Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN


TUBERKULOSIS MULTI DRUG RESISTANCE (TB-MDR)
DI RUANG PARU RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA

Tanggal 22 Juli - 27 Juli 2019

Oleh:
Hj. Muryani, S. Kep
NIM. 1830913320027

PROGRAM PROFESI NERS ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2019
LEMBAR PENGESAHAN

NAMA : Hj Muryani, S.Kep

NIM : 1830913320027

JUDUL : 1. Laporan Pendahuluan Tuberkulosis Multi Drug


Resistance (TB-MDR) di Ruang Paru RSUD Ratu
Zalecha Martapura

2. Asuhan Keperawatan pasien dengan TB MDR di


Ruang Paru RSUD Ratu Zalecha Martapura

3. Resume Asuhan Keperawatan Pada pasien di Ruang


Paru RSUD Ratu Zalecha Martapura

Martapura, 27 Juli 2019

Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Rismia Agustina, S. Kep Ns, M. Kep Irfan Maulana, Ns, M. Kep, Sp. Kep. MB
NIP.19840812 201404 2 001 NIP. 19770218 200003 1 004
Tuberkulosis Multi Drug Resistance
(TB-MDR)
DEFINISI KRITERIA SUSPEK TB-MDR

Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB) atau TB Suspek TB MDR adalah semua orang yang
MDR adalah resisten ganda mycobacterium tuberculosis mempunyai gejala TB dengan salah satu atau lebih
terhadap minimal 2 (dua) obat anti TB yang paling kriteria suspek dibawah ini:
poten yaitu isoniazid dan Rifampisin secara bersama 1. Pasien TB pengobatan kategori 2 yang gagal
sama atau disertai resisten terhadap obat anti TB lini (Kasus kronik)
pertama lainnya seperti etambutol, streptomisin dan 2. Pasien TB pengobatan kategori 2 yang tidak
pirazinamid. konversi
3. Pasien TB yang pernah diobati pengobatan TB
ETIOLOGI Non DOTS
4. Pasien TB gagal pengobatan kategori 1
1. Pemakaian obat tunggal dalam pengobatan 5. Pasien TB pengobatan kategori 1 yang tidak
tuberkulosis konversi setelah pemberian sisipan.
2. Penggunaan paduan obat yang tidak adekuat, yaitu 6. Pasien TB kambuh
jenis obatnya yang kurang atau di lingkungan tersebut 7. Pasien TB yang kembali setelah lalai/default
DIAGNOSIS TB MDR
telah terdapat resistensi yang tinggi terhadap obat yang 8. Suspek TB yang kontak erat dengan pasien TB-
digunakan, misalnya memberikan rifampisin dan INH Diagnosis TB MDR dipastikan berdasarkan uji kepekaan. MDR
saja pada daerah dengan resistensi terhadap kedua obat Semua suspek TB MDR diperiksa dahaknya untuk selanjutnya
tersebut sudah cukup tinggi. dilakukan pemeriksaan biakan dan uji kepekaan (Drugs OAT TB-MDR
3. Pemberian obat yang tidak teratur, misalnya hanya Sensitivity Test/DST). Jika hasil uji kepekaan terdapat yang
dimakan dua atau tiga minggu lalu berhenti, setelah a. Kelompok 1 : OAT lini 1. Isoniazid (H),
resisten minimal terhadap rifampisin dan INH, maka dapat
dua bulan berhenti kemudian bepindah dokter Rifampisin (R), Etambutol (E), Pirazinamid (Z),
ditegakkan diagnosis TB-MDR
mendapat obat kembali selama dua atau tiga bulan lalu Rifabutin (Rfb).
berhenti lagi, demikian seterusnya. b. Kelompok 2 : Obat suntik. Kanamisin (Km),
MANIFESTASI KLINIS Amikasin (Am), Kapreomisin (Cm), treptomisin
4. Fenomena “addition syndrome” yaitu suatu obat
ditambahkan dalam suatu paduan pengobatan yang (S).
1. Gejala Respiratorik :
tidak berhasil. Bila kegagalan itu terjadi karena kuman c. Kelompok 3 : Fluorokuinolon. Moksifloksasin
a. Batuk kering yang berangsur-angsur menjadi produktif lebih
TB telah resisten pada paduan yang pertama, maka (Mfx), Levofloksasin (Lfx), Ofloksasin (Ofx).
dari 3 minggu, kadang-kadang bercampur dengan dahak
“penambahan” (addition) satu macam obat hanya akan d. Kelompok 4 : Bakteriostatik OAT lini kedua :
b. Sesak napas dan nyeri dada
menambah panjangnya daftar obat yang resisten saja. Etionamid (Eto), Protionamid (Pto), ikloserin
2. Gejala Sistemik :
5. Penggunaan obat kombinasi yang pencampurannya (Cs), Terzidone (Trd), PAS.
a. Demam terutama dimalam hari
tidak dilakukan secara baik sehingga mengganggu e. Kelompok 5: Obat yang belum diketahui
b. Berkeringat dingin malam hari tanpa aktivitas atau sebab
bioavailabilitas obat. efektivitasnya : Klofazimin (Cfz), Linezolid
yang jelas
6. Penyediaan obat yang tidak reguler, kadang-kadang (Lzd), Amoksiclav (Amx/clv), Tiosetazone (Thz),
c. Penurunan napsu makan
terhenti pengirimannya sampai berbulan-bulan. Imipenem/cilastin (Ipm/cln), H dosis tinggi,
d. Penurunan berat badan
Klaritromisin (Clr).
PATHWAY TUBERKULOSIS-MULTI DRUG RESISTANCE (TB-MDR)

Droplet mengandung Udara tercemar


m.tuberculosis m.tuberculosis

Terhirup dan masuk ke paru

Produksi sekret Sekret sukar


Hipertermi Proses peradangan berlebih dikeluarkan

Limfadenitis Kelenjar getah bening Tuberkel Ketidakefektifan


bersihan jalan napas
TB primer Infeksi primer
Bronkogen
Resisten ganda Terjadi perkejuan
(TB-MDR)
Hematogen
Kalsifikasi
Bakterimia

Mengganggu perfusi
Jantung Pleura Peritonium dan difusi O2

Perikarditis Pleuritis As.lambung Gangguan pertukaran gas


meningkat
Nyeri Ketidakseimbangan
Mual, muntah,
nutrisi: kurang dari
anoreksia
keb.tubuh

ASUHAN KEPERAWATAN ANEMIA


Pengkajian Diagnosis keperawatan
1. Identitas 1. Hipertermia
2. Keluhan Utama 2. Ketidakefektifan bersihan jalan napas
3. Riwayat Penyakit 3. Gangguan pertkaran gas
4. Pola Fungsional Gordon 4. Nyeri Akut
5. Pemeriksaan Fisik 5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Hipertermia Ketidakefektifan bersihan jalan napas Gangguan Pertukaran Gas


Nyeri Akut NOC: Respiratory status: Airway Patency Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
NOC:Termoregulasi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama (1x60 NOC: Respiratory status: Ventilation, Respiratory status:
Setelah dilakukan tindakan
NOC:keperawatan selama
Pain level, pain 1x60 comfort
control, menit),bersihan
level NOC
jalan nafas efektif dengan kriteria hasil:: NutritionalAirway
status food
Patency and fluid, weight control
menit hipertermi dapat teratasi dengan kriteria hasil: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama (1x60 menit)
1. Suhu tubuh dalam rentang normal 36,5oC-37,5oC 1. Mendemonstrasikan batuk efektif Setelah dilakukangangguan tindakan pertukaran gas tidak(3x24
keperawatan terjadi dengan
jam) kriteria
selamahasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama (1x60 menit) nyeri
2. Tidak ada perubahan warna kulit 2. Menunjukkan jalan nafas yang paten ketidakseimbangan 1. nutrisi
Mendemonstrasikan
kurang dari batuk efektif, suara
kebutuhan tubuhparu yang bersih,
klien
klien akan berkurang dengan kriteria hasil:
3. Turgor kulit baik, lembab tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan
3.Mampu mengidentifikasikan dan mencegah teratasifaktor
dengan kriteri hasil:
1. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi, danhal yang sputum, mampu, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada
yang dapat menghambat jalan nafas 1. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
NIC: memperberat nyeri) pursed lips).
Monitor Termoregulasi 2. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu 2. Tidak ada tanda malnutrisi
2. Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa
NIC:
1. Monitor suhu sering mungkinmenggunakan teknik nonfarmakologi untuk 3. Tidak terjadi penurunan tercekik,berat badan
Suction Jalanmengurangi
Nafas nyeri) irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang
2. Monitor warna kulit 3. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan
1. Pastikan kebutuhan oral / tracheal suctioning normal, tidak ada suara nafas abnormal).
3. Berikan anti piretik manajemen nyeri 2. Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudahNIC :
suctioning.
4. Berikan cairan intravena
4. Menyatakan rasa nyaman setelah3.nyeri berkurangpada klien dan keluarga tentang
Informasikan Monitor
suctioning Nutrisi NIC:
5. Kompres hangat pasien pada lipat paha dan aksila 1 BB pasien dalam
4. Minta klien nafas dalam sebelum suction dilakukan. Manajemen
batas normal jalan Nafas
6. Monitor hidrasi seperti turgor kulit, kelembaban 1.penurunan
Buka jalanberatnafasbadan
5. Berikan O2 dengan menggunakan 2
nasalMonitor
untuk adanya
membran mukosa NIC: memfasilitasi suksion nasotrakeal 2. Posisikan klien untuk memaksimalkan ventilasi
7. Selimuti klien Manajemen Nyeri hilangnya
untuk mencegah
3 Monitor lingkungan 3.
selama makan
Identifikasi klien perlunya pemasangan alat bantu nafas
6. Gunakan alat yang steril setiap melakukan tindakan
4 Monitor turgor kulit
kehangatan tubuh 1. Lakukan pengkajian nyeri secara7.komptehensifAnjurkan klien untuk istirahat dan napas dalam setelah buatan
2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan 5 Monitor kadar albumin,
4. Auskultasitotalsuara
protein Hb,catat
nafas, danadanya
Ht suara tambahan
kateter dikeluarkan dari nasotrakeal
Monitor Tanda-Tanda Vital 3. Evaluasi pengalaman nyeri masa8.lampau Monitor status oksigen klien. 5. Berikan bronkodilator jika perlu
1. Monitor suhu, tekanan
4. darah, naditeknik
Ajarkan dan status
non farmakologi9. Hentikan suksion dan berikan oksigen apabila Manajemen klien Nutrisi
6. Atur intake cairan untuk mengoptimalkan keseimbangan
pernafasan 5. Kolaborasikan dengan dokter jika adamenunjukkan
keluhan danbradikardi,
tindakanpeningkatan
nyeri 1. Kolaborasi
saturasi O2, dll. 7. Monitor
dengan respirasi
ahli gizi untuk danmenentukan
status oksigen jumlah kalori
2. Monitor warna kulit, suhu dan kelembaban dan nutrisi yang dibuthkan pasien
3. Monitor sianosis Manajemen Jalan nafas 2. Berikan informasi Terapi Oksigen
tentang kebutuhan nutrisi
Administrasi Analgetik 1. Pertahankan jalan nafas paten
4. Identifikasi kemungkinan penyebab perubahan 1. Instruksikan bagaimana agar bisa 3.
melakukan Berikan
batuk makanan yang terpilih (sudah dikonsultasikan dengan
tanda-tanda vital 1. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas dan derajat nyeri sebelum 2. Atur peralatan oksigenasi
pemberian obat. efektif. ahli gizi)
2. Posisikan pasien untuk meringankan sesak nafas. 3. Monitor aliran oksigen
2. Cek instruksi dokter tentang jenis3.obat, dosis dan frekuensi
Monitor status pernafasan dan oksigenasi sebagaimana 4. Observasi adanya tanda-tanda hipoventilasi
3. Cek riwayat alergi mestinya. 5. Monitor kecemasan klien terhadap oksigenasi
4. Tentukan pilihan analgesic tergantung tipe dan beratnya nyeri
5. Pilih rute pemberian pengobatan nyeri
6. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesic
pertama
7. Berikan analgesic tepat waktu
8. Evaluasi efektifitas analgesik, tanda dan gejala
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek G.M., Howard K.B., Joanne M.D. (Eds.). 2008. Nursing Intervention
Classification (NIC), Fifth Edition. St. Louis Missouri: Mosby Inc.

Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. (Eds.). 2014. NANDA International Nursing


Diagnoses: Definitions and Classification 2015-2017. Oxford: Wiley Blackwell.

Moorhead Sue, Marion Johnson, Meridean L.M., et al. (Eds.). 2008. Nursing
Outcomes Classification (NOC), Fifth Edition. St. Louis Missouri: Mosby Inc.

Price, S. A & Wilson, L. M. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit Edisi 6 Volume 2. Jakarta: EGC

Smeltzer, Suzanne C. and Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah: Brunner Suddarth, Vol. 2. Jakarta: EGC.

Soepandi, PZ. Diagnosis dan penatalaksanaan TB MDR. Departemen


pulmonologi dan ilmu kedokteran respirasi. Jakarta. September-Oktober 2010.

Moorhead, Sue, et al. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC)5 th edition


Edisi Bahasa Indonesia Editor Intansari Nurjannah dan Rosana Devi Tumanggor.
United Kingdom : Elsevier.

Bulechek, Gloria M, et al. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC) 6th


edition Edisi Bahasa Indonesia Editor Intansari Nurjannah dan Rosana Devi
Tumanggor. United Kingdom : Elsevier

Herdman, T. Heather. 2015. NANDA International Inc. nursing diagnoses :


definitions & classification 2015-2017. Jakarta: EGC

Herdman, T. Heather. 2018. NANDA International Inc. nursing diagnoses :


definitions & classification 2018-2020. Ed. 11 Jakarta: EGC