Anda di halaman 1dari 12

TUGAS AKHIR

MODUL 1 PROFESIONAL : EKONOMI

PAPER

TOPIK KELANGKAAN BBM


TERHADAP KONSUMSI RUMAH TANGGA

DISUSUN OLEH :

NAMA : ISMADI, SE.

NOMOR PSERTA PPG : 19090521010011

NUPTK : 1543761663200032

SEKOLAH ASAL : SMAN TUNAS BANGSA PULAU BURUNG


INDRAGIRI HILIR RIAU

BIDANG STUDI PPG : EKONOMI

NO. HP : 085264456162

LPTK : UNIVERSTIAS NEGERI MEDAN

PENDIDIKAN PROFESI GURU


UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
TAHUN 2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Pengorganisasian Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan komoditas penentu


kelangsungan perekonomian suatu negara. Hal ini disebabkan oleh berbagai sektor dan kegiatan
ekonomi termasuk di Indonesia mengandalkan BBM sebagai sumber energi dalam beraktivitas.
Setiap aktivitas yang dilakukan oleh entitas ekonomi tidak lepas dari penggunaan BBM, mulai
dari kegiatan yang dilakukan oleh rumah tangga hingga perusahaan yang memproduksi barang
dan jasa. Ditinjau dari segi transportasi, keberadaan BBM sangat penting adanya karena
kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kemudahan dan akses transportasi yang baik. Oleh
karena itu, BBM berkaitan erat dengan sistem transportasi sebagai sumber tenaga penggerak.
Bahan Bakar Minyak adalah salah satu unsur vital yang diperlukan dalam pelayanan
kebutuhan masyarakat umum baik di negara-negara miskin, negara-negara berkembang
maupun di negara-negara yang telah berstatus negara maju sekalipun (BPH Migas, Komoditas
Bahan Bakar Minyak (BBM), Penerbit BPH Migas RI, Jakarta, 2005). Pemanfaatan Bahan Bakar
Minyak (BBM), dewasa ini tidak saja berimplikasi pada kebijakan-kebijakan luar negeri suatu
negara yang berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi negara itu sendiri, namun
juga berdampak secara global yang mengakibatkan penderitaan umat manusia.
Kebijakan luar negeri suatu negara dalam hal ini terkait pemanfaatan Bahan Bakar
Minyak yang dimulai dengan upaya penguasaan terhadap sumber-sumber cadangan utama
minyak bumi di beberapa tempat, padahal tempat-tempat dimaksud telah berstatus sebagai
negara merdeka dengan kewajiban hukum yang berlaku di negaranya untuk mengurus
pengolahan dan penguasaan cadangan minyak bumi di negara itu sendiri. (Y.Sri Susilo. Subsidi
Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Perekonomian Indonesia. Pustaka Baru : Yogyakarta.2013).
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menempatkan
pengelolaan Sumber Daya Alam pada ketentuan Pasal 33. Berdasarkan ketentuan itu,
dibentuklah Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. Undang-
Undang ini menggantikan Undang-Undang Nomor 44 Prp. Tahun 1960 tentang Pertambangan
Minyak dan Gas Bumi, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1962 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1962 tentang Kewajiban Perusahaan
Minyak Memenuhi Kebutuhan Dalam Negeri, dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971 tentang
Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara yang dinilai sudah tidak sesuai lagi
dengan perkembangan usaha pertambangan minyak dan gas bumi saat itu.
Pembentukan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi
(disingkat UU MGB) menjadi dasar perubahan signifikan dalam sistem pengaturan tentang hal-
hal dengan pelaksanaan kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi, di antaranya pengelompokan
Kegiatan Usaha Hulu dan Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi. Subsidi Bahan Bakar
Minyak (BBM) adalah bahan bakar minyak yang diperuntukkan kepada rakyat yang telah
mengalami proses subsidi dan diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2012 tentang
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang berisi macam-macam subsidi yang diberikan
pemerintah termasuk subsidi BBM. Dari total Anggaran Belanja sebesar Rp 1.683,011 triliun,
sebanyak Rp 193,805 triliun dianggarkan untuk subsidi Bahan Bakar Minyak. (Robert Biersted,
The Social Order, dimuat dalam http://repository.unila, di akses pada tanggal 25 Oktober 2014,
pukul 20.00 WIB)
Krisis bahan bakar minyak yang terjadi di dalam negeri hanya bisa teratasi jika akar
permasalahan kelangkaan BBM di analisa penyebabnya. Apalagi menyangkut BBM, sebagai
unsur vital dalam sektor produksi dan transportasi untuk menjalankan roda perekonomian
negara. Hal lain yang mempengaruhi terjadinya krisis BBM adalah kemampuan kilang tidak dapat
memenuhi permintaan minyak, cadangan minyak di hulu masih rendah, pasar dipengaruhi oleh
geopolitik yang buruk di beberapa negara.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :


1. Bagaimana penyebab kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM)?
2. Bagaimana peranan pemerintah dalam menghadapi masalah ini?
3. Bagaimana penyelesaian yang di tempuh pemerintah dalam mengatasi kelangkaan bahan
bakar minyak?

C. Tujuan

Adapun tujuan penulisan dalam paper ini adalah agar kita dapat mengetahui dan memahami:
1. Untuk mengetahui penyebab kelangkaan bahan bakar minyak
2. Untuk mengetahui sejauh mana peranan pemerintah dalam menghadapi masalah ini
3. Untuk mengetahui penyelesaian yang di tempuh pemerintah dalam mengatasi kelangkaan
bahan bakar minyak.

D. Metode Penulisan

Dalam penulisan ini, penulis menggunakan metode kualitatif yang bermaksud mencari
fakta sebanyak-banyaknya untuk kemudian diambil suatu kesimpulan. Penulis menguraikan
penulisan ini dengan cara deskriptif (memaparkan) yang dapat diartikan sebagai prosedur
pemecahan masalah yang dikelilingi dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan atau
subjek atau objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang
berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya.
BAB II

PEMBAHASAN

1. Penyebab Kelangkaan BBM

Kelangkaan bahan bakar merupakan masalah yang sering terjadi dan umum di Negara
Indonesia. Masalah ini adalah salah satu masalah yang sangat berdampak pada masyarakat,
terutama masyarakat yang berkendara baik roda satu maupun roda dua karena bahan bakar
minyak adalah salah satu hal yang perlu digunakan bagi kendaraan. Begitu juga bagi rumah
tangga, tiap harinya membutuhkan Bahan Bakar Minyak dalam melakukan kegiatan sehari –
hari.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengungkapkan penyebab
kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM). Salah satunya disebabkan data penyaluran yang
dikeluarkan melalui nozzle Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) tidak akurat.
Ditambah PT Pertamina (Persero) juga tidak dapat memastikan pasokan BBM pada setiap
SPBU. Karena secara historikal, data BBM sangat jauh dari akurat. "Jadi kita sering menghadapi
kelangkaan BBM karena kita menyimpan stok dimana tidak akurat. Kalau kita mau ambil
keputusan tapi diberikan data sampah, ya keputusannya jadi keputusan sampah," tegas Rini di
Jakarta, Jumat (31/8/2018).
Karena itu, dia mengatakan akan mempercepat implementasi sistem digital pada 5.518
SPBU milik PT Pertamina. Digitalisasi SPBU ini meliputi penyediaan infrastruktur digital SPBU,
pusat data dan konektivitas di 5.518 SPBU yang mencakup 75.000 nozzle di seluruh Indonesia.
Dengan teknologi digital, baik penyaluran maupun ketersediaan BBM di tiap-tiap SPBU akan
disampaikan melalui data langsung (real time), sehingga dapat mengetahui daerah mana saja
yang mengalami kelangkaan BBM. "Saya mengharapkan Ibu Nicke Widyawati (Dirut Pertamina)
dan Pak Alex Sinaga (Dirut Telkom) bekerja sama untuk merealisasikan secepat mungkin. Saya
tahu tidak mudah karena ada banyak stakeholder yang dirangkul," katanya.
Tidak hanya itu, dengan sistem digital, pemerintah akan semakin mudah memantau
penyaluran subsidi tepat sasaran atau tidak. Karena menurutnya penyaluran subsidi dalam
APBN harus bisa dipantau. "Paling utama kita akan memanfaatkan APBN seefisien mungkin
dalam hal subsidinya. Saya menyadari ini bukan pekerjaan yang mudah karena banyak sekali
stakeholder yang harus kita rangkul dan banyak juga stakeholder yang belum tau apa sih ini
digital-digital. Ini memang proses sistem informasi penggunaan pemilik SPBU agar bisa berjalan
dengan baik," jelasnya. (SindoNews.Com).
Kelangkaan BBM yang terjadi dibeberapa daerah di Indonesia, bisa disebabkan oleh
beberapa sebab berikut :
1) Pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan pertumbuhan produksi
2) Ketersediaan sumber daya alam yang terbatas
3) Terbatasnya kemampuan manusia
4) Sifat serakah manusia
5) Kurangnya tenaga-tenaga ahli
6) Ketidakbijakkan keputusan pemerintah
7) Terjadi bencana alam.

Selain ketujuh penyebab itu, ada 3 faktor lain penyebab kelangkaan BBM, menurut faktor
teknis, faktor spekulatif, dan faktor politik ekonomi.
1) Dari sisi teknis, kelangkaan BBM terjadi karena penjual BBM bersubsidi berkurang sehingga
tidak dapat memenuhi kebutuhan lokal dan nasional. Berkurangnya supply BBM disebabkan
adanya program konversi minyak tanah ke gas LPG dan terjadinya goncangan harga minyak
dunia. Dan masalah ini menyebabkan meningkatnya harga minyak dunia sebesar 40%
hanya dalam waktu empat bulan, dan menyebabkan kemampuan finansial Pertamina
mengimpor minyak mentah dan BBM menjadi sangat terbatas. Akibatnya Pertamina tidak
dapat memenuhi kebutuhan kilang minyaknya yang berdampak pada berkurangnya
pasokan BBM.
2) Dari faktor spekulatif yang berasal dari dalam negeri dan luar negeri. Di dalam negeri adanya
BBM bersubsidi dan BBM tidak bersubsidi untuk industri menyebabkan disparitas harga.
Misalnya berdasarkan harga yang ditetapkan Pertamina tanggal 15 Desember 2007 untuk
wilayah I, harga solar bersubsidi Rp 4.300 per liter sedangkan harga solar non subsidi
mencapai Rp 8.235 per liter. Perbedaan harga ini menyebabkan terjadinya pasar gelap
BBM. Sehingga sebagian pasokan BBM untuk masyarakat pada tahap distribusi
diselewengkan ke industri, apalagi tingkat kenaikan harga BBM non subsidi pada Desember
ini mencapai 21% lebih. Jadi kebijakan pemerintah menghapuskan sebagian subsidi
memiliki dampak buruk yakni ekonomi gelap.
3) Dari faktor politik ekonomi sangat menentukan penguasaan dan harga minyak dunia. Faktor
ini pula yang menyebabkan spekulasi lokal dan internasional, dan supply yang tidak
berimbang di tingkat nasional. Di Indonesia sejak Orde Baru pemerintah telah meliberalisasi
sektor hulu (upstream) migas sehingga hampir 90% produksi minyak Indonesia dikuasai.
Undang-Undang Penanaman Modal tidak membedakan lagi kedudukan investor dalam
negeri dengan investor asing dan hampir semua sektor perekonomian dibuka untuk investor
asing kecuali sektor-sektor yang tidak memberikan keuntungan. Dengan diundangkannya
Undang-Undang Penanaman Modal arus liberalisasi semakin kuat. Liberalisasi khususnya
terjadi pada sektor-sektor strategis dan memberikan keuntungan besar seperti sektor hilir
migas. Karenanya pemerintah sangat berkepentingan menaikkan harga BBM sehingga
margin keuntungan bisnis hilir BBM semakin tinggi. Margin keuntungan yang tinggi inilah
yang diharapkan pemerintah dapat memberikan daya tarik besar kepada investor asing. Jadi
tidak benar alasan pemerintah mengurangi subsidi untuk menghemat anggaran.

2. Peran Pemerintah

Pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1
Tahun 2013 Tentang Pengendalian Penggunaan BBM yang menjelaskan wilayah serta jumlah
BBM bersubsidi yang diberikan. Terdapat beberapa poin penting yang dapat disoroti dan dikaji
dari pembatasan subsidi BBM, yaitu latar belakang kebijakan, cara pengendalian, sosialisasi
kebijakan, kendala yang dihadapi, serta biaya dan keuntungan.
Setiap tahun pemerintah mengeluarkan dana untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Jumlah subsidi BBM yang dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan Negara (APBN), selain
cenderung meningkat, juga cukup besar dibandingkan komponen pengeluaran APBN yang lain,
khususnya setelah krisis finansial atau Ekonomi tahun 1997/1998. Subsidi BBM sendiri telah
menjadi topik perbincangan yang ramai dibicarakan masyarakat, meliputi apakah subsidi BBM
itu membebani APBN atau apakah ia dapat dibenarkan secara ekonomi.
Subsidi BBM diberikan oleh pemerintah kepada perusahaan Tambang Minyak Negara
(Pertamina) sebagai konsekuensi dari penetapan harga BBM yang dilakukan oleh pemerintah.
Sebagaimana kita ketahui bahwa Pertamina melaksanakan tugas penyediaan dan pelayanan
Bahan Bakar Minyak untuk keperluan dalam negeri diperintahkan oleh Undang-undang nomor 8
tahun 1971 tentang perusahaan pertambangan minyak dan gas bumi negara sebagai tugas
pelayanan masyarakat.
Bahan bakar minyak merupakan kebutuhan dasar dalam industri di seluruh dunia, tetapi
bahan bakar minyak merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Kebutuhan
bahan bakar minyak baik dalam bidang industri maupun transportasi semakin hari semakin
meningkat karena mesin-mesin tersebut membutuhkan bahan bakar minyak dan dapat
menyebabkan adanya kelangkaan bahan bakar minyak tersebut, namun kebutuhan yang
semakin tinggi terhadap BBM tidak didukung dengan sumber daya alam yang mengalami
penurunan.
Peristiwa tentang kejahatan atau tindak pidana dalam masyarakat telah mendominasi
pemberitaan di indonesia setiap harinya, baik melalui media cetak maupun media elektronik.
Kejahatan tersebut antara lain mengenai penyalahgunaan BBM bersubsidi secara ilegal,
merupakan kegiatan yang dengan tanpa izin mengumpulkan, menampung dan menyimpan BBM
di suatu tempat yang tidak berdasarkan atau tidak sesuai dengan izin usaha pengelolaan yang
mendapat rekomendasi dari pemerintah daerah yang sudah ditetapkan dalam Pasal 23 Ayat (1)
UU MGB.
Pelaksanaan penyalahgunaan BBM secara ilegal memiliki maksud dan tujuan tertentu
untuk menguntungkan diri sendiri dengan memanfaatkan atau mengambil keuntungan dari
kondisi suatu tempat atau daerah yang sedang mengalami kelangkaan BBM. Penyalahgunaan
BBM secara ilegal tanpa izin merupakan kegiatan mengolah, membeli, memindahkan dan/atau
menampung BBM dengan cara membeli BBM ketika BBM masih dalam keadaan normal. BBM
tersebut disimpan untuk kemudian dijual kembali dengan harga yang sudah dinaikkan dari harga
normal semula, ketika suatu tempat atau daerah sedang mengalami kelangkaan BBM.
Sejak dilantiknya sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke – 7, yang penulis kutip dari
harian CNN Indonesia Jumat, 19/10/2018 15:50 WIB, banyak hal yang telah dilakukan oleh
pemerintah lewat kebijakannya untuk mengatasi kelangkaan BBM. Berjalan kembali ke masa lalu,
tepatnya pasca pelantikan Presiden 2014, Joko Widodo membuat gebrakan dengan
mengumumkan kebijakan perdana yang tak populis. Presiden ke-7 RI itu mengalihkan subsidi
Bahan Bakar Minyak (BBM) ke anggaran infrastruktrur, sehingga harga BBM bersubsidi naik.
Racikan strategi BBM itu sebenarnya sudah disuarakan ketika masa kampanye Pemilihan
Presiden. Siapa sangka, kebijakan tak populis itu justru bisa memenangkan hati rakyat. Selang
sebulan berkantor di Istana Negara pada November 2014, Jokowi langsung mematangkan janji
kampanyenya dengan mengubah skema subsidi menjadi penugasan ke Pertamina dan turut
mengerek harga BBM. Kala itu, harga Premium naik menjadi Rp 8.500 per liter dari semula Rp
6.500 per liter. Sedangkan, harga Solar melonjak menjadi Rp 7.500 per liter dari Rp 5.500 per
liter.
Namun, tak lama tahun berganti, Jokowi menurunkan harga BBM. Alasannya, mengikuti
perkembangan harga minyak mentah dunia dan kebijakan subsidi tetap yang diterapkannya.
"Harga BBM turun mengikuti harga pasar dunia," katanya saat itu. Namun, lagi-lagi baru dua
bulan berselang, Jokowi kembali mengerek harga BBM pada Maret 2015. Saat itu, Premium naik
dari Rp6.600 menjadi Rp6.800 per liter dan kemudian naik lagi menjadi Rp7.400 per liter.
Sedangkan Solar dari Rp6.400 menjadi Rp6.900 per liter. Tak hanya BBM subsidi, pemerintah
juga mengerek harga BBM nonsubsidi pada 2015. Pertalite dan Dexalite masing-masing naik
Rp1.000 per liter. Pada 2016, kini giliran harga Pertamax yang naik dari Rp8.600 menjadi
Rp8.900 per liter. Lalu, Pertamax Turbo naik dari Rp9.600 menjadi Rp10.100 liter dan Dexalite
dari Rp9.250 menjadi Rp10 ribu per liter. Namun, pada April 2016, harga Premium dan Solar
kembali diturunkan, masing-masing turun Rp450 dan Rp550 per liter. Lalu, pada Oktober 2016,
harga Premium kembali turun Rp450 per liter, sedangkan harga Solar naik Rp600 per liter.
Kemudian, pada November 2016, giliran harga Pertamax dan Pertamax Plus yang naik sekitar
Rp250 per liter.
Memasuki awal 2017, Jokowi kembali mengerek harga Pertalite, Pertamax, dan Dexalite,
masing-masing Rp300 per liter. Meski Jokowi tak mengerek harga di pertengahan tahun, namun
pada akhir 2017, ia kembali mengerek harga Pertamax sekitar Rp300 per liter. Pada awal 2018,
Jokowi sempat menaikkan harga Pertamax sebesar Rp200 per liter menjadi Rp8.600 per liter,
dan Pertamax Turbo naik Rp250 per liter menjadi Rp9.600 per liter. Lalu, sekitar Februari 2018,
harga Pertamax dan Pertamax Turbo kembali naik, masing-masing Rp300 dan Rp500 per liter.
Usai Lebaran, harga Dexalite naik Rp900 per liter, Pertamax naik Rp600 per liter, Pertamina Dex
Rp400 per liter, dan Pertamax Turba Rp500 per liter. Teranyar, harga Pertamax naik Rp900 per
liter menjadi Rp10.400 per liter pada 10 Oktober 2018 lalu.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah Redjalam
menilai langkah Jokowi sudah cukup tepat, karena kebijakan dilakukan ketika harga minyak
mentah dunia berada di level rendah. Jadi, tidak sekedar menetralkan anggaran negara, tetapi
juga menciptakan amunisi tambahan untuk mendanai program lain sesuai janjinya. "Dengan
kenaikan itu, pemerintah Jokowi mendapat kesempatan membangun infrastruktur secara masif.
Tanpa kenaikan harga BBM, pembangunan infrastruktur tidak mungkin dilakukan," ucapnya.
Menurut dia, sosialisasi yang dilakukan pemerintah dianggapnya berhasil membuat masyarakat
sadar untuk ikut menanggung beban harga BBM. Perlahan, hal ini membuat budaya konsumsi
baru bagi masyarakat untuk tidak bergantung pada BBM subsidi, terutama masyarakat kelas
menengah.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira
Adhinegara menilai kebijakan Jokowi di era awal cukup jitu. Setidaknya, perubahan skema dari
subsidi ke penugasan membuat pemerintah berhasil mengendalikan harga BBM, bahkan stabil
dalam beberapa tahun ke terakhir. "Kira-kira beban subsidi BBM di APBN 2014-2017 turun 58
persen, sehingga pemerintah bisa mengalihkan anggaran untuk subsidi BBM ke belanja lain
yang lebih produktif," terangnya.
Meski jitu, namun kebijakan BBM Jokowi di masa lalu dianggap masih bercelah.
Perubahan skema kebijakan BBM dianggap semu, karena pemerintah hanya mengalihkan
beban subsidi dari APBN ke BUMN, yaitu PT Pertamina (Persero) sebagai penerima tugas. Jadi,
subsidi tidak serta merta hilang. Hal ini memberi tekanan ke keuangan Pertamina, meski
perusahaan pelat merah itu masih bisa mencetak untung. Persoalan keuangan sangat
berpengaruh pada proses bisnis Pertamina. Menurut hitung-hitungannya, Pertamina memiliki
potensi kehilangan untung sekitar Rp23 triliun. Padahal, dana itu seharusnya bisa digunakan
untuk meningkatkan pembangunan kilang dan mencari sumber minyak baru atau eksplorasi.
"Lifting minyak konsekuensinya turun, penyaluran Premium naik, belum lagi ketika Pertamina
harus menerapkan harga BBM satu harga," katanya.

3. Penyelesaian yang dilakukan pemerintah

Selain persoalan harga, masalah kelangkaan peredaran BBM tak luput dikeluhkan
masyarakat di era kepemimpinan Jokowi yang sudah berusia empat tahun. Hal ini pun pernah
diakui langsung oleh Wakil Menteri ESDM Archandra Tahar. "Kami mencermati ada kelangkaan,
ada kekurangan pasokan oleh Pertamina dan itu dicermati oleh BPH Migas, datanya valid,"
ungkapnya.
Untuk mengatasi krisis atau kelangkaan BBM dan energi, perlu diambil langkah-langkah
yang strategis agar BBM sebagai unsur vital dalam sektor produksi dan transportasi dapat
tersedia secara terus-menerus. Tentunya untuk mengatasi semua ini sebagaimana ajakan
mantan Presiden Susilo Bambang Yodhoyono dan wakil Presiden Jusuf Kalla, kita secara
bersama-sama melakukan penghematan bahan bakar dan energi guna mengurangi permintaan
akan kebutuhan BBM yang terus meningkat. Upaya penghematan dapat dilakukan dengan cara
membatasi perjalanan, mengurangi penggunaan mobil pribadi, mengurangi tingkat pemakaian
AC yang berlebihan, menyalakan listrik pada saat diperlukan. Namun, upaya penghematan ini
akan berhasil jika dilakukan dengan penuh kesadaran, sungguh-sungguh dan konsisten.
Penghematan energi di negara maju maupun di negara berkembang seperti Indonesia
memerlukan strategi nasional dan waktu yang panjang. Hasilnya tidak bisa dinikmati dalam
jangka pendek. Ini harus kita sadari bersama. Kini pemerintah ingin mengatasi kelangkaaan
bahan bakar minyak (BBM) dengan gerakan hemat energi. Dalam rangka itu, pemerintah
mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No 10 tahun 2005 tentang Penghematan Energi. Tapi
perlu digaris bawahi bahwa Inpres No 10/2005 tidak akan efektif mengatasi masalah kelangkaan
BBM dalam jangka pendek.
Tanpa krisis BBM seperti sekarang inipun, penghematan energi seharusnya sudah
menjadi national policy – karena dalam jangka panjang seluruh dunia akan kekurangan energi.
Jadi, hemat energi harus merupakan gerakan jangka panjang. Dalam kaitan ini, harus mulai
dirancang penggunaan energi alternatif berbasiskan pada alam yang tidak terpolusi, seperti
energi matahari dan energi angin. Untuk itu pula perlu dipikirkan langkah-langkah nyata
dalam jangka panjang, misalnya dengan mengadakan investasi infrastruktur yang diberi insentif
menarik. Gerakan hemat energi sendiri harus dibarengi langkah-langkah sistematis. Jadi, tidak
ada hock dan tanpa pertimbangan business like seperti ditekankan dalam Inpres No 10/2005.
Kesadaran masyarakat sendiri tentang hemat energi selama ini terbilang cukup tinggi.
Penggunaan listrik, misalnya, hanya dilakukan pada saat perlu saja. Karena itu, pada siang hari
lampu penerangan dimatikan. Lampu yang digunakan juga hemat energi. Jadi, lupakan program
hemat energi dalam jangka pendek. Yang perlu dikerjakan pemerintah adalah menyediakan BBM
dalam jumlah cukup sesuai kebutuhan masyarakat. Pemerintah tentu sudah mengetahui
penyebab kelangkaan BBM sekarang ini. Sungguh ironis kalau pemerintah sampai tidak tahu-
menahu soal itu. Sumber masalah kelangkaan BBM antara lain terkait biaya operasional
Pertamina yang begitu mahal. Biaya pengolahan minyak yang seharusnya hanya 6 dolar AS,
kenapa di Pertamina menjadi 16 dolar AS per barel? Padahal perusahaan-perusahaan lain bisa
menyediakan BBM dengan harga rendah. Ini merupakan poin tersendiri yang perlu dicermati.
Jadi, kalau kelangkaan BBM sekarang ini tidak bisa diatasi, pemerintah perlu mengambil langkah
lebih jauh. Perlu diingat bahwa muara kelangkaan BBM ini terletak pada ketidakmampuan
menteri-menteri terkait. Karena itu, Presiden tidak perlu sungkan-sungkan mengambil tindakan
tegas. Presiden harus berani merombak anggota kabinet, khususnya menteri-menteri yang tidak
mampu menemukan solusi mengatasi kelangkaan BBM.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Di Indonesia, kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah sering terjadi. Hal ini
menimbulkan kekhawatiran di masyarakat dimana akan ada antrian di setiap Stasiun Pengisian
Bahan Bakar Umum (SPBU). Biasanya kelangkaan BBM terjadi karena adanya rencana
pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak, terutama BBM bersubsidi. Kelangkaan
BBM ini sudah menjadi fenomena unik di negeri ini, bahkan sudah menjadi agenda tahunan
dimana setiap ada kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM, maka kelangkaan pun
terjadi. Tidak tahu siapa yang harus disalahkan, apakah sistem terkait yang mengatur yang salah
atau ada oknum yang ingin mengambil keuntungan dari fenomena ini.
Apakah ada solusi untuk mengatasi hal ini?

Mungkin ini sebuah pertanyaan yang sudah sering dipertanyakan. Hanya saja, sampai
sejauh ini belum ada solusi terbaik untuk mengatasi kelangkaan bahan bakar minyak ini.
Meskipun telah banyak cara yang diterapkan pemerintah sebagai solusi untuk mengatasi
masalah kelangkaan ini. Tetapi, semua tidak berjalan sesuai rencana. Harus ada ketegasan
untuk menerapkan cara-cara yang diterapkan pemerintah. Mungkin kita pernah mendengar
dimana mobil mewah, mobil pejabat dan lainnya yang masuk dalam kategori mewah tidak boleh
mengisi BBM bersubsidi. Namun, beberapa media menemukan banyak mobil mewah tersebut
mengisi BBM bersubsidi yang sebenarnya ditujukan pemerintah untuk kalangan bawah.
Untuk menemukan solusi terbaik memang tidak hanya kerja pemerintah saja karena
peran masyarakat sangat penting, terutama kesadaran masing-masing untuk mentaati peraturan
pemerintah. Jangan mudah terpancing oleh isu yang berkembang atau terlalu cepat mengambil
kesimpulan dari perbincangan yang tidak memilik sumber akurat. Semua ini demi kebaikan
bersama.

B. SARAN

Berbagai fenomena yang terjadi karena kelangkaan BBM di Indonesia saat ini
seharusnya menjadi cerminan bagi pemerintah agar ke depannya lebih baik lagi dalam
mengambil kebijakan. Kebijakan yang tidak merugikan kalangan bawah atau masyarakat yang
tidak mampu. Hal lain yang perlu dan penting untuk dilakukan, yaitu pemerintah harus
memperlancar suplai dan distribusi agar persediaan stok BBM tidak berada di bawah 21-22 hari.
Perlunya pemerintah dan DPR melakukan penyesuaian harga patokan BBM dalam APBN
perubahan dari yang ditetapkan 45 dollar AS perbarrel menjadi pada titik angka yang masuk
akal, akibat harga minyak mentah dunia yang terus naik hingga menembus 58-59 dollar per
barrel.
Fluktuasi suplai dan harga minyak bumi seharusnya membuat kita sadar bahwa jumlah
cadangan minyak yang ada di bumi semakin menipis. Karena minyak bumi adalah bahan bakar
yang tidak bisa diperbaharui maka sikap kita adalah harus mulai menghemat bahan minyak bumi.
Tindakan-tindakan kita dalam menghematnya adalah :

1) Membayar pajak dengan teratur


2) Menggunakan BBM atau minyak tanah sebijak mungkin
3) Mencari dan membuat bahan bakar alternatif seperti biogas dari kotoran hewan
4) Belajar dengan rajin agar kita sebagai penerus bangsa dapat menciptakan mesin yang dapat
mengubah minyak bumi menjadi BBM atau minyak tanah
5) Menggunakan bahan bakar alternatif seperti sel surya yang memanfaatkan cahaya matahari
6) Mendukung kebijakan pemerintah seperti ditetapkannya hari minggu sebagai hari bebas
kendaraan.
DAFTAR PUSTAKA

BPH Migas, Komoditas Bahan Bakar Minyak (BBM), Penerbit BPH Migas RI, Jakarta, 2005
Y.Sri Susilo. Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Perekonomian Indonesia. Pustaka Baru :
Yogyakarta.2013
Robert Biersted, The Social Order, dimuat dalam http://repository.unila, di akses pada tanggal
25 Oktober 2014, pukul 20.00 WIB)
http://farisdwiristian.blogspot.com/2012/11/kelangkaan-bbm.html
https://taoefiq27.wordpress.com/2010/09/13/kelangkaan-bbm-atau-minyak-tanah/

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20181019100627-85-339724/strategi-jokowi-utak-atik-

harga-bbm

http://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/komoditas/minyak-bumi/item267

https://adykenzie.blogspot.com/2016/08/menanggapi-kelangkaan-bahan-bakar-minya.html