Anda di halaman 1dari 19

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN
A. Anatomi Dan Fisiologi ...................................................................... 2
B. Definisi Sc ......................................................................................... 5
C. Klasifikasi Sc ..................................................................................... 5
D. Etiologi .............................................................................................. 6
E. Tanda Dan Gejala .............................................................................. 6
F. Patofisiologis ...................................................................................... 7
G. Pemeriksaan Penunjang (Diagnostik)................................................ 10
H. Komplikasi ........................................................................................ 10
I. Penatalaksanaan Medis ....................................................................... 10
J. Rencana Asuhan Keperawatan ........................................................... 11
Daftar pustaka ............................................................................................. 19
LAPORAN PENDAHULUAN
SECTIO CAESAREA (SC)

I. Konsep Dasar Penyakit


A. Anatomi dan fisiologi
1. Anatomi fisiologi kulit abdomen’O

1. Lapisan epidermis, merupakan lapisan luar, terdiri dari epitel


skuamosabertingkat. Sel-sel yang menyusunnya dibentuk oleh
lapisan germinaldalam epitel silindris dan mendatar, ketika
didorong oleh sel-sel baru kearah permukaan, tempat kulit
terkikis oleh gesekan. Lapisan luar terdiridari keratin, protein
bertanduk, Jaringan ini tidak memiliki pembuluhdarah dan sel-
selnya sangat rapat.
2. Lapisan dermis adalah lapisan yang terdiri dari kolagen, jaringan
fibrosa dan elastin. Lapisan superfasial menonjol ke dalam
epidermis berupa sejumlah papila kecil. Lapisan yang lebih
dalam terletak pada jaringan subkutan dan fasia. Lapisan ini
mengandung pembuluh darah, pembuluhlimfe dan saraf.
3. Lapisan subkutan mengandung sejumlah sel lemak, berisi
banyak pembuluh darah dan ujung saraf. Lapisan ini mengikat
kulit secara longgar dengan organ-organ yang terdapat
dibawahnya. Dalam hubungannya dengan tindakan SC, lapisan
ini adalah pengikat organorgan yang ada di abdomen, khususnya
uterus. Organ-organ di abdomen dilindungi oleh selaput tipis
yang disebut peritonium. Dalam tindakan SC, sayatan dilakukan
dari kulit lapisan terluar (epidermis) sampai dinding uterus.

2. Anatomi otot perut dan fasia

a. Fasia
Di bawah kulit, fasia superfisialis dibagi menjadi lapisan lemak
yang dangkal, Camper's fasia, dan yang lebih dalam lapisan
fibrosa. Fasia profunda terletak pada otot-otot perut. menyatu
dengan fasia profunda paha. Susunan ini membentuk pesawat
antara Scarpa's fasia dan perut dalam fasia membentang dari
bagian atas paha bagian atas perut. Di bawah lapisan terdalam
3
otot abdominis transverses, terletak fasia transversalis. Para fasia
transversalis dipisahkan dari peritoneum parietalis oleh variabel
lapisan lemak. Fascias adalah lembar jaringan ikat atau
mengikat bersama-sama meliputi struktur tubuh.

b. Otot Perut
Otot perut terdiri dari : otot dinding perut anterior dan lateral,
serta otot dinding perut posterior. Otot dinding perut anterior
dan lateral (rectus abdominis) meluas dari bagian depan margo
costalis di atas dan pubis di bagianbawah. Otot itu disilang oleh
beberapa pita fibrosa dan berada di dalam selubung. Linea
albaadalah pita jaringan yang membentang pada garis tengah
dari procecuss xiphodius sternum ke simpisis pubis,memisahkan
kedua musculus rectus abdominis. Obliquus externus, obliquus
internus dan transverses adalah otot pipih yang
membentukdinding abdomen pada bagian samping dan depan.
Serat obliquusexternus berjalan ke arah bawah dan atas, serat
obliquus internusberjalan ke atas dan ke depan ; serat
transverses (otot terdalam dariotot ketiga dinding perut) berjalan
transversal di bagian depan ketigaotot terakhir otot berakhir
dalam satu selubung bersama yangmenutupi rectus abdominis.

Otot dinding perut posterior (Quadrates lumbolus) adalah


ototpendek persegi pada bagian belakang abdomen, dari costa
keduabelasdiatas ke krista iliaca (Gibson, J. 2002).

4
B. Definisi
Sectio caesarea adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat di
atas 500 gr, melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh (intact)
(Joy, 2009).

Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan


melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan
syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram (Sarwono,
2011).

Sectio Caesaria ialah tindakan untuk melahirkan janin dengan berat badan
diatas 500 gram melalui sayatan pada dinding uterus yang utuh (Gulardi &
Wiknjosastro, 2009).

Sectio caesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka


dinding perut dan dinding rahim (Mansjoer, 2011).

C. Klasifikasi
Klasifikasi sectio caesarea menurut Rasjidi (2009):
1. Sectio caesarea klasik atau corporal: insisi memanjang pada segmen atas
uterus.
2. Sectio caesarea transperitonealis profunda: insisi pada segmen bawah
rahim, paling sering dilakukan, adapun kerugiannya adalah terdapat
kesulitan dalam mengeluarkan janin sehingga memungkinkan terjadinya
perluasan luka insisi dan dapat menimbulkan pendarahan.
3. Melintang (secara kerr).
4. Sectio caesarea ekstra peritonealis: dilakukan tanpa insisi peritoneum
dengan mendorong lipatan peritoneum keatas dan kandung kemih ke

5
bawah atau ke garis tengah, kemudian uterus dibuka dengan insisi di
segmen bawah.
5. Sectio caesarea hysterectomi: dengan indikasi atonia uteri, plasenta
akreta, myoma uteri, infeksi intra uterin berat.

D. Etiologi
Menurut Nanda 2016, etiologi sectio caesarea adalah sebagai berikut:
1. Etiologi yang berasal dari ibu
Yaitu pada primigravida dengan kelainan letak, primi para tua disertai
kelainan letak, disproporsi cefalo pelvic (CPD), riwayat kehamilan
buruk, plasenta previa terutama pada primigravida, solusio plasenta
tingkat I dan II, komplikasi kehamilan yaitu preeklamsi-eklamsia,
kehamilan yang disertai oenyakit jantung, DM, gangguan jalan lahir
(ovarium, mioma, kista dan lain lain).
2. Etiologi yang berasal dari janin
Fetal disstres/ gawat janin, mal presentasi, mal posisi kedudukan janin,
prolapsus tali pusat dengan pembukaan kecil, kegagalan persalinan
vacuum atau forcep ekstraksi.

E. Tanda dan gejala (manifestasi klinis)


Menurut Nanda, 2016 tanda dan gejala SC:
1. Plasenta previa
2. CPD
3. Ruptur uteri mengancam
4. Partus lama
5. Partus tak maju
6. Distosia serviks
7. Preeklamsi dan hipertensi
8. Kehilangan darah selama prodedur pembedahan 600-800 ml.

6
9. terpasang kateter : urin jernih dan pucat.
10. Abdomen lunak dan tidak ada distensi.
11. Bising usus tidak ada.
12. Aliran lokhia sedang dan bebas bekuan, berlebihan dan banyak
13. Malpresentasi janin
a. Letak lintang
b. Letak bokong
c. Presentasi dahi dan muka (letak deflekasi)
d. Gameli

F. Patofisiologi
SC merupakan tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat di atas 500 gr
dengan sayatan pada dinding uterus yang masih utuh. Indikasi dilakukan
tindakan ini yaitu distorsi kepala panggul, disfungsi uterus, distorsia jaringan
lunak, placenta previa dll, untuk ibu. Sedangkan untuk janin adalah gawat
janin. Janin besar dan letak lintang setelah dilakukan SC ibu akan mengalami
adaptasi post partum baik dari aspek kognitif berupa kurang pengetahuan.
Akibat kurang informasi dan dari aspek fisiologis yaitu produk oxsitosin yang
tidak adekuat akan mengakibatkan ASI yang keluar hanya sedikit, luka dari
insisi akan menjadi post de entris bagi kuman. Oleh karena itu perlu diberikan
antibiotik dan perawatan luka dengan prinsip steril. Nyeri adalah salah utama
karena insisi yang mengakibatkan gangguan rasa nyaman.

Sebelum dilakukan operasi pasien perlu dilakukan anestesi bisa bersifat


regional dan umum. Namun anestesi umum lebih banyak pengaruhnya
terhadap janin maupun ibu anestesi janin sehingga kadang-kadang bayi lahir
dalam keadaan upnoe yang tidak dapat diatasi dengan mudah. Akibatnya
janin bisa mati, sedangkan pengaruhnya anestesi bagi ibu sendiri yaitu
terhadap tonus uteri berupa atonia uteri sehingga darah banyak yang keluar.

7
Untuk pengaruh terhadap nafas yaitu jalan nafas yang tidak efektif akibat
sekret yan berlebihan karena kerja otot nafas silia yang menutup. Anestesi ini
juga mempengaruhi saluran pencernaan dengan menurunkan mobilitas usus.

Seperti yang telah diketahui setelah makanan masuk lambung akan terjadi
proses penghancuran dengan bantuan peristaltik usus. Kemudian diserap
untuk metabolisme sehingga tubuh memperoleh energi. Akibat dari mortilitas
yang menurun maka peristaltik juga menurun. Makanan yang ada di lambung
akan menumpuk dan karena reflek untuk batuk juga menurun. Maka pasien
sangat beresiko terhadap aspirasi sehingga perlu dipasang pipa endotracheal.
Selain itu motilitas yang menurun juga berakibat pada perubahan pola
eliminasi yaitu konstipasi (Saifuddin, Mansjoer & Prawirohardjo, 2011).

8
Pathway

Indikasi Sectio Caesarea

Pinggul sempit Detosia serviks


Plasenta previa Pre eklamsi dan
Desproporsi sefalopelvik hipertensi
Rupture uteri mengancam Stenosis serviks
Partus tak maju uteri/vagina
Partus kala lama Tumor jalan lahir
Incordinate uterin action
Malpresentasi janin

Sectio Caesarea

Fisik Psikologis

Cemas
Trauma Prosedur
Jaringan pembedahan

Nyeri Akut
Trauma jaringan Efek anastesi

Resiko infeksi Kehilangan vaskuler


berlebihan

Resti kekurangan
volume cairan

Sumber : Judith (2007)

9
G. Pemeriksaan Penunjang (Diagnostik)
1. Pemeriksaan darah lengkap
2. USG
3. Urinalisis
4. Kultur
5. Pelvimetri
6. Amneosentesis
7. Tes stres kontraksi atau tes nonstres
8. Pemantauan elektronik kontinue

H. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada post sectio caesarea, antara lain :
1. Infeksi puerperal (nifas). Tahapan ringan suhu meningkat beberapa hari;
tahapan sedang suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan
perut sedikit kembung; sedangkan pada tahapan berat terjadi peritonealis,
sepsis, dan usus paralitik.
2. Perdarahan karena banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka
serta perdarahan pada plasenta bed.
3. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila
peritonealisasi terlalu tinggi.
4. Kemungkinan ruptur uteri pada kehamilan berikutnya (Bobak, 2002).

I. Penatalaksanaan medis
1. Analgesik diberikan setiap 3 – 4 jam atau bila diperlukan seperti Asam
Mefenamat, Ketorolak, Tramadol.
2. Pemberian tranfusi darah bila terjadi perdarahan partum yang hebat.

10
3. Pemberian antibiotik seperti Cefotaxim, Ceftriaxon dan lain-lain.
Walaupun pemberian antibiotika sesudah Sectio Caesaria efektif dapat
dipersoalkan, namun pada umumnya pemberiannya dianjurkan.
4. Pemberian cairan parenteral seperti Ringer Laktat dan NaCl.

J. Rencana Asuhan Keperawatan Klien dengan SC


B. Pengkajian
1. Identitas
Terdiri dari identitas pasien (nama, tanggal lahir/umur pasien,
suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, status perkawinan,
diagnosa medis, no RM dan tanggal masuk rumah sakit). Identitas
penanggung jawab/suami (nama, tanggal lahir/umur pasien, suku/bangsa,
agama, pendidikan, pekerjaan, alamat).

2. Riwayat penyakit sekarang, dahulu dan keluarga


a. Riwayat penyakit sekarang
Keadaan atau apa yang dirasakan pasien saat dilakukan pengkajian.
b. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit hepatik, alergi terhadap obat, makanan, plester,
dan larutan.
c. Riwayat penyakit keluarga
Adakah keluarga yang menderita hipertermia malignan atau reaksi
anastesi.

11
3. Pemeriksaan fisik
a. Sirkulasi
Riwayat masalah jantung, edema pulmonal, penyakit vaskuler perifer
ataustasis vaskuler (peningkatan pembentukan trombus).

b. Integritas ego
Perasaan cemas, takut, marah, apatis, serta adanya faktor stres
multipel.Dengan tanda tidak dapat beristirahat dan peningkatan
tegangan.
c. Makanan/cairan
Malnutrisi, membran mukosa yang kering, pembatasan puasa
praoperasi.
d. Pernafasan
Adanya kondisi kronik/batuk, merokok.
e. Keamanan
Riwayat transfusi darah dan tanda munculnya proses infeksi.

4. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan darah lengkap, golongan darah, dan pencocokan silang,
tes Coombs.
b. USG : melokalisasi plasenta, menentukan pertumbuhan, kedudukan,
danpresentasi janin.
c. Urinalisis : menentukan kadar albumin/glukosa.
d. Kultur : mengidentifikasi adanya virus herpes simpleks tipe II.
e. Pelvimetri : menentukan CPD.
f. Amniosentesis : mengkaji maturitas paru janin.
g. Tes stres kontraksi atau tes nonstres : mengkaji respon janin
terhadapgerakan/stres dari pola kontraksi uterus atau pola abnormal.

12
h. Pemantauan elektronik kontinue : memastikan status janin atau
aktivitasuterus (Doengoes, 2001).

C. Diagnosa keperawatan
1. Diagnosa 1 : nyeri akut
2. Diagnosa 2 : risiko infeksi
3. Diagnosa 3: resti kekurangan volume cairan
4. Diagnosa 4: cemas

D. Perencanaan
1. Diagnosa 1 : nyeri akut
Tujuan dan criteria hasil (NOC)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 1-3 kali 24 jam nyeri
pasien dapat berkurang dengan criteria hasil sebagai berikut:
a. Keluhan nyeri berkurang
b. Skala berkurang (0-2)
c. Pasien tanpak rileks
Intervensi keperawatan dan rasional (NIC)
a. Pengkajian
1) Lakukan pengkajian nyeri yang komperhensip meliputi lokasi,
karakteristik, awitan dan durasi, frekuensi, kualitas, intensitas
atau keparahan nyeri dan factor presipitasinya.
Rasional : memberikan informasi untuk membantu
memudahkan tindakan keperawatan.
2) Observasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan, khususnya pada
pasien yang tidak mampu berkomunikasi efektif.

13
Rasional : mengetahui tingkat nyeri pasien dari ekspresi pasien.
b. Penyuluhan pada pasien/keluarga
Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi (misalnya : teknik
relaksasi dan distraksi, terapi music, kompres hangat atau dingin,
masase dan tindakan pereda nyeri lainnya.
Rasional : membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan
kenyamananklien.
c. Kolaboratif
1) Kelola nyeri pascabedah awal dengan pemberian opiat yang
terjadwal (misalnya : setiap 4 jam selama 36 jam) atau
PCA.Rasional : mengurangi nyeri.
2) Gunakan tindakan pengendalian nyeri sebelum nyeri menjadi
lebih berat.Rasional : penanganan dini pada nyeri yang dirasa
pasien.
3) Laporkan kepada dokter jika tindakan tidak berhasil atau jika
keluhan saat ini merupakan perubahan yang bermakna dari
pengalaman nyeri pasien di masa lalu.
Rasional : menentukan tindakan penanganan nyeri lebih lanjut.
d. Mandiri
1) Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon
pasien terhadap ketidaknyamanan.
Rasional : lingkungan yang panas, gaduh dan sebagainya dapat
mempengaruhi keadaan pasien yang dapat berdampak pada rasa
nyeri.
2) Pastikan pemberian analgesia terapi atau strategi
nonfarmakologi sebelum melakukan prosedur yang
menimbulkan nyeri.
Rasional : mencegah bertambahnya rasa nyeri yang dirasakan
pasien.

14
2. Diagnosa 2 : risiko infeksi
Tujuan dan criteria hasil (NOC)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1-5 hari infeksi tidak terjadi
dengan kriteria hasil sebagai berikut :
a. Luka kering dan membaik
b. Tanda-tanda infeksi (-)
Intervensi keperawatan dan rasional (NIC)
a. Pengkajian
1) Pantau tanda gan gejala infeksi (misalnya :suhu tubuh, denyut
jantung, penanpilan luka, suhu tubuh,lesi kulit, keletihan dan
malaise).
Rasional : suhu yang meningkat, dapat menunjukkan terjadinya
infeksi (color).
2) Kaji faktor yang dapat meningkatkan reaksi terhadap infeksi
(usia dan nutrisi).
Rasional :usia pasien dan kurangnya nutrisi dapat
mempengaruhi terjadinya infeksi.
3) Pantau hasil lab.
Rasional : risiko infeksi pasca melahirkan dan penyembuhan
burukmeningkat bila kadar hemoglobin rendah dan kehilangan
darahberlebihan.
4) Amati penampilan praktik hygiene personal untuk melindungi
terhadap infeksi.
Rasional :mencegah kontaminasi silang/penyebaran organisme
infeksius.

15
b. Penyuluhan untuk pasien/keluarga
1) Instruksikan untuk menjaga hygiene untuk melindungi tubuh
terhadap infeksi.
Rasional :mencegah kontaminasi silang/penyebaran organisme
infeksius.
2) Ajarkan pasien teknik mencuci tanagan yang benar.
Rasional : mencuci tangan merupakan cara terbaik untuk
mencegah kontaminasi silang/penyebaran organisme infeksius.
c. Kolaborasi
Berikan terapi antibiotic, jika perlu. Rasional : mencegah terjadinya
proses infeksi.
d. Mandiri
1) Lindungi pasien terhadap kontaminasi silang.
Rasional : mencegah terjadinya proses infeksi.
2) Bersihkan lingkungan dengan benar.
Rasional :mencegah kontaminasi silang/penyebaran organisme
infeksius.
3) Batasi pengunjung, jika perlu.
Rasional : pengunjung yang datang dapat membawa organisme
infeksius karena telah terpapar dengan lingkungan luar.

3. Diagnosa 3: resti kekurangan volume cairan


Tujuan dan criteria hasil (NOC)
a. Pasien normovolemia yang dibuktikan dengan TD sistolik lebih
besar dari atau sama dengan 90 mm HG (atau garis dasar pasien),
tidak adanya ortostasis, HR 60 sampai 100 denyut / menit, keluaran
urin lebih besar dari 30 mL / jam dan turgor kulit normal.
b. Pasien menunjukkan perubahan gaya hidup untuk menghindari
perkembangan dehidrasi.

16
c. Pasien mengungkap kesadaran akan faktor penyebab dan perilaku
yang penting untuk memperbaiki defisit cairan.
d. Pasien menjelaskan tindakan yang dapat dilakukan untuk mengobati
atau mencegah kehilangan volume cairan.
e. Pasien menggambarkan gejala yang mengindikasikan kebutuhan
untuk berkonsultasi dengan petugas kesehatan.
Intervensi keperawatan dan rasional (NIC)
a. Monitor tanda-tanda kekurangan cairan
Rasional : Mengetahui seberapa jauh cairan yang hilang
b. Monitor TTV
Rasional :Kekurangan / perpindahan cairan meningkat frekuensi
jantung TD menurun, mengurangi volume nadi
c. Monitor intake dan output
Rasional : Memberikan informasi tentang status cairan umum
d. Ganti kekurangan cairan lewat oral
Rasional : Memperbaiki / mempertahankan vol sirkulasi dan tekanan
asmotik

4. Diagnosa 4: cemas
Tujuan dan criteria hasil (NOC)
a. Klien mampu untuk mengurangi rasa cemas.
b. Pasien mampu mengontrol rasa cemas.
c. Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukan teknik untuk
mengontrol cemas.
Intervensi keperawatan dan rasional (NIC)
a. Identifikasi tingkat kecemasan.
Rasional : Untuk mengetahui tingkat kecemasan
b. Ajarkan pasien teknik relaksasi.
Rasional : Pasien dapat relaks
17
c. Beri edukasi pasien untuk menurunkan rasa cemas/takut.
Rasional : Pasien dapat mengatasi rasa cemas
d. Dengarkan dengan penuh perhatian.
Rasional : Dapat mengetahui penyebab kecemasan
e. Libatkan keluarga untuk mendampingi pasien.
Rasional : Keluarga mendampingi pasien sehingga pasien merasa
lebih tenang

18
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, yusmiati. (2007). Operasi Caesar Pengantar dari A samapi Z. Jakarta :


Edsa Mahkota.

Gulardi & Wiknjosastro. (2009). Ilmu Kebidanan Edisi 4 Cetakan Ke


2.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Mansjoer, A. (2011). Asuhan Keperawatn Maternitas. Jakarta: Salemba Medika

Nurarif. A. H. dan Kusuma. H. (2016). APLIKASI Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: Medi
Action.

Rasjidi, Imam. (2009). Manual Sectio Caesarea & Laparatomi Kelainan Adneksa.

Sarwono, Prawiroharjo. (2011). Ilmu Kebidanan Edisi 4 Cetakan II. Jakarta:


Yayasan Bina Pustaka.

Wilkinson, J.M. Ahern, N.R., (2011). Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 9.
Jakarta : EGC.

19

Anda mungkin juga menyukai