Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Infeksi virus Hepatitis B (HBV) yang pertama kali ditemukan pada tahun 1996,
telah terjadi pada lebih dari 350 juta penduduk di seluruh dunia. Infeksi HBV saat ini
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang besar serta serius, karena selain
manifestasinya sebagai penyakit HBV akut beserta komplikasinya, lebih penting lagi
ialah dalam bentuk sebagai karier, yang dapat menjadi sumber penularan bagi
lingkungan.1,3
Hepatitis B biasanya ditularkan dari orang ke orang melalui kontak perkutaneus
atau permukosal terhadap cairan tubuh dari seseorang yang terinfeksi HBV, melalui
hubungan seksual dan transmisi perinatal dari seorang ibu yang terinfeksi ke bayinya.
Manifestasi klinis dapat bervariasi mulai dari hepatitis subklinik hingga hepatitis
simtomatik, dan meskipun jarang dapat terjadi hepatitis fulminan. Komplikasi jangka
panjang dari hepatitis mencakup sirosis hepatis dan hepatoma.1
Infeksi VHB pada wanita hamil dapat ditularkan secara tranplasental dan 20 %
dari anak yang terinfeksi melalui jalur ini akan berkembang menjadi kanker hati primer
atau sirosis hepatis pada usia dewasa. Oleh karena itu bayi yang lahir dari ibu carier
HBsAg harus diimunisasi dengan memberikan immunoglobulin dan vaksin hepatitis B
segera.
Saat ini di seluruh dunia diperkirakan lebih 350 juta orang pengidap HBV
persisten, hampir 74 % (lebih dari 220 juta) pengidap bermukim dinegara-negara Asia.
Bagian dunia yang endemisitasnya tinggi adalah terutama Asia yaitu Cina, Vietnam,
Korea, dimana 50–70 % dari penduduk berusia antara 30 – 40 tahun pernah kontak
dengan HBV, dan sekitar 10 – 15 % menjadi pengidap Hepatitis B Surfase Antigen
(HbsAg). Menurut WHO Indonesia termasuk kelompok daerah dengan endemisitas
sedang dan berat (3,5 – 20 %).1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Hepatitis B merupakan penyakit infeksi virus pada hati yang disebabkan oleh
virus hepatitis B.2,3 Virus hepatitis B menyerang hati, masuk melalui darah ataupun cairan
tubuh dari seseorang yang terinfeksi seperti halnya virus HIV. Virus hepatitis B adalah
virus nonsitopatik, yang berarti virus tersebut tidak menyebabkan kerusakan langsung
pada sel hepar. Sebaliknya, adalah reaksi yang bersifat menyerang sistem kekebalan
tubuh yang biasanya menyebabkan radang dan kerusakan pada hepar.3

B. ETIOLOGI DAN PATOGENESIS


Hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB). Virus ini pertama kali
ditemukan oleh Blumberg pacta tahun 1965 dan di kenal dengan nama antigen Australia.
Virus ini termasuk DNA virus.2
Virus hepatitis B berupa partikel dua lapis berukuran 42 nm yang disebut "Partikel
Dane". Lapisan luar terdiri atas antigen HBsAg yang membungkus partikel inti (core).
Pada inti terdapat DNA VHB Polimerase. Pada partikel inti terdapat Hepatitis B core
antigen (HBcAg) dan Hepatitis B e antigen (HBeAg). Antigen permukaan (HBsAg)
terdiri atas lipo protein dan menurut sifat imunologik proteinnya virus Hepatitis B dibagi
menjadi 4 subtipe yaitu adw, adr, ayw dan ayr. Subtipe ini secara epidemiologis penting,
karena menyebabkan perbedaan geomorfik dan rasial dalam penyebarannya. Virus
hepatitis B mempunyai masa inkubasi 45-80 hari, rata-rata 80-90 hari.3

Pada manusia hati merupakan target organ bagi virus hepatitis B. Virus Hepatitis
B (VHB) mula-mula melekat pada reseptor spesifik di membran sel hepar kemudian
mengalami penetrasi ke dalam sitoplasma sel hepar. Dalam sitoplasma VHB melepaskan
mantelnya, sehingga melepaskan nukleokapsid. Selanjutnya nukleokapsid akan
menembus dinding sel hati. Di dalam inti asam nukleat VHB akan keluar dari
nukleokapsid dan akan menempel pada DNA hospes dan berintegrasi; pada DNA
tersebut. Selanjutnya DNA VHB memerintahkan sel hati untuk membentuk protein bagi
virus baru dan kemudian terjadi pembentukan virus baru. Virus ini dilepaskan ke
peredaran darah, mekanisme terjadinya kerusakan hati yang kronik disebabkan karena
respon imunologik penderita terhadap infeksi. Respon antibody humoral bertanggung
jawab terhadap proses pembersihan partikel virus yang berada dalam sirkulasi, sedangkan
antibody seluler mengeliminasi sel-sel yang terinfeksi. Apabila reaksi imunologik tidak
ada atau minimal maka terjadi keadaan karier sehat.4

C. FAKTOR PREDISPOSISI
Faktor Host (Penjamu)
Adalah semua faktor yang terdapat pada diri manusia yang dapat mempengaruhi
timbulnya penyakit hepatitis B. Faktor penjamu meliputi:
a. Umur
Hepatitis B dapat menyerang semua golongan umur. Paling sering pada bayi dan anak
(25 - 45,9 %) resiko untuk menjadi kronis, menurun dengan bertambahnya umur
dimana pada anak bayi 90 % akan menjadi kronis, pada anak usia sekolah 23 -46 %
dan pada orang dewasa 3-10%.8 Hal ini berkaitan dengan terbentuk antibodi dalam
jumlah cukup untuk menjamin terhindar dari hepatitis kronis.
b. Jenis kelamin
Berdasarkan sex ratio, wanita 3x lebih sering terinfeksi hepatitis B dibanding pria.
c. Mekanisme pertahanan tubuh
Bayi baru lahir atau bayi 2 bulan pertama setelah lahir lebih sering terinfeksi hepatitis
B, terutama pada bayi yang sering terinfeksi hepatitis B, terutama pada bayi yang
belum mendapat imunisasi hepatitis B. Hal ini karena sistem imun belum berkembang
sempurna.
d. Kebiasaan hidup
Pecandu obat narkotika suntikan, pemakaian tatto, pemakaian akupuntur.

e. Pekerjaan
Kelompok resiko tinggi untuk mendapat infeksi hepatitis B adalah dokter, dokter
bedah, dokter gigi, perawat, bidan, petugas kamar operasi, petugas laboratorium
dimana mereka dalam pekerjaan sehari-hari kontak dengan penderita dan material
manusia (darah, tinja, air kemih).

Faktor Agent
Penyebab Hepatitis B adalah virus hepatitis B termasuk DNA virus. Virus
Hepatitis B terdiri atas 3 jenis antigen yakni HBsAg, HBcAg, dan HBeAg.

Faktor Lingkungan
Merupakan keseluruhan kondisi dan pengaruh luar yang mempengaruhi
perkembangan hepatitis B. Yang termasuk faktor lingkungan adalah:
a. Lingkungan dengan sanitasi jelek
b. Daerah dengan angka prevalensi VHB nya tinggi
c. Daerah unit pembedahan: Ginekologi, gigi, mata.
d. Daerah unit laboratorium
e. Daerah unit bank darah.
f. Daerah dialisa dan transplantasi.
g. Daerah unit perawatan penyakit dalam5

D. SUMBER DAN CARA PENULARAN


Dalam kepustakaan disebutkan cara penularan virus Hepatitis B berupa:5
a. Darah: penerimaan produk darah, pasien hemodialisis, pekerja kesehatan, pekerja
yang terpapar darah.
b. Transmisi seksual.
c. Penetrasi jaringan (perkutan) atau permukosa: tertusuk jarum, penggunaan ulang
peralatan medi yang terkontaminasi, penggunaan bersama pisau cukur dan silet,
tato, akuunktur, tindik, penggunaan sikat gigi bersama.
d. Transmisi maternal-neonatal, maternal-infant.

Secara epidemiologik penularan infeksi virus hepatitis B dibagi 2 cara penting


yaitu:1
a. Penularan vertikal; yaitu penularan infeksi virus hepatitis B dari ibu yang HBsAg
positif kepada anak yang dilahirkan yang terjadi selama masa perinatal. Penularan
vertical sebagian besar (95%) terjadi saat persalinan, hanya sebagian kecil saja
(5%) selama bayi didalam kandungan. Penularan yang terjadi pada masa perinatal
dapat melalui maternofetal micro infusion yang terjadi pada saat terjadi kontraksi
uterus, tertelannya cairan amnion yang mengandung VHB serta masuknya VHB
melalui lesi yang terjadi pada kulit bayi pada waktu melalui jalan lahir. Penularan
infeksi vertikal juga dapat terjadi setelah persalinan
b. Penularan horizontal; yaitu penularan infeksi virus hepatitis B dari seorang
pengidap virus hepatitis B kepada orang lain disekitarnya.
E. MANIFESTASI KLINIS
Berdasarkan gejala klinis dan petunjuk serologis, manifestasi klinis hepatitis B
dibagi 2 yaitu :
1. Hepatitis B akut yaitu manifestasi infeksi virus hepatitis B terhadap individu yang
sistem imunologinya matur sehingga berakhir dengan hilangnya virus hepatitis B dari
tubuh kropes. Hepatitis B akut terdiri atas :1
a. Hepatitis B akut yang khas
Bentuk hepatitis ini meliputi 95 % penderita dengan gambaran ikterus yang jelas.
Gejala klinis terdiri atas 3 fase yaitu :
1) Fase Praikterik (prodromal)
Merupakan fase di antara timbulnya keluhan-keluhan dengan gejala timbulnya
ikterus. Ditandai dengan malaise umum, mialgia, atralgia dan mudah lelah,
gejala saluran napas atas dan anoreksia. Nyeri abdomen biasanya ringan dan
menetap di kuadran kanan atas atau epigastrium, kadang diperberat dengan
aktivitas. 5
2) Fase lkterik
Ikterus muncul setelah 5-10 hari. Pada banyak kasus fase ini tidak terdeteksi.
Setelah timbul ikterus jarang terjadi perburukan gejala prodormal, tetapi justru
akan terjadi perbaikan klinis yang nyata. Terjadi hepatomegali dan
splenomegali.5

3) Fase Konvalesen (Penyembuhan)


Diawali dengan menghilangnya ikterus dan kelainan lain, tetapi hepatomegali
dan abnormalitas fungsi hati tetap ada. Munculnya perasaan sudah lebih sehat,
kembalinya nafsu makan. Keadaan akut biasanya akan membaik dalam 2-3
minggu. Perbaikan klinis dan laboratorium lengkap akan terjadi dalam 16
minggu.5
b. Hepatitis Fulminan
Bentuk ini sekitar 1 % dengan gambaran sakit berat dan sebagian besar
mempunyai prognosa buruk dalam 7-10 hari, lima puluh persen akan berakhir
dengan kematian. Adakalanya penderita belum menunjukkan gejala ikterus yang
berat, tetapi pemeriksaan SGOT (Serum Glutamic Oxaloasetic Transaminase)
memberikan hasil yang tinggi pada pemeriksaan fisik, hati menjadi lebih kecil,
kesadaran cepat menurun hingga koma, mual dan muntah yang hebat disertai
gelisah, dapat terjadi gagal ginjal akut dengan anuria dan uremia.2
2. Hepatitis B kronis yaitu manifestasi infeksi virus hepatitis B terhadap individu dengan
sistem imunologi kurang sempurna sehingga mekanisme, untuk menghilangkan VHB
tidak efektif dan terjadi koeksistensi dengan VHB. Ada 3 fase penting dalam
perjalanan penyakit hepatitis B kronik:
a. Fase imunotoleransi.
Pada masa anak-anak sistem imun tubuh dapat toleran terhadap VHB sehingga
kadar virus dalam darah dapat sedemikian tingginya namun tidak terjadi
peradangan yang berarti. Dalam keadaan tersebut VHB ada dalam fase replikatif
denga titer HbsAg yang tinggi, HbeAg positif, anti Hbe negatif, titer DNA VHB
tinggi dengan kadar ALT (alanin aminotransferase) yang relatif normal.
b. Fase imunoaktif atau fase immune clearance.
Pada sekitar 30% individu dengan persistensi VHB akibat terjadinya replikasi
VHB yang berkepanjangan, terjadi proses nekroinflamasi yang ditandai dengan
naiknya kadar ALT. Pada keadaan ini pasien mulai kehilangan toleransi imun
terhadap VHB. Pada fase ini tubuh berusaha menghancurkan virus dan
menimbulkan pecahnya sel-sel hati yang terinfeksi VHB.
c. Fase nonreplikatif atau fase residual.
Sekitar 70% individu akhirnya dapat menghilangkan sebagian besar partikel VHB
tanpa ada kerusakan sel yang berarti. Pada keadaan ini titer HbsAg rendah dengan
HbeAg yang menjadi negatif dan anti Hbe yang menjadi positif secara spontan,
serta kadar ALT yang normal, yang menandai terjadinya fase nonreplikatif atau
fase residual. Sekitar 20-30% pasien dalam fase residual dapat mengalami
reaktivasi dan menyebabkan kekambuhan.

F. DIAGNOSIS
Oleh karena penderita hepatitis B, terutama pada anak seringkali tanpa gejala
maka diagnosis seringkali hanya bisa ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium.
Kadangkala baru dapat diketahui pada waktu menjalani pemeriksaan rutin atau untuk
pemeriksaan dengan penyakit-penyakit yang lain.4
Tes laboratorium yang dipakai untuk menegakkan diagnosis adalah:3
1. Tes antigen-antibodi virus Hepatitis B:
a. HbsAg (antigen permukaan virus hepatatitis B)
Merupakan material permukaan/kulit VHB. HBsAg mengandung protein yang
dibuat oleh sel-sel hati yang terinfesksi VHB. Jika hasil tes HBsAg positif, artinya
individu tersebut terinfeksi VHB, karier VHB, menderita hepatatitis B akut
ataupun kronis. HBsAg bernilai positif setelah 6 minggu infeksi VHB dan
menghilang dalam 3 bulan. Bila hasil tetap setelah lebih dari 6 bulan berarti
hepatitis telah berkembang menjadi kronis atau pasien menjadi karier VHB.
HbsAg positif makapasien dapat menularkan VHB.
b. Anti-HBs (antibodi terhadap HBsAg)
Merupakan antibodi terhadap HbsAg. Keberadaan anti-HBsAg menunjukan
adanya antibodi terhadap VHB. Antibodi ini memberikan perlindungan terhadap
penyakit hepatitis B. Jika tes anti-HbsAg bernilai positif berarti seseorang pernah
mendapat vaksin VHB ataupun immunoglobulin. Hal ini juga dapat terjadi pada
bayi yang mendapat kekebalan dari ibunya. Anti-HbsAg posistif pada individu
yang tidak pernah mendapat imunisasi hepatitis B menunjukkan bahwa individu
tersebut pernah terinfeksi VHB.
c. HbeAg
Yaitu antigen envelope VHB yang berada di dalam darah. HbeAg bernilai positif
menunjukkan virus VHB sedang aktif bereplikasi atau membelah/memperbayak
diri. Dalam keadaan ini infeksi terus berlanjut. Apabila hasil positif dialami
hingga 10 minggu maka akan berlanjut menjadi hepatitis B kronis. Individu yang
memiliki HbeAg positif dalam keadaan infeksius atau dapat menularkan
penyakitnya baik kepada orang lain maupun janinnya.
d. Anti-Hbe
Merupakan antibodi terhadap antigen HbeAg yang diproduksi oleh tubuh. Anti-
HbeAg yang bernilai positif berati VHB dalam keadaan fase non-replikatif.
e. HbcAg (antigen core VHB)
Merupakan antigen core (inti) VHB, yaitu protein yang dibuat di dalam inti sel
hati yang terinfeksi VHB. HbcAg positif menunjukkan keberadaan protein dari
inti VHB.
f. Anti-Hbc (antibodi terhadap antigen inti hepatitis B)
Merupakan antibodi terhadap HbcAg. Antibodi ini terdiri dari dua tipe yaitu IgM
anti HBc dan IgG anti-HBc. IgM anti HBc tinggi menunjukkan infeksi akut. IgG
anti-HBc positif dengan IgM anti-HBc negatif menunjukkan infeksi kronis pada
seseorang atau orang tersebut penah terinfeksi VHB. 3,4

G. Pengaruh Terhadap Kehamilan dan Bayi


Dilaporkan 10-20 % ibu hamil dengan HBsAg positif yang tidak mendapatkan
imunoprofilaksis, menularkan virus pada neonatusnya Dan ± 90 % wanita hamil
dengan seropositif untuk HBsAg dan HBeAg menularkan virus secara vertikel kepada
janinnya dengan insiden ± 10 % pada trimester I dan 80-90 % pada trimester III.
Adapun faktor predisposisi terjadinya transmisi vertikal adalah(7) :
1. Titer DNA VHB yang tinggi
2. Terjadinya infeksi akut pada trimester III
3. Pada partus memanjang yaitu lebih dari 9 jam
Sedangkan ± 90 % janin yang terinfeksi akan menjadi kronis dan mempunyai
resiko kematian akibat sirosis atau kanker hati sebesar 15-25 % pada usia dewasa
nantinya.
Infeksi VHB tidak menunjukkan efek teratogenik tapi mengakibatkan insiden
Berat Badan Lahir Rendah ( BBLR ) dan Prematuritas yang lebih tinggi diantara ibu
hamil yang terkena infeksi akut selama kehamilan. Dalam suatu studi pada infeksi
hepatitis akut pada ibu hamil (tipe B atau non B) menunjukkan tidak ada pengaruh
terhadap kejadian malformasi kongenital, lahir mati atau stillbirth, abortus, ataupun
malnutrisi intrauterine. Pada wanita dengan karier VHB tidak akan mempengaruhi
janinnya, tapi bayi dapat terinfeksi pada saat persalinan (baik pervaginam maupun
perabdominan) atau melalui ASI atau kontak dengan karier pada tahun pertama dan
kedua kehidupannya .Pada bayi yang tidak divaksinasi dengan ibu karier mempunyai
kesempatan sampai 40 % terinfeksi VHB selama 18 bulan pertama kehidupannya dan
sampai 40 % menjadi karier jangka panjang dengan resiko sirosis dan kanker hepar
dikemudian harinya.7
VHB dapat melalui ASI sehingga wanita yang karier dianjurkan mendapat
Imunoglobulin hepatitis B sebelum bayinya disusui. Penelitian yang dilakukan Hill
JB,dkk (dipublikasikan tahun 2002) di USA mengenai resiko transmisi VHB melalui
ASI pada ibu penderita kronis-karier menghasilkan kesimpulan dengan
imunoprofilaksis yang tepat termasuk Ig hepatitis B dengan vaksin VHB akan
menurunkan resiko penularan. Sedangkan penelitian WangJS, dkk (dipublikasikan
2003) mengenai resiko dan kegagalan imunoprofilaksis pada wanita karier yang
menyusui bayinya menghasilkan kesimpulan tidak terdapat perbedaan yang
bermakna antara ASI dengan susu botol. Hal ini mengindikasikan bahwa ASI tidak
mempunyai pengaruh negatif dalam merespon anti HBs.Sedangkan transmisi VHB
dari bayi ke bayi selama perawatan sangat rendah.(4)
Ibu hamil yang karier VHB dianjurkan untuk memberikan bayinya
Imunoglobulin Hepatitis B (HBIg) sesegera mungkin setelah lahir dalam waktu 12
jam sebelum disusui untuk pertama kalinya dan sebaiknya vaksinasi VHB diberikan
dalam 7 hari setelah lahir. Imunoglobulin merupakan produk darah yang diambil dari
darah donor yang memberikan imunitas sementara terhadap VHB sampai vaksinasi
VHB memberikan efek. Vaksin hepatitis B kedua diberikan sekitar 1 bulan kemudian
dan vaksinasi ketiga setelah 6 bulan dari vaksinasi pertama. Penelitian yang dilakukan
Lee SD, dkk (dipublikasikan 1988) mengenai peranan Seksio Sesarea dalam
mencegah transmisi VHB dari ibu kejanin menghasilkan kesimpulan bahwa SC yang
dikombinasikan dengan imunisasi Hepatitis B dianjurkan pada bayi yang ibunya
penderita kronis-karier HbsAg dengan level atau titer DNA-VHB serum yang tinggi.4
Tes hepatitis B terhadap HBsAg dianjurkan pada semua wanita hamil pada
saat kunjungan antenatal pertama atau pada wanita yang akan melahirkan tapi belum
pernah diperiksa HbsAg-nya. Lebih dari 90 % wanita ditemukan HbsAg positif pada
skreening rutin yang menjadi karier VHB. Tetapi pemeriksaan rutin wanita hamil tua
untuk skreening tidak dianjurkan kecuali pada kasus-kasus tertentu seperti pernah
menderita hepatitis akut, riwayat tereksposure dengan hepatitis, atau mempunyai
kebiasaan yang beresiko tinggi untuk tertular seperti penyalahgunaan obat-obatan
parenteral selama hamil, maka test HbsAg dapat dilakukan pada trimester III
kehamilan. HbsAg yang positif tanpa IgM anti HBc menunjukkan infeksi kronis
sehingga bayinya harus mendapat HBIg dan vaksin VHB.7
h. Pencegahan
Pencegahan penularan VHB dapat dilakukan dengan melakukan aktifitas
seksual yang aman, tidak menggunakan bersama obat-obatan yang mempergunakan
alat seperti jarum, siringe, filter, spons, air dan tourniquet, dsb, tidak memakai
bersama alat-alat yang bisa terkontaminasi darah seperti sikat gigi, gunting kuku, dsb,
memakai pengaman waktu kerja kontak dengan darah, dan melakukan vaksinasi
untuk mencegah penularan.4
Profilaksis pada wanita hamil yang telah tereksposure dan rentan terinfeksi
adalah sbb6 :
1. Ketika kontak seksual dengan penderita hepatitis B terjadi dalam 14 hari
 Berikan vaksin VHB kedalam m.deltoideus. Tersedia 2 monovalen vaksin VHB
untuk imunisasi pre-post eksposure yaitu Recombivax HB dan Engerix-B. Dosis
HBIg yang diberikan 0,06 ml/kgBB IM pada lengan kontralateral.
 Untuk profilaksis setelah tereksposure melalui perkutan atau luka mukosa, dosis
kedua HBIg dapat diberikan 1 bulan kemudian.
2. Ketika tereksposure dengan penderita kronis VHB
Pada kontak seksual, jarum suntik dan kontak nonseksual dalam rumah dengan
penderita kronis VHB dapat diberikan profilaksis post eksposure dengan vaksin
hepatitis B dengan dosis tunggal.
Wanita hamil dengan karier VHB dianjurkan memperhatikan hal-hal sbb :
 Tidak mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan hepatotoksik seperti
asetaminophen
 Jangan mendonorkan darah, organ tubuh, jaringan tubuh lain atau semen
 Tidak memakai bersama alat-alat yang dapat terkontaminasi darah seperti sikat
gigi,dsb.
 Memberikan informasi pada ahli anak, kebidanan dan laboratorium bahwa
dirinya penderita hepatitis B carier.
 Pastikan bayinya mendapatkan HBIg saat lahir, vaksin hepatitis B dalam 1
minggu setelah lahir, 1 bulan dan 6 bulan kemudian.
 Konsul teratur kedokter
 Periksa fungsi hati.

Rekomendasi dari SOGC (The Society Obstetric and Gynaecologic of Canada)


mengenai amniosintesis sbb(6):
 Resiko infeksi VHB pada bayi melalui amniosintesis adalah rendah. Pengetahuan
tentang status antigen HBc pada ibu sangat berharga dalam konseling tentang
resiko penularan melalui amniosintesis.
 Untuk wanita yang terinnfeksi dengan VHB, VHC dan HIV yang memerlukan
amniosintesis diusahakan setiap langkah-langkah yang dilakukan jangan sampai
jarumnya mengenai plasenta.

Pilihan persalinan
Pilihan persalinan dengan Seksio sesaria telah diusulkan dalam menurunkan
resiko transmisi VHB dari ibu kejanin. Walaupun dari penelitian para ahli cara
persalinan tidak menunjukkan pengaruh yang bermakna dalam transmisi VHB dari
ibu ke janin yang mendapatkan imunoprofilaksis. ACOG tidak merekomendasikan
SC untuk menurunkan transmisi VHB dari ibu ke janin. Pada persalinan ibu hamil
dengan titer VHB tinggi (> 3,5 pg/ml atau HbeAg positif) lebih baik SC sebagai
pilihan cara persalinan.
\
BAB III

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. E
Umur : 37 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jl. Duren Bangka RT 002 RW 002
Suku/bangsa : Betawi/Indonesia
Pendidikan Terakhir : SLTA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status pernikahan : Menikah

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 19 Mei 2019 di
Ruang 6007 Bangsal Lavender 1, Lantai 6 RSUD Pasar Minggu.

a. Keluhan Utama : Sesak Nafas

b. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien G2P1A0 hamil 37-38 minggu datang ke RSUD Pasar Minggu,
rujukan dari PKM Pancoran dengan keluhan sesak nafas sejak 2 minggu SMRS,
serta HbSAg (+).
HPHT pasien 20/ 09/ 2018. Taksiran Partus tanggal 27/06/2019. Test pack
(+) pada pertengahan bulan oktober. Pasien rutin ANC di PKM Pancoran dirujuk
untuk melakukan USG di RSUD Pasar Minggu. USG pertama kali saat usia
kehamilan pasien 12 minggu
Pasien mengeluhkan sesak sudah sejak usia kehamilan 12 minggu, saat itu
pasien sempat dirawat dengan keluhan sesak nafas yang makin sering.
. Memasuki usia kehamilan 9 bulan, pasien mengeluh sesak, kaki bengkak,
sering nyeri kepala dan pasien mengeluh mual muntah. Pada kunjungan ANC
terakhir, pasien mengeluh mual muntah (+), sulit makan, nyeri ulu hati (+).
Keluhan mules (-), keluar air-air (-), flek (-), perdarahan pervaginam (-),
keputihan (+) warna putih kental, tidak gatal, tidak berbau dan tidak ada nyeri di
vagina. Gerak janin (+). Dokter kembali menyarankan untuk dilakukan operasi
casesar. Kemudian pasien dan suami pun setuju untuk melakukan persalinan
dengan SC.

c. Riwayat Penyakit Dahulu.


 Riwayat Asma (+) sejak kehamilan ke 2 (saat ini)
 Hepatitis B (+) baru diketahui ketika pasien hamil.
 Riwayat Penyakit Keluarga
 Riwayat asma : disangkal.
 Riwayat tekanan darah tinggi : disangkal.
 Riwayat DM : disangkal.

d. Riwayat Sosial Ekonomi


 Pasien seorang IRT, merokok (-), alkohol (-)
 Suami pasien seorang pekerja lepas, merokok (+), alkohol (+)
e. Riwayat Menstruasi
 Haid pertama usia : 13 tahun
 Siklus haid : teratur, siklus 28 hari ±7 hari
 Lama haid : 10 hari, 3-4x ganti pembalut
 Nyeri haid : (+)
f. Riwayat Pernikahan
Status pernikahan : menikah 1x, lama pernikahan 20 tahun, usia saat
aaaaaaaaaaaaaaaaaa menikah 17 tahun
g. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Tahun Jenis Jenis
BBL ASI
Lahir Kelamin Persalinan
1999 Laki-laki 2800 g Normal ASI 2 th

h. Riwayat Kontrasepsi
KB Suntik pada saat anak pertama berumur 3 tahun

III. PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan fisik dilakukan tanggal 19 Mei 2019
 Keadaan umum : Tampak Sakit Sedang
 Kesadaran : Compos Mentis
 GCS : E4M6V5
 Vital sign
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 70 x/menit isi cukup kuat angkat
Pernapasan : 20x/menit
Suhu : 36.5˚C
- Status gizi : Kesan gizi cukup

a. Status generalis
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), pupil isokor diameter 2mm/2mm.
Aaaaaaaaaaaa RCL +/+ RCTL +/+
Hidung : Terpasang Nasal kanul dengan O2 2 lpm
Telinga : dalam batas normal
Mulut : dalam batas normal
Leher : deviasi (-), pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-)
Thorax :
- Cor :
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat.
Palpasi : ictus cordis teraba di ICS IV linea midclavicularis sinistra,
Perkusi : pekak
Auskultasi : normal, tidak ada suara tambahan.
- Pulmo :
Inspeksi : pergerkan dinding dada simetris.
Palpasi : vokal fremitus simetri
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : suara dasar vesikuler ekspirasi memanjang +/+, Rhonki -/-,
Wheezing +/+.

Abdomen :
Inspeksi : perut tampak membucit sesuai usia kehamilan
Auskultasi : Bising Usus (+)
Perkusi : timpani
Palpasi : supel

Ekstremitas
Superior : akral hangat (+/+), edema kedua tangan (-/-)
Inferior : akral hangat (+/+), edema kedua kaki (-/-)

b. Status Obstetri
Abdomen : Membuncit sesuai usia kehamilan
TFU : 35 cm
Leopold I : teraba Bokong
Leopold II : teraba Punggung Kanan
Leopold III : teraba Kepala
Leopold IV : teraba konvergen
His : (-)
Denyut jantung janin : (+) 145x/i, regular
EBW : 3410 gr
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil lab 03/01/2019 :
- Hb : 10,7 g/dl - SGOT : 71 u/L
- Ht : 33% - SGPT : 15 u/L
- Leukosit : 13.600 /ul - GDS : 100 mg/dl
- Trombosit : 266.000/ ul - Ureum : 69 mg/dl
- Eritrosit : 3.790.000 /ul - Kreatinin 3.76 mg/dl
- RDW : 15 % - PH : 7.43
- MCV : 88 fl - PCO2 : 19.8 mmHg
- MCH : 28 pg - PO2 : 202.8 mmHg
- MCHC : 32 g/dl - HCO3 : 13.3 mmol/L
- Basofil 0 % - SO2 : 99.8 %
- Eosinofil 0 % - BE : -7.93 mmol/L
- Neutrofil batang : 0 % - Na : 145 mmol/L
- Neutrofil segmen : 88 % - K : 4.60 mmol/L
- Limfosit : 8 % - Cl : 103 mmol/L
- Monosit : 4 %
- LED : 54 mm/ jam

V. DIAGNOSIS

VI. PENATALAKSANAAN
a. Penatalaksanaan di IGD RSUD Cibinong
b. Penatalaksanaan di RSUD Pasar Minggu VK (02.34)
 Terapi sebelumnya lanjut
 Konsul dr Hendrivand, Sp.OG
 Konsul dr. Dyah Sp.An
 Konsul dr. Reza Sp.JP
 Lasix 2x2 amp (IV)
 Cek albumin
FOLLOW UP PASIEN
Jumat, 04 Januari 2019
S/ kontak (-) pasien gelisah
O/ Keadaan umum : Tampak Sakit Sedang
Kesadaran : Tampak Sakit Sedang
GCS : 15 Compos Mentis
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 77 x/menit isi cukup kuat angkat
Pernapasan : 21 x/menit on Nasal Canul 3 lpm
Suhu : 36.5˚C
SpO2 : 100%
Status generalis :
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), pupil isokor diameter 2mm/2mm.
Aaaaaaaaaaa RCL +/+ RCTL +/+
Hidung : sulit dinilai karena terpasang NGT
Telinga : liang telinga lapang, serumen -/-
Mulut : Bibir sianosis (-), faring hiperemis (tidak dapat dinilai)
Leher : deviasi (-), pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-)
Thorax :
- Cor :
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat.
Palpasi : ictus cordis teraba di ICS IV linea midclavicularis sinistra,
Perkusi : pekak
Auskultasi : normal, tidak ada suara tambahan.
- Pulmo :
Inspeksi : pergerkan dinding dada simetris, retraksi (+).
Palpasi : sulit dinilai.
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : suara dasar vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wheezing -/-.

Abdomen :
Inspeksi : perut tampak sedikit membuncit setelah persalinan
Auskultasi : Bising Usus (+)
Perkusi : timpani
Palpasi : supel

Ekstremitas
Superior : akral dingin (-/-), edema kedua tangan (-/-)
Inferior : akral dingin (+/+), edema kedua kaki (-/-)\

Pemeriksaan obstetric pre SC:


- TFU : 2 jari dibawah umbilicus
- Kontraksi uterus baik
- Luka operasi kering, rembesan (-)
- Perdarahan pervaginam minimal

Lab tgl………… : Albumin 2.95 g/dl

A/

P/ Lanjutkan terapi
Advice dr. Reza, Sp.JP :
Lasix drip 20 mg/jam
ISDN 3x10 mg
Candesartan 1x8 mg  target TD <140/90 mmHg

Sabtu, 05 Januari 2019


S/ kontak (-) pasien tidak dapat dikaji
O/ Keadaan umum : Tampak Sakit Berat
Kesadaran : Dalam Pengaruh Obat
GCS : E2M4Vett
Tekanan darah : 137/85 mmHg
Nadi : 102 x/menit isi cukup kuat angkat
Pernapasan : 18 x/menit on Ventilator Mode Pressure Control, PC 15 ,
aaaaaaaaaaaaaaaaaaa cmH2O, RR 12x/menit, PEEP 8 cmH2O, FiO2 70%,
Suhu : 37.6˚C
SpO2 : 100%
Status generalis :
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), pupil isokor diameter 2mm/2mm.
Aaaaaaaaaaa RCL +/+ RCTL +/+
Hidung : sulit dinilai karena terpasang NGT
Telinga : liang telinga lapang, serumen -/-
Mulut : Bibir sianosis (-), faring hiperemis (tidak dapat dinilai)
Leher : deviasi (-), pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-)
Thorax :
- Cor :
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat.
Palpasi : ictus cordis teraba di ICS IV linea midclavicularis sinistra,
Perkusi : pekak
Auskultasi : normal, tidak ada suara tambahan.
- Pulmo :
Inspeksi : pergerkan dinding dada simetris, retraksi (+) minimal.
Palpasi : sulit dinilai.
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : suara dasar vesikuler +/+, Rhonki +/+, Wheezing -/-.

Abdomen :
Inspeksi : perut tampak sedikit membuncit setelah persalinan
Auskultasi : Bising Usus (+)
Perkusi : timpani
Palpasi : supel

Ekstremitas
Superior : akral dingin (-/-), edema kedua tangan (-/-)
Inferior : akral dingin (+/+), edema kedua kaki (+/+) minimal

Pemeriksaan obstetri post SC :


- TFU : 2 jari dibawah umbilicus
- Kontraksi uterus baik
- Luka operasi kering, rembesan (-)
- Perdarahan pervaginam minimal

Balance cairan :
Input : 2374 cc
Output : 2800 cc
Urin : 2100 cc
IWL : 700 cc
Diuresis : 1.2 ml/kgbb/jam
Balance : (-) 426 cc

A/
P/

Minggu, 06 Januari 2019


S/ kontak (-) pasien belum dapat dikaji
O/ Keadaan umum : Tampak Sakit Sedang
Kesadaran : Compos Mentis
GCS : E4M6Vett
Tekanan darah : 158/109 mmHg
Nadi : 112 x/menit isi cukup kuat angkat
Pernapasan : 22 x/menit on Ventilator Mode SIMV (PC + PS), PC 15,
aaaaaaaaaaaaaaaaaaa cmH2O, PS 15 cmH2O, RR 12x/ menit, FiO2 40%
Suhu : 36˚C
SpO2 : 99%
Status generalis :
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), pupil isokor diameter 2mm/2mm.
Aaaaaaaaaaa RCL +/+ RCTL +/+
Hidung : sulit dinilai karena terpasang NGT
Telinga : liang telinga lapang, serumen -/-
Mulut : Bibir sianosis (-), faring hiperemis (tidak dapat dinilai)
Leher : deviasi (-), pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-)
Thorax :
- Cor :
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat.
Palpasi : ictus cordis teraba di ICS IV linea midclavicularis sinistra,
Perkusi : pekak
Auskultasi : normal, tidak ada suara tambahan.
- Pulmo :
Inspeksi : pergerkan dinding dada simetris, retraksi (+).
Palpasi : sulit dinilai.
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : suara dasar vesikuler +/+, Rhonki +/+, Wheezing -/-.
Abdomen :
Inspeksi : perut tampak sedikit membuncit setelah persalinan
Auskultasi : Bising Usus (+)
Perkusi : timpani
Palpasi : supel

Ekstremitas
Superior : akral dingin (-/-), edema kedua tangan (-/-)
Inferior : akral dingin (+/+), edema kedua kaki (-/-)

Pemeriksaan obstetri post SC :


- TFU : 2 jari dibawah umbilicus
- Kontraksi uterus baik
- Luka operasi kering, rembesan (-)
- Perdarahan pervaginam minimal
Balance cairan / 7 jam :
Input : 555.25 cc
Output : 904 cc
Urin : 700 cc
IWL : 204 cc
Diuresis : 1.4 ml/kgbb/jam
Balance : (-) 384,75 cc

A/ Acute Lung Oedema pada P3A0 Post SC atas indikasi PEB Hari ke-5
P/ Lanjutkan terapi
Nebulizer ventolin 2x/ hari
Antibiotik meropenem 3x1
Inj. Lasix 2x2 amp
Cek natrium

Senin, 07 Januari 2019


S/ Pasien mengatakan sesak dan batuk. Nyeri luka operasi VAS 3-4. Perdarahan
aa pervaginam minimal, Flatus (+), BAB (-), nyeri payudara (-/-)
O/ Keadaan umum : Tampak Sakit Berat
Kesadaran : Compos Mentis
GCS : E4M6V5
Tekanan darah : 168/109 mmHg
Nadi : 113 x/menit isi cukup kuat angkat
Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : 36.6˚C
SpO2 : 99%
Status generalis :
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), pupil isokor diameter 2mm/2mm.
Aaaaaaaaaaa RCL +/+ RCTL +/+
Hidung : sulit dinilai karena terpasang NGT
Telinga : liang telinga lapang, serumen -/-
Mulut : Bibir sianosis (-), faring hiperemis (tidak dapat dinilai)
Leher : deviasi (-), pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-)
Thorax :
- Cor :
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat.
Palpasi : ictus cordis teraba di ICS IV linea midclavicularis sinistra,
Perkusi : pekak
Auskultasi : normal, tidak ada suara tambahan.
- Pulmo :
Inspeksi : pergerkan dinding dada simetris, retraksi (+).
Palpasi : sulit dinilai.
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : suara dasar vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wheezing -/-.

Abdomen :
Inspeksi : perut tampak sedikit membuncit setelah persalinan
Auskultasi : Bising Usus (+)
Perkusi : timpani
Palpasi : supel
Ekstremitas :
Superior : akral dingin (-/-), edema kedua tangan (-/-)
Inferior : akral dingin (+/+), edema kedua kaki (-/-)\

Pemeriksaan obstetri post SC :


- TFU : 2 jari dibawah umbilicus
- Kontraksi uterus baik
- Luka operasi kering, rembesan (-)
- Perdarahan pervaginam minimal

Balance cairan / 7 jam :


Input : 2189.5 cc
Output : 3149 cc
Urin : 700 cc
IWL : 700 cc
Diuresis : 1.4 ml/kgbb/jam
Balance : (-) 959,5 ml
Hasil Laboratorium 07/01/2019 :
- PH : 7.68 - SO2 : 99.8 %
- PCO2 : 27.1 mmHg - BE : 12.9 mmol/L
- PO2 : 162.8 mmHg - TCO2 : 33.1 mmol/L
- HCO3 : 32.3 mmol/L - Natrium : 155 mmol/L

A/ Acute Lung Oedema pada P3A0 Post SC atas indikasi PEB Hari ke-6
P/ Lanjutkan terapi
Selasa, 08 Januari 2019
S/ Pasien mengatakan sesak napas berkurang. Nyeri luka operasi VAS 1-2.
AaPerdarahan pervaginam minimal, Flatus (+), BAB (-), nyeri payudara (-/-)
O/ Keadaan umum : Tampak Sakit Berat
Kesadaran : Compos Mentis
GCS : E4M6V5
Tekanan darah : 171/105 mmHg
Nadi : 105 x/menit isi cukup kuat angkat
Pernapasan : 22 x/menit
Suhu : 37˚C
SpO2 : 99%
Status generalis :
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), pupil isokor diameter 2mm/2mm.
Aaaaaaaaaaa RCL +/+ RCTL +/+
Hidung : Tidak dapat dinilai. Pasien menggunakan NGT
Telinga : Liang telinga lapang, serumen -/-
Mulut : Bibir sianosis (-), faring hiperemis (-)
Leher : Deviasi (-), pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-)
Thorax :
- Cor :
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat.
Palpasi : ictus cordis teraba di ICS IV linea midclavicularis sinistra,
Perkusi : pekak
Auskultasi : normal, tidak ada suara tambahan.
- Pulmo :
Inspeksi : pergerkan dinding dada simetris, retraksi (-).
Palpasi : sulit dinilai.
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : suara dasar vesikuler -/-, Rhonki -/-, Wheezing -/-.

Abdomen :
Inspeksi : perut tampak sedikit membuncit setelah persalinan
Auskultasi : Bising Usus (+)
Perkusi : timpani
Palpasi : supel

Ekstremitas
Superior : akral dingin (-/-), edema kedua tangan (-/-)
Inferior : akral dingin (+/+), edema kedua kaki (-/-)\
Pemeriksaan obstetri post SC :
- TFU : 2 jari dibawah umbilicus
- Kontraksi uterus baik
- Luka operasi kering, rembesan (-)
- Perdarahan pervaginam minimal

Balance cairan / 24 jam :


Input : 2682 cc
Output : 2650 cc
Urin : 1950 cc
IWL : 700 cc
Diuresis : 1.1 ml/kgbb/jam
Balance : 32 ml

Hasil Laboratorium 07/01/2019 :


- PH : 7.68 - SO2 : 99.8 %
- PCO2 : 27.1 mmHg - BE : 12.9 mmol/L
- PO2 : 162.8 mmHg - Na : 155 mmol/L
- HCO3 : 32.3 mmol/L
A/
P/ Lanjutkan terapi

BAB IV
PEMBAHASAN

Pasien datang ke IGD Kebidanan RSUD Pasar Minggu atas rujukan dari PKM
Pancoran, dengan keluhan sesak nafas yang hilang timbul sejak usia kehamilan 12
minggu pasien juga datang untuk kontrol dan berkonsultasi tentang kehamilannya
karena pasien mengaku mengidap penyakit hepatitis B yang diketahui ketika dilakukan
pemeriksaan Hep B pada saat kehamilan yang kedua saat itu pemeriksaan dilakukan di
PKM Pancoran. Pasien sedang hamil anak kedua tidak mengeluhan nyeri pada bawah
perut, dari jalan lahir tidak keluar air-air, keluar darah tidak ada Gerakan janin masih
dirasakan ibu.
27
Pemeriksaan vital sign TD: 110/70 mmHg, nadi : 78 x/ menit, RR : 25 x/ menit
T: 36,8oC. pemeriksaan keadaan spesifik kepala, leher, thorak, abdomen dan
ekstremitas dalam keadaan normal. TFU 35 cm. teratas bokong. Memanjang,
presentasi kepala blum masuk PAP. DJJ: 132 x/m. Pemeriksaan laboratorium HBs Ag
reaktif : indeks 5266. Dari anamnesis dan pemeriksaan laboratorium diatas jelas bahwa
Ny. S G1P0A0 hamil 36 minggu, belum inpatu JTH Preskep dengan menderita
Hepatitis B.
Pilihan persalinan pada kasus ini adalah seksio sesaria karena untuk menghidari
terjadinya infeksi vertical dari ibu ke bayi akibat dari proses persalinan karena sebagian
besar (95%) terjadi saat persalinan, hanya sebagian kecil saja (5%) selama bayi didalam
kandungan.
Segera setelah lahir neonates di beri immunoglobulin hepatitis B dan Vaksin
Hepatitis 0 guna mencegah infeksi hepatitis dan membentuk imunitas aktif dari virus
hepatitis.

Pada pasien ini dijumpai keluhan berupa sesak napas yang dialaminya karena
pasien mengaku keluhan tersebut tidak mengganggu aktivitas sehari-hari os dan
keluhan hanya timbul sesekali (1-2 kali sebulan) ketika pasien baru bangun tidur.
Menurut berat ringannya gejala, asma pasien digolongkan sebagai asma intermitten
ringan, yaitu gejala intermitten (kurang dari sekali seminggu), serangan singkat
(beberapa jam sampai beberapa hari), gejala asma pada malam hari kurang dari 2 kali
sebulan, diantara serangan pasien bebas gejala dan gunsi paru normal, nilai APE dan
KVP1 > 80% dari hasil prediksi, variabilitas < 20%.

28
BAB V
KESIMPULAN

Hepatitis B merupakan penyakit infeksi virus pada hati yang disebabkan oleh
virus hepatitis B. Hepatitis B biasanya ditularkan dari orang ke orang melalui
kontak perkutaneus atau permukosal terhadap cairan tubuh dari seseorang yang
terinfeksi HBV, melalui hubungan seksual dan transmisi perinatal dari seorang ibu
yang terinfeksi ke bayinya.
Penularan vertical sebagian besar (95%) terjadi saat persalinan, hanya sebagian
kecil saja (5%) selama bayi didalam kandungan. Sekitar ± 90 % janin yang
terinfeksi akan menjadi kronis dan mempunyai resiko kematian akibat sirosis atau
kanker hati sebesar 15-25 % pada usia dewasa nantinya.
Menurut WHO Indonesia termasuk kelompok daerah dengan endemisitas
sedang dan berat (3,5 – 20 %).
Pada laporan ini didapatkan Os datang ke Poli Kebidanan RSUD Pasar Minggu
untuk kontrol dan berkonsultasi tentang kehamilannya karena os mengaku
mengidap penyakit hepatitis B yang diderita os sejak kecil. Os sedang hamil anak
pertama keluhan nyeri bawah perut, keluar air-air, keluar darah tidak ada. Gerakan
janin masih dirasakan ibu. Hasil pemerkasaan laboratorium HBs Ag reaktif : indeks
5266.
Pilihan persalinan pada pasien ini adalah seksio sesaria. Hal itu bertujuan untuk
meminimalisir risiko infeksi vertical dari ibu ke bayi.

29