Anda di halaman 1dari 16

STRUMA

I. Definisi

Pembesaran pada kelenjar tiroid biasa disebut sebagai struma nodosa atau struma.
Pembesaran pada tiroid yang disebabkan akibat adanya nodul, disebut struma nodosa
(Tonacchera, Pinchera & Vitty, 2009). Biasanya dianggap membesar bila kelenjar tiroid lebih
dari 2x ukuran normal. S t r u m a d i s e b u t j u g a goiter adalah suatu pembengkakan
pada leher oleh karena pembesaran kelenjar tiroid akibat kelainan g l a n d u l a ti r o i d
dapat berupa gangguan fungsi atau p e r u b a h a n susunan kelenjar dan
morfologinya. Pembesaran pada tiroid yang d i s e b a b k a n a ki b at a d a nya
n od u l d i se b u t st r u m a n o d o s a (Tonacchera, 2009 dalam
Pramitasari, 2013. Pembesaran ini dapat terjadi pada kelenjar yang normal
(eutirodisme), pasien yang kekurangan hormon tiroid (hipotiroidisme) atau kelebihan
produksi hormon (hipertiroidisme) (Black and Hawks, 2009). Menurut Penelitian
Framingham, setiap orang berisiko 5-10% untuk menderita struma nodosa dan perempuan
berisiko 4 kali lipat dibanding laki-laki (Incidence and Prevalence Data, 2012). Kebutuhan
hormon tiroid meningkat pada masa pertumbuhan, masa kehamilan dan menyusui. Pada
umumnya struma nodosa banyak terjadi pada remaja, wanita hamil dan ibu menyusui.
Struma nodosa terdapat dua jenis, toxic dan non toxic. Struma nodusa non toxic merupakan
struma nodusa tanpa disertai tanda- tanda hipertiroidisme (Hermus& Huysmans, 2004).
Pada penyakit struma nodusa non toxic tiroid membesar dengan lambat. Struma nodosa
toxic ialah keadaan dimana kelenjar tiroid yang mengandung nodul tiroid yang mempunyai
fungsi yang otonomik, yang menghasilkan suatu keadaan hipertiroid. Dampak struma nodosa
terhadap tubuh dapat mempengaruhi kedudukan organ-organ di sekitarnya. Di bagian
posterior medial kelenjar tiroid terdapat trakea dan esophagus. Struma nodosa dapat
mengarah ke dalam sehingga mendorong trakea, esophagus dan pita suara Sehingga terjadi
kesulitan bernapas dan disfagia (Rehman, dkk 2006). Hal tersebut akan berdampak terhadap
gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta cairan dan elektrolit. Bila pembesaran keluar
maka akan memberi bentuk leher yang besar dapat asimetris atau tidak, jarang disertai
kesulitan bernapas dan disfagia.
II. Etiologi.
Penyebab utama struma nodosa ialah karena kekurangan yodium (Black and Hawks,
2009). Defisiensi yodium dapat menghambat pembentukan hormon tiroid oleh kelenjar. Hal
tersebut memungkinkan hipofisis mensekresikan TSH dalam jumlah yang berlebihan. TSH
kemudian menyebabkan sel-sel tiroid mensekresikan tiroglobulin dalam jumlah yang besar
ke dalam folikel, dan kelenjar menjadi bertambah besar. Penyebab lainnya karena adanya
cacat genetik yang merusak metabolisme yodium, konsumsi goitrogen yang tinggi (yang
terdapat pada obat, agen lingkungan, makanan, sayuran), kerusakan hormon kelenjar tiroid,
gangguan hormonal dan riwayat radiasi pada kepala dan leher (Rehman dkk, 2006).
Hal yang mendasari pertumbuhan nodul pada struma nodosa non toxic adalah
respon dari sel-sel folikular tiroid yang heterogen dalam satu kelenjar tiroid pada tiap
individu. Dalam satu kelenjar tiroid yang normal, sensitivitas sel-sel dalam folikel yang sama
terhadap stimulus TSH dan faktor perumbuhan lain (IGF dan EGF) sangat bervariasi. Terdapat
sel-sel autonom yang dapat bereplikasi tanpa stimulasi TSH dan sel-sel sangat sensitif TSH
yang lebih cepat bereplikasi. Sel sel akan bereplikasi menghasilkan sel dengan sifat yang
sama. Sel-sel folikel dengan daya replikasi yang tinggi ini tidak tersebar merata dalam satu
kelenjar tiroid sehingga akan tumbuh nodul-nodul.

III. Tanda dan gejala

Beberapa penderita struma nodosa non toxic tidak memiliki gejala sama sekali. Jika
struma cukup besar, akan menekan area trakea yang dapat mengakibatkan gangguan pada
respirasi dan juga esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan. Peningkatan
seperti ini jantung menjadi berdebar-debar, gelisah, berkeringat, tidak tahan cuaca dingin,
dan kelelahan. Beberapa diantaranya mengeluh adanya gangguan menelan, gangguan
pernapasan, rasa tidak nyaman di area leher, dan suara yang serak. Pemeriksaan fisik struma
nodosa non toxic berfokus pada inspeksi dan palpasi leher untuk menentukan ukuran dan
bentuk nodular. Inspeksi dilakukan oleh pemeriksa yang berada di depan penderita yang
berada pada posisi duduk dengan kepala sedikit fleksi atau leher sedikit terbuka. Jika
terdapat pembengkakan atau nodul, perlu diperhatikan beberapa komponen yaitu lokasi,
ukuran, jumlah nodul, bentuk (diffus atau noduler kecil), gerakan pada saat pasien diminta
untuk menelan dan pulpasi pada permukaan pembengkakan. Pemeriksaan dengan metode
palpasi dimana pasien diminta untuk duduk, leher dalam posisi fleksi. Pemeriksa berdiri di
belakang pasien dan meraba tiroid dengan menggunakan ibu jari kedua tangan pada tengkuk
penderita. Struma nodosa tidak termasuk kanker tiroid, tapi tujuan utama dari evaluasi klinis
adalah untuk meminimalkan risiko terhadap kanker tiroid.

IV. Klasifikasi
Struma nodosa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal yaitu (Roy, 2011):
a. Berdasarkan jumlah nodul: bila jumlah nodul hanya satu disebut struma nodosa soliter
(uninodosa) dan bila lebih dari satu disebut struma multinodosa.
b. Berdasarkan kemampuan menyerap yodium radioaktif, ada tiga bentuk nodul
tiroid yaitu nodul dingin, hangat, dan panas. Nodul dingin apabila penangkapan yodium
tidak ada atau kurang dibandingkan dengan bagian tiroid sekitarnya. Hal ini
menunjukkan aktivitas yang rendah. Nodul hangat apabila penangkapan yodium sama
dengan sekitarnya. Ini berarti fungsi nodul sama dengan bagian tiroid lainnya. Dan nodul
panas bila penangkapan yodium lebih banyak dari sekitarnya. Keadaan ini
memperlihatkan aktivitas yang berlebih.
c. Berdasarkan konsistensinya lunak, kistik, keras dan sangat keras.
Struma nodosa memiliki beberapa stadium, yaitu (Lewinski, 2002) :
a. Derajat 0 : tidak teraba pada pemeriksaan
b. Derajat I : teraba pada pemeriksaan, terlihat jika kepala ditegakkan
c. Derajat II : mudah terlihat pada posisi kepala normal
d. Derajat III : terlihat pada jarak jauh.
Berdasarkan fisiologisnya struma nodosa dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Rehman, dkk,
2006) :
a. Eutiroidisme
Eutiroidisme adalah suatu keadaan hipertrofi pada kelenjar tiroid yang disebabkan
stimulasi kelenjar tiroid yang berada di bawah normal sedangkan kelenjar hipofisis
menghasilkan TSH dalam jumlah yang meningkat. Struma nodosa atau struma semacam
ini biasanya tidak menimbulkan gejala kecuali pembesaran pada leher yang jika terjadi
secara berlebihan dapat mengakibatkan kompresi trakea.
b. Hipotiroidisme
Hipotiroidisme adalah kelainan struktural atau fungsional kelenjar tiroid sehingga sintesis
dari hormon tiroid menjadi berkurang. Kegagalan dari kelenjar untuk mempertahankan
kadar plasma yang cukup dari hormon. Beberapa pasien hipotiroidisme mempunyai
kelenjar yang mengalami atrofi atau tidak mempunyai kelenjar tiroid akibat
pembedahan/ablasi radioisotop atau akibat destruksi oleh antibodi autoimun yang
beredar dalam sirkulasi. Gejala hipotiroidisme adalah penambahan berat badan, sensitif
terhadap udara dingin, dementia, sulit berkonsentrasi, gerakan lamban, konstipasi, kulit
kasar, rambut rontok, mensturasi berlebihan, pendengaran terganggu dan penurunan
kemampuan bicara.
c. Hipertiroidisme
Dikenal juga sebagai tirotoxicosis atau Graves yang dapat didefenisikan sebagai
respon jaringan-jaringan tubuh terhadap pengaruh metabolik hormon tiroid yang
berlebihan. Keadaan ini dapat timbul spontan atau adanya sejenis antibodi dalam
darah yang merangsang kelenjar tiroid, sehingga tidak hanya produksi hormon
yang berlebihan tetapi ukuran kelenjar tiroid menjadi besar. Gejala hipertiroidisme
berupa berat badan menurun, nafsu makan meningkat, keringat berlebihan, kelelahan,
lebih suka udara dingin, sesak napas. Selain itu juga terdapat gejala jantung berdebar-
debar, tremor pada tungkai bagian atas, mata melotot (eksoftalamus), diare, haid tidak
teratur, rambut rontok, dan atrofi otot.
Secara klinis pemeriksaan klinis struma nodosa dapat dibedakan menjadi (Tonacchera, dkk,
2009):
a. Struma nodosa toxic
Struma nodosa toxic dapat dibedakan atas dua yaitu struma nodosa diffusa toxic dan
struma nodosa nodusa toxic. Istilah diffusa dan nodusa lebih mengarah kepada
perubahan bentuk anatomi dimana struma nodosa diffusa toxic akan menyebar luas ke
jaringan lain. Jika tidak diberikan tindakan medis sementara nodusa akan memperlihatkan
benjolan yang secara klinik teraba satu atau lebih benjolan (struma nodosa multinodular
toxic). Struma nodosa diffusa toxic (tiroktosikosis) merupakan hipermetabolisme karena
jaringan tubuh dipengaruhi oleh hormon tiroid yang berlebihan dalam darah. Penyebab
tersering adalah penyakit Grave (gondok eksoftalmik/exophtalmic struma nodosa),
bentuk tiroktosikosis yang paling banyak ditemukan diantara hipertiroidisme lainnya.
Perjalanan penyakitnya tidak disadari oleh pasien meskipun telah diiidap selama
berbulan-bulan. Antibodi yang berbentuk reseptor TSH beredar dalam sirkulasi darah,
mengaktifkan reseptor tersebut dan menyebabkan kelenjar tiroid hiperaktif.
b. Struma nodosa non toxic
Struma nodosa non toxic sama halnya dengan struma nodosa toxic yang dibagi menjadi
struma nodosa diffusa non toxic dan struma nodosa nodusa non toxic.
Struma nodosa non toxic disebabkan oleh kekurangan yodium yang kronik. Struma
nodosa ini disebut sebagai simpel struma nodosa, struma nodosa endemik, atau struma
nodosa koloid yang sering ditemukan di daerah yang air minumya kurang sekali
mengandung yodium dan goitrogen yang menghambat sintesa hormon oleh zat kimia.

V. Patofisiologi.
Yodium merupakan bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan
hormon tiroid. Bahan yang mengandung yodium diserap usus, masuk kedalam sirkulasi darah
dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tiroid. Dalam kelenjar, yodium dioksida menjadi
bentuk yang aktif yang distimulasikan oleh Tiroid Stimulating Hormon (TSH) kemudian
disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Senyawa yang terbentuk
dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin (T4) dan molekul triiodotironin (T3).
Tiroksin (T4) menunjukan pengaturan umpan balik negatif dari seksesi TSH dan bekerja
langsung pada tirotropihypofisis, sedangkan T3 merupakan hormon metabolik yang tidak
aktif. Akibat kekurangan yodium maka tidak terjadi peningkatan pembentukan T4 dan T3,
ukuran folikel menjadi lebih besar dan kelenjar tiroid dapat bertambah berat sekitar 300-500
gram. Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis, pelepasan dan
metabolisme tiroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin (T4) dan melalui rangsangan
umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hipofisis. Keadaan ini
menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid. Biasanya tiroid mulai membesar pada usia muda
dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. Karena pertumbuhannya
berangsurangsur, struma dapat menjadi besar tanpa gejala kecuali benjolan di leher.
Sebagian besar penderita dengan struma nodosa dapat hidup dengan strumanya
tanpa keluhan. Walaupun sebagian struma nodosa tidak mengganggu pernafasan karena
menonjol kebagian depan, sebagian lain dapat menyebabkan penyempitan trakea bila
pembesarannya bilateral.
Pathway Struma

Struma Nodosa Non Toxic (pembesaran kelenjar tiroid berbatas jelas tanpa Etiologi
disertai hipotiroidisme )

Gangguan hormonal
Kelainan metabolik Pencemaran air Goitrogen Defisiensi yodium
• Masa pertumbuhan
kongenital tanah oleh Pb
• Kehamilan
• Laktasi
• Penggunaan KB hormonal
Menghambat pembentukan hormon
tiroid
Menghambat sintesa hormon tiroid

Meningkatnya kebutuhan
tyroksin Hipotiroidisme
Gangguan sekresi tiroksin

↑ kerja kelenjar tiroid Meningkatnya kadar TSH


Kelelahan

Hiperplasia Tyroid

Tiroidektomy Nyeri
Menekan esophagus & trakea

Resiko Infeksi
Disfagia
Obstruksi jalan napas
Suara parau

Gangguan Menelan Resiko Perdarahan

Ketidakefektifan Bersihan Jalan Gangguan Komunikasi Verbal


Nafas
Ketidakseimbangan Nutrisis
Kurang dari kebutuhan Tubuh
VI. Pemeriksaan Penunjang.
Pemeriksaan penunjang untuk struma nodosa antara lain (Tonacchera, dkk, 2009 ):
a. Pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan tes fungsi hormon : T4 atau T3, dan TSH.
b. Pemeriksaan radiologi.
 Foto rontgen dapat memperjelas adanya deviasi trakea, atau pembesaran
struma yang pada umumnya secara klinis sudah bisa diduga, foto rontgen pada
leher lateral diperlukan untuk evaluasi kondisi jalan nafas.
 Pemeriksaan ultrasonografi (USG).
Manfaat USG dalam pemeriksaan
tiroid :
‒ Untuk menentukan jumlah nodul.
‒ Dapat membedakan antara lesi tiroid padat dan kistik.
‒ Dapat mengukur volume dari nodul tiroid.
‒ Dapat mendeteksi adanya jaringan kanker tiroid residif yang tidak menangkap
yodium, dan tidak terlihat dengan sidik tiroid.
‒ Untuk mengetahui lokasi dengan tepat benjolan tiroid yang akan
dilakukan biopsi terarah.
‒ Pemeriksaan sidik tiroid. Hasil pemeriksaan dengan radioisotop
adalah tentang ukuran, bentuk, lokasi dan yang utama adalah fungsi
bagian-bagian tiroid.
c. Biopsi aspirasi jarum halus (Fine Needle Aspiration Biopsy). Biopsi ini dilakukan
khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan.

VII. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan struma dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Penatalaksanaan konservatif
 Pemberian Tiroksin dan obat Anti-Tiroid.
Tiroksin digunakan untuk menyusutkan ukuran struma, selama ini diyakini bahwa
pertumbuhan sel kanker tiroid dipengaruhi hormon TSH. Oleh karena itu untuk
menekan TSH serendah mungkin diberikan hormon tiroksin (T 4) ini juga diberikan
untuk mengatasi hipotiroidisme yang terjadi sesudah operasi pengangkatan
kelenjar tiroid. Obat anti-tiroid (tionamid) yang digunakan saat ini adalah
propiltiourasil (PTU) dan metimasol/karbimasol..
 Terapi Yodium Radioaktif .
Yodium radioaktif memberikan radiasi dengan dosis yang tinggi pada kelenjar
tiroid sehingga menghasilkan ablasi jaringan. Pasien yang tidak mau dioperasi
maka pemberian yodium radioaktif dapat mengurangi gondok sekitar 50 %.
Yodium radioaktif tersebut berkumpul dalam kelenjar tiroid sehingga memperkecil
penyinaran terhadap jaringan tubuh lainnya. Terapi ini tidak meningkatkan resiko
kanker, leukimia, atau kelainan genetik. Yodium radioaktif diberikan dalam bentuk
kapsul atau cairan yang harus diminum di rumah sakit, obat ini ini biasanya
diberikan empat minggu setelah operasi, sebelum pemberian obat tiroksin.
2. Penatalaksanaan operatif
 Tiroidektomi
Tindakan pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat kelenjar tiroid adalah
tiroidektomi, meliputi subtotal ataupun total. Tiroidektomi subtotal akan
menyisakan jaringan atau pengangkatan 5/6 kelenjar tiroid, sedangkan
tiroidektomi total, yaitu pengangkatan jaringan seluruh lobus termasuk istmus
(Sudoyo, A., dkk., 2009). Tiroidektomi merupakan prosedur bedah yang relative
aman dengan morbiditas kurang dari 5 %.
Menurut Lang (2010), terdapat 6 jenis tiroidektomi, yaitu :
‒ Lobektomi tiroid parsial, yaitu pengangkatan bagian atas atau bawah satu lobus
‒ Lobektomi tiroid, yaitu pengangkatan seluruh lobus
‒ Lobektomi tiroid dengan isthmusectomy, yaitu pengangkatan satu lobus dan
istmus
‒ Subtotal tiroidektomi, yaitu pengangkatan satu lobus, istmus dan sebagian besar
lobus lainnya.
‒ Total tiroidektomi, yaitu pengangkatan seluruh kelenjar.
‒ Tiroidektomi total radikal, yaitu pengangkatan seluruh kelenjar dan kelenjar
limfatik servikal.

Setiap pembedahan dapat menimbulkan komplikasi, termasuk tiroidektomi.


Komplikasi pasca operasi utama yang berhubungan dengan cedera berulang pada
saraf laring superior dan kelenjar paratiroid. Devaskularisasi, trauma, dan eksisi
sengaja dari satu atau lebih kelenjar paratiroid dapat menyebabkan
hipoparatiroidisme dan hipokalsemia, yang dapat bersifat sementara atau permanen.
Pemeriksaan yang teliti tentang anatomi dan suplai darah ke kelenjar paratiroid yang
adekuat sangat penting untuk menghindari komplikasi ini. Namun, prosedur ini
umumnya dapat ditoleransi dengan baik dan dapat dilakukan dengan cacat minimal
(Bliss et al, 2000).
Komplikasi lain yang dapat timbul pasca tiroidektomi adalah perdarahan,
thyrotoxic strom, edema pada laring, pneumothoraks, hipokalsemia, hematoma,
kelumpuhan syaraf laringeus reccurens, dan hipotiroidisme (Grace & Borley, 2007).
Tindakan tiroidektomi dapat menyebabkan keadaan hipotiroidisme, yaitu suatu
keadaan terjadinya kegagalan kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon dalam
jumlah adekuat, keadaan ini ditandai dengan adanya lesu, cepat lelah, kulit kering
dan kasar, produksi keringat berkurang, serta kulit terlihat pucat. Tanda-tanda yang
harus diobservasi pasca tiroidektomi adalah hipokalsemia yang ditandai dengan
adanya rasa kebas, kesemutan pada bibir, jari-jari tangan dan kaki, dan kedutan otot
pada area wajah (Urbano, FL, 2000). Keadaan hipolakalsemia menunjukkan perlunya
penggantian kalsium dalam tubuh. Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah
kelumpuhan nervus laringeus reccurens yang menyebabkan suara serak. Jika
dilakukan tiroidektomi total, pasien perlu diberikan informasi mengenai obat
pengganti hormon tiroid, seperti natrium levotiroksin (Synthroid), natrium liotironin
(Cytomel) dan obat-obatan ini harus diminum selamanya.

VIII. Diagnosa Keperawatan.


a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas.
Batasan Karakteristik : Tidak ada batuk, suara nafas tambahan, dispnea, sputum dalam
jumlah berlebihan, batuk yang tidak efektif, ortopnea.
Kondisi Terkait : Spasme jalan nafas.
Faktor yang berhubungan : Sekresi yang tertahan.
b. Nyeri
Batasan Karakteristik : Ekspresi wajah nyeri, perubahan pada parameter fisiologis, sikap
tubuh melindungi, sikap melindungi area nyeri, laporan tentang perilaku
nyeri/perubahan aktifitas, keluhan tentang intensitas menggunakan standar skala nyeri,
keluhan tentang karakteristik nyeri dengan menggunakan standar instrumen nyeri.
c. Risiko Infeksi.
Definisi : Rentan mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogenik yang dapat
menggangu kesehatan.
Kondisi Terkait : Prosedur Invasif.

IX. Tujuan Rencana Keperawatan


a. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas.

Tujuan : Setelah diberi intervensi, jalan nafas klien bersih dan adekuat.

NOC : Respiratory status : Airway patency

NO Indikator Skala Target Ket Skala


1 2 3 4 5 target
1 Kemampuan untuk mengeluarkan sekret 1 = Sangat
Berat
2 Frekwensi Pernapasan 2 = Berat
3 Suara Nafas Tambahan 3= Cukup
4 Batuk 4 = Rngan

5 Akumulasi Sputum 5 = Tidak ada

b. Nyeri
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x...jam, diharapkan skala nyeri
pada klien berkurang.
Kriteria Hasil :
NOC: Tingkat Nyeri
NO Indikator Skala Target Keterangan skala target

1 2 3 4 5
1 Nyeri yang dilaporkan 1: Berat
2 Panjangnya episode nyeri 2: Cukup berat
3 Ekspresi nyeri wajah 3: Sedang
4 Tidak bisa beristirahat 4: Ringan
5 Kehilangan nafsu makan 5: Tidak ada

NOC: Kontrol Nyeri

NO Indikator Skala Target Keterangan skala target


1 2 3 4 5
1 Menggunakan tindakan pengurangan 1: Tidak pernah menunjukkan
nyeri tanpa analgetik 2: Jarang menunjukkan
2 Menggunakan analgesik yang 3: Kadang-kadang menunjukkan
direkomendasikan 4: Sering menunjukkan
3 Melaporkan perubahan terhadap 5: Secara konsisten menunjukkan
gejala nyeri pada profesional
kesehatan
4 Melaporkan nyeri yang terkontrol

c. Risiko Infeksi.
Tujuan : Setelah di berikan intervensi selama 1x24 jam, klien tidak mengalami infeksi
pada daerah operasi dan sekirtarnya.
Kriteria Hasil
NOC: Kontrol Infeksi

Indikator Skor Ket Nilai Skor

1 2 3 4 5

1. Mengidentifikasi faktor 1; Tidak pernah


resiko infeksi menunjukkan
2. Mengenali faktor resiko 2 ; Jarang menunjukkan
individu terkait infeksi. 3 ; Kadang-kadang
3. Mengidentifikasi tanda dan menunjukkan
gejala terkait infeksi. 4; Sering menunjukkan
4. Mempertahankan 5 ; Secara konsisten
lingkungan yang bersih. menunjukkan
5. Menggunakan alat pelindung
diri.
6. Mencuci tangan.
NOC ; Pemulihan Pembedahan

Indikator Skor Ket Nilai Skor

1 2 3 4 5

1. Integritas Jaringan 1. Deviasi Berat dari


2. Penyembuhan Luka kisaran normal
3. Pelaksanaan perawatan luka yang 2. Deviasi Cukup
diresepkan. dari kisaran normal
3.Deviasi sedang dari
kisaran normal
4. Deviasi Ringan dari
kisaran normal
5. Tidak ada deviasi

X. Intervensi Keperawatan.
a. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas
NIC : Manajemen Jalan Nafas
 Monitor status pernapasan dan oksigenasi.
 Lakukan fisioterapi dada sebagaimana mestinya.
 Buang sekret dengan memotivasi pasien untuk melakukan batuk.
 Motivasi pasien untuk bernapas pelan, dalam, berputar dan batuk.
 Instruksikan pasien bagaimana agar bisa melakukan batuk yang efektif.
 Auskultasi suara nafas.
 Lakukan suction melalui endotrakea atau nasotrakea.
 Regulasi asupan cairan untuk mengoptimalkan keseimbangan cairan.
b. Nyeri
NIC: Manajemen Nyeri
 Lakukan pengkajian nyerikomprehensif meliputi lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor pencetus.
 Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.
 Tentukan akibat dari pengalaman nyeri terhadap kualitas hidup pasien (misalnya,
tidur, nafsu makan).
 Ajarkan teknik non farmakologi (seperti, relaksasi, terapi bermain, terapi aktivitas).
 Dukung istirahat/tidur yang adekuat untuk membantu penurunan nyeri.
 Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
dirasakan, dan antisipasi dari ketidaknyamanan akibat prosedur.
 Libatkan keluarga dalam modalitas penurun nyeri.

 Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping).

NIC : Pemberian Analgesik

 Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat.
 Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi.
 Cek riwayat alergi.
 Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu.
 Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri.
 Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal.
 Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur.
 Monitor ttv sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali
 Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat.
 Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping).

c. Resiko Infeksi.
NIC : Infection Control (Kontrol infeksi)
· Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
· Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan
setelah berkunjung meninggalkan pasien
· Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
· Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan kperawtan
· Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
· Tingkatkan intake nutrisi
· Berikan terapi antibiotik bila perlu

NIC : Perawatan Luka


 Angkat balutan dan plester perekat.
 Bersihkan luka dengan normal saline.
 Oleskan salep yang sesuai pada luka
 Berikan balutan yang sesuai dengan jenis luka.
 Anjurkan pada klien dan keluarga untuk mengenal tanda in feksi
 Dokumentasikan lokasi luka, ukuran dan tampilan.
Daftar Pustaka

Bliss, RD., Gauger, PG., Delbridge, LW. (2000). Surgeons approach to the thyroid
gland : surgical anatomy and the importance of technique. World Journal of
Surgery. 24, 8, 891 – 897.

Black & Hawks. (2009). Medical-surgical nursing : clinical management for positive
outcomes.8th Edition. Saunders Elsevier dalam Chahyani (2013)

Lang, BH. (2010). Minimally invasive thyroid and parathyroid operations :surgical
techniques and pearls. Journal of Advances in Surgery. 44,1.
185 – 198
Lewinski, A. (2002). The problem of goitre with particular consideration of goitre
resulting from iodine deficiency (I): Classification, diagnostics and treatment.
Style Sheet : http://www.nel.edu/23_4/NEL230402R04_Lewinski.htm (Diakses
pada Senin, 4 Pebruari 2019 pk. 21.10 WIB)

Nanda International. (2018). NANDA-I diagnosis keperawatan: definisi dan klasifikasi 2018-
2020. Jakarta : EGC.

Nursing Interventions Classification (NIC). (2013). Nursing Interventions Classification (NIC)


Ed 6. Philladelphia : Mosby Elsevier.

Nursing Outcomes Classification (NOC). (2013). Nursing Outcomes Classification (NOC)


Ed 5. Philladelphia : Mosby Elsevier.
Rehman, SU., Hutchison, FN., Basile, JN. (2006). Goitre in Older Adults. Journal of
Aging Health. 2 (5). 823 – 831. USA : Medical Center and Medical University
of South Carolina.

Tonacchera, M., Pinchera, A., & Vitty, P., (2009). Assesment of nodular goiter.
Journal of best practice & research clinical endocrinology and metabolism.
Pisa : Elsevier.