Anda di halaman 1dari 19

PENDEKATAN, METODOLOGI

DAN PROGRAM KERJA

5.1. Umum
Pekerjaan “Fasilitator MPS Kabupaten Malaka”, secara umum dilakukan untuk
menjamin agar penyelesaian konstruksi pekerjaan ini selesai tepat pada waktunya
dan sesuai dengan mutu yang disyaratkan, serta tidak menyimpang dari spesifikasi
yang telah ditetapkan. Dengan mempertimbangkan waktu pelaksanaan dan item
pekerjaan yang harus dilakukan dengan tepat waktu dengan mutu yang dapat
dipertanggungjawabkan dan diperlukan personil pelaksana yang sudah
berpengalaman.
Dalam bab ini akan diuraikan usulan metode pendekatan pelaksanaan
pekerjaan “Fasilitator MPS Kabupaten Malaka”, berdasarkan pengalaman dan
pengetahuan konsultan dalam menangani proyek-proyek sejenis. Beberapa hal
penting yang menjadi perhatian dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah :
• Mencari solusi dan jalan keluar atas pemecahan suatu masalah secara
musyawarah mufakat agar tercapainya suatu keputusan yang tepat dan
menyelesaikan suatu masalah Program PPSP
• Pengawasan terhadap metode pelaksanaan pekerjaan disusun sesuai kondisi
eksisting dan hambatan yang terjadi di lapangan.
• Mampu memimpin pertemuan dan koordinasi dalam lingkup satuan organisasi
• Jadwal pelaksanaan pekerjaan yang lengkap, jelas dan terarah sehingga
memudahkan dalam kontrol pelaksanaan pekerjaan.
• Kemajuan pekerjaan dan penyelesaian konstruksi yang tepat waktu dan seimbang
antara kemajuan fisik dan kemajuan keuangan.
• Administrasi yang teratur dengan sistem pengarsipan yang baik sehingga
memudahkan pengontrolan setiap saat.
• Koordinasi kerja dinamis dan kondusif serta komunikasi yang lancar.

5.2. Pendekatan Operasional


Untuk pelaksanaan pekerjaan “Fasilitator MPS Kabupaten Malaka” ini
konsultan akan melibatkan tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan
dengan pekerjaaan pengawasan, sesuai dengan ketetapan personil pada Kerangka

V-1
Acuan Kerja. Untuk memperlancar tugas, pelaksanaan pekerjaan akan didukung oleh
fasilitas penunjang berupa peralatan yang memadai dan sistem kerja yang seefisien
mungkin. Fasilitator MPS Kabupaten Malaka akan memberikan jasa-jasa teknis secara
efisien dan efektif dalam pelaksanaan, melalui organisasi dan staffing, cara kerja dan
sistem komunikasi, sebagai berikut :
a. Modus Kerja
Fasilitator MPS Kabupaten Malaka akan memanfaatkan semua data dan informasi
yang diperoleh dari pengumpulan data pekerjaan sejenis lainnya yang telah
dikerjakan.
b. Sistem Komunikasi
Untuk kelancaran komunikasi intensif Fasilitator MPS Kabupaten Malaka akan
rutin mengadakan pertemuan antara Pokja Kabupaten/kota maupun masyarakat
dalam memecahkan semua permasalahan yang terjadi. Mengingat pekerjaan di
lapangan sangat terkait cuaca, maka perlunya komunikasi yang baik agar volume
pekerjaan selalu dalam pengawasan bersama.

5.3. Pendekatan Teknis Pelaksanaan


Hasil pekerjaan konstruksi yang baik hanya dapat dijamin tercapai sesuai
rencana bila terdapat desain yang benar, pelaksana konstruksi harus dilaksanakan
sesuai desain dan spesifikasi yang telah ditetapkan, terdapatnya pengawasan
pelaksanaan tersebut dengan mengikuti kaidah dan spesifikasi yang telah disyaratkan
dalam pelaksanaan pengawasan konstruksi dengan penerapan peraturan-peraturan,
kode-kode dan standar-standar resmi yang telah tercantum dalam dokumen kontrak
dan ditunjang dengan pengalaman-pengalaman positif yang diperoleh dari pekerjaan
sejenis lainnya. Penentuan tahapan pelaksanaan pekerjaanm harus jelas dengan telah
mempertimbangkan kondisi lahan pekerjaan (dan area kerja) sehingga pelaksanaan
pekerjaan efektif dan efisien dari sudut pertimbangan waktu dan biaya.

a. Standar dan Peraturan Teknis


Standar dan peraturan teknis yang dipergunakan dalam pelaksanaan
pekerjaan studi ini pada dasarnya menggunakan standar yang berlaku di
Indonesia dan peraturan Internasional, antara lain adalah sebagai berikut :

V-2
 ASTM (American Society for Testing Material) atau standar lain yang
setingkat (JIS, JES, ACI, BS dll untuk desain pekerjaan sipil/gedung dan JIS,
JES, EIC, SPLN, AWS dll.
 Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBBI) atau peraturan penggantinya
 Peraturan lain terkait yang berlaku
 Juknis KAK pekerjaan serta Pedoman Pelaksanaan PSP.
 Standar Kendali Mutu Pelaksanaan Pekerjaan, Direktorat Jendral Pengairan,
1995.
 Undang-undang dan Peraturan mengenai pajak, pajak penghasilan (PPh),
dan Pajak Pertambahan Nilai (PPn).
 Peraturan keselamatan kerja.
 Dan lain-lain
b. Sistem Manajemen Proyek
Fasilitator MPS Kabupaten Malaka akan melaksanakan suatu sistem
manajemen proyek yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan pengawasan
proyek yang meliputi pengendalian jadwal, kualitas dan biaya pelaksanaan
konstruksi dengan cara musyawarah mufakat.
c. Engineering Desain Selama Masa Konstruksi
Pelaksanaan survey dan review desain terkait merupakan dasar diperlukannya
Engineering Desain selama pelaksanaan pekerjaan. Dalam melaksanakan
kegiatan ini, Fasilitator MPS Kabupaten Malaka dengan persetujuan direksi
pekerjaan akan melakukan perubahan atau perbaikan desain apabila terjadi
perubahan desain sesuai dengan kondisi lapangan setelah melalui kajian dan
analisa, memberikan persetujuan terhadap gambar konstruksi yang diajukan
Masyarakat.
d. Inspeksi dan Pengujian serta rapat Musyarawah dalam pengambilan
keputusan.
Inspeksi dan pengujian dilaksanakan dari kondisi material asli (raw material)
hingga tahap konstruksi selesai dilakukan. Fasilitator MPS Kabupaten
Malaka akan melakukan monitoring pelaksanaan dalam menyelesaikan suatu
keadaan yang tidak dapat terselesaikan haruslah segera melakukan rapat
koordinasi dalam mencapai kesepakatan bersama.

V-3
e. Supervisi Konstruksi
Fasilitator dalam melaksanakan pengawasan konstruksi dilakukan melalui
kegiatan sebagai berikut:
 Pengawasan pengujian material yang akan digunakan di lokasi pekerjaan;
 Pengawasan terhadap mutu pekerjaan;
 Melakukan kontrol terhadap kemajuan pelaksanaan pekerjaan;
 Melakukan kontrol terhadap kualitas pekerjaan;
 Melakukan kontrol terhadap kuantitas pekerjaan
 Pengawasan keamanan dan keselamatan kerja;
 Melakukan Rapat Bulanan monitoring dan evaluasi;
 Inspeksi dan pekerjaan commissioning.

5.4. Metodelogi Pelaksanaan


a. Umum
Untuk menjamin agar pekerjaan supervisi konstruksi ini dapat diselesaikan
dengan mutu seperti yang disyaratkan, Konsultan dalam melaksanakan Pekerjaan “
Fasilitator MPS Kabupaten Malaka” ini akan membuat program kerja dengan
urutan kerja yang sistematis.
Secara garis besar Fasilitator MPS Kabupaten Malaka akan membagi
kegiatan sebagai berikut:
1. Pekerjaan Sebelum Pelaksanaan.
2. Pekerjaan Saat Pelaksanaan.
3. Pekerjaan Setelah Pelaksanaan.
Uraian detail terhadap rencana pendekatan teknis dan metodologi yang akan
dipergunakan dalam melaksanakan pekerjaan Fasilitator MPS Kabupaten Malaka
ini kami bahas pada sub bab berikutnya.

b. Pekerjaan Sebelum Pelaksanaan Konstruksi


Kegiatan ini adalah merupakan kegiatan awal dan koordinasi antar semua
pihak yang terlibat dengan kegiatan tersebut dan hal ini sangat penting bagi
suksesnya pelaksanaan konstruksi karena pada periode ini segala sesuatu yang
berhubungan dengan evaluasi desain maupun persiapan Fasilitator, akan dilakukan
secara detail, diantaranya adalah:

V-4
Penentuan dan penetapan anggota tim di lapangan.
Evaluasi Dokumen Kontrak, Gambar Rencana dan Spesifikesi teknis.
Evaluasi terhadap Dokumen Kontrak perlu dilakukan untuk menyamakan
persepsi dan pemahaman terhadap kontrak, sehingga tidak terjadi
kesalahpahaman pada saat pelaksanaan pekerjaan.
Gambar Rencana yang telah dibuat perlu dicek kembali sebelum pekerjaan
Konstruksi dilaksanakan, sehingga beberapa bagian dari gambar rencana yang
mungkin tidak sesuai dengan keadaan saat ini dapat dilakukan evaluasi dan
perbaikan terlebih dahulu.
Dalam Spesifikasi Teknis juga kadang- kadang dijumpai pasal-pasal yang tidak
mungkin untuk dilaksanakan dengan kondisi setempat, karena itu perlu
diadakan evaluasi.
Evaluasi terhadap program kerja
Pelaksanaan konstruksi akan terselenggara dengan baik apabila didukung
dengan personil, peralatan dan perlengkapan teknis lainnya secara lengkap
dengan kondisi baik serta tepat waktu dalam pengadaannya. Untuk itu
Fasilitator MPS Kabupaten Malaka akan memeriksa dan evaluasi terhadap
beberapa poin:
 Rencana Lay Out Base Camp (termasuk didalamnya terdapat rencana
penempatan stockpile)
 Rencana pola pengaturan materi di lingkungan pekerjaan.
 Mobilisasi personil fasilitator dan peralatan kantor
 Pola sosialisasi awal terhadap para stakeholder di sekitar lokasi proyek dan
rencana upacara adat terkait pekerjaan.
Selain dari pada itu, Fasilitator MPS Kabupaten Malaka akan mengevaluasi secara
detil terhadap rencana kerja Fasilitator seperti berikut:
 Jadwal Peleksanaan Pekerjaan
 Volume pekerjaan yang berpengaruh terhadap Rencana Anggaran Biaya (MC 0)
 Metode Pelaksanaan
 Metode pengujian mutu bahan dan pekerjaan terlaksana
 Sistem pelaporan
 Rapat koordinasi per bulan berjalan dan sistem pelaporannya

V-5
Fasilitator MPS Kabupaten Malaka akan memeriksa, membuat koreksi
perbaikan dan memberi usulan agar diperoleh efisiensi waktu dan biaya pelaksanaan
konstruksi dengan pertimbangan yang dapat diterima secara teknis.
Perlu adanya koordinasi antara pemilik pekerjaan, Fasilitator MPS Kabupaten
Malaka dalam melaksanakan pekerjaan akan memberikan hasil yang baik. Rapat
koordinasi diharapkan rutin (mingguan atau maksimal bulanan) selama pekerjaan
berjalan.
 Penetapan organisasi kerja
 Pengadaan material pendahuluan/peralatan pendukung
 Koordinasi dengan pihak-pihak berwenang (direksi pekerjaan dan instansi
terkait)
 Sosialisasi kepada instansi terkait dan dinas pekerjaan umum mengenai
pelaksanaan pekerjaan yang akan dilakukan. Sosialisasi ini meliputi lingkup,
metode dan dampak yang akan timbul dilapangan akibat pelaksanaan pekerjaan.
 Melakukan evaluasi terhadap desain yang ada.
 Mengevaluasi, melakukan kajian kawasan objek pembangunan dan mempelajari
perencanaan teknis dan sarana pendukung lainnya.
 Melakukan konsultasi dengan semua fasilitator
 "Pre Construction Meeting", berupa pertemuan antara direksi pekerjaan.

Fasilitator sebelum memulai kegiatan di lapangan di mulai tiga pihak pelaku


Pekerjaan yaitu pemilik pekerjaan, Fasilitator MPS Kabupaten mengadakan
koordinasi awal. Koordinasi kerja diperlukan untuk memperlancar pelaksanaan
pekerjaan serta mencapai hasil pekerjaan yang sebaik-baiknya. Untuk itu diperlukan
kejelasan mengenai tugas, wewenang dan tanggung jawab masing-masing pihak.
Dalam hal ini Fasilitator MPS Kabupaten Malaka bertugas membantu PPK
dalam pengawasan teknis, memberikan nasehat dan saran penyelesaian masalah serta
administrasi proyek. Selanjutnya koordinasi yang erat selama periode pelaksanaan
konstruksi dilakukan dengan mengadakan pertemuan berkala secara teratur.
Hal penting dalam koordinasi awal adalah mencakup semua persiapan yang
akan dilakukan oleh masing-masing pihak. Pekerjaan persiapan tersebut mencakup:
 Organisasi dari masing-masing pelaku pekerjaan (PPK, Fasilitator MPS
Kabupaten Malaka) telah ada dan dipahami dan disepakati jalur koordinasinya.

V-6
 Pembahasan mengenai spesifikasi teknis yang kurang jelas dan kurang
dimengerti.
 Bentuk serta jenis/macam pelaporan dan sistem serta batas waktu pelaporan
hendaknya telah dijelaskan dalam pertemuan awal.
 Wewenang dan tanggung jawab serta segala sanksi yang berkaitan dengan
pelaksanaan pekerjaan dibahas dengan jelas.
 Menentukan waktu untuk kunjungan bersama ke lokasi menentukan batas
awal serta akhir pekerjaan serta survey lapangan dengan kondisi saat ini
sebagai bahan dalam diskusi lanjutan dan menentukan metode kerja
selanjutnya.

Hal-hal penting yang dapat menimbulkan perbedaan penafsiran akan dibahas


secara lebih seksama untuk mendapatkan kesamaan persepsi, supaya tidak
menimbulkan masalah dikemudian hari. Rapat ini akan menghasilkan suatu acuan
dalam melaksanakan pekerjaan ini.
Survey Lapangan
Fasilitator MPS Kabupaten Malaka bersama-sama dengan Pokja Kabupaten/kota
akan melaksanakan peninjauan untuk menentukan lingkup pekerjaan.
Selanjutnya menentukan titik referensi yang akan digunakan dalam waktu
pelaksanaan. apabila masih terdapat perbedaan dari hasil evaluasi, maka pada
saat itu dibuat perbaikan seperlunya dan menghitung kembali volume pekerjaan
yang sebenarnya akan dilaksanakan. Data-data hasil penelitian ini akan
merupakan dasar pengawasan pekerjaan selanjutnya. Semua penelitian tersebut
harus dilakukan oleh Masyarakat dan mengajukan permintaan persetujuan
kepada Pemilik Pekerjaan melalui Fasilitator MPS Kabupaten Malaka.
Pengawasan Survey Topografi
Dalam kegiatan ini konsultan melakukan pengawasan terhadap survey topografi
yang dilakukan oleh fasilitor. Pengawasan dalam hal ini adalah pengawasan
mengenai metode kerja, cakupan areal survey dan titik ikat yang digunakan. Dari
hasil survey topografi ini akan dievaluasi volume pekerjaan yang dilaksanakan
oleh Masyarakat dalam MC-0%.

V-7
Persiapan Fasilitator MPS Kabupaten Malaka akan menyiapkan format standar
untuk dipergunakan dalam pelaksanaan pengawasan pekerjaan konstruksi,
berupa format :
 Laporan harian dan mingguan
 Laporan pengujian mutu bahan dan pekerjaan terlaksana
 Pengukuran dan perhitungan kuantitas pekerjaan
 Permohonan dan persetujuan melaksanakan pekerjaan
 Pemakaian peralatan dan kendaraan
 Semua data laporan kegiatan akan di laporkan pada satker Provinsi.

Gambar 5.1 Bagan Alir Kegiatan awal sebelum konstruksi

c. Prosedur-Prosedur Dalam Kegiatan Supervisi

V-8
Berikut akan dijelaskan beberapa prosedur yang umum dilakukan dalam
pelaksanaan pekerjaan Fasilitator MPS Kabupaten Malaka.
1. Prosedur Persetujuan Gambar (Construction Drawing & Shop Drawing)

Tenaga Fasilitator Rekomendasi Konsultan :


Lapangan 1. Disetujui (tanpa komentar);
2. Disetujui (ada komentar/review minor), dapat dilaksanakan;
3. Tidak disetujui (perlu perbaikan).
Permohonan
review &
persetujuan
Pemilik Pekerjaan :
Memberikan persetujuan berdasarkan rekomendasi Konsultan

Fasilitator MPS
Kabupaten Malaka
Kontraktor
Jika ‘disetujui’ mulai pelaksanaan pekerjaan
Jika ‘tidak disetujui’ perbaikan dan mengulang
prosedur perrsetujuan

Gambar 5.2 Prosedur Review dan Persetujuan Gambar

2. Prosedur Penggunaan Material Konstruksi

Fasilitator Lapangan Rekomendasi Konsultan :


Mengevaluasi kesesuaian terhadap Spesifikasi (uji tes
laboratorium, kunjungan ke supplier jika diperlukan)
Permohonan 1. Disetujui;
review & 2. Tidak disetujui.
persetujuan
material

Pemilik Pekerjaan :
Fasilitator MPS
Memberikan persetujuan berdasarkan rekomendasi
Kabupaten Malaka Konsultan

Pengawasan terhadap Kualitas Kontraktor


Material dilakukan secara rutin Jika ‘disetujui’ mulai pelaksanaan pekerjaan
berkala dan harus memperoleh Jika ‘tidak disetujui’ mencari alternatif material lain
persetujuan Konsultan yang sesuai dengan Spesifikasi

Gambar 5.3 Prosedur Penggunaan Material Konstruksi

V-9
Material Konstruksi akan dievaluasi sesuai dengan Spesifikasi Umum dan
Teknik pekerjaan. Apabila diperlukan, dilakukan di laboratorium yang independen,
untuk menguji dan menyaksikan kebenaran pernyataan. Untuk material konstruksi
yang merupakan produk fabrikasi, umumnya perlu diberikan pembanding/alternatif
material yang sesuai dengan Spesifikasi. Dalam proses pemberian persetujuan,
Fasilitator MPS Kabupaten Malaka dan Direksi Pekerjaan akan mengunjungi lokasi
fabrikasi apabila dirasa perlu (terutama untuk material yang dianggap khusus atau
dianggap ketersediaan material tersebut dapat mengganggu kelancaran pelaksanaan
konstruksi), untuk menyaksikan dengan benar.

3. Prosedur Metode Pelaksanaan

Fasilitator Lapangan Rekomendasi Konsultan :


Mengevaluasi kesesuaian metode pelaksanaan dengan kondisi
lapangan, tingkat kesulitan & keberhasilannya, serta kesesuaian
Permohonan
review &
hasil pelaksanaan dengan Spesifikasi.
persetujuan 1. Disetujui (tanpa atau dengan review minor).
metode 2. Tidak disetujui (perlu perbaikan).
pelaksanaan

Pemilik Pekerjaan :
Fasilitator MPS Memberikan persetujuan berdasarkan rekomendasi
Kabupaten Malaka Konsultan

Kontraktor
Jika ‘disetujui’ mulai pelaksanaan pekerjaan
Jika ‘tidak disetujui’ memperbaiki metode pelaksanaan sesuai
dengan komentar/review Konsultan dan mengajukannya lagi.

Gambar 5.4 Prosedur Metode Pelaksanaan

Metode pelaksanaan akan dievaluasi oleh Fasilitator MPS Kabupaten Malaka


dan perlu dilakukan diskusi/verifikasi dengan pihak Pokja agar sesuai dengan
keahliannya dengan memperhatikan kondisi aktual lapangan, tingkat kesulitannya
serta hasil dari pelaksanaan pekerjaan yang harus sesuai dengan Spesifikasi Umum
dan Teknis pekerjaan, serta kaedah-kaedah teknis perencanaan (bangunan harus
dapat berfungsi optimal sesuai perencanaan).

V-10
4. Prosedur Persetujuan Jadwal Pelaksanaan dan Pengendaliannya
Sebelum memulai pekerjaan, Fasilitator harus mengajukan Jadwal Pelaksanaan
sesuai dengan usulannya pada saat pelaksanaan fisik untuk mendapatkan persetujuan
Direksi Pekerjaan/pokja. Dalam melakukan kontrol dan pengendalian kemajuan
pelaksanaan pekerjaan dengan cara:
a. Pertemuan rutin mingguan (Weekly Meeting) antara fasilitator dengan pokja
kabupaten untuk membahas rencana pekerjaan kedepan, evaluasi kemajuan
pekerjaan minggu berjalan, serta permasalahan yang timbul di lapangan serta
solusi pemecahannya. Diharapkan dengan dilakukannya pertemuan mingguan ini,
dapat menjaga pelaksanaan lapangan tetap sesuai dengan waktu pelaksanaan
yang ada dan jadwal pelaksanaan yang telah disepakati bersama, sehingga tidak
berdampak terhadap biaya pekerjaan (fisik) secara keseluruhan.
b. Laporan dan Rencana Kerja Harian harus disiapkan oleh masyarakat sesuai
dengan jadwal pelaksanaan yang telah disepakati. Dari laporan dan rencana kerja
harian ini, maka Fasilitator MPS Kabupaten Malaka dapat mengevaluasi kemajuan
pekerjaan masyarakat sesuai dengan hasil dari Pertemuan Rutin
c. Mengontrol dan mengevaluasi kinerja Masyarakat terhadap Critical Work yang
ditemui dari Jadwal Pelaksanaan pekerjaan. Fasilitator MPS Kabupaten Malaka
dan Direksi Pekerjaan harus memberikan solusi atau rekomendasi kepada
Masyarakat jika dirasa kinerjanya menurun saat melalui ‘Critical Work’.

Fasiliator Lapangan Rekomendasi Konsultan :


Mengevaluasi dan menyetujui Jadwal Pelaksanan Pekerjaan
Permohonan yang diajukan oleh Kontraktor.Memberikan perhatian khusus
persetujuan terhadap ‘Critical Work’.
Jadwal
Pelaksanaan Pemilik Pekerjaan :
Memberikan persetujuan berdasarkan rekomendasi Konsultan

Fasilitator MPS
Kabupaten Malaka Pengendalian Pelaksanaan Pekerjaan:
1. Evaluasi Rencana Kerja dan Laporan Harian
2. Weekly/Monthly Meeting
3. Solusi, rekomendasi serta koordinasi & komunikasi yang
baik guna menghindari keterlambatan pekerjaan

Gambar 5.5 Prosedur Persetujuan dan Kontrol Jadwal Pelaksanan Pekerjaan


5. Prosedur Pengecekan (Inspeksi) Lapangan

V-11
Sebelum memulai pekerjaan di lapangan, Konsultan akan mengusulkan bentuk
formulir inspeksi kepada masyarakat, yang nantinya digunakan sebagai formulir
pengecekan dan hasil inspeksi lapangan. Secara umum formulir ini akan mencakup
tahapan-tahapan kerja sesuai dengan persyaratan di dalam Spesifikasi dan kaedah
teknis serta kesesuaian pekerjaan terhadap gambar Shop Drawing.
Berdasarkan formulir ini yang mencatat hasil inspeksi lapangan, maka hasil
pekerjaan masyarakat dapat diterima atau ditolak oleh fasilitator Lapangan dan
Direksi Pekerjaan. Formulir ini nantinya juga akan dipakai sebagai dokumen
pendukung dalam memberikan persetujuan pembayaran.

Rekomendasi Konsultan :
Fasiliator
Lapangan Mengecek dan memberikan persetujuan atas pekerjaan di
lapangan yang meliputi :
a. Kesesuaian tahapan pekerjaan di lapangan dengan isian
Mengundang formulir (Spesifikasi)
Konsultan Pengawas b. Kesesuaian bentuk dengan Shop Drawing
dan Direksi Pekerjaan c. Kesesuain material yang digunakan sesuai material yang
untuk melakukan telah disetujui
inspeksi

Direksi Lapangan :
Melakukan pengecekan bersama dengan Konsultan
Fasilitator MPS pengawas
Kabupaten
Malaka
Kontraktor :
Jika ‘disetujui’  melanjutkan ke tahapan berikutnya;
Jika ‘tidak disetujui’ memperbaiki pekerjaan di lapangan
sesuai dengan arahan Konsultan Pengawas & Direksi
Pekerjaan

Gambar 5.6 Prosedur Pengecekan (Inspeksi) Lapangan

6. Prosedur Pekerjaan Tambah (Variation Order)


Yang dimaksud dengan pekerjaan tambah (Variation Order) adalah:
a. Penambahan volume pekerjaan atas item pekerjaan asli (termasuk di dalam
kontrak awal) dengan jumlah penambahan lebih dari 10% volume terkontrak.
b. Timbulnya item pekerjaan baru diluar kontrak awal yang didasari atas
usulan/rekomendasi Koordinator dan disetujui oleh Pemilik Pekerjaan untuk

V-12
dilaksanakan. Setiap adanya pekerjaan tambah sesuai dengan definisi diatas, maka
perlu dilakukan Amandemen Kontrak Fisik.

7. Prosedur Serah Terima Pekerjaan


Serah terima pekerjaan dapat dilakukan melalui 2 cara, yaitu:
 Serah terima pekerjaan sebagian, yaitu suatu proses serah terima pekerjaan
yang dilakukan pada sebagian dari keseluruhan pekerjaan Fisik, dikarenakan
alasan teknis dari pekerjaan itu sendiri atau dikarenakan kebutuhan Pemilik
Pekerjaan atas sebagian dari hasil pekerjaan fisik yang dibutuhkan segera.
 Serah terima pekerjaan seluruhnya, yaitu proses serah terima pekerjaan yang
dilakukan pada saat akhir masa pelaksanaan dan dilakukan terhadap
keseluruhan pekerjaan fisik.
 Laporan ini merupakan hasil kerja bersama, sehingga harus dibuat bersama-
sama dan diserahkan setiap 2 (dua) bulan.

PROYEK SELESAI

Kontraktor Mengajukan Permohonan


Serah Terima Pekerjaan

Inspeksi Final Pengecekan Final Administrasi (Konsultan


(Tim FHO, Direksi Pekerjaan, Pengawas, Direksi Pekerjaan), meliputi:
Konsultan Pengawas) As-Built Drawing, Laporan sesuai kontrak,
Backup pembayaran, dsb.

Masyarakat
Rekomendasi menyempurnakan
Pekerjaan belum
dapat diterima
Pekerjaan dapat
diterima
Pemberian Sertifikat Serah Terima
Laporan PPK Pekerjaan Pertama

Gambar 5.9 Prosedur Serah Terima Pekerjaan Pertama

V-13
Setelah dikeluarkannya Sertifikat Serah Terima Pekerjaan Pertama,
masyarakat masih memiliki tanggung jawab atas hasil pekerjaannya sampai masa
pemeliharaan selesai. Selama masa pemeliharaan, Masyarakat wajib memelihara hasil
pekerjaannya untuk menjamin fungsi bangunan/struktur yang dikerjakan. Selama
masa pemeliharaan, inspeksi berkala akan dilakukan oleh Direksi Pekerjaan,
(Konsultan Pengawas bila masih ada) dan bersama Masyarakat untuk memeriksa
kondisi hasil pekerjaan, dan memberikan catatan terhadap pemeliharaan yang perlu
dilakukan. Setelah melalui masa pemeliharaan, Serah Terima Pekerjaan Akhir akan
dilakukan.

AKHIR MASA PEMELIHARAAN

Masyarakat Mengajukan Permohonan


Serah Terima Pekerjaan

Inspeksi Final Pengecekan Kelengkapan


Administrasi Final
(Tim, Direksi Satker Pekerjaan,
(Tim , Direksi bila ada)
bila ada)

Masyarakat
Rekomendasi
Pekerjaan belum menyempurnakan

Pekerjaan dapat dapat diterima


diterima

Laporan Pimpinan Proyek ke Pemberian Sertifikat Serah Terima


Atasannya Pekerjaan Kedua/Akhir

Gambar 5.10 Prosedur Serah Terima Pekerjaan Kedua/Akhir

5.5. Sistem Pengawasan Dalam Pelaksanaan Supervisi


Dalam melakukan supervisi pekerjaan bangunan air dilakukan dengan tahapan
sebagai berikut:
a. Pengawasan Masa Konstruksi
Konsultan Pengawas akan melaksanakan tugas-tugas pengawasan pada masa
pelaksanaan konstruksi secara keseluruhan dan memberi masukan teknis dalam
pelaksanaannya. Pengawasan pada masa pelaksanaan konstuksi dapat dibagi dalam
beberapa tahapan :

V-14
Kontrol Kemajuan Pekerjaan
Sebagai kontrol terhadap kemajuan (progress) yang telah dicapai oleh
masyarakat di lapangan dan sarana menyampaikan kendala yang terjadi di lapangan,
maka disusun suatu pertemuan rutin. Kinerja Masyarakat dapat terus dipantau dan
kendala yang terjadi di lapangan perlu segera dipecahkan sehingga pelaksanaan
pekerjaan dapat selesai pada waktu yang ditentukan.
Jadwal pertemuan ini dapat dilaksanakan dalam durasi mingguan atau
bulanan, dan koordinasi pelaksanaannya harus mengikat. Kemajuan pekerjaan dari
setiap bagian proyek akan digambarkan dalam bentuk bar-chart dan perbandingan
antara schedule dan realisasi yang terjadi.

Kontrol Kualitas Dan Kuantitas Pekerjaan


Para tenaga ahli dari konsultan akan membantu pihak pemberi pekerjaan
dalam task concept, dalam pelaksanaan pekerjaan pengecekan kualitas pekerjaan di
lapangan, berdasarkan spesifikasi teknis yang tercantum dalam kontark. Konsultan
memberikan rekomendasi suatu item pekerjaan yang dilaksanakan oleh Masyarakat
diterima ataukah ditolak. Dasar dari keputusan di atas adalah spesifikasi teknis dalam
kontrak, standar nasional, standar international dan testing periode yang ada.
Dalam pelaksanaan pekerjaan dilaksanakan beberapa macam test baik di
lapangan maupun di laboratorium. Pelaksanaan test tersebut harus mengacu pada
standar yang ada dalam dokumen kontrak dan standar yang dipakai secara umum.
Kualitas dari pekerjaan yang telah selesai akan dikonfirmasikan dalam commisioning
test termasuk dalam test akhir (Completion Test) sebagaimana tercantum dalam
spesifikasi. Perencanaan, bahan, fabrikasi, testing, inspeksi dan penampilan harus
mengikuti Standard atau Spesifikasi yang digunakan di negara dimana peralatan itu
dibuat.
Material dan peralatan yang diajukan pada konsultan harus menurut keadaan
terbaru atau perubahan terbaru dan standar-standar dan spesifikasi yang ditentukan.
Dalam keadaan dimana ada perbedaan antara spesifkasi, standar atau code yang
diperlukan dengan spesifikasi yang sudah disetujui maka spesifikasi yang disetujuio
yang digunakan.
Konsultan supervisi akan mempertimbangkan referensi-referensi untuk
standar dan spesifikasi terhadap bahan dan peralatan, khususnya produksi pabrik

V-15
bisa dipertimbangkan, bahwa untuk bagian-bagian yang sejenis, Masyarakat bisa
mengusulkan kemungkinan standar atau spesifikasi yang setara untuk bahan atau
peralatan yang ada dalam kontrak.
Untuk keadaan diatas Masyarakat harus mengirmkan standar dan spesifikasi
yang lengkap dengan disertai keterangan dan data-data dari peralatan yang dimaksud
untuk mendapatkan persetujuan konsultan diketahui direksi pekerjaan. Jika waktu
pengiriman dan kemungkinan-kemungkinan kegagalan dalam pelaksanaan serta
mengubah material atau peralatan yang diusulkan, sebelum disetujui Direksi, maka
hal itu merupakan resiko Masyarakat.

Pengawasan Keamanan Dan Keselamatan Kerja


Pada setiap pelaksanaan pekerjaan Masyarakat berkewajiban melindungi dan
mengamankan seluruh tenaga kerja atau masyarakat umum dan peralatan dan
kemungkinan kecelakaan. Untuk keperluan ini kontraktor harus membuat pagar-
pagar pengaman, lampu penerangan pada tempat-tempat pelaksanaan, dan dilengkapi
dengan tanda-tanda pada tempat-tempat yang berbahaya, pemadam kebakaran dan
lampu tanda kebakaran yang diletakkan pada tempat yang strategis dalam daerah
pelaksanaan.
Setelah dilaksanakan kegiatan mobilisasi, konsultan mengusulkan agar
diadakan rapat yang dhadiri oleh wakil dari proyek, wakil dari masyarakat sekitar,
konsultan dan metode konstruksi transportasi alat berat, material dalam
hubungannya dengan aktifitas sehari-hari masyarakat di sekitar proyek. Masalah ini
memerlukan perhatian agar tidak mengganggu aktifitas lain di luar proyek.
Persiapan yang perlu dilakukan Masyarakat sehubungan kegiatan ini antara
lain:
 Sosialisasi awal pelaksanaan pekerjaan untuk memperoleh permakluman dari
instansi terkait dan masyarakat yang terkena impas (langsung/tidak langsung)
Membuat laporan bulanan, mingguan setiap 2 (Dua) bulan.
 Jadwal dan agendakan pertemuan apabila adanya masalah yang tidak
terselasaikan.
 Memberdayakan Pokja Sanitasi Provinsi agar mampu melaksanakan tugas dan
fungsinya sebagai kepanjangtanganan Pemerintah Pusat di tingkat Provinsi tanpa
selalu menghadirkan pihak pemerintah pusat pada saat kegiatan di provinsi.

V-16
Setiap fungsi dan tugas Pokja Sanitasi Provinsi tidak harus dilaksanakan melalui
kegiatan berupa event. Rapat koordinasi internal dan monitoring ke daerah oleh
Pokja Sanitasi Provinsi juga merupakan bentuk pelaksanaan tugas dan fungsi
Pokja Sanitasi Provinsi.

Inspeksi Dan Pekerjaan Commisioning


Sebelum batas waktu penyelesaian berakhir akan diadakan pengecekan
pendahuluan, sehingga apabila didapatkan perbedaan akan segera diselesaikan
secepatnya. Pada saat masyarakat telah selesai pekerjaan, konsultan akan
mengadakan pengecekan akhir untuk menjaga semua pekerjaan sesuai kontrak.
Konsultan akan menyiapkan berita acara penyelesaian pekerjaan (Completion
Certificate) dan setelah semua kekurangan yang telah terselesaikan di masa
pemeliharaan, maka konsultan dengan persetujuan Pemilik Pekerjaan menyiapkan
berita acara serah terima penyelesaian pekerjaan setelah masa pemeliharaan selesai
(maintenance Certificate).

5.6. Program Kerja


Program Kerja/Rencana kerja di susun oleh fasilitator setelah memahami inti
dari pekerjaan yang akan dilaksanakan dan lingkup yang diberikan. Rencana kerja ini
sangat diperlukan untuk dijadikan pedoman bagi tim pelaksana pekerjaan untuk
mengetahui tahapan pelaksanaan pekerjaan dan untuk mengkoordinasi setiap
kegiatan, sehingga akan dihasilkan pekerjaan yang efektif dan efisien.

1. Pekerjaan Persiapan
a. Pekerjaan Persiapan
Konsultan akan melakukan beberapa kegiatan persiapan seperti :
 Mobilisasi personil dan peralatan.
 Mengumpulkan data desain/perencanaan dan dokumen kontrak pekerjaan
fisik.
 Melaksanakan orientasi lapangan awal di lokasi pekerjaan.
 Melaksanakan kajian terhadap hasil perencanaan setelah melakukan
peninjauan dilapangan.
 Menyusun metodologi dan rencana kerja pengawasan.
 Melaksanakan sosialisasi bersama dengan Direksi Pekerjaan.

V-17
b. Pre Construction Meeting
Sebelum melaksanakan pekerjaan, Konsultan bersama dengan Direksi
Pekerjaan akan mengundang masyarakat untuk menghadiri Pre Construction Meeting.
Dalam pre-construction meeting akan dibahas mengenai jadwal pelaksanaan dan
semua prosedur pengawasan yang harus dilaksanakan oleh Masyarakat dalam
menyelesaikan pekerjaan ini. Kondisi-kondisi khusus yang harus diperhatikan oleh
Masyarakat juga akan disampaikan pada pertemuan ini.

2. Kajian Desain
Konsultan Supervisi akan mempelajari kondisi aktual di lapangan dan akan
melakukan kajian singkat terhadap desain yang akan dilaksanakan. Apabila
diperlukan, Konsultan akan melakukan perbaikan atau perubahan terhadap desain
dengan memperhatikan jadwal pelaksanaan yang telah diberikan pada Masyarakat
serta pertimbangan terhadap biaya konstruksi.

3. Pengawasan Masa Konstruksi


Konsultan Pengawas akan melaksanakan tugas-tugas pengawasan pada masa
pelaksanaan konstruksi secara keseluruhan dan memberi masukan teknis dalam
pelaksanaannya. Pengawasan pada masa pelaksanaan konstuksi dapat dibagi dalam
beberapa tahapan :
Tahap I : Masa Pra-Pelaksanaan Proyek (Pre–Construction)
 Evaluasi dan persetujuan personil dan organisasi Masyarakat.
 Evaluasi dan persetujuan jadwal pelaksanaan yang diajukan oleh Masyarakat.
 Evaluasi dan persetujuan fasilitas temporary yang diusulkan Masyarakat.
 Pengawasan terhadap kegiatan persiapan Masyarakat.
 Pengawasan terhadap mobilisasi alat Masyarakat.
 Sosialisasi kepada instansi terkait dan dinas pekerjaan umum mengenai
pelaksanaan pekerjaan yang akan dilakukan, sosialisasi ini meliputi lingkup,
metode dan dampak yang akan timbul dilapangan akibat pelaksanaan pekerjaan.
 Sosialisasi kepada pemangku kepentingan (stakeholder) yang terkena dampak
langsung pelaksanaan pekerjaan.
Dalam hal ini pemangku kepentingan yang dimaksud antara lain; denda adat, klian
dinas, masyarakat di sekitar lokasi dan semua yang berinteraksi langsung.

V-18
Tahap II : Awal Pelaksanaan
 Evaluasi dan persetujuan terhadap hasil survey awal Masyarakat.
 Evaluasi terhadap volume awal (MC-0), serta melakukan amandemen kontrak bila
terjadi perubahan yang signifikan dengan kontrak utama.
 Evaluasi dan persetujuan terhadap metode pelaksanaan yang diajukan oleh
Masyarakat.
 Evaluasi dan persetujuan terhadap material konstruksi yang akan digunakan oleh
Masyarakat.
Tahap III : Pelaksanaan Proyek (Project Construction)
 Pengendalian jadwal pelaksanaan dan kemajuan pekerjaan melalui rapat periodik
yang terdiri dari rapat mingguan (weekly meeting) dan atau rapat koordinasi
bulanan (monthly meeting).
 Pengawasan rutin terhadap material konstruksi atas kesesuaiannya terhadap
spesifikasi pekerjaan.
 Pengawasan rutin terhadap kualitas pelaksanaan pekerjaan Masyarakat.
 Pengawasan terhadap kewajiban administrasi Masyarakat sesuai dengan kontrak.
 Evaluasi dan persetujuan terhadap progress kemajuan pekerjaan dengan
melakukan perhitungan terhadap volume pekerjaan yang telah diselesaikan.
Tahap IV : Akhir Proyek (Project Completion)
 Inspeksi final keseluruhan terhadap hasil pekerjaan dan pengujian
(commisioning) bila perlu.
 Mengevaluasi hasil kerja Masyarakat dan menyampaikan daftar pemeliharaan
(defect list) jika ditemui tidak kesempurnaan hasil pekerjaan.
 Evaluasi dan persetujuan terhadap perhitungan volume final pekerjaan (MC-100),
yang selanjutnya dapat diteruskan pada pembayaran final pada masa serah terima
pekerjaan pertama.
 Mengawasi semua kewajiban administrasi Masyarakat sesuai kontrak.
 Memberikan rekomendasi pekerjaan telah selesai dan dapat diterima kepada
Pemilik Pekerjaan, yang selanjutnya diterbitkan Sertifikat Proyek Selesai.
 Penyusunan Laporan penyelesaian akhir proyek (Project Completion Report).
 Laporan ini merupakan hasil kerja bersama, sehingga harus dibuat bersama-sama
oleh semua PF, dan diserahkan setiap 2 (dua) bulan.

V-19