Anda di halaman 1dari 15

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK FK UNPAD/RS HASAN SADIKIN BANDUNG

Referat Divisi Respirologi


Oleh : Yeliana
Pembimbing : dr. Adi Utomo Suardi, SpA(K), MM.

Pneumonia pada Anak

Pendahuluan
Pneumonia (infeksi pada parenkim paru) pada anak merupakan masalah kesehatan yang
sering ditemukan dalam praktek sehari-hari, dengan demikian, diperlukan kemampuan untuk
mendiagnosis dan melakukan tata laksana anak dengan pneumonia agar tidak mengalami
komplikasi.1 Pneumonia dapat didiagnosis secara klinis, meski pemeriksaan radiologis dapat
berguna untuk menunjang diagnosis dan identifikasi komplikasi. Pemilihan antibiotik sangat
penting, umumnya tergantung pada organisme yang sering menyebabkan pneumonia, umur anak,
dan adanya faktor risiko infeksi. Pada kasus yang lebih berat, kadang diperlukan perawatan
rumah sakit untuk pemberian antibiotik intravena, pemberian cairan dan terapi suportif lainnya.
Pneumonia dapat dicegah dengan imunisasi dan higiene yang baik.2

Epidemiologi
Pneumonia adalah bagian terbesar dari acute respiratory infections (ARI) yang
menyebabkan kematian anak – menyumbang kematian anak hingga 2 juta anak per tahun.
Kematian anak ini sebagian besar (>95%) terjadi pada negara berkembang. Pneumonia
menyumbang hampir satu diantara 5 kematian pada anak dibawah 5 tahun di seluruh dunia tiap
tahun. Pneumonia adalah penyumbang kematian tunggal terbesar pada mortalitas anak,
menyumbang hingga 28–34% kematian anak dibawah 5 tahun per tahun.2,3
Jumlah pasti angka kejadian pneumonia sulit ditentukan, namun estimasi insidensinya
adalah 151 juta kasus baru tiap tahunnya dan sebanyak 11 – 20 juta (7 – 13%) infeksinya berat
dan butuh perwatan di rumah sakit.4 Gambaran ini tidak sama di setiap negara, kematian akibat
pneumonia terutama terjadi pada negara yang akses kesehatannya terbatas.2,4 Menurut survey

Divisi Respirologi IKA RSHS |Diagnosis dan Tata Laksana Pneumonia Anak 1
kesehatan nasional (SKN) 2001, 27,6% kematian bayi dan 22,8% kematian balita di Indonesia
disebabkan oleh penyakit saluran napas, terutama pneumonia.5,6 Kasus terbanyak adalah di India
(43 juta), Cina (21 juta) dan Pakistan (10 juta), dengan angka yang besar di Bangladesh,
Indonesia dan Nigeria (masing-masing 6 juta kasus). Pneumonia bertanggung jawab terhadap
19% dari semua kematian anak balita.4

Gambar 1 Distribusi global mortalitas berdasarkan sebab kematian pada anak dibawah 5 tahun
Dikutip dari: Wardlaw T, Johansson EW, Matthew Hodge2

Definisi dan Patogenesis


Pneumonia adalah penyakit peradangan akut pada paru yang disebabkan oleh infeksi
mikroorganisme dan sebagian kecil disebabkan oleh penyakit non-infeksi.7(7) Pneumonia
umumnya terjadi setelah infeksi saluran napas. Organisme penyebab pneumonia umumnya
ditransmisikan secara langsung melalui penyebaran saat kontak erat atau secara tidak langsung
melalui droplet udara yang terkontaminasi atau infeksi darah. Setelah kolonisasi inisial pada
nasofaring, organisme akan terinhalasi, menyebabkan fokus infeksi di paru; demikian halnya
dengan bakteremia, membentuk kelompok tunas di parenkim paru. Sistem pertahanan paru inang
normal meliputi barier mekanis, antara lain saliva, rambut nasal, aparatus mukosilier, epiglotis,
dan reflex batuk. Imunitas humoral antara lain imunoglobulin A (IgA) sekretori dan IgG serum,
merupakan pertahanan terhadap pneumonia. Selain itu juga terdapat surfaktan, fibronektin, dan
komplemen juga berperan dalam pembunuhan mikroba. Sel fagosit antara lain sel
polimorfonuklear dan makrofag alveolar, memainkan peran penting dalam pertahanan tubuh dan
imunitas dimediasi sel terhadap patogen tertentu, terutama agen virus dan organisme intraseluler
lain.1,2
Selain itu, terdapat berbagai faktor risiko yang menyebabkan tingginya angka mortalitas
pneumonia pada anak di negara berkembang. Di bawah ini merupakan faktor risiko yang
berhubungan dengan insidensi community acquired pneumonia (CAP) pada anak balita di negara
berkembang.4

Faktor risiko definitif


Malnutrisi (BB/U <-2SD)
Berat badan lahir rendah (≤ 2500 gr)
Tidak mendapatkan ASI eksklusif (selama 4 bulan pertama)
Kurangnya imunisasi campak (dalam 12 bulan pertama)
Polusi dalam ruang tertutup
Kepadatan ruangan

Kemungkinan besar merupakan faktor risiko


Orang tua merokok
Defisiensi Fe
Pengalaman orang tua dalam merawat anak
Penyakit konkomitan (diare, penyakit jantung, asma)

Kemungkinan merupakan faktor risiko


Tingkat pendidikan ibu
Kedatangan di day care
Hujan (kelembaban)
Ketinggian (udara dingin)
Defisiensi vitamin A
Urutan kelahiran
Polusi udara di ruangan terbuka

Divisi Respirologi IKA RSHS |Diagnosis dan Tata Laksana Pneumonia Anak 3
Klasifikasi dan Etiologi
Pneumonia diklasifikasi berdasarkan beberapa sistem, antara lain berdasarkan
mikroorganisme penyebab, tempat terjadinya infeksi dan lain-lain. Klasifikasi berdasarkan
mikroorganisme penyebab, pneumonia dapat dibagi menjadi pneumonia bakteri, virus,
mikobakterium dan jamur.7,8 Bakteri adalah penyebab utama pneumonia di negara berkembang.
Penyebab utama pneumonia pada anak di negara berkembang adalah Streptococcus pneumonia
(30-50% kasus), selain itu Haemophilus influenzae type b (Hib) merupakan kedua terbanyak,
kemudian Staphylococcus aureus dan Klebsiella pneumoniae, sedangkan virus penyebab utama
pneumonia adalah respiratory syncytial virus (15-40% kasus). Berdasarkan tempat terjadinya
infeksi, dikenal dua bentuk pneumonia, yaitu pneumonia masyarakat (community acquired
pneumonia/ CAP), bila infeksinya terjadi di masyarakat, dan pneumonia rumah sakit atau
penumonia nosokomial (hospital acquired pneumonia/ HAP).5,9
Pola bakteri penyebab pneumonia biasanya berubah sesuai dengan distribusi umur
pasien. Penyebab pneumonia pada anak di negara berkembang berdasarkan usia dapat dilihat di
bawah ini. 10

Tabel 1 Etiologi pneumonia (CAP) anak sesuai umur


Umur Etiologi bakterial Etiologi viral Lain-lain
0-2 bulan Streptokokus grup B Respiratory syncytial virus Ureaplasma
Klebisella pneumoniae Influenza A&B urealyticum
Eschericia coli Parainfluenza viruses 1, 2 & Bordetella pertusis
Pseudomonas 3
Staphylococcus aureus Human metapneumovirus
Chlamydia trachomatis Rhinovirus
Listeria monocytogenes Adenovirus

2 bulan-5 tahun Streptococcus pneumoniae Respiratory syncytial virus


Mycoplasma pneumoniae Influenza A&B
Chlamydophila pneumoniae Parainfluenza viruses 1, 2 &
Haemophilus influenzae 3
Moraxella catarrhalis Human metapneumovirus
Staphylococcus aureus Rhinovirus
Mycoplasma pneumoniae Adenovirus

5 tahun atau lebih Streptococcus pneumoniae Influenza A&B


Mycoplasma pneumoniae Adenovirus tipe 4
Chlamydophila pneumoniae
Staphylococcus aureus
Dikutip dari: Dennehy11
Pneumonia nosokomial atau HAP adalah infeksi saluran nafas bawah yang terjadi lebih
dari 48 jam setelah masuk rumah sakit. HAP mengenai 0,5-1% pasien yang dirawat di rumah
sakit dan merupakan penyebab yang umum pada infeksi yang berhubungan dengan sarana
kesehatan yang menyebabkan kematian. VAP (ventilator associated pneumonia) merupakan
bagian dari HAP. Kematian pasien dengan VAP sekitar 24-50%, meningkat menjadi 76%
disebabkan patogen yang resisten terhadap berbagai antibiotik.12
Faktor predisposisi HAP termasuk usia (prematur, BBLR), status nutrisi yang buruk,
sattus imun paru-paru yang mendasari, lamanya perawatan di rumah sakit, anestesi umum,
intubasi endotrakeal, trakeostomi, terapi inhalasi, terapi antibiotik dan kolonisasi traktus
respiratorius dengan bakteri batang gram negatif. Penyebab spesifik HAP berbeda antar
institusi.13 Tabel di bawah ini menunjukkan penyebab HAP pada anak-anak.

Tabel 2. Penyebab HAP pada anak-anak


Bakteri Fungi Virus
Eschericia coli Candida Respiratory synctial virus
Klebsiella pneumoniae Aspergillus Influenza A/B
Pseudomonas aeruginosa Virus parainfluenza
Staphylococcus aureus Adenovirus
Staphylococcus epidermidis Cytomegalovirus
Enterokokus Virus Varicella-zoster
Bakteri gram negatif lainnya Virus Herpes Simpleks
Streptokokus penumoniae Measles
Haemophilus influenzae

Dikutip dari: Jacobs RF.13

Manifestasi Klinis dan Diagnosis


Sebagian besar pneumonia pada anak menunjukkan gambaran klinis yang ringan sampai
sedang, sehingga dapat berobat jalan sedangkan sebagian kecil anak mengalami pneumonia berat
yang mengancam kehidupan, dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Gambaran gejala klinis
pneumonia pada anak berupa gejala umum dan gejala gangguan pernapasan. Gejala umum, yaitu
demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan nafsu makan, keluhan gastrointestinal seperti
mual, muntah atau diare. Pada anak dengan malnutrisi berat, kadang demam tidak ditemukan.
Gejala gangguan pernapasan, antara lain batuk, sesak napas, retraksi dada, takipnea, napas
cuping hidung, air hunger, merintih, dan sianosis. 14

Divisi Respirologi IKA RSHS |Diagnosis dan Tata Laksana Pneumonia Anak 5
Pneumonia bakterial harus dipertimbangkan pada anak usia kurang dari 3 tahun yang
mengalami panas badan >38,5oC disertai retraksi dinding dada dan pernapasan cepat. Pneumonia
yang disebabkan oleh pneumokokus biasanya diawali dengan demam dan napas cepat. Gejala
lainnya yang umum ditemukan adalah kesukaran bernapas, retraksi dinding dada, dan anak
tampak tidak sehat (unwell appearance).
Pemeriksaan fisik yang ditemukan pada pneumonia tergantung usia anak. Pada neonatus
sering dijumpai takipnea, grunting, pernafasan cuping hidung, retraksi dinding dada, sianosis dan
malas menetek, sedangkan grunting jarang ditemukan pada bayi yang lebih besar. Gejala yang
sering terlihat pada anak adalah batuk, panas, dan iritabel. Pada anak usia sekolah, remaja yang
menunjukkan gejala demam, nyeri sendi, sakit kepala, batuk harus dicurigai pneumonia yang
disebabkan oleh mikoplasma didukung dengan ditemukan crackles pada pemeriksaan fisik.14
Menurut WHO, tiga langkah penting yang diperlukan untuk menurunkan kematian
diantara anak dibawah lima tahun dengan pnemonia yaitu pengenalan dini anak sakit,
pertolongan medis segera dan terapi antibiotik yang tepat. Untuk ketiga hal ini, WHO memberi
penuntun sederhana pada tabel di bawah ini:

Tabel 3. Kriteria pneumonia menurut WHO


Tanda Klasifikasi Terapi
 Napas cepat Pneumonia berat/  Rujuk ke RS segera untuk antibiotik iv atau
 Tarikan dinding dada bagian severe pneumonia oksigen
bawah  Berikan dosis pertama antibiotik yang sesuai.
 Stridor pada anak yang tenang
Nafas cepat Non-severe pneumonia  Berikan resep antibiotik yang tepat
 Nasihati ibu tentang pemberian dukungan yang
diperlukan dan kapan harus kunjungan kembali
Tidak ada napas cepat Penyakit respirasi Nasihati ibu tentang pemberian dukungan yang
lainnya diperlukan dan kapan harus kunjungan kembali jika
gejala menetap atau memburuk
Batasan pernapasan cepat:
< 2 bulan : frekuensi napas ≥ 60 kali/ menit
2 bulan – 12 bulan : frekuensi napas ≥ 50 kali/ menit
12 bulan – 5 tahun : frekuensi napas ≥ 40 kali/ menit

Dikutip dari: Wardlaw T, Johansson EW, Matthew Hodge2

Pada auskultasi, fine crackles (ronki basah halus) yang khas pada anak besar, bisa tidak
ditemukan pada bayi. Iritasi pleura akan menyebabkan nyeri dada; bila berat gerakan dada
menurun waktu inspirasi, anak berbaring ke arah yang sakit dengan kaki fleksi. Rasa nyeri dapat
menjalar ke leher, bahu, dan perut.15
Pemeriksaan penunjang diperlukan untuk menegakkan diagnosis pneumonia. Kultur
prenkim paru atau cairan pleura memerlukan prosedur invasif, sehingga pemeriksaan untuk
mencari etiologi pneumonia sering menggunakan metode tidak langsung seperti pemeriksaan
radiologis, pemeriksaan serologis, polymerase chain reaction assay (PCR) dari sekresi saluran
napas atas, dan/ atau kultur darah. Pemeriksaan sputum dan pemeriksaan serologis kurang
bermanfaat karena nilai spesifitas dan sensitivitas yang rendah. Berikut ini beberapa
pemeriksaan penunjang pada pneumonia:

Radiologis
Foto toraks posterior-anterior merupakan dasar diagnosis utama pneumonia. Foto lateral
dibuat bila diperlukan informasi tambahan. Pada bayi dan anak yang kecil, gambaran radiologis
sering tidak sesuai dengan gambaran klinis. Foto toraks secara rutin tidak direkomendasikan di
negara berkembang. Indikasi spesifik foto toraks adalah pneumonia sangat berat, dugaan
komplikasi pneumonia (efusi pleura), atau menilai respon terapi.16 Gambaran radiologis yang
klasik dapat dibedakan menjadi 3 macam:
 Konsolidasi lobar atau segmental disertai adanya air bronchogram, biasanya disebabkan
infeksi akibat pneumococcus atau bakteri lain.
 Pneumonia interstisial, biasanya karena virus atau Mycoplasma; gambaran berupa corakan
bronkovaskular bertambah dan overaeration; bila berat terjadi patchy consolidation karena
atelektasis.
 Gambaran pneumonia karena S. aureus dan bakteri lain biasanya menunjukkan gambaran
bilateral yang difus, corakan peribronkial yang bertambah, infiltrat halus sampai ke perifer.

Laboratorium.
Pada pneumonia yang disebabkan bakteri, dapat ditemukan pemeriksaan lekosit >
15.000/µL dengan dominasi netrofil, namun dapat pula karena pneumonia non-bakteri.
Diagnosis definitif pneumonia bakterial dengan isolasi mikroorganisme dari paru, cairan pleura,
atau darah namun pengambilan spesimen dari paru sangat invasif dan tidak rutin diindikasikan.
Kultur darah hanya positif pada 10-30% kasus.8,17

Divisi Respirologi IKA RSHS |Diagnosis dan Tata Laksana Pneumonia Anak 7
Pulse oksimetri.
Pengukuran saturasi oksigen merupakan pemeriksaan non-invasif yang dapat
memperkirakan oksigenasi arteri. Semua anak yang dirawat inap karena pneumonia seharusnya
diperiksa pulse oksimetri. Pemeriksaan ini sangat dianjurkan untuk pasien-pasien pneumonia di
negara berkembang dengan keterbatasan sarana untuk mendeteksi hipoksemia.

Pemeriksaan mikrobiologis.
Pemeriksaan biakan darah harus dilakukan pada semua anak yang dicurigai menderita
pneumonia bakteri, walaupun hasil positif hanya didapatkan pada 10% kasus.8,17

Penatalaksanaan
Dalam pemilihan terapi, faktor yang perlu dipertimbangkan adalah kuman yang dicurigai
atas dasar data klinis, etiologis, dan epidemiologis; berat ringannya penyakit; riwayat pengobatan
sebelumnya serta respon klinis; dan ada tidaknya penyakit yang mendasari.7 Walaupun
pneumonia viral dapat ditatalaksana tanpa antibiotik, tapi umumnya sebagian besar pasien diberi
antibiotik empiris karena infeksi bakteri sekunder tidak dapat disingkirkan.4,18-21
Anak dengan pneumonia ringan, dapat berobat jalan, diberikan antibiotik oral dan ibu
disarankan untuk kembali dalam 2 hari untuk dinilai kembali, atau lebih cepat bila terjadi
perburukan keadaan anak. Pada anak yang memerlukan perawatan di Rumah sakit,
penatalaksaan secara garis besar dibagi atas terapi umum dan khusus. Terapi umum berupa
pemberian oksigen, analgetik-antipiretik, dan dukungan cairan dan nutrisi yang adekuat
sedangkan terapi khusus berupa pemberian antibiotik. Di bawah ini merupakan terapi antibiotik
pada anak dengan pneumonia di negara berkembang menurut Ashraf dkk.10
Tabel 4. Terapi Antibiotik untuk CAP
Antibiotik Dosis rekomendasi Rute Lini terapi
Neonatus (0-4 minggu)
Amoksisilin + 100 mg/kg/hari tiap 12 jam IV Terapi lini pertama
gentamisin 6 mg/kg/hari tiap 12 jam IV
Ceftazidim + 75-100 mg/kg/hari tiap 8 jam IV Terapi lini kedua
Flucloxacillin 100 mg/kg/hari tiap 6 jam IV
Bayi >4-8 minggu
Ampisilin + 100 mg/kg/hari tiap 6 jam IV Terapi lini pertama
Gentamisin 6 mg/kg/hari tiap 12 jam IV
Ceftriaxon + 75-100 mg/kg/hari 1x sehari IV Terapi lini kedua
Gentamisin 6 mg/kg/hari tiap 12 jam IV

Bayi> 8 minggu sampai anak-anak usia 5 tahun dan di atas 5 tahun


Amoksisilin 100 mg/kg/hari tiap 8 jam IV Terapi lini pertama
Azitromisin 10 mg/kg/hari sekali sehari IV Terapi lini kedua
Ceftriaxon 75-100 mg/kg/hari 1x sehari IV Terapi lini ketiga
Pneumonia berat dengan malnutrisi berat
Ampisilin + 100 mg/kg/hari tiap 6 jam IV Terapi lini pertama
Gentamisin 6 mg/kg/hari tiap 12 jam IV
Ceftriaxon + 75-100 mg/kg/hari 1x sehari IV Terapi lini kedua
Gentamisin 6 mg/kg/hari tiap 12 jam IV
Ceftazidim + 75-100 mg/kg/hari tiap 8 jam IV Terapi lini ketiga
Flucloxacillin 100 mg/kg/hari tiap 6 jam IV
Suspek pneumonia disebabkan oleh S. aureus
Amoksisilin + 100 mg/kg/hari tiap 8 jam IV Terapi lini pertama
flukloksasilin 100 mg/kg/hari tiap 6 jam IV
Ceftriaxon + 75-100 mg/kg/hari 1x sehari IV Terapi lini kedua
Flukloksasilin 100 mg/kg/hari tiap 6 jam
(klindamisin/vankomisin
untuk MRSA)
Vankomisin 10 mg/kg tiap 8 jam IV Terapi lini ketiga
Suspek pneumonia yang disebabkan oleh Pseudomonas
Ceftazidim + 100 mg/kg/hari tiap 8 jam IV Terapi lini pertama
Ciprofloxacin 20 mg/kg/hari tiap 12 jam IV
Dikutip dari: Ashraf H, dkk 10

Terapi HAP dapat bersifat empiris maupun spesifik. Terapi empiris dilakukan bila
pneumonia diduga secara klinis dan etiologi tidak teridentifikasi untuk memandu terapi spesifik.
Ketika etiologi bakterialis diidentifikasi dan suseptibilitas tersedia, maka terapi empiris diubah
menjadi terapi spesifik.13

Divisi Respirologi IKA RSHS |Diagnosis dan Tata Laksana Pneumonia Anak 9
Umumnya terapi empiris HAP mencakup bakteri gram negatif dan gram positif. Perlu
dipertimbangkan pada pasien dengan risiko tinggi, antibiotik harus mencakup organisme yang
sangat resisten seperti Pseudomonas dan Acinetobacter.12,13 Terapi empiris juga harus termasuk
organisme gram positif seperti Staphylococcus aureus. Identifikasi MRSA dan atau
pertimbangan Staphylococcus epidermidis pada bayi prematur dengan pilihan regimen
antistafilokokus yang spesifik, seperti vankomisin.12
DAFTAR PUSTAKA

1. Durbin WJ, Stille C. Pneumonia. Pediatr Rev. 2008;29:147-60.


2. Wardlaw T, Johansson EW, Matthew Hodge. Pneumonia The forgotten killer of children.
The United Nations Children’s Fund (UNICEF)/World Health Organization (WHO).
2006.
3. McIntosh K. Community-acquired pneumonia in children. N Engl J Med.
2002;346(6):429-37
4. Rudan I, Pinto CB, Bilogav Z, Mulholland K, Campbell H. Epidemiology and etiology of
childhood pneumonia. Bulletin of the World Health Organization. 2008 May;86(5):408-
13.
5. Said M. Pneumonia. Dalam: Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB. Buku Ajar
Respirologi Anak. Edisi I. Jakarta: Badan penerbit IDAI. 2008; h. 350-65.
6. Gray D, Zar HJ. Childhood pneumonia in low and middle income countries: burden,
prevention and management. The Open Infect Dis J. 2010;4:74-84.
7. Garna H, Nataprawira HMD, Rahayuningsih SE. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu
Kesehatan Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung. Edisi ke-3. 2005; h 403-8.
8. Psarras S, Papadopoulos NG, Johnston SL. Infections of the Respiratory Tract. Dalam:
Chernick V, Boat TF, Wilmott RW, Bush A, penyunting. Kendig's Disorders of the
respiratory tract in children. Philadelphia: Saunders; 2006.
9. Ostapchuk M, Roberts DM, Haddy R. Community-Acquired Pneumonia in Infants and
Children. Am Fam Physician 2004;70:899-908.
10. Ashraf H, Chisti MJ, Alam NH. Treatment of childhood penumonia in developing
countries. Dalam: Smigorski K, penyunting, Health management. Bangladesh: Sciyo:
2010. h.64-78.
11. Dennehy PH. Community-Acquired Pneumonia In Children. Medicine and health/ Rhode
island. 2010;93(7):211-5.
12. Masterton RG, Galloway A, French G, Street M, Amstrong J, Brown E, dkk. Guidelines
for the management of hospital acquired pneumonia in the UK: Report of the Working
Party on hospital acquired pneumonia of the British society for antimicrobial

Divisi Respirologi IKA RSHS |Diagnosis dan Tata Laksana Pneumonia Anak 11
chemotherapy. J. Antimicr. Chem. 2008;62:5-34.
13. Jacobs RF. Nosocomial pneumonia in children. Infection. 1991;19(2).65-70.
14. Don M, Canciani M, Korppi M. Community-acquired pneumonia in children: what’s old?
What’s new? Acta Paediatr. 2010;99:1602-8.
15. Pusponegoro HD, Hadinegoro SRS, Firmanda D, Tridjaja B, Pudjiadi AH, Kosim MS dkk,
penyunting. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Edisi ke-1. Jakarta: Badan
Penerbit IDAI; 2005.
16. Standardization of interpretation of chest radiographs for the diagnosis of pneumonia in
children. Department of Vaccines and Biologicals-WHO. 2001:1-39.
17. Lee PI, Chiu CH, Chen PY, Lee CY, Lin TYL. Guidelines for the management of
community-acquired pneumonia in children. Acta Paediatr Tw. 2007:48(4):167-80.
18. British Thoracic Society of Standards of Care Committee. BTS guidelines for the
management of community acquired pneumonia in childhood. Thorax. 2002; 57:1-24.
19. Sigh V, Aneja S. Pneumonia-management in the developing world. Pediatr Resp Rev.
2011;12:52-59.
20. India Clinical Epidemiology Network Task Force on Pneumonia. Rational use of
antibiotics for pneumonia. Indian Pediatr. 2010;47:11-8.
21. World Health Organization, Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pelayanan
kesehatan anak di rumah sakit: pedoman bagi rumah sakit rujukan tingkat pertama di
kabupaten/kota. Cetakan ke-1. Jakarta: WHO Indonesia; 2009.
Umur Pasien rawat jalan Pasien rawat Inap Sakit Kritis/ dengan komplikasi
pasien (tanpa infiltrat lobar atau lobular, efusi pleura atau (dengan tanda sepsis, infiltrat alveolar, efusi
keduanya)2 pleura berat atau ketiganya)2
Lahir - 20 masuk rawat Ampicillin IV atau IM: Ampicillin IV atau IM, dosis sama dengan rawat
hari Umur <7 hari: inap
BB<2 kg: 50 - 100 mg/ kg/hari dalam dosis terbagi tiap 12 jam plus
BB>2 kg: 75 - 150 mg/kg/ hari dalam dosis terbagi tiap 8 jam Gentamicin IV atau IM, dengan atau tanpa
Usia ≥7 hari: cefotaxime IV*,dosis sama dengan rawat inap 1,2,3,4
BB<1.2 kg: 50 – 100 mg/kg/hari dosis terbagi tiap12 jam
BB 1.2 - 2 kg: 75 - 150 mg/kg/hari dosis terbagi tiap 8 jam *Vankomisin dan klindamisin harus dipertimbangkan
BB >2 kg: 100 - 200 mg/kg/hari dosis terbagi tiap 6 jam bila dipikirkan infeksi MRSA3
plus
Gentamicin IV atau IM:
<37 minggu gestasi dan
Umur 0- 7 hari: 2.5 mg per kg tiap12 jam
Umur >7 days: 2.5 mg per kg tiap 8 jam
Dengan atau tanpa
Cefotaxime IV:
Umur <7 hari:
100 mg/kg/hari dosis terbagi tiap 12 jam
Usia .7 hari:
150 mg/kg/hari dosis terbagi tiap 8jam 1,2,3,4

3 minggu Jika pasien afebris: Erythromycin, 40 mg/kg/hari IV dalam dosis terbagi tiap 6 Cefotaxime, 200 mg/kg/hari IV dalam dosis terbagi
– 3 bulan Azithromycin , jam.Ǿ tiap 8 jam
Ǿ
10 mg per kg oral pada jika pasien < 6 minggu, pertimbangkan pemberian azitromisin plus cloxacillin, 150- 200 mg/ kg/ hari IV dalam
hari 1, kemudian 5 mg per karena adanya laporan bahwa eritromisin menyebabkan dosis terbagi tiap 6 jam atau
kg per hari pada hari 2- 5 hypertrophic pyloric stenosis Cefuroxime saja, 150 mg /kg/ hari IV dalam dosis
atau Erythromycin, 30 - 40 Jika pasien febris, tambahkan: terbagi tiap8 jam 1,2
mg Cefotaxime, 200 mg/kg/hari IV dalam dosis terbagi tiap 8 jam
per kg per hari oral dalam atau
dosis terbagi tiap 6 jam Cefuroxime, 150 mg/kg/hari dalam dosis terbagi tiap8 jam1,2,3
selama 10 hari.
Rawat jika pasien demam Cefotaxim atau ceftriaxon IV ± ampisilin § Cefotaxim atau ceftriaxon IV ± ampisilin §*
atau hipoksia (123) §
tambahkan ampisilin bila diduga Listeria monocytogenes 3 *Vankomisin dan klindamisin harus dipertimbangkan
bila dipikirkan infeksi MRSA3
§
tambahkan ampsilin bila diduga Listeria
monocytogenes 3

Divisi Respirologi IKA RSHS |Diagnosis dan Tata Laksana Pneumonia Anak 13
Ampisilin 100 mg/kg/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam atau
Cetriaxon 75-100 mg/kg/hari 1x sehari
plus
Gentamisin 6 mg/kg/hari tiap 12 jam4
4 bulan – Amoxicillin, 90 mg per kg Cefotaxime, 150 mg/kg/hari IV dalam dosis terbagi tiap 6 jam Cefuroxime, 150 mg/kg/hari IV dalam dosis terbagi
5 tahun per hari oral dalam dosis atau tiap 8 jam,
terbagi tiap 8 jam selama Cefuroxime, 150 mg/kg/hari IV dalam dosis terbagi tiap 8 jam plus erythromycin, 40 mg/kg/hari IV atau oral dalam
7-10 hari dosis terbagi tiap 6 jam selama 10-14 hari atau
Pertimbangkan dosis Jika ada infeksi pneumokokus: Cefotaxime, 200 mg per kg perhari dalam dosis
inisial Ampicillin saja, 200 mg/kg/hari IV dalam dosis terbagi tiap 8 terbagi tiap 8 jam,
ceftriaxone, 50 mg/kg/hari jam 1,2,3 plus cloxacillin, 150 - 200mg/kg/hari IVdalam dosis
IM, hingga 1 g per hari, terbagi tiap 6 jam selama 10-14 days 1,2,3
Lanjutkan dengan terapi
oral.
Alternatif:
Amoxicillin-clavulanic
acid, azithromycin,
cefaclor, clarithromycin,
erythromycin
Lini pertama: Lini pertama: Ampisilin ± azitromisin IV ^ Lini pertama: Klindamisin IV plus cefotaxim IV
Amoksisilin ± azitromisin^ ^
Pertimbangkan menambahkan azitomisin bila gejala tetap ada atau cetfriaxon IV 3
^
Pertimbangkan walaupun sudah diberikan amoksisilin3
menambahkan azitomisin Lini kedua: Vankomisin IV plus cefotaxim IV atau
bila gejala tetap ada ceftriaxon IV 3
walaupun sudah diberikan
amoksisilin3,4 Lini kedua:
Lini kedua: klindamisin Klindamisin IV atau cefotaxim atau ceftriaxon 3,4
oral atau sefalosporin
generasi ketiga (cefdidnir
atau cefpidoxime) 3
5 tahun – Azithromycin, 10 mg per Cefuroxime, 150 mg/kg/hari IV dosis terbagi tiap 8 jam Cefuroxime, 150 mg/kg/hari IV dosis terbagi tiap 8
remaja kg (max 500 mg)oral pada plus jam
hari 1, diikuti 5mg/kg/hari Erythromycin, 40 mg/kg/hari IV atau plus
pada hari 2-5 atau Oral dalam dosis terbagi tiap 6 jam selama 10-14 hari Erythromycin, 40 mg/kg/hari IV atau oral dalam
Clarithromycin, 15 Jika ada infeksi pneumokokus: dosis terbagi tiap 6 jam selama 10-14 hari. 1
mg/kg/hari oral dosis Ampicillin saja, 200 mg/kg/hari
terbagi tiap 12 jam selama IV dalam dosis terbagi tiap 8jam 1,2
7-10 hari atau
Erythromycin, 40 mg per
kg/hari oral dalam dosis
terbagi tiap 6 jam selama
7-10 hari
Jika ada infeksi
pneumokokus:
Amoxicillin saja, 90 mg
per kg/hari oral dalam
dosis terbagi tiap 8 jam 1,2,3

Pada anak usia lebih dari 8 Atau Azitromisin IV 5 mg /kg.hari dalam 2 dosis terbagi Cefotaxim IV 200 mg/kg/hari atau Cefuroxim IV 150
tahun, pertimbangkan Pada anak usia > 8 tahun pertimbangkan Doksiisklin IV mg/kg/hari dalam 3 dosis terbagi, tiap 8 jam @
untuk memberikan 4mg/kg/hari dalam 2 dosis terbagi 2 tambahkan azitromisin bila pasien tampak sakit
Dokisiklin oral berat%
@
4mg/kg/hari dalam 2 dosis Jika ada bukti kuat penyebab bakterial (jumlah lekosit beberapa ahli menyarankan pemberian ampisilin
terbagi 2 meningkat, tidak ada respon terapi pada pasien rawat jalan 200-300 mg/kg/hari dibagi dalam 4 dosis tiap 6 jam,
dengan makrolid), tambahkan ampisilin 2 bila dengan gambaran lobar, pneumonia
pneumokokus
%
bila kultur menunjukkan MRSA atau pada daerah
yang MRSA sangat mungkin, Vankomisin harus
ditambahkan. 2
Lini pertama: azitromisin Lini pertama: Ampisilin ± azitromisin IV ^ Lini pertama: Klindamisin IV plus cefotaxim IV
^
± amoksisilin oral dosis Pertimbangkan menambahkan azitomisin bila gejala tetap ada atau cetfriaxon IV 3
tinggi # walaupun sudah diberikan amoksisilin3
#
monoterapi azitromisin
dapat diberikan bila ada
kecurigaan patogen
atipikal, bila tidak ada
perbaikan dalam 48 jam, Lini kedua: Lini kedua: Vankomisin IV plus cefotaxim IV atau
dapat ditambahkan Klindamisin IV atau cefotaxim atau ceftriaxon 3 ceftriaxon IV 3
ampisilin 3
Lini kedua: klindamisin
oral atau sefalosporin
generasi ketiga (cefdidnir
atau cefpidoxime) 3
1. Ostapchuk M, Roberts DM, Haddy R. Community-Acquired Pneumonia in Infants and Children. Am Fam Physician 2004;70:899-908.(9)
2. MacIntosh K. Community acquired pneumonia in children. N Engl J Med. 2002;346:429-37.(3)
3. Dennehy PH. Community-acquired pneumonia in children. Medicine and Health/Rhode Island. 2010;93(7):213.(11)
4. Ashraf H, Chisti MJ, Alam NH. Treatment of childhood penumonia in developing countries. Dalam: Smigorski K, penyunting, Health management.
Bangladesh: Sciyo: 2010. h.64-78.(10)

Divisi Respirologi IKA RSHS |Diagnosis dan Tata Laksana Pneumonia Anak 15

Anda mungkin juga menyukai