Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aparatur Sipil Negara disingkat ASN adalah profesi Bagi
Pegawai Negeri Sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja
yang bekerja pada instansi pemerintah (Tenaga Kontrak). Pegawai
ASN terdiri dari Pegawai Negeri Sipil dan pegawai pemerintah dengan
perjanjian kerja yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian dan
diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan atau diserahi tugas
negara lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan
pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas
dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Aparatur Sipil Negara (ASN) mempunyai kedudukan dan peranan yang
penting serta menentukan dalam penyelenggaraan Negara /
Pemerintahan. Kelancaran pelaksanaan pembangunan nasional pada
dasarnya tergantung semangat, tekad, sikap mental, dan kedisiplinan
aparatur negara.
Penyelenggaran pemerintahan yang baik dan bersih (good and
clean governance) menjadi penentu dalam maju atau mundurnya suatu
bangsa, pembangunan sumber daya manusia mutlak harus dilakukan
terutama bagi ASN yang merupakan unsur penting dalam
penyelenggaran pemerintah. Pada prakteknya ASN identik dengan
kesan negatif. Masalah sumber daya manusia di lingkungan ASN masih
menjadi sorotan, baik di Pemerintahan Pusat, Provinsi maupun di
Pemerintahan Daerah. ASN juga identik dengan birokrasi yang berbelit-
belit dalam menyelesaikan pekerjaan. Birokrasi kita masih ditandai
dengan rendahnya kinerja sumber daya manusia dan kelembagaan
aparatur.
ASN di tuntut cakap menyelenggarakan pelayanan publik yang
baik bagi masyarakat yang sanggup berperan sebagai perekat

1
persatuan dan kesatuan bangsa sebagaimana cita-cita dalam
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945. Untuk mewujudkan ASN yang professional, Bersih dan
melayani. Perlu diselengarakan Diklat Prajabatan seperti yang telah
diatur dalam Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN)
Nomor 12 Tahun 2018 Tentang Pedoman Penyelenggaraan
Pendidikan dan Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan
III. Diklat ini bertujuan untuk membentuk nilai-nilai dasar profesi PNS
agar dapat melaksanakan fungsi dan perannya sebagai pelaksana
kebijakan publik, pelayan publik dan perekat serta pemersatu bangsa.
Nilai-nilai dasar profesi PNS tersebut yang biasa dikenal dengan
ANEKA, yaitu akuntabilitas, nasionalisme, etika publik dan anti korupsi
sehingga ASN dapat memiliki kinerja yang mumpuni untuk menuju ASN
kelas Dunia.
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) merupakan unit
pelaksana pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat dasar di
Indonesia. Menurut PERMENKES RI No. 75 tahun 2014 tentang pusat
kesehatan masyarakat bahwa pusat kesehatan masyarakat adalah
fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya
kesehatan perorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan
upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.
Apoteker di puskesmas bertanggungjawab dalam melakukan
kegiatan promosi kesehatan. Untuk melaksanakan tanggung jawab
tersebut apoteker harus bisa mengaktualisasi dirinya atau menerapkan
dan mengembangkan ilmu serta menggali potensi-potensi dirinya, demi
tercapainya upaya kesehatan pelayanan promotif dan preventif yang
berkualitas.
Edukasi pada pasien merupakan bagian tidak terpisahkan dan
elemen kunci dari pelayanan kefarmasian, karena Apoteker sekarang
ini tidak hanya melakukan kegiatan compounding dan dispensing saja,
tetapi juga harus berinteraksi dengan pasien dan tenaga kesehatan

2
lainnya dimana dijelaskan dalam konsep Pharmaceutical Care.
Kegiatan edukasi dengan cara konseling dapat diberikan atas inisiatif
langsung dari apoteker mengingat perlunya pemberian konseling
karena pemakaian obat-obat dengan cara penggunaan khusus,obat-
obat yang membutuhkan terapi jangka panjang sehingga perlu
memastikan untuk kepatuhan pasien meminum obat. Penggunaan
antibiotik yang berlebihan, termasuk yang kurang atau di bawah dosis
yang dianjurkan oleh dokter, akan menciptakan mikroorganisme yang
resistan terhadap obat antibiotik dan bahkan dapat menyebabkan
kematian.
Di puskesmas Kedawung 1 Sragen sendiri penggunaan antibotik
hanya untuk pemakaian tiga hari dan kadang banyak ditemui pasien
yang tidak disiplin dalam penggunaan obat, disini penulis menyoroti isu
banyak terjadi yaitu kurang optimalnya edukasi kepatuhan penggunaan
obat antibiotik Puskesmas Kedawung 1 Sragen dan rencana aktualisasi
dan habituasi yang berjudul “Optimalisasi Edukasi Gerakan Disiplin
Penggunaan Obat Antibiotik (Gedi Petik) pada Pasien dan Keluarga
Pasien di Puskesmas Kedawung 1 Kabupaten Sragen.

B. Identifikasi Isu, Dampak Dan Rumusan Masalah


1. Identifikasi Isu
Dalam melaksanakan tugas sebagai Apoteker di Puskesmas
Kedawung 1, ditemukan beberapa isu yang berkaitan dengan nilai-nilai
Pelayanan Publik, Manajemen ASN dan Whole of Government (WoG).
Identifikasi Isu dilakukan melalui analisis isu dengan menggunakan alat
bantu penetapan kriteria kualitas isu yang bertujuan untuk menetapkan
kualitas isu dan menentukan prioritas isu yang perlu diangkat dan
diselesaikan melalui gagasan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan.
Analisis isu dilakukan dengan menggunakan alat bantu APKL
(Aktual, Problematik, Kelayakan, Kekhalayakan), yakni alat bantu yang
untuk menganalisis ketepatan dan kualitas isu dengan memperhatikan
tingkat aktual, problematik, kekhalayan, dan kelayakan dari isu-isu yang

3
ditemukan di lingkungan Puskesmas Kedawung 1. Aktual artinya benar-
benar terjadi dan sedang hangat dibicarakan masyarakat. Problematik
artinya isu yang memiliki masalah yang kompleks sehingga perlu
segera dicarikan solusinya. Kekhalayakan artinya isu menyangkut hajat
hidup orang banyak. Kelayakan artinya isu yang masuk akal dan
realistis serta relevan untuk dimunculkan inisiatif pemecahan
masalahnya.
Tabel 1.1 Hasil Isu yang Teridentifikasi
No Identifikasi Isu Sumber Isu Keadaan Saat Ini Kondisi Yang
Diharapkan
1. Kurang optimalnya Managemen Sekarang belum semua Untuk penggunaan / obat
petugas farmasi dalam ASN diberi keterangan secara yang tergolong LASA
penandaan obat obat obat obat LASA dan High dan High Alert
LASA dan High Alert Alert sehingga banyak diharapkan untuk
terjadi salah dalam ditandai biar
pengambilan obat meninimalisr kesalahan
dalam pelayanan
2. Kurang optimalnya Managemen Banyak pasien yang Pasien dan keluarga
edukasi kepatuhan ASN & mengeluhakan penyakit pasien mendapatkan
penggunaan obat Pelayanan dan diberikan resep gambaran tentang
antibiotik Puskesmas Publik antibiotik yang penggunaan obat
Kedawung 1 Sragen penggunaannya belum antibiotik secara rasional
sesuai prosedur karena untuk mempercepat
kurangnya edukasi tentang kesembuhan pasen
bahaya apabila tidak
digunakan dengan rasional
3. Kurangnya kedisiplinan Managemen Kadang petugas farmasi Petugas farmasi harus
petugas farmasi dalam ASN mengambil obat tetapi tidak tertip mengeluarkan obat
mencatat pengambilan terdokumentasi di kartu dan mendokumentasikan
obat pada kartu stok di stok sehingga terjadi tidak dikartu stok biar tidak
Puskesmas Kedawung 1 sesuaian antara jumlah terjadi kesalahan jumalh
obat dikartu stok dan yang stok obat
sebenarnya
4. Belum optimalnya waktu Managemen Belum optimalnya Pengerjaan resep
tunggu pelayanan obat ASN & pelayanan pengerjaan racikan agar dipercepat
racikan Puskesmas Pelayanan resep racikan dan waktu untuk meningkatan
Kedawung 1 Publik yang dibutuhkan termasuk pelayanaan ke pasien
lumayan lama
5. Kurangnya penyediaan WoG Banyak obat yang Untuk mengengurangi
obat dari Instalasi terlambat atau kekosongan kekosongan makan
Farmasi Dinkes dari pihak instalasi dinkes harus dibeikan buffer
sehingga mempengaruhi dan berdampak stok dan pengadaan
pelayanan di ruang kekosongan obat dalam sendiri apabila obat yang
farmasi Puskesmas pelayanan dibutuhkan darurat

4
2. Penetapan Isu
a) Penetapan Kualitas Isu Menggunakan Metode APKL
Rancangan aktualisasi yang akan dilaksanaan menggunakan
pendekatan Analisis APKL (Aktual, Problematik, Kekhalayakan dan Layak)
digunakan untuk menentukan kelayakan suatu isu sebagai berikut.

Tabel 1.2 Parameter APKL


No Indikator Keterangan
1 2 3
1 Aktual (A) Isu yang sedang terjadi atau dalam proses kejadian,
sedang hangat dibicarakan di kalangan masyarakat, atau
isu yang diperkirakan bakal terjadi dalam waktu dekat. jadi
bukan isu yang sudah lepas dari perhatian masyarakat
atau isu yang sudah basi.
2 Problematik (P) Isu yang menyimpang dari harapan standar, ketentutan
yang menimbulkan kegelisahan yang perlu segera dicari
penyebab dan pemecahannya.
3 Kekhalayakan (K) Isu yang secara langsung menyangkut hajat hidup orang
banyak, masyarakat pelanggan pada umumnya, dan
bukan hanya untuk kepentingan seseorang atau
sekelompok kecil orang tertentu saja.
4 Layak (L) Isu yang masuk akal (logis), pantas, realistis, dan dapat
dibahas sesuai dengan tugas, hak, wewenang, dan
tanggung jawab.

b) Penetapan Kualitas Isu Menggunakan Analisis USG


Analisis yang digunakan untuk memprioritaskan isu yang akan ditindak
lanjuti menggunakan Analisis USG (Urgency, Seriousness, Growth) adalah
Adapun indikator analisis USG adalah sebagai berikut :

5
Tabel 1.3 Penjelasan USG
No Komponen Keterangan
1 2 3
1 Urgency Seberapa mendesak isu tersebut dibahas dikaitkan demgan
waktu yang tersedia serta seberapa keras tekanan waktu
tersebut untuk memecahkan masalah yang menyebabkan isu
2 Seriousness Seberapa serius isu tersebut perlu dibahas dikaitkan dengan
akibat yang timbul dengan penundaan pemecahan masalah
yang menimbulkan isu tersebut atau akibat yang ditimbulkan
masalah-masalah lain kalau masalah penyebab isu tidak
dipecahkan (bisa mengakibatkan masalah lain)
3 Growth Seberapa kemungkinan isu tersebut menjadi berkembang
dikaitkan kemungkinan masalah penyebab isu akan semakin
memburuk jika dibiarkan.

Parameter yang digunakan untuk menentukan prioritas yaitu


menggunakan metode USG pada tabel berikut :
Tabel 1.4 Parameter USG
No Urgency / Seriousness / Growth /
Mendesak Kegawatan Pertumbuhan
1 Isu tidak mendesak untuk Isu tidak begitu serius untuk Isu lamban berkembang
segera diselesaikan di bahas karena tidak
berdampak ke hal yang lain
Isu kurang mendesak untuk Isu kurang serius untuk Isu kurang cepat
2 segera diselesaiakn segera dibahas karena tidak berkembang
kurang berdampak ke hal
yang lain
3 Isu cukup mendesak untuk Isu cukup serius untuk segera Isu cukup cepat
segera diselesaikan dibahas karena akan berkembang, segera
berdampak ke hal yang lain dicegah
4 Isu mendesak untuk segera Isu serius untuk segera Isu cepat berkembang
diselesaikan dibahas karena akan untuk segera dicegah
berdampak ke hal yang lain
5 Isu sangat mendesak untuk Isu sangat serius untuk Isu sangat cepat
segera diselesaikan segera dibahas karena akan berkembang untuk
berdampak ke hal yang lain segera dicegah

6
Dari isu-isu yang aktual didapat maka proses selajutnya dianalisi
dengan metode APKL dan metode USG didapat pada table 1.5 Analisis
isu-isu actual sebagai berikut:
Tabel 1.5 Analisis Isu-isu Aktual
Kriteria Prioritas
N Masalah / Isu Aktual Ket Ket
o A P K L U S G =
Kurang optimalnya petugas
Managemen 4 3 4 11
1. farmasi dalam penandaan obat + + + + MS
ASN
obat LASA / High Alert
Kurang optimalnya edukasi Managemen
kepatuhan penggunaan obat ASN &
2.
antibiotik Puskesmas Kedawung Pelayanan
+ + + + MS 5 5 5 15

1 Sragen Publik
Kurangnya kedisiplinan petugas
farmasi dalam mencatat Managemen
3. + + - - TMS
pengambilan obat pada kartu ASN
stok di Puskesmas Kedawung 1
Belum optimalnya waktu tunggu Managemen
pelayanan obat racikan ASN &
4. + + + + MS 4 4 4 12
Puskesmas Kedawung 1 Pelayanan
Publik
Kurangnya penyediaan obat dari
Instalasi Farmasi Dinkes
5. sehingga mempengaruhi WoG + + - - TMS
pelayanan di ruang farmasi
Puskesmas
Keterangan :
+ : memenuhi kriteria
- : Tidak memenuhi kriteria
MS : Memenuhi syarat
TMS : Tidak memenuhi syarat
√ : Isu yang terpilih

Isu yang terpilih :


Berdasarkan hasil analisis isu diatas maka isu yang paling dominan
adalah Kurang optimalnya edukasi kepatuhan penggunaan obat
antibiotik Puskesmas Kedawung 1 Sragen
Tema yang di angkat :
OPTIMALISASI EDUKASI GERAKAN DISPLIN PENGGUNAAN OBAT
ANTIBIOTIK (GEDIPETIK) PADA PASIEN DAN KELUARGA PASIEN DI
PUSKESMAS KEDAWUNG 1 KABUPATEN SRAGEN

7
3. Dampak Isu
Selanjutnya dampak yang terjadi jika isu tersebut tidak segera
diselesaikan antara lain:
Tabel 1.6 Analisis Dampak
Sumber Isu Identifikasi Isu Dampak
Managemen Kurang optimalnya edukasi Bagi PNS
ASN & kepatuhan penggunaan obat Tidak dapat Mereapkan nilai nilai PNS (ANEKA) Pada
Pelayanan antibiotik Puskesmas pelaksanaan aktualisasi di puskesmas
Publik Kedawung 1 Sragen
Bagi Pasien
a. Terjadinya pasien beresiko resistensi terhadap
Antibiotik apabila tidak disiplin dalam
penggunaannya
b. Tidak tercapainya dosis terapetilk dan pasien tidak
sembuh
c. Terjadinya ketoksisitas obat karena pemberian
obat tidak sesuai dosis
Bagi Organisasi
Pelayanan kefarmasian yang kurang optimal akan
meningkatakan kepercayaan masyarakat terhadap
kapabilitas organisasi dalam pelayanan kesehatan

4. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah pada perancangan
aktualisasi ini adalah sebagai berikut:
a. Bagaimana cara mengoptimalkan pengetahuan kedisiplinan pasien
dalam minum obat antibiotik di Puskesmas Kedawung 1?
b. Bagaimana mengaktualisasi nilai-nilai ANEKA dalam upaya
meningkatkan kedisipinan pasien dalam minum obat di Puskesmas
Kedawung 1?
c. Bagaimana keterkaitan kegiatan antara visi misi dan nilai organisasi?

C. Tujuan
Adapun tujuan aktualisasi ini adalah sebagai berikut :
1. Mampu merapkan gerakan kedisiplinan pengguanan obat antibiotik
(GEDI PETIK) pelayanan konseling pada pasien dan keluarga
pasien di Puskesmas Kedawung 1
2. Mampu menerapkan nilai-nilai ANEKA yang telah dipelajari dan
dipahami secara teoritis.
3. Mampu menjelaskan keterkaitan kegiatan antara visi misi dan nilai
organisasi

8
D. Manfaat
Adapun manfaat dari Aktualisasi yang akan dilakukan adalah :
1. Bagi Puskesmas Kedawung 1:
a. Memberikan alternatif kegiatan-kegiatan yang
mengimplementasikan nilai-nilai dasar ANEKA dalam
menyelesaikan masalah yang terjadi di puskesmas
b. Mengoptimalisasi kedisiplinan kepatuhan pasien dalam minum
obat dengan pelayanan konseling di Puskesmas Kedawung 1
2. Bagi Masyarakat:
a. Masyarakat mendapatkan pelayanan yang optimal sebagai
wujud aktualisasi nilai-nilai dasar ANEKA di pelayanan
puskesmas.
b. Masyarakat memahami akan pentingnya kepatuhan minum obat
untuk tercapainya terapi pengobatan.
3. Bagi Peserta Latsar:
a. Untuk menambah pengetahuan dan wawasan khususnya
tentang nilai-nilai ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika
Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi), serta dapat
mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut dalam pekerjaan sehari-
hari di satuan kerja masing-masing.
b. Memenuhi tugas pokok dan jabatan Apoteker serta konsep
Pharmaceutical Care dalam memberikan konseling kepada
pasien untuk mencapai kepatuhan minum obat.

9
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Sikap dan Perilaku Bela Negara


Sikap perilaku dan kedisiplinan yang harus dilimiliki oleh PNS untuk
menunjang fungsinya adalah nilai-nilai sikap perilaku, kesehatan jasmani
dan kesehatan mental, kesamaptaan jasmani dan kesamaptaan mental,
dan tata upacara sipil dan keprotokolan.
1. Wawasan Kebangsaan dan Nilai-nilai Bela Negara
Pemahaman dan pemaknaan wawasan kebangsaan dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan bagi aparatur, pada
hakikatnya terkait dengan pembangunan kesadaran berbangsa dan
bernegara yang berarti sikap dan tingkah laku PNS harus sesuai dengan
kepribadian bangsa dan selalu mengkaitkan dirinya dengan cita-cita dan
tujuan hidup bangsa Indonesia (sesuai amanah yang ada dalam
Pembukaan UUD 1945) melalui:
a. Menumbuhkan rasa kesatuan dan persatuan bangsa dan negara
Indonesia yang terdiri dari beberapa suku bangsa yang mendiami
banyak pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dengan
beragam bahasa dan adat istiadat kebudayaan yang berbeda-beda.
Kemajemukan itu diikat dalam konsep wawasan nusantara yang
merupakan cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan
lingkungannya yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
b. Menumbuhkan rasa memiliki jiwa besar dan patriotisme untuk menjaga
kelangsungan hidup bangsa dan negara. Sikap dan perilaku yang
patriotik dimulai dari hal-hal yang sederhana yaitu dengan saling tolong
menolong, menciptakan kerukunan beragama dan toleransi dalam
menjalankan ibadah sesuai agama masing-masing, saling
menghormati dengan sesama dan menjaga keamanan lingkungan.

10
c. Memiliki kesadaran atas tanggungjawab sebagai warga negara
Indonesia yang menghormati lambang-lambang negara dan mentaati
peraturan perundang-undangan.
Berbagai masalah yang berkaitan dengan kesadaran berbangsa dan
bernegara perlu mendapat perhatian dan tanggung jawab bersama.
Sehingga amanat pada UUD 1945 untuk menjaga dan memelihara Negara
Kesatuan wilayah Republik Indonesia serta kesejahteraan rakyat dapat
diwujudkan. Hal yang dapat mengganggu kesadaran berbangsa dan
bernegara bagi PNS yang perlu di cermati secara seksama adalah semakin
tipisnya kesadaran dan kepekaan sosial, padahal banyak persoalan-
persoalan masyarakat yang membutuhkan peranan PNS dalam setiap
pelaksanaan tugas jabatannya untuk membantu memediasi masyarakat
agar keluar dari himpitan masalah, baik itu masalah sosial, ekonomi dan
politik, karena dengan terbantunya masyarakat dari semua lapisan keluar
dari himpitan persoalan, maka bangsa ini tentunya menjadi bangsa yang
kuat dan tidak dapat di intervensi oleh negara apapun, karena masyarakat
itu sendiri yang harus disejahterakan dan jangan sampai mengalami
penderitaan. Di situ PNS telah melakukan langkah konkrit dalam melakukan
bela negara.
Kesadaran bela negara adalah dimana kita berupaya untuk
mempertahankan negara kita dari ancaman yang dapat mengganggu
kelangsungan hidup bermasyarakat yang berdasarkan atas cinta tanah air.
Kesadaran bela negara juga dapat menumbuhkan rasa patriotisme dan
nasionalisme di dalam diri masyarakat. Upaya bela negara selain sebagai
kewajiban dasar juga merupakan kehormatan bagi setiap warga negara
yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, penuh tanggung jawab dan
rela berkorban dalam pengabdian kepada negara dan bangsa.
Keikutsertaan kita dalam bela negara merupakan bentuk cinta terhadap
tanah air kita.

11
Nilai-nilai bela negara yang harus lebih dipahami penerapannya dalam
kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara antara lain:
1) Cinta Tanah Air.
Negeri yang luas dan kaya akan sumber daya ini perlu kita cintai.
Kesadaran bela negara yang ada pada setiap masyarakat didasarkan pada
kecintaan kita kepada tanah air kita. Kita dapat mewujudkan itu semua
dengan cara kita mengetahui sejarah negara kita sendiri, melestarikan
budaya-budaya yang ada, menjaga lingkungan kita dan pastinya menjaga
nama baik negara kita.
2) Kesadaran Berbangsa dan Bernegara.
Kesadaran berbangsa dan bernegara merupakan sikap kita yang harus
sesuai dengan kepribadian bangsa yang selalu dikaitkan dengan cita-cita
dan tujuan hidup bangsanya. Kita dapat mewujudkannya dengan cara
mencegah perkelahian antar perorangan atau antar kelompok dan menjadi
anak bangsa yang berprestasi baik di tingkat nasional maupun
internasional.
3) Pancasila.
Ideologi kita warisan dan hasil perjuangan para pahlawan sungguh luar
biasa, pancasila bukan hanya sekedar teoritis dan normatif saja tapi juga
diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita tahu bahwa Pancasila adalah
alat pemersatu keberagaman yang ada di Indonesia yang memiliki beragam
budaya, agama, etnis, dan lain-lain. Nilai-nilai pancasila inilah yang dapat
mematahkan setiap ancaman, tantangan, dan hambatan.
4) Rela berkorban untuk Bangsa dan Negara.
Dalam wujud bela negara tentu saja kita harus rela berkorban untuk
bangsa dan negara. Contoh seperti sekarang ini yaitu perhelatan
seagames. Para atlet bekerja keras untuk bisa mengharumkan nama
negaranya walaupun mereka harus merelakan untuk mengorbankan
waktunya untuk bekerja sebagaimana kita ketahui bahwa para atlet bukan
hanya menjadi seorang atlet saja, mereka juga memiliki pekerjaan lain.
Begitupun supporter yang rela menghabiskan waktunya antri hanya untuk

12
mendapatkan tiket demi mendukung langsung para atlet yang berlaga demi
mengharumkan nama bangsa.
5) Memiliki Kemampuan Bela Negara.
Kemampuan bela negara itu sendiri dapat diwujudkan dengan tetap
menjaga kedisiplinan, ulet, bekerja keras dalam menjalani profesi masing-
masing. (Basseng et al., 2017).
2. Analisis Isu Kontemporer
Ditinjau dari pandangan Urie Brofenbrenner (Perron, N.C., 2017) ada
empat level lingkungan strategis yang dapat mempengaruhi kesiapan PNS
dalam melakukan pekerjaannya sesuai bidang tugas masing-masing, yakni:
individu, keluarga (family), Masyarakat pada level lokal dan regional
(Community/ Culture), Nasional (Society), dan Dunia (Global). Ke empat
level lingkungan stratejik tersebut disajikan dalam gambar berikut ini:

Gambar 2.1 Model Faktor Perubahan yang mempengaruhi Kinerja PNS


Berdasarkan gambar di atas dapat dikatakan bahwa perubahan
global (globalisasi) yang terjadi dewasa ini, memaksa semua bangsa
(Negara) untuk berperan serta, jika tidak maka arus perubahan tersebut
akan menghilang dan akan meninggalkan semua yang tidak mau berubah.
Perubahan global ditandai dengan hancurnya batas (border) suatu bangsa,
dengan membangun pemahaman dunia ini satu tidak dipisahkan oleh batas

13
Negara. Hal yang menjadi pemicunya adalah berkembang pesatnya
teknologi informasi global, dimana setiap informasi dari satu penjuru dunia
dapat diketahui dalam waktu yang tidak lama berselang oleh orang di
penjuru dunia lainnya.
Perubahan cara pandang tersebut, telah mengubah tatanan
kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini ditandai dengan masuknya
kepentingan global (Negara-negara lain) ke dalam negeri dalam aspek
hukum, politik, ekonomi, pembangunan, dan lain sebagainya. Perubahan
cara pandang individu tentang tatanan berbangsa dan bernegara (wawasan
kebangsaan), telah mempengaruhi cara pandang masyarakat dalam
memahami pola kehidupan dan budaya yang selama ini
dipertahankan/diwariskan secara turun temurun. Perubahan lingkungan
masyarakat juga mempengaruhi cara pandang keluarga sebagai miniature
dari kehidupan sosial (masyarakat). Tingkat persaingan yang keblabasan
akan menghilangkan keharmonisan hidup di dalam anggota keluarga,
sebaga akibat dari ketidakharmonisan hidup di lingkungan keluarga maka
secara tidak langsung membentuk sikap ego dan apatis terhadap tuntutan
lingkungan sekitar.
Oleh karena itu, pemahaman perubahan dan perkembangan
lingkungan stratejik pada tataran makro merupakan faktor utama yang akan
menambah wawasan PNS. Wawasan tersebut melingkupi pemahaman
terhadap Globalisasi, Demokrasi, Desentralisasi, dan Daya Saing Nasional,
Dalam konteks globalisasi PNS perlu memahami berbagai dampak positif
maupun negatifnya; perkembangan demokrasi yang akan memberikan
pengaruh dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik Bangsa Indonesia;
desentralisasi dan otonomi daerah perlu dipahami sebagai upaya
memperkokoh kesatuan nasional, kedaulatan negara, keadilan dan
kemakmuran yang lebih merata di seluruh pelosok Tanah Air, sehingga
pada akhirnya akan membentuk wawasan strategis bagaimana semua hal
tersebut bermuara pada tantangan penciptaan dan pembangunan daya
saing nasional demi kelangsungan kehidupan bermasyarakat, berbangsa,

14
dan bernegara dalam lingkungan pergaulan dunia yang semakin terbuka,
terhubung, serta tak berbatas.
PNS dihadapkan pada pengaruh yang datang dari eksternal juga
internal yang kian lama kian menggerus kehidupan berbangsa dan
bernegara (pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika) sebagai
konsensus dasar berbangsa dan bernegara. Fenomena-fenomena tersebut
menjadikan pentingnya setiap PNS mengenal dan memahami secara kritis
terkait dengan isu-isu kritikal yang terjadi saat ini atau bahkan berpotensi
terjadi, isu-isu tersebut diantaranya; bahaya paham radikalisme/ terorisme,
bahaya narkoba, cyber crime, money laundry, korupsi, proxy war. Isu-isu di
atas, selanjutnya disebut sebagai isu-isu strategis kontemporer.

3. Kesiapsiagaan Bela Negara


Untuk melatihan kesiapasiagaan bela negara bagi CPNS ada beberapa hal
yang dapat dilakukan, salah satunya adalah tanggap dan mau tahu terkait
dengan kejadian-kejadian permasalahan yang dihadapi bangsa negara
Indonesia, tidak mudah terprovokasi, tidak mudah percaya dengan barita gossip
yang belum jelas asal usulnya, tidak terpengaruh dengan penyalahgunaan obat-
obatan terlarang dan permasalahan bangsa lainnya, dan yang lebih penting lagi
ada mempersiapkan jasmani dan mental untuk turut bela negara.
Pasal 27 dan Pasal 30 UUD Negara RI 1945 mengamanatkan kepada
semua komponen bangsa berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan
negara dan syarat-syarat tentang pembelaan negara. Dalam hal ini setiap
CPNS sebagai bagian dari warga masyarakat tentu memiliki hak dan kewajiban
yang sama untuk melakukan bela Negara sebagaimana diamanatkan dalam
UUD Negara RI 1945 tersebut.
Kesadaran bela negara itu hakikatnya kesediaan berbakti pada negara dan
kesediaan berkorban membela negara. Cakupan bela negara itu sangat luas,
dari yang paling halus, hingga yang paling keras. Mulai dari hubungan baik
sesama warga negara sampai bersama-sama menangkal ancaman nyata

15
musuh bersenjata. Tercakup di dalamnya adalah bersikap dan berbuat yang
terbaik bagi bangsa dan negara.
Setidaknya unsur Bela Negara antara lain :
a. Cinta Tanah Air.
b. Kesadaran Berbangsa dan bernegara.
c. Yakin akan Pancasila sebagai ideologi negara.
d. Rela berkorban untuk bangsa dan negara.
e. Memiliki kemampuan awal bela negara.
Beberapa contoh bela negara dalam kehidupan sehari-hari di zaman sekarang
di berbagai lingkungan :
a. Menciptakan suasana rukun, damai, dan harmonis dalam keluarga.
(lingkungan keluarga).
b. Membentuk keluarga yang sadar hukum (lingkungan keluarga).
c. Meningkatkan iman dan takwa dan iptek (lingkungan pelatihan)
Kesadaran untuk menaati tata tertib pelatihan (lingkungan
kampus/lembaga pelatihan).
d. Menciptakan suasana rukun, damai, dan aman dalam masyarakat
(lingkungan masyarakat).
e. Menjaga keamanan kampung secara bersama-sama (lingkungan
masyarakat).
f. Mematuhi peraturan hukum yang berlaku (lingkungan negara).
g. Membayar pajak tepat pada waktunya (lingkungan negara).
Terkait dengan Pelatihan Dasar bagi CPNS, sudah barang tentu kegiatan
bela negara bukan memanggul senjata sebagai wajib militer atau kegiatan
semacam militerisasi, namun lebih bagaimana menanamkan jiwa kedisiplinan,
mencintai tanah air (dengan menjaga kelestarian hayati), menjaga aset bangsa,
menggunakan produksi dalam negeri, dan tentu ada beberapa kegiatan yang
bersifat fisik dalam rangka menunjang kesiapsiagaan dan meningkatkan
kebugaran fisik saja.

16
Oleh sebab itu maka dalam pelaksanaan latihan dasar bagi CPNS akan
dibekali dengan latihan-latihan seperti :
a. Kegiatan Olah Raga dan Kesehatan Fisik;
b. Kesiapsiagaan dan kecerdasan Mental;
c. Kegiatan Baris-berbaris, Apel, dan Tata Upacara;
d. Keprotokolan;
e. Fungsi-fungsi Intelijen dan Badan Pengumpul Keterangan;
f. Kegiatan Ketangkasan dan Permainan (Basseng et al., 2017).

B. Nilai Dasar PNS


1. Berdasarkan dari kelima nilai dasar ANEKA yaitu Akuntabilitas
Nasionalisme, Etika publik, Komitmen mutu dan Anti korupsi
yang harus ditanamkan kepada setiap ASN maka perlu di ketahui
nilai dasar dari kelima kata tersebut yaitu:
1. Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah kata yang sudah tidak asing lagi kita
dengar, namun seringkali kita susah untuk membedakannya
dengan responsibilitas. Namun dua konsep tersebut memiliki arti
yang berbeda. Responsibilitas adalah kewajiban untuk
bertanggung jawab, sedangkan akuntabilitas adalah kewajiban
pertanggungjawaban yang harus dicapai. Lebih lanjut
akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok,
atau institusi untuk memenuhi jawab yang menjadi amanahnya.
Adapun indikator dari nilai akuntabilitas adalah:
a. Kepemimpinan
Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas ke bawah
dimana pimpinan memainkan peranan yang penting dalam
menciptakan hal tersebut.
b. Transparansi

17
Transparansi dapat diartikan sebagai keterbukaan atas
semua tindakan dan kebijakan yang dilakukan oleh individu
maupun kelompok / institusi.
c. lntegritas
lntensitas mempunyai makna konsistensi dan keteguhan
yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur
dan keyakinan.
d. Tanggungjawab
Tanggungjawab merupakan kesadaran manusia akan
tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang
tidak disengaja. Tanggungjawab juga dapat berarti berbuat
sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban.
e. Keadilan
Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral
mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda maupun
orang.
f. Kepercayaan
Rasa keadilan membawa pada sebuah kepercayaan.
Kepercayaan ini akan melahirkan akuntabilitas.
g. Keseimbangan
Pencapaian akuntabilitas dalam lingkungan kerja, diperlukan
adanya keseimbangan antara akuntabilitas dah kewenangan,
serta harapan dan kapasitas. Selain itu adanya harapan
dalam mewujudkan kinerja yang baik juga harus disertai
dengan keseimbangan kapasitas sumber daya dan keahlian
(skill) yang dimiliki.
h. Kejelasan
Fohkus utama untuk kejelasan adalah mengetahui
kewenangan, peran dan tanggungjawab, misi organisasi,
kinerja yang diharapkan organisasi, dan sistem pelaporan
kinerja baik individu maupun organisasi.

18
i. Konsistensi
Konsistensi adalah sebuah usaha untuk terus dan terus
melakukan sesuatu sampai pada tercapainya tujuan akhir.
2. Nasionalisme
Nasionalisme dalam arti sempit adalah suatu sikap yang
meninggikan bangsanya sendiri, sekaligus tidak menghargai
bangsa lain sebagaimana mestinya.. Sikap seperti ini jelas
mencerai beraikan bangsa yang satu dengan bangsa yang lain.
Prinsip dalam arti luas, nasionalisme merupakan
pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan
negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain.
Prinsip nasionalisme bangsa Indonesia dilandasi
nilai-nilai Pancasila yang diarahkan agar bangsa Indonesia
senantiasa: menempatkan persatuan kesatuan, kepentingan
dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan
pribadi /atau kepentingan golongan; menunjukkan sikap rela
berkorban demi kepentingan bangsa dan negara; bangga
sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta tidak
merasa rendah diri; mengakui persamaan derajat,
persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan
sesama bangsa; menumbuhkan sikap saling mencintai sesama
manusia; mengembangkan sikap tenggang rasa.
Ada lima indikator dari nilai-nilai dasar nasionalisme yang
harus diperhatikan, yaitu :
a. Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa
1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan
ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2) Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan
Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan
kepercayaannya masing-masing menurut dasar
kemanusiaan yang adil dan beradab.

19
3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan
bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut
kepercayaan yang berbedabeda terhadap Tuhan Yang
Maha Esa.
4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat
beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha
Esa.
5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi
manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan
menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan
kepercayaannya masing-masing.
7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain
b. Sila Kedua : Kemanusiaan yang adil dan beradap
1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan
harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang
Maha Esa.
2) Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan
kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan
suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin,
kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa
selira.
5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap
orang lain.
6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
8) Berani membela kebenaran dan keadilan.

20
9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari
seluruh umat manusia.
10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan
bekerjasama dengan bangsa lain.
c. Sila Ketiga : Persatuan Indonesia
1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta
kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai
kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan
golongan.
2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan
bangsa apabila diperlukan.
3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan
bertanah air Indonesia.
5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar
Bhinneka Tunggal Ika.
7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan
bangsa.
d. Sila Keempat : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap
manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan
kewajiban yang sama.
2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan
untuk kepentingan bersama.
4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh
semangat kekeluargaan.

21
5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang
dicapai sebagai hasil musyawarah.
6) Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima
dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di
atas kepentingan pribadi dan golongan.
8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai
dengan hati nurani yang luhur.
9) Keputusan yang diambil harus dapat
dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang
Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia,
nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan
persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang
dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.
e. Sila Kelima : Keadilan sosial bagi seluruh Indonesia
1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang
mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan
kegotongroyongan.
2) Sikap adil terhadap sesama.
3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
4) Menghormati hak orang lain.
5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat
berdiri sendiri.
6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang
bersifat pemerasan terhadap orang lain.
7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat
pemborosan dan gaya hidup mewah.
8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan
atau merugikan kepentingan umum.
9) Suka bekerja keras.

22
10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat
bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan
kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial
3. Etika Publik
Etika lebih dipahami sebagai refleksi atas baik/buruk,
benar/salah yang harus dilakukan atau bagaimana melakukan
yang baik atau benar, sedangkan moral mengacu pada
kewajiban untuk melakukan yang baik atau apa yang seharusnya
dilakukan. Dalam kaitannya dengan pelayanan publik, etika
publik adalah refleksi tentang standar/norma yang menentukan
baik/buruk, benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk
mengarahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan
tanggung jawab pelayanan publik.
Nilai-nilai dasar etika publik sebagaimana tercantum
dalam Undang-Undang ASN, yakni sebagai berikut:
a. memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi Pancasi!a;
b. setia dalam mempertahankan UUD 1945;
c. menjalankan tugas secar profesional dan tidak memihak;
d. memuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian;
e. menciptakan lingkungan kerja yang nondiskriminatif;
f. memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur;
g. mempertanggung jawabkan tindakan dan kinerja publik;
h. memillki kemampuan menjalankan kebijakan pemerintah;
i. memtingkan layanan kepada publik secara jujur, tanggap,
cepat,tepat, akurat, berdaya guna, berhasil guna, dan santun;
j. mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi;
k. menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerja sama;
l. mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja
pegawai;
m. mendorong kesetaraan dalam pekerjaan

23
n. menilngkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang
demokratis sebagai perangkat sistem karir.
4. Komitmen Mutu
Komitmen mutu merupakan pelaksanaan pelayanan
publik dengan berorientasi pada kualitas hasil. Adapun nilai-nilai
komitmen mutu antara lain:
a. efektif, yaitu berhasil guna dapat mencapai hasil sesuai
dengan target;
b. efisien, yaitu berdaya guna, dapat menjalankan tugas dan
mencapai hasil tanpa menimbulkan pemborosan;
c. inovasi, yaitu penemuan sesuatu yang baru atau
mehgandung kebaruan;
d. berorientasi mutu, yaitu ukuran baik buruk yang di persepsi
individu terhadap produk atau jasa.

5. Anti Korupsi
Anti Korupsi adalah tindakan atau gerakan yang dilakukah
untuk memberantas segala tingkah laku atau tindakan yang
melawan norma-norma dengan tujuan memperoleh keuntungan
pribadi, merugikan negara atau masyarakat baik secara langsung
maupun tidak langsung negara, suap-menyuap, pemerasan,
perbuatan curang, penggelapan dalam jabatan, benturan
kepentingan dalam pengadaan dan gratifikasi.
lndikator yang ada pada nilai dasar anti korupsi meliputi:
a. mandiri yang dapat membentuk karakter yang kuat pada
seseorang sehingga menjadi tidak bergantung terlalu banyak
pada orang lain. Pribadi yang mandiri tidak akan menjalin
hubungan dengan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab
demi mencapai keuntungan sesaat;
b. kerja keras merupakan hal yang penting dalam rangka
tercapainya target dari suatu pekerjaan. Jika target

24
dapat tercapai, peluang untuk korupsi secara materiil
maupun non materiil (waktu) menjadi lebih kecil;.
c. berani untuk menKedawung 1an atau melaporkan pada
atasan atau pihak yang berwenang jika mengetahui ada
pegawai yang melakukan kesalaha
d. disiplin berkegiatan dalam aturan undang-undung yang
mengatur;
e. peduli yang berarti ikut merasakan dan menolong apa yang
dirasakan orang lain;
f. Jujur yaitu berkata dan bertindak sesuai dengan kebenaran
(dharma);
g. tanggung jawab yaitu berani dalam menanggung resiko atas
apa yang kita kerjakan dalam bentuk apapun;
h. sederhana yang dapat diartikan menerima dengan tulus dan
iklas terhadap apa yang telah ada dan diberikan oleh Tuhan
kepada kita;
i. adil yaitu memandang kebenaran sebagai tindakan dalam
perkataan maupun perbuatan saat memutuskan peristiwa
yang terjadi.
C. Kedudukan dan Peran PNS dalam NKRI
Untuk mewujudkan birokrasi yang professional dalam
menghadapi tantangan-tantangan global, pemerintah melalui UU Nomor
5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara telah bertekad untuk
menbelola aparatur sipil negara menjadi semakin professional. Undang-
undang ini merupakan dasar dalam manajemen aparatur sipil negara
yang bertujuan untuk membangun aparat sipil negara yang memiliki
integritas, profesional dan netral serta bebas dari intervensi politik, juga
bebas dari praktek KKN, serta mampu menyelenggarakan pelayanan
publik yang berkualitas bagi masyarakat.

25
1. Manajemen ASN
Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk
menghasilkan Pegawai ASN yang professional, memiliki nilai dasar,
Juka profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik Korupsi,
kolusi, dan nepotisme. Manajemen ASN lebih menekahkan kepada
pengaturan profesi pegawai sehingga diharapKan agar selalu
tersedia sumber daya aparatur sipil Negara yang unggul selaras
dengan perkembangan jaman.
Adapun asas-asas manajemen ASN, antara lain:
a. kepastian hukum;
b. profesionalitas;
c. proporsionalitas;
d. keterpaduan;
e. delegasi;
f. netralitas;
g. akuntabilitas;
h. efektif dan efisien;
i. keterbukaan;
j. non diskriminatif;
k. persatuan;
l. kesetaraan;
m. keadilan;
n. kesejahteraan.

2. Pelayanan Publik
Pelayanan Publik menurut Lembaga Administrasi segala bentuk
pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi Pemerintah di
pusat dan daerah dan dilingkungan BUMN/BUMD dalam bentuk
barang atau jasa baik dalam perrienuhan kebutuhan masyarakat.
Adapun prinsip pelayanan publik yang baik untuk mewujudkan
pelayanan prima adalah:

26
a. Partisipatif
Dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang dibutuhkan
masyarakat pemerintah perlu melibatkan masyarakat dalam
merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasilnya.
b. Transparan
Dalam penyelenggaraan pelayanan publik, pemerintah sebagai
penyelenggara pelayanan publik harus menyediakan akses bagi
warga negara untuk mengetahui segala hal yang terkait dengan
pelayanan publik yang diselenggarakan tersebut.
c. Responsif
Dalam penyelenggaraan pelayanan publik pemerintah wajib
mendengar dan memenuhi tuntutan kebutuhan warga
negaranya terkait dengan bentuk dan jenis pelayanan publik
yang mereka butuhkan, mekanisme penyelenggaraan layanan,
jam pelayanan, prosedur, dan biaya penyelenggaraan
pelayanan.
d. Tidak Diskriminatif
Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah tidak
boleh dibedakan antara satu warga negara dengan warga
negara yang lain atas dasar perbedaan identitas warga negara.
e. Mudah dan Murah
Penyelenggaraan pelayanan publik dimana masyarakat harus
memenuhi berbagai persyaratan dan membayar fee untuk
memperoleh layanan yang mereka butuhkan harus diterapkan
prinsip mudah dan murah. Hal ini perlu ditekankan karena
pelayanan publik yang diseleggarakan oleh pemerintah tidak
dimaksudkan untuk mencari keuntungan melainkan untuk
memenuhi mandat konstitusi.

f. Efektif dan Efisien

27
Penyelenggaraan pelayan publik harus mampu mewujudkan
tujuan-tujuan yang hendak dicapainya dan cara mewujudkan
tujuan tersebut dilakukan dengan prosedur yang sederhana,
tenaga kerja yang sedikit, dan biaya yang murah.
g. Akseibel
Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah harus
dapat dijangkau oleh warga negara yang membutuhkan dalam
arti fisik dan dapat dijangkau dalam arti non-fisik yang terkait
dengan biaya dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh
masyarakat untuk mendapatkan layanan tersebut.
h. Akuntabel
Semua bentuk penyelenggaraan pelayanan publik harus dapatl
dipertanggungjawabkan secara terbuka kepada masyarakat.
Pertanggungjawaban di sini tidak hanya secara formal kepada
atasan akan tetapi yang lebih penting
harusdipertanggungjawabkan secara terbuka kepada
masyarakat luas melalui media publik.
i. Berkeadilan
Penyel!nggaraan pelayanan publik harus dapat dijadikan sebagai
alat melindungi kelompok rentan dan mampu menghadirkan rasa
keadilan bagi kelompok lemah ketika berhadapan dengan
kelompok yang kuat.

3. Whole Of Government
Whole of government (WoG) adalah sebuah pendekatan
penyelenggaraan pemerintahan yang menyatukan upaya-upaya
kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang
lingkup koordinasi yang lebih luas guna rnencapai tujuan-tujuan
pembangunan kebijakan, manajernen program dan pelayanan
publik.

28
Pendekatan WoG dapat dilihat dan dibedakan berdasarkan
perbedaan kategori hubungan antara kelembagaan yang terlibat
sebagai berikut:
a. Koordirlasi, yang tipe hubungannya dapat dibagi lagi menjadi:
 penyertaan, yaitu pengembangan strategi dengan
mempertimbangkan dampak;
 dialog atau pertukaran informasi;
 joint planning, yaitu perencanaan bersama untuk kerjasama
sementara.
b. lntegrasi, yang tipe hubungannya dapat dibagi lagi menjadi:
 joint working, atau kolaborasi sernentara;
 joirlt ventrure, yaitu perencanaan jangka panjang, kerjasama
pada pekerjaan besar yang menjadi urusan utama salah satu
peserta kerjasarna;
 satelit, yaitu entitas yang terpisah, dimiliki bersama, dibentuk
sebagai mekanisme integratif.
c. Kedekatan dan pelibatan, yang tipe hubungannya dapat . dibagi
lagi menjadi:
 aliansi strategis, yaitu perencanaan jangka panjang,
kerjasama pada isu besar yang menenjadi urusan utama slah
satu peserta kerjasama;
 Union. berupa Unifikasi resmi, identitas masing-masing masih
nampak; merger, yaitu penggabungan ke dalam struktur baru.

29
BAB III
GAMBARAN UMUM PUSKESMAS KEDAWUNG 1

A. Profil Puskesmas
1. Dasar Hukum
Pembangunan Kesehatan di selenggarakan berdasarkan sistem
Kesehatan Nasional (SKN), yang merupakan suatu tatanan yang
menghimpun berbagai upaya bangsa Indonesia secara terpadu dan
saling mendukung, guna menjamin derajat kesehatan setinggi
tingginya, sebagai perwujudan kesejahteraan umum.

Melalui UU No. 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah


telah menetapkan bidang kesehatan merupakan salah satu
kewenangan wajib yang harus di laksanakan Kabupaten . Seperti
tercantum dalam KepMenKes Nomor 1457 / MenKes / SK / X / 2003
tentang standar pelayanan minimal bidang kesehatan di kabupaten
/ Kota. propinsi Jawa Tengah mengeluarkan pula keputusan
Gubernur Jawa Tengah Nomor 71 tahun 2004 .tentang standar
pelayanan minimal kesehatan Kabupaten / Kota di propinsi Jawa
Tengah.

Sistem Informasi Kesehatan merupakan salah satu


komponen utama manajemen kesehatan, suatu tatanan yang
mencakup komponen masukan, yang merupakan data tentang
kesehatan, komponen proses, dan komponen keluaran. Sistem
Informasi Kesehatan digunakan sebagai bahan dalam manajemen
kesehatan, yang mencakup perumusan kebijakan, perencanaan
strategis, manajemen operasional dan manajemen pengendalian
pengawasan.
Dewasa ini sistem informasi kesehatan belum sepenuhnya
berfungsi secara efektif dan efisien dalam menunjang program
program kesehatan. Sementara itu kebutuhan data atau informasi

30
dalam menunjang pembangunan nasional, khususnya di bidang
kesehatan semakin meningkat, terutama sejak pelaksanaan Undang
Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang otonomi Daerah. salah satu
keluaran dari sistem Informasi Kesehatan yang di kembangkan
adalah Profil Kesehatan Kabupaten, yang diharapkan mendukung
pelaksanaan manajemen Kesehatan dan pengembangan upaya -
upaya Kesehatan demi peningkatan derajat kesehatan masyarakat .
Wilayah Kecamatan Kedawung seluas 49,78 km². Sebagian
besar wilayah Kecamatan Kedawung merupakan daerah pertanian
dan juga memiliki perkebunan karet seluas 482,39 Ha dan memiliki
ketinggian 116 di atas permukaan laut. Jumlah curah hujan 2.123
mm/th dan 119 hari hujan. Ibukota Kecamatan Kedawung terletak
di Desa Bendungan yang berjarak 8,5 km dari ibukota Kabupaten
Sragen dan 39,5 km dengan Kota Surakarta. Desa Bendungan
menjadi ibukota Kecamatan Kedawung karena letak desa tersebut
sangat representatif dan berada di ujung timur dari desa yang lain.
Kecamatan Kedawung memiliki 2 Pusat Kesehatan
Masyarakat (Puskesmas) yaitu Puskesmas Kedawung I dan
Puskesmas Kedawung II. Pusat Kesehatan Masyarakat
(Kedawung I) terletak di ibukota Kecamatan Kedawung yaitu di
Dusun Kampungbaru, Desa Bendungan, Kecamatan Kedawung,
Kabupaten Sragen Tujuan disusunnya profil Kesehatan
Puskesmas Kedawung 1 adalah tersedianya data atau informasi
yang akurat, tepat waktu dan sesuai kebutuhan dalam rangka
meningkatkan kemampuan manajemen kesehatan secara berhasil
guna dan berdaya guna. Puskesmas Kedawung I merupakan salah
satu puskesmas yang berada di Kabupaten Sragen, Wilayah kerja
Puskesmas Kedawung I terdiri dari 5 desa yaitu Desa Kedawung,
Desa Bendungan, Desa Wonokerso, Desa Wonorejo, dan Desa
Mojokerto. Desa Bendungan dengan luas 665,33 Ha merupakan

31
desa yang paling luas wilayahnya, sedangkan luas wilayah terkecil
di Desa Wonorejo dengan luas wilayah 293,59 Ha.
Puskesmas Kedawung I Kabupaten Sragen adalah
Puskesmas rawat jalan dengan rawat inap sesuai Surat Keputusan
Bupati Kabupaten Sragen Nomor 445.5/195/002/2014 tentang Izin
Operasional Pusat Kesehatan Masyarakat Milik Pemerintah
Kabupaten Sragen tanggal 2 Juni 2014. Sifat strategi bisnis adalah
sosio ekonomi atau not to profit dan lebih menekankan pada
pelayanan sosial kepada masyarakat tidak mampu bagi
masyarakat di wilayah Sragen.
UPTD Puskesmas Kedawung memiliki 3 (tiga) dokter umum,
1 dokter sebagai struktural Kepala Puskesmas dan 2 orang dokter
sebagai tenaga fungsional dokter umum. Kunjungan Ruang
Pemeriksaan Umum di UPTD Puskesmas Kedawung I rata-rata
perhari ± 70 pasien, dengan komposisi tenaga dokter seperti diatas,
maka upaya pelayanan kesehatan kepada masyarakat akan terus
diupayakan meningkat kualitasnya. Pelayanan kesehatan di
puskesmas tidak hanya upaya kesehatan perorangan saja, tetapi
ada upaya kesehatan masyarakat yang masih banyak memerlukan
perhatian dari semua komponen puskesmas termasuk staf medis,
para medis, maupun non medis.
Demikian pula jumlah tenaga bidan, perawat dan tenaga
administrasi/pelaksana di UPTD Puskesmas Kedawung I masih
perlu penambahan tenaga. Oleh karena tenaga bidan, perawat dan
tenaga administrasi yang ada sekarang telah memiliki tugas
tambahan lebih dari satu tugas tambahan. Dengan semakin
kompleksnya permasalahan kesehatan di wilayah UPTD
Puskermas Kedawung I serta kurangnya dukungan sumber daya
manusia (SDM) ini tentunya akan berdampak pada hasil
pencapaian cakupan program-program yang ada di UPTD
Puskermas Kedawung I. Selain memberikan pelayanan kesehatan

32
rawat jalan, di Puskesmas Kedawung I juga terdapat pelayanan
rawat inap dengan jumlah tempat tidur 13 bed. Kekurangan tenaga
perawat, menyebabkan perawat yang bertugas di UGD juga
merangkap petugas rawat inap.

2. Visi, Misi, Motto dan Nilai


a. Visi
Menjadi Puskesmas yang Handal, Kompetitif, dan Bermartabat
b. Misi
1) Menyelengarakan Pelayanan kesehatan yang merata bermutu
dan terjangkau
2) Meningkatkan SDM, sarana dan prasarana di puskesmas
untuk mendukung pelayanan.
3) Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan,
keluarga dan masyarakat berserta lingkungannya.
4) Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.
5) Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di
wilayah kerja Puskesmas
c. Moto
Dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat
selalu SERASI (Senyum, Ramah, Santun, Inovatif)
d. Nilai
Tata Nilai yang dianut di Puskesmas Kedawung I adalah CAKAP
C – Cepat
A – Amanah
K – Komunikatif
A – Akurat
P – Pelayanan Prima

33
3. Struktur Organisasi Dan Tugas Fungsi

34
Tugas dan Peranan :
1. Puskesmas Kedawung 1 berada di kawasan pedesaan
Pola struktur organisasi Puskesmas yang dapat dijadikan acuan di
Puskesmas kawasan perdesaan adalah sebagai berikut:
a. Kepala Puskesmas :
Kriteria Kepala Puskesmas yaitu tenaga kesehatan dengan
tingkat pendidikan paling rendah sarjana, memiliki kompetensi
manajemen kesehatan masyarakat, masa kerja di Puskesmas
minimal 2 (dua) tahun, dan telah mengikuti pelatihan manajemen
Puskesmas.
b. Kasubag Tata Usaha, membawahi beberapa kegiatan
diantaranya Sistem lnformasi Puskesmas, kepegawaian, rumah
tangga, dan keuangan
c. Penanggungjawab UKM esensial dan keperawatan kesehatan
masyarakat yang membawahi:
a) pelayanan promosi kesehatan termasuk UKS
b) pelayana kesehatan lingkungan
c) pelayanan KIA-KB yang bersifat UKM
d) pelayana gizi yang bersifat UKM
e) pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit
f) pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat
d. Penanggungjawab UKM Pengembangan
Membawahi upaya pengembangan yang dilakukan Puskesmas,
antara lain:
a) pelayanamI kesehatan olahraga
b) pelayanan kesehatan lansia
c) Pelayanan kesehatan Jiwa
e. Penanggungjawab UKP, kefarmasian, dan laboratorium
membawahi beberapa kegiatan, yaitu:
a) pelayanan pemeriksaan umum

35
b) pelayanan kesehatan gigi dan mulut
c) pelayanan KIA-KB yang belsifat UKP
d) pelayanan gawat darurat
e) pelayanan gizi yang bersifat UKP
f) pelayanan persalinan
g) pelayanan rawat inap
h) pelayanan kefarmasian
i) pelayanan laboratorium
f. Penanggungjawab jaringan pelayanan Puskesmas dan jejaring
fasilitas pelayanan kesehatan, yang membawahi:
a) Puskedmas Pembantu
b) Puskedmas Keliling
c) Bidan Desa
d) Jejaring fasilitas pelayanan kesehatan

B. Tenaga Kesehatan
1. Jumlah Tenaga Medis (dokter umum, spesialis, dokter gigi) di
Sarana Kesehatan
a. Dokter spesialis : -
b. Dokter Umum : 3 orang
c. Dokter gigi : 1 orang

2. Jumlah Tenaga Keperawatan (bidan, perawat) di Sarana


Kesehatan
a. Bidan : 17 orang
b. Perawat : 19 orang

3. Jumlah Tenaga Kefarmasian (apoteker, asisten apoteker) di


Sarana Kesehatan
a. Apoteker : 1 orang
b. D Ill Farmasi Asisten Apoteker : 1 orang

36
4. Jumlah dan Rasio Tenaga Gizi (ahli gizi) di Sarana Kesehatan
a. D-IV Gizi : -
b. D Ill Gizi : 2 orang

5. Jumlah Tenaga Kesehatan Masyarakat (kesmas, sanitarian) di


Sarana Kesehatan
a. Sarjana Kesmas :-
b. D Ill Kesmas : 1 orang
c. Tenaga Sanitasi :-

6. Jumlah Tenaga Teknisi Medis dan Fisioterapis di Sarana


Kesehatan
a. Analis Kesehatan : 1 orang
b. Radiografer :-
c. Fisioterapis : 1 orang
d. Rekam Medis dan informatik kesehatan : 1 orang

7. Jumlah Tenaga Kesehatan Lain Di Fasilitas Kesehatan


a. Pengelola program kesehatan : 36 orang
b. Tenaga kesehatan lainnya : 5 orang

8. Jumlah Tenaga Non Kesehatan di Fasilitas Kesehatan


Staf penunjang administrasi : 6 orang

Tabel 3.1. Sarana Prasarana Puskesmas


NO NAMA RUANG KETERANGAN
RUANG KANTOR
1 Ruang Administrasi Kantor Di dalam Ruangan Ada beberapa meja
beserta komputer dan pinter
2 Ruangan Kepala Puskesmas Digunakan oleh Kepala Puskesmas
3 Ruangan Kepala Tata Usaha Digunakan oleh Kepala Tata Usaha
4 Ruangan Pertemuan/aula.rapat Digunakan untuk kegiatan lain dalam
mendukung pelayanan kesehatan
(ruang multifungsi).

37
RUANGAN PELAYANAN
5 Ruangan pendaftaran dan Rekam Medik Ada
6 Ruangan Tunggu Ada
7 Ruangan Gawat Darurat (UGD) Ada
8 Ruangan Kesehatan anak dan imunisasi Ada
9 Ruangan Kesehatan Ibu dan KB Ada
10 Ruangan Kesehatan Gigi dan Mulut Ada
11 Ruangan Asi Ada
12 Ruangan Promosi Kesehatan Digunakan untuk konsultasi dan
konseling
13 Ruangan Farmasi Ada
14 Ruangan Persalinan Ada
15 Ruangan Pasca Persalinan Ada
16 Ruangan Tindakan Ada
17 Kamar Mandi/ WC pasien laki-laki, Ada
perempuan, dan difabel secara terpisah.
18 Laboratorium Ada
19 Ruangan Cuci Linen Ada
20 Ruangan Sterilisasi Ada
21 Ruangan Penyelenggaraan Makanan Ada
22 Kamar Mandi/ WC Rawat Inap Ada
23 Kamar Mandi/ WC Petugas Ada
24 Ruangan Jaga Petugas Ada
25 Gudang Umum Ada
PENDUKUNG
26 Parkir kendaraan roda 2 dan 4 serta garasi Ada
untuk ambulans dan Puskesmas Keliling.
Sumber : Tabel dari Bagian Tata Usaha Puskesmas Kedawung.

C. Tugas Jabatan Peserta Diklat


Tugas Jabatan Peserta Diklat (Apoteker Ahli Pertama) sesuai
dengan PERMENKES No 377 Tahun 2009 :
1. Membuat kerangka acuan dalam rangka Penyiapan Rencana
Kegiatan Kefarmasian
2. Mengklasifikasi perbekalan farmasi dalam rangka Pemilihan
Perbekalan Farmasi
3. Inventarisasi pemasok perbekalan farmasi dalam rangka Pemilihan
Perbekalan Farmasi
4. Mengolah data dalam rangka Perencanaan Perbekalan Farmasi
5. Mengawasi kegiatan dalam rangka Sterilisasi Sentral

38
6. Merekapitulasi daftar usulan perbekalan farmasi dalam rangka
Penghapusan Perbekalan Farmasi
7. Meracik obat resep individual dalam rangka Dispensing
8. Visite ke ruang rawat
9. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
10. Konseling obat
11. Konsultasi dengan dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya
12. Mendokumentasikan dalam rangka Pemantauan Penggunaan Obat
13. Pelayanan jarak jauh (Remote Service)
14. Pelayanan di tempat tinggal (Home Care)
15. Ambulatory Service
16. Swamedikasi
17. Pelayanan paliatif

D. ROLE MODEL
Role model adalah panutan, yang dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia sama artinya dengan teladan yaitu suatu yang patut ditiru atau
baik untuk di contoh seperti teladan, kelakuan, perbuatan, sifat dan
sebagainya. Dalam hal ini penulis memilih Role model yang penulis pilih
sebagai inspirasi serta motivasi saya menjadi ASN Bapak dari penulis
sendiri yaitu Bapak Raden Supraptono, S.Pd., M.Si. Beliau adalah
seorang Guru PNS Golongan IV C yang sekarang bertugas di SMA
Negeri 1 Sragen. Saya memilih beliau sebagai role model karena beliau
mengajarkan penerapan nilai-nilai dasar PNS yang selaras dengan yang
saya terapkan dalam aktualisasi saya ini. Beliau mengajarkan menjadi
PNS yang profesional dan berintegritas dengan menerapkan nilai
akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu dan anti
korupsi.
Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut saya dapat
melaksanakan kedudukan peran saya yaitu manajemen ASN, whole of
government dan pelayanan publik dengan baik. Beliau juga merupakan

39
seorang yang ramah,baik selalu memberiakan semangat dan perhatian
terhadap anak-anaknya. Walaupun beda profesi yang dijalani namun
beliaulah yang mendorong penulis untuk mencontohnya dan berupaya
melebihi capaian-capaiannya dijalur kesehatan serta untuk
melaksanakan tugas sebagai ASN Apoteker Ahli Pertama yang
profesional di Puskesmas Kedawung 1 Sragen berperan untuk
meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia khususnya di wilayah
Kecamatan Kedawung dan sekitarnya.

40
BAB IV
RANCANGAN KEGIATAN AKTUALISASI-HABITUASI

A. Daftar Rancangan Kegiatan Aktualisasi dan Keterkaitan dengan


nilai ANEKA
Kegiatan aktualisasi adalah kegiatan yang dilaksanakan
berdasarkan isu yang terjadi di institusi. Ada 3 (tiga) kemampuan yang
perlu dimiliki PNS dalam menetapkan isu. Pertama, environmental
scanning yaitu kepekaan terhadap kebutuhan dan masalah dalam
organisasi. Kedua, problem solving yaitu kemampuan untuk
memberikan solusi yang paling efektif. Ketiga, analisis yaitu mampu
melakukan telaah terhadap masalah, dampak, implikasi, dan/ atau
manfaat dari keputusan atau program yang diambil. Identifikasi isu
dilakukan untuk menentukan isu yang aktual. Dalam bab ini, isu yang
diangkat akan diatasi dengan beberapa kegiatan aktualisasi Apoteker
di unit kerjanya.
Tabel 4.1 Nilai-Nilai Dasar PNS dalam Kegiatan

Unit Kerja Puskesmas Kedawung 1 Kabupaten Sragen


1. Kurang optimalnya petugas farmasi dalam penandaan obat obat LASA /
High Alert
2. Kurang optimalnya edukasi kepatuhan penggunaan obat antibiotik
Puskesmas Kedawung 1 Sragen
3. Kurangnya kedisiplinan petugas farmasi dalam mencatat pengambilan obat
Identifikasi Isu
pada kartu stok di Puskesmas Kedawung 1
4. Belum optimalnya waktu tunggu pelayanan obat racikan Puskesmas
Kedawung 1
5. kurangnya penyediaan obat dari Instalasi Farmasi Dinkes sehingga
mempengaruhi pelayanan di ruang farmasi Puskesmas
Isu yang Kurang optimalnya edukasi kepatuhan penggunaan obat antibiotik Puskesmas
Diangkat Kedawung 1 Sragen
Optimalisasi kepatuhan pasien dalam minum obat dengan pelayanan konseling
di Puskesmas Kedawung 1 dengan 6 kegiatan:
1. pembuatan leaflet sebagai alat bantu untuk memberikan konseling kepada
pasien
2. mengaplikasikan Patient Medication Record (PMR) sebagai catatan riwayat
Gagasan
pengobatan dan kunjungan pasien saat melakukan konseling
Pemecahan Isu
3. pembuatan kartu pengingat pengobatan kepada pasien untuk meningkatkan
kepatuhan minum obat
4. melakukan penyuluhan terkait dengan kepatuhan minum obat
5. melakukan pemberian Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) kepada pasien
6. evaluasi hasil pelaksanaan aktualisasi di Puskesmas Kedawung 1 Sragen

41
Tabel 4.2 Tabel Rancangan Aktualisasi di Puskesmas Kedawung 1
Penguatan
Kontribusi terhadap
Nilai-nilai
N Keterkaitan Substansi dengan nilai Visi Misi Organisasi
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output / Hasil Organisasi
o A.N.E.K.A Puskesmas
Puskesmas
Kedawung 1
kedawung 1
1 2 3 4 5 6 7
1. Pembuatan media 1. Konsultasi kepada Output: Nilai Dasar ASN Kontribusi kegiatan ini Aktualisasi nilai-
sosialisasi sebagai Kepala Puskesmas Tersedianya 1. Saya berkonsultasi sebelum memulai adalah sebagai nilai dasar PNS
alat bantu untuk Kedawung 1 untuk leaflet, Poster kegiatan dengan kepala puskesmas perwujudan dengan berupa Etika Publik,
memberikan konseling pembuatan sebagai alat (Etika Publik :, Hormat, Sopan, Taat visi dan misi Nasionalisme,
(Sumber : Inovasi) leaflet/poster bantu saat Peraturan) Puskesmas Kedawung Akuntabilitas, Anti
2. Berkoordinasi dengan melakukan 2. Saya bermusyawarah dengan Tim 1 dalam melaksanakan Korupsi, dan
tim di ruangan instalasi konseling ke farmasi dan UKP (Nasionalisme: Sila pelayanan Promotif, Komitmen Mutu
farmasi dan tim UKP pasien. ke 4 musyawarah, sila ke 3: Preventif, Kuratif dan dalam kegiatan ini
untuk penyusunan kerjasama) Rehabilitatif dengan memperkuat nilai
materi leaflet/poster 3. Saya memberikan informasi ke pasien pelayanan Handal, organisasi
3. Mencetak leaflet/poster biar pasien tahu informasi dari Kompetitif, dan Puskesmas
yang telah disepakati pengobatan dan penyakit Bermartabat Kedawung 1
4. Pemberian leaflet (akuntabilitas : Kejelasan, “CAKAP”, yaitu :
kepada pasien sesuai Tanggung Jawab; Komitmen Mutu : Amanah dan
penyakitnya dan kepada Inovatif) Akurat
pasien yang 4. Saya membuat media sosialisasi
membutuhkan konseling dengan tepat waktu (Anti Korupsi:
terkait kepatuhan Kerja Keras, Disiplin)
minum obat
2. Mengaplikasikan 1. Konsultasi kepada Output: Nilai Dasar ASN Kontribusi kegiatan ini Aktualisasi nilai-
Patient Medication Kepala Puskesmas Pengaplikasian 1. Saya berkonsultasi sebelum memulai adalah sebagai nilai dasar PNS
Record (PMR) Kedawung 1 tentang Patient kegiatan dengan kepala puskesmas perwujudan dengan berupa Etika Publik,
sebagai catatan Patient Medication Medication (Etika Publik :, Hormat, Sopan,Taat visi dan misi Nasionalisme,
riwayat pengobatan Record (PMR) Record (PMR) Peraturan Nasionalisme: Sila ke 4 Puskesmas Kedawung Akuntabilitas, Anti
dan kunjungan 2. Menentukan sasaran saat melakukan musyawarah 1 dalam meningkatkan Korupsi, dan
pasien saat pasien yang perlu konseling. 2. Saya melaksanakan kegiatan dan mengembangkan Komitmen Mutu
melakukan konseling diberikan konseling baik dengan memberikan informasi ke pelayanan kesehatan dalam kegiatan ini
(Sumber :SKP) pasien rawat jalan pasien biar pasien dari dasar riwayat sesuai dengan memperkuat nilai
maupun rawat inap pengobatan dari PMR berupaya meningkatkan SDM, organisasi
3. Diisi tambahan peningkatan mutu pelayanan sebagai sarana dan prasarana Puskesmas
keterangan saat apoteker harus bersikap amanah, di puskesmas untuk Kedawung 1
melakukan konseling tanggung jawab dan adil dalam mendukung pelayanan “CAKAP”, yaitu :
dengan pasien melayani pasien agar tercapai terapi Akurat dan Amanah
42
Penguatan
Kontribusi terhadap
Nilai-nilai
N Keterkaitan Substansi dengan nilai Visi Misi Organisasi
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output / Hasil Organisasi
o A.N.E.K.A Puskesmas
Puskesmas
Kedawung 1
kedawung 1
1 2 3 4 5 6 7
(Etika Publik: Intergitas tinggi,
sopan; akuntabilitas: Kejelasan,
Tanggung Jawab; Komitmen Mutu :
Inovatif; Anti Korupsi: Adil, Jujur)

3. Pembuatan kartu 1. Konsultasi dengan Output: Nilai Dasar ASN Kontribusi kegiatan ini Aktualisasi nilai-
pengingat Kepala Puskesmas Tersedianya 1. Saya berkonsultasi sebelum memulai adalah sebagai nilai dasar PNS
pengobatan kepada Kedawung 1 kartu pengingat kegiatan dengan kepala puskesmas perwujudan dengan berupa Etika Publik,
pasien untuk 2. Membuat rancangan pengobatan (Etika Publik :, Hormat, Sopan,Taat visi dan misi Nasionalisme,
meningkatkan kartu pengingat yang diserahkan Peraturan Nasionalisme: Sila ke 4 Puskesmas Kedawung Akuntabilitas, Anti
kepatuhan minum pengobatan ke pasien di musyawarah 1 dalam melaksanakan Korupsi, dan
obat dengan tepat 3. Mencetak rancangan dampingi 2. Saya membuat inovasi yaitu pelayanan Promotif, Komitmen Mutu
waktu kartu pengingat keluarga pasien meningkatkan kepatuhan sehingga Preventif, Kuratif dan dalam kegiatan ini
(Sumber : Inovasi) pengobatan yang telah pada saat bermanfaat dengan pemberian kartu Rehabilitatif secara memperkuat nilai
disetujui konseling pengingat pengobatan kepada pasien Profesional, bermutu organisasi
4. Mengisi dan (Komitmen Mutu : Inovatif) dan terjangkau Puskesmas
menyerahkan kartu 3. Saya tidak membeda-bedakan dalam Kedawung 1
pengingat pengobatan peberian jadwal minum obat (Anti “CAKAP”, yaitu :
kepada pasien Korupsi: Adil, Jujur) Komunikatif dan
4. Saya berusaha untuk mengedukasi Pelayanan Prima
pasien tersebut dapat memahami apa
yang kita tulis pada jadwal pengobatan
(Anti Korupsi: peduli, displin;
Nasionalisme Sila 2: tidak
diskriminatif; akuntabilitas:
konsistensi )
4. Melakukan penyuluhan 1.Konsultasi dengan Kepala Output : Nilai dasar ASN Kontribusi kegiatan ini Aktualisasi nilai-
terkait dengan disiplin Puskesmas Kedawung 1 Pasien paham 1. Saya berkonsultasi sebelum memulai adalah sebagai nilai dasar PNS
minum obat dengan 2.Memberikan penyuluhan mengenai kegiatan dengan kepala puskesmas perwujudan dengan berupa Etika Publik,
tepat waktu terkait dengan kepatuhan kepatuhan (Etika Publik :, Hormat, Sopan,Taat visi dan misi Nasionalisme,
(Sumber : SKP) minum obat di ruang tunggu minum obat Peraturan Nasionalisme: Sila ke 4 Puskesmas Kedawung Akuntabilitas, Anti
obat musyawarah 1 dalam melaksanakan Korupsi, dan
2. Saya menyampaikan penyuluhan pelayanan Promotif, Komitmen Mutu
dengan diwujudkan dengan Preventif, Kuratif dan dalam kegiatan ini

43
Penguatan
Kontribusi terhadap
Nilai-nilai
N Keterkaitan Substansi dengan nilai Visi Misi Organisasi
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output / Hasil Organisasi
o A.N.E.K.A Puskesmas
Puskesmas
Kedawung 1
kedawung 1
1 2 3 4 5 6 7
3.Membagikan leaflet menggunakan 5S (salam, sapa, Rehabilitatif secara memperkuat nilai
kepada pasien di ruang senyum, sopan ,santun) dalam tahap Profesional, bermutu organisasi
tunggu periksa pembukaan,jelas dan mudah dan terjangkau Puskesmas
4.Mendokumentasikan hasil dimengerti (Etika Publik: sopan, Kedawung 1
kegiatan hormat; Anti korupsi: Jujur; “CAKAP”, yaitu :
Nasionalisme sila 2: Humanis) Komunikatif dan
3. Saya dalam penyampaian penyuluhan Amanah
mengedepankan kejelasan dalam
penyampaian
(Akuntabilitas:tanggung jawab;
Komitmen Mutu: Efektif dan efisien)
5. Melakukan pemberian a. memanggil nama pasien Nilai dasar ASN Kontribusi kegiatan ini Aktualisasi nilai-
komunikasi, informasi serta alamat Output :  Saya pada saat memberikan adalah sebagai nilai dasar PNS
dan edukasi obat b. Memberi salam pasien paham KIEO kepada pasien disertai perwujudan dengan berupa Etika Publik,
(KIEO) kepada pasien c. Memperkenalkan diri tentang KIEO dengan sikap ramah sopan dan visi dan misi Nasionalisme,
(sumber : SKP) d. Konfirmasi kembali yang dijelaskan senyum serta menunjukkan sikap Puskesmas Kedawung Akuntabilitas, Anti
keluhan pasien oleh Apoteker empati Tidak membeda-bedakan 1 dalam meningkatkan Korupsi, dan
c. Menyampaikan nama pasien. (Etika Publik dan mengembangkan Komitmen Mutu
obat, indikasi obat, aturan :Ramah,sopan dan senyum; pelayanan kesehatan dalam kegiatan ini
minum dan efek samping Nasionalisme sila 2: Humanis sesuai dengan memperkuat nilai
obat Diwujudkan dengan sikap berkembangnya ilmu organisasi
d. Meminta pasien empati, sila 5:kedilan tidak dan teknologi demi Puskesmas
mengulang kembali membeda-bedakan pasien) pemenuhan kebutuhan Kedawung 1
penjelasan mengenai obat dan harapan “CAKAP”, yaitu :
e. Mendokumentasikan  Saya kemudian menjelaskan obat pelanggan. Serta Komunikatif dan
hasil kegiatan disampaikan dengan jelas dan Dalam memberikan Pelayanan Prima
mudah dimengerti agar pasien pelayanan kesehatan
dapat menerima informasi dengan kepada masyarakat
baik.(akuntabilitas:tanggung selalu SERASI
jawab; etika publik: berorientasi (Senyum, Ramah,
mutu) Santun, Inovatif)

44
B. Jadwal Rancangan Aktualisasi
Rancangan kegiatan aktualisasi yang akan dilaksanakan disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4.3. Jadwal Rencana Pelaksanaan Kegiatan Aktualisasi


Tanggal Pelaksanaan
No Kegiatan Juli Agustus
19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 22 23 24 25
Pembuatan media
sosialisasi sebagai
1
alat bantu untuk
√ √ √
memberikan konseling
Mengaplikasikan
Patient Medication
Record (PMR)
sebagai catatan
2
riwayat pengobatan
√ √
dan kunjungan pasien
saat melakukan
konseling
Pembuatan kartu
pengingat pengobatan
kepada pasien untuk
3
meningkatkan
√ √ √ √
kepatuhan minum
obat
Melakukan
Penyuluhan terkait
4
dengan kepatuhan
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
minum obat
Melakukan pemberian
komunikasi, informasi
5
dan edukasi (KIE)
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
kepada pasien

45
C. Antisipasi dan Strategi Menghadapi Kendala
Dalam pelaksanaan 5 kegiatan aktualisasi dan habituasi ANEKA,
terdapat kemungkinan kegiatan-kegiatan tersebut mengalami kendala
sehingga rancangan kegiatan ini tidak dapat direalisasikan secara
optimal atau tidak tercapai aktualisasinya. Oleh karena itu perlu
disampaikan kendala-kendala yang mungkin terjadi, langkah-langkah
antisipasi menghadapi kendala tersebut, dan perlu dicari secara cermat
strategi untuk menghadapi kendala tersebut. Kendala, resiko dan solusi
tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.4. Antisipasi dan Strategi Menghadapu Kendala
Antisipasi Strategi
No Kendala menghadapi menghadapi
kendala kendala
1. Kegiatan tidak selesai Manajemen waktu Disiplin waktu
tepat waktu dengan baik sesuai dengan
jadwal yang telah
dibuat
2. Kegiatan tidak sesuai Manajemen waktu Disiplin waktu
dengan jadwal yang telah dengan baik sesuai dengan
dibuat jadwa; yang dibuat
3. Sarana dan prasarana Koordinasi dengan Melakukan
untuk melakukan kegiatan lintas sektoral koordinasi dengan
lintas sektoral
untuk membantu
kegiatan
4. Warga masyarakat Kegiatan dilakukan Menghampiri
kurang berantusias dengan dibuat Pasien
semenarik
mungkin untuk
menarik minat

46
BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
PNS yang profesional dan memiliki karakter nilai-nilai dasar
ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan
Anti Korupsi) merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan
pemerintahan yang baik dan bersih. Untuk saat ini, diklat prajabatan
pola baru merupakan metode yang diharapkan mampu menghasilkan
PNS profesional sesuai tuntutan masyarakat.
Rancangan aktualisasi melalui habituasi di unit kerja merupakan
rancangan kegiatan untuk menyelesaikan isu dengan indetifikasi isu
yang telah dirumuskan melalui analisa APKL dan analisa USG.
Identifikasi isu yang ada dapat berasal dari individu, unit kerja maupun
dari orgnisasi, dari sana beberapa isu telah dapat diidentifikasi. Dari
beberapa isu tersebut kemudian dilakukan identifikasi dengan metode
USG. Isu yang diangkat yaitu kurang optimalnya edukasi kepatuhan
penggunaan obat antibiotik Puskesmas Kedawung 1 Sragen dari isu
tersebut muncul gagasan pemecahan isu yang tertuang dalam 6
kegiatan yang terdiri dari 3 kegiatan dari inovasi serta 2 kegiatan dari
SKP. Adapun kegiatan tersebut sebagai berikut :
1. Pembuatan media sosialisasi sebagai alat bantu untuk
memberikan konseling kepada pasien
2. mengoptimalisasi Patient Medication Record (PMR) sebagai
catatan riwayat pengobatan dan kunjungan pasien saat
melakukan konseling
3. Pembuatan kartu pengingat pengobatan kepada pasien untuk
meningkatkan kepatuhan minum obat
4. Melakukan penyuluhan terkait dengan kepatuhan minum obat
5. Melakukan pemberian komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)
kepada pasien

47
6. Evaluasi hasil pelaksanaan aktualisasi di Puskesmas Kedawung 1
Sragen
Dalam aktualisasi nilai-nilai ANEKA, Manajemen ASN, Whole of
Government, dan Pelayanan Publik di unit kerja masing-masing. Saya
akan menerapkan nilai-nilai ANEKA, yaitu :
 Akuntabilitas : tanggung jawab, kejelasan
 Nasionalisme : tidak diskriminatif, saling menghormati, empati
 Etika Publik : komunikasi terapeutik, konsultasi, kerjasama,
sopan, hormat, teliti, cepat, sopan, cermat, 5S
(Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun)
 Komitmen Mutu : berorientasi mutu, inovasi
 Anti Korupsi : adil, jujur, peduli

B. Pentingnya Rancangan Aktualisasi


1. Pentingnya Rancangan Aktualisasi Dibuat
Pentingnya Rancangan Aktualisasi dibuat karena menjadi
pedoman dan panduan untuk menyelesaikan isu melalui gagasan
pemecahan isu yang tertuang dalam kegiatan yang dirancang.
Dengan adanya pembuatan Rancangan Aktualisasi, diharapkan
pelaksanaan kegiatan aktualisasi dapat menghasilkan output yang
sesuai dengan perencanaan. Selain itu dengan membuat
Rancangan Aktualisasi, penulis juga dapat lebih memahami nilai-
nilai dasar ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik,
Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi) yang dapat diimpelementasikan
dalam berbagai kegiatan selama melaksanakan aktualisasi maupun
dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya. Penulis juga lebih paham
mengenai sikap dan perilaku yang dapat memberikan kontribusi
terhadap visi dan misi organisasi serta menguatkan nilai organisasi.

48
2. Dampak Apabila Rancangan Aktualisasi Tidak Dilaksanakan
Apabila Rancangan Aktualisasi tidak dilaksnakan maka dapat
mengakibatkan dampak berupa tidak terselesaikannya isu yang ada
di unit kerja dan dapat menghasilkan berbagai masalah yang lebih
kompleks. Selain itu pemahaman mengenai nilai-nilai dasar ANEKA
(Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti
Korupsi ) pun menjadi kurang karena tidak ada pedoman dan
panduan dalam mengimplementasikan nilai-nilai tersebut.

49
DAFTAR PUSTAKA
BUKU :
Lembaga Administrasi Negara. 2019. Aktualisasi Nilai-Nilai Dasar Profesi
Pegawai Negeri Sipil: Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai
Negeri Sipil Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2019. Akuntabilitas: Modul Pelatihan Dasar
Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2019. Anti Korupsi: Modul Pelatihan Dasar
Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2019. Etika Publik: Modul Pelatihan Dasar
Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2019. Kesiapsiagaan Bela Negara: Modul
Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III. Jakarta:
Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2019. Komitmen Mutu: Modul Pelatihan
Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2019. Manajemen ASN: Modul Pelatihan
Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2019. Nasionalisme: Modul Pelatihan Dasar
Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2019. Pelayanan Publik: Modul Pelatihan
Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2019. Wawasan Kebangsaan dan Nilai-Nilai
Bela Negara: Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil
Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2019. Whole of Goverment: Modul
Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III. Jakarta:
Lembaga Administrasi Negara.

50
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN :
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara
Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai
Negeri Sipil
PERMENKES No. 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian
di Puskesmas

PERMENKES No. 377 Tahun 2009 tentang Tugas Jabatan Apoteker di


Puskesmas

51
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. Identitas Diri
1. Nama Lengkap Raden Ardhi Winata KSP, S.Farm., Apt.
2. Tempat, Tanggal Lahir Sragen, 21 Oktober 1990
3. Jenis Kelamin Pria
4. Agama Islam
5 Tinggi dan Berat Badan 172 / 77 Kg
6 Kesehatan Baik
7. Status Perkawinan Belum Menikah
Sumber Asri RT 01 RW 13 Kelurahan
8. Alamat
Sine, Sragen
9. Jabatan Apoteker Ahli Pertama
10. NIP 199010212019031007
11. Unit Kerja UPTD Puskesmas Kedawung 1
12. Nomor HP 081310107557
13. E-mail ardhiwinata.sfarm.apt@gmail.com

II. Riwayat Pendidikan


SD SD Negeri 1 Sine, Sragen Lulus Tahun 2002
SMP SMP Negeri 2 Karangmalang Lulus Tahun 2005
SMA SMA Negeri 1 Sragen Lulus Tahun 2008
Fakultas Farmasi Universitas
S1 Lulus Tahun 2012
Muhammadiyah Surakarta
Fakultas Farmasi Universitas
Apoteker Lulus Tahun 2013
Muhammadiyah Surakarta
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar
dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari
ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup
menerima sanksi.
Surakarta,16 Juli 2019
Penyusun

Raden Ardhi Winata KSP S.Farm. Apt


NIP. 199010212019031007

52

Anda mungkin juga menyukai