Anda di halaman 1dari 54

PEMERIKSAAN FISIK DAN RADIOGRAFI PADA KUKU KAKI DEPAN KUDA WARMBLOOD DI DIREKTORAT POLISI SATWA DEPOK

ZULFIKAR HIZBUL ISLAMI

DI DIREKTORAT POLISI SATWA DEPOK ZULFIKAR HIZBUL ISLAMI FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2016

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2016

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Pemeriksaan Fisik Dan Radiografi pada Kuku Kaki Depan Kuda Warmblood di Direktorat Polisi Satwa Depok” adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Maret 2016

Zulfikar Hizbul Islami NIM B04110090

ABSTRAK

ZULFIKAR HIZBUL ISLAMI. Pemeriksaan Fisik dan Radiografi pada Kuku Kaki Depan Kuda Warmblood di Direktorat Polisi Satwa Depok. Dibimbing oleh BUDHY JASA WIDYANANTA dan DENI NOVIANA.

Gangguan pada kaki kuda sering terjadi pada kaki depan bagian bawah, terutama pada kuku. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran kondisi kuku kuda dari hasil pemeriksaan fisik dan radiografi kuku. Data diperoleh dari sampel enam ekor kuda warmblood dengan melakukan pemeriksaan fisik dan pengambilan radiografi pada regio kuku. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya peningkatan frekuensi napas pada seluruh kuda (100%), penurunan frekuensi jantung pada satu ekor kuda (16.67%), peningkatan suhu pada satu ekor kuda (16.67%), dua ekor kuda menunjukkan hasil positif pada saat palpasi tulang belakang (33.33%), satu ekor kuda memiliki bentuk kuku toe out (16.67%), keretakan wall kuku pada lima ekor kuda (83.33%), bagian sole berkapur pada lima ekor kuda (83.33%), tiga ekor kuda yang memiliki kuku low heel (50%), satu ekor kuda menunjukkan kepincangan yang sulit diamati (16.67%) dan dua ekor kuda menunjukkan kelainan pada saat lungeing (33.33%). Hasil radiografi menunjukkan beberapa kuda mengalami perubahan pada kuku kaki depan. Pemeriksaan fisik bermanfaat untuk mengidentifikasi kelainan-kelainan klinis, sedangkan pemeriksaan radiografi bermanfaat sebagai penunjang diagnosis.

Kata kunci: kuda, kuku, pemeriksaan fisik, radiografi

ABSTRACT

ZULFIKAR HIZBUL ISLAMI. Physical Examination and Radiography of Fore Hooves on Warmblood Horses at Direktorat Polisi Satwa Depok. Supervised by BUDHY JASA WIDYANANTA and DENI NOVIANA.

Lameness of horse feet often occurred on the lower forelimb, especially on the hooves. The aim of this research was to describe the condition of the hooves by physical examination and radiography. Six warmblood horses were taken as sample by physical examination and radiography of the hooves. The result of physical examination showed an increase in respiratory rate in the whole horse (100%), one horse showed decrease in heart rate (16.67%), one horse showed increase in body temperature (16.67%), two horses had positive results on backbone palpation (33.33%), one horse had toe out hooves (16.67%), five horses had cracked wall on the hooves (83.33%), five horses had chalky soles (83.33%), three horses had low heel hooves (50%), one horse showed lameness was difficult to observe (16.67%) and two horses showed abnormality on lungeing (33.33%). The results of radiography showed changes in the fore hooves of some horses. Physical examination was useful for abnormalities of clinical identify and radiography helpful as the diagnosis support.

Keyword: hoof, horse, physical examination, radiography

PEMERIKSAAN FISIK DAN RADIOGRAFI PADA KUKU KAKI DEPAN KUDA WARMBLOOD DI DIREKTORAT POLISI SATWA DEPOK

ZULFIKAR HIZBUL ISLAMI

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan pada Fakultas Kedokteran Hewan

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2016

PRAKATA

Penulis menyampaikan puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul karya ilmiah ini adalah Pemeriksaan Fisik dan Radiografi pada Kuku Kaki Depan Kuda Warmblood di Direktorat Polisi Satwa Depok dibawah bimbingan Drh Budhy Jasa Widyananta, MSi dan Prof Drh Deni Noviana, PhD. Penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada kedua pembimbing yang telah membimbing dengan penuh kesabaran dan penuh semangat dalam penelitian serta penyusunan karya ilmiah ini. Penulis megucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Suparta S.Pd dan Ibu Masnah S.Pd atas do’a, cinta dan dukungannya yang terus mengalir. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kakak-kakak tercinta, Venny Agustiani Mahardikawati, Desy Chitra Lestari, Akhmad Fahmi Hikmatyar dan adik tercinta Akhmad Bintang Dirgantara. Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Drh Savitri Novelina, MSi PAVet, selaku dosen pembimbing akademik yang senantiasa memberikan masukan dan semangat selama menempuh pendidikan di fakultas. Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Badan Pemelihara Keamanan Polri Direktorat Polisi Satwa, khususnya AKBP Drh Chaindraprasto Shaleh yang telah membantu dalam pengambilan data. Penulis mengucapkan terima kasih atas kekompakan, kebersamaan dan dukungan kepada teman teman seperjuangan di Dramaga Regensi Blok D29 (Bramantyo, Fauzan, Mahana, Widi, Arianto, Ofan), teman teman satu penelitian (Ovi, Bramantyo, Bagus, Arif), keluarga besar Ganglion’48 dan Panzer Ungu. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, sehingga perlu kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk kemajuan ilmu pengetahuan terutama di bidang medis veteriner.

Bogor, Maret 2016

Zulfikar Hizbul Islami

i

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

i

DAFTAR TABEL

ii

DAFTAR GAMBAR

ii

DAFTAR LAMPIRAN

ii

PENDAHULUAN

1

Latar Belakang

1

Tujuan Penelitian

2

Manfaat Penelitian

2

TINJAUAN PUSTAKA

2

Kaki Kuda

2

Kuku Kuda

3

Pemeriksaan Kesehatan Kuda

5

Radiografi Kuku Kuda

5

METODE

8

Waktu dan Tempat

8

Alat dan Bahan

8

Prosedur Analisis Data

8

HASIL DAN PEMBAHASAN

11

Sinyalemen

11

Keadaan Umum

11

Pemeriksaan Limbs

14

Pemeriksaan Tendon dan Ligamen

14

Pemeriksaan Kuku

15

Pemeriksaan Walk dan Trot up

18

Pemeriksaan Lungeing

19

Pemeriksaan Radiografi

20

SIMPULAN DAN SARAN

23

Simpulan

23

Saran

23

DAFTAR PUSTAKA

24

LAMPIRAN

27

RIWAYAT HIDUP

43

ii

DAFTAR TABEL

11

2 Hasil pemeriksaan kondisi kulit dan rambut

12

3 Hasil pemeriksaan frekuensi jantung, frekuensi napas dan suhu

12

4 Hasil pemeriksaan capillary refill time (CRT), turgor kulit dan membran mukosa

13

5 Hasil pemeriksaan tulang belakang

14

6 Hasil pemeriksaan limbs

18

7 Hasil pemeriksaan tendon dan ligamen

18

8 Hasil pemeriksaan bagian wall kuku

14

9 Hasil pemeriksaan bagian sole kuku

15

10 Hasil pemeriksaan bagian heel kuku

16

11 Hasil pemeriksaan vesitasi kuku

17

12 Hasil pemeriksaan walk dan trot up

19

13 Hasil pemeriksaan lungeing

19

14 Hasil pemeriksaan radiografi kuku dengan proyeksi lateral

20

15 Hasil pemeriksaan radiografi kuku dengan proyeksi dorsopalmar

21

16 Hasil pemeriksaan radiografi kuku dengan proyeksi skyline

22

DAFTAR GAMBAR

2

3

4

4

5

6

7

7

9

10 Teknik pengambilan radiografi kuku kuda dengan proyeksi dorsopalmar

10

11 Teknik pengambilan radiografi kuku kuda dengan proyeksi skyline

10

12 Bagian wall kuku kuda yang mengalami keretakan

18

13 Bagian sole kuku kuda yang mengalami pengapuran

17

18

15 Contoh hasil pemeriksaan radiografi dengan proyeksi lateral

20

16 Contoh hasil pemeriksaan radiografi dengan proyeksi dorsopalmar

21

22

DAFTAR LAMPIRAN

1 Lembaran pemeriksaan fisik kuda

28

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kaki kuda menunjukkan suatu bentuk adaptasi yang ekstrim untuk dapat berlari cepat. Kaki depan dan kaki belakang kuda mempunyai pembagian fungsi spesifik yang cenderung berbeda di antara keduanya, baik pada saat kuda istirahat maupun bergerak. Fungsi utama kaki kuda yaitu sebagai penahan tubuh dan saling bekerja sama untuk menjaga keseimbangan tubuh dalam berbagai variasi gerakan (Budras et al. 2012). Pras (2010) menyatakan bahwa kaki kuda bagian depan lebih sering mengalami gangguan dibandingkan dengan kaki bagian belakang. Kaki bagian depan seekor kuda dapat menahan 65% - 70% berat tubuhnya, oleh karena itu sering mendapat gangguan dibandingkan dengan kaki bagian belakang. Gangguan sering terjadi pada kaki bagian bawah (sekitar lutut), karena bagian ini memiliki struktur yang kompleks dan terdiri atas bagian-bagian elastis yang sangat mudah mengalami cedera. Bagian tubuh kuda paling distal dilindungi oleh kuku yang terbentuk dari keratinisasi epitel kulit. Kuku kuda merupakan pertumbuhan lanjutan dari kulit yang membungkus dan melindungi tulang coffin / os phalanx III, tulang rawan kuku, persendian, os sessamoid distal, tendon, ligamentum, pembuluh darah dan saraf (Budras et al. 2012). Estep (2006) menyatakan bahwa kebanyakan pemilik dan perawat kuda kurang perhatian terhadap kondisi kuku kuda, sehingga sangat rentan terhadap kerusakan dan penyakit. Keadaan ini juga diduga menjadi penyebab perubahan struktur internal seperti perubahan letak tendo dan ligamentum, perubahan posisi tulang dan kerusakan jaringan. Radiografi telah ditemukan lebih dari satu abad yang lalu dan telah digunakan dalam penanganan terhadap pasien untuk tujuan medis (Reed 2011). Pemanfaatan radiografi dalam praktik kuda adalah untuk mengevaluasi tulang serta mengetahui respon tulang terhadap kerusakan dan penyakit, sehingga dapat dihubungkan dengan gejala klinis suatu penyakit (Weaver dan Barakzai 2009). Amin (2011) menyatakan bahwa radiografi merupakan salah satu penunjang diagnosis dalam memperkuat diagnosis dan penyakit, terutama penyakit muskuloskeletal. Radiografi digunakan untuk menampilkan pencitraan organ dalam tubuh secara dua dimensi. Penentuan diagnosis penyakit melalui evaluasi hasil Roentgen atau gambaran radiografi (radiogram) sangat penting dan diperlukan penilaian akurat untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Kurangnya pemahaman dalam penilaian evaluasi radiogram dapat menyebabkan kesalahan dalam mendiagnosis. Penelitian mengenai kondisi fisik dan gambaran radiografi kuku kuda di Indonesia masih jarang dilakukan. Sehubungan dengan itu, maka penelitian mengenai pemeriksaan fisik dan gambaran radiografi kuku kuda warmblood di Direktorat Polisi Satwa (Datasemen Turangg) ini sangat penting untuk digunakan sebagai acuan terhadap gambaran radiografi kuku kuda warmblood yang dipelihara di Indonesia.

2

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi fisik dan hasil gambaran radiografi pada regio kuku kaki depan kuda warmblood di Direktorat Polisi Satwa.

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian yang diperoleh adalah dapat mengevaluasi kondisi kuku kaki depan kuda warmblood dari hasil catatan kondisi fisik dan gambaran radiografinya.

TINJAUAN PUSTAKA

Kaki Kuda

Kuda merupakan hewan ungulata atau hewan yang berjalan menggunakan kuku. Kaki kuda memiliki struktur yang kompleks dan terdiri atas tulang, persendian, ligamentum, otot dan tendo. Semua komponen tersebut bekerja dalam satu sistem sehingga kuda dapat melakukan aktivitas gerakannya (Dyce et al. 2010). Struktur kaki kuda dapat dilihat pada Gambar 1.

zulfikar©
zulfikar©
zulfikar©
zulfikar©

Gambar 1 Struktur kaki kuda. Bagian luar (A) dan bagian dalam (B).

Kaki kuda bagian distal terdiri dari os metacarpus, os phalanx proximal, os phalanx medial dan os phalanx distal. Os phalanx proximal berartikulasi dengan os metacarpus pada sendi fetlock dan berartikulasi dengan os phalanx medial pada sendi pastern. Os phalanx medial dan os phalanx distal berartikulasi pada sendi

3

coffin (Frandson et al. 2013). Susunan tulang dan sendi kaki kuda yang berartikulasi dapat dilihat pada Gambar 2.

zulfikar©
zulfikar©
zulfikar©
zulfikar©

Gambar 2 Susunan tulang dan sendi kaki kuda. Tampak depan (A) dan tampak belakang (B).

Kuku Kuda

Konformasi kaki dan kuku kuda yang baik merupakan penunjang tubuh yang penting dan membantu pergerakan kuda secara keseluruhan. Konformasi kaki kuda berpengaruh terhadap bentuk kuku, distribusi berat tubuh dan gerakan kaki. Konformasi kaki yang buruk merupakan salah satu faktor penyebab kerusakan kuku dan kepincangan. Penilaian konformasi kuku kuda harus diamati dalam keadaan istirahat dan bergerak (Dyce et al 2010). Kuku merupakan organ tubuh yang penting bagi kehidupan kuda dan mempunyai peran yang cukup berat, sehingga rentan akan terjadinya kelainan dan penyakit. Kelainan atau penyakit pada kuku kuda dapat disebabkan oleh kelainan konformasi, faktor kongenital, kesalahan penapalan dan perawatan yang tidak baik (Putro 2008). Kuku kuda bersifat keras, kuat dan elastis. Kuku kuda terdiri dari wall, sole dan frog (Gambar 3).

4

zulfikar©
zulfikar©

Gambar 3 Struktur kuku kuda

Wall merupakan bagian kuku yang paling luar dan dapat dilihat saat kuda berdiri. Berdasarkan topografinya, wall terdiri dari bagian dorsal (toe), bagian medial dan lateral (quarter) dan bagian palmar / plantar (heel) (Gambar 4). Bagian terluas dari permukaan kuku adalah toe.

zulfikar©
zulfikar©

Gambar 4 Struktur dinding kuku kuda

Dinding kuku terdiri dari tiga lapis, yaitu lapis terluar (stratum externum), lapis tengah (stratum medium) dan lapis dalam (stratum internum) (Gambar 5). Stratum externum terdiri dari tubulus-tubulus yang sangat kecil. Stratum medium merupakan bagian yang paling besar dan berpigmen, sedangkan stratum internum tidak berpigmen dan terdiri dari lapisan tanduk (Cochran 2011).

5

zulfikar©
zulfikar©

Gambar 5 Lapisan dinding kuku kuda

Huntington et al. (2004) menyatakan bahwa sole merupakan bagian terbesar dari permukaan kuku bagian bawah. Sole berbentuk konkaf dan terdiri dari 33% air, sehingga lebih lunak dibandingkan dengan wall. Sole pada kaki belakang lebih konkaf dibandingkan dengan bagian kaki depan. Fungsi utama sole adalah sebagai pelindung area sensitif di bagian dorsalnya dan menahan berat di sekitar batas area sensitif. Frog merupakan suatu bantalan lunak, elastis dan berbentuk segitiga. Frog terletak diantara sole dan bar yang terdiri atas jaringan lunak dan elastis. Frog berfungsi membantu memompa darah kembali ke arah kaki (Cochran 2011).

Pemeriksaan Kesehatan Kuku Kuda

Kuda yang sehat dapat terlihat dari keadaan fisik, emosi dan fisiologis. Pemeriksaan kuda secara lengkap yaitu saat istirahat dan saat bergerak. Pemeriksaan saat istirahat antara lain keadaan mata, telinga, hidung, membran mukosa, turgor kulit, denyut jantung, frekuensi pernapasan, keadaan fisik tubuh, suhu, nafsu makan dan minum, keadaan feses dan urin serta keadaan kulit dan rambut (Henderson 2013 ; King dan Gayle 2006). Davis (2007) menyatakan bahwa pemeriksaan kaki kuda saat bergerak meliputi cara berjalan, trot, lungeing dan canter.

Radiografi Kuku Kuda

Diagnosis kepincangan berhubungan dengan gejala klinis yang telah dievaluasi, tetapi dibutuhkan evaluasi lanjutan untuk mendapatkan diagnosis akhir yaitu dengan melakukan radiografi. Pemeriksaan radiografi digit merupakan pemeriksaan paling umum dilakukan. Diagnosis yang akurat memerlukan pemahaman pengetahuan kerja yang baik dari anatomi dan patofisiologi penyakit. Teknik radiografi yang baik memerlukan pemahaman tentang hubungan posisi tungkai, posisi plate dan sudut mesin x-ray (Redding 2004).

6

Evaluasi radiografi bertujuan untuk menentukan prognosa dan terapi pada suatu penyakit (Thrall 2013). Radiografi sangat berguna untuk mendiagnosis kondisi tulang yang dapat menyebabkan kepincangan. Jaringan seperti tendon dan ligamen sulit dievaluasi dengan radiografi, sehingga untuk mendiagnosis cedera pada bagian tersebut harus diminimalkan (Schultz 2004). Radiografi lateral dan dorsopalmar penting untuk menentukan hubungan antara bagian kapsul kuku dan os phalanx. Posisi lateral biasa digunakan untuk mengambil radiograf os phalanx III, navicular bone, persendian interphalangeal distal, sebagian dari os phalanx II dan semua jaringan lunak kaki (Redden 2003). Gambaran radiografi kuku kuda dengan proyeksi lateral dapat dilihat pada Gambar 6.

zulfikar©
zulfikar©

Gambar 6 Gambaran radiografi dengan proyeksi lateral

Proyeksi radiografi lateral yang harus dievaluasi adalah ketebalan dinding kuku bagian dorsal, tingkat rotasi kapsuler, sudut antara solar margin os phalanx distal dengan tanah, jarak antara coronet dengan proximal margin extensor dan jarak antara dorsal margin os phalanx distal dengan tanah (Robinson dan Sprayberry 2015). Proyeksi radiografi dorsopalmar harus dinilai untuk penyelarasan sendi, panjang dinding kuku bagian medial dan lateral serta kesimetrisan kuku. Keselarasan sendi ditentukan dengan memeriksa kesimetrisan dari ruang sendi (Hinchcliff et al. 2014). Proyeksi radiografi dorsopalmar pada kuku kuda dapat dilihat pada Gambar 7.

7

zulfikar©
zulfikar©

Gambar 7 Gambaran radiografi dengan proyeksi dorsopalmar

Proyeksi skyline yang perlu diperhatikan adalah batas tajam distal margin os phalanx distal, lisis dan fraktur distal margin merupakan laminitis kronis. Jumlah, bentuk dan ukuran fossa sinovial di perbatasan bagian distal sessamoid distal (navicular) adalah normal (Pollit 2015). Gambaran radiografi dengan proyeksi skyline dapat dilihat pada Gambar 8.

zulfikar©
zulfikar©

Gambar 8 Gambaran radiografi dengan proyeksi skyline

8

METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan, yaitu pada bulan Januari - Februari 2015 di Direktorat Polisi Satwa, Kelapa Dua, Depok. Interpretasi hasil radiografi dilakukan di Divisi Bedah Bagian Klinik Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Alat dan Bahan

Pengambilan gambar radiografi dilakukan dengan menggunakan mesin x- ray digital lengkap beserta plate, stabilizer, marker, alat pelindung diri (apron, gloves, dan goggle), hoof tester, termometer dan papan block. Restrain yang dilakukan adalah dengan restrain fisik menggunakan brongsong (head collar) dan tali penuntun (lead rope). Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah silicon untuk membersihkan alat dan play doh sebagai bahan kontras.

Prosedur Analisis Data

Pemeriksaan Fisik Data diambil dari kuda ras warmblood sebanyak 6 ekor. Pemeriksaan fisik mencakup sinyalemen, keadaan umum, pemeriksaan limbs, pemeriksaan tendon dan ligamen, pemeriksaan kuku lungeing serta walk dan trot up. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Suhu tubuh hewan diukur menggunakan termometer dan pemeriksaan frekuensi jantung dihitung secara auskultasi menggunakan stetoskop yang diletakkan tepat di atas apeks jantung pada dinding dada sebelah kiri (Jackson dan Cockroft 2002). Tingkat pernapasan dapat diketahui dengan menempatkan tangan di atas nostril dan merasakan pergerakan udara (Huntington et al. 2004). Nilai BCS (Body Condition Scoring) dapat dilihat dari timbunan lemak dalam tubuh (Brady et al. 2002). Pemeriksaan kulit dan rambut merupakan salah satu langkah pertama untuk melihat kondisi kesehatan kuda secara menyeluruh. Kuda yang sehat memiliki rambut yang bersih dan berkilau (Pavia dan Running 2008). Pemeriksaan sinyalemen dilakukan dengan melihat tanda khusus pada tubuh. Penilaian sikap berdiri kuda harus mencatat kelainan, luka, goresan dan benjolan pada tubuh kuda. Pemeriksaan CRT (Capillary Refill Time) dilakukan dengan menekan bagian gusi, sedangkan pemeriksaan turgor kulit dengan mengangkat bagian kulit tubuh. Pemeriksaan bagian sole kuku diawali dengan membersihkan bagian tersebut menggunakan kuret. Bagian sole kuku yang berkapur dapat terlihat dengan adanya serbuk-serbuk putih halus yang mengeropos ketika dilakukan pembersihan. Penurunan sudut kuku terjadi pada kuku dengan long toe dan low heel, sedangkan peningkatan sudut kuku terjadi pada kuku dengan short toe dan long heel (Henderson 2013). Bagian wall kuku

9

sering mengalami keretakan maupun pembengkakan akibat penapalan (Gore et al.

2008).

Pemeriksaan limbs dilakukan dengan melihat bentuk konformasi kaki. Jika ditarik garis lurus di masing-masing kaki depan, maka akan nampak pembagian yang seimbang antara setengah bagian masing-masing (Pilliner et al. 2004). Aspek yang dinilai untuk mendiagnosis tendon dan ligamen yang cedera adalah bengkak, sakit dan panas (Schultz 2004). Pemeriksaan klinis terhadap tulang punggung dilakukan dengan cara inspeksi dan palpasi. Perubahan yang terjadi dapat berupa abnormalitas konsistensi, bentuk dan sensitifitas (Bean dan Raymond 2009). Pada umumnya, pemeriksaan walk dan trot up dilakukan dari dua sisi yang berbeda, yaitu dari depan dan belakang. Fokus mata ditujukan pada kaki saat evaluasi walk, sedangkan pada evaluasi trot up pada kepala dan kaki. Aspek pengamatan meliputi pendaratan kuku, kelenturan sendi dan pergerakkan kaki. Evaluasi lungeing bertujuan untuk peneguhan diagnosis terkait masalah pada kaki. Beberapa hal yang harus diperhatikan terkait evaluasi lungeing adalah gaya berjalan, ketegangan dan kesediaan kuda untuk melangkah (Davis 2007).

Pengambilan Radiografi dan Pengumpulan Sampel Pengambilan gambar radiografi dilakukan pada kaki bagian depan kuda ras warmblood. Posisi pengambilan radiografi kuku kuda yang ideal terdiri atas lateral, dorsopalmar, dorsoproximal-palmarodistal oblique untuk navicular bone (Floyd dan Mansmann 2007). Kaki kuda ditempatkan pada sebuah papan block setebal 10-15 cm agar sinar-x dapat berpusat pada kaki. Posisi lateral dengan menempatkan plate di bagian medial kaki dan sinar-x diletakan sejajar dengan sudut 90° atau tegak lurus terhadap kaki (Gambar 9). Posisi dorsopalmar dengan menempatkan plate di bagian palmar kaki dan sinar-x diletakan sejajar dengan sudut 90° atau tegak lurus terhadap kaki (Gambar 10). Posisi skyline dengan menempatkan plate di bagian bawah kaki dan sinar-x sejajar dengan sudut 65° dari tanah dengan titik pusat pada coronary band (Gambar 11).

zulfikar©
zulfikar©

Gambar 9 Teknik pengambilan radiografi kuku kuda dengan proyeksi lateral

10

zulfikar©
zulfikar©

Gambar 10 Teknik pengambilan radiografi kuku kuda dengan proyeksi dorsopalmar

zulfikar©
zulfikar©

Gambar 11 Teknik pengambilan radiografi kuku kuda dengan proyeksi skyline

Analisis Sampel Data pemeriksaan fisik yang telah diperoleh disajikan secara deskriptif. Pembacaan hasil gambaran radiografi dilakukan di Divisi Bedah dan Radiologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Analisis sampel kondisi fisik meliputi perbedaan hasil pemeriksaan yang dibandingkan dengan keadaan normal pada literatur.

11

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sinyalemen

Semua kuda yang diperiksa sebagai sampel adalah ras warmblood dan berwarna coklat. Sebanyak 5 ekor berjenis kelamin jantan dan 1 ekor berjenis kelamin betina. Tinggi yang dimiliki kuda tersebut yaitu antara 165 cm 170 cm dan memiliki bobot badan antara 506 kg 600 kg.

Keadaan Umum

Sikap Berdiri Secara umum sikap berdiri seluruh kuda (100%) tidak ada kelainan, yaitu berdiri pada keempat kakinya, walaupun terdapat luka-luka kecil pada bagian kaki kuda tersebut. Luka tersebut bukan luka dalam dan tidak parah, sehingga tidak mengganggu sikap berdirinya. Luka tersebut kemungkinan didapat ketika melakukan latihan atau pun patroli. McIlwraith dan Rollin (2011) menyatakan bahwa sikap alami kuda akan mendistribusikan berat pada keempat kakinya. Berat akan ditanggung pada kedua kaki depan dan kaki belakang sebagai penunjang. Kuda akan menggunakan satu kaki belakangnya dan saling bergantian saat istirahat. Henderson (2103) menyatakan bahwa keengganan kuda untuk berdiri dengan keempat kaki dapat diakibatkan adanya gangguan muskuloskeletal atau sakit pencernaan.

BCS (Body Condition Scoring) Hasil pemeriksaan BCS menunjukkan bahwa kuda memiliki timbunan lemak yang cukup banyak. Keadaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 1, sebagian besar (66.67%) kuda memiliki BCS dengan nilai 6 dan sisanya (33.33%) memiliki BCS dengan nilai 5. Brady et al. (2002) menyatakan bahwa skala BCS untuk kuda adalah 1 - 9. Kuda dengan status gizi yang buruk berada pada kisaran 1 - 3 (kurus) dan 7 - 9 (gemuk). Kuda dengan status gizi yang baik berada pada kisaran 4 - 6.

Tabel 1 Hasil pemeriksaan BCS

Nama Kuda

Nilai BCS

Aron

6

Collin

6

Edinburgh

5

Wulinde

6

Zenno

6

Zeppellin

5

Pemeriksaan Kulit Dan Rambut Hasil pemeriksaan terhadap kulit dan rambut kuda (Tabel 2) menunjukkan bahwa semua kuda (100%) memiliki kulit dan rambut yang bersih dan berkilau. Davies dan Pilliner (2004) menyatakan bahwa kuda yang mendapatkan perawatan

12

rutin, memiliki keadaan kulit yang kering, halus dan berkilau serta terbebas dari ektoparasit. Kulit dan rambut akan menjadi kering dan kusam apabila tidak ada lubrikasi oleh kerja kelenjar sebaceous yang normal. Rambut yang berkualitas memerlukan nutrisi yang baik, salah satunya adalah protein. Protein kualitas tinggi sangat penting untuk pertumbuhan rambut dan lapisan tanduk. Kekurangan protein dapat menyebabkan pertumbuhan rambut yang lambat dan kerontokan (Hill dan Klimesh 2009). Hasil pemeriksaan terhadap kulit dan rambut kuda (Tabel 2) menunjukkan bahwa semua kuda (100%) memiliki kulit dan rambut yang bersih dan berkilau.

Tabel 2 Hasil pemeriksaan kondisi kulit

Nama Kuda

Kondisi Kulit Dan Rambut

Aron

Bersih, Berkilau

Collin

Bersih, Berkilau

Edinburgh

Bersih, Berkilau

Wulinde

Bersih, Berkilau

Zenno

Bersih, Berkilau

Zeppellin

Bersih, Berkilau

Pemeriksaan Frekuensi Jantung, Frekuensi Napas dan Suhu Hasil pemeriksaan frekuensi jantung (Tabel 3) menunjukkan bahwa sebanyak 83.33% kuda memiliki frekuensi jantung yang berada pada angka normal sedangkan 16.67% kuda memiliki frekuensi jantung yang berada dibawah angka normal. Suara ikutan tidak ditemukan saat melakukan auskultasi jantung pada semua kuda (100%). Pemeriksaan frekuensi napas (Tabel 3) didapatkan hasil bahwa semua kuda (100%) berada di atas angka normal. Hasil pemeriksaan suhu (Tabel 3) menunjukkan bahwa sebanyak 83.33% berada pada kisaran angka normal dan hanya 16.67% berada di atas kisaran angka normal. Huntington et al. (2004) menyatakan bahwa frekuensi jantung pada kuda normal yaitu 30 - 40 kali/menit. Frekuensi napas kuda normal yaitu 8 - 20 kali/menit dan suhu tubuh normal berada pada kisaran 37°C - 38°C. Hasil pemeriksaan frekuensi napas yang tinggi dapat disebabkan oleh lingkungan yang panas sehingga metabolisme berlangsung cepat. Hasil yang bervariasi dalam pemeriksaan frekuensi jantung, frekuensi napas dan suhu tubuh dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor- faktor tersebut diantaranya adalah breed, umur dan lingkungan.

Tabel 3 Hasil pemeriksaan frekuensi jantung, frekuensi napas dan suhu tubuh

Frekuensi Jantung (kali/menit)

Frekuensi Napas (kali/menit)

Nama Kuda

Suhu Tubuh (°C)

Aron

20

28

37,4

Collin

36

36

37,0

Edinburgh

40

38

37,8

Wulinde

36

36

38,2

Zenno

36

36

37,3

Zeppellin

40

40

37,5

13

Pemeriksaan CRT (Capillary Refill Time), Turgor Kulit dan Membran Mukosa Hasil pemeriksaan CRT didapatkan bahwa sebagian besar kuda (83.33%) memiliki nilai CRT 1 detik dan 16.67% kuda memiliki nilai CRT 2 detik. Uji turgor kulit didapatkan hasil bahwa semua kuda (100%) pada keadaan normal dengan hasil uji 1 detik. Hal ini menunjukkan bahwa asupan air minum kuda terpenuhi, sehingga tidak ada kuda yang mengalami dehidrasi. Menurut Henderson (2013), kuda yang sehat harus memiliki nilai CRT dibawah 2 detik. Nilai CRT lebih dari 3 detik berarti terdapat gangguan pada sirkulasi perifer dan vasokonstriksi. Kuda yang sehat memiliki nilai uji turgor kulit kurang dari sama dengan 2 (Henderson 2013).

Tabel 4 Hasil pemeriksaan CRT, turgor kulit dan membran mukosa

Nama Kuda

CRT (detik)

Turgor Kulit

(detik)

Membran

Mukosa

Aron

1

1

Merah muda

Collin

1

1

Merah muda

Edinburgh

2

1

Merah muda

Wulinde

1

1

Merah muda

Zenno

1

1

Merah muda

Zeppellin

1

1

Merah muda

Pemeriksaan membran mukosa menunjukkan hasil bahwa semua kuda (100%) tidak memiliki kelainan dan memiliki membran mukosa berwarna merah muda. King dan Gayle (2006) menyatakan bahwa membran mukosa yang sehat adalah berwarna merah muda, berkilau, lembap dan licin. Jika membran mukosa pucat dan kering, maka hal tersebut menunjukkan dehidrasi. Warna seperti putih pucat, kuning, merah bata, kebiruan dan keunguan menunjukkan masalah yang sangat serius.

Pemeriksaan Tulang Belakang Pemeriksaan palpasi tulang belakang (Tabel 5) didapatkan 66.67 % kuda tidak mengalami sakit ketika dipalpasi dan 33.33% kuda mengalami sakit ketika dipalpasi. Respon sakit pada kuda ketika tulang punggung dipalpasi dapat diakibatkan masalah pada tulang maupun efek dari suatu penyakit. Beberapa perubahan penyakit tulang yang sering ditemukan pada hewan antara lain berupa defek perkembangan tulang, degenerasi tulang yang berkaitan dengan faktor nutrisi, agen toksik dan keturunan, peradangan dan penyakit proliferatif (Bean dan Raymond 2009).

14

Tabel 5 Hasil palpasi tulang belakang

NamaKuda

Hasil

Aron

+

Collin

-

Edinburgh

+

Wulinde

-

Zenno

-

Zeppellin

-

Keterangan : positif (+) = ada respon sakit, negatif (-) = tidak ada respon sakit

Pemeriksaan Limbs

Pemeriksaan bagian limbs terlihat bahwa 83.33% kuda tidak mengalami masalah apapun dan 16.67% mengalami masalah (Tabel 6). Masalah tersebut berupa konformasi kuku yang mengarah toe out. Pilliner et al. (2004) menyatakan bahwa bagian limbs kuda harus memiliki tulang yang kuat dan susunan otot yang baik. Tampak dari depan maupun dari samping harus lurus, jika ditarik garis lurus di masing-masing kaki depan. Maka akan nampak pembagian yang seimbang antara setengah bagian masing-masing. Huntington et al. (2004) menyatakan bahwa toe out merupakan kondisi kaki mengarah ke samping, menjauh satu sama lain sedangkan toe in merupakan kondisi kaki mengarah ke dalam. Kondisi ini dapat menyebabkan kuda sering tersandung, sehingga dapat merusak bagian kaki yang lain.

Tabel 6 Hasil pemeriksaan bagian limbs

Nama Kuda

Hasil

Kaki Kanan

Kaki Kiri

Aron

Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Toe out Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Toe out Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan

Collin

Edinburgh

Wulinde

Zenno

Zeppellin

Pemeriksaan Tendon dan Ligamen

Pada Tabel 7 terlihat bahwa hasil pemeriksaan tendon dan ligamen tidak menunjukkan keadaan yang buruk. Semua kuda (100%) tidak mengalami masalah pada tendon maupun ligamen. Kuda yang menderita cedera tendon dan ligamen akan merasa sakit ketika dipalpasi pada cedera yang dialaminya. Proses inflamasi pada cedera menyebabkan sakit dan panas. Peradangan menyebabkan lebih banyak darah untuk beredar namun tergenang karena aliran darah yang lambat sehingga menyebabkan daerah peradangan menjadi lebih hangat (Schultz 2004). Menurut Hinchcliff et al. (2008), cedera pada tendon dan ligamen jauh lebih umum terjadi pada kuda atlet berumur tua daripada kuda muda. Kondisi tersebut

15

dapat terjadi saat melakukan jumping berlebihan. Seiring dengan pertambahan umur, maka cedera pada tendon dan ligamen semakin rentan.

Tabel 7 Hasil pemeriksaan tendon dan ligamen

Hasil

Nama Kuda

Kaki Kanan

 

Kaki Kiri

Bengkak

Sakit

Panas

Bengkak

Sakit

Panas

Aron

-

-

-

-

-

-

Collin

-

-

-

-

-

-

Edinburgh

-

-

-

-

-

-

Wulinde

-

-

-

-

-

-

Zenno

-

-

-

-

-

-

Zeppellin

-

-

-

-

-

-

Keterangan : positif (+) = ada temuan, negatif (-) = tidak ada temuan

Pemeriksaan Kuku

Pemeriksaan Bagian Wall Kuku Tabel 8 merupakan hasil pemeriksaan bagian wall kuku. Hasil tersebut menunjukkan sebagian besar kuda (83.33%) mengalami kelainan pada kukunya dan hanya 16.67% kuda yang tidak mengalami kelainan apapun pada kukunya. Kelainan tersebut berupa keretakan pada dinding kuku (Gambar 12). Keretakan pada dinding kuku dapat diidentifikasi sesuai tempat retaknya, bisa terjadi pada toe, quarter dan heel. Keretakan pada dinding kuku yang parah tergantung pada lokasi dan dalamnya keretakan. Keretakan yang disertai pendarahan menunjukkan dalamnya keretakan, sehingga rentan terhadap infeksi. Jika terjadi infeksi maka akan terlihat adanya discharge dan nanah disekitar keretakan pada dinding kuku (Gore et al. 2008). Thomas (2004) menyatakan bahwa kuku kuda membutuhkan bahan dasar tertentu untuk tumbuh. Nutrisi yang baik dan tepat tentu dapat membentuk kuku yang sehat. Nutrisi tersebut meliputi protein, vitamin dan mineral dengan jumlah yang cukup. Sebanyak 93% bahan kering dinding kuku adalah protein, yang disebut keratin. Diet alami rumput yang seimbang dan rasio mineral yang tepat dapat menunjang semua kebutuhan kuda. Hal tersebut merupakan alasan kuda dengan protein tinggi yang diperoleh dari rumput hijau dapat membentuk kuku yang sangat baik.

Tabel 8 Hasil pemeriksaan bagian wall kuku

Nama Kuda

Hasil

Kaki Kanan

Kaki Kiri

Aron

Retak Retak Retak Retak Retak Tidak ada kelainan

Retak Retak Retak Retak Retak Tidak ada kelainan

Collin

Edinburgh

Wulinde

Zenno

Zeppellin

16

zulfikar©
zulfikar©

Gambar 12 Bagian wall kuku kuda yang mengalami keretakan

Pemeriksaan Bagian Sole Kuku Hasil pemeriksaan dari bagian sole kuku (Tabel 9) didapatkan bahwa sebagian besar kuda (83.33%) mengalami sole berkapur (Gambar 13) dan hanya 1 ekor kuda (16.67%) yang tidak megalami sole berkapur. Pengapuran pada bagian sole kuku dapat dipengaruhi oleh lingkungan maupun asupan nutrisi. Pengapuran pada bagian sole kuku dapat menimbulkan masalah yang serius apabila terus berlanjut. Pengapuran tersebut dapat mengganggu bagian tubuh lainnya, seperti keseimbangan dan kesejajaran os phalanx distal terhadap permukaan tanah. Kuda yang tidak memakai alas kaki sangat rentan mengalami pengapuran (Baxter

2011b).

Tabel 9 Hasil pemeriksaan bagian sole kuku

Nama Kuda

Hasil

Kaki Kanan

Kaki Kiri

Aron

Tidak ada kelainan Berkapur Berkapur Berkapur Berkapur Berkapur

Tidak ada kelainan Berkapur Berkapur Berkapur Berkapur Berkapur

Collin

Edinburgh

Wulinde

Zenno

Zeppellin

17

zulfikar©
zulfikar©

Gambar 13 Bagian sole kuku kuda yang mengalami pengapuran

Pemeriksaaan Bagian Heel Kuku Pada pemeriksaan bagian heel kuku (Tabel 10) didapatkan 3 ekor kuda (50%) memiliki kuku low heel dan 3 ekor kuda (50%) tidak mengalami kelainan apapun (Gambar 14). Henderson (2013) menyatakan bahwa kuku yang sehat memiliki sudut rata-rata 45°-50° untuk kaki depan dan kaki bagian belakang memiliki sudut 50°-55°. Kondisi kuda yang memiliki kuku low heel merupakan predisposisi untuk sole bruises, corns, contracted heels, dan ligament strains. Beberapa cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan pemotongan kuku bagian toe dan mendukung pertumbuhan kuku bagian heel.

Tabel 10 Hasil pemeriksaan bagian heel kuku

Nama Kuda

Kaki Kanan

Hasil

Kaki Kiri

Aron

Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Low heel Tidak ada kelainan Low heel Low heel

Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Low heel Tidak ada kelainan Low heel Low heel

Collin

Edinburgh

Wulinde

Zenno

Zeppellin

18

zulfikar©
zulfikar©

Gambar 14 Kuku kuda yang mengalami low heel

Pemeriksaan Vesitasi Kuku Pada pemeriksaan vesitasi kuku (Tabel 11), tidak ada satu pun kuda (100%) yang bereaksi sakit. Keadaan ini menunjukkan bahwa tidak ada kuda yang mempunyai masalah serius pada kukunya. Menurut Baxter (2011a), kuda yang memiki masalah pada kuku akan berespon terhadap tekanan dari hoof tester secara berulang. Pada umumnya, reaksi sensitif pada bagian sole kuku dapat diakibatkan oleh patah tulang dan osteitis phalanx distal atau laminitis kronis.

Tabel 11 Hasil pemeriksaan vesitasi kuku

Nama Kuda

Hasil

Kaki Kanan

Kaki Kiri

Aron

-

-

Collin

-

-

Edinburgh

-

-

Wulinde

-

-

Zenno

-

-

Zeppellin

-

-

Keterangan : positif (+) = ada respon sakit, negatif (-) = tidak ada respon sakit

Pemeriksaan Walk dan Trot Up

Hasil pemeriksaan walk dan trot up menunjukkan bahwa keadaan kaki kuda tidak memiliki masalah serius seperti yang dapat dilihat pada Tabel 12. Semua kuda (100%) berada pada skala 0 saat pemeriksaan walk. Hasil lain diperlihatkan pada pemeriksaan trot up, yaitu sebanyak 83.33% kuda berada pada skala 0 dan sebanyak 16.67% kuda berada pada skala 1. Sistem penilaian kepincangan telah dikembangkan oleh AAEP (American Association Equine Practitioners) untuk membantu komunikasi dan pencatatan. Skala berkisar dari 1 sampai 5. Skala 0 menjadi dasar tidak adanya kepincangan dan skala 5 adalah kepincangan yang paling ekstrim. Sistem skala menurut AAEP yaitu kepincangan tidak tampak dalam keadaan apapun dicatat dengan nilai 0, kepincangan sulit untuk diamati dan tidak konsisten dicatat dengan nilai 1,

19

kepincangan sulit untuk diamati saat berjalan atau ketika berlari dalam garis lurus tetapi secara konsisten jelas dicatat dengan nilai 2, kepincangan secara konsisten terlihat saat berlari pada semua keadaan dicatat dengan nilai 3, kepincangan jelas saat berjalan dicatat dengan nilai 4 dan kepincangan menghasilkan pergerakan minimal dan atau saat istirahat atau ketidakmampuan untuk bergerak dicatat dengan nilai 5.

Tabel 12 Hasil pemeriksaan walk dan trot up

Nama Kuda

Hasil

Walk

Trot Up

Aron

0

0

Collin

0

1

Edinburgh

0

0

Wulinde

0

0

Zenno

0

0

Zeppellin

0

0

Pemeriksaan Lungeing

Hasil pemeriksaan lungeing (Tabel 13) menunjukkan bahwa semua kuda (100%) tidak mengalami kelainan ketika dilakukan lungeing ke arah kanan. Berbeda dengan hasil sebelumnya, lungeing ke arah kiri menunjukkan hasil bahwa 66.67% kuda tidak mengalami kelainan dan 33.33% kuda mengalami kelainan. Kelainan tersebut ditandai dengan penyeretan bagian kaki. Kesanggupan kuda untuk melangkahkan kakinya daripada menyeretnya merupakan indikasi kesakitan untuk tungkai bagian depan, sedangkan untuk tungkai bagian belakang merupakan ciri kuda yang lemah ataupun mengalami masalah sacroliac (Davis

2007).

Tabel 13 Hasil Pemeriksaan Lungeing

Nama Kuda

Hasil

Arah Kanan

Arah Kiri

Aron

-

+

Collin

-

-

Edinburgh

-

-

Wulinde

-

-

Zenno

-

-

Zeppellin

-

+

Keterangan : positif (+) = ada respon sakit, negatif (-) = tidak ada respon sakit

20

Pemeriksaan Radiografi

Hasil pemeriksaan radiografi proyeksi lateral (Tabel 14) menunjukkan bahwa terdapat beberapa kuda yang mengalami perubahan. Hasil interpretasi menunjukkan bahwa sebanyak 66.67% kuda mengalami perubahan pada ketebalan dinding kuku kaki kanan dan 33.33% kuda tidak mengalami perubahan. Sebanyak 83.33% kuda mengalami perubahan ketebalan dinding kuku pada kaki kiri dan 16.67% tidak mengalami perubahan. Sebanyak 50% kuda mengalami perubahan rotasi os phalanx distal pada kaki kanan dan 50% tidak mengalami perubahan. Sebanyak 66.67% kuda mengalami perubahan rotasi os phalanx distal pada kaki kiri dan 33.33% kuda tidak mengalami perubahan. Terjadi perubahan sudut antara solar margin os phalanx distal dengan tanah sebanyak 50% kuda pada kaki kanan dan 50% kuda tidak mengalami perubahan. Sebanyak 66.67% kuda mengalami perubahan sudut antara solar margin os phalanx distal dengan tanah pada kaki kiri dan 33.33% tidak mengalami perubahan. Sebanyak 50% kuda mengalami perubahan jarak antara coronet dengan extensor proximal margin pada kaki kanan dan 50% tidak mengalami perubahan. Sebanyak 66.67% kuda mengalami perubahan jarak antara coronet dengan extensor proximal margin pada kaki kiri dan 33.33% tidak mengalami perubahan. Perubahan juga terjadi pada jarak antara dorsal margin os phalanx distal dengan tanah sebanyak 50% kuda pada kaki kanan dan 50% kuda tidak megalami perubahan. Sebanyak 66.67% kuda mengalami perubahan pada jarak antara dorsal margin os phalanx distal dengan tanah pada kaki kiri dan 33.33% kuda tidak mengalami perubahan. Contoh hasil gambaran radiografi proyeksi lateral dapat dilihat pada Gambar 15. Perubahan juga terdapat pada satu ekor kuda yang mengalami fraktur pada bagian ujung os phalanx distal. Fraktur tersebut berukuran cukup kecil, namun dapat mengganggu cara berjalan kuda (Gambar 15B).

Tabel 14 Hasil pemeriksaan radiografi proyeksi lateral

Hasil Interpretasi

 

Jarak

Nama

Kuda

Ketebaan

dinding

kuku

Rotasi os

phalanx

distal

Sudut solar

margin

dengan

tanah

Jarak

coronet

dengan

proximal

margin

extensor

dorsal

margin os

phalanx

distal

dengan

tanah

RF

LF

RF

LF

RF

LF

RF

LF

RF

LF

Aron

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

Collin

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

Edinburgh

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Wulinde

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

Zenno

+

+

-

-

-

-

-

-

-

-

Zeppellin

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

Keterangan : Right Forelimb (RF), Left Forelimb (LF). Positif (+) = ada perubahan, negatif (-) = tidak ada perubahan.

zulfikar©
zulfikar©

21

zulfikar©
zulfikar©

Gambar 15 Contoh hasil pemeriksaan radiografi dengan proyeksi lateral. Kaki kanan (A) dan kaki kiri dengan kondisi bagian ujung os phalanx distal fraktur (B).

Gambaran radiografi dengan proyeksi dorsopalmar (Gambar 16) juga menunjukkan adanya beberapa perubahan (Tabel 15). Keselarasan ruang sendi menunjukkan perubahan pada kaki kanan sebanyak 16.67% kuda sampel. Panjang dinding kuku bagian medial dan lateral menunjukkan perubahan sebanyak 16.67% kuda sampel pada kaki kiri. Perubahan juga terjadi pada kesimetrisan kuku, sebanyak 16.67% kuda sampel terdapat pada kaki kanan.

Tabel 15 Hasil pemeriksaan radiografi proyeksi dorsopalmar

Hasil Interpretasi

Nama

 

Kuda

Keselarasan sendi

Panjang dinding kuku bagian medial dan lateral

Kesimetrisan kuku

RF

LF

RF

LF

RF

LF

Aron

-

-

-

-

-

-

Collin

-

-

-

-

-

-

Edinburgh

-

-

-

-

-

-

Wulinde

-

-

-

+

-

-

Zenno

+

-

-

-

-

-

Zeppellin

-

-

-

-

+

-

Keterangan : Right Forelimb (RF), Left Forelimb (LF). Positif (+) = ada perubahan, negatif (-) = tidak ada perubahan.

22

zulfikar©
zulfikar©
zulfikar©
zulfikar©

Gambar 16 Contoh hasil pemeriksaan radiografi dengan proyeksi dorsopalmar. Kaki kanan (A) dan kaki kiri (B).

Gambar 17 merupakan contoh hasil gambaran radiografi dengan proyeksi skyline. Hasil pengamatan (Tabel 16) tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 16.67% kuda mengalami perubahan batas tajam distal margin os phalanx distal pada kaki kanan dan 83.33% kuda tidak mengalami perubahan. Sebanyak 50% kuda mengalami perubahan batas tajam distal margin os phalanx distal pada kaki kiri dan 50% kuda tidak mengalami perubahan. Tidak terjadi lisis distal margin os phalanx distal, fraktur distal margin os phalanx distal, pertambahan jumlah fosssa sinovial dan perubahan bentuk fossa sinovial.

Tabel 16 Hasil pemeriksaan radiografi proyeksi skyline

Hasil Interpretasi

 

Batas

 

Lisis

Fraktur

 

Nama

Kuda

tajam

distal

margin os

distal

margin

os

distal

margin

os

Jumlah

fossa

sinovial

Bentuk

fossa

sinovial

Ukuran

fossa

sinovial

phalanx

phalanx

phalanx

 

distal

 

distal

distal

RF

LF

RF

LF

RF

LF

RF

LF

RF

LF

RF

LF

Aron

+

+

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Collin

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Edinburgh

-

+

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Wulinde

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Zenno

-

+

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Zeppellin

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Keterangan : Right Forelimb (RF), Left Forelimb (LF). Positif (+) = ada perubahan, negatif (-) = tidak ada perubahan.

zulfikar©
zulfikar©

23

zulfikar©
zulfikar©

Gambar 17 Contoh hasil pemeriksaan radiografi dengan proyeksi skyline. Kaki kanan (A) dan kaki kiri (B).

Kegagalan untuk mendapatkan kualitas radiografi yang baik sering terjadi saat pengambilan radiografi, termasuk pada penelitian ini. Banyak hal yang dapat mempengaruhi kualitas radiografi. Penyebab tersebut antara lain dapat berasal dari alat radiografi, hewan uji maupun pengamat. O’Brien (2005) menyatakan bahwa penyebab seringnya kegagalan untuk mendapatkan kualitas radiografi adalah tidak melepas ladam saat pengambilan radiografi, ketika membersihkan kaki kurang bersih, posisi pada saat pengambilan radiografi tidak sesuai, pemakaian papan block yang kurang tepat dan jumlah proyeksi yang tidak memadai.

SIMPULAN DAN SARAN

SIMPULAN

Penelitian terhadap kuku kaki depan kuda menunjukkan bahwa pada saat pemeriksaan fisik terdapat beberapa kuda mengalami kelainan dan pada pemeriksaan radiografi ditemukan beberapa perubahan namun tidak signifikan. Pemeriksaan fisik bermanfaat untuk mengidentifikasi kelainan-kelainan klinis, sedangkan pemeriksaan radiografi bermanfaat sebagai penunjang diagnosis.

SARAN

Manajemen perawatan kuda yang baik perlu dilakukan agar kuku kuda tetap sehat. Beberapa manajemen yang dapat dilakukan diantaranya adalah menjaga kandang agar tetap kering dan bersih, sehingga kuku kuda tidak rusak akibat kelembaban yang tinggi. Menjaga agar kuku kuda tidak kering, sehingga tidak mudah pecah. Mengatur komposisi pakan yang baik, agar tidak terjadi asupan pakan berlebihan, sehingga kasus laminitis dapat ditekan. Menghindarkan kuda berjalan pada permukaan tanah yang keras dalam waktu yang lama. Melakukan pemotongan kuku dan penapalan secara teratur dan benar serta melakukan penyemiran pada kuku kuda agar melindungi kuku dari kerusakan.

24

DAFTAR PUSTAKA

[AAEP] American Association Equine Practitioners. 2015. Lameness Exams :

Evaluating the Lame Horse. Horse Health [internet]. [diunduh 2015 Nov 27]. Tersedia pada: http://www.aaep.org/info/horse-health?publication=836 Amin Jalaludin S. 2011. Studi kasus interpretasi radiografi gangguan sistem kardiovaskular pada anjing di klinik hewan my vets Bumi Serpong Damai dan Kemang Selatan. [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Baxter GM. 2011a. Adams And Stashak’s Lameness in Horses 6th ed. West Sussex (GB): Wiley-Blackwell. Baxter GM. 2011b. Manual Of Equine Lameness. West Sussex (GB): Wiley- Blackwell. Bean D, Raymond. 2009. The Illustrated Guide to Holistic Care for Horses An Owner’s Manual. Boston (US): Quarry Books. Brady C, Pajor E, Janice S, Nicole B, John B, Mark R. 2002. Assessing Health & Well-Being of Horses (ulasan). Animal Sciences Horses. AS-565-W. Budras KL, Sack WO, Röck S. 2012. Anatomy of the Horse. Hannover (DE):

Schlütersche Verlagsgesellschaft. Cochran PE. 2011. Veterinary and Physiology : A Clinical Laboratory Manual 2nd ed. New York (US): Delmar Cengage Learning. Davis OC. 2007. Your Horse’s Health Lameness. Ohio (US): David and Charles. Davies Z, Pilliner S. 2004. Equine Science. Oxford (US): Blackwell. Dyce KM, Sack WO, Wensing CJG. 2010. Textbook of Veterinary Anatomy 4th ed. Philadelphia (US): WB Saunders. Estep DQ. 2006. Interactions with horse and human animal bond. J Equine Geriatric and Medicine Surgery. Chapter 2 : 9-10. doi : 10.1016/B0-72-

160163-4/50004-9.

Floyd AE, Mansmann RA. 2007. Equine Podiatry. British (US): Elsevier. Frandson RD, Wilke WL, Fails AD. 2013. Anatomy and Physiology of Farm Animals 7th ed. Iowa (US): Wiley-Blackwell. Gore T, Gore P, Giffin JM. 2008. Horse Owner’s Veterinary Handbook 3rd ed. New Jersey (US): Wiley. Henderson B. 2013. Equine Health and Emergency Management. New York (US): Delmar Cengage Learning. Hill C, Klimesh R. 2009. Horse Hoof Care. North Adams (US): Storey. Hinchcliff KW, Geor RJ, Kaneps AJ. 2008. Equine Exercise Physiology : The Science of Exercise in the Athletic Horse. Philadelphia (US): Elsevier. Hinchcliff KW, Geor RJ, Kaneps AJ. 2014. Equine Sports Medicine and Surgery :

Basic and clinical sciences of the equine athlete 2nd ed. British (US):

Elsevier. Huntington P, Myers J, Owens E. 2004. Horse Sense : The Guide Horse Care in Australia And New Zealand. Collingwood (AU): Landlinks Pr. Jackson PGG, Cockcroft PD. 2002. Clinical Examination of Animals Farm. Massachusetts (US): Blackwell Science.

25

King A, Gayle E. 2006. The Horse Health Cirecli A Systematic Method of Examination. Equine Guelph [internet]. [diunduh 2015 Nov 26]. N1G2W1 :

1-6 Tersedia pada: http://www.equineguelph.ca/pdf/facts/healthcheck_ infosheet_FINAL.pdf. McIlwraith CW, Rollin BE. 2011. Equine Welfare. West Sussex (GB): Wiley- Blackwell. O’Brien TR. 2005. O’Brien’s Radiology for the Ambulatory Equine Practitioner. Wyoming (US): Teton NewMedia. Pavia A, Running KG. 2008. Horse Health and Nutrition For Dummies. Indiana (US): John Wiley & Sons. Pilliner S, Elmhurst S, Davies Z. 2004. The Horse in Motion : The Anatomy and Physiology of Equine Locomotion. Oxford (GB): Blackwell Science. Pollit CC. 2015. The Illustrated Horse’s Foot : A Comprehensive Guide. Missouri (US): Elsevier. Pras B. 2010. Memahami Gangguan Pada Kaki Bagian Bawah Kuda. Forum Sandalwood Indonesia [internet]. [diunduh 2015 Nov 26]. Tersedia pada:

http://forum-sandalwood.web.id/drupal/node/127.

Putro KB. 2008. Struktural internal pada kuku kuda abnormal di laboratorium anatomi fkh ipb [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Redden RF. 2003. Clinical and Radiographic Examination of The Equine Foot. AAEP Proceedings. Vol. 49:169-185. Redding WR. 2004. Radiographic Examination of the Equine Foot. The Horse [internet]. [diunduh 2016 Jan 27]. Tersedia pada:

http://www.equipodiatry.com /Radio.htm. Reed AB. 2011. The history of radiation use in medicine. J Vasc Surg 53(1 Suppl): 3S-5S. Robinson NE, Sprayberry KA. 2015. Robinson's Current Therapy in Equine Medicine 7th ed. Missouri (US): Elsevier. Schultz LB. 2004. Howell Equine Handbook of Tendon and Ligaments Injuries. New Jersey (US): Wiley. Thomas HS. 2004. Care and Management of Horse. Lexington (US): Blood- Horse. Thrall DE. 2013. Textbook of Veterinary Diagnostic Radiology 6th ed. Missouri (US): WB Saunders. Weaver M, Barakzai S. 2009. Handbook of Equine Radiography. Philadelphia (US): Elsevier.

26

LAMPIRAN 27

LAMPIRAN

27

28

Lampiran 1 Lembaran Pemeriksaan Kondisi Fisik

LEMBAR PEMERIKSAAN KONDISI FISIK KUDA

Nama Kuda

Hasil Pemeriksaan

:

Warna

:

Breed Jenis Kelamin Tinggi

: Pony / Crossbreed / Warmblood / THB / : Jantan / Betina :

cm

Tanggal Pemeriksaan

:

Waktu

:

WIB

Pemilik

:

Tempat

:

Pemeriksa

:

Frekuensi Jantung

:

x/menit

Napas

:

x/menit

Suhu

:

°C

CRT

:

detik

Turgor Kulit

:

detik

Membran Mukosa

: Merah Muda / Merah / Kering / Pucat / Cyanosis

Mata

Kiri

: Normal /

Kanan

: Normal /

Telinga

Kiri

: Normal /

Kanan

: Normal /

Hidung

Kiri

: Normal /

Kanan

: Normal /

Temperamen

: Tenang / Gugup /

Kondisi Kulit

:

BCS

:

Berat Badan

:

kg

Palpasi Tulang Belakang

Hoof

: Sakit / Tidak sakit

LF

:

Wall

:

 

Sole

:

Heel

:

RF

:

Wall

:

 

Sole

:

Heel

:

29

Vesitasi Kuku

LF

: Negatif / Positif

RF

: Negatif / Positif

Limbs

LF

:

RF

:

Tendon dan Ligamen LF RF

: Normal / Bengkak / Sakit / Tidak sakit / : Normal / Bengkak / Sakit / Tidak sakit /

Walk & Trot Up Walk

:

Trot

:

Lungeing (Trot & Canter) Arah Kiri Arah Kanan

: Negatif / Positif : Negatif / Positif

30

Lampiran 2 Lembaran Hasil Radiografi Regio Kuku

Nama

Kuda

Aron

Lateral View (Right)

Hasil Radiografi

Kuku Nama Kuda Aron Lateral View (Right) Hasil Radiografi Dorsopalmar View (Right) Skyline View (Right) Lateral

Dorsopalmar View (Right)

Nama Kuda Aron Lateral View (Right) Hasil Radiografi Dorsopalmar View (Right) Skyline View (Right) Lateral View

Skyline View (Right)

Nama Kuda Aron Lateral View (Right) Hasil Radiografi Dorsopalmar View (Right) Skyline View (Right) Lateral View

Lateral View (Left)

31

31 Dorsopalmar View (Left) Skyline View (Left) Collin Lateral View (Right)

Dorsopalmar View (Left)

31 Dorsopalmar View (Left) Skyline View (Left) Collin Lateral View (Right)

Skyline View (Left)

31 Dorsopalmar View (Left) Skyline View (Left) Collin Lateral View (Right)

Collin

Lateral View (Right)

32

32 Dorsopalmar View (Right) Skyline View (Right) Lateral View (Left)

Dorsopalmar View (Right)

32 Dorsopalmar View (Right) Skyline View (Right) Lateral View (Left)

Skyline View (Right)

32 Dorsopalmar View (Right) Skyline View (Right) Lateral View (Left)

Lateral View (Left)

33

33 Dorsopalmar View (Left) Skyline View (Left) Edinburgh Lateral View (Right)

Dorsopalmar View (Left)

33 Dorsopalmar View (Left) Skyline View (Left) Edinburgh Lateral View (Right)

Skyline View (Left)

33 Dorsopalmar View (Left) Skyline View (Left) Edinburgh Lateral View (Right)

Edinburgh

Lateral View (Right)

34

34 Dorsopalmar View (Right) Skyline View (Right) Lateral View (Left)

Dorsopalmar View (Right)

34 Dorsopalmar View (Right) Skyline View (Right) Lateral View (Left)

Skyline View (Right)

34 Dorsopalmar View (Right) Skyline View (Right) Lateral View (Left)

Lateral View (Left)

35

35 Dorsopalmar View (Left) Skyline View (Left) Wulinde Lateral View (Right)

Dorsopalmar View (Left)

35 Dorsopalmar View (Left) Skyline View (Left) Wulinde Lateral View (Right)

Skyline View (Left)

35 Dorsopalmar View (Left) Skyline View (Left) Wulinde Lateral View (Right)

Wulinde

Lateral View (Right)

36

36 Dorsopalmar View (Right) Skyline View (Right) Lateral View (Left)

Dorsopalmar View (Right)

36 Dorsopalmar View (Right) Skyline View (Right) Lateral View (Left)

Skyline View (Right)

36 Dorsopalmar View (Right) Skyline View (Right) Lateral View (Left)

Lateral View (Left)

37

37 Dorsopalmar View (Left) Skyline View (Left) Zenno Lateral View (Right)

Dorsopalmar View (Left)

37 Dorsopalmar View (Left) Skyline View (Left) Zenno Lateral View (Right)

Skyline View (Left)

37 Dorsopalmar View (Left) Skyline View (Left) Zenno Lateral View (Right)

Zenno

Lateral View (Right)

38

38 Dorsopalmar View (Right) Skyline View (Right) Lateral View (Left)

Dorsopalmar View (Right)

38 Dorsopalmar View (Right) Skyline View (Right) Lateral View (Left)

Skyline View (Right)

38 Dorsopalmar View (Right) Skyline View (Right) Lateral View (Left)

Lateral View (Left)

39

39 Dorsopalmar View (Left) Skyline View (Left) Zeppellin Lateral View (Right)

Dorsopalmar View (Left)

39 Dorsopalmar View (Left) Skyline View (Left) Zeppellin Lateral View (Right)

Skyline View (Left)

39 Dorsopalmar View (Left) Skyline View (Left) Zeppellin Lateral View (Right)

Zeppellin

Lateral View (Right)

40

40 Dorsopalmar View (Right) Skyline View (Right) Lateral View (Left)

Dorsopalmar View (Right)

40 Dorsopalmar View (Right) Skyline View (Right) Lateral View (Left)

Skyline View (Right)

40 Dorsopalmar View (Right) Skyline View (Right) Lateral View (Left)

Lateral View (Left)

41

41 Dorsopalmar View (Left) Skyline View (Left)

Dorsopalmar View (Left)

41 Dorsopalmar View (Left) Skyline View (Left)

Skyline View (Left)

41 Dorsopalmar View (Left) Skyline View (Left)

42

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Pandeglang pada tanggal 10 Mei 1993 dari bapak Suparta dan ibu Masnah. Penulis adalah putra keempat dari lima bersaudara. Penulis lulus dari SD Negeri Cipicung I pada tahun 2005 dan melanjutkan ke MTs Mathla’ul Anwar Pusat Menes dan lulus pada tahun 2008. Penulis melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 4 Pandeglang dan lulus pada tahun 2011. Penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB dan diterima di Fakultas Kedokteran Hewan pada tahun yang sama. Penulis aktif sebagai anggota Cluster Herpet Himpunan Minat dan Profesi Satwaliar FKH IPB dan menjadi ketua Cluster Herpet Himpunan Minat dan Profesi Satwaliar pada tahun 2014. Penulis mengikuti pengabdian masyarakat di Provinsi Riau dalam rangka pengendalian penyakit zoonosa, terutama rabies pada bulan Agustus tahun 2014. Penulis menjadi ketua panitia dalam acara Ekspedisi Ketiga Himpunan Minat dan Profesi Satwaliar FKH IPB yang bertempat di Taman Nasional Ujung Kulon pada bulan Oktober 2014.