Anda di halaman 1dari 174

ANALISIS BUTIR SOAL ULANGAN AKHIR SEMESTER GASAL

MATA PELAJARAN DASAR LISTRIK DAN ELEKTRONIKA KELAS X


TITL DI SMK NEGERI 2 PURWOKERTO TAHUN PELAJARAN
2018/2019

HALAMAN JUDUL
TUGAS AKHIR SKRIPSI

Ditujukan kepada
Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian
Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

OLEH:
BELLA CITRA YOVIDIYANTI
15501241046

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2019
LEMBAR PERSETUJUAN

ii
SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : Bella Citra Yovidiyanti

NIM : 15501241046

Program Studi : Pendidikan Teknik Elektro – S1

Judul TAS : Analisis Butir Soal Ulangan Akhir Semester Gasal Mata

Pelajaran Dasar Listrik dan Elektronika Kelas X TITL di

SMK Negeri 2 Purwokerto Tahun Pelajaran 2018/2019

menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar karya saya sendiri. Sepanjang


pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang ditulis atau diterbitkan
orang lain kecuali sebagai acuan kutipan dengan mengikuti tata penulisan karya
ilmiah yang telah lazim.

Yogyakarta, Mei 2019


Yang menyatakan,

Bella Citra Yovidiyanti


NIM. 15501241046

iii
HALAMAN PENGESAHAN

iv
ANALISIS BUTIR SOAL ULANGAN AKHIR SEMESTER GASAL
MATA PELAJARAN DASAR LISTRIK DAN ELEKTRONIKA KELAS X
TITL DI SMK NEGERI 2 PURWOKERTO TAHUN PELAJARAN
2018/2019

Oleh:
Bella Citra Yovidiyanti
NIM. 15501241046

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas dari setiap butir soal UAS Gasal
Mata Pelajaran DLDE Kelas X TITL di SMK Negeri 2 Purwokerto tahun ajaran 2018/2019.
Kualitas butir soal dilihat dari aspek materi, bahasa, konstruksi, validitas, reliabilitas, daya
beda, tingkat kesukaran dan efektivitas pengecoh.
Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian deksriptif dengan
pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan metode
dokumentasi dengan instrumen penelitian adalah lembar soal UAS Gasal Mata Pelajaran
DLDE Kelas X SMK Negeri 2 Purwokerto tahun ajaran 2018/2019, kunci jawaban, norma
penilaian tes, kisi-kisi soal, respon jawban siswa dan angket.
Analisis dilakukan secara empirik/ kuantitatif dan teoritik/ kualitatif. Berdasarkan
hasil penelitian secara kualitatif menggunakan angket untuk experts judgement
disimpulkan bahwa dari 35 butir soal, sebanyak 10 butir soal (28,57%) tidak memenuhi
kriteria dari aspek materi, konstruksi maupun bahasa. Kemudian hasil analisis kuantitatif
diperoleh dengan pendekatan teori tes klasik. Secara keseluruhan dilihat dari aspek
validitas, tingkat kesukaran, daya pembeda dan efektivitas pengecoh didapatkan jika
sebanyak 2 butir soal (5,71%) termasuk kategori sangat baik, 11 butir soal (31,43%)
kategori baik, 7 butir soal (20%) kategori cukup, 9 butir soal (25,71%) kategori tidak baik,
dan sisanya 6 butir soal (17,14%) masuk kategori sangat tidak baik.

Kata Kunci: analisis butir soal, mata pelajaran DLDE, teori tes klasik

v
ANALYSIS OF FINAL EXAM IN ODD SEMESTER BASIC OF
ELECTRICAL AND ELECTRONICS OF CLASS X AT STATE 2
PURWOKERTO VOCATIONAL HIGH SCHOOLL STUDY YEAR 2018/2019

By:
Bella Citra Yovidiyanti
NIM. 15501241046

ABSTRACT
This study aims to ensure the quality of each item test questions at final exam in
odd semester of basic of electrical and electronics of class X at State 2 Purwokerto
Vocational High School study year 2018/2019. The quality of the questions is seen from
the aspects of material, language, construction, validity, reliability, differentiation, level of
difficulty and deception effectiveness.
This study used descriptive research methods with qualitative and quantitative
approaches. Data were collected with documentation method. The data sources used are
form of question sheets, answer keys, assesment sheets, grids, response of student answers
and questionnaires.
The analysis is carried out empirically/ quantitatively and theoretically/
qualitatively. Based on the results of the qualitative study using a questionnaire for experts
judgement, can be concluded that from 10 out of 35 items (28.57%) do not fulfill the criteria
of material, construction and language aspects. Then the results of quantitative analysis
are obtained by classical test theory approaches. Based on the aspects of validity, level of
difficulty, differentiation and deception effectiveness, overall two items (5.71%) are
categorized as very good, 11 items (31.43%) are categorized as good, seven items (20%)
are categorized as passable, nine items (25.71%) are categorized as not good, and six items
(17.14%) are categorized as very bad

Keywords: item analysis, basic of electrical and elebtronics, classical test theory

vi
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan
Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir Skripsi dengan
judul “Analisis Butir Soal Ulangan Akhir Semester Gasal
Mata Pelajaran Dasar Listrik Dan Elektronika Kelas X Titl Di Smk Negeri 2
Purwokerto Tahun Pelajaran 2018/2019” ini dengan baik dan lancar tanpa ada suatu
halangan apapun.

Penyusunan Tugas Akhir Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
mendapatkan gelar sarjana pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta. Selama
melaksanakan penyusunan Tugas Akhir Skripsi ini penulis telah banyak mendapat
bantuan dan dukungan semangat yang datang dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
pada kesempatan ini dengan segala rasa syukur disampaikan rasa terima kasih
sebesar-besarnya kepada :
1. Dr. Samsul Hadi, M.Pd., M.T. selaku Dosen Pembimbing TAS yang telah
banyak memberikan semangat, masukan, dorongan dan bimbingan selama
penyusunan Tugas Akhir Skripsi ini.
2. Dr. Edy Supriyadi, M.Pd. dan Dr. Phil. Nurhening Yuniarti, M.T. selaku
validator instrumen penelitian TAS yang sudah memberikan saran/ masukan
perbaikan.
3. Drs. Totok Heru Tri Maryadi, M.Pd. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Teknik
Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.
4. Dr. Widarto, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri
Yogyakarta yang telah memberikan persetujuan pelaksanaan Tugas Akhir
Skripsi.
5. Drs. Dani Priya Widada selaku Kepala Sekolah SMK Negeri 2 Purwokerto yang
telah mmeberikan ijin dan bantuan dalam pelaksanaan penelitian Tugas Akhir
Skripsi.
6. Mudiyanti, S.Pd. selaku guru pengampu mata pelajaran DLDE di SMK Negeri
2 Purwokerto sekaligus Ibu Tercinta yang selalu berkenan membantu dalam
setiap proses penelitian TAS yang dilakukan.

vii
7. Penguji dan Sekretaris yang bersedia memberikan koreksi perbaikan terhadap
Tugas Akhir Skripsi yang sudah dibuat.
8. Para Guru dan staf di SMK Negeri 2 Purwokerto yang telah banyak membantu
selama proses pengambilan data.
9. Semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penyusunan Tugas Akhir
Skripsi.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan balasan semua pihak yang telah
membantu penulis selama proses penyusunan Tugas Akhir Skripsi. Penulis
menyadari bahwa dalam penyusunan Tugas Akhir Skripsi ini masih banyak hal
yang perlu disempurnakan, oleh karena itu saran dan kritik guna penyempurnaan
tulisan ini sangat penyusun harapkan. Semoga Tugas Akhir Skripsi ini dapat
bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan bagi para
pembaca pada khususnya terutama untuk Pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Yogyakarta, Mei 2019

Penulis,

viii
HALAMAN MOTTO

“Tidak ada yang tidak mungkin selama terus diusahakan.”


(Bella Citra Yovidiyanti)

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah


kesulitan itu ada kemudahan."
(QS. Al-Insyirah : 5-6)

“Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali
tidak sanggup menolaknya.”
(QS. Al-An’am : 134)

“Saat kamu menghadapi situasi yang tidak menyenangkan, saat itulah kamu makin
belajar untuk lebih mengenali dirimu sendiri.”
(Unknown)

“Ketika berpikir untuk menyerah, coba ingat kembali apa tujuanmu sebelumnya.”
(Eclaire)

ix
HALAMAN PERSEMBAHAN

Alhamdulillah dengan adanya halaman persembahan ini selesai sudah


tugas saya sebagai seorang mahasiswa yang telah saya tempuh selama 3 tahun 10
bulan dengan hidup mandiri jauh dari keluarga dan kampung halaman. Tugas akhir
ini saya persembahkan for the one and only Ibu, Mudiyanti, who always support
me from the first day of my life. A strong woman that will always be my superhero,
the one that I will always looking for, someone that I call Home. Juga kepada Kakak
saya satu-satunya, Hardiyan Aldri, yang sebenarnya sangat perhatian tapi lebih
sering cueknya hehe but you know I love you. Tidak lupa juga kepada anggota
keluarga yang lain, Papah, Awal. Kepada Om & Bulek yang senantiasa ikut
merawat saya ketika masih kecil dulu sampai sekarang...

Selanjutnya kepada seluruh teman seperjuangan. Indah, Frida, Dewi, Nisa,


Mbak Mila, Vivi, Mas Nurul, Prayogo, Yudhis dan teman-teman D JPTE 2015
lainnya. Kepada teman-teman pengurus HME 2017, BEM FT 2017 & 2018 dan
teman kenalan lainnya di PKM FT UNY. Terimakasih kalian sudah menemani saya
untuk menempuh pendidikan selama ini, terimakasih sudah menjadi tempat untuk
berbagi cerita susah, cita dan cinta.

Persembahan ini juga untuk seseorang yang sudah mau mendukung dan
membantu dalam penyelesaian tugas akhir skripsi ini. Terimakasih sudah mau
menjadi teman dan tempat berkeluh kesah, terimakasih untuk selalu memberi saran
dan masukkan yang senantiasa menenangkan. Setelah ini waktunya saya untuk
ganti menyemngati dan membantu. Your name may not be written in this, but I’ll
keep it in a place that will never be forgotten.

Terakhir, persembahan ini untuk diri saya sendiri hahaha SELAMAT!!


Akhirnya kamu bisa menaklukan dirimu sendiri. Those sleepless nights and sleepy
days has been paid off, and you have to get ready for the next journey. Semangat,
Bella!

~Sukses terus untuk kita semua, Aamiin~

x
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i


LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................................. ii
SURAT PERNYATAAN ..................................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iv
ABSTRAK ............................................................................................................. v
ABSTRACT ........................................................................................................... vi
KATA PENGANTAR ......................................................................................... vii
HALAMAN MOTTO .......................................................................................... ix
HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................... x
DAFTAR ISI ......................................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xiii
DAFTAR TABEL .............................................................................................. xiv
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xv

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1


A. Latar Belakang Masalah......................................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ............................................................................................... 8
C. Batasan Masalah .................................................................................................... 8
D. Rumusan Masalah .................................................................................................. 9
E. Tujuan Penelitian ................................................................................................... 9
F. Manfaat Penelitian ................................................................................................. 9
BAB II KAJIAN TEORI .................................................................................... 12
A. Deskripsi Teori ..................................................................................................... 12
1. Tinjauan tentang Penilaian, Pengukuran dan Evaluasi ..................................... 12
2. Tinjauan tentang Tes Sebagai Alat Evaluasi Belajar ........................................ 25
3. Tinjauan tentang Analisis Butir Soal ................................................................ 33
4. Tinjauan tentang Mata Pelajaran Dasar Listrik dan Elektronika ...................... 48
B. Penelitian yang Relevan ....................................................................................... 51
C. Kerangka Berfikir................................................................................................. 53
D. Pertanyaan Peneliti ............................................................................................... 55

xi
BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 57
A. Jenis Penelitian ..................................................................................................... 57
B. Tempat dan Waktu Penelitian .............................................................................. 58
C. Variabel Penelitian ............................................................................................... 58
D. Subjek dan Objek Penelitian ................................................................................ 58
E. Teknik Pengumpulan Data ................................................................................... 59
F. Teknik Analisis Data ............................................................................................ 62
1. Analisis Teoritik/Kualitatif ............................................................................... 62
2. Analisis Empirik/Kuantitatif ............................................................................. 63
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................... 69
A. Hasil Penelitian .................................................................................................... 69
1. Hasil Analisis Teoritik/Kualitatif ...................................................................... 70
2. Hasil Analisis Empirik/Kuantitatif.................................................................... 71
B. Pembahasan Hasil ................................................................................................ 80
1. Hasil Analisis Secara Teoritik .......................................................................... 81
2. Hasil Analisis Secara Empirik .......................................................................... 83
C. Tindak Lanjut Hasil Penelitian............................................................................. 92
1. Tindak Lanjut Hasil Analisis Teoritik .............................................................. 92
2. Tindak Lanjut Hasil Analisis Empirik ............................................................. 95
BAB V SIMPULAN DAN SARAN .................................................................. 102
A. Simpulan ............................................................................................................ 102
B. Implikasi Hasil Penelitian .................................................................................. 104
C. Saran................................................................................................................... 106
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 108
LAMPIRAN ....................................................................................................... 110

xii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Proses Transformasi Belajar-mengajar ................................................. 1


Gambar 2. Hubungan Evaluasi-Penilaian-Pengukuran dan Tes ........................... 15
Gambar 3. Triangulasi Komponen Evaluasi ......................................................... 20
Gambar 4. ICC Dua Item Pada Model Logistik Satu, Dua dan Tiga Parameter .. 41
Gambar 5. Diagram Pie Persentase Hasil Analisis Validitas Butir Soal............... 73
Gambar 6. Diagram Pie Persentase Hasil Analisis Tingkat Kesukaran ................ 75
Gambar 7. Diagram Pie Persentase Hasil Analisis Aspek Daya Beda ................. 77
Gambar 8. Diagram Pie Persentase Hasil Analisis Efektivitas Pengecoh ............ 80
Gambar 9. Diagram Perbandingan Distribusi Tingkat Kesukaran........................ 87

xiii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kisi-kisi angket ....................................................................................... 59


Tabel 2. Kisi-kisi Soal ........................................................................................... 60
Tabel 3. Reliabilitas Tes ........................................................................................ 64
Tabel 4. Kriteria Tingkat Kesukaran ..................................................................... 65
Tabel 5. Klasifikasi Daya Pembeda (DP) ............................................................. 65
Tabel 6. Klasifikasi Indeks Pengecoh ................................................................... 66
Tabel 7. Hasil Analisis Secara Teoritik................................................................. 70
Tabel 8. Hasil Analisis Aspek Validitas ............................................................... 72
Tabel 9. Distribusi Hasil Analisis Berdasarkan Validitas ..................................... 73
Tabel 10. Hasil Analisis Aspek Tingkat Kesukaran ............................................. 74
Tabel 11. Distribusi Hasil Analisis Aspek Tingkat Kesukaran............................. 75
Tabel 12. Hasil Analisis Aspek Daya Beda .......................................................... 76
Tabel 13. Distribusi Hasil Analisis Aspek Daya Beda ......................................... 77
Tabel 14. Hasil Analisis Aspek Efektivitas Pengecoh .......................................... 79
Tabel 15. Distribusi Hasil Analisis Aspek Efektivitas Pengecoh ......................... 80
Tabel 16. Nilai Hasil Analisis Data Empirik ........................................................ 97
Tabel 17. Interpretasi Nilai Hasil Analisis Data Empirik ..................................... 98
Tabel 18. Distribusi Kualitas Butir Soal ............................................................... 99

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Hasil Analisis Menggunakan Program Anates ............................... 110


Lampiran 2. Silabus Mata Pelajaran DLDE ........................................................ 111
Lampiran 3. Kisi-kisi Soal .................................................................................. 131
Lampiran 4. Soal UAS Mata Pelajaran DLDE Kelas X TITL ........................... 137
Lampiran 5. Kunci Jawaban dan Range Penilaian Soal ...................................... 143
Lampiran 6. Lembar Jawaban Siswa .................................................................. 144
Lampiran 7. Daftar Skor Siswa ........................................................................... 147
Lampiran 8. Rekomendasi Perbaikan Soal Analisis Teoritik ............................. 149
Lampiran 9. Tabel r Product Moment ................................................................. 151
Lampiran 10. Surat Keterangan Validasi Analisis Teoritik ................................ 152
Lampiran 11. Surat Keputusan Dosen Pembimbing ........................................... 156
Lampiran 12. Surat Ijin Penelitian dari Fakultas Teknik UNY .......................... 158
Lampiran 13. Surat Ijin Penelitian SMK............................................................. 159

xv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan salah satu upaya dalam rangka membangun serta

mengembangkan potensi yang ada pada diri pribadi. Menurut Kamus Besar Bahasa

Indonesia dijelaskan apabila pendidikan adalah suatu proses pengubahan sikap dan

tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan.manusia

melalui pegajaran dan pelatihan. Pengertian tersebut juga sejalan dengan UU

Nomor 20 tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional dimana definisi

pendidikan-adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar

dan proses belajar agar peserta-didik secara aktif mengembangkan.potensi dirinya.

Gambar 1. Proses Transformasi Belajar-mengajar


Sebagaimana kita tahu untuk melakukan sesuatu pasti melalui tahap input,

proses dan output, yang dimaksud dengan input dalam pendidikan adalah peserta

didik. Sedangkan pada tahap proses dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain

materi/ kurikulum, guru atau pengajar, metode pengajaran dan sarana-prasarana

yang tersedia. Pada output yang merupakan keluaran dari tahap yang dilakukan

1
merupakan hasil dari kegiatan proses pendidikan yang telah dilakukan bersama oleh

pendidik dan peserta didik. Kemudian hasil dari proses tersebut dilakukan sebuah

evaluasi (dalam hal ini menjadi feedback) untuk kedepannya menjadi bahan

pertimbangan keputusan bagi semua pihak pada proses belajar selanjutnya.

Menurut QCA (2003) dalam Arifin (2012:374) “feedback is the mean by which

teachers enable children to close the gap in order to take learning forward and

improve children’s performance” (umpan balik merupakan sarana yang digunakan

guru untuk memungkinkan siswa memperkecil kesenjangan guna pembelajaran ke

depan dan meningkatkan kinerja siswa).

Pada tahap proses pembelajaran dan evaluasi yang telah dilakukan, guru

memiliki tanggung jawab untuk menilai hasil belajar dari siswanya. Seperti yang

sudah tertera pada UU Nomor 20 tahun 2003 pasal 585untuk memantau proses

kemajuan dan perbaikan evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh

pendidik secara berkesinambungan. Evaluasi yang memiliki tujuan untuk

mengetahui perkembangan kualitas pendidikan di era globalisasi harus mengacu

pada standar kompetensi minimal (Suwandi:2013). Guru bertugas untuk mengukur

dan mengetahui apakah siswa sudah menguasai materi serta ilmu yang diberikan

selama proses belajarcsesuai dengan tujuan pembelajaran. Oleh sebab itu guru

wajib memiliki bekal untuk mendukung tugasnya dalam mengevaluasi hasil belajar

siswa.

Evaluasi belajar siswa merupakan suatu proses mengumpulkan,

menganalisa dan menentukan hasil dari proses belajar yang telah dilaksanakan oleh

peserta didik secara sistematis sesuai dengan tujuan pembelajaran yang dilakukan

2
(Suharsimi:2016). Evaluasi yang dilakukan dapat mengetahui apakah siswa

tersebut memiliki kelemahan dalam proses pembelajaran. Hal tersebut menjadi

penting untuk peningkatan serta perbaikan proses pembelajaran kedepannya supaya

tujuan dari pembelajaran dapat tercapai. Dalam evaluasi terdapat beberapa langkah

penilaian dan pengukuran. Penilaian adalah pengambilan keputusan terhadap

sesuatu yang sifatnya kualitatif sedangkan pengukuran adalah membandingkan

sesuatu yang sifatnya kuantitatif (Suharsimi, 2016:1). Dengan kata lain penilaian

merupakan penjelasan dan penafsiran hasil dari pengukuran. Prinsip penilaian yang

terpenting adalah ekonomis, akurat dan mendorong peningkatan kualitas pada

pembelajaran berikutnya. Pengambilan nilai dilakukan dengan menggunakan

teknik tes dan non-tes.

Pengambilan nilai dengan menggunakan teknik tes merupakan salah satu

cara untuk mengukur atau bisa disebut juga sebagai alat untuk mengumpulkan

informasi karateristik dari suatu objek. Tes atau pengujian diberikan kepada

seseorang yang berupa sejumlah pertanyaan yang harus diberi tanggapan.

Tanggapan atau respon yang diberikan oleh seseorang tersebut akan menjadi tolok

ukur dalam penilaian kemampuan seseorang dalam menguasai bidang yang

diujikan.

Terdapat beberapa macam tes yang terbagi menjadi tiga urutan waktu, yaitu

pada awal pembelajaran, selama pembelajaran dan diakhir pembelajaran. Pada awal

pembelajaran dapat dilakukan placement test atau tes penempatan yang bertujuan

untuk menentukan unjuk kerja masukan atau kemampuan awal siswa sebelum

menerima materi pembelajaran seperti contohnya melakukan pretest sebelum

3
memulai pembelajaran (Supriyadi:2017). Prosedur tes pada sistem penilaian dan

pembelajaran kita dalam mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sampai

saat ini masih mendominasi. Selama pembelajaran berlangsung dapat dilakukan tes

formatif yang bertujuan untuk memantau kemjauan belajar siswa selama menerima

materi pembelajaran. Tes formatif yang dilakukan dapat berupa ulangan harian atau

ujian blok pada setiap bab atau materi yang telah selesai diberikan kepada siswa.

Tes ini juga berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan belajar sudah tercapai pada

tiap bagian ataukah siswa tersebut harus melaksanakan remedial supaya tujuan

belajar tersebut tercapai. Pada akhir pembelajaran dapat dilakukan tes sumatif yang

tujuannya untuk mengetahui hasil belajar akhir dari siswa. Tes sumatif biasanya

berupa Ulangan Akhir Semester pada tiap semester maupun juga Ujian Nasional di

tingkat akhir pembelajaran pada setiap jenjang pendidikan. Tujuan lain dari tes

sumatif adalah untuk penentuan nilai dan mengevaluasi efektivitas dari

pembelajaran yang telah dilakukan sehingga dapat memberikan pengalaman

pembelajaran tambahan.

Tes dapat menentukan apakah peserta sudah menguasai materi yang

diujikan atau belum. Selain itu guru juga dapat mengetahui sejauh mana tujuan

pembelajaran sudah tercapai guna memperbaiki proses pembelajaran kedepan. Tes

sebagai alat evaluasi yang paling sering digunakan oleh guru untuk melakukan

penilaian hasil belajar siswa, maka tes harus memiliki kualitas yang baik supaya

dapat menunjukan hasil secara tepat dan benar. Keputusan yang akan diambil oleh

guru/berkaitan dengan siswa maupun dalam proses pembelajaran berikutnya dapat

dipengaruhi oleh hasil tes yang akurat. Seharusnya guru sebagai pendidik selain

4
mengevaluasi hasil belajar dari siswa jug mengevaluasi instrumen yang digunakan

dalam penilaian. Evaluasi soal tes yang digunakan dalam penilaian dapat

menunjukkan apakah soal tersebut merupakan kategori baik atau tidak. Jika soal tes

yang diujikan bukan merupakan kategori yang baik maka perbaikan dalam

pembuatan soal dirasa perlu dilakukan oleh guru yang bersangkutan. Akan tetapi

pada kenyataannya guru tidak bisa secara mendetail mengevaluasi soal yang

dibuatnya sehingga evaluasi yang dilakukan hanya penilaian hasil akhir siswa. Hal

ini disebabkan oleh keterbatasan waktu dan beban mengajar yang dimiliki oleh guru

tersebut, sehingga soal yang diujikan kepada siswa tidak dapat diketahui

kualitasnya.

Sebuah tes dikatakan baik apabila dapat memenuhi beberapa persyaratan,

yaitu memiliki validitas, reliabilitas, objektivitas, praktibilitas dan ekonomis

(Suharsimi Arikunto, 1993: 56). Validitas dan reliabilitas pada sebuah tes

menandakan apakah soal tes tersebut dapat dengan akurat mengukur apa yang akan

diukur dan juga memiliki konsistensi sehingga ketika diberikan beberapa kali

kepada subjek yang sama akan memberikan hasil yang relatif sama sehingga

menunjukkan ketetapan. Objektivitas berarti tes memiliki sifat objektif dimana

unsur subjektivitas tidak mempengaruhi hasil. Sifat praktis yang dimiliki berarti tes

mudah untuk dilaksanakan, diperiksa disertai dengan petunjuk yang jelas. Apabila

pada pelaksanaan tes tidak memerlukan biaya yang besar maka dapat dikatakan jika

tes bersifat ekonomis.

Analisis butir soal merupakan suatu kegiatan mengkaji soal atau

pertanyaan-pertanyaan yang digunakan sebagai alat ukur penilaian. Analisis ini

5
bertujuan untuk mengetahui apakah butir soal atau tes yang diberikan sudah

termasuk dalam kategori sangat baik, baik atau kurang baik dilihat secara teoritik

maupun empirik. Apabila butir soal tersebut termasuk dalam kategori kurang baik

maka seharusnya sudah tidak digunakan lagi dan dilakukan revisi atau perbaikan

soal tersebut sehingga soal yang diberikan kepada siswa nantinya merupakan butir

soal yang memiliki kualitas tinggi. Pada analisis butir soal secara teoritik akan

memberikan hasil kualitatif dilihat dari segi materi, konstruksi dan bahasa. Analisis

secara empirik atau kuantitatif maka akan menghasilkan beberapa perhitungan

aspek, yaitu dilihat dari segi validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, daya pembeda

serta efektivitas pengecoh/ distractor.

SMK Negeri 2 Purwokerto merupakan salah satu satuan tingkat pendidikan

kejuruan bidang teknologi dan rekayasa. Berdasarkan hasil dari wawancara salah

satu guru mata pelajaran Dasar Listrik dan Elektronika (DLDE) pada bulan

November 2018 masih belum dilakukan analisis terkait soal-soal yang

dipergunakan untuk mengevaluasi siswa, sehingga kualitas dari soal tersebut belum

diketahui. Mata pelajaran DLDE merupakan salah satu mata pelajaran pokok bagi

siswa kelas X. Keterbatasan waktu dan kemampuan pada guru menjadi alasan yang

kuat mengapa analisis dari soal belum dapat dilaksanakan. Guru mempunyai

anggapan jika melakukan analisis butir soal membutuhkan banyak waktu padahal

kegiatan guru saat ini tidak hanya terfokus pada satu mata pelajaran saja dan banyak

juga administrasi guru yang harus dikerjakan.

Terdapat 35 butir soal bentuk pilihan ganda dan 5 butirksoal bentuk uraian

pada pelaksanaan Ulangan Akhir Semester Gasal tahun pelajaran 2018/2019 mata

6
pelajaran Dasar Listrik dan Elektronika. Pembuatan soal berdasarkan pada materi

yang telah diberikan kepada siswa kelas X jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik.

Hasil tes yang diperoleh siswa kemudian akan dijadikan bahan pertimbangan pada

penilaian rapor semester gasal, namun dalam pelaksanaan penilaian terdapat

beberapa kekurangan.

Dilihat dari perolehan nilai pada UAS Gasal Mata Pelajaran DLDE dari 71

peserta didik terdapat 32 peserta didik yang memeperoleh nilai dibawah ketuntasan

minimal yaitu 75 (dapat dilihat pada lampiran 7). Banyak dari siswa tersebut yang

memiliki perolehan skor yang kecil pada pilihan ganda. Tentunya karena perolehan

skor yang kecil pada pilihan ganda menjadi perhatian bagi guru selaku pengajar dan

juga pembuat soal. Padahal dilihat dari faktor pendukung lainnya pada proses

belajar mengajar sudah baik. Sarana dan prasarana yang tersedia pada sekolah

tersebut sudah cukup lengkap, guru pengajar mata pelajaran sudah tersertifikasi dan

materi pembelajaran juga sudah tersampaikan.

Berdasarkan pada uraian keadaan tersebut maka peneliti bermaksud untuk

melakukan analisis terhadap butir soal pilihan ganda Ulangan Akhir Semester Gasal

untuklmengetahui kualitas soal yang dibuat oleh guru sebagai langkah dalam

evaluasi pembelajaran dengan mengambil judul “Analisis Butir Soal Ulangan Akhir

Semestes Gasal Mata Pelajaran Dasar Listrik dan Elektronika Kelas X TITL di

SMK Negeri 2 Purwokerto Tahun Pelajaran 2018/2019”.

7
B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan pada uraian latar belakang yang telah dikemukakan, maka

dapat diidentifikasikan permasalahan sebagai berikut:

1. Perolehan skor pada Ulangan Akhir Semester Gasal mata pelajaran DLDE

tahun ajaran 2018/2019 bentuk pilihan ganda masih belum cukup memuaskan

karena terdapat 32 peserta didik yang memeperoleh nilai dibawah ketuntasan

minimal.

2. Keterbatasan kemampuan, waktu dan tenaga guru pengajar menjadi alasan

utama analisis butir soal evaluasi siswa belum pernah dilakukan

3. Kualitas soal tes Ulangan Akhis Semester Gasal mata pelajaran DLDE tahun

pelajaran 2018/2019 di SMK Negeri 2 Purwokerto belum diketahui.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan hasil identifikasi masalah yang sudah disebutkan di atas

diperlukan adanya batasan-batasan supaya penelitian lebih terfokus dan tidak

terjadi kesalahan. Batasan masalah yang diambil peneliti adalah untuk mencari

kualitas Soal Ujian Akhir Semester Gasal Mata Pelajaran DLDE tahun pelajaran

2018/2019 SMK Negeri 2 Purwokerto kelas X TITL yang secara teoritik ditinjau

dari segi materi, konstruksi dan bahasa serta secara empirik ditinjau dari

segi.validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, daya pembeda dan efektivitas

pengecoh/distractor.

8
D. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian identifikasi dan batasan masalah, maka rumusan

masalah yang diajukan adalah:

1. Bagaimanakah kualitas secara kualitatif Soal Ujian Akhir Semester Gasal Mata

Pelajaran DLDE tahun pelajaran 2018/2019 SMK Negeri 2 Purwokerto kelas

X TITL?

2. Bagaimanakah kualitas secara kuantitatif Soal Ujian Akhir Semester Gasal

Mata Pelajaran DLDE tahun pelajaran 2018/2019 SMK Negeri 2 Purwokerto

kelas X TITL?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui kualitas secara kualitatif Soal Ujian Akhir Semester Gasal

Mata Pelajaran DLDE tahun pelajaran 2018/2019 SMK Negeri 2 Purwokerto

kelas X TITL.

2. Untuk mengetahui kualitas secara kuantitatif Soal Ujian Akhir Semester Gasal

Mata Pelajaran DLDE tahun pelajaran 2018/2019 SMK Negeri 2 Purwokerto

kelas X TITL.

F. Manfaat Penelitian

Dengan melakukan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaaat

sebagai berikut:

9
1. Manfaat secara teoritis12

a. Diharapkan konsep yang dihasilkan pada penelitian ini dapat memberikan

informasi tambahan terhadap dunia pendidikian khususnya pada

bidang_evaluasi pendidikan.

b. Hasil dari penelitian ini dapatjmenjadi bahan acuan atau informasi dan

pertimbangansbagi penelitian yang sejenis selanjutnya secara lebih

mendalam dan intensif.

2. Manfaat secara praktis

a. Untuk peneliti

Sebagai sarana untuk menyalurkan, mengembangkan dan menerapkan ilmu-

ilmu yang sudah didapat selama mengikuti perkuliahan, khususnya di bidang

evaluasi pendidikan dan sarana untukLmelatih ketrampilan menulis karya

ilmiah sebagaissalah satu persyaratan guna mendapatkan gelar:Sarjana di

Universitas_Negeri Yogyakarta.q

b. Untuk Siswamk

Dengan dilakukannya penelitian ini maka diharapkan soal-soal yang diujikan

kepada peserta=didik merupakan soal-soal yang memiliki kualitas tinggi

sehingga mampu untuk mengukur_keberhasilan serta kualitas peserta;didik

tersebut.

c. Untuk Guru

Mendapatkan informasi dan memastikan apakah soal-soal yanggdibuat

merupakan soal yang memiliki kualitascbaik atau kurang baik sehingga dapat

dilakukan perbaikan ataupun pengembangan untuk kedepannya.

10
d. Untuk Sekolahany

Hasil pemelitian dapat dijadikan bahanlpertimbangan bagi.sekolah untuk

menentukan kebijakan terkait usaha untuk terus meningkatkan serta

mengembangan pembelajaran melalui analisis butir soal.

11
BAB II
KAJIAN TEORI

A. Deskripsi Teori

1. Tinjauan tentang Penilaian, Pengukuran dan Evaluasi

a. Pengertian Pengukuran dan Penilaian

Pengukuran, penilaian dan evaluasi memiliki kaitan yang erat antara satu

dengan yang lainnya. Pengukuran adalah suatu proses kegiatan dalam rangka untuk

menentukan kuantitas dari sesuatu (Zainal Arifin, 2012:7). Sesuatu yang

dimaksudkan dapat berarti peserta didik, guru, sarana-prasarana sekolah, dan

sebagainya. Selain itu pengukuran juga dapat berarti pemberian angka atau usaha

dalam memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan dimana seorang peserta

didik telah mencapa karakteristik tertentu (Siahaan:2010).

Menurut Ahmann dan Glock dalam Zainal (2012:7) pengukuran

menyediakan informasi dimana evaluasi dapat didasarkan. Selanjutnya penilaian

pendidikan adalah proses yang dilakukan untuk mendapatkan representasi secara

kuantitatif tentang sejauh mana suatu ciri yang dimiliki oleh peserta didik. Pendapat

yang sama juga disampaikan oleh Kizlik (2012:3), karena selain definisi umum

tersebut, pengukuran mengacu pada serangkaian prosedur dan prinsip-prinsip

dalam tes dan penilaian pendidikan.

Berdasarkan beberapa pemaparan para ahli tersebut maka dapat

disimpulkan apabila pengukuran merupakan suatu proses dalam mengumpulkan

informasi yang nantinya akan menghasilkan suatu angka secara kuantitatif.

12
Pengukuran itu sendiri juga tidak terlepas dari penilaian. Menurut Kizlik (2012:3)

penilaian adalah suatu proses pengumpulan informasi untuk memantau kemajuan

dan membuat keputusan bila dirasa perlu. Suatu penilaian tidak hanya mencakup

tes saja, tapi juga bisa mencakup beberapa metode seperti observasi, wawancara,

pengamatan perilaku dan sebagainya. Pendapat yang sama juga disampaikan oleh

Zainal Arifin (2012:8), dilihat dari hubungannya dengan proses dan hasil belajar,

penilaian adalah suatu proses yang secara sistematis dan berkesinambungan dalam

mengumpulkan informasi tentang proses dan hasil belajar peserta didik dalam

rangka membuat keputusan-keputusan berdasarkan kriteria dan pertimbangan

tertentu.

Penilaian juga turut melayani kebutuhan di semua tingkatan hirarki

pendidikan, misalnya, penilaian membantu guru untuk menetapkan standar,

memotivasi kinerja, memberikan umpan balik, menilai atau mengevaluasi

kemajuan dan mengkomunikasikan kemajuan terhadap pihak terkait (Joan L.

Herman, 1992:2). Hasil dari penilian nantinya dapat berupa angka (setelah

melewati proses pengukuran) dan dapat digunakan untuk mengetahui kelemahan

dari peserta didik yang memerlukan bantuan lebih lanjut.

b. Pengertian Evaluasi

Secara garis besar, evaluasi merupakan suatu proses yang disengaja dan

terencana untuk memperoleh informasi atau data. Kemudian berdasarkan data

yang sudah diperoleh tersebut dibuatlah sebuah keputusan (Purwanto, 2017: 3).

Pengertian lain dari evaluasi juga dikemukakan oleh Cronbach dan Stufflebeam

dalam Suharsimi (2016: 3) bukan hanya digunakan untuk mengukur sejauh mana

13
tujuan tercapai tetapi juga sebagai pengambilan keputusan merupakan tujuan dari

proses evaluasi. Pengertian evaluasi menurut pendapat para ahli tersebut bukan

hanya mengenai proses dan tujuan yang tercapai, akan tetapi juga mengenai

kesimpulan serta pengambilan keputusan untuk proses berikutnya.

Hubungan antara evaluasi dengan pembelajaran, menurut Bob Kizlik

(2012:3) evaluasi merupakan prosedur yang digunakan untuk menentukan apakah

peserta didik sudah memenuhi kriteria yang ditentukan karena evaluasi sendiri

bertujuan untuk membuat penentuan kualifikasi sesuai dengan kriteria. Norman E

Grounland dalam Purwanto (2017: 3) merumuskan jika evaluasi merupakan suatu

proses yang sistematis dan bertujuan untuk menentukan atau memutuskan sejauh

mana tujuan-tujuan dari proses pengajaran telah dicapai oleh peserta didik.

Martubi (2004: 12) menjelaskan hal yang serupa bahwa evaluasi pembelajaran

merupakan suatu proses untuk memperoleh informasi secara menyeluruh dan

kontinyu tentang suatu proses dan hasil belajar yang telah dilakukan oleh siswa

sehingga dapat dijadikan acuan untuk penentuan perlakuan lanjut. Menurut UU

Nomor 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 21, evaluasi pendidikan merupakan suatu

kegiatan pengendalian, penjaminan dan penetapan mutu pendidikan di setiap

jenjang, jalur dan jenis pendidikan pada setiap komponennya sebagai bentuk

pertanggungjawaban dalam pelaksanaan pendidikan.

Berdasarkan pemaparan para ahli dan juga UU Nomor 20 tahun 2003 maka

didapatkan kesimpulan jika evaluasi merupakan suatu rangkaian proses yang

dilaksanakan dengan cara mengumpulkan informasi atau data untuk mengetahui

seberapa jauh nilai-nilai dan tujuan sudah tercapai, dalam hal ini terutama pada

14
proses pembelajaran. Informasi data yang diambil sebagai bahan evaluasi adalah

hasil belajar siswa sejak awal hingga akhir pembelajaran. Data yang telah

terkumpul kemudian menjadi dasar untuk membuat kesimpulan serta penentu

langkah selanjutnya yang akan digunakan oleh satuan pendidikan untuk proses

atau sistem pembelajaran berikutnya.

Dalam pelaksanaannya, antara penilaian, pengukuran dan evaluasi memiliki

keterkaitan. Penilaian dan pengukuran dalam prosesnya akan selalu

berkesinambungan. Sementara itu antara penilaian dan evaluasi keduanya

memiliki pengertian yang sama yaitu menilai atau menentukan nilai sesuatu,

perbedaannya terletak pada ruang lingkup dan pelaksanaannya (Zainal Arifin,

2012:11). Evaluasi dan penilaian lebih bersifat komprehensif yang meliputi

pengukuran, sedangkan tes adalah salah satu alat pengukuran. Hubungan antara

evaluasi, penilaian, pengukuran dan tes dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 2. Hubungan Evaluasi-Penilaian-Pengukuran dan Tes


Dari gambar berikut maka dapat diartikan apabila evaluasi pembelajaran

adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis, berkelanjutan dan menyeluruh

dalm rangka pengendalian, penjaminan dan penetapan kualitas pembelajaran

terhadap berbagai komponen pembelajaran. Sedangkan penilaian hasil belajar

15
adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis, berkelanjutan dan menyeluruh

dalam rangka pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menilai pencapaian

proses dan hasil belajar peserta didik (Zainal Arifin, 2012:8).

c. Tujuan dan Fungsi Evaluasi Hasil Belajar

Tujuan dan fungsi dari evaluasi adalah dua hal yang selalu betrkaitan.

Menurut Rusydi dan Tien (2017: 7) tujuan evaluasi memiliki dua fungsi, yaitu

fungsi formatif dan.fungsi sumatif. Fungsi sumatif yaitu evaluasi digunakan untuk

keterangan, pertanggungjawaban, seleksi atau lanjutan sedangkan fungsi formatif

dari evaluasi yaitu evaluasi digunakan untuk pengembangan dan perbaikan

kegiatan yang sedang berlangsung. Dalam batasan mengenai evaluasi hasil

belajar, menurut Purwanto (2017: 5) mendapatkan bukti data yang menunjukkan

hasil tingkat keberhasilan dan kemampuan peserta didik dalam mencapai tujuan

belajar merupakan tujuan dari kegiatan evaluasi itu sendiri. Menurut Ngalim

Purwanto (2017:5) evaluasi dikelompokkan menjadi empat fungsi. Fungsinya

yang pertama adalah untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan serta

keberhasilan peserta didik setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran selama

jangka waktu tertentu. Setelah itu fungsi ke dua evaluasi adalah sebagai tolak ukur

untuk mengetahui seberapa besar tingkat keberhasilan dari program pengajaran

yang dilaksanakan. Kemudian sebagai bahan keperluan bimbingan dan konseling

merupakan fungsi evaluasi yang ke tiga. Selanjutnya fungsi evaluasi yang terakhir

adalah untuk keperluan perbaikan dan pengembangan kurikulum yang digunakan

oleh sekolah yang berdangkutan.

16
Martubi (2004: 12) menjelaskan bahwa evaluasi pembelajaran memiliki

fungsi yang strategis dan terbagi menjadi tiga, yaitu:

1) Fungsi evaluasi pembelajaran bagi Siswa

Bagi siswa, evaluasi berfungsi untuk mengatahui kemajuan belajar yang

selama ini sudah dilaksanakan. Selain itu juga sebagai sarana untuk

memberikan dorongan dan pengalaman belajar siswa.

2) Fungsi evaluasi bagi Guru

Bagi guru, evaluasi berfungsi untuk menyeleksi siwa dan memperkirakan

keberhasilan dari siswa tersebut. Mengetahui penyebab kesulitan belajar

siswa juga dibersamai dengan memberi bimbingan supaya siswa tersebut

mampu mengatasi kesulitan belajar yang dialami. Dalam pemberian pedoman

dalam mengajar, ketepatan metode mengajar dan juga mengelompokkan

peserta didik dalam kelas yang sesuai dengan tingkat kepandaiannya juga

menjadi fungsi evaluasi bagi guru.

3) Fungsi evaluasi bagi Lembaga/ Organisasi Pendidikan

Dengan adanya fungsi evaluasi, lembaga atau organisasi pendidikan juga

mendapatkan fungsinya yaitu untuk mempertahankan standar mutu

pendidikan yang sudah ada, menilai ketepatan kurikulum dan juga untuk

menilai kemajuan yang sudah dicapai oleh sekolah.

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun

2016, Standar Penilaian Pendidikan pada pasal 4 menjelaskan mengenai tujuan

dari penilaian, yaitu:

17
1) Penilaian_hasil belajar oleh pendidik bertujuan untuk memantau dan
mengevaluasi proses,kemajuan belajar, dan perbaikan hasil.belajar peserta
didik secara berkesinambungan.
2) Penilaian hasil belajarmoleh satuan pendidikan bertujuan untuk menilai
pencapaian Standar Kompetensi/Lulusan untuk semua mata pelajaran.
3) Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah_bertujuan untuk menilai
pencapaianLkompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu.
Suharsimi (2016: 18-19) menjelaskan tentang tujuan dan fungsi evaluasi

hasil belajar, yaitu:

1) Penilaian berfungsi selektif_

Dengan dilakukannya penilaian, guru dapat menyeleksi atau menilai peserta

didiknya. Penilaian ini mempunyai tujuan untuk memilih dan memilah

penerimaan peserta didik, kenaikan kelas peserta didik, pemberian beasiswa

kepada peserta didik dan juga memilih peserta didik yang dinyatakan.lulus.

2) Penilaian berfungsi diagnostik

Dengan melihat hasil dari penilaian siswa maka guru dapat mengetahui

kelemahan dan kelebihan siswa tersebut. diketahuinya kelemahan dan

penyebabnya, maka secara tidak langsung dalam pelaksanaan penilaian guru

melakukan diagnosis untuk kemudian mencari cara dalam mengatasi

kelemahan tersebut.__

3) Penilaian berfungsi sebagai penempatan

Fungsi penempatan dari penilaian digunakan untuk dengan benar

menentukan kelompok mana peserta didik tersebut ditempatkan. Penempatan

pengelompokan peserta didik dilakukan dengan menempatkan siswa yang

memiliki hasil-penilaian belajar yang sama pada kategorinya.

18
4) Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan--

Sebagai pengukur keberhasilan artinya adalah penilaian dapat digunakan

untuk mengetahui sejauh mana tujuan dari suatu program tersebut berhasil

dilakukan. Dalam hal ini pendidikan atau pembelajaran harus dilakukan

evaluasi, supaya tujuan dari proses pembelajaran tersebut dapat diketahui,

apakah sudah sesuai atau masih gagal dalam mencapai target sehingga dapat

diketahui penyebabnya dan kemudian dilakukan perbaikan.

Dapat disimpulkan apabila tujuan dari evaluasi hail belajar adalah untuk

mengetahui seberapa jauh keberhasilan dari tujuan pembelajaran tersebut dapat

dicapai oleh para peserta didik dalam jangka waktu satu periode tertentu. Sehingga

dengan diketahuinya keberhasilan tersebut, maka guru mampu untuk mengambil

suatu keputusan. Keputusan yang diambil oleh guru didasarkan pada hasil

evaluasi yang menampilkan kelemahan dan kelebihan dari peserta didik yang juga

berhubungan erat dengan materi dan metode pembelajaran yang digunakan.

Keputusan yang diambil oleh=guru juga akan menentukan keberhasilan

pembelajaran.berikutnya.

d. Prinsip-prinsip Evaluasi Hasil Belajar

Menurut Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 yang tercantum pada pasal

5 terdapat sembilan prinsip penilaian atau evaluasi hasil belajar. Prinsip-prinsip

yang harus dimiliki pada penilaian hasil belajar antara lain shahih yang berarti

berdasarkan pada kemampuan yang akan_diukur, objektif dan adil yang berarti

tidak terpengaruh oleh subjektivitas penilai serta tidak merugikan atau pun

menguntungkan peserta didik karena beberapa alasan. Prinsip lainnya yang harus

19
dimiliki adalah terpadu, terbuka, menyeluruh dan berkesinambungan yang berarti

penilaian merupakan kesatuan komponen yang tidak terpisahkan dari

pembelajaran, proses penilaiannya juga dapat diketahui oleh beberapa pihak yang

berkepentingan. Penilaian ini juga mencakup keseluruhan aspek kompetensi dan

menggunakan teknik penilaian yang sesuai untuk memantau dan mengetahui

perkembangan kemampuan peserta didik. Kemudian prinsip yang harus dimiliki

adalah akuntabel, sistematis dan beracuan pada kriteria.

Martubi (2004: 13) menyampaiakan supaya evaluasi pembalajaran dapat

digunakan dan berfungsi dengan sebagai mana mestinya, maka evaluasi tersebut

harus memiliki prinsip-prinsip, antara lain adalah menyeluruh/komprehensif,

berkesinambungan, objektif, valid, reliable dan edukatif. Menurut Suharsimi

(2016: 38) terdapat satu prinsip umum dan penting dalam evaluasi, yaitu

trianggulasi atau hubungan erat tiga komponen. Komponen yang termasuk dalam

trianggulasi yaitu tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran atau KBM dan

evaluasi. Triangulasi tersebut dapat digambarkan seperti berikut:

Gambar 3. Triangulasi Komponen Evaluasi

Penjelasan lebih lanjut dari gambar diatas pada Suharsimi (2016: 39)

adalah:

20
1) Hubungan antara tujuan dengan KBM

Sebelum melaksanakan kegiatan atau proses belajar mengajar penting untuk

adanya perencaan mengajar yang disusun oleh guru. Dalam bagan Triangulasi

ini, anak panah yang menunjuk hubungan antara KBM dengan tujuan belajar

yang bermakna jika KBM mengacu pada tujuan. Akan tetapi pada bagan,

panah juga mengarah dari tujuan ke KBM yang artinya dalam penyusunan

tujuan mengacu pada tujuan proses belajar.

2) Hubungan antara tujuan dengan evaluasi

Evaluasi merupakan suatu proses pengumpulan data yang bertujuan untuk

mengetahui sejauh mana tujuan belajar sudah tercapai. Oleh karena itu dalam

penyusunan alat dan teknik evaluasi harus didasarkan pada tujuan yang telah

direncanakan.

3) Hubungan antara KBM dengan evaluasi

Evaluasi yang dilakukan seharusnya tidak hanya berorientasi pada tujuannya

saja, melainkan juga disesuaikan dengan proses KBM. Misalnya dalam

proses pembelajaran yang dilaksanakan guru lebih berorientasi pada aspek

keterampilan, maka evaluasi yang dibuat juga harus mengukur aspek

keterampilan dari peserta didik.

Didapat dari diktat perkuliahan Penilaian Pembelajaran Kejuruan yang

diampu oleh Edy Supriyadi, prinsip-prinsip dasar evaluasi yang harus dimiliki

antara lain:

1) Memiliki tujuan yang jelasa


2) Sesuai dengan tujuan penggunanya__
3) Dapat digunakan untuk.meningkatkan belajar peserta didik

21
4) Menunjukkan-hubungan yang erat antara_prestasi atau hasil pembelajaran
dengan substansi yang dinilai
5) Memiliki keandalan setinggi mungkin dan diinterpretasikan dengan cermat.
6) Mamiliki validitas yang memadai
7) Mencakup,sampel tugas-tugas pembelajaran.secara representatif
Berdasarkan pemaparan beberapa para ahli dan Permendikbud diatas,

secara garis besar prinsip evaluasi merupakan acuan atau nilai yang seharusnya

diterapkan dan dilaksanakan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan evaluasi

yang bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman peserta didik

terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan sudah tercapai.

e. Langkah-langkah Evaluasi Hasil Belajar

Menurut Sudijono (2012: 59) dalam melaksaankan kegiatan evaluasi hasil

belajar dapat dilaksanakan dengan enam langkah pokok, yaitu:

1) Menyusun rencana evaluasi hasil belajar

Menyusun rencana evaluasi dilakukan untuk merumuskan tujuan

dilaksanakannya evaluasi. Sebelum melaksanakan evaluasi, penting untuk

menetapkan aspek apa saja yang akan dinilai, memilih dan menentukan

teknik evaluasi apa yang akan digunakan, menyusun alat pengukur evaluasi,

menetapkan tolak ukur dalam menginterpretasikan data hasil evaluasi, serta

menentukan frekuensi dari-evaluasi.

2) Menghimpun data evaluasi hasil belajar

Langkah selanjutnya setelah penyusunan rencana evaluasi hasil belajar

adalah dengan mengumpulkan atau menghimpun data dan melaksanakan

pengukuran.

22
3) Melakukan verifikasi data evaluasi hasil belajar

Setelah data terhimpun kemudian melakukan verifikasi dari data yang sudah

terkumpul dengan tujuan untuk mengethaui keabsahan data yang akan

dievaluasi.

4) Mengolah dan menganalisis data evaluasi hasil belajar

Data yang telah terverifikasi selanjutnya siap untuk diolah dan danalisis agat

memperoleh hasil yang baik.

5) Memberikan interpretasi dan menarik kesimpulan

Data yang telah selesai diolah dan dianalisis kemudian diinterpretasikan dan

selanjutnya dapat ditarik sebuah kesimpulan.

6) Tindak lanjut hasil evaluasi

Berdasarkan pada data evaluasi yang telah disusun, direncanakan, dihimpun,

diolah, dianalisis dan disimpulkan maka pada akhirnya evaluator akan

mampu untuk mengambil sebuah keputusan yang selanjutnya merumuskan

kkebijakan atau langkah yang dirasa perlu sebagai suatu bentuk tindak lanjut

dari kegiatan eveluasi yang telah dilaksanakan.

Permendikbud Nomor 23 tahun 2016 mengenai prosedur penilaian yang

terdapat dalam pasal 12, penilaian aspek pengetahuan dilakukan melewati

beberapa tahapan, yaitu:

1) Menyusun perencanaan.penilaian;
2) Mengembangkan,instrumen penilaian;
3) Melaksanakan-penilaian;
4) Memanfaatkan hasil!penilaian; dan
5) Melaporkan hasil penilaian_dalam bentuk angka.dengan skala 0-100 dan
deskripsi.

23
f. Teknik Evaluasi Hasil Belajarai

Terdapat beberapa teknik evaluasi hasil belajar yang bisa digunakan oleh

guru dalam mengevaluasi peserta didiknya. Ruhimat, dkk (2013: 56-57)

menyampaikan jika teknik evaluasi dapat dikelompokan kedalam dua jenis, yaitu:

1) Teknik tes

Tes biasanya difungsikan guna mengukur tingkat kemampuan peserta didik

pada aspek kognitif (pengetahuan) atau tingkat penguasaan materi yang hasil

dari teknik tes ini biasanya diolah secara kuantitatif. Pelaksanaan proses tes

hasil belajar dilakukan ketika telah menyelesaikan satu pokok bahasan.

2) Teknik non-tes

Teknik penilaian non-tes biasanya digunakan untuk mengukur tingkat

kemampuan peserta didik pada aspek tingkah laku termasuk minat, sikap dan

motivasi.

Anas Sudijono (2012: 65) juga menyampaikan hal yang sama mengenai

teknik dalam mengevaluasi hasil belajar, yaitu teknik tes dan non-tes. Teknik tes

merupakan cara atau prosedur yang perlu dilalui dalam rangka penilaian dan

pengukuran bidang pendidikan. Tes dapat berupa pemberian tugas atau

serangkaian tugas yang meghasilkan nilai untuk melambangkan prestasi atau

tingkah laku testee. Kemudian teknik non-tes melakukan penilaian atau evaluasi

hasil belajar peserta didik tanpa menguji pesesrta didik. Cara yang dilakukan pada

teknik ini adalah dengan melakukan pengamatan secara sistematis (observation),

melakukan wawancara (interview), angket (questionnare), dan memeriksa atau

menilai dokumen (documentary analysis).

24
2. Tinjauan tentang Tes Sebagai Alat Evaluasi Belajar

a. Pengertian Tes

Menurut Suharsimi (2016: 67) tes merupakan alat atau prosedur yang

dipakai guna mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, cara dan

beberapa aturan sebelunya sudah ditentukan. Bachman (1990) mengamati bahwa

tes adalah salah satu jenis instrumen pengukuran oleh karena itu tes mengukur

karakteristik individu sesuai dengan prosedur. Sedangkan F.L Goodenough dalam

Anas Sudijono (2012: 67) menyampaikan jika tes merupakan sesuatu atau

serangkaian tugas yang diberikan kepada individu atau sekelompok individu yang

memiliki tujuan untuk membandingkan kompetensi mereka antara satu dengan

yang lainnya.

Ngalim Purwanto (2017: 33) menyampaikan apabila tes hasil belajar atau

achievement test digunakan untuk menilaiZhasil-hasil pelajaran yang telah

diberikan oleh pengajar atau guru terhadap para peserta didiknya, atau dosen

terhadap mahasiswanya pada jangka waktu tertentu.

Anas Sudijono (2012: 67) menyebutkan tes merupakan pemberian tugas

kepada testee yang harus dikerjakan dalam suatu cara atau prosedur pengukuran

dan penilaian untuk memperoleh data yang menghasilkan nilai untuk

menunjukkan prestasi atau tingkah laku testee. Selanjutnya nilai yang telah

didapatkan dapat dibandingkan dengan standar nilai tertentu.

Berdasarkan pemaparan para ahli tersebut maka dapat disimpulkan jika tes

merupakan suatu alat yang digunakan dalam evaluasi guna mengetahui

kemampuan atau kompetensi peserta didik. Pelaksanaannya dilakukan dengan

25
memberikan tugas kepada peserta didik yang kemudian hasilnya menjadi acuan

untuk memberikan nilai dalam periode waktu tertentu.

b. Fungsi Tes Hasil Belajar

Menurut Anas Sudijono (2012: 67) sebagai alat pengukur serta alat untuk

mengukur keberhasilan peserta didik pada program pembelajaran yang telah

terlaksana merupakan fungsi dari tes hasil belajar. Selain itu menurut Suharsimi

(2016: 165-166) fungsi dari tes dapat ditinjau dari tiga hal, yaitu:

1) Bagi kelas, berguna untuk mendiagnosis kesulitan belajar, peningkatan prestasi

dan pengelompokan peserta didik yang selanjutnya dilakukan bimbingan.

2) Untuk bimbingan berarti tes berfungsi mengarahkan peserta didik maupun

orang tua peserta didik dalam hal mengatasi masalah kesulitan belajar yang

dialami agar mencapai tujuan dan mampu menentukan pilihan peserta didik

selanjutnya.

3) Untuk administrasi artinya tes berfungsi guna keperluan seleksi peserta didik

baru, perbaikan pembelajaran dan kurikulum yang berlaku serta memberikan

dan menyediakan informasi kepada para pihak yang terkait.

c. Bentuk Tes Hasil Belajara

Bentuk dari tes hasil belajar mempengaruhi hasil akhir dari evaluasi yang

diberikan kepada peserta didik. Secara umum, bentuk tes hasil belajar dapat

terbagi menjadi_dua, yaitu:

26
1) Ditinjau dari segi kegunaan..

a) Tes formatif

Anas Sudijono (2012: 71) menyampaikan tes formatif adalah tes hasil

belajar yang bertujuan guna mengetahui seberapa jauh peserta didik telah

terbentuk sesuai dengan tujuan pengajaran yang ditentukan setelah mengikuti

proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Semantara itu Ngalim

Purwanto (2017: 26) menjelaskan penilaian fomatif adalah penilaian yang

bertujuan mencari umpan balik (feedback). Kemudian hasilnya dapat

digunakan dalam memperbaiki proses belajar- mengajar yang sedang atau telah

dilaksanakan.

Tes formatif dapat dilakukan pada saat proses pembelajaran sedang

berlangsung dan berakhirnya satu pokok bahasan tertentu. Hasil dari tes

formatif ini dapat menjadi acuan tindak lanjut, apabila hasil tes menunjukkan

penguasaan materi sudah baik maka dapat melanjutkan ke materi berikutnya,

namun jika hasil yang diperoleh sebaliknya maka ada bagian-bagian yang

dapat diulang atau dijelaskan kembali kepada pesert didik.

b) Tes sumatif.

Anas Sudijono (2012: 72) mengemukakan tes sumatif merupakan tes

hasil belajar yang dilaksanakan setelah serangkaian atau sekumpulan satuan

program pengajaran selesai diberikan. Menurut Ngalim Purwanto (2017: 26-

27) penilaian sumatif adalah penilaian yang dilaksanakan untuk memperoleh

data atau informasi mengenai penguasaan atau pencapaian belajar siswa

terhadap bahan pelajaran yang telah dipeajari selama jangka waktu tertentu.

27
Tujuan dan fungsi utama dari tes sumatif adalah untuk menentukan

pencapaian hasil akhir dari pembelajaran dan penentuan nilai akhir pada

periode waktu tertentu, sehingga dapat untuk menentukan kedudukan peserta

didik di dalam kelompok dan laporan kemajuan peserta didik kepada orang tua

atau pihak terkait lainnya.

c) Tes diagnostik

Anas Sudijono (2012: 70) menuturkan jika tes diagnostik merupakan tes

yang dilakukan gunna menentukan dengan akurat dan tepat jenis kesulitan apa

yang dialami oleh peserta didik dalam proses pembelajaran yang berlangsung

pada suatu mata pelajaran tertentu. Sejalan dengan hal-tersebut, didapatkan

dari diktat perkuliahan Penilaian Pembelajaran Kejuruan oleh Edy Supriyadi,

tes diagnostik merupakan sebuah tes yang dilakukan untuk dapat menentukan

penyebab-penyebab baik pada aspek intelektual, fisik, emosi, maupun

lingkungan kesulitan belajar yang seringkali ditemui oleh peserta didik.

Pertanyaan pada tes ini biasanya termasuk dalam kategori sukar untuk

dikerjakan atau dipahami, tujuannya adalah supaya guru dapat mengetahui

kelemahan peserta didik. Apabila hasil tes menunjukkan termasuk dalam

kategori rendah, maka guru dapat memutuskan untuk melakukan bimbingan

khusus terhadap siswa tersebut untuk memperbaiki penguasaan materi belajar

oleh peserta didik.

28
2) Ditinjau dari segi sistem penskoran...

a) Tes subjektif

Suharsimi (2016: 177) menjelaskan yang dimaksud dengan tes subjektif

adalah tes yang pada umumnya berbentuk essai atau uraian yang membutuhkan

jawaban yang sifatnya berupa pembahasan atau uraian kata-kata. Tes uraian

atau essai (essay test) atau yang seringkali juga dikenal dengan istilah tes

subjektif (subjective test) merupakan salah satu jenis tes yang memiliki

karakteristik menurut Anas Sudijono (2012: 99) berupa pertanyaan atau

perinyah yang jawabannya berupa uraian atau penjelasan kalimat yang pada

umumnya cukup panjang. Karakteristik lainnya adalah bentuk pertanyaan atau

perintah terhadap testee menuntut jawaban yang berupa pemberian penjelasan,

penafsiran, komentar, membandingkan, membedakan dan lain sebagainya.

Pada umumnya butir soal pertanyaan tes uraian diawali dengan kata-kata

“Uraikan..”, “Jelaskan...”, “Mengapa...”, atau kata lain yang serupa dengan itu.

Menurut Suharsimi (2016: 178) tes subjektif juga memiliki beberapa

kelebihan antara lain adalah mudah disiapkan dan disusun. Kelebihan lainnya

memberi dorongan kepada peserts didik untuk mengemukakan pendapatnya

dengan menggunakan kalimat yang bagus dan lugas dengan gaya bahasa

mereka sendiri. Kemudian kelebihan soal tes subjektif berikutnya adalah tidak

memberi banyak ruang untung berspekulasi terhadap peserta didik sehingga

dapat megetahui seberapa jauh peserta didik tersebut mendalami masalah yang

sedang diujikan.

29
Beberapa kekurangan yang dimiliki tes subjektif antara lain kadar

reliabilitas dan validitas_yang rendah sehingga kurang merepresentasikan pada

seluruh bagian pelajaran yang diujikan. Kekurangan lainnya adalah banyaknya

pengaruh subjektif pada saat pemeriksaan jawaban dan membutuhkan banyak

pertimbangan individual dari penilai yang tidak dapat diwakilkan oleh orang

lain sehingga membutuhkan waktu pemeriksaan yang lama.

Dapat disimpulkan apabila tes subjektif adalah tes yang mampu

memberikan peserta didik kebebasan saat menjawab soal dalam bentuk uraian

sesuai dengan perintah yang terdapat pada pertanyaan. Pemberi skor pada tes

subjektif sangat mempengaruhi hasil penilaian.

b) Tes objektif

Menurut pendapat Suharsimi (2016: 179) untuk mengurangi

kelemahan-kelemahan yang terdapat pada tes subjektif dalam pemeriksaannya

maka dapat dengan menggunakan tes objektif sehingga penilaian dan

pemeriksaan itu dilakukan secara objektif. Adapun menurut Anas Sudijono

(2012: 106) tes objektif merupakan salah satu jenis tes yang menggunakan atau

terdiri dari butir-butir soal (items) /yang dapat dipilih oleh peserta tes. Terdapat

empat macam tes objektif menurut Suharsimi (2016: 181-190) yaitu tes benar-

salah (true-false), tes pilihan ganda (multiple choice test), menjodohkan

(matching test), dan tes isian (completion test).

Kelebihan tes objektif yang dikemukakan oleh Suharsimi (2016: 180)

adalah lebih mudah dan cepat pemeriksaannya karena menggunakan kunci

jawaban tes bahkan pemeriksaan juga dpat dilakukan menggunakan alat hasil

30
kemajuan teknologi. Selain itu tes objektif juga leih mampu dalam

merepresentasikan isi dan dapat mengurangi unsur-unsur subjektif baik dari

peserta didik maupun guru sebagai pemeriksa.

Kekurangan yang dimiliki oleh tes objektif antara lain banyak soal yang

harus diteliti untuk mengurangi dan menghindari kelemahan-kelemahan

sehingga dalam persiapan menyusunnya jauh lebih sulit daripada tes subjektif.

Pada soal tes objektif sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi karena

lebih mengandalkan daya ingat dan pengenalan saja. Selain itu juga banyaknya

kesempatan peserta tes untuk memperoleh jawaban secara untung-untungan

dan bekerjasama dengan peserta tes lainnya.

d. Langkah-langkah Penyusunan Tes

Dalam merumuskan perencanaan ataupun penyusunan tes maka diperlukan

langkah-langkah yang harus dilakukan. Suharsimi (2016: 167) menampaikan

terdapat beberapa langkah dalam penyusunan sebuah tes secara umum yaitu

sebagai berikut:

1) Menentukan tujuan diadakannya sebuah tes.

2) Membuat batasan terhadap bahan atau materi yang akan dijadikan tes.

3) Merumuskan tujuan instruksional secara khusus pada tiap bagian.

4) Menyusun tabel persiapan yang didalamnya memuat pokok materi dan

penulisan soal yang juga didasarkan pada aspek perilaku.

Sementara itu tidak jauh berbeda, Ngalim Purwanto (2017: 31)

mengemukakan langkah-langkah penyusunan soal, yaitu sebagai berikut:

1) Menentukan dan atau merumuskan tujuan tes,

31
2) Mengidentifikasi hasil belajar (learning outsomes) apa saja yang akan diukur

dari tes tersebut

3) Menentukan dan atau menandai hasil-hasil belajar secara spesifik.

4) Merinci mata pelajaran/ bahan pelajaran yang.akan diukur.

5) Menyiapkan tabel.spesifikasi.

6) Menggunakan tabel spsifikasi tersebut sebagi dasaar penyusunan tes.

e. Ciri-ciri Tes yang Baik

Sebuah tes dapat dikatakan berfungsi dengan baik sebagai alat pengukur

apabila mampu memenuhi beberapa persyaratan. Menurut Suharsimi (2016: 72)

ciri tea yang baik yaitu bisa memenuhi persyaratan yang berupa validitas,

reliabilitas, objektivitas,Kpraktibilitas dan ekonomis.. Adapun penjelasannya

adalah sebaga berikut:

1) Validitas

Validitas artinya tes yang diberikan sudah sesuai atau tepat dengan fungsinya

sebagai alat pengukur prestasi hasil belajar dari peserta didik.

2) Reliabilitasss

Reliabilitas artinya tes yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan

keajegannya. Maksudnya adalah apabila tes diberikan atau diujikan beberapa

kali akan tetap memberikan hasil yang relatif sama,. oleh karena itu tes_dapat

dikatakan reliabel.

3) Objektivitase

Suatu tes dikatakan mempunyai objektivitas apabila tidak adanya unsur-unsur

subjektif yang mempengaruhi soal pada saat dilaksanakan.

32
4) Praktibilitas

Praktibilitas pada suatu tes adalah apabila tes tersebut memiliki sifat yang

praktis dan mudah pada proses pelaksanaan maupun pengadministrasianya

sehingga tes tersebut tidak memerlukan proses yang rumit. Tes yang praktis

merupakan tes yang dalam pelaksanaa dan pemeriksaannya mudah serta

dilengkapi .petunjuk yang jelas dan mudah untuk dipahami.

5) Ekonomis

Suatu tes dapat dikatakan memiliki nilai ekonomis apabila dalam

pelaksanaannya. tidak memerlukan bnyak biaya, tenaga dan waktu ynag

lama.

3. Tinjauan tentang Analisis Butir Soal

a. Pengertian Analisis Butir Soala

Mengevaluasi tes hasil belajar peserta didik merupakan salah satu upaya

efektif yang bermanfaat guna memperbaiki proses belajar mengajar. Menurut

Suharsimi (2016: 220) analisis soal (item analysis) ialah suatu prosedur yang

sistematis dan akan memberikan informasi yang spesifik dan khusus terhadap

butir soal yang disusun.

Menurut Arifin (2016: 246) analisis kualitas tes adalah suatu tahapan yang

harus dilakukan untuk mengetahui derajat kualitas tes,baik secara keseluruhan

ataupun pada tiap butir soal yang menjadi bagianAdariAtes tersebut.

Berdasarkan pendapat dari kedua sumber maka dapat diambil kesimpulan

bahwa analisis butir soal merupakan suatu proses yang tersusun secara sistematis,

33
bertujuan untuk mencari dan memastikan apabila soal-soal yang digunakan untuk

tes merupakan soal yang berkualitas baik.

b. Manfaat Analisis Butir Soal

Manfaat dari analisis butir soal yang dilakukan adalah dapat meningkatkan

kualitas butr soal selain validitas dan reliabilitas juga meliputi tiga aspek lainnya

yaitu tingkat kesukaaran, daya beda dan efektivitas pengecoh. Dengan

diadakannya analisis butir soal ini juga dapat mengethui kualitas dari setiap butir

soal yang diujikan apakah sudah berfungsi dengan baik atau belum sehingga

nantinya dapat sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan atau revisi.

Perbaikan atau revisi dilakukan kepada soal-soal yang masib belum relevan

dengan materi pengejaran, ditandai oleh banyaknya peserta didik yang tidak

mampu untuk menjawab butir soal tersebut secara benar. Selain itu manfaat yang

berikutnya adalah dapat memilih dan memilah kemudia menyimpan butir soal

mana yang sudah memiliki kualitas baik ke bank soal untuk kemudian dapat

digunakan kembali pada tes berikutnya dengan beberapa pengembangan.

c. Teknik Analisis Butir Soal

Tes diharapkan mampu menampilkan hasil yang objektif dan akurat dalam

peranannya sebagai alat evaluasi hasil belajar. Analisis kualitas butir tes

merupakan langkah yang harus dilaksanakan yang bertujuan untuk mengetahui

derajat kualitas soal testersebut. Adapun pembuat soal pada analisis butir soal

dapat melakukan dua jenis analisis, yaitu analisis secara teoritik (kualitatif) dan

empirik (kuantitatif), yang penjelasannya adalah sebagai berikut:

34
1) Analisis teoretik

Analisis soal teoretik atau kualitatif menurut Mardapi (2007: 140) dilakukan

sebelum pengujian dilaksanakan, yaitu dengan mencermati atau menelaah butir-

butir soal yang telah disusun kemudian melihat kesesuaian butir soal, dengan

kemampuan dasar dan indikator soal yang akan diukur. Pada analisis secara

teoretik juga melihat apakah soal tersebut sudah memenuhi prasayarat yang dilihat

dari aspek materi, bahasa dan konstruksi.

Dalam analisis butir soal secara teoretik pada soal pilihan ganda terdapat

kaidah penulisan soal yang merupakan petunjuk atau pedoman yang harus

digunakan. Kaidah penulisan ini digunakan oleh penulis agar soal yang digunakan

mempunyai kualitas atau mutu yang baik. Soal dapat dikatakan memiliki mutu

yang baik apabila mampu untuk menjaring informasi yang dibutuhkan dalam soal

secara optimal. Kaidah penulisan soal menurut BSNP (2010: 4-6) yang meliputi

aspek isi atau materi, konstruksi soal dan bahasa adalah sebagai berikut:

a) Aspek materi

Validitas dari segi materi atau isi dilihat melalui hubungan antara isi dari tes

dengan konstrak yang akan diukur. Isi tes mengacu terhadap tema, kata-kata,

format butir,.tugas atau pertanyaan pada tes (Mardapi, 2007:17). Soal yang

baik adalah antara soal dengan indikator atau konstruk memiliki kesesuaian

sehingga pada soal harus menanyakan materi dan perilaku sesuai dengan

tuntutan yang terdapat dalam indikator. Alternatif jawaban harus bersifat

homogen dan logis dilihat dari aspek materi. Alternatif jawaban juga

seharusnya berasal dari materi yang sama seperti pada pokok soal. Penulisan

35
alternatif jawaban yang setara juga harus dilakukan supaya seluruh alternatif

atau pilihan jawaban dapat berfungsi secara baik. Pada soal yang baik dalam

segi materi, harus memiliki satu jawaban soal yang paling benar pada setiap

soal sehingga akan hanya ada satu kunci jawaban di masing-masing soal.

b) Aspek konstruksi

Soal dapat dikatakan baik pada aspek konstruksi apabila dapat memenuhi

prasayarat seperti berikut ini:

 Pokok soal dirumuskan.secara jelas dan tegas, artinya materi yang ada

pada soal harus ditanyakan secara jelas dan tidak mengandung pengertian

ganda sehingga hanya mempunyai satu permasalahan pada tiap soal

 Rumusan soal dan pilihan atau alternatif jawaban harus berisi pernyataan

yang hanya dibutuhkan saja

 Soal yang ditanyakan tidak memberi petunjuk apapun ke arah pilihan

jawaban benar

 Pokok soal tidak boleh mengandung dua pernyataan negatif ganda, artinya

tidak boleh sampai ada dua atau lebih kata yang bersifat negatif untuk

mencegah terjadinya salah penafsiran soal oleh peserta tes

 Alternatif jawaban yang ada harus logis dan homogen dilihat dari segi

materi, artinya semua alternatif jawaban harus sesuai dengan materi yang

ditanyakan pada pokok soal, penulisannya harus setara dan harus berfungsi

semuanya

36
 Alternatif jawaban tidak mengandung sebuah pernyataan. Seperti

contohnya alternatif jawaban yang memiliki pernyataan “semua jawaban

di atas benar” atau “semua jawaban di atas salah”

 Panjang alterntif jawaban harus relatif sama, artinya ada kecendurungan

bagi peserta tes untuk memilih alternatif jawaban yang panjang karena

seringkali dinilai lebih panjang, lebih lengkap ataupun sebaliknya dan

dianggap merupakan kunci jawaban

 Alternatif jawaban yang berupa angka atau waktu harus disusun atau

diurutkan berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka atau urutan

kronologi waktu. Pengurutan angka dilakukan dari nilai yang terkecil ke

nilai terbesar ataupun sebaliknya, dan pengurutan waktu berdasarkan

kronologi waktu. Hal ini dilakukan guna mempermudah peserta tes dalam

melihat alternatif jawaban

 Apabila terdapat gambar, tabel diagram atau grafik dan sejenisnya pada

pokok soal haruslah jelas dan berfungsi dengan baik. Hal tersebut berarti

apa saja yang terdapat pada soal harus ditanyakan dengan jelas, terbaca

dan dapat dimengerti oleh peserta tes. Jika soal dapat terjawab tanpa harus

melihat gambar, grafik atau tabel dan sejenisnya maka itu berarti gambar,

tabel diagram atau grafik dan sejenisnya tidak berfungsi dalam soal

tersebut

 Butir soal tidak tergantung dengan alternatif jawaban butir soal

sebelumnya karena sangat dikhwatirkan apabila peserta tes yang tidak

37
dapat menjawab soal sebelumnya dengan benar tidak akan menjawab soal

berikutnya dengan benar

c) Aspek bahasa

Soal dapat dikatakan baik dilihat dari segi aspek bahasa apabila:

 Pada setiap butir soal harus menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai

dengan kaidah penulisan

 Bahasa yang digunakan harus komunikatif dan mudah dimengerti atau

dipahami oleh peserta tes

 Tidak menggunakan bahasa daerah setempat yang berlaku apabila akan

digunakan untuk beberapa daerah atau secara nasional

2) Analisis Empirik

Analisis soal secara empirik atau kuantitatif lebih menekankan pada analisis

karakteristik tes melalui data yang telah didapatkan secara empiris dari soal yang

sudah diujikan terhadap peserta didik. Data yang telah diperolah kemudian

ditampilkan dalam bentuk angka. Dua pendekatan yang digunakan pada analisis

butir secara kuantitatif atau empirik antara lain melalui pendekatan secara teori tes

klasik dan respon butir.

a) Teori tes klasik

Penelaahan butir soal melalui informasi yang didapatkan dari jawaban peserta

didik yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas butir soal tersebut merupakan

pengertian analisis butir soal secara klasik. Dalam teori tes klasik menurut Smith

(2016:6) skor total pada tes memberikan perkiraan kemampuan dari seseorang.

Biasanyan skor pada pengukuran dalam teori tes klasik biasanya adalah jumlah

38
item dari peserta tes yang menjawab benar. Pada pengukuran tes klasik, Dali S

Naga (1992: 4-6) menyebutkan jika kelompok butir yang sama akan diisi oleh

kelompok peserta yang sama. Artinya jumlah skor akhir nantinya bergantung

pada soal dan peserta tes.

Menurut Hambleton & Swaminathan (1985:310) prosedur analisis tes klasik

sangat kuat, dan mudah dipahami. Selain itu menurut BSNP (2010:9) kelebihan

dari analisis butir soal secara klasik adalah dapat dilakukan=dengan cepat

menggunakan komputer, mudah, sederhana, familiar dan dapat menggunakan

data dari beberapa peserta_didik atau sampel kecil. Pada analisis butir soal

secara klasik terdapat beberapa aspek yang diperhatikan. Setiap butir soal akan

dianalisis baik dari aspek reliabilitas, daya beda, tingkat kesukaran dan

efektivitas pengecoh.

b) Teori respon butir

Teori respon butir pada analisis butir soal atau lebih dikenal dengan istilah

Item Response Theory (IRT) pada dasarnya dipakai dalam memperbaiki

kelemahan yang ada pada teori tes klasik. Kelemahannya yaitu ketergantungan

ciri peserta pada kelompok butir tes (Dali, 1992: 160). Teori respon butir

merupakan bentuk pengukuran modern yang biasanya digunakan pada analisis

butir soal dengan menggunakan model matematis untuk menghubungkan

karakteristik butir soal terhadap kemampuan responden yang digambarkan

melalui kurva karakteristik butir soal.

Analisis butir dengan IRT dapat menggunakan model logistik satu, dua dan

tiga parameter yang diterapkan pada tes kognitif. Menurut Hambleton dalam

39
Firmanto (2016:65) nama model disesuaikan dengan banyaknya jumlah

parameter yang digunakan. Parameter yang dimaksud adalah taraf kesukaran

item, daya diskriminasi item dan tebakan semu. Hubungan antara perfomansi

responden terhadap item membentuk suatu fungsi yang disebut Item

Characteristic Curve (ICC).

Persamaan ICC model logistik satu parameter dapat menggunakan rumus:

𝑒 (𝜃−𝑏𝑖)
𝑃𝑖 () =
1 + 𝑒 (𝜃−𝑏𝑖)

Pi () merupakan probabilitas responden terpilih secara random,  adalah

responden yang menjawab item i dengan benar. Kemudian bi merupakan tingkat

kesukaran item i, dan e adalah nilai 2,718. Semakin besar nilai parameter bi maka

semakin besar abilitias yang diperlukan bagi responden menjawab item benar

dengan peluang sebesar 50%. Parameter bi merupakan titik pada kontinum

abilitas (Hambleton:1991).

Selanjutnya persamaan ICC model logistik dua parameter dapat

menggunakan rumus:

𝑒 𝐷𝑎𝑖(𝜃−𝑏𝑖)
𝑃𝑖(𝜃) =
1 + 𝑒 𝐷𝑎𝑖(𝜃−𝑏𝑖)

Persamaan tersebut menggunakan dua parameter, dimana D = 1,7 dan ai

merupakan parameter diskriminasi item sedangkan parameter lain yang

digunakan adalah parameter bi. Parameter diskriminasi adalah kemampuan item

untuk membedakan responden dengan tingkat abilitas tinggi dan rendah. Grafik

40
yang dihasilkan akan lebih curam apabila harga ai menunjukkan angka yang

tinggi.

Kemudian perumusan matematis untuk model logistik tiga parameter adalah

sebagai berikut:

𝑒 𝐷𝑎𝑖(𝜃−𝑏𝑖)
𝑃𝑖(𝜃) = 𝑐𝑖 + (1 − 𝑐𝑖)
1 + 𝑒 𝐷𝑎𝑖(𝜃−𝑏𝑖)

Terdapat parameter baru yaitu ci atau pseudochance level yang akan

menunjukkan probabilitas responden dengan kemampuan rendah menjawab

item dengan benar (Hambleton:1991).

Berikut ini merupakan grafik Item Characteristic Curve (ICC) dua item pada

model logistik Satu, Dua dan Tiga Parameter menurut Hambleton &

Swaminathan (1985:28):

Gambar 4. ICC Dua Item Pada Model Logistik Satu, Dua dan Tiga Parameter
d. Analisis Kualitas Butir Soal

Untuk memperoleh soal dengan kualitas yang baik maka diperlukan

beberapa tahapan atau proses yang harus dilalui. Tahapan yang harus dilalui antara

lain adalah proses pembuatan soal yang harus sesuai dengan prosedur penyusunan

soal diawali dari proses perencanaan, pembuatan, pelaksanaan sampai dengan

proses evaluasi. Soal yang telah dibuat hendaknya dilakukan analisis karena dirasa

41
perlu supaya memastikan apakah soal yang dibuat dan diujikan termasuk ke dalam

soal yang memiliki kualitas baik dan layak untuk dijadikan alat ukur penilaian

bagi peserta,didik. Analisis soal yang dapat dilakukan meliputi:0000

1) Validitas

Menurut Ngalim Purwanto (2017: 137) validitas atau kesahihan dapat

diartikan sebagai kualitas-yang menunjukkan hubungan antara tujuan kriteria

belajar dengan pengukuran (diagnosis). Sementra itu Anderson dalam Suharsimi

(2016: 80) menyebutkan apabila sebuah tes dapat dikatakan valid jika mampu

mengukur apa.yang hendak diukur.aa

Validitas suatu tes mengacu pada tingkat kebenaran penafsiran skor tes

tersebut (Mardapi, 2007:17). Perlu diketahui, penafsiran skor ini berdasarkan pada

tujuan tes tersebut dibuat. Menurut Cronbanch dalam Mardapi (2007:17)

sebenarnya bukan validasi tes yang menjadi tujuan, tetapi melakukan validasi

terhadap intrepretasi data yang terkumpul dari suatu prosesdur tertentu. Ketepatan

intrepretasi hasil suatu tes berdasarkan pada bukti-bukti yang mendukung sesuai

dengan tujuan dilakukannya tes. Bukti validitas suatu tes terbagi menjadi empat

kelompok, yaitu bukti berdasarkan isi tes, prosesarespons, struktur internal dan

hubungan terhadap variabel lain.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut maka dapat disimpulkan apabila

validitas merupakan salah satu aspek atau syarat yang harus terpenuhi oleh sebuah

tes dalam ketepatannya mengukur hal yang.seharusnya diukur oleh tes tersebut.

42
Anas Sudijono (2012: 163) membagi validitas menjadi 2 macam, yaitu:

a) Validitas tes

Validitas tes terdiri dari 2 macam, yaitu validitas rasional dan validitas

empirik. Validitas tes digunakan dalammmengukur tes secara keseluruhan.

Menurut Anas Sudijono (2012: 164) validitas rasional dapat dimiliki oleh sebuah

tes apabila tes tersebut secara rasional mampu untuk mengukur apa yang

seharsunya diukur dengan tepat. Validitas rasional diperoleh melalui hasil

pemikiran atau penalaran, atau dapat dikatakan diperoleh dengan berpikir logis.

Kemudian Anas Sudijono (2012: 167) mengemukakan validitas empirik

adalah ketepatan mengukur yang didasarkan pada hasil analisis yang bersifat

empirik. Apabila sebuah tes sudah diuji dari pengalaman maka tes tersebut sudah

dapat dikatakan memiliki validitas empirik.

b) Validitas item

Anas Sudijono (2012: 182) mengemukakan bahwa validitas item

merupakan ketepatan dalam mengukur apa yang seharusnya diukur pada sebutir

soal atau item. Selain itu menurut Suharsimi (2016: 90) validitas item digunakan

untuk mengetahui manakah dari keseluruhan soal tersebut yang menyebabkan

sebuah tes memiliki validitas yang rendah. Untuk menghitung validitas item

dapat menggunakan rumus sebagai berikut:

𝑀𝑝 − 𝑀𝑡 𝑝
 𝑏𝑝𝑖 = √
𝑆𝑡 𝑞

Keterangan:

 bpi : koefisien korelasi point biseral

43
Mp : rerata skor dari subjek yang menjawab betul bagi item
yang dicari validitasnyaa
Mt : rerata skor total
St : standar deviasi dari skor total
p : proporsi peserta didik yang menjawab benar
𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 peserta didik 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟
(𝑝 = )
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ peserta didik
q : proporsi peserta didik menjawab salah (𝑞 = 1 − 𝑝)
(Suharsimi, 2016: 93)

Indeks korelasi point biserial (ybpi) yang diperoleh dari hasil perhitungan

kemudian dibandingkan dengan harga r tabel pada taraf signifikansi 5% sesuai

dengan jumlah peserta tes. Jika nilai ybpi > r tabel maka butir soal tersebut

termasuk valid, begitu pula sebaliknya. Pada penelitian ini menggunakan bukti

validit as berdasarkan proses respons, dimana bukti ini merupakan kesesuaian

antara konstrak dengan respons peserta tes yang dalam hal ini merupakan pilihan

jawaban dari peserta tes.

2) Reliabilitas

Menurut Ngalim Purwanto (2017: 139) reliabilitas atau keandalan

merupakan ketetapan atau ketelitian dari suatu alatMevaluasi yang dapat

dipertanggungjawabkan sejauh mana tes tersebut dapat dipercaya. Kemudian

Suharsimi (2016: 74) menyebutkan sebuah tes dapat memiliki realibilitas apabila

jika dilakukan selama berulang kali pada waktu yang berbeda, pengujian tersebut

menunjukkan hasil yang relatif sama atau tidak adanya perubahan signifikan.

Dapat disimpulkan apabila realibilitas merupakan salah satu aspek yang harus

dimiliki oleh tes dalam hal kepercayaan dan ketetapan soal untuk bisa diujikan

44
kepada peserta tes. Terdpat 3 macam metode yang dapat digunakan dalam

menghitung realibilitas dapat, yaitu:

a) Metode bentuk paralel (equivalent)

Dengan metode ini perhitungan reliabilitas berasal dari dua buah tes yang

paralel dimana tujuan, tingkat kesukaran, dan susunan tes memiliki keasamaan

antara satu dengan yang lainnya namun butir soalnya berbeda. Metode ini

diujikan terhadap kelompok peserta didik yang sama yang hasilnya kemudian

dikorelasikan dengan nilai koefisien. Apabila memperoleh nilai tinggi maka tes

paralel tersebut termasuk reliabel.

b) Metode tes ulang (test-retest method)

Pada metode tes ulang, satu seri soal diujikan sebanyak dua kali dalam

waktu yang berbeda kepada kelompok peserta tes yang sama. Hasil dari dua kali

pengujian tersebut kemudian dikorelasikan agar mendapat nilai reliabilitas. Pada

umumnya pengujian yang kedua mendapatkan hasil yang lebih baik daripada

pengujian pertama.

c) Metode belah dua (split-half method)

Metode ini hanya melakukan satu kali pengujian terhadap satu kelompok

peserta didik yang dibagi menjadi dua pada waktu tertentu. Pada metode ini

dapat menggunakan rumus K-R 20 untuk mencari nilai reliabilitas dalam tes

bentuk objektif. Rumus K-R 20 adalah sebagai berikut:

𝑛 𝑆 2 ∑ 𝑝𝑞
𝑟11 = ( )( )
𝑛−1 𝑆2

Keterangan:

45
r11 : reliabilitas tes secara keseluruhan
p : proporsi subjek yang menjawab item dengan benar
q (q=1.p) : proporsi subjek yang menjawab item dengan salah
pq : jumlah hasil perkalian p dan q
n : banyak item
S : standar deviasi dari tes
(Suharsmi, 2016: 115)

3) Tingkat kesukaran

Kriteria soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu muadh atapu terlalu

sukar. Soal yang terlalu sukar akan membuat peserta.didik merasa mudah putus

asa dan kurang termotivasi untuk belajar karena soal tersebut melebihi jangkauan

kemampuannya. Begitupun apabila soal terlalu mudah maka peserta ddik tidak

akan termotivasi meningkatkan usahanya untuk belajar lebih. Perbandingan

tingkat kesukaran yang ideal antara soal mudah : sedang : sukar adalah

30%:50%:20%. Tingkat kesukaran dapat ditentukan sesuai indeks dengan

menggunakan rumus sebagai berikut:

(𝑊𝐿 + 𝑊𝐻)
𝑇𝐾 =
(𝑛𝐿 + 𝑛𝐻)10

Keterangan:

TK : indeks kesukaran/tingkat kesukaran


WL : banyaknya kelompok.bawah menjawab soal salah
WH : banyaknya kelompok unggul.yang menjawab soal salah
nL : jumlah kelompok bawah
nH : jumlah kelompok unggul
(Zainal Arifin, 2012: 342)

4) Daya pembeda

Menurut Suharsimi (2016: 226) daya pembeda soal adalah kemampuan

suatu butir soal tes hasil belajaradalam membedakan antaravpeserta didik yang

46
berkemampuan rendah dengan yang.berkemampuan tinggi. Daya pembeda dapat

dihitung menggunakan rumus:

(𝑊𝐿 − 𝑊𝐻)
𝐷𝑃 =
𝑛

Keterangan:

DP : indeks daya pembeda


WL : banyaknya peserta yang gagal dari kelompok bawah
WH : banyaknya peserta yang gagal dari kelompok atas
n : jumlah peserta tes kelompok unggul
(Zainal Arifin, 2012:350)

Setelah memproleh hasil dari perhitungan daya beda, langkah berikutnya

adalah mengklasifikasikan berdasarkan kualitas soalnya. Penglasifikasian ini

bertujuan guna memudahkan dalam menentukan kualitas suatu butir soal.

Klasifikasi Daya Pembeda (DP) adalah sebagai berikut:

DP : 0,00 – 0,19 : Jelek

DP : 0,20 – 0,39 : Cukup

DP : 0,40 – 0,69 : Baik

DP : 0,70 – 1,00 : Baik Sekali

(Martubi, 2004:44)

5) Efektivitas pengecoh

Menurut Suharsimi (2016: 233-234) pola sebaran jawaban soal dapat

menentukan besarnya nilai efektivitas pengecoh/ distractor. Pengecoh dapat

dikatakan berfungsi dengan_baik apabila memiliki daya tarik yang besar bagi

testee yang kurang.memahami materi untuk memilih. Pengecoh yang sama sekali

tidak dipilih-berarti tidak berfungsi dengan baik.

47
Martubi (2004: 45) mengemukakan apabila pada soal pilihan ganda kriteria

pengecoh yang baik adalah tersebar secara merata, mirip dengan kunci jawaban,

dipilih oleh minimal 5% testee dan jumlah kelompok bawah yang memilihnya

lebih banyak daripada=kelompok atas. Sependapat dengan itu, Suharsimi (2016:

234) juga menyampaikan pengecoh dapat dikatakan memiliki fungsi yang baik

apabila pengecoh tersebut dipilih oleh sebanyak 5% dari testee atau peserta tes.,

Berdasarkan beberaapa pendapat tersebut dapat diambil kesimpula apabila

efektivitas pengecoh adalah seberapa baik alternatif jawaban salah yang akan

dipilih.oleh peserta yang,kurang memahami materi. Semakin banyak testee yang

memilih pengecoh tersebut maka efektivitas pengecoh juga akna semakin baik.

Peserta tes yang mengabaikan semua option atau tidak memilih satupun alternatif

jawaban yang tersedia disebut omit. Sebuah tes yang baik apabla jumlah omitnya

tidak lebih dari 10%8peserta tes.

4. Tinjauan tentang Mata Pelajaran Dasar Listrik dan Elektronika

Dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 disebutkan apabila

pendidikan nasional diselenggarakan melalui tiga jalur pendidikan yaitu formal,

non-formal dan informal. Pada jalur pendidikan formal terbagi lagi menjadi tiga

tingkatan yang kesemuanya saling berkelanjutan antara satu dengan yang lainnya.

Ketiga tingkatan tersebut terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan

pendidikan tinggi. Menurut Pasal 18 UU Nomor 20 tahun 2003 pada pendidikan

menengah terdiri atas pendidikan menengah kejuruan (vocational education) dan

pendidikan menengah umum (general education). Pada jenjang pendidikan tinggi

juga berhak untuk menyelenggarakan program akademik, profesi dan atau vokasi.

48
Clarke & Winch dalam Herminarto (2018: 24) mendefinisikan jika

pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang diselenggarakan dalam rangka

menyiapkan anak-anak muda dan remaja untuk memasuki lapangan kerja.

Kemudian proses pembelajaran pendidikan kejuruan juga erat kaitannya dengan

masalah teknik dan praktik.

Karakteristik yang dimiliki oleh pendidikan kejuruan berbeda dengan

pendidikan umum. Menurut Wardiman dalam Herminarto (2018: 17) terdapat

beberapa karakteristik yang dimiliki oleh pendidikan kejuruan, antara lain

pendidikan kejuruan dipersiapkan dan diarahkan unutk memasuki dunia kerja,

didasarkan atas demand driver, memiliki hubungan erat terhadap DUDI (Dunia

Usaha Dunia Industri), lebih ditekankan kepada pengetahuan, keterampilan,

sikap, learning by doing dan berpengalaman (hands on experience). Selain itu

juga pendidikan kejuruan sangat responsif dan antisipatif terhadap kemajuan

teknologi saat ini. Fasilitas mutakhir yang digunakan untuk menunjang keperluan

kegiatan praktik pada pendidikan kejuruan membuat biaya investasi dan

operasional lebih tinggi dibandingkan pendidikan umum.

Berdasarkan pada beberapa pendapat tersebut tentang pendidikan kejuruan,

pada dasarnya terdapat perbedaan karakteristik antara pendidikan kejuruan

dengan pendidikan yang lainnya. Dapat disimpulkan juga apabila pendidikan

kejuruan bertujuan untuk mempersiapkan peserta didiknya dalam pengetahuan,

kepribadian serta keterampilan peserta didik supaya lebih siap dan mandiri dalam

pendidikan yang lebih lanjut sesuai dengan program kompetensi atau keahlian

yang dipilih. Selain itu, mempersiapkan peserta didik menjadi tenaga kerja yang

49
profesional dan ahli sesuai dengan bidang atau kompetensinya juga merupakan

tujuan dari pendidikan kejuruan.

Sejalan dengan hal tersebut, menurut keputusan Direktur Jendereal

Pendidikan Dasar dan Menengah nomor 330 tahun 2017 mengenai kompetensi

inti dan kompetensi dasar mata pelajaran pada SMK/MAK, mata pelajaran Dasar

Listrik dan Elektronika masuk ke dalam dasar program keahlian (C2) pada

program keahlian Teknik Ketenagalistrikan bidang keahlian Teknologi dan

Rekayasa. Mata pelajaran DLDE merupakan salah satu mata pelajaran dasar yang

harus dikuasai oleh peserta didik. Terdapat 14 kompetensi dasar yang harus

dimiliki oleh peserta didik selama melaksanakan proses pembelajaran.

Menurut Silabus Mata Pelajaran DLDE di SMK Negeri 2 Purwokerto

(dapat dilihat di lampiran 2) pada UAS Gasal kelas X tahun ajaran 2018/2019

hanya terdapat 5 kompetensi dasar yang diujikan. Kompetensi yang diujikan

antara lain menerapkan konsep listrik dan elektronika dengan materi pada

kompetensi ini adalah arus listrik dan elektron. Kompetensi kedua yang diujikan

adalah menganalisis bahan-bahan komponen listrik dan elektronika. Pada

kompetensi ini menyajikan beberapa bahan-bahan listrik yang terdiri dari

konduktor, isolator dan bahan semikonduktor. Kemudian kompetensi ketiga yang

diujikan adalah sifat elemen pasif pada rangkaian listrik arus searah dan rangkaian

peralihan. Dimana materi yang diujikan berupa resistor-resistansi, induktor-

induktansi dan kapasitor-kapasitansi. Kompetensi keempat yang diujikan adalah

teorema rangkaian listrik searah mengenai rangkaian seri, paralel, seri-paralel,

50
hukum Ohm dan hukum Kirchoff. Kemudian kompetensi terakhir yang diujikan

adalah sifat elemen aktif pada sumber arus dan sumber tegangan.

B. Penelitian yang Relevan

Untuk lebih memperkuatddasar penelitian, maka dibutuhkan beberapa

penelitian yang relevan dengan penelitian.ini. Beberapaapenelitian`yang relevan

dengan Analisis Butir Soal pada penelitin ini adalah:

1. Penelitian yang dilakukan oleh MuhammadcAbdul Rochim pada tahun 2018

berjudul “AnalisismButir Soal Ujian AkhircSemester Gasal Mata Pelajaran

Chasis Kelas XII Teknik Kendaraan Ringanddi SMK Muhammadiyah 2

Tempel Tahun;Ajaran 2017/2018” dilakukan menggunakan program Anates

Version 4.09 memperoleh hasil penelitian:0

a. Dilihat dari segi validitas, sebanyak 21mbutir soal (43%) termasuk dalam

kategori valid dan 28 butir soal (57%) kategori tidak valid.

b. Reliabilitasssoal pada hasil analisis mendapatkan hasil sebesar 0,50 yang

berarti memiliki inteprestasi yang cukup.z

c. Berdasarkan hasil>analisis tingkat kesukaran soal, 5 butir soal (10%) kategori

mudah, 27 butir soal (55%)akategori sedang dan 17 butir soal (35%)

kategorissukar.

d. Hasil analisis daya pembeda padappenelitian ini menunjukkan 3 butir soal

(6%)nkategoribburuk sekali, 15 butir soal (31%) kategori buruk, 20 butir soal

(41%) kategoriccukup dan 11 butir soal (22%) kategori baik.

51
e. Efektivitas>pengecoh pada penelitian ini memperoleh<hasil analisis sebanyak

2 butir soal (4%) kategori.tidak baik, 9 butir soal.(18%) kategori kurang baik,

16 butir soal (33%) kategori,cukup baik, 15 butirrsoal (31%) kategoribbaik dan

7 butir soal (14%) masuk dalam kategori sangat baik.

f. Dari hasil analisis<Validitas, Raliabilitas, Daya Pembeda, Tingkat

Kesukaran,mdan Efektivitas Pengecoh dapatldisimpulkan jika dari 49 butir

soal pilihanagand terdapat 3 butir soal (6%)mkategori sangat tidak baik,

11mbutir soal (22,5%) kategori tidak baik,a12 butir soal (24,5%)

kategoriccukup, 11 butir soal (22,5%) kategori baik dan 12 butir soal (24,5%)

masuk kategori sangat baik.

2. Penelitian yangddilakukan oleh Shodiq pada tahun 2018 berjudul “Analsis

Butir.Soal Ujian AkhirnSemester Gasal Mata Pelajaran Pemeliharaan.Listrik

KendaraancRingan Kelas XII di SMK>Negeri 2 Klaten TahunvAjaran

2017/2018” dilakukannsecara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kuantitatif

menggunakan program Anates. Dalam.penelitian ini didapatkan.hasil:aa

a. Ditinjau daribbeberapa aspek didapatkanmjika 23,33% soal tidak memenuhi

aspeklmateri,d53,33% soalstidak memenuhi aspek konstruksi dan 73,33%

soal.tidak memenuhi aspek bahasa.

b. Dilihatddari aspek validitas, hasil analisis menunjukan,\sebanyak 40% soal

termasuk.valid dan sebanyak 60% soal termasuk.tidak valid.

c. Aspek reliabilitas soal`didapatkan koefisien reliabilitass0,67 yang berarti

memiliki,reliabilitas tinggi.

52
d. Dayappembeda soal yang dianalisis menunjukanchasil 3,33% soal

termasuk,kategori baik sekali, 23,33% soal.kateegori baik, 13,33% soal

kategoriccukup, 46,67% soal kategori jelek>dan sisanya 13,33% termasuk soal

yang//harus dibuang.

e. Hasil analisis tingkatskesukaran soal menunjukkanssebanyak 50% masuk

kategorirrendah, 23,33% kategorigsedang dan 26,67% kategori sukar.a

f. Efektivitas pengecoh yangddianalisissmenunjukkan hanya 13,33% soal yang

pengecohnyabberfungsi secara efektif.

Persamaan yang terdapat pada penelitian yang dilakukan oleh Shodiq dan

Muhammad Abdul Rochim adalah sama-sama berupa penelitian deskriptif

kuantitatif>dan meneliti mengenaiaanalisis butir soal dengan menggunakan

program Anates. Perbedaan dari kedua penelitian diatas adalah mata pelajaran dan

juga lokasi penelitian. Berdasarkan.penelitian yang relevan diatas, didapatkan

hasil butir soal yang tidak valid lebih besar daripada butir soal yang valid. Secara

keseluruhanhhasil analisis ini berarti kualitasssoal tersebut masih perlu untuk

adanya perbaikan supaya soal tersebut menjadillayak dan baik untuk dijadikan

alat ukurrevaluasi.

C. Kerangka Berfikir

Pengetahuan dan kemampuan dalam melaksanakan evaluasi harusnya

dikuasai oleh guru supaya proses pelaksanaan kegiatan evaluasi dapat berjalan

secara sistematis dan terstruktur. Sebelum melaksanakan kegiatan evaluasi,

diperlukan langkah-langkah yang dilakukan yaitu meliputi perencanaan,

53
pelaksanaan, penilaian, mengolah data dan menganalisis hasil penilaian. Kegiatan

evaluasi yang dilakukan dapat memberikan guru informasi mengenai

perkembangan peserta didiknya. Selain itu juga sebagai tolok ukur keberhasilan

proses pembelajaran yang telah dilakukan dalam periode waktu tertentu.

Soal ulangan akhir semester merupakan salah satu alat atau instrumen

evaluasi yang digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta didik

terhadap materi yang telah diberikan selama satu semester. Langkah-langkah yang

dapat dilakukan dalam pengembangan tes hasil belajar adalah dengan menyusun

spesifikasi tes, menulis soal, menelaah soal, melakukan uji coba tes, menganalisis

butir soal, memperbaiki tes, melaksanakan tes dan menafsirkan hasil dari tes

tersebut. Langkah-langkah tersebut seharusnya diterapkan oleh guru saat akan,

sedang dan setelah melaksanakan kegiatan evaluasi supaya instrumen yang

digunakan berkualitas. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk melakukan uji

coba teerhadap instrumen evaluasi untuk memperoleh informasi mengenai

validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, daya beda, efektivitas pengecoh, materi,

konstruksi dan bahasa pada soal.

Informasi mengenai aspek materi, konstruksi dan bahasa pada soal dapat

dilakukan sebelum tes tersebut diujikan. Hal ini dikarenakan analisis dilakukan

secara teoritik atau kualitatif dilihat dari kaidah penulisan soal tersebut. Kemudian

pada aspek validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, daya beda dan efektivitas

pengecoh dapat dilakukan setelah instrumen tersebut diujikan kepada peserta

didik. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah soal tersebut sudah berkualitas

54
atau belum. Selanjutnya soal yang telah di analisis atau ditelaah di intepretasikan

menjadi beberapa kategori soal.

Berdasarkan hasil analisis tersebut maka guru dapat melakukan perbaikan-

perbaikan yang dirasa perlu terutama untuk soal yang masih dalam kategori jelek.

Bagi soal yang sudah berkualitas baik maka dapat dimasukkan ke dalam bank soal

untuk selanjutnya digunakan kembali pada kegiatan evaluasi berikutnya. Dengan

dilakukannya analisis butir soal ini, maka guru akan memeiliki alat atau instrumen

evaluasi yang berkualitas sehingga mampu mencerminkan prestasi belajar peserta

didik dengan tepat.

D. Pertanyaan Peneliti

1. Dilihat dari analisisssecara teoritik:

a. Bagaimanakahhkualitas Soal Ujian AkhiraSemester Gasal Mata Pelajaran

DLDE tahunppelajaran 2018/2019 SMK Negeri 2 Purwokerto kelas X TITL

ditinjau.dari aspek materi?

b. Bagaimanakah kualitas Soal<Ujian Akhir Semester GasalmMata Pelajaran

DLDE tahun pelajaran 2018/2019 SMKnNegeri 2 Purwokerto kelas X TITL

ditinjau dari.aspek konstruksi?

c. Bagaimanakkah kualitas Soal Ujian AkhirrSemester Gasal MataaPelajaran

DLDEttahun pelajaran 2018/2019 SMK Negerio2 Purwokerto kelas X TITL

ditinjauddari aspek bahasa?

55
2. Dilihat dari analisis empirik:

a. Bagaimanakahhkualitas Soal Ujian Akhir SemesterrGasal Mata Pelajaran

DLDE tahun pelajarann2018/2019 SMK Negeri 2pPurwokerto kelas X TITL

ditinjau dari segi validitas?s

b. Bagaimanakahakualitas Soal Ujian AkhirmSemester Gasal Mata Pelajaran

DLDE tahun pelajaran 2018/2019 SMK Negerii2 Purwokerto kelas X TITL

ditinjau dari segirreliabilitas?

c. Bagaimanakah kualitas Soal Ujian Akhir<Semester Gasal Mata Pelajaran

DLDE tahunppelajaran 2018/2019 SMK Negeri 2 Purwokertookelas X TITL

ditinjau dari segi tingkattkesukaran?

d. Bagaimanakah kualitassSoal Ujian Akhir Semester Gasal<Mata Pelajaran

DLDE tahunnpelajaran 2018/2019 SMK Negeri 2 Purwokerto kelassX TITL

ditinjau dari segiidaya pembeda?p

e. Bagaimanakahakualitas Soal Ujian<Akhir Semester Gasal Mata Pelajaran

DLDE tahun pelajaran 2018/20199SMK Negeri 2 Purwokerto kelas X TITL

ditinjauudari segieefektivitas pengecoh/distractor?m

56
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif dan

kualitatif dimana nantinya data yang dianalisis tidak untuk menolak atau

menerima hipotesis, melainkan hasil dari analisis berupa deskripsi dari gejala

yang diamati dan berbentuk angka-angka antar variabel yang dianalisis. Menurut

Priyono (2008) melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan

kuantitatif maka dapat menghasilkan data kuantitatif sebagai data utama. Bisa

juga dengan menggunakan metode kualitatif dalam waktu yang bersamaan,

namun data kualitatif yang dihasilkan nantinya hanya sebagai data penunjang dari

metode utama kuantitatif.

Analisis butir soal secara kuantitaif dilakukan menggunakan software

Anates yang digunakan untuk menghitung dan menghasilkan data kuantitatif

dengan pendekatan teori tes klasik meliputi validitas, reliabilitas, tingkat

kesukaran, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh/distractor. Pada penelitian ini

juga menggunakan analisis kualitatif untuk mengukur validitas soal dilihat dari

aspek materi, konstruksi dan bahasa. Maka dari itu pada penelitian ini

menggunakan dua metode yaitu secara kuantitatif dan kualitatif.

57
B. Tempat dan Waktu Penelitian

Langkah awal untuk penelitian ini adalah dengan melakukan observasi dan

tanya jawab kepada guru pengajar yang tempat pelaksanaannya dilakukan di SMK

Negeri 2 Purwokerto yang beralamat di Kelurahan Kranji, Purwokerto Timur,

Banyumas, Jawa Tengah pada bulan November 2018 mengenai permasalahan

yang terjadi. Penelitian ini kemudian dilanjutkan pada bulan Maret 2019.

C. Variabel Penelitian

Variabel pada penelitian ini adalah analisis butir soal UAS secara teoritik

atau kualitatif dilihat dari segi isi/materi, konstruksi dan bahasa, secara

empirik/kuantitatif dilihat dari aspek validitas, reliabilitas, daya pembeda, tingkat

kesukaran, dan efektivitas pengecoh/distractor.

D. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X keahlian Teknik

Instalasi Tenaga Listrik SMK Negeri 2 Purwokerto tahun ajaran 2018/2019 yang

terdiri dari 36 peserta didik kelas X TITL 1 dan 35 peserta didik kelas X TITL 2

sehingga jumlah total subjek penelitian sebanyak 71 peserta didik.

Objek pada penelitian ini adalah soal Ulangan Akhir Sekolah Semester

Gasal Mata Pelajaran Dasar Listrik dan Elektronika tahun ajaran 2018/2019 kelas

X kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik SMK Negeri 2 Purwokerto

beserta dengan kisi-kisi, kunci jawaban, lembar jawaban siswa dan angket.

58
E. Teknik Pengumpulan Data

Pada penelitian ini teknik pengumpulan data dengan menggunakan angket

beserta kisi-kisi dan dokumenter. Angket pada penelitian ini digunakan untuk

mengetahui dan mengukur analisis teoritik atau kualitatif dari butir soal.

Pengambilan data menggunakan angket juga menyertakan kisi-kisi angket untuk

memudahkan validator dalam memvalidasi instrumen penelitian. Kisi-kisi yang

terdaapat pada angket mengacu pada BSNP adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Kisi-kisi angket


Aspek yang
Indikator
ditelaah
Materi 1. Soal sesuai dengan indikator atau kisi-kisi soal
2. Alternatif jaawaban bersifat logis dan homogen
3. Alternatif jawaban berasal dari materi yang sama
dengan pokok soal
4. Penulisan alternatif jawaban setara
5. Mempunyai satu kunci jawaban
Konstruksi 1. Pokok soal dirumuskan secara tegas dan jelas
2. Rumusan soal dan alternatif jawaban berisi
pernyataan yang dibutuhkan
3. Soal tidak memberi petunjuk ke arah kunci jawaban
4. Pokok soal tidak mengandung pernyataan negatif
ganda
5. Alternatif jawaban harus bersifat logis dan homogen
6. Alternatif jawaban tidak mengandung pernyataan
“semua jawaban benar” atau “semua jawaban salah”
7. Panjang alteratif jawaban relatif sama
8. Alternatif jawaban berupa angka atau waktu disusun
berdasarkan urutan besar kecilnya dan kronologis
9. Gambar, tabel diagram atau grafik dan sejenisnya
harus berfungsi pada soal
10. Butir soal tidak tergantung pada jawaban
sebelumnya
Bahasa 1. Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang
sesuai dengan kaidah penulisan
2. Bahasa yang digunakan komunikatif dan mudah
dimengerti
3. Tidak menggunakan bahasa yang berlaku di suatu
daerah

59
Sedangkan dokumen merupakan catatan tertulis tentang sesuatu yang

terjadi pada waktu yang lalu (W. Gulo, 2010:123), sehingga metode dokumenter

merupakan metode pengumpulan data dengan menggunakan data yang sudah ada

kemudian mengolahnya dengan teknik analisis data yang sesuai dengan

penelitian. Teknik pengumpulan data ini digunakan untuk mendapatkan daftar

nama siswa, kisi-kisi soal, soal yang diujikan, kunci jawaban, tabel penskoran,

serta lembar jawaban siswa. Adapun kisi-kisi soal pada Ulangan Akhir Semester

Gasal Mata Pelajaran Dasar Listrik dan Elektronika kelas X di SMK Negeri 2

Purwokerto Tahun Pelajaran 2018/2019 adalah seperti pada tabel berikut ini:

Tabel 2. Kisi-kisi Soal


No Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Jmlh Indikator Soal No
Kompetensi Soal Soal
1 Menerapkan konsep Dapat menjelaskan Siswa menjelaskan
1
listrik dan elektronika pengertian arus dan terjadinya arus listrik
(gejala fisik arus listrik tegangan. 2 Siswa dapat menghitung
dan potensial listrik) besarnya arus yang mengalir 2
pada suatu penghantar
Dapat menjelaskan Siswa dapat menjelaskan
3, 4
tentang resistansi. tentang resistansi.
3 Siswa dapat menghitung
besarnya resistansi pada 36
suatu pengahantar.
2 Menganalisis Dapat menyebutkan Siswa dapat menyebutkan
5
bahanbahan macammacam bahan macam-macam bahan listrik
komponen listrik dan listrik Siswa dapat menganalisis
elektronika 3 macam-macam konduktor 37
dan isolator
Siswa dapat membedakan
6
macam-macam bahan listrik
Dapat menjelaskan Siswa dapat menjelaskan
7
sifat-sfat dan sifat-sifat konduktor
karakteristik 2 Siswa dapat menjelaskan
masingmasing bahan sifat-sifat bahan isolator 8
listrik
3 Menganalisis sifat Dapat menganalisis Siswa dapat menganalisis
elemen pasif elemen pasif resistansi, 3 satuan resistor, induktor dan 9
rangkaian listrik arus kapasitor

60
searah dan rangkaian induktansi dan Siswa dapat menghitung
10
peralihan kapasitansi besarnya induktansi induktor
Siswa dapat menghitung
besarnya kapasitansi 11
kapasitor
Dapat membedakan Siswa dapat membedakan
sifat-sifat resistor, sifat-sifat resistor, induktor 12
induktor dan kapasitor. dan kapasitor
2
Siswa dapat menguraikan
aplikasi induktor dan 13
kapasitor
4 Menganalisis teorema Dapat menguraian Siswa dapat menulis rumus
1 14
rangkaian listrik arus tentang hukum Ohm hukum Ohm
searah Dapat menganalisis Siswa dapat menghitung arus
teorema rangkaian 1 pada rangkaian dengan 15
listrik arus searah. beban sebuah resistor
Dapat menguraikan Siswa dapat menerapkan
1 16
tentang hukum Kirchoff Hukum Kirchoff I
Dapat menghitung arus Siswa dapat menhitung
17
pada rangkaian seri, tegangan pada rangkaian seri
paralel dan seri paralel Siswa dapat menghitung arus
18
pada rangkaian paralel
Siswa dapat menjelaskan
sifat-sifat pada hubungan 19
resistor parale
Siswa dapat menghitung
hambatan pengganti pada 20
7
hubungan paralel
Siswa dapat menghitung arus
21
pada hubungan batere.
Siswa dapat mengitung arus
dan tegangan pada hubungan 38
campuran
Siswa dapat menghitung arus
pada hubungan batere 40
campuran
5 Menganalisis daya dan Dapat menganalisis Siswa dapat menghitung
energi listrik daya dan energi listrik besarnya daya pada suatu 22
rangkaian
Siswa dapat menghitung
3
energi yang digunakan suatu 23
beban.
Siswa dapat menghitung
24
usaha panas
Dapat mengitung Siswa dapat menghitung
rendemen daya yang diberikan oleh 25
2 pesawat listrik
Siswa dapat menghitung
26
rendemen pesawat listrik

61
6 Menentukan peralatan Dapat menjelaskan Siswa dapat menyebutkan
ukur listrik untuk prinsip kerja alat ukur alat ukur yang digunakan
mengukur besaran analog (kumparan putar, untuk mengukur usaha listrik
1 27
listrik. besi putar,
elekrrodinamis dan
induksi.
Dapat menjelaskan Siswa dapat menentukan
fungsi alat-alat ukur azas kerja alat-alat ukur 28
listrik listrik
Siswa dapat menjelaskan
3
cara menghubungkan alat 29
ukur tegangan
Siswa dapat menyebutkan
39
fungsi alat-alat ukur listrik
Dapat membaca skala Siswa dapat membaca skala
30
alat ukur analog hambatan
2
Siswa dapat membaca skala
31
tegangan
7 Menerapkan Dapat menjelaskan Siswa dapat menganisis cara
pengukuran tahanan fungsi tahanan listrik 1 membagai tegangan melalui 32
(resistan) listrik tahanan listrik.
Dapat menjelaskan Siswa dapat menjelaskan
fungsifungsi bagaian 1 fungsi tombil zero 33
pada multi meter. adjustment
Dapat menbaca kode Siswa dapat menterjemahkan
34
warna tahanan. kode warna tahanan.
2
Siswa dapat menterjemahkan
35
kode warna tahanan

F. Teknik Analisis Data

Hanya soal-soal pilihan ganda Ulangan Akhir Semester Gasal Mata

Pelajaran Dasar Listrik dan Elektronika kelas X Tahun Pelajaran 2018/2019 yang

dianalisis pada penelitian ini. Data yang sudah terkumpul akan dianalisis secara

deksriptif kuantitatif dan kualitatif.

1. Analisis Teoritik/Kualitatif

Analisis butir soal secara kualitatif dilakukan melalui penelaahan butir soal

dilihat dari aspek materi, konstruksi dan bahasa. Data yang sudah diperoleh

62
kemudian di validasi oleh beberapa ahli (experts judgement) menurut aspek yang

diperlukan melalui instrumen angket.

2. Analisis Empirik/Kuantitatif

Data yang sudah diperoleh melalui metode dokumentasi kemudian

dianalisis secara kuantitatif menggunakan program yang bernama Anates Version

4.09. Program aplikasi ini digunakan untuk menghitung nilai-nilai validitas,

reliabilitas, daya pembeda, tingkat kesukaran serta efektivitas pengecoh dengan

cara menganalisis dari data yang sudah didapat. Program ini digunakan dalam

penelitian karena keefektifan dan kesederhanaan program sehingga mudah

digunakan dibandingkan dengan program lainnya.

Hasil dari analisis butir soal dapat ditindak lanjuti untuk menentukan

kualitas dari butir soal tersebut, yaitu sebagai berikut:

a. Validitas

Nilai dari validitas bertujuan untuk mengetahui apakah butir soal tersebut

sudah tepat untuk digunakan sebagai alat ukur. Perhitungan analisis validitas butir

soal dapat menggunakan rumus korelasi point biserial. Indeks korelasi point

biserial ( bpi) yang didapat dari hasil perhitungan, kemudian dibandingkan

dengan r tabel taraf signifikansi 5% sesuai dengan jumlah peserta tes.

b. Reliabilitas

Nilai reliabilitas untuk soal pilihan ganda dapat dihitung menggunakan

rumus K-R 20 sebagai berikut:

𝑛 𝑆 2 ∑ 𝑝𝑞
𝑟11 =( )( )
𝑛−1 𝑆2

63
Keterangan:

r11 : reliabilitas tes secara keseluruhan


p : proporsi subjek yang menjawab item dengan benar
q (q=1.p) : proporsi subjek yang menjawab item dengan salah
pq : jumlah hasil perkalian p dan q
n : banyak item
S : standar deviasi dari tes
(Suharsmi, 2016: 115)

Dalam pemberian perhitungan reliabilitas tes (r11) pada umumnya

mengunakan patokan sebagai berikut:

Tabel 3. Reliabilitas Tes


Reliabilitas Tes Klasifikasi
r11 >= 0,7 Reliabilitas tinggi (a reliable)
r11 < 0,7 Reliabilitas rendah (un reliable)
(Sudijono, 2007:209)

c. Tingkat Kesukaran

Tingkat kesukaran soal merupakan peluang untuk menjawab suatu soal

secara benar pada tingkat kemampuan tertentu, biasanya dapat dinyatakan dalam

bentuk indeks yang dihitung dengan rumus:

(𝑊𝐿 + 𝑊𝐻)
𝑇𝐾 =
(𝑛𝐿 + 𝑛𝐻) 10

Keterangan:

TK : indeks kesukaran/tingkat kesukaran


WL : banyaknya kelompok.bawah menjawab soal salah
WH : banyaknya kelompok unggul.yang menjawab soal salah
nL : jumlah kelompok bawah
nH : jumlah kelompok unggul
(Zainal Arifin, 2012: 342)

Kriteria atau indeks tingkat kesukaran sering diklasifikasikan sebagai

berikut:

64
Tabel 4. Kriteria Tingkat Kesukaran
Tingkat Kesukaran (TK) Klasifikasi
TK = 0,00-0,30 Sukar
TK = 0,31-0,71 Sedang
TK = 0,71-1,00 Mudah
(Martubi, 2004: 41-42)

d. Daya Pembeda

Perhitungan daya pembeda dapat menggunakan rumus sebagai berikut:

(𝑊𝐿 − 𝑊𝐻)
𝐷𝑃 =
𝑛

Keterangan:

DP : indeks daya pembeda


WL : banyaknya peserta yang gagal dari kelompok bawah
WH : banyaknya peserta yang gagal dari kelompok atas
n : jumlah peserta tes kelompok unggul
(Zainal Arifin, 2012:350)

Selanjutnya Daya Pembeda di klasifikasikan sesuai dengan hasil untuk

mengetahui kualitas butir soal. Indeks atau klasifikasi daya pembeda:

Tabel 5. Klasifikasi Daya Pembeda (DP)


Daya Pembeda (DP) Klasifikasi
DP = 0,00-0,19 Jelek
DP = 0,20-0,39 Cukup
DP = 0,40-0,69 Baik
DP = 0,70-1,00 Baik Sekali
DP =  (Negatif) Semua Tidak Baik (harus dibuang)
(Martubi, 2004:44)

e. Efektivitas Pengecoh/distractor

Efektivitas pengecoh pada soal pilihan ganda dapat dilihat dari

penyebaran pilihan jawaban yang dilakukan oleh peserta tes (testee). Selain itu

juga sebagai dasar untuk mengetahui berfungsi atau tidaknya alternatif jawaban

yang tersedia. Menurut Martubi (2004:45) kriteria pengecoh yang baik adalah

65
mirip dengan kunci jawaban, tersebar secara merata, dipilih minimal sebanyak 5%

dari jumlah testee, dan jumlah kelompok bawah yang memilih pengecoh lebih

banyak dibanding jumlah kelompok atas/unggul.

Pengecoh dapat dikatakan memiliki fungsi yang baik apabila semakin

banyak peserta tes yang memilih pengecoh tersebut. Apabila testee mengabaikan

alternatif pilihan jawaban yang tersedia atau tidak memilih sama sekali maka

disebut omit. Dari segi omit, sebuah tes dikatakan baik apabila besar omit tidak

lebih dari 10% peserta didik.

Indeks pengecoh dihitung dengan menggunakan rumus:

𝑃
𝐼𝑃 = × 100%
(𝑁 − 𝐵)/(𝑛 − 1)

Keterangan:

IP : Indeks Pengecoh
P : Jumlah peserta didik yang memilih pengecoh
N : Jumlah peserta didik yang mengikuti tes
B : Jumlah peserta didik yang menjawab benar pada setiap soal
n : Jumlah alternatif jawaban
1 : Bilangan tetap
Selanjutnya Indeks Pengecoh di klasifikasikan sesuai dengan hasil untuk

mengetahui kualitas butir soal. Kualitas pengecoh berdasar indeks pengecoh

adalah:

Tabel 6. Klasifikasi Indeks Pengecoh


Indeks Pengecoh Klasifikasi
Sangat Baik 76% - 125%
Baik 51% - 75% atau 126% - 150%
Kurang Baik 26% - 50% atau 151% - 175%
Jelek 0% - 25% atau 176% - 200%
Sangat Jelek Lebih dari 200%
(Zainal Arifin, 2012:357-358)

66
f. Kualitas Soal

Untuk menentukan kualitas soal secara keseluruhan dilihat dari aspek

empirik setelah dilakukan analisis menurut masing-masing kriteria dengan

menggunakan Anates pada setiap butir soal, kemudian dianalisis secara

keseluruhan berdasarkan hasil perhitungan kriteria Validitas, Reliabilitas, Daya

Pembeda, Tingkat Kesukaran, dan Efektivitas Pengecoh/Distractor. Pada

penentuan kualitas soal tiap butir, kriteria Reliabilitas tidak termasuk kedalam

pertimbangan karena hasil dari analisis tersebut merupakan simpulan secara

keseluruhan soal. Terdapat beberapa pertimbangan penilaian:

- Apabila simpulan hasil analisis dari kriteria Validitas akan bernilai 1 jika nilai

r di atas standar dari nilai pada tabel product moment, dan akan bernilai 0 jika

berkebalikan.

- Pada kriteria Tingkat Kesukaran jika hasil dari analisis termasuk dalam

kategori sedang maka akan bernilai 1, jika masuk dalam kategori sukar atau

mudah akan bernilai 0.

- Daya Pembeda akan bernilai 1 apabila simpulan hasil dari analisis termasuk

dalam kategori baik sekali, baik dan cukup. Untuk butir soal yang termasuk

dalam kategori jelek dan jelek seklai maka akan bernilai 0.

- Efektivitas pengecoh memiliki beberapa kategori, apabila simpulan hasil

analisis termasuk dalam kategori sangat baik, baik dan cukup baik maka

kriteria ini akan bernilai 1. Efektivitas pengecoh akan bernilai 0 jika termasuk

dalam kategori kurang baik dan tidak baik.

67
Berdasarkan dari beberapa aspek tersebut, maka kualitas butir soal

secara kuantitatif dapat ditentukan dengan kriteria sebagai berikut:

1. Butir soal dengan nilai total 4 masuk dalam kategori sangat baik.

2. Butir soal dengan nilai total 3 masuk dalam kategori baik.

3. Butir soal dengan nilai total 2 masuk dalam kategori cukup.

4. Butir soal dengan nilai total 1 masuk dalam kategori tidak baik.

5. Butir soal dengan nilai total 0 masuk dalam kategori sangat tidak baik.

68
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk mengetahui kualitas butir

soal pada kegiatan Ulangan Akhir Semester Gasal khususnya pilihan ganda mata

pelajaran Dasar Listrik dan Elektronika kelas X di SMK Negeri 2 Purwokerto

tahun pelajaran 2018/2019 dilihat secara teoritik dan empirik pada aspek materi,

konstruksi, bahasa, validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, daya pembeda dan

efektivitas pengecoh/ distractor. Analisa yang dilakukan menggunakan beberapa

instrumen yaitu seperangkat soal ujian, kunci jawaban, angket dan lembar

jawaban peserta didik yang megikuti ujian. Butir soal yang di analisa berjumlah

35 butir soal objektif yang diujikan kepada peserta didik kelas X TITL 1 dan X

TITL 2 yang keseluruhan berjumlah 71 peserta didik.

Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini

menggunakan metode angket untuk analisa teoritik atau kualitatif dan

dokumentasi untuk memperoleh instrumen yang dibutuhkan untuk analisa

empirik atau kuantitatif pada penelitian. Instrumen penelitian yang didapat dengan

menggunakan metode dokumentasi kemudian diolah dan dianalisis secara empirik

atau kuantitatif menggunakan program Anates Version 4.09 sehingga didapatkan

kualitas butir soal yang dilihat dari aspek validitas, reliabilitas, daya pembeda,

tingkat kesukaran dan efektivitas pengecoh.

69
1. Hasil Analisis Teoritik/Kualitatif

Hasil analisis teoritik atau kualitatif yang dilakukan berdasarkan aspek

materi, konstruksi dan bahasa yang dilakukan melalui angket terhadap pendapat

para ahli (experts judgment) adalah sebagai berikut:

Tabel 7. Hasil Analisis Secara Teoritik


Nomor Soal yang
No Aspek yang Ditelaah
Tidak Sesuai Kriteria
A Materi
1 Soal sesuai dengan indikator atau kisi-kisi soal 13, 14, 20
2 Alternatif jawaban bersifat logis dan homogen 2, 3, 16
3 Alternatif jawaban berasal dari materi yang -
sama dengan pokok soal
4 Penulisan jawaban setara 5
5 Mempunyai satu kunci jawaban -
B Konstruksi
1 Pokok soal dirumuskan secara tegas dan jelas -
2 Rumusan soal dan alternatif jawaban berisi -
pernyataan yang dibutuhkan
3 Soal tidak memberi petunjuk ke arah kunci -
jawaban
4 Pokok soal tidak mengandung pernyataan -
negatif ganda
5 Alternatif jawaban tidak mengandung -
pernyataan “semua jawaban benar” atau
“semua jawaban salah”
6 Panjang alternatif jawaban relatif sama 3
7 Alternatif jawaban berupa angka atau waktu -
disusun berdasarkan urutan besar kecilnya dan
kronologis
8 Gambar, tabel diagram atau grafik dan -
sejenisnya harus berfungsi pada soal
9 Butir soal tidak tergantung pada alternatif -
jawaban sebelumnya
C Bahasa
1 Butir soal menggunakan bahsa Indonesia yang -
sesuai dengan kaidah penulisan
2 Bahasa yang digunakan komunikatif dan 7, 12, 14, 34
mudah dimengerti
3 Tidak menggunakan bahasa yang berlaku di -
suatu daerah

70
Berdasarkan tabel diatas maka dapat diketahui beberapa nomor soal yang

tidak sesuai dengan kriteria yang dilihat dari aspek materi, konstruksi dan bahasa.

Dari hasil tersebut maka terdapat 10 butir soal yang tidak sesuai dengan kriteria

pada analisis teoritik atau kualtitatif.

2. Hasil Analisis Empirik/Kuantitatif

Analisis secara empirik atau kuantitatif menggunakan program Anates

Version 4.09 yang dapat menampilkan hasil analisis dilihat dari aspek validitas,

reliabilitas, tingkat kesukaran, daya pembeda dan efektivitas pengecoh/distractor.

Hasil analisis yang diperoleh antara lain:

a. Validitas

Validitas soal dihitung berdasarkan rumus korelasi point biserial.

Penelitian ini menganalisis sejumlah 71 peserta tes sehingga nilai N=71.

Kemudian dari nilai yang sudah didapat diinterpretasikan kedalam tabel r product

moment (lihat di lampiran 8) dengan taraf signifikansi 5% maka menunjuk ke

angka 0,250. Data yang diperoleh dari hasil analisis menggunakan program dapat

dilihat sesuai dengan tabel dibawah ini.

71
Tabel 8. Hasil Analisis Aspek Validitas
Nomor Soal Indeks Korelasi Validitas
1 0,198 Tidak Valid
2 0,309 Valid
3 0,350 Valid
4 0,459 Valid
5 0,151 Tidak Valid
6 0 Tidak Valid
7 0,242 Tidak Valid
8 0,478 Valid
9 0,359 Valid
10 -0,134 Tidak Valid
11 -0,241 Tidak Valid
12 0,162 Tidak Valid
13 0,199 Tidak Valid
14 0,361 Valid
15 -0,180 Tidak Valid
16 0,193 Tidak Valid
17 0,352 Valid
18 0,179 Tidak Valid
19 0,345 Valid
20 0,439 Valid
21 0,012 Tidak Valid
22 0,396 Valid
23 0,065 Tidak Valid
24 0,001 Tidak Valid
25 0,387 Valid
26 0,248 Tidak Valid
27 0,471 Valid
28 0,195 Tidak Valid
29 0,072 Tidak Valid
30 -0,039 Tidak Valid
31 0,113 Tidak Valid
32 0,024 Tidak Valid
33 0,269 Valid
34 -0,026 Tidak Valid
35 0,270 Valid
Berdasarkan hasil analisis dari 35 butir soal tersebut menunjukkan

sebanyak 14 (40%) butir soal termasuk dalam kategori valid. Sedangkan untuk

soal dengan kategori tidak valid berjumlah 21 (60%). Distribusi hasil analisis pada

aspek validitas dapat dilihat pada tabel berikut.

72
Tabel 9. Distribusi Hasil Analisis Berdasarkan Validitas
Indeks Validitas Nomor Soal Jumlah Persentase (%)
2, 3, 4, 8, 9, 14, 17, 19, 20,
Valid 14 40
22, 25, 27, 33, 35
1, 5, 6, 7, 10, 11, 12, 13,
Tidak Valid 15, 16, 18, 21, 23, 24, 26, 21 60
28, 29, 30, 31, 32, 34
Berdasarkan pendistribusian hasil analisis validitas dapat digambarkan

menggunakan diagram pie seperti pada gambar berikut ini.

Presentase Hasil Analisis Aspek


Validitas

Valid
40%

Tidak Valid
60%

Valid Tidak Valid

Gambar 5. Diagram Pie Persentase Hasil Analisis Validitas Butir Soal

b. Reliabilitas

Perhitungan reliabilitas tidak dilakukan untuk setiap butir soal namun

secara keseluruhan. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan program

Anates, menunjukkan perhitungan reliabilitas sebesar 0,47. Dengan hasil

perhitungan sebesar itu, maka soal dapat dikategorikan memiliki reliabilitas yang

rendah atau un-reliable. Soal akan memiliki reliabilitas yang tinggi apabila

mendapatkan hasil diatas 0,7.

c. Tingkat Kesukaran

Hasil analisis butir soal berdasarkan pada aspek tingkat kesukaran dapat

dilihat pada tabel dibawah ini:

73
Tabel 10. Hasil Analisis Aspek Tingkat Kesukaran
Nomor Soal Tingkat Kesukaran Klasifikasi
1 0,873 Sangat Mudah
2 0,929 Sangat Mudah
3 0,084 Sangat Sukar
4 0,845 Mudah
5 0,985 Sangat Mudah
6 1 Sangat Mudah
7 0,619 Sedang
8 0,619 Sedang
9 0,323 Sedang
10 0,098 Sangat Sukar
11 0,042 Sangat Sukar
12 0,352 Sedang
13 0,380 Sedang
14 0,718 Mudah
15 0,056 Sangat Sukar
16 0,929 Sangat Mudah
17 0,901 Sangat Mudah
18 0,380 Sedang
19 0,521 Sedang
20 0,802 Mudah
21 0,126 Sangat Sukar
22 0,774 Mudah
23 0,338 Sedang
24 0,169 Sukar
25 0,493 Sedang
26 0,267 Sukar
27 0,718 Mudah
28 0,676 Sedang
29 0,239 Sukar
30 0,169 Sukar
31 0,267 Sukar
32 0,197 Sukar
33 0,859 Sangat Mudah
34 0,084 Sangat Sukar
35 0,732 Mudah
Berdasarkan pada hasil analisis yang dilakukan terhadap 35 butir soal

tersebut pada aspek tingkat kesukaran didapatkan bahwa 7 butir soal dengan

kategori sangat mudah, 6 butir soal kategori mudah, 10 butir soal kategori sedang,

6 butir soal kategori sukar dan 6 butir soal kategori sangat sukar. Distribusi

74
sebaran butir soal pada aspek tingkat kesukaran dapat dilihat pada tabel dibawah

ini.

Tabel 11. Distribusi Hasil Analisis Aspek Tingkat Kesukaran


Tingkat
Nomor Soal Jumlah Persentase (%)
kesukaran
Sangat Mudah 1, 2, 5, 6, 16, 17, 33 7 20
Mudah 4, 14, 20, 22, 27, 35 6 17,14
7, 8, 9, 12, 13, 18, 19, 23,
Sedang 10 28,57
25, 28
Sukar 24, 26, 29, 30, 31, 32 6 17,14
Sangat Sukar 3, 10, 11, 15, 21, 34 6 17,14
Berdasarkan tabel pendistribusian hasil analisis tingkat kesukaran pada

soal, maka dapat dibuat diagram pie untuk menampilkan secara jelas seperti pada

gambar dibawah.

Diagram Hasil Analisis Aspek Tingkat


Kesukaran
Sangat Sukar Sangat Mudah
17% 20%

Sukar
17% Mudah
17%

Sedang
29%
Sangat Mudah Mudah Sedang Sukar Sangat Sukar

Gambar 6. Diagram Pie Persentase Hasil Analisis Tingkat Kesukaran

d. Daya pembeda

Hasil analisis kuantitatif terhadap 35 butir soal tersebut dengan

menggunakan program Anates pada aspek daya beda dapat dilihat pada tabel

dibawah ini:

75
Tabel 12. Hasil Analisis Aspek Daya Beda
Nomor Soal Indeks Daya Beda Klasifikasi
1 0,157 Jelek
2 0,105 Jelek
3 0,263 Cukup
4 0,421 Baik
5 0,052 Jelek
6 0 Jelek
7 0,263 Cukup
8 0,578 Baik
9 0,315 Cukup
10 0 Jelek
11 -0,052 Dibuang
12 0,105 Jelek
13 0,105 Jelek
14 0,315 Cukup
15 -0,105 Dibuang
16 0,105 Jelek
17 0,210 Cukup
18 0,368 Cukup
19 0,315 Cukup
20 0,315 Cukup
21 0 Jelek
22 0,421 Baik
23 0,157 Jelek
24 0 Jelek
25 0,631 Baik
26 0,263 Cukup
27 0,473 Baik
28 0,052 Jelek
29 0,157 Jelek
30 0 Jelek
31 0,210 Cukup
32 0,052 Jelek
33 0,105 Jelek
34 0 Jelek
35 0,263 Cukup
Dari hasil analisis yang didapatkan maka dapat diketahui bahwa

sebanyak 2 butir soal termasuk dalam kategori sangat jelek (harus dibuang), 17

butir soal katetgori jelek, 11 butir soal termasuk kategori cukup, dan 5 soal

termasuk kategori baik. Pada hasil analisis tidak ditemukan soal dengan kategori

76
sangat baik pada aspek daya beda. Distribusi hasil analisis dapat dilihat seperti

pada tabel dibawah.

Tabel 13. Distribusi Hasil Analisis Aspek Daya Beda


Kategori Daya Persentase
Nomor Soal Jumlah
Pembeda (%)
Dibuang 11, 15 2 5,71
1, 2, 5, 6, 10, 12, 13, 16,
Jelek 21, 23, 24, 28, 29, 30, 32, 17 48,57
33, 34
3, 7, 9, 14, 17, 18, 19, 20,
Cukup 11 31,43
26, 31, 35
Baik 4, 8, 22, 25, 27 5 14,29
Sangat Baik - - 0
Berikut ini merupakan diagram pie berdasarkan hasil analisis kuantitatif

daya beda butir soal Ulangan Akhir Semester Mata Pelajaran Dasar Listrik dan

Elektronika kelas X di SMK Negeri 2 Purwokerto.

Hasil Analisis Aspek Daya Beda


Sangat Baik Dibuang
0% 6%
Baik
14%

Cukup
31% Jelek
49%

Dibuang Jelek Cukup Baik Sangat Baik

Gambar 7. Diagram Pie Persentase Hasil Analisis Aspek Daya Beda

e. Efektivitas pengecoh

Perhitungan efektivitas pengecoh/distractor dilihat dari seberapa banyak

peserta didik yang memilih jawaban A, B, C, D atau E pada satu soal diluar kunci

jawaban. Pengecoh yang tersebar secara merata, dipilih oleh minimal 5% dari

77
jumlah peserta tes, dipilih oleh sebagian besar kelompok bawah maka dapat

dikatakan sebagai pengecoh yang berfungsi dengan baik. Apabila sebuah

pengecoh tidak dapat memenuhi kriteria tersebut maka dikatakan sebagai

pengecoh yang tidak berfungsi karena tidak memiliki daya tarik untuk memilih

pengecoh tersebut. Efektivitas pengecoh juga berhubungan untuk membedakan

mana peserta tes yang termasuk kelompok atas dengan kelompok bawah.

Hasil analisis efektivitas pengecoh menggunakan program Anates pada

35 butir soal pilihan ganda mata pelajaran Dasar Listrik dan Elektronika kelas X

SMK Negeri 2 Purwokerto dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

78
Tabel 14. Hasil Analisis Aspek Efektivitas Pengecoh
Kualitas Pengecoh
No Klasifikasi
A B C D E
1 Jawaban Buruk Baik Sangat Buruk Buruk Buruk
2 Buruk Jawaban Sangat Buruk Buruk Kurang Buruk
3 Buruk Sangat Buruk Sangat Baik Jawaban Baik Kurang
4 Baik Jawaban Baik Baik Kurang Baik
5 Buruk Buruk Buruk Jawaban Sangat Buruk Buruk
Sangat
6 Jawaban - - - -
Buruk
7 Buruk Buruk Buruk Sangat Buruk Jawaban Buruk
8 Sangat Baik Baik Jawaban Buruk Sangat Buruk Kurang
9 Buruk Buruk Kurang Sangat Buruk Jawaban Buruk
10 Buruk Sangat Baik Sangat Baik Buruk Jawaban Baik
11 Jawaban Baik Baik Buruk Buruk Baik
12 Sangat Baik Kurang Baik Sangat Baik Jawaban Baik
13 Kurang Sangat Buruk Kurang Jawaban Baik Kurang
14 Jawaban Buruk Buruk Sangat Baik Baik Kurang
15 Jawaban Buruk Buruk Sangat Buruk Sangat Baik Kurang
16 Sangat Buruk Jawaban Buruk Buruk Kurang Buruk
17 Buruk Kurang Jawaban Kurang Baik Kurang
18 Kurang Jawaban Baik Baik Sangat Baik Baik
19 Sangat Buruk Buruk Jawaban Buruk Baik Buruk
20 Jawaban Sangat Baik Kurang Sangat Buruk Kurang Kurang
21 Sangat Baik Buruk Jawaban Baik Baik Baik
22 Sangat Baik Buruk Jawaban Sangat Buruk Baik Kurang
23 Buruk Jawaban Buruk Sangat Buruk Baik Buruk
24 Sangat Baik Sangat Buruk Kurang Jawaban Kurang Kurang
25 Sangat Baik Jawaban Baik Sangat Buruk Buruk Kurang
26 Buruk Sangat Baik Jawaban Baik Baik Baik
27 Buruk Sangat Baik Sangat Baik Jawaban Buruk Baik
28 Jawaban Buruk Buruk Kurang Kurang Kurang
29 Sangat Baik Sangat Baik Baik Jawaban Baik Sangat Baik
30 Buruk Jawaban Kurang Sangat Buruk Buruk Buruk
31 Kurang Buruk Sangat Baik Jawaban Baik Baik
32 Sangat Buruk Jawaban Sangat Baik Buruk Buruk Kurang
33 Kurang Jawaban Kurang Kurang Kurang Kurang
34 Buruk Jawaban Sangat Buruk Kurang Kurang Buruk
35 Jawaban Buruk Sangat Baik Kurang Kurang Kurang
Berdasarkan pada analisis aspek efektivitas pengecoh maka dapat

dihasilkan 1 butir soal dengan kategori sangat baik, 9 butir soal termasuk baik, 14

butir soal kategori kurang, 10 butir soal kategori buruk dan 1 butir soal kategori

sangat buruk. Tabel distribusi hasil analisis aspek efektivitas pengecoh soal pada

soal tersebut seperti dibawah ini:

79
Tabel 15. Distribusi Hasil Analisis Aspek Efektivitas Pengecoh
Kategori No Soal Jumlah Persentase (%)
Sangat Baik 29 1 2,86
4, 10, 11, 12, 18, 21,
Baik 9 25,71
26, 27, 31
3, 8, 13, 14, 15, 17,
Kurang 20, 22, 24, 25, 28, 32, 14 40,00
33, 35
1, 2, 5, 7, 9, 16, 19,
Buruk 10 28,57
23, 30, 34
Sangat Buruk 6 1 2,86
Dari tabel distribusi pada hasil analisis soal aspek efektivitas pengecoh

maka dapat dibuat ke dalam diagram pie seperti pada gambar dibawah ini

Hasil Analisis Aspek Efektivitas


Pengecoh
Sangat Buruk Sangat Baik
3% 3%
Baik
26%
Buruk
28%
Kurang
40%

Sangat Baik Baik Kurang Buruk Sangat Buruk

Gambar 8. Diagram Pie Persentase Hasil Analisis Efektivitas Pengecoh

B. Pembahasan Hasil

Evaluasi yang sudah dilakukan merupakan salah satu cara untuk

mengetahui dan mengukur kemampuan peserta didik terhadap materi yang telah

disampaikan oleh guru. Dibutuhkan alat ukur yang baik supaya tujuan daari

evaluasi sebagai alat ukur kemampuan peserta didik dapat berfungsi. Berdasarkan

hasil analisis butir soal pilihan ganda Mata Pelajaran Dasar Listrik dan

80
Elektronika kelas X SMK Negeri 2 Purwokerto yang sudah didapatkan, baik

secara teoritik maupun empirik secara rinci akan dibahas dibawah ini:

1. Hasil Analisis Secara Teoritik

Hasil analisis butir soal Ulangan Akhir Semester Gasal Mata Pelajaran

Dasar Listrik dan Elektronika kelas X SMK Negeri 2 Purwokerto secara teoritik

atau kualitatif ditinjau dari aspek materi, konstruksi dan bahasa terdapat beberapa

butir soal yang masih belum memenuhi kriteria. Selanjutnya hasil dari analisis

teoritik ini akan dibahas berdasarkan pada masing-masing aspek.

a. Aspek Materi

Analisis teoritik ditinjau dari aspek materi terdapat 7 butir soal yang tidak

sesuai dengan kritertia yaitu soal nomor 2, 3, 5, 13, 14, 16 dan 20. Pada butir soal

nomor 2, 3 dan 16 tidak memenuhi kriteria alternatif jawaban yang bersifat logis

dan homogen. Penulisan alternatif jawaban yang tidak setara juga terdapat pada

butir soal nomor 5 dimana alternatif jawaban atau pengecoh yang diberikan

termasuk dalam kategori buruk. Butir soal nomor 13, 14 dan 20 tidak memenuhi

kriteria soal sesuai dengan indikator atau kisi-kisi soal. Berikut merupakan contoh

kutipan soal nomor 14.

14. Persamaan hukum Ohm ... .


A. U = I . R
B. I = U. R
C. R = U . I
I
D. U = R
R
E. I = U

Pada kisi-kisi soal aspek kognitif butir soal nomor 14 termasuk dalam

level 3 atau penalaran namun pada dasarnya hanya termasuk ke dalam kategori

81
level 1 atau pengetahuan atau pemahaman sehingga antara rancangan atau kisi-

kisi kurang sesuai dengan soal yang sebenarnya. Butir soal yang seperti ini hanya

mengandalkan daya ingat dari peserta didik saja sehingga tingkat kesukaran pada

soal ini tergolong mudah.

b. Aspek Konstruksi

Secara keseluruhan kualitas soal dilihat dari aspek konstruksi sudah

bagus. Hanya terdapat satu soal yaitu butir soal nomor 3 yang tidak memenuhi

kriteria pada aspek konstruksi. Kriteria yang belum dimiliki oleh butir nomor 3

adalah panjang alternatif jawaban yang relatif sama. Berikut ini merupakan

contoh kutipan butir soal nomor 3.

3. Yang dimaksud tahanan listrik adalah ... .


a. Besarnya penghantar listrik
b. Kemampuan menahan beban listrik
c. Kemampuan menghantarakna arus listrik
d. Rintangan yang terdapat dalam penghantar
e. Ohm

Pada alternatif jawaban yang tersedia, terdapat alternatif jawaban yaitu

pada pilihan E yang penulisannya tidak sama dengan alternatif jawaban lainnya.

Hal ini membuat banyak peserta tes yang memilih alternatif jawaban E karena

yang paling terlihat berbeda. Padahal kunci jawaban pada butir soal ini adalah

pada alternatif jawaban D sehingga banyak peserta tes yang menjawab salah.

c. Aspek Bahasa

Terdapat 5 butir soal yang belum memenuhi 1 kriteria dari 3 kriteria yang

harus dipenuhi pada aspek bahasa, yaitu pada butir soal nomor 7, 12, 14, dan 34.

Kriteria yang berlum terpenuhi pada aspek bahasa adalah penggunaan bahasa

82
yang komunikatif dan mudah dimengerti dalam soal. Berikut ini merupakan

contoh butir soal nomor 34.

34. Sebuah hambatan dengan kode warna coklat, hitam, hitam, emas
adalah ....
A. 0,1 Ohm + 5%
B. 1 Ohm + 5%
C. 10 Ohm + 5%
D. 100 Ohm + 5%
E. 1kV Ohm + 5%

Penulisan pada butir soal nomor 34 mengandung pokok kalimat yang

kurang jelas karena tidak komunikatif dan sulit dipahami. Soal tersebut

menanyakan besarnya hambatan dilihat dari warna gelang yang terdapat pada

hambatan tersebut, akan tetapi pada soal tidak diberi keterangan berapa jumlah

gelang yang ada. Pada kenyataannya terdapat dua jenis hambatan yang memiliki

4 dan 5 gelang, dan perhitungan besar hambatan berbeda tergantung dari jumlah

gelang yang dimiliki. Soal nomor 34 kurang komunikatif karena tidak jelasnya

berapa jumlah gelang yang dimiliki oleh hambatan tersebut.

2. Hasil Analisis Secara Empirik

Analisis soal pilihan ganda secara empirik/kuantitatif dilakukan dengan

menggunakan program Anates Version 4.09 yang hasilnya meliputi aspek

validitas, reliabilitas, daya beda, tingkat kesukaran dan efektivitas pengecoh.

a. Validitas

Sesuai dengan kriteria dari validitas tes dimana tes dapat secara tepat

untuk mengukur apa yang hendak diukur. Perhitungan validitas tes menggunakan

teori korelasi point biserial dimana melalui indeks point biserial (Ypbi) yang telah

83
diperoleh kemudian dibandingkan ke dalam tabel r product moment dengan taraf

signifikansi 5%. Dengan jumlah peserta yang mengikuti tes sebanyak 71 peserta

maka didapatkan angka sebesar 0,250. Maka dari itu soal akan dikatakn valid

apabila harga ( bpi)  0,333. Kemudian butir soal yang masuk dalam kategori

valid maka akan bernilai 1, sedangkan butir soal yang termasuk dalam kategori

tidak valid bernilai 0.

Berdasarkan hasil analisis yang telah didapatkan maka dapat

disimpulkan apabila sebagian besar soal Ulangan Akhir Semester Gasal Mata

Pelajaran Dasar Listrik dan Elektronika Kelas X di SMK Negeri 2 Purwokerto

tahun pelajaran 2018/2019 termasuk ke dalam soal yang kurang baik dilihat dari

indeks validitasnya. Dalam hal ini dapat dilakukan beberapa tindak lanjut

berdasarkan pada hasil analisis butir soal diantaranya adalah untuk butir soal yang

sudah dinyatakan valid maka dapat disimpan ke dalam bank soal untuk

selanjutnya dapat digunakan kembali sebagai insturmen tes yang berikutnya.

Untuk butir soal yang dinyatakan tidak valid harus segera dilakukan revisi

sebelum digunakan kembali sebagai instrumen tes berikutnya namun apabila

revisi butir soal tidak dapat dilakukan maka harus diganti dengan soal yang baru.

b. Reliabilitas

Aspek reliabilitas pada soal sangatlah penting karena hal ini

menunjukkan tingkat keajegan dan konsistensi dari soal tersebut sehingga dapat

dipercaya. Analisis butir soal mata pelajaran Dasar Listrik dan Elektronika ini

dilakukan dengan menggunakan program Anates Version 4.09 dimana

84
perhitungannya menggunakan koefisien reliabilitas (r11) yang nanti hasilnya akan

dibandingkan dengan indeks reliabilitas.

Berdasarkan dari hasil analisis soal aspek reliabilitas yang telah

dilakukan menunjukkan angka reliabilitas pada soal sebesar 0,47. Dengan

koefisien reliabilitas soal tersebut sebesar 0,47 maka dapat dikategorikan ke dalam

reliabilitas rendah atau un-reliable, hal ini dikarenakan untuk masuk dalam

kategori reliabilitas tinggi maka soal tersebut harus memiliki koefisien reliabilitas

sebesar 0,7 atau lebih.

Hal-hal yang dapat mempengaruhi rendah tingginya nilai reliabilitas

terbagi menjadi tiga faktor utama. Faktor pertama yang dapat mempengaruhi hasil

tes tersebut adalah hal yang berkaitan erat dengan soal tersebut, seperti misalnya

panjang tes dan kualitas dari butir soal tersebut karena apabila pada tes tersebut

memiliki banyak butir soal yang nilai validitasnya tinggi maka juga akan

menunjukkan nilai reliabilitas yang tinggi juga begitupun sebaliknya. Faktor

kedua yang dapat mempengaruhi adalah yang berhubungan dengan peserta tes

atau testee. Hal tersebut dikarenakan oleh unsur dari kejiwaan manusia yang

seringkali tidak ajeg atau konsisten dalam segi sikap, kecakapan, kemampuan dan

yang lainnya yang dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu. Selain itu banyaknya

jumlah testee juga berpengaruh karena apabila tes diujikan kepada kelompok yang

terdiri dari banyak peserta didik maka akan menghasilkan keberagaman hasil yang

merepresentasikan nilai reliabilitas soal tersebut. Kemudian faktor ketiga yang

dapat mempengaruhi nilai reliabilitas merupakan hal yang berkaitan dengan

penyelenggaraan tes. Apabila administrasi yang digunakan untuk

85
menyelenggarakan tes baik, maka akan menghasilkan tes yang memiliki kualitas

yang baik pula dan akan mempengaruhi nilai reliabilitas tes.

c. Tingkat Kesukaran

Analisis butir soal pada aspek tingkat kesukaran digunakan untuk

menguji derajat kesukaran soal yang pada umumnya dibagi menjadi tiga tingkatan

yaitu mudah, sedang dan sukar. Dengan menggunakan program Anates hasil

analisis soal Dasar Listrik dan Elektronika dapat diketahui tingkatan kesukaran

soal yang mencangkup 5 tingkatan yaitu sangat mudah, mudah, sedang, sukaar

dan sangat sukar. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu sukar maupun

mudah, oleh karena itu pada aspek tingkat kesukaran akan mendapat nilai 1

apabila butir soal termasuk ke dalam tingkatan sedang, dan akan bernilai 0 apabila

butir soal termasuk dalam tingkatan mudah atau sukar.

Sesuai dengan hasil analisis yang telah dilakukan terhadap 35 butir soal

pada aspek tingkat kesukaran didapatkan hasil 7 butir soal (20%) termasuk dalam

kategori sangat mudah, 6 butir soal (17,14%) masuk kategori mudah, 10 butir soal

(28,57%) masuk kategori sedang, 6 butir soal (17,14%) masuk kategori sukar, dan

6 butir soal (17,14%) masuk kategori sangat sukar. Apabila hasil analisis tersebut

diubah menjadi hanya tiga tingkatan kesukaran maka akan didapatkan 37% (13

butir) soal termasuk dalam kategori mudah, 29% soal termasuk kategori sedang

(10 butir) dan 34% soal (12 butir) masuk dalam kategori sukar. Hal tersebut

kurang sesuai dengan yang terdapat pada kisi-kisi soal dimana soal dengan

kategori sukar hanya sebanyak 8 butir, kategori sedang 17 butir dan kategori

mudah 10 butir soal (lihat lampiran 7). Oleh karena itu perolehan skor yang

86
didapat oleh siswa masih kurang memuaskan dilihat dari sebanyak 32 peserta dari

71 belum memenuhi kriteria ketuntasan.

Soal yang memiliki kualitas yang baik seharusnya memiliki rasio

perbandingan tingkat kesukaran 3:5:2 yang artinya pada sebuah soal yang

memiliki tingkat kesukaran yang baik idealnya memiliki 30% soal dengan

kategori mudah, 50% soal dengan kategori sedang dan 20% soal dengan kategori

sukar. Dengan hasil yang telah didapatkan maka dapat dibuat diagram

perbandingan dengan distribusi tingkat kesukaran yang ideal sebagai berikut

Perbandingan Distribusi Tingkat


Kesukaran
60%
50%
50%
40% 37%
34%
30 % 29%
30%
20%
20%
10%
0%
Mudah Sedang Sukar

Ideal Hasil Analisis

Gambar 9. Diagram Perbandingan Distribusi Tingkat Kesukaran

Berdasarkan perbandingan distribusi tingkat kesukaran pada hasil

analisis masih belum sesuai dengan yang ideal. Pendistribusian soal pada aspek

tingkat kesukaran yang mudah sebesar 37% masih melebihi dari ideal yang

seharusnya hanya 30% saja. Kondisi ini akhirnya mempengaruhi butir soal yag

memilki tingkat sedang, yang idealnya berjumlah 50% namun pada analisis butir

soal ini hanya terdapat 29%. Pada tingkat sukar juga jumlahnya melebihi ideal,

87
yaitu sebanyak 34%. Apabila butir soal yang tingkat kesukarannya mudah terlalu

banyak maka akan cenderung tidak mendorong siswa untuk lebih berfikir.

Tingkatan soal yang terlalu sukar juga bsa berdampak hal yang sama. Oleh karena

itu soal dengan tingkat kesukaran sedang yang mampu memberikan dorongan

siswa untuk lebih berfikir. Dari hasil analisis dan perbandingan yang diperoleh

juga didapatkan beberapa tindak lanjut yang dapat dilakukan, antara lain:

1. Bagi butir soal yang sudah masuk dalam kategori baik yaitu butir soal dengan

tingkat kesukaran sedang, maka selanjutnya dapat disimpan ke dalam bank soal

dan digunakan kembali pada tes yang berikutnya selama sesuai dengan materi

yang diujikan kepada siswa.

2. Butir soal yang tingkat kesukarannya termasuk dalam kategori mudah perlu

dikurangi lagi jumlahnya dan tidak digunakan kembali untuk tes selanjutnya.

Butir soal yang terlalu mudah bisa disebabkan oleh pengceoh yang

efektivitasnya tidak baik.

3. Butir soal yang tingkat kesukarannya termasuk dalam kategori sukar dapat

dipertahankan untuk digunakan kembali pada tes berikutnya, namun jumlah

yang ada perlu dikurangi melihat dari hasil analisis yang menampilkan

distribusinya masih melebihi ideal. Pengurangan jumlah butir soal yang sukar

dapat dilakukan dengan memperbaiki soal yang sukar tersebut sehingga

nantinya dapat menjadi tidak terlalu sukar.

d. Daya Beda

Aspek daya beda dalam menganalisis butir soal dilakukan untuk

mengetahui kemampuan tiap butir soal dalam membedakan antara peserta pada

88
kelompok peserta didik yang sudah menguasai materi dengan kelompok peserta

didik yang kurang atau belum menguasai materi. Hasil analisis akan menunjukan

angka positif dan negatif yang mencakup lima kategori. Pada hasil analisis yang

menunjukkan angka positif berada di kategori sangat baik, baik dan cukup

tergantung pada besarnya angka yang dihasilkan. Untuk hasil analisis yang

menunjukkan angka negatif termasuk dalam dua kategori yaitu jelek dan jelek

sekali. Selanjtnya hasil analisis yang menunjukkan angka positif akan bernilai 1,

sedangkan hasil analisis yang menunjukkan angka negatif akan bernilai 0.

Pendistribusian hasil analisis 35 butir soal pada aspek daya beda

menunjukkan sebanyak 2 butir soal termasuk dalam kategori sangat jelek, 17 butir

soal termasuk kategori jelek, 11 butir soal termasuk dalam kategori cukup, 5 butir

soal termasuk kategori baik, dan tidak terdapat soal yang termasuk dalam kategori

sangat baik. Kemudian pembagian untuk kategori soal yang memadai dan tidak

memadai sebagai daya beda, butir soal yang termasuk baik dan cukup masuk

kedalam kategori memadai sedangkan untuk butir soal yang termasuk jelek dan

jelek sekali masuk dalam kategori tidak memadai.

Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan sebanyak 55% soal

termasuk dalam kategori daya beda soal yang tidak memadai, dan hanya 45%

yang termasuk dalam kategori soal yang memadai. Butir soal yang termasuk

dalam kategori memadai artinya soal tersebut mapu untuk membedakan antara

peserta didik yang belum atau kurang menguasai materi dengan peserta didik yang

sudah mneguasi materi dan butir soal dapat digunakan kembali pada tes

berikutnya. Sedangkan untuk daya beda yang termasuk dalam kategori tidsk

89
memadai sebaiknya dilakukan adanya perbaikan atau revisi sebelum digunakan

kembali pada tes berikutnya atau dapat digantikan dengan soal yang baru.

Terdapat bebeparapa kemungkinan mengapa soal termasuk dalam kategori yang

tidak memadai seperti pengecoh yang tidak berfungsi, materi yang terlalu sulit,

kunci jawaban yang tidak jelas, dan kompetensi diukur yang tidak tepat.

e. Efektivitas Pengecoh/distractor

Analisis butir soal pada aspek efektivitas pengecoh dilakukan untuk

mengetahui apakah alternatif pilihan jawaban yang tersebar dapat bekerja dengan

baik atau tidak. Terdapat lima kategori pada analisis efektivitas pengecoh yaitu

sangat baik, baik, kurang, buruk, dan sangat buruk. Butir soal yang termasuk

dalam kategori sangat baik, baik, dan kurang termasuk dalam pengecoh yang

berfungsi sedangkan untuk butir soal yang termasuk dalam kategori buruk dan

sangat buruk berarti pengecoh tidak berfungsi. Bagi soal yang termasuk dalam

pengecoh yang baik maka akan mendapatkan nilai 1 dan pengecoh yang tidak

berfungsi mendapatkan nilai 0.

Pendistribusian hasil analisis butir soal pada aspek efektivitas pengecoh

1 butir soal termasuk dalam kategori sangat baik, 9 butir soal termasuk baik, 14

butir soal termasuk kategori kurang, 10 butir soal termasuk kategori buruk dan 1

butir soal termasuk dalam kategori sangat buruk. Berdasarkan hasil

pendistribusian terhadap 35 butir soal yang didapatkan maka dalam efektivitasnya

sejumlah 24 butir soal (69%) termasuk dalam pengecoh yang berfungsi baik

sedangkan sebanyak 11 butir soal (31%) termasuk dalam pengecoh yang tidak

berfungsi.

90
Perhitungan efektivitas pengecoh dilihat dari menghitung banyakanya

peserta tes yang memilih jawaban pada alternatif jawabal A, B, C, D atau E.

Pengecoh dapat dikatakan efektif apabila sudah memenuhi kriteria pengeecoh

yang efektif antara lain alternatif jawaban mirip dengan kunci, tersebar dengan

merata, dipilih oleh minimal 5% dari peserta tes dan lebih banyak anggota

kelompok bawah yang menjawab. Pengecoh dikatkan tidak berfungsi apabila

tidak dapat membedakan jawaban antara peserta didik kelompok atas dengan

peserta didik kelompok bawah. Faktor lain yang dapat mempengaruhi efektivitas

pengecoh adalah banyaknya soal dengan tingkat kesukaran yang mudah. Apabila

soal terlalu mudah maka peserta tes tidak akan menghiraukan alternatif jawaban

lainnya. Pada penelitian ini terdapat 1 butir soal dimana semua peserta tes

menjawab dengan benar, ini artinya pengecoh yang lain sama sekali tidak

berfungsi.

Hasil diatas hampir sama dengan penelitian yang telah dilakukan oleh

Rochim (2018) dan Shodiq (2018) mengenai Analisis Butir Soal. Adapun hasil

penelitian yang dilakukan oleh Rochim dari total 49 butir soal sebanyak 21 butir

soal (43%) termasuk kategori valid dan 28 butir soal (57%) termasuk kategori tidak

valid. Kemudian untuk relabilitas soal sebesar 0,5 sehingga masuk kedalam

kategori un-reliable. Pada hasil analisis daya beda menunjukkan 18 butir soal

masuk dalam kategori tidak baik dan 31 butir soal masuk kategori baik. Kemudian

hasil penelitian Shodiq yang dilakukan secara teoritik, dari total 30 butir soal

sebanyak 23,33% soal tidak memenuhi aspek materi, 53,33% soal tidak memenuhi

aspek konstruksi dan 73,33% soal tidak memenuhi aspek bahasa. Selanjutnya hasil

91
analisis secara empirik berdasarkan aspek validitas sebanyak 40% soal termasuk

valid dan 60% soal termasuk tidak valid, hasil analisis ini sama persis seperti

dengan penelitian yang dilakukan. Tigkat reliabilitas yang dihasilkan sebesar 0,67

sehingga masih masuk dalam kategori un-reliable mendekati nilai soal dengan

kategori reliabel. Pada aspek daya beda menunjukkan sebanyak 40% butir soal

masuk kategori baik sedangkan 47% butir soal kategori tidak baik dan sisanya 13%

butir soal masuk kategori soal yang harus dibuang.

C. Tindak Lanjut Hasil Penelitian

Beberapa tindak lanjut yang dapat dilakukan adalah apabila pengecoh

sudah termasuk dalam kategori pengecoh yang berfungsi maka soal dapat

dimasukkan ke dalam bank soal dan dapat digunakan untuk tes berikutnya.

Kemudian apabila pengecoh tidak berfungsi maka dapat dilakukan penggantian

alternatif jawaban yang lain atau dengen mengganti keseluruhan soal.

1. Tindak Lanjut Hasil Analisis Teoritik

Soal yang telah dianalisis dan mendapatkan hasil yang belum memenuhi

kriteria maka selanjutnya dapat dilakukan perbaikan sebagai usaha tindak lanjut

untuk setelahnya digunakan lagi pada tes yang berikutnya. Dalam melakukan

perbaikan terhadap soal pada aspek materi, bahasa dan konstruksi dapat dilakukan

dengan membenahi kalimat yang digunakan, penulisan kata, keterangan yang

jelas dan susunan kata yang disesuaikan dengan kaidah Bahasa Indonesia.

Beberapa soal dapat dilakukan perbaikan seperti yang ada dibawah ini.

92
a. Aspek Materi

1) Soal sesuai dengan indikator atau kisi-kisi soal

Butir Soal Lama

14. Persamaan hukum Ohm ... .


A. U = I . R
B. I = U. R
C. R = U . I
I
D. U =
R
R
E. I = U

Usulan Perbaikan Soal

14. Berapa besarnya tegangan yang terdapat pada rangkaian apabila arus
yang melewatinya sebesar 0,4 A dan terdapat hambatan sebesar 220 
dihitung dengan menggunakan persamaan hukum Ohm ... .
A. 4,4 Volt
B. 8,8 Volt
C. 44 Volt
D. 48 Volt
E. 88 Volt

2) Alternatif jawaban bersifat logis dan homogen

Butir Soal Lama

3. Yang dimaksud tahanan listrik adalah ... .


A. Besarnya penghantar listrik
B. Kemampuan menahan beban listrik
C. Kemampuan menghantarakan arus listrik
D. Rintangan yang terdapat dalam penghantar
E. Ohm

93
Usulan Perbaikan Soal

3. Yang dimaksud tahanan listrik adalah ... .


A. Besarnya penghantar listrik
B. Kemampuan menahan beban listrik
C. Kemampuan menghantarakna arus listrik
D. Rintangan yang terdapat dalam penghantar
E. Kemampuan menghantarkan tegangan listrik
3) Penulisan jawaban setara

Butir Soal Lama

5. Ditinjau dari kemampuan menghantar arus, bahan listrik dibedakan


menjadi .... .
A. Logam dan bukan logam
B. Tembaga, besi, aluminium
C. Padat cair, dan gas
D. Konduktor, semi konduktor, isolator
E. Penghantar panas dan penghantar dingin

Usulan Perbaikan Soal

5. Ditinjau dari kemampuan menghantar arus, bahan listrik dibedakan


menjadi .... .
A. Logam, non-logam, konduktor
B. Penghantar padat, penghantar cair
C. Tembaga, aluminium, besi
D. Konduktor, semi konduktor, isolator
E. Penghantar panas dan penghantar dingin

b. Aspek Konstruksi

Butir Soal Lama

3. Yang dimaksud tahanan listrik adalah ... .


A. Besarnya penghantar listrik
B. Kemampuan menahan beban listrik
C. Kemampuan menghantarakan arus listrik
D. Rintangan yang terdapat dalam penghantar
E. Ohm

94
Usulan Perbaikan Soal

3. Yang dimaksud tahanan listrik adalah ... .


A. Besarnya penghantar listrik
B. Kemampuan menahan beban listrik
C. Kemampuan menghantarakna arus listrik
D. Rintangan yang terdapat dalam penghantar
E. Kemampuan menghantarkan tegangan listrik
c. Aspek Bahasa

Butir Soal Lama

34. Sebuah hambatan dengan kode warna coklat, hitam, hitam, emas adalah
....
A. 0,1 Ohm + 5%
B. 1 Ohm + 5%
C. 10 Ohm + 5%
D. 100 Ohm + 5%
E. 1kV Ohm + 5%

Usulan Perbaikan Soal

1. Sebuah hambatan yang memiliki 4 gelang warna dengan kode warna


coklat, hitam, hitam, emas adalah ....
A. 0,1 Ohm + 5%
B. 1 Ohm + 5%
C. 10 Ohm + 5%
D. 100 Ohm + 5%
E. 1kV Ohm + 5%

2. Tindak Lanjut Hasil Analisis Empirik

Perlu adanya tindak lanjut dari hasil analisis butir soal Dasar Listrik dan

Elektronika Kelas X SMK Negeri 2 Purwokerto yang meliputi aspek validitas,

reliabilitas, tingkat kesukaram, daya beda dan efektivitas pengecoh. Secara umum

tindak lanjut yang dapat dilakukan berdasarkan analisis ini yaitu dengan disimpan,

diperbaiki atau dibuang dan diganti dengan membuat soal yang baru. Butir soal

95
yang memiliki kriteria bagus maka sebaiknya disimpan atau dipertahankan untuk

dapat digunakan dalam tes selanjutnya. Sedangkan untuk butir soal yang memiliki

kriteria cukup dapat dilakukan perbaikan terlebih dahulu sebelum digunakan

kembali pada tes berikutnya. Untuk butir soal yang termasuk dalam kriteria tidak

baik maka dapat dibuang dan kemudian dignti dengan membuat soal yang baru.

Kriteria kualitas butir soal didapatkan berdasarkan pada hasil analisis

dilihat dari aspek validitas, tingkat kesukaran, daya pembeda dan efektivitas

pengeecoh. Butir soal dapat dikatakan mempunyai kualitas yang sangat baik

apabila memperoleh nilai 4 yang berarti memenuhi empat kriteria dari aspek

validitas, tingkat kesukaran, daya beda dan efektivitas pengecoh. Apabila butir

soal memperoleh nilai 3 yang berarti hanya memenuhi tiga dari empat kriteria

maka butir soal dikatakan mempunyau kualitas yang baik. Selanjutnya butir soal

dikatakan mempunyai kualitas yang cukup apabila hanya mendapatkan nilai 2

yang berarti hanya memenuhi dua dari empat kritera. Pada butir soal yang

memiliki kualitas cukup diperlukan adanya perbaikan terutama pada kriteria yang

belum terpenuhi supaya kualitas butir soal tersebut dapat meningkat. Butir soal

yang hanya mendapatkan nilai 1 atau hanya memenuhi satu kriteria dari empat

kriteria maka dapat dikategorikan memiliki kualitas yang tidak baik. Selanjutnya

butir soal yang hanya mendapatkan nilai 0 atau tidak memenuhi keempat kriteriaa

tersebut maka dapat dikategorikan ke dalam soal yang berkualitas sangat tidak

baik. Butir soal dengan kualitas tidak baik dan sangat tidak baik harus dibuang

dan diganti dengan soal yang baru karena butir soal tersebut tidak mampu untuk

menjadi alat ukur untuk mengukur kemampuan peserta didik. Berikut ini

96
merupakan tabel hasil analisis dan interpretasi kualitas butir soal yang dilihat dari

empat kriteria aspek validitas, tingkat kesukaran, daya pembeda dan efektivitas

pengecoh.

Tabel 16. Nilai Hasil Analisis Data Empirik

Efektivitas Pengecoh
Tingkat Kesukaran
Nilai

Daya Pembeda
Validitas
No soal

Efektivitas
Kesukaran

Pengecoh
Pembeda
Validitas

Tingkat

Daya
1 Tidak Valid Sangat Mudah Jelek buruk 0 0 0 0
2 Valid Sangat Mudah Jelek buruk 1 0 0 0
3 Valid Sangat Sukar Cukup kurang 1 0 1 1
4 Valid Mudah Baik baik 1 0 1 1
5 Tidak Valid Sangat Mudah Jelek buruk 0 0 0 0
6 Tidak Valid Sangat Mudah Jelek sangat buruk 0 0 0 0
7 Tidak Valid Sedang Cukup buruk 0 1 1 0
8 Valid Sedang Baik kurang 1 1 1 1
9 Valid Sedang Cukup buruk 1 1 1 0
10 Tidak Valid Sangat Sukar Jelek baik 0 0 0 1
11 Tidak Valid Sangat Sukar Dibuang baik 0 0 0 1
12 Tidak Valid Sedang Jelek baik 0 1 0 1
13 Tidak Valid Sedang Jelek kurang 0 1 0 1
14 Valid Mudah Cukup kurang 1 0 1 1
15 Tidak Valid Sangat Sukar Dibuang kurang 0 0 0 1
16 Tidak Valid Sangat Mudah Jelek buruk 0 0 0 0
17 Valid Sangat Mudah Cukup kurang 1 0 1 1
18 Tidak Valid Sedang Cukup baik 0 1 1 1
19 Valid Sedang Cukup buruk 1 1 1 0
20 Valid Mudah Cukup kurang 1 0 1 1
21 Tidak Valid Sangat Sukar Jelek baik 0 0 0 1
22 Valid Mudah Baik kurang 1 0 1 1
23 Tidak Valid Sedang Jelek buruk 0 1 0 0
24 Tidak Valid Sukar Jelek kurang 0 0 0 1
25 Valid Sedang Baik kurang 1 1 1 1
26 Tidak Valid Sukar Cukup baik 0 0 1 1
27 Valid Mudah Baik baik 1 0 1 1
28 Tidak Valid Sedang Jelek kurang 0 1 0 1
29 Tidak Valid Sukar Jelek sangat baik 0 0 0 1
30 Tidak Valid Sukar Jelek Buruk 0 0 0 0
31 Tidak Valid Sukar Cukup Baik 0 0 1 1
32 Tidak Valid Sukar Jelek Kurang 0 0 0 1
33 Valid Sangat Mudah Jelek Kurang 1 0 0 1
34 Tidak Valid Sangat Sukar Jelek Buruk 0 0 0 0
35 Valid Mudah Cukup Kurang 1 0 1 1

97
Tabel 17. Interpretasi Nilai Hasil Analisis Data Empirik

No Tingkat Daya Efektivitas


Validitas Jumlah Kategori
Soal Kesukaran Pembeda Pengecoh
1 0 0 0 0 0 Sangat Tidak Baik
2 1 0 0 0 0 Tidak Baik
3 1 0 1 1 3 Baik
4 1 0 1 1 3 Baik
5 0 0 0 0 0 Sangat Tidak Baik
6 0 0 0 0 0 Sangat Tidak Baik
7 0 1 1 0 2 Cukup
8 1 1 1 1 4 Sangat Baik
9 1 1 1 0 3 Baik
10 0 0 0 1 1 Tidak Baik
11 0 0 0 1 1 Tidak Baik
12 0 1 0 1 2 Cukup
13 0 1 0 1 2 Cukup
14 1 0 1 1 3 Baik
15 0 0 0 1 1 Tidak Baik
16 0 0 0 0 0 Sangat Tidak Baik
17 1 0 1 1 3 Baik
18 0 1 1 1 3 Baik
19 1 1 1 0 3 Baik
20 1 0 1 1 3 Baik
21 0 0 0 1 1 Tidak Baik
22 1 0 1 1 3 Baik
23 0 1 0 0 1 Tidak Baik
24 0 0 0 1 1 Tidak Baik
25 1 1 1 1 4 Sangat Baik
26 0 0 1 1 2 Cukup
27 1 0 1 1 3 Baik
28 0 1 0 1 2 Cukup
29 0 0 0 1 1 Tidak Baik
30 0 0 0 0 0 Sangat Tidak Baik
31 0 0 1 1 2 Cukup
32 0 0 0 1 1 Tidak Baik
33 1 0 0 1 1 Cukup
34 0 0 0 0 0 Sangat Tidak Baik
35 1 0 1 1 2 Baik

Berdasarkan hasil interpretasi kualitas butir soal berdasarkan pada empat

kriteria maka dihasilkan kualitas tiap butir soal yang pendistribusiannya seperti

pada tabel dibawah ini:

98
Tabel 18. Distribusi Kualitas Butir Soal

Kategori Nomor Soal Jumlah Persentase (%)


Sangat Baik 8, 25 2 5,71
3, 4, 9, 14, 17, 18, 19, 20, 22,
Baik 11 31,43
27, 35
Cukup 7, 12, 13, 26, 28, 31, 33 7 20
2, 10, 11, 15, 21, 23, 24, 29,
Tidak Baik 9 25,71
32
Sangat Tidak Baik 1, 5, 6, 16, 30, 34 6 17,14

Berdasarkan tabel distribusi kualitas soal diatas dapat diketahui dari total

35 butir soal pilihan ganda yang dianalisis terdapat 2 butir soal (5,71%) masuk

dalam kategori sangat baik, 11 butir soal (31,43%) masuk kategori baik, 7 butir

soal (20%) masuk kategori cukup, 9 butir soal (25,71%) masuk kategori tidak

baik, dan sisanya 6 butir soal (17,14%) masuk kategori sangat tidak baik. Secara

keseluruhan soal ini termasuk dalam kualitas soal yang cukup.

Butir soal nomor 8 dan 25 secara analisis kuantitatif merupakan butir soal

yang memiliki kualitas sangat baik. Hal ini berarti soal tersebut mampu memenuhi

4 aspek yaitu validitas, tingkat kesukaran, daya pembeda dan efektivitas

pengecoh. Butir soal yang termasuk dalam kualitas sangat baik berarti soal

tersebut sudah mampu dan layak sebagai alat ukur pada tes. Kemudian soal juga

dapat langsung disimpan ke dalam bank soal.

Selanjutnya terdapat 11 butir soal yang termasuk dalam kategori soal

dengan kualitas baik yaitu soal nomor 3, 4, 9, 14, 17, 18, 19, 20, 22, 27 dan 35.

Pada kategori ini berarti soal sudah memenuhi 3 aspek dari 4 yang harus terpenuhi.

Kekurangan dari beberapa soal ini bisa dikarenakan pada aspek validitas, tingkat

kesukaran, daya pembeda ataupun efektivitas pengecohnya. Soal dapa digunakan

kembali sebagai alat pengujian dengan syarat salah satu aspek yang belum

99
terpenuhi harus di perbaiki terlebih dahulu. Perbaikan yang harus dilakukan juga

cenderung lebih mudah, karena hanya memperbaiki satu aspek saja.

Pada kategori soal dengan kualitas cukup terdapat 7 butir soal, yaitu

nomor 7, 12, 13, 26, 28, 31, dan 33. Soal dengan kualitas cukup hanya memenuhi

2 aspek dari 4 aspek yang harus dipenuhi. Supaya butir soal tersebut dapat

digunakan kembali untuk pengujian berikutnya maka diperlukan pembenahan

yang lebih mendalam dan perbaikan yang dilakukan utnuk memenuhi 2 aspek

yang belum terpenuhi sebelumnya.

Kemudian untuk butir soal yang termasuk ke dalam kategori tidak baik

yang terdiri dari soal nomor 2, 10, 11, 15, 21, 23, 24, 29 dan 32 lalu untuk soal

dengan kategori kualitas sangat tidak baik terdiri dari nomor 1, 5, 6, 16, 30, dan

34. Butir soal yang termsuk kedalam dua kategori terakhir ini tidak layak untuk

digunakan sebagai alat ukur kemampuan peserta didik. Hal ini dikarenakan lebih

banyak aspek yang tidak terpenuhi sehingga akan lebih sulit apabila dilakukan

pembenahan atau perbaikan dan membutuhkan ketelitian dan kecermatan yang

baik. Alangkah lebih baik apabika butir soal tersebut dibuang dan kemudian

digantikan dengan membuat soal yang baru lagi.

Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa butir soal

pilihan ganda ulangan akhir semester Mata Pelajaran Dasar Listrik dan

Elektronika kelas X di SMK Negeri 2 Purwokerto dapat dimasukkan ke dalam

bank soal dengan kategori kualitas soal sangat baik. Untuk butir soal yang

termasuk dalam kategori kualitas baik dan cukup maka diperlukan adanya

pembenahan dan perbaikan supaya dapat digunakan kembali. Butir soal yang

100
termasuk dalam kategori kualitas tidak baik dan sangat tidak baik maka tidak

layak untuk digunakan sehingga harus dibuang dan dilakukan pembuatan soal

ulang.

101
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan tentang analisis butir soal

pilihan ganda Ulangan Akhir Semester Gasal Mata Pelajaran Dasar Listrik dan

Elektronika kelas X di SMK Negeri 2 Purwokerto Tahun Ajaran 2018/2019, maka

dapat disimpulkan:

1. Analisis Secara Teoritik

Analisis secara teoritik atau kualitatif yang dilakukan terhadap 35 butir soal

pilihan ganda, dapat disimpulkan bahwa:

a) Sebanyak 7 butir soal (20%) tidak memenuhi kriteria pada aspek materi.

b) Sebanyak 1 butir soal (2,86%) tidak memenuhi kriteria pada aspek

konstruksi.

c) Sebanyak 4 butir soal (11,43%) tidak memenuhi kriteria pada aspek

bahasa.

2. Analisis Secara Empirik

Selain itu juga dilakukan analisis butir soal secara empirik atau kuantitatif yang

meliputi aspek reliabilitas, validitas, tingkat kesukaran, daya beda dan efektivitas

pengecoh. Adapun kesimpulan dari hasil analisis empirik adalah sebagai berikut:

a) Pada aspek reliabilitas mendapatkan skor 0,47 yang menunjukkan jika soal

tidak reliabel.

b) Aspek validitas, sebanyak 14 (40%) butir soal termasuk dalam kategori

valid, untuk soal dengan kategori tidak valid berjumlah 21 (60%).

102
c) Aspek tingkat kesukaran didapatkan bahwa 7 butir soal (20%) dengan

kategori sangat mudah, 6 butir soal (17,14%) kategori mudah, 10 butir soal

(28,57%) kategori sedang, 6 butir soal (17,14%) kategori sukar dan 6 butir

soal (17,14%) kategori sangat sukar.

d) Aspek daya pembeda sebanyak 2 butir soal (5,71%) termasuk dalam

kategori sangat jelek (harus dibuang), 17 butir soal (48,57%) kategori

jelek, 11 butir soal (31,43%) termasuk kategori cukup, 5 butir soal

(14,29%) termasuk kategori baik, sedangkan untuk butir soal dengan

kategori sangat baik tidak ada.

e) Aspek efektivitas pengecoh maka dapat dihasilkan 1 butir soal (2,86%)

dengan kategori sangat baik, 9 butir soal (25,71%) termasuk baik, 14 butir

soal (40%) kategori kurang, 10 butir soal (28,57%) kategori buruk dan 1

butir soal (2,86%) kategori sangat buruk.

f) Secara keseluruhan dilihat dari empat aspek (validitas, daya pembeda,

tingkat kesukaran dan efektivitas pengecoh) dari total 35 butir soal pilihan

ganda 2 butir soal (5,71%) masuk dalam kategori sangat baik, 11 butir soal

(31,43%) masuk kategori baik, 7 butir soal (20%) masuk kategori cukup,

9 butir soal (25,71%) masuk kategori tidak baik, dan sisanya 6 butir soal

(17,14%) masuk kategori sangat tidak baik.

Secara keseluruhan dilihat dari simpulan hasil yang sudah didapatkan, soal

mendapatkan poin 1,8 (dibulatkan menjadi 2) dan diintepretasikan ke dalam

kategori kualitas soal sehingga keseluruhan kualitas butir soal ulangan akhir

semester gasal termasuk cukup baik.

103
B. Implikasi Hasil Penelitian

Berdasarkan simpulan yang di dapat maka diperoleh implikasi penelitian

sebagai berikut:

1. Secara keseluruhan dalam analisis butir soal secara kualitatif sudah bagus

karena hanya terdapat 10 butir soal yang tidak memenuhi kriteria baik dari

aspek materi, konstruksi dan bahasa.

2. Pada aspek materi, butir soal yang masih belum memenuhi kriteria soal sesuai

dengan rancangan atau kisi-kisi dapat dilakukan perbaikan dengan

menyesuaikan antara rancangan soal dengan soal. Selain itu alternatif jawaban

yang tidak bersifat logis dan homogen serta penulisan jawaban tidak setara

akan menggiring peserta tes untuk tidak memilih alternatif jawaban tersebut,

oleh karena itu diperlukan adanya perbaikan supaya butir soal tersebut dapat

memenuhi kriteria yang diperlukan.

3. Ditinjau dari aspek konstruksi hanya terdapat 1 butir soal yang tidak memenuhi

kriteria dalam panjang penulisan alternatif jawaban yang sama. Hal tersebut

membuat peserta tes akan terkecoh karena terdapat alternatif jawaban yang

paling berbeda, oleh karena itu diperlukan adanya perbaikan pada alternatif

jawaban yang terdapat pada butir soal tersebut.

4. Ditinjau dari aspek bahasa, terdapat 4 butir soal yang tidak memenuhi kriteria

penggunaan bahasa yang komunikatif dan mudah dimengerti. Bahasa yang

komunikatif pada soal akan memudahkan peserta tes untuk mengerti maksud

dari soal tersebut. Pada analisis ini terdapat butir soal yang rancu karena

kurangnya kalimat keterangan sehingga mengakibatkan bahasa pada soal

104
kurang komunikatif sehingga sulit untuk dimengerti. Oleh karena itu sebaiknya

dilakukan pembenahan dalam penulisan soal.

5. Pada analisis kuantitatif ditinjau dari aspek validitas, sebagian besar butir soal

termasuk dalam kategori yang tidak valid. Hal ini juga mempengaruhi nilai

reliabilitas yang didapatkan karena banyakknya soal yang tidak valid

mengakibatkan nilai reliabilitas soal hanya 0,47 sehingga termasuk soal yang

reliabel rendah. Perlu adanya revisi pada soal yang masih tergolong tidak valid

supaya nilai reliabilitas bertambah.

6. Hasil analisis pada aspek tingkat kesukaran masih belum ideal. Butir soal yang

tergolong mudah dan sukar jumlahnya masih terlalu banyak dibandingkan

dengan kategori sedang sehingga perlu ada pengurangan soal kategori sukar

ataupun mudah dan dimasukkan ke dalam soal kategori sedang supaya

mencapai ideal. Untuk soal yang sudah masuk dalam kategori sedang

sebaiknya disimpan ke dalam bank soal.

7. Hasil analisis pada aspek daya beda menunjukkan tidak adanya butir soal yang

termasuk dalam kategori sangat baik, yang ada hanya baik, cukup, jelek dan

sangat jelek. Daya beda berfungsi untuk membedakan jawaban antara peserta

tes yang berasal dari kelompok atas dengan kelompok bawah. Besarnya nilai

daya beda juga dipengaruhi oleh validitas dan reliabilitas soal. Perlu adanya

revisi terhadap 55% butir soal tidak memadai pada aspek daya beda.

8. Terdapat 11 butir soal (31%) dari total 35 butir memiliki pengecoh yang tidak

berfungsi. Pengecoh yang tidak berfungsi sebaiknya dibuang dan diganti

dengan pengecoh yang baru.

105
Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan acuan bagi guru untuk melakukan

perbaikan terhadap butir soal yang masih memiliki kualitas rendah. Dalam

penyusunan instrumen tes juga harus memenuhi kaidah-kaidah penulisan soal yang

baik supaya mendapatkan nilai validitas isi yang baik. Hasil tes juga sudah dapat

digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik karena secara keseluruhan

soal sudah termasuk cukup baik. Namun apabila soal akan digunakan lagi untuk tes

berikutnya perlu memilah soal yang layak saja sedangkan untuk soal yang belum

atau tidak layak sebaiknya tidak digunakan lagi sebelum dilakukan perbaikan atau

revisi.

C. Saran

Berdasarkan pada hasil analisis yang telah dilakukan baik secara teoritik

maupun empirik, maka dapat dijadikan beberapa saran:

1. Bagi guru

a. Perlu memperhatikan lagi dalam penulisan soal, terutama dalam menggunakan

bahasa yang komunikatif sehingga akan lebih dimengerti oleh peserta tes.

Selain itu apabila kaidah penulisan sudah baik maka akan mempengaruhi nilai

validitas dan reliabilitas pada soal.

b. Melakukan penelaahan dan perbaikan terhadap beberapa butir soal yang masih

belum memenuhi kriteria sebelum digunakan kembali untuk tes yang

selanjutnya. Perbaikan butir soal yang akan di kerjakan dapat mengacu pada

hasil analisis.

106
c. Menyimpan ke dalam bank soal dan dapat menggunakan kembali butir soal

yang sudah termasuk dalam kualitas soal kategori sangat baik dan baik.

d. Soal yang harus dibuang kemudian diganti dengan yang baru selanjutnya dapat

digunakan sebagai alat evaluasi. Hasil dari tes tersebut kemudian digunakan

kembali untuk mengukur kualitas soal yang baru.

2. Bagi Kepala Sekolah

a. Menyediakan sarana waktu dan kesempatan bagi guru untuk melakukan

analisis butir soal supaya kemampuan peserta didik dapat secara tepat terukur

melalui tes yang dilakukan.

107
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Z. (2012). Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Pendidikan Islam,


Kementrian Agama RI.

Arikunto, S. (2016). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

BSNP. (2010). Panduan Analisis Butir Soal.

Depdiknas. (2003). Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem


Pendidikan Nasional.

Ekawatiningsih, P. (2008). Penerapan Metode Penilaian Portofolio (Portofolio


Based Assesment) Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Mata Kuliah
Restoran. Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Vol. 17, No. 2, Oktober
2008.

Embretson, S. E. et al. (2000). Item Response Theory for Psychologist. New Jersey:
Lawrence Erlbaum Associates.

Gulo, W. (2010). Metodologi Penelitian. Jakarta: Grasindo.

Hambleton, R. K., et al. (1985). Item Response Theory Principles and Application.
New York: Springer Science+Business Media.

Herman, J. L., et al. (1992). A Practical Guide to Alternative Assessment.


California: ACSD.

Kemendikbud. (2016). Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Republik


Indonesia No. 23 Tahun 2016 Tentangg Standar Penilaian Pendidikan.

Kemendikbud. (2017). Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar SMK/MAK


Kompetensi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik.

Kizlik, Bob. (2012). Measurement, Assesment, and Evaluation in Education. Shah


Alam: UITM.

Manap, A. (2009). Implementasi Penilaian Pembelajaran Pada SMK Jurusan


Bangunan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Pendidikan Teknologi dan
Kejuruan, Vol. 18, No. 2, Oktober 2009.

Mardapi, D. (2008). Tekink Penyusunan Tes dan Non-tes. Yogyakarta: Mitra


Cendekia.

Martono, N. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

108
Martubi. (2004). Evaluasi Pembelajaran (Kognitif). Yogyakarta: UNY.

Nurcahyo, F A. (2016). Aplikasi IRT dalam Analisis Aitem Tes Kognitif. Buletin
Psikologi, Vol. 24, No. 2, 64-75.

Purwanto, N. (2017). Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung:


PT Remaja Rosdakarya.

Pemerintah Republik Indonesia. (2013). Peraturan No. 32 tahun 2013 tentang


Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar
Nasional Pendidikan.

Prijowuntato, S W. (2016). Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Sanata Dharma


University Press.

Priyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif. Sidoarjo: Zifatama Publishing.

Rochim, M A. (2018). Analisis Butir Soal Ujian Akhir Semester Gasal Mata
Pelajaran Chasis Kelas XII Teknik Kendaraan Ringan di SMK
Muhammadiyah 2 Tempel Tahun Ajaran 2017/2018. Skripsi. Yogyakarta:
UNY.

Ruhimat, Toto dkk. (2013). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: RajaGrafindo


Persada.

Shodiq. (2018). Analisis Butir Soal Ujian Akhir Semester Gasal Mata Pelajaran
Pemeliharaan Listrik Kendaraan Ringan Kelas XII di SMK Negeri 2 Klaten
Tahun Ajaran 2017/2018. Skripsi. Yogyakarta: UNY.

Siahaan, Parsaoran. (2017). Evaluasi, Pengukuran, Tes, Penilaian (Asesmen) dan


Penilaian Kelas. Bandung: UPI.

Smith, W. Z. (2016). The Effects of Scaling on Trends of Development: Classical


Test Theory and Item Response Test. Nebraska: University of Nebraska.

Sofyan, H. (2018). Pendidikan Teknologi Kejuruan. Yogyakarta: UNY Press.

Sudijono, A. (2012) Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo


Persada.

Suwandi. (2013). Evaluasi Pelaksanaan Ujain Akhir Sekolah Berstandar Nasional.


Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Vol. 21, No. 3, Mei 2013

109
LAMPIRAN
Lampiran 1. Hasil Analisis Menggunakan Program Anates

110
Lampiran 2. Silabus Mata Pelajaran DLDE
SILABUS MATA PELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMK Negeri 2 Purwokerto


Bidang Keahlian : Teknologi dan Rekayasa
Program Keahlian : Teknik Ketenagalistrikan
Paket Keahlian : TITL dan TOI
Mata Pelajaran : Dasar Listrik dan Elektronika
Durasi : 216 JP

Kompetensi Inti:
KI 3 : Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, operasional lanjut, dan
metakognitif secara multidisiplin sesuai dengan bidang dan lingkup kerja Teknik Otomasi Industri pada tingkat teknis, spesifik,
detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks
pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan
internasional.
KI 4 : Melaksanakan tugas spesifik, dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang lazim dilakukan serta
memecahkan masalah sesuai dengan bidang kerja Teknik Otomasi Industri. Menampilkan kinerja mandiri dengan mutu dan
kuantitas yang terukur sesuai dengan standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif,
komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu
melaksanakan tugas spesifik secara mandiri.
Menunjukkan keterampilan mempersepsi, kesiapan, meniru, membiasakan gerak mahir, menjadikan gerak alami, sampai
dengan tindakan orisinal dalam ranah konkret terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu
melaksanakan tugas spesifik secara mandiri.

111
Indikator Pencapaian Kegiatan Alternatif
Kompetensi Dasar Materi Pokok JP
Kompetensi Pembelajaran Penilaian

3.1. Menerapkan  Dapat menjelaskan  Arus listrik dan 18 Mengamati : kinerja:


konsep listrik pengertian arus, pengamatan
arus elektron Mengamati gejala
dan elektronika tegangan. fisik arus, resistan, sikap kerja dan
(gejala fisik arus  Dapat menjelaskan - Muatan listrik
dan tegangan kegiatan praktek
listrik dan tentang resistan. - definisi arus listrik dalam di dalam bengkel
potensial listrik)  Mampu menganalisis dan tegangan rangkaian listrik tentang
4.1 Menggunakan terjadinya arus dan serta daya dan rangkaian listrik
konsep listrik listrik - resistan arus searah
energi listrik
dan elektronika  Mampu
(gejala fisik arus mendemonstrasikan Menanya :
listrik dan terjadinya arus dan Mengkondisikan Tes:
potensial listrik) tegangan. situasi belajar Tes lisan,
untuk tertulis, dan
membiasakan praktek terkait
mengajukan parameter
pertanyaan secara rangkaian listrik
aktif dan mandiri arus searah.
tentang elemen
pasif da elemen
aktif serta Portofolio:
parameter Laporan
rangkaian listrik penyelesaian
arus searah tugas
Mengeksplorasi : Tugas:
Mengumpulkan

112
Indikator Pencapaian Kegiatan Alternatif
Kompetensi Dasar Materi Pokok JP
Kompetensi Pembelajaran Penilaian
data yang Memeriksa
dipertanyakan dan parameter
menentukan rangkaian
sumber (melalui listrik arus
benda konkrit, searah
dokumen, buku,
eksperimen) untuk
menjawab
pertanyaan yang
diajukan tentang :
elemen pasif dan
elemen aktif serta
parameter
rangkaian listrik
arus searah
3.2 Menganalisis  dapat menyebutkan  Bahan-bahan 12 Mengamati : kinerja:
bahan-bahan macam-macam pengamatan
listrik Mengamati
komponen listrik bahan listrik struktur bahan- sikap kerja dan
dan elektronika  dapat menjelaskan - konduktor
bahan komponen kegiatan praktek
4.2 Memeriksa sifat-sfat dan - isolator listrik dan di dalam
bahan-bahan karakteristik masing- elektronika laboratorium
listrik masing bahan listrik - bahan bahan
 mampu semikonduktor Menanya : komponen listrik
mengidentfikasi Mengkondisikan
bahan-bahan situasi belajar Tes:
untuk

113
Indikator Pencapaian Kegiatan Alternatif
Kompetensi Dasar Materi Pokok JP
Kompetensi Pembelajaran Penilaian
komponen listrik dan membiasakan Tes lisan,
elektronika. mengajukan tertulis, dan
 mampu pertanyaan secara praktek terkait
mengelompokkan aktif dan mandiri dengan: bahan-
bahan-bahan tentang bahan- bahan
komponen listrik dan bahan komponen komponen listrik
elektronika listrik dan
elektronika

Portofolio:
Mengeksplorasi :
Mengumpulkan data Laporan
yang dipertanyakan penyelesaian
dan menentukan tugas
sumber (melalui Tugas:
benda konkrit, Memeriksa
dokumen, buku, parameter
eksperimen) tentang rangkaian listrik
: bahan-bahan arus searah
komponen listrik dan
elektronika.
3.3 Menganalisis  Dapat menjelaskan  Elemen pasif 18 Mengamati : kinerja:
sifat elemen pengertian pengamatan
- resistor dan Mengamati
pasif rangkaian resistansi, induktansi struktur bahan- sikap kerja dan
resistansi
listrik arus dan kapasitansi. bahan komponen kegiatan praktek
searah dan  Dapat membedakan - induktor dan
listrik dan di dalam
sifat-sifat resistor, induktansi laboratorium

114
Indikator Pencapaian Kegiatan Alternatif
Kompetensi Dasar Materi Pokok JP
Kompetensi Pembelajaran Penilaian
rangkaian induktor dan elektronika tentang elemen
- kapasitor dan
peralihan kapasitor. Menanya : pasif rangkaian
kapasitansi
4.3 Memeriksa sifat  Dapat arus searah
 Rangkaian listrik Mengkondisikan
komponen pasif mengklasifikasi situasi belajar
arus searah.
dalam rangkaian elemen pasif resistor, untuk Tes:
listrik arus induktor dan membiasakan Tes lisan,
searah dan kapasitor. mengajukan tertulis, dan
rangkaian  Mampu pertanyaan secara praktek terkait
peralihan mengidentifikasi aktif dan mandiri sifat elemen
rangkaian listrik arus tentang bahan- pasif rangkaian
searah bahan komponen listrik arus
 Mampu menganalisis listrik dan searah.
rangkaian listrik arus elektronika
serarah
Mengeksplorasi : Portofolio:
Mengumpulkan data Laporan
yang dipertanyakan penyelesaian
dan menentukan tugas
sumber (melalui Tugas:Memeriks
benda konkrit, a kompomen
dokumen, buku, pasif dalam
eksperimen) untuk rangkaian arus
menjawab searah.
pertanyaan yang
diajukan tentang :
bahan-bahan

115
Indikator Pencapaian Kegiatan Alternatif
Kompetensi Dasar Materi Pokok JP
Kompetensi Pembelajaran Penilaian
komponen listrik dan
elektronika.
3.4 Menganalisis  Dapat menganalisis  Rangkaian resistif 24 Mengamati : kinerja:
teorema teorema rangkaian pengamatan
arus searah Mengamati
rangkaian listrik listrik arus searah. struktur bahan- sikap kerja dan
arus searah  Dapat menghitung - seri
bahan komponen kegiatan praktek
4.4 Memeriksa arus pada rangkaian - paralel listrik dan di dalam bengkel
rangkaian listrik seri, paralel dan seri elektronika tentang teorema
arus searah paralel. - seri-paralel rangkaian listrtik
 Dapat menguraian Menanya : arus searah.
- Hukum Ohm
tentang hukum Ohm Mengkondisikan
 Dapat mengurakan - Hukum Kirchoff situasi belajar Tes:
tentang hukum untuk Tes lisan,
Kirchoff membiasakan tertulis, dan
 Mampu menghitung mengajukan praktek terkait
rangkaian listrik arus pertanyaan secara teorema
searah aktif dan mandiri rangkaian listrtik
 Mampu tentang bahan- arus searah.
membuktikan hukum bahan komponen
Ohm listrik dan
 Mampu elektronika Portofolio:
membuktikan hukum Mengeksplorasi : Laporan
Kirchoff Mengumpulkan data penyelesaian
yang dipertanyakan tugas
dan menentukan Tugas:
sumber (melalui

116
Indikator Pencapaian Kegiatan Alternatif
Kompetensi Dasar Materi Pokok JP
Kompetensi Pembelajaran Penilaian
benda konkrit, Memeriksa
dokumen, buku, teorema
eksperimen) untuk rangkaian listrtik
menjawab
arus searah.
pertanyaan yang
diajukan tentang :
bahan-bahan
komponen listrik dan
elektronika.
3.5 Menganalisis  Dapat menjelaskan  Elemen Aktif 12 Mengamati : kinerja:
sifat elemen pengertian elemen pengamatan
Mengamati
aktif aktif - sumber arus sikap kerja dan
struktur bahan-
4.5 Memeriksa sifat  Dapat menyebutkan - sumber tegangan bahan komponen kegiatan praktek
elemen aktif macam-macam listrik dan di dalam bengkel
elemen aktif. elektronika tentang elemen
 Mampu merakit aktif
elemen aktf Menanya :
 Mampu memeriksa Mengkondisikan Tes:
komponen aktif. situasi belajar Tes lisan,
untuk tertulis, dan
membiasakan praktek terkait
mengajukan dengan: elemen
pertanyaan secara aktif.
aktif dan mandiri
tentang bahan-
bahan komponen Portofolio:

117
Indikator Pencapaian Kegiatan Alternatif
Kompetensi Dasar Materi Pokok JP
Kompetensi Pembelajaran Penilaian
listrik dan Laporan
elektronika penyelesaian
Mengeksplorasi : tugas
Mengumpulkan data Tugas:
yang dipertanyakan Memeriksa
dan menentukan elemen aktif
sumber (melalui
benda konkrit,
dokumen, buku,
eksperimen) untuk
menjawab
pertanyaan yang
diajukan tentang :
bahan-bahan
komponen listrik dan
elektronika.
3.6 Menganalisis  Dapat menganalisis 12 Mengamati : kinerja:
daya dan energi daya da n energi listrik Mengamati pengamatan
listrik  Dapat struktur bahan- sikap kerja dan
4.6 Memeriksa daya menggambarkan bahan komponen kegiatan praktek
dan energi listrik hubungan watt meter listrik dan di dalam bengkel
dengan beban elektronika tentang daya dan
 Dapat energi listrik
menggambarkan Menanya :
hubungan KWh Mengkondisikan
meter situasi belajar Tes:

118
Indikator Pencapaian Kegiatan Alternatif
Kompetensi Dasar Materi Pokok JP
Kompetensi Pembelajaran Penilaian
untuk Tes lisan,
membiasakan tertulis, dan
mengajukan praktek terkait
pertanyaan secara dengan: daya
aktif dan mandiri dan energi listrik
tentang bahan-
bahan komponen
listrik dan Portofolio:
elektronika Laporan
Mengeksplorasi : penyelesaian
Mengumpulkan data tugas
yang dipertanyakan Tugas:
dan menentukan Memeriksa daya
sumber (melalui dan energi listrik
benda konkrit,
dokumen, buku,
eksperimen) untuk
menjawab
pertanyaan yang
diajukan tentang :
bahan-bahan
komponen listrik dan
elektronika.
3.7 Menentukan  Dapat menjelaskan • Prinsip alat ukur: 18 Mengamati : kinerja:
peralatan ukur prinsip kerja alat - besi putar, Mengamati pengamatan
listrik untuk ukur analog - kumparan putar, sikap kerja dan

119
Indikator Pencapaian Kegiatan Alternatif
Kompetensi Dasar Materi Pokok JP
Kompetensi Pembelajaran Penilaian
mengukur (kumparan putar, - elektrodimamis, struktur bahan- kegiatan praktek
besaran listrik. besi putar, - feraris (induksi), bahan komponen di dalam bengkel
4.7 Menggunakan elekrrodinamis dan - lidah getar, listrik dan tentang
peralatan ukur induksi. - Alat ukur digital elektronika peralatan ukur
listrik untuk  Dapat menjelaskan • Jenis alat ukur: Menanya : listrik untuk
mengukur fungsi alat-alat ukur - ampermeter, mengukur
Mengkondisikan
besaran listrik listrik - voltmeter, situasi belajar besaran listrik.
 Dapat membaca - cosphimeter, untuk
skala alat ukur - ohmmeter, membiasakan Tes:
analog mengajukan Tes lisan,
 Mampu pertanyaan secara tertulis, dan
menggambarkan aktif dan mandiri praktek terkait
hubungan alat ukur tentang bahan- dengan:
listrik bahan komponen peralatan ukur
 Mampu mengukur listrik dan listrik untuk
besaran-besaran elektronika mengukur
listrik dengan besaran listrik.
perlatan ukur listrik Mengeksplorasi :
Mengumpulkan data
yang dipertanyakan Portofolio:
dan menentukan Laporan
sumber (melalui penyelesaian
benda konkrit, tugas
dokumen, buku, Tugas:
eksperimen) untuk Memeriksa
menjawab
peralatan ukur
pertanyaan yang

120
Indikator Pencapaian Kegiatan Alternatif
Kompetensi Dasar Materi Pokok JP
Kompetensi Pembelajaran Penilaian
diajukan tentang : listrik untuk
bahan-bahan mengukur
komponen listrik dan besaran listrik.
elektronika.
3.8 Menerapkan  Dapat menjelaskan Pengukuran 12 Mengamati : kinerja:
pengukuran fungsi tahanan hambatan listrik pengamatan
Mengamati
tahanan listrik. struktur bahan- sikap kerja dan
(resistan) listrik  Dapat bahan komponen kegiatan praktek
4.8 Melakukan menyebutkan listrik dan di dalam bengkel
pengukuran jenis-jenis tahanan elektronika tentang
tahanan listrik pengukuran
(resistan) listrik  Dapat Menanya : tahanan
menyebutkan Mengkondisikan (resistan) listrik
karakteristik situasi belajar
tahanan listrik untuk Tes:
 Dapat menbaca membiasakan Tes lisan,
kode warna mengajukan tertulis, dan
tahanan. pertanyaan secara praktek terkait
 Mampu mengukur aktif dan mandiri dengan:
tahanan listrik tentang bahan- pengukuran
dengan Ohm meter bahan komponen tahanan
 Mampu listrik dan (resistan) listrik
menggunakan elektronika
multimeter sebagai Mengeksplorasi : Portofolio:
Ohm meter Mengumpulkan data
yang dipertanyakan

121
Indikator Pencapaian Kegiatan Alternatif
Kompetensi Dasar Materi Pokok JP
Kompetensi Pembelajaran Penilaian
dan menentukan Laporan
sumber (melalui penyelesaian
benda konkrit, tugas
dokumen, buku, Tugas:Memeriks
eksperimen) untuk a pengukuran
menjawab tahanan
pertanyaan yang (resistan) listrik
diajukan tentang :
bahan-bahan
komponen listrik dan
elektronika.
3.9 Menerapkan  Dapat menjelaskan Pengukuran arus 18 Mengamati : kinerja:
pengukuran prinsip pengukuran dan tegangan listrik pengamatan
Mengamati
arus dan arus dan tegangan. struktur bahan- sikap kerja dan
tegangan listrik  Dapat menguraian bahan komponen kegiatan praktek
4.9 Melakukan cara mengukur listrik dan di dalam bengkel
pengukuran arus elektronika tentang
arus dan  Dapat menguraian pengukuran arus
tegangan listrik cara mengukur Menanya : dan tegangan
tegagan Mengkondisikan listrik
 Mampu mengukur situasi belajar
arus dengan untuk
Amper meter membiasakan Tes:
 Mampu mengukur mengajukan Tes lisan,
tegangan dengan pertanyaan secara tertulis, dan
Volt meter aktif dan mandiri praktek terkait

122
Indikator Pencapaian Kegiatan Alternatif
Kompetensi Dasar Materi Pokok JP
Kompetensi Pembelajaran Penilaian
tentang bahan- dengan:
bahan komponen pengukuran arus
listrik dan dan tegangan
elektronika listrik.
Mengeksplorasi :
Mengumpulkan data
yang dipertanyakan Portofolio:
dan menentukan Laporan
sumber (melalui penyelesaian
benda konkrit, tugas
dokumen, buku, Tugas:
eksperimen) untuk Memeriksa
menjawab pengukuran arus
pertanyaan yang dan tegangan
diajukan tentang : listrik
bahan-bahan
komponen listrik dan
elektronika.
3.10 Menerapkan  Dapat menjelaskan Pengukuran daya, 12 Mengamati : kinerja:
pengukuran pengetian daya, energi dan faktor Mengamati pengamatan
daya, energi, energi dan faktor daya struktur bahan- sikap kerja dan
dan faktor daya daya bahan komponen kegiatan praktek
4.10 Melakukan  Dapat menguraian listrik dan di dalam bengkel
pengukuran langkah elektronika tentang
daya, energi dan pengukuran daya, pengukuran
faktor daya Menanya :

123
Indikator Pencapaian Kegiatan Alternatif
Kompetensi Dasar Materi Pokok JP
Kompetensi Pembelajaran Penilaian
energi dan faktor Mengkondisikan daya, energi, dan
daya. situasi belajar faktor daya
 Dapat untuk
menggambarkan membiasakan Tes:
diagram hubungan mengajukan Tes lisan,
pengukuran daya, pertanyaan secara tertulis, dan
energi dan faktor aktif dan mandiri praktek terkait
daya tentang bahan- dengan:
 Mampu bahan komponen pengukuran
mengoperasikan listrik dan daya, energi, dan
Watt meter untuk elektronika faktor daya.
mengukur daya Mengeksplorasi :
 Mampu Mengumpulkan data
mengoperasikan yang dipertanyakan Portofolio:
Kwh meter untuk dan menentukan Laporan
mengukur energi sumber (melalui penyelesaian
 mampu benda konkrit, tugas
mengoperaskan dokumen, buku, Tugas:
Cos phi meter eksperimen) untuk Memeriksa
untuk mengukur menjawab pengukuran
faktor daya pertanyaan yang daya, energi, dan
diajukan tentang : faktor daya
bahan-bahan
komponen listrik dan
elektronika.

124
Indikator Pencapaian Kegiatan Alternatif
Kompetensi Dasar Materi Pokok JP
Kompetensi Pembelajaran Penilaian
3.11 Menerapkan  Dapat menjelaskan Mengukur besaran 12 Mengamati : kinerja:
pengukuran fungsi tombol- listrik dengan pengamatan
Mengamati
besaran listrik tombol pada osciloscope. struktur bahan- sikap kerja dan
dengan osciloscope. bahan komponen kegiatan praktek
osiloskop  Dapat menjelaskan listrik dan di dalam bengkel
4.11 Melakukan langkah elektronika tentang
pengukuran pengukuran pengukuran
besaran listrik besaran listrik Menanya : besaran listrik
dengan dengan Mengkondisikan dengan
osiloskop osciloscope situasi belajar osiloskop
 Mampu untuk
mengoperasikan membiasakan Tes:
osciloscope untuk mengajukan Tes lisan,
mengukur besaran pertanyaan secara tertulis, dan
listrik aktif dan mandiri praktek terkait
 Mampu membaca tentang bahan- dengan:
tampilan hasil bahan komponen pengukuran
pengukuran pada listrik dan besaran listrik
display elektronika dengan
osciloscope Mengeksplorasi : osiloskop
Mengumpulkan data
yang dipertanyakan
dan menentukan Portofolio:
sumber (melalui Laporan
benda konkrit, penyelesaian
dokumen, buku, tugas

125
Indikator Pencapaian Kegiatan Alternatif
Kompetensi Dasar Materi Pokok JP
Kompetensi Pembelajaran Penilaian
eksperimen) untuk Tugas:
menjawab Memeriksa
pertanyaan yang pengukuran
diajukan tentang : besaran listrik
bahan-bahan
dengan
komponen listrik dan
elektronika. osiloskop

3.12 Menerapkan  Dapat menjelaskan • Analisa rangkaian 24 Mengamati : kinerja:


hukum-hukum pengertian arus sinusoida Mengamati pengamatan
rangkaian listrik bolak-balik - tegangan dan arus struktur bahan- sikap kerja dan
arus bolakbalik  Dapat sinusoida bahan komponen kegiatan praktek
4.12 Menggunakan menyebutkan - nilai sesaat listrik dan di dalam bengkel
hukum-hukum harga-harga pada - nilai maksimum elektronika tentang hukum-
rangkaian listrik arus bolak balik - nilai efektif (RMS) hukum rangkaian
arus bolakbalik  Dapat menghitung • Respon elemen Menanya : listrik arus
harga-harga arus pasif Mengkondisikan bolakbalik
bolak balik - resistor (sefasa) situasi belajar
 Dapat - induktor (lagging) untuk Tes:
menganalisis - kapasitor (leading) membiasakan Tes lisan,
diagram sinusoida • Rangkaian mengajukan tertulis, dan
tegangan dan arus seri/paralel RL pertanyaan secara praktek terkait
 Dapat • Rangkaian aktif dan mandiri dengan: hukum-
menganalisis seri/paralel RC tentang bahan- hukum rangkaian
respon elemen • Rangkaian bahan komponen listrik arus
pasif seri/paralel RLC listrik dan bolakbalik..

126
Indikator Pencapaian Kegiatan Alternatif
Kompetensi Dasar Materi Pokok JP
Kompetensi Pembelajaran Penilaian
 Dapat menjelaskan • Resonansi elektronika
pengertan listrik 3 • sistem tiga fasa Mengeksplorasi :
phasa - hubungan bintang Mengumpulkan data Portofolio:
 Mampu - hubungan segitiga yang dipertanyakan Laporan
mengaplikasikan • Fasor dan bilangan dan menentukan penyelesaian
rangkaian komplek sumber (melalui tugas
seri/paralel RL benda konkrit, Tugas:
 Mampu dokumen, buku, Memeriksa
mengaplikaskan eksperimen) untuk hukum-hukum
rangkaian menjawab rangkaian listrik
seri/paralel pertanyaan yang arus bolakbalik
 Mampu diajukan tentang :
pengaplikasikan bahan-bahan
rangkaian komponen listrik dan
seri/paralel RLC elektronika.
 Mampu
menghubungan
sistem tiga fasa
bintang segitiga
3.13 Menerapkan  Dapat menjelaskan Rangkaian 12 Mengamati : kinerja:
hukum-hukum hukum-hukum dan kemagnetan pengamatan
Mengamati
dan fenomena fenomena - induktansi diri struktur bahan- sikap kerja dan
rangkaian rangkaian - induktansi bersama bahan komponen kegiatan praktek
kemagnitan kemagnetan. listrik dan di dalam bengkel
4.13 Menggunakan  Dapat elektronika tentang hukum-
hukum-hukum membedakan

127
Indikator Pencapaian Kegiatan Alternatif
Kompetensi Dasar Materi Pokok JP
Kompetensi Pembelajaran Penilaian
rangkaian induktansi diri Menanya : hukum
kemagnitan dengan induktansi kemagentan
Mengkondisikan
bersama situasi belajar
 Mampu untuk Tes:
mendemonstrasi- membiasakan Tes lisan,
kan induktansi diri mengajukan tertulis, dan
dan induktansi pertanyaan secara praktek terkait
bersama. aktif dan mandiri hukum-hukum
 Mampu tentang bahan- kemagnetan.
pengaplikasikan bahan komponen
rangkaian listrik dan
kemagenetan elektronika Portofolio:
Laporan
Mengeksplorasi : penyelesaian
Mengumpulkan data tugas
yang dipertanyakan Tugas:
dan menentukan Memeriksa
sumber (melalui
hukum-hukum
benda konkrit,
dokumen, buku, kemagnetan.
eksperimen) untuk
menjawab
pertanyaan yang
diajukan tentang :
bahan-bahan
komponen listrik dan
elektronika.

128
Indikator Pencapaian Kegiatan Alternatif
Kompetensi Dasar Materi Pokok JP
Kompetensi Pembelajaran Penilaian
3.14 Menganalisis  Dapat menjelaskan  Teori sem 12 Mengamati : kinerja:
spesifikasi jenis-jenis piranti ikonduktor pengamatan
Mengamati
piranti-piranti elektronika daya  PN Junction (diode) struktur bahan- sikap kerja dan
elektronika daya  Dapat  BJT (transistor, bahan komponen kegiatan praktek
dalam rangkaian menganalisis IGBT) listrik dan di dalam bengkel
elektronik spesifikasi piranti-  Thyristor (SCR, elektronika piranti-piranti
4.14 Memeriksa piranti elektronika TRIAC) elektronika daya
spesifikasi daya. Menanya : dalam rangkaian
 Rangkaian
pirantipiranti  Mampu memeriksa terintegrasi (IC) Mengkondisikan elektronika.
elektronika daya spesifikasi piranti situasi belajar
 Operational
dalam rangkaian elektronika daya untuk Tes:
Amplifier
listrik  Mampu  Rangkaian
membiasakan Tes lisan,
mengaplikasikan mengajukan tertulis, dan
penyearahan (Half
piranti elektronika pertanyaan secara praktek terkait
wave rectifier, full
daya untuk suatu aktif dan mandiri dengan: piranti-
wave rectifier)
operasi tentang bahan- piranti
 Mampu bahan komponen elektronika daya
merancang suatu listrik dan dalam rangkaian
pesawat dengan elektronika elektronika..
piranti elektronika Mengeksplorasi :
daya Mengumpulkan data
yang dipertanyakan Portofolio:
dan menentukan Laporan
sumber (melalui penyelesaian
benda konkrit, tugas
dokumen, buku, Tugas:

129
Indikator Pencapaian Kegiatan Alternatif
Kompetensi Dasar Materi Pokok JP
Kompetensi Pembelajaran Penilaian
eksperimen) untuk Memeriksa
menjawab piranti-piranti
pertanyaan yang elektronika daya
diajukan tentang :
dalam rangkaian
bahan-bahan
komponen listrik dan elektronika.
elektronika.

Ket : Minggu efektif kelas XII semester ganjil = 20 minggu, semester genap = 18 minggu .Jumlah jam pelajaran per minggu (Mapel.
Sistem Kontrol Terprogram ) =10 JP

130
Lampiran 3. Kisi-kisi Soal
ANALISI ASPEK KOGNITIF
ULANGAN AKHIR SEMESTER GASALTAHUN PELAJARAN 2018/2019
SatuanPendidikan : SMK Negeri 2 Purwokerto AlokasiWaktu : 120 menit
Mata Pelajaran : DLDE Penyusun : Hj.Mudiyanti,
S.Pd
Kelas/Kompetensi Keahlian : X TITL & TOI

PENGETAHUAN/PE
PENERAPAN PENALARAN JUMLAH SOAL Total
NO KOMPETENSI DASAR MAHAMAN
A B A B A B MD SD SK A B
Mdh 3 1
Menerapkan konsep listrik dan elektronika (gejala Sdg 1 1
1 4 1
fisik arus listrik dan potensial listrik)
Skr 2,4 36 3
Mdh 5,7,8 37 4
Menganalisis bahan-bahan komponen listrik dan Sdg 6 1
2 4 1
elektronika
Skr
Mdh 9 1
Menganalisis sifat elemen pasif rangkaian listrik arus Sdg 12 10,11 13 4
3 5
searah dan rangkaian peralihan
Skr
Mdh
4 Menganalisis teorema rangkaian listrik arus searah Sdg 19 16,17,18 14 5 8 2
Skr 15 20,21 38,40 5
Mdh
5 Menganalisis daya dan energi listrik Sdg 22,23 25 3 5
Skr 24 26 2
6 Menentukan peralatan ukur listrik untuk mengukur Mdh 27,29 39 3 5 1

131
besaran listrik Sdg 28, 30 3
31
Skr
Mdh 33 1
7 Menerapkan pengukuran tahanan (resistan) listrik Sdg 32 34,35 3 4
Skr
Bentuk Soal 10 2 16 1 8 2 10 20 10 35 5
JUMLAH Jenjang Kognitif 12 18 10
Prosentase Jenjang Kognitif 30% 45% 25% 25% 50% 25%

KISI-KISI PENULISAN SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER TAHUN PELAJARAN 2018/2019


BP2MK WILAYAH V BANYUMAS
KTSP 2013

Satuan Pendidikan : SMK Negeri 2 Purwokerto Jumlah Soal :


Mata Pelajaran : DLDE Alokasi Waktu : 120 menit
Kelas/Semester : X / gasal Penyusun : Drs.Ageng
Triono,MM

LEVEL TINGKAT
KOMPETENSI INDIKATOR PENCAPAIAN BAHAN JMH NO
NO INDIKATOR SOAL KOGNITIF KESUKARAN
DASAR KOMPETENSI SOAL SOAL
TK/SEM IP A AEC MD SD SK
1 Menerapkan konsep Dapat menjelaskan pengertian X/1 2 Siswa menjelaskan terjadinya
listrik dan elektronika arus dan tegangan. 1 V V
arus listrik
(gejala fisik arus listrik
dan potensial listrik) Siswa dapat menghitung
besarnya arus yang mengalir 2 V V
pada suatu penghantar
Dapat menjelaskan tentang X/1 3 Siswa dapat menjelaskan
resistansi. 3 V V
tentang resistansi.
4 V V

132
LEVEL TINGKAT
KOMPETENSI INDIKATOR PENCAPAIAN BAHAN JMH NO
NO INDIKATOR SOAL KOGNITIF KESUKARAN
DASAR KOMPETENSI SOAL SOAL
TK/SEM IP A AEC MD SD SK
Siswa dapat menghitung
besarnya resistansi pada 36 V V
suatu pengahantar.
2 Menganalisis bahan- Dapat menyebutkan macam- X/1 2 Siswa dapat menyebutkan
bahan komponen macam bahan listrik 5 V V
macam-macam bahan listrik
listrik dan elektronika
Siswa dapat menganalisis
macam-macam konduktor 37 V V
dan isolator
Siswa dapat membedakan
6 V V
macam-macam bahan listrik
Dapat menjelaskan sifat-sfat X/1 2 Siswa dapat menjelaskan
dan karakteristik masing- 7 V V
sifat-sifat konduktor
masing bahan listrik Siswa dapat menjelaskan
8 V V
sifat-sifat bahan isolator
3 Menganalisis sifat Dapat menganalisis elemen X/1 3 Siswa dapat menganalisis
elemen pasif pasif resistansi, induktansi dan satuan resistor, induktor dan 9 V V
rangkaian listrik arus kapasitansi
kapasitor
searah dan
rangkaian peralihan Siswa dapat menghitung
10 V V
besarnya induktansi induktor
Siswa dapat menghitung
besarnya kapasitansi 11 V V
kapasitor
Dapat membedakan sifat-sifat X/1 2 Siswa dapat membedakan
resistor, induktor dan sifat-sifat resistor, induktor 12 V V
kapasitor. dan kapasitor
Siswa dapat menguraikan
aplikasi induktor dan 13 V V
kapasitor

133
LEVEL TINGKAT
KOMPETENSI INDIKATOR PENCAPAIAN BAHAN JMH NO
NO INDIKATOR SOAL KOGNITIF KESUKARAN
DASAR KOMPETENSI SOAL SOAL
TK/SEM IP A AEC MD SD SK
4 Menganalisis teorema Dapat menguraian tentang X/1 1 Siswa dapat menulis rumus
14 V V
rangkaian listrik arus hukum Ohm hukum Ohm
searah Dapat menganalisis teorema X/1 1 Siswa dapat menghitung arus
rangkaian listrik arus searah. pada rangkaian dengan 15 V V
beban sebuah resistor
Dapat menguraikan tentang X/1 1 Siswa dapat menerapkan
hukum Kirchoff 16 V V
Hukum Kirchoff I
Dapat menghitung arus pada X/1 3 Siswa dapat menhitung
rangkaian seri, paralel dan 17 V V
tegangan pada rangkaian seri
seri paralel Siswa dapat menghitung arus
18 V V
pada rangkaian paralel
Siswa dapat menjelaskan
sifat-sifat pada hubungan 19 V V
resistor paralel
Siswa dapat menghitung
hambatan pengganti pada 20 V V
hubungan paralel
Siswa dapat menghitung arus
21 V V
pada hubungan batere.
Siswa dapat mengitung arus
dan tegangan pada 38 V V
hubungan campuran
Siswa dapat menghitung arus
pada hubungan batere
campuran 40 V V

134
LEVEL TINGKAT
KOMPETENSI INDIKATOR PENCAPAIAN BAHAN JMH NO
NO INDIKATOR SOAL KOGNITIF KESUKARAN
DASAR KOMPETENSI SOAL SOAL
TK/SEM IP A AEC MD SD SK
Dapat menganalisis daya dan X/1 2 Siswa dapat menghitung
energi listrik besarnya daya pada suatu 22 V V
rangkaian
Siswa dapat menghitung
energi yang digunakan suatu 23 V V
Menganalisis daya beban.
5 Siswa dapat menghitung
dan energi listrik 24 V V
usaha panas
Dapat mengitung rendemen X/1 2 Siswa dapat menghitung
daya yang diberikan oleh 25 V V
pesawat listrik
Siswa dapat menghitung
26 V V
rendemen pesawat listrik
6 Menentukan Dapat menjelaskan prinsip X/1 1
peralatan ukur listrik Siswa dapat menyebutkan
kerja alat ukur analog
untuk mengukur alat ukur yang digunakan 27 V V
(kumparan putar, besi putar,
besaran listrik. untuk mengukur usaha listrik
elekrrodinamis dan induksi.
Dapat menjelaskan fungsi X/1 2 Siswa dapat menentukan
alat-alat ukur listrik azas kerja alat-alat ukur 28 V V
listrik
Siswa dapat menjelaskan
cara menghubungkan alat 29 V V
ukur tegangan
Siswa dapat menyebutkan
39 V V
fungsi alat-alat ukur listrik
Dapat membaca skala alat X/1 2 Siswa dapat membaca skala
ukur analog 30 V V
hambatan

135
LEVEL TINGKAT
KOMPETENSI INDIKATOR PENCAPAIAN BAHAN JMH NO
NO INDIKATOR SOAL KOGNITIF KESUKARAN
DASAR KOMPETENSI SOAL SOAL
TK/SEM IP A AEC MD SD SK
Siswa dapat membaca skala
31 V V
tegangan
7 Menerapkan Dapat menjelaskan fungsi X/1 1 Siswa dapat menganisis cara
pengukuran tahanan listrik membagai tegangan melalui 32 V V
tahanan (resistan) tahanan listrik.
listrik Dapat menjelaskan fungsi- X/1 1 Siswa dapat menjelaskan
fungsi bagaian pada multi meter 33 V V
fungsi tombil zero adjustment
Dapat menbaca kode warna X/1 2 Siswa dapat menterjemahkan
tahanan. 34 V V
kode warna tahanan.
Siswa dapat menterjemahkan
35 V V
kode warna tahanan
Purwokerto ,
November 2018

Penyusun

Mudiyanti, S.Pd

136
Lampiran 4. Soal UAS Mata Pelajaran DLDE Kelas X TITL

137
138
139
140
141
142
Lampiran 5. Kunci Jawaban dan Range Penilaian Soal

143
Lampiran 6. Lembar Jawaban Siswa

144
145
146
Lampiran 7. Daftar Skor Siswa
No No Nama Siswa Skor PG Skor  Nilai
Peserta Bobot
1 1143 Abdullah Nur Fauzan 15 22,5 70
2 1144 Aditya Ramadhan 17 25,5 73
3 1145 Agali Dika Iriawan 18 27 75
4 1146 Akhwal Yudha Prihantoro 18 27 75
5 1147 Alsafino Maysagi Arasya Maulana 17 25,5 73
6 1148 Ananda Bima Putra Kurniawan 16 24 71,5
7 1149 Anisa Aiswara 18 27 75
8 1150 Anjar Rudiono 12 18 65,5
9 1151 Annas Firmansyah Putra 21 31,5 79
10 1152 Arif Wahudin 16 24 71,5
11 1153 Aziza Az-Zahra 24 36 83,5
12 1154 Bayu Ardiansyah 14 21 68,5
13 1155 Chevi Aji 15 22,5 70
14 1156 Dani Rizki Al-Ngazmi 18 27 75
15 1157 Danim Alim Mufti 18 27 75
16 1158 Dimas Jimmy Pranata 18 27 75
17 1159 Diva Raha Dian 16 24 71,5
18 1160 Doni Arya Saputra 19 28,5 76
19 1161 Dwi Aji Nugroho 22 33 80,5
20 1162 Dwi Lusi Fatmawati 21 31,5 79
21 1163 Eksa Januar 15 22,5 70
22 1164 Esta Purwanti 23 34,5 82
23 1165 Fadillah Hilmi 16 24 71,5
24 1166 Faizal Adi Purnomo 15 22,5 70
25 1167 Fajar Bagus Prabowo 19 28,5 76
26 1168 Farhan Ghifari 17 25,5 73
27 1169 Faturohman Al Khayat 19 28,5 76
28 1170 Gentar Asmara Putra 17 25,5 73
29 1171 Ghiffari Akhmad Azmansyah 14 21 68,5
30 1172 Hamar Harimurti 20 30 77,5
31 1173 Hanif Dzaki Albar 16 24 71,5
32 1174 Hilmi Dwi Adryansyah 22 33 80,5
33 1175 Ilhan Sofiandi 18 27 75
34 1176 Iqbal Jihad Ramadhan 15 22,5 70
35 1177 Isnan Tri Febrian Dunggio 16 24 71,5
36 1178 Nanda Baruna Saputra 16 24 71,5
37 1179 Joan Alif Adani 22 33 80,5
38 1180 Kresna Rezqi Ramahan 10 15 62,5
39 1181 Mei Harry Syahputra 18 27 75
40 1182 Milza Bilnazhard 14 21 68,5
41 1183 Muhammad Whisnu Fathulloh 12 18 65,5
42 1184 Mutafiqoh Khasanah 17 25,5 73
43 1185 Nafi Zaki Isdyan 20 30 77,5
44 1186 Nanda Dimas Saputra 20 30 77,5
45 1187 Naufal Qutbi Hanafi 23 34,5 82
147
46 1188 Nicolas Gusti Pinayung 13 19,5 67
47 1189 Nur Hayati 19 28,5 76
48 1190 Oktariani 18 27 75
49 1191 Pambudi Indra Setiawan 17 25,5 73
50 1192 Rachmat Fitriyanto 20 30 77,5
51 1193 Rahmat Hidayat 25 37,5 85
52 1194 Ramadan Andre Kurniawan 22 33 80,5
53 1195 Revaldi Ikbal Safi'i 20 30 77,5
54 1196 Ridho Puja Wardana 17 25,5 73
55 1197 Rizal Rizacki 19 28,5 76
56 1198 Rizki Dwi Ferdiansyah 11 16,5 64
57 1199 Rizki Mughniyanto 18 27 75
58 1200 Rizki Muhammad Irfan 17 25,5 73
59 1201 Rizki Nur Afnan 19 28,5 76
60 1202 Rizky Nur Romadoni 18 27 75
61 1203 Rofiq Solehuddin 18 27 75
62 1204 Sigit Purnomo 19 28,5 76
63 1205 Sofiyan Agil Fauzi 25 37,5 85
64 1206 Suswanto Kurniawan 16 24 71,5
65 1207 Tri Akbar Pamungkas 16 24 71,5
66 1208 Wahyu Saputra 17 25,5 73
67 1209 Willy Bakhri Bakhtiar 18 27 75
68 1210 Yudha Setiawan 19 28,5 76
69 1211 Yudhi Setiawan 18 27 75
70 1212 Yuma Deki Himawan 19 28,5 76
71 1213 Yusuf Rizqi Kautsar 15 22,5 70

148
Lampiran 8. Rekomendasi Perbaikan Soal Analisis Teoritik
Soal Lama Usulan Perbaikan Soal
7. Bahan yang dipakai untuk konduktor harus memenuhi 7. Yang bukan merupakan persyaratan sebagai bahan yang
persyaratan sebagai berikut, kecuali ... . dipakai untuk konduktor adalah... .
A. Konduktifitasnya baik A. Konduktifitasnya baik
B. Kekuatan mekanisnya tinggi B. Kekuatan mekanisnya tinggi
C. Koefisien muai panjangnya rendah C. Koefisien muai panjangnya rendah
D. Kenyal D. Kenyal
E. Harus dari logam keras E. Harus dari logam keras

12. Jika diberi sumber arus bolak-balik, maka sifatnya sebagi 12. Yang bukan merupakan sifat hambatan apabila diberi sumber
berikut, kecuali ... . arus bolak-balik adalah ... .
A. Pada R, arus dan tegangan sefasa A. Pada R, arus dan tegangan sefasa
B. Pada L, tegangan dan arus tidak sefasa B. Pada L, tegangan dan arus tidak sefasa
C. Pada C, tegangan dan arus tidak sefasa C. Pada C, tegangan dan arus tidak sefasa
D. Pada L dan C arus dan tegangan terjadi beda fasa D. Pada L dan C arus dan tegangan terjadi beda fasa
E. Pada R nilai hambatannya berubah E. Pada R nilai hambatannya berubah

Poin Kesalahan :

 Pada butir soal nomor 7 dan 12 menggunakan kata “kecuali” sehingga pada kedua soal tersebut tidak memenuhi aspek

“menggunakan bahasa yang komunikatif” karena kata tersebut dapat membingungkan peserta tes sehingga harus dihindari

pemakaiannya.

149
Soal Lama Usulan Perbaikan Soal
2. Muatan Listrik sebanyak 600 Coloumb yang mengalir selama 2. Muatan Listrik sebanyak 600 Coloumb yang mengalir selama
5 menit, menghasilkan arus listrik sebesar ... . 5 menit, menghasilkan arus listrik sebesar ... .
A. 1 Ampere A. 0,5 Ampere
B. 2 Ampere B. 1 Ampere
C. 3 Ampere C. 2 Ampere
D. 4 Ampere D. 3 Ampere
E. 5 Ampere E. 5 Ampere

16. Dari gambar di bawah, arus yang mengalir di C sebesar ... . 16. Dari gambar di bawah, arus yang mengalir di C sebesar ... .
A. 1 A A. 2 A
B. 2 A 4A B. 6 A 4A
10A 10A
C. 3 A 4A C. 10 A 4A
D. 4 A D. 14 A
E. 5 A E. 18 A
C C

Poin Kesalahan :

 Pada butir soal nomor 2 dan 16 alternatif jawaban tidak logis dan homogen, sehingga alternatif jawaban yang lainnya selain

kunci jawaban/ pengecoh kurang bisa berfungsi dengan baik.

150
Lampiran 9. Tabel r Product Moment

151
Lampiran 10. Surat Keterangan Validasi Analisis Teoritik

152
153
154
155
Lampiran 11. Surat Keputusan Dosen Pembimbing

156
157
Lampiran 12. Surat Ijin Penelitian dari Fakultas Teknik UNY

158
Lampiran 13. Surat Ijin Penelitian SMK

159