Anda di halaman 1dari 35

KATA PENGANTAR

Segala Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas hidayah-Nya sehingga
penulis mampu menyelesaikan Rancangan Aktualisasi yang akan dilaksanakan di
tempat penulis bertugas yakni di SD Negeri 020598 Binjai Selatan. Penyusunan
Rancangan Aktualisasi oleh penulis tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan
dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih
kepada :
1. Kedua orang tua penulis dan saudara kandung penulis yang telah banyak
memberikan dukungan moril kepada penulis;
2. Ibu Yunda Pristiawati, M.Pd.I selaku Mentor yang telah memberikan
kemudahan kepada penulis untuk memilih isu dalam laporan ini;
3. Bapak Ikhwan Faizan Nasution, M. AP selaku Coach yang telah banyak
membimbing, membagi ilmu dan pengalamannya dalam penyusunan laporan
ini;
4. Segenap Widyaiswara selaku Tenaga Pengajar dan Panitia Penyelenggara
Diklatsar CPNS;
5. Seluruh rekan-rekan Guru dan Staff di SD Negeri 020598 Binjai Selatan yang
menjadi partner bertukar pikiran terbaik yang pernah ada;
6. Seluruh rekan-rekan peserta Diklat Latsar Golongan III Tahun 2019, terutama
rekan angkatan 2 atas kerjasamanya selama masa pendidikan latsar;
Menyadari rancangan aktualisasi tidak terlepas dari kekurangan, maka
penulis mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan agar rancangan aktualisasi
ini nantinya dapat memberi manfaat dalam bidang pekerjaan dan penerapannya di
lapangan serta mampu dikembangkan lebih lanjut.

Medan, Juli 2019


Penulis

Melissa Citrawaty, S.Pd


NIP. 19911005 201903 2 005

i
DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN
KATA PENGANTAR ............................................................................................ i
DAFTAR TABEL ................................................................................................ iii
BAB I: PENDAHULUAN..................................................................................... 4
1.1 LATAR BELAKANG .................................................................................. 4
1.2 VISI, MISI DAN TUPOKSI .......................................................................... 6
2.1.1. Visi dan Misi ............................................................................... 6
2.1.2. Tugas Pokok dan Fungsi ............................................................ 7
1.3 PERMASALAHAN ...................................................................................... 8
BAB II: IDENTIFIKASI DAN ANALISIS MASALAH ................................. 11
2.1. IDENTIFIKASI ISU ........................ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.
2.2. ANALISIS ISU ................................ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.
2.3. PENETAPAN ISU...........................ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.
2.4. PENETAPAN GAGASAN KEGIATAN ............................................. 14
BAB III: RANCANGAN AKTUALISASI ........................................................ 15
3.1. NILAI-NILAI DASAR ASN ................................................................ 15
3.1.1. Akuntabilitas ............................................................................. 15
3.1.2. Nasionalisme............................................................................. 16
3.1.3. Etika Publik .............................................................................. 17
3.1.4. Komitmen Mutu ........................................................................ 19
3.1.5. Anti Korupsi .............................................................................. 22
3.2. KEDUDUKAN DAN PERAN PNS DALAM NKRI ........................... 23
3.2.1. Manajemen ASN ....................................................................... 23
3.2.2. Whole of Government (WoG) ................................................... 24
3.2.3. Pelayanan Publik ...................................................................... 26
3.3. RANCANGAN AKTUALISASI ....ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.
DAFTAR PUSTAKA ........................... ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.

ii
DAFTAR TABEL

Bagan 1 : Struktur Organisasi Balai Harta Peninggalan 6

Tabel 1 : Analisis Kualitas Isu Melalui Kriteria APKL 12

Tabel 2 : Skala Nilai 13

Tabel 3 : Analisis Kualitas Isu Melalui Skala Nilai Matriks USG 14

Tabel 4 : Penetapan Gagasan Kegiatan 15

Tabel 5 : Rancangan Aktualisasi 29

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tugas ASN sebagai pelayan publik meliputi banyak hal, dalam berbagai
ruang lingkup kehidupan. Seperti pelayanan administrasi negara, bidang
pendidikan, sosial, kesehatan, dan lain sebagainya. PNS sebagaimana dimaksud
merupakan Pegawai ASN yang mempunyai kewajiban (1) Setia dan taat kepada
Pancasila, UUD Tahun 1945, NKRI, dan pemerintah yang sah, (2) Menjaga
persatuan dan kesatuan bangsa, (3) Melaksanakan kebijakan yang dirumuskan
pejabat pemerintah yang berwenang, (4) Menaati ketentuan peraturan perundang-
undangan, (5) Melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian,
kejujuran, kesadaran dan tanggung jawab, (6) Menunjukan integritas dan
keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan dan tindakan kepada setiap orang, baik
di dalam maupun di luar kedinasan. (7) Menyimpan rahasia jabatan dan hanya
dapat mengemukakan rahasia jabatan sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan, dan (8) Bersedia di tempatkan di seluruh wilayah NKRI.
Berdasarkan Peraturan Kepala LAN Nomor 12 tahun 2018 dalam
penyelenggaraan diklat prajabatan pola baru peserta diharapkan mampu
menginternalisasikan nilai-nilai dasar profesi PNS dengan cara mengalami sendiri
dalam penerapan dan aktualisasi pada tempat tugas, sehingga peserta merasakan
manfaatnya secara langsung. Diharapkan nilai-nilai dasar profesi PNS akan
melekat kuat dalam diri sehingga terbentuk PNS yang profesional yaitu PNS yang
karakternya dibentuk oleh nilai-nilai dasar profesi PNS. Adapun kelima Nilai
Dasar PNS tersebut adalah tergabung dalam singkatan ANEKA (Akuntabilitas,
Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, Anti Korupsi).
Guru sebagai ujung tombak fungsi pelaksanaan di bidang pendidikan
merupakan profesi yang sangat mulia sekaligus membutuhkan aparat yang
ANEKA guna mencapai tujuan dan sasaran pokok sebagaimana tugas pokok dan
fungsi guru yang tercantum dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional
Nomor 20 Tahun 2003. Guru Sekolah Dasar sebagai salah satu ASN seharusnya

4
dapat membentuk karakter dari dalam dirinya sendiri untuk menjadi ASN yang
kompeten, profesional, berintegritas dan berkomitmen dalam menjalankan tugas
yang diembannya.
Namun pada kenyataannya ada 5 dari 6 guru yang mengajar dengan
menggunakan media yang monoton sehingga kurang efektif dan efisien dalam
pencapaian tujuan belajar, hasil belajar akademik siswa masih rendah, dan masih
terdapat 3 dari 20 siswa kelas IV yang belum bisa membaca, serta kurangnya
kerapian dan disiplin siswa. Itu semua merupakan masalah umum atau isu yang
masih menjadi tugas bagi para pendidik di negeri ini untuk dicari solusi yang tepat
dan sesuai. Guru diharapkan mampu membuat media pelajaran yang lebih baik
dan tepat guna sebagai sarana penyampaian materi. Pembelajaran bukan hanya
sekedar pendalaman materi saja, tetapi perlu penanaman nilai-nilai dalam
membentuk siswa menjadi manusia yang unggul dalam akhlak, berprestasi dalam
ilmu, olahraga dan seni budaya serta berwawasan lingkungan. Guru juga dituntut
agar dapat melakukan berbagai kegiatan yang inovatif dan kreatif dalam upaya
tercapainya pendidikan yang lebih berkualitas, salah satunya adalah memelihara
keindahan dan kelestarian lingkungan. Oleh sebab itu, diperlukan guru yang
berakuntabilitas dan berintegritas tinggi dalam melaksanankan inovasi di dunia
pendidikan.
Pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan manusia yang memiliki
kemampuan yang unggul dan mandiri. Untuk mewujudkan kualitas pendidikan
yang Terkait dengan mutu pendidikan pada jenjang Sekolah Dasar (SD) sampai
saat ini masih jauh dari apa yang diharapkan terutama pada kualitas pembelajaran.
Upaya untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan secara terus menerus
dilakukan agar menghasilkan masyarakat yang dapat diandalkan baik dari segi
pengetahuan dan sikap.
Guru sebagai salah satu Aparatur Sipil Negara seharusnya dapat membentuk
karakter dari dalam dirinya sendiri untuk menjadi ASN yang berkompeten,
profesional, berintegritas, dan berkomitmen baik atas tugas dan fungsi yang
diembannya. Untuk menjadi seorang Abdi Negara sebagaimana yang diharapkan,
maka sesuai dengan Peraturan Kepala LAN No. 15 tahun 2015 tentang

5
Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Golongan
III ditetapkan bahwa salah satu jenis Diklat yang strategis untuk mewujudkan
PNS sebagai bagian dari ASN menjadi profesional. Diklat ini dilaksanakandalm
rangka membentuk nilai-nilai dasar profesi PNS yaitu Akuntabilitas,
Nasionalisme, Etika Publik, Komitemen Mutu dan Anti Korupsi (ANEKA).
Kompetensi inilah yang kemudian berperan dalam membentuk karakter PNS yang
kuat yaitu PNS yang mampu bersikap dan bertindak profesional sebagai Abdi
Negara dalam melayani masyarakat.
Berdasarkan pertimbangan di atas, peserta pendidikan dan pelatihan dasar
CPNS Tahun 2019 ditugaskan untuk merancang aktualisasi nilai dasar ANEKA
dan mengaktualisasikan di tempat kerja yang dalam hal ini penyusun akan
melaksanakan di SD Negeri 020598 Binjai Selatan sebagai bentuk penerapan
ilmu yang sudah didapat selama mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar CPNS
di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Provinsi Sumatera Utara.

1.2 Visi, Misi dan Tupoksi


1.2.1. Visi dan Misi
Visi SD Negeri 020598 Kecamatan Binjai Selatan adalah
terwujudnya manusia yang unggul dalam akhlak, berprestasi dalam
ilmu, olahraga dan seni budaya serta berwawasan lingkungan.
Adapun misi SD Negeri 020598 Kecamatan Binjai Selatan adalah :
a. Melaksanakan pengawasan pembelajaran dan bimbingan secara
efektif, sehingga setiap siswa berkembang secara optimal sesuai
dengan potensi yang dimiliki.
b. Menumbuhkembangkan semangat keunggulan secara intensif
kepada seluruh warga sekolah untuk mencapai prestasi di bidang
ilmu pengetahuan dan keterampilan sesuai potensi yang
dimiliki.

6
c. Menyelenggarakan program pendidikan yang berakar pada
sistem nilai agama, adat istiadat dan budaya masyarakat dengan
tetap mengikuti perkembangan era globalisasi.
d. Menciptakan lingkungan sekolah yang aman, tertib, bersih,
sejuk, dan indah serta menumbuhkembangkan rasa
kekeluargaan.

1.2.2. Tugas Pokok dan Fungsi


Sebagai seorang guru sudah sepatutnya selalu ingat akan tugas
pokok dan fungsinya, agar sosok guru senantiasa melekat seiring dengan
perubahan zaman yang semakin maju. Dengan menyadari tugas
pokoknya maka ia berhak untuk selalu disebut sebagai guru professional.
Tugas guru secara lebih terperinci dijelaskan dalam Permendiknas No. 35
Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Guru dan
Angka Kreditnya, diantaranya :
1. Menyusun kurikulum pembelajaran pada satuan pendidikan
2. Menyusun silabus pembelajaran
3. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
4. Melaksanakan kegiatan pembelajaran
5. Menyusun alat ukur/soal sesuai mata pelajaran
6. Menilai dan mengevaluasi proses dan hasil belajar pada mata pelajaaran
di kelasnya
7. Menganalisis hasil penilaian pembelajaran
8. Melaksanakan pembelajaran/perbaikan dan pengayaan dengan
memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi
9. Melaksanakan bimbingan dan konseling di kelas yang menjadi
tanggung jawabnya (khusus guru kelas)
10. Menjadi pengawas penilaian dan evaluasi terhadap proses dan hasil
belajar tingkat sekolah/ madrasah dan nasional
11. Membimbing guru pemula dalam program induksi

7
12. Membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler proses
pembelajaran
13. Melaksanakan pengembangan diri
14. Melaksanakan publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif, dan
15. Melakukan presentasi ilmiah.

Tugas pokok guru menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan


Republik Indonesia Nomor 15 Pasal 2 tahun 2018 ayat (2) mencakup:
a. Merencanakan pembelajaran atau pembimbingan;
b. Melaksanakan pembelajaran atau pembimbingan;
c. Menilai hasil pembelajaran atau pembimbingan;
d. Membimbing dan melatih peserta didik;
e. Melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan
kegiatan pokok sesuai dengan beban kerja guru.

Gambar 1.1 Struktur Organisasi SD Negeri 020598 Binjai Selatan

KEPALA SEKOLAH KOMITE


SEKOLAH

GURU GURU GURU GURU GURU GURU


KELAS KELAS KELAS KELAS KELAS KELAS
I II III IV V VI

GURU GURU
AGAMA PJOK

SISWA

8
Tabel 1.1 Daftar Nama Guru dan Status Kepegawaian

Status
No Nama NIP Gol Jabatan
Guru
1. YUNDA
197112071996112001 IV/a Ka. SD PNS
PRISTIAWATI, M.Pd.I
2. TIONAR SIAHAAN,
196012251982032002 IV/b Guru kelas PNS
S.Pd
3. UMI SALAMAH
196707061987122002 IV/b Guru kelas PNS
S.Pd.SD
Guru
4. SUGIANTO,S.Pd 197909282006041012 III/d PNS
PJOK
5. ADI SUHENDRO
197610162005021001 III/b Guru kelas PNS
S.Pd.SD
6. MELISSA
199110052019032005 IIIa Guru kelas PNS
CITRAWATY, S.Pd
7. WAHYU
- - Guru kelas Honorer
MENTARI,S.Pd
8. KHAIRUNISA, S.Pd - - Guru kelas Honorer
9. NOVIA EKA PUTRI,
- - Guru kelas Honorer
S.Kom
Guru
10. RISMA PUJIATI, S.Pd.I - - Honorer
Agama
11. IKA DESWITA
- - Guru kelas Honorer
SIREGAR,S.PD.SD
Penjaga
12. BUDIYANTO - - Honorer
sekolah

1.3 Permasalahan
Rancangan aktualisasi yang penulis sajikan mengambil isu yang berkaitan
dengan kegiatan seputar tugas dan fungsi dari Guru Kelas Sekolah Dasar.
Pembelajaran adalah suatu proses belajar mengajar dengan tujuan mentransfer
ilmu dari seorang guru sebagai pendidik kepada siswa sebagai peserta didik untuk
mewujudkan siswa yang berkarakter dan optimalnya hasil pembelajaran.
Berdasarkan fakta yang saya temukan, ada 5 dari 6 guru yang mengajar
dengan menggunakan media yang monoton sehingga kurang efektif dan efisien
dalam pencapaian tujuan belajar, hasil belajar akademik siswa masih rendah, dan
masih terdapat 3 dari 20 siswa kelas IV yang belum bisa membaca, serta
kurangnya kerapian dan disiplin siswa. Itu semua merupakan masalah umum atau

9
isu yang masih menjadi tugas bagi para pendidik di negeri ini untuk dicari solusi
yang tepat dan sesuai. Guru diharapkan mampu membuat media pelajaran yang
lebih baik dan tepat guna sebagai sarana penyampaian materi. Pembelajaran
bukan hanya sekedar pendalaman materi saja, tetapi perlu penanaman nilai-nilai
dalam membentuk siswa menjadi manusia yang unggul dalam akhlak, berprestasi
dalam ilmu, olahraga dan seni budaya serta berwawasan lingkungan. Guru juga
dituntut agar dapat melakukan berbagai kegiatan yang inovatif dan kreatif dalam
upaya tercapainya pendidikan yang lebih berkualitas, salah satunya adalah
memelihara keindahan dan kelestarian lingkungan. Oleh sebab itu, diperlukan
guru yang berakuntabilitas dan berintegritas tinggi dalam melaksanankan inovasi
di dunia pendidikan.

10
BAB II
IDENTIFIKASI DAN ANALISIS MASALAH

2.1. Identifikasi Isu


Isu-isu yang ditemukan di Sekolah Dasar 024776 Binjai, antara lain sebagai
berikut:
a. Rendahnya minat membaca pada siswa kelas IV SD
b. Rendahnya hasil belajar siswa kelas IV SD
c. Lingkungan belajar masih belum tertata dengan baik.
d. Kerapian dan disiplin kehadiran siswa masih kurang.
e. Pemanfaatan teknologi ke dalam pembelajaran belum optimal.

2.2. Analisis Isu

Dalam hal penyusunan gagasan pemecahan isu perlu adanya penetapan isu
yang akan diangkat dan dianggap paling penting untuk diselesaikan. Alat bantu
penetapan kriteria isu yang digunakan untuk menganalisis isu yaitu dengan
metode APKL aktual, problematik, kekhalayakan dan kelayakan.
1. Aktual, maksudnya isu itu benar-benar terjadi dan sedang hangat
dibicarakan
2. Problematik, maksudnya isu itu memiliki dimensi masalah yang
kompleks, sehingga perlu dicarikan segera solusinya
3. Kekhalayakan, maksudnya isu itu yang menyangkut hidup orang banyak
4. Kelayakan, maksudnya isu itu masuk diakal dan realistis serta relevan
untuk dimunculkan inisiatif pemecahan masalahnya.

11
Berikut adalah tabel APKL:

Tabel 2.1 Analisis Kualitas Isu Melalui Kriteria APKL


No Isu Kriteria Isu
A P K L
1 Rendahnya minat membaca pada siswa
√ √ √ √
kelas IV SD
2 Rendahnya hasil belajar siswa kelas IV
√ √ √ √
SD
3 Lingkungan belajar masih belum tertata
√ √ √ √
dengan baik.
4 Kerapian dan disiplin kehadiran siswa
√ √ x √
masih kurang.
5 Pemanfaatan teknologi ke dalam
√ x √ √
pembelajaran belum optimal.
Pada isu yang pertama rendahnya minat membaca siswa kelas IV SD telah
memenuhi semua kriteria APKL. Isu ini aktual karena benar-benar dan sedang
terjadi di lingkungan SD Negeri 020598, hal ini dibuktikan dengan adanya 4 dari
25 orang siswa di kelas IV SD Negeri 020598 masih belum lancar membaca,
selain itu juga siswa cenderung jarang membawa buku bacaan.
Pada isi yang kedua rendahnya hasil belajar siswa kelas IV SD telah
memenuhi semua kriteria APKL. Isu ini problematik karena hasil belajar siswa
ditentukan oleh beberapa aspek antara lain karakteristik gaya belajar siswa, media
pembelajaran dan hal lain yang mendukung untuk mencapai hasil belajar yang
diinginkan.
Isu yang ketiga yaitu lingkungan belajar masih belum tertata dengan baik
telah memenuhi semua kriteria APKL. Isi ini aktual dan problematik karena
lingkungan belajar sebagai penunjang utama kenyamanan siswa dalam
pelaksanaan kegiatan belajar.
Berdasarkan hasil analisis dengan metode APKL, dari kelima isu tersebut,
hanya 3 (tiga) isu yang memenuhi kriteria berupa Aktual, Problematik,
Kekhalayakan, dan Layak, yakni sebagai berikut:
1. Rendahnya minat membaca pada siswa kelas IV SD
2. Rendahnya hasil belajar siswa kelas IV SD
3. Lingkungan belajar masih belum tertata dengan baik.

12
2.3. Penetapan Isu
Selain metode APKL, metode USG (Urgency, Seriousness, dan Growth)
juga dapat digunakan untuk menentukan prioritas isu/masalah. Metode ini
merupakan salah satu alat untuk memilih masalah prioritas dengan menggunakan
penilaian/pembobotan skala nilai 1-5, sehingga dapat diketahui urutan
kepentingan isu/masalah dengan menggunakan 3 (tiga) komponen/variabel
pembanding, yaitu:
 Urgency, yakni seberapa mendesak isu tersebut harus dibahas dikaitkan
dengan waktu. Semakin mendesak suatu masalah untuk diselesaikan maka
semakin tinggi urgensi masalah tersebut.
 Seriousnesss, yakni seberapa serius isu tersebut perlu dibahas dikaitkan
dengan akibat/dampak jika isu tersebut tidak segera diselesaikan. Semakin
besar dampak isu tersebut maka tingkat keseriusan akan semakin tinggi.
 Growth, yakni seberapa besar isu tersebut berkembang dikaitkan dengan
kemungkinan isu akan semakin memburuk jika dibiarkan. Suatu masalah
yang dapat menimbulkan masalah lain adalah lebih serius dibandingkan
dengan masalah yang berdiri sendiri.
Nilai dari ketiga variabel tersebut akan dijumlahkan , isu yang mempunyai
jumlah nilai terrbesar merupakan prioritas utama yang hasus diselesaikan. Berikut
tabel skala nilai matriks USG:
Tabel 2.2 Skala Nilai
Nilai Keterangan
5 Sangat Urgent/Serius/Mendesak
4 Urgent/Serius/Mendesak
3 Cukup Urgent/Serius/Mendesak
2 Kurang Urgent/Serius/Mendesak
1 Tidak Urgent/Serius/Mendesak

Dengan menggunakan skala nilai pada tabel diatas maka penetapan isu
yang menjadi prioritas dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

13
Tabel 2.3 Analisis Kualitas Isu Melalui Skala Nilai Matriks USG
No. Area yang Bermasalah Kriteria Total Prioritas
U S G
1. Rendahnya hasil belajar siswa kelas IV 3 4 4 11 II
SD
2. Rendahnya minat membaca pada siswa 5 4 5 14 I
kelas IV SD
3. Lingkungan belajar masih belum tertata 3 3 2 8 III
dengan baik

Berdasarkan hasil analisis dengan matriks USG, dari ketiga isu tersebut
yang paling dominan adalah rendahnya minat membaca siswa kelas IV SD
Negeri 020598 dengan total nilai yang diperoleh adalah 14. Dilihat dari tingkat
urgency-nya, isu ini penting dikarenakan masih ada siswa kelas IV yang belum
bisa membaca dengan lancar yang akan berpengaruh besar terhadap jalannya
proses pembelajaran. Dengan demikian isu prioritas yang harus segera diatasi
adalah isu tersebut, karena jika tidak segera ditangani akan menghambat proses
pembelajaran dan tujuan pembelajaran tidak akan tercapai secara optimal.

2.4. Penetapan Gagasan Kegiatan


Menindaklanjuti upaya untuk mengatasi masalah tersebut di atas, maka
ditemukan solusi/gagasan kreatif yaitu : Meningkatkan budaya membaca pada
siswa kelas IV SD Negeri 020598 melalui gerakan literasi sekolah melalui
kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

Tabel 2.4: Tabel Penetapan Gagasan Kegiatan


No. Isu/Masalah Gagasan Kreatif Gagasan Kegiatan
1. Minat Meningkatkan 1. Membuat slogan motivasi membaca di
membaca budaya membaca kelas
siswa di kelas pada siswa 2. Memilih buku bacaan yang sesuai
IV SD Negeri melalui gerakan dengan karakterisitik siswa
020598 masih literasi sekolah. 3. Membuat sudut baca di kelas
rendah. 4. Melaksanakan kegiatan membaca
bersama sebelum pembelajaran dimulai.
5. Membuat jadwal kunjungan rutin ke
perpustakaan sekolah.
6. Membuat mading kelas

14
BAB III

RANCANGAN AKTUALISASI

3.1. Nilai-Nilai Dasar ASN


ASN yang profesional adalah PNS yang karakternya dibentuk oleh nilai –
nilai dasar prosefesi ASN sehingga mampu melaksanakan tugas dan perannya
secara profesional sebagai pelayan masyarakat. Nilai – nilai dasar yang dimaksud
adalah Akuntabilitas ASN, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti
Korupsi. Selanjutnya kelima nilai dasar tersebut diakronimkan menjadi ANEKA.
3.1.1. Akuntabilitas
Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok atau
institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya.
Amanahseorang ASN adalah menjamin terwujudnya nilai-nilai publik. Nilai-nilai
publik tersebut antara lain adalah:
a. Mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi konflik
kepentingan, antara kepentingan publik dengan kepentingan sektor,
kelompok, dan pribadi;
b. Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan mencegah
keterlibatan PNS dalam politik praktis;
c. Memperlakukan warga negara secara sama dan adil dalam penyelenggaraan
pemerintahan dan pelayanan publik;
d. Menunjukan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat diandalkan
sebagai penyelenggara pemerintahan.
Akuntabilitas publik memiliki tiga fungsi utama (Bovens, 2007), yaitu untuk
menyediakan kontrol demokratis (peran demokratis); untuk mencegah korupsi dan
penyalahgunaan kekuasaan (peran konstitusional); dan untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas (peran belajar).
Menurut Widita (2015) dalam menciptakan lingkungan kerja yang
akuntabel, ada beberapa indikator dari nilai-nilai dasar akuntabilitas yang harus
diperhatikan, yaitu :

15
a. Kepemimpinan : Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas ke bawah
dimana pimpinan memainkan peranan yang penting dalam menciptakan
lingkungannya.
b. Transparansi : Keterbukaan atas semua tindakan dan kebijakan yang
dilakukan oleh individu maupun kelompok/instansi.
c. Integritas : adalah adalah konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan
dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan.
d. Tanggung Jawab : adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau
perbuatannya yang di sengaja maupun yang tidak di sengaja.tanggung jawab
juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban.
e. Keadilan : adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu
hal, baik menyangkut benda atau orang.
f. Kepercayaan : Rasa keadilan akan membawa pada sebuah kepercayaan.
Kepercayaan ini yang akan melahirkan akuntabilitas.
g. Keseimbangan : Untuk mencapai akuntabilitas dalam lingkungan kerja,
maka diperlukan keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan, serta
harapan dan kapasitas.
h. Kejelasan : Pelaksanaan wewenang dan tanggungjawab harus memiliki
gambaran yang jelas tentang apa yang menjadi tujuan dan hasil yang
diharapkan.
i. Konsistensi : adalah sebuah usaha untuk terus dan terus melakukan sesuatu
sampai pada tercapai tujuan akhir.

3.1.2. Nasionalisme
Nasionalisme sangat penting dimiliki oleh setiap pegawai ASN.Bahkan
tidak hanya sekedar wawasan saja tetapi kemampuan mengaktualisasikan
nasionalisme dalam menjalankan fungsi dan tugasnya merupakan hal yang lebih
penting. Diharapkan dengan nasionalisme yang kuat, maka setiap pegawai ASN
memiliki orientasi berpikir mementingkan kepentingan publik, bangsa, dan
negara. Nilai-nilai yang berorientasi pada kepentingan publik menjadi nilai dasar
yang harus dimiliki oleh setiap pegawai ASN. Pegawai ASN dapat mempelajari

16
bagaimana aktualisasi sila demi sila dalam Pancasila agar memiliki karakter yang
kuat dengan nasionalisme dan wawasan kebangsaannya. (Widita, 2015)
Nasionalisme dalam arti sempit adalah suatu sikap yang meninggikan
bangsanya sendiri, sekaligus tidak menghargai bangsa lain sebagaimana mestinya.
Sikap seperti ini jelas mencerai-beraikan bangsa yang satu dengan bangsa yang
lain. Keadaan seperti ini sering disebut chauvinisme. Sedangkan dalam arti luas,
nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap
bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain (LAN RI, 2015:1).
Secara politis nasionalisme berarti pandangan atau paham kecintaan
manusia Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada nilai-
nilai Pancasila. Dalam UU No. 5 tahun 2014 tentang ASN, salah satu fungsi ASN
adalah menjalankan kebijakan publik. Kebijakan publik diharapkan dapat
dilakukan dengan integritas tinggi dalam melayani publik sehingga dalam menjadi
pelayan publik yang profesional. ASN adalah aparat pelaksana yang
melaksanakan segala peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan
kebijakan publik untuk mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan.
Fungsi ASN sebagai pelayan publik merupakan segala bentuk pelayanan
sektor publik yang dilaksanakan aparatur pemerintah, termasuk aparat yang
bergerak di bidang perekonomian dalam bentuk barang dan jasa, yang sesuai
dengan kebutuhan masyarakat dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku (LAN, 2015:120). Sebagai pelayan publik seorang ASN dituntut menjadi
profesional untuk menciptakan pelayanan yang prima.

3.1.3. Etika Publik


Etika dapat dipahami sebagai sistem penilaian perilaku serta keyakinan
untuk menentukan perbuatan yang pantas guna menjamin adanya perlindungan
hak-hak individu, mencakup cara-cara pengambilan keputusan untuk membantu
membedakan hal-hal yang baik dan buruk serta mengarahkan apa yang
seharusnya dilakukan sesuai nila-nilai yang dianut, Catalano, 1991 (dalam Widita,
2015).

17
Etika adalah tujuan hidup yang baik bersama dan untuk orang lain di dalam
institusi yang adil (LAN, 2015:8). Etika lebih dipahami sebagai refleksi atas baik
atau buruk, benar atau salah yang harus dilakukan atau bagaimana melakukan
kewajiban yang baik atau benar. Dalam kaitannya denganpelayanan publik, etika
publik adalah refleksi tentang standar/norma yang menentukan baik/buruk,
benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk mengarahkan kebijakan
publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan publik (LAN,
2015:6). Integritas publik menuntut para pemimpin dan pejabat publik untuk
memiliki komitmen moral dengan mempertimbangkan keseimbangan antara
penilaian kelembagaan, dimensi-dimensi pribadi, dan kebijaksanaan di dalam
pelayanan publik (Haryatmoko dalam LAN, 2015:7).
Kode etik adalah aturan-aturan yang mengatur tingkah laku dalam suatu
kelompok khusus, sudut pandangnya hanya ditujukan pada hal-hal prinsip dalam
bentuk ketentuan-ketentuan tertulis (LAN, 2015:9). Kode etik profesi
dimaksudkan untuk mengatur tingkah laku/etika suatu kelompok khusus dalam
masyarakat melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan dapat dipegang
teguh oleh sekelompok profesional tertentu.
Berdasarkan undang-undang ASN, kode etik dan kode perilaku ASN yakni
sebagai berikut:
a. Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas
tinggi;
b. Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin;
c. Melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan;
d. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku;
e. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau pejabat yang
berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan dan etika pemerintahan;
f. Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara;Menggunakan
kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab, efektif, dan
efisien;

18
g. Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan
tugasnya;
h. Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada pihak lain
yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan;
i. Tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status, kekuasaan dan
jabatannya untuk mendapat atau mencari keuntungan atau manfaat bagi diri
sendiri atau untuk orang lain;
j. Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan integritas
ASN;
k. Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai disiplin
pegawai ASN.
Dimensi etika publik terdiri dari dimensi tujuan pelayanan publik yang
bertujuan untuk mewujudkan pelayanan yang berkualitas dan relevan, dimensi
modalitas yang terdiri dari akuntabilitas, transparansi, dan netralitas, serta dimensi
tindakan integritas publik (LAN, 2015:11). Ketiga dimensi tersebut dapat menjadi
dasar untuk dapat menjadi pelayan publik yang beretika. Pelayanan publik yang
profesional membutuhkan tidak hanya kompetensi teknis dan leadership, namun
juga kompetensi etika. Oleh karena itu perlu dipahami etika dan kode etik pejabat
publik. Tanpa memiliki kompetensi etika, pejabat cenderung menjadi tidak peka,
tidak peduli dan bahkan seringkali diskriminatif, terutama pada masyarakat
kalangan bawah yang tidak beruntung. Etika publik merupakan refleksi kritis
yang mengarahkan bagaimana nilai-nilai kejujuran, solidaritas, keadilan,
kesetaraan, dan lain-lain dipraktikkan dalam wujud keprihatinan dan kepedulian
terhadap kesejahteraan masyarakat. Dengan diterapkannya kode etik ASN,
perilaku pejabat publik harus berubah dari penguasa menjadi pelayan, dari
wewenang menjadi peranan, dan menyadari bahwa jabatan publik adalah amanah
yang harus dipertanggungjawabkan bukan hanya di dunia namun juga di akhirat.

3.1.4. Komitmen Mutu


LAN RI (2015: 9) menjelaskan bahwa karakteristik utama yang dapat
dijadikan dasar untuk mengukur tingkat efektivitas adalah ketercapaian target

19
yang telah direncanakan, baik dilihat dari capaian jumlah maupun mutu hasil
kerja, sehingga dapat memberi kepuasan, sedangkan tingkat efisiensi diukur dari
penghematan biaya, waktu, tenaga, dan pikiran dalam menyelesaikan kegiatan.
Inovasi muncul karena adanya dorongan kebutuhan organisasi/perusahaan
untuk beradaptasi dengan tuntutan perubahan yang terjadi di sekitarnya. Mengenai
inovasi, LAN RI (2015:11) menyatakan bahwa proses inovasi dapat terjadi secara
perlahan (bersifat evolusioner) atau bisa juga lahir dengan cepat (bersifat
revolusioner). Inovasi akan menjadi salah satu kekuatan organisasi untuk
memenangkan persaingan. Ada empat indikator dari nilai-nilai dasar komitmen
mutu yang harus diperhatikan, yaitu :
a. Efektif
Efektif adalah berhasil guna, dapat mencapai hasil sesuai dengan target.
Sedangkan efektivitas menunjukkan tingkat ketercapaian target yang telah
direncanakan, baik menyangkut jumlah maupun mutu hasil kerja. Efektifitas
organisasi tidak hanya diukur dari performans untuk mencapai target (rencana)
mutu, kuantitas, ketepatan waktu dan alokasi sumber daya, melainkan juga
diukur dari kepuasan dan terpenuhinya kebutuhan pelanggan.
b. Efisien
Efisien adalah berdaya guna, dapat menjalankan tugas dan mencapai hasil
tanpa menimbulkan keborosan. Sedangkan efisiensi merupakan tingkat
ketepatan realiasi penggunaan sumberdaya dan bagaimana pekerjaan
dilaksanakan sehingga dapat diketahui ada tidaknya pemborosan sumber daya,
penyalahgunaan alokasi, penyimpangan prosedur dan mekanisme yang ke luar
alur.

20
c. Inovasi
Inovasi Pelayanan Publik adalah hasil pemikiran baru yang konstruktif,
sehingga akan memotivasi setiap individu untuk membangun karakter sebagai
aparatur yang diwujudkan dalam bentuk profesionalisme layanan publik yang
berbeda dari sebelumnya, bukan sekedar menjalankan atau menggugurkan tugas
rutin.
d. Mutu
Mutu merupakan suatu kondisi dinamis berkaitan dengan produk, jasa,
manusia, proses dan lingkungan yang sesuai atau bahkan melebihi harapan
konsumen. Mutu mencerminkan nilai keunggulan produk/jasa yang diberikan
kepada pelanggan sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya, bahkan
melampaui harapannya. Mutu merupakan salah satu standar yang menjadi dasar
untuk mengukur capaian hasil kerja. Mutu menjadi salah satu alat vital untuk
mempertahankan keberlanjutan organisasi dan menjaga kredibilitas institusi.
Ada lima dimensi karakteristik yang digunakan pelanggan dalam
mengevaluasi kualitas pelayan (Berry dan Pasuraman dalam Zulian Zamit,
2010:11), yaitu:
a. Tangibles (bukti langsung), yaitu : meliputi fasilitas fisik, perlengkapan,
pegawai, dan sarana komunikasi;
b. Reliability (kehandalan), yaitu kemampuan dalam memberikan pelayanan
dengan segera dan memuaskan serta sesuai dengan yang telah dijanjikan;
c. Responsiveness (daya tangkap), yaitu keinginan untuk memberikan
pelayanan dengan tanggap;
d. Assurance (jaminan), yaitu mencakup kemampuan, kesopanan, dan sifat
dapat dipercaya;
e. Empatya, yaitu kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang
baik, dan perhatian dengan tulus terhadap kebutuhan pelanggan.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli maka dapat disimpulkan bahwa mutu
mencerminkan nilai keunggulan produk/jasa yang diberikan kepada pelanggan
sesuai dengan kebutuhan dan keinginan dan bahkan melampaui harapannya.
Manajemen mutu harus dilaksanakan secara terintegrasi, dengan melibatkan

21
seluruh komponen organisasi, untuk senantiasa melakukan perbaikan mutu agar
dapat memuaskan pelanggan.
Bill Creech (dalam LAN, 2015) memperkenalkan lima pilar dalam
manajemen mutu terpadu yaitu produk, proses, organisasi, pemimpin dan
komitmen. Kelima pilar tersebut memiliki keterkaitan dan ketergantungan yang
tinggi, sehingga target mutu dapat diwujudkan bahkan dapat terus ditingkatkan
secara berkelanjutan. Target utama kinerja aparatur yang berbasis komitmen mutu
adalah mewujudkan kepuasan masyarakat yang menerima layanan. Mutu kerja
aparatur dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dewasa ini masih
banyak yang tidak mengindahkan peraturan perundang-undangan.

3.1.5. Anti Korupsi


Kata korupsi berasal dari bahasa latin yaitu Corruptio yang artinya
kerusakan, kebobrokan dan kebusukan. Korupsi sering dikatakan sebagai
kejahatan luar biasa, karena dampaknya yang luar biasa, menyebabkan kerusakan
baik dalam ruang lingkup pribadi, keluarga, masyarakat dan kehidupan yang lebih
luas. Kerusakan tidak hanya terjadi dalam kurun waktu yang pendek, namun dapat
berdampak secara jangka panjang. (Widita, 2015)
Ada 9 (sembilan) indikator dari nilai-nilai dasar anti korupsi yang harus
diperhatikan, yaitu :
a. Jujur
b. Peduli
c. Mandiri
d. Disiplin
e. Tanggung Jawab
f. Kerja Keras
g. Sederhana
h. Berani
i. Adil
Kesadaran anti korupsi yang dibangun melalui pendekatan spiritual, dengan
selalu ingat akan tujuan keberadaannya sebagai manusia di muka bumi, dan selalu

22
ingat bahwa seluruh ruang dan waktu kehidupannya harus
dipertanggungjawabkan sehingga dapat menjadi benteng kuat untuk anti korupsi.
Tanggung jawab spiritual yang baik akan menghasilkan niat yang baik dan
mendorong untuk memiliki visi dan misi yang baik, hingga selalu memiliki
semangat untuk melakukan proses atau usaha terbaik dan mendapatkan hasil
terbaik agar dapat dipertanggungjawabkan secara publik.

3.2. Kedudukan dan Peran PNS dalam NKRI


Dalam menjalankan kedudukannya pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN)
memiliki fungsi sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik, perekat dan
pemersatu bangsa. Pembahasan mengenai Kedudukan dan Peran ASN dalam
NKRI pada intinya mencakup 3 (tiga) hal, yakni Manajemen ASN, Whole of
Government (WoG), dan Pelayanan Publik. Adapun penjelasan singkat mengenai
ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut:
3.2.1. Manajemen ASN
Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan Pegawai
ASN yang professional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi
politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Manajemen ASN lebih
menekankan kepada pengaturan profesi pegawai sehingga diharapkan agar selalu
tersedia sumber daya aparatur sipil Negara yang unggul selaras dengan
perkembangan zaman.
Salah satu bentuk manajemen ASN adalah penerapan sistem merit dalam
pengelolaan ASN untuk mendukung pencapaian tujuan dan sasaran organisasi dan
memberikan ruang bagi tranparansi, akuntabilitas, obyektivitas dan juga keadilan.
Beberapa langkah nyata dapat dilakukan untuk menerpakan sistem ini baik dari
sisi perencanaan kebutuhan yang berupa transparansi dan jangkauan
penginformasian kepasa masyarakat maupun jaminan obyektifitasnya dalam
pelaksanaan seleksi. Sehingga instansi pemerintah mendapatkan pegawai yang
tepat dan berintegritas untuk mencapai visi dan misinya. Pasca recruitment, dalam
organisasi berbagai sistem pengelolaan pegawai harus mencerminkan prinsip
merit yang sesungguhnya dimana semua prosesnya didasarkan pada prinsip-
prinsip yang obyektif dan adil bagi pegawai. Jaminan sistem merit pada semua

23
aspek pengelolaan pegawai akan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk
pembelajaran dan kinerja. Pegawai diberikan penghargaan dan pengakuan atas
kinerjanya yang tinggi, disisi lain bad performers mengetahui dimana kelemahan
dan juga diberikan bantuan dari organisasi untuk meningkatkan kinerja.
Manajemen ASN terdiri dari Manjemen PNS dan Manajemen PPPK.
Manajemen PNS meliputi penyusunan dan penetapan kebutuhan, pengadaan,
pangkat dan jabatan, pengembangan karier, pola karier, promosi, mutasi, penilaian
kinerja, penggajian dan tunjangan, penghargaan, disiplin, pemberhentian, jaminan
pensisun dan hari tua, dan perlindungan. Sedangkan Manajemen PPPK meliputi
penetapan kebutuhan; pengadaan; penilaian kinerja; penggajian dan tunjangan;
pengembangan kompetensi; pemberian penghargaan; disiplin; pemutusan
hubungan perjanjian kerja; dan perlindungan. Untuk menjamin efisiensi,
efektivitas, dan akurasi pengambilan keputusan dalam Manajemen ASN
diperlukan Sistem Informasi ASN. Sistem Informasi ASN diselenggarakan secara
nasional dan terintegrasi antar Instansi Pemerintah. Untuk menjamin keterpaduan
dan akurasi data dalam Sistem Informasi ASN, setiap Instansi Pemerintah wajib
memutakhirkan data secara berkala dan menyampaikannya kepada BKN.

3.2.2. Whole of Government (WoG)


Berdasarkan interpretasi analitis dan manifestasi empiris di lapangan maka
WoG didefinisikan sebagai “suatu model pendekatan integratif fungsional satu
atap” yang digunakan untuk mengatasi wicked problems yang sulit dipecahkan
dan diatasi karena berbagai karakteristik atau keadaan yang melekat antara lain:
tidak jelas sebabnya, multi dimensi, menyangkut perubahan perilaku.
Terdapat beberapa cara pendekatan WoG yang dapat dilakukan, baik dari
sisi penataan institusi formal maupun informal. Cara-cara ini pernah dipraktekkan
oleh beberapa negara, termasuk Indonesia dalam level-level tertentu, yakni:
a. Penguatan koordinasi antar lembaga yang dapat dilakukan jika jumlah
lembaga-lembaga yang dikoordinasikan masih terjangkau dan manageable.
Dalam prakteknya, span of control atau rentang kendali yang rasional akan
sangat terbatas. Salah satu alternatifnya adalah mengurangi jumlah lembaga
yang ada sampai mendekati jumlah yang ideal untuk sebuah koordinasi.

24
Dengan jumlah lembaga yang rasional, maka koordinasi dapat dilakukan
lebih mudah.
b. Membentuk lembaga koordinasi khusus yang bertugas dalam
mengkoordinasikan sektor atau kementrian adalah salah satu cara
melakukan WoG. Lembaga koordinasi ini biasanya diberikan status
lembaga stingkat lebih tinggi, atau setidaknya setara dengan kelembagaan
yang dikoordinasikan.
c. Membangun gugus tugas, yakni bentuk pelembagaan koordinasi yang
dilakukan di luar struktur formal, yang setidaknya tidak permanen.
Pembentukan gugus tugas biasanya menjadi salah satu cara agar sumber
daya yang terlibat dalam koordinasi tersebut dicabut sementara dari
lingkungan formalnya untuk berkonsentrasi dalam proses koordinasi.
d. Koalisi sosial, yakni bentuk informal dari penyatuan koordinasi antar sektor
atau lembaga,tanpa perlu mebentuk pelembagaan khusus dalam koordinasi.
Praktek WoG dalam pelayanan publik dilakukan dengan menyatukan
seluruh sektor yang terkait dengan pelayanan publik. Jenis pelayanan publik
yang dikenail dapat didekati oleh pendekatan WoG sebagai berikut:
a. Pelayanan yang bersifat administratif, yaitu pelayanan publik yang
menghasilkan berbagai produk dokumen resmi yang dibutuhkan warga
masyarakat. Dokumen yang dihasilkan bisa meliputi KTP, status
kewarganegaraan, status usaha, surat kepemilikan, atau penguasaan atas
barang, termasuk dokumen-dokumen resmi seperti SIUP, izin trayek, izin
usaha, akta, sertifikat tanah dan lain-lain;
b. Pelayanan jasa, yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk jasa
yang dibutuhkan warga masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan,
ketenagkerjaan, perhubungan dan lain-lain.
c. Pelayanan barang, yaitu pelayanan yang menghasilkan jenis barang yang
dibutuhkan warga masyarakat, seperti jalan, jembatan, perumahan, jaringan
telepon, listrik, air bersih, dan lain-lain.

25
3.2.3. Pelayanan Publik
Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian dalam rangka pemenuhan
kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap
warga Negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/ atau pelayanan administratif
yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.
Prinsip pelayanan publik yang baik untuk mewujudkan pelayanan prima
adalah:
a. Partisipatif
b. Transparan
c. Responsif
d. Tidak diskriminatif
e. Mudah dan murah
f. Efektif dan efisien
g. Aksesibel
h. Akuntabel
i. Berkeadilan
Prinsip-prinsip pelayan prima antara lain:
a. Responsif terhadap pelanggan/ memahami pelanggan.
b. Membangun visi dan misi pelayanan.
c. Menetapkan standar pelayanan dan ukuran kinerja pelayanan, sebagai dasar
pemberian pelayanan.
d. Pemberian pelatihan dan pengembangan pegawai terkait bagaimana
memberikan pelayanan yang baik, serta pemahaman tugas dan fungsi
organisasi.
e. Memberikan apresiasi kepada pegawai yang telah melaksanakan tugas
pelayanannya dengan baik.

3.3. Rancangan Aktualisasi

26
Rancangan Aktualisasi

Unit Kerja : SD Negeri No 020598 Binjai Selatan


Identifikasi Isu : a. Minat membaca siswa kelas IV masih rendah
b. Hasil belajar siswa kelas IV masih rendah
c. Lingkungan belajar siswa belum tertata dengan baik
Isu yang Diangkat : Minat membaca siswa masih rendah
Gagasan Pemecahan Isu : Meningkatkan budaya membaca pada siswa melalui gerakan literasi sekolah.

Keterkaitan Substansi Kontribusi Terhadap Visi Penguatan Nilai


No. Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil
Mata Pelatihan Misi Organisasi Organisasi
1 2 3 4 5 6 7
1. Membuat slogan 1. Melaporkan Terpajangnya Dalam kegiatan ini mata Dengan membuat slogan Dengan membuat
motivasi rencana kegiatan slogan motivasi pelatihan yang terkait motivasi membaca bagi siswa slogan motivasi
membaca di dengan kepala membaca di adalah Pelayanan Publik. berlandaskan nilai Etika untuk
kelas sekolah dalam kelas. Publik, Akuntabilitas dan meningkatkan
2. Menyiapkan Dengan nilai-nilai dasar Komitmen Mutu maka dapat minat membaca
print out slogan yang terkait : mewujudkan pencapaian misi pada siswa yang
motivasi 1. Etika Publik organisasi saya poin ke-2 didasari pada nilai-
membaca dari  Sopan yaitu : nilai dasar yaitu
internet. Saya akan “Menumbuhkankembangkan akuntabilitas dan
3. Menyiapkan alat berkomunikasi dengan semangat keunggulan secara komitmen mutu,
dan bahan. kepala sekolah secara intensif kepada seluruh warga maka nilai
4. Menata dan santun sekolah untuk mencapai organisasi yaitu
menempelkan 2. Akuntabilitas prestasi di bidang ilmu Komitmen dan
slogan di  Tanggung jawab pengetahuan dan peduli dapat
dinding kelas. Saya akan mencetak keterampilan sesuai potensi diperkuat.
yang dimiliki.

27
slogan motivasi untuk
meningkatkan minat
membaca siswa
dengan baik sehingga
tidak ada kesalahan
dalam melaksanakan
kegiatan.
3. Komitmen Mutu
 Inovasi
Saya membuat slogan
motivasi untuk
meningkatkan minat
membaca siswa yang
baru dan menarik.
 Kreativitas
Saya menyesuaikan
slogan motivasi sesuai
dengan karakteristik
siswa.
2. Memilih buku 1. Meminta izin Berbagai buku Dalam kegiatan ini mata Dengan memilih buku bacaan Dengan memilih
bacaan yang kepada kepala bacaan yang pelatihan yang terkait yang sesuai dengan buku bacaan sesuai
sesuai dengan sekolah sesuai dengan adalah Pelayanan Publik. karakteristik siswa yang dengan
karakterisitik 2. Meminta siswa karakteristik berlandaskan nilai Etika karakteristik siswa
siswa memilih buku siswa telah Dengan nilai-nilai dasar Publik, Akuntabilitas dan untuk
bacaan sendiri di terpilih. yang terkait : Anti Korupsi maka dapat meningkatkan
perpustakaan 1. Etika Publik mewujudkan pencapaian misi minat membaca
3. Menyesuaikan  Sopan organisasi saya poin ke-1 pada siswa yang
buku bacaan Saya berkomunikasi yaitu : didasari pada nilai-
pilihan siswa dengan kepala “Melaksanakan pengawasan nilai dasar yaitu
dengan sekolah secara pembelajaran dan bimbingan etika publik,
karakteristik santun secara efektif, sehingga setiap akuntabilitas dan
siswa 2. Akuntabilitas siswa berkembang secara anti korupsi, maka

28
4. Membawa buku  Kepercayaan optimal sesuai dengan potensi nilai organisasi
bacaan tersebut Saya memberikan yang dimiliki” yaitu Komitmen
ke dalam kebebasan kepada dan peduli dapat
ruangan kelas siswa untuk memilih diperkuat.
buku yang siswa
sukai.
 Kejelasan
Saya menyampaikan
arahan kepada siswa
secara jelas
4. Anti Korupsi
 Adil
Saya memberikan
kesempatan yang
sama bagi siswa
untuk memilih buku
sendiri.
3. Membuat sudut 1. Membuat Tersedianya Dalam kegiatan ini mata Dengan melakukan kegiatan Dengan membuat
baca di kelas rancangan sudut sudut baca di pelatihan yang terkait membuat sudut baca di kelas pojok baca di kelas
baca di kelas kelas. adalah Pelayanan Publik. yang berlandaskan nilai Etika yang didasari pada
2. Menyediakan Publik, Akuntabilitas, nilai-nilai dasar
alat dan bahan Dengan nilai-nilai dasar Nasionalisme dan yaitu Komitmen
3. Bekerja sama yang terkait : Komitmen Mutu maka dapat Mutu dan Etika
dengan siswa 1. Etika Publik mewujudkan pencapaian misi Publik maka nilai
untuk membuat  Sopan organisasi saya poin ke-4 organisasi yaitu
sudut baca Dengan bahasa yang yaitu : Inovatif dapat
4. Bekerja sama sopan dan santun, “Menciptakan lingkungan diperkuat.
dengan siswa saya berkomunikasi sekolah yang aman, tertib,
untuk menyusun dengan siswa. bersih, sejuk, dan indah serta
buku pada sudut 2. Akuntabilitas menumbuhkembangkan rasa
baca  Kepercayaan kekeluargaan.”
5. Membuat jadwal Saya memberikan

29
kegiatan kebebasan kepada
membaca siswa untuk memilih
6. Berdiskusi buku yang siswa
dengan siswa sukai.
menyusun tata  Kejelasan
tertib sudut baca Saya menyampaikan
di kelas arahan kepada siswa
secara jelas
3. Nasionalisme
 Gotong royong
Saya mengajak
siswa bekerja sama
untuk melakukan
kegiatan agar lebih
cepat selesai.
 Musyawarah
Saya bersama siswa
berdiskusi untuk
saling bertukar
pendapat tentang
penyusunan tata
tertib yang berlaku
di sudut baca kelas.
 Kekeluargaan
Dengan adanya
kerjasama dan
interaksi antara saya
dan siswa dapat
menumbuhkan rasa
kekeluargaan
 Adil
Saya memberikan

30
kesempatan yang
sama bagi siswa
untuk memilih buku
sendiri.
4. Komitmen Mutu
 Inovatif
Saya memberikan
inovasi bagi kelas
dengan membuat
kegiatan tersebut yang
belum pernah
dilakukan sebelumnya
4. Melaksanakan 1. Berdiskusi Terlaksananya Dalam kegiatan ini mata Dengan kegiatan membaca Dengan
kegiatan dengan kepala kegiatan pelatihan yang terkait bersama yang berlandaskan melaksanakan
membaca sekolah membaca adalah Pelayanan Publik. nilai Etika Publik, kegiatan membaca
bersama 2. Meminta siswa bersama Akuntabilitas dan Anti bersama untuk
sebelum untuk membawa sebelum Dengan nilai-nilai dasar Korupsi maka dapat meningkatkan
pembelajaran buku bacaan ke pembelajaran yang terkait : mewujudkan pencapaian misi minat membaca
dimulai. luar kelas. dimulai 1. Etika Publik organisasi saya poin ke-1 pada siswa yang
3. Meminta siswa  Sopan yaitu : didasari pada nilai-
membaca Dengan bahasa yang “Melaksanakan pengawasan nilai dasar yaitu
bersama di sopan dan santun, pembelajaran dan bimbingan etika publik,
halaman sekolah saya berkomunikasi secara efektif, sehingga setiap akuntabilitas dan
sebelum dengan siswa. siswa berkembang secara anti korupsi, maka
memulai optimal sesuai dengan potensi nilai organisasi
pembelajaran. 2. Nasionalisme yang dimiliki” yaitu Komitmen
 Musyawarah dan peduli dapat
Saya bersama kepala diperkuat.
sekolah berdiskusi
untuk saling
bertukar pendapat
tentang pelaksanaan

31
kegiatan membaca
bersama.
 Adil
Saya memberikan
kesempatan yang
sama bagi siswa
untuk memilih buku
sendiri.
3. Komitmen Mutu
 Inovatif
Saya memberikan
inovasi bagi kelas
dengan membuat
kegiatan tersebut yang
belum pernah
dilakukan sebelumnya
5. Membuat jadwal 1. Berdiskusi Jadwal Keterkaitan dengan mata Dengan membuat jadwal Tahapan kegiatan
kunjungan rutin dengan kepala kunjungan rutin pelatihan rutin kunjungan ke yang dilandasi
ke perpustakaan sekolah ke perpustakaan Pelayanan Publik: perpustakaan berlandaskan dengan nilai,
sekolah. 2. Membagi siswa sekolah telah nilai nasionalisme, komitmen Akuntabilitas,
secara dibuat. 1. Nasionalisme muti, dan akuntabilitas dapat Nasionalisme,
berkelompok Musyawarah mewujudkan pencapaian misi Etika Publik,
3. Menyusun Yaitu Saya dan siswa organisasi poin ke-4, yaitu : Komitmen mutu,
jadwal bermusyawarah membagi “Menciptakan lingkungan Memberikan
kunjungan ke kelompok sekolah yang aman, tertib, penguatan pada
perpustakaan bersih, sejuk, dan indah serta nilai organisasi
bagi siswa. 2. Komitmen Mutu menumbuhkembangkan rasa yaitu
Komitmen kekeluargaan.” profesionalisme,
Saya konsisten dengan inovatif, komitmen,
jadwal yang telah dibuat integritas.

3. Akuntabilitas

32
Tanggung jawab
Saya bertanggung jawab
mengawasi kegiatan siswa
dalam menaati aturan.
6. Membuat 1. Tersedianya Dalam kegiatan ini mata Dengan membuat mading Tahapan kegiatan
mading kelas mading berisi pelatihan yang terkait kelas berlandaskan nilai yang dilandasi
hasil karya adalah Pelayanan Publik. Etika Publik, Akuntabilitas dengan nilai, Etika
siswa. dan Komitmen Mutu maka Publik,
Dengan nilai-nilai dasar dapat mewujudkan akuntabilitas,
yang terkait : pencapaian misi organisasi Nasionalisme, dan
1. Etika Publik saya poin ke-2 yaitu : Komitmen mutu
 Sopan “Menumbuhkankembangkan Memberikan
Saya akan semangat keunggulan secara penguatan pada
memberikan arahan intensif kepada seluruh warga nilai organisasi
kepada siswa secara sekolah untuk mencapai yaitu
jelas dan santun prestasi di bidang ilmu profesionalisme,
2. Akuntabilitas pengetahuan dan inovatif, integritas.
 Keseimbangan keterampilan sesuai potensi
Saya menggunakan yang dimiliki.
wewenangnya untuk
menyuruh siswa
membuat karya tulis
secara pribadi.
3. Nasionalisme
 Gotong royong
Saya mengajak
siswa bekerja sama
untuk menempelkan
hasil karya yang
telah dibuat siswa.
 Kekeluargaan
Dengan adanya

33
kerjasama dan
interaksi antara Saya
dan siswa dapat
menumbuhkan rasa
kekeluargaan
4. Komitmen Mutu
 Inovatif
Saya memberikan
inovasi bagi kelas
dengan membuat
kegiatan tersebut yang
belum pernah
dilakukan sebelumnya

34
Rencana Jadual Kegiatan

Bulan
Juli Agustus
No. Kegiatan
Minggu Minggu
1 2 3 4 1 2 3 4

1. Membuat slogan motivasi membaca di


kelas
2. Memilih buku bacaan yang sesuai dengan
karakterisitik siswa
3. Membuat sudut baca di kelas

4. Melaksanakan kegiatan membaca


bersama sebelum pembelajaran dimulai.
5. Membuat jadwal kunjungan rutin ke
perpustakaan sekolah.
6. Membuat mading kelas

35