Anda di halaman 1dari 25

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kesehatan adalah pilar utama pembangunan dan merupakan hak dasar
setiap warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Perkembangan pembangunan dibidang kesehatan dewasa ini berkembang
dengan pesat dan terjadi berbagai permasalahan yang sangat kompleks
(Mubarak, et.al, 2006).
Pelayanan kesehatan adalah pelayanan publik yang bersif mutlak dan erat
kaitannya dengan kesejahteraan masyarakat. Untuk semua pelayanan yang
bersifat mutlak, Negara dan aparaturnya berkewajiban untuk menyediakan
layanan yang bermutu dan mudah didapatkan setiap saat. Salah satu
wujudnya penyediaan layanan publik di bidang kesehatan adalah adanya
Puskesmas. Tujuan utama dari adanya Puskesmas adalah menyediakan
layanan kesehatan yang bermutu namun dengan biaya yang relative
terjangkau untuk masyarakat, terutama masyarakat dengan kelas ekonomi
menengah kebawah (DepKes RI, 2007).
Puskesmas merupakan unit pelayanan kesehatan yang letaknya berada
paling dekat ditengah-tengah masyarakat dan mudah dijangkau dibandingkan
dengan unit pelayanan kesehatan lainnya (Rumah Sakit Negeri maupun
Swasta). Fungsi Puskesmas adalah mengembangkan pelayanan kesehatan
yang bersifat menyeluruh atau yang disebut dengan Comprehensive Health
Care Service yang meliputi aspek promotive, preventive, curative, dan
rehabilitative (DepKes RI, 2008).
Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan lingkungan
adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan
lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia. Kesehatan
lingkungan merupakan bagian dari dasar-dasar kesehatan masyarakat modern
yang meliputi terhadap semua aspek manusia dalam hubungannya dengan
lingkungan, dengan tujuan untuk meningkatkan dan memperttahankan nilai-
nilai kesehatan manusia pada tingkat setinggi-tingginya dengan jalan
memodifisir tidak hanya faktor sosial dan lingkungan fisik semata-mata,
tetapi juga terhadap semua sifat-sifat dan kelakuan-kelakuan lingkungan yang
dapat membawa pengaruh terhadap ketenangan, kesehatan dan keselamatan
organisme umat manusia (Mulia Ricky M, 2015).
Pengaruh dalam bidang kesehatan salah satunya adalah terjadinya DBD
akibat kesehatan lingkungan yang buruk. Demam berdarah dengue (DBD)
adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan
manifestasi klinis demam 2- 7 hari, nyeri otot dan atau nyeri sendi yang
disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diatesis
hemoragik (Suhendro, 2009).
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI disebutkan distribusi
penyakit suspek DBD sejak minggu pertama 2018 hingga minggu pertama
2019 tertinggi ada di Jawa Timur dengan jumlah suspek DBD 700 orang,
diikuti Jawa Tengah 512 orang, dan Jawa Barat 401 orang (Depkes, 2019).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Riau angka kesakitan penyakit
demam berdarah dengue (DBD) selama tahun 2018 tercatat 925 kasus atau
14,69 per 100 ribu penduduk. Sedangkan data dari Puskesmas Sapta Taruna
mengenai jumlah kejadian DBD di Kelurahan Tangkerang Labuai yaitu
sebanyak 4 kejadian/kasus dari Bulan Januari hingga Mei 2019.
Sedangkan keberhasilan Program 1 Rumah 1 Jumantik ini dilihat dari
Indikator yang digunakan untuk upaya pengendalian penyakit DBD yaitu
angka bebas jentik (ABJ). Sampai tahun 2015, ABJ secara nasional belum
mencapai target program yaitu sebesar 95%. Keberhasilan Program 1 Rumah
1 Jumantik ini bergantung pada ABJ Nasional, jika ABJ Nasional sudah
mencapai target yaitu 95% barulah bisa dikatakan Program 1Rumah 1
Jumantik ini berhasil (KEMENKES RI, 2016).
Berdasarkan keterangan yang di dapatkan dari petugas Puskesmas Sapta
Taruna, untuk mencegah terjadinya kejadian DBD di wilayah Kecamatan
Bukit Raya ini yaitu sedang dijalankannya program kesehatan lingkungan 1
rumah 1 jumantik. Program 1 rumah 1 jumantik ini sudah dijalankan sejak
Bulan Oktober tahun 2018, akan tetapi belum berjalan secara optimal, dari 12
RW yang ada di Tangkerang Labuai baru 3 RW yang menjalankan Program
1 Rumah 1 Jumantik, yaitu sekitar 25% dari total keseluruhan jumlah RW.
dikarenakan masih kurangnya kesadaran dari setiap anggota keluarga di
Kelurahan Tangkerang Labuai khususnya di RW 09 ini untuk menjalankan
program 1 rumah 1 jumantik.
Untuk di wilayah kerja RW 09 mengenai program kesehatan lingjungan
1 rumah 1 jumantik ini, berdasarkan dari hasil wawancara dengan Ibu RW 09
di dapatkan data bahwa sebelumnya di RW 09 sudah pernah dijalankan, namun
sudah tidak berjalan lagi, dikarenakan beberapa hal, diantaranya:
a. Masyarakat belum mampu menjalankan program 1 rumah 1 jumantik secara
optimal.
b. Masyarakat yang ditunjuk menjadi Kader Jumantik meminta bayaran untuk
menjalankan program 1 rumah 1 jumantik ini.
Berdasarkan masalah diatas, kelompok III di wilayah kerja RW 09 akan
melakukan analisa program puskesmas mengenai kesehatan lingkungan 1
rumah 1 jumantik, memberikan solusi dari masalah atau hambatan program
dan melaksanakan solusi yang telah disepakati sebagai intervensi pada
kegiatan analisa program puskesmas ini.

B. Tujuan
1. Tujuan utama
Mampu mendapatkan gambaran umum pelaksanaan program kesehatan
khususnya tentang program kesehatan lingkungan 1 rumah 1 jumantik
di wilayah kerja Puskesmas Sapta Taruna Kecamatan Tangkerang
Labuai serta menganalisa tentang pelaksanaan program pada
puskesmas.
2. Tujuan khusus
a. Mampu mendapatkan gambaran sejauh mana program kesehatan
lingkungan 1 rumah 1 jumantik yang telah dilaksanakan oleh
Puskesmas Sapta Taruna.
b. Mampu mengidentifikasi faktor-faktor penghambat dan pendukung
dalam pelaksanaan program kesehatan lingkungan 1 rumah 1
jumantik oleh Puskesmas Sapta Taruna.
c. Mampu menentukan rencana tindak lanjut terhadap kesenjangan
yang telah ditentukan.
BAB 2
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A. DEFINISI
1. Jumantik
Juru pemantau jentik atau Jumantik adalah orang yang melakukan
pemeriksaan, pemantauan dan pemberantasan jentik nyamuk khususnya
Aedes aegypti dan Aedes albopictus (KEMENKES RI, 2016).
Jumantik atau juru pemantau jentik merupakan anggota masyarakat
yang dilatih oleh puskesmas setempat untuk memantau keberadaan dan
perkembangan jentik nyamuk, melaporkan kegiatan kepada puskesmas,
dan menggerakkan masyarakat untuk menjalankan pemberantasan
sarang nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus yaitu menguras, menutup
penampungan air, mendaur ulang barang bekas, dan menghindari gigitan
nyamuk. Para jumantik diwajibkan melaporkan hasil pemantauan yang
telah dilakukakan ke kelurahan atau desa masing-masing secara rutin dan
berkesinambungan. Pemantauan jentik dilakukan satu kali dalam
seminggu pada pagi hari (Saptiwi & Supriyana, 2016).
2. Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik
Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik ini sudah digaungkan sejak ASEAN
Dengue Day (ADD) 2015 yang lalu di Indonesia. Program 1 Rumah 1
Jumantik juga merupakan kegiatan dari Pemberantasan Sarang Nyamuk
(PSN). Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik adalah peran serta dan
pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan setiap keluarga dalam
pemeriksaan, pemantauan dan pemberantasan jentik nyamuk untuk
pengendalian penyakit tular vektor khususnya DBD melalui
pembudayaan PSN 3M PLUS (KEMENKES RI, 2016).
3. Tujuan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik
Program ini bertujuan menurunkan angka penderita dan angka kematian
akibat DBD dengan meningkatkan peran serta dan pemberdayaan
masyarakat berbasis keluarga untuk melakukan pencegahan. Melalui
program tersebut, diharapkan setiap rumah tangga memiliki satu anggota
yang berperan sebagai jumantik, agar ia bisa leluasa memeriksa dan
melakaukan pencegahan di tempat-tempat pribadi didalam rumah
(Saptiwi & Supriyana, 2016).
4. Jumantik Rumah
Adalah kepala keluarga / anggota keluarga / penghuni dalam satu
rumah yang disepakati untuk melaksanakan kegiatan pemantauan jentik
di rumahnya. Kepala Keluarga sebagai penanggung jawab Jumantik
Rumah (KEMENKES RI, 2016).
5. Koordinator Jumantik
Adalah satu atau lebih jumantik/kader yang ditunjuk oleh Ketua RT
untuk melakukan pemantauan dan pembinaan pelaksanaan jumantik
rumah dan jumantik lingkungan (crosscheck) (KEMENKES RI, 2016).
6. Supervisor Jumantik
Adalah satu atau lebih anggota dari Pokja DBD atau orang yang
ditunjuk oleh Ketua RW/Kepala Desa/Lurah untuk melakukan
pengolahan data dan pemantauan pelaksanaan jumantik di lingkungan
RT (KEMENKES RI, 2016).

B. STRUKTUR
Pembentukan Kader Jumantik dalam kegiatan Gerakan 1 Rumah 1
Jumantik yang berasal dari masyarakat terdiri dari Jumantik
Rumah/Lingkungan, Koordinator Jumantik dan Supervisor Jumantik.
Pembentukan dan pengawasan kinerja menjadi tanggung jawab sepenuhnya
oleh pemerintah Kabupaten/Kota. Adapun susunan organisasinya adalah
sebagai berikut:
Gambar 1 Bagan Struktur Jumantik

C. TATA KERJA DAN KOORDINASI


Tata kerja/koordinasi Jumantik di lapangan adalah sebagai berikut:
a) Tata kerja Jumantik mengacu pada petunjuk pelaksanaan dan petunjuk
teknis pemberantasan sarang nyamuk penular DBD dan
ketentuanketentuan lainnya yang berlaku di wilayah setempat.
b) Koordinator dan Supervisor Jumantik dapat berperan dalam kegiatan
pencegahan dan pengendalian penyakit lainnya sesuai dengan kebutuhan
dan prioritas masalah/penyakit yang ada di wilayah kerjanya.
Adapun ilustrasi struktur kerja Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik dapat dilihat pada
gambar berikut:
Gambar ilustrasi struktur kerja Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik

D. PEMILIHAN KOORDINATOR DAN SUPERVISOR JUMANTIK


1. Kriteria Koordinator Jumantik
Koordinator Jumantik direkrut dari masyarakat berdasarkan usulan atau
musyawarah RT setempat, dengan kriteria sebagai berikut:
a) Berasal dari warga RT setempat
b) Mampu dan mau melaksanakan tugas dan bertanggung jawab
c) Mampu dan mau menjadi motivator bagi masyarakat di lingkungan
tempat tinggalnya
d) Mampu dan mau bekerjasama dengan petugas puskesmas dan tokoh
masyarakat di lingkungannya
2. Kriteria Supervisor Jumantik
Penunjukan supervisor disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah
masing-masing, dengan kriteria:
a) Anggota Pokja Desa/Kelurahan atau orang yang ditunjuk dan
ditetapkan oleh Ketua RW/ Kepala Desa/Lurah
b) Mampu melaksanakan tugas dan bertanggungjawab
c) Mampu menjadi motivator bagi masyarakat dan Koordinator Jumantik
yang menjadi binaannya
d) Mampu bekerjasama dengan petugas puskesmas, Koordinator
Jumantik dan tokoh masyarakat setempat
3. Perekrutan
Perekrutan Koordinator dan penunjukan Supervisor Jumantik
dilaksanakan sesuai dengan tata cara yang telah diatur oleh masing-masing
Pemerintah Kabupaten/Kota, dan ditetapkan melalui sebuah Surat
Keputusan.
E. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB
Tugas dan tanggung jawab pelaksanaan PSN 3M Plus disesuaikan dengan
fungsi masing-masing. Secara rinci tugas dan tanggung jawab Jumantik adalah
sebagai berikut:
1. Jumantik Rumah
a) Mensosialisasikan PSN 3M Plus kepada seluruh anggota
keluarga/penghuni rumah.
b) Memeriksa/memantau tempat perindukan nyamuk di dalam dan di
luar rumah seminggu sekali.
c) Menggerakkan anggota keluarga/penghuni rumah untuk melakukan
PSN 3M Plus seminggu sekali.
d) Mengecek kolam ikan agar bebas dari jentik nyamuk
e) Hasil pemantauan jentik dan pelaksanaan PSN 3 M Plus dicatat pada
kartu jentik.
f) Membubuhkan bubuk larvasida pada tempat-tempat penampungan air
yang sulit dikuras atau dibersihkan (Depkes RI, 2010).
Catatan:
- Untuk rumah kost/asrama, pemilik/ penanggung jawab/pengelola
tempat-tempat tersebut bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
pemantauan jentik dan PSN 3M Plus.
- Untuk rumah-rumah tidak berpenghuni, ketua RT bertanggung
jawab terhadap pelaksanaan pemantauan jentik dan PSN 3M Plus
di tempat tersebut.

2. Koordinator Jumantik
a) Melakukan sosialisasi PSN 3M Plus secara kelompok kepada
masyarakat. Satu Koordinator Jumantik bertanggungjawab membina
20 hingga 25 orang Jumantik rumah/lingkungan.
b) Menggerakkan masyarakat untuk melaksanakan PSN 3M Plus di
lingkungan tempat tinggalnya.
c) Membuat rencana/jadwal kunjungan ke seluruh rumah/bangunan di
wilayah kerjanya.
d) Melakukan kunjungan dan pembinaan ke rumah/ tempat tinggal setiap
2 minggu.
e) Melakukan pemantauan jentik di rumah dan bangunan yang tidak
berpenghuni seminggu sekali.
f) Membuat catatan/rekapitulasi hasil pemantauan jentik rumah sebulan
sekali.
g) Melaporkan hasil pemantauan jentik kepada Supervisor Jumantik
sebulan sekali.
3. Supervisor Jumantik
a) Memeriksa dan mengarahkan rencana kerja Koordinator Jumantik.
b) Memberikan bimbingan teknis kepada Koordinator Jumantik.
c) Melakukan pembinaan dan peningkatan keterampilan kegiatan
pemantauan jentik dan PSN 3M Plus kepada Koordinator Jumantik.
d) Melakukan pengolahan data pemantauan jentik menjadi data Angka
Bebas Jentik (ABJ).
e) Melaporkan ABJ ke puskesmas setiap bulan sekali.
4. Puskesmas
a) Berkoordinasi dengan kecamatan dan atau kelurahan/desa untuk
pelaksanaan kegiatan PSN 3M Plus
b) Memberikan pelatihan teknis kepada Koordinator dan Supervisor
Jumantik
c) Membina dan mengawasi kinerja Koordinator dan Supervisor
Jumantik
d) Menganalisis laporan ABJ dari Supervisor Jumantik
e) Melaporkan rekapitulasi hasil pemantauan jentik oleh Jumantik di
wilayah kerjanya kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setiap
bulan sekali
f) Melakukan pemantauan jentik berkala (PJB) minimal 3 bulan sekali
g) Melaporkan hasil PJB setiap tiga bulan (Maret, Juni, September,
Desember) ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
h) Membuat SK Koordinator Jumantik atas usulan RW/Desa/Kelurahan
dan melaporkan ke Dinas Kesehatan Kab/Kota
i) Mengusulkan nama Supervisor Jumantik ke Dinas Kesehatan
Kab/Kota.

F. OPERASIONAL
Agar Jumantik dapat bertugas dan berfungsi sebagaimana yang diharapkan
maka diperlukan dukungan biaya operasional. Dukungan dana tersebut dapat
berasal dari beberapa sumber seperti APBD Kabupaten/Kota, Bantuan
Operasional Kesehatan (BOK), alokasi dana Desa, dan sumber anggaran
lainnya. Adapun komponen pembiayaan yang diperlukan antara lain adalah:
a) Transport/insentif/honor bagi Koordinator dan Supervisor Jumantik jika
diperlukan
b) Pencetakan atau penggandaan kartu jentik, formulir laporan Koordinator
dan Supervisor Jumantik, pedoman dan bahan penyuluhan
c) Pengadaan PSN kit berupa topi, rompi, tas kerja, alat tulis, senter, pipet
dan plastik tempat jentik dan larvasida

Gambar 2 Contoh PSN Kit


d) Biaya sosialisasi gerakan 1 rumah 1 jumantik di setiap level administrasi
mulai dari RT sampai tingkat desa/kelurahan
e) Biaya pelatihan bagi koordinator, supervisor dan tenaga puskesmas
f) Biaya pelatihan bagi pelatih supervisor Jumantik oleh puskesmas
g) Biaya monitoring dan evaluasi.

G. PEMANTAUAN JENTIK
1. Persiapan
a) Pengurus RT melakukan pemetaan dan pengumpulan data penduduk,
data rumah/ bangunan pemukiman dan tempat-tempat umum lainnya
seperti sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana olahraga,
perkantoran, masjid/ mushola, gereja, pasar, terminal dan lain-lain.
b) Pengurus RT mengadakan pertemuan tingkat RT dihadiri oleh warga
setempat, tokoh masyarakat (Toma), tokoh agama (Toga), dan
kelompok potensial lainnya. Pada pertemuan tersebut disampaikan
tentang perlunya setiap rumah melakukan pemantauan jentik dan PSN
3M Plus secara rutin seminggu sekali dan mensosialisasikan tentang
pentingnya Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik dengan membentuk
Jumantik rumah/lingkungan.
c) Pengurus RT membentuk koordinator jumantik dan jumantik
lingkungan berdasarkan musyawarah warga.
d) Para koordinator jumantik menyusun rencana kunjungan rumah.
2. Kunjungan Rumah
Koordinator Jumantik melakukan kunjungan ke rumah/bangunan
berdasarkan data yang tersedia dan mempersiapkan bahan/alat yang
diperlukan untuk pemantauan jentik. Hal-hal yang perlu dilakukan saat
kunjungan rumah adalah sebagai berikut:
a) Memulai pembicaraan dengan menanyakan sesuatu yang sifatnya
menunjukkan perhatian kepada keluarga itu. Misalnya menanyakan
keadaan anak atau anggota keluarga lainnya
b) Menceritakan keadaan atau peristiwa yang ada kaitannya dengan
penyakit demam berdarah, misalnya adanya anak tetangga yang sakit
demam berdarah atau adanya kegiatan di desa/ kelurahan/RW tentang
usaha pemberantasan demam berdarah atau berita di surat kabar/
majalah/televisi/radio tentang penyakit demam berdarah dan lain-lain
c) Membicarakan tentang penyakit DBD, cara penularan dan
pencegahannya, serta memberikan penjelasan tentang hal-hal yang
ditanyakan tuan rumah
d) Gunakan gambar-gambar (leaflet) atau alat peraga untuk lebih
memperjelas penyampaian
e) Mengajak pemilik rumah bersama-sama memeriksa tempat-tempat
yang berpotensi menjadi sarang jentik nyamuk. Misalnya bak
penampungan air, tatakan pot bunga, vas bunga, tempat penampungan
air dispenser, penampungan air buangan di belakang lemari es, wadah
air minum burung serta barang-barang bekas seperti ban, botol air dan
lain-lainnya
1) Pemeriksaan dimulai di dalam rumah dan dilanjutkan di luar rumah
2) Jika ditemukan jentik nyamuk maka kepada tuan rumah/pengelola
bangunan diberi penjelasan tentang tempat-tempat
perkembangbiakan nyamuk dan melaksanakan PSN 3M Plus
3) Jika tidak ditemukan jentik maka kepada tuan rumah/pengelola
bangunan disampaikan pujian dan memberikan saran untuk terus
menjaga agar selalu bebas jentik dan tetap melaksanakan PSN
3Mplus.
3. Tatacara Pemantauan Jentik
Tatacara dalam melakukan kegiatan pemantauan jentik di rumah
adalah sebagai berikut:
a) Periksalah bak mandi/WC, tempayan, drum dan tempat-tempat
penampungan air lainnya
b) Jika tidak terlihat adanya jentik tunggu sampai kira-kira satu menit,
jika ada jentik pasti akan muncul ke permukaan air untuk bernafas
c) Gunakan senter apabila wadah air tersebut terlalu dalam dan gelap
Gambar 3 Pemantauan Jentik pada bak mandi oleh Jumantik
rumah
d) Periksa juga tempat-tempat berpotensi menjadi tempat
perkembangbiakan nyamuk misalnya vas bunga, tempat minum
burung, kaleng-kaleng bekas, botol plastik, ban bekas, tatakan pot
bunga, tatakan dispenser dan lain-lain

Gambar 4 Kegiatan Koordinator Jumantik sedang memeriksa


jentik pada ban bekas dan kaleng bekas
e) Tempat lain di sekitar rumah yaitu talang/saluran air yang
terbuka/tidak lancar, lubang-lubang pada potongan bambu atau pohon
lainnya.
4. Cara Mencatat dan Melaporkan Hasil Pemantauan Jentik
a) Pencatatan hasil pemantauan jentik pada kartu jentik
1) Jumantik Keluarga/Lingkungan
Setelah melakukan pemeriksaan jentik, Jumantik
Keluarga/Lingkungan menuliskan hasilnya pada kartu jentik
seperti di bawah ini Jumantik Keluarga/Lingkungan mengisi kartu
jentik seminggu sekali dengan tanda ”-” jika tidak ditemukan jentik
atau tanda ”+” jika menemukan jentik.

Kartu Pemeriksa Jentik Rumah


Nama KK : (isi dengan nama Kepala Keluarga
RT :
RW :
Desa / Keluarahan :
Tahun :
Paraf Paraf
Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Minggu 5
Bulan Koordinator Koordinator
Jentik (+/-) Jentik Jentik (+/-) Jentik
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Contoh :
Bapak Burhan, seorang Kepala Keluarga yang tinggal di Desa Ciloto RT. 2/RW 1,
Kecamatan Cipanas, selalu rutin melakukan pemeriksaan jentik di rumahnya.
Adapun hasil pemeriksaan jentik di rumahnya adalah :
Pada Bulan Januari Minggu ke 1 : Hasilnya –
Pada Bulan Januari Minggu ke 2 : Hasilnya +
Pada Bulan Januari Minggu ke 3 : Hasilnya –
Pada Bulan Januari Minggu ke 4 : Hasilnya –
Hasil pemeriksaan tersebut dicatat hingga pada akhir Bulan Januari, kartu jentik di
rumah Pak Burhan akan menjadi :
Kartu Pemeriksa Jentik Rumah
Nama KK : Burhan
RT : 01
RW : 09
Desa / Keluarahan : Tangkerang Labuai
Tahun : 2019
Paraf Paraf
Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Minggu 5
Bulan Koordinator Koordinator
Jentik (+/-) Jentik Jentik (+/-) Jentik
Januari – + – – –
Februari
dst ......
Pemeriksaan dilanjutkan dan dicatat seterusnya untuk bulan Februari hingga
Desember. Pemeriksaan di tingkat rumah tangga hanya perlu dicatat dalam Kartu
Pemeriksaan Jentik.
5. Pengolahan data, Pencatatan dan pelaporan oleh Koordinator
Jumantik
Form Hasil Pemantauan Jentik Oleh Koordinator Jumantik
RT :
RW :
Desa / Keluarahan :
Tahun :
HASIL PENCATATAN PEMANTAUAN JENTIK
Januari

Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November

Desember
Nama KK

Total +
Total –
Ketentuan pengisian :
Jika ada 1 saja tanda ”+” dalam kurun 4 atau 5 minggu pengamatan, maka
KK/TTU/TTI tersebut dicatat/dilaporkan ”+” oleh koordinator jumantik
Contoh: Data dari kar tu jumantik Pak Burhan (hal 4 ) akan dicatat oleh
koordinator jumantik sbb:
Form Hasil Pemantauan Jentik Oleh Koordinator Jumantik
RT : 01
RW : 09
Desa / Keluarahan : Tangkerang Labuai
Kecamatan : Bukit Raya
Tahun : 2019
HASIL PENCATATAN PEMANTAUAN JENTIK

Januari

Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November

Desember
Nama KK

Burhan +

Total +
Total –
Begitu seterusnya, masukkan data dari seluruh kartu jumantik di tiap
rumah (KK). Kemudian, hitung jumlah yang positif “+” dan jumlah yang
“–”.
Contoh:
Di RT 01 terdiri dari 10 KK, maka rekapan kartu jumantik koordinator RT
01 adalah sebagai berikut:
Form Hasil Pemantauan Jentik Oleh Koordinator Jumantik
RT : 01
RW : 09
Desa / Keluarahan : Tangkerang Labuai
Kecamatan : Bukit Raya

HASIL PENCATATAN PEMANTAUAN JENTIK


Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

No. Nama KK

1 BURHAN +
2 CHARLIE –
3 DENNI –
4 ENDANG –
5 BUDI –
6 GUNAWAN –
7 FANDI +
8 HENDRA +
9 OKTA –
10 PUJI –
Total + 3

Total – 7

Tahun : 2019
Hasil pencatatan tersebut kemudian diserahkan kepada supervisor.
6. Pengolahan data, Pencatatan dan pelaporan oleh Supervisor
Jumantik
Hasil pemeriksaan jentik akan Anda hitung untuk mengetahui kepadatan
jentik Aedes aegypti, dengan menggunakan ukuran Angka Bebas Jentik
(ABJ):
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑟𝑢𝑚𝑎ℎ/𝑏𝑎𝑛𝑔𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑗𝑒𝑛𝑡𝑖𝑘
ABJ = × 100
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑟𝑢𝑚𝑎ℎ/𝑏𝑎𝑛𝑔𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑖𝑘𝑠𝑎

Contoh :
Misalkan dalam RW Anda terdiri dari 10 RT, Tiap koordinator jumantik
memberikan laporan yang Anda rekap sebagai berikut :
FORMULIR DATA ABJ SUPERVISOR
Nama RW : 09
Desa / Keluarahan : Tangkerang Labuai
Kecamatan : Bukit Raya
Bulan : Januari
Tahun : 2019
Rumah Yang Diperiksa Jentik
RT Keterangan
Jumlah Positif Negatif ABJ (%)
01 10 3 7
02 14 5 9
03 12 4 8
04 12 6 6
05 15 3 12
06 9 5 4
07 12 2 10
08 10 4 6
09 10 7 3
10 12 0 12
Total 152 75 77
Dari rekap tersebut, Anda hitung tiap ABJ RT, lalu Anda isi di kolom ABJ.
Sementara untuk menghitung ABJ di Tk. RW, BUKANLAH dihitung dari
rata-rata ABJ di tiap RT, namun dihitung dengan membagi total negative
dengan jumlah total rumah yang diperiksa jentik di RW tersebut. Dalam
contoh tersebut, ABJ RW 09 dihitung:
ABJ RW 09 : 77⁄152 × 100 % = 50,6
Setelah seluruh ABJ RT dihitung, isi dalam kolom ABJ sebagai berikut:
FORMULIR DATA ABJ SUPERVISOR
Nama RW : 09
Desa / Keluarahan : Tangkerang Labuai
Kecamatan : Bukit Raya
Bulan : Januari
Tahun : 2019
Rumah Yang Diperiksa Jentik
RT Keterangan
Jumlah Positif Negatif ABJ (%)
01 10 3 7 70
02 14 5 9 64,2
03 12 4 8 66,6
04 12 6 6 50
05 15 3 12 80
06 9 5 4 44,4
07 12 2 10 83,3
08 10 4 6 60
09 10 7 3 30
10 12 0 12 100
Total 152 75 77 50,6
Tulislah hal-hal yang perlu diterangkan pada kolom keterangan seperti
rumah/kavling kosong, penampungan air hujan, dan lain-lain.
BAB III
PEMBAHASAN

A. Profil Puskesmas
Puskesmas Sapta Taruna merupakan salah satu bentuk pelayanan
kesehatan di Kecamatan Bukit Raya dengan luas wilayah kerja : 6,95 Km 2,
dengan mencakup wilayah kerja yaitu wilayah Tangkerang Utara dan
Tangkerang Labuai. Berdasarkan profil puskesmas Sapta Taruna pada tahun
2018, Puskesmas Sapta Taruna saat ini telah memiliki jumlah tenaga
kesehatan yang terdiri dari 5 orang dokter umum (1 tugas belajar), 2 orang
dokter gigi, 16 orang perawat, 1 orang perawat gigi, 13 orang bidan, 1 orang
farmasi, 1 asisten apoteker, 1 analis lab, 1 ahli gizi, 1 orang S1 epidemiologi
dan 1 orang kesling.
Program yang akan dijalankan Puskesmas Sapta Taruna terdiri dari
upaya masyarakat esensial dan upaya-upaya kesehatan masyarakat
pengembangan. Upaya kesehatan masyarakat esensial terdiri dari: layanan
promosi kesehatan, pelayanan kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan
ibu, anak, dan keluarga berencana, layanan gizi, dan pelayanan pencegahan
dan pengendalian penyakit. Adapun upaya kesehatan pengembangan yang
dilakukan di puskesmas ini antara lain; usaha keseharan kerja (UKK),
puskesmas, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), kesehatan gigi dan mulut,
kesehatan jiwa, upaya kesehatan usia lanjut, dan pengobatan tradisional.

B. Masalah DBD
Berdasarkan data yang didapatkan dalam tahun 2019 mulai dari bulan
Januari hingga Februari telah ditemukan 4 kasus BDB yang terjadi di
Kelurahan Tangkerang Labuai yang termasuk ke dalam wilayah kerja
Puskesmas Sapta Taruna. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak
Puskesmas Sapta Taruna, penyebab yang sering memicu terjadi DBD di
wilayah kerja puskesmas khususnya Kelurahan Tangkerang Labuai ini adalah
lingkungan rumah tetangga sekitar rumah penderitalah yang sangat kotor dan
banyak terdapat barang-barang yang dapat memicu timbulnya jentik-jentik
nyamuk seperti air yang tergenang di ember, bak mandi, dispenser, dll baik
didalam rumah maupun luar rumah, baju yang bergantungan, barang-barang
bekas yang ditumpuk disekitar rumah serta sampah rumah tangga yang
dikelolah dengan baik sehingga bertumpuk lingkungan sekitar rumah.
Apabila ditemukan kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Sapta
Taruna, maka petugas puskesmas akan turun ke rumah penderita dan 20
rumah sekitar rumah penderita untuk mengkaji penyebab dan kondisi
lingkungan sekitar rumah penderita. Apabila memang ditemukan banyak
jentik-jentik dengan resiko tinggi menyebabkan DBD maka akan dilakukan
kerja sama lintas sector dengan dinas kesehatan dan kelurahan untuk
dilakukan fogging. Selain itu, upaya yang terus dilakukan oleh petugas
puskesmas untuk mencegah masalah DBD ini adalah penyuluhan yang
dilakukan baik di puskesmas maupun langsung di lingkungan masyarakat dan
pemberian serbuk abate secara berkala, serta penggalangan program
puskesmas yaitu 1 rumah 1 jumantik.

C. Program Puskesmas
Program kesehatan lingkungan 1 rumah 1 jumantik ini merupakan
program puskesmas yang bertujuan untuk mencegah terjadinya DBD di
wilayah kerja Puskesmas Sapta Taruna dan sudah pernah dijalankan pada
tahun 2018. Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas puskesmas,
program ini sudah disosialisasikan pada masyarakat, kader-kader sudah
dibentuk, dan kader-kader sudah menunjuk 1 anggota keluarga untuk menjadi
jumantik. Anggota keluarga yang ditunjuk sebagai jumantik bertugas untuk
memantau lingkungan sekitar rumah apakah ada jentik-jentik yang
berkembang dan hal-hal lain yang dapat menyebabkan berkembangnya
jentik-jentik nyamuk, seperti membuang genangan air yang ada jentik-jentik
ke tanah, melakukan 3M, membersihkan lingkungan dan lain sebagainya
untuk mencegah perkembangan jentik-jentik nyamuk. Kemudian 1 minggu
sekali jumantik akan melaporkan kepada kader-kader mengenai hasil
pantauan jentik-jentik apakah positif atau negatif. Setelah mendapatkan data
dari jumantik, maka kader-kader akan melaporkan ke petugas Puskesmas
Sapta Taruna. Hal inilah yang belum maksimal terlaksanakan.
Pencapaian program kesehatan lingkungan puskesmas yang telah
dibentuk dan dijalankan saat ini dapat dikatakan belum optimal khususnya
pelaksanaan program 1 rumah 1 jumantik ini. Hal tersebut dikarenakan masih
kurangnya kesadaran dari setiap anggota keluarga di Kelurahan Tangkerang
Labuai khususnya di RW 09 ini untuk menjalankan program 1 rumah 1
jumantik. Selain itu kurangnya jumlah tenaga kesehatan dari puskesmas yang
mengontrol program ini serta kurangnya partisipasi kader dalam
mengoptimalkan program ini.. Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu RW
09 Kelurahan Tangkerang Labuai hambatan lainnya yaitu masyarakat tidak
mau menjalankan dan masyarakat meminta bayaran untuk menjalankan
program 1 rumah 1 jumantik ini.

D. Analisa SWOT
1. Strange (S)
a. Secara keseluruhan program puskesmas meupakan program
nasional yang didukung oleh pemerintah terutama Dinas Kesehatan.
b. Program ini sudah dijalankan sebelumnya di Wilayah Kerja
Puskesmas Sapta Taruna, tepatnya sudah 1 tahun berjalan sejak
tahun 2018.
c. Program 1 rumah 1 jumantik ini bekerja sama lintas program yaitu
program survey epidemiologi dan lintas sektor yaitu kelurahan,
babinsa serta babinkaptibmas
d. Tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) di Puskesmas Sapta
Taruna yang telah terlatih dan memiliki motivasi tinggi dalam upaya
mencegah terjadinya DBD di masyarakat.
e. Tersedianya anggaran akomodasi bagi kader-kader untuk mendata
jumantik setiap sekali seminggu.
f. Tersedianya serbuk abate di Puskesmas Sapta Taruna untuk
dibagikan kepada masyarakat.
g. Program ini efektif dalam mencegah terjadinya DBD apabila
dijalankan secara maksimal.
h. Dukungan dari Dinas Kesehatan
i. Dukungan dari lintas program (Puskesmas)
j. Dukungan dan motivasi kuat dari tenaga kesehatan yang ada di
Puskesmas Sapta Taruna.
2. Weakness (W)
a. Kader-kader belum bekerja secara maksimal dalam menggerakkan
jumantik untuk melakukan tugasnya sebagai jumantik.
b. Kader-kader belum maksimal dalam mendata jumantik setiap
minggunya (tidak semua rumah di data).
c. Kader-kader sulit bertemu dengan keluarga untuk mendata jumantik
dengan alasan tidak ada orang dirumah.
d. Belum semua jumantik melaksanakan tugas sebagaimana mestinya.
e. Masih kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai program 1
rumah 1 jumantik dan DBD.
3. Opportunity (O)
a. Perencanaan sosialisasi ulang mengenai program 1 rumah 1
jumantik kepada masyarakat pada tahun ini.
b. Kader-kader dan jumantik rumah sudah terbentuk.
c. Sebagian besar masyarakat merupakan warga yang berpendidikan
sehingga dapat menerima pengetahuan dan informasi terkait
program 1 rumah 1 jumantik dengan mudah.
d. Program 1 rumah 1 jumantik ini bekerja sama lintas program yaitu
program survey epidemiologi dan lintas sektor yaitu kelurahan,
babinsa serta babinkaptibmas
4. Treath (T)
a. Kurangnya motivasi dan kesadaran masyarakat untuk
menjalankan hidup sehat.
b. Kurangnya ilmu pengetahuan masyarakat mengenai DBD dan
cara mencegahnya.
c. Masyarakat tidak memiliki kesempatan (keterbatasan waktu
karena bekerja) untuk menjalankan program 1 rumah 1 jumantik.
d. Iklim dan cuaca yang tidak menentu dapat meningkatkan angka
kejadian DBD, khusunya pada akhir musim hujan dan awal
musim kemarau
e. Daerah RW 09 Kelurahan Tangkerang Labuai merupakan daerah
gambut atau rawa.

E. Alternatif penyelesaian masalah


1. Promosi kesehatan
a. Melakukan penyuluhan kesehatan kepada kader dan masyarakat
mengenai DBD dan cara pencegahan DBD.
b. Melakukan penyuluhan kesehatan kepada kader dan masyarakat
mengenai program 1 rumah 1 jumantik secara menyeluruh
2. Kerja sama
a. Menjalin kerjasama lintas program dengan mengupayakan kader untuk
memotivasi jumantik setiap rumah untuk melaksanakan tugasnya
sebagai jumantik.
b. Menjalin kerjasama lintas sektor dengan pihak kelurahan untuk
mengadakan kegiatan gotong royong secara berkala di RT masing-
masing.
3. Pemberdayaan masyarakat
a. Menggerakkan masyarakat untuk terjun langusung dalam kegiatan
pencegahan DBD dengan menjalankan program 1 rumah 1 jumantik
dan melakukan gotong royong di wilayah kerja RW 09.
4. Proses kelompok
a. Membentuk kelompok dimasyarakat untuk melakukan pelatihan secara
langsung bagaimana cara mencegah berkembangnya jentik-jentik
penyebab DBD.