Anda di halaman 1dari 15

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN

INFEKSI CYTOMEGALOVIRUS

(CMV)

Telah disetuji pada :


Hari :
Tanggal :

DISUSUN OLEH

THALIA HANA SEPTIARA MULYANA

201820461011091

PEMBIMBING AKADEMIK PEMBIMBING LAHAN


I. KONSEP DASAR TEORI
A. Definisi
CMV yang menginfeksi manusia disebut dengan human Cytomegalovirus.
CMV merupakan virus DNA yang termasuk dalam famili herpesviridae. Virus ini
disebut cytomegalovirus karena sel yang terinfeksi akan membesar hingga dua kali
lipat dibandingkan Transmisi CMV dapat terjadi secara horizontal (dari satu orang ke
orang yang lain) maupun vertikal (dari ibu ke janin). CMV ditransmisikan secara
horizontal terjadi melalui cairan tubuh dan membutuhkan kontak yang dekat dengan
cairan tubuh yang telah terkontaminasi CMV. CMV dapat ditemukan di dalam darah,
urin, cairan semen, sekret serviks, saliva, air susu ibu, dan organ yang ditransplantasi.
Transmisi CMV terjadi secara vertikal melalui cara sebagai berikut:
1. In utero: melalui jalur transplasenta dengan viremia CMV dalam sirkulasi
maternal.
2. Intrapartum: paparan janin terhadap sekret serviks dan vagina yang mengandung
CMV saat proses persalinan.
3. Postnatal: ingesti air susu ibu yang mengandung CMV atau melalui transfusi
darah yang terkontaminasi CMV.
(Catherina, 2017)
B. Etiologi
Cytomegalovirus (CMV) merupakan virus DNA yang tergolong dalam genus
virus Herpes. Virus yang spesifik menyerang manusia disebut sebagai human CMV
dan merupakan human herpesvirus 5, anggota famili dari 8 virus herpes manusia,
subgrup beta-herpes-virus. Penamaan Cytomegalo terkait pembesaran ukuran sel
sampai dengan dua kali lipat dari ukuran sel yang tidak terinfeksi. CMV merupakan
parasit yang hidup di dalam sel atau intrasel yang sepenuhnya tergantung pada sel
inang untuk replikasi. Replikasi virus tergantung dari kemampuan untuk menginfeksi
sel inang yang permissive, yakni suatu kondisi dimana sel tidak mampu melawan invasi
dan replikasi dari virus. CMV tidak menghasilkan endotoksin maupun eksotoksin.
Struktur CMV terdiri dari bagian tegument, capsid, dan envelope yang kaya akan
lipid. Virus mengandung genom DNA (deoxyribonucleic acid) untai ganda berukuran
besar yang mampu mengkode lebih dari 227 macam protein dengan 35 macam
protein struktural dan protein non struktural yang tidak jelas fungsinya.
CMV menginfeksi sel dengan cara terikat pada reseptor pada permukaan sel
inang, kemudian menembus membran sel, masuk ke dalam vakuole di sitoplasma,
lalu selubung virus terlepas, dan nucleocapsid cepat menuju nukleus sel inang. Ekspresi
gen immediate early (IE) spesifik RNA (ribonucleic acid) atau transkrip gen alfa (a) terjadi
segera setelah nukleus sel inang terinfeksi dan dapat dijumpai tanpa ada sintesis
protein virus de novo atau replikasi DNA virus. Ekspresi protein ini adalah esensial
untuk ekspresi gen virus berikutnya yaitu gen ß yang menunjukkan transkripsi kedua
dari RNA. Beberapa enzim pada sel inang menentukan kemampuan replikasi dan
perakitan dari CMV. Replikasi virus dan nukleokapsid dibentuk dalam nukleus,
dimana selubung virus terdapat dalam sitoplasma. Setelah lepas dari sel, virus dapat
ditemukan dalam urin, dan terkadang dalam cairan tubuh, menyerap ß2-
mikroglobulin, suatu rantai sederhana dari kelas I molekul antigen leukosit manusia
(HLA). Substansi ini melindungi antigen virus dan mencegah netralisasi oleh
antibodi, sehingga meningkatkan infekstifitasya.
(Catherina, 2017)
C. Patofisiologi
Transmisi in-utero pada CMV dapat terjadi pada infeksi primer maupun pada
infeksi rekurens. Infeksi CMV primer terjadi pada individu yang baru pertama kali
terinfeksi dan dapat berlangsung sebagai infeksi simptomatis maupun asimptomatis.
Pada sebagian kasus infeksi CMV pada ibu hamil seringkali ditemukan tanpa gejala
atau asimptomatis. Infeksi CMV kongenital 30-40% lebih sering ditemukan pada
infeksi primer. Virus akan menetap pada jaringan hospes dalam waktu yang tidak
terbatas. Infeksi laten terjadi bila virus yang menetap masuk ke dalam sel-sel dari
berbagai jaringan.
Pada keadaan tertentu eksaserbasi dari infeksi laten disertai multiplikasi virus.
Keadaan tersebut dapat terjadi pada individu dengan imunosupresi seperti infeksi
HIV, atau obat-obatan yang dikonsumsi pada pasien transplantasi organ maupun
pasien keganasan.
Infeksi CMV dapat terjadi secara rekuren pada penyakit tertentu maupun
keadaan supresi imun yang iatrogenik. Gejala klinis yang terdapat pada bayi dengan
infeksi CMV rekuren lebih ringan dibandingkan pada infeksi primer. Keadaan
tersebut terjadi karena imunitas ibu yang dapat melemahkan infeksi terhadap janin.
Infeksi CMV dapat dipengaruhi oleh usia kehamilan. Infeksi yang terjadi
pada usia kehamilan yang lebih muda akan menimbulkan manifestasi klinis yang lebih
berat sehingga prognosis pasien semakin buruk. Pada infeksi CMV kongenital, janin
yang terinfeksi sebelumnya telah mengalami infeksi pada plasenta yang selanjutnya
menyebar secara hematogen dan menginfeksi janin.
(Catherina, 2017)
D. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang timbul akibat infeksi CMV kongenital ditentukan oleh
beberapa hal seperti usia kehamilan saat terinfeksi, rute penularan, dan kemampuan
imun individu. Penelitian yang pernah dilakukan di Amerika pada tahun 2009
menyebutkan jumlah bayi yang terinfeksi CMV kongenital dengan kelainan yang
simptomatik saat lahir sebesar 10% dan sisanya tidak ditemukan bukti kelainan saat
lahir. Pada bayi dengan infeksi CMV kongenital dapat ditemukan Cytomegalic Inclusion
Disease (CID) yang memiliki tanda dan gejala klinis berupa hiperbilirubinemia, ptekie
atau purpura, hepatosplenomegali, infeksi saluran nafas dan variasi dari kelainan-
kelainan ekstraneural dan okuloserebral. Pada beberapa kepustakan juga disebutkan
korioretinitis, mikrosefali, Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) sebagai bagian dari
CID. Sedangkan pada keadaan lanjut seringkali ditemukan penyulit berupa sequel yang
merupakan manifestasi infeksi CMV. Sequel yang paling banyak dijumpai yakni
abnormalitas perkembangan berupa tuli sensoris atau Sensory Neural Hearing Loss
(SNHL) keadaan ini banyak ditemukan terutama pada infeksi CMV asimptomatik.
CMV merupakan virus yang paling sering menyebabkan gangguan
perkembangan. Gangguan psikomotor seringkali ditemukan bersamaan dengan
gangguan neurologik dan mikrosefal. Selain itu, defek pada fungsi motorik, retardasi
mental serta defek pada gigi seringkali ditemukan pada infeksi CMV kongenital.
Hambatan perkembangan tersebut terjadi pada 70% pasien infeksi CMV kongenital
simptomatik yang hidup.
Infeksi CMV kongenital bisa didapatkan melalui infeksi perinatal dimana
seringkali dijumpai prematuritas, hepatosplenomegali, neutropenia, limfositosis dan
trombositopenia. Infeksi CMV juga dapat terjadi akibat transfusi darah, transplantasi
jaringan, dan individu dengan imunokompromais. Pada keadaan diatas manifestasi
yang ditimbulkan lebih ringan daripada infeksi CMV kongenital yang didapat in utero.
(Catherina, 2017)
E. Pemeriksaan Penunjang
Infeksi CMV kongenital dapat dideteksi sejak intra uterine, pemeriksaan USG
pada fetus yang terinfeksi infeksi CMV congenital memberikan gambaran
abrormalitas yang jelas. Pemeriksaan radiologi lain yakni computed tomography (CT) dan
magnetic resonance imaging (MRI). Pemeriksaan radiologi penting dilakukan terutama
untuk menilai perkembangan neurodevelopmental anak dengan infeksi CMV kongenital.
Pemeriksaan penunjang lain seperti gelaja klinis atau pemeriksaan laboratoris juga
dapat dilakukan namun, terdapat beberapa kelemahan seperti kurang peka dalam
prediksi keluaran neurodevelopmental.
Diagnosis infeksi CMV kongenital dilakukan dengan mendeteksi partikel
virus dalam cairan tubuh. Hal ini dapat dari urin, dimana jumlah partikel virus paling
banyak ditemukan. Dapat pula ditemukan pada air liur atau darah. Jika partikel virus
terdeteksi dalam waktu 2-3 minggu setelah lahir, diagnosis infeksi CMV kongenital
terjamin. Seiring dengan diagnostik, aspek prognostik adalah persoalan lebih lanjut.
Penilaian risiko untuk penilaian sekuel onset lambat merupakan hal yang penting.
Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk menunjang diagnosa infeksi
CMV akut sejak munculnya gejala yang tidak spesifik. Adanya Imunoglobulin M
(IgM) tidak dapat secara langsung diartikan sebagai infeksi primer mengingat Ig M
juga diproduksi pada saat reaktifasi dan reinfeksi. Imunoglobulin G (IgG) dapat
dipertimbangkan apakah infeksi CMV tersebut merupakan infeksi primer atau non
primer.
(Catherina, 2017)
F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan anak dengan infeksi CMV kongenital meliputi tatalaksana
suportif. Pemberian ASI harus diusahakan pada anak. Transfusi sel darah merah atau
trombosit dapat diberikan jika terjadi anemia berat atau trombositopenia berat. Anak
dapat dirawat dalam ruang perawatan intensif jika diperlukan.
Antivirus yang diberikan untuk mengatasi infeksi CMV yang diketahui saat
ini adalah ganciclovir secara intravena dengan dosis 6 mg/kgBB/hari tiap 12 jam atau
valganciclovir per oral dengan dosis 16 mg/kgBB/hari tiap 12 jam. Beberapa literatur
menyatakan bahwa antivirus tersebut diberikan selama 6 minggu, namun pemberian
antivirus selama 6 minggu tidak selalu direkomendasikan. Pemberian antivirus selama
2 minggu sudah memberikan dampak yang baik pada perjalanan penyakit anak dan
dosis tambahan selama 1-2 minggu berikutnya dapat diberikan apabila gejala dan
tanda pada anak tidak juga berkurang.
Evaluasi secara berkala dilakukan pada anak untuk mengetahui
perkembangan dari perjalanan penyakit infeksi CMV. Evaluasi yang dilakukan
meliputi pemeriksaan neuroimaging serta fungsi pendengaran dan penglihatan.
(Catherina, 2017)
G. Komplikasi
Komplikasi CMV sebagai berikut (Catherina, 2017):
1. Mononukleosis CMV.
Sindroma ini mirip mononukleosis infeksius, tetapi Epstein-Barr virus (EBV)
menyebabkan mononukleosis klasik. Tanda dan gejala mirip mononukleosis,
tenggorokan serak, pembengkakan kelenjar getah bening, pembengkakan tonsil,
kekelahan, dan mual-mual.
2. Intestinal complications.
Infeksi CMV di usus mengakibatkan diare, demam, nyeri perut, peradangan usus
besar (kolon), ditemukannya darah pada tinja.
3. Komplikasi liver.
CMV dapat mengakibatkan funsi liver abnormal dan demam yang tak bisa
dijelaskan.
4. Nervous system complications.
5. Komplikasi neurologis bervariasi pada infeksi CMV seperti radang otak
(ensefalitis).
6. Komplikasi paru. CMV dapat menyebabkan peradangan paru (pneumonitis).
7. Komplikasi yang timbul pada bayi baru lahir dengan infeksi CMV
Gangguan pendengaran, abnormalitas mata: gangguan pandangan sentral, parut
retina, inflamasi lapisan sensor sinarmata (retinitis), pembengkakan dan iritasi
mata (uveitis), disabilitas mental, gangguan koordinasi gerak, kepala kecil, kejang-
kejang, dan kematian.
H. Pencegahan
Prinsip higiene yang hati-hati merupakan tindakan terbaik dalam pencegahan infeksi
CMV, pencegahan CMV sebagai berikut (Catherina, 2017):
1. Sering mencuci tangan. Gunakan air dan sabun selam 15 – 20 detik, terutama bila
anda habis kontak dengan anak, pampers, air liur, atau sekresi oral lainnya. Ini
penting terutama bila anak berada dalam perawatan.
2. Hindari kontak air liur dan air mata ketika mencium anak. Ketimbang mencium
anak di bibir, lebih baik mencium di dahi, ini penting bila anda sedang hamil.
3. Hindari berbagi makanan dan minuman dalam satu wadah yang sama. Berbagi
gelas dan perlengkapan makan dapat menyebarkan CMV.
4. Hati-hati dengan benda-benda habis pakai. Ketika membuang pampers, tissue,
dan barang-barang lain yang terkontaminasi cairan tubuh berhati-hatilah untuk
tidak menyentuh area wajah anda sebelum cuci tangan dengan benar.
5. Bersihkan mainan dan pegangan pada walker. Bersihkan permukaan benda-benda
yang kontak dengan urin atau air liur anak.
6. Lakukan aktivitas seksual yang sehat. Pakai kondom bila diperlukan. Ini
membantu mencegah penyebaran CMV melalui cairan vagina dan cairan semen.
I. Pathway
II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Keluhan Utama
Keluhan utama yang dikatakan klien.
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Yang biasa ditemukan : Ibu pasien penderita infeksi CMV, suami/istri pasien
penderita CMV, adanya riwayat tranfusi, dan adanya riwayat transplantasi organ.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian yang mendukung adalah dengan mengkaji apakah sebelumnya klien
pernah menderita CMV.
D. Riwayat Penyakit Alergi
Pasien tidak memiliki alergi terhadap makanan, minuman, dan obat-obatan.
E. Riwayat Imunisasi
1. BCG
Imunisasi BCG diberikan pada umur sebelum 2 bulan. Pada dasarnya, untuk
mencapai cakupan yang lebih luas, pedoman Depkes perihal imunisasi BCG pada
umur antara 0-12 bulan, tetap disetujui (IDAI, 2000).
2. Hepatitis B
Imunisasi hepatitis B diberikan sedini mungkin setelah lahir, mengingat
paling tidak 3,9% ibu hamil merupakan pengidap hepatitis dengan risiko
transmisi maternal kurang lebih sebesar 45% (IDAI, 2000).
Pemberian imunisasi hepatitis B harus berdasarkan status HBsAg ibu pada
saat melahirkan. Jadwal pemberian berdasarkan status HBsAg ibu adalah sebagai
berikut (IDAI, 2000):
a. Bayi lahir dari ibu dengan status HbsAg yang tidak diketahui. Diberikan
vaksin rekombinan (HB Vax-II 5 µg atau Engerix B 10 µg) atau vaksin plasma
derived 10 mg, secara intramuskular, dalam waktu 12 jam setelah lahir. Dosis
kedua diberikan umur 1-2 bulan dan dosis ketiga umur 6 bulan. Apabila pada
pemeriksaan selanjutnya diketahui ibu HbsAg-nya positif, segera berikan 0,5
ml HBIG (sebelum 1 minggu).
b. Bayi lahir dari ibu HBsAg positif. Dalam waktu 12 jam setelah lahir, secara
bersamaan, diberikan 0,5 ml HBIG dan vaksin rekombinan (HB Vax-II 5 mg
atau Engerix B 10 mg), intramuskular di sisi tubuh yang berlainan. Dosis
kedua diberikan 1-2 bulan sesudahnya dan dosis ketiga diberikan pada usia 6
bulan.
c. Bayi lahir dari ibu dengan HBsAg negatif. Diberikan vaksin rekombinan (HB
Vax-II dengan dosis minimal 2,5 µg (0,25 ml) atau Engerix B 10 µg (0,5ml),
vaksin plasma derived dengan dosis 10 µg (0,5 ml) secara intra- muskular, pada
saat lahir sampai usia 2 bulan. Dosis kedua diberikan 1-2 bulan kemudian dan
dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah imunisasi pertama.
3. DPT
Imunisasi DPT dasar diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan dengan interval 4-6
minggu, DPT 1 diberikan pada umur 2-4 bulan, DPT 2 pada umur 3-5 bulan dan
DPT 3 pada umur 4-6 bulan. Ulangan selanjutnya (DPT 4) diberikan satu tahun
setelah DPT 3 yaitu pada umur 18-24 bulan dan DPT 5 pada saat masuk sekolah
umur 5-7 tahun (IDAI, 2000).
4. Tetanus
Upaya Departemen Kesehatan melaksanakan Program Eliminasi Tetanus
Neonatorum (ETN) melalui imunisasi DPT, DT, atau TT dilaksanakan
berdasarkan perkiraan lama waktu perlindungan sebagai berikut (IDAI, 2000):
a. Imunisasi DPT pada bayi 3 kali (3 dosis) akan memberikan imunitas 1-3
tahun. Dari 3 dosis toksoid tetanus pada bayi tersebut setara dengan 2
dosis toksoid pada anak yang lebih besar atau dewasa.
b. Ulangan DPT pada umur 18-24 bulan (DPT4) akan memperpanjang
imunitas 5 tahun yaitu sampai dengan umur 6-7 tahun, pada umur dewasa
dihitung setara 3 dosis toksoid.
c. Dosis toksoid tetanus kelima (DPT/ DT 5) bila diberikan pada usia
masuk sekolah, akan memperpanjang imunitas 10 tahun lagi yaitu pada
sampai umur 17-18 tahun; pada umur dewasa dihitung setara 4 dosis
toksoid.
d. Dosis toksoid tetanus tambahan yang diberikan pada tahun berikutnya di
sekolah (DT 6 atau dT) akan memperpanjang imunitas 20 tahun lagi;
pada umur dewasa dihitung setara 5 dosis toksoid.
e. Jadi Program Imunisasi merekomendasikan TT 5x untuk memberikan
perlindungan seumur hidup dan pada wanita usia subur (WUS) untuk
memberikan perlindungan terhadap bayi yang dilahirkan dari tetanus
neonatorum.
5. Polio
Untuk imunisasi dasar (polio 2, 3, 4), vaksin diberikan 2 tetes per-oral, dengan
interval tidak kurang dari 4 minggu (IDAI, 2000).
6. Campak
Vaksin campak dianjurkan diberikan dalam satu dosis 0,5 ml secara sub-kutan
dalam, pada umur 9 bulan (IDAI, 2000).
7. MMR
a. Vaksin MMR diberikan pada umur 15-18 bulan dengan dosis satu kali 0,5
ml, secara subkutan.
b. Vaksin MMR yang beredar di pasaran ialah MMR II [MSD] dan Trimovax
[Pasteur Merieux]
c. MMR diberikan minimal 1 bulan sebelum atau setelah penyuntikan
imunisasi lain.
d. Apabila seorang anak telah mendapat imunisasi MMR pada umur 12-18
bulan, imunisasi campak 2 pada umur 5-6 tahun tidak perlu diberikan.
e. Ulangan diberikan pada umur 10-12 tahun atau 12-18 tahun.
(IDAI, 2000)
8. Hib (H.influenzae tipe b)
Vaksin conjungate H.influenzae tipe b ialah Act HIB [Pasteur Merieux] diberikan pada
umur 2, 4, dan 6 bulan. Bila dipergunakan vaksin PRP-outer membrane protein
complex (PRP-OMPC) yaitu Pedvax Hib, [MSD] diberikan pada umur 2 dan 4
bulan, dosis ketiga (6 bulan) tidak diperlukan. Ulangan vaksin Hib diberikan pada
umur 18 bulan. Apabila anak datang pada umur 1-5 tahun, Hib hanya diberikan 1
kali. Satu dosis vaksin Hib berisi 0,5 ml, diberikan secara intramuscular (IDAI,
2000).
9. Demam tifoid
Di Indonesia tersedia 2 jenis vaksin yaitu vaksin suntikan (polisakarida) dan oral.
Vaksin capsular Vi polysaccharide yaitu Typhim Vi [Pasteur Merieux] diberikan pada
umur > 2 tahun, langan dilakukan setiap 3 tahun. Tifoid oral Ty21a yaitu Vivotif
[Berna] diberikan pada umur > 6 tahun, dikemas dalam 3 dosis dengan interval
selang sehari (hari 1,3, dan 5). Imunisasi ulangan dilakukan setiap 3-5 tahun
(IDAI, 2000).
10. Hepatitis A
Vaksin hepatitis A diberikan pada daerah yang kurang terpajan (under exposure),
pada umur >2 tahun (IDAI, 2000).
11. Varisela
Direkomendasikan pada umur 10-12 tahun yang belum terpajan, dengan dosis
0,5 ml, subkutan, satu kali. Apabila diberikan pada umur >13 tahun maka
imunisasi diberikan 2 kali dengan jarak 4-8 minggu (IDAI, 2000).
F. Riwayat Tumbuh Kembang
a. Prenatal
Ibu hamil anak pertama. Pemeriksaan kehamilan dilakukan pada dokter spesialis
obgyn di RSUD
b. Natal
Anak lahir dengan cara op. Caesar dengan BB : 3.300gr PB : 45 cm
c. Post Natal
 Pertumbuhan
BB : 6 kg
TB : 48 cm
 Perkembangan
Menurut (Santrock, 2011) perkembangan anak terbagi dalam
beberapa periode berdasarkan rentang usia, berupa :
1. Periode Prakelahiran merupakan masa awal pembuahan hingga
kelahiran yang terjadi selama sembilan bulan. Pada masa ini sebuah
sel tunggal tumbuh menjadi organisme lengkap dengan sebuah otak
dan kemampuan berperilaku.
2. Masa Bayi merupakan periode perkembangan yang terjadi sejak lahir
hingga berusia 18 sampai 24 bulan. Pada masa ini bayi memiliki
ketergantungan ekstrim terhadap orang dewasa. Banyak aktivitas-
aktivitas baru dimulai seperti kemampuan bicara, berpikir dengan
symbol, meniru, belajar dari orang lain, mengatur indera-indera dan
tindakan fisik.
3. Masa Kanak - Kanak Awal merupakan periode perkembangan yang
terjadi sejak akhir masa bayi hingga usia 5 sampai 6 tahun. Pada
masa ini anak kecil belajar mandiri dan merawat diri sendiri,
mengembangkan keterampilan kesiapan sekolah, dan menghabiskan
waktu untuk bermain dengan tema sebaya.
4. Masa Kanak – Kanak Tengah dan Akhir merupakan periode
perkembangan yang terjadi sejak usia 6 tahun hingga usia 11 tahun.
Pada masa ini anak telah menguasai keterampilan dasar seperti
membaca, menulis, aritmatik, dan kontrol diri meningkat.
5. Masa Remaja merupakan periode perkembangan yang terjadi sejak
usia 10 sampai 12 tahun dan berakhir pada usia 18 sampai 22 tahun.
Pada masa ini terjadi perubahan fisik yang cepat, pertamabahan
tinggi dan berat badan yang drastis, perubahan dalam kontur tubuh,
dan perkembangan karakteristik seksual. Ciri utama pada periode ini
merupakan pencarian identitas diri dan kebebasan sehingga banyak
waktu yang dihabiskan diluar rumah serta pikiran menjadi lebih
abstrak, idealis, dan logis.
 Riwayat Perkembangan Psikososial
Berperan dalam kegiatan kelompok
 Riwayat Perkembangan Psikoseksual
Senang berkelompok dengan teman sebaya terlebih yang berjenis
kelamin sama.
G. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : klien lemah
Pemeriksaan Fisik :
1. Kulit : kemerahan, turgor cukup. Temperatur antara 37,5 s.d 38 °C dalam
24 jam pengukuran. Tidak ada tanda luka pressure.
2. Kepala : kulit kepala tipis, terlihat sutura belum menyatu. Tidak ada
pembesaran kepala.
3. Mata : edema palpebra tidak ada. Konjungtiva merah muda, skelera tidak
ikterik.
4. Telinga : bersih, tidak ada kelainan.
5. Hidung : bersih, tidak ada kelainan.
6. Mulut : mulut bersih, tidak ada iritasi dan terpasang OGT.
7. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening. Tidak ada kaku kuduk.
8. Dada : pergerakan simetris kiri-kanan dan tidak ada ketinggalan gerak.
9. Paru-paru : suara paru vesikular, tidak ada penurunan bunyi suara. Ada ronchi
paru kiri. Usaha batuk lemah. Mukus ada.
10. Jantung : tidak ada pembesaran, suara jantung S1-S2. Tidak ada bunyi
tambahan.
11. Abdomen : soepel, tidak ada pembesaran atau penumpukan cairan.
12. Genitalia : jenis kelamin laki-laki. Genitalia bersih, tidak terpasang kateter.
13. Anus dan rectum: tidak terdapat iritasi.
14. Muskuloskeletal: kekuatan ekstremitas kurang aktif.
15. Neurologi: tidak ada rangsangan meningeal, reflek hisap ada, moro ada,
menggenggam ada, babynski ada.
H. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan mukus berlebihan.
2. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
faktor biologis.
3. Diare berhubungan dengan malabsorbsi.
4. Hipertermi berhubungan dengan penyakit.
5. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurang pemahaman tentang proses
penyakit.
I. Intervensi Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan mukus berlebihan.
NOC : Status pernafaan : Kepatenan jalan nafas
a. Kemampuan mengeluarkan secret 4
b. Suara nafas tambahan 4
c. Batuk 4
d. Dispnue 4
Keterangan outcomes:
1 = Deviasi berat dari kisaran normal
2 = Deviasi cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal

NIC : Manajemen jalan nafas


1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi.
2. Lakukan fisioterapi dada.
3. Keluarkan secret dengan batuk efektif atau suction (tergantung kondisi px).
4. Auskultasi suara nafas, catat jika masih ada suara nafas tambahan.
5. Berikan bronkodilator.
6. Monitor pernafasan dan status O2.
2. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
faktor biologis.
NOC : Nutritional Status: food and Fluid Intake
a. Adanya peningkatan berat badan 4
b. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan 4
c. Identifikasi kebutuhan nutrisi 4
d. Tanda-tanda malnutrisi 4
e. Penurunan berat badan 4
Keterangan outcomes:
1 = Deviasi berat dari kisaran normal
2 = Deviasi cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal

NIC : Nutrition Management

1. Kaji adanya alergi makanan


2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien.
3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
5. Berikan substansi gula.
6. Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah
konstipasi
7. Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)
8. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
9. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
10. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
11. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
3. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurang pemahaman tentang proses
penyakit.
NOC : Kowlwdge : disease process dan Kowledge : health Behavior
a. Paham tentang penyakit 4
b. Paham tentang kondisi penyakit 4
c. Paham tentang prognosis peyakit 4
d. Paham tentang program pengobatan penyakit 4
Keterangan outcomes:
1 = Berat
2 = Cukup berat
3 = Sedang
4 = Ringan
5 = Tidak ada

NIC : Teaching: disease Process

1. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit


yang spesifik
2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan
dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara
yang tepat
4. Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
5. Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat
6. Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat
7. Hindari harapan yang kosong
8. Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang
tepat
9. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit
10. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
11. Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau diindikasikan
12. Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat
13. Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada
pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (2016). Nursing Interventions
Classification (NIC), edisi ke-6. Singapore: Elsevier.

Catherina. (2017). Infeksi Cytomegalovirus. e-journal Universitas Udayana.

Herdman, H. T., & Kamitsuru, S. (2015). Nanda International Inc. diagnosis keperawatan: definisi dan
klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC.

IDAI, S. I. (2000). Jadwal Imunisasi Rekomendasi IDAI. Sari Pediatri, Vol.2.

Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2016). Nursing Outcomes Classification (NOC),
5th edition. Singapore: Elsevier.

Santrock, J. W. (2011). Masa Perkembangan Anak. Jakarta: Salemba Humanika.