Anda di halaman 1dari 16

1. Jelaskan sejarah tenang PSAK 107 ?

Jawab : Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 107: Akuntansi Ijarah (PSAK


107) pertama kali dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan
Akuntan Indonesia (DSAK IAI) pada 21 April 2009. PSAK ini menggantikan
ketentuan terkait penyajian laporan keuangan syariah dalam PSAK 59:
Akuntansi Perbankan Syariah yang dikeluarkan pada 1 Mei 2002.

Berdasarkan surat Dewan Pengurus Nasional (DPN) IAI No. 0823-


B/DPN/IAI/XI/2013 maka seluruh produk akuntansi syariah yang sebelumnya
dikeluarkan oleh DSAK IAI dialihkan kewenangannya kepada Dewan Standar
Akuntansi Syariah (DSAS) IAI.

Setelah pengesahan awal di tahun 2007, PSAK 107 mengalami penyesuaian


pada 06 Januari 2016 terkait definisi nilai wajar yang disesuaikan dengan PSAK
68: Pengukuran Nilai Wajar. Perubahan tersebut berlaku efektif secara
prospektif untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah 1 Januari
2017.

2. Sebutkan perbedaan Akuntansi Pemilik dan Akuntansi Penyewa ?


Jawab :

PSAK 107 memberikan pengaturan akuntansi baik dari sisi pemilik (mu’jir) dan
penyewa (Musta’jir).

Akuntansi Pemilik Akuntansi Penyewa


(Mu’jir) (Musta’jir)

Biaya Perolehan Objek ijarah diakui pada


saat objek ijarah
diperoleh sebesar biaya
perolehan.

Penyusutan dan Objek ijarah disusutkan


Amortisasi atau diamortisasi, jika
berupa aset yang dapat
disusutkan atau
diamortisasi, sesuai
dengan kebijakan
penyusutan atau
amortisasi untuk aset
sejenis selama umur
manfaatnya (umur
ekonomis).

Pendapatan dan Beban Pendapatan sewa selama Beban sewa diakui


masa akad diakui pada selama masa akad pada
saat manfaat atas aset saat manfaat atas aset
telah diserahkan kepada telah diterima.
penyewa.

3. Sebutkan pengertian ijarah dan biaya perolehan ijarah ?


Jawab :
Pengertian
jarahadalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu aset dalam
waktu tertentu dengan pembayaran sewa (ujrah) tanpa diikuti dengan
pemindahan kepemilikan aset itu sendiri.
Ijarah Muntahiyah Bittamlik adalah akad sewa menyewa antara pemilik
obyek sewa dan penyewa untuk mendapatkan imbalan atas obyek sewa
yang disewakannya dengan opsi perpindahan hak milik obyek sewa pada
saat tertentu sesuai dengan akad sewa.

Biaya Perolehan Aset Ijarah

Objek ijarah diakui pada saat objek ijarah diperoleh sebesar biaya
perolehan. Perlakuan akuntansi biaya perolehan objek ijarah dalam
bentuk aset tetap sama dengan perlakuan akuntansi aset tetap, dimana
biaya perolehan aset meliputi:

Harga beli, termasuk biaya hukum dan broker, bea impor dan pajak
pembelian yang tidak boleh dikreditkan, setelah dikurangi diskon
pembelian dan potongan lainnya;
Biaya-biaya yang dapat diatribusikan langsung untuk membawa aset
ke lokasi dan kondisiyang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai
dengan maksud manajemen; dan
Estimasi awal biaya pembongkaran aset, biaya pemindahan aset dan
biaya restorasi lokasi.

4. Apa yang di maksud dengan Biaya Perbaikan Aset Ijarah ?


Jawab : jika terdapat perbaikan aset ijarah, maka biaya perbaikan
tersebut menjadi tanggungan Bank. perbaikan tersebut dapat dilakukan
oleh bank secara langsung atau dilakukan oleh nasabah penyewa atas
persetujuan bank (PSAK 107 par.18).

Biaya perbaikan aset Ijarah, baik yang dilakukan oleh pemilik maupun
yang dilakukan oleh nasabah dengan persetujuan pemilik dan biaya
tersebut dibebankan kepada pemilik, diakui sebagai beban Ijarah.
Sedang biaya perbaikan aset Ijarah muntahiyah bittamlik melalui
penjualan secara bertahap sebanding dengan bagian kepemilikan masing
masing (PSAK 107 par.16-17).

Biaya perbaikan aset ijarah disajikan sebagai biaya operasional pada


laporan laba rugi.

5. Sebutkan landasan fiqih dan fatwa dsn tentang transaksi ijarah ?


Landasan Fiqh
1. Al Qur’an
Q.S. Al Baqarah: 233 “Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang
lain, tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut
yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah Allah Maha
Melihat apa yang kammu kerjakan.”
2. Al Hadist
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa rosulullah SAW bersabda,
“Berbekam kamu, kemumdian berikanlah olehmu upahnya kepada
tukang bekam itu.” (Hr. Bukhari dan Muslim).
Dari Umar bahwa Rosulullah bersabda, “Berikanlah upah pekerja
sebelum kering keringatnya.” (Hr. Ibu Majah).

- Fatwa DSN No: 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang IJARAH


Beberapa ketentuan yang diatur dalam fatwa ini, antara lain sebagai
berikut:
Pertama : Rukun dan Syarat Ijarah
1. Pernyataan Ijab dan Qobul.
2. Pihak-pihak yang berakad (berkontrak): pemberi sewa (lessor,
pemilik aset, LKS) dan penyewa (lesse, pihak yang mengambil manfaat
atas aset, pengguna aset, nasabah).
3. Obyek kontrak: pembayaran (sewa) dan manfaat dari penggunaan
aset.
4. Manfaat dari penggunaan aset dalam ijarah adalah obyek kontrak
yang harus dijamin, merupakan rukun yang harus dipenuhi sebagai ganti
dari sewa.
5. Sighat ijarah adalah berupa pernyataan dari kedua belah pihak yang
berkontrak, baik secara verbal atau dalam bentuk lain yang equivalent,
dengan cara penawaran dari pemilik aset (LKS) dan penerimaan yang
dinyatakan oleh penyewa (nasabah).
Kedua : Ketentuan Obyek Ijarah
1. Obyek ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang dan jasa.
2. Manfaat barang harus bisa dinilai dan dapat dilaksanakan dalam
kontrak.
3. Pemenuhan manfaat harus yang bersifat dibolehkan.
4. Kesanggupan memenuhi manfaat harus nyata dan sesuai dengan
syariah.
5. Manfaat harus dikenali secara spesifik sedemikian rupa untuk
menghilangkan jahalah (ketidaktahuan) yang akan mengakibatkan
sengketa.
6. Spesifikasi manfaat harus dinyatakan dengan jelas termasuk jangka
waktunya.
7. Sewa adlah sesuatu (harga) yang dijanjikan dan dibayar nasabah
kepada LKS sebagai pembayaran manfaat.
8. Pembayaran sewa boleh berbentuk jasa (manfaat lain) dari jenis
yang sama dengan obyek kontrak.
9. Kelenturan dalam menentukan sewa dapat diwujudkan dalam
ukuran waktu, tempat dan jarak.
Ketiga : Kewajiban LKS dan Nasabah dalam Pembiayaan Ijarah
Kewajiban LKS sebagai pemberi sewa
1. Menyediakan aset yang disewakan.
2. Menanggung biaya pemeliharaan aset.
3. Menjamin bila terdapat cacat pada aset yang disewakan.
Kewajiban nasabah sebagai penyewa
1. Membayar sewa dan bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan
aset yang disewa serta menggunakannya sesuai kontrak.
2. Menanggung biaya pemeliharaan aset yang sifatnya ringan (tidak
material).
3. Jika aset yang disewa rusak, bukan dari penggunaan yang dibolehkan
juga bukan karena kelalaian pihak penyewa dalam menjaganya, ia tidak
bertanggung jawab atas kerusakan tersebut.
- Fatwa DSN No: 27/DSN-MUI/III/2002 tentang IMBT
Beberapa ketentuan yang diatur dalam fatwa ini, antara lain sebagai
berikut:
Pertama : Akad IMBT boleh dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Semua rukun dan syarat yang berlaku dalam akad ijarah berlaku pula
dalam akad IMBT.
2. Perjanjian untuk melakukan akad IMBT harus disepakati ketika akad
ijarah ditandatangani.
3. Hak dan kewajiban setiap pihak harus dijelaskan dalam akad.
Kedua : Ketentuan tentang IMBT
1. Pihak yeng melakukan IMBT harus melaksanakan akad ijarah
terlebih dahulu.
2. Janji pemindahan kepemilikan yang disepakati di awal akad ijarah
adalah wa’d, yang hukumnya tidak mengikat.
Ketiga :
1. Jika terjadi perselisihan antara kedua belah pihak, maka
penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syariah setelah tidak
tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
2. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di
kemudian hari terdapat kekeliruan, akan disempurnakan sebagaimana
mestinya.
3. Standar Akuntansi Transaki Ijarah.
Contoh kasus 1 PSAK 107
APLIKASI AKUNTANSI TRANSAKSI IJARAH
BPRS ALBARAKAH mendapatkan pengajuan pembiayaan ijarah dari
sebuah perusahaan Rental Mobil PT. RENCARINDO. Perusahaan tersebut
bermaksud menambah 1 buah armada kendaraan jenis Toyota All New
Camry keluaran tahun 2008 untuk melayani konsumen kelas menengah
atas di jakarta. Adapun speesifikasi kendaraan yang dimaksud dan
informasi lain berkaitan dengan akad adalah sebagai berikut:
Jenis Kendaraan : Sedan
Merek : TOYOTA ALL New CAMRY
Kapasitas Mesin : 4000 cc
Tahun Pembuatan : 2008
Dealer : PT. Toyota Astra Motor (TAM)
Umur Ekonomis : 5 tahun (60 bulan)
Harga Perolehan : Rp 500.000.000,00 (on the roads)
Uang Muka Sewa : Rp 50.000.000,00
Sewa Per Bulan : Rp 15.000.000,00
Jangka Waktu Sewa : 4 tahun (48 Bulan)
Waktu Pembelian Barang : Bulan ke-48
Biaya Notaris : Rp 5.000.000,00

Ilustrasi 1. Pada saat perolehan obyek yang akan disewakan


Pada tanggal 2 januari 2008, BPRS ALBARAKAH membeli mobil sedan
Toyota All New Camry dengan harga dan biaya-biaya lain yang
ditanggung (OTR) sebesar Rp 500.000.000,00. Atas pembelian mobil
tersebut BPRS ALBARAKAH mencatat dalam jurnal sebagai berikut:
Aset Ijarah Rp 500.000.000,00
Kas/Rekening PT. TAM Rp 500.000.000,00

Ilustrasi 2. Pada saat transaksi IjarahPada tanggal10 januari 2008, BPRS


ALBARAKAH mnelakukan transaksi ijarah dengan PT. RENCARINDO dan
atas transaksi tersebut BPRS mencatat dalam jurnal sebagai berikut:
Aset yang Diperoleh untuk Ijarah Rp 500.000.000,00
Aset Ijarah Rp 500.000.000,00
Catatan: pencatan ini dilakukan untuk memberikan informasi dalam
neraca bahwa rekening aset ijarah hanya digunakan untuk aset ijarah
yang belum disewakan kepadda pihak lain sedangkan rekening aset yang
diperoleh untuk ijarah digunakan untuk pencatatan pengakuan aset
ijarah yang sudah disewakan oleh pihak lain baik dengan akad ijarah
maupun ijarah muntahiyah bittamlik.

Ilustrasi 3. Pada saat menerima uang muka dari penyewa


Kas/Rekening PT. RENCARINDO Rp 50.000.000,00
Titipan Uang Muka Sewa Ijarah Rp 50.000.000,00

Ilustrasi 4. Biaya Administrasi pengurusan akad ijarah


- Saat PT. RENCARINDO membayar biaya pengurusan pada BPRS
ALBAKARAH
Kas/Rekening PT. RENCARINDO Rp 1.500.000,00
Pendapatan Non Operasional Rp 1.500.000,00
- Pada saat BPRS ALBAKARAH membayar biaya notaris
Biaya Notaris (pengurusan akad) Rp 3.000.000,00
Kas Rp 3.000.000,00
Ilustrasi 5. Penyusutan aktiva ijarah dengan akad ijarah muntahiyah
bittamlik
PSAK nomor 59 tentang akuntansi Perbankan Syariah khususnya
paragraf 108 dijelaskan tentang pengakuan obyek ijarah sebagai berikut:
Obyek sewa diakui sebesar biaya perolehan pada saat perolehan obyek
sewa dan disusutkan sesuai dengan:

Kebijakan penyusutan pemilik obyek sewa untuk aktiva sejenis jika


merupakan transaksi ijarah; dan
Masa sewa jika merupakan transaksi ijarah muntahiyah bittamlik

Sedangkan ED PSAK 107 tentang akuntansi ijarah khususnya paragraf 12


menjelaskan bahwa:
Kebijakan penyusutan atau amortisasi yang dipilih harus mencerminkan
pola konsumsi yang diharapkan dari manfaat ekonomi di masa depan
dari obyek ijarah. Umur ekonomis dapat berbeda dengan umur teknis.
Misalnya, mobil yang dapat dipakai selam 10 tahun diijarahkan dengan
akad ijarah muntahiyan bittamlik selama 5 tahun. Dengan demikian
umur ekonomisnya adalah 5 tahun.
Berkaitan dengan kasus di atas akan diilustrasikan perlakuan akuntansi
untuk akuntansi ijarah dan ijarah muntahiyah bittamlik sebagai berkut:

Besar biaya penyusutan aktiva ijarah per bulan dihitung berdasarkan


informasi harga perolehan dan umur ekonomis obyek, yaitu: Rp
8.333.333

500.000.000 : 60 bulan = 8.333.333


Beban penyusutan Rp 8.333.333
Akumulasi Penyusutan aktiva Ijarah Rp 8.333.333

Jika menggunakan akad ijarah muntahiyah bittamlik dengan tambahan


informasi bahwa nilai residu obyek ijarah adalah Rp 20.000.000,00
dengan masa sewa selama 4 tahun, maka perhitungan penyusutan
obyek ijarah dan perlakuan akuntansinya adlah sebagai berikut:

(500.000.000 – 20.000.000) : 48 bulan = 10.000.000


Beban penyusutan Rp 10.000.000
Akumulasi Penyusutan Aktiva Ijarah Rp 10.000.000

Contoh kasus 2 PSAK 107

Ilustrasi kasus ini memberikan gambaran transaksi ijarah aset berwujud, LKS
sebagai penyewa obyek ijarah yang akan disewakan kembali pada pihak lain.
Ilustrasi kasus selengkapnya sebagai berikut: BPRS ALBARAKAH
mendapatkan pengajuan pembiayaan ijarah dari sebuah perusahaan eksportir
kerjinan PT HANDICRAFT di Yogyakarta untuk menyediakan mobil ekslusif
bagi manajer perusahaannya. PT HANDICRAFT tidak ingin memiliki mobil
tersebut sehingga hanya bermaksud menyewa saja. Oleh karena itu BPRS
ABARAKAH tidak memiliki mobil yang dimaksud, maka BPRS menghubungi
PT RENCARINDO.
Adapun spesifikasi kendaraan yang dimaksud dan informasi lain berkaitan
dengan akad adalah sebagai berikut:
Jenis kendaraan : sedan
Merek : Toyota All New Camry
Kapasitas mesin : 4000 cc
Tahun pembuatan : 2008
Dealer : PT TOYOTA ASTRA MOTOR (TAM)
Umur Ekonomis : 5 tahun (12 bulan)
Harga perolehan : Rp. 500.000.000 (OTR)
Uang muka sewa : Rp. 50.000.000
Sewa per bulan : Rp. 15.000.000
Jangka waktu sewa : 4 tahun (48 bulan)
Waktu pembelian barang : bulan ke-48
Biaya notaris : Rp 3.000.000

Ilustrasi 1. Beban Ijarah


1. Pada saat pembayaran sewa
a. Jika dalam satu periode
Biaya Sewa Aset Ijarah (D) Rp 15.000.000
Kas/Rekening Pemilik Obyek Ijarah (K) Rp 15.000.000
Catatan: Biaya sewa obyek ijarah selama satu bulan
b. Jika lebih dari satu periode
Sewa Dibayar Dimuka (D) Rp 720.000.000
Kas/Rekening Pemilik Obyek Ijarah (K) Rp 720.000.000
Catatan: biaya sewa untuk 4 tahun (Rp 15.000.000 x 48 bulan)
- Pada saat amortisasi sewa dibayar dimuka (per bulan)
Biaya sewa aset ijarah (D) Rp 15.000.000
Sewa dibayar dimuka aset ijarah (K) Rp 15.000.000
Catatan: amortisasi dihitung dari total sewa dibayar dimuka dibagi masa sewa
- Pada saat perbaikan aset ijarah atas beban pemilik obyek ijarah
Jika BPRS ALBARAKAH melakukan perbaikan atas aset ijarah yang disewa
karena kerusakan sehingga mengeluarkan biaya perbaikan sebesar Rp
20.000.000.
Pituang kepada pemilik obyek ijarah (D) Rp 20.000.000
Kas/Rekening pemilik obyek Ijarah (K) Rp 20.000.000

Ilustrasi 2. Perpindahan hak milik obyek


Aset diperoleh untuk ijarah Rp. 500.000.000
Akumulasi penyusutan aset ijarah ( Rp. 480.000.000 )
(setelah 4 tahun 48 bulan – perbulan Rp10.000.000)
Nilai residu Rp. 20.000.000
- Pada saat penerimaan pengalihan obyek sewa dalam IMBT
a. Melalui hibah pada saat seluruh pendapatan sewa telah dibayar dan obyek
ijarah tidak memiliki nilai sisa.
(i) Jika sumber pembayaran sewa aset ijarah berasal dari LKS
Aset Ijarah (D) Rp 500.000.000
Pendapatan Operasi Lainnya (K) Rp. 500.000.000
Catatan: Seluruh pendapatan merupakan hak dari LKS seluruhnya.
(ii) Jika sumber pembayaran sewa aset ijarah berasal dari investasi tidak terikat
Aset Ijarah (D) Rp 500.000.000
Pendapatan Operasi Utama Lainnya (K) Rp 500.000.000
Catatan: seluruh pendapatan harus dibagihasilkan juga kepada pemegang
rekening investasi mudharabah sesuai kesepakatan nisbah.
(iii) Jika sumber pembayaran sewa aset ijarah berasal dari investasi tidak terikat
dan modal LKS
Aset ijarah (D) Rp 500.000.000
Pendapatan operasi lainnya (K) Rp 250.000.000
Pendapatan utaman operasi lainnya (K) Rp 250.000.000
Catatan: pendapatan yang diakui sebagai pendapatan operasi utama lainnya
harus dibagihasilkan juga kepada pemegang rekening investasi mudharabah
sesuai kesepakatan nisbah sedangkan pendapatan lainnya menjadi hak
sepenuhnya LKS.
b. Melalui pembelian obyek ijarah sebelum berakhirnya masa sewa dengan
harga beli sebesar sisa cicilan sewa atau sekedarnya.
Misalnya sisa cicilan yangbbelum dibayarkan sebesar Rp. 60.000.000
Aset Ijarah (D) Rp. 60.000.000
Aset/Rekening Pemilik Objek Ijarah Rp.60.000.000
Catatan: jika nilai sisa cicilan dan nilai buku obyek ijarah sama
Pembatalan penjualan/perpindahan obyek ijarah oleh pemilik
Jika penyewa membatalkan penjualan objek ijarah kepada penyewa dan nilai
wajar obyek sewa lebih rendah dari nilai buku dan dibebankan kepada
penyewa/lessor, seperti yang diilustrasikan sebelumnya.
Beban pembatalan Pembelian Rp. 20.000.000
Kas/hutang Pemilik Objek Ijarah Rp. 20.000.000

Ilustrasi 3. Penurunan Nilai Sebelum Perpindahan Hak


Jika penurunan nilai tersebut timbul akibat tindakan penyewa atu kelalaiannya,
serta jumlah cicilan sewa yang sudah dibayar melebihi nilai sewa yang wajar,
maka selisihnya diakui sebagai piutang jatuh tempo penyewa kepada pemilik
sewa dan mengoreksi beban IMBT.
Apabila masa sewa diketahui terjadi penurunan kualitas obyek sewa dan bukan
disebabkan kelalaian LKS sebagai penyewa yang mengakibatkan jumlah cicilan
yang telah dibayar lebih besar dari nilai sewa yang wajar. Misalnya obyek
ijarah mengalami penurunan nilai wajar karena kerusakan kendaraan sehingga
mengakibatkan adanya selisih nilai sewa wajar dengan nilai sewa yang
dibayarkan yaitu terdapat kelebihan sebesar Rp 50.000.000, maka LKS akan
mencatatnya dalam jurnal sebagai berikut:
Kas/Rekening Piutang kepada Pemilik Obyek Ijarah Rp. 50.000.000
Pendapatan kelebihan Pembayaran Sewa Rp. 50.000.000
Catatan: pendapatan kelebihan pembayaran sewa merupakan offsetting account
dari beban sewa
Ilustrasi 4. Jual Beli dan Ijarah ( Penyewaan Kembali)
Transaksi jual dan ijarah harus merupakan transaksi yang terpisah dan tidak
saling bergantungan (ta’alluq) sehingga harga jual harus dilakukan pada nilai
wajar. Jika suatu entitas menjual obyek ijarah kepada entitas lain dan kemudian
menyewanya, maka entitas tersebut mengakui keuntungan atau kerugian pada
periode terjadinya penjualan dalam laporan laba rugi dan menerapkan perlakuan
akuntansi penyewa. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari transaksi jual
dan ijarah tidak dapat diakui sebagai pengurang atau penambah beban ijarah.

Ilustrasi 5. Ijarah- Lanjut (Menyewakan Kembali)


Jika suatu entitas menyewakan lebih lanjut kepada pihak lain atas asset yang
sebelumnya disewa dari pemilik, maka entitas tersebut menerapkan perlakuan
akuntansi pemilik dan akuntansi penyewa dalam PSAK ini.
Perlakuan akuntansi penyewa diterapkan untuk transaksi antara entitas (sebagai
penyewa) dengan pemilik dan perlakuan akuntansi pemilik diterapkan untuk
transaksi antara entitas (sebagai pemilik) dengan pihak penyewa-lanjut.
Jurnal pada saat membayar sewa kepada pemilik obyek ijarah.
Uang Muka Sewa Rp. 50.000.000
Kas Rp. 50.000.000
Jurnal pada saat menerima pendapatan sewa dari nasabah
Kas Rp. 18.000.000
Pendapatan Sewa Rp. 18.000.000
Catatan: LKS menyewakan kembali barang pada nasabah Rp 18.000.000/bln
Jurnal pada saat amortisasi dari uang muka sewa obyek ijarah
Beban Sewa Rp. 15.000.000
Sewa Dibayar Dimuka Rp. 15.000.000
Catatan: harga sewa sesuai dengan informasi di atas
Penyajian dalam laporan laba rugi dalam suatu periode tertentu
Pendapatan sewa obyek ijarah Rp 18.000.000
Pengeluaran (berkaitan obyek ijarah)
Beban sewa kepada pemilik awal* Rp 15.000.000
Beban pemeliharaan** Rp 500.000
Beban Lain-lain 0
Total Pengeluaran (Rp15.500.000)
Pendapatan bersih ijarah yang Rp 2.500.000
dibagihasilkan

Catatan:
* Beban sewa kepada pemilik merupakan amortisasi dari sewa dibayar di muka
yang diakui sebagai pengeluaran LKS pada periode tersebut.

**Jika biaya pemeliharaan pada periode tersebut ditanggung LKS sesuai


kesepakatan dengan pemilik obyek ijarah.