Anda di halaman 1dari 10

Pedoman Sanitasi RS.

Kartika Medical Center

1. Pendahuluan

Rumah sakit sebagai wahana pelayanan bagi pasien rawat jalan dan rawat inap,
didalamnya terdapat aktivitas dari berbagai pihak mulai dari pasien, dokter, perawat, petugas
rumah sakit lainnya dan pengunjung keluarga pasien maupun orang-orang yang mempunyai
kepentingan lainnya. Kegiatan rumah sakit memberikan pelayanan selama 24-jam, maka dari itu
dapat dipastikan akan memerlukan kebutuhan air bersih, untuk keperluan penyediaan makanan,
minuman, dan kegiatan lain yang berhubungan dengan keperluan saniteri seperti mandi, buang
air kecil/besar, pencucian linen, pengolahan makanan.

Air bersih merupakan kebutuhan yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan di rumah
sakit. Namun mengingat bahwa rumah sakit merupakan tempat tindakan dan perawatan orang
sakit maka kualitas dan kuantitasnya perlu dipertahankan setiap saat agar tidakmengakibatkan
sumber infeksi baru bagi penderita. Tergantung pada kelas rumah sakit dan berbagai jenis
pelayanan yang diberikan mungkin beberapa rumah sakit harus melakukan pengolahan tambahan
terhadap air minum dan air bersih yang telah memenuhi standar nasional, misalnya bila air bersih
digunakan sebagai bahan baku air untuk dianalisa pada proses mesin pencuci ginjal.

2. Pengertian dan Dampak

a.Pengertian

Yang dimaksud air bersih ini adalah air yang memiliki kualitas minimal sebagaimana dalam
lampiran Peraturan Menteri Kesehatan No. 416 tahun 1990 bahwa air bersih air yang digunakan
untuk keperluan sehari-hari yangn kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum
apabila telah dimasak.

b.Dampak

(a) Dampak positif berupa penurunan penyakit yang dapat ditularkan melalui air atau penyakit
yang ditularkan karena kegiatan mencuci dengan air, kebersihan lingkungan, alat-alat termasuk
kebersihan pribadi.

(b) Dampak negatif, misalnya meningkatnya penyakit yang ditularkan melalui air dan kegiatan
mencuci dengan air, kesehatan lingkungan dan pribadi kurang terpelihara.
3. Kebutuhan Air Bersih

Jumlah kebutuhan air bersih untuk rumah sakit masih belum dapat ditetapkan secara pasti.
Jumlah ini tergantung pada kelas dan berbagai pelayanan yang ada di rumah sakit yang
bersangkutan. Makin banyak pelayanan yang ada di rumah sakit tersebut, semakin besar jumlah
kebutuhan air. Di lain pihak, semakin besar jumlah tempat tidur, semakin rendah proporsi
kebutuhan air per tempat tidur. Secara umum, perkiraan kebutuhan air bersih didasarkan pada
jumlah tempat tidur. Kebutuhan minimal air bersih 500 liter per tempat tidur per hari.

4. Standar Kualitas Air Bersih

Melalui Permenkes No. 416 tahun 1990 telah ditetapkan syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas
di Indonesia. Walau dalam penerapannya secara umum masih menimbulkan masalah namun
khusus untuk rumah sakit seyogyanya sudah tidak ada masalah lagi

.5. Sumber Air Bersih

Berbagai sumber untuk penyediaan air bersih antara lain sungai, danau, mata air, air tanah dapat
digunakan untuk kepentingan kegiatan rumah sakit dengan ketentuan harus memenuhi
persyaratan, baik dari segi konstruksi sarana, pengolahan, pemeliharaan, pengawasan kualitas
dan kuantitas. Sebaiknya rumah sakit mengambil air PAM karena akan mengurangi beban
pengolahan sehingga tinggal beban pengawasan kualitas airnya. Bila PAM tidak tersedia di
daerah tersebut, pilihan yang ada sebaiknya air tanah menjadi pilihan utama terutama bila
keadaan geologi cukup baik karena air tanah tidak banyak memerlukan pengolahan dan lebih
mudah didesinfeksi dibanding air permukaan disamping juga kualitasnya relative lebih stabil.
Bila air tanah juga tidak mungkin, terpaksa harus menyediakan pengolahan air permukaan.
Untuk membangun sistem pengolahan perlu mempertimbangkan segi ekonomi, kemudahan
pengolahan, kebutuhan tenaga untuk mengoperasikan sistem, biaya operasi dan kecukupan
supply baik dari segi jumlah maupun mutu air yang dihasilkan.

6. Pengelolaan Air Bersih

Pengolahan air bervariasi tergantung pada karakteristik asal air dan kualitas produk yang
diharapkan, mulai dari cara paling sederhana, yaitu dengan chlorinasi sampai cara yang lebih
rumit. Makin jauh penyimpangan kualitas air yang masuk terhadap Permenkes No. 146 tahun
1990 semakin rumit pengolahan yang dilakukan. Pengolahan-pengolahan yang mungkin
dipertimbangkan adalah sebagai berikut :

a. Tanpa pengolahan (mata air yang dilindungi).

b. Chlorinasi.

c. Pengolahan secara kimiawi dan chlorinasi (landon air).

d. Penurunan kadar besi dan chlorinasi (air tanah).

e. Pelunakan dan chlorinasi (air tanah).

f. Filtrasi pasir lambat (FPL) dan chlorinasi (sungai daerah pegunungan).

g. Pra-pengolahan  FPL  Chlorinasi (air danau/waduk).

h. Koagulasi  Flokulasi  Sedimentasi  Filtrasi  Chlorinasi (sungai).

k. Koagulasi  Flokulasi  Sedimentasi  Filtrasi  Pelunakan  Chlorinasi (sungai).

7. Pengawasan Kualitas Air di Rumah Sakit

Tujuan pengawasan kualitas air di rumah sakit adalah terpantau dan terlindungi secara
terus menerus terhadap penyediaan air bersih agar tetap aman dan mencegah penurunan kualitas
dan penggunaan air yang dapat mengganggu/membahayakan kesehatan serta meningkatkan
kualitas air. Adapun sasaran pengawasan kualitas air ini terutama ditujukan kepada semua sarana
penyediaan air bersih yang ada di rumah sakit beserta jaringan distribusinya baik yang berasal
dari PDAM/BPAM maupun dikelola oleh rumah sakit yang bilamana timbul masalah akan
memberi risiko kepada orang-orang yang berada dalam lingkup rumah sakit (pasien, karyawan,
pengunjung).

Perlindungannya ditujukan kepada mulai dari PDAM dan air baku yang akan diolah (apabila
rumah sakit membuat pengolahan sendiri) sampai air yang keluar dari kran-kran dimana air
diambil. Kegiatan pokok pengawasan kualitas air adalah sebagai berikut :

1) Inspeksi Sanitasi
Yang dimaksud inspeksi sanitasi adalah suatu kegiatan untuk menilai keadaan suatu sarana
penyediaan air bersih guna mengetahui berapa besar kemungkinan sarana tersebut dipengaruhi
oleh lingkungannya yang mengakibatkan kesehatan masyarakat menurun. Inspeksi sanitasi dapat
memberikan informasi sedini mungkin pencemaran sumber air yang disebabkan oleh kegiatan
manusia atau makhluk lainnya yang dekat dengan sumber.

Inspeksi sanitasi dilaksanakan sebagai bagian dari pengawasan kualitas air dan mencakup
penilaian keseluruhan dari banyak faktor yang berkaitan dengan system penyediaan air bersih.

Langkah-langkah inspeksi sanitasi di rumah sakit adalah sebagai berikut :

a. Membuat peta/maping mulai dari reservoir/unit pengolahan sampai system jaringan distribusi
air yang terdapat dalam bengunan rumah sakit.

b. Melakukan pengamatan dan menentukan titik-titik rawan pada jaringan distribusi yang
diperkirakan air dalam pipa mudah terkontaminasi.c. Menentukan frekuensi inspeksi sanitasi.

d. Menentukan kran-kran terpilih dari setiap unit bangunan yang ada di rumah sakit untuk
pengambilan sampel dan penetuannya berdasarkan hasil pengamatan dari poin b.

4) Tenaga Pengelola

Tenaga pengelola air bersih terdiri dari :

- Tenaga pelaksana dengan tugas mengawasi plambing dan kualitas air dengan

kualifikasi D1 dan latihan khusus.

- Pengawasan dengan tugas mengawasi tenaga pelaksana pengelolaan air bersih

dengan kualifikasi D3 dan latihan khusus.

Kriteria air yang bersih dan aman untuk dikonsumsi manusia:


 Air yang bebas dari kontaminasi kuman atau bibit penyakit.
 Bebas dari pencemaran kimia yang beracun dan berbahaya,
 Tidak berasa dan tidak berbau,
 Dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,
 Memenuhi baku mutu yang ditetapkan oleh WHO / Depkes.RI.

Distribusi air:
• Air yang didistribusikan melalui pipa untuk keperluan rumah tangga;
• Air yang didistribusikan melalui tangki air;
• Air kemasan;
• Air yang digunakan untuk produksi bahan makanan dan minuman yang disajikan
kepada masyarakat;
• harus memenuhi syarat kesehatan air minum.

Pencemaran air
• Mengandung bibit penyakit, parasit, bahan kimia yang berbahaya, sampah, limbah
industri. Mengandung waterborne disease atau water related disease:
– Penyakit viral (hepatitis viral, poliomielitis,
– Penyakit bacterial : kolera, disentri typoid, diare.
– Penyakit protozoa: amebiasis, giardiasis.
– Penyakit helmintik: askariasis,
– Penyakit leptospiral :
• Air Hujan: karena partikel debu diudara, mikroorganisme, gas karbon dioksid, nitrogen,
amonia, asam karbonat (CO2), asam sulfat (S2O3), asam nitrit (N2O3).
• Air Permukaan: air sungai, waduk, telaga, rawa, air terjun, sumur permukaan,
pencemaran dapat berasal dari resapan dari sampah, septiktank.
• Air tanah: dapat mengandung zat mineral konsentrasi tinggi (mangan, magnesiumm,
kalsium, logam berat yang dapat mempengaruhi kesadahan air.
• Sumur Dangkal: kontasminasi dari kegiatan mandi, cuci, kakus (MCK).
• Sumur Dalam: hampir dapat dipastikan tidak terkontaminasi.

Pengelola penyediaan air minum:


Pengelola penyediaan air minum harus:
– menjamin air minum yang diproduksinya memenuhi syarat kesehatan, dengan
memeriksa:
• pemeriksaan instalasi pengolahan air;
• pemeriksaan pada jaringan pipa distribusi;
• pemeriksaan pada pipa sambungan ke konsumen;
• pemeriksaan pada proses isi ulang dan kemasan
– melakukan pengamanan terhadap sumber air baku yang dikelolanya dari segala
bentuk pencemaran berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku.
Sistem Penyediaan Air Minum RS:
1. Sumber Air Besih: PDAM, Sumur Air Tanah, Air Hujan (tandon), Air danau, Air
sumber pegunungan, air sungai.
2. Proses penyediaan:
a. Langsung, tanpa proses penjernihan.
b. Melalui proses pengolahan.
3. Penampungan dan penyaluran:
a. Langsung kepemakaian,
– Bak penampungan bawah tanah,
– Bak penampungan atap,
– Instalasi pemipaan air bersih.
Sangsi:
Setiap Pengelola Penyedia Air Minum yang melakukan perbuatan yang bertentangan
dengan, yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan masyarakat dan merugikan kepentingan
umum dapat dikenakan sanksi administratif dan/atau sanksi pidana berdasarkan peraturan yang
berlaku

Persyaratan kualitas air minum:


1. Persyaratan bakteriologis: E Coli atau fecal coli, Bacteri coliform
2. Perayaratan kandungan kimia.

A. Bahan-bahan inorganik (yang memiliki pengaruh langsung pada kesehatan), antimoni, air
raksa, arsenic, barium, sianida, nitrat, nitrit
B. Bahan-bahan inorganik (yang kemungkinan dapat menimbulkan keluhan pada konsumen),
amonia, amonium, chloride, dll
C. Bahan-bahan Organik (yang memiliki pengaruh langsung pada kesehatan), chlorinated
alkanes, chlorinated ethenes, dll
D. Bahan-bahan organik (yang kemungkinan dapat menimbulkan keluhan pada konsumen),
toluene, Xylene, eyhilbenzene, dll
E. Pestisida, aldrin, dieldrin, benthazone, dll
F. Desinfektan dan hasil sampingannya, monochloramine, chlorine, dll
3. RADIOAKTIFITAS, aktifitas Alpha, Beta ((Bq/liter)
4. FISIK, warna, bau, rasa, temperatur, kekeruhan.

Persyaratan kualitas air minum:


1. Persyaratan bakteriologis
Parameter Satuan Kadar Maksimum yang diperbolehkan
a. Air Minum: E. Coli atau fecal coli Jumlah per 100 ml sampel = 0
b. Air yang masuk sistem distribusi:
– E. Coli atau fecal coli Jumlah per 100 ml sampel = 0
– Total Bakteri Coliform Jumlah per 100 ml sampel = 0
c. Air pada sistem distribusi
– E.Coli atau fecal coli Jumlah per 100 ml sampel =0
– Total Bakteri Coliform Jumlah per 100 ml sampel =0

Parameter Satuan Kadar Maksimum Bahan-bahan inorganik (yang langsung mempengaruhi kesehatan):
• Antimony 0.005 (mg /liter) • Tembaga 2 (mg /liter)
• Air raksa 0,001 (mg /liter) • Sianida 0,07 (mg /
• Arsenic 0.01 (mg /liter) liter)
• Barium 0.7 (mg /liter) • Fluoride 1.5 (mg / liter)
• Boron 0.3 (mg /liter) • Timah 0.01 (mg /
• Cadmium 0.003 (mg /liter) liter)
• Kromium 0.05 (mg /liter) • Molybdenum 0.07 (mg /
liter)
• Nikel 0.02 (mg /
liter)
• nitrat (sebagai NO3-) 50 (mg / liter)
• nitrit (sebagai NO2 -) 3 (mg / liter)
• Selenium 0.01 (mg /
liter)

B. Bahan-bahan inorganik (yang kemungkinan dapat menimbulkan keluhan pada konsumen)


Parameter Satuan Kadar Maksimum yang diperbolehkan:
• Ammonia 1,5 mg/l
• Alumunium 0,2 mgl
• Klorida 250 mg/l
• Copper 1 mg/l
• Kesadahan 500 mg/l
• Hidrogen sulfida 0.05 mg/l
• Besi 0.3 mg/l
• Mangan 0.1 mg/l
• pH - 6,5 – 8,5
• Sodium 200 mg/l
• Sulfate 250 mg/l
• Total padatan terlarut 1000 mg/l
• Seng 3 mg/l

Pengawasan:
1. Pelaksana Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota:
– persyaratan bakteriologis, kimiawi, radioaktif dan fisik.
2. Inspeksi sanitasi dan pengambilan sampel air termasuk air pada sumber air baku, proses
produksi, jaringan distribusi, air minum isi ulang dan air minum dalam kemasan.
3. Parameter kualitas air yang akan diperiksa, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi daerah
tangkapan air, instalasi pengolahan air dan jaringan perpipaan.
4. Air minum yang diproduksi oleh suatu perusahaan, pemerintah maupun swasta yang
didistribusikan ke masyarakat dengan sistem perpipaan
5. Air minum yang diproduksi oleh suatu perusahaan, baik pemerintah maupun swasta,
didistribusikan kepada masyarakat dengan kemasan dan atau kemasan isi ulang.

Pengamatan lapangan atau inspeksi sanitasi,


Pengambilan sampel,
Titik pengambilan sampel air:
• Harus dipilih sedemikian rupa sehingga mewakili secara keseluruhan dari sistem
penyediaan air minum tersebut, termasuk sampel air baku.

Parameter kualitas air yang diperiksa:


Parameter yang berhubungan langsung dengan kesehatan:
a) Parameter Mikrobiologi:
• (1) E. coli
• (2) Total Koliform
b) Kimia an-organik:
• (1) Arsen
• (2) Fluorida
• (3) Kromium-val.6
• (4) Kadmium
• (5) Nitrit, sbg-N
• (6) Nitrat, sbg-N
• (7) Sianida
• (8) Selenium

Parameter yang tidak langsung berhubungan dengan kesehatan


a) Parameter Fisik:
• (1) Bau
• (2) Warna
• (3) Jumlah zat padat terlarut (TDS)
• (4) Kekeruhan
• (5) Rasa
• (6) Suhu
b) Parameter Kimiawi:
(1) Aluminium
(2) Besi
(3) Kesadahan
(4) Khlorida
(5) Mangan
(6) pH
(7) Seng
(8) Sulfat
(9) Tembaga
(10) Sisa Khlor
(11) Amonia

Pengawasan Internal:
• Untuk Produksi Air Minum sebesar < 200.000 m3/Tahun/Unit Produksi:
• Pada jaringan pipa distribusi dilakukan pemeriksaan parameter:
– Sisa khlor dilakukan minimal satu kali sehari
– Ph, dilakukan minimal satu kali per minggu
– Daya hantar listrik (DHL), Alkalinitas, kesadahan total, Co2 Agresif, dan suhu
dilakukan minimal satu kali per minggu.
– Besi dan Mangan, dilakukan minimal satu kali per bulan bila menjadi masalah.
• Pada jaringan pipa distribusi dilakukan pemeriksaan parameter:
– Sisa khlor, minimal satu kali sehari, pada outlet reservoir dan konsumen terjauh
– Ph, minimal satu kali per minggu
– Daya hantar listrik (DHL), minimal satu kali perbulan.
– Kekeruhan, minimal satu kali per minggu.
– Total Coliforms/E, minimal satu bulan sekali pada outlet reservoir dan konsumen
terjauh
Pemeliharaan sistem air bersih:
• Pemeliharaan Kebersihan:
– Pengurasan secara rutin bak penampung air.
– Pembilasan sisa kotoran dalam saluran.
• Pemeliharaan sistem instalasi.
– Pemeriksaan kerusakan sistem pemipaan,
– Penggantian karena umur pemakaian pipa, katup kontrol (korosif, kerak air),
– Pengontrol ketinggian permukaan air dalam bak penampung (sering disebut
radar / Water level control).

Kepustakaan
1. Keputusan Menteri Kesehatan RI, No.907/MENKES/SK/VII/2002. Sarat-syarat dan
Pengawasan Kualitas Air Minum.
2. Chandra Budiman, Pengantar Kesehatan Lingkungan, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
2005.