kemudian guru mengonfirmasi jawaban siswa dan membahas

masalah konsep-konsep pokok yang terkait dengan tema yang dibahas.

Dalam pelaksanaanya Kurikulum 2013 menggunakan pembelajaran

tematik.

2.8 Pendekatan Saintifik

Pendekatan Pembelajaran menurut Sagala (2005: 68) adalah jalan

yang ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan intruksional

untuk suatu yag instruksional tertentu. Pendekatan yang digunakan dalam

pembelajaran Kurikulum 2013 ialah pendekatan saintifik. Karena RPP

perangkkat pembelajaran yang dibuat oleh peneliti beracuan pada kurikulum

27
2013 maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan saintifik.

Pendekatan saintifik ialah pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran

tersebut dilakukan melalui proses ilmiah (Fadillah, 2014: 175).

Proses pembelajaran saintifik berlangsung dengan menggunakan

indra dan akal pikiran sendiri sehingga siswa mengalami secara langsung

dalam proses mendapatkan ilmu pengetahuan. Langkah-langkah pendekatan

saintifik yaitu 1) Mengamati (observing) dalam kegiatan ini siswa melihat,

mengamati, membaca, mendengar, menyimak dengan indra penglihat dan

tidan menggunakan alat apapun. 2) Menanya (Questioning) dalam kegiatan

ini siswa dipancing atau diawali dengan bimbingan guru untuk mengajukan

pertanyaan factual sampai yang bersifat hipotesis. 3) Mencoba

(Experimenting) dalam kegiatan ini sudah memahami apa yang akan mereka

pelajari dan mengetahui apa saja data yang harus dikumpulkan untuk

melengkapi pengetahuan yang mereka miliki. 4) Menalar (Associating)

dalam kegiatan ini siswa sudah mengetahui data apa saja yang harus diambil

dan setelah mereka mendapatkan data kemudian mereka belajar

menganalisis data yang mereka peroleh dan dapat menyimpulkan hasil dari

analisis mereka sendiri. 5) Mengomunikasikan (Communicating) dalam

kegiatan ini siswa tidak hanya belajar mengenai aspek pengetahuan tetapi

juga belajar aspek afektif dan psikomotor karena siswa bebas menyampaikan

28
data yang mereka peroleh bisa dengan tulisan, lisan, bagan, gambar, atau media

lainnya.

2.9 Hasil Penelitian Relevan

Sebagai penunjang dalam penelitian ini, peneliti menuliskan beberapa

penenlitian yang relevan dengan penelitian yang telah peneliti lakukan, maka

pada bagian ini dijelaskan penelitian yang relevan dengan penelitian yang

dilakukan peneliti. Penelitian yang pertama dilakukan oleh Prasetyawati (2015)

dengan judul “Pengembangan Prototipe Buku Enam Permainan Tradisional

Jawa untuk Membangun Karakter Anak” Dari hasil uji coba tersebut, peneliti

mendapatkan data-data refleksi anak yang menuliskan (1) jika mereka senang

memainkan enam permainan tradisional Jawa, (2) dilatih untuk bersikap tidak

mudah menyerah, adil, bergotong-royong, bersahabat, sportif, rasa ingin tahu,

taat aturan, bertanggungjawab, peduli, cerdas, rukun, dan jujur.

Penelitian kedua dilakukan oleh Aliya ( 2016) dengan judul “Peningkatan

Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas IV Menggunakan Metode

Permainan” Dari hasil penelitian tersebut peneliti menunjukan bahwa

peningkatan proses dan prestasi belajar siswa kelas IV di SD N Demangan dapat

dengan menggunakan metode permainan. Penggunaan metode permainan

tersebut dilakukan secara optimal sehingga berdampak pada peningkatan prestasi

belajar siswa.

29
Penelitian yang ketiga dilakukan oleh Iswinarti (2010) dengan judul “

Nilai-Nilai Terapiutik Permainan Tradisional Engklek Pada Anak Usia

Sekolah Dasar” hasil penelitian menunjukan bahwa nilai-nilai terapiutik yang

terkandung dalam permainan tradisional engklek meliputi : 1) Nilai sebagai

alat deteksi bagi anak yang mempunyai masalah 2) Nilai untuk perkembangan

fisik yang baik 3) Nilai untuk kesehatan mental yang baik 4) Nilai Problem

Solving 5) Nilai sosial.

Aliya ( 2016) dengan Iswinarti (2010) Prasetyawati (2015)


judul “Peningkatan dengan judul “ Nilai- dengan judul
Prestasi Belajar Ilmu Nilai Terapiutik “Pengembangan
Pengetahuan Sosial Permainan Prototipe Buku Enam
Siswa Kelas IV Tradisional Engklek Permainan Tradisional
Menggunakan Metode Pada Anak Usia Jawa untuk
Permainan” Sekolah Dasar” Membangun Karakter
Anak”

Penulis meneliti “PENINGKATAN HASIL


BELAJAR TEMA 4 SUBTEMA 1 DENGAN
MENGGUNAKAN STRATEGI PERMAINAN
TRADISIONAL PADA SISWA KELAS IV SD N
DERESAN”

Gambar 2. 3 Literatur Map Penelitian

30
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan oleh, Prasetyawati (2015),

Aliya (2016), dan Iswinarti (2010) merupakan penelitian yang memiliki

relevansi dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini. Hasil dari ketiga

penelitian menunjukan keberhasilan peningkatan hasil belajar pada siswa

melalui strategi permainan tradisional. Peneliti kemudian tertarik untuk

menggunakan strategi permainan tradisional untuk meningkatkan hasil belajar

Tema 4 (Berbagai Pekerjaan) Subtema 1 (Jenis-jenis Pekerjaan) pada siswa

kelas IV SD N Deresan.

2.10 Kerangka Berpikir

Hasil belajar adalah terbentuknya konsep, yaitu kategori yang kita

berikan pada rangsangan yang ada di lingkungan, yang menyediakan skema

yang terorganisasi untuk mengasimilasi rangsangan-rangsangan baru dan

pengalaman baru yang kita peroleh. Hasil belajar dipengaruhi oleh dua faktor

yaitu faktor instrinsik dan yang kedua adalah faktor ekstrinsik. Pertama adalah

faktor instrinsik merupakan faktor yang tidak dapat diperbaiki kecuali oleh

siswa itu sendiri. Sedangkan yang kedua adalah faktor ekstrinsik yaitu siswa

terdapat beberapa hal yang dapat diperbaiki dalam proses pembelajaran

misalnya model, metode, strategi yang diterapkan oleh guru saat mengajar,

penggunaan media pembelajaran, interaksi antar siswa, interaksi antara siswa

dengan guru, fasilitas pembelajaran, dan lain sebagainya.

31
Strategi pembelajaran yang digunakan dalam oleh guru saat mengajar

merupakan salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar siswa.

Namun dilihat dari kenyataan yang terjadi di lapangan, bahwa dalam kegiatan

belajar mengajar guru kelas IV SD N Deresan masih menggunakan strategi

yang kurang cocok dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran

dilakukan oleh guru dengan menggunakan model satu arah yaitu guru

kesiswa. Bahan ajar disampaikan secara ceramah oleh guru sehingga peran

siswa dikelas hanya mendengarkan dan mencatat. Hal itu menyebabkan siswa

kurang memperhatikan dan kurang antusias dalam pembelajaran dan berakibat

pada hasil belajar siswa yang tidak maksimal dan dibawah KKM.

Rendahnya hasil belajar siswa berdasarkan aspek pengetahuan dapat

dilihat dari banyaknya siswa yang mendapat nilai dibawah KKM. Maka dari

itu dengan memberikan permainan tradisional (Gobag sodor dan Sonlah/

Sondah) diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar Tema 4 Subtema 1

Pada siswa kelas IV SD N Deresan. Berdasarkan uraian diatas mengenai hasil

belajar pada materi Tema 4 Subtema 1, maka dipandang perlu untuk

dilakukan penelitian dengan menggunakan penelitian tindakan kelas yang

bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Tema 4 Subtema 1 pada siswa

kelas IV SD N Deresan dengan menggunakan strategi permainan tradisional.

32
2.9 Hipotesis Tindakan

Berdasarkan uraian teori, kerangka berpikir, dan rumusan masalah di atas,

maka hipotesis tindakan yang akan diajukan dalam penelitian ini adalah

penerapan strategi permainan tradisional pada Tema 4 (Berbagai Pekerjaan)

Subtema 1 (Jenis- Jenis Pekerjaan) dapat meningkatkan hasil belajar pada

siswa kelas IV di SD N Deresan.

33
BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah

Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian merupakan kegiatan mencermati

objek, menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau

informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu dari suatu hal yang

menarik minat dan penting bagi penelitian (Aqib, 2009: 5). Penelitian adalah

cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid (soheh) dengan tujuan dapat

ditemukan, dibuktikan, dan dikembangkan suatu pengetahuan sehingga dapat

digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah yang

bersangkutan dari data alami dan mempunyai akurasi yang mendalam (Manab,

2015: 1). Tindakan merupakan sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan

dengan tujuan tertentu, yang dalam penelitian ini berbentuk rangkaian siklus

kegiatan (Aqib, 2009: 17). Sedangkan kelas merupakan sekelompok siswa yang

berada dalam satu ruangan dan dalam waktu yang sama, menerima pelajaran

yang sama dari guru yang sama pula (Supardi, dkk, 2006).

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang memaparkan

terjadinya sebab-akibat dari perlakuan, sekaligus memaparkan apa saja yang

terjadi ketika perlakuan diberikan, dan memaparkan seluruh proses sejak awal

pemberian perlakuan sampai dengan dampak dari perlakuan tersebut (Arikunto,

34
2015: 1). Lebih rinci dari itu dalam bahasa inggris PTK diartikan dengan

Classroom Action Research atau disingkat CAR. Menurut Dwitagama (2009: 9)

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan oleh guru

dikelasnya sendiri dengan cara (1) merencanakan, (2) melaksanakan, (3)

merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisifatif dengan tujuan

memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat

meningkat. Pengertian kedua PTK atau Classroom Action Research (CAR)

adalah penelitian tindakan (action research) yang dilaksanakan oleh guru

didalam kelas. Penelitian tindakan pada hakikatnya merupakan rangkaian “riset-

tindakan-riset-tindakan-riset-tindakan…” yang dilakukan dalam rangkaian guna

memecahkan masalah (Wijaya & Dedi, 2009).

Menurut (Aqib, 2006) Penenlitan Tindakan Kelas (PTK) adalah suatu

pencermatan terhadap kegiatan yang sengaja dimunculkan, dan terjadi dalam

sebuah kelas. Berdasarkan Pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa

penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan

belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam

sebuah kelas secara bersama. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki

banyak model, didalam penelitian ini peneliti menggunakan salah satu model

PTK yaitu model Kemmis & McTaggart. Pada penelitian model Kemmis &

McTaggart merupakan pengembangan dari konsep yang diperkenalkan oleh

Kurt Lewin. Setiap model memiliki prosedur pelaksanaan yang berbeda, berikut

35
merupakan langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas menurut Kemmis &

McTaggart (dalam Sanjaya, 2011: 50) :

1) Perencanaan

Perencanaan adalah proses menentukan program perbaikan yang dimulai

dengan identifikasi masalah

2) Tindakan

Tindakan adalah perlakuan yang dilaksanakan oleh peneliti sesuai dengan

perencanaan yangtelah disusun oleh peneliti

3) Observasi

Observasi adalah pengamatan yang dilakukan oleh peneliti untuk

mengetahui efektivitas tindakan atau mengumpulkan informasi tentang

berbagai kelemahan (kekurangan) tindakan yang telah dilakukan

4) Refleksi

Refleksi adalah kegiatan analisis tentang hasil observasi hingga

memunculkan program atau perencanaan baru

Dalam penelitian tindakan model Kemmis & McTaggart terdiri dari empat

komponen yaitu a) perencanaan (planning), b) tindakan (acting), c) pengamatan

(observing), dan d) refleksi (reflecting). Hubungan keempat komponen tersebut

dipandang sebagai siklus yang dapat digambarkan sebagai berikut:

36
Gambar 3. 1 Desain PTK (Arikunto, 2010: 137)

Berdasarkan gambar desain PTK (Arikunto, 2010: 137) dapat dijabarkan sebagai

berikut :

1. Perencanaan siklus I : Menyusun perencanaan awal tindakan sesuai dengan

data yang diperoleh

2. Pelaksanaan siklus I : Melakukan tindakan pada siklus 1 sesuai dengan

perencanaan awal

3. Pengamatan siklus I : Melakukan pengamatan selama tindakan belangsung

sesuai dengan instrumen penelitian

4. Refleksi siklus I : Kegiatan mengkaji dan menganalisis proses kegiatan dan

berbagai kelemahan tindakan serta mengkaji tentang efek yang ditimbulkan

dari adanya tindakan

37
5. Perencanaan siklus II : Menyusun rencana berdasarkan hasil refleksi dari

siklus 1

6. Pelaksanaan siklus II : Melakukan tindakan siklus kedua sesuai dengan

rencana siklus II

7. Pengamatan siklus II : Melakukan pengamatan selama tindakan berlangsung

8. Refleksi siklus II : Mengkaji dan menganalisis apakah kekurangan pada siklus

I sudah diperbaiki serta mengkaji dampak dari adanya tindakan siklus II

3.2 Setting Penelitian (Tempat, Subjek, dan Objek Penelitian)

3.2.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan di SD N Deresan yang berlokasi di

Condongcatur,Sleman,Yogyakarta. Waktu penelitian dilakukan pada semester

ganjil Tahun Ajaran 2017/2018.

3.2.2 Subjek Penelitian

Subjek dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IVB di SD N

Deresan yang berjumlah 25 siswa yang terdiri dari 17 siswa putra dan 8 siswi

putri.

3.2.3 Objek Penelitian

Objek Penelitian ini adalah peningkatan hasil belajar tematik Tema 4;

Berbagai Pekerjaan, Subtema 1; Jenis-jenis Pekerjaan, untuk siswa kelas IV

SD N Deresan pada semester ganjil tahun ajaran 2017/2018.

38
3.3 Persiapan

Pada tahap persiapan ini peneliti melakukan beberapa hal yang

berkaitan dengan penelitian, yaitu:

1. Permintaan ijin kepada Kepala Sekolah SD N Deresan untuk

melakukan penelitian di SD tersebut.

2. Melakukan observasi pada siswa kelas IV di SD N Deresan untuk

mengetahui bagaimana kondisi dan karateristik siswa.

3. Melakukan wawancara kepada guru kelas IV dan beberapa siswa di

SD N Deresan untuk mengetahui kondisi awal dan permasalahan yang

dialami ketika dikelas.

4. Mengkaji materi sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi

dasarnya

5. Merumuskan masalah

6. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Lembar Kerja Siswa,

dan Instrumen penelitian

3.4 Rencana Tindakan Setiap Siklus

Penelitian ini menggunakan penelitian model Kemmis & McTaggart

yang memiliki dari empat komponen pokok yaitu a) perencanaan (planning),

b) tindakan (acting), c) pengamatan (observing), dan d) refleksi (reflecting)

dilaksanakan dalam beberapa siklus. Siklus I tetapi jika belum ada

peningkatan maka dilanjutkan ke siklus II sampai mengalami peningkatan.

Alokasi waktu untuk setiap siklus adalah 4 kali jam pelajaran (4x35 menit).

39
Siklus I

1. Rencana Tindakan

Perencanaan yang dilakukan meliputi: penyusunan RPP

mempersiapkan instrumen penelitian, dan membuat soal evaluasi untuk siklus

I.

2. Pelaksanaan

Pada tahap ini, pelaksanakan tindakan dilaksanakan oleh peneliti

dibantu oleh guru kelas. Pelaksanaan tindakan siklus I dilaksanakan dalam 1

pertemuan dengan alokasi waktu 4 x 35 menit. Pada siklus pertama siswa

mempelajari Tema 4; (Berbagai Pekerjaan) Subtema 1; (Jenis-jenis

Pekerjaan), pembelajaran ke-2 dengan Muatan Pelajaran; Matematika, PPKn,

dan SBdP. Dalam siklus pertama mata pelajaran matematika mempelajari

tentang luas Persegi, PPKn mempelajari tentang pengamalan pancasila sila

pertama, dan SBdP mempelajari tentang hal-hal yang di perhatikan saat

menggambar.

Proses Belajar Mengajar (PMB) pada pertemuan siklus I ini siswa

belajar sambil bermain dengan permainan sonlah. Sebelum memulai bermain

siswa berdoa terlebih dahulu kemudian guru memberikan apersepsi mengenai

pengamalan pancasila ketika berdoa. Setelah kegiatan apersepsi guru

menyampaikan aktivitas pembelajaran yang dilakukan yaitu belajar melalui

permainan sonlah. Sebelum memulai permainan siswa membaca sejarah dan

40
aturan permainan sonlah terlebih dahulu. Setelah itu siswa dan guru tanya

jawab mengenai peraturan ketika bermain sonlah.

Ketika bermain sonlah siswa diberi rangsangan dengan berupa

pertanyaan yang berkaitan dengan mata pelajaran matematika tentang keliling

persegi. Dalam prosesnya pada saat bermain sonlah siswa akan melihat bentuk

kotak yang akan digunakan dalam permainan. Kemudian siswa

mengidentifikasi bentuk kotak permainan sonlah dan mencari rumus luas dari

bentuk kotak tersebut. Pada mata pelajaran PPKn siswa mempelajari tentang

pengamalan pancasila sila pertama, jadi sebelum siswa bermain maka siswa

berdoa terlebih dahulu dan hal tersebut termasuk dalam pengamalan pancasila

sila pertama. Selain itu ketika siswa bermain sonlah siswa diberi pertanyaan

bagaimana sikap seharusnya ketika bermian sonlah dan menegaskan bahwa

ketika bermain siswa harus bersikap jujur dan jujur termasuk dalam

pengamalan pancasila sila pertama. Dan dalam mata pelajaran SBdP siswa

mempelajari tentang hal-hal yang di perhatikan saat menggambar, dan

sebelum bermain siswa disuruh untuk menggambar kotak permainan sonlah

dan mengamati hal-hal apa saja yang harus diperhatikan ketika menggambar

permainan sonlah.

3. Observasi

Pada tahap pengamatan (observing) dilakukan bersamaan dengan

pelaksanaan (acting) berlangsung. Pada tahap observasi, peneliti menganalisis

kesesuaian antara Proses Belajar Mengajar (PBM) yang berlangsung dengan

41
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Selain itu peneliti juga mencatat

kejadian yang terjadi selama kegiatan pembelajaran dan pengambilan data

dilakukan melalui tes tertulis dengan soal evaluasi siklus I.

4. Refleksi

Pada tahap refleksi siklus I, Penelti melakukan analisa hasil tindakan

terhadap pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus I.

Analisa kegiatan tersebut meliputi; analisa tentang a) pelaksanaan evalusai

tindakan yang telah dilakukan meliputi kesulitan, hambatan, dan kejadian

khusus pada siklus I, b) perbandingan skor yang diperoleh pada kondisi awal

dan kondisi akhir siklus I, c) pelaksanaan penilaian untuk mengetahui

peningkatan hasil belajar pada Tema 4; Berbagai Pekerjaan, Subtema 1; Jenis-

jenis Pekerjaan. Evaluasi tersebut mengenai peningkatan hasil belajar pada

Tema 4; Berbagai Pekerjaan, Subtema 1; Jenis-jenis Pekerjaan, dengan

menggunakan metode permainan anak. Hasil refleksi siklus I akan dijadikan

acuan bagi peneliti untuk perbaikan pada pembelajaran siklus II agar siswa

dapat mengikuti pembelajaran dengan baik dan mencapai kompetensi yang

diharapkan.

Siklus II

1. Rencana Tindakan

Perencanaan yang dilakukan meliputi: penyusunan RPP

mempersiapkan instrumen penelitian, dan membuat soal evaluasi untuk siklus

II.

42
2. Pelaksanaan

Pada tahap ini, pelaksanakan tindakan dilaksanakan oleh peneliti

dibantu oleh guru kelas. Pelaksanaan tindakan siklus I dilaksanakan dalam 1

pertemuan dengan alokasi waktu 4 x 35 menit. Pada siklus II siswa

mempelajari Tema 4; (Berbagai Pekerjaan) Subtema 1; (Jenis-jenis

Pekerjaan), pembelajaran ke-4 dengan Muatan Pelajaran; Matematika, PPKn,

dan Bahasa Indonesia. Dalam siklus II mata pelajaran matematika

melanjutkan dari pemebelajaran ke 2. Jika pada siklus I pembelajaran ke 2

mempelajari tentang luas persegi. Maka dalam siklus II pembelajaran ke4

tentang keliling Persegi, Pada mata pelajaran PPKn juga melanjutkan dari

siklus I pembelajaran ke2. Jika pada siklus I mempelajari tentang pengamalan

pancasila sila pertama, maka pada siklus II mempelajari tentang cara

memberikan pendapat tentang sikap yang sesuai dan kurang sesuai dengan

sila pertama dan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia mempelajari tentang

cara memberikan pendapat tentang sikap tokoh dari cerita yang dibaca.

Proses Belajar Mengajar (PMB) pada pertemuan siklus II ini siswa

belajar sambil bermain dengan permainan gobag sodor. Sebelum memulai

bermain siswa berdoa terlebih dahulu kemudian guru memberikan apersepsi

mengenai pengamalan pancasila ketika kemarin bermain sonlah. Setelah

kegiatan apersepsi guru menyampaikan aktivitas pembelajaran yang dilakukan

yaitu belajar melalui permainan gobag sodor. Sebelum memulai permainan

siswa membaca sejarah dan aturan permainan gobag sodor terlebih dahulu.

43
Setelah itu siswa dan guru tanya jawab mengenai peraturan ketika bermain

gobag sodor.

Ketika bermain gobag sodor siswa diberi rangsangan dengan berupa

pertanyaan yang berkaitan dengan mata pelajaran matematika tentang keliling

persegi. Pada saat bermain gobag sodor siswa akan melihat bentuk kotak yang

digunakan dalam permainan. Kemudian siswa mengidentifikasi bentuk kotak

permainan gobag sodor dan mencari rumus keliling dari bentuk kotak

tersebut. Pada mata pelajaran PPKn siswa mempelajari tentang cara

memberikan pendapat tentang sikap yang sesuai dan kurang sesuai dengan

sila pertama, jadi sebelum siswa bermain maka diberi rangsangan dengan guru

bertanya “bagaimana sikap berdoa yang baik?” dan hal tersebut termasuk

dalam pengamalan pancasila sila pertama. Selain itu ketika siswa bermain

gobag sodor siswa diberi pertanyaan bagaimana sikap seharusnya ketika

bermian gobag sodor dan menegaskan bahwa ketika bermain siswa harus

bersikap jujur dan jujur termasuk dalam pengamalan pancasila sila pertama.

Dan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa mempelajari tentang cara

memberikan pendapat tentang sikap tokoh dari cerita yang dibaca.

4. Observasi

Pada tahap pengamatan (observing) dilakukan bersamaan dengan

pelaksanaan (acting) berlangsung. Pada tahap observasi, peneliti menganalisis

kesesuaian antara Proses Belajar Mengajar (PBM) yang berlangsung dengan

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Selain itu peneliti juga mencatat

44
kejadian yang terjadi selama kegiatan pembelajaran dan pengambilan data

dilakukan melalui tes tertulis dengan soal evaluasi siklus II.

5. Refleksi

Refleksi yang dilakukan oleh peneliti meliputi analisa perbaikan yang

dilakukan pada siklus II. Selanjutnya peneliti menganalisis proses

pembelajaran, hasil evaluasi dan hasi peningkatan belajar siswa.

3.5 Indikator dan Pengukuran Keberhasilan

Suatu siklus penelitian dikatakan berhasil apabila telah tercapainya

indikator-indikator yang telah ditentukan. Indikator keberhasilan yang

ditargetkan oleh peneliti dan guru dalam penelitian adalah 75 pada siklus I

dan 80 pada siklus II. Indikator keberhasilan yang ditetapkan oleh peneliti dan

guru adalah 75 karena KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditetapkan

oleh SD tempat penelitian. KKM yang ditetapkan oleh SD N Deresan untuk

semua mata pelajaran adalah 75 maka dengan target indikator keberhasilan 75

diharapkan siswa-siswi dapat mencapai nilai KKM. Deskrispi indikator

keberhasilan yang akan dilaksanakan dalam penelitian dapat dilihat pada tabel

3.1.

45
Tabel 3. 1 Indikator Keberhasilan

No Indikator Kondisi Target Akhir Siklus Keterangan


Awal Siklus 1 Siklus
2
1 Rata-rata kelas 64,66 75 80 Jumlah nilai seluruh
siswa dibagi jumlah
siswa
2 Presentase 40% 60% 80% Jumlah siswa yang
jumlah siswa tuntas dibagi seluruh
yang tuntas siswa dikali 100%

3.6 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti ada dua cara yaitu Tes dan

Non Tes. Data tes diperoleh dari tes tertulis yang diberikan kepada siswa, dan

data non tes diperoleh dari wawancara dan observasi. Data diperoleh melalui

observasi aktivitas guru dan siswa dikelas, wawancara dengan guru, dan

dokumentasi nilai Ulangan Tengah Semester (UTS) tahun lalu. Tujuan dari

masing-masing pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti yaitu 1)

Observasi aktivitas guru dan siswa dikelas bertujuan untuk memperoleh

gambaran dan situasi kondisi proses belajar di kelas. 2) Wawancara dengan

guru bertujuan untuk memperoleh data langsung dari guru. 3) Dokumentasi

nilai UTS bertujuan untuk memperoleh data kondisi awal hasil belajar siswa

pada Tema 4 (Berbagai Pekerjaan), Subtema 1 (Jenis-jenis Pekerjaan).

46
1. Tes

1.1 Tes Tertulis

Mardapi (2008: 67) berpendapat bahwa tes merupakan sejumlah

pertanyaan yang harus diberikan tanggapan, bertujuan untuk mengukur tingkat

kemampuan seseorang. Dalam hal ini peneliti mengukur kemampuan siswa

dengan menggunakan tes tertulis. Peneliti menggunakan tes tertulis sebagai

pengumpul data adalah serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk

mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang

dimiliki oleh individu atau kelompok. Secara umum tes diartikan sebagai alat

yang dipergunakan untuk mengukur pengetahuan atau penguasaan objek ukur

terhadap seperangkat konten atau materi tertentu (Sudaryono, 2013: 40). Menurut

Widoyoko (2012: 57) Tes merupakan salah satu alat ukur untuk melakukan

pengukuran, yaitu alat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek.

Pada penelitian ini tes digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa.

Adapun tes yang digunakan adalah soal evaluasi siklus I dan soal evaluasi siklus

2. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan 10 soal yaitu 6 soal pilihan ganda

dan 4 soal essay. Tes akhir dilaksanakan untuk mengetahui sejauh mana materi

yang diberikan guru dapat dikuasai dengan baik oleh siswa atau belum. Tes ini

diberikan pada setiap akhir siklus 1 dan siklus 2.

47
2. Non Tes

2.1 Observasi

Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang

tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis Hadi (dalam Sugiyono,

2011: 145). Observasi merupakan metode pengumpulan data melalui indra

manusia (Herdiansyah, 2013). Berdasakan pernyataan ini, indra yang terlibat

bukan hanya indra penglihatan saja, tetapi indra lainnyapun dapat dilibatkan

seperti indra pendengaran, indra penciuman, indra perasa, dan lain

sebagainya. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan observasi tersturktur

yaitu observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan

diamati, kapan dan dimana tempatnya (Sugiyono, 2011:146) dan tidak

terstruktur yaitu adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis

tentang apa yang akan diobservasi (Sugiyono, 2011:146), dimana hasil

observasi adalah apa yang akan diamati ketika observasi. Jadi, mengobservasi

dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan

pengecapan (Arikunto, 2002: 133).

Kegiatan observasi ini bertujuan untuk mengamati PBM pada Tema 4

(Berbagai Pekerjaan), Subtema 1 (Jenis-jenis Pekerjaan) yang dilakukan oleh

guru dan siswa. Dengan begitu maka peneliti dapat menentukan strategi

peembelajaran yang sesuai dengan permasalahan yang ada dikelas. Observasi

dilakukan oleh peneliti dengan cara masuk kedalam kelas ketika pembelajaran

48
sedang berlangsung. Kemudian peneliti mencatat semua kegiatan yang

dilakuan ketika pembelajaran berlangsung.

2.2 Wawancara

Wawancara adalah proses interaksi yang dilakukan oleh dua orang

atau lebih, dimana kedua pihak yang terlibat (pewawancara/ interviewer dan

terwawancara/ interviewee) memiliiki hak yang sama dalam bertanya dan

menjawab (Herdiansyah, 2013). Dalam penelitian ini, peneliti

menggunakanwawancara tidak terstruktur. Pewawancara memberi kebebasan

interviewee untuk menjawab pertanyaan ysng diberikan oleh interviewer.

Wawancara dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh informasi dari guru

tentang hasil belajar siswa pada Tema 4 (Berbagai Pekerjaan), Subtema 1

(Jenis-jenis Pekerjaan). Kegiatan wawancara ini bertujuan untuk melengkapi

data yang diperoleh pada kondisi awal yang berkaitan dengan hasil belajar

Tema 4 (Berbagai Pekerjaan), Subtema 1 (Jenis-jenis Pekerjaan).

2.3 Dokumentasi

Teknik dokumentasi adalah cara mengumpulkan data melalui

peninggalan tertulis, seperti arsip, buku-buku teori, pendapat, dalil, dan lain

lain yang berhubungan dengan masalah penelitian (Margono, 2010). Arsip

dokumentasi dapat digunakan untuk memperkuat data yang telah diperoleh

peneliti. Dengan arsip tersebut maka peneliti dapat memperkuat penelitian

49
dengan bukti konkret antara lain yaitu foto, video yang dapat digunakan untuk

memperkuat keabsahan penelitian tersebut.

3.7 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan oleh peneliti dalam

mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik

(Widoyoko, 2012: 53). Sesuai dengan judul penelitian tersebut, terdapat

perubahan yang dibahas oleh peneliti yaitu hasil belajar siswa. Instrumen

penelitian dapat berupa angket, daftar cocok, skala, pedoman wawancara,

lembar pengamatan atau panduan pengamatan serta soal ujian atau soal test.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian digunakan untuk menguji hipotesis

atau jawaban pertanyaan yang telah dirumuskan. Data yang diperoleh akan

dijadikan landasan dalam mengambil kesimpulan, data yang dikumpulkan

haruslah data yang benar. Agar data yang dikumpulkan baik dan benar,

instrument pengumpulan datanya pun harus baik. Instrumen yang digunakan

dalam penelitian ini adalah :

1. Soal tes

Soal tes pada instrumen ini dibuat dalam bentuk soal evaluasi yang

berbentuk pilihan ganda dan essay. Soal evaluasi dibuat dengan bertujuan

untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada Tema 4 (Berbagai

50
Pekerjaan) Subtema 1 (Jenis-Jenis Pekerjaan). Soal evaluasi diujikan

sebanyak dua kali yaitu pada akhir pembelajaran siklus I dan siklus II.

2. Lembar Observasi

Kegiatan observasi dilakukan untuk mengamati bagaimana proses

pembelajaran Tema 4 Subtema 1 berlangsung pada kelas IV SD Negeri

Deresan. Observasi yang digunakan peneliti ada 2 jenis yaitu observasi

terseturktur dan observasi tidak terstruktur. Pada observasi terstruktur peneliti

menggunakan pedoman observasi atau lembar observasi. Lembar observasi

merupakan lembar yang berisi pedoman dalam pelaksanaan observasi siswa

selama proses pembelajaran dengan cara memberi tanda centang (√) pada

lembar observasi yang sudah dibuat. Sedangkan pada observasi tidak

terstruktur peneliti menggunakan dirinya sendiri dan dengan tambahan catatan

anekdot peneliti. Catatan anekdot adalah alat perekam observasi secara

berkala terhadap suatu peristiwa atau kejadian penting yang melukiskan

perilaku dan kepribadian seseorang dalam pernyataan singkat dan obyektif.

Catatan anekdot peneliti dapat dilihat pada lampiran. Di bawah ini adalah

lembar pedoman observasi yang peneliti susun :

51
Tabel 3. 2 Lembar Pedoman Observasi

No. Indikator

1. Guru memberi apersepsi dan motivasi

2. menguasai materi pengajaran

3. mengelola kelas dengan baik

4. Menggunakan sebuah metode pembelajaran

5. Guru menggunakan metode pembelajaran yang variatif

6. Interaksi siswa dan guru dalam pembelajaran baik

7. Siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran

8. Siswa Nampak ceria dan antusias dalam belajar

9. Siswa terlihat menerima pembelajaran dengan baik

10. Guru memberikan post tes di akhir pembelajaran

3. Pedoman wawancara

Instrumen pedoman wawancara digunakan untuk menggali informasi dari

guru terkait cara pembelajaran tematik yang digunakan guru dan hasil belajar

siswa. Pedoman wawancara disusun untuk mempermudah oleh peneliti dalam

mendapatkan data awal. Berikut adalah pedoman wawancara yang digunakan

peneliti.

52
Tabel 3. 3 Lembar Pedoman Wawancara

No Pertanyaan

1. Bagaimana proses pembelajaran tematik pada Tema 4 (Berbagai


Pekerjaan), Subtema 1 (Jenis-jenis Pekerjaan) kelas IV di SD Negeri
Deresan?

2. Bagaimana kondisi kelas ketika pembelajaran sedang berlangsung?

3. Apa kendala-kendala yang Bapak/Ibu alami dalam pelaksanaan


pembelajaran tematik pada Tema 4 (Berbagai Pekerjaan), Subtema 1
(Jenis-jenis Pekerjaan) ?

4. Bagaimana Bapak/Ibu mengatasi kendala tersebut?

5. Strategi pembelajaran yang seperti apa yang Bapak/Ibu terapkan dalam


pembelajran sehari-hari ?

6. Bagaimana nilai siswa dalam mata pelajaran tematik khususnya Tema 4


(Berbagai Pekerjaan), Subtema 1 (Jenis-jenis Pekerjaan) ?

7. Apakah nilai seluruh siswa kelas IV pada mata pembelajaran tematik


khususnya pada Tema 4 (Berbagai Pekerjaan), Subtema 1 (Jenis-jenis
Pekerjaan) sudah mencapai KKM?

8. Apakah hasil belajar siswa masih tergolong rendah? Mengapa?

9. Bagaimana cara ibu mengatasi hasil belajar siswa yang rendah?

3.8 Teknik Pengujian Instrumen

3.8.1 Uji Validitas

Menurut Sugiyono (2016: 267) validitas merupakan derajat ketepatan

antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan

oleh peneliti. Dengan kata lain instrumen dikatakan valid apabila alat yang

digunakan untuk mengukur sesuatu sesuai dengan apa yang diukur. Suatu tes atau

53
instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat

tersebut menjalankan fungsi ukurannya yang tepat atau memberikan hasil ukur

sesuai dengan tujuan diadakannya tes tersebut. Dengan instrumen yang valid,

maka akan menghasilkan data yang valid pula (Widoyoko, 2012: 141)

Penelitian ini menggunakan validitas untuk mengetahui valid atau

tidaknya soal yang dibuat. Validitas soal tersebut dilakukan oleh expert

judgement yaitu dari kepala sekolah dan guru kelas IV. Uji validitas dilakukan

untuk mendapat gambaran kriteria yang tepat untuk sebuah penelitian peneliti

memerlukan validasi perangkat pembelajaran. Menurut Widoyoko (2012: 143)

validitas ada beberapa jenis yaitu:

1. Validitas Isi (Content Validity)

Instrumen yang harus mempunyai validitas isi adalah instrumen yang

berbentuk tes untuk mengukur hasil belajar. Artinya bahwa sejauh mana tes

hasil belajar sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik isinya telah

dapat mewakili secara representatif terhadap keseluruhan materi atau bahan

pelajaran yang seharusnya diujikan. Sebuah tes dikatakan mempunyai

validitas isi apabila dapat mengukur kompetensi yang dikembangkan beserta

indikator dan materi pembelajarannya. Dengan kata lain untuk menguji

validitas isi instrumen dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi

54
instrumen dengan kompetensi yang dikembangkan dan materi pelajaran yang

telah dipelajari.

2. Validitas Konstruk (Konstruk Validity)

Validitas konstruk mengacu pada sejauh mana suatu instrumen

mengukur konsep dari suatu teori, yaitu yang menjadi dasar penyususnan

instrumen. Definisi atau konsep yang diukur berasal dari teori yang

digunakan. Oleh karena itu, harus ada pembahasan mengenai teori tentang

variabel yang akan diukur yang menjadi dasar penentuan konstruk suatu

instrumen. Berdasarkan definisi tentang variabel tersebut kemudian

dirumuskan definisi konseptual dan definisi operasional, dan selanjutnya

ditentukan indikator yang akan diukur. Dari indikator tersebut kemudian

dijabarkan menjadi butir-butir instrumen, baik dalam bentuk pertanyaan

maupun pernyataan.

3. Validitas Tampang

Uji validitas tampang dieroleh melalui pemeriksaan terhadap butir-butir

tes untuk membuat kesimpulan bahwa tes tersebut mengukur aspek yang relevan.

Artinya jika suatu tes dilihat dari luarnya sudah dianggap baik maka tes tersebut

sudah memenuhi validitas rupa dan tidak perlu direvisi. Validitas tampang dalam

penelitian ini dilakukan di SD N Babarsari dengan memberikannya pada 2 siswa

untuk setiap siklus. Peneliti melakukan uji validitas rupa pada setiap selesai uji

55
validitas konstruks pada siklus I dan siklus II untuk menilai instrumen soal

evaluasi yang berupa pilihan ganda dan essay

Perangkat pembalajaran yang sudah divalidasi oleh kepala sekolah dan

guru kemudian direkap untuk dicari skor rata-rata dan dikategorikan berdasarkan

konversi nilai, sebagai berikut:

Tabel 3. 4 Konversi Nilai (Tampubolon, 2013)

Interval Nilai Kategori Makna

81 – 100 A Sangat Baik

61 – 80 B Baik

41 – 60 C Cukup Baik

21 – 40 D Kurang Baik

0 – 20 E Sangat Tidak Baik

Perangkat pembelajaran tersebut telah divalidasi oleh kepala sekolah, dan

guru kelas IV. Hasil validasi perangkat pembelajaran dapat dilihat pada table 3.7, 3.8,

3.9, 3.10, 3.11, dan 3.12.

1. Uji Validitas Instrumen Pembelajaran

Instrument pembelajaran yang diuji validitasnya adalah RPP, dan soal

evaluasi untuk siswa. Ada 3 jenis validitas yang digunakan oleh peneliti yaitu

validitas isi (content validity), validitas konstruk (construct validity), validitas

tampang. Peneliti melakukan validitas tersebut guna membuktikan dan

56
mengetahui sejauh mana instrument pembelajaran dan tes yang disusun oleh

peneliti benar-benar sesuai dengan kurikulum. Pada validitas isi peneliti

melakukan expert judgement kepada kepala sekolah dan guru kelas IV sehingga

dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Perangkat pembelajaran yang telah disusun oleh peneliti kemudian diuji

validitas isi (content validity) dan validitas konstruks (construct validity ) oleh

beberapa ahli yaitu kepala sekolah sebagai validator 1, dan guru kelas IV sebagai

validator 2. Peneliti memilih kepala sekolah dan guru karena kemampuannya

dianggap sesuai dalam bidang dan lingkup objek yang akan diteliti oleh peneliti.

Peneliti meminta bantuan kepada kepala SD N Deresan karena salah satu kepala

sekolah yang menurut peneliti memiliki kemampuan dalam bidang pendidikan

terutama di Sekolah Dasar dan karena beliau memiliki prestasi dalam bidang

pendidikan. Selanjutnya validator 2 yaitu guru kelas, peneliti meminta bantuan

kepada guru kelas IV.

Validitas isi atau content validity pada instrument pembelajaran yaitu RPP

dilakukan peneliti kepada kepala sekolah dan guru. Validitas konstruk (construct

validity) peneliti melakukan uji validasi instrumen kepada kepala sekolah dan

guru kelas IV. Alasan peneliti melakukan validitas konstruk yaitu untuk

mengetahui sejauh mana instrumen pembelajaran dan tes yang disusun oleh

peneliti sudah sesuai dengan konsep dan teori atau konstruksi yang sesuai dengan

pemahaman siswa. Kemudian validitas rupa atau face validity pada uji validitas

57
tampilan ini peneliti melakukannya di SD N Babarsari yang diberikan kepada 2

siswa pada siklus I dan 2 siswa pada siklus II untuk menilai instrumen soal

evaluasi yang berupa pilihan ganda dan essay. Peneliti memilih uji validitas rupa

untuk mengetahui sejauh mana suatu tes yang telah disusun oleh peneliti mampu

mengukur isi tes tersebut berdasarkan pada tampilan dari tes tersebut.

Instrumen validitas pembelajaran dibagi dalam 2 perangkat yaitu, RPP,

dan Soal Evaluasi. Skor pada setiap komponen penilaian menggunakan Skala

Likert. Skor dalam Likert dari 1 dengan kriteria “Sangat tidak baik”, 2 “tidak

baik”, 3 “cukup”, 4 “Cukup baik”, dan 5 “Sangat baik”. Dalam penilaian setiap

komponen pada silabus, skor dalam Likert yang digunakan adalah 1,2,3,4,5.

Peneliti menargetkan nilai 4 untuk dijadikan patokan dalam merevisi atau tidak

merevisi baik itu RPP, maupun soal evaluasi yang telah dibuat. Peneliti dan teman

kelompok satu paying bersepakat untuk menargetkan rata-rata yang harus dicapai

yaitu sama dengan 4 atau lebih dari 4. Jika rata-rata skor yang diperoleh tidak

sesuai dengan target maka peneliti akan merevisi baik itu silabus, RPP, dan soal

evaluasi yang telah dibuat.

Validasi untuk RPP divalidasi oleh kepala sekolah, dan guru kelas IV.

Pada penilaian RPP rentang skor yang digunakan juga sama dengan yang

digunakan dalam rentang skor silabus yaitu 1,2,3,4 dan 5. Dalam Komponen

validasi RPPH terdiri dari 9 komponen yang ditentukan oleh peneliti. Berikut

merupakan hasil validasi RPP:

58
Tabel 3. 5 Hasil Validasi RPP Siklus I

No Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Validator


1 2
A Identitas Mata Pelajaran
1 Terdapat : Satuan Pendidikan, kelas, semmester, program/ 5 5
program keahlian, mata pelajaran atau tema pelajaran/
subtema, jumlah pertemuan
B Perumusan Indiktaor
1 Kesesuaian dengan Kompetensi Dasar 5 5
2 Kesesuaian penggunaan kata kerja operasional dengan 4 5
kompetensi yang diukur
3 Kesesuaian rumusan dengan aspek pengetahuan 5 5
4 Kesesuaian rumusan dengan aspek keterampilan 5 4
C Perumusan Tujuan pembelajaran
1 Kesesuaian dengan indikator 4 5
2 Kesesuaian perumusan dengan aspek, Audience, Behaviour, 4 5
Conditional, dan Degree
D Pemilihan Materi Ajar
1 Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran 5 4
2 Kesesuaian dengan karateristik peserta didik 4 5
3 Keruntutan uraian materi ajar 4 4
E Pemilihan Sumber Belajar
1 Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran 5 5
2 Kesesuaian dengan materi pembelajaran 5 4
3 Kesesuaian dengan pendekatan saintifik 5 4
4 Kesesuaian dengan karateristik peserta didik 4 5
F Pemilihan media belajar
1 Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran 5 5
2 Kesesuaian dengan materi pembelajaran 5 4
3 Kesesuaian dengan pendekatan saintifik 4 5
4 Kesesuaian dengan karateristik peserta didik 4 4
G Metode pembelajaran
1 Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran 4 5
2 Kesesuaian dengan pendekatan saintifik 4 4
3 Kesesuaian dengan karateristik peserta didik 4 4
H Skenario pembelajaran
1 Menampilkan kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup 4 5
dengan jelas
2 Kesesuaian kegiatan dengan pendekatan saintifik ( 5 5
Mengamati, menanya, mengumpulkan informasi,
mengasosiasikan informasi, mengomunikasikan)
3 Kesesuaian dengan metode pembelajaran 5 4
4 Kesesuaian kegiatan dengan sistematika/ ketentuan materi 4 4
5 Kesesuaian alokasi waktu kegiatan pendahuluan, kegiatan 5 4

59
inti, kegiatan penutup, dengan cakupan materi
I Rancangan Penilaian Autentik
1 Kesesuaian bentuk, teknik, dan instrumen dengan indikator 4 4
pencapaian kompetensi
2 Kesesuaian antara bentuk, teknik dan instrumen penilaian 5 4
sikap
3 Kesesuaian antara bentuk, teknik dan instrumen penilaian 4 4
pengetahuan
4 Kesesuaian antara bentuk, teknik dan instrumen penilaian 4 4
keterampilan
Jumlah Skor 134 134
Skor Rata-rata 4,46 4,46
Rata-rata 4,46

Berdasarkan tabel 3.7 dapat diketahui bahwa penilaian dari dua validator

untuk setiap pernyataan peneliti mendapat nilai 4 sampai dengan 5. Skor rata-rata dari

penilaian 2 validator mendapat nilai yang sama yaitu 4,46. Berdasarkan hasil tersebut

peneliti memutuskan untuk tidak merevisi RPP pada siklus I karena skor rata-rata

yang diperoleh peneliti diatas target yang ditetapkan peneliti yaitu 4.

Tabel 3. 6 Hasil Validasi RPPH Siklus II

No Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Validator


1 2
A Identitas Mata Pelajaran
1 Terdapat : Satuan Pendidikan, kelas, semmester, program/ 5 5
program keahlian, mata pelajaran atau tema pelajaran/ subtema,
jumlah pertemuan
B Perumusan Indiktaor
1 Kesesuaian dengan Kompetensi Dasar 5 5
2 Kesesuaian penggunaan kata kerja operasional dengan 5 5
kompetensi yang diukur
3 Kesesuaian rumusan dengan aspek pengetahuan 5 5
4 Kesesuaian rumusan dengan aspek keterampilan 5 4
C Perumusan Tujuan pembelajaran
1 Kesesuaian dengan indikator 5 5
Kesesuaian perumusan dengan aspek, Audience, Behaviour, 5 5
Conditional, dan Degree

60
D Pemilihan Materi Ajar
1 Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran 5 4
2 Kesesuaian dengan karateristik peserta didik 4 4
3 Keruntutan uraian materi ajar 4 4
E Pemilihan Sumber Belajar
1 Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran 5 5
2 Kesesuaian dengan materi pembelajaran 5 4
3 Kesesuaian dengan pendekatan saintifik 5 4
4 Kesesuaian dengan karateristik peserta didik 4 5
F Pemilihan Media Pembelajaran
1 Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran 5 5
2 Kesesuaian dengan materi pembelajaran 5 5
3 Kesesuaian dengan pendekatan saintifik 4 5
4 Kesesuaian dengan karateristik peserta didik 5 4
G Metode pembelajaran
1 Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran 4 5
2 Kesesuaian dengan pendekatan saintifik 4 4
3 Kesesuaian dengan karateristik peserta didik 4 5
H Skenario pembelajaran
1 Menampilkan kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup dengan 5 5
jelas
2 Kesesuaian kegiatan dengan pendekatan saintifik ( Mengamati, 5 5
menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasikan
informasi, mengomunikasikan)
3 Kesesuaian dengan metode pembelajaran 5 5
4 Kesesuaian kegiatan dengan sistematika/ ketentuan materi 5 4
5 Kesesuaian alokasi waktu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, 5 3
kegiatan penutup, dengan cakupan materi
I Rancangan Penilaian Autentik
1 Kesesuaian bentuk, teknik, dan instrumen dengan indikator 4 5
pencapaian kompetensi
2 Kesesuaian antara bentuk, teknik dan instrumen penilaian sikap 5 5
3 Kesesuaian antara bentuk, teknik dan instrumen penilaian 5 4
pengetahuan
4 Kesesuaian antara bentuk, teknik dan instrumen penilaian 4 4
keterampilan
Jumlah Skor 141 137
Skor Rata-rata 4,7 4,56
Rata-rata 4,63

Berdasarkan tabel 3.8 dapat diketahui bahwa penilaian dari dua

validator tidak jauh berbeda dengan penilaian siklus I untuk setiap pernyataan

61
peneliti mendapat nilai 4 sampai dengan 5, kecuali pada penilaian validator 2

yang memberi nilai 3 pada komponen H pada nomor 5. Pernyataan komponen

H pada nomor 5 adalah Kesesuaian alokasi waktu kegiatan pendahuluan,

kegiatan inti, kegiatan penutup, dengan cakupan materi. Skor rata-rata dari

penilaian dua validator adalah 4,61. Berdasarkan hasil tersebut peneliti

memutuskan untuk tidak merevisi RPP pada siklus II karena skor rata-rata

yang diperoleh peneliti diatas target yang ditetapkan peneliti yaitu 4.

Validasi Soal Evaluasi juga peneliti lakukan pada kepala sekolah, dan

guru kelas IV yang sama ketika memvalidasi RPP. Hasil perolehan skor untuk

Soal Evaluasi dapat dilihat pada table 3.9

Tabel 3. 7 Hasil Validasi Soal Evaluasi Siklus I

Validator Skor untuk Pernyataan Rata-Rata

1 2 3 4 5

1 5 5 4 5 5 4,8

2 5 4 5 5 5 4,8

Total Skor 10 9 9 10 10 9,6

Rata-Rata 5 4,5 4,5 5 5

Berdasarkan tabel 3.11, dapat diketahui bahwa penilaian dari dua

validator untuk setiap pernyataan mendapatkan skor 5, kecuali penilaian

dari validator 1 dan 2 yaitu kepala sekolah dan guru kelas IV. Beliau

memberikan skor 4 untuk pernyataan nomor 2 dan 3. Pernyataan nomor 2

adalah Kalimat yang digunakan sederhana dan tidak berlebihan , dan

62
pernyataan nomor 3 adalah Bahasa jelas, baku, dan sederhana . Rata-rata

skor untuk setiap pernyataan berkisar antara 4.5 sampai dengan 5, sehingga

peneliti memutuskan untuk tidak merevisi soal evaluasi karena rata-rata

skor yang diperoleh melebihi target yang ditetapkan peneliti yaitu 4.

Tabel 3. 8 Hasil Validasi Soal Evaluasi Siklus II


Validator Skor untuk Pernyataan Rata-Rata

1 2 3 4 5

1 5 4 4 5 5 4,6

2 5 4 5 5 5 4,8

Total Skor 10 8 10 10 10 9,4

Rata-Rata 5 4 4,5 5 5

Berdasarkan tabel 3.8, dapat diketahui bahwa penilaian dari dua

validator untuk setiap pernyataan mendapatkan skor 4 dan 5. Pada penilaian

dari validator 1 yaitu kepala sekolah. Beliau memberikan skor 4 untuk

pernyataan nomor 2 dan 3. Pernyataan nomor 2 adalah Kalimat yang

digunakan sederhana dan tidak berlebihan , dan pernyataan nomor 3 adalah

Bahasa jelas, baku, dan sederhana Sama seperti validator 1 penilaian

validator 2 juga mendapatkan skor 5 pada setiap pernyataan, kecuali pada

pernyataan nomor 2 yaitu mendapat skor 4. Rata-rata skor untuk setiap

pernyataan berkisar antara 4,5 sampai dengan 4,5, sehingga peneliti

memutuskan untuk tidak merevisi soal evaluasi karena rata-rata skor yang

diperoleh melebihi target yang ditetapkan peneliti yaitu 4.

63
Uji keterbacaan peneliti lakukan di SD N Babarsari, yang

dilaksanakan pada tanggal 4 November 2017. Tes keterbacaan digunakan

dengan tujuan untuk mengetahui kelayakan soal yang akan digunakan untuk

penelitian bagi siswa kelas IV. Hasil validasi tes keterbacaan siklus I dan II

dapat dilihat pada tabel 3.9 dan 3.10.

Tabel 3. 9 Hasil Validasi Tes Keterbacaan Siklus I

Validator Skor Pernyataan Rata-


Rata

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Putri 5 4 4 5 4 5 4 5 5 4 4,5

Rangga 4 4 4 4 5 5 4 4 5 5 4,4

Total Skor 9 8 8 9 9 10 8 9 10 9

Rata-rata 4,5 4 4 4,5 4,5 5 4 4,5 5 4,5

Berdasarkan tabel 3.9 dapat dilihat bahwa hasil uji validasi keterbacaan pada

siklus I setiap pernyataan rata-rata mendapat skor 4, 4,5, dan 5. Pada pernyataan

yang mendapat skor 4 adalah nomor 2,3,7. Pada pernyataan nomor 2 adalah

pernyataan mudah dipahami, kemudian pernyataan nomor 3 adalah jawaban

jelas, dan pernyataan nomor 7 adalah kalimat pada jawaban jelas. Kemudian

nomor pernyataan yang mendapat skor 4,5 adalah nomor 1,4,5,8,10 . Pada

pernyataan nomor 1 adalah petunjuk pengerjaan jelas, pernyataan nomor 4

adalah pertanyaan dan jawaban saling berhubungan, pernyataan nomor 5 adalah

isi materi sesuai dengan tingkat kelas, pernyataan nomor 8 adalah kalimat pada

64
pernyataan jelas dan pernyataan nomor 10 adalah gambar pada soal jelas. Skor

sempurna juga didapatkan oleh peneliti pada nomor 6 dan 9. Pada pernyataan

nomor 6 adalah hanya ada satu jawaban benar, dan pernyataan nomor 9 adalah

bahasa yang digunakan mudah dipahami. Berdasarkan hasil uji validasi

keterbacaan tersebut untuk setiap pernyataan maka peneliti memutuskan untuk

tidak merevisi soal evaluasi siklus I, karena skor yang diperoleh peneliti sesuai

dengan target bahkan melebihi target.

Tabel 3. 10 Hasil Validasi Tes Keterbacaan Siklus II

Validator Skor Pernyataan Rata-


rata

Yoshinda 4 4 5 4 5 4 4 4 5 4 4,3

Citra 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 4,1

Total Skor 8 9 9 9 9 9 8 9 9 9

Rata-Rata 4 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4 4,5 4,5 4,5

Berdasarkan tabel 3.10 peneliti mendapat skor rata-rata untuk setiap

pernyataan adalah 4,5 kecuali pada pernyataan nomro 1 dan 8. Pada item no 1

adalah petunjuk pengerjaan jelas, dan pernyataan nomor 8 adalah kalimat pada

pernyataan jelas. Berdasarkan hasil uji validasi keterbacaan tersebut untuk

setiap pernyataan maka peneliti memutuskan untuk tidak merevisi soal evaluasi

siklus II, karena skor yang diperoleh peneliti sesuai dengan target bahkan

melebihi target.

65
2. Uji Validitas Instrumen Soal

Instrumen soal yang akan digunakan dalam penelitian adalah 15 pilihan

ganda dan 5 essay. Selain melakukan uji validitas isi, peneliti juga melakukan uji

validitas konstruks. Peneliti melakukan uji validitas konstruks kepada 30 siswa

kelas 4 di SD N Babarsari, yaitu berbeda tempat dengan tempat peneliti tetapi

masih dalam satu kecamatan. Peneliti melakukan uji validitas konstruks di SD N

Babarsari karena masih satu kecamatan dengan SD N Deresan sehingga siswa

tersebut memiliki karaterisitik yang sama. Kisi- kisi soal evaluasi siklus I dapat

dilihat pada tabel 3.11 dan siklus II pada tabel 3.12 .

Tabel 3. 11 Kisi-kisi Soal Evaluasi untuk Uji Validitas Empiris siklus I

Bentuk Indikator Nomor Soal


soal Pilihan Essay
Ganda
Objektif Menemukan rumus luas persegi dalam 2 1,3
permainan sonlah
Menghitung luas persegi 4,5
Menyebutkan ciri-ciri persegi 3,1
Menyelesaikan masalah tentang luas persegi 6,7, 4
Menerima dengan rasa syukur hubungan simbol 5
dengan makna sila-sila Pancasila sebagai satu
kesatuan dalam kehidupan sehari-hari
Menjelaskan makna sila pertama Pancasila 9
Menerima hubungan simbol dengan makna sila- 10
sila Pancasila sebagai satu kesatuan dalam
kehidupan sehari-hari
Memberikan contoh pengamalan dari sila 8,11,12
pertama dalam kehidupan sehari-hari
Mengidentifikasi hal-hal yang diperhatikan saat 13,14,15
menggambar
Menggambar rumah atau bangunan impian. 2

66
Tabel 3. 12 Kisi-kisi Soal Evaluasi untuk Uji Validitas Empiris Siklus II

Bentuk Indikator Nomor Soal


soal Pilihan Essay
Ganda
Objektif Menemukan rumus keliling persegi menggunakan 1
melalui permainan gobak sodor
Menyebutkan ciri-ciri persegi 2,4
Menghitung keliling persegi 3 4,5
Menyelesaikan masalah tentang keliling persegi 5,6
Menerima dengan rasa syukur hubungan simbol 11,12
dengan makna sila-sila Pancasila sebagai satu
kesatuan dalam kehidupan sehari-hari
Menerima hubungan simbol dengan makna sila-sila 7,10,13
Pancasila sebagai satu kesatuan dalam kehidupan
sehari-hari
Memberikan pendapat tentang sikap yang sesuai 9
dan kurang sesuai dengan sila pertama berdasarkan
permainan gobak sodor
Menulis refleksi pengalaman diri melaksanakan 8 2
Sila Pertama Pancasila (jujur).
Memberikan pendapat tentang sikap tokoh dari 14,15 1
cerita yang dibaca
Mempresentasikan pendapat tentang sikap satu 3
tokoh dari cerita yang dibaca

Setelah selesai membuat soal dan kisi-kisi untuk penelitian siklus I dan siklus II

maka peneliti segera menguji validitas tersebut dengan menggunakan SPSS 16.0.

Kemudian dibawah ini merupakan hasil uji validitas soal evaluasi siklus I dan siklus

II.

67
a. Perhitungan Validasi SPSS Soal Evaluasi Pilihan Ganda Siklus I

Tabel 3. 13 Perhitungan Validasi Soal Evaluasi Pilihan Ganda Siklus I

No Item r hitung r table Keterangan

Item1 0,148 0,396 Tidak Valid

Item2 0,232 0,396 Tidak Valid

Item3 0,132 0,396 Tidak Valid

Item4 0,415 0,396 Valid

Item5 0,396 0,396 Valid

Item6 0,068 0,396 Tidak Valid

Item7 0,550 0,396 Valid

Item8 0,168 0,396 Tidak Valid

Item9 0,581 0,396 Valid

Item10 0,359 0,396 Tidak Valid

Item11 0,476 0,396 Valid

Item12 0,132 0,396 Tidak Valid

Item13 0,372 0,396 Valid

Item14 0,326 0,396 Tidak Valid

Item15 0,168 0,396 Tidak Valid

Berdasarkan tabel 3.14 di atas hasil perhitung validitas menunjukkan dari 15

soal terdapat 6 soal yang valid yaitu soal nomor 4, 5, 7, 9, 11 dan 13 soal dinyatakan

tidak valid yaitu nomor 1, 2, 6, 8, 12, 14, dan 15. Item dinyatakan valid jika nilai r

68
hitung lebih besar dari nilai r tabel . Sedangkan butir item yang dinyatakan tidak

valid jika nilai r hitung lebih kecil dari nilai r tabel.

b. Perhitungan Validasi Soal Evaluasi Essay Siklus 1

Tabel 3. 14 Perhitungan Validasi Soal Evaluasi Essay Siklus 1

No Item r hitung r table Keterangan

Item1 0,632 0,396 Valid

Item2 0,552 0,396 Valid

Item3 0,785 0,396 Valid

Item4 0,626 0,396 Valid

Item5 0.176 0,396 Tidak Valid

Berdasarkan table 3.14 di atas hasil perhitung validitas menunjukkan dari 5

soal essay terdapat 4 soal yang valid yaitu soal nomor 1,2,3, dan 4 soal dinyatakan

tidak valid yaitu nomor 1. Item dinyatakan valid jika nilai r hitung lebih besar dari

nilai r tabel . Sedangkan butir item yang dinyatakan tidak valid jika nilai r hitung

lebih kecil dari nilai r tabel.

Berdasarkan hasil perhitungan validasi SPSS pada tabel 3.12 dan 3.13 dapat

dilihat bahwa dari 15 soal pilihan ganda 6 soal valid dan 9 lainya tidak valid,

sedangkan pada 5 soal essay terdapat 4 soal dan 1 nomor yang tidak valid. Pada soal

pilihan ganda ada terdapat soal yang valid yaitu nomor 4,5,7,9,11, pada soal nomor

4,5,7 mencakup indikator menemukan rumus luas persegi dan menghitung luas

69
persegi dan pada nomor 9 dan 11 mencakup indikator menjelaskan makna sila

pertama dan pengalaman sila pertama. Pada soal essay terdapat 4 soal yang valid

yaitu nomor 1,2,3 dan 4. Pada soal nomor 1 mencakup indikator mengenai

menemukan luas persegi, pada soal nomor 2 mengenai mengidentifikasi hal-hal yang

diperhatikan saat menggambar dan menggambar rumah atau bangunan impian, pada

soal nomor 3 menyelesaikan masalah tentang luas persegi, dan nomor 4 mencakup

pada indikator memberikan contoh pengamalan dari sila pertama dalam kehidupan

sehari-hari

c. Perhitungan Validasi SPSS Soal Evaluasi Pilihan Ganda Siklus II

Tabel 3. 15 Perhitungan Validasi Soal Evaluasi Pilihan Ganda Siklus II

No Item r hitung r table Keterangan

Item1 0,102 0,396 Tidak Valid

Item2 0,331 0,396 Tidak Valid

Item3 0,432 0,396 Valid

Item4 0,277 0,396 Tidak Valid

Item5 0,507 0,396 Valid

Item6 0,482 0,396 Valid

Item7 0,603 0,396 Valid

Item8 0,374 0,396 Valid

Item9 0,296 0,396 Tidak Valid

Item10 0,048 0,396 Tidak Valid

70
Item11 0,516 0,396 Valid

Item12 0,220 0,396 Tidak Valid

Item13 0,220 0,396 Tidak Valid

Item14 0,219 0,396 Tidak Valid

Item15 0,183 0,396 Tidak Valid

Berdasarkan tabel 3.13 di atas hasil perhitung validitas menunjukkan dari 15 soal

terdapat 6 soal yang valid yaitu soal nomor 3,5,6,7,8 dan 11 soal dinyatakan tidak

valid yaitu nomor 1, 2, 4, 9, 10, 12, 13, 14, dan 15. Item dinyatakan valid jika nilai r

hitung lebih besar dari nilai r tabel . Sedangkan butir item yang dinyatakan tidak

valid jika nilai r hitung lebih kecil dari nilai r tabel.

d. Perhitungan Validasi Soal Evaluasi Essay Siklus II

Tabel 3. 16 Perhitungan Validasi Soal Evaluasi Essay Siklus II

No Item r hitung r tabel Keterangan

Item1 0,510 0,396 Valid

Item2 0,411 0,396 Valid

Item3 0,003 0,396 Tidak Valid

Item4 0,699 0,396 Valid

Item5 0,555 0,396 Valid

Berdasarkan table 3.14 di atas hasil perhitung validitas menunjukkan dari 5

soal essay terdapat 4 soal yang valid yaitu soal nomor 1,2,4, dan 5 soal dinyatakan

71
tidak valid yaitu nomor 1. Item dinyatakan valid jika nilai r hitung lebih besar dari

nilai r tabel . Sedangkan butir item yang dinyatakan tidak valid jika nilai r hitung

lebih kecil dari nilai r tabel.

Berdasarkan hasil perhitungan validasi SPSS pada tabel 3.14 dan 3.15 dapat

dilihat bahwa dari 15 soal pilihan ganda 6 soal valid dan 9 lainya tidak valid,

sedangkan pada 5 soal essay terdapat 4 soal dan 1 nomor yang tidak valid. Pada soal

pilihan ganda ada terdapat soal yang valid yaitu nomor 3,5,6,7,8 dan 11 pada soal

nomor 3 mencakup indikator menemukan rumus keliling persegi, pada soal nomor 5

dan 6 mencakup indikator tentang menyelesaikan masalah tentang keliling persegi,

pada soal nomor 7 mengenai simbol pancasila sila pertama, pada nomor 8 dan 11

Memberikan pendapat tentang sikap yang sesuai dan kurang sesuai dengan sila

pertama. Pada soal essay terdapat 4 soal yang valid yaitu nomor 1,2,4 dan 5. Pada

soal nomor 1 mencakup indikator mengenai memberikan pendapat tentang sikap

tokoh dari cerita yang dibaca, pada soal nomor 2 mengenai menulis refleksi

pengalaman diri melaksanakan Sila Pertama Pancasila (jujur), pada soal nomor 4 dan

5 mencakup indikator tentang menemukan luas persegi dan menghitung luas persegi.

Berdasarkan hasil perhitungan SPSS mengenai hasil validitas soal evaluasi siklus

I dan siklus II kebetulan sama yaitu bahwa dari 15 soal pilihan ganda ada 9 soal yang

tidak valid dan 6 soal valid. Kemudian dari 5 soal essay ada 1 soal tidak valid dan 4

lainnya valid. Cara peneliti mengetahui bahwa soal tersebut valid adalah dengan cara

melihat hasil pearson correlation pada table SPSS 16 tersebut. Jika pada nomer soal

72
hasil pearson correlation terdapat tanda asterix (*) yang disebut sebagai correlation

is significant at the 0.05 level (2-tailed) atau tanda asterix (**) yang disebut sebagai

correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed) berarti nomer tersebut valid.

Correlation is significant at the 0,5 level (2-tailed) berarti tingkat signifikannya

adalah 5% dan suatu soal dikatakan valid jika hasil Pearson Correlation lebih kecil

dari 0,05. Begitu pula dengan Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed)

yang berarti tingkat signifikannya adalah 1% dan suatu soal dikatakan valid jika hasil

Pearson Correlation lebih kecil dari 0.01. Selain itu, peneliti juga menentukan

kevalidan soal dengan membandingkan r tabel dengan r hitung. Adapun r tabel yang

dituntut untuk N=32 adalah 0,349 (Sugiyono, 2009). Pada penelitian ini peneliti

memiliki N=25 maka r tabel yang digunakan adalah 0,396 Ada pula cara yang

digunakan oleh peneliti untuk mengetahui kevalidan soal tersebut dengan melihat

hasil significant (2-tailed) lebih kecil dari 0,05 dan 0,01.

Setelah mengetahui 6 soal pilihan ganda 4 soal uraian yang valid, peneliti

menghitung reliabilitas soal tersebut dengan SPSS 16. Hasil reliabilitas 6 soal

pilihan ganda dan 4 soal uraian yang valid tersebut dapat dilihat pada tabel 3.17,

3.18, 3.19, dan 3.20.

3. Uji Reliabilitas

Setelah mengetahui 6 soal pilihan ganda 4 soal uraian yang valid, peneliti

menghitung reliabilitas soal tersebut dengan SPSS 16. Hasil reliabilitas 6 soal

73
pilihan ganda dan 4 soal uraian yang valid tersebut dapat dilihat pada tabel 9

dan tabel 10.

Reliabilitas merupakan alat yang digunakan sebagai acuan pada konsistensi

atau keterpercayaan hasil ukur (Azwar, 2013). Reliabilitas adalah indeks yang

menunjukan sejauh mana alat ukur dapat dipercaya atau diandalkan (Noor,

2011). Taraf reliabilitas suatu tes dapat dinyatakan dalam suatu koefisien

reliabilitas. Masidjo (2010: 243) menjelaskan koefeisien reliabilitas dapat

dinyatakan dalam suatu bilangan dari negative sampai 1,00. Koefisien

reliabilitas dapat dilihat pada table 3.18

Tabel 3. 17 Koefisien Korelasi Reliabilitas (Masidjo, 2010: 243)

Koefisien korelasi Kualifikasi

0,91 – 1,00 Sangat tinggi

0,71 – 0,90 Tinggi

0,41 – 0,70 Cukup

0,21 – 0,40 Rendah

Negative – 0,20 Sangat rendah

Tabel 3. 18 Hasil uji Reliabilitas Pilihan Ganda Siklus I

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

.627 6

74
Tabel 3. 19 Hasil uji Realibilitas essay siklus II

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

.613 4

Berdasarkan tabel 3.17 dan 3.18 dapat diketahui bahwa perhitungan

reliabilitas 6 soal pilihan ganda yang telah valid diperoleh hasil perhitungan

reliabilitasnya yaitu 0,627 untuk pilihan ganda dan 0,613 pada soal essay . Hasil

perhitungan reliabilitas 0,627 termasuk dalam kualifikasi reliabilitas “Cukup” karena

berada pada koefisien korelasi reliabilitas antara 0,41 - 0,70 . Berdasarkan kualifikasi

tersebut peneliti memutuskan untuk menggunakan 6 soal pilihan ganda 6 dan 4 soal

essay yang telah divalid dan reliabel.

Tabel 3. 20 Realibilitas Pilihan Ganda Siklus II

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items


.626 6

Tabel 3. 21 Realibilitas Essay Siklus II

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

.402 4

Berdasarkan tabel 3.19 dan 3.20 dapat diketahui bahwa perhitungan

reliabilitas 6 soal pilihan ganda yang telah valid diperoleh hasil perhitungan

75
reliabilitasnya yaitu 0,626 untuk pilihan ganda dan 0,402 pada soal essay . Hasil

perhitungan reliabilitas 0,627 termasuk dalam kualifikasi reliabilitas “Cukup” karena

berada pada koefisien korelasi reliabilitas antara 0,41 - 0,70. Tetapi pada hasil

perhitungan soal essay yaitu 0,402 dan termasuk dalam kualifikasi reliabilitas

“Rendah”. Berdasarkan kualifikasi tersebut peneliti memutuskan untuk menggunakan

6 soal pilihan ganda 6 dan 4 soal essay yang telah divalid dan reliabel. Peneliti tidak

mengubah soal essay karena pada soal evaluasi siklus II semua indikator telah

terpenuhi.

Setelah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Dalam uji validitas dan

reliabilitas soal evaluasi siklus I terdapat 6 soal pilihan ganda dan 4 essay yang valid

dan reliabel. Tidak jauh berbeda dengan siklus I, pada siklus II juga terdapat 6 soal

pilihan ganda dan 4 essay dan reliabel. Soal yang diujikan antara siklus I dan siklus II

jumlahnya sama hanya berbeda pada nomor soal yang valid dan reliabel. Kemudian

peneliti mencocokan dengan indikator yang telah dibuat oleh peneliti. Pada soal

evaluasi siklus I dan siklus II sudah mencakup semua indikator yang telah dibuat di

RPP. Sehingga peneliti tidak merevisi soal evaluasi pada siklus I dan Siklus II.

Berikut merupakan kisi-kisi soal evaluasi siklus I dan siklus II setelah validasi

76
Tabel 3. 22 Kisi-kisi Soal Evaluasi Siklus I

Mata Indikator Nomor Soal


Pelajaran Pilihan Essay
Ganda
Matematika 3.9.1 Menemukan rumus luas persegi 1,2,3 1
dalam permainan sonlah
4.9.1 Menyelesaikan masalah tentang 3
luas persegi
PPKn 3.1.1 Menjelaskan makna sila pertama 4
Pancasila
4.1.1 Memberikan contoh pengamalan 5 4
dari sila pertama dalam kehidupan
sehari-hari
Bahasa 3.5.1 Mengidentifikasi hal-hal yang 6
Indonesia diperhatikan saat menggambar
4.5.1 Menggambar rumah atau bangunan 2
impian.

Tabel 3. 23 Kisi-Kisi Soal Evaluasi Siklus 2

Mata Indikator Nomor Soal


Pelajaran Pilihan Essay
Ganda
Matematika 3.9.1 Menemukan rumus keliling persegi 1 3
menggunakan melalui permainan gobak
sodor
4.9.1 Menyelesaikan masalah tentang 2 4
keliling persegi

PPKn 3.1.1 Memberikan pendapat tentang sikap 5


yang sesuai dan kurang sesuai dengan sila
pertama berdasarkan permainan gobak
sodor
4.1.1 Menulis refleksi pengalaman diri 2
melaksanakan Sila Pertama Pancasila
(jujur).
Bahasa 3.5.1 Memberikan pendapat tentang sikap 1
Indonesia tokoh dari cerita yang dibaca
4.5.1 Mempresentasikan pendapat tentang 1
sikap satu tokoh dari cerita yang dibaca

77
3.8 Teknik Analisis Data

3.8.1.1 Analisis Hasil Belajar Siswa

Analisis data adalah proses penghimpunan atau pengumpulan,

pemodelan dan transformasi data dengan tujuan untuk menyoroti dan

memperoleh informasi yang bermanfaat, memberikan saran, kesimpulan

dan mendukung pembuatan keputusan (Widi, 2010). Analisis data

mempunyai banyak variasi pendekatan, teknik yang digunakan dan nama

atau sebutan bergantung pada tujuan dan bidang ilmu yang terkait. Dalam

penelitian ini, tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa

adalah menggunakan bentuk tes dengan bentuk soal objektif dalam pilihan

ganda dan essay. Analisis data dilakukan dengan cara membandingkan

kondisi awal siswa dengan kondisi pada siklus I dan kemudian

dibandingkan dengan langkah selanjutnya yaitu siklus II.

3.8.1.2 Analisis data kuantitatif

Data kuantitatif yang berupa nilai hasil belajar siswa, dianalisis dengan

menggunakan analisis statistik deskriptif. Analisis statistik deskriptif yang

digunakan adalah mencari skor rerata dan mencari presentase peningkatan

hasil belajar siswa dalam setiap siklus. Skor rerata dalam penelitian ini

adalah skor rata-rata kelas dari hasil soal evaluasi siklus 1 dan soal

evaluasi siklus 2. Cara menghitung rerata kelas adalah sebagai berikut:

78
M=

Keterangan :

M = Mean (Skor rata-rata kelas)

∑X = Jumlah skor seluruh siswa

N = Banyak siswa

Peningkatan hasil belajar adalah besarnya kenaikan hasil belajar siswa

dari sebelum tindakan kelas sampai setelah dilakukan tindakan kelas. adapun

presentase yang dihitung dalam penelitian ini adalah hasil Ulangan Tengah

Semester (UTS) siswa tahun lalu, evaluasi soal siklus 1 dan evaluasi soal

siklus 2. Nilai KKM pada pembelajaran tematik yang telah ditentukan oleh

SD N Deresan adalah 75.

Presentase siswa KKM = × 100%

Peneliti membandingkan hasil belajar siswa pada kondisi awal dengan

kondisi akhir menggunakan rata-rata siswa yang mencapai KKM. Hasil

belajar dikatakan berhasil jika memenuhi target yang telah ditentukan yaitu

sebesar 52% pada siklus 1 dan 80% pada siklus 2.

79
3.8.1.3 Analisis Rangkuman Data Kualitatif

Rangkuman data kualitatif diperoleh peneliti dari hasil wawancara dan

hasil observasi. Wawancara dilakukan terhadap guru kelas IV dan observasi

dilakukan ketika melakukan proses belajar mengajar. Berikut merupakan hasil

wawancara dan hasil observasi :

Tabel 3. 24 Hasil Wawancara

No. Pertanyaan Rangkuman Jawaban

1. Bagaimana proses pembelajaran Siswa terkadang masih sulit menerima


tematik pada Tema 4 (Berbagai materi pembelajaran yang diberikan
Pekerjaan), Subtema 1 (Jenis-jenis oleh guru dan sering ribut dengan
Pekerjaan) kelas IV di SD Negeri temannya.
Deresan?

2 Bagaimana kondisi kelas ketika Karena saya hanya menggunakan


pembelajaran sedang berlangsung? metode ceramah terkadang terlihat ada
. beberapa siswa yang suka mengobrol
dengan temannya

3. Apa kendala-kendala yang Bapak/Ibu Siswa masih sulit untuk menerima


alami dalam pelaksanaan materi pembelajaran dengan kurikulum
pembelajaran tematik pada Tema 4 tematik, apalagi jika dalam suatu tema
(Berbagai Pekerjaan), Subtema 1 tersebut terdapat mata pelajaran
(Jenis-jenis Pekerjaan) ? matematika

4. Bagaimana Bapak/Ibu mengatasi Berusaha menyampaiakan materi


kendala tersebut? dengan menggunakan alat peraga atau
media pembelajaran

5. Strategi pembelajaran yang seperti Menggunakan poin bintang, maka


apa yang Bapak/Ibu terapkan dalam siswa akan lebih bersemangat dalam
pembelajran sehari-hari ? mengikuti pembelajaran

6. Bagaimana nilai siswa dalam mata Masih banyak siswa yang belum
pelajaran tematik khususnya Tema 4 mencapai KKM (75)
(Berbagai Pekerjaan), Subtema 1
(Jenis-jenis Pekerjaan) ?

80
7. Apakah nilai seluruh siswa kelas IV Belum, rata-rata nilai pada Tema 4
pada mata pembelajaran tematik Subtema 1 masih banyak yang dibawah
khususnya pada Tema 4 (Berbagai KKM (75)
Pekerjaan), Subtema 1 (Jenis-jenis
Pekerjaan) sudah mencapai KKM?

8. Apakah hasil belajar siswa masih Iya, karena masih banyak siswa yang
tergolong rendah? Mengapa? belum mampu mencapai KKM

9. Bagaimana cara ibu mengatasi hasil Melakukan pendekatan secara khusus


belajar siswa yang rendah? dan memberikan bimbingan diluar jam
pelajaran sekolah, contohnya Les

Berdasarkan hasil wawancara diatas yang dilakukan oleh peneliti terhadap

guru kelas IV dapat disimpulkan bahwa ketika proses pembelajaran guru

menggunakan metode ceramah dan strategi pembelejaran langsung. Ketika guru

menjelaskan materi pelajaran siswa terkadang mengobrol dengan temannya atau ribut

dengan temannya. Hal tersebut menyebabkan hasil belajar siswa rendah. Nilai yang

diperoleh siswa cenderung masih banyak yang dibawah KKM, terutama pada Tema

4 Subtema 1. Untuk mengatasi hasil belajar siswa yang rendah guru berusaha

menyampaiakan materi dengan menggunakan alat peraga atau media pembelajaran

dan melakukan pendekatan secara khusus dan memberikan bimbingan diluar jam

pelajaran sekolah, contohnya Les. Selain itu untuk menambah semangat siswa guru

juga menggunakan poin bintang, maka siswa akan lebih bersemangat dalam

mengikuti pembelajaran

81
Tabel 3. 25 Hasil observasi

Keterangan
No Aspek Pengamatan
Ada Tidak
1 Guru memberi apersepsi dan motivasi V
2 Guru menguasai materi pembelajaraan V
3 Guru mengelola kelas dengan baik V
4 Guru menggunakan sebuah metode pembelajaran V
5 Guru menggunkan metode pembelajaran yang variatif V
6 Interaksi siswa dan guru dalam pembelajaran baik V
7 Siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran V
8 Siswa nampak ceria dan antusias dalam belajar V
9 Siswa terlihat menerima pembelajaran yang disampaikan guru V
dengan baik
10 Guru memberikan postes di akhir pembelajaran V

Berdasarkan hasil observasi diatas bahwa dalam melakukan kegiatan belajar

mengajar guru kurang sesuai dengan pedoman observasi yang dibuat oleh peneliti.

Ada beberapa yang tidak sesuai dengan pedoman observasi peneliti antara lain dalam

pembelajaran guru mengelola kelas dengan kurang baik, guru menggunakan metode

pembelajaran yang tidak bervariatif, interaksi siswa dan guru dalam pembelajaran

kurang baik dan siswa cenderung hanya mendengarkan saja, siswa kurang

berpartisipasi dalam pembelajaran, siswa nampak bosan dan enderung tidak antusias

dalam belajar, siswa terlihat menerima pembelajaran yang disampaikan guru dengan

kurang baik. Tetapi pembelajaran sudah cukup baik hal itu terlihat dengan guru

memberi apersepsi dan motivasi pada kegiatan awal pembelajaran, selain itu guru

juga menguasai materi yang diajarkan. Tidak hanya tu guru juga memberikan postes

di akhir pembelajaran

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi diatas bahwa guru kelas IV

menggunakan metode ceramah dan strategi pembelajaran langsung. Guru kelas IV

82
mengatakan ketika menggunakan metode ceramah dan strategi pembelajaran

langsung maka guru akan mudah dalam mengondisikan kelas. Dari data tersebut

dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode ceramah dan strategi pembelajaran

langsung kurang efektif terbukti dengan banyak siswa yang belum mencapai KKM.

Observasi aktivitas guru dan siswa dikelas bertujuan untuk memperoleh gambaran

dan situasi kondisi proses belajar di kelas, dan wawancara dengan guru bertujuan

untuk memperoleh data langsung dari guru. Hasil observasi dan wawancara

digunakan sebagai acuan oleh peneliti dalam memperbaiki pembelajaran yaitu dengan

cara menggunakan metode dan strategi yang yang lebih bervariatif.

83
BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 13 November 2017 dan 15

November 2017. Penelitian dilaksanakan 2 kali pertemuan. Data penelitian

diperoleh dari 2 siklus yang terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan,

tindakan, pengamatan, dan refleksi. Adapun hasil penelitian dapat peneliti uraikan

sebagai berikut:

1. Paparan kegiatan siklus 1

Siklus I dilaksanakan melalui empat tahap yaitu :

1. Perencanaan

Tahap perencanaan yang dilakukan oleh peneliti meliputi permintaan ijin

keepada kepala sekolah untuk melaksanakan penelitian di SD N Deresan.

Permintaan ijin tersebut dilakukan oleh peneliti pada bulan oktober 2017. Setelah

kepala sekolah memberikan ijin untuk melakukan penelitian, kemudian peneliti

menemui guru kelas IV untuk berdiskusi menentukan waktu untuk pengumpulan

data awal dengan melakukan wawancara, observasi, dan dokumentasi data nilai.

Pengumpulan data berlangsung mulai pada bulan September 2017.

Berdasarkan pengumpulan data awal melalui wawancara dengan guru kelas

IV bahwa peneliti menemukan masalah yang perlu diatasi dalam kegiatan PBM

84
mengenai hasil belajar siswa pada pembelajaran tematik dan metode

pembelajaran yang digunakan, selama ini guru hanya menggunakan metode

ceramah. Setelah berdiskusi dengan guru peneliti memutuskan untuk mengatasi

masalah tersebut dengan merubah metode pembelajaran dari metode ceramah dan

peneliti akan menggunakan strategi permainan tradisional.

Pada tahap ini peneliti melakukan diskusi dengan guru kelas IV mengenai

materi pembelajaran yang diajarkan yaitu pada Tema 4 (Berbagai Pekerjaan),

Subtema 1 (Jenis-Jenis Pekerjaan), Pembelajaran ke 2 yang meliputi mata

pelajaran PPKn, Matematika, dan SBdP. Setelah memahami materi pembelajaran

yang akan diajarkan, peneliti mempersiapkan Rencana Pelakanaan Pembelajaran

(RPP), Soal Evaluasi, dan segala sesuatu yang diperlukan untuk pembelajaran

dengan strategi permainan tradisional antara lain yaitu halaman yang luas,

pecahan genteng (kreweng), dan kapur.

Peneliti membuat RPP sesuai dengan format yang digunakan oleh SD N

Deresan. Sebelum membuat instrumen pembelajaran RPP peneliti menyesuaikan

terlebih dahulu permainan yang cocok untuk pembelajaran Tema 4 (Berbagai

Pekerjaan), Subtema 1 (Jenis-Jenis Pekerjaan), pembelajaran ke 2 yaitu

permainan sonlah. Selanjutnya peneliti membuat RPP sesuai dengan materi dan

metode yang akan digunakan untuk penelitian.

85
2. Tindakan

Pada tahap pelaksanaan siklus 1 peneliti melakukan pertemuan sebanyak satu

kali dan dilaksankan selama 4 x 35 menit atau 4JP. Berikut peneliti jabarkan

kegiatan pada siklus 1:

Tabel 4. 1 RPP Siklus I

Kegiatan Sintaks Deskripsi Kegiatan Alokasi


waktu

Kegiatan 1. Guru mengucapkan salam, 15


awal berdo’a, dan mengabsen siswa menit
2. Motivasi : Mengajak siswa untuk
melakukan tepuk semangat
3. Apersepsi :
- Berdoa merupakan
pengamalan pancasila sila
keberapa?
4. Orientasi : Guru menyampaikan
tujuan pembelajaran
dan langkah
pembelajaran
Kegiatan 1. Guru membagi 1) Guru mengajak siswa untuk 90
inti siswa menjadi dua bermain sonlah menit
kelompok besar
2) Guru menjelaskan peraturan
permainan sonlah dan
memperlihatkan arena permainan
sonlah (Mengamati)

3) Guru membagi siswa menjadi dua


kelompok besar
Siswa bermain sonlah dengan
pendampingan guru (Mencoba)

2.Guru menyajikan 4) Guru menyuruh siswa untuk


pelajaran membuka buku paket

86
3.Guru memberi 5) kelompok mengidentifikasi
tugas kepada materi apa saja yang didapat
kelompok untuk setelah bermain sonlah
dikerjakan oleh (Menalar)
anggota kelompok
6) Siswa dan guru bertanya jawab
mengenai materi pembelajaran
(Menanya)

Istirahat

4.Guru memberi 7) Guru dan siswa memaknai


pertanyaan kepada permainan yang telah dilakukan
seluruh siswa
8) Guru menanyakan hal-hal baik
apa saja yang telah kamu
peroleh dari permainan sonlah
(Menalar)
9) Guru menyuruh siswa untuk
menceritakan pengalaman
setelah bermain sonlah
(Mengkomunikasikan)

5.Guru memberi 10) Siswa kembali ketempat duduk


evaluasi masing-masing
11) Siswa diminta untuk
menggambarkan rumah
impiannya diselembar kertas
12) Siswa mengumpulkan hasil
pekerjaanya

Penutup 6.Guru mengkonfirmasi 1. Siswa dan guru merangkum


materi pembelajaran kegiatan pembelajaran dari awal
dan guru dengan meminta siswa
menyimpulkan materi menuliskan kesimpulan pada
yang telah dipelajari buku.
2. Siswa melakukan refleksi atas
pembelajaran hari ini dengan
bimbingan guru
3. Siswa mengerjakan post test.

87
4. Guru memberikan tindak lanjut
pada siswa untuk menuliskan
pengalaman yang terkait dengan
pengamalan pancasila sila ke1
5. Doa penutup, dan salam.

3. Observasi

Pada tahap ini peneliti melakukan observasi selama kegiatan PBM

berlangsung. Pada pertemuan siklus pertama siswa belajar Tema 4 (Berbagai

Pekerjaan), Subtema 1 (Jenis-Jenis Pekerjaan), Pembelajaran ke 2 yang meliputi

mata pelajaran PPKn, Matematika, dan SBdP. Pembelajaran pada siklus 1

menggunakan permainan sonlah. Dalam pembelajaran tersebut PPKn dengan

indikator menjelaskan makna sila pertama Pancasila, kemudian matematika

dengan indikator menemukan rumus luas persegi dalam permainan sonlah, dan

yang terakhir SBdP dengan indikator mengidentifikasi hal-hal yang diperhatikan

saat menggambar.

Aktivitas didalam kegiatan inti pembelajaran diawali dengan guru

membagikan bacaan tentang sejarah dan cara bermain sonlah. Berdasarkan

bacaan tersebut siswa mengamati bentuk yang digunakan untuk bermain sonlah,

kemudian siswa dan guru bertanya jawab mengenai bentuk dan cara menggambar

permainan sonlah. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa permainan sonlah

dapat belajar sesuai dengan indikator yaitu mengenai matematika yaitu bentuk

88
persegi dan kemudian ketika menggambar siswa belajar mengenai hal-hal yang

diperhatikan saat menggambar persegi.

Kegiatan observasi pada siklus pertama dilakukan untuk mengamati

pembelajaran guru dan siswa dikelas juga dilakukan pengamatan untuk mengisi

rubrik penilaian afektif dan penilaian psikomotorik yang bertujuan untuk

mendukung data yang diperoleh peneliti. Tetapi pada penenlitian ini tidak dibahas

secara rinci menegnai hasil belajar afektif dan psikomotor karena hanya berfokus

pada penilaian aspek pengetahuan . Dalam penilaian aspek afektif dan

psikomotrorik guru menilai siswa dengan rubrik yang telah dibuat peneliti dan

kemudian menilai berdasarkan aktivitas yang dilakukan siswa ketika menggambar

dan melakukan presentasi didepan kelas. Dalam penilaian aspek afektif dan

psikomotor guru dibantu dengan menggunakan catatan anekdot yang juga sebagai

arsip dalam penelitian. Jadi, dalam observasi peneliti sendiri yang digunakan

sebagai instrumen maka dari itu peneliti bebas melakukan pengamatan, mencatat

apa yang tertarik, melakukan analisis dan kemudian dibuat kesimpulan. Pada

penilaian aspek pengetahuan guru menilai siswa dengan menggunakan rubrik

yang telah dibuat oleh peneliti dan kemudian peneliti mengamati siswa ketika

bermain sonlah.

89
4. Refleksi

Pelaksanaan siklus I sudah sesuai dengan Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran yang dibuat oleh peneliti. Pertemuan siklus pertama

dilaksanakan pada tanggal 13 November 2017. Aktivitas pada pertemuan

siklus pertama yaitu belajar Tema 4 (Berbagai Pekerjaan), Subtema 1 (Jenis-

Jenis Pekerjaan), Pembelejaran ke 2 dengan menggunakan permainan sonlah.

Sebelum memulai pembelajaran siswa diberitahu mengenai aturan dalam

permainan sonlah. Setelah itu siswa dibagi menjadi 2 kelompok besar. Ketika

bermain sonlah peneliti mengalami beberapa kendala antara lain yaitu siswa

susah diatur karena belajar diluar ruangan dan keluar arena permainan.

Namun hal tersebut dapat diatasi dengan dibantu oleh guru kelas IV B yaitu

Bu Rina.

5. Hasil Penelitian Siklus 1

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan menggunakan strategi

permainan tradisional. Adapun hasil penelitian yang diperoleh peneliti adalah

hasil belajar siswa.

Tabel 4. 2 Hasil Belajar Siswa Siklus 1

No Nama KKM Nilai Akhir Keterangan


Siklus 1

1 A 75 30 Tidak Mencapai KKM

2 B 75 70 Tidak Mencapai KKM

3 C 75 90 Mencapai KKM

90
4 D 75 65 Tidak Mencapai KKM

5 E 75 70 Tidak Mencapai KKM

6 F 75 80 Mencapai KKM

7 G 75 85 Mencapai KKM

8 H 75 80 Mencapai KKM

9 I 75 70 Tidak Mencapai KKM

10 J 75 65 Tidak Mencapai KKM

11 K 75 75 Mencapai KKM

12 L 75 75 Tidak Mencapai KKM

13 M 75 80 Mencapai KKM

14 N 75 95 Mencapai KKM

15 O 75 80 Mencapai KKM

16 P 75 75 Mencapai KKM

17 Q 75 75 Mencapai KKM

18 R 75 80 Mencapai KKM

19 S 75 85 Mencapai KKM

20 T 75 85 Mencapai KKM

21 U 75 65 Tidak Mencapai KKM

22 V 75 85 Mencapai KKM

23 W 75 60 Tidak Mencapai KKM

24 X 75 90 Mencapai KKM

25 Y 75 75 Mencapai KKM

Jumlah Skor 1.839

Rata-rata Nilai 76

Nilai Tertinggi 95

Nilai Terendah 30

Jumlah siswa yang mencapai KKM 16 siswa

91
Berdasarkan table 4.1 dapat diketahui bahwa 16 siswa telah mencapai

KKM dan lainnya yaitu 9 siswa masih dibawah KKM. Dalam siklus I

indikator keberhasilan yang ditetapkan oleh peneliti adalah 60% dan pada

kenyataanya peningkatan pada siklus I hanya sebesar 64% artinya bahwa

hanya selisih 4% dari indikator keberhasilan yang ditetapkan oleh peneliti.

Hal tersebut dikarenakan ada beberapa hal yang masih kurang maksimal pada

penelitian siklus I, antara lain yaitu siswa kurang bersemangat karena

permainan sonlah menurut mereka susah dan merupakan permainan baru bagi

mereka.

Selain membuat siswa kurang semangat ternyata hal tersebut juga

menyebabkan siswa bosan, tidak konsentrasi dan berlari-larian. Pada

penelitian siklus I diperburuk dengan guru tidak membuat batas arena

permainan, sehingga membuat siswa yang bosan kemudian berlari-larian

dihalaman sekolah yang tidak jauh dari tempat bermain sonlah. Karena hal

tersebut maka pencapaian nilai pada siklus I kurang maksimal sehingga

peneliti akan melanjutkan pada siklus II.

92
2. Paparan kegiatan siklus II

Siklus II dilaksanakan melalui empat tahap yaitu :

1. Perencanaan

Tidak jauh berbeda dengan perencanaan pada siklus I. Pada tahap

perencanaan yaitu peneliti meminta izin keepada kepala sekolah untuk

melaksanakan penelitian di SD N Deresan. Permintaan ijin tersebut dilakukan

oleh peneliti pada bulan oktober 2017. Setelah kepala sekolah memberikan

ijin untuk melakukan penelitian, kemudian peneliti menemui lagi guru kelas

IV untuk meminta izin melanjutkan materi yang telah diberikan ketika siklus

I. Peneliti dan guru sudah sepakat waktu peneliti melakukan penelitian siklus

I, jadi peneliti hanya tinggal melakukan penelitian dan mengkonfirmasi lagi

kepada guru kelas bahwa penelitian siklus II dilaksanakan pada tanggal 14

November 2017.

Pada tahap siklus II ini peneliti melakukan diskusi dengan guru kelas

IV mengenai materi pembelajaran selanjutnya yang diajarkan yaitu pada

Tema 4 (Berbagai Pekerjaan), Subtema 1 (Jenis-Jenis Pekerjaan),

Pembelajaran ke 4 yang meliputi mata pelajaran PPKn, Matematika, dan

Nahasa Indonesia. Setelah memahami materi pembelajaran yang akan

diajarkan, peneliti mempersiapkan Rencana Pelakanaan Pembelajaran (RPP),

Soal Evaluasi, dan segala sesuatu yang diperlukan untuk pembelajaran dengan

93
strategi permainan tradisional antara lain yaitu halaman yang luas, pecahan

genteng (kreweng), dan kapur.

Peneliti membuat RPP sesuai dengan format yang digunakan oleh SD

N Deresan. Sebelum membuat instrumen pembelajaran RPP peneliti

menyesuaikan terlebih dahulu permainan yang cocok untuk pembelajaran

Tema 4 (Berbagai Pekerjaan), Subtema 1 (Jenis-Jenis Pekerjaan),

Pembelajaran ke 4 yaitu permainan Gobak sodor. Selanjutnya peneliti

membuat RPP sesuai dengan materi dan metode yang akan digunakan untuk

penelitian.

2. Tindakan

Pada tahap pelaksanaan siklus II peneliti melakukan pertemuan

sebanyak satu kali dan dilaksankan selama 4 x 35 menit atau 4JP. Berikut

peneliti jabarkan kegiatan pada siklus II :

Tabel 4. 3 RPP Siklus II

Kegiatan Sintaks Deskripsi Kegiatan Alokasi


waktu

Kegiatan 3. Guru mengucapkan salam, berdo’a, dan 15


Awal mengabsen siswa menit
4. Motivasi : Mengajak siswa untuk
melakukan tepuk semangat
5. Apersepsi :
a. Berdoa merupakan pengamalan
pancasila sila keberapa?
4. Orientasi : Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran dan langkah

94
pembelajaran

Kagiatan 1.Guru 1) Guru mengajak siswa untuk bermain gobag 90


inti membagi siswa sodor menit
menjadi dua
kelompok 2) Guru menjelaskan peraturan permainan
besar gobag sodor dan memperlihatkan arena
bermain gobag sodor (Mengamati)

3) Guru membagi siswa menjadi 2 kelompok


besar
Siswa bermain gobag sodor dengan
pendampingan guru (Mencoba)

2.Guru 4) Guru menyuruh siswa untuk membuka buku


menyajikan paket
pelajaran

3.Guru 5) Kelompok mengidentifikasi materi apa saja


memberi tugas yang didapat setelah bermain sonlah
kepada (Menalar)
kelompok
untuk 6) Siswa dan guru bertanya jawab mengenai
dikerjakan oleh materi pembelajaran (Menanya)
anggota
kelompok

Istirahat

4.Guru 7) Guru dan siswa memaknai permainan yang


memberi telah dilakukan
pertanyaan
kepada seluruh 8) Guru menanyakan hal-hal apa saja yang
siswa telah kamu peroleh dari permainan gobag
sodor (Menalar)
9) Guru menyuruh siswa untuk menceritakan
pengalaman setelah bermain gobag sodor
(Mengkomunikasikan)

95
5.Guru 10) Siswa kembali ketempat duduk masing-
memberi masing
evaluasi
11) Siswa mengidentifikasi tokoh dalam suatu
cerita yang dibacakan oleh guru
Siswa mengumpulkan hasil pekerjaanya
Penutup 12) Siswa dan guru merangkum kegiatan
pembelajaran dari awal dengan meminta
siswa menuliskan kesimpulan pada buku.
13) Siswa melakukan refleksi atas pembelajaran
hari ini dengan bimbingan guru
14) Siswa mengerjakan post test.
15) Guru memberikan tindak lanjut pada siswa
untuk mencatat pengalaman yang
mencerminkan pengamalan pancasila
16) Doa penutup, dan salam.

3. Observasi

Pada tahap ini peneliti melakukan observasi selama kegiatan PBM

berlangsung. Pada pertemuan siklus ke 2 siswa belajar Tema 4 (Berbagai

Pekerjaan), Subtema 1 (Jenis-Jenis Pekerjaan), Pembelajaran ke 4 yang meliputi

mata pelajaran PPKn, Matematika, dan Bahasa Indonesia. Pembelajaran pada

siklus II menggunakan permainan gobak sodor. Dalam pembelajaran tersebut

PPKn dengan indicator Memberikan pendapat tentang sikap yang sesuai dan

kurang sesuai dengan sila pertama berdasarkan permainan gobak sodor, kemudian

matematika dengan indikator menemukan rumus keliling persegi dalam

permainan gobak sodor, dan yang terakhir Bahasa Indonesia dengan indicator

memberikan pendapat tentang sikap tokoh dari cerita yang dibaca.

96
Aktivitas di dalam kegiatan inti pembelajaran diawali dengan guru

membagikan bacaan tentang sejarah gobag sodor dan cerita rakyat tentang anak

yang mengajari temannya bermain gobak sodor. Dari bacaan tersebut siswa

menyimpulkan sifat atau watak tokoh dalam cerita tersebut dan itu termasuk

dalam indikator bahasa Indonesia yaitu memberikan pendapat tentang sikap tokoh

dari cerita yang dibaca. Kemudian dalam mata pelajaran matematika siswa

mengamati bentuk yang digunakan untuk bermain gobak sodor, kemudian

bertanya jawab mengenai bentuk bangunan dalam gobag sodor dan mencari tahu

bagaimana cara menemukan rumus keliling gobag sodor terebut. Dan yang

terakhir adalah PPKn yaitu dari permainan siswa dapat membedakan yang

termasuk dalam pengamalan sila ke1 dan yang bukan, hal tersebut sesuai dengan

indicator PPKn yaitu memberikan pendapat tentang sikap yang sesuai dan kurang

sesuai dengan sila pertama berdasarkan permainan gobag sodor

Kegiatan observasi pada siklus pertama dilakukan untuk mengamati

pembelajaran guru dan siswa dikelas juga dilakukan pengamatan untuk mengisi

rubrik penilaian afektif dan penilaian psikomotorik yang bertujuan untuk

mendukung data yang diperoleh peneliti. Sama seperti pada pelaksanaan siklus I

dalam penilaian aspek afektif dan psikomotor peneliti dibantu dengan catatan

anekdot. Hal ini dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang

akan diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan

instrument yang telah baku, tetapi hanya menggunakan rambu-rambu penelitian

97
(Sugiyono, 2011: 146). Pada penilaian aspek pengetahuan peneliti menilai siswa

dengan menggunakan rubrik yang telah dibuat oleh peneliti melalui tes tertulis.

Pada penilaian aspek afektif peneliti menilai dengan cara mengamati siswa ketika

bermain gobak sodor. Dalam penilaian aspek psikomotrorik guru menilai siswa

dengan rubrik yang telah dibuat peneliti dan kemudian menilai berdasarkan

aktivitas yang dilakukan siswa ketika menggambar dan melakukan presentasi

didepan kelas.

4. Refleksi

Pelaksanaan siklus II sudah sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

yang dibuat oleh peneliti. Pertemuan siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 14

November 2017. Aktivitas pada pertemuan siklus kedua yaitu belajar Tema 4

(Berbagai Pekerjaan), Subtema 1 (Jenis-Jenis Pekerjaan), Pembelejaran ke 4

dengan menggunakan permainan gobak sodor. Sebelum memulai pembelajaran

siswa diberitahu mengenai aturan dalam permainan gobag sodor dan batas area

permainan. Setelah itu siswa dibagi menjadi 2 kelompok besar. Ketika bermain

gobag sodor pada siklus II peneliti tidak mengalami kendala yang berarti, hanya

ada beberapa siswa yang masih susah diatur. Namun hal tersebut dapat diatasi

dengan dibantu oleh guru kelas IV B yaitu Bu Rina

98
5. Hasil Penelitian siklus 2

Tabel 4. 4 Hasil Belajar Siklus 2

No Nama KKM Nilai Akhir Keterangan


siklus 2

1 A 75 80 Mencapai KKM

2 B 75 80 Mencapai KKM

3 C 75 100 Mencapai KKM

4 D 75 90 Mencapai KKM

5 E 75 100 Mencapai KKM

6 F 75 75 Mencapai KKM

7 G 75 90 Mencapai KKM

8 H 75 85 Mencapai KKM

9 I 75 75 Mencapai KKM

10 J 75 65 Tidak Mencapai KKM

11 K 75 100 Mencapai KKM

12 L 75 90 Mencapai KKM

13 M 75 60 Tidak Mencapai KKM

14 N 75 90 Mencapai KKM

15 O 75 100 Mencapai KKM

16 P 75 75 Mencapai KKM

17 Q 75 90 Mencapai KKM

18 R 75 85 Mencapai KKM

19 S 75 95 Mencapai KKM

20 T 75 90 Mencapai KKM

21 U 75 75 Mencapai KKM

22 V 75 90 Mencapai KKM

99
23 W 75 60 Tidak Mencapai KKM

24 X 75 100 Mencapai KKM

25 Y 75 80 Mencapai KKM

Jumlah Skor 2.125

Rata-rata Nilai 85

Nilai Tertinggi 100

Nilai Terendah 65

Jumlah siswa yang mencapai KKM 22 Siswa

Berdasarkan table 4.2 maka dapat diketahui bahwa dari 25 siswa,

presentase nilai ketuntasannya dalah 88%. Artinya dari 25 siswa terdapat 22

siswa yang telah mencapai KKM dan 3 siswa belum mencapai KKM.

Peningkatan presentase ketuntasan siswa sebesar 24% dilihat dari nilai akhir

pada siklus I, sedangkan jumlah siswa yang mencapai KKM ada 6 siswa.

Gambar 4. 1 Grafik Peningkatan Hasil belajar Siswa

100
Berdasarkan Grafik Hasil Peningkatan Hasil Belajar Siswa, terdapat

22 siswa atau 88% yang telah mencapai KKM. Hal ini jika dibandingkan

dengan target capaian hasil belajar siswa pada Tabel 3.2 Indikator

Keberhasilan yang telah ditentukan adalah 20 siswa atau 80% dari jumlah

seluruh siswa. Hal tersebut membuktikan bahwa penelitian yang dilakukan

dengan menggunakan strategi permainan tradisional dapat meningkatkan hasil

belajar siswa.

Pada penelitian siklus II siswa sangat bersemangat hal tersebut

dikarenakan permainan yang digunakan adalah salah satu favorit permainan

siswa-siswi kelas IV yaitu permainan gobak sodor. Hal tersebut juga

berdampak pada permainan yang berlangsung menjadi mudah dikondisikan

dan membuat siswa tidak mudah bosan. Selain karena gobag sodor permainan

favorit siswa-siswi kelas IVB, peneliti juga sudah membuat batas arena

permainan. Sehingga siswa tidak bisa bebas pergi kemanapun (kecuali area

permainan gobak sodor) dan lebih mudah dikondisikan. Sehingga membuat

hasil belajar siswa meningkat dari 64% pada siklus I menjadi 88% pada siklus

II. Hasil tersebut sudah mencapai target bahkan hasilnya melebihi target

capaian yang telah ditentukan oleh peneliti.

101
4.2 Pembahasan

Pelaksanaan penelitian Pelaksanaan penelitian yang dilakukan oleh

peneliti telah berjalan sesuai dengan RPP yang telah direncanakan oleh

peneliti dalam instrumen pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini adalah

meningkatkan hasil belajar siswa pada tema 4 (Berbagai Pekerjaan),

subtema 1 (jenis-jenis pekerjaan). Adapun tabel indikator pencapaian

penelitian yang telah disusun oleh peneliti dari kondisi awal, target

capaian dan kondisi akhir setelah pelaksanaan dapat dilihat pada tabel

4.5.

Tabel 4. 5 Indikator Pencapaian

Target Akhir Siklus Kondisi AKhir


Kondisi
No Indikator
Awal Siklus 1 Siklus 2 Siklus 1 Siklus 2

1 Rata-rata kelas 64,66 75 80 76 85

Presentase jumlah 64% 88%


2 40% 60% 80%
siswa yang tuntas

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat diketahui bahwa pelaksanaan penelitian dengan

menggunakan strategi permainan tradisional dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Hal tersebut dapat dilihat pada table 4.5. Indikator pencapaian dari siklus I ke siklus

II sudah mencapai target bahkan melampaui target capaian yang telah peneliti dan

guru tetapkan. Hal ini berarti bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran dengan

102
menggunakan permainan tradisional dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Perbandingan nilai siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel 4.6.

Tabel 4. 6 Perbandingan Nilai Siklus I dan Siklus II

No Nama Nilai Akhir Nilai Akhir Keterangan


Siklus 1 siklus 2

1 A 30 80 Meningkat

2 B 70 80 Meningkat

3 C 90 100 Meningkat

4 D 65 90 Meningkat

5 E 70 100 Meningkat

6 F 80 75 Menurun

7 G 85 90 Meningkat

8 H 80 85 Meningkat

9 I 70 75 Meningkat

10 J 65 65 Tetap

11 K 75 100 Meningkat

12 L 75 90 Meningkat

13 M 80 60 Menurun

14 N 95 90 Menurun

15 O 80 100 Meningkat

16 P 75 75 Tetap

17 Q 75 90 Meningkat

18 R 80 85 Meningkat

19 S 85 95 Meningkat

20 T 85 90 Meningkat

21 U 65 75 Meningkat

103
22 V 85 90 Meningkat

23 W 60 60 Tetap

24 X 90 100 Meningkat

25 Y 75 80 Meningkat

Setiap sekolah pasti memiliki KKM (Kritria Ktuntasan Minimal) .

KKM yang ditetapkan disetiap SD berbeda-beda. Di SD Deresan KKM yang

ditetapkan untuk semua mata pelajaran adalah 75. Pelaksanaan tindakan pada

siklus I dan siklus II dengan menerapkan strategi permainan tradisional dalam

pembelajaran di kelas IV SD N Deresan pada Tema 4 (Berbagai Pekerjaan),

Subtema 1 (Jenis-jenis Pekerjaan) telah mampu meningkatkan kualitas hasil

pembelajaran yaitu hasil belajar siswa terbukti dengan meningkatnya siswa

yang mencapai KKM. Berdasarkan lampiran 11 dapat dilihat bahwa pada

kondisi awal nilai tertinggi adalah 80 dan nilai terendah adalah 30, rata-rata

pada kondisi awal adalah 64,66. Siswa yang mencapai KKM pada kondisi

awal adalah 7 siswa dan 18 lainnya belum mencapai KKM. Hal itu berarti

bahwa presentase siswa yang mencapai KKM di kondisi awal adalah 40%.

Setelah pelaksanaan tindakan pada siklus I terdapat peningkatan dari

kondisi awal 40% menjadi 64% sehingga terdapat peningkatan sebesar 24%

dari kondisi awal, padahal target capaian yang ditetapkan adalah 20%. Hasil

belajar siswa pada siklus I dapat dilihat pada lampiran 6, berdasarkan

lampiran 6 dapat dilihat bahwa pada siklus I nilai tertinggi adalah 100 dan

104
nilai terendah adalah 60, rata-rata siklus I adalah 76. Siswa yang mencapai

KKM pada siklus I adalah 16 siswa dan 9 lainnya masih dibawah KKM, itu

berarti bahwa presentase siswa yang mencapai KKM pada siklus I adalah

64%.

Dalam sebuah pendidikan pasti ada penilaian siswa. Penilaian siswa

dilakukan guna mengukur sejauh mana siswa memahami sebuah materi.

Dalam penilaian siklus I dan siklus I yang dilakukan oleh peneliti terjadi

peningkatan nilai rata-rata. Pada nilai individu setiap siswa ada yang

mengalami peningkatan, penurunan, dan ada juga yang stagnan atau tetap.

Berdasarkan tabel 4.6 dapat dilihat bahwa memang rata-rata keseluruhan dari

siklus I ke siklus II mengalami peningkatan. Tetapi jika dilihat secara individu

maka ada siswa nilainya meningkat dan ada juga beberapa siswa yang

mendapat nilai tetap dan bahkan ada yang nilainya menurun. Siswa yang

nilainya meningkat antara lain adalah siswa yang berinisial A, B, C, D, E, J,

H, I, K, O, Q, R,S, T, U, V, X, Y, dari beberapa siswa tersebut ada yang

nilainya meningkat tajam salah satunya yaitu siswa A. Dalam pembelajaran

siklus I mendapat nilai 30 dan didukung pemangatan yang dilakukan oleh

peneliti memang saat pembelajaran siklus I siswa A kurang semangat dan

saya tanya ternyata karena dia tidak suka bermain sonlah karena menurutnya

permainannya susah, jadi dia juga tidak begitu paham tentang materi yang

diajarkan. Pada pembelajaran siklus II nilai siswa A menjadi 80 karena pada

105
pembelajaran siklus II siswa A sangat antusias dan sangat bersemangat karena

gobag sodor merupakan slah satu permainan kesukaan siswa A, sehingga

siswa A dapat memahami materi yang diajarkan.

Seperti yang dijelaskan pada tabel 4.6 bahwa ada nilai yang

meningkat, ada juga yang mendapat nilai stagnan atau tetap antara lain yaitu

siswa J dan siswa L. Dalam pembelajaran siklus I dan siklus II siswa J

mendapat nilai 65, sedangkan lmendapat nilai 75. Pada saat pembelajaran

siklus I dan siklus II mereka sangat bersemangat, dan setelah saya bertanya

dengan wali kelas IV yaitu Bu Rina ternyata siswa J adalah salah satu siswa

slow learner, sedangkan siswa L dia termasuk dalam kategori siswa yang

cukup pintar.

Pada siswa yang mengalami penurunan nilai antara lain siswa F, siswa

N, dan siswa O. Siswa yang mengalami penurunan merupakan siswa yang

cukup pintar. Ketika saya bertanya Bu Rina bahwa siswa F dan siswa N

merupakan salah satu siswa slow learner, sedangkan siswa O merupakan

siswa yang termasuk dalam kategori pintar, hanya saja karena dia tinggal di

pondok pesantren jadi kadang-kadang ketika pembelajaran dia tertidur.

Kepintaran siswa O juga sudah diakui oleh sekolah terbukti dengan beberapa

kali siswa O dipercaya mewakili sekolah untuk mengikuti lomba menghafal

Al Qur’an tingkat Kabupaten Sleman. Pada saat pembelajaran siklus II

Tsabita terlihat sangat lesu dan setelah pembelajaran diluar selesai kemudian

106
semua siswa memasuki kelas dan ketika saya masuk kelas siswa O tertidur,

hal tersebut tidak jauh berbeda seperti yang diungkapkan oleh Bu Rina selaku

wali kelas IVB.

Pada siklus II terjadi peningkatan sebesar 24%. Hal tersebut sama

dengan peningkatan dari kondisi awal ke siklus I. Pada peningkatan hasil

belajar tersebut dapat dilihat pada setiap masing-masing siklus. Pada kondisi

awal terjadi peningkatan dari 40% menjadi 64% dengan rata-rata dari 64,66

menjadi 76, dan pada siklus I terjadi peningkatan dari 64% menjadi 88%

dengan rata-rata 76 menjadi 88. Berdasarkan uraian diatas dapat dilihat bahwa

peningkatan pada siklus I dan siklus II terjadi sama besar yaitu sebesar 24%.

Berdasarkan uraian diatas itu merupakan peningkatan hasil belajar

siswa pada aspek pengetahuan . Selain itu peneliti juga melakukan observasi

tidak terstruktur ketika melakukan penelitian. Peneliti mengamati siswa dan

kemudian mencatatnya. Ada beberapa catatan yang ditulis penelitian pada

siklus I dan siklus II, antara lain yaitu 1) ada beberapa siswa yang hampir saja

bertengkar karena tidak terima kelompoknya kalah, 2) siswa cenderung

berkompetisi untuk menang, 3) peneliti kurang rinci dalam menjelaskan

aturan permainan hal itu menyebabkan siswa sulit dikondisikan dan menyebar

kemana-mana, 4) siswa lebih aktif dan cenderung sering bertanya mengenai

hal yang mereka lihat atau pertama kali mereka alami, 5) siswa terlihat lebih

senang belajar diluar kelas, 6) guru membuat batas arena permainan agar

107
siswa tidak pergi-pergi terlalu jauh, 7) dari penggunaan metode permainan

siswa belajar menghargai dan bekerja sama, 8) ketika kalah/ gagal dalam

permainan siswa cenderung mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak pantas

diucapkan. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam metode

permainna tradisional ada kekurangan dan kelebihannya.

Kekurangan strategi permainan tradisional antara lain yaitu siswa sulit

dikondisikan dan pada saat proses permainan berlangsung, munculnya kata-

kata yang yang cenderung kasar. Kelebihan strategi permainan tradisional

siswa lebih aktif dalam pembelajaran, melatih sikap menghargai dan bekerja

sama, siswa mendapat pengalaman nyata, menggunakan strategi permainan

tradisional juga membuat siswa menjadi lebih bersemangat ketika

pembelajaran. Hal tersebut ssejalan dengan yang diungkapkan oleh Kurniati

(2016: 23) bahwa strategi permainan tradisional memiliki kekurangan dan

kelebihan. Salah satu yang sesuai dengan teori tersebut adalah pada saat

proses permainan berlangsung, munculnya berbagai bahasa yang dikeluarkan

oleh anak dan bahasa yang diucapkan cenderung kasar.

Pada saat penelitian berlangsung ada beberapa kejadian yang menarik

perhatian peneliti, yaitu 1) ketika bermain berlangsung siswa cenderung

berkompetisi dan berambisi untuk menang, artinya bahwa permainan

tradisional menimbulkan kompetisi dan 2) pada saat bermain siswa gagal atau

kalah kemudian mengucapkan kata yang cenderung kasar contohnya yaitu

108
bajigur, kampret, bajilak, dan sebagainya, artinya bahwa permainan

tradisional merangsang sikap reaktif. Kejadian tersebut peneliti alami ketika

melakukan penelitian siklus I dan siklus II. Ada beberapa siswa yang hendak

bertengkar karena tidak terima dengan kekalahannya. Siswa tersebut ialah

siswa W, siswa R, siswa X, dan L. Karena kalah maka siswa tersebut marah

dan mengeluarkan kata-kata kasar. Hal tersebut terlihat ketika siswa gagal

atau kalah dalam permainan siswa melampiaskan kekecewaannya tersebut

dengan mengucapkan kata-kata yang cenderung kasar.

Pada suatu permainan wajar jika masing-masing siswa pasti

menginginkan untuk menang. Hal tersebut senada dengan yang dikatakan oleh

(Kurniati, 2016: 18) bahwa munculnya sikap-sikap selalu ingin menang

sendiri, menolak terlibat dalam suatu kelompok yang tidak diinginkan,

bersikeras terhadap pendapa-pendapatnya sendiri, mencela teman yang

mengalami kegagalan, atau merasa bosan dalam suatu aktivitas permainan

merupakan suatu proses belajar bagi anak untuk bisa belajar menerima

lingkungan yang mungkin tidak sesuai dengan keinginannya. Tetapi

kenyataannya bahwa dalam permainan itu ada yang kalah dan ada yang

menang. Dari sikap ini dalam konteks kelompok anak akan belajar bagaimana

menghargai keinginan orang lain, menyadari bahwa tidak semua keinginannya

dapat terpenuhi, menyadari bahwa selain dirinya mereka juga harus

memperhatikan orang lain serta pada akhirnya mampu mengembangkan

109
keterampilan-keterampilan sosial yang mampu membantu mereka dalam

menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.

Hal ini yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa dari permainan

yang mereka lakukan anak-anak dapat belajar dengan pengalaman yang

mereka dapatkan sehingga memberikan pelajaran yang bermakna yang

berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa, selain itu anak-anak juga

belajar menyelesaikan konflik-konflik yang muncul pada saat permainan

berlangsung, contohnya seperti yang dijelaskan diatas pada permainan sonlah

dan gobag sodor dibutuhkan kerja sama antar masing-masing siswa maka

dengan begitu siswa harus memikirkan bagaimana agar dalam permainan

tersebut bisa bermain secara kompak dan memenangkan permainan. Hal ini

mengandung arti bahwa secara tidak langsung mereka belajar memanajemen

konflik. Seperti yang disebutkan oleh Vygotsky (Hoorn,1993) (dalam

Kurniati, 2016: 18) bahwa konflik dan problem solving merupakan ciri-ciri

dalam perkembangan.

Peranan guru disini sangat penting bahwa tugas guru tidak cukup

hanya menjelaskan materi saja, tetapi juga sebagai pendamping dan menjadi

panutan bagi siswa. Menurut UU No. 14 Tahun 2005 (dalam Suyadi, 2011:

137) Guru merupakan seorang pendidik yang professional dengan tugas

utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai

110
dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini melalui jalur formal

pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Sebagaimana seperti yang dijelaskan diatas bahwa tugas seorang guru

adalan mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai,

danm mengevaluasi. Seperti kata ungkapan dalam bahasa jawa bahwa Guru

merupakan kepanjangan dari diGUgu lan ditiRU, artinya bahwa perbuatan

guru wajib didengarkan dan diikuti oleh peserta didiknya. Karena peneliti

disini adalah seorang guru, maka ketika ada murid yang hendak bertengkar

dan mengucapkan kata-kata kasar, kemudian peneliti menegur dan

menjelaskan bahwa dalam permainan ini penilaian tidak hanya pada aspek

pengetahuan atau berpacu pada nilai ujian, tetapi juga pada aspek afektif dan

psikomotor yaitu sikap ketika mengikuti permainan antara lain sikap bekerja

sama dan menghargai serta ikhlas dalam menerima kekalahan karena sejatinya

memang dalam suatu permainan itu wajar menerima kekalahan dan

kemenangan. Kejadian-kejadian yang saya alami ketika penelitan siklus I

dan siklus II kemudian saya ceritakan atau membagikan pengalaman kepada

Bu Rina selaku wali kelas IV B. Beliau mengatakan bahwa pada pembelajaran

siswa sulit dikondisikan dan sering ribut dengan temannya.

Ketika peneliti melakukan penelitian dengan strategi permainan

tradisional yang dilakukan di luar kelas pada kenyataannya memang sulit

dikondisikan. Tetapi kebisingan atau keributan yang terjadi di dalam dan di

111
luar kelas berbeda disebabkan hal yang berbeda. Jika di dalam kelas siswa

sulit dikondisikan karena ketika guru menjelaskan materi siswa lebih senang

mengobrol dengan temannya dan ketika pembelajaran diluar kelas siswa sulit

dikondisikan karena cenderung lebih banyak bertanya mengenai pengalaman

baru yang mereka dapatkan. Hal tersebut sesuai teori yang dikemukakan oleh

Piaget (dalam Kurniati, 2016: 9) Bermain bagi anak berperan sebagai faktor

yang mengarahkan perkembangan anak baik perkembangan keterampilan

sosial maupun keterampilan pengetahuan, terutama bagi perkembangan

pengetahuan anak yaitu sebagai cara mengasimilasikan informasi-informasi

baru dengan pengalaman-pengalaman masa lalu lewat pengertian yang

sifatnya simbolik . Jadi, pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa belajar

melalui pengalaman yang mereka dapatkan. Dengan strategi permainan

tradisional siswa dapat mendapat pengalaman secara langsung mengenai apa

yang mereka lihat dan mereka rasakan.

Peningkatan hasil belajar siswa pada siklus I Penelitian dikatakan

berhasil apabila rata-rata kelas mencapai ≥75. Nilai rata-rata kelas pada siklus

II sebesar 85. Dengan melihat hasil penelitian pada siklus II tersebut

penelitian ini telah memenuhi satu syarat keberhasilan penelitian. Terjadinya

peningkatan seperti yang dijelaskan diatas merupakan dampak dari penerapan

strategi permainan tradisional dalam pembelajaran tematik Tema 4 (Berbagai

112
Pekerjaan), Subtema 1 (Jenis-jenis Pekerjaan) yang secara umum telah

berjalan dengan baik dan sesuai dengan RPP yang telah dibuat oleh peneliti.

113
BAB 5
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini berlangsung dalam dua siklus yang

bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar pada pembelajaran tematik

khususnya pada Tema 4 (Berbagai Pekerjaan), Subtema 1 (jenis-jenis

Pekerjaan) dengan menggunakan strategi permainan tradisional. Berdasarkan

hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

5.1.1 Penggunnaan strategi permainan tradisional dapat meningkatkan hasil

belajar siswa. Strategi permainan tradisional pada Tema 4 Subtema 1

siswa kelas IV SD N Deresan mengalami peningkatan dengan cara

penyampaian materi pembelajaran dibuat lebih kreatif dan menarik

dengan cara mengubah strategi pembelajaran. Pembelajaran dengan

menggunakan strategi permainan tradisional membuat siswa lebih

antusias dalam mengikuti pembelajaran. Hal tersebut yang mendukung

proses belajar menjadi lebih baik dan berdampak pada peningkatan

hasil belajar siswa pada pembelajaran Tema 4 (Berbagai Pekerjaan)

Subtema 1 (Jenis-jenis Pekerjaan).

5.2 Keterbatasan Penelitian

5.2.1 Penelitian ini hanya di uji cobakan pada satu sekolah dasar

114
5.2.2 Dalam setiap siklus penelitian, peneliti hanya menggunakan satu jenis

permainan

5.2.3 Penelitian ini terbatas hanya mengukur hasil belajar pada aspek

pengetahuan saja

5.3 Saran

5.3.1 Uji coba penelitian lebih baik dilakukan pada lebih dari satu sekolah

dasar

5.3.2 Permainan yang digunakan dalam setiap siklus pembelajaran

sebaiknya lebih dari satu jenis permainan

5.3.3 Pada penelitian selanjutnya diharapkan tidak hanya mengukur aspek

pengetahuan saja tetapi juga aspek sosial dan aspek keterampilan.

115
DAFTAR PUSTAKA

Aisyah. 2014. Kumpulan Permainan Anak Tradisional. Jakarta: Penebar Swadaya


Arifin, Z. 2011. Penelitian Pendidikan: Metode dan Paradigma Baru. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya
Arikunto, dkk. 2015. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara
Aqib. 2009. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru SD, SLB, dan TK. Bandung: CV
Yrama Widya
Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Dwitagama, dkk. 2009. Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Indeks
Fadlillah, M. 2014. Implementasi Kurikulum 2013 dalam Pengembangan SD/ MI,
SMP/ MTs, & SMA/MA. Yoyakarta: AR- RUZZ MediaKokasih, 2014
Hartono. 2008. SPSS 16.0 Analisis Data Statistika dan Penelitian. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Herdiansyah, H. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial.
Jakarta: Salemba Humanika
Huda, M. 2012. Cooperative Learning Metode, Teknik, Struktur, dan Model Terapan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Kosasih. 2014. Strategi Belajar dan Pembelajaran Implementasi Kurikulum 2013.
Bandung: YramaWidya
Kunandar. 2015. Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik
Berdasarkan Kurikulum 2013. Jakarta: Rajawali Pers
Kurniati, E. 2016. Permainan Tradisional dan Perannya dalam Mengembangkan
Keterampilan Sosial Anak. Jakarta: Prenada Media Group
Kurniawan, D. 2014. Pembelajaran Terpadu tematik. Bandung: Alfabeta
Ngalimun. 2014. Strategi dan Model Pembelajaran. Yogyakarta: Aswaja Pressindo
Majid, A. 2013. Strategi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya
Majid, A. 2014. Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: Interes Media

116
Majid, A dkk. 2014. Pendekatan Ilmiah dalam Implementasi Kurikulum 2013.
Bandung: Remaja Rosdakarya
Manab, A. 2015. Penelitian Pendidikan Pendidikan Kualitatif. Yogyakarta:
Kalimedia
Mulyani, N. 2016. Super Asyik Permainan Tradisional Anak Indonesia. Yogyakarta:
Diva Press

Mulyasa. 2013. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung:


Remaja Rosdakarya.

Muslich, M. 2010. Authentic Assesment: Penilaian Berbasis Kelas dan Kompetensi.


Bandung: Refika Aditama
Ridwan, D. 2015. Pengaruh Strategi permainan tradisional Engklek terhadap Hasil
Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas III SDI AL-FALAH 1 Pagi.
Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Rusman. 2017. Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana
Sanjaya, W. 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana
Sugiyono, 2011. Metode Penelitian Kuatitatif, Kualitatif, dan R &D. Bandung:
Alfabeta
Sujarno, dkk. 2011. Pemanfaatan Permainan Tradisional dalam Pembentukan
Karakter Anak. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)
Yogyakarta
Sujarno.,dkk. 2013. Pemanfaatan Permainan Tradisional dalam Pembentukan
Karakter Anak. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya

Suprijono, A. 2009. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar

Suparno, P. 2001. Teori Perkembangan Pengetahuan Jean Piaget. Yogyakarta:


Penerbit Kanisius

117
Suyanto, dkk. 2013. Menjadi guru profesional. Jakarta: erlangga
Trianto. 2013. Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik Bagi Anak Usia Dini
TK/RA dan Anak Kelas Awal SD/MI. Jakarta: KENCANA Prenada Media
Group
Widoyoko, E. 2014. Penilaian Hasil Pembelajaran di Sekolah. Yogyakarta: Pustaka
Belajar

118
LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Izin Penelitian

119
120
Lampiran 2 Surat Pernyataan Telah Melaksanakan Penelitian

121
Lampiran 3 Surat Izin Validasi Soal

122
Lampiran 4 RPP Siklus I

123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
Lampiran 5 RPP Siklus II

140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151
152
153
154
Lampiran 6 Contoh Hasil Soal Evaluasi Siklus I

155
156
Lampiran 7 Contoh Hasil Evaluasi Siklus II

157
158
159
Lampiran 8 Hasil Penilaian RPP Siklus I

160
161
162
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

163
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

164
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

165
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 9 Hasil Penilaian RPP Siklus II

166
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

167
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

168
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

169
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

170
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

171
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 10 Hasil Penilaian Soal Evaluasi Siklus I

172
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

173
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 11 Hasil Penilaian Soal Evaluasi Siklus II

174
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

175
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 12 Soal Evaluasi Siklus I

176
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

177
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 13 Soal Evaluasi Siklus II

178
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

179
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

180
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 14 Hasil Observasi

181
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 15 Hasil Wawancara

182
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

183
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 16 Nilai Kondisi Awal

184
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 17 Catatan Anekdot

185
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

186
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 18 Foto-Foto Kegiatan

GAMBAR 1. SISWA SEDANG MENGERJAKAN SOAL EVALUASI

GAMBAR 2. SISWA SEDANG BERMAIN SONLAH/SONDAH

187
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

GAMBAR 2. SISWA SEDANG BERMAIN SONLAH/SONDAH

GAMBAR 3. GURU MENDAMPINGI SISWA BERMAIN SONLAH/ SONDAH

GAMBAR 5. GURU MENDAMPINGI SISWA BERMAIN GOBAG SODOR

GAMBAR 6. SISWA SEDANG BERMAIN GOBAG SODOR

188
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 19 Hasil Validasi Pilihan Ganda Siklus I

186
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

187
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 20 Hasil Validasi Essay Siklus I

188
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 21 Hasil Validasi PIlihan Ganda Siklus II

189
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

190
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 22 Hasil Validasi Essay Siklus II

191
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 23 Hasil Penilaian Keterbacaan Siklus I

192
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

193
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 24 Hasil Penilaian Keterbacaan Siklus II

194
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

195
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI