Anda di halaman 1dari 6

Karangan Asli

INVESTIGASI KEDOKTERAN FORENSIK PADA KASUS


KEMATIAN AKIBAT STRANGULASI
Taufik Suryadi*, Rahmat Syahputra, Muazzin
Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Dan Medikolegal, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala
Email :
*Email : taufik.suryadi.ts@gmail.com

Abstrak
Pendahuluan Strangulasi merupakan bentuk trauma tumpul pada leher yang dapat menyebabkan
cedera pada area sekitar leher dan sangat berpotensi mengakibatkan kematian. Di amerika serikat 10%
kematian akibat tindak kekerasan disebabkan oleh strangulasi. Strangulasi tercatat sebanyak 5% dari
kasus asfiksia mekanis.
Tinjauan Karena strangulasi memiliki komplikasi yang sangat berat dan cepat menyebabkan kematian,
kasus strangulasi membutuhkan perhatian yang ketat oleh dokter dan lebih sering dikaji pada
pemeriksaan postmortem. Pada korban strangulasi yang selamat dapat menyebabkan berbagai
perubahan yang berkaitan dengan proses strangulasi, besar energi dan lama episode strangulasi. Hanya
lima kilogram tekanan pada kedua arteri karotis selama sepuluh detik untuk menyebabkan
ketidaksadaran.Kematian akibat asfiksia pada kasus strangulasi menimbulkakan tanda-tanda yang dapat
ditemukan pada pemeriksaan tenatologis yaitu sianosis, Petechie pada mata (tardieu’s spot), kongestif
viseral, edemacerebraldan edema pulmonal. Pemeriksaan radiologi digunakan untuk mendukung
temuan klinis.
Simpulan Strangulasi adalah sebuah bentuk asfiksia yang disebabkan karena terjadinya penekanan dari
luar pada daerah sekitar leher. Kematian akibat strangulasi terjadi secara dini dan keadaan lanjut akibat
komplikasi strangulasi yang berkaitan dengan lama dan besarnya kekuatan strangulasi. Penegakan
diagnosis strangulasi dapat dinilai dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan radiologi berupa X-Ray, MRI,
dan CT yang dapat dilakukan pada pasien hidup ataupun meninggal.

Kata Kunci: Strangulasi, Forensik, Tanda Klinis Strangulasi, Radiologi Strangulasi.

Abstract
Introduction Strangulation is a form of blunt trauma to the neck that can cause injury to the area around
the neck and has the potential to cause death. In the United States, 10% of deaths from violence are
caused by strangulation. Strangulation recorded as much as 5% of mechanical asphyxia cases.
Review Because strangulation has very serious complications and very quickly causes death,
strangulation cases require close attention by the doctor and are more often studied on postmortem
examination. The survivors of strangulation can cause various changes related to the strangulation
process, the amount of energy and duration of the strangulation episode. Only five kilograms of pressure
on the two carotid arteries for ten seconds to cause unconsciousness. Asphyxial deaths in strangulation
cases produce signs that can be found in the tanatological examination, cyanosis, Petechiae in the eye
(Tardieu's spot), visceral congestive, cerebral edema and pulmonary edema. radiological examination is
used to support clinical findings.
Conclusions: Strangulation is a form of asphyxia which is caused due to the suppression from the
outside of the area around the neck. Death due to strangulation occurs early and is advanced due to
strangulation complications associated with the length and power of strangulation. Enforcement of a
strangulation diagnosis can be assessed from a physical examination and radiological examination in the
form of X-ray, MRI, and CT that can be performed on a patient's life or death.

Key word : Strangulation, Forensics, Strangulation Clinical Signs, Strangulation Radiology.


Taufik Suryadi, dkk

Pendahuluan serak, sakit tenggorokan, dan kesulitan


Strangulasi merupakan bentuk trauma menelan.
tumpul pada leher yang dapat menyebabkan  Strangulasi berat: Jika korban mengalami
cedera pada area sekitar leher dan sangat perdarahan petekie akibat kongesti vena
berpotensi mengakibatkan kematian.1 Tekanan dengan atau tanpa disertai hilangnya
yang didapatkan pada stangulasi akan kesadaran.
mengakibatkan berbagai komplikasi seperti Mengetahui anatomi leher sangat
fraktur laring, edema jalan nafas atas, gangguan penting untuk memahami keadaan klinis korban
pergerakan pita suara.2 Keadaan tersebut akan yang dicekik. Tulang hyoid, tulang berbentuk
menhambat saluran nafas dan menyebabkan tapal kuda kecil di leher, membantu menyangga
askfiksia mekanis. Pada kondisi asfiksia kadar lidah. Laring, terdiri dari tulang rawanyang dibagi
oksigen dalam darah berkurang dan menjadi dua bagian: tulang rawan tiroid dan
karbonmonoksida meningkat.3 cincin trakea.7
Kematian akibat strangulasi dapat Arteri karotid adalah pembuluh darah
dijumpai dalam bentuk tindak kekerasan dan utama yang mengangkut darah beroksigen dari
merupakan metode pembunuhan yang sering jantung ke otak. Ini adalah arteri di sisi leher yang
dilakukan. Walaupun jarang terjadi strangulasi digunakan untuk memeriksa denyut nadi oleh
juga dapat terjadi secara tidak sengaja akibat orang yang melakukan CPR (resusitasi kardio
terjerat oleh kabel, tali ataupun pakaian seperti pulmoner). Vena jugularis adalah pembuluh
syal.4 Di amerika serikat 10% kematian akibat darah utama yang mengangkut darah dari otak
tindak kekerasan disebabkan oleh strangulasi.2 kembali ke jantung7.
Strangulasi tercatat sebanyak 5% dari kasus Urutan klinis umum dari seorang korban
asfiksia mekanis.3 yang dicekik adalah nyeri hebat, diikuti oleh
Karena strangulasi memiliki komplikasi ketidaksadaran, kemudian kematian otak. Korban
yang sagat berat dan sangat cepat akan kehilangan kesadaran oleh salah satu atau
menyebabkan kematian, kasus strangulasi semua hal berikut ini: penyumbatan arteri karotis,
membutuhkan perhatian yang ketat oleh dokter penyumbatan pembuluh darah jugularis, dan
dan lebih sering dikaji pada pemeriksaan menutup jalan napas yang menyebabkan korban
postmortem.1 Investigasi pada kasus strangulasi tidak bisa bernapas.7
merupakan tindakan yang paling umum Karena sifat tekan yang tidak terlalu
dilakukan oleh dokter forensik. Pemeriksaan kuatdari kekuatan cekikan, korban kemungkinan
forensik pada kasus strangulasi bertujuan untuk datang dengan tanda dan gejala yang tidak
menentukan diagnostik serta menilai kondisi berbahaya atau mungkin dengan tanda cedera
yang menyebabkan kematian.5 Tanda objektif jaringan lunak yang minimal. Jalan nafas atas
strangulasi didapatkan dengan melakukan juga dapat tampak normal di bawah mukosa
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan radiologis yang utuh, meskipun terdapat tulang hyoid atau
menggunakan magnetic tesonance imaging dan fraktur laring. Hingga 36 jam setelah upaya
computed tomography.5,6 pencekikan, pasien dapat mengalami edema
jaringan lunak supraglotis dan orofaringeal, yang
PANDANGAN MEDIS menyebabkan obstruksi jalan napas. Edema
Strangulasi merupakan sebuah bentuk yang tertunda, hematoma, imobilitas pita suara,
asfiksia (kekurangan oksigen) yang dapat dan fraktur laring yang tergeser semuanya dapat
ditandai dengan tertutupnya pembuluh darah berkontribusi pada jalan napas yang tidak stabil
atau saluran pernafasan yang dapat disebabkan setelah pencekikan. Jika korban selamat dan
karena terjadinya penekanan dari luar pada cedera tidak diketahui dan tidak diobati,
daerah sekitar leher. Tiga bentuk strangulasi keterlambatan obstruksi jalan napas yang
adalah gantung, ligatur, dan manual. Hampir mengancam jiwa atau disfungsi vokal jangka
semua percobaan atau pembunuhan dengan panjang dapat terjadi.2
strangulasi melibatkan pengikatan manual atau Hanya lima kilogram tekanan yang
ligature.7 ditempatkan pada kedua arteri karotis selama
Plattner et al. mengusulkan klasifikasi sepuluh detik diperlukan untuk menyebabkan
strangulasi berikut berdasarkan tingkat ketidaksadaran. Namun, jika tekanan dilepaskan
keparahan.8 segera, kesadaran akan kembali dalam sepuluh
 Strangulasi ringan: Terbatas pada lecet kulit detik. Untuk benar-benar menutup trakea,
dan / atau kemerahan pada kulit leher. diperlukan tekanan tiga kali lipat (lima belas
 Strangulasi sedang: Memar dan/atau kilogram). Kematian otak akan terjadi dalam
pendarahan dari leher dan/atau kerusakan empat hingga lima menit jika pencekikan
pada jaringan lunak yang lebih dalam dari berlanjut.7,9
laring seperti yang ditunjukkan oleh suara postmortem dalam strangulasi dijelaskan
oleh Thali dkk dalam publikasi tentang metode
Taufik Suryadi, dkk

“otopsi virtual” (atau Virtopsy) untuk postmortem Gangguan status mental, gejala awal
CT dan MRI dalam kasus forensik. Mereka yang dirasakan pasien berupa kegelisahan dan
menemukan fraktur tulang hyoid pada gambar agresivitas akibat reaksi stres berat dan
radiologis dan dengan tepat membedakan variasi kekurangan oksigen pada otak. Gejala psikis
anatomi kerangka laring. MRI postmortem juga seperti gangguan ingatan, ganguan tidur, mimpi
mengungkapkan hematoma pada otot buruk, depresi, ansietas. Gangguan neurologis
sternokleidomastoid kiri.5 mungkin timbul seperti ptosis, wajah merot, nyeri
kepala sebelah serta anastesia. Kasus
MEKANISME KEMATIAN AKIBAT strangulasi juga akan menyebabkan
STRANGULASI incontinensia urin dan defekasi.2,7
Setiap pembahasan terkait kasus Pembengkakan leher dapat terjadi akibat
strangulasi dipelajari oleh berbagai sudut hematom, trauma pada organ leher, emfisema
pandang membutuhkan pemahaman veriasi subkutan akibat fraktur faring. Luka pada leher
tindakan yang digunakan untuk mengakhiri berupa luka gores, luka lecet, luka cakar.Tanda
hidup. Kematian akibat jeratan melibatkan jeratan dapat terbentuk sangat halus dan
penyempitan pada leher akibat energi yang tersamarkan dengan lipatan leher yang ada.
menekan sekeliling leher tanpa melibatkan berat Lecet pada dagu akibat usaha pasien melindungi
badan korban. Pencekikan merupakan leher.2,7
penekanan pada leher oleh tangan manusia.1
Pada kasus-kasus strangulasi yang dijumpai
biasanya menggunakan tangan, lengan atau
menggunakan alat seperti kabel, tali, benda-
benda keras seperti balok kayu.7
Penekanan pada leher akibat pada
strangulasi menyebabkan sumbatan mekanis
pada saluran nafas.3 Energi yang dihasilkan
pada strangulasi menyebabkan berbagai cedera
yang berpotensi menyebabkan kematian, seperti:
1.) Asfiksia akibat obstruksi saluran nafas, 2.)
Kongestif vena yang mana terjadi bendungan
pada vena sedangkan aliran arteri ke otak masih
berjalan, 3.) iskemik otak, terjadi apabila jaringan
otak tidak lagi mendapat aliran darah, 4.) refleks Gambar 1.Memar dan pembengkakan lokal dari
fagal.10 Strangulasi yang menetap menyebabkan strangulasi manual terdapat di sisi kiri leher.5
kematian otak dalam 4 sampai 5 menit. Pada Petechie dapat dijumpai pada
korban yang selamat komplikasi dari strangulasi
konjungtiva palpebra, daerah sekitar bola mata,
berupa fraktur laring edema saluran nafas atas,
dan ganguan pergerakan pita suara dapat terjadi wajah, kulit kepala dan dileher, Petechie
36 jam setelah kejadian. Pada keadaan yang terbentuk akibat konstriksi pembuluh darah vena.
begitu parah hal ini berpotensi menyebabkan Petechie akan terbentuk pada pasien yang
kematian pada onset yang lama.2 bertahan paling tidak 15 detik saat terjadi
strangulasi. Perdarahan subconjungtiva sering
TANDA DAN GEJALA KLINIS dijumpai apabila terdapat perlawanan antara
Pada korban strangulasiyang selamat
korban dan pelaku.Gejala lain seperti pusing,
dapat menyebabkan berbagai perubahan yang
berkaitan dengan proses strangulasi, besar tinitus, dan refluks isi lambung, Keguguran.2,7,9
energi dan lama episode strangulasi.2 Perubahan
suara berupa suara serak sampai kehilangan
suara, didapatkan pada lebih dari 50 persen
korban strangulasi. Ganguan menelan berupa
disphagia maupun odynophagia. Hal ini terjadi
akibat cederapada laring atau tulang hyoid.
Gangguan nafas berupa hiperventilasi dan
dipsneu akibat cedera saluran nafas. Cedera Gambar2. (a) Petechie tampak pada
yang berat dapat menyebabkan kematian dalam subkonjungtiva (b) Petechie pada leher.11
rentang waktu 36 jam. Cedera paru berupa
pneumonia akibat aspirasi isi lambung saat PEMERIKSAAN POST-MORTEM
kejadian strangulasi. Pada keadaan yang berat Tanda ekternal pada jeratan Tekanan
pneumonia dapat berlanjut menjadi edema yang terjadi pada strangulasi bersifat perlahan,
paru.2,7 pada korban dapat ditemukan tanda dan gejala
Taufik Suryadi, dkk

palsu yang seakan-akan tidak berbahaya.2 Pada rontgen dada dapat ditemukan edema paru,
kasus strangulasi akan didapatkan emfisema pneumonia, atau aspirasi, sedangkan pada foto
subkutan, resapan darah di daerah leher. Fraktur jaringan lunak leher dapat ditemukan emfisema
laring dan trakea, cedera tulang hyoid dan subkutan sekunder akibat fraktur laring, dapat
esofagus.2,4 Resapan darah terjadi pada otot-otot juga ditemukan defiasi trakea karena edema atau
leher dan trakea disertai atau tanpa perlukaan hematoma, dan dapat menentukan fraktur tulang
kulit leher. Resapan darah akan mengikuti pola hyoid.2
penekanan di leher pada kejadian strangulasi.4
Kematian akibat asfiksia pada kasus
strangulasi menimbulkan beberapa tanda yang
dapat ditemukan pada pemeriksaan tenatologis.
Tanda asfiksia berupa sianosis, Petechie pada
mata (tardieu’s spot), kongestif viseral, edema
cerebraldan edema pulmonal.3,9,12 Tanda tanda
tersebut jarang dijumpai tersendiri melainkan
dijumpai beberapa tanda berbeda. Sedangkan
kematian akibat henti jantung akan menunjukkan
tanda kematian yang minimal.12

a b
. . Gambar 4. X-ray lateral menunjukkan fraktur
pada tulang hyoid.14

c
.

Gambar 3. (a) Luka bekas jeratan, (b) Rupture


trakea, (c) Panah kecil menunjukan resapan
darah pada otot leher dan panah tebal
menunjukkan pecahnya esofagus dan trakea di Gambar 5. Fraktur kompleks laring: (a) Fraktur
cincin trakea.4 dini tulang rawan tiroid (b) Fraktur dini tulang
hyoid (c) Fraktur lama (mengeras) tulang rawan
TEMUAN RADIOLOGI tiroid.15
Sekarang ini pencitraan forensik sering
digunakan dan terus berkembang di seluruh Computed Tomography (CT)
dunia, pemeriksaan radiologi digunakan untuk Pemeriksaan CT memungkinkan
mendukung temuan klinis yang dianggap masih
pemeriksaan yang mendetail terhadap tanda
kurang terutama pada kasus strangulasi dimana
temuan klinisnya hanya ditemukan sedikit yang terbentuk akibat strangulasi yang dapat di
perubahan dan dengan mudah data konfirmasi dalam pemeriksaan autopsi. Pada
diabaikan.5,13 pemeriksaan radiologi yang paling pemeriksaan CT dapat mengevaluasi perdarahan
sering digunakan sebagai pencitraan forensik subkutan, perdarahan kelenjar getah bening,
adalah radiografi konvensional (X-Ray), perdarahan otot platismus, fraktur laring serta
computed tomography (CT) dan pendekatan
dapat menentukan kongestif dan perdarahan
invasif minimal yang terkait dengannya, magnetic
resonance imaging (MRI).13 kelenjar saliva. pemeriksaan CT juga dapat
digunakan untuk menilai fraktur tulang hyoid.5,14
Radiografi Konvensional (X-Ray)
Radiografi konvensional adalah metode
pencitraan radiologis tertua yang digunakan
dalam kedokteran forensik.13 Dalam teknik ini,
tubuh diselidiki melalui paparan langsung sinar-
X. pemeriksaan X-Ray yang dapat dilakukan
pada korban strangulasi adalah foto dada dan
foto laringan lunak leher. Pada pemeriksaan
Taufik Suryadi, dkk

a b a b
. . . .

c d
c d
. .
. .

Gambar 7.(a) Menunjukkan penekanan subkutan


di area cekikan (panah kecil) dan kesan
mendalam pada kulit di bagian leher lateral
Gambar 6. (a) Tanda strangulasi dan penekanan (panah lebih besar). (b) Memar di jaringan lemak
subkutan di atas mandibula kanan. (b) Fraktur subkutan di atas sudut mandibula kanan. (c)
kartilago tiroid kanan. (c) Fraktur tulang hyoid kiri Perdarahan intramuskular (panah) yang
(panah kecil). Tanda strangulasi dengan kesan digambarkan pada otot sternokleidomastoid kiri,
mendalam pada kulit di kedua sisi leher (panah (d) Tampak hiperintens kelenjar getah bening di
besar). (d) Deformitas di lokasi fraktur.5 sisi kiri leher (panah besar) dan pada jaringan
lemak subkutan yang memar (panah kecil).5
Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI mampu menunjukkan temuan leher KESIMPULAN
internal yang relevan dan mempengaruhi hasil Strangulasi adalah sebuah bentuk
forensik, terutama dalam klasifikasi tindakan asfiksia yang ditandai dengan tertutupnya
sebagai peristiwa yang mengancam jiwa. pembuluh darah atau saluran pernafasan yang
Pemeriksaan MRI pada kasus strangulasi dapat dapat disebabkan karena terjadinya penekanan
mengevaluasi perdarahan intramuscular namun dari luar pada daerah sekitar leher yang terbagi
tidak dapat membaca pada perdarahan yang tiga yaitu gantung, ligatur, dan manual.
sangat minimal dengan ukuran beberapa Penyumbatan pada leher karena strangulasi
millimeter namun MRI dapat menilai kerusakan menyebabkan sumbatan pada saluran nafas, dan
lapisan intima pada arteri karotis dan menilai pembuluh darah. Kematian akibat strangulasi
fraktur tulang hyoid.5 Penelitian kathrin dll dapat terjadi secara dini dan keadaan lanjut
menunjukkan tanda yang paling banyak akibat komplikasi strangulasi yang dipengruhi
ditemukan dari pemeriksaan MRI terhadap kasus oleh lama dan besarnya kekuatan strangulasi.
strangulasi pada pasien yang selamat adalah Penegakan diagnosis strangulasi dapat dinilai
perdarahan subkutan, perdarahan otot platismus, dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan radiologi
perdarahan intramuskular, dan perdarahan berupa X-Ray, MRI, dan CT yang dapat
kelenjar saliva sedangkan perdarahan intrakutan, dilakukan pada pasien hidup ataupun
perdarahan laring, perdarahan faring dan edema meninggal.
laring jarang ditemukan.6
Taufik Suryadi, dkk

DAFTAR PUSTAKA
1. Detector L, Groi HBW. Strangulation: A Full
Spectrum Of Blunt Neck Trauma. 1985;M(5):2075-
2077.
2. Dunn RJ, Smock W. Strangulation Injuries. Wis
Med J. 2003;102(3):41-46.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29083611.
3. Robi M, Siwu JF, Kristanto EG. Gambaran Kasus
Asfiksia Mekanik di Bagian Forensik RSUP Prof.
Dr. R.D. Kandou Periode Tahun 2010 -2015. e-
Clinic (eCl). 2016;4.
4. Ben Khelil M, Hamdoun M, Gharbaoui M, et al.
Accidental and occupational ligature strangulation
in northern Tunisia: four-case study. Egypt J
Forensic Sci. 2018;8(1):4-9. doi:10.1186/s41935-
018-0081-7.
5. Boesch C, Thali MJ, Vock P, et al. Strangulation
signs: Initial correlation of MRI, MSCT, and
forensic neck findings. J Magn Reson Imaging.
2005;22(4):501-510. doi:10.1002/jmri.20396.
6. Yen K, Vock P, Christe A, et al. Clinical forensic
radiology in strangulation victims: Forensic
expertise based on magnetic resonance imaging
(MRI) findings. Int J Legal Med. 2007;121(2):115-
123. doi:10.1007/s00414-006-0121-y.
7. Strack GB, McClane G. How to Improve Your
Investigation and Prosecution of Strangulation
Cases The Prosecutor’s Perspective. 1998:1-16.
8. Chattopadhyay S, Pal I. Survival following
accidental ligature strangulation: A case report. J
Forensic Leg Med. 2008;15(1):53-55.
doi:10.1016/j.jcfm.2006.08.011.
9. Anscombe AM, Knight BH. Case report. Delayed
death after pressure on the neck: Possible causal
mechanisms and implications for mode of death in
manual strangulation discussed. Forensic Sci Int.
1996;78(3):193-197. doi:10.1016/0379-
0738(95)01886-7.
10. Amir A. Ilmu Kedokteran Forensik. 2nd ed.
Medan: Percetakan Ramadhan; 2007.
11. Zivkovi V. Petechial haemorrhages as a
consequence of very short-term strangulation
during suicidal fall from a height : Case
reconstruction. 2017.
doi:10.1177/0025802417739163.
12. Lubis AK, Nasution GB, Ritonga M. Gantung diri (
Hanging ). Maj Kedokt Nusant. 2012;45(2):104-
108.
13. Minoiu C, Fahrni S, Mangin P. Post-mortem
imaging in forensic investigations : current utility ,
limitations , and ongoing developments. Res
Reports Forensic Med Sci. 2016;6:25-37.
14. Emet M, Saritas A, Aslan S, Uzkeser M, Cak ZG,
Coskun S. Cervical Spinal Injury and Hyoid
Fracture in a Near-hanging Victim. Hong Kong J
Emerg Med Cerv. 2010;17(4):384-387.
15. Advenier AS, Grandmaison GLD La, Cavard S,
Pyatigorskaya N, Malicier D, Charlier P. Laryngeal
Anomalies : Pitfalls in Adult Forensic Autopsies.
Med Sci Law. 2014;54(1):1-7.
doi:10.1177/0025802413485731.