Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Cardiac arrest adalah kematian yang terjadi sebagai akibat dari
hilangnya fungsi jantung secara mendadak. Keadaan ini termasuk masalah
keshatan yang besar dan mengenaskan kaena dapat menyerang secara tiba-
tiba serta terjadi pada usia tua maupun muda. Keadaan henti jantung
mendadak bisa saja terjadi pada seseorang dengan ataupun tanpa penyakit
jantung sebelumnya.
Cardiac arrest juga dapat diartikan sebagai penghentian normal
sirkulasi dari darah akibat dari kegagalan jantung untuk berkontraksi
secara efektif, dan jika hal ini tak terduga dapat disebut serangan jantung
mendadak serta dapat dijelaskan dengan suatu keadaan darurat medis
dengan tidak ada atau tidak adekuatnya kontraksi ventrikel kiri jantung
yang dengan seketika menyebabkan kegagalan sirkulasi.
Henti jantung yang terjadi di luar rumah sakit, atau dikenal dengan
istilah Out of Hospital Cardiac Arrest (OHCA) merupakan salah satu
kasus kegawatdaruratan yang menjadi penyebab kematian utama di
Amerika dan Eropa. Secara global, angka kejadian OHCA cenderung
meningkat dari tahun ke tahun. Di Unites State, angka kejadian OHCA
sudah mencapai 180.000 – 450.000 kasus per tahun sedangkan di
Netherlands, Ireland dan Cina, insidensi OHCA juga sudah mencapai 50 –
100 orang per 100.000 penduduk per tahun (Fishman et al., 2010; Deo et
al., 2012).
Di Asia Tenggara, yaitu Singapura, insidensi OHCA dalam kurun waktu
tiga bulan sejak November 2001 – Januari 2002 mencapai 93 pasien (Lim et al.,

1
2002). Di Malaysia, yaitu di Hospital Universiti Sains Malaysia (HUSM), angka
kejadian OHCA dalam kurun waktu satu tahun sejak Maret 2005 sampai Maret
2006 mencapai 63 pasien, dan hanya 19 pasien diantaranya berhasil kembali ke
kondisi Return of Spontaneous Circulation (ROSC) setelah pemberian tindakan
RJP di IGD (Chew et al., 2008). Insidensi OHCA juga meningkat seiring dengan
peningkatan usia, pada laki-laki usia 50 tahun insidensi OHCA mencapai 100 per
100.000 penduduk per tahun dan meningkat pada laki-laki usia 80 tahun
mencapai 800 per 100.000 penduduk per tahun (Liong., et al., 2010). Chung &
Wong., (2005) mengemukanan bahwa OHCA paling sering terjadi di
rumah, yaitu mencapai 80% dan 20% terjadi di luar rumah.
Di Indonesia, belum ada data statistik tentang angka kejadian
OHCA, akan tetapi beberapa kejadian sudah menyerang masyarakat di
Indonesia, antara lain Adjie Massaid, seorang artis sekaligus politikus
mengalami kematian akibat OHCA dan Ida Kusumah, seorang artis
perempuan juga mengalami kematian akibat OHCA. Selain itu, Ricky Joe,
seorang presenter sepak bola, Benyamin S, seorang aktor senior dan juga
Jojon, seorang komedian terkenal di Indonesia juga mengalami kematian
akibat OHCA (Harian Kompas, 2011). Fenomena di Indonesia
adalahperan bystander belum terimplementasi secara baik sehingga pasien
dengan OHCA seringkali tidak mendapatkan early – RJP, RJP diberikan
jika pasien sudah berada di rumah sakit. Jurnal Keperawatan Soedirman (The
Soedirman Journal of Nursing), Volume 12, No.3 November 2017

B. Tujuan
1. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari makalah ini adalah untuk mengetahui Konsep
Keperawatan dan Konsep Asuhan Keperawatan Cardiac Arrest agar kita
sebagai perawat dapat memahami dan mengetahui mengenai Cardiac
Arrest dan penanganan pada Cardiac Arrest

2. Tujuan Umum

2
Tujuan umum dari makalah ini adalah :

1. Untuk mengetahui definisi dari cardiac arrest


2. Untuk mengetahui patofisiologi cardiac arrest
3. Untuk mengetahui manifestasi klinik cardiac arrest
4. Untuk mengetahui klasifikasi cardiac arrest
5. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang cardiac arrest
6. Untuk mengetahui penatalaksanaan pada cardiac arrest
7. Untuku mengetahui tentang Asuhan Keperawatan cardiac arrest

C. Manfaat
Hasil penulisan ini dapat digunakan sebagai bahan kajian dalam
pengembangan ilmu yang berkaitan dengan konsep keperawatan dan
konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan masalah cardiac arrest

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi
Henti jantung (Cardiac Arrest) adalah penghentian tiba tiba fungsi
pemompa jantung dan hilangnya tekanan darah arteri. Saat terjadinya
serangan jantung, penghantaran oksigen dan pengeluaran karbondioksida
terhenti, metabolisme sel jaringan menjadi anaerobic, sehingga asidosis
metabolic dan respiratorik terjadi. Pada keadaan tersebut insiasi langsung
dari resusitasi jantung paru diperlukan untuk mencegah terjadinya
kerusakan jantung, paru-paru, ginjal, kerusakan otak dan kematian.
Henti jantung terjadi ketika jantung berhenti memproduksi pulsa
efektif dan sirkulasi darah. Mungkin disebabkan oleh disritma seperti
fibrilasi ventrikel, brakikrdi mendalam yang progresif atau tidak ada irama
jantung sama sekali pernafasan juga ikut terhenti dapat terjadi ketika listrik
ada aktivitas tetapi konsentrasi jantung yang tidak efektif atau volume
sirkulasi yang disebut pulses electrical activity(PEA). PEA dapat
disebabkan oleh hipovolemia (misalnya, dengan perdarahan berlebih),
hipoksia,hiperemia,emboli paru masif,infark miokard, dn overdosisi obat-
obatan ( Brunner and Suddart ,2010)

B. Patofisiologi
Henti jantung timbul akibat terhentinya semua sinyal kendali listrik
di jantung, yaitu tidak ada lagi irama yang spontan. Henti jantung timbul
selama pasien mengalami hipoksia berat akibat respirasi yang tidak
adequate. Hipoksia akan menyebabkan serabut serabut otot dan serabut
serabut saraf tidak mampu mempertahankan konsentrasi elektrolit yang

4
normal di sekitar membrane, sehingga dapat mempengaruhi ekstabilitas
membrane dan menyebabkan hilangnya irama normal.
Apapun penyebabnya, saat henti jantung anak akan mengalami
insufisiensi pernafasan akan menyebabkan hipoksia dan asidosis
respiratorik. Kombinasi hipoksia dan asidosis respiratorik menyebabkan
keruskan dan kematian sel, terutama pada organ yang lebih sensitive
seperti otak, hati, dan ginjal, yang pada akhirnya akan menyebabkan
keruskan otot jantung yang cukup berat sehingga dapat terjadi henti
jantung.
Penyebab henti jantung yang lain adalah akibat dari kegagalan
sirkulasi (syok) karena kehilangan cairan dalam system sirkulasi.
Kehilangan cairan tubuh atau darah bisa akibat dari gastroenteritis, luka
bakar, atau trauma, sementara pada gangguan distribusi cairan mungkin
disebabkan oleh sepsis atau anafilaksis. Organ oragan kekurangan nutrisi
esensial dan oksigen sebagi akibat dari perkembangan syok menjadi henti
jantung melalui kegagalan sirkulasi dan pernafasan yang menyebabkan
hipoksia dan asidosis. Sebenarnya, kedua hal ini dapat terjadi bersamaan.

( Brunner and Suddart ,2010)

5
Pathway

https://www.scribd.com/doc/230393804/Pathway-Cardiac-Arrest

6
C. Manifestasi Klinis
a. Keadaan keadaan yang mendahului terjadinya henti jantung adalah:
1. Nyeri dada hebat mendadak
2. Sesak nafas hebat
3. Bradicardi ataupun Tachicardia menetap yang lama.
4. Penurunan kesadaran progesif cepat ataupun mendadak.
b. Keadaan yang biasanya saat henti jantung:
1. Pingsan mendadak.
2. Apnea
3. Otot otot seluruh tubuh lemas. ( brunner and suddart ,2010)

D. Klasifikasi (Lily, Leonard S. 2011)


1. Gagal jantung kiri (left-sided geart failure) dan gagal jantung kanan
(right-sided heart failure). Dapat terjadi salah satu atau keduanya
secara bersamaan (biventricular).
2. Gagal jantung fungsi
Gangguan fungsi sistolik (kontraksi) dan fungsi diastolic (relaksasi
atau pengisian). Gangguan sistolik dapat terjadi karena infark pada
miokard, dan kardiomiopati, karena kelainan ini jantung tidak dapat
memompa secara maksimal darah untuk memenuhi kebutuhan
metabolism tubuh. Sedangkan gagal fungsi diastolic dapat terjadi
karena kelainan katup, contohnya adalah metral stenosis.

E. Pemeriksaan Penunjang (Fikriana, Riza. 2018)


1. Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah yang dapat dilakukan antara lain:
- Pemeriksaan darah lengkap dan laju endap darah. Pemeriksaan ini
diguunakan untuk menilai anemia, unmasking angina dan penyakit
jaringan ikat.
- Pemeriksaan urine dan elektrolit

7
Diperlukan untuk mengetahui fungsi ginjal
- Pemeriksaan glukosa darah
Beberapa penyakit jantung seperti hipertensi dapat terjadi akibat
pasien menderita diabetes mellitus
- Pemeriksaan Lipid
Hyperlipidemia perupakan penyebab yang sering kali menyertai
penyakit jantung
- Pemeriksaan enzim jantung
Pemeriksaan enzim jantung sering kali digunakan untuk
mengangkat diagnosis pada pasien infark miokard. Peningkatan
troponin dapat terjadi setelah infark miokard.
- Pemeriksaan serologi
Diperlukan untuk mengetahui penyakit jaringan ikat, infeksi
streptokokus
- Kultur darah
Diperlukan untuk mengetahui kemungkinan terjadi endocarditis
infektif
2. Pemeriksaan elektrokardiografi
Pemeriksaan EKG diperlukan untuk mengetahui aktivitas
kelistrikan/konduksi jantung pasien. Tindakan ini dilakukan dengan
melakukan perekaman aktivitas listrik jantung yang dideteksi melalui
electrode permukaan dan diukur menggunakan galvanometer.
3. Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan radiologi dapat berupa:
- Foto thorax
Pada pasien dengan gagal jantung ataupun penyakit katup sering
kali terlihat gambaran rasio radio thorax menjadi meningkat
- Ekokardiografi
Pemeriksaan ekokardiografi diperlukan untuk mengetahui adanya
defek katup, mengevaluasi fungsi ventrikel kiri dann vegetasi
katup pada indokarditis infektif

8
4. Pemeriksaan melalui uji invasive
Uji invasive dilakukan melalui kateterisasi jantung. Indikasi
kateterisasi jantung yaitu angiografi coroner (angina) untuk
menentukan terappi, sebeum operasi pada penyakit katup untuk
mengevaluasi anatomi coroner dan pada gagal jantung berat untuk
transplantasi jantung.

F. Penatalaksanaan Prahospital dan Intrahospital


Pre hospital : yaitu dengan melakukan pertolongan dasar dan dilanjutkan
dengan penanganan advance pre hospital pertolongan dasar dimulai dari
initial assesment terhadap korban,evakuasi korban, pemberian oksigenasi,
pemantauan kondisi pasien termasuk kesadaran. Pelayanan pra hospital
dilakukan dengan mendirikan PCS,BSB dan pelayanan ambulans serta
komunikasi
Intrahospital : penatalaksanaan intrahospilat dilakukan di rumah sakit
dengan penanganan dokter maupun kolaborasi dengan tim kesehatan
lainnya.(who 2010)

9
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN

A. PENGKAJIAN PRIMER (Ns.Paula Krisanty,2009)


1. CIRCULATION/SIRKULASI
Pemeriksaan/pengkajian :
 Periksa denyut nadi karotis dan brakhialis ,kualitas dan
karakternya
 Periksa perubahan warna kulit seperti sianosis tindakan
yang harus di lakukan perawat :
 lakukan tindakan CPR/defibrilasi sesuai dengan
indikasi.
 Langkah-langkah di lakukannya RJP.
a) Perhatikan kien untuk menentukan apakah klien
masih bernapas
b) Perhatikan apakah dada klien bergerak.
c) Tempatkan telinga di dekat hidung dan mulut
klien dan dengarkan aliran udara.
d) Bila klien tidak bernapas jangan menguncang-
guncangkan klien.
e) Mulailah RJP jika klien tetap tidak bernapas.
f) Tempatkan klien di atas permukaan yang keras.
g) Posisikan kepala dengan tepat dan bebaskan
jalan napas dengan menepatkan tangan anda
pada dahi dan ari-jari tangan anda dari tangan
yang lain di bawah tulang rahang.berhati-hatilah
mendorong jaringan lunak di bawah dagu angkat
dan sedikit tengadahkan kepala kearah belakang
dan hidung mengarah keatas.
h) Dengan telunjuk dan jari tengah anda,tekan
lurus ke bawah pada tulang dada 1,25 cm

10
sampai 2,5 cm.ulangi hal ini sebanyak 30 kali
dan 2 kali napas buatan.
2. AIRWAY/JALAN NAPAS
Pemeriksaaan/pengkajian menggunakan metode look,listen,feel.
 Look :lihat status mental, pergerakan/pengembangan
dada,terdapat sumbatan jalan napas/tidak, sianosis, ada
tidaknya retraksi pada dinding dada, ada/tidaknya
penggunaan otot-otot tambahan.
 Listen :mendengar aliran udara pernapasan, suara
pernapasan,ada bunyi napas tambahan seperti snoring,
gurgling, atau stidor.
 Feel :merasakan ada aliran udara pernapasan,apakah ada
krepitasi,adanya Pergeseran/deviasi trakhea, ada hematoma
pada leher, teraba nadi karotis atau tidak.
 Tindakan yang harus di lakukan perawat adalah :
 Penilaian untuk memastikan tingkat kesadaran
adalah dengan menyentuh, menggoyang dan di beri
rangsangan atau respon nyeri.
 Periksa dan atur jalan napas untuk memastikan
kepatenan.
 Periksa apakah anak/klien tersebut mengalami
kesulitan bernapas.
 Buka mulut klien/anak dengan ibu jari dan jari-jari
anda untuk memegang lidah dan rahang bawah dan
tengadah dengan perlahan.
 Identifikasi dan keluarkan benda asing (
darah,muntahan, sekret,ataupun benda asing) yang
menyebabkan obstruksi jalan napas baik parsial
maupun total dengan cara memiringkan kepala
pasien ke satu sisi (bukan pada trauma kepala).

11
 Pasang orofaringeal airway/nasofaringeal airway
untuk mempertahankan kepatenan jalan napas.
 Pertahankan dan lindungi tulang servikal.
3. BREATHING/PERNAPASAN
Pemeriksaan/pengkajian menggunakan metode look listen, feel.
 Look : nadi karotis ada/ tidak, frekuensi pernapasan tidak
ada dan tidak terlihat adanya pergerakan dinding dada,
kesadaran menurun, sianosis, identifikasi pola pernapasan
abnormal, periksa penggunaan otot bantu dll.
 Listen : mendengar hembusan napas.
 Feel : tidak ada pernapasan melalui hidung/mulut.
 Tindakan yang harus dilakukan perawat adalah :
 Atur posisi pasien untuk memaksimalkan ekspansi
dinding dada.
 Berikan therapy O2 (oksigen).
 Beri bantuan napas dengan menggunakan
masker/bag valve mask (BMV)/endo tracheal tube
(ETT) jika perlu.
 Tutup luka jika didapatkan luka terbuka pada dada.
 Kolaborasi therapy untuk mengurangi
bronkhospasme/adanya edema pulmonal,dll
B. PENGKAJIAN SEKUNDER (Ns.Paula Krisanty,2009)
1. PENGKAJIAN SUBJEKTIF
Untuk mendapatkan data subyektif perlu di pertimbangkan
budaya pasien,kemampuankognitif dan tingkat
pertumbuhaan. Pengkajian tentang keluhan nyeri termasuk tingkat
keparahan, lokasi durasi, dan intensitas nyeri dengan menggunakan
mnemonic PQRST. Mnemonic PQRST untuk pengkajian nyeri.
P: Provokativ/Palliative
Apa yang menjadi penyebab,apakah ada hal
yang menyebabkan kondisi memburuk/membaik.apa

12
yang di lakukan jika sakit/nyeri timbul. Apakah nyeri
ini sampai mengganggu tidur.
Q : Quallity/kualitas.
Seberapa berat keluhan di rasa, atau bagaimana rasanya.
R : Segion/radiasi.
Apakah sakitnya menyebar,seperti apa penyebarannya.
S : Skala severity
Skala kegawatan dapat di gunakan GCS untuk
gangguan kesadaranskala nyeri atau ukuran lain yang
berkaitan dengan ukuran.
T : Time/waktu
Kapan keuhan tersebut mulai di rasakan/di
temukan atau seberapa sering keluhan tersebut di
rasakan.

Pada unit gawat darurat riwayat kesehatan lengkap dan


pengkajian subjektif secara detail jarang di lakukan atau di
butuhkan.pengkajian di unit gawat darurat lebih di fokuskan pada
keluhan utama yamg di rasakan pasien.

2. PENGKAJIAN OBJEKTIF
Pengkajian objektif adalah sekumpulan data yang dapat
dilihat da di ukur meliputi TTV, BB dan TB pasien, pemeriksaan
fisik, hasil perekaman EKG,serta tes diagnostik.
Tanda –tanda vital secara umum pada henti jantung,
kesadaran , denyut nadi dan tekanan darah hitang tiba-tiba,
pernafasan yang tidak efekif dapat terjadi ,pupil mata mulai
melebar dalam waktu 45 detik.
a) PEMERIKSAAN FISIK
 Inspeksi

13
Pemeriksaan di mulai dari status keseluruha
pasien. Apakah pasien sadar atau tidak, penampilan
secara umum pasien (general apperance).
Rapi atau berantakan, melihat apakah pasien
bernapas dengan tersengal-sengal, bagaimana warna
kulit dan mukosa, apakah ada
memar, perdarahan, atau bengkak.
Perhatiakan postur dan pergerakan tuuh
apakah ada nyeri, gangguan
neurologis,orthopedi, dan status mental.
 Auskultasi
Digunakan untuk pemeriksaan paru-
paru, jantungdan suara peristaltik. Periksa kualitas
suara, intensitas, dan durasi.Lakukan pemeriksaan
auskultasi sebelum di lakukan palpasi dan perkusi.
 Palpasi
Di periksa untuk karasteristik permukaan
seperti, tekstur kulit,sensitifitas, tugor dan suhu
tubuh. Gunakan palpasi ringan untuk memeriksa
denyut nadi, deformitas, kekuatan otot, sedangkan
palpasi dalam dapat di gunakan untuk
mengidentifikasi adanya massa, nyeri,ukuran, organ
dan adanya kekakuan.
 Perkusi
Mengevaluasi organ atau kepadatan tulang
dan dapat di gunakan untuk membedakan struktur
padat, berongga, atau adanya cairan.

b) PENGKAJIAN NEUROLOGIS

14
Indikator utama dalam pengkajian neurologis
adalah tingkat kesadaran pasien.untuk mengetahui status
neurologis dan mencatat perubahan setiap saat maka dapat
di gunakan Glasgow Coma Scale (GCS) untuk dewasa dan
pediatrik glasgow coma scale pada anak-anak yang belum
bisa bicara.

c) PENGKAJIAN KARDIOVASKULER
Gunakan EKG 12 lead untk mengetahui atau
menilai adanya abnormalitas irama.
a. Suara jantung.
b. Murmur.
c. Efusi perikat/tamponade.
d. Perfusi

d) PERNAPASAN
Suara napas di kelompokan menjadi, trakheal,
bronkhiale, vesikuler, dan bronkovesikuler. Suara napas
abnormal (berat) termasuk stridor, ronkhi,rales, terputus-
putus, dan sulit bernapas.

e) GASTROINTESTINAL
Pada pengkajian subjektif perlu di kaji/pemeriksaan
sistem gastrointestinal. Apakah ada riwayat gastritis, sirosis
hepatis, appendisitis, dan pankreatitis,dll. apakah ada gaya
hidup yang mempengaruhi masalah gastrointestinal.

15
B.Masalah Keperawatan
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan Berhentinya fungsi
jantung
2. Ketidak efektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang proses penyakit
3. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan Keletihan otot
pernafasan

C.Intervensi

No Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana Tindakan


1 Setelah dilakukan tindakan Perawatan jantung (4040)
keperawatan selama 3x 24 jam 1. Secara rutin mengecek pasien baik
curah jantung teratasi dengan secara fisik dan psikologis sesuai dengan
kriteria hasil : kebijakan tiap agen/penyedia layanan
Keefektifan curah jantung 2. Pastikan tingkat aktivitas psien yang
0400 tidak membahayakan curah jantung/
 040001 tekanan darah memprovokasi serangan jantung
sistole dari skala 3 3. Monitor tanda-tanda vital secara rutin
(deviasi sedang dari 4. Monitor fungsi pacemeker sebagaimana
kisaran normal ) mestinya
ditingkatkan ke skala 5(
tidak ada deviasi
darkisaran normal)
 040019 tekanan
diastole dari skala 3
(deviasi sedang dari
kisaran normal )
ditingkatkan ke skala 5(
tidak ada deviasi
darkisaran normal)

16
 040003 indeks jantung
dari skala 3 (deviasi
sedang dari kisaran
normal ) ditingkatkan
ke skala 5( tidak ada
deviasi darkisaran
normal)

2 Setelah dilakukan tindakan Perawatan gawat darurat 6200


keperawatan selama 3x24 jam 1. Aktifkan sistem medis darurat
ketidakefektifan perfusi 2. Mulai tindakan penyelamatan pada pasien
jaringan perifer teratasi dengan dengan penyakit yang paling kritis pada
kriteria hasil: kasus dengan beberapa korban(sekaligus)
Perfusi jaringan :perifer (0407) 3. Evaluasi setiap pasien yang tidak berespon
040730 kekuatan denyut nadi untk menentukan tindakan yang tepat
karotis(kanan) dari skala Buat atau mempertahankan jalan napas terbuka
3(deviasi sedang dari kisaran
normal) ditingkatkan ke skala
5( tidak ada deviasi dari
kisaran normal)
040731 kekuatan denyut nadi
karotis(kiri) dari skala
3(deviasi sedang dari kisaran
normal) ditingkatkan ke skala
5( tidak ada deviasi dari
kisaran normal)

3 Setelah dilakukan tindakan Manajemen jalan nafas ( 3140)

17
keperawatan selama 3x 24 jam 1. Buka jalan nafas dengan teknik
pola nafas teratasi dengan chinlift atau jawthrust sebagaimana
kriteria hasil : mestinya
Status pernafasan(0415) : 2. Monitor status pernafasan dan
 041502 kedalaman oksigenasi
inspirasi dari skala 3 3. Masukan alat nasopharingeal
(deviasi sedang dari (airway) atau NPA atau
kisaran normal ) oroparingeal airway(OPA)
ditingkatkan ke skala 5( sebagaimana mestinya
tidak ada deviasi 4. Posisikan pasien untuk
darkisaran normal) memaksimalkan ventilasi
041507 kapasitas vital skala 3
(deviasi sedang dari kisaran
normal ) ditingkatkan ke skala
5( tidak ada deviasi darkisaran
normal)

D.Evaluasi

No. Evaluasi sumatif (SOAP) Paraf


Dx
1. S:
O:

A: Penurunan curah jantung berhubungan dengan


Berhentinya fungsi jantung belum teratasi

P: Melanjutkan Intervensi

Perawatan jantung

18
2. S:
O:
A: Ketidak efektifan perfusi jaringan perifer berhubungan
dengan kurang pengetahuan tentang proses
penyakit
P: Melanjutkan Intervensi
Perawatan gawatdarurat

3 S:
O:
A: Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan
Keletihan otot pernafasan belum teratasi
P: Melanjutkan Intervensi
Manajemen jalan nafas

19
BAB IV

JURNAL PENDUKUNG

e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 6 Nomor 2, November 2018

PENGALAMAN PERAWAT DALAM


PENANGANAN CARDIAC ARREST DI INSTALASI
GAWAT DARURAT RSUP PROF. Dr. R. D.
KANDOU MANADO

Rahmat Ismiroja

Mulyadi

Maykel Kiling

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran

Universitas Sam Ratulangi

Email : rahmatismiroja@gmail.com

Abstract : Sudden cardiac death is a dysfunction of the heart's electricity and


produces abnormal heart rhythms. Report data at the Emergency Room of RSUP
Prof. Dr. R.D Kandou Manado during the months of January to September 2017
there were 574 patients experiencing cardiac arrest and who died as many as 438
patients with obstacles due to limited space full of health workers and fa-cilities.
The purpose of the study was to determine the experience of nurses in handling

20
cardiac ar-rest at the Emergency Room of the RSUP Prof. Dr. R D Kandou
Manado. This study uses a phe-nomenological qualitative design. The sampling
technique was purposive sampling involving 4 participants. Data collection is
done with in-depth interviewing. The analysis technique used is the Colaizzi
method. The results of the study of 1) knowledge obtained the theme (a) physical
assess-ment (b) physiological assessment. 2) action obtained theme (a) check
pulse, (b) check response. 3) supporting factors are found in the theme of (a) the
condition and general condition of the patient,

(b) the skills and abilities of the officers, (c) the response of the officers and
facilities. 4) the inhibit-ing factor is the theme of (a) human resources, (b) the
skills of officers and infrastructure. The con-clusion in this study that the
experience of nurses in handling cardiac arrest is supported by the knowledge
and readiness of nurses with facilities and infrastructure barriers.

Keywords: Experience, Nurse, Handling, Cardiac Arrest

Abstrak : Kematian jantung mendadak merupakan tidak berfungsinya kelistrikan


jantung dan menghasilkan irama jantung yang tidak normal. Data laporan di
Instalasi Gawat Darurat RSUP Prof Dr. R.D Kandou Manado selama bulan
Januari sampai September 2017 terdapat 574 pasien mengalami cardiac arrest
dan yang meninggal dunia sebanyak 438 pasien dengan hambatan karena
keterbatasan tempat penuh sehingga kekurangan tenaga kesehatan dan fasilitas.
Tujuan penelitian untuk mengetahui pengalaman perawat dalam penanganan
cardiac arrest di Instalasi Gawat Darurat RSUP Prof Dr R D Kandou Manado.
Penelitian ini menggunakan rancangan kuali-tatif fenomenologis. Teknik
pengambilan sampel dengan purposive sampling yang melibatkan 4 partisipan.
Pengumpulan data dilakukan dengan in-depth interviewing. Teknik analisa yang
digunakan adalah metode Colaizzi. Hasil penelitian dari 1) pengetuahuan

21
didapatkan tema (a) penilaian secara fisik (b) penilaian secara fisiologis. 2)
tindakan didapatkan tema (a) cek nadi, (b) cek respon. 3) faktor pendukung
didapatkan tema (a) kondisi dan keadaan umum pasien, (b) skill dan kemampuan
petugas, (c) respon petugas dan sarana prasarana. 4) faktor penghambat
didapatkan tema (a) Sumber daya manusia, (b) skill petugas dan sarana prasarana.
Kesimpulan dalam penelitian ini bahwa pengalaman perawat dalam penanganan
cardiac arrest didukung oleh penge-tahuan dan kesiapan perawat dengan
hambatan sarana dan prasarana. Kata kunci : Pengalaman, Perawat, Penanganan,
Cardiac Arrest

PENDAHULUAN

Kematian jantung mendadak atau car-diac arrest adalah berhentinya


fungsi jantung secara tiba-tiba pada seseorang yang telah atau belum
diketahui men-derita penyakit jantung. Hal ini terjadi ketika sistem
kelistrikan jantung menjadi tidak berfungsi dengan baik dan menghasilkan
irama jantung yang tidak normal (American Heart Association, 2015).

Henti jantung merupakan penyebab kematian utama di dunia dan


penyebab tersering dari cardiac arrest adalah penyakit jantung koroner
(Subagjo,2011).

Henti jantung ditandai dengan tidak adanya nadi dan tanda – tanda sirkulasi
lainya. Pada tahun 2010 menurut catatan WHO diperkirakan sekitar 17 juta orang
akibat penyakit gangguan cardiovascular setiap 5 detik 1 orang meninggal dunia
aki-bat Penyakit Jantung Koroner (WHO, 2010). Angka kejadian cardiac arrest di
Amerika Serikat mencapai 250.000 orang per tahun dan 95 persennya
diperkirakan meninggal sebelum sampai dirumah sakit (Suharsono, 2009) . Data
di Indonesia tidak ada data statiistik mengenai kepastian jumlah kejadian cardiac
arrest tiap ta-hunnya, tetapi diperkirakan adalah 10 ribu warga. Data di ruang
perawatan koroner intensif Rumah Sakit Cipto Mangunkusu-ma tahun 2006,
menunjukkan terdapat 6,7% pasien mengalami atrial fibrilasi, yang merupakan

22
kelainan irama jantung yang bisa menyebabkan henti jantung (Depkes, 2006).
Penanganan cardiac arrest adalah kemam-puan untuk dapat mendeteksi dan
bereaksi secara cepat dan benar untuk sesegera mungkin mengembalikan denyut
jantung ke kondisi normal untuk mencegah ter-jadinya kematian otak dan
kematian per-manen (Pusponegoro, 2010). Berdasarkan standar kompetensi dari
Vanderblit Uni-versity School of Nursing (Gebbie,dkk2006), kesiapan perawat
dalam menghadapi situasi kegawatan adalah kemampuan un-tuk berfikir kritis,
kemampuan untuk menilaisituasi, mempunyai ketrampilan teknis yang
memadai, dan kemampuan untuk berkomunikasi. Kesiapan perawat dalam
penanganan cardiac arrest dipengaruhi gawat darurat menumpuk di satu tempat
dalam Instalasi Gawat Darurat.

Tingginya kunjungan pasien yang ada berdampak juga pada penggunaan


sarana dan prasarana di ruangan tersebut, yang kadang perawat yang ada di
ruangan terse-but harus memodifikasi sedimikian rupa sehingga kebutuhan sarana
dan prasarana kepada semua pasien bisa terpenuhi. Pendokumentasian Asuhan
keperawatan juga merupakan salah satu hal penting yang harus dilakukan oleh
perawat, yang kadang kala ini terlewatkan dan sudah tidak dil-akukan dengan baik
dan benar oleh karena tuntutan bagi tenaga perawat yang begitu banyak. Hal ini
menjadi dilema dan men-jadi pengalaman yang bisa dikatakan yang tidak
menyenangkan bagi tenaga perawat yang ada di Instalasi Gawat Darurat.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif. Penelitian


kualitatif dilakukan karena peneliti ingin mengek-splore fenomena-fenomena
yang tidak dapat dikuantifikasikan yang bersifat deskriptif seperti proses suatu
langkah kerja, formula suatu resep, pengertian-pengertian tentang suatu konsep
yang beragam, karakteristik suatu barang dan jasa, gambar-gambar, ga-ya-gaya,

23
tata cara suatu budaya, model fisik suatu artifak dan lain sebagainya. Penelitian ini
dilakukan di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Prof DR R.D. Kandou
Manado pada bulan Februari 2018 dengan mengambil partisipan perawat IGD
yang pernah menangani kasus cardiac ar-rest sebanyak 4 partisipan. Teknik
pengam-bilan sampel dilakukan menggunakan metode purposive sampling yaitu
sampel yang dipilih berorientasi pada tujuan penelitian individu diseleksi atau
dipilih secara sengaja karena memiliki pengalaman yang sesuai dengan fenomena
yang diteliti sampel ini menetapkan terlebih dahulu kriteria – kriteria inklusi yang
telah ditetapkan.

HASIL dan PEMBAHASAN

Karakteristik keempat partisipan yang bersedia dilakukan wawancara adalah


se-bagai berikut : partisipan 1 (P1) adalah seorang perempuan dengan usia 37
tahun, pendidikan terakhir Ners, dan sudah mengi-kuti pelatihan Triage Officer
dan ENIL, pen-galaman kerja 15 tahun di RSUP Prof Dr. R. D.Kandou Manado.
Partisipan kedua (P2) adalah seorang perempuan usia 31 tahun, pendidikan
terakhir Ners, dan sudah mengi-kuti pelatihan ENIL dengan pengalaman ker-ja 6
tahun. Partisipan ketiga (P3) adalah seorang laki-laki usia 25 tahun, pendidikan
terakhir D III Keperawatan dengan pelatihan BTCLS, dengan pengalaman kerja 3
tahun. Partisipan keempat (P4) adalah seorang laki-laki usia 29 tahun, pendidikan
terakhir Ners, dengan pelatihan BTCLS, ENIL dengan pengalaman kerja 3 tahun.

1.Pengetahuan perawat tentang cardiac ar-rest.

Hasil penelitian menyatakan bahwa car-diac arrest adalah suatu kondisi dimana,
tid-ak terdapatnyatandatandakehidupan seperti tidak adanya nadi atau denyut
jantung, jan-tung kehilangan fungsinya, dan fungsi jan-tung mendadak berhenti
yang dapat dilihat melalui penilaian secara fisik dan penilaian secara fisiologis

a) Penilaian secara fisik


Ditandai dengan pada saat dicek atau diraba tidak ada nadi dan denyut
jantung.
b) Penilaian secara fisiologis

24
Ditandai dengan jantung kehilangan fungsinya sebagai pemompa darah
keseluruh tubuh secara tiba-tiba ser-ta ada berbagai penyakit penyerta yang
disertai sehingga terjadi henti jantung.Henti jantung (cardiac arrest) adalah
keadaan di mana sirkulasi darah berhenti akibat kegagalan jantung untuk ber-
kontraksi secara efektif. Keadaan henti jan-tung ditandai dengan tidak adanya
nadi dan tanda-tanda sirkulasi lainnya (American Heart Association, 2015).
Kematian jan-tung mendadak adalah berhentinya fungsi jantung secara tiba-
tiba pada seseorang yang telah atau belum diketahui menderita penyakit
jantung. Waktu dan kejadiannya tidak diduga-duga, yakni segera setelah
timbul keluhan. Kejadian cardiac arrest yang menyebabkan kematian
mendadak terjadi ketika system kelistrikan jantung menjadi tidak berfungsi
dengan baik dan menghasilkan irama jantung yang tidak normal yaitu
hantaran listrik jantung men-jadi cepat (ventricular tachycardia) atau tidak
beraturan (ventricular fibrillation) (Subagjo A, 2011).
Henti jantung primer (cardiac arrest) adalah ketidaksanggupan curah
jantung un-tuk memenuhi kebutuhan oksigen ke otak dan organ vital lainnya
secara mendadak dan dapat balik normal jika dilakukan tin-dakan yang tepat
atau akan menyebabkan kematian dan kerusakan otak menetap jika tindakan
tidak adekuat. Sebagian besar henti jantung disebabkan oleh ventricle fi-
brillation atau takikardia tanpa denyutan (80-90%) terutama kalau terjadinya
di luar rumah sakit, asistole (± 10%) dan electro-mechanical dissociation (±
5%) (Nolan J. P. et al, 2010).
Lima dari 1000 pasien yang dirawat di rumah sakit dibeberapa negara
berkembang diperkirakan mengalami henti jantung dan kurang dari 20% dari
jumlah pasien terse-but tidak mampu bertahan hingga keluar dari rumah sakit
(Goldbelger, 2012). Ber-dasarkan hasil penelitian mengenai pengertian henti
jantung yang di ungkapkan oleh partisipan sesuai dengan pernyataan yang
sudah ada pada teori yaitu mengungkapkan bahwa henti jantung meru-pakan
kematian penyakit jantung yang mendadak dan jantung tidak berdenyut atau
denyut nadi tidak teraba sehingga sirkulasi aliran darah keseluruh tubuh
berhenti yang ditandai oleh gangguan irama jantung yaitu ventrikel takikardi,

25
ventrikel fibrilasi, pulseless electrical activity dan asistol. Hal ini menyatakan
bahwa perawat di ruangan Resusitasi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado
sudah memahami tentang cardiac arrest. Faktor utama dalam pemecahan ma-
salah adalah pengetahuan yang dalam dari setiap orang. Sehingga tidak
menimbulkan error atau masalah. Tingginya kunjungan pasien yang ada
berdampak juga pada penggunaan sarana dan prasarana di ru-angan tersebut,
yang kadang perawat yang ada di ruangan tersebut harus memodifikasi
sedimikian rupa sehingga kebutuhan sarana dan prasarana kepada semua
pasien bisa terpenuhi.
2. Tindakan Perawat dalam penanganan Cardiac Arrest
Hasil Penelitian menyatakan bahwa, pe-nanganan cardiac arrest
dimulai dengan mengecek respon pasien, cek nadi dan nafas, melakukan
pijat jantung dan paru 30 : 2, kemudian memasang monitor untuk
evaluasi pasien. Resusitasi jantung paru dan defibri-lasi yang diberikan
antara 5 sampai 7 menit dari korban mengalami henti jantung, akan
memberikan kesempatan korban untuk hidup rata-rata sebesar 30%
sampai 45 %. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa dengan
penyediaan defibrillator yang mu-dah diakses di tempat-tempat umum
seperti pelabuhan udara, dalam arti meningkatkan kemampuan untuk
bisa memberikan per-tolongan (defibrilasi) sesegera mungkin, akan
meningkatkan kesempatan hidup ra-ta-rata bagi korban cardiac arrest
sebesar 64% (American Heart Assosiacion, 2015). Resusitasi jantung
paru (RJP) adalah upaya mengembalikan fungsi nafas dan atau sirkulasi
yang berhenti dan membantu memulihkan kembali fungsi jantung dan
pa-ru ke keadaan normal. Bantuan hidup dasar meliputi aktivasi respon
sistem gawat darurat,dan defibrilasi dengan menggunakan
defibrillator. Berdasarkan penelitian Aehlert (2011) bahwa chest com-
pression dilakukan untuk mempertahankan sirkulasi darah saat jantung
tidak berdetak. Chest Compression dikombinasikan dengan bantuan
pernapasan untuk men-goksidasi darah. Kombinasi bantuan pernafasan
dan external chest compres-sion ini disebut cardiopulmonary

26
resuscitation. Kompresi dada dilakukan dengan pemberi tekanan
secara kuat dan berirama pada setengah bawah sternum. Membuat
garis bayangan antara kedua papila mammae memotong mid line pada
sternum kemudian meletakkan tangan kiri diatas tangan kanan atau
sebaliknya. Yang dipakai adalah tumit tangan, bukan telapak tangan.
Siku lengan harus lurus dengan sumbu gerakan menekan adalah pinggul
bukan bahu. American Heart Association. 2015 AHA guideline update
for CPR and ECC. Circulation Vol. 132.2015, merekomen-dasikan
untuk melakukan kompresi dada setidaknya 2 inchi (5cm) pada dada.
Un-tuk dewasa, kedalaman minimal 5 cm (2 inch). Kompresi dada di
dua jari diatas sternum di tulang dada kedalamanya 5 - 6 cm dengan
telapak tangan dipaskan diten-gah tulang sternum, kedua siku diluruskan
dengan jari-jari tangan dibuat terkunci, bahu tetap tegak lurus diatas
pasien. Komponen yang perlu diperhatikan saat melakukan kompresi
dada yaitu frekuensi 100 - 120 kali permenit. Memberikan kesempatan
untuk dada mengembang kembali secara sempurna setelah setiap
kompresi. Tujuan primer pemberian napas bantuan ada-lah untuk
mempertahankan oksigenasi yang adekuat dengan tujuan sekunder
untuk membuang CO2. Berdasarkan hasil penelitian mengenai
pernyataan yang diungkapkan oleh partisipan sesuai dengan teori yang
sudah ada yaitu melakukan resusitasi jantung paru untuk memberi
bantuan pernapasan setelah keadaan pasien ditandai dengan nafas ada
tetapi nadi belum teraba atau masih nafas spontan. Langkah awal
dengan kompresi da-da di 2 jari diatas sternum tulang dada
kedalamanya 5-6 cm dengan telapak tangan tepat ditengah tulang
sternum kedua siku lurus dengan jari-jari tangan dibuat terkunci, bahu
tetap tegak lurus diatas pasien. Kom-presi dada dengan perbandingan
30:2 atau 30 kompresi dan 2 ventilasi dengan frekuensi selama kurang
lebih 100x/menit selama 5 siklus.

Hal ini menunjukan bahwa perawat yang ada bisa mengungkapkan


penanganan cardiac arrest sejauh resusitasi jantung pa-ru, tapi ada

27
beberapa perawat yang tidak menjelaskan lebih jauh sampai penanganan
dengan menggunakan obat-obatan sesuai dengan teori yang ada. Sebagai
perawat gawat darurat wajib, mengerti dan me-mahami algoritma dalam
penangan kasus gawat darurat sampai dengan pengobatan yang ada.

3. Faktor pendukung perawat dalam pe-nanganan cardiac arrest.Hasil


penelitian menyatakan bahwa, faktor pendukung dalam penanganan
cardi-ac arrest tergantung dari, kondisi dan keadaan umum pasien, skill
dari petugas, respon time petugas, ketersediaan alat-alat di ruangan, dan
kesiapan dari tim medis.Menurut Notoatmodjo yang dikutip oleh
(Wawan & Dewi, 2011), pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini
terjadi setelah orang melakukan penginderaan ter-hadap suatu objek
tertentu. Pengetahuan sangat erat hubunganya dengan pendidi-kan,
dimana bahwa dengan pendidikan yang tinggi maka orang tersebut akan
se-makin luas pola pengetahuanya (Wawan & Dewi, 2011).
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting un-
tuk terbentuknya tindakan seseorang (ovent behavior) (Wawan & Dewi,
2011).Faktor - faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan perawat
menurut Mu-barak & Chayatin (2009) menyatakan faktor- faktor yang
berpengaruh terhadap pengetahuan meliputi tingkat penge-tahuan
perawat diantaranya usia, tingkat pendidikan, pengalaman kerja (lama
kerja), pelatihan kegawat daruratan yang pernah diikuti dan informasi.
Pendidikan adalah proses untuk mempelajari dan meningkat-kan ilmu
yang diperoleh, pendidikan yang lebih tinggi secara otomatis akan
berband-ing lurus dengan pengetahuan yang di-miliki (Notoatmodjo,
2007). Adanya hub-ungan antara pengetahuan dengan perawat dalam
menangani cardiac arrest dalam penelitian ini didukung oleh teori No-
toadmodjo (2010) yang menyatakan bahwa pengetahuan diperoleh dari
sekumpulan informasi yang saling terhubung secara sistematik sehingga
memiliki makna. In-formasi diperoleh dari data yang sudah dio-lah

28
sehingga mempunyai arti. Selanjutnya data ini akan dimiliki seseorang
dan akan tersimpan dalam neuron-neuron (menjadi memori) di otaknya.
Kemudian ketika manusia dihadapkan pada suatu masalah, maka
informasi yang tersimpan dalam neu-ron-neuronnya dan terkait dengan
perma-salahan tersebut, akan saling terhubung.
Keterampilan merupakan keahlian yang dimiliki seseorang dalam
melakukan suatu pekerjaan dengan dilandasi pendidi-kan, keahlian yang
tinggi serta bertanggung jawab terhadap pekerjaannya tersebut (Abidin,
2011). Berdasarkan hasil observasi kepada partisipan adalah semakin
tinggi tingkat pengetahuan dan pelatihan ber-pengaruh kepada tindakan
penanganan car-diac arrest yang tepat dan benar tetapi pen-galaman
kerja yang lebih lama tidak ber-pengaruh karena pengetahuan yang
dimili-ki. Pengetahuan perawat dalam penanganan cardiac arrest
merupakan hal utama yang harus dikuasai oleh seorang perawat sebe-
lum melakukan tindakan tersebut. Oleh ka-rena itu perawat dituntut
untuk memiliki kompetensi dalam menangani korban yang
membutuhkan bantuan hidup dasar. Salah satu upaya dalam peningkatan
kompetensi tersebut dilakukan melalui pelatihan bantu-an hidup dasar,
pelatihan ini merupakan pelatihan dasar bagi perawat dalam me-nangani
korban yang memerlukan bantuan hidup dasar akibat trauma dan
gangguan kardiovaskuler untuk menyelamatkan nyawa dan
meminimalisir kerusakan organ serta kecacatan penderita. Intinya
adalah bagaimana menguasai dan membebaskan jalan napas, bagaimana
membantu menga-lirkan darah ke tempat yang penting dalam tubuh,
sehingga pasokan oksigen ke otak terjaga untuk mencegah terjadinya
kematian sel otak. Peran RJP sangatlah besar, seperti orang-orang yang
mengalami henti jantung tiba-tiba. Henti jantung menjadi penyebab
utama kematian walaupun usaha untuk melakukan resusitasi tidak selalu
berhasil, lebih banyak nyawa yang hilang akibat tidak dilakukannya
resusitasi dengan tepat dan cepat.

29
b. Faktor Penghambat perawat dalam pe-nanganan cardiac arrest Hasil
penelitian menyatakan bahwa hambatan sarana dan prasarana
meliputi keterbatasan alat-alat, obat-oabatan emer-gency, jauhnya
jangkauan pengambilan obat emergensi, banyaknya pengunjung dan
keluarga dalam ruangan, penolakan melakukan bantuan hidup dasar dari
keluar-ga, petugas dan pasien tidak sebanding, cara atau posisi dalam
melakukan bantuan hidup

30
dasar tidak sesuai. Perawat harus menge-tahui dan memahami hak penderita serta
beberapa keadaan yang mengakibatkan RJP tidak perlu dilaksanakan seperti henti
jan-tung terjadi dalam sarana atau fasilitas kesehatan (Worthington, 2012). Sarana
dan suplai yang cukup merupakan segala sesuatu yang dapat memudahkan dan
memperlancar pelaksanaan usaha yang berupa benda - benda (Cristian, 2008).
Ketersediaan tenaga kesehatan dalam jumlah yang cukup sesuai kebutuhan adalah
syarat yang harus di-penuhi oleh IGD. Selain dokter jaga yang siap di IGD, rumah
sakit juga harus me-nyiapkan spesialis lain (bedah, penyakit dalam, anak, dll)
untuk memberikan dukungan tindakan medis spesialistis bagi pasien yang
memerlukannya.

SIMPULAN

1. Mendeskripsikan pengetahuan perawat tentang cardiac arrest.

Berdasarkan analisa yang telah dil-akukan dalam penelitian ini, didapatkan


cardiac arrest adalah tidak adanya denyut nadi, jantung kehilangan fungsinya,
fungsi jantung mendadak berhenti. Henti jantung merupakan kematian penyakit
jantung yang mendadak dan jantung tidak berdenyut atau denyut nadi tidak teraba
sehingga sir-kulasi aliran darah keseluruh tubuh berhenti yang ditandai oleh
gangguan irama jan-tung yaitu ventrikel takikardi, ventrikel fibrilasi, pulseless
electrical activity dan asistol.

2. Mendeskripsikan tindakan perawat da-lam penanganan cardiac arrest.

Berdasarkan analisa yang telah dil-akukan dalam penelitian didapatkan yaitu


dimulai dengan pengkajian awal resusitasi jantung paru meliputi pengkajian
lokasi, pemeriksaan tingkat kesadaran, pemerik-saan nadi, pemeriksaan
pernafasan. Tin-dakan resusitasi jantung paru meliputi re-susitasi jantung
paru, kedalaman kompresi dada, frekuensi kompresi dada, siklus kompresi

31
dada, kecepatan kompresi dada dan teknik membuka jalan nafas. Evaluasi
resusitasi jantung paru meliputi pemeriksaan nadi dan pernafasan. Posisi
recov-ery meliputi posisi sisi mantap dan teknik posisi sisi mantap. Faktor
dihentikan re susitasi jantung paru meliputi henti nafas dan meninggal.
Pemberian obat-obatan emergency meliputi jenis obat emergency atau
resusitasi jantung paru dan fungsi obat emergency atau resusitasi jantung
paru.

4. Mengidentifikasi faktor pendukung perawat dalam


penanganan cardiac arrest.Berdasarkan analisa yang telah dil-akukan
dalam penelitian didapatkan tiga tema yaitu Skill dari petugas, respon
time dari petugas dan sarana pendukung melipu-ti peralatan.
Kesiapan perawat meliputi ber-pikir kritis, fokus, melindungi diri dan
tindakan perawat. Mengidentifikasi Faktor penghambat perawat
dalam penanganan cardiac arrest.

Berdasarkan analisa yang telah dil-akukan dalam penelitian


ini didapatkan banyaknya pengunjung, Keluarga melakukan
penolakan tindakan RJP, Petu-gas dan pasien tidak sebanding, posisi
da-lam melakukan tindakan tidak sesuai, sara-na dan prasarana tidak
memadai serta ku-rangnya persediaan obat-obat emergensi. Sarana
dan suplai yang memadai merupakan sesuatu yang dapat
memudahkan dan mem-perlancar pelaksanaan asuhan keperawatan.
Ketersediaan tenaga kesehatan dalam jumlah yang cukup sesuai
kebutuhan ada-lah syarat yang harus dipenuhi oleh IGD.

32
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. M. (2011). Makalah tentang Profesionalisme


Perawat.Dari http://www.masbid.com

Aehlert, Barbara. (2011). Emergency Medical Technician EMT in


Action.Southwest: EMS Education, Inc. Mc Graw, Hill Higher
Education.

American Heart Association. (2015). Scien-tific Position Risk Factors &


Coronary Heart Disease. AHA Scientific Posi-tion.

Christian, P. (2008). Keterampilan dalam Keperawatan Kamus Elektronik.


Dari http://petracristian.com

Departemen Kesehatan. (2006). Pharma-ceutical care untuk pasien penyakit


jantung koroner : Fokus sindrom koro-ner akut.

Gebbie, K., Qureshi, K. (2006). Historical Chalenge: Perawat dan Keadaan Da-
rurat. OJIN: The Journal Isue on Nurs-ing. Vol 11 No 3.

Goldberger, Z. D., Chan, P. S., Berg, R. A.

33
(2012). Duration of Resuscitation Efforts and Survival After in-hospital
Cardiac Arrest: an Observational Study. 380.

Ivancevich, John M. dkk. (2008). Perilaku dan Manajemen Organisasi.

Jilid 1 dan 2. Jakarta. Erlangga

Mubarak & Chayatin. (2009). Ilmu Kesehatan Masyarakat: Teori dan Aplikasi.

Salemba Medika: Jakarta.

Nolan J. P. et al.(2010). European Re-suscitation Council Guidelines for

Resuscitation.

Notoadmodjo, S. (2007). Pengantar Pendidikan dan Ilmu Penelitian

Kesehatan. Yogyakarta: Andi offset.

Notoadmojo,S. (2010).Promosi Kesehatan: Teori dan Aplikasi. (Edisi Revisi:

2010). Rineka Cipta : Jakarta. Subagiyo, A. Achyar. Ratnaningsih, E.


Suginman, T. Kosasih, A. Agustinus, R. (2011). Buku Panduan Kursus
Bantuan Hidup Jantung Dasar.

Suharsono, T. Ningsih, D. (2012). Penatalaksanaan Henti Jantung Di Lu

Ar Rumah Sakit. Malang

Wawan A, & Dewi M. (2011). Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Perilaku dan
Perilaku Manusia. Nuha Medika: Yogyakarta.

34
BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan
Henti jantung merupakan suatu keadaan terhentinya fungsi
pompa otot jantung secara tiba-tiba yang berakibat pada
terhentinya proses penghantaran oksigen dan pengeluaran
karbondioksida
Kerusakan otak dapat terjadi luas jika henti jantung
berlangsung lama, karena sirkulasi oksigen yang tidak adekuat akan
menyebabkan kematian jaringan otak. H al tersebutlah yang menjadi
alasan penatalaksanaan berupa CPR atau RJP harus dilakukan
secepat mungkin untuk meminimalisasi kerusakan otak dan
menunjang kelangsungan hidup korban
Hal yang paling penting dalam melakukan resusitasi pada korban,
apapun teknik yang digunakan adalah memastikan penolong dan
korban berada di tempat yang aman, menilai kesadaran korban dan
segera meminta bantuan.

B. Saran
Informasi dan pelatihan henti henti jantung sebaiknya dapat
diberikan kepada masyarakat umum,mengingat bahwa resusitasi dapat
memberikan pertolongan awal. Dampak yang di timbulkan
semakin berat jika waktu datangnya pertolongan semakin lama

35
BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

Ns.Paula krisanty,S.kep,MA,dkk. 2009.Asuhan keperawatan gawat


darurat.TIM

Brunner and Suddarth’s . 2010. Textbook of Medical-Surgical-Nursing.


Philadelphia:Wolters Kluwer Health

Widyarani,L . 2017. Analisis Pengaruh Pelatihan Resusitasi Jantung Paru


(Rjp) Dewasa Terhadap Retensi Pengetahuan Dan Ketrampilan Rjp pada
Mahasiswa Keperawatan Di Yogyakarta. Jurnal Keperawatan Soedirman
(The Soedirman Journal of Nursing) 12(3): 143-149

Ismiroja,L., Mulyadi.,Maykel K. 2018. Pengalaman Perawat Dalam


Penanganan Cardiac Arrest di Instalasi Gawat Darurat Rsup Prof. Dr. R.
D. Kandou Manado. e-journal Keperawatan (e-Kp). 6(2):1-8

https://www.scribd.com/doc/230393804/Pathway-Cardiac-Arrest

36