Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM


PENCERNAAN PADA KASUS GASTRITIS DI PUSKESMAS GUNUNG SARI
LOMBOK BARAT

OLEH

SITI HARDIANTI MULIA

108STYC16

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN JENJANG S.1

1
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM
PENCERNAAN PADA KASUS GASTRITIS

2.1 KONSEP DASAR PENYAKIT


2.1.1 DEFINISI
Gastritis akut erosif adalah suatu peradangan permukaan mukosa lambung
yang akut dengan kerusaan-kerusakan erosi. Disebabkan oleh kuman-kuman (misalnya
pada pneumonia), virus ( influensa, variola, morbili dan lain-lain) atau karena
makanan-minuman (bahan-bahan kimia, arsen, plumbum, obat-obat yang mengndung
salisilat, asam-basa kuat, KMnO4 dan lain-lain). Terjadinya radang difus di mukosa
lambung, dengan erosi-eosi yang mungkin berdarah. Sering kali nyeri epigastrium
tiba-tiba dan hematemesis. Disebut erosif akibat kerusakan yang terjadi tidak lebih
dalam dari pada mukosa muskularis.
Suatu peradangan permukaan mukosa lambung yang akut dengan kerusakan
erosi. Erosif karena perlukaan hanya pada bagian mukosa. bentuk berat dari gastritis
ini adalah gastritis erosive atau gastritis hemoragik. Perdarahan mukosa lambung
dalam berbagai derajad dan terjadi erosi yang berarti hilangnya kontinuitas mukosa
lambung pada beberapa tempat.
Penyakit ini dijumpai di klinik, sebagai akibat samping pemakaian obat,
sebagai penyakit-penyakit lain atau karena sebab yang tidak diketahui. Perjalanan
penyakitnya biasanya ringan, walaupun demikian kadang-kadang menyebabkan
kedaruratan medis, yakni perdarahan saluran cerna bagian atas. Penderita gastritis akut
erosif yang tidak mengalami perdarahan sering diagnosisnya tidak tercapai. Untuk
menegakkan diagnosa tersebut diperlukan pemeriksaan khusus yang sering dirasakan
tidaka sesuai dengan keluhan penderita yang ringan saja.

2.1.2 ETIOLOGI
1. Obat analgetik anti inflamasi, terutama aspirin.
2. Bahan-bahan kimia
3. Merokok

2
4. Alkohol
5. Stres fisik yang disebabkan oleh luka bakar, sepsis, trauma, pembedahan, gagal
pernafasan, gagal ginjal, kerusakan susunan saraf pusat.
6. Refluks usus ke lambung.
7. Endotoksin.

2.1.3 TANDA DAN GEJALA


Sebagian penderita datang berobat karena muntah darah. Sering penderita
tersebut tidak mempunyai keluhan tertentu sebelumnya dan sebagian besar penderita
hanya mempunyai keluhan yang ringan saja, seperti : Nyeri epigastrium yang tidak
hebat, kadang-kadang disertai mual dan muntah .Pemeriksaan fisik sering tidak
membantu. Kadang-kadang dijumpai nyeri tekan yang ringan saja pada daerah
epigastrium

2.1.4 MANIFESTASI KLINIS


Gambaran klinis gastritis akut erosif sangat bervariasi, mulai dari yang sangat
ringan asimptomatik sampai sangat berat yang dapat membawa kematian. Manifestasi
tersebut adalah:
1. Muntah darah
2. Nyeri epigastrium
3. Neusa dan rasa ingin vomitus
4. Nyeri tekan yang ringan pada epigastrium
Pada pemeriksaan fisik biasanya tidak ditemukan kelainan, kecuali mereka yang
mengalami perdarahan hebat hingga menimbulkan gangguan hemodinamik yang nyata
seperti hipotensi, pucat, keringat dingin, takikardi sampai gangguan kesadaran.

2.1.5 PATOFISIOLOGI
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kerusakan mukosa lambung.
Faktor-faktor itu adalah :
1. Kerusakan mucosal barrier sehingga difusi balik ion H meninggi.
2. Perfusi mukosa lambung yang terganggu

3
3. Jumlah asam lambung merupakan faktor yang sangat penting.
Faktor-faktor tersebut tidak berdiri sendiri. Misalnya strees fisis menyebabkan
perfusi mukosa lambung terganggu, sehingga timbul daerah-daerah infark kecil.
Disamping itu sekresi asam lambung juga terpacu. Mucosal barrier pada penderita
strees fisis biasanya tidak terganggu. Hal itu yang membedakannya dengan gatritis
erosif karena bahan kimia atau obat. Pada gastritis refluks, gastritis karena bahan
kimia, obat, mucosal barrier rusak sehingga difusi balik ion H meninggi. Suasana asam
yang terdapat pada lumen lambung akan mempercepat kerusakan mucosal barrier oleh
cairan usus.

4
2.1.6 WOC/ PATHWAY

5
2.1.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG
Diagnostik gastritis akut erosif, ditegakkan dengan pemeriksaan endoskopi dan
dilanjutkan dengan pemeriksaan histologi biopsi mukosa lambung. Pemeriksaan
radiologis biasanya tidak mempunyai arti dan baru dapat membantu apabila digunakan
kontras ganda.
1. Endoskopi
Pada pemeriksaan endoskopi akan nampak erosi multipel yang sebagian biasanya
tampak berdarah dan letaknya tersebar. Kadang-kadang dijumpai erosi yang
mengelompok pada satu daerah. Mukosa umumnya tampak merah. Kadang-
kadang dijumpai daerah erosif yang ditemukan pada mukosa yang tampak normal.
Pada saat pemeriksaan dapat dijumpai adanya lesi yang terdiri dari semua
tingkatan perjalanan penyakit nya. Akibatnya pada saat itu terdapat erosi yang
masih baru bersama-sama dengan lesi yang sudah mengalami penyembuhan.
2. Histopatologi
Pada pemeriksaan histoptologi kerusakan mukosa karena erosi tidak pernah
melewati mukosa muskularis. Ciri khas gastritis erosif ialah sembuh sempurna dan
terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Oleh karena itu pemeriksaan endoskopi ,
sebaiknya dilakukan seawal mungkin.
3. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak terlalu spesifik untuk penderita gastritis, tetapi
dapat dilakukan untuk melihat adanya anemia bila terjadi perdarahan. Batas serum
gastrin biasanya menurun atau normal. Serum vitamin B 12 dapat dikaji untuk
melihat kekurangan vitamin B 12.

2.1.8 KOMPLIKASI
Komplikasi yang penting adalah :
1. Perdarahan saluran cerna bagian atas yang merupakan kedaruratan medis.
Kadang-kadang perdarahannya cukup banyak sehingga dapat menyebabkan
kematian.
2. Terjadinya ulkus, kalau prosesnya hebat.
3. Jarang terjadi perforasi.

6
2.1.9 PENATALAKSANAAN
1. Istirahat baring
2. Diet makanan cair, setelah hari ketiga boleh makan makanan lunak. Hindari
bahan-bahan yang merangsang.
3. Bila mual muntah, dapat diberikan antiemetik seperti dimenhidrinat 50-100 mg
per-os atau klorpromazin 10-20 mg per-os. Bila disebabkan oleh kuman-kuman,
berikan antibiotika yang sesuai.
4. Bila nyeri tidak hilang denga antasida, berikan oksitosin tablet 15 menit sebelum
makan.
5. Berikan obat antikolinergik bila asam lambung berlebihan.

2.2 KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


2.2.1 PENGKAJIAN
1. Anamnesis
Anamnesis yang lengkap serta pemeriksaan fisik merupakan kunci untuk
diagnosis tepat. Keluhan dan gejala klinis permulaan merupakan tanda awal
penyakit kanker paru. Batuk disertai dahak yang banyak dan kadang-kadang
bercampur darah, sesak nafas dengan suara pernafasan nyaring (wheezing), nyeri
dada, lemah, berat badan menurun, dan anoreksia merupakan keadaan yang
mendukung. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan pada pasien kanker paru
adalah faktor usia, jenis kelamin, kebiasaan merokok, dan terpapar zat karsinogen
yang dapat menyebabkan nodul soliter paru.
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menemukan kelainan-kelainan berupa
perubahan bentuk dinding toraks dan trakea, pembesaran kelenjar getah bening
dan tanda-tanda obstruksi parsial, infiltrate dan pleuritis dengan cairan pleura.
3. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium ditunjukkan untuk:
a. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulakan oleh kanker paru.
Kerusakan pada paru dapat dinilai dengan pemeriksaan faal paru atau
pemeriksaan analisis gas.

7
b. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru pada
organ-organ lainnya.
c. Menilai seberapa jauh kerukasan yang ditimbulkan oleh kanker paru pada
jaringan tubuh baik oleh karena tumor primernya maupun oleh karena
metastasis.
4. Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan radiologi adalah pemeriksaan yang paling utama dipergunakan untuk
kanker paru. Kanker paru memiliki gambaran radiologi yang bervariasi.
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan keganasan tumor dengan melihat
ukuran tumor, kelenjar getah bening, dan metastasis ke organ lain.
Pemeriksaan radiologi dapat dilakukan dengan metode tomografi computer. Pada
pemeriksaan tomografi computer dapat dilihat hubungan kanker paru dengan
dinding toraks, bronkus, dan pembuluh darah secara jelas. Keuntungan tomografi
computer tidak hanya memperlihatkan bronkus tetapi juga struktur disekitar lesi
serta infasi tumor ke dinding toraks. Tomografi computer juga mempunyai
resolusi yang lebih tinggi, dapat mendeteksi lesi kecil dan tumor yang
tersembunyi oleh struktur normal yang berdekatan.
5. Sitologi
Sitologi merupakan metode pemeriksaan kanker paru yang mempunyai nilai
diagnostik yang tinggi dengan komplikasi yang rendah. Pemeriksaan dilakukan
dengan mempelajari sel pada jaringan. Pemeriksaan sitologi dapat menunjukkan
gambaran perubahan sel, baik pada stadium prakanker maupun kanker. Selain itu
dapat juga menunjukkan proses dan sebab peradangan.
Pemeriksaan sputum adalah salah satu teknik pemeriksaan yang dipakai untuk
mendapatkan bahan sitologik. Pemeriksaan sputum adalah pemeriksaan yang
paling sederhana dan murah untuk mendeteksi kanker paru stadium preinvasif
maupun invasif. Pemeriksaan ini akan memberi hasil yang baik terutama untuk
kanker paru yang letaknya sentral. Pemeriksaan ini juga sering digunakan untuk
skrining terhadap kanker paru pada golongan risiko tinggi.
6. Bronkoskopi

8
Setiap pasien yang dicurigai menderita tumor bronkus merupakan indikasi untuk
bronkoskopi. Dengan menggunakan bronkoskop fiber optik, perubahan
mikroskopik mukosa bronkus dapat dilihat berupa nodul atau gumpalan daging.
Bronkoskopi akan lebih mudah dilakukan pada tumor yang letaknya di sentral.
Tumor yang letaknya di perifer sulit dicapai oleh ujung bronkoskop.
7. Biopsi transtorakal
Biopsi aspirasi jarum halus transtorakal banyak digunakan untuk mendiagnosis
tumor pada paru terutama yang terletak di perifer. Dalam hal ini diperlukan
peranan radiologi untuk menentukan ukuran dan letak, juga menuntun jarum
mencapai massa tumor. Penentuan letak tumor bertujuan untuk memilih titik
insersi jarum di dinding kulit toraks yang berdekatan dengan tumor.
8. Torakoskopi
Torakoskopi adalah cara lain untuk mendapatkan bahan guna pemeriksaan
histopatologik untuk kanker paru. Torakoskopi adalah pemeriksaan dengan alat
torakoskop yang ditusukkan dari kulit dada ke dalam rongga dada untuk melihat
dan mengambil sebahagian jaringan paru yang tampak. Pengambilan jaringan
dapat juga dilakukan secara langsung ke dalam paru dengan menusukkan jarum
yang lebih panjang dari jarum suntik biasa kemudian dilakukan pengisapan
jaringan tumor yang ada

2.2.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d adanya eksudat di alveolus
2. Pola nafas tidak efektif b/d sindrom hipoventilasi
3. Gangguan pertukaran gas b/d hipoventilasi
4. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan
pemasukan/ mencerna/ mengabsorbsi zat-zat gizi karena factor biologis dan
psikologi

2.2.3 INTERVENSI KEPERAWATAN


No Dx. Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi (NIC)
. (NOC)

9
1. Bersihan jalan nafas Setelah dilakukan tindakan Airwey suction
tidak efektif b/d keperawatan 3x24 jam a. Auskultasi suara nafas
adanya eksudat di diharapkan mampu sebulum dan sesudah
alveolus. mempertahankan suctioning.
kebersihan jalan nafas b. Informasikan pada
dengan kriteria: klien dan keluarga
a. Mendemonstrasikan tentang suctioning.
batuk efektif dan suara c. Minta klien nafas dalam
nafas yang bersih, tidak sebelum suction
ada sianosis dan dilakukan.
dyspneu (mampu d. Berikan O2 dengan
mengeluarkan sputum, menggunakan nasal untuk
mampu bernapas dengan memfasilitasi
mudah) suktionnasotrakeal.
b. Menunjukkan jalan e. Anjurkan pasien untuk
nafas yang paten istirahat dan napas
(frekuensi pernafasan dalam setelah kateter
rentang normal, tidak ada dikeluarkan dari
suara nafas abnormal) nasatrakeal.
c. Mampu f. Ajarkan keluarga
mengidentifikasi dan bagaimana cara melakukan
mencegah faktor yang suksion.
dapat menghambat jalan g. Hentikan suksion dan
nafas berikan oksigen apabila
pasien menunjukan
bradikardi, peningkatan
saturasi O2, dll.

Airway management
a. Posisikan pasien u/
memaksimalkan

10
ventilsi.
b. Identifikasi pasien
perlunya pemasangan
alat jalan nafas buatan.
c. Lakukan fisioterpi dada
jika perlu.
d. Keluarkan secret.
e. Dengan batuk atau suction.
f. Auskultasi suara nafas,
catat adanya suara
tambahan.

2. Pola nafas tidak Setelah dilakukan tindakan Terapi oksigen


efektif b/d sindrom keperawatan 3x24 jam a. Beesihkan mulut, hidung,
hipoventilasi. diharapkan mampu dan seckret trakea.
mempertahankan b. Pertahankan jalan napas yang
kebersihan jalan nafas paten.
dengan kriteria: c. Monitor aliran oksigen.
a. Mendemonstrasikan batuk d. Pertahankan posisi klien.
efektif dan suara nafas yang e. Monitor TD, nadi, dan RR
bersih, tidak ada
sianosis dan dyspneu
(mampu mengeluarkan
sputum, mampu bernapas
dengan mudah).
b. Menunjukkan jalan
nafas yang paten
(frekuensi pernafasan
rentang normal, tidak ada
suara nafas abnormal).
c. Tanda-tanda vital

11
dalam rentang normal

3. Gangguan a. Respiratory status: gas Manajemen Asam Basa


pertukaran gas b/d exchange. Kegiatan:
hipoventilasi . b. Keseimbangan asam basa, a. Dapatkan / pertahankan
elektrolit. jalur intravena.
c. Respiratory status: b. Pertahankan kepatenan
ventilation. jalan nafas.
d. Vital sign c. Monitor AGD dan
Setelah dilakukan tindakan elektrolit.
keperawatan selama 3X24 jam d. Monitor status
gangguan pertukaran gas hemodinamik.
pasien teratasi dengan e. Beri posisi ventilasi
kriteria hasil: adekuat.
a. Mendemonstrasikan f. Monitor tanda gagal nafas.
peningkatan ventilasi g. Monitor kepatenan
dan oksigenasi yang respirasi.
adekuat.
b. Memehara kebersiha
paru-paru dan bebas
dari tanda- tanda distres
pernafasan.
c. Mendemonstrasikan
batuk efektif dan suara
nafas yang bersih, tidak
ada sianosis, dan
dispneu, mampu bernafas
dengan mudah.
d. Tanda-tanda vital
dalam batas normal.
e. AGD dalam batas normal.

12
f. Status neurologis
dalam batas normal

4. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan Monitoring Gizi


nutrisi: kurang dari keperawatan selama x jam a. Timbang berat badan
kebutuhan tubuh b/d Status nutrisi meningkat, pasien pada interval
ketidakmampuan dengan kriteria: tertentu.
pemasukan/ a. intake makan dan b. Amati kecenderungan
mencerna/ minuman. pengurangan dan
mengabsorbsi zat-zat b. intake nutrisi. penambahan berat badan.
gizi karena factor c. control BB. c. Monitor jenis dan
biologis dan d. masa tubuh. jumlah latihan yang
psikologi e. biochemical measures. dilaksanakan.
f. energy d. Monitor respon
emosional pasien ketika
ditempatkan pada suatu
keadaan yang ada
makanan.
e. Monitor lingkungan
tempat makanan.
f. Amati rambut yang
kering dan mudah
rontok.
g. Monitor mual dan
muntah.
h. Amati tingkat albumin,
protein total,
hemoglobin dan
hematokrit.
i. Monitor tingkat energi,
rasa tidak enak badan,

13
keletihan dan
kelemahan.
j. Amati jaringan
penghubung yang
pucat, kemerahan, dan
kering.
k. Monitor masukan kalori
dan bahan makanan.

Manajemen Nutrisi
a. Kaji apakah pasien ada
alergi makanan.
b. Kerjasama dengan ahli
gizi dalam menentukan
jumlah kalori, protein
dan lemak secara tepat
sesuai dengan
kebutuhan pasien.
c. Anjurkan masukan
kalori sesuai
kebutuhan.
d. Ajari pasien tentang
diet yang benar sesuai
kebutuhan tubuh.
e. Monitor catatan makanan
yang masuk atas
kandungan gizi dan
jumlah kalori.
f. Timbang berat badan secara
teratur.
g. Anjurkan penambahan

14
intake protein, zat besi
dan vit C yang sesuai.
h. Pastikan bahwa diet
mengandung makanan
yang berserat tinggi
untuk mencegah
sembelit.
i. Beri makanan protein
tinggi , kalori tinggi
dan makanan bergizi
yang sesuai.
j. Pastikan kemampuan
pasien untuk memenuhi
kebutuhan gizinya.

Manajemen hiperglikemia
a. Monitor Gula darah
sesuai indikasi.
b. Monitor tanda dan
gejala
poliuri,polydipsi,pol
iphagia,keletihan,pa
ndangan kabur atau
sakit kepala.
c. Monitor tanda vital
sesuai indikasi.
d. Kolaborasi dokter
untuk pemberian
insulin.
e. Pertahankan terapi
IV line.

15
f. Berikan IV fluids
sesuai kebutuhan.
g. Konsultasi dokter
jika ada tanda
hiperglikemi
menetap atau
memburuk.
h. Bantu ambulasi jika
terjadi hipotensi.
i. Batasi latihan ketika
gula darah >250
mg/dl khususnya
adanya keton pada
urine.

16
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Gastritis adalah suatu proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa lambung
dan secara hispatologi dapat di buktikan dengan adanya infiltrasi sel-sel radang pada daerah
tersebut (Ilmu Penyakit Dalam Jilid II)
Gastritis adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa lambung.
Secara histologis dapat dibuktikan dengan inflamasi sel-sel radang pada daerah tersebut
didasarkan pada manifestasi klinis dapat dibagi menjadi akut dan kronik (Hirlan, 2001: 127).
Gastritis merupakan gangguan yang sering terjadi dengan karakteristik adanya
anorexia, rasa penuh, dan tidak enak pada epigastrium, mual, muntah. Gastritis adalah
peradangan mukosa lambung, eksplorasi, mukosa lambung, atau kadang-kadang peradangan
bakteri (Brunner and Suddart: 1.062)
Berdasarkan pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa Gastritis merupakan
inflamasi mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronik, difus atau lokal.

17
DAFTAR PUSTAKA

Dongoes Mailyn. E.2005. Rencana asuhan keperawatan. EGC:Jakarta


Mansjoer, Arif. 2008. Kapita Selekta kedikteran Edisi 3 Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius
Wilkinson, Nancy R. 2012, Buku Saku Diagnos Keperawatan: Diagnosa NANDA, Intervensi
NIC, Kriteria Hasil NOC (Edisi 9). Jakarta:ECG
Priace A. Sylvia & Lorraine M. Wilson.2006. Patofisiologi edisi 6,vol,2. Penerbit Buku
Kedokteran. Jakarta : EGC

18