Anda di halaman 1dari 43

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Asam urat merupakan substansi hasil akhir dari metabolisme purin dalam

tubuh. Berdasarkan penyelidikan, 90% dari asam urat merupakan hasil

katabolisme purin yang dibantu oleh enzim guanase dan xantin oksidase. Asam

urat yang berlebihan tidak akan tertampung dan termetabolisme seluruhnya oleh

tubuh, maka akan terjadi peningkatan kadar asam urat dalam darah yang disebut

sebagai hiperurisemia.

Asam urat merupakan hasil samping dari peecahan sel yang terdapat didalam

darah, karena tubuh secara berkesinambungan memecah dan membentuk sel yang

baru. Kadar asam urat meningkat ketika ginjal tidak mampu mengeluarkanya

melalui feces (Efendi, Makhfudli, 2009).

Asam urat secara tradisional dibagi menjadi bentuk primer (90%) dan

sekunder (10%). Asam urat primer adalah kasus asam urat dimana penyebabnya

tidak diketahui atau akibat kelainan proses metabolisme dalam tubuh. Asam urat

sekunder adalah kasus dimana penyebabnya dapat diketahui. Sekitar 90 % pasien

asam urat primer adalah laki laki yang umumnya berusia lebih dari 30 tahun,

sementara asam urat pada wanita umumnya terjadi setelah menopause. Choy

melakukan penelitian diamerika serikat terhadap 47.150 responden, kemudian


2

hasilnya diperoleh bahwa sebanya 730 kasus asam urat baru. Mereka menemukan

peningkatan resiko asam urat ketika responden mengkonsumsi daging atau

seafood dalam jumlah banyak. Akan tetapi, tidak ditemukan peningkatan risiko

asam urat ketika mengkonsumsi protein hewani maupun nabati atau sayur-

sayuran kaya purin dalam jumlah banyak. Tim tersebut juga menemukan bukti

bahwa adanya hubungan terbalik yang kuat antara konsumsi produk susum

terutama yang rendah lemak, dan kejadian asam urat. Penelitian di amerika serikat

terhadap 96 orang lanjut usia menyebutkan bahwa tingginya kadar asam urat pada

orang tua berhubungan dengan adanya gangguan pada fungsi kognitif (akibat

yang ditimbulkan dapat menyebabkan kepikunan) (Nike, 2007 dalam

(www.wordpress.com)).

Umumnya yang terserang asam urat adalah pria yang telah lanjut usia,

sedangkan pada perempuan didapati hingga memasuki menopause. Perjalanan

penyakit biasanya mulai dengan suatu serangan atau seseorang memiliki riwayat

pernah memeriksakan kadar asam uratnya yang nilai kadar asam urat darahnya

lebih dari 7 mg/dl, dan makin lama makin tinggi (Tamher,Noorkasiani, 2009).

Faktor yang menyebabkan penyakit asam urat yaitu pola makan, faktor

kegemukan dan lain lain. Diagnosis penyakit asam urat dapat ditegakkan

berdasarkan gejala yang khas dan ditemukannya kadar asam urat yang tinggi di

dalam darah .Selain itu pengobatan asam urat dapat dilakukan dengan

meningkatkan ekskresi melalui ginjal. Ginjal adalah organ yang memiliki fungsi

utama untuk menyaring darah dan membuang racun hasil metabolisme maupun
3

racun yang dikonsumsi secara tidak sengaja. Pada lansia sehat, ginjal akan tetap

berfungsi baik. Namun bila ginjal mengalami kerusakan yang diakibatkan

terutama oleh hipertensi, kencing manis, infeksi berulang, atau batu ginjal, akan

terjadi perubahan dalam struktur dan fungsinya. Jaringan akan menumpuk sebagai

respon dari perbaikan kerusakan sehingga filter yang ada akan tidak berfungsi.

Akibat dari gagal ginjal adalah sesak, muntah hebat hingga kejang yang

mengharuskan untuk dilakukan cuci darah (Wahyudi Nugroho, Silvana E. Linda,

2006). Olahraga yang baik dilakukan oleh lansia antara lain berjalan kaki, senam

lansia, senam jantung sehat, yoga sehingga dapat mengurangi resiko berbagai

penyakit misalnya hiperusemia, jantung, dan lain-lain.

Berdasarkan hasil pengkajian keluarga Ny. R didapatkan keterangan bahwa

Ny. R menderita kelebihan asam urat dan kadang-kadang mengeluh sakit bila

berjalan jauh. Hal inilah yang melatar belakangi penulis untuk melakukan

pemeriksaan fisik lebih lanjut dan memberikan penyuluhan kesehatan khususnya

untuk Ny. R dan pada umumnya untuk keluarga Ny. R . selain itu penulis juga

bermaksud akan melakukan demonstrasi langsung tentang bagaimana car

pengobatan tradisional dihadapan Ny. R dan keluarga.

1.2. Tujuan penulisan

1.2.1. Tujuan umum


4

Melakukan asuhan keperawatan pada keluarga Ny. R dengan asam urat

pada Ny. R di rt. 01 rw. 07 dikelurahan lontar baru kaloran pena kota

serang tahun 2016 dengan masalah kesehatan asam urat yang berpacu pada

pendekatan proses keperawatan secara komprehensif.

1.2.2. Tujuan khusus

a. Melakukan pengkajian pada Ny. R dengan asam urat

b. Menentukan diagnosa keperawatan pada Ny. R dengan asam urat

c. Membuat intervensi keperawatan pada Ny. R dengan asam urat

d. Membuat implementasi pada Ny. R dengan asam urat

e. Mengevaluasi dan mendokumentasikan hasil asuhan keperawatan pada

Ny. R dengan asam urat

1.3. Manfaat penulisan laporan kasus

1.3.1 Bagi masyarakat

Dapat memberikan informasi tentang perawatan pasien dengan masalah

asam urat, dan dapat membantu dalam upaya pengendalian serangan

berulang yang mengakibatkan komplikasi.

1.3.2 Bagi peneliti lain


5

Peneliti lain dapat mengembangkan penelitian ini supaya lebih lengkap

lagi serta peneliti lain juga bisa mengembangkan penelitian ini dimasa

mendatang, sehingga mengetahui perkembangan dari penyakit asam urat

dimasyarakat.

1.3.3 Bagi institusi pendidikan

Dengan adanya penelitian ini institusi pendidikan jadi lebih dikenal oleh

masyarakat serta mahasiswa selanjutnya dapat mengembangkan

penelitian atau dapat digunakan sebagai acuan penelitian.


6

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Konsep Dasar Keluarga


2.1.1. Pengertian Keluarga
Menurut WHO (1969) dikutip dalam iqbal (2012) keluarga adalah

anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah,

adopsi atau perkawinan yang sah.


Keluarga adalah satu atau lebih individu yang tinggal bersama,

sehingga mempunyai ikatan emosional dan mengembangkan dalam

interelasi social, peran dan tugas (Murwani, 2008).


Keluarga adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh

kebersamaan dan kedekatan emosional serta mengidentifikasi dirinya

sebagai bagian dari keluarga (Friedman, 2010).


Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga

adalah beberapa individu yang tinggal dalam sebuah keluarga yang

mempunyai ikatan perkawinan, ada hubungan keluarga, sanak famili,


7

maupun adopsi yang hidup bersama sesuai dengan tujuan keluarga

tersebut.

2.1.2. Tipe keluarga

a. Keluarga inti (Nuclear family) yaitu suatu rumah tangga yang terdiri

dari suami, istri dan anak (kandung atau angkat).

b. Keluarga besar (Extended family) yaitu keluarga inti ditambah dengan

keluarga lain yang mempunyai hubungan darah, missal kakek, nenek,

paman dan bibi.

c. Orang tua tunggal (Single parent) yaitu suatu rumah tangga yang

terdiri dari satu orang tua (ayah / ibu) dengan anak (kandung / angkat).

Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian / kematian.

d. Dyadic family (keluarga bentukan kembali) adalah keluarga baru yang

terbentuk dari pasangan yang telah cerai atau kehilangan pasangannya.

e. Ibu dengan anak tanpa perkawinan (The unmarried teenage mother)

f. Orang dewasa (laki-laki atau perempuan) tinggal sendiri tanpa pernah

menikah (the single adult living alone)

g. Keluarga dengan anak tanpa pernikahan sebelumnya (the nonmorital

heterosexual cohabiting family), tetapi pada akhirnya mereka

dinikahkan oleh pemerintah daerah meskipun usia pasangan tersebut

telah tua demi status anak-anaknya.


8

h. Keluarga yang dibentuk oleh pasangan yang berjenis kelamin sama

(Gay and lesbian family).

2.1.3 Tahapan dan tugas perkembangan keluarga


a. Pasangan pemula atau pasangan baru nikah
b. Keluarga dengan menunggu kelahiran anak
c. Keluarga dengan mempunyai bayi
d. Keluarga dengan anak prasekolah
e. Keluarga dengan anak usia sekolah
f. Keluarga dengan anak remaja
g. Keluarga dengan melepaskan anak ke masyarakat
h. Keluarga dengan tahapan berdua kembali
i. Keluarga dengan tahapan masa tua
2.1.4 Fungsi keluarga
a. Fungsi biologis
Fungsi biologis bukan hanya ditujukan untuk meneruskan kelangsungan

keturunan saja, tetapi juga memelihara dan membesarkan anak dengan

gizi yang seimbang, memelihara dan merawat anggota keluarga


b. Fungsi psikologis
Keluarga menjalankan fungsi psikologisnya antara lain untuk

memberikan kasih sayang dan rasa aman, memberikan perhatian

diantara anggota keluarga, memberikan identitas keluarga.


c. Fungsi sosialisasi
Fungsi sosialisasi tercermin untuk membina sosialisasi pada anak,

membentuk nilai dan norma yang diyakini anak, memberikan batasan

perilaku yang boleh dan yang tidak boleh pada anak.


d. Fungsi ekonomi
Keluarga menjalankan fungsi ekonominya untuk mencari sumber-

sumber penghasilan guna memnuhi kebutuhan keluarga.


e. Fungsi pendidikan
Keluarga menjalankan fungsi pendidikan untuk menyekolahkan anak

dalam rangka memberikan pengetahuan, keterampilan, membentuk

perilaku anak, mendidik anak sesuai dengan tingkat perkembangannya.


9

2.1.5 Ciri-ciri Struktur Keluarga


a) Terorganisasi
Keluarga adalah cerminan sebuah organisasi, dimana masing-masing

anggota keluarga memiliki peran dan fungsinya masing-masing

sehingga tujuan keluarga dapat tercapai


b) Keterbatasan
Dalam mencapai tujuan, setiap anggota keluarga memiliki peran dan

tanggung jawabnya masing-masing sehingga dalam berinteraksi setiap

anggota tidak bisa semena-mena, tetapi mempunyai keterbatasan yang

dilandasi oleh tanggung jawab masing masing anggota keluarga.


c) Perbedaan dan kekhususan
Adanya peran yang beragam dalam keluarga menunjukan masing-

masing anggota keluarga mempunyai peran dan fungsi yang berbeda

dan khas, seperti halnya peran ayah sebagai pencari nafkah utama, peran

ibu yang merawat anak-anaknya.

2.2 Konsep dasar asam urat


2.2.1 Pengertian
Asam urat adalah asam yang berbentuk kristal-kristal yang merupakan

hasil akhir dari metabolisme purin (bentuk turunan nukleoprotein), yaitu

salah satu komponen asam nukleat yang terdapat pada inti sel-sel tubuh.

Secara alamiah, purin terdapat dalam tubuh kita dan dijumpai pada

semua makanan dari sel hidup, yakni makanan dari tanaman (sayur,

buah, kacang-kacangan) atau pun hewan (daging, jeroan, ikan sarden).

(indriawan,2009).
10

Asam urat (Gout) adalah suatu bentuk kelainan metabolic dimana

natrium biurat akan mengendap dalam kartilago persendian dan pada

bagian lain tubuh. (mansjoer Arif, 2010)


Asam urat adalah produk akhir atau produk buangan yang dihasilkan

dari metabolisme atau pemecahan purin. Asam urat sebenarnya

merupakan antioksidan dari manusia dan hewan, tetapi bila dalam jumlah

berlebihan dalam darah akan mengalami pengkristalan dan dapat

menimbulkan gout. Asam urat mempunyai peran sebagai antioksidan bila

kadarnya tidak berlebihan dalam darah, namun bila kadarnya berlebih

asam urat akan berperan sebagai prooksidan (McCrudden Francis H.

2000).
Jadi asam urat merupakan hasil metabolisme di dalam tubuh, yang

kadarnya tidak boleh berlebih. Setiap orang memiliki asam urat di dalam

tubuh, karena pada setiap metabolisme normal dihasilkan asam urat.

Sedangkan pemicunya adalah makanan dan senyawa lain yang banyak

mengandung purin.
2.2.2 Etiologi
Penyakit asam urat merupakan akibat dari konsumsi zat purinsecara

berlebihan. Purin diolah tubuh menjadi asam urat, tapi jika kadar asam

urat berlebih, ginjal tidak mampu mengeluarkan sehingga kristal asam

urat menumpuk di persendian, akibatnya sendi terasa nyeri, bengkak dan

meradang.
Asam urat adalah penyakit dari sisa metabolisme zat purin yang

berasal dari sisa makanan yang kita konsumsi. Purin sendiri adalah zat
11

yang terdapat dalam setiap bahan makanan yang berasal dari tubuh

makhluk hidup. Dengan kata lain, dalam tubuh makhluk hidup terdapat

zat purin ini, lalu karena kita memakan makhluk hidup tersebut, maka zat

purin tersebut berpindah kedalam tubuh kita. Berbagai sayuran dan buah-

buahan juga terdapat purin. Purin juga dihasilkan dari hasil perusakan sel-

sel tubuh yang terjadi secara normal atau karena penyakit tertentu.

Biasanya asam urat menyerang pada usia lanjut, karena penumpukan

bahan purin ini.


Lebih jelasnya asam urat atau “Gout” disebabkan oleh adanya kelainan

metabolik dalam pembentukan purin atau ekresi asam urat yang kurang

dari ginjal yang menyebabkan hyperuricemia. Hyperuricemia pada

penyakit ini disebabkan oleh.


1. Pembentukan asam urat yang berlebih
a. Gout primer metabolik disebabkan sistensi langsung yang

bertambah.
b. Gout sekunder metabolik disebabkan pembentukan asam urat

berlebih karena penyakit lain, seperti leukimia.


2. Kurang asam urat melalui ginjal
a. Gout primer renal terjadi karena ekresi asam urat ditubulus distal

ginjal yang sehat, penyebab tidak diketahui.


b. Gout sekunder renal disebabkan oleh karena kerusakan ginjal,

misalnya glumeronefritis kronik atau gagal ginjal kronik.


c. Perombakan dalam usus yang berkurang namun secara klinis hal

ini tidak penting


2.2.3 Tanda dan gejala asam urat
12

a. Nyeri hebat yang tiba-tiba menyerang sendi pada saat tengah malam,

biasanya pada ibu jari kaki ( sendi metatarsofalangeal pertama ) atau

jari kaki ( sendi tarsal )

b. Kulit berwarna kemerahan, terasa panas, bengkak, dan sangat nyeri

c. Pembengkakan sendi umumnya terjadi secara asimetris ( satu sisi

tubuh )

d. Demam, dengan suhu tubuh 38,30C atau lebih, tidak menurun lebih

dari tiga hari walau telah dilakukan perawatan

e. Bengkak pada kaki dan peningkatan berat badan yang tiba-tiba

(VitaHealth, 2007)

2.2.4 Klasifikasi
Penyakit gout primer penyebabnya belum diketahui. Diduga berkaitan

dengan kombinasi faktor genetic dan factor hormonal yang menyebabkan

gangguan metabolisme yang dapat mengakibatkan meningkatnya

produksi asam urat atau bisa juga di akibatkan karena berkurangnya

pengeluaran asam urat dalam tubuh.


Penyakit gout sekunder disebabkan antara lain karena meningkatnya

produksi asam urat karena nutrisi, yaitu mengonsumsi makanan dengan

kadar purin yang tinggi.

2.2.5 Faktor risiko

Faktor risiko yang menyebabkan orang terserang penyakit asam urat

adalah pola makan, kegemukan, dan suku bangsa. Di dunia, suku bangsa
13

yang paling tinggi prevalensinya pada orang Maori di Australia.

Prevalensi orang Maori terserang penyakit asam urat tinggi sekali,

sedangkan di Indonesia prevalensi tertinggi pada penduduk pantai dan

yang paling tinggi di daerah Manado-Minahasa karena kebiasaan atau

pola makan ikan dan mengonsumsi alkohol. Alkohol menyebabkan

pembuangan asam urat lewat urine itu ikut berkurang sehingga asam

uratnya tetap bertahan di dalam darah. Konsumsi ikan laut yang tinggi

juga mengakibatkan asam urat. Asupan yang masuk ke tubuh juga

memengaruhi kadar asam urat dalam darah (Indriawan,2009).

Makanan yang mengandung zat purin yang tinggi akan diubah menjadi

asam urat. Purin yang tinggi terutama terdapat dalam jeroan, sea food:

udang, cumi, kerang, kepiting, ikan teri. Menurut hasil pemeriksaan

laboratorium kadar asam urat terlalu tinggi, kita perlu memperhatikan

masalah makanan. Makanan dan minuman yang selalu dikonsumsi apakah

merupakan pemicu asam urat.

Pada orang gemuk, asam urat biasanya naik sedangkan

pengeluarannya sedikit. Maka untuk keamanan, orang biasanya dianjurkan

menurunkan berat badan. Yang paling penting untuk diketahui adalah kalau

asam urat tinggi dalam darah, tanpa kita sadari akan merusak organ-organ

tubuh, terutama ginjal, karena saringannya akan tersumbat. Tersumbatnya

saringan ginjal akan berdampak munculnya batu ginjal, atau akhirnya bisa

mengakibatkan gagal ginjal. Asam urat pun merupakan faktor risiko untuk
14

penyakit jantung koroner. Diduga kristal asam urat akan merusak endotel

(lapisan bagian dalam pembuluh darah) koroner. Karena itu, siapapun yang

kadar asam uratnya tinggi harus berupaya untuk menurunkannya agar

kerusakan tidak merembet ke organ-organ tubuh yang lain

(Indriawan,2009).

2.2.6 Patofisiologi

Perjalanan penyakit gout sangat khas dan mempunyai 3 tahapan.

Tahap pertama disebut tahap artritis gout akut. Pada tahap ini penderita

akan mengalami serangan artritis yang khas dan serangan tersebut akan

menghilang tanpa pengobatan dalam waktu 5-7 hari karena cepat

menghilang, maka sering penderita menduga kakinya keseleo atau kena

infeksi sehingga tidak menduga terkena penyakit gout dan tidak

melakukan pemeriksaan lanjutan.

Bahkan dokter yang mengobati kadang-kadang tidak menduga

penderita terserang penyakit gout. Karena serangan pertama kali ini

singkat waktunya dan sembuh sendiri, sering penderita berobat ke tukang

urut dan waktu sembuh menyengka hal itu disebabkan hasil

urutan/pijatan. Padahal tanpa diobati atau diurut serangan peratama kali

ini akan hilang sendiri. Setelah serangan pertama, penderita akan masuk

pada gout interkritikal. Pada keadaan ini penderita dalam keadaan sehat

selama jangka waktu tertentu. Jangka waktu anatara seseorang dan orang-
15

orang lainnya berbeda. Ada yang hanya satu tahun, ada pula yang sampai

10 tahun, tetapi rata-rata berkisar 1-2 tahun. Panjangnya jangka waktu

tahap ini menyebebkan seseorang lupa bahwa ia pernah menderita

serangan artritis gout atau menyangka serangan pertam kali dahulu tidak

ada hubungannya dengan penyakit gout.

Tahap kedua disebut sebagai tahap artritis gout akut intermiten.

Setelah melewati masa gout interkritikal selama bertahun-tahun tanpa

gejal, penderita akan memasuki tahap ini, ditandai dengan serangan

artritis yang khas selanjutnya penderita akan sering mendapat seranagn

(kambuh) yang jarak antara serangan yang satu dan serangan berikutnya

makin lama makin rapat dan lam, seranagn makin lama makin panjang,

serta jumlah sendi yang terserang makin banyak.

Tahap ketiga disebut sebagai tahap artritis gout kronik bertofus. Tahap

ini terjadi bila penderita telah menderita sakit selama 10 tahun atau lebih.

Pada tahap ini akan terjadi benjolan-benjolan disekitar sendi yang sering

meradang yang disebut sebagai tofus. Tofus ini berupa benjolan keras

yang berisi serbuk seperti kapur yang merupakan deposit dari kristal

monosodium urat. Tofus ini akan mengakibatkan kerusakan pada sendi

dan tulang disekitarnya. Tofus pada kaki bila ukurannya besar dan banyak

akan mengakibatkan penderita tidak dapat menggunakan sepatu lagi.

Banyak faktor yang berperan dalam mekanisme serang gout. Salah


16

satunya yang telah diketahui peranannya adalah konsentrasi asam urat

dalam darah.

2.2.7 Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik berdasarkan pengkajian fungsi muskuluskeletal dapat

menunjukan:

a. Ukuran sendi normal dengan mobilitas penuh bila ada remisi

b. Tofu dengan gout kronis, ini temuan paling bermakna

c. Laporan episode serangan gout

2.2.8 Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium

a. Kadar asam urat normal untuk laki-laki berkisar 3,5 – 7 mg/dl. Kadar

asam urat normal untuk perempuan berkisar 2,6 – 6 mg/dl.

b. Pemeriksaan cairan tofi sangat penting untuk pemeriksaan diagnosa

yaitu cairan berwarna putih seperti susu dan sangat kental sekali

2.2.9 Komplikasi

a. Muncul benjolan keras disekitar tempat yang sakit

b. Kerusakan sendi karena radang yang terus berlangsung

c. Batu ginjal karena pengendapan asam urat didalam darah

d. Kerusakan ginjal karena ginjal kesulitan menyaring kadar asam urat

yang terlalu tinggi didalam darah

2.2.10 Penatalaksanaan keperawatan


17

a. Diet rendah purin : hindarkan alkohol dan makanan tinggi purin (hati,

ginjal, ikan sarden, daging kambing) serta banyak minum.

b. Tirah baring

Merupakan suatu keharusan dan diteruskan sampai 24 jam setelah

serangan menghilang. Gout dapat kambuh bila terlalu cepat bergerak.

2.2.11 Cara pengobatan tradisional

Banyak sekali bahan–bahan yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi

asam urat. Salah satunya adalah jahe. Berikut adalah langkah – langkah

pengolahan jahe untuk dikonsumsi sebagai obat tradisioanal asam urat.

Alat dan bahan yang siapkan :

1. Jahe secukupnya
2. Pisau
3. Baskom berisi air bersih
4. Air 1 gelas
5. Panci kecil
6. Gelas
7. Sendok
8. Gula atau madu
9. Talenan
Langkah – langkah pengolahan jahe :
1. Siapkan jahe secukupnya
2. Kupas jahe, kemudian cuci hingga bersih
3. Kemudian jahe yang sudah dibersihkan dipotong dan diremukkan
18

4. Rebus jahe yang sudah diremukkan menggunakan 1 gelas air dan


sedikit gula atau madu
5. Jika sudah matang, tuangkan air rebusan jahe kedalam gelas
6. Tunggu sampai air rebusan jahe hangat, lalu minum.

2.3 Konsep asuhan keperawatan keluarga

2.3.1 Tahap pengkajian

a. Wawancara keluarga

b. Observasi fasilitas rumah

c. Pemeriksan fisik pada Ny.R dengan masalah penyakit asam urat.

d. Darta sekunder, misalnya hasil laboratorium, hasil asam urat dan

sebagainya.

No. Pemeriksaan Hasil


1. GDP 79
2. Asam urat 7,6
3. Kolesterol 208

 Hal-hal yang perlu di kaji dalam keluarga adalah :

1. Data umum

Pengkajian tehadap data umum keluarga meliputi :

a) Nama kepada kelurga (KK)

b) Alamat dan nomor telepon

c) Pekerjaan kepala keluarga

d) Pendidikan kepala keluarga

e) Komposisi pada keluarga


19

f) Tipe keluaraga

Menjelaskan mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala atau masalah-

masalah yang terjadi dengan jenis tipe keluarga tersebut.

g) Suku bangsa

Mengkaji asal suku bangsa keluaraga tersebut serta mengidentifikasi

budaya suku bangsa tersebut terkait dengan kesehatan.

h) Agama

Mengkaji agama yang di anut oleh keluarga serta kepercayaan yang dapat

mempengaruhi kesehatan.

i) Status sosial ekonomi keluarga

Status sosial ekonomi keluarga di tentukan oleh pendapatan baik dari

kepala keluaraga maupun anggota keluarga lainnya. Selain itu status

sosial ekonomi ditentukan pula oleh kebutuhan yang di keluarkan oleh

keluarga serta barang-barang yang dimiliki oleh keluarga, siapa yang

mengatur keluarga.

j) Aktifitas rekreasi keluarga

Reaksi keluarga tidak hanya di lihat kapan saja keluarga pergi bersama-

sama untuk menguji tempat rekreasi tertentu namun dengan menonton

televisi dan mendengarkan radio juga merupakan aktivitas rekreasi

2. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga

a) Tahap perkembangan keluarga saat ini


20

Tahap pekembangan keluarga di tentukan dengan anak tertua dari keluarga

ini.

b) Tahap perkembangan yang belum terpenuhi

Menjelaskan mengenai tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh

keluarga serta kendala mengapa tugas perkembangan tersebut belum

terpenuhi.

c) Riwayat keluarga ini

Didalam anggota keluarga tidak ada yang memiliki penyakit asam urat

istrinya.

d) Riwayat keluarga sebelumnya

Dijelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga dari pihak suami

dan istri.

3. Pengkajian lingkungan

a) Karakteristik rumah

Karakteristik rumah di definisikan dengan melihat luas, tipe rumah,

jumlah ruang, jumlah jendela, pemanfaatan ruangan, peletakan perabotan

rumah tangga, jenis sepic tank, jarak sepic tank dengan sumber air minum

yang di gunakan serta denah rumah.

b) Karakteristik tetangga dan komonitas RW

Menjelaskan mengenai karakteristik dari tetangga dan komonitas

setempat, yang meliputi kebiasaan, lingkungan fisik, atura/kesepakatan

penduduk setempat, budaya setempat yang mempengaruhi kesehatan.


21

c) Mobilitas geogafis keluarga

Mobilitas geografis keluarga di tentukan denagan keniasan keluarga

pindah tempat.

d) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat

Menjelaskan mengenai waktu digunakan keluarga untuk berkumpul serta

perkumpulan keluarga yang sejauh mana interaksinya dengan masyarakat.

e) Sistem pendukung keluarga

Yang termasuk pada sistem penduduk keluarga adalah jumlah anggota

keluarga yang sehat, fasilitas2 yang di milikikeluarga untuk menujang

kesehatan. Fasilitas mencakup fasilitas fisik, fasilitas psikologi atau

dukungan dari anggota keluarga dan fasilitas sosial atau dukungan dari

masyarakat setempat.

4. Struktur keluarga

a) Pola komunikasi keluarga

Menjelaskan mengenai cara berkomunikasi antar anggota keluarga.

b) Hstruktur kekuatan keluarga

Kemampuan anggota keluarga mengendalikan dan mempengaruhi orang

lain untuk merubah perilaku.

c) Striktur peran

Menjelaskan peran dari mnasing masing anggota keluarga baik secara

formal maupun informal.

d) Nilai atau norma keluarga


22

e) Menjelaskan mengenai nilai dan norma yang di anut oleh keluarga,

berhubungan dengan kesehatan.

5. Fungsi keluarga

a) Fungsi efektif

Hal yang perlu di kaji adalah gambar diri anggota keluarga, perasaan

memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukung keluarga, terhadap anggota

keluarga lainnya, bagai mana kehangatan tercipta pada anggota keluarga

dan sebagai keluarga mengembangkan sikap saling menghargai.

b) Fungsi sosialisasi

Hal yang perlu dikaji adalah bagaimana interaksi atau hubungan dalam

keluarga, sejauh mana anggota keluarga belajar disiplin , norma, budaya

dan perilaku

c) Fungsi perawatan kesehatan

Menjelaskan sejauh mana keluarga menyediakan makanan, pakaian,

perlindungan serta merawat anggota keluarga yang sakit, sejauh mana

pengetahuan keluarga mengenai sehat sakit. Kesanggupan keluarga

didalam melaksanakan perawatan kesehatan dapat dilihat dari kemampuan

keluarga melaksanakan 5 tugas kesehatan keluarga, yaitu keluarga mampu

mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan untuk melakukan

tindakan, melakukan perawatan terhadap anggota yang sakit, menciptakan


23

lingkungan yang dapat meningkatkan kesehatan dan keluarga mampu

memanfaatkan fasilitas kesehatan yang terdapat dilingkungan setempat.

6. Stress dan koping keluarga

a) Stressor jangka panjang dan jangka pendek

Stressor jangka pendek yaitu stressor yang dialami keluarga yang

memerlukan penyelesaian dalam waktu kurang lebih 6 bulan, stressor

jangka panjang yaitu stressor yang dialami keluarga yang memerlukan

penyelesaian dalam waktu lebih dari 6 bulan.

b) Kemampuan keluarga berespon terhadap masalah

Hal yang perlu dikaji adalah sejauh mana keluarga berespon terhadap

situasi/stressor

c) Strategi koping

Strategi koping apa yang digunakan keluarga bila menghadapi

permasalahan.

d) Strategi adaptasi disfungsional

Dijelaskan mengenai strategi adaptasi disfungsional yang digunakan bila

menghadapi permasalahan.

7. Harapan keluarga

Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga terhadap

petugas kesehatan yang ada

8. Pemeriksaan fisik
24

Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga. Metode yang

digunakan pada pemeriksaan fisik tidak berbeda pemeriksaan fisik klinik.

2.3.2 Diagnosa keperawatan keluarga

1. keterbatasan fisik berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga

mengenal kesehatan

2. kurang pengetahuantentang penyakit asam urat berhubungan dengan

ketidakmampuan keluarga mengenal anggota keluarga yang sakit

No. Kriteria Skor Bobot


1. Sifat masalah :
- aktual 3 1
- resiko tinggi 2
- potensial 1
2. Kemungkinan masalah :
- mudah 2 0
- sebagian 1
- tidak dapat 0
3. Potensial masalah :
- tinggi 3 1
- cukup 2
- rendah 1
4. Menonjolnya masalah :
- masalah berat segera diatasi 2 1
- ada masalah tidak perlu ditangani 1
- masalah tidak dirasakan 0

Skoring :

- tentukan skor untuk setiap kriteria

- skor dibagi dengan angka tertinggi dan kalikanlah dengan bobot


25

faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penentuan prioritas:

kriteria 1 :

sifat masalah, bobot yang lebih berat diberikan pada tidak/kurang sehat

karena yang pertama memerlukan tindakan segera dan biasanya disadari

dan dirasakan oleh keluarga.

Kriteria 2 :

Kemungkinan masalah dapat diubah, perawat perlu memperhatikan

terjangkaunya faktor-faktor sebagai berikut:

- pengetahan yang ada sekarang, teknologi dan tindakan untuk

menangani masalah

- sumber daya keluarga dalam bentuk fisik, keuangan dan tenaga.

- Sumber daya perawat dalam bentuk pengetahuan, keterampilan dan

waktu

- Sumber daya masyarakat dalam bentuk fasilitas, organisasi dalam

masyarakat dan sokongan masyarakat

Kriteria 3 :

- Potensial masalah dapat dicegah, faktor-faktor yang perlu diperhatikan

adalah :

- Kepelikan dari masalah, yang berhubungan dengan penyakit atau

masalah

- Lamanya masalah, yang berhubungan dengan jangka waktu masalah

itu ada
26

- Tindakan yang sedang dijalankan adalah tindakan-tindakan yang tepat

dalam memperbaiki masalah

- Adanya kelompok “high risk” atau kelompok yang sangat peka

menambah potensi untuk mencegah masalah.

Kriteria 4 :

Menonjolnya masalah, perawat perlu menilai persepsi atau bagaimana

keluarga melihat masalah kesehatan tersebut. Nilai skor tertinggi yang

terlebih dahulu dilakukan intervensi keperawatan keluarga.

2.3.3. tahap intervensi/tahap perencanaan tindakan keperawatan keluarga

perencanaan keperawatan keluarga terdiri dari penetapan tujuan, yang

mencakup tujuan umum dan tujuan khusus serta dilengkapi dengan kriteria

dan standar. Kriteria dan standar merupakan pernyataan spesifik tentang

hasil yang diharapkan dari setiap tindakan keperawatan berdasarkan tujuan

khusus yang ditetapkan.

2.3.4. Evaluasi

Tahapan evaluasi dapat dilakukan secara formatif dan sumatif. Evaluasi

formatif adalah evaluasi yang dilakukan selama proses asuhan

keperawatan, sedangkan evaluasi sumatif adalah evaluasi akhir.

BAB III

TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN


27

A. Pengkajian

I. Identitas kepala keluarga

1. Nama kepala keluarga : Ny. R

2. Umur kepala keluarga : 80 Tahun

3. Pendidikan kepala keluarga : Tamat SD

4. Pekerjaan kepala keluarga : Ibu Rumah Tangga

5. Alamat dan nomor telepon : Kaloran pena Rt. 01 Rw. 07

6. Komposisi anggota keluarga

Nama Umur Jenis Hub. dengan Pendidikan pekerjaan Ket


kelami keluarga terakhir
n
Tn. M 50 th L Anak SMEA - Sehat

7. Genogram

xxx vv

vv

Keterangan : xxx : laki - laki

: perempuan

xxx : Laki-laki meninggal


28

: perempuan meninggal

: klien Ny. R

: Tinggal serumah

8. Tipe Keluarga
Tipe keluarga Ny. R keluarga inti (nuclear family) yang terdiri dari ibu

dan anak.
9. Suku bangsa
Keluarga Ny. R merupakan keluarga suku sunda, bahasa yang digunakan

sehari-hari adalah bahasa indonesia.


10. Agama
Keluarga Ny. R beragama islam dan anggota keluarganya melaksanakan

sholat lima waktu.


11. Status sosial ekonomi
Ny. R tidak bekerja hanya seorang ibu rumah tangga, penghasilannya

didapat dari anak-anaknya.


12. Aktifitas rekreasi keluarga
Keluarga Ny. R tidak mempunyai aktifitas rekreasi kecuali hanya

menonton televisi.
II. Riwayat dan tahapan perkembangan keluarga
1. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tahap perkembangan keluarga Ny. R saat ini termasuk keluarga dengan

anak usia sekolah.


2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Ny. R mengatakan ingin sekali semua anaknya dapat bekerja semua.
3. Riwayat keluarga inti
Keluarga Ny. R dan Tn. K (alm) menikah 60 tahun yang lalu,

perkawinannya direstui oleh kedua orang tuanya masing-masing.

Anaknya yang bernama Tn. M tidak bisa berjalan sejak kecil dan hanya

bisa berjalan menggunakan tongkat atau kursi roda.


4. Riwayat keluarga sebelumnya
29

Riwayat orang tua pihak Ny. R tidak mempunyai kebiasaan kawin cerai,

sedangkan suami pasien sudah meninggal.


III. Lingkungan
1. Karakteristik rumah
Rumah yang dihuni Ny. R merupakan rumah sendiri yang terdiri dari

ruang tamu, kamar tidur, dapur dan wc . kondisi wc yang bersih dengan

model wc leher angsa, lantai terbuat dari keramik, sirkulasi udara

diperoleh dari pintu, jendela, dan ventilasi, keluarga mempunyai

halaman rumah, sampah keluarga yang kering dibakar dan yang basah

dibuang ditempat sampah, kebersihan rumah terlihat bersih, air minum

sehari-hari diperoleh dari air ledeng dengan kondisi air bersih.

Kamar kamar 2 kamar 1


mandi

dapur R. TV
R.keluarga
2. Karakteristik tetangga dan komunitas Rw
Keluarga Ny. R tinggal dilingkungan yang berpenduduk padat,

lingkungan tetangga cukup akrab dan saling menolong bila ada

kesusahan.
3. Mobilitas geografis keluarga
Keluarga Ny. R sudah lama tinggal dikaloran pena. Kendaraan yang

dipakai keluarga Ny. R adalah kendaraan umum seperti angkutan umum.


4. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
30

Ny. R mengikuti arisan dan pengajian di RT nya.


5. Sistem pendukung keluarga
Hubungan Ny. R dengan anak-anaknya sangat baikdan keluarga Ny. R

bila ada masalah keluarga biasanya diselesaikan oleh keluarga sendiri.


IV. Pola komunikasi
1. Pola komunikasi keluarga
Interaksi dalam keluarga paling sering dilakukan pada malam hari, pola

komunikasi keluarga terbuka antara Ny. R dan anak-anaknya. Bila ada

masalah keluarga selalu mendiskusikan secara bersama-sama untuk

mencari jalan keluarnya.


2. Struktur kekuatan keluarga
Keluarga Ny. R saling mendukung satu dengan lainnya, respon keluarga

bila ada anggota keluarga yang bermasalah selalu mencari jalan

keluarnya bersama-sama.
3. Struktur peran
Ny. R sebagai kepala keluarga, Ny. R tidak bekerja dan hanya dirumah

mengurusi anak yang ke 4 yaitu Tn. M.


4. Nilai atau norma
Keluarga menerapkan nilai-nilai agama pada setiap anggota keluarga

seperti mengaji, sholat dan berpuasa.


V. Fungsi keluarga
1. Fungsi afektif
Setiap anggota keluarga saling menyayangi dan menghormati
2. Fungsi sosial
Setiap keluarga saling menjaga hubungan sosial yang baik dengan warga

sekitar dengan mengikuti kegiatan dalam masyarakat.


3. Fungsi pemenuhan (perawatan/pemeliharaan)kesehatan
a. Keluarga Ny. R belum tau cara merawat penyakit asam urat terutama

untuk msalah diet, kurang teratur dalam berobat dan tidak teratur

kontrol asam urat


31

b. Keluarga Ny. R tidak mengetahui kalau Ny. R menderita penyakit

asam urat.
VI. Sress dan koping keluarga
1. Stressor jangka panjang dan pendek
Ny. R memikirkan anaknya yang menganggur sekarang
2. Kemampuan keluarga berespon terhadap masalah
Keluarga Ny. R cukup tenang dalam menghadapi permasalahan

keluarga.
3. Strategi koping
Apabila menghadapi masalah yang berat Ny. R menghibur diri dengan

menonton televisi
4. Strategi adaptasi disfungsional
Bila ada salah satu anggota keluarga yang salah Ny. R selalu

menegurnya agar tidak mengulangi kesalahannya lagi.


VII. Harapan keluarga
Keluarga Ny. R mengharapkan petugas kesehatan lebih sering melakukan

kunjungan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan gratis.

VIII. Data tambahan


1. Pola makan dan minum
Ny. R makan sebanyak 3x/hari yang terdiri dari nasi, lauk pauk, sayur.

Ny. R tidak memiliki pantangan makanan.


Ny. R minum kurang lebih 8 gelas /hari.
2. Pola eliminasi
BAB : sehari 1x konsistensi padat, berwarna kuning kecoklatan.
BAK : tidak menentu
3. Istirahat dan tidur
Ny. R sehari-hari tidur 7 jam/hari
4. Aktifitas sehari-hari
Ny. R tidak bekerja hanya sebagai ibu rumah tangga
Tn. M tidak bekerja
5. Pemeriksaan penunjang
Gula darah puasa (GDP) : 79
Asam urat : 7,6
Kolesterol : 208
IX. Pemeriksaan fisik
32

No Aspek Pemeriksaan Anggota Keluarga


Ny. R Tn. M
. Fisik
1. Keadaan umum Keadaan Ny. R baik, Keadaan baik, kesadarn

kesadaran composmentis. composmentis.


3. TTV Ny. R mengatakan pegal TD : 120/ 80 mmHg
N : 80 x/menit
didaerah kaki/sendi S : 36,2 °c
TD : 150/90 mmHg R : 20 x/menit
N : 82 x/menit
S : 36,5 °c
R : 21 x/menit
4. Kulit/ kepala Kulit berwarna sawo Kulit berwarna sawo

matang, kepala simetris, matang, kepala simetris,

tidak ada kelainan, tidak ada kelainan, rambut

rambut beruban hitam


5. Mata Simetris, konjungtiva Simetris, konjungtiva

merah muda, sklera tidak merah muda, sklera tidak

ikterik ikterik
6. Telinga Simetris, tidak ada Simetris, tidak ada

benjolan, tidak ada nyeri benjolan, tidak ada nyeri

tekan, pendengaran baik tekan, pendengaran baik


7. Hidung Simetris, tidak ada lesi, Simetris, tidak ada lesi,

tidak ada polip, tidak ada tidak ada polip, tidak ada

kelainan bentuk kelainan bentuk


8. Mulut Mulut simetris, bibir Mulut simetris, bibir

tampak kering, gigi tidak tampak kering, gigi masih

utuh utuh
9. Leher Tidak ada lesi, tidak ada Tidak ada lesi, tidak ada
33

pembesaran kelenjar pembesaran kelenjar tiroid,

tiroid, tidak ada tidak ada pembesaran

pembesaran kelenjar kelenjar limfe

limfe
10. Abdomen Tidak ada lesi, tidak ada Tidak ada lesi, tidak ada

benjolan, tidak ada nyeri benjolan, tidak ada nyeri


11. Ekstremitas Tidak ada edema, Tidak ada edema, ada

ekstremitas bawah nyeri kelainan pada kakinya

dibagian sendi/kaki
12. Kesimpulan Ada masalah kesehatan Ada masalah kesehatan

X. Analisa data

No Data Etiologi Masalah

.
1. Ds : Ketidakmampuan Keterbatasan fisik
- klien mengatakan pegal
keluarga mengenal
sakit didaerah kaki
masalah
sebelah kanan dan kiri
- sakit bila berjalan jauh

Do :

- asam urat : 7,6


- Ny. R telihat meringis
- tidak tau penyakitnya
2. Ds : Ketidakmampuan Kurang pengetahuan
klien mengatakan tidak tau
keluarga merawat
pantangan dan obat
anggota keluarga
tradisional asam urat
34

Do : yang sakit
Saat ditanya klien tidak

mengetahui

Skoring
1. keterbatasan fisik b.d ketidakmampuan keluarga mengenal masalah

No Kriteria perhitunga Skor Pembenaran

. n
1. Sifat masalah : x1 1 Masalah termasuk
- aktual
- resiko tinggi kedalam sifat masalah
- potensial
yang aktual karena Ny. R

sakit didaerah kaki yang

sering dirasakan
2. Kemungkinan x2 2 Kemungkinan masalah

masalah : untuk diubah adalah


- mudah
- sebagian sebagian karena Ny. R
- tidak dapat
mengetahui sumber dan

tindakan untuk

mengurangi sakit pada

kaki klien
3. Potensial masalah : x1 1 Potensi masalah untuk
- tinggi
- cukup dicegah adalah rendah
- rendah
karena Ny. R dengan diet

yang baik dan minum

obat secara teratur asam


35

urat dapat dikendalikan


4. Menonjolnya x1 1 Masalah termasuk ke

masalah : dalam masalah yang


- masalah berat
segera ditangani karena
segera diatasi
- ada masalah Ny. R kadang sulit

tidak perlu beraktifitas lama

ditangani
- masalah tidak

dirasakan

Skoring
2. kurang pengetahuan b.d ketidakmampuan keluarga mengenal anggota

keluarga yang sakit

No Kriteria perhitunga Skor Pembenaran

. n
1. Sifat masalah : x1 1 Masalah termasuk
- actual
- resiko tinggi kedalam sifat masalah
- potensial
yang aktual karena Ny. R

tidak mengetahui tentang

asam urat
2. Kemungkinan x2 1 Kemungkinan masalah

masalah : untuk diubah adalah


- mudah
- sebagian sebagian dengan asam
- tidak dapat
urat disebabkan dari pola

makan tidak sehat


36

3. Potensial masalah x 1 1 Potensi masalah untuk

untuk dicegah : dicegah adalah tinggi


- tinggi
- cukup karena Ny. R belum
- rendah
mengetahui sumber-

sumber untuk mencegah

asam urat
4. Menonjolnya x1 1 Masalah termasuk ke

masalah : dalam masalah yang


- masalah berat
tidak dirasakan karena
segera diatasi
- ada masalah Ny. R menganggap

tidak perlu masalah tidak dianggap

ditangani serius

B. Diagnosa keperawatan
1. keterbatasan fisik Ny. R (80 tahun) b.d ketidakmampuan keluarga mengenal

masalah kesehatan
2. kurang pengetahuan asam urat Ny. R (80 tahun) b.d ketidakmampuan keluarga

mengenal anggota keluarga yang sakit


C. Intervensi

No Dx keperawatan Tujuan Kriteria evaluasi Rencana


Umum Khusus Kriteria Standar
. keluarga
1. keterbatasan Setelah Setelah Verbal Keluarga - kaji ttv
- berikan
fisik Ny. R (80 dilakuka dilakuka dan klien
penyuluha
tahun) b.d n n bisa
n
ketidakmampua tindakan penyuluh mengeta
37

n keluarga keperaw an hui kesehatan

mengenal atan diharapk penyakit tentang

masalah diharapk an asam asam urat

kesehatan. an klien keluarga urat,

Ds : dapat dapat penyeba


- klien -
mengura b asam
mengatakan menyebu
ngi sakit urat,
pegal sakit tkan
pada tanda
didaerah kaki penyeba
kaki dan
sebelah b asam
klien gejala
kanan dan urat
- asam
kiri
- sakit bila menyebu urat

berjalan jauh tkan

Do : tanda

- asam urat : gejala

7,6 asam
- muka tampak
urat
meringis bila

berdiri
- tidak tau

penyakitnya
2. kurang Setelah Setelah Verbal Keluarga - kaji ttv
- berikan
pengetahuan di dilakuka mengeta
38

asam urat Ny. R lakukan n hui dan penyuluha

(80 tahun) b.d tindakan penyuluh memaha n

ketidakmampua keperaw an mi kesehatan

n keluarga atan diharapk tentang tentang

mengenal kurang an diit asam diit asam

anggota keluarga pengetah keluarga urat dan urat


- demonstra
yang sakit. uan dapat pengobat
- mema sikan
Ds : dapat an
klien hami pengobata
teratasi tradision
mengatakan diit n
al asam
tidak tau asam tradisional
urat
pantangan dan urat asam urat
- mend
obat tradisional
emon
asam urat
Do : strasi
Saat ditanya
kan
klien tidak
pengo
mengetahui
batan

tradis

ional

asam

urat
39

D. Implementasi dan evaluasi

No Hari/ waktu Dx Implementasi Evaluasi Paraf

. Tanggal
1. kamis, 08.00 I - Mengobservasi S : Klien

09 juni TTV mengatakan


R/ TD : 150/90
2016 mengerti dan
N : 82 x/menit
mengetahui
R : 21 x/menit
tentang asam
S : 36,5 °c
urat
- Memberikan O : klien dapat

penyuluhan menyebutkan

kesehatan tentang dan

asam urat menjelaskan


R/ klien
memperhatikan dan tentang asam
mengerti tentang
penyakit asam urat urat
dan penanganan A : masalah

asam teratasi
urat.
- Memberikan P : intervensi

kesempatan untuk dihentikan

bertanya
R/ klien bertanya

tentang asam urat


2. Jumat, 08.00 II - Mengobservasi S : klien

10 juni TTV mengatakan


40

2016 R/ TD : 140/90 mengetahui

N : 82 x/menit diit dan obat

R : 21 x/menit tradisional
O : klien dapat
S : 36,5 °c
menyebutkan
- Memberikan
kembali diit
penyuluhan
dan obat
kesehatan tentang
tradisional
diit asam urat
R/ klien asam urat
A : masalah
memperhatikan
teratasi
penyuluhan
- Mendemonstrasikan P : intervensi

obat tradisional dihentikan

asam urat
R/ klien

memperhatikan dan

mau mendengarkan

cara pembuatan obat

tradisional

E. Catatan Perkembangan

No

.
41

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Asuhan keperawatan yang diberikan pada Ny. R menggunakan proses

keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan

evaluasi yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Kesimpulan

yang didapat yaitu:


42

1. Berdasarkan pengkajian dikeluarga Ny. R terdapat salah satu anggota

keluarga yang memiliki penyakit asam urat. Berdasarkan pemeriksaan

klien mengeluh sakit pegal pada bagian kaki dan hasil kadar asam urat 7,6

g/dl.

2. Berdasarkan diagnosa keperawatan dua diagnosa yang ditemukan pada

pengkajian klien yaitu keterbatasan fisik Ny. R (80 tahun) b.d

ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan, dan kurang

pengetahuan asam urat Ny. R (80 tahun) b.d ketidakmampuan keluarga

mengenal anggota keluarga yang sakit

3. Berdasarkan intervensi keperawatan yang diberikan yaitu menjelaskan

pengertian, penyebab, pencegahan, tanda dan gejala, komplikasi, dan

pengobatan tradisional asam urat dan mendemonstrasikan pengobatan

tradisional.

4. Berdasarkan tindakan keperawatan yang dilakukan yaitu memberikan

penyuluhan tentang asam urat serta mengevaluasi dan mendemonstrasikan

obat tradisional asam urat kemudian melakuakn pendokumentasian.

5. Berdasarkan evaluasi klien mengatakan sudah mengerti dengan apa yang

diberikan dalam penyuluhan dan klien mengaku sudah bisa

mendemonstrasikan sendiri.

4.2 Saran

4.2.1 Bagi masyarakat


43

Masyarakat khususnya penderita asam urat hendaknya lebih patuhdalam

melakukan konsumsi diet rendah purin untuk mencegah penurunan kadar

asam urat didalam tubuh.

4.2.2 Bagi peneliti lain

Peneliti lain hendaknya dapat mengembangkan laporan kasus ini.

4.2.3 Bagi institusi pendidikan

Dengan adanya hasil kasus ini dapat berguna sebagai bahan baca dan

acuan belajar serta bisa diaplikasikan dalam proses belajar mengajar.