Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN

PRAKTIKUM INSTRUMENTASI BIOMEDIS


EMG

Oleh :
Nama: Yusrinourdi Muhammad Zuchruf
NIM : 081611733050

Dosen Pembimbing: Alfian Pramudita, S. T, M. Sc.

LABORATORIUM TEKNIK BIOMEDIS


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2019
ABSTRAK
Percobaan ini bertujuan mengenalkan Elektromiograf (EMG) sehingga mahasiswa bisa
mengoperasikan dan memperoleh informasi sinyal otot dan menganalisisnya. Percobaan
ini dilakukan dengan satu praktikan dan membandingkan beberapa kondisi yang
mempengaruhi sinyal otot yang ditampilkan EMG yaitu pada saat kontraksi dan
relaksasai. Ketika penyadapan pada otot Abductor Pollicus Brevis memiliki amplitudo
yang lebih besar daripada penyadapan pada otot Flexor Carpi Radialis karena panjang
otot yang pendek sehingga penyadapannya tepat pada otot yang berkontraksi, serta
tingkat kontraksi pada otot Abductor Pollicus Brevis lebih besar dari otot Flexor Carpi
Radialis.
Kata kunci: otot, EMG.

I. PENDAHULUAN

Teknologi medis semakin berkembang pesat. Hal ini dikarenakan


kebutuhan masyarakat akan pengobatan medis juga semakin besar. Seperti
penyakit jantung, syaraf, otot dan sebagainya. Pada penyakit yang
berhubungan dengan syaraf dan otot (syaraf motorik), dalam diagnosisnya
digunakan Elektromiograf (EMG). Kebutuhan akan alat ini sangat tinggi.
Selain diagnosis bagi pasien yang mengalami disfungsi syaraf motorik, EMG
digunakan juga untuk pemeriksaan kondisi tubuh para atlet olahraga.
Percobaan ini bertujuan untuk mengenalkan perangkat elektromiograf
sehingga mahasiswa mampu mengoperasikan serta memperoleh informasi
biopotensial otot serta menganalisis hasilnya.

II. STUDI PUSTAKA

Elektromiograf (EMG) adalah studi fungsi otot melalui analisis sinyal listrik
yang terpancar selama kontraksi otot. ada dua jenis utama elektromiografi:
klinis (Diagnostik EMG) dan kinesiologis. Diagnostik EMG, biasanya
dilakukan oleh ahli fisiologi dan neurologis, adalah studi tentang karakteristik
motor unit actin potential (MUAP) untuk durasi dan amplitudo. Ini biasanya
dilakukan untuk membantu patologi neuromuskular diagnostik. Mereka juga
mengevaluasi pelepasan spontan otot santai dan mampu mengisolasi aktivitas
unit motor tunggal. EMG Kinesiologis adalah jenis yang paling banyak
ditemukan dalam literatur tentang analisis gerakan. Jenis EMG ini
mempelajari hubungan fungsi otot dengan pergerakan segmen tubuh dan
mengevaluasi waktu aktivitas otot berkaitan dengan gerakan

Berkenaan dengan perekaman sinyal EMG, amplitudo potensial aksi unit


motor bergantung pada banyak faktor yang meliputi: diameter serat otot, jarak
antara serat otot aktif dan tempat pendeteksian (ketebalan jaringan adiposa),
dan sifat penyaringan elektroda. diri. Tujuannya adalah untuk mendapatkan
sinyal yang bebas dari kebisingan (Artefak gerakan, artefak 60 Hz, dll.). Oleh
karena itu, tipe elektroda dan karakteristik penguat memainkan peran penting
dalam mendapatkan sinyal bebas noise.

Gambar 2.1. Representasi skematik unit motor dengan serat otot

Penjumlahan aljabar potensial aksi (AP) dari semua serat tunggal yang ada di
daerah pengambilan sadapan elektroda (AP1 + AP2 + ... + APn) menghasilkan
motor unit actin potential (MUAP). Parameter utama dari bentuk gelombang
MUAP ditunjukkan: amp = amplitudo; dur = durasi; p = fase; t = putar BL =
baseline. Amplitudo adalah perbedaan tegangan dari minimum ke puncak
maksimum.

III. METODELOGI

Pada percobaan ini menggunakan alat dan bahan berikut :


a) Satu set alat EMG Cadwell
b) Software Sierra Summit
c) Elektroda
Prosedur percobaan :
Pilih study/test-EMG > Input data pasien > Start
Exam

Pilih otot Flexor Carpi Radialis > Pilih right side


atau left side lengan naracoba > F3

Letakkan elektroda dan stimulator di tendon


dan diatas otot Flexor Carpi Radialis > Lakukan
flexi pada pergelangan tangan > Print hasil
pembacaan EMG.

Lakukan langkah-langkah tersebut pada otot


jari, yaitu otot Abductor Pollicus Brevis

Gambar 1. Diagram prosedur percobaan

IV. HASIL DAN ANALISIS

 Kontraksi normal
 Kontraksi Miring ke kiri

 Motion Artefact

 Kontraksi normal
 Kontraksi jempol dikit

 Kontraksi telapak tangan buka

Pada praktikum kali ini kami menggunakan CADWELL yang merupakan


alat multifungsi untuk melakukan pengukuran sinyal biologis tubuh (EMG,
USG, EKG, dst). Otot yang akan disadap ialah otot Flexor Carpi Radialis dan
otot Abductor Pollicus Brevis.

Pertama kami melakukan penyadapan sinyal otot Flexor Carpi Radialis


bagian lengan kanan elektroda diletakkan pada siku untuk ground, probe
merah pada otot yag ingin disadap, probe hitam diletakkan pada pangkal otot.
Otot dibiarkan dalam kondisi relaksasi dan diperoleh amplitude-amplitudo
yang disebabkan oleh noise motion artefak karena elektrodanya yang
bergeser. Pada saat tangan ditarik keatas, diperoleh amplitude yang besar yang
menandakan bahwa otot yang disadap sedang dalam kondisi kontraksi.
Selanjutnya perekaman dengan gerakan menggenggam. Diperoleh besar
amplitudo yang lebih kecil dari gerakan sebelumnya. Dibandingkan dengan
gerakan flexi pada pergelangan tangan, gerakan mengenggam menghasilkan
sinyal otot yang lebih kecil. Hal ini menandakan bahwasanya otot Flexor
Carpi Radialis memiliki kontribusi yang lebih besar pada gerakan flexi
pergelangan tangan.

Terakhir kami melakukan penyadapan kontraksi otot pada otot telapak


tangan. Yaitu pada otot Abductor Pollicus Brevis, bagian tangan kanan.
Dibandingkan dengan sinyal otot Flexor Carpi Radialis, sinyal otot Abductor
Pollicus Brevis lebih lebih kuat. Karena jarak otot yang disadap lebih kecil
sehingga data sinyal yang diperoleh lebih akurat, serta tingkat kontraksi otot
Abductor Pollicus Brevis disbanding otot Flexor Carpi Radialis.

V. KESIMPULAN

Penyadapan pada otot Abductor Pollicus Brevis memiliki amplitudo yang


lebih besar daripada penyadapan pada otot Flexor Carpi Radialis.

VI. DAFTAR PUSTAKA

 Gregory S. Rash, EdD, Electromyography Fundamentals.


 Ignacio Rodriguez, Luis Gila, Armando Malanda, Motor Unit Action
Potential Duration : Measurement and Significance, InTech, 2012.
 Tim Dosen Teknobiomedik, Pedoman Pratikum Instrumentasi
Biomedis, FST - Univesitas Airlangga, Surabaya, 2018.