Anda di halaman 1dari 27

WRAP UP SKENARIO 3

BLOK KEDOKTERAN KELUARGA


“PEMBIAYAAN KESEHATAN”

PBL A-4

KETUA : Farida Citra Permatasari (1102014094)


SEKRETARIS : Diah Ayu Kusuma Wardani (1102014072)
ANGGOTA : Annisa Ayu Rahmawati (1102014031)
Anindya Anjas Putriavi (1102014027)
Eko Setio Nugroho (1102013092)
Ayu Retno Bashirah (1102014053)
Gery Aldilatama (1102014115)
Hanna Kumari Dharaindas (1102014120)
Ikhsanul Akbar Misfa (1102014125)

2017/2018
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
SKENARIO

PEMBIAYAAN KESEHATAN

Seorang pasien, perempuan berusia 38 tahun dengan kehamilan trimester I pada


G5P2A2 datang ke klinik Dr. Ahmad. Pasien ingin melakukan pemeriksaan kehamilan secara
rutin di klinik Dr. Ahmad karena pasien mendapat informasi bahwa pelayanan di klinik ini
baik. Pasien mempunyai keluhan sering mual, muntah, lemas, cepat lelah, dan sesak. Dokter
kemudian melakukan pemeriksaan fisik bersama bidan. Pada pemeriksaan ditemukan bahwa
kandungan dalam kondisi yang baik namun ibu tampak pucat, takikardi, murmur, takipnea,
dan terdapat nyeri tekan epigastrium. Dr. Ahmad, 31 tahun, praktek di sebuah klinik dokter
keluarga yang bekerja sama dengan BPJS. Klinik ini dikelola dengan baik sehingga dalam
waktu yang relatif singkat mengalami kemajuan yang cukup pesat dan dikenal luas di
masyarakat.
Dr. Ahmad menyarankan agar pasien mengikuti pemeriksaan ANC yang teratur
sampai saat melahirkan. Pasien menanyakan ke dokter tentang pilihan pembiayaan
persalinan, mengingat kemungkinan membutuhkan biaya yang lebih besar.
KATA SULIT

BPJS: Asuransi kesehatan yang dibuat oleh pemerintah


ANC: Pemeriksaan rutin sebelum kelahiran

PERTANYAAN

1. Apakah biaya persalinan ditanggung BPJS?


2. Apa saja biaya yang ditanggung oleh BPJS?
3. Bagaimana cara kerja BPJS?
4. Bagaimana proses mendaftar BPJS? Apa saja syaratnya?
5. Bagaimana sistem pembayaran BPJS kepada klinik yang bekerja sama?
6. Apa yang membedakan BPJS dengan Asuransi lain?
7. Pelayanan klinik seperti apa yang dikatakan baik?
8. Apa kelemahan dan kelebihan dari BPJS?
9. Apakah dengan adanya BPJS sudah meningkatkan pelayanan primer?
10. Bagaimana pandangan islam mengenai asuransi? Apakah boleh?
11. Apakah pelayanan BPJS sudah bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat?
12. Dari manakah sumber pembiayaan BPJS?

JAWABAN

1. Persalinan normal ditanggung kalo sesar tergantung indikasi dokter


2. Biaya obat, dokter, pemeriksaan tertentu
3. Dengan sistem iuran : ditampung dan diolah
4. KTP, KK, orang tidak mampu, memberikan bukti keterangan tidak mampu dari
RT/RW
Proses : Dipuskesmas, kantor BPJS, Rumah sakit
5. Klem rumah sakit atau sistem kapitasi
6. Asuransi lain : lebih mahal, swasta, pelayanan lebih lengkap
BPJS : lebih murah, pemerintah
7. Oprasional baik, pelayanan baik, diagnosis holistik
8. Kelemahan : Terdapat kriteria-kriteria pada BPJS untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan, pembayaran BPJS ke rumah sakit dan dokter murah dan lama,
menggunakan obat generik.
Kelebihan : Masyarakat ekonomi rendah dapat mendapatkan pelayanan kesehatan.
9. Belum, karena jumlah pasien lebih banyak sehingga kualitas menurun
10. Sebagian ulama memperbolehkan karena banyak manfaatnya dan sebagian ulama
tidak memperbolehkan karena diibaratkan seperti berjudi, ada juga yang mengatakan
tidak boleh karena mendahului takdir.
11. Sudah tapi belum menyeluruh
12. Dari iuran anggota BPJS
HIPOTESIS

BPJS adalah program asuransi kesehatan yang dibuat dan dikelola pemerintah untuk
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Syarat menjadi anggota BPJS adalah KTP, KK,
orang tidak mampu, memberikan bukti keterangan tidak mampu dari RT/RW. Kelebihan dari
BPJS yaitu masyarakat ekonomi rendah dapat merasakan pelayanan kesehatan namun BPJS
memiliki kekurangan yaitu Terdapat kriteria-kriteria pada BPJS untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan, pembayaran BPJS ke rumah sakit dan dokter murah dan lama,
menggunakan obat generik. Menurur islam ada sebagian ulama yang mengharamkan dan ada
sebagian yang memperbolehkan asuransi
SASARAN BELAJAR

LI.1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PROSEDUR PEMERIKSAAN STANDAR


KLINIK DOKTER KELUARGA

LI.2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN MANAJEMEN KLINIK DOKTER


KELUARGA

LI.3. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN SISTEM PEMBIAYAAN KLINIK DOKTER


KELUARGA

LI.4. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PERAN DOKTER DAN MITRA KERJA


DALAM PELAYANAN KLINIK DOKTER KELUARGA

LI.5. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN SISTEM RUJUKAN PADA KLINIK


DOKTER KELUARGA

LI.6. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ADAB DAN TATACARA DOKTER


MUSLIM DALAM MENGOBATI PASIEN DALAM PANDANGAN ISLAM
LI.1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PROSEDUR PEMERIKSAAN
STANDAR KLINIK DOKTER KELUARGA

Standar Pelayanan Medis (standard of medical care)


Pelayanan yang disediakan dokter keluarga merupakan pelayanan medis yang melaksanakan
pelayanan kedokteran secara lege artis.

A. Anamnesis
Pelayanan dokter keluarga melaksanakan anamnesis dengan pendekatan pasien
(patient-centered approach) dalam rangka memperoleh keluhan utama pasien,
kekhawatiran dan harapan pasien mengenai keluhannya tersebut, serta memperoleh
keterangan untuk dapat menegakkan diagnosis

B. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang


Dalam rangka memperoleh tanda-tanda kelainan yang menunjang diagnosis atau
menyingkirkan diagnosis banding, dokter keluarga melakukan pemeriksaan fisik
secara holistik; dan bila perlu menganjurkan pemeriksaan penunjang secara rasional,
efektif dan efisien demi kepentingan pasien semata.

C. Penegakkan diagnosis dan diagnosis banding


Pada setiap pertemuan, dokter keluarga menegakkan diagnosis kerja dan beberapa
diagnosis banding yang mungkin dengan pendekatan diagnosis holistik.

D. Prognosis
Pada setiap penegakkan diagnosis, dokter keluarga menyimpulkan prognosis pasien
berdasarkan jenis diagnosis, derajat keparahan, serta tanda bukti terkini (evidence
based)

E. Konseling
Untuk membantu pasien (dan keluarga) menentukan pilihan terbaik penatalaksanaan
untuk dirinya, dokter keluarga melaksanakan konseling dengan kepedulian terhadap
perasaan dan persepsi pasien (dan keluarga) pada keadaan di saat itu.

F. Konsultasi
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan konsultasi ke dokter lain yang
dianggap lebih piawai dan / atau berpengalaman. Konsultasi dapat dilakukan kepada
dokter keluarga lain, dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, atau dinas kesehatan,
demi kepentingan pasien semata.

G. Rujukan
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan rujukan ke dokter lain yang
dianggap lebih piawai dan/atau berpengalaman. Rujukan dapat dilakukan kepada
dokter keluarga lain, dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, rumah sakit atau
dinas kesehatan, demi kepentingan pasien semata.

H. Tindak lanjut
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga menganjurkan untuk dapat dilaksanakan
tindak lanjut pada pasien, baik dilaksanakan di klinik, maupun di tempat pasien.
I. Tindakan
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga memberikan tindakan medis yang
rasional pada pasien, sesuai dengan kewenangan dokter praktik di strata pertama, dan
demi kepentingan pasien

J. Pengobatan rasional
Pada setiap anjuran pengobatan, dokter keluarga melaksanakannya dengan rasional,
berdasarkan tanda bukti (evidence based) yang sahih dan terkini, demi kepentingan
pasien.

K. Pembinaan keluarga
Pada saat-saat dinilai bahwa penatalaksanaan pasien akan berhasil lebih baik, bila
adanya partisipasi keluarga, maka dokter keluarga menawarkan pembinaan keluarga,
termasuk konseling keluarga.

LI.2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN MANAJEMEN KLINIK DOKTER


KELUARGA

Fungsi Dasar Manajemen Dokter Keluarga


1. Planning
Suatu kegiatan mustahil dilakukan tanpa adanya perencanaan. Untuk membuat
program diperlukan perencanaan yang matang dari segi kelemahan, kelebihan,
hambatan, tujuan dan manfaat dari program tersebut. Agar suatu program dapat
berjalan dengan sukses diperlukan perencanaan dengan pertimbangan yang matang.
Perencanaan membutuhkan suatu konseptor yang benar - benar memiliki kemampuan
dan pemahaman terhadap kegiatan yang akan diadakan. Planning juga berperan dalam
pembuatan jadwal kegiatan agar suatu program berjalan sesuai yang diharapkan.

2. Organizing
Dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan
yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer dalam melakukan
pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas yang
telah dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian dapat dilakukan dengan cara menentukan
tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang harus mengerjakannya, bagaimana tugas-
tugas tersebut dikelompokkan, siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, dan
pada tingkatan mana keputusan harus diambil.

3. Actuating
Pelaksanaan dari sebuah kegiatan merupakan puncak dari hasil kerja sama sebuah
kepanitiaan, dengan harapan sebuah tim kepanitiaan dapat saling membantu dan
memberikan solusi terhadap suatu masalah yang terjadi antara panitia satu dengan
yang lain. Sehingga, dalam keadaan seperti apapun, kegiatan dapat berjalan dengan
lancar dan sukses.

Untuk itu maka dibutuhkan kerja keras, kerja cerdas dan kerjasama. Semua sumber
daya manusia yang ada harus dioptimalkan untuk mencapai visi, misi dan program
kerja organisasi. Pelaksanaan kerja harus sejalan dengan rencana kerja yang telah
disusun. Kecuali memang ada hal-hal khusus sehingga perlu dilakukan penyesuian.
Setiap SDM harus bekerja sesuai dengan tugas, fungsi dan peran, keahlian dan
kompetensi masing-masing SDM untuk mencapai visi, misi dan program kerja
organisasi yang telah ditetapkan.

4. Controlling
Merupakan pengendalian semua kegiatan dari proses perencanaan, pengorganisasian
dan pelaksanaan, apakah semua kegiatan tersebut memberikan hasil yang efektif dan
efisien serta bernilai guna dan berhasil guna dalam program Lingkngan Hidup.

5. Evaluating
Jika seluruh kegiatan telah selesai, maka yang dilakukan selanjutnya adalah evaluasi.
Mengapa hal ini diperlukan, karena dengan adanya setiap permasalahan atau
kekurangan yang terjadi dapat diketahui dan dikumpulkan sebagai arsip, sehingga
pada kegiatan serupa yang selanjutnya dapat dijadikan pelajaran dan diharapkan untuk
kegiatan yang selanjutnya tidak terulang permasalahan yang serupa. Evaluasi minimal
dilakukan sekali di akhir kegiatan. Namun, perlu juga dilakukan evaluasi
dipertengahan pelaksanaan kegiatan, tanpa mengganggu jalannya kegiatan. Evaluasi
juga merupakan salah satu sarana “controling” ketika kegiatan berlangsung.

Manajemen SDM

Syarat SDM dalam klinik dokter keluarga:

1) Dokter: 2
2) Bidan: 1
3) Asisten analis: 1 (honor)
4) Asisten apoteker: 1
5) Staf administrasi dan keuangan: 1
6) OB: 1

Peningkatan Kemampuan & Pengembangan Staf


A. Bentuk: Kursus, pelatihan, pendidikan formal,dll
B. Bentuk Lain: Selia Bestari (peer review) di antara sesama staf (medis dan non-
medis) Pengaturan: Bisa dibuat perjanjian tersendiri
C. Proses: berdasarkan permintaan karyawan atau kebutuhan KDK

1. Untuk tenaga medis


A. PKB (pendidikan kedokteran berkelanjutan) Seminar, Simposium, Lokakarya.
B. Peer Review: Pembahasan kasus secara EBM
C. Kursus singkat untuk satu ketrampilan tertentu (ATLS, ACLS, EKG,
Kepemimpinan, dll)
D. Pendidikan formal (S2 Aktuaria, S2 Kesehatan Kerja, dll)

2. Untuk paramedis
A. Kursus keperawatan
B. Peer Review: Diskusi kelompok
C. membahas satu masalah (rutin)
D. Kursus Manajemen pengelolaan
E. keperawatan di klinik (asuhan keperawatan,dll)
F. Pendidikan formal seperti Akademi Keperawatan, Akademi Kebidanan, dll

3. Untuk tenaga non-medis


A. Kursus penggunaan alat tertentu
B. Kursus Manajemen laboratorium,
C. Pemeriksaan Kesehatan Berkala
D. Pendidikan Formal seperti Akademi Penata Rontgen, AKK, Kursus
perpajakan

Manajemen Keuangan
Pelayanan dokter keluarga mengelola keuangan dengan manajemen keuangan professional.
1. Pencatatan keuangan
Keuangan dalam praktik dokter keluarga tercatat secara saksama dengan cara yang
umum dan bersifat transparansi.

2. Jenis system pembiayaan praktik.


Manajemen keuangan pelayanan dokter keluarga dikelola sedemikian rupa sehingga
dapat mengikuti, baik system pembiayaan praupaya maupun system pembiayaan fee
for service.

Manajemen Material
1. Ruang tunggu :
A. Bersih
B. Terang
C. Ventilasi baik
D. Lantai tidak licin
E. Tidak berbau
F. Tidak bising
G. Suhu nyaman
H. Terpisah dari pasien infeksius

2. Kerahasiaan dan privasi


A. Ruang konsultasi terpisah dari ruang tunggu
B. Sistem yang menjamin kerahasiaan medik
C. Menjamin kerahasiaan pasien setelah pelayanan

3. Bangunan dan interior


A. Merupakan bangunan permanen atau semi permanen yang dirancang sesuai
pelayanan medis strata pertama yang aman dan terjangkau
B. Memiliki ruang :
1) Ruang administrasi
2) Ruang tunggu
3) Ruang pemeriksaan
4) Kamar kecil
5) Dapat melindungi dari panas dan hujan
6) Relatif mudah diberishkan
7) Mempunyai ventilasi cukup atau ber ac
8) Mempunyai sinar yang cukup

4. Alat komunikasi
Memiliki alat komunikasi yang biasa digunakan masyarakat sekitar

5. Papan nama
A. Posisi papan nama mudah dibaca
B. Tidak ada hiasan maupun lampu warna
C. Ukuran minimal 40x60cm maksimal 60x90cm
D. Warna dasar putih dengan huruf balok warna hitam
E. Memuat nama dokter,sip,alamat praktek ,dan jadwal praktek.

6. Peralatan klinik
A. Memiliki alat alat pemeriksaan fisik sebagai berikut :
1) Alat tes sensasi kulit
2) Auriskop
3) Lampu senter dan kepala
4) Palu refleks
5) Peak flow meter
6) Ophtalmoscop
7) Penekan lidah
8) Pengukur tinggi badan
9) Snellen chart
10) Spekulum vagina
11) Stetoskop
12) Tensimeter
13) Termometer
14) Timbangan badan
15) Memiliki alat laboratorium
16) Alat monitoring gula darah
17) Alat pengukur kadar hemoglobin
18) Alat pemulas sediaan gram
19) Alat pemulas sediaan basah
20) Gelas obyek dan penutup
21) Mikroskop
B. Memiliki alat tindakan sebagai berikut
1) Bak instrumen mental
2) Benang otot dan sutra
3) Forsep hemostatik
4) Gunting perban
5) Jarum kulit
6) Jarum suntik
7) Kapas,perban,plester
8) Minor set
9) Peralatan resusitasi

C. Tas dokter untuk perawatan rumah


1) Alat penekan lidah forsep hemostat
2) Jarum suntik
3) Kapas dan alkohol
4) Lampu senter
5) Obat2an
6) Pali refleks
7) Spuit
8) Stetoskop
9) Tensimeter
10) Termometer
11) Peralatan luka
12) Kasa
13) Antiseptik
14) Larutan irigasi
15) Perangkat intravena
16) Kateter

D. Persediaan obat
1) Adrenalin
2) Kortokosteroid
3) Antihistamin
4) Analgetik
5) Anti asma
6) Anti konvulsan
7) Cairan infus
8) Parasetamol
9) Nsaid
10) Obat luka
11) Anti konvulsan
12) Spasmolitik
13) Anestesi lokal
14) Metode kontrasepsi
Manajemen Pelayanan

1. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan


Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga hanya
pelayanan rawat jalan saja. Dokter yang menyelenggarakan praktek dokter keluarga
tersebut tidak melakukan pelayanan kunjungan dan perawatan pasien di rumah atau
pelayanan rawat inap di rumah sakit. Semua pasien yang membutuhkan pertolongan
diharuskan datang ke tempat praktek dokter keluarga. Jika kebetulan pasien tersebut
memerlukan pelayanan rawat inap, pasien tersebut dirujuk ke rumah sakit.

2. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan pasien


dirumah.
Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga
mencakup pelayanan rawat jalan serta pelayanan kunjungan dan perawatan pasien di
rumah. Pelayanan bentuk ini lazimnya dilaksanakan oleh dokter keluarga yang tidak
mempunyai akses dengan rumah sakit.

3. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan pasien di


rumah, serta pelayanan rawat inap di rumah sakit.
Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga telah
mencakup pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan pasien di rumah, serta
perawatan rawat inap di rumah sakit. Pelayanan bentuk ini lazimnya diselenggarakan
oleh dokter keluarga yang telah berhasil menjalin kerja sama dengan rumah sakit
terdekat dan rumah sakit tersebut memberi kesempatan kepada dokter keluarga untuk
merawat sendiri pasiennya di rumah sakit.

Tentu saja penerapan dari ketiga bentuk pelayanan dokter keluarga ini tidak sama
antara satu negara dengan negara lainnya, dan bahkan dapat tidak sama antara satu
daerah lainnya. Di Amerika Serikat misalnya, pelayanan kunjungan dan perawatan
pasien di rumah mulai jarang dilakukan. Penyebabnya adalah karena mulai timbul
kesadaran pada diri pasien tentang adanya perbedaan mutu pelayanan antara
kunjungan dan perawatan pasien di rumah dengan di tempat praktek. Pasien akhirnya
lebih senang mengunjungi tempat praktek dokter, karena telah tersedia pelbagai
peralatan kedokteran yang dibutuhkan.

LI.3. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN SISTEM PEMBIAYAAN KLINIK


DOKTER KELUARGA

jenis pembiayaan kesehatan berdasarkan ideologi negara di dunia, yaitu :


1. Sosialis (welfare state). Pada negara-negara tersebut, negara mempunyai kewajiban
penuh untuk memenuhi biaya kesehatan. Bisa juga disebut tanggungan negara 100%.
2. Liberalis-kapitalis. Di sini biaya kesehatan diserahkan pada mekanisme pasar atau
pemerintah tidak menanggung biaya kesehatan) sehingga pelayanan kesehatan
menjadi berorientasi pada keuntungan semata.
3. Kombinasi antara sosialis dan kapitalis. Biaya kesehatan pada negara yang mengacu
sistem pembiayaan kombinasi ditanggung oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Berdasarkan dari jenis pembiayaan kesehatan tersebut, dapat ditentukan Indonesia mengikuti
sistem kombinasi dimana pihak pemerintah, swasta, dan masyarakat sama-sama menanggung
beban pembiayaan kesehatan.

Macam-macam biaya kesehatan:


Tergantung dari jenis dan kompleksitas pelayanan kesehatan yang diselenggarakan
dan atau dimanfaatkan. Hanya saja disesuaikan dengan pembagian pelayanan kedokteran,
maka biaya kesehatan tersebut. Secara umum dapat dibedakan atas dua macam yakni:
1. Biaya pelayanan kedokteran
Biaya yang dimaksud adalah yang dibutuhkan intuk menyelenggarakan dan atau
memanfaatkan pelayanan kedokteran. Yakni yang tujuan utamanya untuk mengobati
penyakit serta memulihkan kesehatan penderita.

2. Biaya pelayanan kesehatan masyarakat


Biaya yang dimaksud adalah yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan dan atau
memanfaatkan pelayanan kesehatan masyarakat. Yakni yang tujuan utamanya untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan serta untuk mencegah penyakit.

Pembiayaan kesehatan di kedokteran keluarga


Keuangan dalam praktik DOGA tercatat secara seksama dengan cara yang umum dan
bersifat transparansi. Manajemen keuangannya dapat mengikuti sistem pembiayaan praupaya
maupun sistem pembiayaan fee for service.

Dalam pelayanan di klinik kedokteran keluarga sumber biaya utama adalah dari
pasien sebagai imbalan atas jasa pelayanan kesehatan yang mereka peroleh. Sumber-sumber
lainnya, misalnya donasi dari pemerintah atau hibah (charity) dari yayasan atau LSM atau
dari institusi pendidikan (klinik pendidikan).

Metode pembayaran di klinik dokter keluarga


1) Fee for service
2) Asuransi, ciri asuransi di klinik kedokteran keluarga :
a. Dokter keluarga melakukan pembinaan kesehatan pada keluarga yang menjadi
kliennya. Targetnya adalah penurunan angka kesakitan. Bentuknya berapa
kunjungan secara berkala ke rumah pasien dan memberikan penyuluhan.
b. Dokter dibayar secara flat setiap bulannya, bukan berdasarkan jumlah kasus yang
ditangani.
c. Bila jumlah kasus sedikit maka dokter untung, namun bila banyak maka dokter
tidak akan memperoleh keuntungan.
d. Premi ditetapkan secara kapitasi, yaitu dihitung berdasarkan faktor resiko dari
setiap individu, frekuensi terjadinya penyakit dalam setahun, dan kemungkinan
biaya yang dibutuhkan bila ia sakit.

Biaya kesehatan dapat dilihat dari dua sudut:


1. Penyedia pelayanan kesehatan (health provider)
Besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat menyelenggarakan upaya kesehatan
dan lebih menunjuk pada seluruh biaya investasi (investment cost) dan biaya
operasional (operational cost). Ini merupakan persoalan utama dari pihak pemerintah
atau swasta yakni pihak-pihak yang menyelenggarakan upaya kesehatan.

2. Pemakai jasa kesehatan (health consumer)


Besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat memanfaatkan jasa pelayanan.ini
menjadi persoalan utama para pemakai jasa pelayanan.

Unsur-unsur Pembiayaan Kesehatan


1. Dana
Dana digali dari sumber pemerintah baik dari sektor kesehatan dan sektor lain terkait,
dari masyarakat, maupun swasta serta sumber lainnya yang digunakan untuk
mendukung pelaksanaan pembangunan kesehatan. Dana yang tersedia harus
mencukupi dan dapat dipertanggung-jawabkan.

2. Sumber daya
Sumber daya pembiayaan kesehatan terdiri dari: SDM pengelola, standar, regulasi dan
kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya
penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung
terselenggaranya pembangunan kesehatan.

3. Pengelolaan Dana Kesehatan


Prosedur/Mekanisme Pengelolaan Dana Kesehatan adalah seperangkat aturan yang
disepakati dan secara konsisten dijalankan oleh para pelaku subsistem pembiayaan
kesehatan, baik oleh Pemerintah secara lintas sektor, swasta, maupun masyarakat
yang mencakup mekanisme penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan dana
kesehatan

Tujuan Pembiayaan Kesehatan


Tujuan utamanya adalah tersedianya pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi,
teralokasi secara adil dan termanfaatkan secara berhasil-guna dan berdaya-guna, untuk
menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya.
Pokok utama dalam pembiayaan kesehatan adalah:
a) Mengupayakan kecukupan dan kesinambungan pembiayaan kesehatan pada tingkat
pusat dan daerah
b) Mengupayakan pengurangan pembiayaan OOP dan meniadakan hambatan
pembiayaan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terutama kelompok miskin dan
rentan melalui pengembangan jaminan
c) Peningkatan efisiensi dan efektifitas pembiayaan kesehatan

Organisasi kesehatan dunia (WHO) memberi fokus strategi pembiayaan kesehatan yang
memuat isu-isu pokok, tantangan, tujuan utama kebijakan dan program aksi itu pada
umumnya adalah dalam area sebagai berikut:
a. Meningkatkan investasi dan pembelanjaan publik dalam bidang kesehatan
b. Mengupayakan pencapaian kepesertaan semesta dan penguatan permeliharaan
kesehatan masyarakat miskin
c. Pengembangan skema pembiayaan praupaya termasuk didalamnya asuransi kesehatan
sosial (shi)
d. Penggalian dukungan nasional dan internasional
e. Penguatan kerangka regulasi dan intervensi fungsional
f. Pengembangan kebijakan pembiayaan kesehatan yang didasarkan pada data dan fakta
ilmiah
g. Pemantauan dan evaluasi.

Prinsip Subsistem Pembiayaan Kesehatan Indonesia


1. Jumlah dana untuk kesehatan harus cukup tersedia dan dikelola secara berdaya-guna,
adil dan berkelanjutan yang didukung oleh transparansi dan akuntabilitas.
2. Dana pemerintah diarahkan untuk pembiayaan upaya kesehatan masyarakat dan
upaya kesehatan perorangan bagi masyarakat rentan dan keluarga miskin.
3. Dana masyarakat diarahkan untuk pembiayaan upaya kesehatan perorangan yang
terorganisir, adil, berhasil-guna dan berdaya-guna melalui jaminan pemeliharaan
kesehatan baik berdasarkan prinsip solidaritas sosial yang wajib maupun sukarela,
yang dilaksanakan secara bertahap.
4. Pemberdayaan masyarakat dalam pembiayaan kesehatan diupayakan melalui
penghimpunan secara aktif dana sosial untuk kesehatan (misal: dana sehat) atau
memanfaatkan dana masyarakat yang telah terhimpun (misal: dana sosial keagamaan)
untuk kepentingan kesehatan.
5. Pada dasarnya penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan pembiayaan kesehatan di
daerah merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. Namun untuk pemerataan
pelayanan kesehatan, Pemerintah menyediakan dana perimbangan (maching grant)
bagi daerah yang kurang mampu.

Sumber Biaya Kesehatan:


Pemerintah, swasta, masyarakat, sumber lain(hibah, pinjaman dari luarnegri).
1. Seluruhnya bersumber dari anggaran pemerintah
Tergantung dari bentuk pemerintahan yang dianut, ada ditemukan suatu negara yang
menanggung biaya kesehatan sepenuhnya (cuma-cuma), pada negara seperti ini tidak
ditemukan pelayanan kesehatan swasta.

2. Sebagian ditanggung oleh masyarakat


Masyarakat diajak berperan serta, baik dalam menyelenggarakan upaya kesehatan
ataupun pada waktu memanfaatkan jasa pelayanan kesehatan. Dapat ditemukan
pelayanan kesehatan swasta,dalam hal ini masyarakat diharuskan membayar
pelayanan kesehatan yang dimanfaatkannya.

Asuransi Kesehatan
Suatu mekanisme pengalihan resiko (sakit) dari resiko perorangan menjadi resiko
kelompok. Dengan cara mengalihkan resiko individu menjadi resiko kelompok, beban
ekonomi yang harus dipikul oleh masing-masing peserta asuransi akan lebih tetapi
mengandung kepastian karena memperoleh jaminan.

Unsur-unsur asuransi kesehatan:


4. ada perjanjian
5. ada pembelian perlindungan
6. ada pembayaran premi oleh masyarakat

Jenis-jenis asuransi kesehatan di Indonesia:


1. Asuransi kesehatan sosial (social health insurance) asuransi ini memegang teguh
prinsipnya bahwa kesehatan adalah sebuah pelayanan sosial, pelayanan kesehatan
tidak boleh semata-mata diberikan berdasarkan status sosial masyarakat sehingga
semua lapisan berhak untuk memperoleh jaminan pelayanankesehatan. contoh:
PT.askes, PT.jamsostek
Prinsip kerja:
a. Keikutsertaannya bersifat wajib
b. Menyertakan tenaga kerja dan keluarganya
c. Iuran/premi berdasarkan persentase gaji/pendapatan. Idealnya harus dihitung
5% dari GDP
d. Premi untuk tenaga kerja ditanggung bersama (50%) oleh pemberi kerja dan
tenaga kerja.
e. Premi tidak ditentukan oleh resiko perorangan tetapi didasarkan pada
resikokelompok (collective risk sharing)
f. Tidak diperlukan pemeriksaan awal
g. Jaminan pemeliharaan kesehatan yang diperoleh bersifat menyeluruh
(universal coverage)
h. Peran pemerintah sangat besar untuk mendorong berkembangnya asuransi
kesehatansosial di Indonesia. Semua pegawai negeri diwajibkan untuk
mengikuti asuransi kesehatan
2. Asuransi kesehatan komersial perorangan (private voluntary health
insurance) jenis asuransi ini dapat dibeli preminya baik individu maupun segmen
masyarakat kelas menengah keatas.
Prinsip kerja:
a. Kepersertaan bersifat perorangan dan sukarela
b. Iuran/premi berdasarkan angka absolut, ditetapkan berdasarkan jenis
tanggunganyang dipilih.
c. Premi berdasarkan atas resiko perorangan dan ditentukan faktor usia, jenis
kelamin, jenis pekerjaan.
d. Dilakukan pemeriksaan kesehatan awal
e. Santunan diberikan sesuai kontrak
f. Peranan pemerintah relatif kecil
3. Asuransi kesehatan komersial kelompok (regulated private health insurance) ini
merupakan alternatif lain sistem asuransi kesehatan komersial
Prinsip-prinsip dasar:
a. Keikutsertaan bersifat sukarela berkelompok
b. Iuran/preminya dibayar berdasarkan atas angka absolut
c. Perhitugan premi bersifat community rating yang berlaku untuk
kelompok masyarakat
d. Santunan (jaminan pemeliharaan kesehatan) diberikan sesuai dengan kontrak
e. Tidak diperlukan pemeriksaan awal

LI.4. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PERAN DOKTER DAN MITRA KERJA


DALAM PELAYANAN KLINIK DOKTER KELUARGA

Sistem Pelayanan Dokter Keluarga (SPDK)


Dapat di lihat bentuk komunikasi atau kerjasama antara dokter dan teman sejawatnya di
lakukan dalam berbagai hal seperti :
1. Merujuk pasien
Pada pasien rawat jalan, karena alasan kompetensi dokter dan keterbatasan fasilitas
pelayanan, dokter yang merawat harua merujuk pasiennya pada teman sejawat lainnya.
2. Bekerjasama dengan sejawat
Dokter harus memperlakukan teman sejawat tanpa membeda-bedakan jenis kelamin,
ras, usia, kecacatan, agama, status sosial atau perbedaan kompetensi yang dapat
merugikan hubungan profesional antar sejawat.
3. Bekerja dalam tim
Asuhan kesehatan selalu di ingatkan melalui kerjasama dalam tim multidisiplin.
4. Mengatur dokter pengganti.
Ketika seorang dokter berhalangan, dokter tersebut harus menentukan dokter
pengganti serta mengatur proses mengalihkan yang efektif dan komunikatif dengan
dokter pengganti.
5. Mematuhi tugas
Seorang dokter yang bekerjapada institusi pelayanan atau pendidikan kedokteran harus
mematuhi tugas yang digariskan pimpinan institusi, termasuk sebagai dokter
pengganti.
6. Pendelegasian wewenang
Pendelegasian wewenang kepada perawat, peseta prograrm pendidikan spesialis,
mahasiswa kedokteran dalam hal pengobatan atau perawatan atas nama dokter yang
merawat, harus disesuaikan dengan kompetensi dalam melaksanakan prosedur dan
terapi yang sesuai dengan peraturan baru.

Komunikasi Dokter-Profesi Lain


1. Kolaborasi
A. Pengertian Menurut Shortridge, et al (1986)
Hubungan timbal balik di mana [pemberi pelayanan] memegang tanggung jawab
paling besar untuk perawatan pasien dalam kerangka kerja bidang respektif
mereka.

B. Elemen-elemen Kolaborasi
1) Struktur
2) Proses
3) Hasil Akhir

C. Model Kolaboratif Tipe I


1) Menekankan Komunikasi Dua Arah
2) Masih menempatkan Dokter pada posisi utama
3) Masih membatasi Hubungan Dokter dengan Pasien

D. Model Kolaboratif Tipe II


1) Lebih berpusat pada Pasien
2) Semua Pemberi Pelayanan harus bekerja sama
3) Ada kerja sama dengan Pasien
4) Tidak ada pemberi pelayanan yang mendominasi secara terus-menerus
E. Elemen kunci kolaborasi dalam kerja sama team multidisipliner dapat digunakan
untuk mencapai tujuan kolaborasi team :
1) Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan
menggabungkan keahlian unik profesional.
2) Produktivitas maksimal serta efektifitas dan efesiensi sumber daya
3) Meningkatnya profesionalisme dan kepuasan kerja, dan loyalitas
4) Meningkatnya kohesifitas antar profesional
5) Kejelasan peran dalam berinteraksi antar profesional,
6) Menumbuhkan komunikasi, kolegalitas, dan menghargai dan memahami
orang lain
F. Kesuksesan kolaborasi dalam suatu pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh:
1) Faktor interaksi (interactional determinants), yaitu hubungan interpersonal
diantara anggota tim yang terdiri dari kemauan untuk berkolaborasi,
percaya, saling menghargai dan berkomunikasi .
2) Faktor Organisasi (organizational determinants) yaitu kondisi di dalam
organisasi tersebut yang terdiri dari:
a) Organizational structure (struktur horisontal dianggap lebih berhasil
daripada struktur hierarkis);
b) Organization’s philosophy (nilai nilai keterbukaan, kejujuran,
kebebasan berekspresi, saling ketergantungan, integritas dan sikap
saling percaya;
c) administrative support (kepemimpinan);
d) team resource (tersedianya waktu untuk bertemu dan berinteraksi,
membagi lingkup praktek dengan profesional lain, bekerja dalam
suatu unit yang kecil) ;
e) coordination mechanism (pertemuan formal untuk diskusi, standarisasi
prosedur dalam bekerja).
3) Faktor lingkungan organisasi (organization’s environment/ systemic
determinants) yaitu elemen diluar organisasi, seperti sistem sosial, budaya,
pendidikan dan profesional.

2. Pendekatan Praktik Hirarkis


A. Menekankan Komunikasi satu arah
B. Kontak Dokter dengan Pasien terbatas
C. Dokter merupakan Tokoh yang dominan
D. Cocok untuk diterapkan di keadaan tertentu, spt IGD

LI.5. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN SISTEM RUJUKAN PADA KLINIK


DOKTER KELUARGA

Rujukan adalah upaya melimpahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan kasus
penyakit yang sedang ditangani oleh seorang dokter kepada dokter lain yang sesuai.
Macam-macam Rujukan :
Sistem Rujukan secara konsepsional menyangkut hal-hal sebagai berikut:

1. Rujukan Medik adalah rujukan masalah kedokteran yang bertujuan


menyembuhkan dan ataumemulihkan status kesehatan pasien, atau sebaliknya
untuk tindak lanjut yg diperlukan.
Rujukan medik dibedakan atas 3 macam:
a. Rujukan kasus: untuk hal tentang penatalaksanaan pasien dari satu strata yg
kurang mampu ke strata yang lebih sempurna atau sebaliknya (untuk tindak
lanjut yg diperlukan) untuk keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan medik,
dll.
b. Rujukan bahan pemeriksaan (spesimen): pengiriman bahan-bahan
pemeriksaanlaboratorium dari strata yang kurang mampu kepada lebih mampu
atau lebih lengkap,atau sebaliknya (tindak lanjut yg diperlukan).
c. Rujukan Ilmu Pengetahuan: pengiriman dokter/tenaga kesehatan yg lebih ahli
(strata pelayanan yg lebih mampu) ke strata yang kurang mampu untuk
melaksanakanbimbingan/diskusi atau sebaliknya untuk pendidikan dan
pelatihan.
2. Rujukan Kesehatan adalah rujukan yang menyangkut masalah kesehatan
masyarakat yang bertujuanmeningkatkan derajat kesehatan dan atau mencegah
penyakit yang ada di masyarakat.Rujukan kesehatan terdiri dari:
a. Rujukan tenaga, antara lain dukungan tenaga ahli untuk penyelidikan KLB,
penanggulangangangguan kesehatan karena bencana alam, bantuan
penyelesaian masalah hukum kesehatan.
b. Rujukan sarana dan logistik, antara lain peminjaman peralatan medis, bantuan
obat dsb.
c. Rujukan Operasional: pelimpahan wewenang dan tanggungjawab
penanggulangan masalahkesmas atau penyelenggaraan upaya kesehatan
masyarakat

Menurut tata hubungannya, sistem rujukan terdiri dari: rujukan internal dan rujukan
eksternal.
1. Rujukan Internal adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit pelayanan di dalam
institusi tersebut. Misalnya dari jejaring puskesmas (puskesmas pembantu) ke
puskesmas induk.
2. Rujukan Eksternal adalah rujukan yang terjadi antar unit-unit dalam jenjang
pelayanan kesehatan, baik horizontal (dari puskesmas rawat jalan ke puskesmas rawat
inap) maupun vertikal (dari puskesmas ke rumah sakit umum daerah).

Tiga bentuk pelayanan sistem rujukan


1. Pelayanan kesehatan tingkat pertama (primary health care)
Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan dan
masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka atau promosikesehatan
. Oleh karena jumlah kelompok ini didalam suatu populasi sangat besar (lebih kurang
85%), pelayanan yang diperlukan oleh kelompok ini bersifat pelayanan kesehatan
dasar (basic health services) atau juga merupakan pelayanan kesehatan primer atau
utama (primary health care). Bentuk pelayanan ini di Indonesia adalah puskesmas,
puskesmas pembantu, puskesmas keliling, dan balkesmas.

2. Pelayanan kesehatan tingkat kedua (secondary health services)


Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan oleh kelompok masyarakat yang
memerlukan perawatan inap, yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan
kesehatan primer. Bentuk pelayanan ini misalnya rumah sakit tipe C dan D, dan
memerlukan tersedianya tenaga-tenaga spesialis.

3. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga (tertiary health services)


Pelayanan kesehatan ini diperlukan oleh kelompok masyarakat atau pasien yang
sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan sekunder. Pelayanan sudah
kompleks dan memerlukan tenaga-tenaga super spesialis, contoh di Indonesia: rumah
sakit tipe A dan B

Manfaat Konsultasi dan Rujukan


1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan (bila sistemnya berjalan sesuai dengan
yang seharusnya)
2. Kebutuhan dan tuntutan kesehatan pasien akan terpenuhi (terbentuk team work)
Tata Laksana Konsultasi dan Rujukan
Dasarnya adalah kepatuhan terhadap kode etik profesi yg telah disepakati bersama, dan
sistem kesehatan terutama sub sistem pembiayaan kesehatan yang berlaku.
Konsultasi (McWhinney, 1981):
a. Penjelasan lengkap kepada pasien alasan untuk konsultasi
b. Berkomunikasi secara langsung dengan dokter konsultan (surat, formulir khusus,
catatan di rekam medis, formal/ informal lewat telefon)
c. Keterangan lengkap tentang pasien
d. Konsultan bersedia memberikan konsultasi

Tata Cara Rujukan


1.Pasien harus dijelaskan selengkap mungkin alasan akan dilakukan konsultasi dan
rujukan. Penjelasan ini sangat perlu, terutama jika menyangkut hal-hal yang peka,
seperti dokter ahli tertentu.
2.Dokter yang melakukan konsultasi harus melakukan komunikasi langsung dengan
dokter yang dimintai konsultasi. Biasanya berupa surat atau bentuk tertulis yang
memuat informasi secara lengkap tentang identitas, riwayat penyakit dan penanganan
yang dilakukan oleh dokter keluarga.
3.Keterangan yang disampaikan tentang pasien yang dikonsultasikan harus selengkap
mungkin. Tujuan konsultasi pun harus jelas, apakah hanya untuk memastikan
diagnosis, menginterpretasikan hasil pemeriksaaan khusus, memintakan nasihat
pengobatan atau yang lainnya.
4.Sesuai dengan kode etik profesi, seyogianya dokter dimintakan konsultasi wajib
memberikan bantuan profesional yang diperlukan. Apabila merasa diluar keahliannya,
harus menasihatkan agar berkonsultasi ke dokter ahli lain yang lebih seuai.
5.Terbatas hanya pada masalah penyakit yang dirujuk saja
6.Tetap berkomunikasi antara dokter konsultan dan dokter yg meminta rujukan
7.Perlu disepakati pembagian wewenang dan tanggungjawab masing-masing pihak

Pembagian Wewenang dan Tanggung Jawab


1. Interval referral, pelimpahan wewenang dan tanggung jawab penderita sepenuhnya
kepada dokter konsultan untuk jangka waktu tertentu, dan selama jangka waktu
tersebut dokter tsb tidak ikut menanganinya.
2. Collateral referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita
hanya untuk satu masalah kedokteran khusus saja.
3. Cross referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita
sepenuhnya kepada dokter lain untuk selamanya.
4. Split referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita
sepenuhnya kepada beberapa dokter konsultan, dan selama jangka waktu pelimpahan
wewenang dan tanggungjawab tersebut dokter pemberi rujukan tidak ikut campur.

LI.6. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ADAB DAN TATACARA DOKTER


MUSLIM DALAM MENGOBATI PASIEN DALAM PANDANGAN ISLAM

1. Berusaha menjaga kesehatan pasien sebagai konsekuensi amanah dan tanggung


jawabnya dan berusaha menjaga rahasia pasien kecuali dalam kondisi darurat atau
untuk tindakan preventif bagi yang lainnya.
Rosulullah sholallohu 'alaihi wasalam bersabda :
"Barangsiapa yang menutup (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup
(aibnya) pada hari kiamat. " (HR. al-Bukhari 2442 dan Muslim 7028).
2. Senantiasa menyejukkan hati pasien, menghiburnya dan mendo'akannya.
Salah satunya ialah dengan mengucapkan "Tidak mengapa, insyaallah ini adalah
penghapus dosa", atau meletakkan tangan kanan di tempat yang sakit seraya berdo'a :
" Wahai Robb manusia, hilangkanlah penyakit tersebut, sembuhkanlah, Engkau
adalah penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan
yang tidak ditimpa penyakit lagi. " (HR. Muslim 2191 dan yang lainnya).
3. Hendaknya memberitahukan kepada pasien bahwa yang menyembuhkan hanya Allah
Ta'ala sehingga hatinya bergantung kepada Allah, bukan kepada dokter.Nabi
sholallohu 'alaihi wasalam berkata kepada Abu Rimtsah (seorang dokter ahli) :
" Allah adalah dokter, sedangkan kamu adalah orang yang menemani yang sakit. "
(HR. Abu Dawud 4209, ash-shahiihah 1537).
4. Seorang dokter tidak boleh membohongi pasiennya.
Misalnya tatkala stok obat habis ia memberikan obat yang tidak sesuai dengan
penyakitnya atau memberikan obat yang di dalamnya terkandung bahan-bahan yang
diharamkan.
5. Hendaknya profesi dalam bidang kedokteran bertujuan untuk memuliakan manusia.
Oleh karena itu tidak diperkenankan bagi seorang dokter atau petugas kesehatan
lainnya untuk membakar potongan tubuh pasien, namun hendaknya diberikan kepada
sang pasien atau keluarganya untuk dikubur. Selain itu tidak diperbolehkan
memperjualbelikan darah pasien, mengadakan operasi-operasi plastik untuk
mengubah wajah, telinga, alis, hidung dan lainnya, karena hal itu termasuk mengubah
ciptaan Allah yang diharamkan dalam Islam. Allah Ta'ala berfirman :
(Setan berkata) : "Dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-
benar mereka mengubahnya. " (QS. an-Nisa' (4) : 119).
Di samping itu, tidak diperbolehkan ta'awun dalam kejelekan, seperti menjual obat-
obat penggugur kehamilan sehingga melariskan perzinaan.
6. Seorang dokter, perawat, mantri, bidan, apoteker dan petugas kesehatan lainnya
hendaknya betul-betul meningkatkan dan menekuni pekerjaanya.
Rosulullah sholallohu 'alaihi wasalam :
"Barangsiapa yang menerjuni kedokteran sedangkan tidak diketahui orang itu ahli
kedokteran, maka ia menanggung (kerugian pasien)." (HR. Abu Dawud 4586, ash-
shahiihah 635).
7. Profesi dalam bidang pengobatan termasuk pekerjaan yang mulia sehingga
diharapkan bagi para dokter untuk menggapai ridha Allah dalam setiap aktivitasnya.
Nabi sholallohu 'alaihi wasalam bersabda : "Sebaik-baik manusia adalah yang paling
bermanfaat bagi manusia yang lain." (Dikeluarkan oleh ad-Daruqutni, ash-shahiihah
426).
8. Jika dokter laki-laki (dikarenakan tidak terdapat dokter perempuan) dengan dalih
mengobati dan atau pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan di atas
(memandang dan menyentuh) seperti; mendeteksi denyut nadi, mengambil darah dan
memijit, dimana dokter tidak memiliki cara lain kecuali terpaksa memandang badan
yang bukan mahramnya atau menyentuh badannya (dan tidak memungkinkan dia
menggunakan kaos tangan atau semacamnya, dengan maksud menyentuh secara tidak
langsung), dalam hal ini menyentuh dan memandang tidak ada masalah.
9. Bila memang dalam keadaan darurat dan terpaksa, Islam memang membolehkan
untuk menggunakan cara yang mulanya tidak diperbolehkan. Selama mendatangkan
maslahat, seperti untuk pemeliharaan dan penyelamatan jiwa dan raganya.
10. Meskipun dibolehkan dalam kondisi yang betul-betul darurat, tetapi harus mengikuti
rambu-rambu yang wajib untuk ditaati. Tidak berlaku secara mutlak. Keberadaan
mahram adalah keharusan, tidak bisa ditawar-tawar. Sehingga tatkala seorang
muslim/muslimah terpaksa harus bertemu dan berobat kepada dokter yang berbeda
jenis, ia harus didampingi mahramnya saat pemeriksaan. Tidak berduaan dengan sang
dokter di kamar praktek atau ruang periksa.

Di samping adab-adab tersebut di atas, ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh para
petugas kesehatan tentang rumah sakit, klinik, apotek maupun tempat praktiknya, yaitu :

1. Hendaknya mengkhususkan satu ruangan untuk shalat, baik bagi laki-laki maupun
perempaun, mengingat pentingnya masalah sahalat.
2. Menjadi kewajiban dan PR kita bersama untuk menjadikan rumah sakit terhindar dari
ikhtilath (bercampurnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram).
3. Tidak diperkenankan menggantung gambar makhluk bernyawa di tembok atau
dinding.
4. Hendaknya tidak menyediakan asbak bagi para pengunjung rumah sakit karena itu
adalah bentuk ta'awun dalam kejelekan.
5. Hendaknya memisahkan antara ruangan pasien yang berpenyakit menular dengan
yang tidak menular, demikian pula agar para pengunjung tidak kontak langsung
dengan si pasien tersebut sehingga penyakitnya tidak menular- dengan izin Allah-
kepada yang lainnya. Rosulullah sholallohu 'alaihi wasalam bersabda : "Jangan
sekali-kali mencampur yang sakit dengan yang sehat." (HR. al-Bukhari 5328). Hal itu
dikuatkan juga dengan sabda beliau tentang wabah penyakit menular : "Jika kalian
mendengar (ada wabah) di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya." (HR.
al-Bukhari 5287 dan Muslim 5775).
6. Hendaknya kamar mandi atau WC tidak menghadap ke arah kiblat atau
membelakanginya, sebagaimana sabda Nabi sholallohu 'alaihi wasalam : "Jangan
menghadap kiblat tatkala buang air besar dan kencing dan jangan pula
membelakanginya." (HR. al-Bukhari 144, Muslim 264, at-Tirmidzi 8, Abu Dawud 9).
7. Dianjurkan untuk mengubah kantornya ke arah kiblat dan duduk menghadap kiblat,
berdasarkan hadits Abu Hurairah, bahwa Rowulullah sholallohu 'alaihi wasalam
bersabda : "Sesungguhnya segala sesuatu memiliki tuan, dan tuannya majelis adalah
arah kiblat." (HR. ath-Thabrani dalam al-Ausath 2354, dan dihasankan Syaikh al-
Haitsami 8/114, as-Sakhawi (102) dan Syaikh al-albani dalam ash-Shahiihah (2645)
dan Shahiih at-Targhib (3085) ).
DAFTAR PUSTAKA

Anies. 2006. Kedokteran Keluarga & Pelayanan Kedokteran yang Bermutu. Semarang.

Prasetyawati AE. Kedokteran Keluarga dan Wawasannya.. Diakses melalui:


http://fk.uns.ac.id/static/resensibuku/BUKU_KEDOKTERAN_KELUARGA_.pdf

Sistem Pembiayaan Kesehatan Indonesia. 2010

Tristantoro L. Prinsip-Prinsip Asuransi Kesehatan Untuk Mahasiswa Kedokteran Dan


Residen. FK UGM.