Anda di halaman 1dari 15

Gambaran Normal pada Radiografi Foto Polos Abdomen

Pada foto polos abdomen udara akan terlihat hitam karena meneruskan

sinar-X yang di pancarkan dan menyebabkan kehitaman pada film yang

normalnya terdapat pada lambung, duodenum, usus halus, dan colon. Sedangkan

tulang dan elemen kalsium yang dominan akan menyerap seluruh sinar yang

dipancarkan sehingga pada film akan tampak putih. Diantara tulang dan udara,

misalnya jaringan lunak akan menyerap sebagian besar sinar karena adanya

lapisan lemak yang melingkupi organ-organ intra abdomen sehingga

menyebabkan gambaran keabu-abuan yang cerah bergantung dari ketebalan

jaringan yang dilalui oleh sinar-X. dapat terlihat gambaran psoas line, valvulae

coniventes yang merupakan garis tipis teratur yang membentang pada seluruh

diameter lumen yeyunum dengan diameter normal tidak lebih dari 3 cm.1, 2,3

Gambar Foto polos abdomen


Udara akan terlihat relatif lebih banyak mengisi lumen lambung dan usus

besar, sedangkan dalam jumlah sedikit akan mengisi usus kecil. Sedikit udara dan

cairan juga mengisi lumen usus halus, dan usus besar sehingga air fluid level yang

minimal bukanlah suatu gambaran yang patologis. Tiga sampai lima fluid levels

dengan panjang kurang dari 2,5 cm masih dalam batas nomal yang sering

dijumpai di daerah kuadran kanan bawah. Dua air fluid levels atau lebih dengan

diameter lebih dari 2,5 cm panjang atau kaliber merupakan kondisi abnormal dan

selalu dihubungkan dengan patanda adanya ileus paralitik atau obstruktif.1,2,3

Pada foto polos abdomen dapat dilihat gas atau kalsium di dalam traktus

biliaris. Udara dalam lumen sistem bilier intra dan ekstrahepatik (pneumobilier)

menujukan infeksi sistem biliaris ataupun gangguan pada papila vateri di daerah

duodenum sehingga udara pada lumen duodenum mengisi duktus bilier. Gas dapat

terlihat di pusat kandung empedu sebagai gambaran berbentuk segitiga

(Mercedez-Benz sign), gas didalam duktus biliaris menyatakan secara tidak

langsung adanya hubungan abnormal antara gas kandung empedu atau duktus

choledochus, hal ini dapat disebabkan oleh penetrasi ulkus duodenum kedalam

traktus biliaris atau erosi batu kedalam lambung, duodenum, atau kolon.1,2,3

Kira-kira 10%-15% batu kandung empedu mengapur (kalsifikasi) dan

dapat diidentifikasi sebagai batu kandung empedu pada foto polos dan terkadang

dinding empedu mengapur (kalsifikasi) yang disebut porcelain gallbladder dimana

terdapat hubungan dengan karsinoma kandung empedu. Batu pada kandung

empedu dan saluranya biasanya dijumpai pada kuadran kanan atas dan berbentuk

poligonal. Batu lusen adalah batu adalah batu dengan kandungan kalsium minimal
sehingga tidak dapat terlihat pada foto polos abdomen yang biasanya mengandung

komponen asam urat, dalam keadaan tersebut dapat dilakukan pemeriksaan CT

scan polos tanpa media kontras untuk mengevaluasinya.1,2,3

Selain komponen traktus traktus gastrointestinal juga dapat terlihat kontur

kedua ginjal dan muskulus psoas bilateral yang dibentuk oleh mucullus psoas

mayor dan muscullus quadratus lumborum. Adanya bayangan yang menghalangi

kontur ginjanl dan muskulus psoas dapat menunjukan keadaan patologis dari

daerah retroperitoneal.1,2

1. Kolelitiasis

Istilah kolelitiasis dimaksud untuk penyakit batu empedu yang dapat

ditemukan di dalam kandung empedu atau di dalam duktus koledokus atau

keduanya. Sebagian besar batu empedu terutama batu kolesterol terbentuk di

dalam kandung empedu (kolesistolitiasis). Apabila batu ini berpindah kedalam

saluran empedu ekstrahepatik, disebut batu saluran empedu sekunder atau

koledokolitiasis sekunder.2,3,4
Tabel 1.1 Awalan dan akhiran yang berhubungan dengan batu empedu4

No Awalan/ akhiran Mengenai Contoh

1 Kole- Empedu Kolelitiasis

2 Kolesisto- Kandung empedu Kolesistolitiasis

3 Koledoko- Duktus koledokus Koledokolitiasis

Saluran empedu, terutama duktus


4 Kolangi(o) Kolangitis
hepatikus

Cabang duktus hepatikus dan


5 Kolangiol- Kolangiolitis
pembuluh kecil di hati

6 - Itis Radang Kolesistitis

7 - Litiasis (penyakit) Batu Kolelitiasis

Kebanyakan batu duktus koledokus berasal dari batu kandung empedu,

tetapi dapat juga terbentuk primer di dalam saluran empedu ekstrahepatik maupun

intrahepatik. Batu primer saluran empedu harus memenuhi beberapa kriteria,

yakni ada masa asimtomatik setelah kolesistektomi, morfologik cocok dengan

batu empedu primer, tidak ada striktur pada duktus koledokus atau tidak ada sisa

duktus sistikus yang panjang. Khusus untuk orang Asia, dapat ditemukan sisa

cacing Ascaris Lumbricoides atau jenis cacing lain di dalam batu tersebut.

Morfologi batu primer saluran empedu antaralain bentuknya ovoid, lunak,

rapuh, seperti lumpur atau tanah dan berwarna coklat muda sampai coklat gelap.

Dikenal tiga jenis batu empedu, yaitu batu kolestrol, batu pigmen atau batu

bilirubin yang terdiri dari kalsium bilirubinat, atau batu campuran.4


Batu kolesterol mengandung minimal 70% kristal kolesterol dan sisanya

adalah kalsium karbonat, kalsium palmitat, dan kalsium bilirubinat. Terbentuknya

hampir selalu di dalam kandung empedu, dapat berupa batu soliter atau multipel.

Permukaanya mungkin licin atau multifaset, bulat, berduri, dan ada yang seperti

buah murbei. Proses pembentukan batu kolestrol melalui empat tahap yaitu

penjenuhan empedu oleh kolesterol, pembentukan nidus, kristalisasi, dan

pertumbuhan batu.4

Derajat penjenuhan empedu oleh kolesterol dapat dihitung melalui kapasitas

daya larut. Penjenuhan ini dapat disebabkan oleh bertambahnya seksresi

kolesterol atau penurunan relatif asam empedu atau fosfolipid. Peningkatan

sekresi kolesterol empedu antaralain terjadi pada keadaan obesitas, diet tinggi

kalori dan kolesterol, dan pemakaian obat yang mengandung estrogen atau

klofibrat. Sekresi asam empedu akan menurun pada penderita dengan gangguan

absorbsi di ileum dan gangguan daya pengosongan primer kandung empedu.4

Penjenuhan kolesterol yang berlebihan tidak dapat membentuk batu kecuali

bila ada nidus dan proses kristalisasi meliputi suatu nidus maka akan terjadi

pembetukan batu. Pembentukan batu terjadi karena pengendapan kristal kolesterol

diatas matriks inorganik dan kecepatanya ditentukan oleh kecepatan relatif

pelarutan dan pengendapan. Stasis kandung empedu juga berperan dalam proses

pembentukan batu, selain itu puasa yang lama dapat menimbulkan empedu yang

litogenik akibat stasis.4

Batu bilirubin disebut juga batu pigmen atau batu lumpur. Bentuknya tidak

teratur, kecil-kecil, dan dapat berjumlah banyak seperti lumpur atau tanah yang
rapuh. Warnanya bervariasi antara coklat , kemerahan, sampai hitam. Batu

bilirubin mengandung kadar kolesterol kurang dari 25 % dan sisanya berisi

kalsium bilirubinat. Batu ini dapat bersatu dan membentuk batu yang lebih besar

yang dapat ditemukan di saluran empedu. Batu bilirubin hitam terbentuk di dalam

kandung empedu terutama pada gangguan keseimbangan metabolik seperti

anemia hemolitik, dan sirosis hepatis tanpa didahului infeksi. Terjadinya batu

bilirubin berhubungan dengan bertambahnya usia. Infeksi, stasis, dekonjugasi

bilirubin dan eksresi kalsium merupakan faktor kausal. Pada bakteribilia terdapat

bakteri gram negatif terutama E.Coli.4

Dua pertiga gambaran klinis pada penderita dengan batu kandung empedu

adalah asimtomatik, keluhan yang timbul berupa dispepsia yang kadang disertai

dengan intoleransi makanan berlemak. Pada penderita simtomatik keluhan utama

ialah nyeri epigastrium, kuadran kanan atas, atau prekordium. Rasa nyeri lainya

ialah kolik bilier yang berlangsung lebih dari 15 menit dan baru menghilang

beberapa jam kemudian. Sifat nyerinya ialah timbul perlahan namun pada satu

pertiga kasus dapat timbul secara mendadak. Penyebaran nyeri dapat ke punggung

bagian tengah skapula atau ke puncak bahu disertai mual dan muntah. Sekitar satu

perempat penderita melaporkan nyeri menghilang setelah mengkonsumsi

antasida.4

Pada kasus yang telah menjadi kolesistitis nyeri akan menetap dan

bertambah pada waktu menarik napas dalam dan saat kandung empedu tersentuh

ujung jari sehingga pasien berhenti bernapas yang merupakan tanda rangsang

peritoneum setempat (Murphy’s Sign). Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan


kelainan yang berhubungan dengan komplikasi seperti kolesititis akut dengan

peritonitis lokal atau umum, hidrops kandung empedu, empiema kandung

empedu, atau pankreatitis.4

Pada batu duktus koledokus terdapat keluhan nyeri atau kolik di epigastrium

dan perut kanan atas. Biasanya terdapat ikterus dan urine berwarna gelap yang

hilang-timbul. Pruritus ditemukan pada ikterus obstruktif yang berkepanjangan

terutama pada daerah tungkai daripada di daerah badan. Pada pemeriksaan

fisiknya dapat ditemukan sklera ikterik, hepatomegali, dan apabila telah terjadi

kolangitis dapat ditemukan tanda Trias Charcot yaitu demam dan menggigil,

nyeri di daerah hati, dan ikterus. Apabila terjadi kolangiolitis piogenik

intrahepatik akan timbul lima gejala Pentade Reynold berupa gejala Trias

Charcot ditambah syok dan kekacauan mental atau penurunan kesadaran hingga

koma.4

Peranan pemeriksaan pencitraan foto polos perut pada kasus batu kandung

empedu dan duktus koledokus tidak memberikan gambaran yang khas karena

hanya sekitar 10-15% batu kandung empedu yang bersifat radioopak. Kadang

kandung empedu yang mengandung cairan empedu berkadar kalsium tinggi dapat

dilihat pada foto polos perut. Pada peradangan akut dengan kandung empedu yang

membesar atau hidrops, kandung empedu terlihat sebagai masa jaringan lunak di

kuadran kanan atas yang menekan gambaran udara dalam usus besar di fleksura

hepatika.4
Gambar 1.1 Kolesistolitiasis pada foto polos abdomen

Gambar. Batu pada kandung empedu berbentuk poligonal

Pemeriksaan USG memiliki derajat spesifisitas dan sensitivitas yang tinggi

untuk mendeteksi batu kandung empedu dan pelebaran saluran empedu

intrahepatik maupun ekstrahepatik. USG dapat pula melihat dinding kandung


empedu yang menebal karena fibrosis atau udema akibat peradangan, serta lumpur

empedu dapat diketahui karena bergerak sesuai gravitasi.4

Gambar 1.2 Kolesistolitiasis pada Ultrasonografi abdomen

Foto roentgen dengan kolangiopankreatikografi endoskopi retrograd

(ERCP) di papila vater atau melalui kolangiografi transhepatik perkutan (PTC)

berguna untuk pemeriksaan batu di duktus koledokus dan dapat

memvisualisasikan saluran empedu dengan baik. Indikasinya ialah batu dengan

gangguan fungsi hati yang tidak dapat dideteksi dengan USG dan kolesitografi

oral misalnya pada batu kecil.4


Gambar 1.2 ERCP dan PTC

2. Abses Hepar

Abses hepar dapat disebabkan oleh kuman (abses hepar piogenik), parasit

(abses hepar amuba), dan jamur (abses hepar fungal). Dei negara barat 80% abses

hepar berupa piogenik, 10% amuba, dan kurang dari 10% fungal.4

Abses hepar piogenik pada anak dan dewasa muda terjadi akibat komlikasi

apendisitis dan pada orangtua sebagai komplikasi dari penyakit empedu. Biasanya

abses soliter atau multipel di kedua lobus hepar. Abses hepar piogenik dapat

berasal dari radang bilier, dari daerah splanknik melalui vena porta seperti

apendisitis akut dan divertikulitis akut, atau sistemik dari tubuh melalui arteri

hepatik.4
Tabel 1.2 Penyebab abses hepar piogenik4

Hepatobilier
Batu empedu
Benigna Kolesistitis
Anastomosis bilio-enterostomi
Karsinoma pankreas
Keganasan Kolangiokarsinoma
karsinoma kandung empedu
Apendisitis
Portal Divertikulitis
Penyakit inflamasi usus dan pelvis
Endokarditis
Arterial
Bakteriemia
Kemo-embolisasi
Trauma Injeksi etanol perkutan
Proses endoskopik bilier perkutan

Secara klinis gambaranya meliputi demam yang naik turun, malaise, mual,

lemah, anoreksia, penurunan berat badan, nyeri kepala, nyeri otot dan sendi, nyeri

perut terutama dibawah iga kanan atau di kuadran kanan atas. Dapat dijumpai

efusi pleura, dan bila abses di dekat diafragma dapat timbul gejala nyeri seperti

pleuritis dengan batuk dan sesak. Nyeri sering berkurang ila penderita berbaring

miring ke sisi kanan. Dapat terjadi hepatomegali, ketegangan perut kuadran kanan

atas, ikterus, ascites, dan diare. Pada pemeriksaan foto polos abdomen terdapat

elevasi diafragma pada 50% kasus, atelektasis pleura kanan, efusi pleura kanan,

pleuritis, empiema, abses paru, dan jarang sekali fistel bronkopleural. Kadang

dapat dilihat air-fluid level dalam rongga abses.4

3. Pankreatitis

Pankreatitis adalah radang pankreas yang disertai manifestasi lokal dan

sistemik. Kebanyakan bukan karena bakteri ataupun virus melainkan karena


autodigesti oleh enzim pankreas yang keluar dari asinus ke parenkim pankreas,

selanjutnya enzim ini merembes ke organ sekitarnya.4

Gejala kinis yang ditemukan ialah nyeri secara mendadak atau perlahan di

daerah pertengahan epigastrium yang menjalar menembus ke belakang. Serangan

pankreatitis biasanya timbul setelah kenang makan atau setelah minum alkohol.

Nyeri berkurang apabila pasien duduk membungkuk dan bertambah bila pasien

tidur terlentang. Terdapat muntah yang tidak didahului mual sewaktu lambung

sedang kosong. 4

Pada pemeriksaan fisik didapatkan perut tegang, nyeri tekan daerah

pertengahan epigastrium, demam pada 90% kasus, dan tanda syok pada pasien

dengan muntah yang hebat. Rangsangan cairan pankreas dapat menyebar ke perut

bawah atau ke rongga dada kiri sehingga terjadi efusi pleura kiri. Umunya

terdapat usus yang paralitik di sekitar pankreas yang meradang. Dapat terjadi

ikterus akibat pembengkakan di hulu pankreas atau hemolisis eritrosit karena

rapuh. Grey-Turner’s Sign yaitu perubahan warna di daerah perut sampig berupa

bercak darah atau Cullen’s Sign berupa bercak darah di daerah pusar jarang

terjadi.4

Secara umum pemeriksaan biomarker pankreatitis akut dibagi dua yaitu

sebagai pembantu diagnosis dan sebagai prediksi diagnosis. Pada pembantu

diagnosis dapat dilakukan pemeriksaan amilase yang meningkat pada 12 jam

pertama dan kemudian turun dalam 3-5 hari apabila tidak terjadi komplikasi.

Kenaikan kadar amilase lebih dari tiga kali batas normal mengandung nilai

sensitivitas 61% dan spesifisitas 95% untuk diagnosis pankreatitis akut. Kadar
lipase serum dapat tetap normal hingga 14 hari. Kadar lipase 600 IU/L

mempunyai nilai spesifisitas > 95% dan sensitivitas 55-100%. Untuk preiksi

diagnosis (prognosis) dapat dilakukan pemeriksaan petanda serum yang

menimbulkan respon sistemik antaralain TAP, Il-6, prokalsitonin, elastase

polimorfonuklear, serum amiloid A dan C-reactive protein.4

Pada pemeriksaan foto polos abdomen saat stadium awal ditemukan distensi

yeyunum karena paralisis segmental, distensi duodenum seperti huruf C,

gambaran kolon transversum yang gembung dan tiba-tiba menyempit di suatu

tempat karena spasme atau inflamasi, dan udema setempat dinding kolon.

Gambaran otot iliopsoas dapat menghilang karena adanya cairan eksudat di

retroperitoneum.4

Gambar 1.3 Pankreatitis akut dengan kalsifikasi multipel


Gambar 1.4 foto polos abdomen pankreatitis
DAFTAR PUSTAKA

1. Sudarmo P, Irdam A: Pemeriksaan Radiografi Polos Abdomen Pada Kasus

Gawat Darurat. Jakarta: Majalah Kedokteran Indonesia, Vol 58; 2008

2. Rasad S: Radiologi Diagnostik , Edisi 2: Fakultas Kedokteran Universitas

Indonesia; 2005

3. Soetikno R: Radiologi Emergensi: Refika Aditama; 2014

4. Sjamsuhidajat, Jong D: Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3: penerbit buku

kedokteran EGC; 2010