Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

A. PENGERTIAN
Anemia adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan kadar hemoglobin
(Hb) atau sel darah merah (eritrosit) sehingga menyebabkan penurunan kapasitas sel
darah merah dalam membawa oksigen (Badan POM, 2011)
Anemia adalah penyakit kurang darah, yang ditandai dengan kadar
hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit) lebih rendah dibandingkan normal. Jika
kadar hemoglobin kurang dari 14 g/dl dan eritrosit kurang dari 41% pada pria, maka
pria tersebut dikatakan anemia. Demikian pula pada wanita, wanita yang memiliki kadar
hemoglobin kurang dari 12 g/dl dan eritrosit kurang dari 37%, maka wanita itu
dikatakan anemia. Anemia bukan merupakan penyakit, melainkan merupakan
pencerminan keadaan suatu penyakit atau akibat gangguan fungsi tubuh. Secara
fisiologis anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk
mengangkut oksigen ke jaringan.
Anemia didefinisikan sebagai penurunan volume eritrosit atau kadar Hb
sampai di bawah rentang nilai yang berlaku untuk orang sehat. Anemia adalah gejala
dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tidak adekuat
atau kurang nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah, yang mengakibatkan
penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah dan ada banyak tipe anemia dengan
beragam penyebabnya. (Marilyn E, Doenges, Jakarta, 2002)
Anemia adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau konsentrasi
hemoglobin turun dibawah normal.(Wong, 2003)

B. KLASIFIKASI ANEMIA
Klasifikasi berdasarkan pendekatan fisiologis:
1. Anemia hipoproliferatif, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan
oleh defek produksi sel darah merah, meliputi:
a) Anemia aplastik
Penyebab:
1) agen neoplastik/sitoplastik
2) terapi radias
3) antibiotic tertentu
4) obat antu konvulsan, tyroid, senyawa emas, fenilbutason
5) benzene
6) infeksi virus (khususnya hepatitis)

Penurunan jumlah sel eritropoitin (sel induk) di sumsum tulang
Kelainan sel induk (gangguan pembelahan, replikasi, deferensiasi)
Hambatan humoral/seluler

Gangguan sel induk di sumsum tulang

Jumlah sel darah merah yang dihasilkan tak memadai

Pansitopenia

Anemia aplastik
Gejala-gejala:
1) Gejala anemia secara umum (pucat, lemah, dll)
2) Defisiensi trombosit: ekimosis, petekia, epitaksis, perdarahan saluran cerna,
perdarahan saluran kemih, perdarahan susunan saraf pusat.
3) Morfologis: anemia normositik normokromik
b) Anemia pada penyakit ginjal
Gejala-gejala:
1) Nitrogen urea darah (BUN) lebih dari 10 mg/dl
2) Hematokrit turun 20-30%
3) Sel darah merah tampak normal pada apusan darah tepi
Penyebabnya adalah menurunnya ketahanan hidup sel darah merah maupun
defisiensi eritopoitin
c) Anemia pada penyakit kronis
Berbagai penyakit inflamasi kronis yang berhubungan dengan anemia jenis
normositik normokromik (sel darah merah dengan ukuran dan warna yang
normal). Kelainan ini meliputi artristis rematoid, abses paru, osteomilitis,
tuberkolosis dan berbagai keganasan
d) Anemia defisiensi besi
Penyebab:
1) Asupan besi tidak adekuat, kebutuhan meningkat selama hamil, menstruasi
2) Gangguan absorbsi (post gastrektomi)
3) Kehilangan darah yang menetap (neoplasma, polip, gastritis, varises
oesophagus, hemoroid, dll.)

gangguan eritropoesis

Absorbsi besi dari usus kurang

sel darah merah sedikit (jumlah kurang)
sel darah merah miskin hemoglobin

Anemia defisiensi besi
Gejala-gejalanya:
1) Atropi papilla lidah
2) Lidah pucat, merah, meradang
3) Stomatitis angularis, sakit di sudut mulut
4) Morfologi: anemia mikrositik hipokromik
e) Anemia megaloblastik
Penyebab:
1) Defisiensi defisiensi vitamin B12 dan defisiensi asam folat
2) Malnutrisi, malabsorbsi, penurunan intrinsik faktor
3) Infeksi parasit, penyakit usus dan keganasan, agen kemoterapeutik, infeksi
cacing pita, makan ikan segar yang terinfeksi, pecandu alkohol.

Sintesis DNA terganggu

Gangguan maturasi inti sel darah merah

Megaloblas (eritroblas yang besar)

Eritrosit immatur dan hipofungsi
2. Anemia hemolitika, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan
oleh destruksi sel darah merah:
a) Pengaruh obat-obatan tertentu
b) Penyakit Hookin, limfosarkoma, mieloma multiple, leukemia limfositik
kronik
c) Defisiensi glukosa 6 fosfat dihidrigenase
d) Proses autoimun
e) Reaksi transfusi
f) Malaria

Mutasi sel eritrosit/perubahan pada sel eritrosit

Antigesn pada eritrosit berubah

Dianggap benda asing oleh tubuh

sel darah merah dihancurkan oleh limposit

Anemia hemolisis
Pembagian derajat anemia menurut WHO dan NCI (National Cancer Institute)
DERAJAT WHO NCI
Derajat 0 (nilai normal) > 11.0 g/dL Perempuan 12.0 - 16.0
g/dL
Derajat 1 (ringan) 9.5 - 10.9 g/dL Laki-laki 14.0 - 18.0 g/dL
Derajat 2 (sedang) 8.0 - 9.4 g/dL 10.0 g/dL - nilai normal
Derajat 3 (berat) 6.5 - 7.9 g/dL 8.0 - 10.0 g/dL
Derajat 4 (mengancam < 6.5 g/dL 6.5 - 7.9 g/dL
jiwa) < 6.5 g/dL

C. ETIOLOGI:
1. Hemolisis (eritrosit mudah pecah)
2. Perdarahan
3. Penekanan sumsum tulang (misalnya oleh kanker)
4. Defisiensi nutrient (nutrisional anemia), meliputi defisiensi besi, folic acid,
piridoksin, vitamin C dan copper
Menurut Badan POM (2011), Penyebab anemia yaitu
1. Kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, vitamin B12, asam
folat, vitamin C, dan unsur-unsur yang diperlukan untuk pembentukan sel darah
merah.
2. Darah menstruasi yang berlebihan. Wanita yang sedang menstruasi rawan
terkena anemia karena kekurangan zat besi bila darah menstruasinya banyak dan
dia tidak memiliki cukup persediaan zat besi.
3. Kehamilan. Wanita yang hamil rawan terkena anemia karena janin menyerap zat
besi dan vitamin untuk pertumbuhannya.
4. Penyakit tertentu. Penyakit yang menyebabkan perdarahan terus-menerus di
saluran pencernaan seperti gastritis dan radang usus buntu dapat menyebabkan
anemia.
5. Obat-obatan tertentu. Beberapa jenis obat dapat menyebabkan perdarahan
lambung (aspirin, anti infl amasi, dll). Obat lainnya dapat menyebabkan masalah
dalam penyerapan zat besi dan vitamin (antasid, pil KB, antiarthritis, dll).
6. Operasi pengambilan sebagian atau seluruh lambung (gastrektomi). Ini dapat
menyebabkan anemia karena tubuh kurang menyerap zat besi dan vitamin B12.
7. Penyakit radang kronis seperti lupus, arthritis rematik, penyakit ginjal, masalah
pada kelenjar tiroid, beberapa jenis kanker dan penyakit lainnya dapat
menyebabkan anemia karena mempengaruhi proses pembentukan sel darah
merah.
8. Pada anak-anak, anemia dapat terjadi karena infeksi cacing tambang, malaria,
atau disentri yang menyebabkan kekurangan darah yang parah.

D. PATOFISIOLOGI
Adanya suatu anemia mencerminkan adanya suatu kegagalan sumsum atau
kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum (misalnya
berkurangnya eritropoesis) dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik,
invasi tumor atau penyebab lain yang belum diketahui. Sel darah merah dapat hilang
melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi).
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam
system retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Hasil samping proses ini
adalah bilirubin yang akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah
merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma
(konsentrasi normal ≤ 1 mg/dl, kadar diatas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada
sclera).
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, (pada
kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan muncul dalam plasma (hemoglobinemia).
Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas haptoglobin plasma (protein pengikat
untuk hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam
glomerulus ginjal dan kedalam urin (hemoglobinuria).
Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien disebabkan oleh
penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak mencukupi
biasanya dapat diperoleh dengan dasar:1. hitung retikulosit dalam sirkulasi darah; 2.
derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum tulang dan cara
pematangannya, seperti yang terlihat dalam biopsi; dan ada tidaknya hiperbilirubinemia
dan hemoglobinemia.

Anemia

viskositas darah menurun

resistensi aliran darah perifer

penurunan transport O2 ke jaringan

hipoksia, pucat, lemah

beban jantung meningkat

kerja jantung meningkat

payah jantung
PATHWAY ANEMIA (Patrick Davey, 2002)

Pathway Anemia

E. TANDA DAN GEJALA


1. Lemah, letih, lesu dan lelah
2. Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang
3. Gejala lanjut berupa kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan menjadi pucat.
Pucat oleh karena kekurangan volume darah dan Hb, vasokontriksi
4. Takikardi dan bising jantung (peningkatan kecepatan aliran darah) Angina (sakit dada)
5. Dispnea, nafas pendek, cepat capek saat aktifitas (pengiriman O2 berkurang)
6. Sakit kepala, kelemahan, tinitus (telinga berdengung) menggambarkan berkurangnya
oksigenasi pada SSP
7. Anemia berat gangguan GI dan CHF (anoreksia, nausea, konstipasi atau diare)
F. KEMUNGKINAN KOMPLIKASI YANG MUNCUL
Komplikasi umum akibat anemia adalah:
1. gagal jantung,
2. kejang.
3. Perkembangan otot buruk ( jangka panjang )
4. Daya konsentrasi menurun
5. Kemampuan mengolah informasi yang didengar menurun
G. PEMERIKSAAN KHUSUS DAN PENUNJANG
1. Kadar Hb, hematokrit, indek sel darah merah, penelitian sel darah putih, kadar Fe,
pengukuran kapasitas ikatan besi, kadar folat, vitamin B12, hitung trombosit, waktu
perdarahan, waktu protrombin, dan waktu tromboplastin parsial.
2. Aspirasi dan biopsy sumsum tulang. Unsaturated iron-binding capacity serum
3. Pemeriksaan diagnostic untuk menentukan adanya penyakit akut dan kronis serta
sumber kehilangan darah kronis.
H. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan anemia ditujukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah yang
hilang:
1. Anemia aplastik:
a. Transplantasi sumsum tulang
b. Pemberian terapi imunosupresif dengan globolin antitimosit(ATG)
2. Anemia pada penyakit ginjal
a. Pada paien dialisis harus ditangani denganpemberian besi dan asam folat
b. Ketersediaan eritropoetin rekombinan
3. Anemia pada penyakit kronis
Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala dan tidak memerlukan penanganan
untuk aneminya, dengan keberhasilan penanganan kelainan yang mendasarinya, besi
sumsum tulang dipergunakan untuk membuat darah, sehingga Hb meningkat.
4. Anemia pada defisiensi besi
a. Dicari penyebab defisiensi besi
b. Menggunakan preparat besi oral: sulfat feros, glukonat ferosus dan fumarat
ferosus.
5. Anemia megaloblastik
a. Defisiensi vitamin B12 ditangani dengan pemberian vitamin B12, bila difisiensi
disebabkan oleh defekabsorbsi atau tidak tersedianya faktor intrinsik dapat
diberikan vitamin B12 dengan injeksi IM.
b. Untuk mencegah kekambuhan anemia terapi vitamin B12 harus diteruskan selama
hidup pasien yang menderita anemia pernisiosa atau malabsorbsi yang tidak dapat
dikoreksi.
c. Anemia defisiensi asam folat penanganannya dengan diet dan penambahan asam
folat 1 mg/hari, secara IM pada pasien dengan gangguan absorbsi.
I. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Lakukan pengkajian fisik
2. Dapatkan riwayat kesehatan, termasuk riwayat diet
3. Observasi adanya manifestasi anemia
a. Manifestasi umum
b. Kelemahan otot
c. Mudah lelah
d. Kulit pucat
4. Manifestasi system saraf pusat
a. Sakit kepala
b. Pusing
c. Kunang-kunang
d. Peka rangsang
e. Proses berpikir lamba
f. Penurunan lapang pandang
g. Apatis
h. Depresi
5. Syok (anemia kehilangan darah)
a. Perfusi perifer buruh
b. Kulit lembab dan dingin
c. Tekanan darah rendah dan tekanan darah setral
d. Peningkatan frekwensi jatung
J. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN MASALAH KOLABORASI YANG MUNGKIN
MUNCU
1. Perfusi jaringan tidak efektif b.d perubahan ikatan O2 dengan Hb, penurunan
konsentrasi Hb dalam darah.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d inadekuat intake
makanan.
3. Defisit perawatan diri b.d kelemahan
4. Resiko infeksi b.d pertahanan sekunder tidak adekuat (penurunan Hb)
5. Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
6. Gangguan pertukaran gas b.d ventilasi perfusi
7. Ketidakefektifan pola nafas b.d keletihan
8. Keletihan b.d anemia
K. PERENCANAAN KEPERAWATAN
DIANGOSA
N TUJUAN DAN KRITERIA
KEPERAWATAN INTERVENSI
O HASIL
DAN KOLABORASI
1 Perfusi jaringan tidak Setelah dilakukan tindakan Peripheral Sensation
efektif b/d penurunan keperawatan selama ……… Management (Manajemen
konsentrasi Hb dan jam perfusi jaringan klien sensasi perifer)
darah, suplai oksigen adekuat dengan kriteria : a) Monitor adanya daerah
berkurang a) Membran mukosa merah tertentu yang hanya
b) Konjungtiva tidak peka terhadap
anemis panas/dingin/tajam/tum
c) Akral hangat pu
d) Tanda-tanda vital dalam b) Monitor adanya paretese
rentang normal c) Instruksikan keluarga
untuk mengobservasi
kulit jika ada lesi atau
laserasi
d) Gunakan sarun tangan
untuk proteksi
e) Batasi gerakan pada
kepala, leher dan
punggung
f) Monitor kemampuan
BAB
g) Kolaborasi pemberian
analgetik
h) Monitor adanya
tromboplebitis
i) Diskusikan menganai
penyebab perubahan
sensasi

2 Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan NIC :


nutrisi kurang dari keperawatan selama ………. Nutrition Management
kebutuhan tubuh b/d status nutrisi klien adekuat a. Kaji adanya alergi
intake yang kurang, dengan kriteria makanan
anoreksia a. Adanya peningkatan b. Kolaborasi dengan ahli
berat badan sesuai gizi untuk menentukan
Definisi : Intake dengan tujuan jumlah kalori dan nutrisi
nutrisi tidak cukup b. Berat badan ideal sesuai yang dibutuhkan pasien.
untuk keperluan dengan tinggi badan c. Anjurkan pasien untuk
metabolisme tubuh. c. Mampumengidentifikasi meningkatkan intake Fe
kebutuhan nutrisi d. Anjurkan pasien untuk
Batasan karakteristik : d. Tidak ada tanda tanda meningkatkan protein
a) Berat badan 20 % malnutrisi dan vitamin C
atau lebih di e. Menunjukkan e. Berikan substansi gula
bawah ideal peningkatan fungsi f. Yakinkan diet yang
b) Dilaporkan pengecapan dari menelan dimakan mengandung
adanya intake f. Tidak terjadi penurunan tinggi serat untuk
makanan yang berat badan yang berart mencegah konstipasi
kurang dari RDA g. Pemasukan yang adekuat g. Berikan makanan yang
(Recomended h. Tanda-tanda malnutrisi terpilih ( sudah
Daily Allowance) i. Membran konjungtiva dikonsultasikan dengan
c) Membran mukosa dan mukos tidk pucat ahli gizi)
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol 3. Jakarta: EGC

Carpenito, L.J. 2000. Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada Praktik Klinis, edisi 6. Jakarta:
EGC

Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River

Marlyn E. Doenges, 2002. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC

Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition.
New
Jersey: Upper Saddle River

Patrick Davay, 2002, At A Glance Medicine, Jakarta, EMS

Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika
Smeltzer & Bare. 2002. Keperawatan Medikal Bedah II. Jakarta: EGC

Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. EGC : Jakarta.
A. Pengkajian

Pengkajian dilakukan oleh Sulimah NIM 03.0341 pada hari rabu tanggal 19
Juli 2017 pada pukul 08.00 WIB. Di ruang flamboyan RSUD Kudus. Informasi
didapat dari allou, anamnesa, autoanamnese, catatan medis dan petugas RS.

B. Biodata

1. Identitas Klien

Nama : Tn.P

Umur : 51 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Alamat : Mejobo Kudus

Pendidikan : SD

Pekerjaan : Swasta

Status : Menikah

Agama : Islam

No.Registrasi : 500100

Tanggal masuk : 17 Juli 2006

Diagnosa medis : Anemia dengan indikasi Melena

2. Identitas Penanggung jawab

Nama : Ny.S

Umur : 45 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Alamat : Mejobo Kudus

Pekerjaan : Ibu Rumah tangga

Hub. dg keluarga : Istri klien


C. Riwayat Kesehatan

1. Keluhan utama

Klien lemaS

2. Riwayat penyakit sekarang

+ 4 hari yang lalu klien datang ke RSU Kudus dnegan keluhan lemas BAB hitam

cair oleh dokter disarankan untuk rawat inap

3. Riwayat penyakit yang lalu

Klien sudah pernah diobname di RS mardi rahayu 1x dengan penyakit yang sama.

(Anemia)

4. Riwayat kesehatan keluarga

Keluarga tidak ada yang menderita penyakit anemia, hipertensi, DM, asm

5. pola fungsional menurut Gordon

a) Pola persepsi kesehatan

Menurut klien kesehatan sangat penting dan berharga, jika klien mengalami

gangguan klien langsung berobat ke dokter umum

b) Pola nutrisi

Sebelum sakit : Klien makan 3x sehari, makan nasi, lauk, sayur, minum +

8 gelas (2000 cc) per hari


Selama sakit : Klien makan 3x sehari makan bubur, minum 5 gelas (1250

cc)

c) Pola eliminasi

Sebelum sakit : Klien BAB 1x sehari dengan konsistensi lembek warna

kuning. Klien BAK 4-5 x sehari dengan warna kuning jernih dan bau yang

khas.

Selama sakit : Klien BAB 3x sehari dengan konsistensi cair warna hitam.

Klien BAK 4-5x sehari dengan warna kuning jernih dan bau yang khas

d) Pola aktivitas dan latihan

Sebelum sakit : Sebelum sakit klien melakukan aktivitas sehari-hari

dengan mandiri

Selama sakit : Klien melakukan aktivitas dibantu keluarga dan perawat

e) Pola kognitif

Sebelum sakit : Klien memandang kesehatan adalah hal yang penting.

Klien bisa berfikir dan bertindak dan bisa menyelesaikan masalahnya.


Selama sakit : Klien masih bisa berpikir dan mengambil keputusan jika

ada sesuatu masalah klien membicarakannya dengan perawat dan petugas

Rumah Sakit

f) Pola istirahat

Sebelum sakit : Klien tidur mulai jam 21.00-05.00 WIB

Selama sakit : Selama sakit klien tidur mulai jam 21-00 sebentar-

sebentar bangun karena perut mules

g) Pola konsep diri

1) Identitas diri : Klien adalah seorang kepala rumah tangga yang

bekerja di sebuah kota

2) Ideal diri : Harapan klien setelah pulang dari RS klien dapat

bekerja lagi untuk menafkahi keluarganya

3) Harga diri : Klien tidak malu dengan keadaan di RS sekarang ini.

4) Gambaran diri : Klien merasa sedih tentang penyakitnya

h) Pola hubungan dan peran

Sebelum sakit : Hubungan dengan keluarga baik dan harmonis


Selama sakit : Hubungan dengan keluarga baik dengan perawat dan

dengan pasien di sekitarnya baik

i) Pola reproduksi dan seksual

Klien menikah dan mempunyai anak 5

j) Koping terhadap stress

Klien setiap ada masalah dibicarakan dengan keluarga dan perawat

k) Keyakinan / kepercayaan

Klien beragama islam dan selalu berdoa untuk kesembuhannya.

D. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan umum lemah

2. Tingkat kesadaran composmentis

3. Tanda-tanda vital : TD 100/60 mmHg, suhu 370C, N : 80 x/mnt, RR : 20

x/mnt

4. Kepala : mesochepal

Rambut : Beruban, tidak berketombe, tidak berminyak

Mata : Konjungtiva anemis, sklera mata tidak ikteris, reflek

pupil terhadap cahaya baik dan tidak menggunakan alat bantu pengelihatan

Hidung : Simetris, tidak ada secret


Telinga : simetris, bersih tidak ada serumen

Mulut : Bibir lembab, tidak ada sariawan

Leher dan tenggorok : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid

5. Dada dan thorak

Paru-paru

Inspeksi : Pengembangan nafas kanan dan kiri simetris

Perkusi : Sonor

Palpitasi : Tidak ada krepitasi paru

Auskultasi : Vesikuler

Jantung

Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak

Perkusi : Pekak

Palpitasi : Ictus cordis teraba pada IC-5 garis tengah klavikula kiri

Auskultasi : S1-S2 murni

Abdomen

Inspeksi : Perut cembung

Perkusi : Pekak

Palpitasi : Teraba nyeri pada ulu hati

Auskultasi : Bunyi normal

6. Genital bersih

Ekstremitas : tidak ada oedema, ektremitas atas karena terpasang infus normal saline + drip
ranitidin 20 tts/menit
D. Data penunjang

1. Laboratorium dilakukan tanggal 17 Juli 2006

Darah rutin

WBC : 8,7 103/mm3 (3,5-10,0)

RBC : 2,87 106/mm3 (3,80-5,80)

HGB : 7,9 g/dl (11,0-16,5)

HCT : 25,1 % (35,0-50,0)

PLT : 173 103/mm3 (150-390)

PCT : 153 % (100-500)

Kimia darah

GDS : 149 mg/dl (70-150)

Ureum: : 29,5 mg/dl (11,0-55,0)

Creatinin : 1,5 mg/dl (0,6-1,36)

sGOT : 34 U/L (<37)

SGPT : 28 U/L (<41)

Uric acid : 6,7 mg/dl (2,6-7,2)

2. Therapi lain

Ulsidex 3 x 2 tablet (oral, jam 08.00, 16.00, 24.00 WIB)

Ranitidin 2 x 1 ampul drip 1 jam

Infus NS (Normal salin)

C. Analisa Data

Data Etiologi Problem


DS : Klien mengatakan lemasDO : Hb turun Gangguan perfusi
Klien terlihat pucat jaringan

Hb (7,9) g/dl

Capiler refil < 2 detik

Turgor kulit <

DS1. Klien mengatakan perut Iritasi pada mukosa Nyeri


merasa sebah lambung

2. Klien mengatakan nyeri pada


waktu BAB, nyeri seperti ditusuk-
tusuk pada ulu hati dengan skala 4.

3. Klien mengatakan nyerinya


kira-kira 2 menit

DO

1. BAB klien 3x sehari

2. Skala nyeri 4

3. Klien tampak lemah

DS1. Klien mengatakan lemas Ketidakseimbangan Intoleransi


antara suplai O2 aktifitas
2. Klien mengatakan pandangan dengan kebutuhan
kabur

DO

1. Klien tampak pucat

2. Klien tampak lemah

3. Hb (7,9) g/dl

D. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan Hb turun


2. Nyeri berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung

3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2 dengan


kebutuhan

E. Intervensi

No Hari/tgl Nodx Tujuan dan kreteria hasilIntervensi TTD


1 Rabu19 I Setelah dilakukan 1. Monitor TTV2.
juli tindakan keperawatan Jaga kehangatan klien
selama 1×24 jam agar
2006 sirkulasi darah klien ke 3. Bantu dan
organ tubuh anjurkan pasien untuk
Jam meningkatKreteria merubah posisi
Hasil
11.00 4. Monitor Hb
1. Warna kulit tidak
WIB pucat 5. Ambil sampel
darah
2. Hb meningkat
(11,0-16,5) 6. Kolaborasi
pemberian tramfusi
darah

2 Rabu19 II Setelah dilakukan 1. Kaji karakteristik


juli tindakan keperawatan nyeri2. Anjurkan
selama 1 x 24 jam nyeri teknik relaksasi
2006 berkurang /
hilang.Kreteria Hasil 3. Monitor TTV
Jam
1. Keluhan nyeri 4. Berikan posisi
11.30 berkurang yang nyaman

WIB

2. Ekpresi wajah 5. Libatkan keluarga


tenang dalam mengatur posisi
yang nyaman
3. Tanda-tanda vital
normal

3 Rabu19 III Setelah dilakukan 1. Anjurkan klien


juli tindakan keperawatan beraktivitas secara
selama 1×24 jam bertahap2. Anjurkan
2006 intoleransi aktivitas duduk saat klien pusing
teratasiKreteria Hasil
Jam 3. Libatkan keluarga
dalam pemenuhan
11.45 Klien ke kamar mandi aktivitas
sendiri tanpa bantuan
WIB 4. Ciptakan
lingkungan yang tenang
dan nyaman

F. Implementasi

Hari/tgl No dx Implementasi Respon TTD


Rabu19 I 1. Memonitor TTV 1. TTVTD : 100/60
juli mmHg

2006 S : 370C

Jam N : 80 x/menit

11.00 RR : 20 x/menit

WIB 2. Klien mau


2. Membantu dan melakukan perubahan
menganjurkan klien untuk posisi miring kanan
merubah posisi
3. Warna kulit klien
tampak pucat

3. Memonitor warna kulit 4. Hb 7,9 g/dl

5. Klien mau
diambil darahnya

6. Klien mendapat
4. Memonitor Hb tranfusi darah PRC

5. Mengambil sampel
darah

6. Kolaborasi pemberian
tranfusi darah

Rabu19 II 1. Mengkaji karakteristik 1. Klien merasa


juli nyeri2. Mengajarkan nyeri di ulu hati2.
teknik relaksasi Klien mau melakukan
2006 tarik nafas dalam
Jam 3. Klien dalam
posisi nyaman duduk
11.30 3. Memberikan posisi
yang nyaman 4. Keluarga mau
WIB membantu klien

4. Melibatkan keluarga
dalam mengatur posisi yang
nyaman

Rabu19 III 1. Menganjurkan klien 1. Klien


juli beraktivitas secara mengatakan mau
bertahap2. Menganjurkan beraktivitas2. Klien
2006 klien duduk saat pusing terlihat duduk

Jam 3. Menciptakan 3. Membatasi


lingkungan yang tenang dan pengunjung
11.45 nyaman

WIB

G. Evaluasi

Hari/tgl No dx Evaluasi TTD


Kamis20 I S : Klien mengatakan mau diambil darahnyaO :
juli Darah sudah diambil 2 cc

2006 A : Masalah teratasi sebagian

Jam P : Lanjutkan intervensi

11.00 1. Monitor

WIB 2. Hb

3. Monitor

4. Warna kulit

5. Kolaborasi pemberian tranfusi darah

Kamis20 II S : Klien mengatakan sudah nyaman dalam posisi


juli dudukO : Wajah klien tampak rilek
2006 A : Masalah teratasi sebagian

Jam P : Lanjutkan intervensi

11.30 Lanjutkan teknik relaksasi

WIB

Kamis20 III S : Klien mengatakan mau beraktivitasO : Klien


juli terlihat duduk

2006 A : Masalah teratasi sebagian

Jam P : Lanjutkan intervensi

11.45 Batasi pengunjung

WIB
ASUHAN KEPERAWATAN
DENGAN DIAGNOSA MEDIS ‘’ANEMIA”

Pengkajia tanggal : 03-02-2017


Tanggal MRS : 03-02-2017
Ruang : ARFH 1 E1
Jam MRS : 24.00
No rekam medis :158316
Diagnosa medis : anemia
A. PENGKAJIAN
I. Identitas klien
Nama : Tn. P
Umur : 63 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Agama : islam
Pendidikan : sd
Pekerjaan : Tani
Suku / bangsa : wni
Alamat : S magetan
Status perkawinan :kawin
PENANGGUNG JAWAB PASIEN
Nama :S
Umur :56 tahun
Jenis kelamin : perempuan
Pendidikan :sd
Pekerjaan : buruh tani
Hubungan dengan pasien : istri
Alamt : s magetan
II. PENGKAJIAN RIWAYAT KESEHATAN
a. Keluhan utama
Klien mengeluh badannya lemas, lesu setelah aktifitas.
 Riwayat penyakit sekarang
Pada saat masuk rumah sakit klien mengeluh pusing, pans meningkat, lemas lesu
selama 1 minggu. Saat pengkajian klien masih mengeluh lemah lesu setelah aktivitas
terutama dibagian kaki, mudah capek, pasien istirahat bila merasa capek dan aktivitas
biasanya dibantu oleh keluarga. Hal ini disebabkan karena kekurangan darah dan
kekurangan cairan.
 Riwayat penyakit dahulu
Klien mengatakan pernah menderita penyakit anemia dan 2x dirawat di rsi st aisyah
sekitar 3 bulan yang lalu dengan diagnosa medis yang pertama anemia+ asam urat
yang kedua diagnosa medis anemia+febris klien mengatakan tidak mempunyai
penyakit kronik dan menular.
 Riwayat kesehatan keluarga
Di dalam keluarga tidak ad yang menderita sakit sperti yang diderita klien tetapi klien
mengatakn bapak klien menderita penyakit sesak nafas.
 Genogram
NO SUPPORT
Keterangan
Kotak : laki-laki
Bulat : perempuan
: garis perkawinan
:garis keturunan
: pasien
Silang : meninggal
Yang dilingkari : tinggal satu rumah
III. PEMERIKSAAN FISIK
1. Tanda-Tanda Vital
S: 36 c N: 82x/mnt T: 100/60 mmHg RR: 25x/mnt
Kesadarn pasien : composmentis
Keadaan umum : lemah
2. Pengkajian pernapasan (B1)
a. Klien mengeluh sesak ringan dan batuk tidak produktif
b. Irama pernafasan teratur
c. Suara napas ronchi: - wheezing: -
d. Tdiak menggunakan alat bantu napas
MK : tidak ada masalah keperawatn
3. Pengkajian sirkulasi kardiovaskular (B2)
- Klien mengeluh nyeri dad ringan
- Irama jantung regular
S1/s2 tunggal
- Suara jantung : murmur -, gallop –
- CRT: 3 dtik
- Akral pucat
MK : tidak ada masalah keperawatan,data kurang mendukung.
4. Pengkajian neuro sensori/persyarafan (B3)
- GCS : 456
- Klien mengeluh pusing berputar
- Pupil isokor
- Sclera ikterus
- Conjungtiva anemis
- Gangguan pandangan : reflek cahay +/+
- Klien mengeluh susah tidur
5. Pengkajian eliminasi /perkemihan (B4)
- BAK normal 3-4 x/24 jam,
- Bau amoniak
- Warna kuning jernih
- Kurang menjaga kebersihan
- Kandung kemih tidak membesar maupun nyeri tekan
- Tidak menggunakan alat bantu kateter
- MK: tidak ada
6. Pengkajian makanan dan cairan / pencernaaa (B5)
- Mulut kotor
- Mukosa kering
- Adanya splenomegali
- Tidak ada masalah dengan tenggorokan
- Peristaltic normal
- Bising usus 15 x/mnt
- Klien mengatakan belum BAB,terakhir tanggal 31-01-2014
- Gangguan konntipasi
- Diet lunak
- Nafsu makan baik 3x/hari,porsi makn habis
- Intake cairan : oral : + 350 cc/hari. Parental 1500 cc/hari
- Tidak terpasanng NGT
MK: konstipasi b.d aktivitas fisik tidak cukup
7. Pengkajian muskoleskeletal dan integument (B6)
- Pergerakan sendi terbatas
- Kekkuatan otot 5 5
5 5
- klien mengatakan badannya merasa lemah,letih setelah aktivitas
- kelainan tulang belakang : kifosis
- kulit kemerahan
- turgor kulit kurang elastic
MK: intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum
8. Pengkajian system endokrin
- Tidak dad pembesaran keelenjar thyroid dan kelenjar getah bening.
9. Pengkajian hygiene dan kebiasaan
- Mandi hannya 1x/hari setiap pagi
- Ganti pakaian 2x/hari, tidak keramas dan gosok gigi
- Klien tidak merokok
- Klien tidak minum alcohol
MK: deficit perawatan diri mandi b.d kelemahan

10. Pengkajian psikososial


- Persepsi klien terhadap sakit yang diderita adalah cobaan dari tuhan
- Ekspresi klien terhadap penyakit yang diderita gelisah / cemas
- Reaksi saat interaksi sangat kooperatif
MK : tidak ada
11. Pengkajian spiritual
- Selama sakit tidak pernah beribadah
- Sebelum sakit rajin beribadah
MK : resiko distress spiritual b.d perubahan dalam ritual agama
12. Terapi obat
- Infuse pz 20 tpm (1500 cc /24 jam)
- Acran 2x1 obat injeksi iv (ampul)
- Neroges 3x1 obat injeksi (ampul)
- Fulovit 1x1 lab
13. Pemeriksaan penunjang
Laboratorium (05-02-2014)
pemeriksaan hasil normal
Darah lengkap
hemoglobin 7,9 P : 13,4-17,7 w : 11,4-15,9 dl/l
leukosit 6300
Hitung jenis
segmen 27 50-70 %
limfosit 61 25-40%
monosit 12 4-10%
LED 63/115 P < 15 W < 20 mm/jam
hematokrit 23,6 P:40-48 % W: 37-43%
trombosit 130,80 150,80-450.000
SGOT 14 P < 35 miu/l W : < 31 miu/l
SGPT 27 P<41 miu/l W : < 31 miu/l
HBS Ag negatif negatif
Anti hiv Non negatif
reaktif

ANALISA DATA
Tanggal Data Etiologi Masalah
03-02- DS:klien mengeluh Kelemahan Intoleransi
2014 badannya umum aktivitas
lemas,lesu,pusing setelah
aktivitas.
Do:
Ku lemah
Kebutuhan cairan kurang
Pergerakan sendi terbatas
TTV
S : 36 C
N : 82x/mnt
T : 100/60 mmHg
RR : 25 x/mnt
H : 7,9

Prioritas diagnosa keperawatan


- Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.

INTERVENSI KEPERAWATAN
No Hari//tgl Dx Tjuan/KH Intervensi rasional
keperawatan
1 Senin, Intoleransi Setelah 1. observasi 1. menunjukkan
03-02- aktivitas b.d diberikan kehilangan/ perubahan
2014 kelemahan asuhan gangguan neurology
umum keperawatan keseimbangan gaya karena
selama 2x 24 jalan dan kelemahan defisiensi
jam otot vitamin B12
diharapkan 2. observasi TTV mempengaruhi
klien sebelum dan keamanan
meningkatkan sesudah aktivitas pasien/ resiko
ambulan atau 3. berikan cidera
aktivitas lingkungan tenang 2. manifestasi
dengan KH : batasi pengunjung kardio
-KU baik dan kurangi suara pulmonal dr
-akral hangat bising, pertahankan upaya jantung
-sclera normal tirah baring bila di dan paru untuk
-conjungtiva indikasikan membawa
normal 4. anjurkan klien jumlah oksigen
- turgor kulit istirahat bila terjadi adekuat ke
elastis kelelahan dan jaringan.
kelemahan,anjurkan 3.
pasien melakukan meningkatkan
aktivitas istirahat untuk
semampunya menurunkan
5. kolaborasi dengan kebutuhan
tim medis dalam oksigen tubuh
pemberian terapi dan
infuse dan menurunkan
memberikan regangan
transfuse darah. jantung dan
paru.
4.
meningkatkan
aktivitas secara
bertahap
sampai normal
dan
memperbaiki
tonus otot.
5.mengganti
cairan dan
elektrolit secara
adekuat.
IMPLEMENTASI
No Hari/tgl Dx kep jam implementasi jam evaluasi paraf
1 Senin,03- Intoleransi 09.00 1. meobservasi 14.00 S ; klien
02-2014 aktivitas kehilangan/ mengatakan
b.d gangguan badannya masih
kelemahan keseimbangan gaya lemas,kepala
umum jalan dan kelemahan pusing.
otot. O:
R/klien berusaha Ku lemah
tetapi tidak mampu Kurang
menyeimbangkan minum/cairan
saat berjalan. Pergerakan sendi
2. meobservasi TTV masih terbatas
sebelum dan Hannya berbaring
sesudah aktivitas. ditempat tdur
-sebelum aktivitas TTV
T:100/60 mmHG S: 36,2 c N :
S: 36 c N : 82/mnt 89x/mnt
Rr: 25x/mnt T : 90/60mmHg
3. memberikan RR: 23x/mnt
lingkungan tenang A : masalah belum
batasi pengunjung teratasi
dan kurangi suara P : lanjutkan
bising, pertahankan intervensi.
tirah baring bila di
indikasikan.
R/klien masih
pusing dengan
lingkungan tenang.
4. menganjurkan
klien istirahat bila
terjadi kelelahan
dan
kelemahan,anjurkan
pasien melakukan
aktivitas
semampunya.
R/ klien susah tidur
5. berkolaborasi
dengan tim medis
dalam pemberian
terapi infuse dan
memberikan
transfuse darah.
Infuse ps 20 tpm
Tranfusi darah

CATATAN PERKEMBANGAN
Shif Hari/tgl DX kep jam Catatan perkembangan paraf
t
sore Rabu,05 Intoleransi 20.0 S : klien mengatakan susah
-02 -2014 aktivitas b.d 0 tidur
kelemahan 0 : - ku lemeh
umum Klien tampak gelisah
Klien bisa duduk
Ttv
T : 110/80 mmHg
S : 36 c N : 85x/mnt
Rr : 23x/mnt

sore Kamis. 20.0 S : klien mengatakn susah tidur


06/02- 0 da lemas
2014 O : ku cukup
Klien hannya duduk dan tak
mau istirahat
Ttv
T : 110/85 mmHg
N : 80x/mnt s : 36 c
Rr : 23x/mnt
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi 1,2,3
sore Jumat 20.0 S : klien mengeluh udaranya
07/02 0 sangat panas dan pusing
2014 berkurang
O:
-ku cukup
- klien duduk dilantai
-ttv
-t : 120/80 mmHg n: 80x/mnt
S : 36 c rr : 20x/mnt
A : masalah tertasi sebagian
P : lanjutkan intervensi