Anda di halaman 1dari 4

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu hal yang wajib untuk menghadang kemungkinnan kekacauan (chaos) yang mungkin bisa dihindari pada masa depan bangsa sejak mulai dari dini. Pendidikan sudah sejak lama telah menjadi sebuah ranah yang diatur oleh pemerintahan dalam undang-undang (UU) nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang terbaru mengganti undang-undang nomor 4 tahun 1950 jo nomor 12 tahun 1952 setelahnya dilanjutkan dengan undang-undang nomor 2 tahun 1989 tentang hal yang sama, dimana seluruh sistem pendidikan mulai dari tingkat rendah sampai tingkat menengah. Pendidikan tertinggi yang dinaungi oleh UU tersebut adalah bidang Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Perbedaan mendasar pada kedua tingkatan diatas adalah pada tujuan akhir peserta didiknya. Pada SMA bertujuan menjadi wadah pengembangan kualitas dan mutu peserta didik yang mengedepankan kemampuan teroritis dengan harapan menjadi seorang lulusan yang idealis ilmu pengetahuan sedangkan SMK bertujuan menjadi wadah pengembangan kualitas dan mutu peserta didik yang mengedepankan kemampuan praktik dan dengan harapan menjadi lulusan yang ahli dalam suatu bidang. SMK memiliki jurusan yang lebih banyak dibanding SMA. Sesuai dengan tujuannya SMK untuk menekankan pada bidang praktik yang berarti menjadi pekerja dibidangnya sekaligus mengkonsepkan bahwa lulusan SMK adalah pencipta pekerjaan atau minimal ahli pada bidangnya. Hal tersebut akan terlaksana jika terdapat tempat penyaluran tenaga untuk praktik pada perusahaan/industri yang sesuai. Kota industri di Indonesia yang terbesar adalah Kota Batam dengan banyak jenis perusahaan dalam dan luar negeri memberikan kemudahan untuk SMK berkembang serta mengembangkan ilmunya. Jumlah SMK yang telah berdiri dan mendapatkan izin sebanyak 49 sekolah negeri dan swasta. SMK Real informatika Batam yang beralamat di komplek Prima Sejati Blok A nomor 5-9 Taman Baloi Batam Kota dengan 4 jurusan yaitu Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), Teknik

Komputer dan Jaringan (TKJ), Multimedia (MM) dan Akuntansi Keuangan (AK). Dengan jumlah peserta didik sebanyak 200 peserta didik dan jumlah kelas sebanyak 12 kelas dengan persebaran jurusan yang cukup merata. Kurikulum yang digunakan berbeda pada tiap tingkatan yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau biasa disebut Kurikulum 2006 untuk kelas XII (dua belas), Kurikulum tahun 2013 Revisi 2017 (K13 Rev17) untuk kelas XI (sebelas) dan Kurikulum tahun 2013 Revisi 2018 (K13 Rev18) untuk kelas X (sepuluh). Kelas X terdiri dari kelas X IT yang terdiri dari jurusan RPL, TKJ, MM dengan jumlah peserta didik 31 orang dan Kelas X Ak yang terdiri dari jurusan Akuntansi Keuangan dengan jumlah peserta didik 32 orang. Salah satu mata pelajaran yang diterima oleh peserta didik kelas X IT pada K13 Rev18 adalah Sistem Komputer (siskom) yang mempelajari tentang dasar dari pemprosesan komputer pada tingkatan bahasa rendah. Seiringnya pembelajaran siskom yang dilaksanakan pada kelas X IT untuk kompetensi dasar (KD) pengetahuan 3.1 Memahami sistem bilangan (Desimal, Biner, Heksadesimal) dan KD keterampilan 4.1 Mengkonversikan nil sistem bilangan (Desimal, Biner, Heksadesimal) dalam memecahkan masalah konversi, hasil belajar peserta didik tergolong rendah atau dibawah kriteria ketuntasan minimum (KKM) yaitu < 75. Peserta didik dengan nilai dibawah KKM sebanyak 19 orang dan nilai diatas KKM sebanyak Permasalahan ini dimulai pada pembelajaran awal dengan indikasi peserta didik tidak aktif dalam pembelajaran dan lebih cenderung diam serta tidak mampu menjelaskan sesuai indikator. Sedangkan mode pembelajaran yang digunakan adalah kooperatif learning hanya memerintahkan peserta didik mengerjakan secara berkelompok secara klasikal dimana peserta didik bekerjasama mengerjakan tugas-tugas pada buku paket. Dalam sebuah artikel (Armada Galih Prakoso:2015) tentang penerapan Student Teams Achievement Division (STAD) memiliki perbedaan yang mendasar dalam hasilnya. Hasil yang ditampilkan cukup signifikan dan bernilai positif “Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, penerapan metode kooperatif tipe STAD (student team achievement division) berbantukan Cisco Packet Tracer terbukti meningkatkan pemahaman belajar peserta didik ranah kognitif pada materi topologi jaringan kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Dimana ratarata hasil posttest kelas kontrol sebesar 72,78 sedangkan rata-rata hasil posttest kelas eksperimen sebesar 80,86. Dengan menerapkan metode kooperatif tipe STAD membuat proses pembelajaran tidak membosankan, karena peserta didik lebih aktif dalam

mencari bahan untuk diskusi kelompok, menjadikan peserta didik lebih aktif dalam diskusi kelompok, dan peserta didik lebih aktif bertanya ketika kelompok lain presentasi” Berdasarkan penjabaran diatas peneliti mengajukan sebuah proposal penelitian tindakan kelas (PTK) dengan judul “Upaya Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik Dalam Pembelajaran Sistem Komputer Metode Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions Kelas X IT SMK Real Informatika

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Apakah metode kooperatif tipe student teams achievement divisions dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran sistem komputer di kelas X IT SMK Real Informatika.

2. Bagaimana metode kooperatif tipe student teams achievement divisions dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran sistem komputer di kelas X IT SMK Real Informatika.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Meningkatkan hasil belajar peserta didik X IT pada materi sistem komputer di SMK Real Informatika dengan metode kooperatif tipe student teams achievement divisions

2. Mengetahui dampak penerapan metode kooperatif tipe student teams achievement divisions dalam pembelajaran terhadap hasil belajar peserta didik

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian adalah sebagai berikut:

1. Bagi peserta didik

a) Meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap konsep pembelajaran.

b) Meningkatkan motivasi peserta didik dalam proses pembelajaran.

d)

Meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran sistem komputer.

2. Bagi guru

a) Meningkatkan keterampilan dalam menggunakan metode kooperatif tipe student teams achievement divisions agar pembelajaran lebih bermakna.

b) Meningkatkan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran.

c) Meningkatkan hasil pembelajaran peserta didik secara optimal.

3. Bagi sekolah Kegiatan penelitian dan hasil yang dicapai dapat membawa dampak positif terhadap

hasil belajar dan prestasi peserta didik.

Dengan peningkatan prestasi peserta didik berarti membawa dampak positif pada peningkatan

perkembangan sekolah yang terlihat pada peningkatan

mutu sekolah.